Upaya mengurangi kecemasan belajar matematika siswa dengan penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya: sebuah studi penelitian tindakan di SMP Negeri 21 Tangerang

BAB II
KAJIAN TEORITIK
DAN PENGAJUAN KERANGKA KONSEPTUAL PERENCANAAN
TINDAKAN
A. Kajian Teoritik
1. Kecemasan
a. Pengertian Kecemasan
Secara leksikal kata cemas atau “Anxiety” diambil dari Bahasa
Inggris, berpadanan dengan kata “fear”, yang memiliki arti “kecemasan
atau ketakutan”. Menurut DepKes RI, 1990, kecemasan adalah “ketegangan,
rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi
sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak
diketahui dan berasal dari dalam.“1
Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb kecemasan adalah “respon
terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal normal yang
terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru, atau yang
pernah dilakukan.“2 Stuart & Sundeen, berpendapat bahwa kecemasan
berbeda dengan rasa takut. Kecemasan adalah respon emosional terhadap
penilaian yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
Keadaan emosional ini tidak memiliki objek yang spesifik yang merupakan
penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Sedangkan menurut
Cluster kecemasan merupakan reaksi individu yang tertekan dalam
menghadapi kesulitan sebelum kesulitan itu terjadi. 3
Menurut para ahli psikologi, kecemasan (anxiety) seringkali juga
digambarkan sebagai perpaduan empat komponen , yaitu kognitif, somatik,
emosi, dan tingkah laku. Komponen kognitif, kecemasan (anxiety)
menyebabkan seseorang mengalami kehilangan kontrol konsentrasinya,
yang ditandai oleh keinginan untuk menghilangkan perasaan yang tidak
“Kecemasan” dalam http://www.scribd.com/doc/19546358/kecemasan
Fitri Fausiah dan Julianti Widuri (eds),Psikologi Abnormal Klinis Dewasa, (Jakarta:UI
Press,2008),h.73.
3
“Kecemasan” dalam http://www.scribd.com/doc/19546358/kecemasan
1

2

13

14

menentu atau perasaan yang membahayakan bagi dirinya. Secara somatik,
anxiety menyebabkan seseorang yang mengalami kehilangan kontrol
fisiknya, yang ditandai dengan “kecepatan detak jantung yang meningkat,
keringat bertambah, aliran darah meningkat, dan fungsi sistem kekebalan
dan pencernaan tersumbat, kulit pucat, keringat, dan gemetar.”4 Secara
emosi, kecemasan (anxiety) menyebabkan perasaan seseorang takut atau
panik, yang ditandai dengan perasaan muak atau sikap dingin. Secara
tingkah laku, kecemasan (anxiety) menyebabkan sikap keterpaksaan
seseorang melakukan sesuatu dan ingin melepaskan diri dari sumber
kecemasan (anxiety), yang ditandai dengan sikap yang tidak terkendali
dalam melakukan sesuatu.
Masih banyak lagi pendapat-pendapat tentang kecemasan dari para
ahli psikologi, namun dari beberapa uraian di atas penulis dapat menarik
kesimpulan bahwa kecemasan adalah suatu perasaan subjektif mengenai
ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari
ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman.
Seperti suasana yang dihadapi siswa saat harus menghadapi ujian, merasa
tidak sanggup mencapai target kurikulum yang ditetapkan sebagai standar
kelulusan dan sebagainya. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada
umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau
disertai disertasi perubahan fisiologis (seperti gemetar, berkeringat, detak
jantung meningkat) dan psikologis (seperti perasaan panik, tegang, bingung,
dan perasaan tidak atau sulit berkonsentrasi).5
Mesikupun

demikian,

menurut

penulis

kecemasan

(anxiety)

bukanlah sesuatu masalah yang tidak dapat dikendalikan, karena kecemasan
(anxiety) merupakan perubahan emosi yang biasa terjadi pada diri seseorang
dalam perjalanan hidupnya, seperti rasa khawatir, takut, sedih, dan senang.

4
5

Pengertian Kecemasan dalam http:// Psikologi.or.id.
Pengertian Kecemasan dalam http:// Psikologi.or.id.

15

b. Tipe atau Macam Bentuk Kecemasan
Para ahli psikologi membagi kecemasan (anxiety) pada beberapa
tipe/macam, tergantung jenis pengelompokannya. Freud, seorang pakar
psikoanalitik pertama mengungkapkan bahwa ada 3 macam kecemasan,
yaitu:6
1. Kecemasan realistik, yaitu kecemasan akan adanya ancaman dari luar.
Adapun taraf kecemasannya tergantung/ sesuai dari besarnya ancaman
tersebut. Kecemasan inilah yang persis dikatakan oleh Freud sebagai rasa
takut.
2. Kecemasan moral, yaitu kecemasan yang bukan datang dari dunia luar
atau dunia fisik tapi dari dunia super ego yang telah diinternalisasikan ke
dalam diri kita. Kecemasan bentuk ini merupakan kecemasan terhadap
hati nurani sendiri.
3. Kecemasan neorotik, yaitu kecemasan yang muncul akibat rangsanganrangsangan id. Contohnya adalah munculnya perasaan gugup, kehilangan
ide, tidak mampu mengendalikan diri, perilaku bahkan pikiran.
Kecemasan neurotik inilah yang biasa disebut dengan kecemasan yang
sehari-hari sering dialami oleh setiap orang.
Sementara itu, Lahey dan Ciminero mengelompokkan tipe/ macam
kecemasan berdasarkan sifatnya ke dalam 3 tipe, yaitu:
1. Kecemasan yang bersifat afersif, kecemasan ini merupakan pengalaman
yang tidak menyenangkan, sehingga seseorang yang mengalaminya
berusaha untuk menghindari kecemasan dengan cara menghindarkan diri
dari berbagai stimulus yang dapat menghasilkan kecemasan.
2. Kecemasan yang bersifat mengganggu, kecemasan ini merupakan
kecemasan yang dapat mengganggu kemampuan kognitif dan motorik.
3. Kecemasan yang bersifat psikofisiologis. Kecemasan ini berkaitan
dengan pengalaman yang melibatkan aspek psikologis dan biologis yang
mengalaminya. Dengan kata lain, seseorang yang sedang mengalami

6

“Kecemasan” dalam http://www.scribd.com/doc/19546358/kecemasan

16

kecemasan ini akan mengalami perubahan-perubahan. Perubahan dalam
pola perilaku psikologinya dan gejala-gejala fisiologisnya.

c. Kecemasan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika
Pada dasarnya belajar adalah memberikan bekal hidup kepada
peserta didik agar mampu menghadapi hidup pada masa depan. Untuk itu,
selama berlangsungnya proses belajar seorang guru harus dapat melihat
potensi yang dimiliki peserta didiknya (siswa) sehingga keberhasilan belajar
dapat tercapai, yang tercermin dari performan belajar siswa. Menurut Gagne
“belajar telah terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi
ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga performannya
berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia
mengalami situasi tadi.”7
Sebagai pengajar, guru harus sadar akan situasi dan berhati-hati
mengamati lingkungan sekolah, sehingga peristiwa-peristiwa traumatik
yang dapat merendahkan konsep diri siswa dapat dikurangi. Karena selain
mempengaruhi tingkat aspirasi dan konsep diri siswa, situasi pembelajaran
yang menekan juga cenderung menimbulkan kecemasan pada diri siswa.8
Beberapa hasil penelitian atau kajian menunjukkan bahwa kecemasan
(anxiety) dalam belajar matematika berkaitan dengan performan belajar
matematika siswa.9
Misalnya, penelitian Bessant (1995) menyatakan anxiety
matematika berkorelasi dengan sikap terhadap matematika.
Eccles dan Jacob (Wisenbaker, 2001) menyatakan bahwa
kualitas belajar matematika siswa sangat dipengaruhi oleh
konsep diri siswa dan anxiety matematika siswa. Kualitas belajar
yang dimaksud adalah kualitas pada proses belajar dan hasil
belajar matematika siswa. Barlow (2003) anxiety matematika
mempengaruhi efektivitas belajar, semakin rendah anxiety
matematika maka efektivitas belajar tinggi dan demikian
7

M.Ngalim Purwanto,Psikologi Pendidikan,(Bandung: PT.Remaja Rosda Karya,
2004),Cet.XVIII,h.84.
8
Slameto,Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya,(Jakarta:Remaja PT Rineka
Cipta,2010),Cet.V,h.185.
9
“Mengatasi Kecemasan (Anxiety) Dalam Pembelajaran Matematika” dalam Pustaka
ilmiah.unila.ac.id/2009/ 07/16/. Pukul 19:49

17

sebaliknya. Pendapat yang lain, Tapia dan Marsh (2004)
menyatakan anxiety matematika memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap keyakinan diri dan motivasi matematika.
Nasser (2004) menyatakan bahwa anxiety mempengaruhi
kemampuan dasar matematika. Berdasarkan beberapa pendapat
di atas, nampaklah bahwa anxiety matematika secara signifikan
berkaitan dengan performan belajar matematika siswa, seperti
efektivitas belajar matematika dan kemampuan dasar
matematika (aspek kognitif, serta sikap terhadap matematika,
motivasi berprestasi matematika, dan konsep diri matematika
(aspek afektif).
Dari penelitian Sarason dan kawan kawanpun didapati kenyataan
bahwa “siswa dengan tingkat kecemasan yang tinggi tidak berprestasi
sebaik siswa yang tingkat kecemasannya lebih rendah pada beberapa jenis
tugas.”10 Padahal „ambisi‟ berprestasi sangat diperlukan dalam belajar,
karena dengan „ambisi‟ itu akan memberikan motivasi belajar yang kuat dan
kemampuan untuk berlama-lama dalam belajar. Pendapat ini memberikan
pengertian bahwa kecemasan (anxiety) sangat diperlukan dalam belajar
matematika, namun kecemasan (anxiety) yang terjadi tidak boleh terlalu
lama atau dengan kata lain kecemasan (anxiety) harus dikendalikan.
Guru sebagai pengajar yang efektif hendaknya harus dapat
menciptakan minat dan motivasi yang cukup pada siswa untuk berprestasi,
tanpa menciptakan keadaan-keadaan yang menekan. Karena sebenarnya,
kecemasan (anxiety) dalam matematika merupakan hal yang wajar pada diri
siswa karena orang pasti memiliki kecemasan (anxiety). Namun yang perlu
diperhatikan adalah kecemasan (anxiety) matematika siswa tidak boleh
dibiarkan terlalu lama mengendap pada diri siswa karena hal itu akan
menyebabkan turunnya semangat berprestasi.
Pada kadar yang rendah, kecemasan mambantu individu untuk
bersiaga mengambil langkah–langkah mencegah bahaya atau untuk
memperkecil dampak bahaya tersebut. Kecemasan pada taraf tertentu dapat
mendorong meningkatnya performa misalnya karena cemas mendapatka IP/
nilai yang buruk maka mahasiswa/ siswa berusaha belajar keras dan

10

Slameto,Belajar dan Faktor-faktor ..., h.185.

18

mempersiapkan diri saat akan menghadapi ujian.11 Oleh karena itu,
kecemasan (anxiety) yang pada diri siswa tidak mungkin dapat dihilangkan
namun hanya dapat dikurangi atau dikendalikan, kemudian kecemasan
(anxiety) ini diarahkan pada pengembangan potensi diri siswa. Slameto
dalam bukunya memberikan beberapa saran yang mungkin dapat membantu
memotivasi siswa untuk menyiapkan diri dan melaksanakan

tes tanpa

merasa cemas, yaitu:12
1.

Tes harus dimaksudkan untuk diagnosa, bukan untuk menghukum
siswa yang gagal mencapai harapan-harapan guru dan orang tua.

2.

Hindari menentukan berhasil atau tidaknya siswa hanya dari hasil satu
tes.

3.

Buatlah catatan pribadi pada setiap lembar jawaban tes yang
menyarankan siswa untuk tetap berusaha dengan baik atau harus
meningkatkan usahanya.

4.

Yakinkan bahwa setiap pertanyaan mengukur hal yang penting yang
telah diajarkan kepada siswa.

5.

Hindari pelaksanaan ujian tanpa adanya pemberitahuan.

6.

Jadwalkan pertemuan-pertemuan pribadi dengan siswa sesering
mungkin untuk untuk mengurangi kecemasan dan untuk mengarahkan
belajar apabila perlu.

7.

Hindari membanding-bandingkan siswa, yang dapat menyinggung
perasaan.

8.

Tekankan kelebihan-kelebihan siswa bukan kelemahan-kelemahannya.

9.

Kurangi peranan-peranan ujian yang bersifat kompetitif bila siswa tidak
sanggup bersaing.

10. Rahasiakan taraf dan nilai-nilai siswa dari siswa-siswa lainnya.
11. Beri siswa kemungkinan untuk memilih aktivitas-aktivitas yang
mempunyai nilai pengajaran yang sebanding.

11
12

Fitri Fausiah dan Julianti Widuri (eds),Psikologi Abnormal..., h.74.
Slameto,Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya..., h.187.

19

2. Belajar dan Pembelajaran Matematika
a. Pengertian Belajar
Banyak orang menganggap bahwa belajar adalah semata-mata
mengumpulkan/

menghafal

fakta-fakta

yang

tersaji

dalam

bentuk

informasi/materi pelajaran. Biasanya orang yang beranggapan demikian
akan merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan
kembali secara lisan sebagai informasi yang terdapat dalam buku teks atau
yang telah diajarkan oleh guru. Ada juga sebagian orang yang menganggap
bahwa belajar itu sebagai latihan belaka, seperti tampak ketika anak-anak
belajar menulis atau membaca saat di sekolah. Hal demikian memang benar,
tapi pada hakikatnya belajar tidak semudah seperti persepsi yang telah
disebutkan.
Pengertian belajar tidak hanya sekedar mengumpulkan ilmu
pengetahuan, menghafal, menghadapi buku-buku atau menyelesaikan soasoal suatu mata pelajaran tetapi lebih daripada itu, belajar adalah suatu
proses yang dapat membawa perubahan pada diri individu yang belajar.
Hilgard dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar
mengatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses dimana ditimbulkan atau
diubahnya suatu kegiatan karena mereaksi suatu keadaan.”13 Oleh karena itu
berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung
pada proses belajar yang dialami siswa. Menurut Witherington “belajar
merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai
pola-pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan,
pengetahuan dan kecakapan.”14 Morgan mengemukakan belajar adalah
setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi
sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.15 Menurut Whittaker
belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan
13

Moh.Uzer Usman dan Lili Setiawati(eds),Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar
Mengajar,(Bandung:Remaja Rosda Karya,2005),h.5.
14
Nana Syaodih Sukmadinata(ed),Landasan Psikologi Proses Pendidikan, ( Bandung:
PT.RemajaRosdakarya, 2003),h.155.
15
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), Cet.
XX, hal. 84

20

atau diubah melalui suatu pengalaman.16 Belajar dapat pula diartikan
sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu dikarenakan
adanya interaksi antara individu dengan individu, atau individu dengan
lingkungannya, seperti yang dikatakan oleh W.H Burton “learning is a
change in the individual due to instruction of that individual and his
environment, wich fells a need and makes him more capable of dealing
adequately with his environment.”17
Banyak sekali pendapat para ahli pendidikan tentang pengertian
belajar, seperti yang telah disebutkan di atas. Timbulnya keanekaragaman
pendapat para ahli adalah wajar adanya dikarenakan adanya perbedaan titik
pandang serta perbedaan situasi belajar yang satu dengan situasi belajar
yang lainnya. “Namun demikian, dalam beberapa hal tertentu yang
mendasar mereka sepakat, seperti dalam penggunaan kata “berubah” dan
“tingkah laku”.”18
Telah kita ketahui bahwa belajar adalah suatu proses yang
menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah
laku atau kecakapan, maka berhasil atau tidaknya sorang siswa dalam
belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Adapun faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam
belajar, menurut Ngalim Purwanto dalam bukunya yang berjudul Psikologi
Pendidikan adalah:19
1. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut
faktor individual, seperti kematangan/ pertumbuhan individu,
kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.
Abu Ahmadi dan Widodo Supriono “Psikologi belajar” (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2003), Cet. II, h.126.
17
Moh. Uzer Usman(ed), Menjadi Guru Profesional, (Bandung:Remaja Rosda Karya,
2003), Cet.XV,h.5.
18
Muhibbin Syah(ed), Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung:
PT.Remaja Rosdakarya,2004), Cet.IX..90-93.
19
M.Ngalim Purwanto,Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya,
2004),Cet.XII,h.102-105.
16

21

2. Faktor yang ada diluar individu yang kita sebut faktor sosial.
Adapun yang termasuk kedalam faktor sosial antara lain: faktor
keluarga/ keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alatalat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan
kesempatan belajar serta motivasi sosial.
Selain faktor internal dan faktor eksternal, Muhibbin menambahkan
pendekatan belajar sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
pembelajaran.20

c. Pengertian Matematika
Secara etimologi, kata matematika berasal dari bahasa latin
mathematica, yang mula-mula berasal dari kata Yunani “mathematike”,
akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu, kata mathematike
berkaitan pula dengan kata mathenain yang berarti berfikir atau belajar yang
lebih jauhnya berarti matematis.21 Somardyono mengatakan bahwa
“Matematika adalah produk dari pemikiran intelektual manusia”.22 Menurut
Jujun matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna
dari pernyataan yang ingin kita sampaikan.23
Masih banyak lagi pengertian matematika, namun sampai saat ini
belum ada kesepakatan yang bulat diantara matematikawan. Hal ini
disebabkan penelaahan matematika yang begitu kompleks dan banyak yang
bersifat abstrak. Banyak muncul definisi/ pengertian tentang matematika
yang beraneka ragam, hal itu disebabkan adanya perbedaan sudut pandang
dari para ahli / tokoh matematika. Dengan kata lain, tidak terdapat satu
definisi tentang matematika yang tunggal dan disepakati oleh semua tokoh/

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar… h.132
Matematika dalam http://id.wikipedia.org/wiki/matematika/26/02/2010 pukul 13:56
22
Sumardyono, “Karakteristik Matematika Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran
Matematika”, Disertasi, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah, 2004), h. 5.
23
Joula Eka Ningsih Paimin, “Agar anak Pintar Matematika”. (Jakarta:Puspa Swara,
1998) h.3.
20

21

22

pakar matematika. Berikut beberapa pendapat tentang definisi matematika
yang dikutip oleh Maman dalam buku Erman:24
1.

James and James dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa
matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan
besaran, dan konsep-konsep berhubungan lainnya dengan jumlah yang
banyak yang terbagi kedalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan
geometri.

2.

Menurut Johnson and Rising bahwa matematika adalah pola berpikir,
pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, atau matematika itu
adalah bahasa yang menggunakan istilah didefinisikan dengan cermat,
jelas dan akurat, merefleksikannya dengan simbol-simbol dan padat,
lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyinya.

3.

Menurut Reyes adalah bahwa matematika merupakan telaah tentang
pola hubungan sesuatu atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan
suatu alat.

4.

Menurut Kline, matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang
dapat sempurna karena adanya sendiri, tetapi adanya matematika itu
terutama

untuk

manusia

dalam

memahami

dan

menguasai

permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.

d. Pengertian Pembelajaran Matematika
Pembelajaran dalam arti luas diartikan “suatu konsep yang bisa
berkembang seirama dengan tuntunan kebutuhan hasil pendidikan yang
berkaitan dengan kemajuan teknologi

yang melekat pada wujud

perkembangan kualitas sumber daya manusia.”25 Sedangkan pengertian
pembelajaran yang berkaitan dengan sekolah diartikan “kemampuan dalam
mengelola secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen
yang berkaitan dengan pembelajaran, sehingga menghasilkan nilai tambah
24

Erman Suherman dkk, Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: JICA,
2003), h.15.
25
Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari, Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual
Siswa, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h.21-22

23

terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.”26
Disebutkan pula oleh Sumiati bahwa “pembelajaran merupakan proses
memberi pengalaman belajar kepada siswa sesuai dengan tujuan yang
hendak dicapai dengan berbagai cara.”27 Karena pembelajaran merupakan
proses yang dilakukan untuk membantu para siswa untuk mengoptimalkan
belajarnya. “Pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar
dapat belajar dengan baik.”28 Sedangkan tanda umum telah terjadinya proses
pembelajaran didapatnya perubahan tingkah laku siswa yang lebih maju,
lebih tinggi, dan lebih baik dari tingkah laku sebelum terjadinya proses
pembelajaran.

Pengertian

pembelajaran

ini

menyebutkan

bahwa

pembelajaran adalah perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku
melalui pembelajaran yaitu perubahan yang lebih maju, lebih tinggi dan
lebih baik daripada tingkah laku yang sedia ada sebelum aktifitas
pembelajaran. Secara luas dapat dibedakan bahwa belajar adalah proses
yang dilakukan oleh siswa secara individu dan pembelajaran adalah proses
yang sengaja dilakukan agar kegiatan belajar siswa lebih optimal. Menurut
Usman, “...proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik
yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.”29
Sedangkan matematika sendiri sebenarnya cukup sulit untuk
didefinisikan secara konkret, namun menurut sebagian pendapat ada yang
mencoba mendefinisikan arti dari matematika. Seperti Johnson dan Rising
(1972) yang mengatakan bahwa “matematika adalah pola berpikir, pola
mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa
yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan
akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa
simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.”30
26

Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari, Taktik Mengembangkan...., h.22
Sumiati dan Asra, “Metode Pembelajaran” (Bandung: Wacana Prima, 2009), h.3.
28
Pembelajaran, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran 10 April 2008, 23:12.
29
Ragam Metode Pembelajaran Interaktif, dalam http://dossuwanda. wordpress.com
3 April 2008 23:49.
30
Erman Suherman, dkk. (eds.), Strategi Pembelajaran Matematika..., hal.17
27

24

Dengan demikian pembelajaran matematika merupakan suatu proses
kegiatan yang dilakukan guru terhadap siswa untuk membantu siswa dalam
belajar matematika ke arah perubahan tingkah laku dan pola pikir yang lebih
maju, lebih tinggi, dan lebih baik dari sebelumnya.

e. Karakteristik Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika di sekolah tidak bisa terlepas dari sifatsifat matematika yang abstrak dan sifat perkembangan intelektual siswa
yang diajar. Ada beberapa sifat atau karakteristik pembelajaran matematika.
Menurut Erman. dalam bukunya mengungkapkan bahwa:31
a) Pembelajaran matematika adalah berjenjang (bertahap).
Bahan kajian matematika yang diajarkan dimulai dari hal yang kongkrit
dan dilanjutkan ke hal yang abstrak atau dari konsep yang mudah atau
sederhana kepada konsep yang sukar atau kompleks. Contohnya adalah
pengenalan luas bangun datar sebelum pengenalan luas bangun ruang.

b) Pembelajaran matematika mengikuti metoda spiral
Metoda spiral yang dimaksud adalah spiral naik. Artinya setiap
memperkenalkan konsep atau bahan yang baru perlu memperhatikan
konsep atau bahan yang telah dipelajari siswa sebelumnya. Bahan yang
baru selalu dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajari. Pengulangan
konsep dalam bahan ajar dengan cara memperluas dan memperdalam
adalah perlu dalam pembelajaran matematika. Contohnya adalah
pengulangan atau pendalaman konsep rumus phytagoras ketika konsep
penghitungan luas segitiga siku-siku diajarkan.

c) Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif.
Matematika adalah ilmu deduktif yang tersusun secara deduktif
aksiomatik. Namun demikian kita harus dapat memilih pendekatan yang
cocok dengan kondisi anak didik yang kita ajar. Artinya walaupun secara
31

Erman Suherman, dkk., Strategi Pembelajaran Matematika..., h.68-69

25

keseluruhan matematika adalah ilmu deduktif tetapi belum seluruhnya
cocok menggunakan pendekatan deduktif. Sebagai contoh dalam
pengenalan fungsi, tidak diawali oleh definisi fungsi, tetapi diawali
dengan memberikan contoh-contoh relasi yang diantaranya ada yang
merupakan fungsi. Sehingga dari pengamatan terhadap contoh-contoh
tersebut kelihatan bedanya antara relasi biasa dengan relasi yang khusus
yaitu fungsi. Namun secara umum pembelajaran matematika akan lebih
baik bila menekanankan pada pola pikir deduktif.

d) Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.
Kebenaran

dalam

matematika

sesuai

dengan

struktur

deduktif

aksiomatiknya. Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya
merupakan kebenaran konsistensi, tidak ada pertentangan antara
kebenaran suatu konsep dengan yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap
benar bila didasarkan atas pernyataan-pernyataan terdahulu yang telah
diterima kebenarannya.
Sedangkan

menurut

Sumardyono

karakteristik

pembelajaran

matematika sekolah antara lain:32
a) Penyajian
Penyajian matematika tidak harus diawali dengan teorema maupun
definisi, tetapi haruslah disesuaikan dengan perkembangan intelektual
siswa.
b) Pola Pikir
Pembelajaran matematika sekolah dapat menggunakan pola pikir
deduktif maupun pola pikir induktif. Hal ini harus disesuaikan dengan
topik bahasan dan tingkat intelektual siswa. Sebagai kriteria umum,
biasanya di SD menggunakan pendekatan induktif lebih dulu karena hal
ini lebih memungkinkan siswa menangkap pengertian yang dimaksud.

Sumardyono, “Karakteristik Matematika Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran
Matematika....., h. 43 - 45. t.d.
32

26

Sementara untuk tingkat SMP dan SMA, pola pikir deduktif sudah
semakin ditekankan.
c) Semesta Pembicaraan
Sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa, maka matematika
yang disajikan dalam jenjang pendidikan juga dalam kekomplekan
semestanya.
d) Tingkat Keabstrakan
Seperti pada poin sebelumnya, tingkat keabstrakan matematika juga harus
menyesuaikan perkembangan intelektual siswa.

3. Metode Diskusi Kelompok Teknik Tutor Sebaya
a. Pengertian Metode Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok merupakan gabungan dari dua kata, diskusi dan
kelompok. Secara harfiah diskusi diartikan sebagai “kegiatan yang
melibatkan individu yang terlibat didalamnya untuk saling tukar menukar
pengalaman, informasi dalam rangka memecahkan masalah;”33 sedangkan
kelompok adalah kumpulan dua orang atau lebih untuk suatu kerja atau
suatu tujuan. Jadi diskusi kelompok erat kaitannya dengan belajar dapat
diartikan sebagai sekelompok siswa yang mengerjakan pelajaran secara
bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.34 Menurut
Sumiati

dalam

buku

metode

pembelajaran

adalah

“satu

metode

pembelajaran agar

siswa dapat berbagi pengetahuan, pandangan, dan

keterampilannya.”35

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat ditarik

kesimpulan bahwa metode dikusi kelompok adalah: metode atau cara
penyajian suatu pelajaran, dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah
yang berupa pernyataan atau pertanyaan bersifat problematis untuk dibahas
atau dipecahkan secara bersama.

33

Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), Cet.VII,

h.5.
34

Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka
Setia, 2005), Cet.II, h.89.
35
Sumiati dan Asra, “Metode... , h.141.

27

Diskusi Kelompok pada dasarnya memecahkan persoalan secara
bersama, artinya setiap orang turut memberikan sumbangan pikiran dalam
memecahkan persoalan tersebut, sehingga diperoleh hasil yang lebih baik
sebab cara belajar sendiri di rumah sering menimbulkan kebosanan dan
kejenuhan. Untuk mengatasinya divariasikan dengan cara belajar bersama
dengan teman yang paling dekat (belajar kelompok).
Pengorganisasian murid-murid menjadi kelompok, memainkan
peranan penting agar hasil belajar dapat mencapai hasil yang memuaskan.
Maka dalam membentuk kelompok kita dapat menggunakan berbagai
argumentasi; Ditinjau dari lamanya suatu kelompok berfungsi, kita
membedakan adanya:36
a) Kelompok Permanen (Long Term Group); misalnya kelompok yang
dibentuk untuk selama satu tahun.
b) Kelompok Temporer (Short Term Group); misalnya kelompok yang
dibentuk hanya untuk selama satu atau dua jam pelajaran dan lain
sebagainnya.
Ditinjau dari komposisi anggota kelompok, kita membedakannya
menjadi kelompok heterogen dan kelompok homogen. Kemudian kelompok
heterogen dan kelompok homogen dapat pula dilanjutkan pembagiannya ke
dalam bentuk sebagai berikut: Kelompok heterogen menurut jenis kelamin,
kelompok heterogen menurut taraf kecerdasan, kelompok homogen jenis
kelamin, dan kelompok homogen menurut taraf kecerdasan.
Membentuk suatu kelompok murid, yang terbaik adalah setelah
kelompok terbentuk, semua anggota kelompok itu dapat bekerja sama secara
harmonis.

Trianto

dalam

bukunya

memberikan

langkah-langkah

penyelenggaraan metode diskusi yaitu sebagai berikut:37

36

Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar..., h.92.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstuktivistik, (Jakarta:
Prestasi Pustaka, 2007), h.118.
37

28

Tabel 2.1
Langkah-langkah Penyelenggaraan Diskusi
Tahap

Kegiatan Guru
a. Menyampaikan Pendahuluan

1.Menyampaikan tujuan dan

(a).Motivasi (b).menyampaikan tujuan dasar

mengatur siswa

diskusi (c).apersepsi
b. Menjelaskan tujuan diskusi

2. Mengarahkan Diskusi
3.Menyelenggarakan
Diskusi

Memberikan petanyaan awal (topik/ materi).
Membimbing/ mengarahkan diskusi.

4.Mengakhiri Diskusi

Menutup diskusi.

5. Melakukan tanya jawab

Membantu siswa membuat rangkuman

singkat

diskusi dan tanya jawab singkat.

Belajar kelompok ini diperlukan sekali bagi siswa yang mendapat
tugas untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

b. Kriteria Diskusi Kelompok yang Baik
Agar penerapan diskusi dalam kelompok menjadi lebih aktif, maka
ada beberapa yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:
a) Tujuan
Tujuan harus jelas bagi setiap anggota kelompok, agar diperoleh hasil
kerja yang baik. Tiap anggota harus tahu apa yang harus dikerjakan dan
bagaimana cara mengerjakannya. Itulah sebabnya dalam setiap kerja
kelompok perlu didahului dengan kegiatan diskusi untuk menentukan
kerja apa dan oleh siapa.
b) Interaksi
Dalam diksusi kelompok ada tugas yang harus diselasaikan bersama
sehingga perlu dilakukan pembagian kerja. Salah satu persyaratan utama

29

bagi terjadinya kerjasama adalah komunikasi yang efektif, perlu adanya
interaksi antar anggota kelompok.
c) Kepemimpinan
Tugas yang jelas, komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang baik
akan berpengaruh terhadap suasana kerja, dan pada gilirannya suasana
akan mempengaruhi proses penyelesaian tugas. Oleh karena itu maka
produktivitas dan iklim emosional kelompok merupakan dua aspek yang
saling terkait dalam proses kelompok.
Sebagai metode pembelajaran, diskusi tidak lepas dari kekurangan.
Namun demikian guru dapat menggunakan kelebihanya untuk dapat
mengoptimalkan siswa dalam belajar. Agar diskusi kelompok dapat berjalan
optimal, maka perlu diketahui ciri-ciri diskusi yang baik sehingga
memungkinkan kelompok untuk mencapai tujuan belajar yang efektif. Suatu
kelompok diskusi dikatakan baik apabila :
a) Semua anggota terlibat secara maksimal dalam menjalankan tugas yang
telah ditetapkan.
b) Interaksi yang terjadi antara siswa secara spontan terus dirangsang dan
senantiasa dikembangkan.
c) Antar anggota terjadi saling membimbing dan membantu dalam usahausaha kelompok sewaktu diperlukan.
d) Komunikasi antar anggota terjadi secara interaksional.
e) Diskusi dilakukan atas dasar rasional dan penalaran. Bukan atas dasar
sentimen dan emosi.
f) Anggota diskusi dapat bersikap demokratis.

c. Pengertian Teknik Tutor Sebaya
Salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah adalah rendahnya
hasil belajar siswa. Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
faktor dari dalam (individual) maupun faktor dari luar (sosial).
Faktor individu siswa terdiri dari aspek jasmani dan aspek rohani,
kesehatan aspek jasmani sudah pasti sangat mempengaruhi kelancaran siswa

30

dalam belajar, akan tetapi aspek psikis atau rohanipun tidak kalah
pentingnya dengan aspek jasmani. Untuk menunjang kelancaran belajar,
bukan hanya dituntut kesehatan jasmani saja, akan tetapi kesehatan
rohanipun diperlukan. Siswa yang sehat rohaninya adalah siswa yang
terbebas dari tekanan-tekanan batin yang mendalam, gangguan-gangguan
perasaan seperti kecemasan, frustasi dan depresi serta terbebas dari konflik
psikis.
Sering ditemukan di lapangan bahwa guru dalam membelajarkan
siswa hanya memperhatikan sisi kognitifnya tanpa memperhatikan sisi
psikologis siswa, sehingga sampai saat ini mengakarlah dogma bahwa siswa
yang mampu mendapat nilai sesuai standar yang ditentukan dapat
dinyatakan telah berhasil mengikuti proses pembelajaran. Sehingga siswa
dipaksa untuk belajar dan melatih kemampuannya untuk menyelesaikan soal
sebanyak mungkin tanpa memperhatikan apakah siswa merasa nyaman,
tidak terbebani dengan metode atau model belajar yang berorientasi pada
pencapaian nilai akhir setinggi mungkin yang tanpa disadari dapat
menimbulkan kecemasan siswa jika pada saatnya mengikuti tes akhir
mereka tidak mampu mendapatkan nilai sesuai yang telah ditentukan.
Timbul

pertanyaan

apakah

mungkin

dikembangkan

suatu

model

pembelajaran yang sederhana, sistematik, bermakna dan dapat digunakan
oleh guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan
baik yang tidak hanya menekankan pada pencapaian nilai akhir saja, akan
tetapi mampu membantu siswa dalam mengeksplorasi kemampuannya serta
dapat membantu siswa untuk memahami pelajaran dengan nyaman, tidak
terbebani serta tidak merasakan kecemasan dengan intensitas tinggi selama
kegiatan belajar berlangsung yang pada akhirnya mampu meningkatkan
hasil belajar siswa.
Seiring berkembangnya media dan metodologi pembelajaran, makin
banyak perhatian terhadap pengajaran tutor sebaya yang pada dasarnya
sama dengan program bimbingan, yang bertujuan memberikan bantuan dari
dan

kepada siswa agar dapat mencapai prestasi belajar secara optimal

31

karena sumber daya pengajar tidak harus selalu guru. Sumber daya pengajar
dapat dari orang lain yang bukan guru, melainkan teman sekelas.
Pembelajaran menggunakan metode tutor sebaya/ sistem tutor ini
telah banyak digunakan di Inggris dan di negara-negara yang mengikuti
sistem pendidikan Inggris38 Menurut Harsunarko “Sumber daya pengajar
yang bukan guru berasal dari orang yang lebih pandai disebut sebagai
tutor.”39 Seperti yang diungkapkan Supriyadi “Tutor sebaya adalah seorang
atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu
siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari
kelompok yang prestasinya lebih tinggi.“40 menurut Martinis Yamin model
tutorial merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang telah
dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari siswa secara mandiri.
Dari penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan defenisi teknik tutor
sebaya adalah teknik yang diterapkan dalam proses pembelajaran, dengan
menunjuk siswa sebagai tutor yang bertugas memberikan pemahaman
kepada siswa lainya dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain tutor
adalah salah seorang atau beberapa orang siswa yang pantas ditunjuk, dan
ditegaskan membantu siswa lain yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Dalam hal ini fungsi tutor hanyalah membantu guru dan bekerja sesuai
dengan petunjuk yang diberikan, ia bukanlah guru atau pengganti guru.
Pembelajaran tutor sebaya ini dapat dipandang sebagai reaksi
terhadap pembelajaran klasikal dengan kelas yang terlampau besar dan
padat sehingga guru atau tenaga pengajar tak dapat memberikan bantuan
individual, bahkan sering tidak mengenal pelajar seorang demi seorang.
Selain itu para pendidik mengetahui bahwa beberapa siswa menunjukkan
perbedaan dalam cara-cara belajar. Pengajaran klasikal yang menggunakan
proses belajar-mengajar yang sama bagi semua siswa tidak akan sesuai bagi
kebutuhan dan kepribadian setiap siswa. Maka karena itu perlu dicari sistem
38

S.Nasution, berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar, (Jakarta:PT
Bumi Aksara,2008), Cet.XII, h.199
39
Erman Suherman, dkk, Strategi Pembelajaran Matematika..., h.276
40
Erman Suherman, dkk, Strategi Pembelajaran Matematika...., h.277

32

pembelajaran yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran bagi
sejumlah besar siswa dan di samping itu memberi kesempatan bagi
pengajaran tutor sebaya.
Jadi, dalam pembelajaran dengan tutor sebaya, tutor hendaknya
adalah siswa yang mempunyai kemampuan lebih dibandingkan dengan
teman-temannya, sehingga pada saat ia membimbing teman-temannya ia
sudah menguasai bahan yang akan disampaikan kepada teman-teman
lainnya. Sebenarnya tutor sebaya merupakan modifikasi dari cara belajar
kelompok. Perbedaannya, pada cara berkelompok belum ada penekanan
secara khusus tentang siapa yang menjadi tutor bagi temannya. Masalah ini
dapat dilihat dari hasil evaluasi belajar yang menunjukkan siswa berhasil
dalam kelompok, namun tidak berhasil pada saat evaluasi belajar secara
individu. Karena dalam belajar kelompok, siswa yang lebih pandai tidak
berusaha memberikan penjelasan kepada siswa yang kurang, dan begitu
sebaliknya, siswa yang kurang pandai tidak diberikan kesempatan untuk
berdiskusi dan bertanya kepada teman yang lebih pandai. Akhirnya yang
bekerja dalam kelompok adalah mereka yang pandai.
Kelebihan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan
tutor sebaya siswa diajar untuk mandiri, dewasa, dan punya rasa setia kawan
yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, siswa yang dianggap
pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang pandai atau
ketinggalan. Di sini peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing
saja. Dengan kata lain, guru dapat menugaskan siswa pandai untuk
memberikan penjelasan (menjadi tutor sebaya) kepada siswa kurang pandai,
dengan demikian siswa yang bertanya tidak akan takut karena yang
mejelaskannya adalah tak lain kawan mereka sendiri.
Tutor dikatakan berhasil jika dapat menjelaskan dan yang dijelaskan
dapat membuktikan bahwa dia telah mengerti atau memahami dengan cara
hasil pekerjaannya. Adapun tahap-tahap kegiatan pembelajaran di kelas

33

dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya menurut Hamalik dalam
skripsi Syaripudin adalah sebagai berikut:41
1. Tahap persiapan
a) Guru membuat program pengajaran satu pokok bahasan yang
dirancang dalam bentuk penggalan-penggalan sub pokok bahasan.
Setiap penggalan satu pertemuan yang didalamnya mencakup judul
penggalan tujuan pembelajaran, khususnya petunjuk pelaksanaan
tugas-tugas yang harus diselesaikan.
b) Menentukan beberapa orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai
tutor sebaya. Jumlah tutor sebaya yang di tunjuk disesuaikan dengan
jumlah kelompok yang dibentuk.
c) Mengadakan latihan bagi para tutor. Dalam pelaksanaan tutorial atau
bimbingan ini, siswa yang menjadi tutor bertindak sebagai guru.
Sehingga latihan yang diadakan oleh guru merupakan semacam
pendidikan guru atau siswa itu. Latihan diadakan dengan dua cara
yaitu melalui latihan kelompok kecil dimana dalam hal ini yang
mendapatkan latihan hanya siswa yang akan menjadi tutor, dan
melalui latihan klasikal, dimana siswa seluruh kelas dilatih bagaimana
proses pembimbingan ini berlangsung.
d) Pengelompokan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang yang
terdiri atas 4-6 orang. Kelompok ini disusun berdasarkan variasi
tingkat kecerdasan siswa. Kemudian tutor sebaya yang telah ditunjuk
di sebar pada masing-masing kelompok yang telah ditentukan.
2. Tahap pelaksanaan
a) Setiap pertemuan guru memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang
materi yang di ajarkan.
b) Siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Tutor sebaya menanyai
anggota kelompoknya secara bergantian akan hal-hal yang belum
Sarifuddin, “Penerapan teknik tutor sebaya dan pemberian kartu skor partisipasi siswa
untuk meningkaatkan motivasi belajar matematika siswa”, Skripsi Jurusan Matematika
Universitas Islam Negeri Jakarta, (Jakarta: Perpustakaan Utama; 2008).t.d
41

34

dimengerti, demikian pula halnya dengan menyelesaikan tugas. Jika
ada masalah yang tidak diselesaikan barulah tutor meminta bantuan
guru.
c) Guru mengawasi jalannya proses belajar, guru berpindah-pindah dari
satu kelompok ke kelompok yang lain untuk memberikan bantuan jika
ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kelompoknya.
3. Tahap evaluasi
a) Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, guru memberikan soal-soal
latihan kepada anggota kelompok (selain tutor) untuk mengetahui
apakah tutor sudah menjelaskan tugasnya atau belum
b) Mengingatkan siswa

untuk mempelajari sub pokok bahasan

sebelumnya di rumah.
Dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya, diharapkan mampu
mengatasi masalah kelemahan dalam belajar kelompok. Namun demikian,
perlu diketahui bahwa teknik tutor sebaya memiliki kelebihan dan
kekurangan. Berdasarkan beberapa sumber, dapat diambil kesimpulan
tentang kelebihan pendekatan tutor sebaya antara lain:
a) Hasilnya lebih baik, bagi beberapa siswa yang mempunyai
perasaan takut atau enggan kepada guru.
b) Bagi tutor, pekerjaan tutoring akan memperkuat konsep yang
dibahas

dan

memberikan

kesempatan

untuk

melatih

diri

memegang/ memberikan tanggung jawab suatu tugas serta melatih
kesabaran.
Adapun kelemahan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a) Siswa yang dibantu seringkali belajar kurang serius, dan beberapa
siswa takut rahasianya diketahui teman.
b) Pada kelas-kelas tertentu, kegiatan tutoring ini sulit dilaksanakan
karena ada perbedaaan jenis kelamin antara tutor dan yang diberi
tutor.
c) Tidak semua siswa pandai dapat memberikan penjelasan kembali
kepada temannya.

35

B. Penelitian yang Relevan
Sebagai bahan pertimbangan peneliti mengangkat masalah upaya
mengurangi kecemasan dengan penerapan model pembelajaran tutor sebaya
metode diskusi kelompok adalah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh
saudara Syarifuddin. Beliau menuliskan pada poin empat di halaman 76 s/d 77
bahwa:
“tutor sebaya memberikan lingkungan yang nyaman bagi siswa untuk
bertanya tanpa merasa takut atau malu ditertawakan. Siswa dapat
bertanya sebebas-bebasnya kepada tutor dalam kelompoknya. Para
siswa menjadi lebih senang dan bersemangat belajar matematika karena
soal-soalnya tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi mereka.
Siswa dapat dengan mudah menyelasaikan soal-soal yang dihadapi
melalui diskusi dalam kelomponya serta bimbingan dari tutor yang
cukup membantu mereka dalam belajar matematika.”42
Hanya saja penelitian sebelumnya mempunyai variabel motivasi. Oleh
karena itu, penelitian kali ini mengambil variabel yang berbeda, yaitu kecemasan.
Dari pernyataan tersebut peneliti berasumsi, jika dengan penerapan tutor sebaya
mampu membuat siswa merasa nyaman dan mampu meningkatkan motivasi siswa
dalam belajar matematika, maka tidak menutup kemungkinan dengan penerapan
teknik tutor sebaya dalam diskusi kelompokpun akan mampu mengurangi tingkat
kecemasan siswa dalam belajar matematika dikarenakan berbagai hal, mulai dari
masalah pribadi, seperti selalu gugup untuk menjawab soal karena takut kepada
guru bidang studi, sampai dengan kecemasan yang dirasakan siswa oleh karena
adanya ketetapan standar nilai kelulusan yang dibuat oleh pemerintah yang selalu
bertambah dari tahun ke tahun tanpa mempertimbangkan sisi psikologis siswa.

C. Pengajuan Kerangka Konseptual dan Intervensi/ Perencanaan Tindakan
Pada hakekatnya, hasil belajar ditentukan oleh banyak faktor, yaitu
faktor guru, lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal, cara belajar siswa,
fasilitas belajar yang digunakan, faktor internal siswa, dan lain sebagainya. Akan
tetapi seorang siswa yang telah menyadari tugasnya sebagai seorang pembelajar
Sarifuddin, “Penerapan teknik tutor sebaya dan pemberian kartu skor partisipasi siswa
untuk meningkaatkan motivasi belajar matematika siswa”, Skripsi Jurusan Matematika
Universitas Islam Negeri Jakarta, (Jakarta: Perpustakaan Utama; 2008). t.d.
42

36

seharusnya dapat menggunakan faktor-faktor yang ada untuk memaksimalkan
hasil belajarnya.
Ada banyak sekali pekerjaan, tantangan, dan tuntutan yang dihadapi
dan harus di jalankan oleh siswa. jika siswa dapat mengendalikan ketegangan saat
menghadapi pekerjaan, tantangan dan tuntutan, dan tetap tenang, maka tidak ada
hal yang menghambatnya, setidaknya dari dalam dirinya ia sudah dapat
menguasai kondisinya sendiri. Tapi jika siswa memiliki perasaan takut/ cemas
akan kegagalan atau merasa panik dalam menghadapi ujian, walaupun ia memiliki
motivasi untuk berprestasi, tetap saja siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat
meraih prestasi yang maksimal.
Kecemasan akan timbul jika individu menghadapi situasi yang
dianggapnya mengancam dan menekan. Misalnya saja, apabila seseorang ingin
melaksanakan atau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang baru, maka
tentu orang tersebut akan merasa cemas dalam menghadapi pekerjaannya tersebut,
apakah orang itu dapat melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut
dengan hasil yang baik atau bahkan sebaliknya.
Ada beberapa model atau metode pembelajaran modern yang bisa
digunakan untuk mengurangi kecemasan belajar siswa, Salah satunya adalah
metode diskusi kelompok dengan teknik tutor sebaya. Dengan menerapkan
metode diskusi kelompok maka siswa akan merasa nyaman dalam belajar, beban
yang awalnya ditanggung sendiri, kini mereka tanggung secara kelompok,
siswapun merasa lebih nyaman karena ketika menemui kendala atau materi yang
dianggap susah, dapat didiskusikan langsung bersama anggota kelompoknya.
Dengan menerapkan teknik tutor sebaya dalam metode diskusi
kelompok pula, maka yang semula siswa merasa takut atau panik saat belajar akan
menjadi lebih nyaman, karena pada saat melakukan proses pembelajaran, mereka
dapat bertanya langsung kepada temanya yang menjadi tutor apabila menemui
kesulitan. Oleh karena itu penulis mengangkat penelitian pembelajaran dengan
metode diskusi kelompok menggunakan teknik tutor sebaya untuk mengurangi
kecemasan belajar matematika siswa

37

Kerangka konseptual perencanaan tindakan yang akan digunakan dalam
penelitian tindakan kelas ini adalah pytagoras dan lingkaran yang mencakup pada
pokok bahasan: mengenal bagian-bagian lingkaran, menghitung besaran-besaran
pada lingkaran dan garis singgung pada lingkaran.. Pokok bahasan ini diajarkan
pada kelas VIII SLTP pada semester genap.
Sedangkan bentuk penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor
sebaya yang akan dilakukan pada siklus pertama adalah penerapan metode diskusi
kelompok teknik tutor sebaya dengan menambahkan hand-out dalam mempelajari
bahasan pytagoras. Dengan pemberian hand-out ini diharapkan akan membantu
siswa dalam memahami materi dan lebih memberi waktu untuk mendiskusikan
materi juga menumbuhkan daya tarik siswa terhadap pelajaran matematika karena
siswa tidak lagi mencatat materi yang akan diajarkan.
Kemudian pada siklus kedua dilaksananakan penerapan metode diskusi
kelompok teknik tutor sebaya dengan mengacak siswa yang meriview materi
dengan bantuan tutor, pengacakan siswa yang meriview materi ini diterapkan
dengan harapan dapat mengurangi sikap acuh setiap anggota kelompok saat
diskusi berlangsung, atau dengan kata lain dapat membuat siswa yang menjadi
peserta diskusi dalam kelompok ikut berperan aktif pada kelompoknya masingmasing juga menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa, karena dengan
pengacakan ini, maka siswa yang mendapat tugas meriview materi akan
merasakan bagaimana rasanya

saat meriview materi seperti yang telah tutor

lakukan selama siklus satu.
Sedangkan pada siklus ketiga akan diterapkan metode diskusi kelompok
teknik tutor sebaya dengan penambahan hadiah (reword) bagi kelompok terbaik
berdasarkan polling dari seluruh kelompok dan masukan dari guru kolaborator.
Intervensi ini diharapakan akan membuat siswa merasa tertantang untuk
memperhatikan setiap materi diskusi, tanpa menimbulkan tekanan yang
menimbulkan kecemasan, karena dengan penambahan hadiah (reword) ini,
kelompok siswa yang dianggap terbaik pada akhir siklus III akan mendapatkan
hadiah (reword). Intervensi ini juga diharapkan dapat memperdalam pengertian
siswa terhadap pelajaran matematika. Maka dengan penerapan pembelajaran tutor

38

sebaya metode diskusi kelompok pada penelitian ini, diharapakan dapat
mengurangi tingkat kecemasan yang dialami siswa saat belajar matematika,
namun tidak menghilangkan kecemasan yang sifatnya sebagai “(facilitating
anxiety) yaitu bentuk kecemasan dengan taraf rendah yang berfungsi sebagai
pemicu/ pendorong siswa untuk bersiaga mengambil langkah-langkah mencegah
atau memperkecil kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan” 43, seperti
karena tidak ingin mendapatkan nilai yang rendah maka siswa mempersiapkan
diri dengan cara belajar lebih giat.
Jika digambarkan, maka bagan

desain kerangka konseptual dan

intervensi tindakan yang diharapkan sebagai berikut:

Bagan 2.1
Desain kerangka konseptual & Intervensi Tindakan yang diharapkan
Masalah siswa
Merasa cemas saat belajar
matematika pada bahasan
pytagoras dan lingkaran

Intervensi tindakan
Penerapan metode diskusi
kelompok teknik tutor sebaya

Hasil intervensi yang diharapkan
Intensitas kecemasan siswa saat belajar
matematika bahasan lingkaran menurun

43

Fitri Fausiah dan Julianti Widuri (eds),Psikologi Abnormal..., h.73.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Tempat dan Waktu Penelitian
a) Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 21 Tangerang yang berada di
Jl: Halim Perdana Kusuma, komplek alam raya, Kel.Jurumudi Baru, Kec.
Benda, Kota Tangerang 15124
b) Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai dari tanggal 23 Desember 2010 – 02 Februari 2011.
B. Metode Penelitian dan Rancangan Siklus Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian tindakan kelas yang biasa disingkat menjadi PTK, atau dikenal juga
dengan nama Classroom action research method. Metode penelitian tindakan
kelas ini dilakukan dalam proses pembelajaran matematika pokok bahasan
pytagoras dan lingkaran dengan menerapkan metode diskusi kelompok teknik
tutor sebaya.
Alasan penulis menerapkan metode pembelajaran diskusi kelompok
teknik tutor sebaya ini adalah karena peneliti menemukan permasalahan
yaitu tingginya intensitas kecemasan siswa saat belajar matematika, beberapa
penyebabnya adalah masih ada rasa takut pada diri siswa saat dimintai
pendapat, diminta untuk mengerjakan soal di depan kelas, maupun ketika
siswa diminta untuk bertanya kepada guru tentang materi yang belum mereka
pahami saat pembelajaran berlangsung. Hal ini tergambar dari hasil
wawancara yang yang dilakukan oleh penulis saa

Dokumen yang terkait

Penerapan pendekatan matemateka realistik Indonesia (PMRI) dalam mengurangi kecemasan belajar matematika siswa

8 42 109

Efektivitas penggunaan model reciprocal teaching tipe diskusi kelompok dalam upaya peningkatan kualitas keterampilan berbicara siswa: sebuah penelitian tindakan pada sisw kelas VII SMP Negeri I Padaherang Ciamis tahun pelajaran 2010-2011

3 11 96

Peningkatan hasil pembelajaran ekonomi pada materi pajak dengan penerapan teknik tutor sebaya (penelitian tindakan kelas VIII-2 di SMP PGRI babelan Bekasi Utara)

2 7 125

Upaya mengurangi kecemasan belajar matematika siswa dengan penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya: sebuah studi penelitian tindakan di SMP Negeri 21 Tangerang

25 190 88

Penerapan penilaian autentik untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa (sebuah studi penelitian tindakan kelas di SD Negeri III Jati Asih Bekasi)

0 6 212

Pengaruh teknik trachetenberg (stenografi metematika) terhadap kecemasan belajar matematika siswa kelas III

0 9 102

Upaya peningkatan pemahaman konsep matematika siswa dengan pendekatan belajar bermakna (meaningful learning): penelitian tindakan kelas di SMP Waskita Madya Kota Tangerang

0 9 96

Upaya meningkatkan motivasi belajar matematika melalui pemberian kartu skor partisipasi siswa : penelitian tindakan kelas di SMP Islamiyah Ciputat

0 8 181

Meningkatkan minat belajar metematika siswa melalui penerapan model pembelajaran quantum teaching dengan tahapan belajar tandur: penelitian tindakan kelas di MTs Al- Islamiyah Ciledug Tangerang

1 7 227

Upaya meningkatkan hasil belajar fiqih melalui penerapan metode demonstrasi di kelas II Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah Kalibata Jakarta Selatan : penelitian tindakan kelas

3 8 87

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1835 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 481 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 430 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 256 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 379 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 561 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 496 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 317 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 487 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 575 23