BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Kaji Ulang Sistem Drainase Untuk Mengatasi Banjir Genangan Di Perumahan Villa Johor, Kec. Medan Johor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum

  Banjir merupakan permasalahan umum terjadi di sebagian wilayah Indonesia, terutama di daerah padat penduduk misalnya di kawasan perkotaan.Oleh karena itu, kerugian yang ditimbulkannya besar baik dari segi materi maupun kerugian jiwa.Maka, sudah selayaknya permasalahan banjir perlu mendapatkan perhatian yang serius karena merupakan permasalahan di masyarakat. Dengan anggapan bahwa permasalahan banjir merupakan masalah umum, sudah semestinya dari berbagai pihak perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mengakibatkan banjir dan sedini mungkin diantisipasi, untuk memperkecil kerugian yang ditimbulkan.(Robert J. Kodoatie, “Banjir”)

  Pengendalian banjir merupakan suatu yang kompleks. Dimensi rekayasanya melibatkan banyak disiplin ilmu teknik antara lain: hidrologi, hidrolika, erosi DAS, teknik sungai, morfologi & sedimentasi sungai, rekayasa sistem pengendalian banjir, sistem drainase kota, bangunan air, dll. Di samping itu, suksesnya program pengendalian banjir juga tergantung dari aspek lainnya yang menyangkut sosial, ekonomi, lingkungan, institusi, hukum, dll. Pengendalian banjir merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya air yang lebih spesifik untuk mengendalikan debit banjir umumnya melalui dam – dam pengendali banjir, atau peningkatan sistem pembawa (sungai, drainase) dan pencegahan hal –hal yang berpotensi merusak dengan cara mengelola tata guna lahan dan daerah banjir / flood plains. (Robert J. Kodoatie, “ PSDA

  Terpadu”).

2.2 Pengertian Banjir

  2.2.1 Definisi Banjir

  Banjir adalah suatu kondisi di mana tidak tertampungnya air dalam saluranpembuang (palung sungai) atau terhambatnya aliran air di dalam saluran pembuang, sehingga meluap menggenangi daerah (dataran banjir) sekitarnya.(Suripin,”SistemDrainase Perkotaan yang Berkelanjutan”).

  2.2.2 Faktor Penyebab Banjir

  Banyak faktor menjadi penyebab terjadinya banjir.Namun secara umum penyebab terjadinya banjir dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori, yaitu banjir yang disebabkan oleh sebab-sebab alami dan banjir yang diakibatkan oleh tindakan manusia. Yang termasuk sebab-sebab alami di antaranya adalah :

  1. Curah hujan

  2. Pengaruh Fisiografi

  3. Erosi dan Sedimentasi

  4. Menurunnya Kapasitas Sungai

  5. Pengaruh Air Pasang

  6. Kapasitas Drainase Yang Tidak Memadai Sedangkan sebab-sebab yang timbul akibat faktor manusia adalah :

  1. Menurunnya fungsi DAS di bagian hulu sebagai daerah resapan

  Kemampuan DAS, khusunya di bagian hulu untuk meresapkan air / menahan air hujan semakin berkurang oleh berbagai sebab, seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang kurang tepat, perluasan kota, dan perubahan tata guna lahan lainnya. Hal tersebut dapat memperburuk masalah banjir karena dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas banjir.

  2. Kawasan kumuh Perumahan kumuh yang terdapat di sepanjang tepian sungai merupakan penghambat aliran. Luas penampang aliran sungai akan berkurang akibat pemanfaatan bantaran untuk pemukiman kumuh warga. Masalah kawasan kumuh dikenal sebagai faktor penting terhadap masalah banjir daerah perkotaan.

  3. Sampah Ketidakdisiplinan masyarakat yang membuang sampah langsung ke sungai bukan pada tempat yang ditentukan dapat mengakibatkan naiknya muka air banjir.

  4. Bendung dan bangunan lain Bendung dan bangunan lain seperti pilar jembatan dapat meningkatkan elevasi muka air banjir karena efek aliran balik (backwater).

  5. Kerusakan bangunan pengendali banjir Pemeliharaan yang kurang memadai dari bangunan pengendali banjir sehingga menimbulkan kerusakan dan akhirnya menjadi tidak berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir.

  6. Perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat

  Beberapa sistem pengendalian banjir memang dapat mengurangi kerusakan akibat banjir kecil sampai sedang, tetapi mungkin dapat menambah kerusakan selama banjir- banjir yang besar.Sebagai contoh bangunan tanggul sungai yang tinggi.Limpasan pada tanggul pada waktu terjadi banjir yang melebihi banjir rencana dapat menyebabkan keruntuhan tanggul, hal ini menimbulkan kecepatan aliran air menjadi sangat besar yang melalui bobolnya tanggul sehingga menimbulkan banjir yang besar.(Robert J.Kodoatie,

  Sugiyanto, “Banjir”).

2.2.3 Sistem Pengendalian Banjir (Flood Control Sistem)

  Sistem pengendalian banjir pada suatu daerah perlu dibuat dengan baik dan efisien, memperhatikan kondisi yang ada dan pengembangan pemanfaatan sumber air mendatang. Pada penyusunan sistem pengendalian banjir perlu adanya evaluasi dan analisis atau memperhatikan hal-hal yang meliputi antara lain : 1) Analisis cara pengendalian banjir yang ada pada daerah tersebut / yang sedang berjalan.

  2) Evaluasi dan analisis daerah genangan banjir, termasuk data kerugian akibat banjir. 3) Evaluasi dan analisis tata guna tanah di daerah studi, terutama di daerah bawah / dataran banjir.

  4) Evaluasi dan analisis daerah pemukiman yang ada maupun perkembangan yang akan datang.

  5) Memperhatikan potensi & pengembangan sumber daya air mendatang. 6) Memperhatikan pemanfaatan sumber daya air yang ada termasuk bangunan yang ada.

  Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas dapat direncanakan sistem pengendalian banjir dengan menyesuaikan kondisi yang ada, dengan berbagai cara mulai dari dari hulu sampai hilir yang mungkin dapat dilaksanakan. Cara pengendalian banjir dapat dilakukan secara struktur dan non struktur. (Robert J. Kodoatie, “ PSDA

  Terpadu”).

2.3 Drainase Perkotaan

2.3.1. Defenisi Drainase

  Drainase berasal dari kata drainage yang artinya mengeringkan atau mengalirkan.Drainase merupakan sebuah sistem yang dibuat untuk menangani persoalan kelebihan air, baik kelebihan air yang berada di atas permukaan tanah maupun air yang berada di bawah permukaan tanah.Kelebihan air dapat disebabkan intensitas hujan yang tinggi atau akibat durasi hujan yang lama.Secara umum, sistem drainase dapat didefenisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk menhurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.Dirunut dari hulunya, bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain), dan badan air penerima (receiving waters).Di sepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya, seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando, dan stasiun pompa.Pada sistem lengkap, sebelum masuk badan air penerima, air diolah dahulu di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), khususnya untuk sistem tercampur. Hanya air yang telah memenuhi baku mutu tertentu yang dimasukkan ke badan air penerima, sehingga tidak merusak lingkungan.

2.3.2. Jenis Drainase

  Drainase dapat dikelompokkan berdasarkan :

  • Cara terbentuknya
  • Sistem pengalirannya
  • Tujuan/sasaran pembuatannya
  • Tata letaknya
  • Fungsinya • Konstruksinya

  Drainase berdasarkan cara terbentuknya

  Jenis drainase ditinjau berdasarkan dari cara terbentuknya, dapat dikelompokkan menjadi:

1. Drainase alamiah (natural drainage) Drainase alamiah terbentuk melalui proses alamiah yang berlangsung lama.

  Saluran drainase terbentuk akibat gerusan air sesuai kontur tanah. Drainase alamiah ini terbentuk pada kondisi tanah yang cukup kemiringannya, sehingga air akan mengalir dengan sendirinya, masuk ke sungai-sungai. Pada tanah yang cukup poreous, air yang ada di permukaan tanah akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi). Air yang meresap berubah menjadi aliran antara sub surface flow mengalir menuju sungai, dan dapat juga mengalir masuk ke dalam tanah (perkolasi) hingga ke air tanah yang kemudian bersama-sama dengan air tanah mengalir sebagai aliran air tanah (ground water flow) menjuju sungai. Umunya drainase alamiah ini berupa sungai beserta anak-anak sungainya yang membentuk suatu jaringan alur sungai.

Gambar 2.1 Terbentuknya Drainase Alamiah

2. Drainase buatan (artificial drainage)

  Drainase buatan adalah sistem yang dibuat dengan maksud tertentu dan merupakan hasil rekayasa berdasarkan hasil hitungan-hitungan yang dilakukan untuk upaya penyempurnaan atau melengkapi kekurangan sistem drainase alamiah.Pada sistem drainase buatan memerlukan biaya-biaya baik pada perencanaannya maupun pada pembuatannya.

  

Gambar 2.2Drainase Buatan

Drainase berdasarkan sistem pengalirannya

  Jenis drainase berdasarkan dari sistem pengalirannya, dapat dikelompokkan menjadi:

1. Drainase dengan sistem jaringan

  Drainase dengan sistem jaringan adalah suatu sistem pengeringan atau pengaliran air pada suatu kawasan yang dilakukan dengan mengalirkan air melalui sistem tata saluran dengan bangunan-bangunan pelengkapnya.

2. Drainase dengan sistem resapan

  Drainase dengan sistem resapan adalah sistem pengeringan atau pengaliran air yang dilakukan dengan meresapkan air ke dalam tanah.Cara resapan ini dapat dilakukan langsung terhadap genangan air di permukaan tanah ke dalam tanah atau melalui sumuran/saluran resapan.Sistem resapan ini sangat menguntungkan bagi usaha konservasi air.

  Drainase berdasarkan tujuan/sasarannya

  Jenis drainase berdasarkan dari tujuan pembuatannya, dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Drainase perkotaan Drainase perkotaan adalah pengeringan atau pengaliran air dari wilayah perkotaan ke sungai yang melintasi wilayah perkotaan tersebut sehingga wilayah perkotaan tidak digenangi air.

  2. Drainase daerah pertanian Drainase daerah pertanian adalah pengeringan atau pengaliran air di daerah pertanian baik di persawahan maupun daerah sekitarnya yang bertujuan untuk mencegah kelebihan air agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu.

  3. Drainase lapangan terbang Drainase lapangan terbang adalah pengeringan atau pengaliran air di kawasan lapangan terbang terutama pada runway (landasan pacu) dan

  taxiway sehingga kegiatan penerbangan baik take off, landing, maupun taxing tidak terhambat.Pada lapangan terbang drainase juga bertujuan untuk

  keselamatan terutama pada saat landing dan take off yang apabila tergenang air dapat mengakibatkan tergelincirnya pesawat terbang.

  4. Drainase jalan raya Drainase jalan raya adalah pengeringan atau pengaliran air di permukaan jalan yang bertujuan untuk menghindari kerusakan pada badan jalan dan menghindari kecelakaan lalu lintas.Drainase jalan raya biasanya berupa saluran di kiri kanan jalan serta gorong-gorong yang melintas di bawah badan jalan.

  5. Drainase jalan kereta api Drainase jalan kereta api adalah pengeringan atau pengaliran air di sepanjang jalur kereta api yang bertujuan untuk menghindari kerusakan pada jalur kereta api.

  6. Drainase pada tanggul dan dam Drainase pada tanggul dan dam adalah pengaliran air di derah sisi luar tanggul dan dam yang bertujuan untuk mencegah keruntuhan tanggul dan dam akibat erosi rembesan aliran air (piping).

  7. Drainase lapangan olahraga Drainase lapangan olahraga adalah pengeringan atau pengaliran air pada suatu lapangan olahraga seperti lapangan bola kaki dan lainnya bertujuan agar kegiatan olahraga tidak terganggu meskipun dalam kondisi hujan.

  8. Drainase untuk keindahan kota

  Drainase untuk keindahan kota adalah bagian dari drainase perkotaan, namun pembuatannya lebih ditujukan pada sisi estetika seperti tempat rekreasi dan lainnya 9. Drainase untuk kesehatan lingkungan

  Drainase untuk kesehatan lingkungan merupakan bagian dari drainase perkotaan, di mana pengeringan dan pengaliran air bertujuan untuk mencegah genangan yang dapat menimbulkan wabah penyakit.

10. Drainase untuk penambahan areal

  Drainase untuk penambahan areal adalah pengeringan atau pengaliran air pada daerah rawa ataupun laut yang tujuannya sebagai upaya untuk menambah areal.

  Drainase berdasarkan tata letaknya

  Jenis drainase berdasarkan tata letaknya dapat dikelompokkan menjadi: 1. Drainase Permukaan Tanah (Surface Drainage)

  Drainase Permukaan Tanah adalah sistem drainase yang salurannya berada di atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open chanel flow. Pengaliran air tejadi karena adanya beda tinggi permukaan saluran (slope).

2. Drainase Bawah Permukaan Tanah ( Subsurface Drainage )

  Drainase Bawah Permukaan Tanah adalah sistem drainase yang dialirkan di bawah tanah (ditanam). Saluran drainase bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media dibawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu. Alasan itu antara lain tuntutan artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang, taman dan lain-lain.

  Drainase berdasarkan fungsinya

  Jenis drainase berdasarkan dari fungsinya dapat dikelompokkan menjadi : 1. Drainase single purpose

  Drainase single purpose adalah saluran drainase yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan misalnya air hujan atau air limbah atau lainnya.

  2. Drainase multi purpose Drainase multi purpose adalah saluran drainase yang berfungsi mengalirkan lebih dari satu air buangan baik secara bercampur maupun bergantian misalnya campuran air hujan dan air limbah.

  Drainase berdasarkan kosntruksinya

  Jenis drainase berdasarkan dari konstruksinya dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Drainase saluran terbuka Drainase saluran terbuka adalah sistem saluran yang permukaan airnya terpengaruh dengan udara luar (atmosfir).Drainase saluran terbuka biasanya mempunyai luasan yang cukup dan digunakan untuk mengalirkn air hujan atau air limbah yang tidak membahayakan kesehatan lingkungan dan tidak mengganggu keindahan.

  2. Saluran tertutup Drainase saluran tertutupadalah sistem saluran yang permukaan airnya tidak terpengaruh dengan udara luar (atmosfir).Saluran drainase saluran tertutup sering digunakan untuk mengalirkan air limbah atau air kotor yang mengganggu kesehatan lingkungan dan mengganggu keindahan.

2.3.3 Pola Jaringan Drainase

  Pada sistem jaringan drainase terdiri dari beberapa salura yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu pola jaringan. Dari pola jaringan dapat dibedakan sebagai berikut: 1.

  Pola Siku Pola siku adalah suatu pola di mana saluran cabang membentuk siku-siku pada saluran utama.Dibuat pada daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi dari pada sungai. Sungai sebagai saluran pembuang akhir berada akhir berada di tengah kota.

  Gambar 2.3Pola Jaringan Siku 2.

  Pola Paralel Pola paralel adalah suatu pola di mana saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Dengan saluran cabang (sekunder) yang cukup banyak dan pendek-pendek, apabila terjadi perkembangan kota, saluran-saluran akan dapat menyesuaikan diri.

  Gambar 2.4Pola Jaringan Paralel

  3. Grid Iron Pola grid ikon merupakan pola jaringan drainase untuk daerah dimana sungainya terletak di pinggir kota, sehingga saluran-saluran cabang dikumpulkan dulu pada saluran pengumpulan.

  4. Pola Alamiah Pola alamiah adalah suatu pola yang sama seperti pola siku, hanya beban sungai pada pola alamiah lebih besar. Saluran cabang tidak selalu berbentul siku terhadap saluran utama seperti diperlihatkan pada gambar.

  5. Pola Radial Pola radial adalah pola jaringan drainase yang mengalirkan air dari pusat sumber air memencar ke segala arah.Pola ini sangat cocok pada daerah berbukit.

  Gambar 2.5Pola Jaringan Grid Iron

  Gambar 2.7Pola Jaringan Radial

2.3.4 Bangunan-bangunan Sistem Drainase dan Pelengkapnya

  1. Bangunan-bangunan Sistem Saluran Drainase Bangunan-bangunan dalam sistem drainase adalah bangunan-bangunan struktur dan bangunan-bangunan non struktur.

  a. Bangunan Struktur Bangunan struktur adalah bangunan pasangan disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu. Contoh bangunan struktur adalah : rumah pompa, bangunan tembok penahan tanah, bangunan terjunan, dan jembatan.

  b. Bangunan Non-Struktur Bangunan non struktur adalah bangunan pasangan atau tanpa pasangan, tidak disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu yang biasanya berbentuk siap pasang. Contoh bangunan non struktur adalah : Pasangan (saluran cecil tertutup, tembok talud saluran, manhole, street inlet). Tanpa pasangan (saluran tanah dan saluran tanah berlapisrumput).

  2. Bangunan Pelengkap Saluran Drainase Bangunan pelengkap saluran drainase diperlukan untuk melengkapi suatu sisem saluran untuk fungsi-fungsi tertentu. Adapun bangunan-bangunan pelengkap sistem drainase antara lain :

  a. Catch Basin

  Bangunan di mana air masuk ke dalam sistem saluran tertutup dan air mengalir bebas di atas permukaan tanah menuju catch basin.Catch basin dibuat pada tiap persimpangan jalan, pada tepat-tempat yang rendah, tempat parkir.

  b. Inlet Apabila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya akan dimasukkan ke dalam saluran tertutup yang lebih besar, maka dibuat suatu konstruksi khusus inlet.

  Inlet harus diberi saringan agar sampah tidak masuk ke dalam saluran tertutup.

  c. Headwall Headwall adalah konstruksi khusus pada outlet saluran tertutup dan ujung gorong- gorong yang dimaksudkan untuk melindungi dari longsor dan erosi.

  d. Shipon Shipon dibuat bilamana ada persilangan dengan sungai.Shipon dibangun bawah dari penampang sungai, karena tertanam di dalam tanah maka pada waktu pembuangannya harus dibuat secara kuat sehingga tidak terjadi keretakan ataupun kerusakan konstruksi.Sebaiknya dalam merencanakan drainase dihindarkan perencanaan dengan menggunakan shipon, dan sebaiknya saluran yang debitnya lebih tinggi tetap untuk dibuat shipon dan saluran drainasenya yangdibuat saluran terbuka atau gorong-gorong.

  e. Manhole

  Untuk keperluan pemeliharaan sistem saluran drainase tertutup di setiap saluran diberi manhole pertemuan, perubaan dimensi, perubahan bentuk selokan pada setiap jarak 10-25 m. Lubang manhole dibuat sekecil mungkin supaya ekonomis, cukup, asal dapat dimasuki oleh orang dewasa. Biasanya lubang manhole berdiameter 60 cm dengan tutup dari besi tulang.

  f. Lain-lainnya Meliputi gorong-gorong, bangunan terjun, dan bangunan got miring.

2.3.5 Perencanaan Sistem Drainase

  • Landasan perencanaan

  Perencanaan drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase perkotaan sebagai parasarana kota yang dilandaskan pada konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan. Konsep ini antara lain berkaitan dengan sumber daya air, yang ada prinsipnya adalah mengendalikan air hujan supaya banyak meresap dalam tanah dan tidak banyak terbuang sebagai aliran, antara lain membuat : bangunan resapan buatan, kolam tandon, penataan landscape dan sempadan.

  • Tahap perencanaan

  Tahap perencanaan drainase perkotaan meliputi :

  a. Tahapan dilakukan melalui pembuatan rencana induk, studi kelayakan dan perencanaan detail dengan penjelasan : Studi kelayakan dapat dibuat sebagai kelanjutan dari pembuatan rencana induk.

  Perencanaan detail perlu dibuat sebelum pekerjaan konstruksi drainase dilaksanakan.

  b. Drainase perkotaan di kota raya dan kota besar perlu direncanakan secara menyeluruh melalui tahapan rencana induk.

  c. Drainase perkotaan di kota sedang dan kota kecil dapat direncanakan melalui tahapan rencana kerangka sebagai pengganti rencana induk.

  d. Data dan Persyaratan Perencanaan sistem drainase perkotaan memerlukan data dan persyaratan sebagai berikut : Data primer, merupakan data dasar yang dibutuhkan dalam perencanaan yang diperoleh baik dari lapangan maupun dari pustaka, mencakup :

  1. Data permasalahan dan data kuantitatif pada setiap lokasi genangan atau banjir yang meliputi luas, lama, kedalaman ratarata dan frekuensi genangan.

  2. Data keadaan fungsi, sistem, geometri dan dimensi saluran

  3. Data daerah pengaliran sungai atau saluran meliputi topografi, hidrologi, morfologi sungai, sifat tanah, tata guna tanah dan sebagainya.

  4. Data prasarana dan fasilitas kota yang telah ada dan yang direncanakan. Data sekunder, merupakan data tambahan yang digunakan dalam perencanaan drainase perkotaan yang sifatnya menunjang dan melengkapi data primer, terdiri atas:

  1. Rencana Pengembangan Kota

  2. Geoteknik

  3. Pembiayaan

  4. Kependudukan

  5. Institusi / kelembagaan

  6. Sosial ekonomi

  7. Peran serta masyarakat

  8. Keadaan kesehatan lingkungan pemukiman

2.4 Analisa Hidrologi

  Analisis data hidrologi dimaksudkan untuk memperoleh besarnya debit banjir rencana. Debit banjir rencana merupakan debit maksimum rencana di sungai atau saluran alamiah dengan periode ulang tertentu yang dapat dialirkan tanpa membahayakan lingkungan sekitar dan stabilitas sungai.

  Dalam mendapatkan debit banjir rencana yaitu dengan menganalisis data curah hujan maksimum pada daerah aliran sungai yang diperoleh dari beberapa stasiun hujan terdekat. (Sri Eko Wahyuni, 2000).

2.4.1. Siklus Hidrologi

  Gerakan air yang berdaur dari lautan ke atmosfer dan dari sana karena pencurahan air ke bumi, tempat air itu berkumpul, disebut siklus hidrologi.

  Secara bagan, siklus itu dapat dilihat pada gambar.

  Air menguap dari permukaan samudera akibat energi panas matahari.Laju dan jumlah penguapan bervariasi, terbesar terjadi di dekat equator, di mana radiasi matahari lebih kuat.Uap air adalah murni, karena pada waktu dibawa naik ke atmosfir kandungan garam ditinggalkan.Uap air yang dihasilkan dibawa udara yang bergerak. Dalam kondisi yang memungkinkan, uap air yang akan jatuh kembali sebagai presipitasi berupa hujan dan / atau salju.Presipitasi ada yang jatuh di samudera, di darat, dan sebagian langsung menguap kembali sebelum mencapai ke permukaan bumi.

  Gambar 2.8SiklusHidrologi

  Air menguap dari permukaan samudera akibat energi panas matahari.Laju dan jumlah penguapan bervariasi, terbesar terjadi di dekat equator, di mana radiasi matahari lebih kuat.Uap air adalah murni, karena pada waktu dibawa naik ke atmosfir kandungan garam ditinggalkan.Uap air yang dihasilkan dibawa udara yang bergerak. Dalam kondisi yang memungkinkan, uap air yang akan jatuh kembali sebagai presipitasi berupa hujan dan / atau salju.Presipitasi ada yang jatuh di samudera, di darat, dan sebagian langsung menguap kembali sebelum mencapai ke permukaan bumi.

  Presipitasi yang jatuh di permukaan bumi menyebar ke berbagai arah dengan beberapa cara. Sebagian akan tertahan sementara di permukaan bumi sebagai es atau salju, atau genangan air, yang dikenal dengan simpanan depresi. Sebagian air hujan atau lelehan salju akan mengalir ke saluran atau sungai. Hal ini disebut aliran / limpasan permukaan. Jika permukaan tanah porous, maka sebagian besar akan meresap ke dalam tanah melalui peristiwa yang disebut infiltrasi. Sebagian lagi akan kembali ke atmosfer melalui penguapan dan transpirasi oleh tanaman (evapotranspirasi).

  Di bawah permukaan tanah, pori-pori tanah berisi air dan udara.Daerah ini dikenal sebagai zona kapiler (vadoze zone), atau zona aerasi.Air yang tersimpan di zona ini disebut kelengasan tanah (soil moisture), atau air kapiler. Pada kondisi tertentu air dapat mengalir secara lateral pada zona kapiler, proses ini disebut interflow. Uap air dalam zona kapiler dapat juga kembali ke permukaan tanah, kemudian menguap.

  Kelebihan kelengasan tanah akan ditarik masuk oleh gravitasi dan proses ini disebut drainase gravitasi. Pada kedalaman tertentu, pori-pori tanah atau batuan akan jenuh air. Batas atau zona jenuh air disebut muka air tanah (water table).Air yang tersimpan dalam zona jenuh air disebut air tanah.Air tanah ini bergerak sebagai aliran air tanah melalui batuan atau lapisan tanah sampai akhirnya keluar ke permukaan sebagai sumber air (spring) atau sebagai rembesan ke danau, waduk, sungai, atau laut.

  Air yang mengalir dalam saluran atau sungai dapat berasal dari aliran permukaan atau dari air tanah yang merembes di dasar sungai. Konstribusi air tanah pada aliran sungai disebut aliran dassar (baseflow), sementara total aliran disebut debit (runoff). Air yang tersimpan di waduk, danau, dan sungai disebut air permukaan (surface water).Dalam kaitannya dengan perencanaan drainase, komponen dalam siklus hidrologi yang terpenting adalah aliran permukaan.Oleh karena itu, komponen inilah yang ditangani secara baik untuk menghindari berbagai bencana, khususnya banjir.

2.4.2. Analisis Hujan

2.4.2.1. Hujan Kawasan (Daerah Tangkapan Air = DTA)

  Data hujan yang diperoleh dari alat penakar hujan merupakan hujan yang terjadi hanya pada satu titik atau tempat saja (point rainfall).Mengingat hujan sangat bervariasi terhadap tempat (space), maka unutk kawasan yang luas, satu alat penakar hujan belum dapat menggambarkan hujan wilayah tersebut.Dalam hal ini diperlukan hujan kawasan yang diperoleh dari harga rata-rata curah hujan beberapa stasiun penakar hujan yang ada di dalam dan/atau di sekitar kawasan tertentu.

  Ada tiga macam cara yang umum dipakai dalam menghitung hujan rata-rata kawasan : (1) rata-rata aljabar (2) poligon Thiessen, dan (3) ishohyet.

1) Cara Rata-rata Aljabar (Aritmethic Mean Method)

  Merupakan metode yang paling sederhana dalam perhitungan hujan kawasan.Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa semua penakar hujan mempunyai pengaruh yang setara.Cara ini cocok untuk kawasan dengan topografi rata atau datar, alat penakar tersebar merata atau hampir merata, dan harga individual curah hujan tidak terlalu jauh dari harga rata-ratanya. Hujan kawasan diperoleh dari persamaan:

  1+ 2+ 3+⋯+ ∑ =1

  P = = di mana P , P ,…,P adalah curah hujan yang tercatat di pos penakar hujan 1, 2,…, n

  1 2 n adalah banyaknya pos penakar hujan.

2) Cara Poligon Thiessen

  Metode perhitungan ini berdasarkan rata-rata timbang (weightedaverage) dan memberikan proporsi luasan daerah pengaruh stasiun hujan untukmengakomodasi ketidakseragaman jarak.Daerah pengaruh dibentuk denganmenggambarkan garis-garis sumbu tegak lurus terhadap garis penghubungantara dua stasiun hujan terdekat.Metode ini didasarkan pada asumsi bahwavariasi hujan antara stasiun hujan yang satu dengan lainnya adalah linear dan bahwa sembarang pos dianggap dapat mewakili kawasan terdekat. Prosedur penerapan metode ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut: 1.

  Lokasi pos penakar hujan diplot pada peta DAS. Antar pos dibuat garis lurus penghubung.

  2. Tarik garis tegak lurus di tengah-tengah tiap garis penghubung sedemikian rupa, sehingga membentuk polygon Thiessen. Semua titik dalam satu polygon akan mempunyai jarak terdekat dengan pos penakar yang ada di dalamnya dibandingkan dengan jarak terhadap pos lainnya. Selanjutnya, curah hujan pada pos tersebut dianggap representasi hujan pada kawasan dalam polygon yang bersangkutan.

  Gambar 2.9Metode Poligon Thiessen

  3. Luas areal pada tiap-tiap polygon dapat diukur dengan planimeter dan luas total DAS, A dapat diketahui dengan menjumlahkan semua luasan polygon.

  4. Hujan rata-rata DAS dapat dihitung dengan persamaan berikut :

  1 1+ 2 2+⋯+ ∑ =1

  P = =

  ∑ 1+ 2+⋯+ =1

  3) Metode Ishoyet

  Metode ini merupakan metode yang paling akurat untuk menentukan hujan rata- rata, namun diperlukan keahlian dan pengalaman.Cara ini memperhitungkan secara actual pengaruh tiap-tiap pos penakar hujan. Dengan kata lain, asumsi metode Thiessen yang secara membabi buta menganggap tiap pos penakar mencatat kedalaman yang sama untuk daerah sekitarnya dapat dikoreksi. Metode Ishoyet terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut :

  • Plot data kedalaman air hujan untuk tiap pos penakar hujan pada peta
  • Gambar kontur kedalaman air hujan dengan menghubungkan titik titik yang mempunyai kedalaman air yang sama. Interval ishoyet yang umum dipakai adalah 10 mm.
  • Hitung luas area antara dua garis ishoyet dengan menggunakan planimeter. Kalikan masing-masing luas areal dengan rata-rata hujan antara dua ishoyet yang berdekatan. Hitung hujan rata-rata DAS dengan persamaan berikut:

  1+ 2 1+ 2 1+ 2 1 � �+ 2 � �+⋯ + −1 � �

  2

  2

  2 P = 1+ 2+⋯….+ −1

  atau

  1+ 2 ∑� � ��

2 P =

  ∑

  Metode Ishoyet cocok untuk daerah berbukit dan tidak teratur dengan luas lebih dari

  2 5.000 km .

2.4.2.2.Cara Memilih Metode

  Pemilihan metode mana yang cocok dipakai pada suatu DAS dapat ditentukan dengan mempertimbangkan tiga faktor berikut:

1. Jaring-jaring pos penakar hujan dalam DAS 2.

  Luas DAS 3. Topografi DAS

2.4.3. Analisis Frekuensi dan Probabilitas

  Tujuan analisis frekuensi data hidrologi adalah berkaitan dengan besaran peristiwa-peristiwa ekstrim yang berkaitan dengan frekuensi kejadiannya melalui penerapan distribusi kemungkinan.Data hidrologi dianalisis diasumsikan tidak bergantung (independent) dan terdistribusi secara acak dan bersifat stokastik.

  Frekuensi hujan adalah besarnya kemungkinan suatu besaran hujan disamai atau dilampau. Sebaliknya, kala-ulang (return period) adalah waktu hipotetik di mana hujan dengan suatu besaran tertentu akan disamai atau dilampaui. Dalam hal ini tidak terkandung pengertian bahwa kejadian tersebut akan berulang secara teratur setiap kala ulang tersebut.

  Analisis frekuensi diperlukan seri data hujan yang diperoleh dari pos penakar hujan, baik yang manual maupun yang otomatis. Analisis frekuensi ini didasarkan pada sifat statistik data kejadian yang telah lalu untuk memperoleh probabilitas besaran hujan di masa yang akan datang.

  Dengan anggapan bahwa sifat statistik kejadian hujan yang akan datang masih sama dengan sifat statistik kejadian hujan di masa lalu.

  Ada dua macam seri data yang dipergunakan dalam analisis frekuensi, yaitu: 1.

  Data maksimum tahunan Tiap tahun diambil hanya satu besaran maksimum yang dianggap berpengaruh pada analisis selanjutnya.Seri data seperti ini dikenal dengan seri data maksimum (maximum annual series). Jumlah data dalam seri akan sama panjang dengan data yang tersedia. Dalam suatu tahunan yg mgkn lebih besar dari besaran data maksimum dlm tahun yang tidak diperhitungkan pengaruhnya dalam analisis. Hal ini oleh beberapa pihak dianggap kurang realistis dan menyarankan menggunakan cara seri parsial.

2. Seri Parsial

  Cara ini dengan menetapkan suatu besaran tertentu sebagai batas bawah, selanjutnya semua besaran data yang lebih besar dari batas bawah tersebut diambil dan dijadikan bagian seri data untuk kemudian dianalisis seperti biasa.Pengambilan batas bawah dapat dilakukan dengan sistem peringkat, di mana semua besaran data yang cukup besar diambil, kemudian diurutkan dari besar ke kecil.Data yang diambil untuk dianalisis selanjutnya adalah sesuai panjang data dan diambil dari besaran data yang paling besar. Dalam hal ini dimungkinkan dalam satu tahun data yang diambil lebih dari satu data, sementara tahun yang lain tidak ada data yang diambil.

  Dalam ilmu statistik dikenal beberapa macam distribusi frekuensi dan empat jenis distribusi yang banyak digunakan dalam bidang hidrologi adalah: 1) Distribusi Normal, 2) Distribusi Log Normal, 3) Distribusi Log Pearson III, dan 4) Distribusi Gumbel

1. Distribusi Normal

  Dalam analisis hidrologi distribusi normal banyak digunakan untuk menganalisis frekuensi curah hujan, analisis statistik dari distribusi curah hujan tahunan, debit rata-rata tahunan. Distribusi normal atau kurva normal disebut pula distribusi Gauss .

  X = X + K S T T

  Di mana:

  X T = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T- tahunan, X = nilai rata-rata hitung variat, S = deviasi standar nilai variat, K T = faktor koreksi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang dan tipe modal matematik distribusi peluang yan digunakan untuk analisis peluang. Nilai faktor koreksi K T umumnya sudah tersedia dalam tabel nilai variabel reduksi Gauss (Variabel reduced gauss)

Tabel 2.1 Nilai variabel reduksi Gauss (Variabel reduced gauss)

  No. Periode ulang, T Peluang K T 1 1,001 0,999 -3,05 2 1,005 0,995 -2,58 3 1,01 0,99 -2,33 4 1,05 0,95 -1,64 5 1,11 0,9 -1,28 6 1,25 0,8 -0,84 7 1,33 0,75 -0,67 8 1,43 0,7 -0,52 9 1,67 0,6 -0,25 10 2 0,5 11 2,5 0,4 0,25 12 3,33 0,3 0,52

  13 4 0,25 0,67

  14 5 0,2 0,84

  15 10 0,1 1,28

  16 20 0,05 1,64

  17 50 0,02 2,05 18 100 0,01 2,33 19 200 0,005 2,58 20 500 0,002 2,88 21 10,000,000 0,001 3,09

  Sumber:Buku Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan(Suripin, 2004)

2. Distribusi Log Normal

  Jika variabel acak Y = log X terdistribusi secara normal, maka X dikatakan menikuti distribusi Log Normal. Dinyatakan sebagai model matematik dengan persamaan:

  Y T = Y + K

  T S

  K T =

  т− Y

  Yт = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T- tahunan

  Y = nilai rata-rata hitung variat

  S = deviasi standar nilai variat

  K T = faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang dan tipe model matematik distribusi peluang yang digunakan untuk analisis peluang.

3. Distribusi Log-Pearson III

  Pada situsi tertentu, ternyata kedekatan antara data dan teori tidak cukup kuat untuk menjustifikasi pemakaian distribusi Log Normal.

  Pearson telah mengembangkan serangkaian fungsi probabilitas yang dapat dipakai untuk hampir semua distribusi probabilitas empiris.Tidak seperti konsep yang melatarbelakangi pemakaian distribusi Log Normal untuk banjir puncak, maka distribusi probabilitas ini hampir tidak berbasis teori.

  Tiga parameter penting dalam Log Pearson III yaitu (i) harga rata-rata; (ii) simpangan baku; dan (iii) koefisien kemencengan.

  Berikut ini langkah-langkah penggunaan distribusi Log Pearson Tipe III: o o Ubah ke dalam bentuk logaritmis, X = log X Hitung harga rata-rata n

  log Xi ∑ i = 1 Log X = n

  o Harga simpangan baku

  0.5 n

  2 �log Xi – log X �

  ∑ ⎢ ⎥

  s =

  ⎢ ⎥ n −1

  ⎢ ⎥ ⎣ ⎦

  • K.s

  2

  2

  4

  10

  20

  50

  80

  99

  25 50 100 Koef, G Persentase peluang terlampaui (Percent chance of being exceeded)

  10

  5

  Interval kejadian (Recurrenceinterval), tahun (periode ulang) 10,101 12,5

  o Hitung koefisien kemencengan

Tabel 2.2 Harga K untuk Distribusi Log Pearson III

  Dimana K adalah variabel standar (standardized variabel) untuk X yang besarnya tergantung koefisien kemencengan G.

  X

  Log X T = log

  Hitung logaritma hujan dengan periode ulang T dengan rumus

  3 o

  

3

�n - 1��n - 2�s

  �log Xi – log X �

  = n 1 i

  ∑

  G =

  1 3 -0,667 -0,636 -0,396 0,42 1,18 2,278 3,152 4,051 2,8 -0,714 -0,666 -0,384 0,46 1,21 2,275 3,114 3,973 2,6 -0,769 -0,696 -0,368 0,499 1,238 2,267 3,071 2,889 2,4 -0,832 -0,725 -0,351 0,573 1,262 2,256 3,023 3,8 2 -0,99 -0,777 -0,307 0,609 1,302 2,219 2,192 3,605

  1,8 -1,087 -0,799 -0,282 0,643 1,318 2,193 2,848 3,499 1,6 -1,197 -0,817 -0,254 0,675 1,329 2,163 2,78 3,388 1,4 -1,318 -0,832 -0,225 0,705 1,337 2,128 2,706 3,271 1,2 -1,449 -0,844 -0,195 0,732 1,34 2,087 2,626 3,149 1 -1,588 -0,852 -0,164 0,758 1,34 2,043 2,542 3,022 0,8 -1,733 -0,856 -0,132 0,78 1,336 1,993 2,453 2,891 0,6 -1,88 -0,857 -0,099 0,8 1,328 1,939 2,359 2,755 0,4 -2,029 -0,855 -0,066 816 1,317 1,88 2,261 2,615 0,2 -2,178 -0,85 -0,033 0,83 1,301 1,818 2,159 2,472

  • 2,326 -0,842 0,842 1,282 1,751 2,051 2,326
  • 0,2 -2,472 -0,83 -0,033 0,85 1,258 1,68 1,945 2,178
  • 0,4 -2,615 -0,816 -0,066 0,855 1,231 1,606 1,834 2,029
  • 0,6 -2,755 -0,8 -0,099 0,857 1,2 1,582 1720 1,88
  • 0,8 -2,891 -0,78 -0,132 0,856 1,166 1,448 1606 1,733
  • 1 -3,022 -0,758 -0,164 0,852 1,128 1,366 1,492 1,588
  • 1,2 -2,149 -0,732 -0,195 0,844 1,086 1,282 1,379 1,449
  • 1,4 -2,271 -0,705 -0,225 0,832 1,241 1,198 1,27 1,318

  • 1,6 -2,388 -0,675 -0,254 0,817 1,994 1,116 1,166 1,197
  • 1,8 -2,499 -0,643 -0,282 0,799 1,945 1,035 1,069 1,087
  • 2 -3,605 -0,609 -0,307 0,777 0,752 0,959 0,98 0,99
  • 2,2 -3,705 -0,574 -0,33 0,752 0,753 0,888 0,9 0,905
  • 2,4 -3,8 -0,537 -0,351 0,725 0,754 0,823 0,83 0,832
  • 2,6 -3,889 -0,49 -0,368 0,696 0,755 0,764 0,768 0,769
  • 2,8 -3,973 -0,469 -0,384 0,666 0,756 0,712 0,714 0,714
  • 3 -3,051 -0,42 -0,396 0,636 0,757 0,666 0,666 0,667 Sumber:Buku Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan(Suripin, 2004

4. Distribusi Gumbel

  Faktor probabilitas K untuk harga-harga ekstrim Gumbel dapat dinyatakan dalam persamaan: K =

  Y Tr

  −Y n S n

  Yn = reduced mean yang tergantung jumlah sampel/data n Sn = reduced standar deviation yang juga tergantung pada jumlah sampel/data n Y

  Tr

  = reduced variate, yang dapat dihitung dengan persamaan Y

  Tr

  3

  9 10 0,4952 0,4996 0,5035 0,507 0,51 0,5128 0,5157 0,5181 0,5202 0,522 20 0,5236 0,5252 0,5268 0,5283 0,5296 0,5309 0,532 0,5332 0,5343 0,5353 30 0,5362 0,5371 0,538 0,5388 0,8396 0,5403 0,541 0,5418 0,5424 0,5436 40 0,5436 0,5442 0,5448 0,5453 5458 0,5463 0,5468 0,5473 0,5477 0,5481 50 0,5485 0,5489 0,5493 0,5497 0,5501 0,5504 0,5508 0,5511 0,5515 0,5518 60 0,5521 0,5524 0,5527 0,553 0,5533 0,5535 0,5538 0,554 0,5543 0,5545 70 0,5548 0,555 0,5552 0,5555 0,5557 0,5559 0,5561 0,5563 0,5565 0,5567 80 0,5569 0,557 0,5572 0,5574 0,5576 0,5578 0,558 0,5581 0,5583 0,5585 90 0,5586 0,5587 0,5589 0,5591 0,5592 0,5593 0,5595 0,5596 0,5598 0,5599 100 0,56 0,5603 0,5603 0,5604 0,5606 0,5607 0,5608 0,5609 0,561 0,5611

  8

  7

  6

  5

  4

  2

  = -ln

  1

  N

Tabel 2.3 Nilai Rata-rata dari Reduksi (Yn)

  �

  T r

  �–ln T r −1

  Sumber:Buku Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan(Suripin, 2004)

  Tabel 2.4Reduced Standard Deviation, Sn

  N

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9 10 0,9496 0,9676 0,9833 0,0071 0,0095 0,0206 0,0316 0,0411 0,0493 0,0565 20 1,0628 1,0696 1,0754 1,08611 1,0864 1,0915 1,0961 1,1004 1,1047 1,108 30 1,1124 1,1159 1,1193 1,1226 1,1255 1,1285 1,1313 1,1339 1,1363 1,1388 40 1,1413 1,1436 1,1458 1,148 1,1499 1,1519 1,1538 1,1557 1,1574 1,159 50 1,1607 1,1623 1,1638 1,1658 1,1667 1,1681 1,1696 1,1708 1,1721 1,1734 60 1,1747 1,1759 1,177 1,1782 1,1793 1,1803 1,1814 1,1824 1,1834 1,1844 70 1,1854 1,1863 1,1873 1,1881 1,189 1,1898 1,1906 1,1915 1,1923 1,193 80 1,1938 1,1945 1,1953 1,1959 1,1967 1,1973 1,198 1,1987 1,1994 1,2001 90 1,2007 1,2013 1,202 1,2026 1,2032 1,2038 1,2044 1,2049 1,2055 1,206 100 1,2065 1,2069 1,2073 1,2077 1,2081 1,2084 1,2087 1,209 1,2093 1,2096

  Sumber:Buku Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan(Suripin, 2004)

  Tabel 2.5Reduced Variate, sebagai Fungsi Periode Ulang

  Periode ulang, Recuded variate , Periode ulang,

  Recuded variate , Ytr

  Tr (tahun) Ytr Tr (tahun) 2 0,3668 100 4,6012 5 1,5004 200 4,2969 10 2,251 250 4,5206 20 2,9709 500 4,2149 25 3,1993 1000 4,9087 50 39,028 5000 4,5188 75 43,117 10000 4,2121

  Sumber:Buku Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan(Suripin, 2004)

2.4.4 Koefisien Pengaliran

  Koefisien pengaliran (runoff coefficient) adalah perbandingan antara jumlah air yang mengalir atau melimpas di permukaan tanah (surface runoff) dengan jumlah air hujan yang jatuh dari atmosfir. Nilai koefisien pengaliran berkisar antara 0 sampai dengan 1 dan bergantung dari jenis tanah, jenis vegetasi, karakteristik tataguna lahan dan konstruksi yang ada di permukaan tanah seperti jalan aspal, atap bangunan, dan lain-lain yang menyebabkan air hujan tidak dapat sampai secara langsung ke permukaan tanah sehingga tidak dapat berinfiltrasi maka akan menghasilkan limpasan permukaan hampir 100%. Rumus untuk menentukan koefisien pengaliran sebagai berikut:

  C = Q R

  Keterangan: C = Koefisien pengaliran Q = Jumlah limpasan R = Jumlah curah hujan Besarnya nilai koefisien pengaliran C untuk daerah perumahan berdasarkan peneliti para ahli diperlihatkan pada tabel berikut.

Tabel 2.6 Koefisien Pengaliran C

  Tipe Daerah Aliran Kondisi Koefisien Aliran C Rerumputan Tanah pasir, datar 2% 0,05-0,10

  Tanah pasir, rata-rata, 2-7% 0,10-0,15 Tanah pasir, curam, 7% 0,15-0,20 Tanah gemuk, datar, 2% 0,13-0,17 Tanah gemuk, curam, 7% 0,18-0,22

  Business Daerah kota lama 0,25-0,35 Daerah pinggiran 0,75-0,95

  Perumahan Daerah "single family" 0,30-0,50 "Multi units" terpisah-pisah 0,40-0,60

  "Multi units" tertutup 0,60-0,75 "Suburban" 0,25-0,40 Daerah rumah apartemen 0,50-0,70

  Industri Daerah ringan 0,50-0,80 Daerah berat 0,60-0,90

  Pertamanan, kuburan 0,10-0,25

  Tempat bermain 0,20-0,35

  Halaman kereta api 0,20-0,40

  Daerah yang tidak 0,10-0,30

  Jalan Beraspal 0,70-0,75 Beton 0,80-0,95 Batu 0,70-0,85

  Untuk berjalan naik 0,70-0,85

  Atap 0,70-0,95

  Sumber : Wesli, Drainase Perkotaan

2.4.5 Perhitungan Koefisien Tampungan (Cs)

  Daerah yang memiliki cekungan untuk menampung air hujan realtif mengalirkan lebih sedikit air hujan dibandingkan yang tidak memiliki cekungan sama sekali. Efek tampungan oleh cekungan ini terhadap debit rencana diperkirakan dengan koefisien tampungan yang diperoleh dengan rumus: 2 t

  c C = s

  2t +t

  c d

  Dimana:

  Cs = koefisien tampungan

  Tc = waktu konsentrasi (jam) Td = waktu aliran air mengalir di dalam saluran dari hulu hingga ke tempat pengukuran (jam)

2.4.6 Perhitungan Waktu Konsentrasi

  Waktu konsentrasi (t c ) suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan yang jatuh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS (titik kontrol) setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi. Dalam hal ini diasumsikan DAS adalah luasan atap rumah berdasarkan tipe rumah tersebut.

  Waktu konsentrasi dihitung dengan membedakannya menjadi dua konponen, yaitu:

  o = waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan lahan sampaisaluran

  • t terdekat, dan

  d = waktu perjalanan dari pertama masuk saluran sampai titik keluaran

  • t t c = to + td dimana

  2 n

  menit

  t = x 3,28 x L x o

  � �

  3 √S

  dan t d

  = L s

  (menit) dimana n = koefisien kekasaran Manning, untuk aspal dan beton = 0,013 S = perbandingan dari selisih tinggi antara tempat terjauh dan tempat pengamatan, diperkirakan sama dengan kemiringan rata-rata dari daerah aliran V = kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik) L = Jarak aliran terjauh di atas tanah hingga saluran terdekat (m) Ls = Jarak yang ditempuh aliran di dalam saluran ke tempat pengukuran (m)

60 V

Tabel 2.7 Nilai Kecepatan Berdasarkan Kemiringan Dasar Saluran

  Kemiringan Rata-rata Dasar Saluran (%) Kecepatan Rata-rata (m/detik) Kurang dari 1 0,4 1 – 2 0,66 2 – 4 0,9 4 – 6 1,2 6 – 10 1,5 10 - 15 2,4

  Sumber : Drainase Perkotaan (Wesli, 2008)

2.5 Analisis Intensitas Curah Hujan Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu.

  Sifatumum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya cenderung makin tinggi dan makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya.

  Hubungan antara intensitas, lama hujan dan frekuensi hujan biasanya dinyatakan dalam lengkung Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDF = Intensity-Duration-Frequency Curve).

  Diperlukan data hujan jangka pendek, misalnya 5 menit, 10 menit, 30 menit, 60 menit dan jam-jaman untuk membentuk lengkung IDF. Data hujan jenis ini hanya dapat diperoleh dari pos penakar hujan otomatis.Selanjutnya, berdasarkan data hujan jangka pendek tersebut lengkung IDF dapat dibuat. Untuk menentukan debit banjir rencana (design flood) perlu didapatkan harga suatu intensitas curah hujan terutama bila digunakan metode rasional. Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada suatu kurun waktu di mana air tersebut berkonsentrasi.Analisis intensitas curah hujan ini dapat diproses dari data curah hujan yang telah terjadi pada masa lampau. Untuk menghitung intensitas curah hujan dapat digunakan beberapa rumus empiris sebagai berikut :