BAB 1 PENDAHULUAN - Hubungan Paparan Partikel Debu dan Karakteristik Individu dengan Kapasitas Paru pada Pekerja di Gudang Pelabuhan Belawan

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Pada saat sekarang ini pencemaran udara telah menjadi masalah kesehatan lingkungan yang utama di dunia, khususnya di Negara-negara berkembang, baik pencemaran udara di dalam ruangan maupun pencemaran udara ambien di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan (WHO, 1997). Di banyak kota terutama yang urbanisasinya tumbuh pesat di negara-negara sedang berkembang, pencemaran telah merusak sistem pernapasan manusia terutama para perokok dan mereka yang menderita penyakit-penyakit kronis saluran pernapasan. Salah satu aktivitas yang menyebabkan pencemaran udara yaitu debu di udara yang dihasilkan dari aktifitas bongkar muat barang yang terjadi di gudang Pelabuhan Belawan.

  Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta berbagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi . Pelabuhan sekaligus juga bisa menjadi pintu gerbang terjadinya suatu penyebaran penyakit.

  1 Pelabuhan Belawan memiliki area kerja sekitar 12.072,33 hektar yang terdiri dari Pelabuhan Pangkalan Belawan Lama, Pangkalan Ujung Baru, Pangkalan Citra, Terminal Peti Kemas Konvensional Gabion dan terminal Penumpang di Pangkalan Ujung Baru. Pelabuhan ini memiliki lima dermaga. Pelabuhan Belawan merupakan salah satu dari empat pelabuhan terbesar di Indonesia yang beroperasi selama 24 jam penuh yang siap untuk tempat kapal bersandar. Di samping waktu operasionalnya yang seharian penuh, juga dilengkapi dengan fasilitas bongkar muat barang atau penyimpanan barang seperti gudang. Perpindahan barang dilakukan dengan tenaga mesin maupun dengan tenaga manusia.

  Pencemaran udara dan ancaman penyakit merupakan suatu dampak negatif dari aktifitas-aktifitas yang terjadi pada suatu pelabuhan yang dapat menimbulkan kerugian besar baik pada sektor ekonomi, perdagangan dan sosial budaya yang bisa berdampak besar kepada suatu daerah atau Negara.

  Masalah kesehatan adalah masalah yang sangat kompleks yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain diluar kesehatan itu sendiri (Notoatmodjo, 2007). Kesehatan masyarakat di lingkungan pelabuhan dapat terganggu melalui berbagai sumber, salah satu sumber yang cukup signifikan adalah pencemaran udara oleh debu yang berasal dari proses pembongkaran, penyimpanan, penyusunan, dan pengangkutan barang-barang yang masuk ataupun keluar dari gudang pelabuhan yang berasal dari barang-barang seperti tepung , jagung, beras, pasir untuk bahan baku keramik, bahan baku untuk pupuk, bahan baku untuk pembuatan pakan ternak, besi tua dan juga debu dari jalan raya yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan saluran pernapasan atau gangguan kapasitas paru para pekerja di Pelabuhan Belawan khususnya pekerja di gudang Pelabuhan Belawan, ditambah dengan sanitasi gudang yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti ventilasi yang tidak cukup dan juga prilaku para pekerja yang tidak menerapkan hidup bersih dan sehat yaitu merokok serta tidak menggunakan alat pelindung diri (masker) ketika sedang bekerja.

  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada Bab XII mengenai kesehatan kerja pasal 164 menyatakan bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan meliputi pekerja-pekerja pada sektor formal dan nonformal. Untuk melindungi para pekerja tersebut pemerintah membuat nilai ambang batas untuk debu total sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per/13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di Udara lingkungan Kerja

  3 untuk konsentrasi kadar debu total adalah sebesar 3 mg/m .

  Pencemaran udara oleh debu tersebut dapat merusak sistem pernapasan akibat orang yang terpapar debu tersebut pada konsentrasi maupun ukuran partikel debu yang berbeda-beda. Efek utama terhadap orang-orang yang terpapar debu yang bekerja di gudang pelabuhan tersebut berupa gangguan kapasitas paru baik yang bersifat akut maupun kronis. Penumpukan dan pergerakan debu pada saluran nafas dapat menyebabkan peradangan jalan nafas. peradangan ini dapat menyebabkan penyumbatan jalan nafas sehingga dapat menurunkan kapasitas paru. Dampak paparan debu yang terus menerus dapat menurunkan faal paru yang menyebabkan kelainan dan kerusakan paru (Mukono, 2008). Salah satu bentuk kelainan paru yang bersifat menetap ialah berkurangnya elastisitas paru yang ditandai dengan penurunan pada kapasitas paru.

  Data dari Inggris British, Columbia dan Kanada menyebutkan bahwa 26-52% pekerja mengalami penyakit paru akibat kerja. Di Amerika Serikat terdapat 400.000 - 3 juta pekerja menderita akibat penyakit paru. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pope (2003) yang menyjmpulkan bahwa paparan partikel debu secara kronis mempunyai hubungan dengan menurunnya fungsi paru. Schwartz (1993) dalam penelitiannya juga mengatakan bahwa jika terpapar debu total selama 11 tahun akan mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi paru. Di Indonesia penyakit gangguan paru yang diakibatkan paparan debu diperkirakan cukup banyak, meskipun data-data yang ada masih sangat kurang.

  Pengukuran kadar debu total udara ambien di gudang Pelabuhan Belawan yang dilaksanakan oleh petugas Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan di gudang Pelabuhan Belawan hasilnya masih di atas Nilai Ambang Batas yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per/13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di Udara Lingkungan Kerja kadar debu total

  3

  adalah sebesar 3 mg/m . Data yang di dapat dari hasil pengukuran kadar debu total di

  3

  3

  gudang 201 sebesar 13 mg/m , gudang 202 sebesar 10 mg/m dan gudang 203 sebesar

  3 11 mg/m .

  Data penyakit saluran pernapasan yang didapat dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan yang diambil dari beberapa sarana kesehatan seperti Klinik, praktek Dokter dan Puskesmas yang ada di sekitar Pelabuhan Belawan sepanjang tahun 2012 menunjukkan bahwa penyakit saluran pernafasan merupakan penyakit nomor satu tertinggi di sekitar Pelabuhan Belawan. Data penyakit saluran pernapasan yaitu pada bulan Januari 2537 kasus, Pebruari 3028 kasus, Maret 2407 kasus, April 2267 kasus, Mei 2023 Kasus, Juni 1629 kasus, Juli 1344 kasus, Agustus 2152 kasus, September 1824 kasus, Oktober 1715 kasus, Nopember 1200 kasus dan Desember sebanyak 1468 kasus.

  Tingginya kasus penyakit saluran pernapasan tersebut disebabkan beberapa faktor yang salah satunya adalah akibat paparan partikel debu dari aktivitas bongkar muat barang-barang yang datang/masuk maupun yang akan dikirim/keluar dari dan ke Pelabuhan Belawan.

  Hal ini disebabkan karena para pekerja di gudang Pelabuhan Belawan tersebut secara terus menerus kontak dengan paparan partikel debu di tempat kerjanya selama 8 jam sehari atau 40 jam dalam satu minggu. Selain paparan partikel debu yang tinggi di lingkungan kerja juga dipengaruhi oleh karakteristik individu dari para pekerja itu sendiri seperti masa kerja, umur, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, penggunaan masker dan sanitasi gudang yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti ventilasi yang tidak cukup yang juga dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit gangguan saluran pernapasan dan gangguan kapasitas paru.

  Berdasarkan permasalahan yang di uraikan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di gudang Pelabuhan Belawan tentang ”Hubungan paparan partikel debu dan karakteristik individu dengan kapasitas paru pada pekerja di gudang Pelabuhan Belawan ”.

  1.2. Permasalahan

  Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah masih tingginya hasil pemeriksaan angka kadar debu di udara ambien di gudang 201, 202 dan gudang 203 yang melebihi Nilai Ambang Batas yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per/13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di Udara Lingkungan Kerja di gudang Pelabuhan Belawan dan tingginya angka kasus penyakit saluran pernapasan yang ada terdapat di beberapa sarana pelayanan kesehatan di sekitar Pelabuhan Belawan.

  1.3. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan partikel debu dan karakteristik individu dengan gangguan kapasitas paru pada pekerja di gudang Pelabuhan Belawan.

  1.4. Hipotesis

  Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara paparan partikel debu dan karakteristik individu (masa kerja, umur, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok dan penggunaan masker) serta ventilasi, suhu dan kelembaban udara dengan gangguan kapasitas paru pada pekerja di gudang Pelabuhan Belawan.

  1.5. Manfaat Penelitian a.

  Memberikan informasi tentang efek paparan partikel debu terhadap gangguan kapasitas paru kepada para pekerja dan instansi terkait seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan, Syahbandar Pelabuhan Belawan dan Asosiasi pekerja yang ada di Pelabuhan Belawan.

  b.

  Sebagai informasi kepada instansi terkait seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan, Syahbandar Pelabuhan Belawan dan Asosiasi pekerja di Pelabuhan Belawan dalam menentukan program dan kebijakan untuk mencegah risiko penyakit akibat pencemaran udara oleh debu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan para pekerja.

  c.

  Pengendalian dini terhadap pencemaran udara oleh debu untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan para pekerja di gudang Pelabuhan Belawan.

  d.

  Menambah wawasan penulis dalam aplikasi keilmuan.

Dokumen yang terkait

Hubungan Paparan Partikel Debu dan Karakteristik Individu dengan Kapasitas Paru pada Pekerja di Gudang Pelabuhan Belawan

3 73 146

Pengaruh Karakteristik Pekerja dan Paparan Debu serta Kondisi Fisik Lingkungan Kerja terhadap Kapasitas Vital Paru Pekerja di PTP Nusantara III (Persero) PKS Rambutan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013

7 67 168

Pengaruh Karakteristik Pekerja dan Konsentrasi Debu terhadap Gangguan Faal Paru pada Pekerja Industri Pakan Ternak Medan Tahun 2010

1 34 83

Pengaruh Keadaan Lingkungan Kerja, Karakteristik Pekerja dan Kadar Debu Kayu (PM10) terhadap Kapasitas Vital Paru Pekerja Industri Kecil Meubel Di Kota Banda Aceh Tahun 2010

11 81 120

Hubungan Kadar Debu Dan Karakteristik Pekerja Dengan Gangguan Paru Pekerja Pada Unit Produksi Tablet Industri Farmasi X Tahun 2002

0 22 89

Analisis Perbedaan Gangguan Faal Paru Pada Pekerja Bagian Produksi Dengan Bagian Administrasi Akibat Paparan Debu Asap Di Pabrik Gula Malang

0 13 23

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kapasitas Vital Paru pada Pekerja Bengkel Las di Kelurahan Cirendeu, Tahun 2014

3 31 145

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Hubungan Paparan Kebisingan dan Karakteristik Operator SPBU terhadap Tekanan Darah di Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2015

0 0 9

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Hubungan Perilaku Keluarga dengan Kepatuhan Pengobatan Penderita TB Paru di Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2013

0 0 10

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pencemaran Udara 2.1.1. Pengertian Pencemaran Udara - Hubungan Paparan Partikel Debu dan Karakteristik Individu dengan Kapasitas Paru pada Pekerja di Gudang Pelabuhan Belawan

0 0 35