Tugas studi kelayakan bisnis usaha peter

Tugas studi kelayakan bisnis
usaha peternakan ayam petelur

Disusun oleh :
Laurensius moses reky

062140051

Yeremiaz asten

062140053

Erwin fredikson hauteas

062140047

Valentianus ngade

062140052

UNIVERSITAS NUSA NIPA

MAUMERE
2017

Daftar isi

Daftar Isi ……………………………………………………………………….........….. i
Kata Pengantar …………………….……………………….........….........................…..ii
Bab 1 Pendahuluan …………;……………………………..…..........…..…1
1.1

Latar Belakang …………………………………........….2

1.2

Rumusan Masalah …………………........…………........3

1.3

Tujuan Pembahasan …………………………………......4


1.4

Manfaat pembahasan.........................................................5

Bab 11

Pembahasan……………………………………………….......….6

Bab 111

Penutup ………………………………………………………......7

3.1

Kesimpulan ………………………………………………...….....8

3.2

Saran …………………………………………………………......9


Daftar Pustaka ………………………………………………………...........10

Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat
dan karunianya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
“ANALISIS USAHA TERNAK AYAM PETELUR” kami berharap kepada pembaca yang
budiman untuk memberi masukan, saran,dan kritik yang sifatnya membangun guna
menyempurnakan makalah ini

Maumere, 15 Mei 2017

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pembangunan peternakan di Indonesia memiliki prospek yang cerah dimasa yang
akan datang, hal ini disebabkan karena besarnya jumlah penduduk sehingga secara matematis
permintaan akan produk peternakan seperti daging, telur dan susu akan semakin meningkat
pula. Salah satu sub sektor peternakan yang berperan dalam penyediaan protein hewani

adalah dibidang perunggasan. Telur merupakan salah satu bahan pangan hewani yang paling
lengkap gizinya. Kandungan gizi telur ayam dengan berat 50 gram terdiri dari protein 6,3
gram, karbohidrat 0,6 gram, lemak 5 gram, vitamin dan mineral.
Permintaan terhadap telur yang tinggi oleh masyarakat mengakibatkan peternakan ayam skala
kecil, menengah dan industri ayam modern tumbuh pesat. Untuk memenuhi kebutuhan telur
sebagai sumber protein hewani, peternak tidak hanya memproduksi telur ayam ras tersebut
dalam jumlah yang banyak, tapi perlu untuk mengetahui strategi pemasaran yang baik demi
kelancaran penyaluran telur ayam hingga ke konsumen. Penjualan merupakan fungsi subsistem pemasaran. Usaha penjualan mencakup serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam
proses pemindahan hak milik produk dari produsen atau lembaga perantara pemasaran yang
mempunyai hak kepemilikan kepada konsumen.
Untuk mewujudkan sistem pemasaran yang baik, para peternak pada industri peternakan
ayam ras petelur di maumere, wailiti Kecamatan alok barat, Kabupaten sikka menjual telur
ayam rasnya melalui beberapa cara yaitu ada yang langsung menjual ke konsumen , ada pula
yang menggunakan jasa perantara seperti lembaga pemasaran yang dapat terdiri dari
pedagang pengumpul besar/agen, dan rumah makan/restoran. Harga jual telur dari peternak
ditentukan berdasarkan kesepakatan harga antara peternak dengan konsumen atau lembaga
pemasaran yang terlibat dalam sistem pemasaran.
Studi kelayakan sangat diperlukan oleh banyak kalangan, khususnya terutama bagi para
investor yang selaku pemrakarsa, bank selaku pemberi kredit, dan pemerintah yang
memberikan fasilitas tata peraturan hukum dan perundang-undangan, yang tentunya

kepentingan semuanya itu berbeda satu sama lainya. Investor berkepentingan dalam rangka

untuk mengetahui tingkat keuntungan dari investasi, bank berkepentingan untuk mengetahui
tingkat keamanan kredit yang diberikan dan kelancaran pengembaliannya, pemerintah lebih
menitik-beratkan manfaat dari investasi tersebut secara makro baik bagi perekonomian,
pemerataan kesempatan kerja, dll.
Mengingat bahwa kondisi yang akan datang dipenuhi dengan ketidakpastian, maka
diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu karena di dalam studi kelayakan terdapat
berbagai aspek yang harus dikaji dan diteliti kelayakannya sehingga hasil daripada studi
tersebut digunakan untuk memutuskan apakah sebaiknya proyek atau bisnis layak dikerjakan
atau ditunda atau bahkan dibatalkan. Hal tersebut di atas adalah menunjukan bahwa dalam
studi kelayakan akan melibatkan banyak tim dari berbagai ahli yang sesuai dengan bidang
atau aspek masing-masing seperti ekonom, hukum, psikolog, akuntan, perekayasa teknologi
dan lain sebagainya.
Dan studi kelayakan biasanya digolongkan menjadi dua bagian yang berdasarkan pada
orientasi yang diharapkan oleh suatu perusahaan yaitu berdasarkan orientasi laba, yang
dimaksud adalah studi yang menitik-beratkan pada keuntungan yang secara ekonomis, dan
orientasi tidak pada laba (social), yang dimaksud adalah studi yang menitik-beratkan suatu
proyek tersebut bisa dijalankan dan dilaksanakan tanpa memikirkan nilai atau keuntungan
ekonomis.


 PENGERTIAN
Jadi pengertian studi kelayakan peroyek atau bisnis adalah penelitihan yang
menyangkut berbagai aspek baik itu dari aspek hukum, sosial ekonomi dan budaya, aspek
pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi sampai dengan aspek manajemen dan
keuangannya, dimana itu semua digunakan untuk dasar penelitian studi kelayakan dan
hasilnya digunakan untuk mengambil keputusan apakah suatu proyek atau bisnis dapat
dikerjakan atau ditunda dan bahkan ditadak dijalankan.
 RUANG LINGKUP
Aspek yang terdapat pada studi kelayakan proyek atau bisnis yang terdiri dari berbagai aspek
yang sudah disebutkan di atas antara lain :
1. Aspek hukum
Berkaitan dengan keberadaan secara legal dimana proyek akan dibangun yang meliputi
ketentuan hukum yang berlaku termasuk :
a. Perijinan :
i) Izin lokasi :
• sertifikat (akte tanah),
• bukti pembayaran PBB yang terakhir,
• rekomendasi dari RT / RW / Kecamatan
ii) Izin usaha :

• Akte pendirian perusahaan dari notaris setempat PT/CV atau berbentuk badan hukum
lainnya.
• NPWP (nomor pokok wajib pajak)
• Surat tanda daftar perusahaan
• Surat izin tempat usaha dari pemda setempat

• Surat tanda rekanan dari pemda setempat
• SIUP setempat
• Surat tanda terbit yang dikeluarkan oleh Kanwil Departemen Penerangan
2. Aspek sosial ekonomi dan budaya
Berkaitan dengan dampak yang diberikan kepada masyarakat karena adanya suatu proyek
tersebut :
a. Dari sisi budaya
Mengkaji tentang dampak keberadaan peroyek terhadap kehidupan masyarakat setempat,
kebiasaan adat setempat.
b. Dari sudut ekonomi
Apakah proyek dapat mengubah atau justru mengurangi income per capita panduduk
setempat. Seperti seberapa besar tingkat pendapatan per kapita penduduk, pendapatan
nasional atau upah rata-rata tenaga kerja setempat atau UMR, dll.
c. Dan dari segi sosial

Apakah dengan keberadaan proyek wilayah menjadi semakin ramai, lalulintas semakin
lancar, adanya jalur komunikasi, penerangan listrik dan lainnya, pendidikan masyarakat
setempat.
Untuk mendapatkan itu semua dengan cara wawancara, kuesioner, dokumen, dll. Untuk
melihat apakah suatu proyek layak atau tidak dilakukan dengan membandingkan keinginan
investor atau pihak yang terkait dengan sumber data yang terkumpul.
3. Aspek pasar dan pemasaran
Berkaitan dengan adanya peluang pasar untuk suatu produk yang akan di tawarkan oleh suatu
proyek tersebut :
• Potensi pasar
• Jumlah konsumen potensial, konsumen yang mempunyai keinginan atau hasrat untuk
membeli.

Tentang perkembangan/pertumbuhan penduduk :
• Daya beli, kemampuan konsumen dalam rangka membeli barang mencakup tentang
perilaku, kebiasaan, preferensi konsumen, kecenderungan permintaan masa lalu, dll.
• Pemasaran, menyangkut tentang starategi yang digunakan untuk meraih sebagian pasar
potensial atau pelung pasar atau seberapa besar pengaruh strategi tersebut dalam meraih
besarnya market share.
4. Aspek teknis dan teknologi

Berkaitan dengan pemilihan lokasi peroyek, jenis mesin, atau peralatan lainnya yang sesuai
dengan kapasitas produksi, lay out, dan pemilihan teknologi yang sesuai.
5. Aspek manajemen
Berkaitan dengan manajemen pembangunan proyek dan operasionalnya.
6. Aspek keuangan
Berkaitan dengan sumber dana yang akan diperoleh dan proyeksi pengembaliannya dengan
tingkat biaya modal dan sumber dana yang bersangkutan.
Studi kelayakan merupakan gambaran kegiatan usaha yang direncanakan, sesuai dengan
kondisi, potensi serta peluang yang tersedia dari berbagai aspek. Dengan demikian dalam
menyusun sebuah studi kelayakan bisnis harus meliputi sekurang kuranya aspek- aspek
sebagai berikut:
a.Aspek pasar dan pemasaran
b.Aspek teknis dan teknologis
c.Aspek organisasi dan manajemen
d.Aspek ekonomi dan keuangan
Yang perlu diuraikan di dalam pendahuluan antara lain Latar belakang masalah yang member
jawabahan dari beberapa pertanyaan seperti jenis jenis kegiatan atau gagasan usaha/proyek
2.2 Aspek pemasaran dan pasar
Aspek pasar dan pemasaram meliputi


a.Peluang pasar
b.Perkembangan pasar
c.Penetapan pangsa pasar
d.Dan langkah langka yang diperlukan disamping kebijakan yang diperlukan
2.3 Aspek Teknis dan Non Teknis
Factor yang perlu diuraikan adalah yang menyangkut lokasi usaha/proyek yang
direncanakan . sumber bahan baku, jenis teknologi yang digunakan, kapasitas produksi, jenis
dan jumlah investasi yang diperlukan di samping membuat rencana produksi selama umur
ekonomi proyek.
2.4 Aspek organisasi dan manajemen
Perlu diuraikan bentuk kegiatan dan cara pengelolaan dari gagasan usaha/proyek yang
direncanakan secara efisien , apabila system pengelolaan telah ditentukan secara teknis dan
berdasar kegiatan
usaha. Disusun bentuk struktur organisasi yang cocok dan sesuai untuk menjalankan kegiatan
tersebut
2.5Aspek Ekonomi dan keuangan
Yang perlu dibahas pada aspek ekonomi adalah
a.Perkiraan investasi
b.Biaya operasi dan pemeliharaan.
c.Sumber pembiayaan

d.Perkiraan pendapatan
e.Analisis criteria investasi
f.Break even point dan pay back period
g.Proyeksi laba rugi dan aliran kas

1.2. Rumusan Masalah
1.

Menganalisis bisnis ternak ayam petelur apakah layak atau tidak ditinjau dari
aspek – aspek studi kelayakan bisnis ?

2.

Bagaimana perencanaan dan profitabilitas / keuntungan usaha ayam petelur?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui kelayakan usaha ayam petelur
2. Mengetahui kelayakan finansial pendirian sebuah usaha peternakan ayam petelur.
3. Memahami gambaran umum ekonomi, perilaku dan kinerja kelembagaan usaha
ternak ayam ras petelur.

1.4.
1.

Manfaat

Memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai kelayakan sebuah usaha

peternakan ayam petelur.
2. Memahami tentang kelayakan finansial sebuah usaha peternakan baik itu berupa modal,
pendapatan, dan keuntungan.
3. Mahasiswa dapat menambah pengalaman serta relasi dengan peternak ayam ras petelur.

BAB II
Pembahasan
Suhu Lingkungan ayam ras petelur dewasa dalam pemeliharaannya, memerlukan kisaran
suhu yang ideal antara 18-21oC, karena ayam ras umumnya berasal dari negara beriklim
subtropis. Temperatur tersebut hanya dapat dicapai di dataran tinggi di Indonesia yang
beriklim tropis (panas lembab). Suhu lingkungan yang panas akan mengurangi nafsu makan
ayam ras petelur dan ayam cenderung lebih banyak minum. Berkurangnya konsumsi dapat
mengganggu kebutuhan nutrisi dan berpengaruh pada produksi telur. Ayam ras petelur lebih
mudah beradaptasi (lebih tahan) dengan suhu yang relatif tinggi daripada suhu yang selalu
berubah-ubah.
Umumnya usaha peternakan ayam ras petelur mempertimbangkan lokasi peternakan dengan
daerah penyedia sarana produksi dan pemasaran agar dapat menekan biaya transportasi. Oleh
karena itu, masalah temperatur dapat diatasi dengan membuat sistem ventilasi udara yang
baik yaitu dengan memberi kipas pada kandang, sehingga dapat mengurangi panas. Jadi yang
menjadi aspek kritis di sini yaitu masalah temperatur yang dapat mengganggu produktivitas
ayam ras petelur. Hal ini dapat di atasi dengan membuat sistem ventilasi udara yang baik
pada kandang. (Anonymous, 2010)
Sebelum dibangun kandang harus memperhatikan beberapa aspek, diantaranya yaitu jarak
kandang dengan pemukiman warga, struktur atau desain kandang yang ideal, luas kandang
dengan kapasitas yang ideal, adanya sirkulasi yang baik, suhu yang sesuai, adanya sanitasi
yang baik untuk ternaknya, jarak dengan sumber air, pakan pemasaran, dan bahan kandang
yang dipakai sesuai dengan keamanan ternak tersebut.
Kandang memiliki fungsi yaitu untuk menjaga supaya ternak tidak berkeliaran dan
memudahkan pemantauan serta perawatan ternak, serta mempengaruhi kualitas dan kuantitas
hasil peternakan. Pada luas sekitar 1 hektar atau 10.000 m² idealnya diisi dengan 20.00025.000 ekor. Kandang pembesaran yang ideal berukuran panjang 40 m dan lebar 5 m.
Kandang yang tidak terlalu lebar sangat berguna untuk kebutuhan ayam dalam hal ini
kenyamanannya. Hal ini disebabkan semakin lebar kandang maka ayam akan sulit
mendapatkan udara segar karena sirkulasi atau pergerakan udara yang lambat. Kandang pada
ayam itu diantaranya yaitu kandang postal dan kandang batteray. Kandang tipe postal dengan
luas 200 m², (40 x 5 m) cukup optimal untuk memelihara pullet sejumlah 1600 ekor hingga

berumur 112 hari. Sedangkan kandang batteray yang berukuran 200 m² bisa diisi dengan
pullet sekitar 2500 ekor (Anonymous, 2012).
Kandang harus memberikan fungsi yang utama pada unggas, termasuk ayam petelur, yaitu :
memberikan kenyamanan pada unggas, memberikan perlindungan pada unggas dari berbagai
gangguan luar, member perlindungan terhadap cuaca dan iklim, bisa membantu unggas untuk
bereproduksi dengan baik, serta memudahkan peternak dalam proses pemeliharaan unggas
(ayam). Dan hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kandang yaitu lokasi kandang,
bangunan kandang, dan peralatan serta perlengkapan kandang.
(Prof.Dr.Ir Achmanu, dkk, 2011) menjelaskan mengenai system kandang, dalam segi
konstruksi atap, konstruksi dinding, konstruksi lantai, dan macam-macam kandang untuk
unggas termasuk ayam petelur. system kandang dapat terbagi menjadi tiga, yaitu :
a.

System Litter

Kandang dengan lantai yang diberi alas (litter) yang berfungsi dalam penyerapan air.
Kebaikan system ini yaitu tidak perlu banyak tenaga, pemeliharaan praktis, suhu kandang
merata dan hangat.
b.

System Umbaran

System bangunan kandang yang seperti ini seolah hanya untuk tempat ayam berteduh dan
bertelur saja. Kebaikannya cukup sinar matahari, bebas bergerak, dan kanibal berkurang.
Kekurangannya yaitu penularan penyakit antara kelompok mudah terjadi.
c.

System Sangkar

Kandang ayng menyerupai kurungan dan sering dibuat bertingkat. Kebaikannya culling dan
seleksi mudah dilakukan, kanibal dapat dicegah, dan menghambat pencegahan penyakit
Konstruksi Atap terbagi dalam lima macam, yaitu :
·

Tipe atap monitor

·

Tipe atap semi monitor

·

Tipe atap gable

·

Tipe atap shade

·

Saw tooth

Konstruksi Dinding terbagi menjadi tiga macam, yaitu :
·

Tipe kandang dinding terbuka semuanya

·

Tipe kandang dengan dinding setengah terbuka

·

Tipe kandang dinding tertutup

Konstruksi lantai kandang dijelaskan sebagai berikut :
·

Kandang tipe lantai rapat

·

Kandang tipe lantai renggang

Dengan pakan yang baik nutrisinya, tidak akan menjamin ternak bisa terbebas dari penyakit.
Penyakit pada ayam umumnya sama, dan yang paling sering menyerang unggas (ayam) yaitu
diantaranya pilek atau flu, tetelo, cacar, infectious bronchitis, marek dan sebagainya.
(Anonymous, 2010) menjelaskan bahwa penyakit pada unggas (ayam) umumnya sama, dan
yang biasa menyerang yaitu :
1.

Newcastle Disease (ND) atau Tetelo

Penyakit ini disebabkan oleh adanya virus, dan cara pencegahannya yaitu :
·

Vaksinasi Newcastle disease secara teratur sesuai dengan petunjuk pembuat vaksi

·

Melakukan sanitasi kandang dan lingkungan termasuk mencegah banyak tamu dan

hewan liar masuk kandang
·

Usaha peternakan dikelola dengan baik sehingga memungkinkan suasana nyaman bagi

ayam, antara lain jumlah ayam pada suatu luasan kandang tidak terlalu padat, ventilasi
kandang cukup dan sedapat mungkin dilakukan sistim “all in all out”.
2.

Fowl Pox atau Cacar

Penyakit ini disebabkan oleh adanya virus, dan cara pencegahannya yaitu :
·

Vaksinasi fowl pox secara teratur sesuai dengan petunjuk pembuat vaksin.

·

Dilakukan Sanitasi kandang dan lingkungan

·

Sebaiknya kandang dijauhkan dari gangguan nyamuk

·

Proses pemeliharaan dan perawatan harus dijaga dengan baik

3.

Marek Disease

Penyakit ini semacam herpes pada unggas, yang disebabkan Herpes Virus, cara
pencegahannya yaitu :
·

Memilih anak ayam petelur yang telah melakukan vaksinasi pada saat DOC

(Prof.Dr.Ir Achmanu, dkk, 2011) menjelaskan penyakit yang biasa terjadi pada unggas
(ayam), yaitu :
1.

Infectious Bronchitis

Penyakit ini disebabkan oleh virus Terpeia pulli, adapun cara pencegahannya yaitu dengan
cara vaksinasi dan antibiotika dosis pencegahan.
2.

Influenza

Penyakit ini hamper sama dengan IB, hanya saja pada penyakit ini yang diserang adalah
lyarinx dan trachea saja. Cara pencegahannya yaitu :
·

Perbaikan sanitasi

·

Vaksinasi

·

Pemberian antibiotika pada dosis pencegahan

3.

Kolera Ayam

Penyakit ini disebabkan oleh Pasteurella avicida, adapun cara pencegahannya yaitu :
·

Kebersihan dan keringnya kandang

·

Diperhatikan pakan dan minumnya

·

Vaksinasi dan antibiotika untuk kontrol

Ransum pada pemeliharaan layer dikelompokkan berdasarkan periode pemeliharaannya yaitu
masa starter,grower dan layer (produksi). Ransum untuk layer dapat langsung menggunakan
pakan buatan pabrik atau melakukan pencampuran sendiri. Porsi terbesar komponen

pembentuk harga pokok produksi telur adalah ransum yaitu kurang lebih 75%. Maka dari itu
segala daya upaya harus diusahakan agar bisa menghasilkan penghematan pemakaian ransum
tetapi tanpa mengorbankan sisi produktivitas. Dalam pembelian ransum, yang sering
diperhitungkan oleh peternak adalah pertimbangan masalah harga ransum. Selisih sedikit
saja, peternak bisa berganti merk. Penyebabnya adalah besarnya biaya yang tersedot pada
penyediaan ransum tersebut. Padahal, mahalnya harga ransum bukanlah faktor terpenting.
Yang terpenting adalah mutu ransum (feed quality). Akan menjadi lebih buruk lagi jika
ransum yang harganya relatif murah tersebut ternyata banyak mengandung zat-zat racun
makanan (feed toxin). Bahkan pemberian ransum dengan kualitas lebih rendah dari standar
pada periode starter bisa mengakibatkan laju pertumbuhannya terhambat dan akan berujung
pada pencapaian berat yang lebih rendah dari perkiraan.
Peternak yang sudah berpengalaman (memiliki dasar-dasar pengetahuan mengenai bahan
pakan) sebaiknya dapat menyusun ransum sendiri. Tujuannya adalah agar biaya ransum dapat
dihemat, sehingga keuntungan yang akan diperoleh juga meningkat. Selain itu, dengan
menyusun ransum sendiri, peternak dapat menentukan bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan
dalam penyusunan dan lebih efesien karena bahan-bahan pakan cukup tersedia di lingkungan
farm.(Anonymous, 2011)
.1 Analisis Keuangan dan Strategi
 Analisis Strategi
Analisis strategis dilakukan untuk mengetahui strategi yang akan dipakai oleh praktisi
usaha peternakan ayam ras petelur ini. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah
dengan mengidentifikasi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang
(opportunities) dan ancaman (threat) yang dapat terjadi dalam usaha peternakan ayam
ras petelur tersebut.

 Kekuatan (Strength)
Dua lingkungan yang dihadapi oleh perusahaan mencakup lingkungan internal dan
lingkungan eksternal. Lingkungan internal terdiri atas faktor kekuatan dan kelemahan.
Beberapa faktor yang menjadi kekuatan pengembangan usaha ternak ayam ras
petelur, sebagai berikut.

Sistem agribisnis peternakan yang sudah mantap, artinya usaha peternakan tidak hanya
berada pada tingkat budidaya, tetapi juga adanya industri hulu sebagai penyedia sarana
produksi. Dengan demikian telah terdapat dukungan sarana produksi yang tersedia setiap
saat, sehingga tidak ada masalah mengenai penyediaan sarana produksi untuk usaha
peternakan ayam ras.
Teknologi budidaya ayam ras yang mudah dikuasai oleh masyarakat.
Sistem pemasaran tidak menjadi permasalahan, karena telah terbentuk jalur-jalur distribusi
sampai ke berbagai lapisan dan pelosok wilayah.
Adanya dukungan sumberdaya lahan yang luas dan jumlah tenaga kerja tersedia merupakan
kekuatan pegembangan ayam ras petelur secara nasional.
 Kelemahan (Weakness)
Beberapa faktor yang menjadi kelemahan dalam usahaternak ayam ras petelur adalah
sebagai berikut :
Usaha peternakan ayam ras petelur seringkali dihadapkan pada harga input produksi
tinggi, sedangkan harga output produksi yang rendah. Kondisi marjin yang semakin
rendah (rasio harga 1 kg telur dengan 1 kg pakan sama dengan 2,5-3 : 1, dibandingkan
dengan tahun 80-an dapat mencapai 4-5 : 1), oleh karena rasio harga telur dengan
harga pakan yang semakin tinggi.
Adanya risiko dan kondisi ketidakpastian yang relatif tinggi baik dari aspek teknis maupun
finansial karena produksi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan sementara
keuntungan sangat sensitif terhadap perubahan harga.
Adanya permintaan konsumen yang fluktuatif dari hari ke hari karena telur termasuk bahan
makanan yang subtitutif.
Sifat telur yang merupakan produk yang sifatnya perishable (mudah rusak), sehingga harus
dapat dijual atau dikonsumsi segera.
Pada umumnya kualitas produk belum mencapai standar internasional, sehingga kemampuan
untuk ekspor sangat lemah.

 Peluang (Opportunities)
Lingkungan eksternal yang dihadapi perusahaan berupa peluang dan ancaman. Faktor
peluang ini meliputi sebagai berikut :
Dukungan pemerintah terhadap usaha peternakan ayam ras yang mempunyai andil
besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat dan usaha peternakan dipandang
sebagai usaha potensial bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Dukungan
pemerintah ini diwujudkan dalam bentuk deregulasi peternakan.
Kondisi ekonomi makro Indonesia yang mulai membaik. Dengan adanya pergantian kabinet
yang fokus pada perbaikan ekonomi memberikan harapan bagi kepastian usaha dan investasi
di dalam negeri.
Terdapat kecenderungan selera masyarakat yang semakin menyukai telur ayam ras dari
lapisan perkotaan hingga masyarakat pedesaan.
Meskipun permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras fluktuatif, tetapi pada saat-saat
tertentu permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras sangat tinggi, misalnya untuk
keperluan hajatan, hari-hari besar dan sebagainya.
Terdapat kecenderungan permintaan telur ayam ras akan selalu ada setiap saat, karena potensi
pasar telur ayam ras cukup besar dalam peranannya sebagai bahan baku pembuatan makanan
ringan (roti, kue, martabak, dan lain-lain). Potensi pasar ayam ras semakin tinggi, karena
sebagai bahan baku untuk industri makanan ringan.
Peluang ekspor telur ayam ras kemungkinan akan dapat meningkat, karena beberapa negara
mengalami stagnasi khususnya Amerika Serikat yang sedang mengalami krisis intern.
 Ancaman (Threat)
Beberapa faktor ancaman yang perlu diantisipasi dalam usahaternak ayam ras petelur
adalah, sebagai berikut :
Persaingan negara tetangga khususnya Thailand atau Malaysia yang dapat
berproduksi dengan biaya lebih murah dengan perkembangan teknologi yang lebih
efisien, karena adanya dukungan pemerintah secara aktif.
Kondisi keamaman dalam negeri yang masih rawan menyebabkan ancaman penjarahan dari
kelompok masyarakat tertentu masih tinggi.

Teknologi yang belum sepenuhnya dapat menciptakan produk bebas residu antibiotik dapat
menghambat pemasaran di pasar global, karena dalam WTO diterapkan persyaratan yang
ketat dalam hal kesehatan terhadap konsumen.
Ancaman perdagangan bebas yang tidak diberlakukannya lagi hambatan tarif untuk bea
masuk produk luar negeri dan semakin berkurangnya peranan pemerintah dalam intervensi
perdagangan. Hal ini perlu diwaspadai dengan membanjirnya produk-produk luar negeri yang
cenderung over supply, sehingga akan mengganggu kestabilan harga di dalam negeri.
 Strategi Bisnis
Langkah selanjutnya untuk merumuskan strategi adalah mengkombinasikan analisis
faktor internal dan eksternal dalam analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan
kombinasi strategi yang dapat dipilih oleh perusahaan dalam menjalankan usahanya,
sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Usaha peternakan ayam ras petelur akan berhasil apabila dilakukan dengan strategistrategi berikut ini :
Marjin yang tipis dan sifatnya sangat sensitif terhadap perubahan harga harus diimbangi
dengan sistem produksi yang sangat efisien. Dukungan pemerintah diperlukan dalam
membuat kebijakan yang memihak industri ayam khususnya yang ditangani masyarakat
kecil, misalnya dalam hal pembebasan PPN dan pajak baik dalam hal input produksi (pakan,
bibit, obat-obatan dan peralatan) maupun hasil produksi.
Sifat permintaan ayam ras masih cenderung berfluktuasi sehingga perencanaan usaha dengan
pertimbangan faktor waktu.
Karakteristik produk ayam ras petelur bersifat perishable (mudah rusak) sehingga diperlukan
perencanaan usaha yang sangat cermat dan teliti dan dukungan teknologi penyimpanan.
Bagi pengusaha mandiri harus dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan besar yang
biasanya menguasai sarana produksi yang berwawasan lingkungan.
Pengembangan peternakan skala besar perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat
setempat untuk menghindari masalah sosial yang mungkin terjadi di masyarakat.
Membangun sistem agribisnis peternakan yang secara terintegrasi dari hulu sampai hilir dan
membangun jaringan distribusi yang mantap serta meningkatkan kualitas produk untuk
menghadapi ancaman perdagangan bebas.

2. FASILITAS USAHA
 Kandang
Sistem perkandangan ayam petelur dapat berupa litter dan cage. Sistem litter
menggunakan alas berupa sekam, serbuk gergaji, atau bahan lainnya. Sistem cage
dapat berupa single bird cage (diisi satu ekor ayam, disebut juga kandang tipe
baterai), multiple bird cage (diisi 2 ekor ayam atau lebih, tidak lebih dari 8 – 10 ekor),
dan colony cage (diisi 20 – 30 ekor ayam). Lebar bangunan kandang untuk ayam
petelur saat fase layer sebaiknya sekitar 8 m apabila tipe kandang terbuka, jika lebar
kandang 12 m maka perlu dilengkapi dengan ridge ventilation. Jika ventilasi kurang
baik, amoniak dari ekskreta akan mejadi racun bagi ayam, menimbulkan gangguan
pernafasan, penurunan produksi, dan penyakit cacing untuk ayam yang dipelihara di
kandang litter.
Pemberian cahaya sebaiknya 14 jam per hari, yaitu kombinasi antara cahaya matahari
dan cahaya lampu sebagai tambahan, tujuannya untuk meningkatkan produksi telur,
mempercepat dewasa kelamin, mengurangi sifat mengeram, dan memperlambat
molting (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Suhu optimal untuk pemeliharaan ayam
petelur strain Hy-Line Brown fase layer yaitu 18 – 27%, dengan batas kelembaban 40
– 60%. Intensitas cahaya sekitar 20 lux. Sistem kandang dapat berupa litter
(kepadatan maksimum 8 ekor/m2), slat (kepadatan maksimum 10 ekor/m2) atau
kombinasi litter-slat (kepadatan maksimum 9 ekor/m2). Sarang untuk bertelur
berbentuk boks, satu sarang dengan ukuran 30 x 40 x 50 cm dapat digunakan
maksimum untuk delapan ekor ayam. Sarang tidak diperlukan untuk kandang sistem
cage (Hy-Line International, 2010).
Cage dapat dibuat bertingkat hingga tiga deck atau lebih. Deck disusun membentuk frame A
agar ekskreta ayam dari deck atas langsung jatuh ke lantai atau tempat penampungan ekskreta
dan tidak jatuh ke deck di bawahnya.
Partisi untuk cage dapat berupa solid (tertutup) atau wire. Partisi yang berbentuk wire
berfungsi untuk mengoptimalkan pertukaran udara di dalam cage. Cage untuk ayam petelur
dapat terbuat dari berbagai bahan seperti logam, plastik, kayu, atau bambu (Lelystad, 2004).
Lantai cage dibuat agak miring agar telur dapat menggelinding ke tepi tempat telur sehingga
memudahkan proses pengambilannya (Hy-Line International, 2010).

 Litter (alas lantai)
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air
hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan
litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir
secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti
kulit padi/sekam.
 Tempat bertelur
Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor,
dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam.
Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger,
penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah
dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat
hingga telur langsung ke luar sarang setelah bertelur dan dibuat lubah yang lebih
besar dari besar telur pada dasar sarang.

 Tempat bertengger
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan
kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar
terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
 Tempat makan, minum dan tempat grit
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium
atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan
kotak khusus
 Penyiapan Bibit
Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut :
• Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.
• Pertumbuhan dan perkembangan normal.
• Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.

PROYEKSI FINANSIAL DAN KEBUTUHAN MODAL
Luas lahan yang digunakan adalah sekitar 54 m(9x6)m.
Jumlah ekor ayam ± 100
Biaya produksi
Biaya investasi
Bibit ayam umur 6 bulan, 100 ekor
@ Rp 35.000 Rp 3.500.000
b. Pembuatan Kandang
batere 100 kotak
@ Rp 15.000 Rp 1.500.000
Total biaya investasi………………..Rp 5.000.000

Biaya operasional per tahun
Pakan layer Rp 8.352.000
Tenaga kerja Rp 900.000
Penyusutan kandang
Untuk 5 tahun Rp 300.000
Kematian 1 % Rp 35.000
Vaksin dan Jamu Rp 132.000
Total Biaya Operasional…………..Rp 9.719.000
Diasumsikan untuk memelihara ayam kampung petelur dari bibit dara diperlukan 1 kotak
untuk 1 ekor ayam.

Harga pakan layer Rp 2.900/kg, kebutuhan pakan untuk ayam kampung petelur adalah 80
g/hari atau 0,08 kg/hari, perhitungan untuk 100 ekor selama 1 tahun adalah 100 ekor x
0,08xRp 2.900x360 = 8.352.000
1 orang tenaga kerja mendapat bayaran Rp 750 untuk merawat 1 ekor ayam dalam 1 tahun
adalh 100xRp 750x12 = Rp 900.000
Biaya penyusutan kandang per tahun adalah Rp 1.500.000 (biaya pembuatan kandang) : 5
tahun = Rp 300.000
Kematian ayam dara (usia 3 bulan ke atas) sebesar 1%xRp 3.500.000 (harga investasi ayam
dara) = Rp 35.000
B. Nilai Produksi
Penjualan telur ayam, dengan asumsi
nilai produksi telur rata-rata/hari dari
100 ekor ayam adalah 35% = 35 butir telur
(90%x100 ekor x Rp 800 x 360 ) Rp 10.080.000
Penjualan ayam apkir
(induk yang sudah tidak
Mampu memproduksi telur)
Sebagai ayam pedaging
(90% x 100 ekor x Rp 30.000 ) Rp 2.970.000
Jumlah Nilai Produksi…………………………….Rp 13.050.000
C. Keuntungan
Keuntungan = Nilai produksi/tahun-biaya operasional/tahun
= Rp 13.050.000 – Rp 9.719.000
= Rp 3.331.000 (per tahun)

= Rp 277.583,33 (per bulan)
= Rp 9.252,77 (per hari)
Keterangan :
Harga telur ayam kampung di tingkat peternak bervariasi antara Rp 800-Rp1200 per butir,
tetapi dalam perhitungan ini dipakai harga terendah yaitu Rp 800.
Oleh karena kematian ayam dara usia 3 bulan ke atas diperkirakan hanya 1%, ayam apkir
yang dapat dijual sebesar 99%.
Penjualan ayam apkir dapat dilakukan pada saat permintaan pasar untuk daging ayam sedang
tinggi (misalnya, pada saat hari raya idul fitri), harganya berkisar Rp 30.000-Rp 40.000.
dalam perhitungan ini digunakan harga minimum yakni Rp 30.000.