Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Wilayah UPT Kesmas Gianyar I Tahun 2016.

(1)

UNIVERSITAS UDAYANA

PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN

PEDULI REMAJA (PKPR) DI WILAYAH

UPT KESMAS GIANYAR I

TAHUN 2016

NI KADEK BUDIASIH NIM. 1420015045

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA 2016


(2)

UNIVERSITAS UDAYANA

PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN

PEDULI REMAJA (PKPR) DI WILAYAH

UPT KESMAS GIANYAR I

TAHUN 2016

NI KADEK BUDIASIH NIM. 1420015045

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA 2016


(3)

UNIVERSITAS UDAYANA

PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN

PEDULI REMAJA (PKPR) DI WILAYAH

UPT KESMAS GIANYAR I

TAHUN 2016

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT

NI KADEK BUDIASIH NIM. 1420015045

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA


(4)

(5)

(6)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur dipanjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) karena atas berkat dan rahmat-Nya dapat diselesaikannya proposal yang berjudul “Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Wilayah UPT Kesmas Gianyar I Tahun 2016” ini tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. dr. Made Ady Wirawan., MPH., selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

2. dr. Desak Putu Yuli Kurniati, M.K.M., selaku kepala bagian peminatan Promosi Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

3. Ni Komang Ekawati, S.Psi. Psi. MPH., selaku pembimbing penulis yang telah menyediakan waktu dalam memberikan masukan, bimbingan dan motivasi bagi penulis hingga proposal ini dapat terselesaikan dengan baik.

4. Kepala UPT Kesmas Gianyar 1, Kepala SMA Negeri 1 Gianyar, Kepala SMA Dwijendra Gianyar yang telah memberikan ijin kepada penulis dalam penelitian ini.

5. Orang tua dan keluarga yang selalu memberikan dukungan, doa, dan semangat selama penyusunan skripsi ini.

6. Sahabat-sahabat penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang senantiasa mengingatkan dan memberikan dukungan untuk dapat segera menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk skripsi ini. Demikian skripsi ini disusun semoga informasi dalam skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Denpasar, Februari 2016


(7)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA PEMINATAN PROMOSI KESEHATAN

SKRIPSI JULI 2016

Ni Kadek Budiasih

PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR) DI WILAYAH UPT KESMAS GIANYAR I

TAHUN 2016

ABSTRAK

Salah satu upaya pemerintah dalam menangani permasalahan remaja adalah dengan pembentukan Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). PKPR di laksanakan oleh UPT Kesmas Gianyar I sejak tahun 2011. Program tersebut dilaksanakan baik di Puskesmas dan kunjungan ke sekolah-sekolah serta telah dibentuk konselor sebaya. Tetapi jumlah kunjungan remaja ke PKPR dengan permasalahan kesehatan remaja pada tahun 2015 hanya 36 remaja. Hal tersebut tidak sebanding dengan permasalahan remaja yang cukup beragam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) oleh remaja yang di bentuk oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia di UPT Kesmas Gianyar I Tahun 2016.

Rancangan Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Total informan dalam penelitian adalah 31 informan dengan 4 focus group discusion (FGD), 4 informan kunci dengan wawancara mendalam dan observasi. Sampel di pilih dengan metodepurposivesampling.

Hasil penelitian ini menunjukkan rendahnya pemanfaatan PKPR karena kurangnya pengetahuan remaja terhadap PKPR dan keberadaan PKPR, tidak meratanya pembentukan konselor sebaya, sikap remaja yang memilih konseling kepada teman dan orang tua, minimnya sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan PKPR dan tidak koordinasi antara pihak sekolah dan puskesmas dalam pelaksanaan program PKPR. Perlu di lakukan sosialisasi dan inovasi bentuk kegiatan PKPR untuk meningkatkan partisipasi remaja dalam pemanfaatan PKPR.


(8)

SCHOOL OF PUBLIC HEALTH UDAYANA UNIVERSITY

HEALTH PROMOTION SKRIPSI, July 2016

Ni Kadek Budiasih

UTILIZATION OF CARE HEALTH SERVICES IN IN THE IN PUBLIC HEALTH UNIT GIANYAR I

2016

ABSTRACT

One of the government's efforts in addressing the problems of adolescence is the formation of Youth Care Health Services Program (PKPR). PKPR have been performed in The Public Health Unit Gianyar I since 2011. The program is implemented both in the building and visits to schools and peer counselors have been established, but the visits adolescents to PKPR with adolescent health problems in 2015 only 36 people and adolescent problems that were found growing. The purpose this study to determine the Utilization the PKPR of adolescents in The Public Health Unit Gianyar I in 2016.

The design of this study was a descriptive qualitative approach. Total informants in the study was 31 students, data was collected 4 focus group discusion (FGD) and 4 depth interviews key informan and observation. Samples were selected by purposive sampling method.

The results showed low utilization of PKPR due to lack of knowledge of adolescents to PKPR and where PKPR, uneven formation of peer counselors, the attitude of teenagers who choose counseling with friends and parents, lack of facilities and infrastructure that support the PKPR and no coordination between the schools and health centers PKPR in the implementation of the program. Need to make socialization and innovation form PKPR activities to increase the participation of young people in PKPR utilization.


(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...ii

HALAMAN JUDUL DENGAN SPESIFIKASI ...iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN ...iv

KATA PENGANTAR ...vi

ABSTRAK ...vii

ABSTRACT...viii

DAFTAR ISI...ix

DAFTAR TABEL...xii

DAFTAR GAMBAR ...xiii

DAFTAR ISTILAH ...xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB I PENDAHULUAN ...Error! Bookmark not defined. 1.1 Latar Belakang...Error! Bookmark not defined. 1.2 Rumusan Masalah...Error! Bookmark not defined. 1.3 Pertanyaan Penelitian ...Error! Bookmark not defined. 1.4 Tujuan Penelitian ...Error! Bookmark not defined. 1.4.1. Tujuan Umum ...Error! Bookmark not defined. 1.4.2. Tujuan Khusus ...Error! Bookmark not defined. 1.5 Manfaat Penelitian ...Error! Bookmark not defined. 1.5.1 Manfaat Teoritis ...Error! Bookmark not defined. 1.5.2 Manfaat Praktis ...Error! Bookmark not defined. 1.6 Ruang Lingkup Penelitian ...Error! Bookmark not defined. BAB II TINJAUAN PUSTAKA...Error! Bookmark not defined. 2.1 Gambaran Umum Remaja ...Error! Bookmark not defined. 2.1.1 Pengertian Remaja ...Error! Bookmark not defined. 2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja...Error! Bookmark not defined. 2.1.3 Permasalahan Remaja ...Error! Bookmark not defined. 2.2 Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) ...Error! Bookmark not

defined.

2.2.1 Pengertian PKPR...Error! Bookmark not defined. 2.2.2 Jenis Kegiatan dalam PKPR...Error! Bookmark not defined.


(10)

2.3 Pengetahuan...Error! Bookmark not defined. 2.3.1 Pengertian Pengetahuan ...Error! Bookmark not defined. 2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi PengetahuanError! Bookmark

not defined.

2.4 Sikap ...Error! Bookmark not defined. 2.5 Persepsi ...Error! Bookmark not defined. 2.5.1 Pengertian Persepsi ...Error! Bookmark not defined. 2.5.2 Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi ...Error! Bookmark not

defined.

2.5.3 Proses Persepsi ...Error! Bookmark not defined. 2.6 Perilaku ...Error! Bookmark not defined. 2.6.1 Pengertian Perilaku ...Error! Bookmark not defined. 2.6.2 Teori Lawrence Green...Error! Bookmark not defined. 2.7 Penelitian Terkait...Error! Bookmark not defined. BAB III KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP ...Error! Bookmark not

defined.

DAN DEFINISI ISTILAH...Error! Bookmark not defined. 3.1 Kerangka Teori ...Error! Bookmark not defined. 3.2 Kerangka Konsep ...Error! Bookmark not defined. 3.3 Definisi Istilah ...Error! Bookmark not defined. BAB IV METODELOGI PENELITIAN...Error! Bookmark not defined. 4.1 Karakteristik Penelitian ...Error! Bookmark not defined. 4.2 Peran Peneliti ...Error! Bookmark not defined. 4.3 Strategi Pengumpulan Data ...Error! Bookmark not defined. 4.3.1 Sampling ...Error! Bookmark not defined. 4.3.2 Metode...Error! Bookmark not defined. 4.4 Analisis data ...Error! Bookmark not defined. 4.4.1 Reduksi data ...Error! Bookmark not defined. 4.4.2 Display atau Sajian Data ...Error! Bookmark not defined. 4.4.3 Verifikasi Data ...Error! Bookmark not defined. 4.5 Strategi Validasi Data ...Error! Bookmark not defined. 4.5.1 Triangulasi Sumber dan Metode ....Error! Bookmark not defined. 4.5.2 Diskusi(Peer Debriefing)...Error! Bookmark not defined.


(11)

4.5.3 Studi Literatur ...Error! Bookmark not defined. BAB V HASIL PENELITIAN ...Error! Bookmark not defined. 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian...Error! Bookmark not defined. 5.1.1 Gambaran Umum UPT Kemas Gianyar I ...Error! Bookmark not

defined.

5.1.2 Gambaran Umum SMA Negeri 1 Gianyar....Error! Bookmark not defined.

5.1.3 Gambaran Umum SMA Dwijendra Gianyar.Error! Bookmark not defined.

5.2 Gambaran Umum Karakteristik Informan...Error! Bookmark not defined.

5.3 Hasil Penelitian...Error! Bookmark not defined. 5.3.1 Pengetahuan Remaja terhadap Program Pelayanan Kesehatan

Peduli Remaja (PKPR)...Error! Bookmark not defined. 5.3.2 Persepsi Remaja Terhadap Program Pelayanan Kesehatan Peduli

Remaja (PKPR)...Error! Bookmark not defined. 5.3.3 Sikap Remaja terhadap Program Pelayanan Kesehatan Peduli

Remaja (PKPR)...Error! Bookmark not defined. 5.3.4 Sumber Informasi...Error! Bookmark not defined. 5.3.5 Sarana dan Prasarana...Error! Bookmark not defined. 5.3.6 DukunganPeer Group, Dukungan Sekolah, Dukungan Petugas

Kesehatan ...Error! Bookmark not defined. BAB VI PEMBAHASAN...Error! Bookmark not defined.

6.1 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan peduli remaja di Wilayah UPT

Kesmas Gianyar I ...Error! Bookmark not defined. 6.2 Pengetahuan Remaja Terhadap Program PKPR...Error! Bookmark not

defined.

6.3 Persepsi Remaja terhadap Program PKPR ...Error! Bookmark not defined.

6.4 Sikap Remaja terhadap Program PKPR ..Error! Bookmark not defined. 6.4 Faktor Pendukung Pemanfaatan PKPR ....Error! Bookmark not defined. 6.5 Faktor Penguat Pemanfaatan PKPR ...Error! Bookmark not defined. BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ...Error! Bookmark not defined.


(12)

7.1 Simpulan...Error! Bookmark not defined. 7.2 Saran ...Error! Bookmark not defined.


(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel... 24

Tabel 5.1 Informan Kelompok Perempuan SMA Negeri 1 Gianyar ... 40

Tabel 5.2 Informan Kelompok Laki-laki SMA Negeri 1 Gianyar... 40

Tabel 5.3 Informan Kelompok Perempuan SMA Dwijendra Gianyar ... 41

Tabel 5.4 Informan Kelompok Laki-laki SMA Dwijendra Gianyar... 41

Tabel 5.5 Karakteristik Key Informan Wawancara mendalam... 42


(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.2 Skema Teori Lawrence Green ...21

Gambar 3.1 Skema Teori Lawrence Green ...24

Gambar 3.2 Kerangka Konsep Penelitian ...25


(15)

DAFTAR ISTILAH

PKPR Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja

WHO World Health Organization

SDKI Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

BKKBN Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Kemenkes RI Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

KTD kehamilan yang tidak diinginkan

NAPZA Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya Depkes RI Departemen Kesehatan Republik Indonesia

UPT Unit Pelaksana Teknis

Kesmas Kesehatan Masyarakat

FGD Focus Group Discussion

DKT Diskusi Kelompok Terarah

HIV Human Imonodeficiency Virus

AIDS Acquired Immune Deficiency Syndome

KEK Kekurangan energi kronis

Puskesmas Pusat kesehatan masyarakat

S1 Sarjana

FKM UI Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

SMP Sekolah Menengah Pertama

SMA Sekolah Menengah Atas

PMS pre menstruasi syndrome

KIA Kesehatan Ibu dan Anak

PKHS Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat

LSE Life Skills Education

KIA Kesehatan Ibu dan Anak

BOK Bantuan Operasional Kesehatan PHBS Pendidikan Hidup Bersih dan Sehat


(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Dokumentasi penelitian Lampiran 2 Lembar Informasi

Lampiran 3 Lembar Persetujuan Menjadi Informan Lampiran 4 PedomanFocus Group Discussion

Lampiran 5 Pedoman Wawancara Mendalam Pemegang Program PKPR Lampiran 6 Pedoman Wawancara Guru BK SMA Negeri 1 Gianyar Lampiran 7 Pedoman Wawancara Guru BK SMA Dwijendra Gianyar Lampiran 8 Pedoman Wawancara Konselor Sebaya

Lampiran 9 Lembar Observasi Lampiran 10 Ethical Clearance Lampiran 11 Surat Izin Penelitian


(17)

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa remaja merupakan masa perubahan atau masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang disertai dengan berbagai perubahan baik secara fisik, psikis maupun secara sosial. Remaja pada masa peralihan tersebut kemungkinan besar dapat mengalami masa kritis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya prilaku menyimpang. Kondisi tersebut apabila di dukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat kepribadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan prilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat (Kusmiran, 2012).

Menurut Survei World Health Organization (WHO) tahun 2010, kelompok usia remaja (10-19 tahun) menempati seperlima jumlah penduduk dunia, 83% di antaranya hidup di negara-negara berkembang. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan di Indonesia pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237,6 juta jiwa, di antaranya 63,4 juta jiwa adalah remaja yang terdiri dari laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa (50,70%) dan perempuan sebanyak 31.279.012 jiwa (49,30%) (Kemenkes, 2015).Masalah yang paling sering dialami remaja adalah masalah kesehatan reproduksi di antaranya yaitu kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), aborsi, infeksi menular seksual (IMS) termasuk Human Immunodeficiency Virus (HIV), kekerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses informasi dan pelayanan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi (BKKBN, 2013).

Hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2008, remaja mengaku mempunyai teman yang pernah melakukan hubungan seksual


(19)

2

pranikah usia 14-19 tahun (perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%), usia 20-24 tahun (perempuan 48,6%, laki-laki 46,5%) (BKKBN, 2011). Berdasarkan Kemenkes RI (2010), jumlah kasus AIDS di Indonesia yang dilaporkan hingga Desember 2010 mencapai 24.131 kasus, di mana 45,48% adalah kelompok remaja. Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2012 tentang kesehatan reproduksi, hanya 35,3% remaja perempuan dan 31,2% remaja laki-laki usia 10-19 tahun yang mengetahui bahwa perempuan dapat hamil dengan satu kali berhubungan seksual. Remaja yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai HIV-AIDS (remaja perempuan 15,8%, remaja laki-laki 16,4%). Remaja yang mengetahui tempat pelayanan informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja (remaja perempuan 7,2%, remaja laki-laki 5,4%) (Kemenkes RI, 2014).

Keterbatasan akses informasi bagi remaja Indonesia mengenai kesehatan reproduksi yang di dalamnya mencakup seksualitas disebabkan karena masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa seksualitas adalah hal yang tabu dan tidak layak untuk dibicarakan secara terbuka. Selain itu, tidak tersedianya informasi yang akurat dan benar tentang kesehatan reproduksi membuat remaja berusaha untuk mencari akses dan melakukan eksplorasi sendiri. Remaja sering kali menjadikan media internet, televisi, majalah dan bentuk media massa lainnya yang dijadikan sumber untuk memenuhi rasa ingin tahu tentang seksualitas dan reproduksi. Oleh karena itu remaja memerlukan informasi tentang kesehatan reproduksi dengan benar sehingga diharapkan remaja akan memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai kesehatan reproduksinya (BKKBN, 2013).

Menanggapi hal tersebut, salah satu upaya pemerintah dalam menangani permasalahan remaja adalah dengan pembentukan Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). PKPR adalah suatu program yang dibentuk oleh Kementrian


(20)

3

Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2003 sebagai upaya untuk meningkatkan status kesehatan remaja yang menekankan kepada Puskesmas sebagai fasilitator dan narasumber (Kemenkese RI, 2011)

Secara khusus, tujuan dari PKPR adalah meningkatkan pemanfaatan puskesmas oleh remaja untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja yang berkualitas, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pencegahan masalah kesehatan, meningkatkan keterlibatan remaja dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan remaja. Sasaran program ini adalah laki-laki dan perempuan usia 10-19 tahun dan belum menikah, baik yang sekolah maupun tidak sekolah. Kegiatan yang rutin dilakukan salah satunya adalah penyuluhan dan penjaringan kesehatan ke sekolah-sekolah (Kemenkes RI, 2011).

Berdasarkan studi pendahuluan kepada Koordinator Program PKPR di Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, terdapat 4 Puskesmas yang menjalankan PKPR di Kabupaten Gianyar, di antaranya UPT Kesmas Gianyar I, UPT Kesmas Sukawati I, UPT Kesmas Tegallalang I, dan UPT Kesmas Payangan. Kabupaten Gianyar merupakan salah satu Kabupaten dengan jumlah remaja cukup banyak yakni sebesar 86.665 orang pada tahun 2015. Dengan banyaknya jumlah remaja permasalahan remaja di Kabupaten Gianyar cukup beragam. Tercatat 268 kasus kehamilan remaja, 201 kasus persalinan remaja dan 1 kasus IMS (Dinkes Kab. Gianyar, 2015).

Dari empat Puskesmas yang telah melaksanakan PKPR tersebut, cakupan remaja paling banyak yaitu di UPT Kesmas Gianyar I, dengan jumlah remaja usia 10-19 tahun pada tahun 2015 yaitu 11.840 orang. Banyaknya cakupan di UPT Kesmas Gianyar I membuat permasalahan remaja yang ada semakin beragam, dapat dilihat dari dari laporan kasus remaja di wilayah UPT Kesmas Gianyar I tahun 2015, terdapat 10


(21)

4

remaja dengan gangguan haid, 29 kehamilan pada remaja, 33 persalinan pada remaja dan satu orang terkena IMS. Namun, permasalahan yang ada tersebut belum tercatat sepenuhnya karena kurangnya keterbukaan remaja terhadap permasalahannya dan rendahnya kunjungan remaja ke Puskesmas (UPT Kesmas Gianyar I, 2016)

Untuk mengatasi masalah tersebut, UPT Kesmas Gianyar I melaksanakan Program PKPR baik di UPT Kesmas Gianyar I maupun penyuluhan dan penjaringan kesehatan ke sekolah yang dilaksanakan 2 kali dalam setahun serta telah di bentuk konselor sebaya. Namun kunjungan remaja ke PKPR masih sangat rendah yaitu hanya 36 orang pada tahun 2015. Dari hasil penjaringan kesehatan yang di lakukan di sekolah-sekolah di dapatkan 230 remaja mengalami gangguan gizi (KEK) dan 42 remaja mengalami obesitas dan 1441 remaja mengalami masalah kesehatan lainnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Wulandari (2012) didapatkan bahwa pengetahuan remaja tentang PKPR sebagai tempat pelayanan kesehatan remaja yang ada di Puskesmas dikatakan rendah karena hanya sedikit partisipasi remaja yang mengetahui keberadaan PKPR. Sedangkan penelitian yang dilakukan Lola Erwinda (2009), menunjukkan bahwa pengetahuan mempengaruhi sikap responden terhadap pemanfaatan PKPR di SMPN 01 Sitiung Kabupaten Dharmasraya.

Rendahnya pemanfaatan PKPR ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Lawrence Green menyebutkan bahwa beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang antara lain faktor predisposisi (pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai-nilai), faktor pendukung atau pemungkin (lingkungan fisik, tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan), faktor pendorong atau penguat (sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lainnya) (Notoatmodjo, 2010).


(22)

5

Dengan melihat masih rendahnya remaja yang mengakses PKPR, namun permasalahan masih ada, maka penulis penting untuk melakukan penelitian mengenai Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Wilayah UPT Kesmas Gianyar I.

1.2 Rumusan Masalah

Salah satu upaya pemerintah dalam menangani permasalahan remaja adalah dengan pembentukan Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) sebagai upaya untuk meningkatkan status kesehatan remaja yang menekankan kepada Puskesmas sebagai fasilitator. PKPR telah di laksanakan oleh UPT Kesmas Gianyar I sejak tahun 2011. Program tersebut dilaksanakan baik di dalam gedung UPT Kesmas Gianyar I dan kunjungan ke sekolah-sekolah serta telah dibentuk konselor sebaya, akan tetapi jumlah kunjungan remaja ke PKPR dengan permasalahan kesehatan remaja pada tahun 2015 hanya 36 orang. Dari data kasus remaja tahun 2015, permasalahan kesehatan yang ada di wilayah kerja UPT Kesmas Gianyar I cukup kompleks yaitu adanya kehamilan pada remaja sebanyak 29 orang, 33 persalinan pada remaja, 10 remaja mengalami gangguan menstruasi, satu orang anemia, satu orang terkena IMS dan masih banyak kejadian yang tidak terlaporkan. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin mengetahui Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) oleh remaja yang di bentuk oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia di UPT Kesmas Gianyar I Tahun 2016.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Bagaimanakah Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Wilayah UPT Kesmas Gianyar 1 Tahun 2015?


(23)

6

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Wilayah UPT Kesmas Gianyar I

1.4.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui Pengetahuan Remaja Terhadap Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Wilayah UPT Kesmas Gianyar I

2. Mengetahui Persepsi Remaja Terhadap Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja di UPT Kesmas Gianyar I

3. Mengetahui Sikap Remaja Terhadap Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja di Wilayah UPT Kesmas Gianyar I

4. Mengetahui Faktor Pendukung Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja di UPT Kesmas Gianyar I

5. Mengetahui Faktor Penguat Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja di Wilayah UPT Kesmas Gianyar I

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

Memberikan kontribusi keilmuan di bidang kesehatan, khususnya penelitian terkait program pelayanan kesehatan reproduksi remaja.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Memberikan masukan kepada pembuat kebijakan untuk mengambil tindakan terkait dengan pelaksanaan PKPR di Puskesmas yang ada di Bali


(24)

7

2. Bagi Puskesmas, laporan penelitian ini memberikan informasi untuk melakukan promosi kesehatan dan pelayanan kesehatan khusus remaja serta memberikan masukan dan perbaikan program PKPR.

3. Bagi sekolah, laporan penelitian ini dapat memberikan informasi kepada pihak sekolah untuk menentukan kebijakan terkait program PKPR di sekolah sehingga dapat mengatasi permasalahan remaja di sekolah.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh Mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat untuk mengetahui Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja di Wilayah UPT Kesmas Gianyar I Tahun 2016. Penelitian ini dikaji dengan menggunakan pendekatan ilmu promosi kesehatan. Penelitian dilakukan di SMA N 1 Gianyar dan SMA Dwijendra Gianyar serta pengumpulan data dilakukan mulai dari bulan April hingga Mei 2016. Data dikumpulkan melalui focus group discussion pada remaja sasaran, wawancara mendalam dan observasi kunjungan dan sarana dan prasarana. Remaja yang menjadi subyek penelitian adalah siswa yang pernah mengikuti kegiatan Program PKPR.


(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Remaja 2.1.1 Pengertian Remaja

Remaja atau “adolescence” (Inggris), berasa dari bahasa latin yang berarti tumbuh tumbuh ke arah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik, tetapi juga kematangan sosial dan psikologi (Muss, 1968 dalam Kusmiran, 2012).

Remaja adalah fase peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, di mana mulai timbul ciri-ciri seks sekunder, terjadi pacu tumbuh, tercapainya fertilitas dan terjadinya perubahan-perubahan kognitif dan psikologik. Remaja sebenarnya berada di antara masa anak-anak dan masa dewasa sehingga berada dalam tempat yang tidak jelas, oleh karena itu masa remaja sering disebut masa pencarian jati diri (Rohan dan Siyoto, 2013).

WHO (2009) menyebutkan, yang dimaksud dengan usia remaja yaitu antara usia 12 sampai usia 24 tahun. Menurut Menteri Kesehatan RI (2015), batasan usia remaja adalah antara usia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.

2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja

Tahap perkembangan remaja menurut Handoyo tahun 2010 di bagi atas : 1. Perkembangan fisik

Perkembangan fisik pada remaja merupakan perubahan yang terjadi pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan keterampilan motorik. Sedangkan perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan otot dan tulang, serta matangnya organ seksual dan fungsi reproduksi.


(26)

9

Kematangan seksual antara remaja putra dan putri terjadi dalam usia yang agak berbeda. Pada remaja pria kematangan seksualnya terjadi antara usia 10-13,5 tahun. Sedangkan pada remaja putri pada usia 9-15 tahun. Untuk remaja laki-laki perubahan ditandai dengan perkembangan organ seksual, mulai tumbuhnya rambut pada kemaluan, perubahan suara serta ejakulasi pertama melalui mimpi basah. Untuk remaja putri ditandai dengan menarche (haid pertama) dan perubahan pada dada (Notoatmodjo, 2007).

2. Perkembangan kognitif

Pada remaja motivasi untuk bisa memahami dunia adalah dengan perilaku adaptasi secara biologis. Sehingga remaja mampu membedakan hal-hal atau ide-ide yang lebih penting daripada ide lainnya. Menurut Notoatmojdo (2007), labilnya emosi yang sering terjadi pada remaja berkaitan erat dengan perubahan hormon di dalam tubuh. Sering terjadinya letusan emosi ini dapat menyebabkan amarah, sensitif bahkan perbuatan nekat. Emosi yang tidak stabil mengakibatkan remaja mempunyai rasa ingin tahu dan dorongan untuk mencari tahu. Remaja yang memiliki sikap kritis, tersadar melalui perbuatan-perbuatan yang sifatnya eksperimen dan eksploratif cenderung disebabkan karena pertumbuhan kemampuan intelektual remaja.

3. Perkembangan kepribadian dan sosial

Perkembangan kepribadian merupakan perubahan cara yang dilakukan individu untuk bisa berhubungan dengan dunia dan mengungkapkan emosinya dengan cara unik. Sedangkan perkembangan sosial adalah perubahan dalam melakukan hubungan terhadap orang lain. Pada masa remaja, perkembangan kepribadian sangat penting untuk pencarian identitas diri. Pencarian identitas diri berarti proses menjadi seorang yang unik yang berperan penting dalam hidup.


(27)

10

2.1.3 Permasalahan Remaja

Berbagai Kesulitan dan problematika yang dihadapi remaja sangatlah kompleks. Kebutuhan remaja di desa dan kota sangat berbeda. Pada remaja perkotaan, kehidupan dan kebutuhan remaja semakin menuntut mengikuti kemajuan teknologi. Gaya hidup di perkotaan dapat menyebabkan berbagai masalah psikososial seperti kesulitan belajar penyalahgunaan NAPZA, seks tidak aman. Masalah remaja berasal dari :

1. Individu remaja sendiri antara lain emosi, perubahan pribadi, kesehatan, kebutuhan keuangan, perilaku seks, persiapan berkeluarga, pemilihan pekerjaan, agama dan akhlak

2. Lingkungan sosial sekitar remaja antara lain emosi, sekolah, teman sebaya.

3. Faktor lain di luar lingkungan dekat remaja, seperti mitos, kehidupan sosial, Kehidupan sosial (Kemenkes RI, 2011)

2.2 Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) 2.2.1 Pengertian PKPR

PKPR adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat di jangkau oleh remaja, menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Singkatnya, PKPR adalah pelayanan kesehatan kepada remaja, dapat diterima, sesuai, komprehensif, efektif dan efisien.

Tujuan dari PKPR antara lain meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja yang berkualitas, meningkatkan pemanfaatan puskesmas oleh remaja untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pencegahan masalah kesehatan khusus pada remaja, dan meningkatkan


(28)

11

keterlibatan remaja dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan remaja (Kemenkes, 2011).

2.2.2 Jenis Kegiatan dalam PKPR

Kegiatan dalam PKPR sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung, untuk sasaran perorangan atau kelompok, dilaksanakan oleh petugas Puskesmas atau petugas lain di institusi atau masyarakat, berdasarkan kemitraan. Jenis kegiatan meliputi :

1. Pemberian Informasi dan edukasi.

a. Dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung, secara perorangan atau berkelompok.

b. Dapat dilaksanakan oleh guru, pendidik sebaya yang terlatih dari sekolah atau dari lintas sektor terkait dengan menggunakan materi dari (atau sepengetahuan) Puskesmas.

c. Menggunakan metode ceramah tanya jawab, FGD (Focus Group Discussion), diskusi interaktif, yang dilengkapi dengan alat bantu media cetak atau media elektronik (radio, email, dan telepon/hotline, SMS).

d. Menggunakan sarana KIE yang lengkap, dengan bahasa yang sesuai dengan bahasa sasaran (remaja, orang tua, guru) dan mudah dimengerti. Khusus untuk remaja perlu diingat untuk bersikap tidak menggurui serta perlu bersikap santai.

2. Pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang dan rujukannya. Hal yang perlu diperhatikan dalam melayani remaja yang berkunjung ke Puskesmas adalah :

a. Bagi klien yang menderita penyakit tertentu tetap dilayani dengan mengacu pada prosedur tetap penanganan penyakit tersebut.


(29)

12

b. Petugas dari BP umum, BP Gigi, KIA dan lain-lain dalam menghadapi klien remaja yang datang, diharapkan dapat menggali masalah psikososial atau yang berpotensi menjadi masalah khusus remaja, untuk kemudian bila ada, menyalurkannya ke ruang konseling bila diperlukan.

c. Petugas yang menjaring remaja dari ruang lain tersebut dan juga petugas penunjang seperti loket dan laboratorium seperti halnya petugas khusus PKPS juga harus menjaga kerahasiaan klien remaja, dan memenuhi kriteria peduli remaja.

d. Petugas PKPR harus menjaga kelangsungan pelayanan dan mencatat hasil rujukan kasus per kasus.

3. Konseling

Konseling adalah hubungan yang saling membantu antara konselor dan klien hingga tercapai komunikasi yang baik, dan pada saatnya konselor dapat menawarkan dukungan, keahlian dan pengetahuan secara berkesinambungan hingga klien dapat mengerti dan mengenali dirinya sendiri serta permasalahan yang dihadapinya dengan lebih baik dan selanjutnya menolong dirinya sendiri dengan bantuan beberapa aspek dari kehidupannya.

Tujuan konseling dalam PKPR adalah:

a. Membantu klien untuk dapat mengenali masalahnya dan membantunya agar dapat mengambil keputusan dengan mantap tentang apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi masalah tersebut.

b. Memberikan pengetahuan, keterampilan, penggalian potensi dan sumber daya secara berkesinambungan hingga dapat membantu klien dalam mengatasi kecemasan, depresi atau masalah kesehatan mental lain, mempunyai dorongan


(30)

13

untuk mempraktekkan prilaku hidup sehat serta menjadi agen pengubah bagi remaja lainnya

4. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)

PKHS merupakan adaptasi dari Life Skills Education (LSE). Life skilslatau keterampilan hidup adalah kemampuan psikososial seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah dalam kehidupan sehari hari secara efektif. Keterampilan ini mempunyai peran penting dalam promosi kesehatan dalam lingkup yang luas yaitu kesehatan fisik, mental dan sosial. PKHS dapat diberikan secara berkelompok di mana saja, di sekolah, Puskesmas, sanggar, rumah singgah dan sebagainya.

Kompetensi psikososial tersebut meliputi 10 aspek keterampilan, yaitu: a. Pengambilan keputusan : pada remaja keterampilan pengambilan keputusan ini

berperan konstruktif dalam menyelesaikan masalah berkaitan dengan hidupnya. b. Pemecahan masalah : masalah yang tak terselesaikan yang terjadi karena kurangnya keterampilan pengambilan keputusan akan menyebabkan stres dan ketegangan fisik.

c. Berpikir kreatif : berpikir kreatif akan membantu cara merespons segala situasi dalam keseharian hidup secara fleksibel.

d. Berpikir kritis : merupakan kesanggupan untuk menganalisa informasi dan pengalaman secara objektif, dengan demikian akan membantu mengenali dan menilai faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku misalnya tata nilai, tekanan teman sebaya, dan media.

e. Komunikasi efektif : membuat remaja dapat mengekspresikan dirinya baik secara verbal maupunnonverbal, sesuai dengan budaya dan situasi dalam cara menyampaikan keinginan, pendapat, kebutuhan dan kekhawatirannya.


(31)

14

f. Hubungan interpersonal : membantu berhubungan dengan cara positif dengan orang lain, sehingga dapat menciptakan persahabatan dan mempertahankan hubungan, hal yang penting untuk kesejahteraan mental.

g. Kesadaran diri : Kesadaran diri akan mengembangkan kepekaan pengenalan dini akan adanya stres dan tekanan yang harus dihadapi.

h. Empati : Empati melatih remaja untuk mengerti dan menerima orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya, dan juga membantu menimbulkan perilaku positif terhadap sesama yang menderita.

i. Mengendalikan emosi : keterampilan mengenali emosi diri dan orang lain, serta mengetahui bagaimana emosi dapat mempengaruhi perilaku, memudahkan menggali kemampuan merespons emosi dengan benar.

j. Mengatasi stres : pengenalan stres dan mengetahui bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh membantu mengontrol stres dan mengurangi sumber penyebabnya. Misalnya membuat perubahan di lingkungan sekitar atau merubah cara hidup (lifestyle).

Pelaksanaan PKHS di Puskesmas di samping meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidup sehat dapat juga menimbulkan rasa bahagia bagi remaja sehingga dapat menjadi daya tarik untuk berkunjung kali berikut, serta mendorong melakukan promosi tentang adanya PKPR di Puskesmas kepada temannya dan menjadi sumber penular pengetahuan dan keterampilan hidup sehat kepada teman-temannya.

5. Pelatihan pendidik sebaya dan konselor sebaya.

Pelatihan ini merupakan salah satu upaya nyata mengikut sertakan remaja sebagai salah satu syarat keberhasilan PKPR. Dengan melatih remaja menjadi kader kesehatan remaja yang lazim disebut pendidik sebaya, beberapa keuntungan


(32)

15

diperoleh yaitu pendidik sebaya ini akan berperan sebagai agen pengubah sebayanya untuk berperilaku sehat, sebagai agen promotor keberadaan PKPR, dan sebagai kelompok yang siap membantu dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi PKPR. Pendidik sebaya yang berminat, berbakat, dan sering menjadi tempat curhat bagi teman yang membutuhkannya dapat diberikan pelatihan tambahan untuk memperdalam keterampilan interpersonal relationship dan konseling, sehingga dapat berperan sebagai konselor remaja.

6. Pelayanan rujukan.

Sesuai kebutuhan, Puskesmas sebagai bagian dari pelayanan klinis medis, melaksanakan rujukan kasus ke pelayanan medis yang lebih tinggi. Rujukan sosial juga diperlukan dalam PKPR, sebagai contoh penyaluran kepada lembaga keterampilan kerja untuk remaja pasca penyalahgunaan NAPZA, atau penyaluran kepada lembaga tertentu agar mendapatkan program pendampingan dalam upaya rehabilitasi mental korban perkosaan.

2.3 Pengetahuan

2.3.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).

2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang menurut Mubarak (2007) adalah :


(33)

16

1. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang pada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahaminya. Tidak dapat dipungkiri makin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi, sehingga semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya.

2. Pengalaman merupakan suatu kejadian yang dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang baik maupun kurang baik akan berpengaruh terhadap psikologis seseorang dan akhirnya dapat membentuk sikap positif maupun negatif dalam kehidupannya.

3. Umur dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Aspek fisik meliputi perubahan ukuran, proporsi, dan ciri-ciri baru. Aspek psikologis atau mental berhubungan dengan taraf berfikir seseorang yaitu semakin bertambah umur makan akan semakin matang dan dewasa. 4. Sumber Informasi, kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan baru. Informasi dapat diperoleh dari petugas kesehatan, petugas non kesehatan, dan media massa. Menurut Notoatmodjo (2003) bila seseorang banyak memperoleh informasi maka ia cenderung mempunyai pengetahuan yang lebih luas

2.4 Sikap

Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu objek Sikap terbentuk dengan adanya interaksi yang dialami individu. Interaksi ini mengandung arti yang lebih mendalam sehingga terjadi hubungan yang saling mempengaruhi antar individu, juga dengan lingkungan fisik maupun dengan lingkungan psikologis di sekitarnya (Notoatmodjo, 2003). Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu sebagai berikut :


(34)

17

1. Menerima (Receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespons (Responding) merupakan memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3. Menghargai (valuing) merupakan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4. Bertanggung jawab (responsible) merupakan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau penyataan responden terhadap suatu objek. Secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden (Notoatmodjo,2012)

2.5 Persepsi

2.5.1 Pengertian Persepsi

Menurut Walgito (2004) persepsi adalah satu proses yang di dahului oleh proses penginderaan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga di sebut proses sensoris. Sedangkan menurut Notoatmodjo (2010) persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang di peroleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya.

Dari pendapat beberapa para ahli di atas, presepsi dapat diartikan sebagai kegiatan individu dalam menafsirkan satu subyek, obyek maupun peristiwa karena adanya stimulus yang diterima melalui alat indera, Di mana persepsi dapat bersifat


(35)

18

positif maupun negatif yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal individu tersebut.

2.5.2 Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Notoatmodjo (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut :

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang terdapat pada orang yang mempersepsikan satu stimulus. Faktor internal akan mempengaruhi bagaimana seseorang menginterpertasikan stimulus yang dilihatnya. Adapun yang termasuk dalam faktor internal adalah :

a. Pengalaman/ pengetahuan : pengalaman/pengetahuan merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan stimulus yang diperoleh. Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari akan menyebabkan perbedaan interpretasi.

b. Harapan : harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu stimulus.

c. Kebutuhan : perbedaan kebutuhan akan menyebabkan diterimanya satu stimulus secara berbeda.

d. Motivasi : motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang, seseorang akan termotivasi melakukan sesuatu apabila menyadari manfaat dari satu stimulus. e. Emosi : emosi akan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap stimulus f. Budaya : budaya akan membentuk stereotip, di mana seseorang dengan latar

belakang budaya yang sama akan menginterpretasikan orang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun akan mempersepsikan orang-orang di luar kelompok yang sama.


(36)

19

Faktor eksternal adalah faktor yang melekat pada satu objek. Adapun yang termasuk dalam faktor eksternal adalah :

a. Kontras : cara termudah menarik perhatian adalah dengan membuat kontras baik pada warna, ukuran, bentuk ataupun gerakan.

b. Perubahan intensitas : semakin sering satu stimulus diterima oleh otak, maka akan semakin menarik perhatian individu

c. Pengulangan/ repetion : dengan adanya pengulangan, stimulus yang mulanya tidak menarik akan mendapatkan perhatian kita.

d. Sesuatu yang baru/ novelty : stimulus yang baru akan lebih menarik perhatian daripada sesuatu yang lebih kita ketahui.

e. Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak : stimulus yang menjadi perhatian orang banyak akan menarik perhatian kita.

2.5.3 Proses Persepsi

Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar dan pengetahuannya. Menurut Walgito (2004), proses terjadinya persepsi didasari pada beberapa tahapan yaitu:

1. Stimulus

Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada satu stimulus yang hadir dari lingkungannya.

2. Registrasi

Satu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftarkan semua informasi yang terkirim kepadanya.


(37)

20

3. Interpretasi

Interpretasi merupakan satu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman, motivasi dan kepribadian seseorang.

2.6 Perilaku

2.6.1 Pengertian Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2007) perilaku manusia adalah semua tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati. Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup yang bersangkutan). Sedangkan dari segi kepentingan kerangka analisis, perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut baik dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.

2.6.2 Teori Lawrence Green

Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2012) perilaku ini ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni:

1. Faktor Pendorong (predisposing factors)

Faktor predisposisi yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan sebagainya.

2. Faktor pemungkin (enabling factors)

Faktor pemungkin adalah faktor-faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku atau tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan.


(38)

21

3. Faktor penguat (reinforcing factors)

Faktor penguat merupakan faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya prilaku. Yang termasuk ke dalam faktor ini adalah faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada tujuan dan jenis program. Apakah penguat ini positif ataupun negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan, yang sebagian di antaranya lebih kuat dari pada yang lain dalam mempengaruhi perilaku.

Gambar 2.2 Skema Teori Lawrence Green (1980)

Faktor Predisposisi

(predisposing faktor)

- Pengetahuan - Sikap - Keyakinan - Kepercayaan - Tradisi - Nilai-nilai

Faktor Pendukung (enabling factor)

-Lingkungan

-Sarana dan Prasarana

Faktor Pendorong (reinforcing faktor)

Sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama dan petugas kesehatan


(39)

22

2.7 Penelitian Terkait

Pada penelitian yang dilakukan oleh Lola Erwinda (2009), tentang Hubungan Pengetahuan dan Sikap siswa terhadap pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di SMPN 01 Sitiung Wilayah Kerja Puskesmas Sitiung Kabupaten Dharmasraya Tahun 2009. Penelitian ini merupakan penelitainkolerasi dengan desain cross sectional study.Jumlah sampel yaitu 106 remaja dan dianalisa dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap responden terhadap pemanfaatan PKPR di di SMPN 01 Sitiung Kabupaten Dharmasraya. Untuk itu perlu diberikan pengetahuan tentang PKPR kepada siswa dan peningkatan kegiatan-kegiatan PKPR, agar siswa memanfaatkan PKPR yang ada di sekolah.

Penelitian yang dilakukan Yani (2010) tentang Persepsi Remaja Terhadap Faktor Penghambat Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Di Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangancross-sectionalmenggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan didukung oleh data kualitatif melalui wawancara mendalam/indept interview. Subjek penelitian siswa umur 14-16 tahun sebanyak 131 orang. Hasil penelitian menunjukkan persepsi remaja terhadap faktor fisik, faktor proses dan faktor ekonomi didapatkan remaja mempunyai persepsi yang baik sehingga tidak merupakan faktor hambatan. Sedangkan faktor psikososial yaitu sebanyak 74% mempunyai persepsi yang buruk sehingga merupakan faktor hambatan dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan reproduksi. Hambatan tersebut karena adanya rasa malu dan keengganan dalam menyampaikan masalah kepada petugas yang dianggap sebagai orang yang baru dikenal, remaja juga meragukan kerahasiaan masalah yang disampaikan pada petugas kesehatan.


(1)

1. Menerima (Receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespons (Responding) merupakan memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3. Menghargai (valuing) merupakan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4. Bertanggung jawab (responsible) merupakan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau penyataan responden terhadap suatu objek. Secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden (Notoatmodjo,2012)

2.5 Persepsi

2.5.1 Pengertian Persepsi

Menurut Walgito (2004) persepsi adalah satu proses yang di dahului oleh proses penginderaan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga di sebut proses sensoris. Sedangkan menurut Notoatmodjo (2010) persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang di peroleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya.

Dari pendapat beberapa para ahli di atas, presepsi dapat diartikan sebagai kegiatan individu dalam menafsirkan satu subyek, obyek maupun peristiwa karena adanya stimulus yang diterima melalui alat indera, Di mana persepsi dapat bersifat


(2)

positif maupun negatif yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal individu tersebut.

2.5.2 Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Notoatmodjo (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut :

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang terdapat pada orang yang mempersepsikan satu stimulus. Faktor internal akan mempengaruhi bagaimana seseorang menginterpertasikan stimulus yang dilihatnya. Adapun yang termasuk dalam faktor internal adalah :

a. Pengalaman/ pengetahuan : pengalaman/pengetahuan merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan stimulus yang diperoleh. Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari akan menyebabkan perbedaan interpretasi.

b. Harapan : harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu stimulus.

c. Kebutuhan : perbedaan kebutuhan akan menyebabkan diterimanya satu stimulus secara berbeda.

d. Motivasi : motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang, seseorang akan termotivasi melakukan sesuatu apabila menyadari manfaat dari satu stimulus. e. Emosi : emosi akan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap stimulus f. Budaya : budaya akan membentuk stereotip, di mana seseorang dengan latar

belakang budaya yang sama akan menginterpretasikan orang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun akan mempersepsikan orang-orang di luar kelompok yang sama.


(3)

Faktor eksternal adalah faktor yang melekat pada satu objek. Adapun yang termasuk dalam faktor eksternal adalah :

a. Kontras : cara termudah menarik perhatian adalah dengan membuat kontras baik pada warna, ukuran, bentuk ataupun gerakan.

b. Perubahan intensitas : semakin sering satu stimulus diterima oleh otak, maka akan semakin menarik perhatian individu

c. Pengulangan/ repetion : dengan adanya pengulangan, stimulus yang mulanya tidak menarik akan mendapatkan perhatian kita.

d. Sesuatu yang baru/ novelty : stimulus yang baru akan lebih menarik perhatian daripada sesuatu yang lebih kita ketahui.

e. Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak : stimulus yang menjadi perhatian orang banyak akan menarik perhatian kita.

2.5.3 Proses Persepsi

Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar dan pengetahuannya. Menurut Walgito (2004), proses terjadinya persepsi didasari pada beberapa tahapan yaitu:

1. Stimulus

Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada satu stimulus yang hadir dari lingkungannya.

2. Registrasi

Satu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftarkan semua informasi yang terkirim kepadanya.


(4)

3. Interpretasi

Interpretasi merupakan satu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman, motivasi dan kepribadian seseorang.

2.6 Perilaku

2.6.1 Pengertian Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2007) perilaku manusia adalah semua tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati. Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup yang bersangkutan). Sedangkan dari segi kepentingan kerangka analisis, perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut baik dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.

2.6.2 Teori Lawrence Green

Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2012) perilaku ini ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni:

1. Faktor Pendorong (predisposing factors)

Faktor predisposisi yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan sebagainya.

2. Faktor pemungkin (enabling factors)

Faktor pemungkin adalah faktor-faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku atau tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan.


(5)

3. Faktor penguat (reinforcing factors)

Faktor penguat merupakan faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya prilaku. Yang termasuk ke dalam faktor ini adalah faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada tujuan dan jenis program. Apakah penguat ini positif ataupun negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan, yang sebagian di antaranya lebih kuat dari pada yang lain dalam mempengaruhi perilaku.

Gambar 2.2 Skema Teori Lawrence Green (1980) Faktor Predisposisi

(predisposing faktor) - Pengetahuan

- Sikap - Keyakinan - Kepercayaan - Tradisi - Nilai-nilai Faktor Pendukung (enabling factor) -Lingkungan

-Sarana dan Prasarana

Faktor Pendorong (reinforcing faktor) Sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama dan petugas kesehatan


(6)

2.7 Penelitian Terkait

Pada penelitian yang dilakukan oleh Lola Erwinda (2009), tentang Hubungan Pengetahuan dan Sikap siswa terhadap pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di SMPN 01 Sitiung Wilayah Kerja Puskesmas Sitiung Kabupaten Dharmasraya Tahun 2009. Penelitian ini merupakan penelitainkolerasi dengan desain cross sectional study.Jumlah sampel yaitu 106 remaja dan dianalisa dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap responden terhadap pemanfaatan PKPR di di SMPN 01 Sitiung Kabupaten Dharmasraya. Untuk itu perlu diberikan pengetahuan tentang PKPR kepada siswa dan peningkatan kegiatan-kegiatan PKPR, agar siswa memanfaatkan PKPR yang ada di sekolah.

Penelitian yang dilakukan Yani (2010) tentang Persepsi Remaja Terhadap Faktor Penghambat Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Di Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangancross-sectionalmenggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan didukung oleh data kualitatif melalui wawancara mendalam/indept interview. Subjek penelitian siswa umur 14-16 tahun sebanyak 131 orang. Hasil penelitian menunjukkan persepsi remaja terhadap faktor fisik, faktor proses dan faktor ekonomi didapatkan remaja mempunyai persepsi yang baik sehingga tidak merupakan faktor hambatan. Sedangkan faktor psikososial yaitu sebanyak 74% mempunyai persepsi yang buruk sehingga merupakan faktor hambatan dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan reproduksi. Hambatan tersebut karena adanya rasa malu dan keengganan dalam menyampaikan masalah kepada petugas yang dianggap sebagai orang yang baru dikenal, remaja juga meragukan kerahasiaan masalah yang disampaikan pada petugas kesehatan.