Pengaruh Faktor Host Dan Environment Terhadap Kejadian Penyakit Tb Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Tomuan Kota Pematangsiantar Tahun 2015

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Penyakit Tuberkulosis Paru
2.1.1. Definisi Penyakit Tuberkulosis Paru
Tuberklulosis adalah penyakit menular langsung yang umumnya disebabkan
oleh bakteri TB, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Meskipun dapat menyerang
hampir semua organ tubuh lainnya, namun bakteri TBC lebih sering menyerang
organ paru (80-85%) (Depkes,2008). Penyakit TB paru merupakan infeksi kronis
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang secara khas kuman
membentuk granuloma dalam paru menimbulkan nekrosis atau jaringan (Achmadi,
2008).
Penyakit TB paru merupakan penyakit menahun, bahkan seumur hidup.
Penderita yang sakit tanpa pengobatan setelah 5 tahun, 50% penderita TB paru akan
mati, 25% sehat dengan pertahanan tubuh yang baik dan 25% lagi menjadi kronik dan
infeksius (Jusuf, 2010).
Bakteri TB paru disebut Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang
berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal 0,3-0,6 mikron, tahan terhadap pewarnaan
yang asam atau Bakteri Tahan Asam (BTA). Bila dijumpai BTA dalam dahak orang
yang sering batuk-batuk maka orang tersebut didiagnosis sebagai penderita TB paru
aktif dan sangat berbahaya karena memiliki potensi yang amat berbahaya (Achmadi,


2011). Bakteri TBC akan cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembab (Achmadi, 2008).
2.1.2. Etiologi Penyakit Tuberkulosis Paru
Penyebab penyakit tuberkulosis paru adalah bakteri TB Paru disebut
Mycobacterium tuberculosis berukuran 0,5-4 mikron dan tebal 0,3-0,6 mikron,
dengan bentuk batang tipis, lurus atau agak bengkok, bergranular atau tidak
mempunyai selubung, tetapi mempunyai lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid
(terutama asam mikolat). Bakteri ini mempunyai sifat istimewa, yaitu dapat bertahan
terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol, sehingga sering disebut Basil
Tahan Asam (BTA) serta tahan terhadap zat kimia dan fisik (Widoyono, 2008)
Sifat lain adalah bersifat aerob, lebih menyukai jaringan kaya oksigen
(Achmadi, 2008). Bila dijumpai BTA dalam dahak orang yang sering batuk-batuk
maka orang tersebut didiagnosis sebagai penderita TB Paru aktif dan sangat
berbahaya karena memiliki potensi yang amat berbahaya (Achmadi, 2011).
Secara khas bakteri berbentuk granula dalam paru menimbulkan nekrosis atau
kerusakan jaringan. Bakteri Mycobacterium tuberculosis akan cepat mati dengan
sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap
dan lembab. Dalam jaringan tubuh dapat dormant, tertidur lama selama bertahuntahun (Achmadi, 2008).
2.1.3.Sumber dan Cara Penularan Penyakit TB Paru


Adapun sumber penularan penyakit tuberkulosis paru adalah penderita TBC
dengan BTA positif dimana dalam pemeriksaan mikroskop ditemukan bakteri
Mycobacterium tuberculosis (Achmadi, 2008). Penderita TB paru akan ditemukan
bakteri Mycobacterium tuberculosis pada pemeriksaan, tergantung dari jumlah
bakteri yang ada (Aditama, 2006).
Penyakit

tuberkulosis

dapat

ditularkan

saat

penderita

TBC


batuk

mengeluarkan bakteri ke udara dalam bentuk percikan dahak,yang dalam istilah
kedokteran disebut droplet nuclei dan bakteri tersebut terhirup oleh orang lain saat
bernapas (Widoyono, 2008). Droplet yang sangat kecilini mengering dengan cepat
dan menjadi droplet yang mengandung bakteri tuberkulosis dan dapat bertahan di
udara selama beberapa jam. Droplet yang mengandung bakteri ini dapat terhirup oleh
orang lain. Jika bakteri tersebut sudah menetap dalam paru dari orang yang
menghirupnya, maka bakteri mulai membelah diri (berkembang biak) dan terjadilah
infeksi dari satu orang ke orang lain (Hiswani, 2004).
Sekali batuk dapat menghasilkan 3000 percikan dahak. Melalui udara yang
tercemar oleh Mycobacterium tuberculosis yang dilepaskan/dikeluarkan oleh
penderita TB paru saat batuk. Bakteri akan masuk ke dalam paru-paru dan berkumpul
hingga berkembang menjadi banyak terutama pada orang yang memiliki daya tahan
tubuh rendah. Sementara, bagi yang mempunyai daya tahan tubuh baik, maka
penyakit TB paru tidak akan terjadi. Tetapi bakteri akan tetap ada di dalam paru
dalam keadaan ”tidur”, namun jika setelah bertahun-tahun daya tahan tubuh menurun

maka bakteri yang ”tidur” akan ”bangun” dan menimbulkan penyakit. Salah satu
contoh ekstrim keadaan ini adalah infeksi HIV yang akan menurunkan daya tahan

tubuh secara drastis sehingga TB paru muncul. Seseorang dengan HIV positif 30 kali
lebih mudah menderita TB paru dibandingkan orang normal (Aditama, 2006).
2.1.4. Risiko Penularan Tuberkulosis Paru
Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien
TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar
dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Risiko penularan setiap tahunnya di
tunjukkan dengan Annual Risk of TuberculosisInfection (ARTI) yaitu proporsi
penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti
10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. Menurut WHO
ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan
reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. (Kemenkes, 2011)
Risiko terinfeksi berhubungan dengan lama dan kualitas paparan dengan
sumber infeksi dan tidak berhubungan denga faktor genetik dan faktor pejamu
lainnya. Risiko tertinggi yaitu pada anak berusia di bawah 3 tahun, pada masa kanakkanak dan meningkat lagi pada masa remaja, dewasa muda dan usia lanjut. Hasil
studi lainnya melaporkan bahwa kontak terdekat (misalnya keluarga serumah) akan
dua kali lebih berisiko dibandingkan kontak biasa (tidak serumah) (Widoyono, 2008).
Faktor yang sangat berisiko kemungkinan seseorang menjadi pasien TB
adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi

(gizi buruk). Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh

seluler (cellular immunity) dan merupakan faktor risiko paling kuat bagi yang
terinfeksi TB untuk menjadi sakit TB (TB Aktif), sehingga jika terjadi infeksi
oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah
bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat,
maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di
masyarakat akan meningkat pula (Depkes , 2006).
2.1.5.Penularan Penyakit TB Paru di Dunia
Pada tahun 1993, Badan Kesehatan Dunia WHO (World Health
Organization) menyatakan TB paru sebagai kegawat daruratan global (Global
Health Emergency) dengan perkiraan sepertiga penduduk dunia terinfeksi oleh
bakteri Mycobacterium tuberculosis (Depkes, 2010).
WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2006 terdapat 9,24 juta penderita TB
paru diseluruh dunia, pada tahun 2007 jumlah penderita naik menjadi 9,27 juta jiwa.
Dan hingga tahun 2009 angka penderita TB paru menjadi 9,4 juta jiwa. Dari jumlah
tersebut, 1,8 juta jiwa meninggal (600.000 diantaranya adalah perempuan) naik dari
angka kematian pada tahun 2007 yang berjumlah 1,77 jiwa. Setiap harinya terdapat
4.930 orang meninggal disebakan oleh TB paru (Depkes, 2010).
2.1.6. Penularan Penyakit TB Paru di Indonesia
Laporan TB paru dunia oleh WHO tahun 2009, Indonesia sekarang
berada pada ranking ke-lima dengan beban TB paru tertinggi di dunia setelah India


dan Cina ,Afrika Selatan dan.Nigeria. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia
sekitar 5,8% dari total jumlah pasien TB di dunia. Diperkirakan, setiap tahun ada
429.730 kasus baru dan kematian 62.246 orang. Insidensi kasus TB BTA positif
sekitar 102 per 100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2011).
Di Indonesia jumlah kematian akibat penyakit tuberkulosis terutama TB paru
hingga tahun 2008 menurun hingga 88.113 jiwa dari jumlah kasus penularan TB paru
yang berjumlah 534.439 jiwa. Sedangkan pada tahun 2009 kasus penularan TB paru
menurun mencapai jumlah 528.063 jiwa dan 236.029 untuk kasus TB paru BTA
positif, akan tetapi angka kematian naik menjadi 91.368 jiwa. Sepertiga dari
jumlah tersebut terdapat di sekitar Puskesmas, di pelayanan rumah sakit/klinik
pemerintah dan swasta, praktik swasta dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan
kesehatan.

Sedangkan

prevalensi

untuk


semua

kasus

TBC

diperkirakan

sebanyak 565.614 atau 244/100.000 penduduk. Angka kematian karena TB paru
diperkirakan 91.368 per tahun atau setiap hari ada 250 orang meninggal (Depkes,
2010).
Tabel 2.1. Angka Prevalensi, Insidensi dan Kematian di Indonesia
Tahun 1990 dan 2009

Kasus TBC
Insidensi semua
jenis TBC
Prevalensi semua
jenis TBC
Insiden kasus baru


Per
Tahun

Tahun 1990
Per
100.000
Penduduk

Per
Hari

Per
Tahun

Tahun 2009
Per
100.000
Penduduk


Per
Hari

626.867

343

1.717

528.063

228

1.447

809

443

2.218


565.641

244

1.150

282.090

154

773

236.029

102

674

TB paru posistif

Kematian

168.956

92

463

91.369

39

25

Sumber: Global Report TBC WHO, 2010
Akan tetapi usaha pemerintah dalam memberantas TBC di Indonesia harus
terus berjalan. Saat ini pemerintah telah mencanangkan program pemeriksaan dan
pengobatan TBC gratis bagi masyarakat kurang mampu di setiap Puskesmas di
Indonesia. Akan tetapi sosialisasi yang dilakukan pemerintah dirasakan kurang
efektif.

Hal tersebut menyebabkan banyak masyarakat penderita TBC

tidak

mengetahui program tersebut.
2.1.7.Gambaran Penyakit TB Paru di Kota Pematangsiantar
Penemuan kasus TB paru di Kota Pematangsiantar secara klinis adalah 215
kasus pada tahun 2010, 140 kasus pada tahun 2012 pada tahun 2013 meningkat
secara

drastis

yaitu sebanyak

226,6

kasus.

Berdasarkan

angka

tersebut

membuktikan bahwa masih tingginya kasus TB paru pada masyarakat di Kota
Pematangsiantar (Dinkes Kota Pematangsiantar, 2014).
2.1.8.Gejala Penyakit TB Paru
Menurut Achmadi (2008), gejala yang dirasakan oleh penderita TB paru dapat
digambarkan sebagai berikut:
1. Gejala Sistematik
Secara sistemik pada umumnya penderita akan mengalami demam. Demam
berlangsung pada sore dan malam hari, disertai keringat dingin meskipun tanpa
kegiatan, kemudian kadang hilang. Gejala ini akan timbul lagi beberapa bulan

seperti demam influenza biasa dan kemudian juga seolah-olah “sembuh” tidak
ada demam.
Gejala lain adalah malaise (seperti perasaan lesu) bersifat berkepanjangan
kronik, disertai rasa tidak fit tidak enak badan, lemah lesu, pegal-pegal, nafsu
makan berkurang, badan semakin kurus, pusing, serta mudah lelah. Gejala
sistemik ini terdapat baik menyerang TB paru maupun TB yang menyerang organ
lainnya.
2. Gejala Respiratorik
Adapun gejala respiratorik atau gejala saluran pernapasan adalah batuk. Batuk
bisa berlangsung terus-menerus selama 3 minggu atau lebih. Hal ini terjadi
apabila sudah melibatkan bronkus. Gejala respiratorik lainnya adalah batuk
produktif sebagai upaya untuk membuang ekskresi peradangan berupa dahak atau
sputum. Dahak ini kadang bersifat mukoid atau purelent.
Kadang gejala respiratorik ini ditandai dengan batuk darah. Hal ini
disebabkan karena pembuluh darah pecah, akibat lika dalam alveoli yang sudah
lanjut. Batuk darah inilah yang sering membawa penderita ke dokter. Apabila
kerusakan sudah meluas, timbul sesak napas dan apabila pleura sudah terkena,
maka disertai pula rasa nyeri dada.
2.1.9. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Penderita TB Paru
Menurut Depkes (2006), ada beberapa klasifikasi penyakit dan tipe penderita
TBC. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu:

a. Tuberkulosis BTA Positif
Tuberkulosis BTA positif yaitu sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS
hasilnya BTA positif, 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto
toraks dada menunjukan gambaran 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif
dan biakan bakteri TB Paru positif dan 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya
positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya
BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

b. Tuberkulosis BTA Negatif
Pemeriksaan 3 spesimen dahak hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada
menunjukan gambaran TB Paru yang aktif.TB Paru BTA negatif, rontgen positif
dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakit, yaitu bentuk berat dan ringan.
Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada memperlihatkan gambaran
kerusakan paru yang luas.
2.1.10. Strategi Penemuan Penderita TB Paru
Kegiatan penemuan penderita terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis,
penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita. Penemuan penderita merupakan
langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB paru. Penemuan dan
penyembuhan penderita TB paru menular, secara bermakna akan dapat menurunkan
kesakitan dan kematian akibat TB paru, penularan TB paru di masyarakat

dansekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB paru yang paling efektif
di masyarakat (Depkes, 2006).
Menurut Kemenkes (2011), strategi penemuan penderita TB paru biasanya
dilakukan sebagai berikut:
1. Penemuan pasien TB, secara umum dilakukan secara pasif dengan promosi aktif.
Penjaringan tersangka pasien dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan;
didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugaskesehatan maupun
masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB.
Pelibatan semua layanan dimaksudkan untuk mempercepat penemuan dan
mengurangi keterlambatan pengobatan. Penemuan secara aktif pada masyarakat
umum, dinilai tidak cost efektif.
2. Penemuan secara aktif dapat dilakukan terhadap
a. Kelompok khusus yang rentan atau beresiko tinggi sakit TB seperti pada
pasien dengan HIV (orang dengan HIV AIDS),
b. Kelompok yang rentan tertular TB seperti di rumah tahanan, lembaga
pemasyarakatan (para narapidana), mereka yang hidup pada daerah kumuh,
serta keluarga atau kontak pasien TB, terutama mereka yang dengan TB BTA
positif.
c. Pemeriksaan terhadap anak dibawah lima tahun padakeluarga TB harus
dilakukan untuk menentukan tindak lanjut apakah diperlukan pengobatan TB
atau pegobatan pencegahan.

d. Kontak dengan pasien TB resistan obat
2.1.11. Pemeriksaan Dahak
1. Pemeriksaan dahak mikroskopis
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak
untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang
dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS).
a. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB dating berkunjung pertama
kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan
dahak pagi pada hari kedua.
b. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah
bangun tidur. Pot dahak dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di
Fasyankes.
c. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di Fasyankes pada hari kedua, saat
menyerahkan dahak pagi. Pengambilan 3 spesimen dahak masih diutamakan
dibanding dengan 2 spesimen dahak mengingat masih belum optimalnya fungsi
sistem dan hasil jaminan mutu eksternal pemeriksaan laboratorium.
2. Pemeriksaan Biakan

Peran biakan dan identifikasi M. Tuberkulosis pada pengendalian TB adalah
untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien tertentu, yaitu :

a. Pasien TB Ekstra Paru
b. Pasien TB Anak
c. Pasien TB BTA Negatif

Pemeriksaan tersebut dilakukan apabila keadaan memungkinkan dan tersedia
laboratorium yang telah memenuhi standar yang ditetapkan.
3. Uji Kepekaan Obat TB
Uji kepekaan obat TB bertujuan untuk resistensi M. Tuberkulosis terhadap
OAT. Uji kepekaan obat tersebut harus dilakukan di laboratorium yang tersertifikasi
dan lulus pemantapan mutu atau Quality Assurance (QA). Pemeriksaan tersebut
ditujukan untuk diagnosis pasien TB yang memenuhi kriteria suspek TB-MDR.
2.1.12.Diagnosis TB Paru
1. Diagnosis TB paru pada orang dewasa
Diagnosis TB paru pada orang dewasa yakni dengan pemeriksaan sputum atau
dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya 2
dari 3 spesimen SPS BTA hasilnya positif. Apabila hanya 1 spesimen yang positif
maka perlu dilanjutkan dengan rontgen dada atau pemeriksaan SPS diulang. Jika hasil
rontgen mendukung TB paru, maka penderita di diagnosis sebagai penderita TB paru
BTA positif. Dan jika hasil rontgen tidak mendukung TB paru, maka pemeriksaan
dahak SPS di ulang (Depkes, 2006).
Pemeriksaan lain seperti foto toraks dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai
penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan

mendiagnosis TB paru hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks. Foto toraks tidak
selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi
overdiagnosis (Kemenkes, 2011).
2. Diagnosis TB paru pada orang dengan HIV
Menegakkan diagnosis TB paru pada orang dengan HIV Aids adalah: TB
Paru BTA Positif, yaitu minimal satu hasil pemeriksaan dahak positif dan TB Paru
BTA negatif, yaitu hasil pemeriksaan dahak negatif dan gambaran klinis & radiologis
mendukung Tb atau BTA negatif dengan hasil kultur TB positif (Kemenkes, 2011).
3. Diagnosis TB paru pada anak
Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik
overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan
gejala utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit,maka diagnosis TB anak
perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor.
IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan
menggunakan sistem skor (scoring system), yaitu pembobotan terhadap gejala atau
tanda klinis yang dijumpai. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program
nasional pengendalian tuberkulosis untuk diagnosisTB anak.
2.1.13. Pengobatan Tuberkulosis Paru
Menurut Hudoyo (2008), mengobati penderita dengan TB paru cukup mudah,
karena penyebab TB paru sudah jelas yaitu, bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri ini dapat di matikan dengan kombinasi beberapa obat yang sudah jelas

manfaatnya. Sesuai dengan sifat bakteri Mycobacterium tuberculosis, untuk
memperoleh efektifitas pengobatan, maka prinsip-prinsip yang dipakai adalah :
1. Obat harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat (Isoniasid,
Rifampisin, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol) dalam jumlah cukup dan
dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya semua bakteri (termasuk bakteri persisten)
dapat di bunuh. Hal ini untuk mencegah timbulnya kekebalan terhadap OAT.
2. Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat, pengobatan dilakukan
dengan pengawasan langsung (DOT= Directly Observed Treatment) oleh seorang
Pengawas Menelan Obat (PMO).

2.1.14. Pengendalian Tuberkulosis dengan Strategi DOTS
Pada tahun 1994, pemerintah Indonesia bekerjasama dengan badan Kesehatan
Dunia (WHO), melaksanakan suatu evaluasi bersama “WHO-Indonesia Joint
Evaluation” yang menghasilkan sebuah rekomendasi, yaitu perlunya dilakukan
perubahan mendasar pada strategi penanggulangan TB di Indonesia, yang disebut
dengan “STRATEGI DOTS”.
Istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) dapat diartikan
sebagai pengawasan langsung menelan obat jangka pendek setiap hari oleh Pengawas
Menelan Obat (PMO). Tujuannya mencapai angka kesembuhan yang tinggi,
mencegah putus berobat, mengatasi efek samping obat jika timbul dan mencegah
resistensi (Depkes RI, 1999).

Sebelum pengobatan pertama kali dimulai, DOTS harus dijelaskan kepada
pasien tentang cara dan manfaatnya. Seorang PMO harus ditentukan dan dihadirkan
di poliklinik untuk diberi penjelasan tentang DOTS dan tugas-tugasnya. PMO adalah
seseorang yang harus membantu pasien sampai sembuh 6 bulan dan sebaiknya
anggota keluarga yang disegani pasien. (Permatasari, 2005).
Ada 5 kunci utama dalam strategi DOTS, yaitu:
1. Komitmen
2. Diagnosa yang benar
3. Ketersediaan dan lancarnya distribusi obat
4. Pengawasan penderita menelan obat
5. Pencatatan dan pelaporan penderita dengan sistem kohort (Depkes RI, 1999).
Menurut Sahat (2010) program strategi DOTS diharapkan dapat memberikan
kesembuhan dan mencegah penularan, namun dalam pelaksanaan di lapangan,
keberhasilan pengobatan dengan strategi DOTS ini mengalami beberapa hambatan
seperti putus berobat (termasuk pindah berobat) dan meninggal sehingga tidak
memberikan hasil yang maksimal. Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi
keberhasilan pengobatan yaitu faktor sarana, faktor penderita dan faktor keluarga dan
masyarakat lingkungan. Akan tetapi bila melihat realitas yang ada membuktikan
bahwa pengobatan tuberkulosis tidaklah semudah yang dipikirkan. Perlu dilakukan
pendidikan dan pelatihan khusus program P2TB terhadap petugas yang belum dilatih.
2.1.15. Upaya Pengelolaan Lingkungan terhadap Tuberkulosis Paru

Pada prinsipnya pencegahan dan pemberantasan Tuberkulosis Paru dijalankan
dengan upaya-upaya: (Depkes RI, 2006)
1. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang penyakit Tuberkulosis Paru,
bahaya-bahaya, cara penularannya, serta usaha-usaha pencegahan antara lain:
a. Memelihara kebersihan diri, rumah dan lingkungan yaitu : mandi minimal 2 kali
sehari, gosok gigi, cuci tangan, membuang sampah, air limbah, kotoran pada
tempatnya, membuka jendela pada siang hari.
b. Makan makanan yang sehat yaitu: makanan yang bersih, bebas dari kuman
penyakit, cukup kualitas, dan bagi penderita TB Paru untuk tidak makan dengan
piring dan gelas yang sama dengan anggota keluarga yang lain.
c. Cara hidup sehat dan teratur yaitu: Makan, tidur, bekerja dan istirahat secara
teratur, penderita tidak tidur sekamar dengan anggota keluarga lainnya.
d. Meningkatkan daya tahan tubuh yaitu: dengan makan makanan yang bergizi dan
selalu menjaga kesehatan badan supaya sistem immun senantiasa terjaga dan
kuat, menghindari kontak dengan sumber penularan penyakit, menghindari
pergaulan yang tidak baik, membiasakan diri untuk mematuhi aturan-aturan
kesehatan, tidur dan istirahat yang cukup dan tidak begadang, tidak merokok dan
minuman yang beralkohol, segera periksa bila timbul batuk lebih dari 3 minggu.
2. Pencegahan dengan:
a. Vaksinasi B.C.G. pada anak-anak umur 0-14 tahun.

b.

Chemoprophylactic dengan I.N.H. pada keluarga penderita atau orangorang yang pernah kontak dengan penderita.

3. Menghilangkan sumber penularan dengan mencari dan mengobati semua
penderita dalam masyarakat.
4. Kesadaran berobat si penderita
Kadang-kadang walupun penyakitnya agak berat, si penderita tidak merasa
sakit, sehingga tidak mencari pengobatan.
5. Penyuluhan penderita tuberculosis tentang lingkungan
Tujuan penyuluhan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan peran serta
masyarakat dalam penanggulangan Tuberkulosis.Petugas memberikan penyuluhan
kepada penderita dan keluarganya pada waktu kunjungan rumah dan memberi saran
untuk terciptanya rumah sehat, sebagai upaya mengurangi penyebaran penyakit.
Memberikan penyuluhan perorangan secara khusus kepada penderita agar
penderita mau berobat rajin teratur untuk mencegah penyebaran penyakit kepada
orang lain. Menganjurkan, perubahan sikap hidup masyarakat dan perbaikan
lingkungan demi tercapainya masyarakat yang sehat. Menganjurkan masyarakat
untuk melapor apabila di antara warganya ada yang mempunyai gejala-gejala
Penyakit Tuberkulosis Paru.
Berusaha menghilangkan rasa malu pada penderita oleh karena penyakit
Tuberkulosis Paru bukan bagi penyakit yang memalukan, dapat dicegah dan
disembuhkan seperti halnya penyakit lain. Untuk mengubah persepsi masyarakat

tentang TB dari suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan melakukan
menjadi suatu penyakit yang berbahaya, tapi dapat disembuhkan. Dalam penyuluhan
langsung perorangan, unsur yang terpenting yang harus diperhatikan adalah membina
hubungan yang baik antara petugas kesehatan dengan penderita. Supaya komunikasi
berhasil baik, petugas kesehatan harus melayani penderita secara ramah dan
bersahabat, penuh hormat dan simpati, mendengar keluhan-keluhan mereka serta
tunjukan perhatian terhadap kesejahteraan dan kesembuhan mereka. Dengan
demikian, penderita mau bertanya tentang hal-hal yang masih belum dimengerti
(Depkes, RI. 2002).

2.2. Faktor Risiko yang Memengaruhi Kejadian Penyakit TB Paru
2.2.1. Faktor Host Atau Pejamu
Faktor host atau pejamu adalah keadaan manusia (karakteristik individu) yang
sedemikian rupa sehingga menjadi faktor risiko untuk terjadinya penyakit. Faktor ini
disebut sebagai faktor intrinsik.
Adapun faktor karakteristik individu yang menjadi faktor risiko terhadap
kejadian TB Paru adalah:
1. Umur
Variabel umur berperan dalam kejadian penyakit TB Paru. Dari hasil penelitian di
New York menunjukkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi TB Paru aktif
meningkat secara bermakna sesuai umur. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita
TBC adalah usia produktif, yakni 15 hingga 50 tahun (Achmadi, 2010).

Namun dewasa ini dengan terjadinya transisi demografi menyebabkan usia
harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun system
imunologis seseorang menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit,
termasuk penyakit TB Paru (Hiswani, 2008).
Menurut penelitian Mahpudin (2006) kelompok umur 49 tahun ke bawah
mempunyai proporsi lebih tinggi yaitu sebesar 63,2% sedangkan pada kelompok
umur 50 tahun ke atas proporsinya 36,8%. Penelitian Darwel juga mendapatkan
bahwa kelompok umur 15-50 tahun (usia produktif) lebih beresiko 2,21 kali untuk
menderita TB Paru dibandingkan dengan kelompok umur >50 tahun.
Berdasarkan Profil kesehatan Indonesia tahun 2002 menggambarkan presentase
penderita TB adalah usia 25-34 tahun (23,67%), diikuti 35-44 tahun (20,46%), 15-24
tahun (18,08%), 45-54 tahun (17,48%), 56-64 tahun (12,32%), lebih dari 65 tahun
(6,68%), dan yang terendah adalah 0-14 tahun (1,31%). Risiko penularan TB paru
tertinggi yaitu pada usia di bawah 3 tahun, rendah pada masa kanak-kanak dan
meningkat lagi pada masa remaja dan dewasa muda berusia 15-50 tahun (usia
produktif) dan pada usia lanjut (Widoyono, 2008).
2. Jenis Kelamin
Menurut WHO (2014) sekitar 60% dari kasus TB, kematian terjadi pada laki-laki
tetapi cenderung lebih tinggi terjadi pada wanita. Pada tahun 2013, diperkirakan
510.000 perempuan meninggal akibat TB, lebih dari sepertiganya terinfeksi HIV
positif. Ada 80.000 kematian anak akibat TB dengan HIV negative di tahun yang

sama. Dapat disimpulkan bahwa pada kaum perempuan lebih banyak terjadi kematian
yang disebabkan oleh TB-Paru dibandingkan dengan akibat proses kehamilan dan
persalinan, (WHO, 2014). Namun berbeda dengan data Kemenkes 2013, menurut
jenis kelamin, kasus BTA positif pada laki-laki hampir 1,5 kali dibandingkan kasus
BTA positif pada wanita. Sebesar 59,4% kasus BTA positif ditemukan pada laki-laki
dan 40,6% kasus pada perempuan. Seluruh kasus di 33 provinsi di Indonesia lebih
banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Disparitas paling tinggi antara
laki-laki dan perempuan terjadi di Aceh, kasus pada laki-laki hampir 3/2 dari kasus
perempuan, yaitu 66,1% penderita laki-laki dan 33,9%-nya merupakan penderita
perempuan.
Pada jenis kelamin laki-laki penyakit ini lebih tinggi karena merokok tembakau
dan minum alkohol sehingga dapat menurunkan sistem pertahannan tubuh, sehingga
lebih mudah dipaparkan dengan agent penyebab TB Paru (Hiswani, 2001).

3. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan
seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan
pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka
seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat. Selain

itu tingkat pedidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya
(Achmadi, 2005)
4. Status Gizi
Status gizi merupakan variabel yang sangat berperan dalam timbulnya kejadian
penyakit TB paru. Status gizi tergantung ada tidaknya bakteri TB pada paru, dimana
bakteri TB dapat “tidur” hingga bertahun-tahun dalam paru dan apabila “bangun”
akan menimbulkan penyakit TB paru. Oleh sebab itu, salah satu kekuatan daya
tangkal adalah status gizi yang baik dalam tubuh kita untuk menyerang bakteri
tersebut (Achmadi, 2008).
Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi dan lainlain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga rentan terhadap
penyakit termasuk TB paru. Keadaan ini merupakan faktor penting yang berpengaruh
dinegara miskin, baik pada orang dewasa maupun anak-anak (Hiswani, 2001).
Hasil penelitian yang dilakukan Ike Silviani di Kabupaten Muaro Jambi Tahun
2005 menyatakan bahwa responden dengan gizi kurang menderita TB paru sebesar
70,53% dan hasil asosiasinya disimpulkan bahwa orang dengan status gizi buruk
(IMT < 18,5) memiliki risiko 30,08 kali lebih besar menderita TB paru BTA (+)
dibandingkan dengan orang status gizi baik.
Menurut Departemen Kesehatan RI (2003), status gizi orang dewasa dapa dilihat
dari Indeks Massa Tubuh seseorang, dimana di Indonesia dikelompokkan atas 3
kelompok, yaitu: (Supariasa, 2002)

a. IMT < 18,5

= kurus/ gizi kurang/ gizi buruk

b. IMT 18,5-25,0

= normal

c. IMT > 25,0

= gizi lebih

Penelitian di kota Palembang, diketahui bahwa variabel yang paling berpengaruh
terhadap kejadian penyakit tuberkulosis paru BTA (+) adalah variable status gizi.
Seseorang dengan status gizi yang buruk (indeks massa tubuh, IMT > 25,1 dan <
18,4) berisiko untuk menderita penyakit tuberkulosis paru BTA (+) 29 kali lebih
besar dibanding orang yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut (Versitaria &
Kusnoputranto, 2011)
5. Status Sosial Ekonomi/Penghasilan
WHO (2003) menyebutkan 90% penderita TB paru di dunia menyerang
kelompok dengan sosial ekonomi lemah atau miskin. Hubungan antara kemiskinan
dengan TB paru bersifat timbal balik, TB paru merupakan penyebab kemiskinan dan
karena miskin maka manusia menderita TB paru. Kemiskinan merupakan penyebab
tidak langsung seperti adanya kondisi gizi memburuk, serta perumahan yang tidak
sehat, dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga menurun kemampuannya
(Achmadi, 2008).
Masyarakat dengan tingkat penghasilan tinggi lebih mampu memanfaatkan
pelayanan kesehatan untuk melakukan pengobatan, sedangkan seorang dengan
tingkat penghasilan lebih rendah kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang
ada, mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau

untuk membeli yang lain. Rendahnya jumlah penghasilan keluarga juga memicu
peningkatan angka kurang gizi dikalangan masyarakat miskin yang akan berdampak
terhadap daya tahan tubuh dan dengan mudah timbulnya penyakit TB paru.
Keterbatasan biaya untuk berobat ke dokter atau ke Puskesmas, hal ini dapat
menyebabkan penyakit yang diderita bertambah parah. Masyarakat dengan
penghasilan yang rendah sering mengalami kesulitan mendapatkan pelayanan
kesehatan yang baik, sehingga penyakit TB paru menjadi ancaman bagi mereka
(Tjiptoherijanto, 2008).
Menurut perhitungan, rata-rata penderita TB paru kehilangan 3-4 bulan waktu
kerja dalam setahun. Mereka juga kehilangan penghasilan tahunan rumah tangganya
sekitar 20- 30% (Kemenkes RI, 2011).
2.2.2. Faktor Environment (Lingkungan)
Menurut Undang-undang Nomor 23 tahun 1997, lingkungan adalah kesatuan
ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk di dalamnya
manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan
kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain (Suyono, 2010).
Faktor lingkungan untuk terjadinya penyakit, disebabkan oleh faktor-faktor,
yaitu:
1. Lingkungan fisik, yaitu geografik dan keadaan musim
2. Lingkungan biologis, ialah semua mahluk hidup yang berada di sekitar manusia
yaitu flora, fauna dan termasuk manusia.

3. Lingkungan sosial ekonomi, adalah pekerjaan, urbanisasi, perkembangan
ekonomi, dan bencana alam (Budiarto, 2001)
Keadaan lingkungan yang sehat dapat bertujuan untuk meningkatkan faktor
lingkungan yang menguntungkan (eugenic) dan mengendalikan faktor yang
merugikan (disgenik), sehingga risiko terjadinya penyakit dapat dikendalikan.
Menurut WHO kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi
yang harus ada antara manusia dan lingkungannya agar dapat menjamin keadaan
sehat dari manusia dengan menjaga dan meningkatkan kondisi lingkungannya (air,
udara, tanah, makanan, semua yang hidup atau biota, manusia dengan sikap dan
perilakunya) menjadi sehat. Oleh sebab itu, harus dijaga benar agar kualitas
lingkungan menjadi sehat secara optimal.
Upaya kesehatan lingkungan tersebut salah satunya adalah pengendalian
penyakit menular salah satunya penyakit TB paru, yaitu dengan meningkatkan
sanitasi lingkungan rumah, karena rumah adalah tempat perlindungan terhadap
penularan penyakit menular seperti TB paru (Sutomo, 2013).
Lingkungan rumah yang buruk akan menimbulkan masalah kesehatan antara
lain: terjadinya penularan antar anggota keluarga maupun kepada orang lain seperti
penyakit TB paru (Suyono, 2010). Hasil studi lainnya melaporkan bahwa kontak
terdekat adalah keluarga serumah akan dua kali lebih beresiko terkena TB paru
dengan kontak biasa (tidak serumah) (Widoyono, 2008).

Menurut Achmadi (2008) faktor-faktor risiko lingkungan terhadap kejadian
penyakit tuberkulosis paru adalah:
1. Kepadatan Hunian
Menurut Achmadi (2008) Kepadatan merupakan salah pre-requisite untuk
terjadinya proses penularan penyakit. Semakin padat, maka perpindahan penyakit,
khususnya penyakit melalui udara, akan semakin mudah dan cepat. Oleh sebab itu
kepadatan dalam rumah tempat tinggal merupakan variabel yang berperan dalam
kejadian TB paru.
Kepadatan adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota
keluarga dalam satu rumah tinggal. Untuk itu Departemen Kesehatan telah membuat
peraturan tentang rumah sehat. Persyaratan untuk kepadatan hunian untuk seluruh
perumahan biasa dinyatakan dalam m² per orang. Luas minimum perorang sangat
relatif, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk
perumahan sederhana minimum 10 m² per orang. Untuk kamar tidur di perlukan luas
lantai minimum 3 m² per orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni ≥ 2 orang kecuali
untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun. Jarak antara tempat tidur satu dengan
lainnya adalah 90 cm. Apabila ada anggota keluarga yang menderita penyakit TB
paru sebaiknya tidak tidur dengan anggota keluarga lainnya (Kepmenkes, 1999).
Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memberikan pengaruh bagi
penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan
menyebabkan overcrowded. Hal ini tidak sehat karena di samping menyebabkan

kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga menderita suatu
penyakit infeksi terutama TB paru akan mudah menular kepada anggota keluarga
yang lain, karena seorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada dua sampai
tiga orang di dalam rumahnya (Depkes, 2002).
Hasil penelitian Darwel (2012) menunjukkan bahwa kepadatan hunian rumah
yang tidak memenuhi syarat beresiko untuk mendapatkan TB paru sebesar 1,029 kali
lebih tinggi dibanding penduduk yang tinggal dengan kepadatan hunian rumah yang
memenuhi persyaratan kesehatan.
2. Lantai Rumah
Secara hipotetis jenis lantai tanah memiliki peran terhadap proses kejadian TB
paru, melalui kelembapan ruangan. Lantai tanah cenderung menimbulkan
kelembaban, dengan demikian viabilitas bakteri Mycobacterium tuberculosis
dilingkungan juga sangat mempengaruhi (Achmadi, 2008).
Lantai merupakan dinding penutup ruangan bagian bawah, konstruksi lantai
rumah harus rapat air dan selalu kering agar mudah di bersihkan dari kotoran dan
debu. Selain itu dapat menghindari meningkatnya kelembaban dalam ruangan. Untuk
mencegah masuknya air ke dalam rumah, maka lantai rumah sebaiknya di naikkan 20
cm dari permukaan tanah. Keadaan lantai rumah perlu dibuat dari bahan yang kedap
terhadap air sehingga lantai tidak menjadi lembab dan selalu basah seperti tegel,
semen dan keramik (Suyono, 2005).

Lantai yang tidak memenuhi syarat dapat dijadikan tempat hidup dan perkembang
biakan bakteri terutama bakteri Mycobacterium tuberculosis. Menjadikan udara
dalam ruangan lembab, pada musim panas lantai menjadi kering sehingga
menimbulkan debu yang berbahaya bagi penghuninya (Suyono, 2005).
Menurut Mahpudin (2006) responden yang bertempat tinggal di rumah yang
berlantai tidak kedap air mempunyai kemungkinan untuk menderita tuberkulosis
sebesar 2,74 kali dibanding responden yang tinggal di rumah dengan lantai yang
kedap air.
3. Ventilasi
Ventilasi bermanfaat bagi sirkulasi pergantian udara dalam rumah serta
mengurangi kelembaban. Semakin banyak manusia dalam satu ruangan, kelembapan
semakin tinggi khususnya karena uap air baik dari pernapasan maupun keringat.
Kelembaban dalam ruangan tertutup dimana banyak terdapat manusia di dalamnya
lebih tinggi di banding di luar ruangan (Achmadi, 2010).
Ventilasi juga dapat merupakan tempat untuk memasukkan cahaya ultraviolet,
dimana sinar ultraviolet mampu mematikan kuman TBC dan kuman lainnya. Akan
semakin baik, apabila kontruksi rumah menggunakan genteng kaca. Menurut
Kemenkes (1999) persyaratan ventilasi yang baik adalah 10% dari luas lantai
(Achmadi, 2008).
Penularan TB paru umumnya terjadi dalam ruangan dimana pada waktu batuk
atau bersin, bakteri TB menyebar ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet

nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak dan terhirup
oleh orang disekitarnya. Dengan adanya ventilasi maka dapat mengurangi jumlah
percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh bakteri TB paru
tersebut.
4. Pencahayaan
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu
banyak, khususnya cahaya alam berupa cahaya matahari yang berisi antara lain
ultraviolet (Achmadi, 2008). Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan
rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media
atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit.
Sebaliknya terlalu banyak cahaya di dalam rumah akan menyebabkan silau, dan
akhirnya dapat merusakan mata. Menurut Sarudji (2010), cahaya dapat dibedakan
menjadi 2, yakni :
a. Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya matahari ini sangat penting, karena
dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya basil
Mycobacterium tuberculosis.. Cahaya matahari minimal masuk 60 lux dengan
syarat tidak menyilaukan. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai
jalan masuk cahaya yang cukup. Perlu diperhatikan dalam membuat jendela
diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak
terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini, disamping sebagai ventilasi,
juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi penempatan jendela pun harus

diperhatikan dan diusahakan agarsinar matahari lama menyinari lantai (bukan
menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah tinggi
dinding (tembok). Jalan masuknya cahaya ilmiah juga diusahakan dengan jendela
kaca bening, tembus cahaya yang langsung berhubungan dengan cahaya luar,
bebas dari rintangan-rintangan. Dengan jumlah paling sedikit 1/10 luas lantai
ruang yang bersangkutan (Sutomo, 2013).
b. Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti
lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya. Kualitas dari cahaya buatan
tergantung dari terangnya sumber cahaya (brighness of thesource). Rumah
dengan pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit
TB paru. Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan hidup pada tempat
yang sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari bertahun-tahun lamanya, dan
bakteri ini akan mati dalam waktu dua jam. Rumah yang tidak masuk sinar
matahari mempunyai risiko menderita TB paru 3-7 kali di bandingkan dengan
rumah yang dimasuki sinar matahari (Fatimah, 2008).
Kuman tuberkulosis akan mati oleh sinar matahari terutama sinar ultraviolet tetapi
dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab (Depkes, 2005).
Menurut Widoyono (2008), bakteri tuberculosis tahan selama 1-2 jam di udara
terutama di tempat yang lembab dan gelap (bisa berbulan-bulan), namun tidak tahan
terhadap cahaya/sinar dan aliran udara/ventilasi udara. Data pada tahun 1993

melaporkan bahwa untuk mendapatkan 90% udara bersih dari kontaminasi bakteri
memerlukan 40 kali pertukaran udara per jam.
Sinar matahari langsung membunuh kuman TB dalam waktu 5 menit, tapi kumankuman dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun ditempat gelap, sehingga rumah
dan gubuk yang gelap dapat menjadi sumber penularan. Oleh sebab itu bila ruangan
dimasuki sinar matahari serta sirkulasi udara yang bagus maka risiko penularan
antara penghuni serumah bisa dikurangi (Crofton & Depkes, 2002).
5. Kelembaban
Kelembaban udara berpengaruh terhadap konsentrasi pencemar di udara.
Kelembaban berhubungan negatif (terbalik) dengan suhu udara. Semakin tinggi suhu
udara, maka kelembaban udaranya akan semakin rendah (Suryanto 2003).
Kelembaban yang standar apabila kelembaban udaranya akan semakin rendah.
Kelembaban merupakan sarana baik untuk pertumbuhan mikroorganisme terutama
Mycobacterium tuberculosis. Mulyadi (2003) meneliti di Kota Bogor menemukan
penghuni rumah yang mempunyai kelembaban ruang keluarga lebih besar dari 60%
berisiko terkena TBC 10,7 kali dibanding penduduk yang tinggal pada perumahan
yang memiliki kelembaban lebih kecil atau sama dengan 60% (Achmadi, 2010)
Kelembaban rumah yang tinggi dapat mempengaruhi penurunan daya tahan tubuh
seseorang dan meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit terutama penyakit
infeksi. Kelembaban juga dapat meningkatkan daya tahan hidup bakteri. Kelembaban
dianggap baik jika memenuhi 40%-70% dan buruk jika kurang dari 40% atau lebih

dari 70% (Sarudji, 2010). Kelembaban berkaitan erat dengan ventilasi karena
sirkulasi udara yang tidak lancar akan mempengaruhi suhu udara dalam rumah
menjadi rendah sehingga kelembaban udaranya tinggi (Achmadi, 2008).
Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan
membawa pengaruh bagi penghuninya. Rumah merupakan media yang baik bagi
pertumbuhan mikroorganisme, antara lain bakteri, spiroket, ricketsia dan virus.
Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara. Seperti yang
telah diuraikan oleh (Gould, 2003, dalam Ayunah, 2008), bakteri Mycobacterium
tuberculosis seperti halnya bakteri lain, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan
dengan kelembaban tinggi karena air membentuk lebih dari 80% volume sel bakteri
dan merupakan hal essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri.
6. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas udara di dalam
rumah. Di katakan nyaman apabila suhu udara berkisar antara 18ºC - 30ºC, dan suhu
tersebut di pengaruhi oleh suhu udara luar, pergerakan udara dan kelembaban udara.
Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat hidup dan tumbuh baik pada suhu 31ºC 37ºC. Suhu dalam rumah akan mempengaruhi kesehatan dalam rumah, dimana suhu
yang panas tentu akan berpengaruh pada aktivitas (Depkes, 1999, dalam Ayunah,
2008).

2.3. Landasan Teori

Landasan teori yang digunakan untuk menganalisa tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi kejadian penyakit tuberkulosis paru dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan Model Gordon. Teori ini menjelaskan bahwa terjadinya
penyakit seperti batang pengungkit, yang mempunyai titik tumpu di tengahtengahnya. Pada kedua ujung batang tadi terdapat pemberat, yakni A, H, dan
tumpuannya adalah L. Dalam model ini, A, H, dan L dianggap sebagai tiga elemen
utama yang berperan dalam interaksi ini, sehingga keadaan sehat ataupun sakit
(Soemirat, 2000).
Model Gordon tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:
A

H

L

Gambar 2.1. Landasan Teori
Sumber: Soemirat, 2000
Interaksi diantara ketiga elemen tersebut terlaksana karena adanya faktor
penentu pada setiap elemen tadi. Faktor penentu pada setiap elemen yang penting
antara lain:
1. A (Agent/ penyebab penyakit):
a. Jumlahnya bila hidup, konsentrasinya bila tidak hidup

b. Infektiviti/patogenitas/virulensi bila hidup dan toxisitas atau reaktivitas bila
tidak hidup
c. Kelompok bahan kimia toksik, misalnya pestisida, merkuri, cadmium, CO,
dan lain-lain (Suyono, 2012)
2. H (Host/pejamu/populasi beresiko tinggi):
a. Derajat Kepekaan
b. Imunitas terhadap A hidup, toleransi terhadap A mati
c. Status Gizi, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, perilaku, umur, jenis
kelamin, kondisi sosial ekonomi, dll.
3.

L (Lingkungan) :
Kualitas dan kuantitas berbagai kompartemen lingkungan, yang utamanya

berperan sebagai faktor yang menentukan terjadinya atau tidak terjadinya transmisi
agent (A) ke host (H). Kompartemen lingkungan dapat berupa udara, tanah, air,
makanan, perilaku,

hygiene perseorangan, kuantitas dan kualitas serangga

vector/penyebar penyakit, kepadatan hunian, lantai rumah, ventilasi rumah, cahaya
matahari, kelembaban dan suhu dalam rumah.
Model ini mengatakan bahwa apabila pengungkit tadi berada dalam
keseimbangan, maka dikatakan bahwa masyarakat berada dalam keadaan sehat,
seperti pada gambar 2.3. Pada hakekatnya, keadaan seimbang ini merupakan
resultame daripada interaksi antara ketiga elemen tersebut.

Landasan teori dalam penelitian mengacu pada konsep Model Gordon bahwa
terjadinya penyakit tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Tomuan Kota
Pematangsiantar dipengaruhi oleh faktor host dan environment.
Untuk menggambarkan kerangka teori dari landasan teori tersebut diatas, dapat
dilihat pada gambar berikut:

Agent:
- Bakteri
- Virus
- Bahan kimia

Host:
- Umur
- Jenis kelamin
- Pekerjaan
- Pengetahuan
- Pendidikan
- Perilaku
- Status gizi

Environment:
- Udara
- Tanah
- Air
- Makanan
- Hygiene perseorangan
- serangga/vector/
penyebar penyakit
- Kepadatan hunian

Kejadian Penyakit
TB Paru

Gambar 2.2. Kerangka Teori

2.4. Kerangka Konsep
Variabel Independen
(Variabel Bebas)

Variabel Dependen
(Variabel Terikat)

Faktor Host
- Umur
- Status Gizi
- Status Sosial Ekonomi/
Penghasilan

Kejadian Penyakit
TB Paru
Faktor Environment
- Kepadatan Hunian
- Lantai Rumah
- Ventilasi
- Pencahayaan
- Kelembaban
- Suhu

Gambar 2.3. Kerangka Konsep