Efek Antibakteri Virgin Coconut Oil (VCO) terhadap Pertumbuhan Populasi Bakteri Aerob dalam Saliva.

(1)

v ABSTRAK

EFEK ANTIBAKTERI VIRGIN COCONUT OIL (VCO)

TERHADAP PERTUMBUHAN POPULASI BAKTERI AEROB DALAM SALIVA

Virgin Coconut Oil (VCO) banyak dikenal dan digunakan di Indonesia. VCO memiliki banyak manfaat, salah satunya dikenal memiliki antibakteri. Selain itu, di sekitar kita banyak dijual obat kumur dalam berbagai merek, yang juga berfungsi sebagai antibakteri, dengan zat aktif seperti klorheksidin.

Tujuan penelitian penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengukuran diameter zona inhibisi yang terbentuk oleh Virgin Coconut Oil (VCO) bila dibandingkan dengan klorheksidin 0,2% terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob dalam saliva.

Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental laboratorik dengan desain rancangan acak lengkap. VCO dan klorheksidin 0,2% ditetesi ke dalam sumur pada medium agar nutrien yang mengandung bakteri dalam saliva. Diameter zona inhibisi diukur setelah inkubasi 24 jam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada zona inhibisi yang terbentuk di sekitar sumur VCO.

Simpulan dari hasil penelitian ini adalah VCO tidak memiliki efek antibakteri. Penelitian lanjut yang disarankan adalah mengenai kemungkinan-kemungkinan lain penggunaan VCO untuk membantu memelihara oral hygiene (OH) dan mengenai efek antibakteri VCO terhadap jamur, serta penggunaan metode MBC atau MIC digunakan untuk mengevaluasi efek VCO.

Kata Kunci : Virgin Coconut Oil (VCO), Klorheksidin, Antibakteri, Saliva, Bakteri Aerob.


(2)

vi

ABSTRACT

ANTIBACTERIAL EFFECT OF VIRGIN COCONUT OIL (VCO) TO POPULATION GROWTH OF AEROBIC BACTERIA IN SALIVA

Virgin Coconut Oil (VCO) is widely known and used in Indonesia. VCO has many benefits for life, among them is antibacterial property. On the other hand, there are many mouthwash products with antibacterial property sold, with active substances like chlorhexidine.

The research objective was to know the diameter of inhibitory zone of Virgin Coconut Oil (VCO), compared to 0,2% chlorhexidine on the growth of salivary aerobic bacteria.

The method used in this research was laboratory experimental with complete randomized design. VCO and 0,2% chlorhexidine were dropped into separate wells on nutrient agar medium containing salivary bacteria. The diameters of inhibitory zones were measured after 24 hours incubation.

Research showed that there were no inhibition zones formed around the VCO well.

It could be concluded that the VCO did not have antibacterial property. The future researches will be about possibilities of the use of VCO to maintain oral hygiene (OH) and about antibacterial property of VCO to the fungi. The MIC and MBC methods can be used to evaluate the antibacterial property of VCO.

Keywords : Virgin Coconut Oil (VCO), Chlorhexidine, Antibacteria, Saliva, Aerobic Bacteria.


(3)

x

DAFTAR ISI

JUDUL...i

LEMBAR PERSETUJUAN...ii

SURAT PERNYATAAN...iii

LEMBAR PERSETUJUAN PERBAIKAN...iv

ABSTRAK...v

ABSTRACT...vi

KATA PENGANTAR... ...vii

DAFTAR ISI...x

DAFTAR TABEL...xiv

DAFTAR GAMBAR...xv

DAFTAR LAMPIRAN...xvi

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah...1

1.2Identifikasi Masalah...3

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian...3

1.4Manfaat Karya Tulis Ilmiah...4

1.4.1 Manfaat Akademik...4

1.4.2 Manfaat Praktik...4

1.5Kerangka Pemikiran dan Hipotesis...4

1.5.1 Kerangka Pemikiran...4


(4)

xi

1.5.2 Hipotesis Penelitian...5

1.6Metodologi Penelitian...5

1.7Lokasi dan Waktu...6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelapa (Cocos nucifera)...7

2.1.1 Taksonomi Kelapa...7

2.1.2 Minyak Kelapa...7

2.1.3 Virgin Coconut Oil dan Manfaatnya dalam Bidang Kesehatan...10

2.2 Flora Normal Rongga Mulut...14

2.2.1 Bakteri Rongga Mulut...17

2.2.2 Pertumbuhan Bakteri Aerob dan Anaerob...20

2.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kolonisasi Bakteri di dalam Rongga Mulut...22

2.3 Agen Antimikroba...27

2.4 Saliva...30

2.4.1 Kelenjar Saliva Mayor...30

2.4.1.1 Kelenjar Parotis...31

2.4.1.2 Kelenjar Submandibula...31

2.4.1.3 Kelenjar Sublingual...32

2.4.2 Kelenjar Saliva Minor...32

2.5 Komposisi dan Fungsi Saliva...33


(5)

xii

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan...38

3.1.1 Alat...38

3.1.2 Bahan...39

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian...40

3.3 Metode Penelitian...41

3.3.1 Jenis Penelitian...41

3.3.2 Objek Penelitian...41

3.3.3 Definisi Operasional...41

3.3.4 Variabel Penelitian...42

3.4 Prosedur Kerja...42

3.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan...43

3.4.2 Pengumpulan dan Persiapan Bahan...43

3.4.3 Studi Pendahuluan...44

3.4.4 Pelaksanaan Penelitian...46

3.5 Metode Analisis...47

3.6 Hipotesis Uji...47

3.7 Aspek Etik...48

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian...49

4.2 Pembahasan...51


(6)

xiii

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan...57

5.2 Saran...57

DAFTAR PUSTAKA...58

LAMPIRAN...61

RIWAYAT HIDUP...76


(7)

xiv

DAFTAR TABEL

Hal.

Tabel 2.1 Bakteri Gram Positif pada Rongga Mulut... 18

Tabel 2.2 Bakteri Gram Negatif pada Rongga Mulut... 19

Tabel 2.3 Efek Oksigen pada Pertumbuhan Bakteri... 21

Tabel 2.4 Sekresi Kelenjar Saliva Secara Umum... 33

Tabel 4.1 Analisis Deskriptif Diameter Zona Inhibisi... 50


(8)

xv

DAFTAR GAMBAR

Hal.

Gambar 2.1 Molekul Asam Lemak... 9

Gambar 2.2 Anatomi Kelenjar Saliva... 32

Gambar 3.1 Skema Prosedur Kerja... 42

Gambar 3.2 Pengenceran Berseri... 45

Gambar 4.1 Diameter Zona Inhibisi yang Terbentuk di Sekitar Sumur VCO dan Klorheksidin……… 50 Gambar 4.2 Virgin Coconut Oil (VCO) yang Diproduksi Sendiri….. 55


(9)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Hal.

Lampiran 1 Tabel Hasil Penelitian Inti... 61

Lampiran 2 Perhitungan SPSS... 62

Lampiran 3 Surat Permohonan Melaksanakan Penelitian... 63

Lampiran 4 Hasil Analisis VCO... 64

Lampiran 5 Hasil Analisis Minyak Kelapa... 66

Lampiran 6 Surat Keputusan Komisi Etik Penelitian... 68

Lampiran 7 Cara Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO)... 69

Lampiran 8 Studi Pendahuluan : Pengenceran Saliva... 72

Lampiran 9 Perbandingan Difusi Antara Minyak Kelapa dan VCO.. 74


(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Flora mulut kita terdiri dari beragam organisme, termasuk bakteri, jamur, mycoplasma, protozoa dan virus yang dapat bertahan dari waktu ke waktu. Organisme ini biasanya hidup dalam harmoni dalam berbagai habitat termasuk gigi, sulkus gingiva, lidah, pipi, langit-langit keras dan lunak dan tonsil. Lebih dari 600 jenis bakteri menjadikan mulut kita sebagai tempat hidup. Bakteri tersebut dapat dibagi menjadi bakteri aerob atau anaerob fakultatif, tergantung dari kebutuhan oksigennya.1

Banyak dari bakteri ini juga yang membahayakan gigi sehingga dapat menyebabkan iritasi gingiva, inflamasi dan perdarahan. Bakteri yang terlalu banyak pada mulut dapat menyebabkan gigi berlubang, penyakit gingiva, bahkan kehilangan gigi. Perubahan warna pada gigi, terbentuknya plak (karena koloni bakteri) dan tartar (plak yang terkalsifikasi), terjadinya kavitasi, perdarahan gingiva, gigi sensitif, dan nafas bau yang parah merupakan tanda dari bakteri yang terlalu banyak pada rongga mulut.2

Virgin Coconut Oil (VCO) banyak dikenal dan digunakan di Indonesia. VCO dapat diekstrak dari daging kelapa segar. Pembuatan VCO ini memiliki banyak keunggulan, yaitu tidak membutuhkan biaya yang mahal karena bahan baku mudah didapat dengan harga yang murah. Pengolahan yang sederhana serta diproses dengan pemanasan rendah atau tanpa pemanasan dan tanpa bahan kimia


(11)

2

menyebabkan kandungan kimia dan nutrisinya tetap terjaga, terutama asam lemak dalam minyak. VCO dengan kandungan utama asam laurat ini memiliki sifat antibakteri.3,4

VCO terdiri dari 90% asam lemak jenuh dan 10% asam lemak tidak jenuh. Asam laurat merupakan asam lemak yang paling besar jumlahnya dibandingkan dengan asam lemak lainnya yaitu sekitar 44-52%. Asam laurat merupakan asam lemak jenuh dengan rantai sedang yang lebih dikenal dengan medium chain fatty acids (MCFA) yang mudah diurai dalam tubuh. Kandungan asam lemak rantai sedang ini sangat berperan dalam menjaga kesehatan. Asam laurat merupakan suatu monogliceride yang bersifat antibakteri.5

Selain itu, VCO ini juga dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan mulut, yaitu digunakan untuk berkumur. Hal ini bukanlah suatu hal yang baru, karena hal ini sudah dipakai sebagai pengobatan Ayurvedic beribu tahun yang lalu. Kebiasaan berkumur dengan minyak kelapa ini pertama kali dikenal di Charaka Samhita dan Sushrutha’s Arthashastra. Hal ini dikenal dengan Kavala Gandoosha/Kavala Graha di Ayurveda. Berbagai minyak telah diuji untuk metoda ini, dan telah terbukti bahwa minyak kelapa merupakan pilihan terbaik untuk metoda ini.2

Sementara itu, di sekitar kita banyak dijual obat kumur dalam berbagai merek, yang juga berfungsi sebagai antibakteri, dengan zat aktif seperti klorheksidin. Klorheksidin adalah biosida berspektrum luas yang efektif terhadap bakteri gram positif, bakteri gram negatif, dan jamur. Klorheksidin menginaktivasi berbagai mikroorganisme dengan spektrum yang lebih luas daripada antimikrobia lainnya


(12)

3

(seperti povidone iodine). Klorheksidin memiliki efek bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) dan bakterisidal (membunuh bakteri), tergantung dari konsentrasinya.6

Berdasarkan uraian tersebut, perlu dilakukan penelitian sejauh mana pengaruh VCO terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob pada saliva, bila dibandingkan dengan obat kumur dengan zat aktif klorheksidin.

1.2Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, identifikasi masalah penelitian ini adalah sejauh manakah pengaruh Virgin Coconut Oil (VCO) terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob pada saliva bila dibandingkan dengan klorheksidin 0,2%.

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh Virgin Coconut Oil (VCO) dalam mengontrol pertumbuhan bakteri aerob dalam saliva (secara in vitro).

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hasil pengukuran diameter zona inhibisi yang terbentuk oleh Virgin Coconut Oil (VCO) terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob dalam saliva (secara in vitro).


(13)

4

1.4Manfaat Karya Tulis Ilmiah 1.4.1 Manfaat Akademik

Manfaat akademis dari penelitian ini adalah memberikan dasar ilmiah mengenai pengaruh Virgin Coconut Oil (VCO) dan klorheksidin 0,2% terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob dalam saliva.

1.4.2 Manfaat Praktik

Manfaat praktis adalah menjadi dasar ilmiah tindakan pengontrol pertumbuhan bakteri aerob dalam saliva menggunakan Virgin Coconut Oil (VCO) dan klorheksidin 0,2%.

1.5Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 1.5.1 Kerangka Pemikiran

Meskipun terdapat banyak bakteri pada rongga mulut, banyak organisme yang biasa ditemukan di tempat lain seperti usus dan kulit yang tidak ditemukan di rongga mulut. Hal ini menunjukkan terdapat ekologi yang unik dan selektif pada rongga mulut berkaitan dengan kolonisasi mikroba. Bakteri pada rongga mulut dapat dikelompokkan menjadi : bakteri gram positif dan gram negatif serta bakteri anaerob atau anaerob fakultatif.1

Sebanyak 80% dari medium-chain fatty acids (MCFAs) pada Virgin Coconut Oil (VCO) memiliki sifat sebagai antibakteri karena dapat mengganggu sistem fungsional dari berbagai mikroorganisme yang berbahaya. Terdapat DNA organisme dan material seluler lainnya pada asam lemak di lapisan terluar


(14)

5

organisme, dimana lapisan lemak dari virus dan bakteri mudah untuk dibunuh oleh MCFAs dengan merusak membran lipidnya. MCFAs, yang mirip dengan membran pada mikroorganisme, mudah untuk melekat dan diserap ke dalamnya. Sehingga akan menyebabkan membran tersebut terbuka, mengeluarkan komponen-komponen di dalamnya dan membunuh organisme tersebut.6

Sedangkan pada klorheksidin, ion positif pada molekul klorheksidin akan berikatan dengan ion negatif fosfolipid pada dinding sel. Ion-ion tersebut akan berikatan dengan dinding sel bakteri dan menyebabkan sel bakteri tersebut ruptur, sehingga menyebabkan adanya kebocoran sitoplasma pada sel yang pada akhirnya menyebabkan sel mengalami lisis. Peneliti ingin mengetahui perbandingan antara pengaruh Virgin Coconut Oil (VCO) dan klorheksidin 0,2% terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob dalam saliva.6

1.5.2 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, hipotesis penelitian ini yaitu Virgin Coconut Oil (VCO) memiliki efek antibakteri terhadap bakteri aerob pada saliva.

1.6Metodologi Penelitian

Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan menggunakan seluruh populasi sebanyak 14 orang.


(15)

6

1.7Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha bulan November-Desember 2015.


(16)

57 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan data dan pembahasan, diperoleh bahwa Virgin Coconut Oil (VCO) tidak memiliki pengaruh sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob dalam saliva.

5.2 Saran

Saran-saran yang berhubungan dengan penelitian ini adalah:

1. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kemungkinan-kemungkinan lain yang membuat VCO dapat digunakan untuk memelihara oral hygiene (OH)

2. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek antibakteri VCO terhadap jamur.

3. Menggunakan metode MBC atau MIC untuk mengevaluasi efek VCO.


(17)

58

DAFTAR PUSTAKA

1. Fife B. Dental health with oil swishing: evidence that oil pulling eradicates harmful bacteria. Well Being Journal [serial online] 2008 Nov-Des [cited 2015 Mar 04]: p. 39-42.

2. Christianti L, Prakosa AH. Pembuatan minyak kelapa murni (virgin coconut oil) menggunakan fermentasi ragi tempe. Surakarta: Universitas Sebelas Maret; 2009: p. 1-2.

3. Tarwiyah, Kemal. Minyak kelapa [Serial online]. Jan 2001 [diunduh tanggal 9 Agt 2015]: p. 1-5.

4. Syafrini E. Minyak kelapa [Serial Online]. [Skripsi]. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara; 2012: p. 2.

5. The Chlorhexidine Partners Network. All about chlorhexidine: mechanism of action [Serial Online]. 2012 Des 11 [cited Agt 3]: 1. Available from: URL: http://chlorhexidinefacts.com/mechanism-of-action.html

6. Fife B. The coconut oil miracle. 5th ed. New York: Penguin Group (USA) LLC; 2013: p. 15-24, 67-73.

7. ITIS Standard Report Page. Taxonomy and nomenclature of Cocos nucife-ra L.Available from: URL:

http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&searc h_value=42451

8. Anonyymous. Penentuan bilangan iodin dalam refined bleached

deodorized coconut oil (RBD CNO) dan virgin coconut oil (VCO).

Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara; 2010: p. 1-5.

9. Holzapfel C, Holzapfel L. Coconut oil for health and beauty.

Summertown, Tennessee: Healthy Living Publications. 2004: p. 13-22, 57-9.

10.Hyper Physics Chemistry. Gambar Molekul Asam Lemak. Available from: URL:

http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/organic/fataci.html

11.Syafrini E. Minyak kelapa. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara. 2008: p. 4-5.


(18)

59

12.Thaweboon S, Nakaparksin J, Thaweboon B. Effect of oil pulling on microorganisms in biofilm models. Asia Journal of Public Health [serial

online] 2011 May-Agu [cited 2015 Okt 09]: p. 62-6.

13.Cheema R, Sharma R, Choudhary E, Sharma S. A clinical investigation to test the efficacy of oil pulling in reducing dentin hypersensitivity, as

compared to a desensitizing tooth paste. International

Journal of Scientific Study. 2014 Mar; 1: p. 22-6.

14.Hapsari N, Welasih T. Pembuatan virgin coconut oil (VCO) dengan metode sentrifugasi. Surabaya:

Fakultas Teknologi Industri UPN ”Veteran” Jatim. 2008: p. 1-8. 15.Socransky SS, Haffajee AD. Dental biofilms; difficult therapeutics targets.

Periodontology 2000. 2002; 28: p. 12-55.

16.Bagg J, MacFarlen TW, Poxton IR, Smith AJ. Essentials of microbiology for dental students. 2nd ed. Glasgow: Oxford University Press; 2006: p. 223, 245-7.

17.Samaranayake, Lakshman. Essential Microbiology for Dentistry. 3rd ed.

Churcill Livingstone Elsevier; 2006: p. 265-277.

18.Cawson RA, Odell EW. Cawson’s Essentials of Oral Pathology and Oral

Medicine. 8th ed. Philadelphia: Churchill Livingstone Elsevier; 2008: p. 42, 46-7.

19.Akbarisyah T, Permata DT, Astuti DS, Sriwijayanti NW. Anatomi, histologi dan fisiologi kelenjar saliva. Palembang: Universitas Sriwijaya; 2011: p. 1-10.

20.Berkovitz BKB, Moxham BJ, Linden RWA, Sloan AJ. Master Dentistry Volume 3. 3rd ed. Edinburgh: Churchill Livingstone Elsevier. 2011: p. 79-85.

21. Idmas K. Gambar anatomi kelenjar

saliva. Available from: URL:

http://khairil-idmas.blogspot.co.id/2011/10/kelenjar-submandibularis.html.

22.Shantipriya Reddy, Sanjay Kaul, Prasad, Hrishikesh Asutkar, Nirjhar Bhowmik. Dental Plaque...Unveiling The Biofilm Inside. India, Des 9, 2012: p. 1-7.

23.Almeida PDV, Gregio AMT, Machado MAN, Lima AAS, Azevedo RL.

Saliva Composition and Functions: A Comprehensive Review. The Journal of Contemporary Dental Practice; 2008 Mar 1 (9): p. 1-11.


(19)

60

24.American Heritage® Dictionary of The English Language. 5th ed. America: Houghton Mifflin Harcourt Publishing Company. 2011. Available from: URL: http://www.thefreedictionary.com/coconut+oil

25.Dorland W.A. N. Kamus Kedokteran Dorland. Terjemahan

Huriawati Hartanto. 1st ed. Jakarta: EGC; 2002: p. 41.

26. Mosby’s Medical Dictionary. 8th ed. Elsevier. 2009. Available from: URL: http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/chlorhexidine

27.Arora D.R, Arora H. Textbook of microbiology for dental students. Delhi: Asia Printograph; 2005: p. 8-11.


(1)

5

organisme, dimana lapisan lemak dari virus dan bakteri mudah untuk dibunuh oleh MCFAs dengan merusak membran lipidnya. MCFAs, yang mirip dengan membran pada mikroorganisme, mudah untuk melekat dan diserap ke dalamnya. Sehingga akan menyebabkan membran tersebut terbuka, mengeluarkan komponen-komponen di dalamnya dan membunuh organisme tersebut.6

Sedangkan pada klorheksidin, ion positif pada molekul klorheksidin akan berikatan dengan ion negatif fosfolipid pada dinding sel. Ion-ion tersebut akan berikatan dengan dinding sel bakteri dan menyebabkan sel bakteri tersebut ruptur, sehingga menyebabkan adanya kebocoran sitoplasma pada sel yang pada akhirnya menyebabkan sel mengalami lisis. Peneliti ingin mengetahui perbandingan antara pengaruh Virgin Coconut Oil (VCO) dan klorheksidin 0,2% terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob dalam saliva.6

1.5.2 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, hipotesis penelitian ini yaitu Virgin Coconut Oil (VCO) memiliki efek antibakteri terhadap bakteri aerob pada saliva.

1.6Metodologi Penelitian

Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan menggunakan seluruh populasi sebanyak 14 orang.


(2)

1.7Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha bulan November-Desember 2015.


(3)

57 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan data dan pembahasan, diperoleh bahwa Virgin Coconut Oil (VCO) tidak memiliki pengaruh sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan populasi bakteri aerob dalam saliva.

5.2 Saran

Saran-saran yang berhubungan dengan penelitian ini adalah:

1. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kemungkinan-kemungkinan lain yang membuat VCO dapat digunakan untuk memelihara oral hygiene (OH)

2. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek antibakteri VCO terhadap jamur.

3. Menggunakan metode MBC atau MIC untuk mengevaluasi efek VCO.


(4)

58

1. Fife B. Dental health with oil swishing: evidence that oil pulling eradicates harmful bacteria. Well Being Journal [serial online] 2008 Nov-Des [cited 2015 Mar 04]: p. 39-42.

2. Christianti L, Prakosa AH. Pembuatan minyak kelapa murni (virgin coconut oil) menggunakan fermentasi ragi tempe. Surakarta: Universitas Sebelas Maret; 2009: p. 1-2.

3. Tarwiyah, Kemal. Minyak kelapa [Serial online]. Jan 2001 [diunduh tanggal 9 Agt 2015]: p. 1-5.

4. Syafrini E. Minyak kelapa [Serial Online]. [Skripsi]. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara; 2012: p. 2.

5. The Chlorhexidine Partners Network. All about chlorhexidine: mechanism

of action [Serial Online]. 2012 Des 11 [cited Agt 3]: 1. Available from: URL: http://chlorhexidinefacts.com/mechanism-of-action.html

6. Fife B. The coconut oil miracle. 5th ed. New York: Penguin Group (USA) LLC; 2013: p. 15-24, 67-73.

7. ITIS Standard Report Page. Taxonomy and nomenclature of Cocos

nucife-ra L. Available from: URL:

http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&searc h_value=42451

8. Anonyymous. Penentuan bilangan iodin dalam refined bleached

deodorized coconut oil (RBD CNO) dan virgin coconut oil (VCO). Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara; 2010: p. 1-5.

9. Holzapfel C, Holzapfel L. Coconut oil for health and beauty.

Summertown, Tennessee: Healthy Living Publications. 2004: p. 13-22, 57-9.

10.Hyper Physics Chemistry. Gambar Molekul Asam Lemak. Available from:

URL:

http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/organic/fataci.html

11.Syafrini E. Minyak kelapa. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara. 2008: p. 4-5.


(5)

59

12.Thaweboon S, Nakaparksin J, Thaweboon B. Effect of oil pulling on microorganisms in biofilm models. Asia Journal of Public Health [serial

online] 2011 May-Agu [cited 2015 Okt 09]: p. 62-6.

13.Cheema R, Sharma R, Choudhary E, Sharma S. A clinical investigation to test the efficacy of oil pulling in reducing dentin hypersensitivity, as

compared to a desensitizing tooth paste. International

Journal of Scientific Study. 2014 Mar; 1: p. 22-6.

14.Hapsari N, Welasih T. Pembuatan virgin coconut oil (VCO) dengan metode sentrifugasi. Surabaya:

Fakultas Teknologi Industri UPN ”Veteran” Jatim. 2008: p. 1-8. 15.Socransky SS, Haffajee AD. Dental biofilms; difficult therapeutics targets.

Periodontology 2000. 2002; 28: p. 12-55.

16.Bagg J, MacFarlen TW, Poxton IR, Smith AJ. Essentials of microbiology

for dental students. 2nd ed. Glasgow: Oxford University Press; 2006: p. 223, 245-7.

17.Samaranayake, Lakshman. Essential Microbiology for Dentistry. 3rd ed.

Churcill Livingstone Elsevier; 2006: p. 265-277.

18.Cawson RA, Odell EW. Cawson’s Essentials of Oral Pathology and Oral

Medicine. 8th ed. Philadelphia: Churchill Livingstone Elsevier; 2008: p. 42, 46-7.

19.Akbarisyah T, Permata DT, Astuti DS, Sriwijayanti NW. Anatomi, histologi dan fisiologi kelenjar saliva. Palembang: Universitas Sriwijaya; 2011: p. 1-10.

20.Berkovitz BKB, Moxham BJ, Linden RWA, Sloan AJ. Master Dentistry Volume 3. 3rd ed. Edinburgh: Churchill Livingstone Elsevier. 2011: p. 79-85.

21. Idmas K. Gambar anatomi kelenjar

saliva. Available from: URL:

http://khairil-idmas.blogspot.co.id/2011/10/kelenjar-submandibularis.html.

22.Shantipriya Reddy, Sanjay Kaul, Prasad, Hrishikesh Asutkar, Nirjhar Bhowmik. Dental Plaque...Unveiling The Biofilm Inside. India, Des 9, 2012: p. 1-7.

23.Almeida PDV, Gregio AMT, Machado MAN, Lima AAS, Azevedo RL.

Saliva Composition and Functions: A Comprehensive Review. The Journal of Contemporary Dental Practice; 2008 Mar 1 (9): p. 1-11.


(6)

24.American Heritage® Dictionary of The English Language. 5th ed. America: Houghton Mifflin Harcourt Publishing Company. 2011. Available from: URL: http://www.thefreedictionary.com/coconut+oil

25.Dorland W.A. N. Kamus Kedokteran Dorland. Terjemahan

Huriawati Hartanto. 1st ed. Jakarta: EGC; 2002: p. 41.

26. Mosby’s Medical Dictionary. 8th ed. Elsevier. 2009. Available from: URL: http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/chlorhexidine

27.Arora D.R, Arora H. Textbook of microbiology for dental students. Delhi: Asia Printograph; 2005: p. 8-11.