GAMBARAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA REMAJA PUTUS SEKOLAH DI DESA TAWANGREJO - UNWIDHA Repository

  GAMBARAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA REMAJA PUTUS SEKOLAH DI DESA TAWANGREJO Skripsi

  Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Memenuhi Sebagaian Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Psikologi

  DISUSUN OLEH :

IKHWAL FACHRUROZI 1361100610 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS WIDYA DHARMA KLATEN

HALAMAN PERSETUJUAN

  GAMBARAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA REMAJA PUTUS SEKOLAH DI DESA TAWANGREJO Diajukan Oleh :

IKHWAL FACHRUROZI

  1361100610 Telah Disetujui Untuk Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji, pada : Pada Hari : Rabu Tanggal : 09 Agustus 2017 Pembimbing I Pembimbing II,

  

Dra. Nandiyah Abdullah, M.Si Dra. Dwi Wahyuni U, S.psi, M.A

  NIP. 19541106 198603 2 001 NIP. 19670224 199403 2 001 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS WIDYA DHARMA KLATEN 2017

  HALAMAN PENGESAHAN Diterima dan disetujui oleh dewan penguji skripsi fakultas psikologi Universitas Widya Dharma Klaten pada : Hari

  : Jum’at Tanggal : 18 Agustus 2017 Waktu : 10.00 WIB Tempat : Ruang Sidang Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten

  Dewan Penguji Skripsi Ketua Sekertaris Drs. H. Jajang Susatya, M.Si Winarno Heru Murjito, M.psi, Psik.

  NIP. 19611209 19910 3 001 NIK. 690 811 318 Penguji I Penguji II

  Dra. Nandiyah Abdullah, M. Si Dra. Dwi Wahyuni U, S. Psi, M.A NIP. 19541106 198603 2 001 NIP. 19670224 199403 2 001

  Mengesahkan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten

  

Drs. H. Jajang Susatya, M.Si

HALA MAN PERNYATAAN

  Yang bertandatangan dibawah ini : Nama : Ikhwal Fachrurozi Nim : 1361100610 Jurusan / Program Studi : Psikologi Fakultas : Psikologi

  Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa karya skripsi yang

  GAMBARAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA

  berjudul “ adalah

  REMAJA PUTUS SEKOLAH DI DESA TAWANGREJO”

  benar-benar karya saya sendiri dan bebas dari plagiat. Hal-hal yang bukan merupakan karya saya dalam skripsi ini telah diberi tanda sitasi dan ditunjukkan dalam daftar pusta. Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar akademik yang saya peroleh dari skripsi ini.

  Klaten, 04 Agustus 2017 Yang membuat keputusan

  Ikhwal Fachrurozi

  

MOTTO

  “Yen arep tumindak, luwih becik maos Bissmillah disik ngger” “Restu orang tua akan mempermudah langkah anaknya dalam menggapai cita- citanya”

  “ Sing penting dilakoni disik, yakino marang awakmu kabeh mangko rak ketemu dalane” “Jangan kau takuti dirimu dengan bayangan yang ada diotakmu”

  “Selalu bersyukur, Allhamdulilah”

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Segala Puji Bagi Allah SWT, Atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya TERIMAKASIHKU TERUNTUK :

  Ibuku dan Bapakku yang selalu memberikan dukungan dan motivasi terhadap diri saya dalam mencapai cita-cita dan keinginanku. Terimakasih atas do’a yang selalu kalian ucapkan untuk diriku.

  Adik-adikku yang selalu membantuku dalam hal apapun Terima kasih juga untuk teman seperjuangan “Psykologi angkatan 2013” bro Singgih, bro Yoga, bro Eko, bro Nico, jeng

  Venia, jeng Eka, jeng ria, jeng Yessy, jeng Mangesti, jeng Eni Adik tingkatku bro Andi, Alifat, Yogas, Lanang, Adi, dan semua yang tidak bisa saya sebutkan.

  Terimakasih untuk mantanku si Typis yang udah duluan Move On yang memberikan saya motivasi agar saya bisa lebih giat semangat bekerja keras, jiwa gigih dalam menghadapi kehidupan.

  Thanks juga untuk rekan “KKN Karang Duren 2016” mas Bambang, mbah rudi, pak carik Efendi, Rizka, mas Farid, Teguh, Dita, Noviyanto, Risky, Verdita, Indri, Denik, Ndandul, Iko, Nia dsb. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Sempurna atas segala karunia yang senantiasa terlimpahkan kepada setiap hambanya yang tak kenal putus asa dalam menjalani setiap ayunan langkah dikehidupannya. Salah satu karunia dari-Nya adalah terselesaikannya penelitian dan penyusunan skripsi ini sebagai salah satu prasyarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Jurusan Program Studi Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten, dengan judul “ GAMBARAN KEBERMAKNAAN

  

HIDUP PADA REMAJA PUTUS SEKOLAH DI DESA

TAWANGREJO”.

  Keberhasilan dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak baik berupa dorongan, arahan dan kebutuhan data yang diperlukan.

  Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terimakasih kepada :

  1. Allah SWT, atas segala karunianya, selalu menuntun kejalan yang Engkau ridahi disetiap ayunan langkahku.

  2. Prof. Dr. H. Triyono, M.Pd., selaku Rektor Universitas Widya Dharma Klaten.

  3. Drs. Purwo Haryono, M.Hum., selaku Wakil Rektor I Universitas Widya Dharma Klaten yang telah memberikan ijin penelitian.

  4. Bapak Drs. H. Tukiyo, M.Pd, selaku Wakil Rektor II Universitas Widya Dharma Klaten yang telah memberikan semangat dan motivasi kepada peneliti.

  5. Drs. H. Jajang Susatya, M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten, yang telah memberikan dukungan dan bimbingan kepada penulis selama belajar di Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten.

  6. Winarno Heru Murjito, S.Psi., M.Psi., Psi, selaku Ketua Jurusan membimbing, mendidik, mendukung serta memberi nasihat kepada penulis selama menimba ilmu di Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten.

  7. Ibu Dra. Nandiyah Abdulah selaku pembimbing I yang telah berkenan memberikan bimbingan dan masukan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dalam penyusunan skripsi ini.

  8. Ibu Dra. Dwi Wahyuni U, S.Psi., M.A selaku pembimbing II yang dengan sabar dan ikhlas memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi hingga terselesaikannya skripsi ini.

  9. Kepada semua dosen beserta stafnya di Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten, yang telah membimbing saya selama masa perkuliahan, saya ucapkan terimakasih.

  10. Seluruh karyawan perpustakaan di Universitas Widya Dharma Klaten, yang telah membantu penulis menyediakan buku-buku literatur dalam penulisan skripsi ini.

  11. Ibu, Bapak, Adik, Kakek, Budhe, Bulik, Om, Keponakan, Saudara dan Keluarga besar mbah Hadi Sukadi dan mbah Harto Diharjo di Klaten, terimakasih untuk kasih sayang dan motivasi yang diberikan.

  12. Bapak Susanta selaku Kepala Desa Tawangrejo.

  13. Bro singgih dan mas Yoga, yang dengan keikhlasan hati membimbing saya dalam penelitian skripsi ini.

  14. Adik-adik tingkatku fakultas psikologi Universitas Widya Dharma Klaten yang selalu memberikan semangat kepada penulis dan selalu menyalurkan kebahagiaannya.

  15. Subyek R, AW, RHI, SMI yang telah berpartisipasi dalam peyusunan sripsi saya.

  16. BEM Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten.

  17. Adikku, Iksan yang selalu memberi masukan kepada saya.

  18. Psikologi Unwidha angkatan 2013 : Ulala (Ria), Neng (Mangesti), Jesy (Yesy), Kacrut (Eka), Enoy (Eni), Veno (Venia), Mas Sing Clew, Yoga,

  19. Teman-teman kampung dan crew Balola Volly Ball yang selalu mengejar-ngejar saya dalam mengerjakan skripsi.

  20. Untuk seseorang yang namanya tertulis di lauhul mahfudz 21.

  Seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dan berkontribusi terhadap peneliti selama ini. Terimakasih atas kepercayaan, dukungan dan motivasinya.

  Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan dan ketulusan hati Bapak, Ibu, Saudara semua. Secara khusus penulis menyampaikan terimakasih kepada Ibu Dra Nandiyah Abdulah dan Ibu Dwi Wahyuni U, S.Psi., M.A. disisi lain beliau sibuk dalam tugas-tugas inti sebagai dosen pengajar namun beliau telah berkenan menjadi pembimbing skripsi ini.

  Hanya Allah SWT yang mampu untuk membalas dengan adil atas semua kebaikan yang telah diberikan. Harapan yang sangat besar oleh penulis adalah semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pendidikan terutama pendidikan psikologi sosial dan semua pihak yang terkait. Amiin.

  Klaten, 16 Agustus 2017 Hormat Saya,

  Penulis

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ............................................................................... ..... i

  HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... ... iii HALAMAN PERNYATAAN ................................................................... ... iv HALAMAN MOTTO ............................................................................... .... . v HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... vi KATA PENGANTAR ............................................................................... ... vii DAFTAR ISI .............................................................................................. x DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. ... xiii ABSTRAK ............................................................................................... ..... xiv

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...................................................... 1 B. Tujuan Penelitian ............................................................... 10 C. Rumusan Masalah ............................................................... 10 D. Manfaat Penelitian ............................................................... 10 BAB II LANDASAN TEORI A. Kebermaknaan Hidup............................................................ 12 1. Pengertian Kebermaknaan Hidup......................................12 2. Komponen Kebermaknaan Hidup………………………. 13 3. Sumber-Sumber Kebermaknaan Hidup ……………....... 16 4. Karakteristik Kebermaknaan Hidup ……………………. 19 5. Penghayatan Hidup Bermakna …………………. .…….. 20 6. Penghayatan Hidup Tanpa Makna ………………….. 21 B. Remaja …............................................................................ 25

  2. Pembatasan Usia Remaja ............................................. 26 3.

  Perkembangan Pada Masa Remaja ............................... 27 C. Putus Sekolah ....................................................................... 33 1.

  Pengertian Putus Sekolah .............................................. 33 2. Sebab-Sebab Remaja Putus Sekolah ............................. 35 D. Gambaran Kebermaknaan HidupPada RemajaPutus Sekolah 40

  BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ................................................................. 43 B. Penelitian Kualitatif ............................................................. 43 C. Subjek Penelitian ……………………................................... 44 D. Metode Pengumpulan Data ................................................... 45 E. Uji Keabsahan Data……….……..…………….......……..... 46 F. Teknik Analisis Data ……..................................................... 47 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Persiapan Penelitian ……....................................................... 49 B. Pengumpulan Data ................................................................. 51 C. Subyek Penelitian …………………………………............ 52 D. Hasil Pengumpulan Data dan Analisis Data .......................... 54 1. Observasi ……………………………………………... 54 2. Wawancara …………………………………………… 56 3. Kesimpulan hasil Observasi dan wawancara ………… 73 E. Teori Trianggulasi ……………………….......................... 80

  BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ......................................................................... 88 B. Saran .................................................................................... 89 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................

  ..… 91 LAMPIRAN

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 2 Pedoman Wawancara …………………………………………. 95

  Lampiran 3 Transkip Wawancara …………………………………………. 96

  Lampiran 4 Pedoman dan Hasil Observasi ………………………………. 117

  Lampiran 5 Dokumentasi …………………………………………………. 122

  Lampiran 6 Surat Ijin Penelitian ……………………………………………124

  ABSTRAK Ikhwal Fachrurozi. Nim. 1361100610. Jurusan Psikologi. Program Studi Psikologi. Universitas Widya Dharma Klaten. 2017. Judul : Gambaran Kebermaknaan Hidup Pada Remaja Putus Sekolah Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Kebermaknaan Hidup Pada Remaja Putus Sekolah Di Desa Tawangrejo. Perumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana Gambaran

Kebermaknaan Hidup Pada Remaja Putus Sekolah Di Desa Tawangrejo .

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan subyek remaja di desa

  Tawangrejo yang berjumlah 4 orang. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil wawancara. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Teknik analisi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif.

  Subyek I memaknai hidupnya dengan mengikuti setiap alur kehidupan yang subyek alami. Subyek II memaknai hidupnya dengan selalu membuat senang apa yang subyek hadapi. Subyek III menganggap makna hidup adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui dan diikuti saja alurnya. Subyek IV lebih senang memaknai hidupnya dengan menikmati masa mudanya.

  Berdasarkan seluruh hasil dari wawancara dengan subyek, dapat disimpulkan bahwa remaja yang mengalami putus sekolah tidak mempunyai patokan diri yang jelas untuk membawa kehidupannya kearah yang sesuai dengan ke inginannya. Peran kelompok teman sebaya sangat besar berpengaruh dalam kehidupan diri remaja yang mengalami putus sekolah. Perubahan dalam hal kesejahteraan merupakan hal yang sangat diharapkan bisa mereka dapatkan. Dalam menjalani hidupnya remaja yang mengalami putus sekolah selalu menginginkan kebebasan, namun disisi lain mereka juga takut akan cara mereka dalam mempertanggung jawabkan hal yang menyertai kebebasan tersebut. Permasalahan dengan lingkungan sosial juga sering terjadi pada mereka, hal itu terjadi dikarenakan hal yang mereka lakukan dipandang masyarakat sangat dekat dengan kenakalan remaja. Remaja yang mengalami putus sekolah menyesalkan akan terjadinya putus sekolah pada dirinya. Mereka menginginkan kesuksesan dapat mereka dapatkan di masa depan mereka. Akan tetapi rasa itu mereka rasakan sangat jauh bisa mereka dapatkan.

  Kata kunci : Remaja, Kebermaknaan hidup, Putus sekolah.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

  Anak merupakan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah tanpa noda dan dosa, bagaikan seperti kain putih yang belum mempunyai motif dan warna. Oleh karena itu orang tualah yang akan memberikan warna terhadap kain putih tersebut, hitam putih biru hijau bahkan bercampur banyak warna.

  Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang cerdas, berwawasan luas, bertingkah laku baik, berkata sopan dan kelak suatu hari anak-anak mereka bernasib lebih baik dari mereka. Baik dari aspek kedewasaan pikiran maupun kondisi ekonomi. Oleh karena itu, setiap benak para orang tua bercita-cita menyekolahkan anak-anak mereka supaya bisa berpikir lebih baik, bertingkah laku sesuai dengan agama serta yang paling utama sekolah dapat mengantarkan anak-anak mereka ke pintu gerbang kesuksesan sesuai dengan profesinya.

  Setelah keluarga, lingkungan kedua bagi anak adalah sekolah. Di

sekolah, guru merupakan penanggung jawab pertama terhadap pendidikan

anak sekaligus sebagai suri teladan. Sikap maupun tingkah laku guru sangat

berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi anak.

  Pada perspektif lain, kondisi ekonomi masyarakat tentu saja

berbeda, tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang

memadai dan mampu memenuhi segala kebutuhan anggota keluarga. Salah

satu pengaruh yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi seperti ini adalah

  

tinggi walaupun mereka mampu membiayainya di tingkat sekolah dasar.

Jelas bahwa kondisi ekonomi keluarga merupakan faktor pendukung yang

paling besar kelanjutan pendidikan anak-anak., sebab pendidikan juga

membutuhkan dana besar.

  Hampir di setiap tempat banyak anak-anak yang tidak mampu

melanjutkan pendidikan, atau pendidikan putus di tengah jalan disebabkan

karena kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan. Faktor ekonomi

  memang menjadi penyebab utama mengapa anak lebih memilih untuk putus sekolah. Sebanyak lebih dari 75% anak putus sekolah karena faktor ekonomi (Okezone, 2015).

  Kondisi ekonomi seperti ini menjadi penghambat bagi seseorang

untuk memenuhi keinginannya dalam melanjutkan pendidikan. Sementara

kondisi ekonomi seperti ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya orang

tua tidak mempunyai pekerjaan tetap, tidak mempunyai keterampilan

khusus, keterbatasan kemampuan dan faktor lainnya.

  Putus sekolah bukan merupakan persoalan baru dalam sejarah

pendidikan. Persoalan ini telah berakar dan sulit untuk di pecahkan, sebab

ketika membicarakan solusi maka tidak ada pilihan lain kecuali

memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Ketika membicarakan peningkatan

ekonomi keluarga terkait bagaimana meningkatkan sumber daya

manusianya. Sementara semua solusi yang diinginkan tidak akan lepas dari

kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh, sehingga kebijakan

  

pemerintah berperan penting dalam mengatasi segala permasalahan

termasuk perbaikan kondisi masyarakat.

  Putus sekolah memanglah tidak selalu menghancurkan masa depan

seorang anak. Namun putus sekolah dapat memunculkan suatu perilaku

yang baru terhadap seorang anak. Hal tersebut terjadi karena anak akan

selalu mencari makna hidup setelah apa yang ia alami. Makna hidup tersirat

  melalui berbagai hal. Ada tiga pilar yang dapat dilakukan untuk menemukan makna hidup yakni dengan melakukan suatu perbuatan, mengalami sebuah nilai, dan dengan penderitaan. Meraih prestasi merupakan contoh kecil perbuatan yang bisa menjembatani seseorang memperoleh makna dalam hidupnya. Mengalami sebuah nilai misalnya dengan menghayati bekerjanya alam, nilai kebenaran, dan cinta. Pilar terakhir yang mungkin bagi seseorang terdengar aneh, yaitu melalui penderitaan. Penderitaan tidak selamanya membawa efek negatif jika bisa menyikapinya dengan benar. Penderitaan tersebut justru akan berubah menjadi sebuah pengalaman yang sangat luar biasa (Frankl 2016).

  Dalam menghadapi situasinya seorang anak pasti akan mempunyai

permaknaan tersendiri mengenai apa yang akan dia lakukan, bagaimana

hasil yang akan dia dapat, resiko apa saja yang akan dia peroleh nantinya.

Setiap individu pastinya akan mempunyai cara yang berbeda-beda dalam

menghadapinya. Hanya saja apakah yang dia lakukan benar benar sesuai

dengan harapannya ataukah penyesalan yang akan menghantuinya. Remaja yang harus dilakukan dengan hidupnya, dikatakan oleh Madjid (Bastaman, 1996). Sebagai individu yang belum memiliki kesadaran akan makna hidup.

  Kesadaran akan makna hidup ini penting karena hal tersebut merupakan landasan untuk dicapainya kehidupan yang bermakna. Menurut Frankl (Koeswara, 1992), kesadaran akan makna mulai menguat pada masa remaja. Dampak yang bisa muncul jika remaja tidak memiliki kesadaran akan makna hidup adalah terbentuknya pribadi yang rapuh, rendahnya kontrol diri (P hilips dkk, dalam O’Connor & Chamberlain, 1996), penyalahgunaan obat-obatan (Padelford, dalam Leath, 1999) serta menyiksa diri dan munculnya keinginan dan pikiran untuk bunuh diri (Harlow :

  O’Connor dan Chamberlain, 1996).

  Angka putus sekolah menunjukkan tingkat putus sekolah di suatu jenjang pendidikan, misalnya angka putus sekolah SD menunjukkan persentase anak yang berhenti sekolah sebelum tamat SD yang dinyatakan dalam persen (badan pusat statisik).

  Pendidikan merupakan modal utama yang sangat diperlukan bagi

seseorang untuk menjalankan hidupnya dengan baik. Baik itu pendidikan

formal (pendidikan di sekolah) maupun non formal (pendidikan dalam

keluarga, lingkungan masyarakat dan pergaulan). Dengan pendidikan

seseorang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mengetahui

mana yang harus dilakukan dan mana yang tidah seharusnya dilakukan.

  

Sehingga dengan pendidikan yang baik seseorang tidak akan terjerumus ke

dalam permasalahan penyakit-penyakit masyarakat.

  Kenakalan remaja seperti perkelahian, pencurian dan mabok-

mabokan yang ada di daerah peneliti biasanya dilakukan oleh anak-anak

yang kurang mendapat perhatian dari orang tua (latar belakang orang tua

yang kurang baik), terpengaruh oleh lingkungan yang buruk dan kurangnya

pendidikan yang mereka miliki. Banyaknya anak-anak yang tidak

melanjutkan sekolah (hanya lulus SD/SMP), tidak bekerja dan ditinggal

oleh orang tua di daerah peneliti, memberikan penyataan bahwa sebagian

besar remaja di daerah peneliti telah terjerumus ke dalam pentayit-penyakit

masyarakat.

  Masa remaja merupakan masa dimana mereka mencari identitas, sehingga masa ini merupakan masa yang sangat rawan bagi mereka.

  Permasalahan ini timbul akibat dari kesalahan dari pergaulan seorang anak dan kurang kontrolnya orang tua terhadap aktifitas anak. Pengaruh sosial dan cultural memainkan peranan yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah laku kriminal anak-anak remaja. Perilaku nakal anak remaja merupakan suatu tindakan yang menunjukkan tanda-tanda kurang atau tidak ada konfirmasi terhadap norma-norma sosial. Masalah-masalah yang timbul dalam masa ini antara lain adalah merokok, penyalahgunaan psikotropika, seks bebas, perkelahian, dan sebagainya. Masalah-masalah norma, yang sebaiknya hal ini tidak dilakukan. Tetapi walau demikian , tidak bisa dipungkiri lagi bahwasannya penyakit-penyakit sosial ini makin meraja lela terutama di kalangan remaja. Yang kehadiranya sangat meresahkan bagi kita.

  Tingkah laku anak remaja yang menyimpang timbul karena adanya kegagalan dalam mengontrol diri terhadap implus-implus yang masuk dalam pergaulan remaja. Hal ini terjadi karena individu masih mencari identitas mereka dan belum memiliki pendirian yang baik, sehingga mereka terjerumus dalam dunia baru mereka. Sehingga mereka terpengaruh terhadap teman-teman yang bergaul dengan mereka. Hal ini merupakan satu masalah yang berpengeruh kedepannya.

  Menurut Hurlock (1990) secara umum masa remaja dibagi menjadi dua bagian yaitu remaja awal dan remaja akhir. Garis pemisah antara awal masa remaja dan akhir masa remaja terletak kira-kira di sekitar usia tujuh belas tahun. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari tiga belas tahun sampai enam belas atau tujuh belas tahun dan akhir masa remaja bermula dari usia enam belas atau tujuh belas tahun sampai delapan belas tahun.

  Dengan demikian akhir masa remaja merupakan periode tersingkat. Pada masa remaja akhir inilah sering terjadi hal-hal yang baru pada kehidupan remaja. Hal-hal baru tersebut dapat menimbulkan benturan terhadap hidupnya, karena mereka mendapatkan hal baru yang terkadang berasal dari dua arah yang berupa pengalaman yang mengarah ke hal positif dan negatif. akan ia ikuti dan apakah hal yang ia ikuti itu paling baik untuk hidupnya. Dari sinilah masa remaja akan mulai memaknai kehidupannya.

  Seperti halnya kisah FS seorang anak berusia 17 tahun di Desa

Tawangrejo. Dia harus rela bekerja dan putus sekolah di bangku sekolah

menengah pertama memenuhi kebutuhan hidup ibu dan seorang adiknya.

Dia mengaku tak sanggup membayar biaya sekolah. Apa lagi setelah

ditinggal ayahnya yang tidak jelas kemana perginya. Jaminan sekolah gratis

tidak bisa menghilangkan rasa tanggung jawabnya untuk menjadi tulang

punggung keluarga. Semenjak ditinggal ayahnya pergi ibunya mengalami

depresi dan sering kambuh.

  Ada pula cerita kesedihan dari A, remaja ini juga harus mengalami

putus sekolah dibangku sekolah menengah pertama. Dia terpaksa tidak

melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas karena sikap orang tuanya

yang melarangnya agar tidak melanjutkan sekolahnya. A dikenal sebagai

siswa yang pandai dan terampil disekolahnya. Akan tetapi karena sikap

orang tuanya yang melarangnya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya,

sekarang A hanya bekerja sebagai kuli serabutan. A selalu mendapatkan

beasiswa namun, orang tuanya memang berasal dari latar belakang

pendidikan yang kurang, mereka beranggapan bahwa sekolah tinggi-tinggi

untuk apa kalau rejekinya memang kecil, kalaupun rejekinya besar tak perlu

sekolah tinggi-tinggi pun akan menjadi orang yang sukses. Memang ironi

sekali, dizaman yang seperti sekarang ini masih dijumpai pemikiran-

  Banyaknya kasus putus sekolah di desa Tawangrejo amatlah sangat

disayangkan, ujar Susanta selaku kepala desa Tawangrejo. Berdasarkan

wawancara peneliti dengan kepala desa Tawangrejo kasus putus sekolah

terjadi karena faktor ekonomi. Mayoritas penduduk kami bermata

pencaharian buruh dan kuli lepas, sehingga jangankan untuk sekolah untuk

memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kurang mas. Menurut kepala desa

Tawangrejo pada hari selasa, 25 April 2017 pukul 11.00 WIB.

  Desa Tawangrejo yang berada dilingkup kecamatan Bayat,

lokasinya berada di daerah pinggiran perkotaan. Seperti hal umumnya

daerah pinggiran merupakan daerah yang rawan dengan ketertinggalan.

Mulai dari bidang ekonomi, kesejaheraan, pendidikan, budaya. Daerah

pinggiran mengalami ketertinggalan karena akibat yang ditimbulkan oleh

  perkembangan kota adalah adanya kecenderungan pergeseran fungsi-fungsi kekotaan ke daerah pinggiran kota (urban fringe) yang disebut dengan proses perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (urban sprawl). Akibat selanjutnya di daerah pinggiran kota akan mengalami proses transformasi spasial berupa proses densifikasi permukiman dan transformasi sosial ekonomi sebagai dampak lebih lanjut dari proses transformasi spasial. Proses densifikasi permukiman yang terjadi di daerah pinggiran kota merupakan realisasi dari meningkatnya kebutuhan akan ruang di daerah perkotaan. Daerah pinggiran kota (urban fringe) sebagai suatu wilayah peluberan kegiatan perkembangan kota telah menjadi perkotaan sejak tahun 1930 an saat pertama kali istilah urban fringe dikemukakan dalam literatur. Besarnya perhatian tersebut terutama tertuju pada berbagai permasalahan yang diakibatkan oleh proses ekspansi kota ke wilayah pinggiran yang berakibat pada perubahan fisikal misal perubahan tata guna lahan, demografi, keseimbangan ekologis serta kondisi sosial pendidakan dan ekonomi (Subroto, dkk, 1997).

  Penduduk usia kerja dibagi menjadi dua golongan yaitu yang termasuk angkatan kerja dan yang termasuk bukan angkatan kerja.

  Penggolongan usia kerja di Indonesia mengikuti standar internasional yaitu usia 15 tahun atau lebih. Angkatan kerja sendiri terdiri dari mereka yang aktif bekerja dan mereka yang sedang mencari pekerjaan. Mereka yang terakhir itulah yang dinamakan sebagai pengangguran terbuka. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah mereka yang masih bersekolah, ibu rumah tangga, pensiunan dan lain-lain.

  Berdasarkan uraian-uraian diatas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian, ingin mengetahui bagaimana kebermaknaan hidup pada anak remaja putus sekolah. Oleh karena itu penulis memilih judul Gambaran Kebermaknaan Hidup Pada Remaja Putus Sekolah Di Desa Tawangrejo.

B. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui gambaran kebermaknaan

hidup pada remaja yang mengalami putus sekolah di Desa Tawangrejo.

  C. Rumusan Masalah Berdasarkan penjelasan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran kebermaknaan hidup remaja yang mengalami putus sekolah di Desa Tawangrejo?.

  D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi bidang keilmuan,

khususnya psikologi dan tentunya bagi masyarakat. Manfaat penelitian

dapat dilihat kegunaannya : 1.

  Secara teoritis, menambah khasanah keilmuan psikologi. Khususnya psikologi sosial. Dan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya dalam memahami kebermaknaan hidup.

  2. Secara praktis, diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta masukan tentang bagaimana memahami kebermaknaan hidup sebagai salah satu bentuk proses dalam berkehidupan. Dan untuk siapapun dapat menggunakan pengetahuan ini sebagai upaya menemukan makna hidup dan memaksimalkan kehidupannya. Serta secara praktis, diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta masukan atas gambaran kebermaknaan hidup pada anak putus

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Subyek I memaknai hidupnya dengan mengikuti setiap alur

  kehidupan yang subyek alami. Subyek II memaknai hidupnya dengan selalu membuat senang apa yang subyek hadapi. Subyek III menganggap makna hidup adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui dan diikuti saja alurnya. Subyek IV lebih senang memaknai hidupnya dengan menikmati masa mudanya.

  Berdasarkan seluruh hasil dari wawancara dengan subyek, dapat disimpulkan bahwa remaja yang mengalami putus sekolah tidak mempunyai patokan diri yang jelas untuk membawa kehidupannya kearah yang sesuai dengan ke inginannya. Peran kelompok teman sebaya sangat besar berpengaruh dalam kehidupan diri remaja yang mengalami putus sekolah. Perubahan dalam hal kesejahteraan merupakan hal yang sangat diharapkan bisa mereka dapatkan. Dalam menjalani hidupnya remaja yang mengalami putus sekolah selalu menginginkan kebebasan, namun disisi lain mereka juga takut akan cara mereka dalam mempertanggung jawabkan hal yang menyertai kebebasan tersebut.

  Permasalahan dengan lingkungan sosial juga sering terjadi pada mereka, hal itu terjadi dikarenakan hal yang mereka lakukan dipandang masyarakat sangat dekat dengan kenakalan remaja. Remaja yang dirinya. Mereka menginginkan kesuksesan dapat mereka dapatkan di masa depan mereka. Akan tetapi rasa itu mereka rasakan sangat jauh bisa mereka dapatkan.

B. Saran

  Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis memberikan saran sebagai berikut : a.

  Bagi subyek Subyek yang mengalami putus sekolah seharusnya mempunyai patokan pada diri mereka agar bisa mempunyai pegangan hidup yang bisa mereka gunakan untuk meraih harapan maupun keinginannya. Sikap optimis haruslah selalu dijadikan sebagai penyemangat agar masa depan dapat diraih. Buktikan kalau kalian itu bisa.

  b.

  Bagi Masyarakat Masyarakat seharusnya memberikan perhatian lebih pada mereka yang mengalami putus sekolah agar mereka tidak melakukan kenakalan remaja dan setidaknya membantu dalam merubah cara hidup pada mereka yang mengalami putus sekolah. Jangan memandang mereka yang mengalami putus sekolah dengan pandangan negatif, karena tidak semua remaja menginginkan mengalami putus sekolah.

  c.

  Bagi Penulis Selanjutnya Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan putus sekolah. Selanjutnya agar bisa dijadikan sebagai referensi untuk meneliti dengan tema misalnya pada kasus kenakalan remaja, masalah sosial dan sebagainya.

  

DAFTAR PUSTAKA

Adler, A. 2004. What Life Should Mean to You : Jadikan Hidup Lebih Bermakna.

  .

  Alih Bahasa : Septiani, M. Jakarta : Penerbit Alenia Bastaman, H. D. 1996. Meraih Hidup Bermakna. Jakarta : Paramadina.

  Bastaman, H.D. 2007. Logoterapi: Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan

  Meraih Hidup Bermakna. Jakarta: Rajawali Press Brouwer, M. A. W. 1984. Psikologi Fenomenologi. Jakarta : PT. Gramedia.

  Hurlock, Elizabeth (1991), Psikologi Perkembangan, Suatu PendekatanSepanjang Rentang Kehidupan , Jakarta : Penerbit Erlangga.

  Frankl, V. E. 1985.

  Man’s Search for Meaning. New York : Washington Square Press.

  Koeswara, E. 1992. Logoterapi : Psikoterapi Viktor Frankl. Yogyakarta : Kanisius. Moleong, L. J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : P. T. Remaja Rosdakarya.

  Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Poerwandari, E.K. 2001. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia.

  Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LSPS3) Universitas Indonesia. Schultz, D. 2005. Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih Bahasa : Yustinus. Yogyakarta : Kanisius. http://kpai.com(anak putus sekolah. Diakses 05 mei 2017 pukul 20.00) Setiyani, R. (2010). Masalah sosial anak putus sekolah. Jakarta: PT.Kencana Ilmu.

  Titaley, M. (2012). Faktor penyebab putus sekolah pada sekolah menengah

  pertama di Jakarta Pusat. Jurnal Psikologi Universitas Indonesia

  Purnama, D. T. (2014). Fenomena anak putus sekolah di kota Pontianak. Jurnal Sociologique Universitas Tanjungpura.

  Rasidah. (2012). Perhatian orang tua pada pendidikan anak di sekolah dasar. Jurnal Universitas Negeri Yogyakarta.

  Seligman, M. (2005). Menciptakan Kebahagiaan dengan psikologi positif : Authentic happiness. Bandung: Mizan Media Utama.