PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STAD BAGI SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 MATARAM KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN STAD BAGI SISWA KELAS IV
SD NEGERI 3 MATARAM KECAMATAN GADINGREJO
KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN
2013/2014

ABSTRAK
Oleh:
SARINAH

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa
kelas IV SD Negeri 3 Mataram Kecamatan Gadingrejo pada mata pelajaran IPA.
Untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan model
pembelajaran tipe Student Teams Achivement Division (STAD) karena model
pembelajaran tipe STAD ini dianggap tepat untuk mencapai tujuan yaitu untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri 3
Mataram Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun Pelajaran
2013/2014.
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan sebanyak 2 siklus. Prosedur penelitian
yang dilakukan meliputi 1) Perencanaan, 2) Tindakan, 3) Observasi, dan
4)
Refleksi. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD
dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA Siswa kelas IV SD Negeri 3
Mataram. Skor aktivitas pada siklus I 55%, pada siklus II menjadi 73%, jadi
meningkat sebanyak 18%. Rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 56,80,
pada siklus II menjadi 80,80 , jadi meningkat sebanyak 24

Kata kunci : Aktivitas, hasil belajar, IPA, Model pembelajaran kooperatif tipe
STAD

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN STAD BAGI SISWA KELAS IV
SD NEGERI 3 MATARAM KECAMATAN GADINGREJO
KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN
2013/2014

(Skripsi)

Oleh
SARINAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 3.1. Skema tahap pelaksanaan tindakan ........................................

22

Gambar 4.1. Persentase jenis aktivitas tiap siklus.......................................

37

Gambar 4.2. persentase siswa yang mencapai KKM ..................................

37

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...............................................................................................

Halaman
i

DAFTAR TABEL .......................................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

iii

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

iv

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...........................................................

1

B. Identifikasi Masalah .................................................................

3

C. Rumusan Masalah ....................................................................

4

D. Tujuan Penelitian .....................................................................

4

E. Manfaat Penelitian ...................................................................

5

F. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................

6

BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Aktivitas Belajar........................................................................

7

B. Hasil Belajar ..............................................................................

10

C. Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) .....................

11

D. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ......................................

13

E. Hipotesis Tindakan ...................................................................

20

BAB III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................

21

B. Subjek Penelitian.......................................................................

21

C. Prosedur Penelitian ...................................................................

21

D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................

22

E. Metode Analisis Data ...............................................................

25

F. Kriteria Keberhasilan ...............................................................

28

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian .........................................................................

30

1. Hasil Observasi siklus I.......................................................
2. Hasil Observasi siklus II .....................................................

30
31

B. Pembahasan ...............................................................................

31

1. Siklus I ................................................................................
a. Perencanaan Siklus I .....................................................
b. Tahap Pelaksanaan Siklus I...........................................
c. Tahap Observasi Siklus I ..............................................
d. Refleksi Siklus I ............................................................
2. Siklus II ...............................................................................
a. Perencanaan Siklus II ....................................................
b. Tahap Pelaksanaan Siklus II .........................................
c. Tahap Observasi Siklus II .............................................
d. Refleksi Siklus II ...........................................................

31
31
32
33
34
35
35
35
36
37

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ...............................................................................

42

B. Saran ..........................................................................................

42

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1. Hasil observasi aktivitas siklus I ................................................
30
Tabel 4.2. Hasil belajar siklus I..................................................................

30

Tabel 4.3. Hasil observasi aktivitas siklus II ..............................................

31

Tabel 4.4. Hasil belajar siklus II .................................................................

31

MOTO

“Yang terbaik diantara kalian adalah yang Berakhlak Mulia”
(Hadist Riwayat Bukhari)

”Jalan terbaik keluar dari suatu masalah adalah
dengan Menyelesaikan Masalah Itu”
(Mario Seto)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Bismillahi rohmaanirrohimm,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan limpahan rahmat dan
karunia-Nya. Dengan segala kerendahan hati kupersembahkan Skripsi ini kepada:



Bapak Kasan Mukidi dan Ibu Sami Arsih yang telah membesarkan dan
mendidik saya, baik jasmani maupun rohani dan restunya untuk
keberhasilan saya



Suami tercinta yang telah memberikan motivasi, do’a dan dukungannya
selama ini.



Anak-anaku tercinta Ida Nurfaiziya dan Isnaeni Yusrizal yang selalu setia
memberi dukungan, semangat dan doanya sehingga penulis bisa
menyelesaikan Skripsi ini dengan lancar.



Ibu dan bapak pembimbing dan pembahas yang selalu memberikan
bimbingan dan bantuannya serta masukan hingga terselesaikannya Skripsi
ini….



Almamaterku tercinta………

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya skripsi ini dapat
diselesaikan. Skripsi dengan judul “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA
Melalui Model Pembelajaran STAD Bagi Siswa Kelas IV SD Negeri 3 Mataram
Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014”
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas
Lampung.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Unila
2. Bapak Drs. Baharudin Risyak, M.Pd., selaku Ketua Jurusan IP
3. Dr. H. Darsono, M.Pd., selaku Ketua Program Studi PGSD Jurusan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung.
4. Bapak Dr. Chandra Ertikanto, M.Si., selaku Dosen Pembimbing, terima kasih
atas segala saran dan masukannya serta bimbingannya.
5. Ibu Dra. Hj. Yulina H., M.Pdjj., selaku dosen pembahas, terimakasih atas
saran dan masukannya.
Akhirnya penulis panjatkan doa dan syukur, semoga apa yang penulis sajikan
dalam skripsi ini, bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya.
Mataram,
Penulis,

Januari 2014

SARINAH
NPM. 1013119172

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Sarinah, dilahirkan di Desa Kediri
Kecamatan

Gadingrejo,

Kabupaten

Pringsewu,

pada

tanggal 9 Maret 1970, anak ke-9 dari Sembilan bersaudara,
dari pasangan Bapak Kasan Mukidi (almarhum) dan Ibu
Sami Arsih (almarhumah).

Pendidikan formal di Sekolah Dasar SD Negeri 1 Kediri diselesaikan pada tahun
1984, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Dharma Bhakti Yogyakarta
diselesaikan pada tahun 1987, dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di SPG 17
Pringsewu diselesaikan pada tahun 1990.

Di tahun 2003, penulis diangkat

menjadi guru Sekolah Dasar.

Pada tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program S-1 PGSD Dalam
Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung.
Penulis melakukan Pemantapan Praktik Lapangan(PPL) di SD Negeri 3 Mataram,
Kecamatan Gadingrejo pada tahun 2011.

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dunia pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa
masyarakat yang berbasis pengetahuan, dimana ilmu pengetahuan dan
teknologi sangat berperan sebagai penggerak utama perubahan. Oleh karena
itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan
sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai diterapkan sejak tahun
2006/2007.
dilaksanakan

KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan
oleh

masing-masing

satuan

pendidik

atau

sekolah.

Pembelajaran KTSP menuntut siswa untuk memperoleh pengalaman secara
langsung. KTSP bukan lagi kurikulum yang hanya menekankan pada Based
Concept, tapi juga Based Competency atau yang menekankan pada
pencapaian kompetensi, jadi bukan hanya penguasaan materi semata.
Kurikulum ini dikembangkan berdasarkan prinsip, bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya.

Pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran dalam KTSP. Pelajaran
IPA bertujuan agar siswa dapat berfikir cepat dan tepat dalam memecahkan

2

masalah dan mampu mengaplikasikan atau menerapkan dalam kehidupan
sehari-hari.

Proses pembelajaran IPA di SD Negeri 3 Mataram masih mendapatkan hasil
yang kurang optimal.

Terutama pada siswa kelas IV.

Kenyataan

menunjukkan bahwa hasil belajar IPA kelas IV secara umum masih rendah.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, diketahui bahwa nilai rata-rata
pada pelajaran IPA hasil ujian Blok I dan II pada semester ganjil tahun lalu
adalah 48. Jumlah siswa yang mendapat nilai lebih dari atau sama dengan 63
hanya 10% dari 20 siswa. Hal ini diduga karena siswa kesulitan dalam
memahami suatu konsep.

Kesulitan untuk memahami konsep-konsep di

dalam pelajaran IPA seringkali bukan karena faktor materi yang disampaikan,
tapi lebih pada siswa kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran. Bahkan
yang sering terjadi selama ini adalah guru terlalu dominan dalam proses
pembelajarannya.

Aktivitas belajar yang rendah di dalam kelas IV SD Negeri 3 Mataram juga
diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hasil belajar yang
diperoleh siswa kurang optimal. Di kelas, siswa masih terlihat kurang aktif
dalam mengikuti pelajaran. Sebagai contoh untuk aktivitas bertanya, siswa
jarang melakukannya.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlukan suatu cara yang
diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara mengajak
siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah dengan
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams

3

Achivement Division).

STAD sebagai salah satu model pembelajaran

kooperatif yang terdiri dari lima tahap yaitu Penyajian Kelas, Tahapan
Kegiatan Belajar Kelompok, Tahapan Menguji Kinerja Individu, Penskoran
Peningkatan Individu, dan Tahapan Mengukur Kinerja Kelompok.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD, merupakan model pembelajaran yang
mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerjasama dalam
memahami suatu materi pelajaran. Selain itu, siswa bekerjasama dalam
memeriksa dan memperbaiki jawaban teman serta kehiatan lainnya dengan
tujuan mencapai hasil belajar tertinggi.
bertindak sebagai fasilitator.

Guru dalam pembelajaran ini

Guru hanya berperan sebagai stimulant,

pembimbing kegiatan siswa atau menentukan arah tentang materi dan hal
yang harus dilakukan siswa.

Dengan demikian diharapkan model

pembelajaran kooperatif tipe STAD ini dapat menumbuhkan aktivitas siswa,
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu ditentukan
judul dalam penelitian ini adalah “Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui
Model Pembelajaran STAD Bagi Siswa Kelas IV SD Negeri 3 Mataram”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dapat
diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Hasil belajar IPA siswa kelas IV secara umum masih rendah.
2. Aktivitas belajar siswa didalam kelas masih rendah.
3. Guru terlalu dominan dalam proses pembelajaran

4

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang , maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
meningkatkan aktivitas belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri 3 Mataram
Kecamatan Gadingrejo?
2. Bagaimanakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri 3 Mataram
Kecamatan Gadingrejo?

D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar IPA siswa kelas IV

SD Negeri

3 Mataram Kecamatan Gadingrejo dengan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD.
2. Untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri 3
Mataram Kecamatan Gadingrejo dengan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:

1. Bagi siswa kelas IV SD Negeri 3 Mataram
a. Tidak bosan terhadap pelajaran IPA bahkan semakin menyenangkan.
b. Meningkatkan motivasi, sikap percaya diri dalam menyelesaikan soal.

5

c. Melatih siswa agar lebih aktif belajar, melakukan tanya jawab serta
berdiskusi dalam kelompok dan menghargai pendapat orang lain.
d. Meningkatkan hasil belajar serta meningkatkan kemampuan siswa
memahami materui pelajaran dan menyelesaikan soal-soal IPA.
2. Bagi guru IPA SD Negeri 3 Mataram
a. Menambah pengalaman berharga di dalam mengembangkan strategi
belajar IPA.
b. Memperbaharui kinerja guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar.
c. Dapat mengetahui dan mengatasi masalah-masalah dan kesulitan yang
dihadapi siswa dalam belajar IPA
d. Membangun hubungan yang positif antara guru dan siswa dalam
proses pembelajaran IPA.
3.

Bagi Sekolah
a. Meningkatkan mutu dan kualitas sekolah.
b. Membangun suasana sekolah dalam kerjasama, sehingga menciptakan
iklim belajar yang baik dan kondusif.
c. Menjadi masukan dalam menyempurnakan pendekatan pembelajaran
mata pelajaran IPA di sekolah.

6

F. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah:

1. Siswa yang menjadi subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri
3 Mataram.
2. Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang
dilakukan oleh siswa dalam kelompok kelompok tertentu untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
3. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah suatu tipe pembelajaran
dimana siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Langkah-langkah
pembelajaran STAD adalah presentasi atau pembelajaran, pembentukan
kelompok, kegiatan kelompok, tes/kuis, poin peningkatan individu, dan
penghargaan kelompok.
4. Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa setelah
mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD, yang ditunjukkan dengan nilai kognitif yang
diperoleh siswa setelah diberikan kuis/tes pada akhir siklus.
5. Aktivitas belajar adalah segala kegiatan belajar siswa yang menghasilkan
suatu perubahan khas, yaitu hasil belajar yang akan nampak melalui hasil
belajar yang akan dicapai.
6. Pokok bahasan yang dijadikan sebagai bahan penelitian ini adalah tumbuhtumbuhan, bagian serta fungsinya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.

Aktivitas Belajar
Belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya
aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting di dalam interaksi belajar
mengajar.
Menurut Hamalik (2004:172-173), karena aktivitas belajar itu banyak sekali
macamnya maka para ahli mengadakan klasifikasi atas macam-macam
aktivitas tersebut. Beberapa diantaranya ialah:
1. kegiatan-kegiatan visual, yang di dalamnya membaca, melihat gambargambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati
orang lain bekerja atau bermain.
2. kegiatan-kegiatan lisan (oral), seperti mengemukakan suatu fakta atau
prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi
saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.
3. kegiatan-kegiatan mendengarkan, seperti mendengarkan penyajian bahan,
mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu
permainan, dan mendengarkan radio.
4. kegiatan-kegitan menulis, seperti menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes,
dan mengisi angket.
5. kegiatan-kegitan menggambar, seperti menggambar, membuat grafik,
chart, diagram peta, dan pola.
6. kegiatan-kegiatan metrik, seperti melakukan percobaan, memilih alat-alat,
melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan,
menari, dan berkebun.

8

7. kegiatan-kegiatan mental, seperti merenungkan, mengingat, memecahkan
masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat, hubungan-hubungan, dan
membuat keputusan.
8. kegiatan-kegiatan emosional, seperti minat, membedakan, berani, tenang
dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam
semua jenis kegiatan dan overlap satu sama lain.
Aktivitas-aktivitas dalam belajar tersebut dapat dibedakan lagi menjadi
aktivitas yang relevan dengan pembelajaran (on task) dan aktivitas yang tidak
relevan dengan pembelajaran (off task).

Aktivitas yang relevan dengan

pembelajaran (on task) contohnya adalah memperhatikan penjelasan guru,
melakukan diskusi, dan mencatat.

Aktivitas yang tidak relevan dengan

pembelajaran (off task), contohnya adalah tidak memperhatikan penjelasan
guru dan mengobrol dengan teman. Siswa aktif dalam pembelajaran apabila
siswa melakukan aktivitas yang relevan dengan kegiatan pembelajaran (on
task), dengan melakukan banyak aktivitas yang relevan dengan pembelajaran,
maka siswa mampu memahami, mengingat, dan menerapkan konsep yang
telah dipelajari. Aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran (off task)
akan lebih mudah diamati ketika proses pembelajaran berlangsung jika
dibandingkan dengan aktivitas yang relevan dengan pembelajaran (on task).
Jadi siswa dikatakan aktif dalam kegiatan pembelajaran jika siswa sedikit
melakukan aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran.

Proses pembelajaran merupakan interaksi aktif antara berbagai komponen
yang berpengaruh dalam usaha pencapaian tujuan pembelajaran. Aktivitas
belajar merupakan prinsip yang harus ada dalam pembelajaran. Tidak ada
belajar tanpa aktivitas. Dalam belajar sangat diperlukan aktivitas, tanpa
aktivitas kegiatan belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik.

9

Menurut Djamarah dan Zain (2004:13), aktivitas atau bekerja adalah bentuk
pernyataan dari anak didik bahwa pada hakekatnya belajar adalah perubahan
yang terjadi setelah melakukan aktivitas atau bekerja.

Diendrich yang dikutip oleh Sardiman (2004 : 101), menggolongkan aktivitas
siswa menjadi 8, yaitu :
a. Visual Activities, antara lain membaca, memperhatikan gambar,
demonstrasi, pekerjaan, percobaan, pekerjaan orang lain.
b. Oral Activities, antara lain menyatakan, merumuskan, bertanya memberi
saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, dan
interupsi.
c. Listening Activities, antara lain mendengarkan uraian dan diskusi.
d. Writing Activities, antara lain, menulis laporan, angket, menyalin,
membuat rangkuman.
e. Drawing Activities, antara lain menggambar, membuat grafik, peta dan
diagram.
f. Motor Activities, antara lain melakukan percobaan, membuat konstruksi,
model, mereparasi, bermain, berkebun, dan berternak.
g. Mental Activities, antara lain menanggapi mengingat, memecahkan soal,
menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h. Emotional Activities, antara lain menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar
adalah kegiatan positif di dalam proses belajar mengajar yang dilakukan oleh
siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Dalam penelitian ini, aktivitas yang
diamati adalah Visual Activities, dalam hal ini adalah membaca materi, Oral
Activities, dalam hal ini adalah berdiskusi, serta mental activities seperti
berlatih memecahkan soal.

10

B. Hasil Belajar

Hasil belajar siswa diperoleh setelah berakhirnya proses pembelajaran dan
dapat diukur dengan angka-angka yang bersifat pasti, tetapi mungkin juga
hanya dapat diamati karena perubahan tingkah laku. Sehubungan dengan
hasil belajar, Dimyati dan Mudjiono (2002:239) berpendapat bahwa hasil
belajar merupakan hasil dari suatu interaksi belajar dan tindak mengajar. Dari
sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, dari
sisi siswa, hasil belajar merupakan puncak proses belajar.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999 :250-251) hasil belajar merupakan hal
yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi
siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik
bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Hasil belajar dapat tercermin
dari nilai siswa yang diperoleh setelah berakhirnya proses pembelajaran dan
dapat diukur dengan angka-angka yang bersifat pasti, tetapi juga hanya bisa
diamati karena perubahan tingkah laku.

Berdasarkan pendapat di atas, menurut penulis, hasil belajar adalah hasil
penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata
pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh
guru setelah melakukan kuis/tes.

Hasil belajar sangat berkaitan dengan ketuntasan belajar siswa. Seorang
siswa dikatakan tuntas jika hasil belajar yang diperolehnya mencapai batas

11

ketuntasan minimal yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan.
Dalam hal ini pada SD Negeri 3 Mataram memperoleh nilai ≥63. Pada KTSP
ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu
kompetensi dasar berkisar antara (0-100) % dimana kriteria ketuntasan untuk
masing-masing indikator sebesar 75%.

C. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa juga bisa
juga saling mengajar sesama siswa lainnya.

Bahkan banyak penelitian

menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata
lebih efektif daripada pengajaran oleh guru.

Hal ini disebabkan latar

belakang pengalaman dan pengetahuan para siswa yang lebih mirip satu
dengan lainnya dibandingkan dengan guru. Pengajaran oleh rekan sebaya
pada pembelajaran dalam kelas dilakukan dalam suatu kelompok belajar.

Kelompok dalam konteks pembelajaran ini dapat diartikan sebagai kumpulan
dua orang individu atau lebih yang berinteraksi secara tatap muka dan setiap
individu menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompoknya.
Mereka merasa memiliki dan merasa saling ketergantungan secar apositif
yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama. Sistem pengajaran yang
memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain

12

dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut dengan sistem pembelajarnan
kelompok. Menurut Sanjaya (2006:239)
Model pembelajaran kelompok (cooperative learning) adalah rangkaian
kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

Pembelajaran kooperatif merupakan sekelompok strategi instruksional yang
melibatkan siswa bekerja secara kolaborasi atau berkelompok untuk
mencapai tujuan-tujuan umum.

Namun demikian model pembelajaran

kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok yang
dilakukan asal-asalan. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran. Menurut Lie
(2002 : 30), tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning.
Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran kelompok, lima
unsur model pembelajaran kelompok yang harus diterapkan yaitu :
(1) Saling ketergantungan,
(2) Tanggung jawab perseorangan,
(3) Tatap muka,
(4) Komunikasi antar anggota, dan
(5) Evaluasi proses kelompok.
Kelima unsur di atas yang membedakan antara belajar kelompok biasa
dengan cooperative learning. Pembelajaran kooperatif sangat menekankan
pada kerjasama antar anggota kelompok yang mempunyai peran masingmasing dalam kelompok tersebut. Pembelajaran kooperatif juga menekan
pada komunikasi yang baik serta adanya pertemuan langsung diantara
anggota kelompok untuk kemudian dapat dievaluasi proses kelompok
tersebut. Strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran
kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian untuk digunakan.

13

Slavin (1995 : 2) mengemukakan dua alasan mengapa pembelajaran
kooperatif baik untuk digunakan.
(1) Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan social,
menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta
dapat meningkatkan harga diri. (2) Pembelajaran kooperatif juga dapat
merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berfikir, memecahkan
masalah dan mengitegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.

Pembelajaran kooperatif berkembang perlahan-lahan dalam sebuah usaha
untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam hubungan sosial. Pembelajaran
kooperatif juga memfasilitasi siswa dengan pengalaman-pengalaman
pembuatan keputusan kelompok dan keterampilan kepemimpinan dan
member kesempatan siswa untuk berinteraksi dan belajar dengan siswa lain
dari latar belakang kemampuan yang berbeda.

Dalam pembelajaran

kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa
saling berbagi kemampuan, belajar berfikir kritis, menyampaikan pendapat,
memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling bantu dalam belajar,
saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun siswa lainnya.
D. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Model pembelajaran Student Teams Achivement Division (STAD) ini
merupakan salah satu model dalam pembelajaran kooperatif yang untuk
pertama kalinya diperkenalkan oleh Robert E. Slavin. Model ini merupakan
salah satu model yang paling sederhana dalam pembelajaran kooperatif dan
merupakan sebuah pendekatan yang baik untuk guru yang baru mulai
menerapkan model pembelajaran kooperatif.

14

Menurut

Pradyo

Wijayanti

(2002:

http://www.pendidikanekonomi.com/2012/10/.html

2)

dalam

situs

STAD (Student Teams

Achievement Division) adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif
yang terdiri dari kelompok belajar heterogen beranggotakan 4-5 orang siswa
dan setiap siswa saling bekerja sama, berdiskusi dalam menyelesaikan tugas
dan memahami bahan pelajaran yang diberikan. Ada beberapa tipe model
pembelajaran kooperatif, salah satunya adalah STAD. STAD merupakan
salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan
merupakan pendekatan yang baik untuk guru yang baru memulai menerapkan
model pembelajaran kooperatif dalam kelas.
Kemudian dalam (www.rodajaman.net) dinjelaskan bahwa pada model
pembelajaran kooperatif tipe STAD ini siswa dikelompokkan ke dalam
kelompok kecil yang disebut tim. Kemudian seluruh kelas diberikan
presentasi materi pelajaran. Siswa kemudian diberikan tes. Nilai-nilai
individu digabungkan menjadi nilai tim. Pada model pembelajaran kooperatif
tipe ini walaupun siswa dites secara individual, siswa tetap dipacu untuk
bekerja sama untuk meningkatkan kinerja dan prestasi timnya. Bila pertama
kali digunakan di kelas anda, maka ada baiknya guru terlebih dahulu
memperkenalkan model pembelajaran kooperatif STAD ini kepada siswa
Model pembelajaran ini lebih menekankan berbagai ciri pembelajaran
langsung, dan merupakan model yang mudah untuk diterapkan dalam
pembelajaran sains. Seperti dalam kebanyakan model pembelajaran
kooperatif, model STAD didasarkan pada prinsip bahwa siswa bekerja

15

bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman
dan dirinya sendiri.

Menurut Slavin (2009:8) ada 5 langkah utama di dalam pembelajaran yang
menggunakan model pembelajaran STAD, yaitu:
1) Penyajian Kelas
Tujuannya adalah menyajikan materi berdasarkan pembelajaran yang telah
disusun. Setiap pembelajaran dengan model STAD, selalu dimulai dengan
penyajian kelas. Sebelum menyajikan materi, guru dapat memulai dengan
menjelaskan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi untuk berkooperatif
dan sebagainya.
Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam persentasi di dalam
kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali dilakukan
atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga memasukkan
presentasi audiovisual. Bedanya presentasi kelas dengan pengajaran biasa
hanyalah bahwa presentasi tersebut haruslah benar-benar berfokus pada unit
STAD. Dengan cara ini, para siswa akan menyadari bahwa mereka harus
benar-benar member perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan
demikian akan sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis, dan skor
kuis mereka menentukan skor tim mereka.
Penyajian tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan
terbimbing dari keseluruhan pelajaran dengan penekanan dalam penyajian
materi pelajaran.

16

2) Tahapan Kegiatan Belajar Kelompok
Tim adalah fitur yang paling penting dalam STAD. Pada setiap poinnya,
yang ditekankan adalah membuat tim, dan tim pun harus melakukan yang
terbaik untuk membantu tiap anggotanya. Tim ini memberikan dukungan
kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu adalah
untuk memberikan perhatian dan respek yang mutual yang penting untuk
akibat yang dihasilkan seperti hubungan antar kelompok, rasa harga diri,
penerimaan terhadap siswa-siswa mainstream.
Tim ini terdiri dari empat atau enam siswa yang mewakili seluruh bagian dari
kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnis. Fungsi utama
dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar
belajar, dan lebih khususnya lagi adalah untuk mempersiapkan anggotanya
untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru meyampaikan
materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar kegiatan atau materi
lainnya. Yang paling sering terjadi, pembelajaran itu melibatkan pembahasan
permasalahan bersama, membandingkan jawaban dan mengoreksi tiap
kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.
3) Tahapan Menguji Kinerja Individu
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar telah dicapai, diadakan
tes secara individual, setiap siswa berusaha untuk bertanggung jawab secara
individual, melakukan yang terbaik sebagai kontribusinya kepada kelompok
mengenai materi yang telah dibahas. Pada penelitian ini tes individual
diadakan pada akhir pertemuan, masing-masing selama 10 menit agar siswa

17

dapat menunjukkan apa yang telah dipelajari secara individu selama bekerja
kelompok. Skor perolehan individu ini didata dan diarsipkan, yang akan
digunakan pada perhitngan perolehan skor kelompok.
4) Penskoran Peningkatan Individu
Perhitungan skor dihitung berdasarkan skor awal, dalam penelitian ini
didasarkan pada nilai evaluasi hasil belajar materi sebelumnya. Berdasarkan
skor awal setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan
sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes yang
diperolehnya. Perhitungan perkembangan skor individu dimaksudkan agar
siswa

terpacu

kemampuannya.

untuk

memperoleh

Adapun

prestasi

perhitungan

skor

terbaik

sesuai

pekembangan

dengan
individu

dikemukakan Slavin (2009:12) seperti terlihat pada tabel berikut:
Skor
Perkembangan
Individu

No

Skor Test

1

Lebih dari 10 poin di bawah skor
awal

5

2

10 hingga 1 poin di bawah skor awal

10

3

Skor awal sampai 10 poin di atasnya

20

4

Lebih dari 10 poin di atas skor awal

30

5

Nilai sempurna (tidak berdasarkan
skor awal)

30

Perhitungan skor dkelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan masingmasing perkembangan skor individu dan hasilnya dibagi sesuai jumlah
anggota kelompok. Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan perolehan

18

skor rata-rata yang dikategorikan menjadi kelompok baik, kelompok hebat
dan kelompok super. Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan
pemberian penghargaan terhadap kelompok adalah sebagai berikut:
a) Kelompok dengan skor rata-rata 15, sebagai kelompok baik,
b) Kelompok dengan skor rata-rata 20, sebagai kelompok hebat,
c) Kelompok dengan skor rata-rata 25 sebagai kelompok super.
Tujuan memberikan skor peningkatan individu adalah memberikan
kesempatan bagi setiap siswa untuk menunjukkan gambaran kinerja
pecapaian tujuan dan hasil kerja maksimal yang telah dilakukan setiap
individu untuk kelompoknya.
5) Tahapan Mengukur Kinerja Kelompok
Setelah kegiatan penskoran peningkatan individu selesai, langkah selanjutnya
adalah pemberian penghargaan kepada kelompok. Penghargaan kelompok
diberikan berdasarkan skor peningkatan kelompok yang diperoleh.
Namun pada pembelajaran kooperatif tipe STAD juga memiliki kelebihan
serta kekurangan. Suatu strategi pambelajaran mempunyai keunggulan dan
kekurangan. Demikian pula dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai beberapa keunggulan
(Slavin, 1995:17) diantaranya sebagai berikut:
1. Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi
norma-norma kelompok.
2. Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama.

19

3. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan
keberhasilan kelompok.
4. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka
dalam berpendapat.
Selain keunggulan tersebut pembelajaran kooperatif tipe STAD juga
memiliki kekurangan-kekurangan, menurut Dess (1991:411) diantaranya
sebagai berikut:
1. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai
target kurikulum.
2. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk guru sehingga pada umumnya
guru tidak mau menggunakan pembelajaran kooperatif.
3. Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat
melakukan pembelajaran kooperatif.
4. Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama.
Jadi model pembelajaran Student Teams Achiviement Division (STAD)
merupakan model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok
kecil. Adapun langkah langkah pembelajaran model STAD adalah
1. Peserta didik diberi tes awal
2. Peserta didik dibentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 orang
3. Peserta didik menyampaikan tujuan
4. Guru menyajikan pelajaran
5. Guru membimbing diskusi
6. Peserta didik diberi tes
7. Memberi penghargaan

20

E.

Hipotesis Tindakan
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “ Jika siswa kelas IV SD
Negeri 3 Mataram diberi pembelajaran menggunakan model pembelajaran tipe
STAD, maka hasil belajar siswa akan meningkat”.

21

BAB III
MODEL PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014
selama 3 bulan dari bulan Juli sampai September
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri

3 Mataram, Kecamatan

Gadingrejo Kabupaten Pringsewu.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 3 Mataram sebanyak
25 orang yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.
C. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini diadopsi dari model
Kemmis dan MC Taggart dengan pola umum sebagai berikut:

22

Garis besar langkah-langkah dalam penelitian ini adalah:

Gambar 3.1. Skema Tahap Pelaksanaan Tindakan

Siklus 1
1.

Perencanaan
Di dalam perencanaan peneliti terlebih dahulu membuat Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran dengan tujuan agar proses pembelajaran
sesuai dengan rencana diantaranya untuk pencapaian Kompetensi Dasar,
tujuan pembelajaran lebih terarah, penggunaan alokasi waktu lebih tepat,

23

menyiapkan

materi

pelajaran,

buku

sumber

dan

kurikulum.

Mempersiapkan alat peraga IPA tentang jenis akar dan fungsinya.
Membagi siswa menjadi beberapa kelompok:
a) 4 kelompok dengan jumlah anggota masing-masing 5 orang
b) Mempersiapkan buku materi IPA Sains untuk SD kelas IV
c) Menyusun meja tulis menjadi 4 Kelompok
d) Mempersiapkan lembar diskusi dan LKS terkait dengan aktivitas
belajar siswa.

2.

Melaksanakan Tindakan
Setelah persiapan sudah tersusun dengan baik maka dilanjutkan dengan
diskusi kelompok

3.

Observasi dan Penilaian
Di dalam observasi peneliti menggunakan lembar pengamatan tentang
aktifitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran tipe
STAD. Adapun lembar observasi yang digunakan adalah lembar
observasi berstruktur yaitu dengan mengguankan instrumen berstruktur
dan siap pakai sehingga pengamat hanya membubuhkan tanda conteng
() pada tempat yang disediakan misalnya siswa yang bertanya,
menjawab pertanyaan atau yang mengemukakan pendapatnya. Pengamat
hanya tinggal memberi tanda () pada saat peristiwa itu muncul.

.

Penilaian pada akhir siklus ini didasarkan pada Kompetensi Dasar yang
akan dicapai Penilaian diberikan dengan cara memberikan soal tes

24

tertulis sebagai ulangan harian yaitu sebanyak 10 soal dalam bentuk
uraian singkat.
4.

Refleksi
Setelah pelaksanaan tindakan dan dilakukan obsrvasi dan diamati apakah
kelebihan

ataupun

kekurangan-kekurangan

menggunakan

model

pembelajaran STAD ini, serta apa saja temuan-temuan yang diperoleh
saat proses pembelajaran berlangsung. Dari hasil temuannya kemudian
dilakukan refleksi guna perbaikan tindakan berikutnya yaitu siklus 2.

D. Teknik pengumpulan data
Data dikumpulkan melalui observasi, catatan lapangan dari observer dan
ulangan harian disetiap akhir siklus.
1. Observasi
Observasi berarti mengadakan suatu pengamatan terhadap suatu objek
yang sedang diamati atau diteliti. Observasi yang baik harus diawali
dengan perencanaan yang baik pula. Kerja sama atau berkolaborasi dengan
teman sejawat yang akan membantu mengamati guru yang sedang
mengajar dan siswa sebagai peserta didik. Perencanaan bersama ini
bertujuan untuk membangun rasa percaya diri dan menyepakati hal-hal
yang akan diamati pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi
dilakukan untuk mengamati kegiatan dengan model pembelajaran STAD
dilaksanakan. Untuk mengetahui kesesuaian antara perencanaan dengan
tindakan data keaktifan siswa diperoleh dengan menggunakan lembar

25

observasi kegiatan siswa diperoleh dengan menggunakan lembar observasi
kegiatan siswa dengan menggunakan tanda conteng ().

2. Catatan Lapangan
Catatan lapangan ini dimaksudkan untuk memperoleh data secara objektif
yang tidak terekam dalam lembar observasi, mengenai hal-hal yang terjadi
selama pemberian tindakan pembelajaran STAD. Catatan lapangan ini
dapat berupa perilaku siswa maupun permasalahan yang dapat dijadikan
pertimbangan bagi pelaksanaan langkah berikutnya.

3. Ulangan Harian
Ulangan hatian dilakukan pada akhir siklus, ulangan harian ini dilakukan
untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan model
pembelajaran STAD. Selain itu uji ini dimaksudkan untuk menetapkan
peningkatan individu yang menentukan status suatu kelompok dalam
pemberian penghargaan serta untuk mengetahui peningkatan hasil belajar
siswa dari tiap-tiap siklus.
E. Model Analisis Data
Teknik analisis data pada penelitian ini adalah :
1. Analisis Aktivitas Siswa
Data aktivitas siswa diambil pada setiap pertemuan dengan menggunakan
lembar pengamatan terhadap aktivitas siswa. Data aktivitas siswa yang
dimunculkan adatah aktivitas yang relevan dengan keempat aspek kegiatan
pembelajaran yang diamati.

26

Tabel 3.1. Analisis Aktivitas Siswa
No

Nama Siswa

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Andri yanto
Amnur Muhamad Aprio Nugroho
Abel Melinda putri
Anindia Rayniken Iswara Putri
Diki Apria Candra
Dea Indaviani
Dafana Vegra Azzahra
Dila Novita Rahayu
Ica Ratna sari
Khaila Rara Savira
Khalista Marta Rama Dita
Lisa Citra
Nuryani Miftahul Janna
Neni Herlina
Rama Fitriyani
Ridhu Ayang Armada
Riska Putri Ningtyas
Riski Dwi Saputro
Seli Vernada
Tri Asih
Yanuar Sofyan Erlangga
Yaya Akristin
Yogas fajar Iska Insya
Yana Ayu Ambarwati
M. Kholik
Jumlah siswa aktif
% Siswa Aktif

Jenis Aktivitas
1
2
3



































































18

14

19

72%

56%

76%

Skor
66
66
33
100
100
66
33
66
33
100
100
66
100
66
66
0
100
33
66
33
100
100
66
66
66
Skor
rata-rata
67,64

Ket.
A / TA

AKTIF

Akivitas yang diamati :
a. Membaca Materi
b. Bertanya
c, Memecahkan soal/masalah
Proses analisis untuk data aktivitas siswa adalah sebagai berikut :
a. Skor yang diperoleh dari masing-masing siswa adalah skor dari setiap
aspek aktivitas.

27

b. Presentase setiap siswa diperoleh dengan rumus :
Nilai aktivitas siswa 

Jumlah skor
x100 %
skor maksimum

c. Nilai aktivitas setiap siswa: % aktivitas (dihilangkan % nya)
d. Nilai rata-rata aktivitas siswa diperoleh dengan rumus :
Nilai rata-rata = 

 nilai aktivitas setiap siswa
jumlah siswa

Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa model yang digunakan adalah
pedoman Memes (2001:36) sebagai berikut :
“Bila nilai siswa ≥66, maka dikategorikan aktif. Bila 55 ≤ nilai siswa < 66
maka dikategorikan cukup aktif. Bila nilai siswa < 55 maka kategorikan
kurang aktif”.
2. Data tes hasil belajar siswa
Data hasil belajar siswa berupa soal tes kemampuan hasil belajar yang
berbentuk pilihan ganda yang diambil tiap akhir siklus petajaran.

Proses analisis untuk hasil belajar siswa adalah sebagai berikut :
a. Skor yang diperoleh dari masing-masing siswa adalah jumlah skor
dari setiap soal.
b. Presentase pencapaian hasil belajar siswa diper'oleh dengan rumus:
% Pencapaian Hasil Belajar = 

Skor yang diperoleh siswa
x 100%
skor maksimum

c. Nilai hasil belajar siswa adalah :
Nilai hasil belajar siswa per tes: % Hasil belajar siswa (dihilangkan %
nya)

28

d. Nilai rata-rata hasil belajar siswa diperoleh dengan rumus :
Rata-rata hasil belajar siswa = 

 nilai hasil belajar siswa
jumlah siswa

e. Ketuntasan hasil belajar berdasarkan pada Kritenia Ketuntasan
Minimum pada SD Negeri 3 Mataram yaitu:
Bila nilai siswa > 63 rnaka dikategoroikan tuntas (T)
Bila nilai siswa < 63 maka dikategorikan belum tuntas (BT)
Untuk kategori nilai rata-rata hasil belajar menggunakan Arikunto
(200l:245) yaitu : Bila nilai siswa ≥ 66, maka dikategorikan baik.

Bila

55 ≥ nilai siswa < 66 maka dikaregorikan cukup baik. Bila nilai siswa <
55 maka dikategorikan kurang baik.

3. Observasi Kinerja guru
Observasi

kinerja

guru

dilakukan

untuk

melihat

sejauh

mana

perkembangan peran guru dalam pembelajaran dalam kelas. Dengan
menggunakan tabel berikut:
No
1

2

3

Aspek Yang Diamati
PRA PEMBELAJARAN
a) Persiapan sarana (ruang, alat dan media pembelajaran)
b) Memeriksa kesiapan siswa
MEMBUKA PELAJARAN
a) Melakukan Apersepsi
b) Menyampaikan kompetensi dan tujuan dalam pembelajaran
KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN
a) Penguasaan materi pelajaran
- Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan
- Menyampaikan materi sesuai hirarki kehidupan
- Mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari
b) Pendekatan / Strategi pembelajaran.
- Melaksanakan pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran
- Menguasai kelas
- Penjelasan tentang jenis dan fungsi akar
- Pemanfaatan media pembelajaran
- Keterampilan penggunaan media pembelajaran
- Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media

Skor
1 2 3 4 5

29
4

5

F.

PENILAIAN PROSES HASIL BELAJAR
a) Memantau kemajuan hasil belajar
b) Melakukan penilaian akhir sesuai kompetensi
PENUTUP
a) Refleksi dan membimbing siswa menarik kesimpulan
b) Membimbing siswa untuk merangkum materi yang baru saja disajikan.
c) Memberi umpan balik dan tindak lanjut

Kriteria Keberhasilan
Kriteria keberhasilan didasarkan kepada pencapaian peserta didik

untuk

membangun kemampuan dan pengetahuan difasilitasi guru. Sehingga
dengan mata pelajaran IPA siswa dapat mempelajari dan memahami lebih
mendalam tentang diri sendiri dan alam sekitar, sehingga mampu
mengembangkan lebih lanjut dengan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari secara ilmiah.
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas adalah:
1. Presentase jumlah siswa yang aktif mencapai sekurang-kurangnya 65%.
2.

Hasil belajar rata-rata kelas >63.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan Penelitian Tindakan Kelas ini
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.

Penggunaan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan aktifitas
belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IV semester ganjil di SD
Negeri 3 Mataram Kecamatan Gadingrejo tahun ajaran 2013/2014, dari
55% pada siklus I menjadi 73% pada siklus II atau meningkat sebanyak
18%.

2.

Penggunaan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil
belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri 3 Mataram Kecamatan Gadingrejo
tahun ajaran 2013/2014 dengan nilai rata rata pada siklus I 56,8 menjadi
80,8 pada siklus II atau meningkat sebanyak 24.

B. Saran

Pada pembelajaran ini masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Maka,
dalam rangka memperbaiki pelaksanaan tindakan selanjutnya dalam
pembelajaran IPA di sekolah dasar, maka penulis mengajukan saran sebagai
berikut:

43

1. Siswa
Siswa supaya diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat.
2. Guru
Guru supaya membiasakan menggali pengetahuan awal siswa dan
memberikan analogi atau perumpamaan sebelum memulai pembelajaran
sehingga siswa akan lebih siap dalam memulai pembelajaran
3. Sekolah
Pihak

sekolah

supaya

memberikan

dukungan

agar

penggunaan

pembelajaran tipe STAD dapat berjalan dengan baik, sehingga akan dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa khususnya pelajaran IPA

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 1997. Penilaian Program Pendidikan. Edisi III. Bina Aksara.
Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Djamarah, S.B dan Aswan Zain. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Rineka
Cipta. Jakarta.
Hamalik, O. 2004. Proses Belajar Mengajar. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
Kemmis,S. and McTaggart,R .1990. The Action Research Planner. Victoria:
Deakin University Press.
Lie, Anita. 2002, Cooperative Learning ; Mempraktikkan Cooperatif Learning di
Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo.
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group
Sardiman, A.M. 2004. Interaksi dan Motivasi belajar Mengajar. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Slavin, Robert E. 2009. Kooperatif Learning : Teori riset dan Praktek. Bandung:
Nusa Media.
http://www.pendidikanekonomi.com/2012/10/model-pembelajaran-kooperatiftipe.html (diakses tanggal : 26-10-2013)
http://www.rodajaman.net/2013/10/25-contoh-model-pembelajarankooperatif.html (diakses tanggal: 26-10-2013)
http://yankcute.blogspot.com/2010/02/keunggulan-dan-kekuranganpembelajaran.html (diakses tanggal: 10-09-2013)


Dokumen yang terkait

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIVEMENT (STAD) BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI 7 GADINGREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2011-2012

0 11 223

PENINGKATAN KREATIVITAS BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS III SD NEGERI 1 MATARAM GADINGREJO PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 7 25

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 MARGODADI AMBARAWA KABUPATEN PRINGSEWU

0 2 19

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STAD BAGI SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 MATARAM KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 7 46

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE STAD PADA SISWAKELAS IV SD MUHAMMADIYAH WARINGINSARI KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 5 57

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS IV SD NEGERI 6 WONODADI KECAMATAN GADING REJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 11 49

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY SISWA KELAS V SEMESTER GANJIL SD NEGERI 1 MARGOSARI KECAMATAN PAGELARAN UTARA KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 9 53

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 SUKAMULYA TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 11 67

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI BATU BADAK TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 5 53

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PPKn MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI 3 NEGERI SAKTI KECAMATAN GEDONGTATAAN KABUPATEN PESAWARAN TP 2013/2014

0 7 44

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

84 2141 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 552 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 481 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 309 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 425 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 676 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 582 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 380 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 560 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 680 23