TRANSFORMASI NILAI-NALAI BUDAYA LOKAL SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA :Studi Kasus Budaya Huyula di Kota Gorontalo.

(1)

TRANSFORMASI NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL

SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

(Studi Kasus Budaya Huyula di Kota Gorontalo)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan

Oleh

RASID YUNUS

1009617

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG


(2)

Transformasi Nilai-Nilai Budaya Lokal

Sebagai Upaya Pembangunan Karakter

Bangsa

(Studi Kasus Budaya Huyula Di Kota Gorontalo)

Oleh Rasid Yunus

S.Pd Universitas Negeri Gorontalo, 2008

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) pada Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan

Sekolah Pascasarjana

© Rasid Yunus 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Februari 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.


(3)

(4)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul “Transformasi Nilai-Nilai Budaya Lokal sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa (Studi Kasus Budaya Huyula di Kota Gorontalo)” adalah sepenuhnya benar-benar karya saya sendiri. Tidak ada bagian di dalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat akademik.

Atas pernyaan ini, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Bandung, Januari 2013


(5)

ABSTRAK

Rasid Yunus (1009617) “Transformasi Nilai-Nalai Budaya Lokal Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa (Studi Kasus Budaya Huyula di Kota

Gorontalo)”.

Penelitian ini dilatar belakangi oleh keberadaan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia belum optimal dalam upaya pembangunan karakter bangsa. Adapun yang menjadi rumusan masalah penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap budaya Huyula kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa sekarang ini; (2) Bagaimana persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap transformasi nilai-nilai budaya Huyula sesuai kondisi yang terjadi saat ini jika dikaitkan dengan upaya pembangunan karakter bangsa; (3) Apa saja faktor-faktor penunjang dan tantangannya dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo; (4) Bagaimana dampak dari proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo; (5) Apa saja kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berkompeten dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo; Penelitian ini bertujuan untuk menggali, mengkaji, dan memperoleh gambaran secara deskriptif tentang proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kecamatan Kota Selatan, Kota Timur dan Kota Barat Kota Gorontalo. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Masyarakat Kota Gorontalo memahami budaya Huyula dan dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa; (2) Proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula merupakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga pendidikan, dan tokoh agama untuk menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Huyula sebagai sarana pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo; (3) Faktor penunjang dalam proses transfomasi nilai-nilai budaya Huyula mencakup sosial kapital dan identitas sosial/jati diri masyarakat Kota Gorontalo, sedangkan tantangan dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula meliputi pengaruh globalisasi dan kurangnya pemahaman pemerintah terhadap budaya Huyula; (4) Dampak dari proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula yakni masyarakat dapat melaksanakan budaya Huyula yang mengandung nilai-nilai luhur bangsa sesuai dengan Pancasila; (5) Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula meliputi: Jum’at bersih; Pemilihan Nou dan Uti; PPIB; membangun Kantor Kelurahan; membersihkan Masjid dan gotong royong di sawah. Rekomendasi penelitian ini ditujukan kepada pemerintah Kota Gorontalo terkait kebijakan pelaksanaan Huyula, kepada masyarakat dapat melaksanakan Huyula, sekolah menjadi pusat pengembangan Huyula, budayawan perlu mengkolaborasikan budaya Huyula dengan budaya lain dan peneliti untuk menindaklanjuti penelitian ke lokasi lain di Provinsi Gorontalo.


(6)

ABSTRACT

Rasid Yunus ( 1009617) “Local Cultural Transformation Values As Effort of Nation Character Building (Cultural Case Study of Huyula in Gorontalo)”.

This research is based by the presence of culture values held by Indonesian Nation not optimal in the effort of Nation Character Building yet. The formulation of problems research are: (1) How the Gorontalo community perception to Huyula culture related with national character building; (2) How the Gorontalo community perception to Huyula cultural values transformation according to condition that happened in this time if related to the effort of nation character building, (3) What are the support and challenge factors in transformation process of Huyula cultural values as effort of nation character building in Gorontalo, (4) How is the impact of transformation process of Huyula cultural values as effort of nation character building in Gorontalo, (5) What are the activities doing by the authority in transformation process of Huyula cultural values as the effort of nation character building in Gorontalo. The aimed of this research is to know and to get the description of transformation process of Huyula cultural values as the effort of nation character building in the district south of the city, the city east and west of the city in Gorontalo. This Research Approach is qualitative with the case study method. Technique of data collecting and information conducted through participative observation, interview and documentation study. The result of this research are: (1) The community of Gorontalo comprehend the Huyula cultural and can be made the medium of nation character building; (2) the Transformation Process of Huyula cultural values is the effort doing by the government, education institute, and religious figures to make the values in Huyula cultural as the medium of nation character building in Gorontalo; (3) the support factors in Transformation process of Huyula cultural values are: Capital social and social Identity of Gorontalo community, meanwhile the challenges in transformation process of Huyula cultural values are: globalization influence and lack of government comprehend to Huyula cultural; (4) The impact or transformation process of Huyula cultural values is the community can do the Huyula cultural contain nations values as according to Pancasila; (5) The Activities which have been done in course of transformation process of Huyula cultural values are: Clean-up Friday, Election of NO’U (Miss of Gorontalo) and UTI (Man of Gorontalo), PPIB, build Chief of village Office, cleaning Mosque, and mutual aid on rice field. As for research recommendation that is to relevant Town Gorontalo Government with the policy of the implementation of the Huyula, for community of Gorontalo to apply the Huyula, school become the cultural Huyula development center, the Experts are necessary to collaborate the Huyula with another cultures and the researchers to follow up the result of this research to other regions in the Gorontalo province.


(7)

DAFTAR ISI

HAK CIPTA ... i

LEMBAR PENEGSAHAN ... ii

PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

UCAPAN TERIMA KASIH ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 9

E. Manfaat Penelitian... 10

F. Struktur Organisasi Penulisan Tesis ... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 13

A. Transformasi Nilai ... 13

B. Budaya, Pranata Sosial, Budaya Lokal, Globalisasi, dan Keberadaan Budaya Lokal Dalam Globalisasi ... 18

1. Budaya ... 18

a) Teori Orientasi Nilai Budaya ... 20

b) Teori Budaya Fungsional ... 24

c) Teori Sinkronisasi Budaya ... 26


(8)

3. Budaya Lokal ... 35

4. Globalisasi ... 38

5. Keberadaan Budaya Lokal dalam Globalisasi ... 41

C. Eksistensi Budaya lokal Huyula ... 44

1. Pengertian Huyula ... 44

2. Sejarah Huyula ... 47

3. Jenis dan Nilai yang Terkandung Dalan Huyula ... 49

D. Karakter, Pendidikan Karakter, dan Karakter Bangsa ... 50

1. Karakter... 50

2. Pendidikan Karakter... 51

3. Karakter Bangsa ... 57

E. Hubungan Karakter dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) .... 58

1. PKn dalam Dimensi Sosial kultural ... 58

2. PKn Sebagai Wahana Pembentukan Karakter Bangsa ... 60

F. Hasil Penelitian Terdahulu ... 63

G. Paradigma Penelitian ... 65

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 66

A. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 66

1. Lokasi Penelitian ... 66

2. Subjek Penelitian ... 66

B. Desain Penelitian... 68

C. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 69

1. Pendekatan Penelitian ... 69

2. Metode Penelitian ... 70

D. Penjelasan Istilah ... 72

1. Transformasi Nilai ... 72

2. Budaya Lokal Huyula ... 73

3. Pembangunan Karakter Bangsa ... 74

E. Instrumen Penelitian ... 75


(9)

1. Keterpercayaan (Credibility/Validitas Internal) ... 76

1) Memperpanjang Masa observasi... 77

2) Triangulasi ... 77

3) Peer Debriefing (Diskusi dengan Teman Sejawat) ... 78

4) Menggunakan Bahan Referensi ... 79

2. Kebergantungan (Defendability/Reliabilitas) ... 79

3. Kepastian (Comfirmability/Objektivitas) ... 80

G. Teknik Pengumpulan Data... 81

a. Observasi ... 81

b. Wawancara ... 82

c. Studi Dokumentasi ... 83

d. Studi Literatur ... 83

H. Prosedur Penelitian ... 84

1. Tahap Pra Penelitian ... 84

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 85

3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data Penelitian ... 86

a. Pengumpulan Data... 87

b. Reduksi Data ... 88

c. Display Data ... 89

d. Kesimpulan/Verifikasi ... 89

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 91

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 91

1. Kecamatan Kota Selatan ... 91

2. Kecamatan Kota Timur ... 93

3. Kecamatan Kota Barat ... 95

B. Hasil Penelitian ... 97

1. Persepsi Masyarakat Terhadap Budaya Huyula Kaitannya Terhadap Pembangunan Karakter Bangsa ... 97

2. Persepsi Masyarakat Terhadap Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 110


(10)

3. Faktor-Faktor Penunjang dan Tantangannya dalam Proses

Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 120

4. Dampak dari Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa ... 129

5. Kegiatan-Kegiatan yang Dilaksanakan dalam Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa ... 136

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 146

1. Persepsi Masyarakat Kota Gorontalo Terhadap Budaya Huyula Kaitannya dengan Upaya Pembangunan Karakter Bangsa ... 147

2. Persepsi Masyarakat Terhadap Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula sesuai Kondisi yang terjadi Saat ini ... 151

3. Faktor-Faktor Penunjang dan Tantangan dalam Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula... 156

a. Faktor Penunjang ... 157

b. Tantangan dalam Proses Transformasi ... 165

4. Dampak dari Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa ... 171

5. Kegiatan-Kegiatan yang Dilaksanakan oleh Pihak-Pihak yang Berkompeten dalam Proses transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa... 181

a. Kegiatan dalam bentuk Ambu ... 181

b. Kegiatan dalam bentuk Hileiya ... 184

c. Kegiatan dalam bentuk Ti’ayo ... 186

d. PKn sebagai Sarana Pembangunan Karakter Bangsa ... 192

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan ... 201

B. Rekomendasi ... 204


(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kerangka Kluckhohn mengenai Lima Masalah Dasar

dalam hidup Menentukan Orientasi Nilai Budaya Manusia ... 23

Tabel 2.2 Jenis dan Nilai yang terkandung dalam Huyula ... 49

Tabel 3.1 Subjek Penelitian ... 67

Tabel 4.1 Persepsi Mayarakat Kota Gorontalo terhadap Budaya Huyula ... 99

Tabel 4.2 Macam-macam Kegiatan Huyula di Kota Gorontalo ... 102

Tabel 4.3 Persepsi Masyarakat Kota Gorontalo terhadap Karakter Bangsa . 104 Tabel 4.4 Persepsi Masyarakat Kota Gorontalo terhadap Pembangunan Karakter bangsa ... 106

Tabel 4.5 Persepsi Masyarakat terhadap Budaya Huyula Kaitannya dengan Upaya Pembangunan Karakter Bangsa ... 109

Tabel 4.6 Nilai-nilai yang terdapat dalam Budaya Huyula ... 112

Tabel 4.7 Persepsi masyarakat terhadap Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 114

Tabel 4.8 Persepsi Masyarakat terhadap Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 116

Tabel 4.9 Persepsi Masyarakat terhadap Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 119

Tabel 4.10 Faktor Penunjang Proses transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 121

Tabel 4.11 Tantangan dalam Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 123

Tabel 4.12 Solusi terhadap tantangan dalam proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 125

Tabel 4.13 Faktor Penunjang dan Tantangannya serta Solusi terhadap Proses Transformasi Nilai-nilai Budaya Huyula ... 128

Tabel 4.14 Dampak dari Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 131

Tabel 4.15 Kaitan dari Dampak Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula terhadap Pembangunan Karakter Bangsa ... 133


(12)

Tabel 4.16 Dampak dari Proses Transformasi nilai-nilai budaya Huyula

Kaitannya terhadap upaya pembangunan karakter bangsa ... 135 Tabel 4.17 Kegiatan-Kegiatan yang Dapat dan Telah Dilaksanakan dalam

Proses Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula ... 139 Tabel 4.18 Kaitan Kegiatan yang Dapat dan Telah Dilaksanakan terhadap

Pembangunan Karakter Bangsa ... 142 Tabel 4.19 Kegiatan yang Dapat dan Telah dilaksanakan Kaitannya terhadap


(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Komponen-Komponen dari Pranata Sosial ... 28

Gambar 2.2 Skema Paradigma Penelitian ... 65

Gambar 3.1 Desain Penelitian ... 68


(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Pedoman Wawancara ... 211

Lampiran B Hasil Penelitian ... 224

Lampiran C Dokumentasi ... 257


(15)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Penelitian

Pada dasarnya budaya memiliki nilai-nilai yang senantiasa diwariskan, ditafsirkan dan dilaksanakan seiring dengan proses perubahan sosial kemasyarakatan. Pelaksanaan nilai-nilai budaya merupakan bukti legitimasi masyarakat terhadap budaya. Eksistensi budaya dan keragaman nilai-nilai luhur kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan sarana dalam membangun karakter warga negara, baik yang berhubungan dengan karakter privat maupun karakter publik.

Menurut Geertz (1992:5) kebudayaan adalah „pola dari pengertian-pengertian atau makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis, suatu sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk-bentuk simbolik yang dengan cara tersebut manusia berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan dan sikap mereka terhadap kehidupan‟. Pendapat ini menekankan bahwa kebudayaan merupakan hasil karya manusia yang dapat mengembangkan sikap mereka terhadap kehidupan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses komunikasi dan belajar agar generasi yang diwariskan memiliki karakter yang tangguh dalam menjalankan kehidupan.

Budaya adalah sebuah sistem yang mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya. Bentuk simbolis yang berupa bahasa, benda, musik,


(16)

kepercayaan serta aktivitas-aktivitas masyarakat yang mengandung makna kebersamaan merupakan cakupan budaya. Kluchohn dan Kelly (Niode, 2007: 49) berpendapat bahwa kebudayaan adalah „pola untuk hidup yang tercipta dalam sejarah yang explisit, implisit, rasional, irasional dan non rasional yang terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia‟. Berdasarkan pendapat tersebut, segala aktivitas kebudayaan bermaksud memenuhi sejumlah kebutuhan masyarakat yang berhubungan dengan kebutuhan hidup. Dengan kata lain, budaya tidak bisa dipisahkan dari seluruh pola aktivitas masyarakat dan dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa.

Namun seiring perkembangan zaman, eksistensi budaya dan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sampai saat ini belum optimal dalam upaya membangun karakter warga negara, bahkan setiap saat kita saksikan berbagai macam tindakan masyarakat yang berakibat pada kehancuran suatu bangsa yakni menurunnya perilaku sopan santun, menurunnya perilaku kejujuran, menurunnya rasa kebersamaan, dan menurunnya rasa gotong royong diantara anggota masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut menurut Lickona (1992:32) terdapat 10 tanda dari perilaku manusia yang menunjukan arah kehancuran suatu bangsa yaitu:

1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, 2) ketidakjujuran yang membudaya, 3) semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru dan figur pemimpin, 4) pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan, 5) meningkatnya kecurigaan dan kebencian, 6) penggunaan bahasa yang memburuk, 7) penurunan etos kerja, 8) menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara, 9) meningginya perilaku merusak diri, dan 10) semakin kaburnya pedoman moral.


(17)

Berkaitan dengan hal tersebut Saini (Syam, 2009:285-286) mengungkapkan bahwa:

Perilaku keras, beringas, korupsi, keterpurukan ekonomi yang berkelanjutan adalah pertanda kekalahan budaya ini. Karakter bangsa dibentuk oleh kreativitas bangsa itu sendiri. Kreativitas akan berkaitan erat dengan kesejahteraan dan kekenyalan bangsa ketika menghadapi persoalan bangsa, bangsa yang kreatiflah yang akan tahan dan kukuh berdiri di tengah-tengah bangsa lain...kita perlu rujukan budaya tradisi yang bernilai dinamis dan positif yang memang terdapat pada semua subkultur bangsa ini.

Berdasarkan pendapat di atas, negara yang mampu menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya dapat berkembang dengan baik dan mampu meminimalisir penyakit-penyakit masyarakat. Di era globalisasi sekarang ini, seluruh aspek kehidupan yang serba terbuka tanpa terkendali dan kurangnya filterisasi serta kondisi masyarakat yang belum siap mengakibatkan masyarakat Indonesia terbawa arus kebebasan yang lebih berorientasi pada individualisme dan materialisme serta mulai melupakan kegiatan gotong royong yang terdapat dalam budaya lokal. Oleh karena itu, perlu mentransformasi nilai-nilai budaya lokal untuk pembangunan karakter bangsa agar bangsa Indonesia mampu mempertahankan budaya bangsa, serta mampu melaksanakan musyawarah mufakat, kerja sama atau gotong royong sebagai upaya mempertahankan warisan budaya tersebut.

Pembangunan karakter bangsa melalui budaya lokal sangatlah dibutuhkan. Pembangunan karakter bangsa dapat ditempuh dengan cara mentransformasi nilai-nial budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa. Pentingnya transformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa adalah sebagai berikut:


(18)

1. Secara filosofis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis.

2. Secara ideologis, pembangunan karakter merupakan upaya mengejewantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara normatif, pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara.

3. Secara historis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah, baik pada zaman penjajah, maupan pada zaman kemerdekaan. 4. Secara sosiokultural, pembangunan karakter bangsa merupakan suatu

keharusan dari suatu bangsa yang multikultural (Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025:1).

Dalam upaya pembangunan karakter bangsa apabila kurang memperhatikan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia maka akan berakibat pada ketidakpastian jati diri bangsa yang menurut Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2010-2025 (2010-2025:2) akan terjadi:

1) disorientasi dan belum dihayati nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa, 2) keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila, 3) bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, 4) memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dan bernegara, 5) ancaman disintegrasi bangsa, dan 6) melemahnya kemandirian bangsa.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pembangunan karakter bangsa melibatkan berbagai pihak baik keluarga, lingkungan sekolah, serta masyarakat luas. Pembangunan karakter bangsa tidak akan berhasil selama pihak-pihak yang berkompeten untuk menunjang pembangunan karakter tersebut tidak saling bekerja sama. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa perlu dilakukan di luar sekolah atau pada masyarakat secara umum sesuai dengan kearifan budaya lokal masing-masing. Hal yang sama disampaikan oleh Eddy (2009:5) bahwa “pelestarian kebudayaan daerah dan pengembangan kebudayaan nasional melalui


(19)

pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal, dengan mengaktifkan kembali segenap wadah dan kegiatan pendidikan”.

Salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa dengan cara mentransformasi nilai-nilai budaya lokal yaitu budaya gotong royong (Huyula) yang dulu dikenal oleh masyarakat Gorontalo sebagai sarana untuk bekerja sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan demi kepentingan umum. Huyula merupakan suatu sistem gotong royong atau tolong menolong antara anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama yang didasarkan pada solidaritas sosial. Hal ini tercermin dalam kegiatan yang dilaksanakan secara bersama oleh seluruh anggota masyarakat seperti halnya dalam kegiatan kekeluargaan ataupun kegiatan pertanian.

Huyula bagi masyarakat Gorontalo penerapannya dapat dilihat dalam beberapa jenis, yaitu: 1) Ambu merupakan kegiatan tolong menolong untuk kepentingan bersama atau lebih dikenal dengan istilah kerja bakti, misalnya pembuatan jalan desa, tanggul desa, jembatan dan sebagainya. Selain itu, ambu merupakan salah satu cara yang digunakan oleh masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat seperti perkelahian antara warga. 2) Hileiya adalah merupakan kegiatan tolong menolong secara spontan yang dianggap kewajiban sebagai anggota masyarakat, misalnya pertolongan yang diberikan pada keluarga yang mengalami kedukaan dan musibah lainnya. 3) Ti’ayo adalah kegiatan tolong menolong antara sekelompok orang untuk mengerjakan pekerjaan seseorang, contohnya kegiatan pertanian, kegiatan membangun rumah, kegiatan membangun bantayo (tenda) untuk pesta perkawinan.


(20)

Huyula dapat pula disebut sebagai karakter lokal Gorontalo yang terwariskan secara turun temurun. Menurut Noor (Mohammad, 2005:376-377) karakter masyarakat adat Gorontalo adalah; penganut agama Islam yang taat (100% orang Gorontalo) kecuali pendatang dan yang pindah agama, tetapi masyarakat Gorontalo yang beragama Islam tidak fanatik, menghormati pemimpin yang sering mengarah pada kultus individu selama pemimpin tersebut memihak kepada kepentingan rakyat yang diperkuat oleh ajaran Islam, dan masyarakat Gorontalo sangat familiar, menghargai kebersamaan, terdiri dari rumpun keluarga yang sangat erat hubungannya satu sama lainnya. Hal ini erat kaitannya dengan budaya Huyula sebagai modal masyarakat Gorontalo membangun daerahnya. Tetapi, dengan hadirnya globalisasi yang kurang terfilterisasi dengan baik menyebabkan budaya Huyula sedikit demi sedikit hilang dalam kebiasaan masyarakat Gorontalo. Menurut Laliyo (Mohammad, 2005:366-367) hadirnya globalisasi kearifan lokal Gorontalo semakin termarjinalkan, hal ini nampak pada perilaku masyarakat Gorontalo yang sudah mulai mengabaikan budaya Huyula yang dulu pernah dipraktekkan oleh leluhur. Sesuai dengan pendapat tersebut budaya Huyula merupakan budaya Gorontalo yang diwariskan oleh leluhur yang memiliki nilai-nilai seperti kerja sama, tanggung jawab dan toleransi yang mulai dilupakan oleh masyarakat Kota Gorontalo sehingga kondisi ini jika tidak mendapat perhatian dari seluruh elemen masyarakat Kota Gorontalo akan menyebabkan hilangnya budaya Huyula di Kota Gorontalo.


(21)

Mengingat begitu pentingnya nilai yang terkandung dalam budaya Huyula maka dalam era globalisasi sekarang ini penting untuk ditransformasi kepada warga negara sebagai sarana pembangunan karakter bangsa agar terbentuk warga negara yang memiliki wawasan global tetapi tidak melupakan tradisi-tradisi lokal sebagai dasar utama dalam menjalankan hidup berbangsa dan bernegara seperti yang diungkapkan oleh Wahab (1996:27)

warga negara yang perspektif global yang mana harus senantiasa membina warga negara Indonesia yang loyal, berdedikasi, dan bertanggung jawab dalam menghadapi persoalan bangsa dan negara sehingga warga negara senantiasa berpikir global, dan bertindak nasional.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, dalam menyikapi perkembangan zaman warga negara dapat memposisikan diri sebagai anggota masyarakat dunia atau masyarakat kosmopolitan, tetapi yang sangat ditekankan adalah jangan sampai terjebak dalam kehidupan yang individualis dan materialis. Oleh karena itu, perlu memperhatikan nilai-nilai budaya lokal yang dapat mengontrol perilaku warga negara agar warga negara memiliki karakter yang tangguh.

Berdasarkan kondisi di atas, maka pembangunan karakter bangsa melalui budaya lokal sangatlah penting. Oleh karena itu, penyusun tertarik untuk melakukan penelitian tesis dengan tema “Transformasi Nilai-Nilai Budaya Lokal Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa” (Studi Kasus Budaya Huyula Di Kota Gorontalo).

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada latar belakang penelitian di atas, penulis mengidentifikasi masalah. Adapun identifikasi masalah yaitu:


(22)

a. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya Huyula di Kota Gorontalo.

b. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat budaya lokal khususnya budaya Huyula di Kota Gorontalo.

c. Masuknya globalisasi yang tidak difilter dengan baik sehingga tradisi dan budaya lokal khususnya budaya Huyula mulai ditanggalkan oleh masyarakat Kota Gorontalo.

d. Kurangnya kontribusi tokoh-tokoh adat dalam proses transformasi nilai-nilai budaya lokal khususnya budaya Huyula kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

e. Kurangnya peran lembaga adat dalam proses transformasi budaya lokal khususnya budaya Huyula kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

f. Kurangnya keteladanan para pemimpin dalam mengaktualisasikan nilai-nilai budaya lokal khususnya budaya Huyula kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan indentifikasi masalah di atas, maka diperoleh masalah pokok penelitian, yaitu “Bagaimana Transformasi Nilai-Nilai Budaya Huyula sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa di Kota Gorontalo?”

Agar penelitian ini terarah dan mengingat luasnya permasalahan tersebut, maka masalah pokok tersebut peneliti batasi dalam rumusan pertanyaan penelitian sebagai berikut:


(23)

1. Bagaimana persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap budaya Huyula kaitannya dengan upaya pembangunan karakter bangsa?

2. Bagaimana persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap transformasi nilai-nilai budaya Huyula sesuai kondisi yang terjadi saat ini jika dikaitkan dengan upaya pembangunan karakter bangsa?

3. Apa saja faktor-faktor penunjang dan tantangannya dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo?

4. Bagaimana dampak dari proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo?

5. Apa saja kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berkompeten dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperoleh gambaran secara deskriptif tentang proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

2. Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk menggali, mengkaji, dan mengorganisasikan informasi-argumentatif dan teoritik-konseptual tentang:

a. Mengetahui persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap budaya Huyula kaitannya dengan upaya pembangunan karakter bangsa.


(24)

b. Mengetahui persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap transformasi nilai- nilai budaya Huyula sesuai kondisi yang terjadi saat ini kaitannya dengan upaya pembangunan karakter bangsa.

c. Mengetahui faktor-faktor penunjang dan tantangannya dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

d. Mengetahui dampak dari proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

e. Mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berkompeten dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Akademis

Secara akademis (keilmuan) diharapakan penelitian tentang transformasi nilai-nilai budaya lokal khususnya budaya Huyula dapat menjadi bahan referensi untuk mengkaji dan merumuskan nilai-nilai budaya lokal yang diperlukan dalam upaya pembangunan karakter bangsa agar masyarakat memiliki karakter yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman.

2. Manfaat Praksis

a. Sebagai bahan masukkan dan pertimbangan bagi pemerintah Daerah Kota Gorontalo dalam membuat kebijakan tentang pembangunan karakter bangsa yang berbasis budaya lokal khususnya budaya Huyula.


(25)

b. Sebagai bahan masukkan dan pertimbangan bagi dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo dalam membuat kebijakan dalam rangka pembangunan karakter bangsa berbasis budaya lokal khususnya budaya Huyula.

c. Sebagai bahan masukkan dan pertimbangan bagi tokoh-tokoh adat dalam pembangunan karakter bangsa yang berbasis budaya lokal khususnya budaya Huyula.

d. Sebagai bahan masukkan bagi masyarakat untuk mentransformasi dan melaksanakan nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

F. Struktur Organisasi Penulisan Tesis

Dalam tesis ini terdiri dari bab I sampai bab V, masing-masing bab tersebut yakni sebagai berikut: Bab I pendahuluan yang terdiri dari (a) latar belakang penelitian, (b) identifikasi masalah, (c) rumusan masalah, (d) tujuan penelitian, (e) manfaat penelitian dan (f) struktur organisasi penulisan tesis.

Bab II kajian pustaka yang terdiri dari: (a) transformasi nilai, (b) budaya, pranata sosial, budaya lokal, globalisasi dan keberadaan budaya lokal dalam globalisasi, (c) eksistensi budaya lokal Huyula, (d) karakter, pendidikan karakter, dan karakter bangsa, (e) hubungan karakter dengan pendidikan kewarganegaraan, (f) hasil penelitian terdahulu dan (g) paradigma penelitian. Bab III metodologi penelitian terdiri dari: (a) lokasi dan subjek penelitian, (b) desain penelitian, (c) pendekatan dan metode penelitian, (d) penjelasan istilah, (e) instrumen penelitian,


(26)

(f) uji validitas data penelitian, (g) teknik pengumpulan data dan (h) prosedur penelitian.

Bab IV hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari: (a) gambaran umum lokasi penelitin dan (b) hasil penelitian dan pembahasan. Bab V kesimpulan dan rekomendasi. Dilengkapi dengan daftar pustaka serta lampiran-lampiran yang relevan dengan penelitian.


(27)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian tesis ini dilakukan di Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo khususnya di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Kota Timur, Kecamatan Kota Barat, dan Kecamatan Kota Selatan.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian merupakan pihak-pihak yang menjadi sasaran penelitian atau sumber yang dapat memberikan informasi yang dipilih secara purposif bertalian dengan tujuan tertentu. Hal ini sesuai pendapat Lincoln dan Guba (2009:200) bahwa:

Pada penelitian kualitatif tidak ada sampel acak tetapi sampel bertujuan yang dikenali dari rancangan sampel yang muncul, pemilihan berurutan, penyesuaian berkelanjutan dari sampel dan pemilihan berakhir jika sudah terjadi pengulangan.

Subjek dalam penelitian ini agar memperoleh informasi yang valid dan bertalian, maka yang menjadi subjek penelitiannya seperti terdapat dalam tabel berikut ini:


(28)

Tabel 3.1 Subjek Penelitian

No Informan Jumlah

1. Pemerintah Kecamatan 3 orang

2. Akademisi 3 orang

3. Budayawan 3 orang

4. Masyarakat 6 orang

Jumlah 15 orang

Pertimbangan peneliti untuk memilih subjek penelitian dalam tabel di atas didasari oleh beberapa alasan seperti; dari segi pemerintah peneliti ingin mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk menunjang proses tarnsformasi nilai-nilai budaya Huyula, dari segi akademisi peneliti ingin mengetahui telaah akademik, dari para budayawan peneliti ingin mengetahui bagaimana pandangan dan partisipasi para budayawan, dan dari segi masyarakat peneliti ingin mengetahui bagaimana pandangan, aktivitas, dan partisipasi masyarakat dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula.

Penelitian ini menggunakan sampel purposif sehingga besarnya sampel ditentukan oleh adanya pertimbangan informasi dengan teknik Snowball. Penentuan sampel dianggap telah memadai apabila telah sampai pada titik jenuh seperti yang dikemukakan oleh Nasution (2002:32-33) bahwa:

Untuk memperoleh informasi sampai dicapai taraf “redundancy” ketentuan atau kejenuhan artinya bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang dianggap berarti.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa dalam pengumpulan data dari informan didasarkan pada ketentuan atau kejenuhan data dan informasi yang diberikan oleh para responden yang berkompeten.


(29)

B. Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti membuat suatu desain penelitian sebagai gambaran tahapan yang akan ditempuh oleh peneliti. Adapun tahapan-tahapan tersebut terdapat pada gambar di bawah ini:

Gambar 3.1 Desain Penelitian

Penentuan Masalah Studi Empiris Studi Pendahuluan

Identifikasi Masalah

Analisis

Perumusan Masalah Kajian Pustaka

Penyusunan Instrumen/ Pedoman wawancara

Pengumpulan Data

Pengolahanan Data

Perumusan Hasil dan Kesimpulan Penelitian


(30)

C. Pendekatan dan Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif didasarkan pada dua alasan. Pertama, permasalahan yang dikaji dalam penelitian tentang transformasi nilai-nilai budaya lokal khususnya budaya Huyula membutuhkan sejumlah data lapangan yang sifanya kontekstual. Kedua, pemilihan pendekatan ini didasarkan pada keterkaitan masalah yang dikaji dengan sejumlah data primer dari subjek penelitian yang tidak dapat dipisahkan dari latar alamiahnya, tanpa ada rekayasa serta pengaruh dari luar. Hal ini senada dengan Moleong (2006:3) bahwa “penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data kualitatif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari perilaku orang-orang yang diamati”.

Atas dasar itulah maka penelitian ini dapat digolongkan kedalam penelitian kualitatif-naturalistik. Cresswell (2010: 15) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai berikut:

Qualitatif research is an inquairy process of understanding based on distinct methodological tradition of inquiry that explore a sosial or human problem. The researcher build a complex, holistic picture, analysis words, report detailed views on informants, and conducts teh study in a natural cetting.

Pendapat tersebut menjelaskan bahwa penelitian kualitatif didasarkan pada tradisi metodologi penelitian dengan cara menyelidiki masalah sosial atau kemanusiaan. Peneliti membuat gambaran yang kompleks, gambaran secara menyeluruh, menganalisis kata-kata, melaporkan pandangan-pandangan para informan secara rinci, dan melakukan penelitian dalam situasi yang alamiah.


(31)

Karakteristik pokok yang menjadi perhatian dalam penelitian kualitatif adalah kepedulian terhadap “makna”. Dalam hal ini penelitian naturalistik tidak peduli terhadap persamaan dari objek penelitian, melainkan sebaliknya mengungkap tentang pandangan tentang kehidupan dari orang-orang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk mengungkap kenyataan yang ada dalam diri orang yang unik atau menggambarkan alat lain kecuali manusia sebagai instrumen dan peneliti mendatangi sendiri sumbernya secara langsung.

Menurut Bogdan dan Biglen (1992:27) bahwa “pengumpulan data dalam

penelitian kualitatif hendaknya dilakukan sendiri oleh peneliti dan mendatangi sumbernya secara langsung”.

Peneliti memilih pendekatan ini karena ingin mengetahui secara langsung dan mendalam mengenai proses transformasi nilai-nilai budaya lokal Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa. Dari penelitian ini diharapakan dapat dikumpulkan data sebanyak mungkin tentang transformasi nilai-nilai budaya lokal Huyula di Kota Gorontalo sebagai upaya pembangunan karakter bangsa dengan tidak mengesampingkan keakuratan data yang diperoleh.

2. Metode Penelitian

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus atau penelitian kasus (case study). Berdasarkan Yin (1995:18) bahwa:

Studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena didalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan kontek tampak dengan tegas, dan dimana multisumber bukti dimanfaatkan.


(32)

Menurut Smith (Lincoln dan Denzin, 2009:300) bahwa kasus adalah suatu sistem yang terbatas (abounded system). Sedangkan menurut Stake (Creswell, 2010:20) bahwa “studi kasus merupakan penelitian dimana peneliti didalamnya menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu yang dibatasi waktu dan peristiwa”. Selanjutnya Nazir (2011:57) menjelaskan bahwa studi kasus atau case study adalah:

Penelitian yang subjek penelitiannya dapat berupa individu, kelompok, lembaga maupun masyarakat. sehingga dapat memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat dan karakter yang khas dari kasus, yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan menjadikan suatu hal yang bersifat umum.

Berdasarkan pendapat Lincoln dan Guba (Mulyana, 2002:201) mengemukakan keistimewaaan penelitian studi kasus sebagai berikut:

(1) Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek peneliti; (2) Studi kasus menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari; (3) Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukan hubungan antara peneliti dengan responden; (4) Studi kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga kepercayaan; (5) Studi kasus memberikan uraian tebal yang diperlukan bagi penilaian atas transferibilitas; (6) Studi kasus terbuka bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut.

Berdasarkan pendapat di atas, dijelaskan bahwa studi kasus lebih menekankan pada suatu kasus. Adapaun kasus yang dimaksud dalam penelitian ini adalah budaya Huyula di Kota Gorontalo mulai ditinggalkan oleh masyarakat yang berdampak pada tidak tercapainya pembangunan karakter bangsa.


(33)

Penggunaan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus diharapkan mampu mengungkap aspek-aspek yang diteliti. Adapun aspek-aspek tertentu yang khas dalam penelitian ini adalah:

a. Budaya Huyula hanya ada di Gorontalo dan merupakan tradisi peninggalan leluhur masyarakat Gorontalo.

b. Budaya Huyula merupakan budaya Gorontalo yang mengandung nilai-nilai luhur Pancasila dan menggambarkan kehidupan masyarakat yang penuh dengan semangat gotong royong dan kebersamaan.

c. Dalam perkembangannya budaya Huyula di Kota Gorontalo mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

D. Penjelasan Istilah

Dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang digunakan, maka untuk menghindari terjadi salah tafsir, maka perlu diberikan penjelasan terhadap istilah-istilah tersebut. Adapun penjelasannya seperti berikut ini:

1. Transformasi nilai

Transformasi mengandung makna, perubahan bentuk yang lebih dari, atau melampaui perubahan bungkus luar saja.Transformasi diartikan adanya perubahan atau perpindahan bentuk yang jelas. Kata transformasi menjelaskan perubahan yang bertahap dan terarah (http://pukatbangsa.wordpress.com).

Nilai (value) adalah ide atau konsep yang bersifat abstrak tentang apa yang dipikirkan seseorang atau dianggap penting oleh seseorang (Fraenkel, 1977:5). Nilai adalah konsepsi dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan.


(34)

Transformasi nilai menurut Hoffman (Hakam, 2007:156) yaitu „proses internalisasi sebagai transisi dari orientasi eksternal ke orientasi internal dalam perkembangan nilai dan moral, internalisasi yang asalnya eksternal atau berdasarkan norma dan nilai masyarakat berarti telah terjadi pergeseran dari orientasi eksternal menuju orientasi diri sendiri dalam memotivasi tindakan seseorang‟.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa transformasi adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan menyebabkan perubahan pada satu objek yang telah dihinggapi oleh nilai dan norma tersebut. Jadi transformasi dapat menyebabkan perubahan pada satu objek tertentu. Perubahan tersebut terjadi pula pada masyarakat yang mampu mentransformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai dasar keberhasilan pembangunan karakter bangsa.

2. Budaya Lokal Huyula

“Budaya lokal merupakan adat istiadat yang sudah berkembang, atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah dan terdapat di suatu daerah tertentu, serta kebudayaan setiap suku bangsa yang berada di setiap daerah tertentu” (Hermanto, 2010:108). Budaya lokal merupakan satu tradisi yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai rujukan dalam aktivitas-aktivitas tertentu dan dalam masyarakat tertentu. Hal ini senada dengan pendapat Parekh (Burton, 2012:32) budaya lokal adalah „suatu khazanah kepercayaan yang melaluinya anggota kelompok tersebut memahami diri mereka sendiri dan dunia, serta menerapkan makna terhadap perilaku dan hubungan sosialnya‟.


(35)

Merujuk pada uraian di atas, maka budaya lokal Huyula adalah budaya gotong royong yang berada dan dilaksanakan oleh masyarakat Gorontalo yang bersifat turun temurun dan berorientasi pada kepentingan individu maupun kelompok serta kepentingan umum. Menurut Daulima (2004:85) Huyula adalah “kegiatan gotong royong yang dilaksanakan oleh masyarakat Gorontalo dalam hal pertanian, maupun kegiatan-kegiatan untuk kepentingan umum seperti, membangun jembatan desa, tanggul desa, membuat jalan desa, dan pertolongan baik materi maupun nonmateri yang diberikan kepada anggota masyarakat yang mengalami bencana alam”.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, budaya lokal Huyula adalah budaya gotong royong yang berada di Gorontalo yang diwariskan secara turun temurun yang dianggap memiliki potensi untuk mewujudkan pembangunan karakter bangsa khususnya di Kota Gorontalo, karena dalam budaya Huyula tersebut terdapat nilai-nilai seperti kerja sama, tanggungjawab, dan empati.

3. Pembangunan karakter bangsa

Istilah pembangunan bisa saja diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah lainnya, negara satu dengan negara lain. Namun secara umum ada suatu kesepakatan bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan, Riyadi dan Bratakusumah (http://ilearn.unand.ac.id). Berdasarkan pendapat tersebut, pembangunan dimaknai sebagai proses untuk melakukan perubahan pada suatu tempat tertentu. Sedangkan menurut Siagian (2001) pembangunan adalah “suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang terencana yang dilakukan


(36)

secara sadar oleh suatu bangsa, negara, dan pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)” (http://skaterfm.blogspot.com).

Morgenthau (Budimansyah dan Suryadi, 2008:77) mendefinisikan karakter bangsa dalam konteks negara-bangsa (nation state) sebagai salah satu unsur kekuatan nasional (national power) dalam politik antar bangsa. Mengacu pada pendapat tersebut, maka karakter bangsa adalah kekuatan yang dimiliki oleh negara bangsa dalam menjalankan politik kebangsaan demi kepentingan bersama.

Menurut Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa (2010:7) pembangunan karakter bangsa yaitu “upaya kolektif-sistematik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan bangsa dan negaranya sesuai dasar dan ideologi, konstitusi, haluan negara, serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional, regional, dan global yang beradab”.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan karakter bangsa dilakukan secara sistematis dengan melibatkan semua elemen masyarakat, dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai tujuan dalam rangka kemakmuran masyarakat. Pembangunan karakter bangsa merupakan suatu proses perubahan taraf hidup, dari yang dulunya kurang maju berubah menjadi baik dan maju serta berkembang sesuai dengan karakter yang digali dari budaya bangsa sendiri.

E. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif-naturalistik, peneliti memperlakukan dirinya sebagai instrumen utama (human instrumen) yaitu bergerak dari hal-hal yang spesifik, dari tahapan yang satu ke tahapan berikutnya, serta memadukannya


(37)

sedemikian rupa sehingga pada akhirnya dapat ditemukan kesimpulan-kesimpulan, sebagaimana dikemukakan oleh Creswell (2010: 261-264) bahwa “peneliti berperan sebagai instrumen kunci (researcher as key instrument) atau yang utama. Peneliti terlibat dalam pengalaman yang berkelanjutan dan terus menerus dengan partisipan”.

Peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mencari informasi/data melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan antar manusia, artinya selama proses penelitian penulis akan lebih banyak mengadakan kontak dengan orang-orang sekitar lokasi penelitian yaitu di Kota Gorontalo. Dengan demikian penulis lebih leluasa mencari informasi dan data yang terperinci tentang berbagai hal yang diperlukan untuk kepentingan penelitian.

F. Keabsahan Data

Penelitian kualitatif seringkali diragukan terutama dalam hal kesahihan data (keabsahan data). Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengecekan keabsahan data melalui “derajad keterpercayaan (credibility), ketergantungan (defendebility), dan kepastian (confirmabality)” (Satori dan Komariah, 2011:164).

1. Keterpercayaan (Credibility/validitas Internal)

Salah satu pengecekan keabsahan data yaitu kredibilitas atau keterpercayaan. Kredibilitas adalah adalah “ukuran data yang dikumpulkan, yang menggambarkan kecocokan konsep peneliti dengan hasil penelitian (Satori dan Komariah, 2011:165)”. Untuk memenuhi kredibiltas data penelitian ini, maka ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar kebenaran hasil penelitian dapat


(38)

dipercaya dalam penelitian tesis ini. Cara-cara yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Memperpanjang Masa Observasi

Agar penelitian ini dipercaya, maka peneliti perlu memperpanjang observasi atau pengamatan. Nasution (2002:114) mengungkapkan “peneliti harus cukup waktu untuk benar-benar mengenal suatu lingkungan, mengadakan hubungan baik dengan orang-orang di sana, mengenal kebudayaan lingkungan dan mencheck kebenaran informasi”. Lingkungan, orang-orang, dan kebudayaan dalam penelitian ini, yaitu yang berada dan terjadi di Kota Gorontalo.

Usaha peneliti dalam memperpanjang waktu penelitian guna memperoleh data dan informasi yang valid dari sumber data adalah dengan meningkatkan intensitas pertemuan dan melakukan penelitian dalam kondisi yang wajar, dimana mencari waktu yang tepat guna berinteraksi dengan sumber data. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa observasi yang dilakukan oleh peneliti benar-benar sesuai dengan fenomena kontekstual.

2) Triangulasi

Data atau informasi dari satu pihak harus dicek kebenaran dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain, misalnya dari pihak kedua, ketiga, dan seterusnya dengan menggunakan metode yang berbeda-beda. Tujuan triangulasi menurut Nasution (2002:115) yaitu “menchek kebenaran data tertentu dengan membandingkannya data yang diperoleh dari sumber lain, pada berbagai fase penelitian lapangan, pada waktu yang berlainan, dan sering dengan menggunakan metode yang berlainan”. Cara demikian untuk menghindari subjektifitas yang


(39)

tinggi. Oleh karena itu, peneliti melakukan perbandingan informasi atau data dari pihak-pihak yang telah diwawancarai dengan sumber-sumber lain yang relevan dengan masalah penelitian dengan harapan menghasilkan data yang diinginkan sesuai dengan masalah penelitian.

3) Peer Debriefing (Diskusi dengan Teman Sejawat)

Peer the briefing maksudnya bahwa penelitian ini didiskusikan dengan orang lain terutama dengan teman sejawat posisinya dengan peneliti untuk menerima masukan berupa pandangan-pandangan yang objektif dalam memperkuat penelitian yang ada. Tujuan diskusi ini menurut Nasution (2002:116) yaitu antara lain:

Untuk memperoleh kritik, pertanyaan-pertanyaan yang tajam, yang menentang tingkat kepercayaan atau kebenarana penelitian berupa mencari kelemahan penelitian, bias, tafsiran yang tak cukup didukung oleh data atau yang masih kurang jelas. Dan dapat mendiskusikan hal-hal mengenai metode penelitian, etika penelitian, dan sebagainya. Serta hipotesis kerja yang timbul selama penelitian, hingga mana peneliti dapat mempertahankannya.

Sementara Moleong (Satori dan Komariah, 2011:172) mengungkapkan bahwa “diskusi dengan teman sejawat akan menghasilkan: (1) pandangan kritis terhadap hasil penelitian; (2) temuan teori substantif; (3) membantu mengembangkan langkah berikutnya; (4) pandangan lain sebabagai pembanding”.

Pada bagian ini peneliti melakukan diskusi dengan pihak-pihak diluar subjek penelitian seperti diskusi dengan pihak akademisi, masyarakat, budayawan, tokoh adat yang berada di Kota Gorontalo dengan harapan mendapatkan masukan dan kritik dari pihak-pihak yang dianggap memiliki pengetahuan terhadap budaya Huyula di Kota Gorontalo.


(40)

4) Menggunakan Bahan Referensi

Penelitian ini menggunakan bahan referensi yaitu bahan dokumentasi, hasil rekaman wawancara dengan subjek penelitian, foto-foto dan lainnya yang diambil dengan cara yang tidak menganggu atau menarik perhatian informan, sehingga informasi data yang diperlukan dengan tingkat kesahihan yang tinggi.

Pada bagian ini peneliti mencari referensi tentang budaya Huyula di Kota Gorontalo dan melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang ditentukan pada subjek penelitian, mengambil gambar kegiatan-kegiatan yang ada hubungannnya dengan proses transformasi seperti kegiatan gotong royong di sawah, pembangunan kantor kelurahan, dan kegiatan jum‟at bersih (membersihkan selokan air).

2. Kebergantungan (Defendability/Reliabilitas)

Salah satu pengecekan keabsahan data yaitu defendability atau kebergantungan. Defendability menurut istilah konvensional disebut “reliability” atau reliabilitas (Nasution, 2002:119). Menurut Stainback (Satori dan Komariah, 2011:166) bahwa “reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan”.

Untuk mencapai derajat reliabilitas yang tinggi, maka dibutuhkan alat yang reliable dalam memperoleh data yang valid. Alat tersebut adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai instrumen utama (key instrument). Dengan demikian, peneliti terjun langsung ke lapangan yakni ke lokasi penelitian yang mencakup Kecamatan Kota Selatan, Kecamatan Kota Timur dan Kecamatan Kota


(41)

Barat Kota Gorontalo guna mendapatkan data secara langsung dalam situasi yang alamiah (natural cetting).

3. Kepastian (Comfirmability/Objectivitas)

Salah satu pengecekan keabsahan data yaitu confirmabilitas. Satori dan Komariah (2011:166) mengungkapkan bahwa:

Confirmabilitas berhubungan dengan objektifitas hasil penelitian. Hasil penelitian dikatakan memiliki derajat objektifitas yang tinggi apabila keberadaan data dapat ditelusuri secara pasti dan penelitian dikatakan objektif bila hasil penelitian telah disepakati banyak orang.

Oleh karena itu, agar penelitian ini dapat menjaga kebenaran dan objektifitas, maka peneliti akan melakukan cara “audit trail”. Nasution (2002:119 -120) mengemukakan bahwa:

Pengertian “audit trial”. “Trial” artinya jejak yang dapat dilacak, sementara “audit” dalam pengertian ini artinya pemeriksaan keseluruhan proses penelitian. Dalam rangka penulisan tesis ini “audit trial” dilakukan oleh pembimbing. Beliualah yang terutama berkewajiban untuk memeriksa proses penelitian serta taraf kebenaran data serta tafsirannya. Cara audit “trail” dilakukan untuk mengetahui apakah laporan penelitian ini sesuai dengan data yang dikumpulkan atau tidak, untuk menjamin kebenaran sebuah penelitian.

Merujuk pada pernyataan di atas, peneliti mengevaluasi langkah-langkah yang dilakukan pada saat penelitian. Setelah itu, peneliti mengecek data penelitian kemudian mendiskusikan dengan pembimbing sebelum data diolah, disajikan dan disimpulkan. Hal ini dilakukan dengan harapan agar penelitian ini benar-benar sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditentukan, data yang diperoleh sesuai dengan informasi yang didapatkan dari lapangan serta mendapat masukan dan arahan dari dosen pembimbing.


(42)

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif, untuk memperoleh data dan informasi yang akurat dan representatif dibutuhkan teknik pengumpulan data yang dipandang tepat, dimana peneliti bertindak sebagai instrumen utama (key instrument) yang menyatu dengan sumber data dalam situasi yang alamiah (natural cetting). Hal ini sesuai pendapat Nasution (2002:9) bahwa:

Peneliti adalah key instrument yakni peneliti sendiri yang bertindak sebagai pengamat langsung untuk dapat memahami makna interaksi antar manusia, membaca gerak muka, menyelami perasaan dan nilai yang terkandung dalam ucapan atau perbuatan responden.

Pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini dilakukan dengan berbagai cara dan teknik yang berasal dari berbagai sumber baik manusia maupun bukan manusia. Menurut pendapat Lincoln dan Denzin (2009:495) bahwa “teknik pengumpulan data pada penelitian kualitatif adalah teknik observasi partisipatif, wawancara, dokumentasi, dan literatur”. Keempat teknik ini diharapkan bisa saling melengkapi dalam memperoleh data yang diperlukan. Adapun penjelasan dari beberapa teknik tersebut akan diuraikan berikut:

a. Observasi

Menurut Nazir (2011:175) bahwa “observasi cara pengambilan data dengan menggunakan mata, tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut”. Lebih lanjut menurut Creswell (2010:267) bahwa “observasi yang dilakukan dalam penelitian kualitatif adalah observasi yang didalamnya peneliti turun langsung ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas-aktivitas individu-individu di lokasi penelitian”. Maksudnya dalam penelitian ini, peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mengamati dan menyajikan secara


(43)

realistik informasi tentang transformasi nilai-nilai budaya lokal Huyula di Kota Gorontalo untuk menunjang keberhasilan pembangunan karakter bangsa.

Adapun kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan mengamati hal-hal yang berhubungan dengan proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula di Kota Gorontalo. Hal-hal yang diobservasi adalah perilaku dan aktivitas masyarakat, kegiatan gotong-royong di sawah, kegiatan membangun kantor kelurahan, dan kegiatan juma‟at bersih (membersihkan selokan air).

b. Wawancara

Teknik wawancara merupakan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Satori dan Komariah (2011:130) bahwa “wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab”.

Wawancara harus dilakukan oleh peneliti kepada subjek peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan. Seorang peneliti dapat menggunakan wawancara sesuai dengan kondisi subjek yang terlibat dalam interaksi sosial yang dianggap memiliki pengetahuan yang memadai dan mengetahui informasi yang dibutuhkan agar memperoleh data yang digunakan untuk menjawab fokus penelitian. Oleh karena itu, peneliti melakukan wawancara kepada pemerintah kecamatan Kota Selatan, Kota Timur, Kota Barat, para akademisi di Universitas Negeri Gorontalo, para budayawan di Kota Gorontalo dan masyarakat yang berada di Kecamatan Kota Selatan, Kota Timur dan Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo.


(44)

c. Studi Dokumentasi

Creswell (2010:269-270) mengemukakan bahwa “pengumpulan data dalam penelitian dilakukan melalui dokumen publik, dokumen privat, dan materi audio visual”. Dokumen publik yang dimaksud adalah koran, majalah, dan laporan kantor. Dokumen privat yang dimaksud yaitu buku harian, diary, surat, dan email. Sedangkan dokumen materi audio visual yakni foto, objek-objek, seni, video, tape atau segala jenis suara (bunyi).

Pemilihan teknik ini dilandasi oleh pemikiran bahwa selain data diperoleh dari sumber lisan, namun untuk meyakinkan secara faktual maka sumber data secara lisan dapat dilengkapi oleh data pendukung seperti tulisan, suara (video), dan gambar atau foto. Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan teknik observasi dan wawancara. Adapun dokumentasi yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tape recorder dan kamera digital yang diperlukan pada saat penelitian berlangsung.

d. Studi Literatur

Satori dan Komariah (2011:147) mengemukakan bahwa “literatur adalah bahan-bahan yang diterbitkan secara rutin ataupun berkala”. Lebih lanjut menurut Green (Satori dan Komariah, 2011:152) bahwa:

Suatu literatur menjadi dokumen kajian dalam studi literatur karena memiliki kriteria yang relevan dengan fokus kajian, yang dimaksud relevan adalah sesuatu sifat yang terdapat pada dokumen yang dapat membantu pengarang dalam memecahkan kebutuhan akan informasi. Dokumen dinilai relevan (relevance) bila dokumen tersebut mempunyai topik yang sama, atau berhubungan dengan subjek yang diteliti (topical relevance).


(45)

Studi literatur dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, menganalisis, dan memahami buku-buku yang relevan dengan masalah yang diteliti. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data secara teoritis yang dapat mendukung kebenaran data yang diperoleh dan sebagai penunjang kenyataan yang berlaku pada penelitian. Adapun literatur yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku yang berhubungan dengan budaya, antropologi budaya, budaya lokal Huyula dan buku-buku yang berhubungan dengan karakter bangsa serta literatur yang diperoleh dari sumber lain seperti disertasi, tesis, jurnal dan sumber-sumber relevan yang diperoleh dari media internet.

H. Prosedur Penelitian

Pada dasarnya prosedur penelitian memuat tentang tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh peneliti. Adapun tahapan-tahapan tersebut akan dijelaskan berikut ini.

1. Tahap Pra Penelitian

Tahap pra penelitian sebagai langkah awal yaitu memilih masalah, menentukan judul dan lokasi penelitian dengan tujuan menyesuaikan keperluan dan demi kepentingan masalah yang akan diteliti. Setelah masalah dan judul penelitian disetujui oleh pembimbing akademik, peneliti melakukan studi pendahuluan guna memperoleh gambaran awal tentang subjek yang akan diteliti.

Setelah memperoleh gambaran subjek yang akan diteliti dan masalah yang relevan dengan kondisi objektif di lapangan, selanjutnya peneliti menyusun proposal penelitian. Sebelum melaksanakan penelitian, terlebih dahulu peneliti harus menempuh prosedur perizinan sebagai berikut:


(46)

a. Mengajukan surat permohonan izin untuk mengadakan penelitian kepada Ketua Progran Studi Pendidikan Kewarganegaraan Pascasarjana, selanjutnya diteruskan kepada Asisten Direktur I untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Kepala BAAK UPI yang secara kelembagaan mengatur segala jenis urusan administratif dan akademis.

b. Pembantu Rektor I atas nama Rektor UPI mengeluarkan surat permohonan izin penelitian untuk disampaikan kepada Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Gorontalo untuk mengeluarkan surat rekomendasi izin penelitian kepada pihak yang terkait dengan penelitian.

c. Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Gorontalo mengeluarkan surat Rekomendasi izin untuk disampaikan kepada pihak yang terkait dengan penelitian yaitu camat Kota Selatan, camat Kota Timur, dan camat Kota Barat.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah tahap pra penelitian selesai, maka peneliti mulai terjun ke lapangan untuk memulai penelitian. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan mengumpulkan data dari informan. Selain itu, peneliti mengumpulkan hasil observasi di lapangan. Pada tahap pelaksanaan penelitian ini penulis menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menghubungi Pemerintah Kecamatan Kota Barat, Kota Timur, dan Kota Selatan untuk meminta informasi dan meminta izin untuk melaksanakan


(47)

penelitian di lingkungan tersebut, serta menentukan informan yang akan diwawancarai.

b. Menghubungi para akademisi di Universitas Negeri Gorontalo dan mengadakan wawancara.

c. Menghubungi para budayawan untuk mengadakan wawancara. d. Menghubungi masyarakat untuk mengadakan wawancara.

e. Melakukan studi dokumentasi dan membuat catatan yang diperlukan yang dianggap berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

f. Memperhatikan dan mengikuti kegiatan yang terkait dengan masalah yang akan diteliti.

Setelah selesai mengadakan wawancara, peneliti menuliskan kembali data yang terkumpul kedalam catatan lapangan dengan maksud agar dapat mengungkapkan data secara terperinci. Data yang diperoleh dari hasil wawancara, disusun dalam bentuk catatan lengkap setelah didukung oleh dokumen lainnya.

3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data Penelitian

Dalam penelitian ini, pengolahan data dan analisis melalui proses menyusun, mengkategorikan data, mencari kaitan isi dari berbagai data yang diperoleh dengan maksud untuk mendapatkan maknanya. Data yang diperoleh dan dikumpulkan dari informan melalui hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi di lapangan untuk selanjutnya dideskripsikan dalam bentuk laporan.

Analisis data kualitatif terdiri dari tiga alur kegiatan yang dilakukan secara bersamaan yaitu: pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemfokusan,


(48)

penyederhanaan, abstraksi dan transformasi terhadap data “kasar” yang diperoleh dari catatan lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis data yang bertujuan untuk menajamkan, mengelompokkan, memfokuskan, pembuangan yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data untuk memperoleh kesimpulan final. Penyajian data dilakukan dengan menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun dalam suatu kesatuan bentuk yang disederhanakan, selektif dalam konfigurasi yang mudah dipakai sehingga memberi kemungkinan adanya pengambilan keputusan. Setelah data tersaji secara baik dan terorganisasi maka dilakukan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Miles dan Huberman, 2007:21-22).

Gambar 3.2 Components of Data Analysis: Interactive Model

(Miles dan Huberman, 2007:23)

a. Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini peneliti merekam dan mencatat semua data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan bentuk data yang ada di lapangan secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi, wawancara,

Data collection

Data Reduction

Data Display

Conclusion : Drawing/Verifving


(49)

dokumentasi, dan studi literatur. Adapun data yang diharapkan yakni; (1) persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap budaya Huyula kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa sekarang ini, (2) persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap transformasi nilai-nilai budaya Huyula sesuai kondisi yang terjadi saat ini dikaitkan dengan pembangunan karakter bangsa, (3) faktor-faktor penunjang dan tantangan dalam proses transformasi budaya nilai-nilai Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo, (4) dampak dari proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo, (5) kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berkompeten dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

b. Reduksi Data

Dalam penelitian ini aspek yang direduksi adalah data mengenai proses transformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo (studi kasus budaya Huyula) yang meliputi: (1) persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap budaya Huyula kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa sekarang ini, (2) persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap transformasi nilai-nilai budaya Huyula sesuai kondisi yang terjadi saat ini dikaitkan dengan pembangunan karakter bangsa, (3) faktor-faktor penunjang dan tantangan dalam proses transformasi budaya nilai-nilai Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo, (4) dampak dari proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo, (5) kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh


(50)

pihak-pihak yang berkompeten dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

c. Display Data

Setelah informasi dan data yang diperoleh dari lapangan direduksi, selanjutnya penulis melakukan display data, yakni menyajikan data secara singkat dan jelas. Hal ini dimaksudkan agar dapat melihat gambaran keseluruhan dari hasil penelitian atau bagian-bagian tertentu dari hasil penelitian tersebut. Adapun aspek data yang disajikan yakni; (1) persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap budaya Huyula kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa sekarang ini, (2) persepsi masyarakat Kota Gorontalo terhadap transformasi nilai-nilai budaya Huyula sesuai kondisi yang terjadi saat ini dikaitkan dengan pembangunan karakter bangsa, (3) faktor-faktor penunjang dan tantangan dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo, (4) dampak dari proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo, (5) kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berkompeten dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

d. Kesimpulan/Verifikasi

Sebagai langkah akhir dari proses pengolahan dan analisis data adalah penarikan kesimpulan yang dimaksudkan untuk mencari makna, arti, penjelasan terhadap data yang telah dianalisis dengan mencari hal-hal penting. Penyusunan


(51)

kesimpulan ini dilakukan secara singkat dan jelas agar memudahkan bagi berbagai pihak untuk memahaminya.

Dengan demikian secara umum proses pengolahan data dimulai dengan pencatatan data lapangan (data mentah), kemudian ditulis kembali dalam bentuk unifikasi dan kategorisasi data. Setelah data dirangkum, direduksi dan disesuaikan dengan masalah pokok penelitian, selanjutnya data analisis dan diperiksa keabsahannya melalui beberapa teknik sebagai berikut:

a) Data yang diperoleh disesuaikan dengan data pendukung lainnya untuk mengungkapkan permasalahan secara tepat.

b) Data yang terkumpul setelah dideskripsikan kemudian didiskusikan, dikritisi ataupun dibandingkan dengan pendapat orang lain.

c) Data yang diperoleh kemudian difokuskan pada substantif masalah pokok penelitian, kemudian disajikan dan disimpulkan.


(52)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dalam bagian ini akan dikemukakan kesimpulan dan rekomendasi penelitian yang dirumuskan dari deskripsi temuan penelitian dan pembahasan hasil-hasil penelitian dalam Bab IV.

A. Kesimpulan 1. Kesimpulan Umum

Berdasarkan temuan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, nampak bahwa budaya Huyula mengandung nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar dalam pembangunan karakter bangsa. Oleh karena itu, apabila proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula dapat dilaksanakan dengan baik, maka pembangunan karakter bangsa khususnya di Kota Gorontalo akan terwujud.

2. Kesimpulan Khusus

Merujuk pada hasil temuan dan pembahasan penelitian yang telah di uraikan pada bab IV, maka dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sesuai pertanyaan penelitian sebagai berikut:

a. Persepsi masyarakat terhadap Huyula yakni masyarakat Kota Gorontalo memahami budaya Huyula dan dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo.

b. Masyarakat mempersepsikan transformasi nilai-nilai budaya Huyula merupakan upaya yang dilakukan oleh pihak pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama dan budayawan untuk menjadikan nilai-nilai


(53)

budaya Huyula sebagai dasar dalam pembangunan karakter bangsa di Kota Gorontalo dan diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan yang konkrit di masyarakat.

c. Faktor penunjang dan tantangan dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula yaitu:

a). Faktor penunjang, yakni sosial kapital yang terdiri dari; (1) adanya Bantayo Poboide (rumah adat), (2) faktor agama. Adanya identitas sosial/jati diri terdiri dari; (1) suku Gorontalo, (2) Gorontalo daerah pertanian, dan (3) budaya Huyula.

b). Tantangan dalam proses transformasi budaya Huyula yakni; (1) pengaruh globalisasi; dan (2) kurangnya pemahaman pemerintah daerah terhadap budaya Huyula di Kota Gorontalo.

d. Dampak dari proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula di Kota Gorontalo sebagai upaya pembangunan karakter bangsa berdasarkan sejumlah temuan di lapangan, Huyula mengandung nilai-nilai luhur budaya bangsa yang sesuai dengan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Adapun dampak yang dapat diperoleh yakni:

(a) Melalui kegiatan Ambu masyarakat terbiasa bermusyawarah, bertanggung jawab, dan memahami budayanya dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup berbangsa dan bernegara. (b) Melalui kegiatan Hileiya masyarakat memiliki karakter yang peduli terhadap sesama manusia serta taat terhadap ajaran agama. (c) Melalui kegiatan Ti’ayo masyarakat dapat mengetahui,


(54)

melaksanakan, dan melestarikan budaya Huyula, serta menjadikan pekerjaan terasa ringan.

e. Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam proses transformasi nilai-nilai budaya Huyula sebagai upaya pembangunan karakter bangsa di kota Gorontalo sesuai temuan di lapangan yakni: (a) Kegiatan dalam bentuk Ambu yakni di Kecamatan Kota Timur dilaksanakan kegiatan Jum’at Bersih (membersihkan selokan air yang dilaksanakan oleh pemerintah kecamatan dan staf kantor camat serta masyarakat setiap hari jum’at), di Kecamatan Kota Selatan diaksanakan kegiatan pemilihan Putra Putri Terbaik Tingkat Kota Gorontalo (Pemilihan Nou dan Uti), dan Pemilihan Putra Putri Islam Berprestasi (PPIB). Di Kecamatan Kota Barat dilaksanakan kegiatan pembangunan kantor kelurahan melalui gotong royong masyarakat baik dalam bentuk pengadaan bahan bangunan maupun bergotong royong dalam membangun kantor kelurahan tersebut, serta seluruh Kecamatan di Kota Gorontalo melaksanakan gotong royong membersihkan Masjid-masjid guna memperingati hari-hari besar agama seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. (b) Kegiatan dalam bentuk Hileiya yakni hanya di Kecamatan Kota Timur dalam bentuk kegiatan membantu keluarga yang mengalami kedukaan dengan memberikan sejumlah uang melalui ibu-ibu PKK. (c) Kegiatan dalam bentuk Ti’ayo yakni di Kecamatan Kota Timur dan Kecamatan Kota Barat petani masih melaksanakan gotong royong di sawah (membersihkan, membajak, menanam, dan memanen padi), dan kegiatan ini dilaksanakan oleh


(1)

3. Kepada Sekolah terkait pembangunan karakter bangsa melalui transformasi nilai-nilai budaya Huyula maka diharapkan di setiap sekolah menjadi pusat pengembangan budaya (culture center) untuk menjadi kekuatan Gorontalo secara khusus, dan kekuatan Indonesia secara umum.

4. Kepada budayawan dan tokoh adat terkait transformasi nilai-nilai budaya

Huyula perlu ada inovasi dan kolaborasi budaya-budaya lain yang

disesuaikan dengan perkembangan zaman agar Huyula menjadi fleksibel. 5. Untuk peneliti, Huyula merupakan budaya Gorontalo yang memuat nilai-nilai

edukatif, kebersamaan, dan persatuan serta pedoman hidup yang dapat digunakan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa. Agar dilakukan penelitian sejenis di daerah-daerah sekitar Kota Gorontalo atau di kabupaten lain di Provinsi Gorontalo. Sehingga diperoleh data dan kesimpulan akurat tentang pendekatan budaya lokal yang efektif sebagai upaya pembangunan karakter bangsa.


(2)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, I. (2006). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Aunillah, I.N. (2011). Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Laksana.

Ayatrohaedi. (1986). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Pelajar.

Bogdan, R.C dan Biklen, S.K. (1992). Qualitative Reseach for Education: An

Intruduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon.

Branson, M. et al. (1999). Belajar “Civic Education” dari Amerika. Yogyakarta: LKIS.

Budimansyah, D dan Suryadi, K. (2008). PKn dan Masyarakat Multikultural. Bandung: Sekolah Pascasarjana Program Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.

Budimansyah, D. (2010). Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk

Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.

(2012). Dimensi-Dimensi Praktik Pendidikan Karakter. Bandung: WAP.

Bestari, P dan Syam, S. (2010). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

dalam Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Laboratorium PKn

Universitas Pendidikan Indonesia.

Burton, G. (2012). Media dan Budaya Populer. Yogyakarta: JALASUTRA. Cogan, J dan Derricot, R. (1998). Citizenship for the 21st Century: An

International Perspective on Education. London: Kogan page.

Creswell, W.J. (2010). Reseach Design Qualitative and Quantitative Approach. Penerjemah Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Daryanto. (1994). Kamus Bahasa Indonesia Modern. Surabaya: Apollo.

Daulima, F. (2004). Aspek-Aspek Budaya Masyarakat Gorontalo. Banthayo


(3)

Djahiri, K. (1984). Strategi Pengajaran Afektif-Nilai-Moral VCT dan Games

dalam VCT. Bandung: Laboratorium PMPKN IKIP Bandung.

Fraenkel, J.R. (1977). How to Teach about Values: An Analytic Approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Geertz, C. (1992). Tafsir Kebudayaan (Refleksi Budaya). KANISIUS: Yogyakarta.

Hakam, A.K. (2007). Bunga Rampai Pendidikan Nilai. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Harsojo. (1984). Pengantar Antropologi. Bandung: Binacipta.

Hermanto, I. (2010). Pintar Antropologi. Yogyakarta: Tunas Fublishing.

Jhonson, P.D. (1986). Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Jilid I). Jakarta: Gramedia.

Judistira, K.G. (2008). Budaya Sunda: Melintasi Waktu Menentang Masa Depan. Bandung: Lemlit UNPAD.

Kalidjernih, F. (2010). Kamus Studi Kewarganegaraan: Perspektif Sisiologikal

dan Politikal, Bandung: Widya Aksara Press.

Koentjaraningrat. (2009). Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. (2005). Pengantar Antropologi (Pokok-Pokok Etnografi).

Jakarta: Rineke Cipta.

(1985). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Kuntowijoyo. (2006). Budaya dan Masyarakat (Edisi Paripurna). Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lickona, T. (1992). Educating For Character How Our Schools Can Teach

Respect and Responsibility. New York-Toronto-London-Sydney-Auckland:

Bantam Books.

Lincoln, S.Y dan Denzin, K.N. (2009). Hanbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


(4)

Miles, M dan Huberman, A.M. (2007). Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Mohammad, F. et al. (2005). Menggagas Masa Depan Gorontalo.Yogyakarta:

HPMIG Press.

Moleong, L.J. (2006). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nasution, S. (2002). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. Nazir, M. (2011). Metode Penelitian. Jakarta: Gahlia Indonesia.

Niode, S.A dan Elnino. (2003). Abad Besar Gorontalo. Gorontalo: The Presnas Centre.

Niode, S.A. (2007). Gorontalo (Perubahan Nilai-Nilai Budaya dan Pranata

Sosial). Jakarta: Pustaka Indonesia Press.

Pemerintah Republik Indonesia. (2010). Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025.

Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Pusat Kurikulum (Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.

Pujileksono, S. (2009). Antropologi (Edisi Revisi). Malang: UMM Press.

Rosidi, A. (2011). Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Saebani, A.B. (2012). Pengantar Antropologi. Bandung: PUSTAKA SETIA. Samani, M dan Hariyanto. (2012). Konsep dan Model Pendidikan Karakter.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Samover, A. et al. (2010). Komunikasi Lintas Budaya (Comunication Between

Culturer). Jakarta: Salemba Humanika.

Satori, D dan Komariah, A. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.


(5)

Syam, F. (2009). Renungan BJ. Habibie Membangun Peradaban Indonesia. Jakarta: Gema Insani.

Syamsudin. et al. (1983). Sistem Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan

Daerah Sulawesi Utara. Jakarta: Proyek Investasi dan Dokumentasi

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wahab, A.A. (1996). Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik: Model

Pendidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warganegara Global:

Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap PPKN, IPS, IKIP. Bandung.

Wahab, A.A dan Sapriya. (2011). Teori dan Landasan Pendidikan

Kewarganegaraan, Bandung: Alfabeta.

Wulansari, D.C. (2009). Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung: Rafika Aditama.

Yayasan 23 Januari 1942. (1982). Perjuangan Rakyat di Daerah Gorontalo, Menentang

Kolonialisme dan Mempertahankan Negara Proklamasi. Jakarta: Gobel Dharma

Nusantara.

Yin, K.R. (1995). Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta: Rajawali Press.

Disertasi, Tesis, dan Jurnal

Eddy. (2009). “Kontinuitas Sejarah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional dalam Pembinaan Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. Jurnal IPS. “vol” 17,

(32), 1-6.

Ibrahim, R. (2003). Pola Ungala’a (Kekerabatan) dan Huyula (Gotong royong)

dalam Pertanian Masyarakat di Kecamatan Tolangohula Kabupaten Gorontalo. Tesis Magister pada SPS UNPAD Bandung: Sekolah

Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Lubis, B.Z. (2008). “Potensi Budaya dan Kearifan Lokal Sebagai Modal Dasar Membangun Jati Diri Bangsa”. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial. “vol” 9, (3), 339 -346.

Machfiroh, R. (2011). Revitalisasi Karakter Bangsa Melalui Pendidikan

Kewarganegaraan dengan Pengembangan Budaya lokal (Studi Kasus Budaya Macapat di Masyarakat Kota Surakarta Jawa Tengah).Tesis

Magister pada SPS UPI Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.


(6)

Sapriya. (2008). “Perspektif Pemikiran Pakar tentang Pendidikan Kewarganegaraan dalam Pembangunan Karakter Bangsa (Sebuah Kajian Konseptual-Filosofis dalam Pendidikan Kewarganegaraan dalam Konteks

Pendidikan IPS”. Jurnal Acta Civicus. “Vol” 1, ( 2).

Sartini. (2004). “Menggali Kearifan Lokal”. Jurnal Filsafat, Jilid 37, ( 2).

Zuriah, N. (2011). Model Pengembangan Pendidikan Kewarganegaran

Multikultural Berbasis Kearifan Lokal (Studi di Perguruan Tinggi Kota Malang). Ringkasan Disertasi Doktor Pada SPS UPI Bandung: Tidak

diterbitkan.

Internet

Lincoln, S.Y dan Guba, E.G. (1985). Naturalistic Inquiry. [Online]. Tersedia: http./www.sagepublication.com [12 Desember 2011]

Riyadi dan Bratakusumah. (2005). Pengertian Pembangunan. [Online]. Tersedia: http://ilearn.unand.ac.id/blog/index.php?entryid=57 [20 April 2012]

Siagiaan. (2001). Pengertian Pembangunan. [Online].

Tersedia:http://skaterfm.blogspot.com/2012/03/pengertian-pembangunan-untuk-bahan.html [20 April 2012]

Definisi Sosial Kapital Menurut Beberapa Ahli. [Online]. Tersedia:http//id.wikipedia.org/wiki/Kapital_Sosial [11 November 2012]

Teori-Teori Budaya (Perspektif Dampak Perubahan Budaya di Indonesia).

[Online]. Tersedia:http://walidrahmanto.blogspot.com/2011/06/teori-teori-budaya-perspektif-dampak.html [11 September 2012]