Yang dimaksud dengan bahan galian adalah

Yang dimaksud dengan bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri (industrial minerals)
atau bahan galian Golongan C dan batu bara (coal).
Pengolahan bahan galian (mineral benefciationnmineral processingnmineral dressing) adalah
suatu proses pengolahan dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat fsik bahan galian
untuk memperoleh produkta bahan galian yang bersangkutan. Khusus untuk batu bara, proses
pengolahan itu disebut pencucian batu bara (coal washing) atau preparasi batu bara (coal
preparation).
Pada saat ini umumnya endapan bahan galian yang ditemukan di alam sudah jarang yang
mempunyai mutu atau kadar mineral berharga yang tinggi dan siap untuk dilebur atau
dimanfaatkan. Oleh sebab itu bahan galian tersebut perlu menjalani pengolahan bahan galian
(PBG) agar mutu atau kadarnya dapat ditingkatkan sampai memenuhi kriteria pemasaran atau
peleburan. Keuntungan yang bisa diperoleh dari proses PBG tersebut antara lain adalah :
1.

Mengurangi ongkos angkut.
1.
2.
3.

Mengurangi ongkos peleburan.
Mengurangi kehilangan (losses) logam berharga pada saat peleburan.
Proses pemisahan (pengolahan) secara fsik jauh lebih sederhana dan
menguntungkan daripada proses pemisahan secara kimia.

Sedangkan metalurgi (metallurgy) adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk memperoleh
logam (metal) melalui proses fsika dan kimia serta mempelajari cara-cara memperbaiki sifatsifat fsik dan kimia logam murni maupun paduannya (alloy). Metalurgi ada dua macam atau
kelompok utama, yaitu :
1.

Metalurgi ekstraktif (extractive metallurgy).
1.

Metalurgi fsik dan ilmu bahan (physical metallurgy and material science).

Menurut Kirk-Othmer metalurgi ekstraktif adalah ilmu yang mempelajari cara-cara
pengambilan (ekstraksi) logam dari bijih (ore = naturally occuring compounds) dan proses
pemurniannya, sehingga sesuai dengan syarat-syarat komersial.
Metalurgi ekstraktif dibagi menjadi 3 (tiga) jalur, yaitu :
1.

Piro metalurgi (pyro metallurgy) yang dalam proses ekstraksinya menggunakan energi
panas yang tinggi (bisa sampai 2.000oC).

2.

Hidro metalurgi (hydro metallurgy) yang menggunakan larutan kimia atau reagen
organik untuk “menangkap” logamnya.
Elektro metalurgi (electro metallurgy) yang memanfaatkan teknik elektro-kimia (antar
lain elektrolisis) untuk memperoleh logamnya.

3.

Perbedaan utama antara PBG dengan ekstraktif metalurgi adalah :



Pada PBG : – bijih n mineral
- kadar logam rendah

à tetap mineral

à kadar logam tinggi

- sifat-sifat fsik dan kimiaà tak berubah



Pada ekstraktif metalurgi : – bijih n mineral
- sifat-sifat fsik dan kimiaà berubah

à jadi logam (metal)

2. PENGOLAHAN BAHAN GALIAN (PBG)
Tahap-tahap utama dalam proses PBG terdiri dari (lihat Lampiran A) :
2.1. KOMINUSI ATAU REDUKSI UKURAN (COMMINUTION)
Kominusi atau pengecilan ukuran merupakan tahap awal dalam proses PBG yang bertujuan
untuk :
1.

Membebaskan n meliberasi (to liberate) mineral berharga dari material pengotornya.

2.

Menghasilkan ukuran dan bentuk partikel yang sesuai dengan kebutuhan pada proses
berikutnya.
Memperluas permukaan partikel agar dapat mempercepat kontak dengan zat lain,
misalnya reagen fotasi.

3.

Kominusi ada 2 (dua) macam, yaitu :
1.

Peremukan n pemecahan (crushing)

2.

Penggerusan n penghalusan (grinding)

Disamping itu kominusi, baik peremukan maupun penggerusan, bisa terdiri dari beberapa
tahap, yaitu :
- Tahap pertama n primer (primary stage)
- Tahap kedua n sekunder (secondary stage)
- Tahap ketiga n tersier (tertiary stage)
- Kadang-kadang ada tahap keempat n kwarter (quaternary stage)
2.1.1. Peremukan / Pemecahan (Crushing)
Peremukan adalah proses reduksi ukuran dari bahan galian n bijih yang langsung dari tambang
(ROM = run of mine) dan berukuran besar-besar (diameter sekitar 100 cm) menjadi ukuran 2025 cm bahkan bisa sampai ukuran 2,5 cm.
Peralatan yang dipakai antara lain adalah :
1.

Jaw crusher

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Gyratory crusher
Cone crusher
Roll crusher
Impact crusher
Rotary breaker
Hammer mill

2.1.2. Penggerusan / Penghalusan (Grinding)
Penggerusan adalah proses lanjutan pengecilan ukuran dari yang sudah berukuran 2,5 cm
menjadi ukuran yang lebih halus. Pada proses penggerusan dibutuhkan media penggerusan
yang antara lain terdiri dari :
1.

Bola-bola baja atau keramik (steel or ceramic balls).
1.

Batang-batang baja (steel rods).

2.
3.

Campuran bola-bola baja dan bahan galian atau bijihnya sendiri yang
disebutsemi autagenous mill (SAG).
Tanpa media penggerus, hanya bahan galian atau bijihnya yang saling
menggerus dan disebut autogenous mill.

Peralatan penggerusan yang dipergunakan adalah :
1.

Ball mill dengan media penggerus berupa bola-bola baja atau keramik.
1.
2.
3.

Rod mill dengan media penggerus berupa batang-batang baja.
Semi autogenous mill (SAG) bila media penggerusnya sebagian adalah bahan
galian atau bijihnya sendiri.
Autogenous mill bila media penggerusnya adalah bahan galian atau bijihnya
sendiri.

2.2. PEMISAHAN BERDASARKAN UKURAN (SIZING)
Setelah bahan galian atau bijih diremuk dan digerus, maka akan diperoleh bermacam-macam
ukuran partikel. Oleh sebab itu harus dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran partikel agar
sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan pada proses pengolahan yang berikutnya.
2.2.1. Pengayakan / Penyaringan (Screening / Sieving)
Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan
perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala industri, sedangkan
penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.
Produk dari proses pengayakannpenyaringan ada 2 (dua), yaitu :
-

Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).

-

Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize).

Saringan (sieve) yang sering dipakai di laboratorium adalah :
1.

Hand sieve

2.
3.
4.

Vibrating sieve series n Tyler vibrating sive
Sieve shaker n rotap
Wet and dry sieving

Sedangkan ayakan (screen) yang berskala industri antara lain :
1.

Stationary grizzly

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Roll grizzly
Sieve bend
Revolving screen
Vibrating screen (single deck, double deck, triple deck, etc.)
Shaking screen
Rotary shifter

2.2.2. Klasifkasi (Classifcaaion)
Klasifkasi adalah proses pemisahan partikel berdasarkan kecepatan pengendapannya dalam
suatu media (udara atau air). Klasifkasi dilakukan dalam suatu alat yang disebutclassifier.
Produk dari proses klasifkasi ada 2 (dua), yaitu :

-

Produk yang berukuran kecilnhalus (slimes) mengalir di bagian atas disebutoverflow.

Produk yang berukuran lebih besarnkasar (sand) mengendap di bagian bawah (dasar)
disebut underflow.
Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam tiga cara (concept), yaitu :
1.

Partition concept

2.
3.

Tapping concept
Rein concept

Hal ini dapat berlangsung apabila sejumlah partikel dengan bermacam-macam ukuran jatuh
bebas di dalam suatu media atau fuida (udara atau air), maka setiap partikel akan menerima
gaya berat dan gaya gesek dari media. Pada saat kecepatan gerak partikel menjadi rendah
(tenangnlaminer), ukuran partikel yang besar-besar mengendap lebih dahulu, kemudian diikuti
oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil, sedang yang terhalus (antara lain slimes) akan tidak
sempat mengendap.
Peralatan yang umum dipakai dalam proses klasifkasi adalah :
1.

Scrubber

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Log washer
Sloping tank classifier (rake, spiral & drag)
Hydraulic bowl classifier
Hydraulic clindrical tank classifier
Hydraulic cone classifier
Counter current classifier
Pocket classifier
Hydrocyclone
Air separator
Solid bowl centrifuge
Elutriator

2.3. PENINGKATAN KADAR ATAU KONSENTRASI (CONCENTRATION)
Agar bahan galian yang mutu atau kadarnya rendah (marginal) dapat diolah lebih lanjut, yaitu
diambil (di-ekstrak) logamnya, maka kadar bahan galian itu harus ditingkatkan dengan proses
konsentrasi. Sifat-sifat fsik mineral yang dapat dimanfaatkan dalam proses konsentrasi adalah
:
-

Perbedaan berat jenis atau kerapatan untuk proses konsentrasi gravitasi dan media berat.

-

Perbedaan sifat kelistrikan untuk proses konsentrasi elektrostatik.

-

Perbedaan sifat kemagnetan untuk proses konsentrasi magnetik.

-

Perbedaan sifat permukaan partikel untuk proses fotasi.

Proses peningkatan kadar itu ada bermacam-macam, antara lain :
2.3.1. Pemilahan (Soraing)
Bila ukuran bongkahnya cukup besar, maka pemisahan dilakukan dengan tangan (manual),
artinya yang terlihat bukan mineral berharga dipisahkan untuk dibuang.
2.3.2. Konsenarasi Graviaasi (Graviay Concenaraaion)

Yaitu pemisahan mineral berdasarkan perbedaan berat jenis dalam suatu media fuida, jadi
sebenarnya juga memanfaatkan perbedaan kecepatan pengendapan mineral-mineral yang
ada.
Ada 3 (tiga) cara pemisahan secara gravitasi bila dilihat dari segi gerakan fuidanya, yaitu :
Fluida tenang,
separation (HMS).

contoh dense

medium

separation (DMS)

atau heavy

-

Aliran fuida horisontal, contoh sluice box, shaking table dan spiral concentration.

-

Aliran fuida vertikal, contoh jengkek (jig).

medium

Bila jumlah partikel (mineral) di dalam fuida relatif sedikit, maka akan terjadi pengendapan
bebas (free settling). Tetapi bila jumlah partikel banyak gerakannya akan terhambat sehingga
terbentuk stratifkasi yang terdiri dari 3 (tiga) tahap sebagai berikut :
1.
2.

Hindered settling classification ; klasifkasi pengendapannya terhalang.
Differential acceleration pada awal pengendapan ; artinya partikel yang berat
mengendap lebih dahulu.
1.
Consolidation trickling pada akhir pengendapan ; partikel-partikel kecil
berusaha mengatur diri di antara partikel-partikel besar sesuai dengan berat jenisnya.

Produk dari proses konsentrasi gravitasi ada 3 (tiga), yaitu :
-

Konsentrat (concentrate) yang terdiri dari kumpulan mineral berharga dengan kadar tinggi.

-

Amang (middling) yaitu konsentrat yang masih kotor.

-

Ampas (tailing) yang terdiri dari mineral-mineral pengotor yang harus dibuang.

Peralatan konsentrasi gravitasi yang banyak dipakai adalah :
1.

Jengkek (jig) dengan bermacam-macam rekacipta (design).

2.
3.
4.

Meja goyang (shaking table).
Konsentrator spiral (Humprey spiral concentrator).
Palong n sakan (sluice box).

2.3.3. Konsenarasi dengan Media Beraa (Dense/Heavy Medium Separaaion)
Merupakan proses konsentrasi yang bertujuan untuk memisahkan mineral-mineral berharga
yang lebih berat dari pengotornya yang terdiri dari mineral-mineral ringan dengan
menggunakan medium pemisah yang berat jenisnya lebih besar dari air (berat jenisnya > 1).
Produk dari proses konsentrasi ini adalah :
-

Endapan (sink) yang terdiri dari mineral-mineral berharga yang berat.

-

Apungan (foat) yang terdiri dari mineral-mineral pengotor yang ringan.

Media pemisah yang pernah dipakai antara lain :
-

Air + magnetit halus dengan kerapatan 1,25 – 2,20 tonnm3.

-

Air + ferrosilikon dengan kerapatan 2,90 – 3,40 tonnm3.

-

Air + magnetit + ferrosilikon dengan kerapatan 2,20 – 2,90.

Larutan berat seperti tetra bromo ethana (b.j. = 2,96), bromoform (b.j. = 2,85) dan
methylene jodida (b.j. = 3,32). Tetapi larutan berat ini harganya mahal, oleh sebab itu hanya
dipakai untuk percobaan-percobaan di laboratorium.
Peralatan yang biasa dipakai adalah gravity
berdasarkan bentuknya ada 2 (dua) macam, yaitu :

dense/heavy

1.

Drum separator karena bentuknya silindris.

2.

Cone separator karena bentuknya seperti corongan.

medium

separators yang

2.3.4. Konsenarasi Elekarosaaaik (Elecarosaaaic Concenaraaion)
Merupakan proses konsentrasi dengan memanfaatkan perbedaan sifat konduktor (mudah
menghantarkan arus listrik) dan non-konduktor (nir konduktor) dari mineral.
Kendala proses konsentrasi ini adalah :
-

Hanya sesuai untuk proses konsentrasi dengan jumlah umpan yang tidak terlalu besar.

-

Karena prosesnya harus kering, maka timbul masalah dengan debu yang berterbangan.

Mineral-mineral yang bersifat konduktor antara lain adalah :
-

Magnetit (Fe3 O4)

-

Kasiterit (Sn O2)

-

Ilmenit (Fe Ti O3)

-

Molibdenit (Mo S2)

-

Wolframit [(Fe, M) WO4]

-

Galena (Pb S)

-

Pirit (Fe S2)

Produk dari proses konsentrasi ini adalah :
-

Mineral-mineral konduktor sebagai konsentrat.

-

Mineral-mineral non-konduktor sebagai ampas (tailing).

Peralatan yang biasa dipakai adalah :
1.

Electrodynamic separator (high tension separator).

2.

Electrostatic separator yang terdiri dari :

- plate electrostatic separator
- screen electrostatic separator
2.3.5. Konsenarasi Magneaik (Magneaic Concenaraaion)

Adalah proses konsentrasi yang memanfaatkan perbedaan sifat kemagnetan (magnetic
susceptibility) yang dimiliki mineral. Sifat kemagnetan bahan galian ada 3 (tiga) macam,
yaitu :
- Ferromagnetic, yaitu bahan galian (mineral) yang sangat kuat untuk ditarik oleh medan
magnet. Misalnya magnetit (Fe3 O4).
- Paramagnetic, yaitu bahan galian yang dapat tertarik oleh medan magnet. Contohnya
hematit (Fe2 O3), ilmenit (Se Ti O3) dan pyrhotit (Fe S).
- Diamagnetic, yaitu bahan galian yang tak tertarik oleh medan magnet. Misalnya : kwarsa
(Si O2) dan feldspar [(Na, K, Al) Si3 O8].
Jadi produk dari proses konsentrasi yang berlangsung basah ini adalah :
-

Mineral-mineral magnetik sebagai konsentrat.

-

Mineral-mineral non-magnetik sebagai ampas (tailing).

Peralatan yang dipakai disebut magnetic separator yang terdiri dari :
1.

Induced roll dry magnetic separator.

2.

Wet drum low intensity magnetic separator yang arah aliran dapat :

- concurrent
- countercurrent
- counter rotation
Sedang letak magnetnya bisa :
-

Suspended magnets

-

Suspended magnets with continuous removal

-

Cobbing drum

2.3.6. Konsenarasi Secara Floaasi (Floaaaion Concenaraaion)
Merupakan proses konsentrasi berdasarkan sifat “senang terhadap udara” atau “takut
terhadap air” (hydrophobic). Pada umumnya mineral-mineral oksida dan sulfda akan
tenggelam bila dicelupkan ke dalam air, karena permukaan mineral-mineral itu bersifat “suka
akan air” (hydrophilic). Tetapi beberapa mineral sulfda, antara lain kalkopirit (Cu Fe S 2),
galena (Pb S), dan sfalerit (Zn S) mudah diubah sifat permukaannya dari suka air menjadi suka
udara dengan menambahkan reagen yang terdiri dari senyawa hidrokarbon. Sejumlah reagen
kimia yang sering digunakan dalam proses fotasi adalah :
1.

Pembuih (frother) yang berfungsi sebagai pen-stabil gelembung-gelembung udara.
Misalnya : methyl isobuthyl carbinol (MIBC), minyak pinus, dan terpentin.

2.

Kolektor n pengumpul (collector) yang bisa mengubah sifat permukaan mineral yang
semula suka air menjadi suka udara. Contohnya : xanthate, thiocarbonilid, asam oleik, dll.
Penekan n pencegah (depresant) yang berguna untuk mencegah agar mineral pengotor
tidak ikut menempel pada udara dan ikut terapung. Misalnya : Zn SO 4untuk menekan Zn
S.
Pengatur keasaman (pH regulator) yang berfungsi untuk mengatur tingkat keasaman
proses fotasi. Misalnya : HCl, HNO3, Ca (OH)3, NH4 OH, dll.

3.
4.

Produk fotasi ada 3 (tiga) macam, yaitu :
- Konsentrat (concentrate) yang berupa mineral-mineral yang ikut terapung (mineral-mineral
apungan) dengan gelembung-gelembung udara.
Amang (middling) yang merupakan mineral-mineral apungan yang masih mengandung
banyak mineral-mineral pengotor.
-

Ampas (tailing) yang tenggelam terdiri dari mineral-mineral pengotor.

Peralatan yang biasa dipakai adalah :
1.

Mechanical flotation yang terdiri dari berbagai variasi antara lain :

- Agitair cell
- Denver cell
- Krupp cell
- Outokumpu cell
- Wemco-Fagregren cell
1.

Pneumatic flotation yang terdiri dari variasi :

- Column cell
- Cyclo cell
- Davcra cell
- Flotaire cell
2.4. PENGURANGAN KADAR AIR / PENGAWA-AIRAN (DEWATERING)
Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi kandungan air yang ada pada konsentrat yang
diperoleh dengan proses basah, misalnya proses konsentrasi gravitasi dan fotasi.
Cara-cara pengawa-airan ini ada 3 (tiga), yaitu :
2.4.1. Cara Pengenaalan / Pemekaaan (Thickening)
Konsentrat yang berupa lumpur dimasukkan ke dalam bejana bulat. Bagian yang pekat
mengendap ke bawah disebut underflow, sedangkan bagian yang encer atau airnya mengalir
di bagian atas disebut overflow. Kedua produk itu dikeluarkan secara terus menerus
(continuous).
Peralatan yang biasa dipakai adalah :
1.

Rake thickener.

2.
3.

Deep cone thickener.
Free flow thickener.

2.4.2. Cara Penapisan / Pengawa-airan (Filaraaion)

Dengan cara pengentalan kadar airnya masih cukup tinggi, maka bagian yang pekat dari
pengentalan dimasukkan ke penapis yang disertai dengan pengisapan, sehingga jumlah air
yang terisap akan banyak. Dengan demikian akan dapat dipisahkan padatan dari airnya.
Peralatan yang dipakai adalah :
1.

Vacuum (suction) filters yang terdiri dari :

-

intermitten, misalnya Moore leaf filter.

-

Continuous ada beberapa tipe, yaitu :

* bentuk silindris n tromol (drum type), misalnya : Oliver flter, Dorrco flter.
* bentuk cakram (disk type) berputar, contohnya : American flter.
* bentuk lembaran berputar (revolving leaf type), contohnya : Oliver flter.
* bentuk meja (desk type), misalnya : Caldecott sand table flter.
1.

Pressure filter, misalnya :

-

Merrill plate and frame filter

-

Kelly pressure filter

-

Burt revolving filter

2.4.3. Pengeringan (Drying)
Yaitu proses untuk membuang seluruh kandung air dari padatan yang berasal dari konsentrat
dengan cara penguapan (evaporizationnevaporation).
Peralatan atau cara yang dipakai ada bermacam-macam, yaitu :
1.
2.

Hearth type drying/air dried/air baked, yaitu pengeringan yang dilakukan di atas lantai
oleh sinar matahari dan harus sering diaduk (dibolak-balik).
Shaft drier, ada dua macam, yaitu :

- tower drier, material (mineral) yang basah dijatuhkan di dalam saluran silindris vertikal
yang dialiri udara panas (80o – 100o).
- rotary drier, material yang basah dialirkan ke dalam silinder panjang yang diputar pada
posisi agak miring dan dialiri udara panas yang berlawanan arah.
1.

Film type drier (atmospheric drum drier) ; silinder baja yang di dalamnya dialiri uap air
(steam). Jarang dipakai.

2.

Spray drier, material halus yang basah dan disemburkan ke dalam ruangan panas ;
material yang kering akan terkumpul di bagian bawah ruangan. Cara ini juga jarang
dipakai.

2.5. PENANGANAN MATERIAL (MATERIAL HANDLING)
Bahan galian (mineralnbijih) yang mengalami PBG harus ditangani dengan cepat dan seksama,
baik yang berupa konsentrat basah dan kering maupun yang berbentuk ampas (tailing).

2.5.1. Penanganan Maaerial Padaa Kering (Dry Solid Handling)
Bila masih berupa bahan galian hasil penambangan (ROM), maka harus ditumpuk di tempat
yang sudah ditentukan yang di sekelilingnya telah dilengkapi dengan saluran penyaliran
(drainage system). Tetapi jika sudah berupa konsentrat, maka harus disimpan di dalam
gudang yang tertutup sebelum sempat diproses lebih lanjut.
2.5.2. Penanganan Lumpur (Slurry Handling)
Bila lumpur itu sudah mengandung mineral berharga yang kadarnya tinggi, maka dapat segera
dimasukkan ke pemekat (thickener) atau penapis (flter). Jika masih agak kotor (middling),
maka harus diproses dengan alat khusus yang sesuai.
2.5.3. Penanganan / Pembuangan Ampas (Tailing Disposal)
Kegiatan ini yang paling sulit penanganannya karena :
1.

Jumlahnya (volumenya) sangat banyak, antara 70% – 90% dari material yang
ditambang.

2.
3.

Kadang-kadang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B-3).
Sulit mencarikan lahan yang cocok untuk menimbun ampas bila metode penambangan
timbun-balik (back fll mining method) tak dapat segera dilakukan, sehingga kadangkadang harus dibuatkan kolam pengendap. Oleh sebab itu pembuangan ampas ini
seringkali menjadi komponen kegiatan penambangan yang meminta pemikiran khusus
sepanjang umur tambang.

3. METALURGI EKSTRAKTIF (EXTRACTIVE METALLURGY) DAN PEMURNIAN (REFINING)
Tahapan proses (process aims) pada metalurgi ekstraktif (lihat Lampiran B, C dan D) adalah :
1.

Pemisahan (separation), yaitu pembuangan unsur, campuran (compounds) atau
material yang tidak diinginkan dari bijih (sumber metal = source of metal).

2.

Pembentukan campuran (compound foramtion), yaitu cara memproduksi material yang
secara struktur dan sifat-sifat kimianya berbeda dari bijihnya (sumbernya).
Pengambilannproduksi metal (metal production), yaitu cara-cara memperoleh metal
yang belum murni.

3.

1.

Pemurnian metal (metal purifcation), yaitu pembersihan, metal yang belum murni
(membuang unsur-unsur pengotor dari metal yang belum murni), sehingga diperoleh
metal murni.

Metalurgi ekstraktif terdiri dari :
1.

Pirometalurgi (pyrometallurgy), menggunakan energi panas sampai 2.000o C.

2.
3.

Hidrometalurgi (hydrometallurgy), menggunakan larutan dan reagen organik.
Elektrometalurgi (electrometallurgy), memanfaatkan teknik elektro-kimia.

3.1. PIROMETALURGI (PYROMETALLURGY)
Suatu proses ekstraksi metal dengan memakai energi panas. Suhu yang dicapai ada yang
hanya 50o – 250o C (proses Mond untuk pemurnian nikel), tetapi ada yang mencapai 2.000 o C
(proses pembuatan paduan baja).
Yang umum dipakai hanya berkisar 500 o – 1.600o C ;
pada suhu tersebut kebanyakan metal atau paduan metal sudah dalam fase cair bahkan
kadang-kadang dalam fase gas.

Umpan yang baik adalah konsentrat dengan kadar metal yang tinggi agar dapat mengurangi
pemakaian energi panas. Penghematan energi panas dapat juga dilakukan dengan memilih
dan memanfaatkan reaksi kimia eksotermik (exothermic).
Sumber energi panas dapat berasal dari :
1.
2.
3.
4.

Energi kimia (chemical energy = reaksi kimia eksotermik).
Bahan bakar (hydrocarbon fuels) : kokas, gas dan minyak bumi.
Energi listrik.
Energi terselubungntersembunyi (conserved energy = sensible heat), panas buangan
dipakai untuk pemanasan awal (preheating process).

Peralatan yang umumnya dipakai adalah :
1.

Tanur tiup (blast furnace).

2.

Reverberatory furnace.

Sedangkan untuk pemurniannya dipakai :
1.

Pierce-Smith converter.

2.
3.
4.
5.

Bessemer converter.
Kaldo cenverter.
Linz-Donawitz (L-D) converter.
Open hearth furnace.

3.2. HIDROMETALURGI (HYDROMETALLURGY)
Yaitu proses ekstraksi metal dengan larutan reagen encer (< 1 gramol) dan pada suhu <
100o C. Reaksi kimia yang dipilih biasanya yang sangat selektif;
artinya hanya metal yang diinginkan saja yang akan bereaksi (larut) dan kemudian dipisahkan
dari material yang tak diinginkan.
Kondisi yang baik untuk hidrometalurgi adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Metal yang diinginkan harus mudah larut dalam reagen yang murah.
Metal yang larut tersebut harus dapat “diambil” dari larutannya dengan mudah dan
murah.
Unsur atau metal lain yang ikut larut harus mudah dipisahkan pada proses berikutnya.
Mineral-mineral pengganggu (gangue minerals) jangan terlalu banyak menyerap
(bereaksi) dengan zat pelarut yang dipakai.
Zat pelarutnya harus dapat “diperoleh kembali” untuk didaur ulang.
Zat yang diumpankan (yang dilarutkan) jangan banyak mengandung lempung (clay
minerals), karena akan sulit memisahkannya.
Zat yang diumpankan harus porous atau punya permukaan kontak yang luas agar
mudah (cepat) bereaksi pada suhu rendah.
Zat pelarutnya sebaiknya tidak korosif dan tidak beracun (non-corrosive and nontoxic), jadi tidak membahayakan alat dan operator.

Peralatan yang dipergunakan adalah :
1.

Electrolysis n electrolytic cell.

2.

Bejana pelindian (leaching box).

3.3. ELEKTROMETALURGI (ELECTROMETALLURGY)
Suatu proses ekstraksi logam yang memakai teknik elektro-kimia, misalnya : baterai dan
elektrolisa (electrolysis = electrorefning). Pada proses ini kecuali diperlukan arus listrik
sebagai sumber energi juga diperlukan elektroda (electrodes) dan cairan elektrolit
(electrolyte).
Elektroda harus memiliki sifat-sifat :
1.
2.
3.

Konduktor listrik yang baik.
Potensial yang terbentuk di sekitar elektroda harus rendah.
Tidak mudah bereaksi dengan metal yang lain dan tidak membentuk campuran yang
dapat mengganggu proses elektrolisa.

Bila elektroda itu padat, ada syarat tambahan agar proses elektrolisa berlangsung
memuaskan, yaitu harus :
1.

Mudah diperoleh atau disiapkan dengan murah.

2.
3.
4.

Tahan korosi dalam zat larut.
Stabil, kuat dan tidak mudah terkikis (resistance to abrasion).
Harus murah harganya.

Elektrolit harus memiliki sifat-sifat :
1.

Memiliki daya hantar ion yang tinggi.

2.
3.

Tidak mudah terurai atau bereaksi (high chemical stability).
Memiliki daya larut yang tinggi bagi metal yang diinginkan.

Peralatan yang biasa dipakai electric arc furnace.


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1855 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 486 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 431 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 258 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 380 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 569 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 501 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 319 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 491 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 582 23