MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM SMT 1 (1)

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Yanti
A. Latar Belakang
Filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya merupakan landasan dasar bagi
penyusunan suatu sistem pendidikan Islam. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa filsafat pendidikan Islam merupakan acuan atau pedoman bagi perancang
dan pelaku dunia pendidikan dan pengajaran Islam yang bersumber dari AlQur’an dan hadits.
Sebagai landasan fundamental, filsafat memegang peranan penting dalam
proses pengembangan kurikulum. Kurikulum merupakan salah satu komponen
yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Dewasa ini, pentingnya
peran dan fungsi kurikulum memang sudah sangat disadari dalam sistem
pendidikan nasional dikarenakan kurikulum merupakan alat yang krusial dalam
merealisasikan program pendidikan baik formal maupun non formal, sehingga
gambaran sistem pendidikan dapat terlihat jelas dalam kurikulum tersebut.
Menurut Hasan Langgulung, sedikitnya ada empat aspek utama yang
menjadi ciri-ciri ideal sebuah kurikulum, yaitu:
1.

Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas
lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.

2.

Pengetahuan atau knowledge, informasi-informasi, data-data, aktivitasaktivitas dan pengalaman-pengalaman darimana terbentuk kurikulum itu.
Bagian inilah yang disebut dengan mata pelajaran.

3.

Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk
mengajar dan memotivasi murid-murid untuk membawa mereka ke arah yang
dikehendaki oleh kurikulum.

1

4.

Metode dan cara penilaian yang digunakan dalam mengukur dan menilai
kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncakan kurikulum tersebut.1
Untuk pembahasan berikutnya, penulis

mencoba untuk mengkaji dan

menelaah lebih lanjut tentang bagaimana pengembangan kurkulum pendidikan
berdasarkan filsafat khususnya filsafat pendidikan Islam.
B. Pembahasan
1. Pengertian Kurikulum
Istilah kurikulum, awalnya digunakan dalam dunia olahraga pada
zaman Yunani kuno yang berasal dari kata curir atau curere, yang artinya
jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari.
Selanjutnya kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan. Para ahli
berbeda-beda

pendapat tentang kurikulum. Untuk mendapatkan rumusan

tentang pengertian kurikulum, para ahli menekankan kurikulum dipandang
sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa
yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. George A. Beauchamp
(1986), mengemukakan bahwa: “A curriculum is writen document wich may
contain ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils
during their enrollment in given school” Dalam pandangan moderen
pengertian kurikulum dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang
nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti yang

dikemukakan oleh

Caswel dan Cambell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum ”.....to be
composed of all the experiences children have under the guadance of
teacher”. Dipertegas oleh pemikiran Ronald C. Doll yang mengatakan bahwa
”....the curriculum has changed from content of courses study and list of

1

H. Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Telaah Sistem Pendidikan dan
pemikiran Para Tokohnya, Kalam Mulia, Jakarta, 2009, h. 191-192

2

subject and courses to all experiences which are offered to learners under the
auspices or direction of school”2
Kurikulum juga dipandang sebagai suatu program pendidikan yang
direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan. 3 S.
Nasution menyatakan bahwa ada beberapa penafsiran lain tentang kurikulum
diantaranya, pertama; kurikulum sebagai produk (sebagai hasil pengembangan
kurikulum), kedua; kurikulum sebagai program (alat yang dilakukan sekolah
untuk mencapai tujuan), ketiga; kurikulum sebagai hal yang diharapkan akan
dipelajari oleh siswa (sikap, keterampilan tertentu), keempat; kurikulum
dipandang sebagai pengalaman siswa.4
Definisi kerikulum yang tercantum dalam UU Sisdiknas no 20 tahun
2003 dikembangkan kearah seperangkat rencana dan pengaturan, mengenai
tujuan isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Dengan demikian, ada tiga komponen yang termuat dalam kurikulum
yaitu isi dan bahan pelajaran serta cara pembelajaran baik yang berupa strategi
ataupun evaluasi pembelajaran.5
Beberapa pengertian kurikulum diatas dapat ditarik poin perbedaan
yang cukup mendasar yaitu ada yang menekankan pada materi atau mata
pelajaran dan ada juga yang menekankan pada proses pengalaman belajar
peserta didik.
3. Landasan Pengembangan Kurikulum
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukamadinata mengemukakan 4 landasan utama
dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (a) filosofis, (b) Psikologis, (c) sosial
2

Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Rosdakarya, Bandung, 2008, h. 3-

5
3

Zakiyah Darajat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi aksara, Jakarta, 1996, h. 122
S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, Bumi Aksara, Jakarta, 1994, h. 5-9
5
H. Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam,; di Sekolah, Madrasah
dan Perguruan Tinggi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, h. 2
4

3

budaya dan (d) ilmu pengetahuan dan

tekhnologi. Untuk lebih jelasnya akan

diuraiakn keempat landasar tersebut:6
a. Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum,
sama halnya dalam Filsafat Pendidikan Islam. berbagai aliran. Dalam
pengembanagn kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran
tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan impilkasi
kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella
Yulaelawati (2003), di bawah ini akan diuraikan tentang isi masingmasing aliran filsafat tersebut, kaitannya dengan pengembangan
kurikulum:
1.

Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan,
kebenaran, dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak
sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang
memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut
faham ini menakankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal
yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi
ke masa lalu.

2.

Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan
pemberian pengetahuan dan keterampilan

pada peserta didik agar

dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains
dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi
kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya
dengan perenialisme, essensialisme juga lebih berorientasi pada masa
lalu.

6

Nana Syaodih Sukamadinata, Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek, Remaja
Rosdakarya, 1997, h. 21

4

3.

Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber
pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan
seseorang mestilah memahami dirinya terlebih dahulu. Aliran ini
mempertanyakan Bagaimana saya hidup di dunia?. Bagaimana
pengalaman saya?.

4.

Progresivisme

menekankan

pada

pentingnya

melayani

perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman
belajar

dan

proses.

Progresivisme

merupakan

landasan

bagi

pengembangan belajar peserta didik aktif.
5.

Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran
progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa
depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan
individual seperti pada progresivisme, rekonstrutivisme lebih jauh
menekankan pada pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.
Aliran

ini

akan

mempertanyakan

untuk

apa

berfikir

kritis,

memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu. Penganut aliran ini
menekankan pada hasil belajar dari pada proses.7
Aliran filsafat Perenialisme, Essensialisme merupakan aliran filsafat
yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum SubjekAkademis. Sedangkan filsafat progresivisme memberikan dasar bagi
pengembangan model kurikulum pendidikan pribadi. Sementara filsafat
rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan model
kurikulum interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan
keunggulan sendiri. Oleh karena itu dalam praktek pengembangan
kurikulum pengembangan aliran filsafat cenderung dilakukan dengan
efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai
kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian, saat ini,
7

Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung, Mdia IPTEK, 1994, h. 25

5

pada beberapa negara dan khususnya

di Indonesia nampaknya mulai

terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum yaitu lebih
menitik beratkan pada filsafat rekonstruktivisme.
b. Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukamadinata mengemukakan bahwa minimal
terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum
yaitu (1) Psikologi Perkembangan dan (2) Psikologi Belajar. Psikologi
Perkembangan ilmu yang memepelajari tentang

perilaku individu

berkenaan dengan perkembangannya8. Dalam Psikologi Perkembangan
dikaji tentang hakekat perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugastugas perkembangan individu serta hal-hal lainnya yang berhubungan
dengan perkembangan individu yang semuanya dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi
belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam
konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan
teori-teori belajar serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam
belajar yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer,
Ella

Yulaelawati

mengemukakan

pengertian

kompetensi

bahwa

kompetensi merupakan karakteristik mendasar dari seseorang yang
merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan
atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi.9
Sealanjutnya dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu:

8

Opcit, Nana Syayodih, h. 23
Opcit, Uyoh Sadullah, h. 30

9

6

1. Motif; sesuatu

yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara

konsistens atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
2. Bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsistens
berbagai situasi atau informasi.
3. Konsep diri yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang.
4. Keterampilan yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun
mental.10
Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap
perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan. Keterampilan dan
pengetahuan cendenrung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang.
Sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih
mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi
permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan.
Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini.
Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali
dan dikembangkan.
Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E Mulyasa
menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik.
Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dan
karakteristik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis
Kompetensi

yaitu, (1) Perbedaan tingkat kecerdasan, (2) perbedaan

kreativitas, (3) perbedaan cacat fisik, (4) kebutuhan peserta didik dan (5)
pertumbuhan dan perkembangan koqnitif. 11

c. Landasan sosial budaya
10

E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi (Konsep, Karakteristik dan Implementasi),
Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003, h. 11.
11
ibid

7

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan.
Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil
pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan suatu usaha
mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat.
Pendidikan bukan hanya untuk sekedar memberikan ilmu semata tapi
memberikan bekal mencapai perkembangan lebih lanjut di tengah
masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik
formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dengan segala
karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan sekaligus acuan
bagi pendidikan.
Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusiamanusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi
justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu
membangun masyarakat.

Oleh karena itu tujuan, isi, maupun proses

pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik,
kekayaan dan perkembangan yang ada di tengah masyarakat.
Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial
budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar
anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya
adalah tatanan nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku
para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama ,
budaya, politik atau dari segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada
dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga
masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap
tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.
d. Landasan ilmu pengetahuan dan tekhnologi

8

Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dimiliki
manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan
mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru
terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus
berkembang. Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang
sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada zaman dahulu
kala orang menganggap mustahil manusia sampai ke bulan. Tetapi berkat
kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi pada pertengahan abad 20
pesawat Apollo berhasil mendarat di bulan dan Neil Amstrong adalah
orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di bulan.
Kemajuan cepat dunia bidang informasi dan tekhnologi dalam dua
dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi
jangkauan pemikiran manusia sebelumnya, Pengaruh ini terlihat pada
pergesaran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan
keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran yang berlaku pada
konteks global dan lokal.
Selain itu

pengetahuan sekarang ini diperlukan masyarakat yang

berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu
yang tinggi. Sifat pengetahuan

dan keterampilan yang harus dikusai

masyarakat sangat beragam dan canggih sehingga diperlukan kurikulum
yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk
berfikir dan belajar bagaimana blajar (learning to learn) dalam mengakses,
memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi situasi yang ambigu
dan antisipatif terhadap ketidakpastian.
Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan tekhnologi,
terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah
tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat
mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan
dan tekhnologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus

9

mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk kemslahatan dan
kelangsungan hidup manusia.
3. Prinsip Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum pendidikan Islam, harus memiliki prinsip-prinsip yang
mewarnai sebuah kurikulum.

Untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan

Islam yang diharapkan, maka sudah barang tentu, kurikulum yang
diformulasikannyapun harus mengacu pada dasar pemikiran yang Islami,
pandangan hidup tentang manusia (pandangan antrhopologis), yang diarahkan
pada tujuan pendidikan yang dilandasai oleh kaidah-kaidah Islam.12
Menurut al-Syaibany, prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam
meliputi:
1.

Berorientasi pada Islam, termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Untuk
itu kurikulum yang dirumuskan, baik yang berkaitan dengan falsafah,
tujuan dan kandungan, metode mengajar maupun cara-cara perlakuan dan
hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan
harus merdasarkan agama dan akhlak Islam.

2. Prinsip menyeluruh (universal), yaitu muatan kurikulum hendaknya
berlaku secara menyeluruh tanpa terbatas oleh sekat wilayah.
3. Prinsip keseimbangan, yaitu muatan kurikulum hendaknya memuat ilmu
dan aktivitas belajar secara berkesinambungan pada jenjang pendidikan
yang ditawarkan. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak
terjadi pengulangan yang akan membuat peserta didik jenuh dan
kesimpang siuran makna kebenaran yang membuat peserta didik bingung.
4. Prinsip interaksi antara kebutuhan peserta didik, pendidik dan masyarakat.
5. Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual perseta didik, baik
perbedaan dari segi bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan sebaginya.

12

H. Ramayulis & Samsul Nizar, Op. Cit., h. 196

10

6. Prinsip pertautan (integritas) antara mata peajaran, pengalamanpengalaman dan aktiviti yang terkandung dalam kurikulum dengan
kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat.13
Menurut Wina Sanjaya, ada sejumlah prinsip dalam proses
pengembangan

kurikulum yaitu: (a)

Relevansi, (b) Fleksibilitas, (c)

Kontinuitas, (d) Efektifitas, (e) Efisien.14.

a. Prinsip Relevansi
Prinsip Relevansi adalah kesesuaian antara pengalaman-pengalaman
belajar anak yang disusun dalam kurikulum dengan kebutuhan masyarakat.15
Ada dua macam prinsip relevansi, yaitu relevansi

internal dan

relevansi eksternal. Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus
memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara
tujuan yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus
dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk
melihat ketercapaian tujuan. Relevansi internal ini memperlihatkan keutuhan
kurikulum.16
Relevansi eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi, dan
proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan
ketentuan mesyarakat. Ada tiga macam relevansi eksternal yaitu:
1. Relevasi dengan lingkungan hidup peserta didik. Artinya bahwa proses
pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah disesuaikan
dengan kondisi lingkungan hidup siswa. Contohnya untuk siswa yang ada
di perkotaan perlu diperkenalkan dengan keadaan lingkungan kota, seperti
13

Ibid., h. 196-197
Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2009, h. 39-42
15
Ibid., h. 39
16
Ibid
14

11

keramaian dan rambu-rambu lalulintas’ tata cara dan pelayanan jasa bank,
kantor pos dan lain sebagainya. Demikian juga untuk sekolah yang berada
di daerah pantai, perlu diperkenalkan bagaimana kehidupan di pantai,
seperti mengenal tambak, kehidupan nelayan, koperasi, pembibitan udang
dan lain sebagainya.
2. Relevansi dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun yang akan
datang. Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi
yang sedang berkembang. Selain itu juga apa yang diajarkan kepada siswa
harus bermanfaat untuk kehidupan siswa di masa yang akan datang.
Misalkan untuk masa yang akan datang penggunaan komputer dan internet
akan menjadi salah satu kebutuhan maka dengan demikian bagaimana cara
memanfaatkan komputer dan bagaimana cara mendapatkan informasi dari
internet sudah harus diperkenalkan kepada siswa.
3. Relevansi dengan tuntutan dunia pekerjaan. Artinya, apa yang diajarkan di
sekolah harus mampu memenuhi dunia kerjaan.17
Untuk memenuhi prinsip relevansi ini maka perancang kurikulum
terlebih dahulu harus mengetahui dan memahami kondisi masyarakat, baik
dari segi lapangan pekerjaan yang dibutuhkan maupun tingkat kemajuan
masyarakat dari segi ilmu dan pengetahuan.
b. Prinsip Fleksibilitas
Apa yang diharapkan dalam kurikulum ideal kadang-kadang tidak
sesuai dengan kondisi kenyataan yang ada. Bisa saja ketidaksesuaian itu
ditunjukkan oleh kemampuan guru yang kurang, latar belakang atau
kemampuan siswa yang rendah atau mungkin sarana dan prasana di
sekolah yang tidak memadai. Kurikulum harus bersifat lentur atau
fleksibel. Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan
kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit
17

Ibid., h. 39-40

12

diterapkan.18 Prinsip ini harus diperhatikan dalam merancang dan
membuat kurikulum karena masih cukup banyak unsur-unsur dalam
kurikulum tersebut yang tidak memenuhi standar ideal. Contohnya,
kondisi sarana dan prasarana lembaga pendidikan di Indonesia dewasa ini
terlihat jelas kurang memadai. Di beberapa tempat bahkan bangunan
sekolah yang sudah rusakpun tetap harus digunakan karena tidak ada
tempat lain. begitu juga dengan sarana pendukung lainnya seperti
perpustakaan, labor, lapangan dan perlengkapan olahraga, ruang kesehatan
siswa, dan lain-lain.
c. Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga saling
keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai
jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi
pelajaran perlu di jaga agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu
materi pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah dipelajari dan
dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya.
Prinsip ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga agar tidak terjadi
pengulangan-pengulangan materi pelajaran yang memungkinkan program
pengajaran tidak efektif dan efisien, akan tetapi juga untuk keberhasilan
siswa dalam menguasai materi pelajaran pada jenjang pendidikan
tertentu.19
Dengan demikian agar tidak terjadi pengulangan, maka

setiap

perancang kurikulum untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan
saling bekerja sama agar kontinuitas tetap terjaga.
d. Prinsip Efektifitas
18

Ibid., h. 40
Ibid., h. 41

19

13

Prinsip efektifitas, berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum
dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
Terdapat dua sisi efektifitas dalam pengembangan kurikulum yaitu: (1)
Efektifitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas
mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. (2) Efektifitas kegiatan
siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.

20

Efektifitas guru tentu saja

di ukur dari keberhasilan guru menyelesaikan program pengajaran yang
telah dirancang. Keberhasilan siswa tentu saja di ukur dari tujuan
pelajaran yang tercapai.
e. Prinsip Efisiensi
Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga,
waktu, suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.
Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila
dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat
memperoleh hasil yang maksimal. Betapun bagus dan idealnya suatu
kurikulum, manakala menuntut

peralatan, sarana,

prasarana sangat

khusus serta mahal harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar
untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan
dalam segala keterbatasan.21
4. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Perspektif Filsafat Pendidikan
Islam
Beranjak dari keempat aspek utama kurikulum, yang dikemukakan
oleh Hasan Langgulung di atas maka pengembangan kurikulum berkenaan
pada aspek-aspek tersebut.

20

Ibid., h. 42
ibid

21

14

a.

Tujuan Pendidikan
Berbicara tentang tujuan pendidikan, adalah berbicara tentang tujuan
hidup, yaitu tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat
yang digunakan pada oleh manusia untuk memelihara kelanjutan
hidupnya (survival), baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.
Manusia, dalam usahanya memelihara kelanjutan hidupnya mewariskan
berbagai nilai budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Dengan
demikian masyarakat bisa hidup terus. Tetapi bukan hanya itu fungsi
pendidikan. Fungsi lainnya adalah pengembangan potensi-potensi yang
ada pada individu-individu supaya dapat dipergunakan oleh dirinya sendiri
dan seterusnya oleh masyarakat untuk menghadapi tantangan-tantangan
millieu yang selalu berubah. Seperti pengembangan akal kanak-kanak di
sekolah menyebabkan ia dapat mencipta alat-alat modern untuk
mengatasi, misalnya, banjir, gempa bumi, udara dingin, angin beliung,
gunung berapi, menempuh jarak jauh dan lain-lain dengan mencipta
tekhnologi modern untuk menanggulangi masalah tersebut.22
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa tujuan pendidikan adalah
untuk mempertahankan dan memelihara hidup manusia. Berdasarkan hal
tersebut maka tujuan pendidikan hendaklah bertitik tolak dari tujuan hidup
manusia. Pertanyaan selanjutnya yang harus dicari jawabannya adalah
”Apakah tujuan hidup manusia?.
Orang-orang Sparta , salah satu kerajaan Yunani lama berpendapat
bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti pada negara, untuk memperkuat
negara. Pengertian kuat menurut orang-orang Sparta adalah kekuatan
fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan orang-orang Sparta adalah sejajar
dengan tujuan hidup mereka yaitu memperkuat, memperindah dan
memperteguh jasmani. Mereka ciptakan berbagaimacam olah raga yang

22

Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, Pustaka Al-Husna Baru, Jakarta, 2003, h.

297

15

sampai sekarangpun dipraktekkan dimana-mana seperti, renang, lari,
loncat tinggi dan jauh, lari merentas desa dan lain-lain. Pendeknya
berbakti untuk negara, kadang-kadang mengorbankan nyawa adalah
tujuan hidup mereka. Oleh sebab itu orang yang kuat jasmaninya bisa
berkelahi dengan harimau dan singa, disanjung-sanjung, dianggap
pahlawan oleh masyarakat Sparta.23
Ahmad Tafsir dalam bukunya menjelaskan bahwa tujuan pendidikan
akan sama dengan gambaran manusia terbaik menurut orang tertentu.
Mungkin saja seseorang tidak mampu melukiskan

dengan kata-kata

tentang bagaimana melukiskan manusia yang baik

yang ia maksud.

Sekalipun demikian, tetap saja ia menginginkan tujuan pendidikan itu
manusia yang terbaik. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan manusia.
Manusia menginginkan semua manusia, termasuk anak keturunannya
menjadi manusia yang baik. Sampai di sini tidak ada perbedaan antara
seseorang dengan orang lain. Perbedaan akan muncul tatkala merumuskan
manusia yang baik itu.24
Kualitas baik seseorang ditentukan oleh pandangan hidupnya. Bila
pandangan hidupnya berupa agama, maka manusia yang baik itu adalah
manusia yang baik menurut agamanya. Bila pandangan hidupnya suatu
mazhab filsafat, maka manusia yang baik itu adalah manusia yang baik
menurut filsafatnya itu. Bila pandangan hidupnya berupa warisan nilai
dari nenek moyang maka manusia yang baik itu adalah manusia yang baik
menurut pandangan nenek moyangnya. Yang paling banyak terdapat di
dunia adalah campuran dari ketiga sumber nilai tersebut.25
Dengan demikian, tujuan pendidikan tersebut sangat tergantung pada
pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang beraneka ragam
23

Ibid, h. 297-298
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam: Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu,
Memanusiakan manusia, remaja Rosdakarya, Bandung, 2010, h. 76
25
Ibid, h. 76-77
24

16

menyebabkan muncul perbedaan-perbedaan signifikan dalam menentukan
dan merumuskan tujuan pendidikan.
Islam memberikan jawaban yang tegas dalam hal ini, seperti firman
Allah; surat Adz Dzaariyaat ayat 56.

      

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. (Q.S: 51: 56).26
Menyembah atau ”ibadah” dalam penegrtiannya yang luas berarti
mengembangkan sifat-sifat Tuhan pada diri manusia menurut petunjukpetunjuk Allah. Apakah sifat-sifat Allah itu?. Yaitu sifat dua puluh, tetapi
diberi nama 99 nama yang disebut Asma Al-Husna yaitu nama-nama
Allah yang baik.27

b.

Pengetahuan dalam Pendidikan
Pengetahuan atau mata pelajaran dalam kurikulum menempati tempat
yang penting untuk memberi jawaban terhadap apa yang dikerjakan untuk
menciptakan manusia yang dicita-citakan oleh pembuat kurikulum itu.
Pertanyaan penting berkenaan pengetahuan ini adalah: apakah
pengetahuan itu?.

Pengetahuan seperti apakah yang akan diajarkan

kepada kanak-kanak?. Dari mana sumber pengetahuan itu?. Perlukan
pengetahuan itu banyak atau sedikit?. Perlukah ia mendalam atau luas?.
26

Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemah; Mujamma’ al Malik Fahd Li
Tiba’at al-Mushaf Asy-Syarif Madinah Munawwarah, P.O Box 6262, Kerajaan Saudi Arabia, h. 862
27

Ibid, h. 199

17

Kriteria apakah yang harus digunakan untuk memilih pengetahuanpengetahuan yang banyak itu untuk dimasukkan dalam kurikulum?. Apa
bedanya pengetahuan dan keterampilan?. Perlukah keduanya dipelajari
dengan serentak?.

Dan berbagai macam pertanyaan bisa diajukan

mengenai pengetahuan itu.
Untuk menjawab salah satu dari pertanyaan di atas, misalnya, apakah
pengetahuan itu?. Bermacam-macam jawaban yang kita peroleh dari
berbagai ahli-ahli falsafah. Plato berpendapat bahwa segala benda yang
kita saksikan sehari-hari ini tidak lain dari pada pantulan benda hakiki
yang ada di alam utopia yang diberinya nama ”bentuk” (form), sedangkan
pantulan yang kita saksikan sehari-hari disebut ”materi” (mater). Dengan
kata lain segala sesuatu terdiri dari bentuk dan materi, bentuk yang tidak
berubah berada di alam utopia dan materi yang selalu berubah dan berada
di alam nyata. Bentuk itulah hakikat, oleh sebab ia tidak berada di alam
nyata maka di sebut di balik alam. Jadi hakikat bagi plato bersifat
transendental.28
Berdasar pada konsepsi tentang hakekat ini maka pengetahuan,
menurut Plato dan kemudian oleh Deskrates dan Kant, pada dasarnya
bebas dari pengamatan indera dan sudah tentu memabawa kepada suatu
pendapat bahwa pengetahuan adalah pemberian Tuhan, wujud di sana dan
bebas dari orang yang mengetahui, tidak bergantung pada kondisi
makhluk yang memiliki pengetahuan itu. Inilah salah satu mazhab dalam
falsafah Eropa Barat tentang pengetahuan yang disebut dengan Mazhab
Rasionalisme.29
Bagaimana pengetahuan itu dipandang dari segi Islam. Dalam alQur’an disebut bahwa agama Islam adalah agama fitrah. Firman Allah
SWT dalam al Qur’an surat Ar Ruum ayat 30.
28

Ibid, h. 302
Ibid.

29

18

         

      
        
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui. (QS: 30; 30).30
Ini berarti agama yang diturunkan oleh Allah melalui wahyu kepada
nabi-nabi-Nya adalah sesuai dengan fitrah atau sifat-sifat semula jadi
manusia.
Ibnu Khaldun juga membagi ilmu itu kepada dua golongan besar,
yaitu ilmu aqal (akal), ilmu naqal (wahyu). Imam al-Ghazali membagi
ilmu kepada Laduni dan Insani. Sedangakan al-Attas membaginya kepada
ilmu fardhu ’ain dan ilmu fardhu kifayah.31
c.

Metodologi Pengajaran
As-Syaibani sebagaimana yang dikutip oleh Hasan Langgulung bahwa
metodologi dalam pendidikan Islam cukup kaya terutama pada zaman
keemasan Islam yang dibuktikan oleh filosof-filosof Islam terkenal seperti
al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Maskawaih, al-Mawardi, Ibnu Sina, Ibnu Rusd,
Alghazali, Ibnu Majah, Ibnu Tufail, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Metodemetode pengajaran yang selalu kita dapati pada mereka misalnya metode
lingkaran (halaqah),

metode mendengar, metode membaca, metode

ilmiah, metode hafalan, metode pemahaman, metode lawatan dan lain30

Tim Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemah; ibid, h. 645
Hasan Langgulung, Op. Cit, h. 305

31

19

lain. Lagi dengan harus mempertimbangkan suasana dan keadaan
tekhnologi pada waktu dahulu itu. Metode imla’ (diktation) dan hafalan,
perlu sekali pada waktu itu, sebab belum ada percetakan seperti sekarang
ini. Tentang metode halaqah (lingkaran) ternyata penemuan-penemuan
psikologi mutakhir menunjukkan bahwa cara ini sangat efektif kalau
digunakan membahas suatu topik seperti kita lihat dalam konferensikonferensi, seminar dan lain-lain. Ingat saja konferensi meja bundar
(KMB). Sebab dalam bentuk lingkaran itu setiap peserta merasa setara
dengan

peserta

lain.

Jadi

sekatan-sekatan

(psikological

barrier)

dihilangkan.32
d.

Penilaian
Penilaian sebenarnya berhubungan erat dengan tujuan pendidikan.
Penilaian berusaha menentukan apakah tujuan pendidikan dicapai atau
tidak. Misalnya, kalau kita latih seseorang menyetir mobil, maka
penilaiannya adalah ujian menyetir yang kita berikan untuk mengetahui
apakah orang tersebut sudah pandai menyetir atau belum. Kalau dia sudah
tidak membuat kesalahan dalam starter, memberi isyarat lampu dan lainlain, maka ia diluluskan, tapi kalau masih ada kesalahan bahkan
melanggar tiang lampu maka ia tidak diluluskan. Dengan asumsi bahwa
kalau ia tidak lagi membuat kesalahan, tentu ia akan selamat dan
jalananpun akan aman. Inilah salah satu fungsi penilaian, yaitu memilih
(selection) orang-orang berdasar kesanggupannya untuk mencapai tujuantujuan pendidikan. Kalau tujuan pendidikan untuk mencari kerja maka
hanya orang-orang yang mampu saja yang diluluskan memegang kerja
itu, yang tidak jangan diberi atau dilatih lagi sampai ia sanggup.33

32

Ibid311
Ibid., h. 312

33

20

Fungsi
(reinforcement)

penilaian
bagi

kedua

adalah

pelajar-pelajar.

sebagai

alat

peneguhan

Yang saya maksud dengan

peneguhan adalah ganhjaran bagi pekerjaan yang telah dilakukannya.
Psikologi selalu berbicara tentang ganjaran untuk mengekalkan tingkah
laku yang diingini.34
Tujuan pendidikan Islam mempunyai keistimewaan yaitu untuk
menyembah dan berbakti kepada Allah sepanjang hayat maka kriteria
penilaian juga harus berbeda dengan pendidikan yang didasarkan atas
falsafah-falsafah lainnya. Bukan sekedar lulus ujian saja, walaupun ini
juga diharuskan, tapi juga harus dirumuskan pula kebijaksanaan (wisdon)
dan budi mulai (virtues) sebagai kriteria.35 Dengan demikian penilaian
dalam pendidikan Islam harus bertitik tolak pada aspek pengabdian
kepada Allah.

C. Penutup,
1. Kesimpulan
Filsafat merupakan landasan fundamental dalam pendidkan memegang
peranan penting dalam proses pengembangan kurikulum. Kurikulum merupakan
salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan.
Dewasa ini, pentingnya peran dan fungsi kurikulum memang sudah sangat
disadari dalam sistem pendidikan nasional dikarenakan kurikulum merupakan alat
yang krusial dalam merealisasikan program pendidikan baik formal maupun non
34

ibid
Ibid., 313

35

21

formal, sehingga gambaran sistem pendidikan dapat terlihat jelas dalam
kurikulum tersebut.
Beberapa pengertian kurikulum yang dikemukakan para ahli terdapat
perbedaan yang cukup mendasar yaitu ada yang menekankan pada materi atau
mata pelajaran dan ada juga yang menekankan pada proses pengalaman belajar
peserta didik.
Beranjak dari keempat aspek utama kurikulum, yang dikemukakan oleh
Hasan Langgulung maka pengembangan kurikulum mengacu pada aspek-aspek:
(1) Tujuan dalam Pendidikan, (2) Pengetahuan dalam Pendidikan, (3) Metodologi
Pengajaran, (4) Penilaian.
2. Saran
Penulis mengharapkan kritik dan saran dari rekan-rekan seperjuangan
dan seperguruan di kampus tercinta, demi perbaikan

makalah ini.

Selanjutnya, teristimewa buat Bapak Dosen pembimbing, sangat

penulis

nantikan curahan ilmu dan saran bagi kesempurnaan makalah ini ke depan.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua sebagai pembuka
cakrawala dan wawasan keilmuan kita dan juga khzanah ilmu pengtahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam: Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu,
Memanusiakan manusia, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2010
Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, Pustaka Al-Husna Baru, Jakarta,
2003.
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam,; di Sekolah,
Madrasah dan Perguruan Tinggi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.

22

Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi (Konsep, Karakteristik dan
Implementasi), , Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003
Nana Syaodih Sukamadinata, Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek, Remaja
Rosdakarya, 1997
Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Rosdakarya, Bandung,
2008.
Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemah; Mujamma’ al Malik
Fahd Li Tiba’at al-Mushaf Asy-Syarif Madinah Munawwarah, Kerajaan
Saudi Arabia.
Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Telaah Sistem Pendidikan
dan pemikiran Para Tokohnya, Kalam Mulia, Jakarta, 2009.
S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, Bumi Aksara, Jakarta, 1994.
Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung, Mdia IPTEK, 1994.
Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Kencana Prenada Media Grup,
Jakarta, 2009.
Zakiyah Darajat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi aksara, Jakarta, 1996.

23

Dokumen yang terkait

Dokumen baru