Hasil Diskusi Pertemuan Asistensi BLUD Puskesmas Kabupaten Gunung Kidul mpdf

SYNCORE - always deliver value
Hasil Diskusi Pertemuan Asistensi BLUD Puskesmas Kabupaten Gunung Kidul
posted by ika on September 8, 2017

RKA dan RBA merupakan hal wajib yang harus disusun oleh masing-masing Puskesmas yang
sudah menyandang status BLUD. RKA dan RBA yang disusun merupakan rencana jangka pendek
satu tahunan Puskesmas sebagai implementasi dari rencana jangka panjang lima tahunan
Puskesmas yang notabene adalah RSB (Rencana Strategi Bisnis).
Sebelum membahas lebih dalam mengenai RKA dan RBA terlebih dahulu akan dibahas
mengenai definisi dan perbedaan antara RKA dan RBA sebagai berikut :




RKA adalah Rencana Kegiatan Anggaran. Lebih jelas lagi RKA adalah anggaran atau proyeksi
pendapatan dan belanja per kegiatan yang akan dilakukan oleh Puskesmas, baik untuk kegiatan
yang menggunakan dana APBD maupun dana BLUD.
RBA adalah Rencana Bisnis Anggaran. Puskesmas yang sudah BLUD dibolehkan mengelola
keuangannya sendiri berdasarkan prinsip bisnis, namun tidak sepenuhnya profit oriented,
Puskesmas harus tetap mengedepankan peningkatan jasa layanannnya.


Setelah mengetahui mengenai definisi RKA dan RBA, lebih lanjut lagi akan dibahas mengenai
sistematika penyusunan RKA dan RBA. Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan :
1. Menyusun RBA definitif, yang berisi rincian anggaran pendapatan dan biaya per jenis belanja
yaitu belanja pegawai, barang dan jasa, modal.
Rincian RBA ini dirinci berdasarkan kode akun sesuai dengan kebijakan akuntansi
masing-masing, bukan berdasarkan kode rekening. Menyusun RBA yang rinci bukan berarti
detail, kerena letak fleksibilitas BLUD akan hilang ketika RBA disusun secara detail.
Sebagai contoh dalam RBA terdapat rincian belanja ATK, lebih baik untuk

menganggarkan belanja ATK secara gelondong, tidak di rinci (misalkan untuk membeli pulpen,
kertas, pensil, dll). Hal ini dilakukan untuk menjaga fleksibilitas BLUD yang boleh mengelola
keuangannya sesuai dengan kebutuhan bisnis BLUD (pelayanan). Jika ingin dirinci maka
rinciannya ada di lembar kertas kerja sebagai control internal BLUD saja.
2. Setelah menyusun RBA definitif yang rinci, kemudian jumlah gelondongan per jenis belanja
tersebut disusun dalam RKA. Dengan kata lain RKA belanja BLUD hanya berisi gelondongan
jumlah masing-masing belanja pegawai, barang dan jasa, modal. Hal ini dilakukan karena RKA
merupakan anggaran berdasarkan kegiatan dan kegiatan BLUD hanya satu, yaitu kegiatan
peningkatan pelayanan Puskesmas. Namun perlu diingat bahwa dalam mengajukan RKA perlu
dilampirkan rincian belanja yang sudah terlebih dahulu disusun dalam RBA definitif tadi.
3. Setelah RKA disahkan, maka jadilah DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran).

DPA inilah yang akan menjadi tolakukur Puskesmas dalam melaksanakan anggarannya, sebab
di akhir periode yang menjadi indikator kinerja BLUD adalah perbandingan antara realisasi
selama satu periode tertentu dengan anggaran yang disusun.
4. Selain itu Puskesmas juga memiliki kewajiban untuk menyusun dokumen RBA 5 BAB. BAB III
dokumen RBA menjelaskan mengenai proyeksi.
Hal-hal yang perlu diketahui adalah walaupun RKA dan RBA berisi gabungan antara anggaran
BLUD dan APBD, namun dalam penyusunan anggarannya perlu dibedakan berdasarkan
kegiatan, mana kegiatan yang menggunakan dana BLUD dan mana kegiatan yang
menggunakan dana APBD. Hal ini dikerenakan BLUD perlu mengurusi pola pengelolaan
keuangan dan pelaporannya sendiri atas tanggungjawabnya sebagai BLUD.
Tags: RBA, RKA, RSB, BLUD, Puskesmas
Permalink | Comments (0) | Last updated on September 8, 2017