Laporan Praktikum Biologi Konservasi Pul

I. PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau sekitar 17.508 pulau
dan panjang pantai kurang lebih 81.000 km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat
besar, baik hayati maupun nonhayati. Pesisir merupakan wilayah perbatasan antara
daratan dan laut, oleh karena itu wilayah ini dipengaruhi oleh proses-proses yang ada di
darat maupun yang ada di laut. Wilayah demikian disebut sebagai ekoton, yaitu daerah
transisi yang sangat tajam antara dua atau lebih komunitas (Odum, 1983 dalam Kaswadji,
2001). Sebagai daerah transisi, ekoton dihuni oleh organisme yang berasal dari kedua
komunitas tersebut, yang secara berangsur-angsur menghilang dan diganti oleh spesies
lain yang merupakan ciri ekoton, dimana seringkali kelimpahannya lebih besar dari dari
komunitas yang mengapitnya.
Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang
unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi
ekologis hutan mangrove antara lain : pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut,
habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan
pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota
perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain :
penghasil keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit.
Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi
ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan (mangrove)
menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun penebangan oleh
masyarakat untuk berbagai keperluan. Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya
ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi
dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu
keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya.
Propinsi Maluku yang sebagian besar wilayahnya adalah laut dengan luas sekitar
765,272 km2 didukung dengan tersedianya sumberdaya yang potensial. Perairan teluk
Ambon sebagai bagian integral dari perairan maluku, memiliki topografi yang terlindung
memungkinkan adanya ekosistem mangrove yang cukup luas sehingga perlu untuk

dikonservasi bagi kelangsungan hidup ekosistem maupun kesejahteraan masyarakat
sekitarnya.
2. Tujuan Praktikum
Praktikum yang dilakukan ini bertujuan untuk :
a. Mengetahui teknik-teknik pengumpulan dan analisa kondisi suatu ekosistem
terutama mangrove dalam upaya pelestariannya
b. Melakukan identifikasi faktor-faktor oseanografi perairan dalam hubungan
dengan konservasi ekosistem mangrove
3. Waktu dan lokasi praktikum
Praktikum ini berlangsung pada tanggal 22 Maret 2004. Pengamatan bertempat di
daerah mangrove Passo.

2

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi hutan mangrove dan ekosistem mangrove
Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa
Inggris grove (Macnae, 1968). Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan baik
untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun
untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.
Sedangkan dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu
spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan
tersebut.
Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah kelompok spesies tumbuhan
yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi
istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai
dengan reaksi substrat anaerob. Seperti halnya direkomendasikan oleh FAO (1982), kata
mangrove sebaiknya digunakan baik untuk individu spesies tumbuhan maupun komunitas
tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut. Adapun menurut Aksornkoae (1993),
hutan mangrove adalah tumbuhan halofit yang hidup di sepanjang areal pantai yang
dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut
yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.
Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau
secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak
terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian
hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi
oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994
dalam Santoso, 2000).
Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang
digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi
oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai
kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Hutan mangrove meliputi pohon-pohon
dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan
3

berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus,
Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen,
2000).
Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas
atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang
surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae, 1968 dalam Supriharyono,
2000). Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah “mangal” apabila berkaitan
dengan komunitas hutan dan “mangrove” untuk individu tumbuhan. Hutan mangrove
oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun
menurut Khazali (1998), penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat
karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di
mangrove.
Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya
kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir,
terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang
khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000).
Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis spesies
mangrove (Hutching and Saenger, 1987 dalam Idawaty, 1999). Formasi hutan mangrove
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang
surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik (Jenning and Bird, 1967 dalam Idawaty,
1999). Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi spesies dan karakteristik
hutan mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk lahan pesisir, jarak antar
pasang surut air laut, ketersediaan air tawar, dan tipe substrat.

2. Daya Adaptasi Mangrove Terhadap Lingkungan
Tumbuhan mangrove mempunyai daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan.
Bengen (2001), menguraikan adaptasi tersebut dalam bentuk :
1.

Adaptasi terhadap kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki
bentuk perakaran yang khas : (1) bertipe cakar ayam yang mempunyai
pneumatofora (misalnya : Avecennia spp., Xylocarpus., dan Sonneratia spp.)

4

untuk mengambil oksigen dari udara; dan (2) bertipe penyangga/tongkat yang
mempunyai lentisel (misalnya Rhyzophora spp.).
2.

Adaptasi terhadap kadar garam yang tinggi :
 Memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan
garam.
 Berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur
keseimbangan garam.
 Daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan.

3.

Adaptasi terhadap substrat yang kurang strabil dan adanya pasang surut, dengan
cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk
jaringan horisontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar
tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.

3. Manfaat Ekosistem Hutan Mangrove
Ekosistem hutan mangrove bermanfaat secara ekologis dan ekonomis. Fungsi
ekologis dan ekonomis hutan mangrove adalah (Santoso dan H.W. Arifin, 1998) :
a. Fungsi ekologis :
 pelindung garis pantai dari abrasi,
 mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan,
 mencegah intrusi air laut ke daratan,
 tempat berpijah aneka biota laut,
 tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia, reptil,
dan serangga,
 sebagai pengatur iklim mikro.
b. Fungsi ekonomis :
 penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan
makanan, obat-obatan),
 penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak
kulit, pewarna),
 penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung,
 pariwisata, penelitian, dan pendidikan.

5

Sedangkan menurut Nienhuis (1989); Hutomo dan Azkab (1987), bahwa adanya
interaksi yang timbal balik dan saling mendukung, maka secara ekologis mangrove
mempunyai peran yang cukup besar bagi ekosistem pantai tropik. Adapun peran
mangrove tersebut adalah sebagai berikut :
a. Produsen primer.
Mangrove memfiksasi sejumlah karbon organik dan sebagian besar memasuki
rantai makanan di laut, baik melalui pemangsaan langsung oleh herbivora maupun
melalui dekomposisi serasah.
b. Sebagai habitat biota.
Mangrove memberi perlindungan dan tempat penempelan hewan dan tumbuhtumbuhan.
c. Sebagai pendaur zat hara.
d. Sebagai makanan dan kebutuhan lain, seperti bahan baku .
4. Zonasi Hutan Mangrove
Menurut Bengen (2001), penyebaran dan zonasi hutan mangrove tergantung oleh
berbagai faktor lingkungan. Berikut salah satu tipe zonasi hutan mangrore di Indonesia :
 Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering
ditumbuhi oleh Avicennia spp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia spp.
yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik.
 Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp.
Di zona ini juga dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp.
 Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp.
 Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa
ditumbuhi oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya.
5. Faktor penyebab kerusakan eksosistem mangrove
Beberapa hal yang menyebabkan kerusakan ekosistem mangrove adalah sebagai
berikut:

6



Perubahan ekosistem mangrove menjadi lahan pertambakan, pemukiman, dsb.
Peningkatan populasi penduduk berarti peningkatan kebutuhan lahan untuk
perumahan, untuk meningkatkan income, dsb. Keterbatasan lahan yang sesuai
menyebabkan banyak orng mulai merambvah daerah-daerah mangrove (lahan
basah pada umumnya). Sebagai daerah yang tidak dianggap produktif, ekosistem
mangrove memiliki nilai jual yang rendah sehingga banyak dicari oleh para
pengembang (developer). Biaya untuk reklamasi diperkirakan tetap lebih rendah
daripada harga jual substrat di daerah lahan yang bukan ekosistem mangrove,
sehingga para pengembang lebih suka mengurug rawa-rawa, pantai, atau danau
untuk lahan pemukiman.



Perubahan sistem hidrologi.
Perubahan sistem hidrologi dapat terjadi karena pengubahan aliran air sungai,
pembuatan bendungan, pengambilan air substrat yang berlebihan, dan pembuatan
saluran air. Hal ini umumnya untuk meningkatkan irigasi bagi lahan pertanian
dan menghasilkan energi. Pembangunan dam ini tentu mengurangi volume
partikulat substrat yang ditransportasikan aliran air dari hulu ke hilir. Padahal
endapan partikulat tersebut berguna bagi ekosistem mangrove sebagai input hara,
terutama bagi dekomposer ekosistem mangrove. Transort hara dari hulu ini juga
turut berperan dalam membentuk struktur dan komposisi hutan mangrove.



Pencemaran air, substrat, dan udara oleh berbagai macam bahan kimia dan
logam berat.
Banyak bahan pencemar yang masuk ke dalam air dan akhirnya mempengaruhi
kelestarian ekosistem mangrove. Pencemaran berbagai logam berat dapat
langsung mempengaruhi kesehatan manusia, komunitas flora dan fauna
mangrove. Pencemaran bahan organik dapat terjadi akibat limbah rumah tangga,
pemakaian pupuk dan pestisida untuk lahan pertanian, juga kegiatan industri
seperti pembuatan pupuk dan pestisida untuk lahan pertanian, juga kegiatan
industri seperti pembuatan tekstil, tahu, dan rumah pemotongan hewan. Pada
kadar rendah, pencemaran bahan organik relatif tidak berbahaya karena bahanbahan tersebut dapat terurai di alam. Namun jika kadarnya sangat tinggi, dapat

7

menurunkan kadar O2 di perairan sehingga membahayakan kehidupan organisme
mangrove. Penambahan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan perairan
akibat dilepaskannya unsur hara sebagai hasil dekomposisi. Proses eutrofikasi ini
dapat meningkatkan populasi tumbuhan air dan alga secara pesat sehingga
mengganggu keseimbangan ekosistem.


Eksploitasi sumberdaya yang melampaui batas
Pemanfaatan sumberdaya dikatakan berlebihan apabila jumlah yang diambil
melebihi yang dapat dihasilkan (di dalam ilmu kehutanan disebut dengan riap).
Dalam jangka panjang pengurasan sumberdaya tersebut dapat memusnahkan
sumberdaya alam tersebut. eksploitasi ini kadangkala didasari oleh persepsi yang
salah dan pengethuan yang terbatas terhadap ekosistem mangrove (sebagai contoh
salah seorang penebang liar di daerah Riau kepulauan, menyatakan bahwa hutan
mangrove itu ajaib, tidak akan habis walau ditebang sebanyak apapun).

8

III. METODE PRAKTIKUM

Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain: termometer, pHmeter;
Refraktometer, stopwatch, camera digital, alat tulis, kamera digital, dll.
Bahan yang digunakan antara lain : akuades, air kran, tisue, kuisioner, buku
identifikasi, dll.
Di lapangan dilakukan, pengamatan secara visual terhadap kondisi ekosistem dan
selanjutnya di masukan dalam checklist yang disediakan, selain itu dilakukan wawancara
dengan masyarakat sekitar ekosistem untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan dan
peranan eksosistem tersebut bagi masyarakat sekaligus mengidentifikasi masalahmasalah ekosistem sebagai akibat kegiatan masyarakat sekitar.
Parameter hidroligi diperoleh dengan melakukan pengukuran langsung di
lapangan baik parameter fisik maupun kimia. Semua kondisi ekosistem dicatat bahkan
didokumentasikan dengan kamera digital.
Data hasil pengamatan dilapangan, kemudian ditabulasikan dan selanjutnya
dianalisa dan didiskusikan. Dalam mengkaji lebih lanjut, maka dicari data-data sekunder
mengenai ekosistem tersebut baik dari literatur mapun laporan-laporan penelitian dari
Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon.

9

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kondisi ekosistem mangrove
Ekosistem mangrove pada tempat praktikum merupakan kawasan yang telah
dilindungi dan ditata dengan cukup rapih oleh Yayasan ARMAN bekerja sama dengan
instansi yang terkait di Pemda kota mapun pemda propinsi Maluku. Hal ini terlihat dari
sudah dibuatnya jembatan dan rumah panggung sebagai tempat wisata. Dari hasil
pengamatan selain tempat ini sudah pernah dikunjungi oleh orang dengan tujuan
beberapa tujuan seperti tujuan wisata maupun tujuan konservasi dalam hal ini
penanaman anakan.
Hal-hal yang diamati mengenai kondisi ekosistem mangrove pada saat
pengamatan di lapangan antara lain : struktur, fungsi ekosistem mangrove, komposisi
dan distribusi spesies serta faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
mangrove.
a. Keanekaragaman jenis Mangrove
Jenis mangrove yang ditemukan dilokasi praktikum, terdiri dari: Rhizophora,
Bruguiera, Sonneratia, Avicennia, dan Nypa. Tomlinson (1984) membagi flora mangrove
menjadi tiga kelompok, yakni :
1. Flora mangrove mayor (flora mangrove sebenarnya), yakni flora yang
menunjukkan

kesetiaan

terhadap

habitat

mangrove,

berkemampuan

membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur
komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus
(bentuk akar dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan
mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam. Contohnya
adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia,
Lumnitzera, Laguncularia dan Nypa.
2. Flora mangrove minor, yakni flora mangrove yang tidak mampu membentuk
tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam
struktur komunitas, contoh : Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera, Aegiceras.

10

Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia
dan Pelliciera.
3. Asosiasi mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus,
Calamus, dan lain-lain.
b. Zonasi Jenis Mangrove
Mangrove di lapangan umumnya tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir
pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi ini mencerminkan tanggapan ekofisiologis
tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk berupa zonasi
yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan zonasi yang kompleks (beberapa
zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. Adanya
zonasi ini sangat dipengaruhi oleh :
1. Pasang surut yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air
(water table) dan salinitas air dan substrat. Secara langsung arus pasang surut
dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan.
2. Tipe substrat yang secara tidak langsung menentukan tingkat aerasi substrat,
tingginya muka air dan drainase.
3. Kadar garam substrat dan air yang berkaitan dengan toleransi spesies
terhadap kadar garam.
4. Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari spesies
intoleran seperti Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia.
5. Pasokan dan aliran air tawar
Hal ini berarti bahwa zonasi di hutan mangrove Passo tergantung pada keadaan
tempat tumbuh spesifik yang berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Zonasi juga
menggambarkan tahapan suksesi yang terjadi sejalan dengan perubahan tempat tumbuh.
Tempat tumbuh hutan mangrove memang selalu berubah akibat laju pengendapan
(sedimentasi) dan pengikisan (abrasi). Daya adaptasi dari tiap spesies tumbuhan
mangrove terhadap keadaan tempat tumbuh akan menentukan komposisi spesies yang
menyusun suatu hutan mangrove.

11

Dalam pengamatan setiap zonasi, diidentifikasi berdasarkan individu spesies
mangrove atau kelompok spesies dan dinamakan sesuai dengan spesies yang dominan
atau sangat melimpah. Zonasi di tepian air biasanya tipis dan ditumbuhi oleh spesies
pionir, seperti A. alba dan S. caseolaris.
Berdasarkan spesies-spesies pohon yang dominan, komunitas mangrove di Passo
dapat berupa konsosiasi atau asosiasi (tegakan campuran). Ada sekitar lima konsosiasi
yang ditekuman di hutan mangrove di Passo, yaitu konsosiasi Avicennia, konsosiasi
Rhizophora, konsosiasi Sonneratia, konsosiasi Bruguiera, dan konsosiasi nipah. Dalam
hal asosiasi mangrove ini, asosiasi antara Bruguiera spp. dan Rhizophora spp. sering
ditemukan, terutama di zona lebih dalam. Dari segi keanekaragaman spesies, zona
transisi (peralihan antara eksosistem mangrove dan hutan rawa) merupakan zona dengan
spesies yang beragam yang terdiri atas spesies-spesies mangrove yang khas dan tidak
khas habitat mangrove. Secara umum, sesuai dengan kondisi habitat lokal, tipe komunitas
(berdasarkan spesies pohon dominan) mangrove berbeda suatu tempat ke tempat lain.
Adanya zonasi mangrove di Passo juga sangat terkait dengan sdaptasi terhadap
konsentrasi garam atau salinitas. Berkaitan dengan adaptasi terhadap kandungan garam,
mangrove dikelompokkan Hutching dan Saenger (1987) menjadi:
1. salt-excreting mangrove, seperti spesies Avicennia, dan (2) non-salt excreting
mangrove, sperti spesies Rhizophora, Bruguiera, Sonneratia, dan lain-lain.
Sehubungan dengan ini Hutching dan Saenger (1987) mengemukakan tiga cara
mangrove beradaptasi terhadap garam sebagai berikut:
a. Sekresi garam (salt extrusion/salt secretion), mangrove menyerap air
dengan salinitas tinggi kemudian mengekskresikan garam dengan kelenjar
garam yang terdapat pada daun. Mekanisme ini dilakukan oleh Avicennia,
Sonneratia, dan Rhizophora (melalui unsur-unsur gabus pada daun).
b. Mencegah masuknya garam (salt exclusion), mangrove menyerap air tetapi
mencegah masuknya garam, melalui saringan (ultra filter) yang terdapat
pada akar. Mekanisme ini dilakukan oleh Rhizophora, Sonneratia,
Avicennia, dan Bruguiera.

12

c. Akumulasi garam (salt accumulation), mangrove seringkali menyimpan Na
dan Cl pada bagian kulit kayu, akar dan daun yang lebih tua. Daun
penyimpan garam umumnya sukulen dan pengguguran daun sukulen ini
diperkirakan merupakan mekanisme mengeluarkan kelebihan garam yang
dapat menghambat pertumbuhan dan pembentukan buah. Mekanisme
adaptasi akumulasi garam ini terdapat pada Avicennia, Rhizophora,
Sonneratia dan Xylocarpus.
2. Adaptasi terhadap substrat lumpur dan kondisi tergenang untuk menghadapi
habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut yang berupa lumpur dan selalu
tergenang (reaksi anaerob), flora mangrove beradaptasi dengan membentuk
akar-akar khusus untuk dapat tumbuh dengan kuat dan membantu mendapatkan
oksigen. Bentuk perakaran mangrove tersebut adalah sebagai berikut:
a. Akar pasak (pneumatophore) Akar pasak berupa akar yang muncul dari
sistem akar kabel dan memanjang keluar ke arah udara seperti pasak. Akar
pasak ini terdapat pada Avicennia, Xylocarpus dan Sonneratia.
b. Akar lutut (knee root) Akar lutut merupakan modifikasi dari akar kabel
yang pada awalnya tumbuh ke arah permukaan substrat kemudian
melengkung menuju ke substrat lagi. Akar lutut seperti ini terdapat pada
Bruguiera spp.
c. Akar tunjang (stilt root) Akar tunjang merupakan akar (cabang-cabang
akar) yang keluar dari batang dan tumbuh ke dalam substrat. Akar ini
terdapat pada Rhizophora spp.
d. Akar papan (buttress root) Akar papan hampir sama dengan akar tunjang
tetapi akar ini melebar menjadi bentuk lempeng, mirip struktur silet. Akar
ini terdapat pada Heritiera.
e. Akar gantung (aerial root) Akar gantung adalah akar yang tidak bercabang
yang muncul dari batang atau cabang bagian bawah tetapi biasanya tidak
mencapai substrat. Akar gantung terdapat pada Rhizophora, Avicennia dan
Acanthus. Pada umumnya genera mangrove mempunyai satu atau lebih tipe
akar adaptasi tersebut. Bentuk dari akar-akar tersebut dapat dilihat pada
Gambar 1.

13

Gambar 1. Bentuk dari akar-akar mangrove yang ditemukan.
c. Fauna di Ekosistem Mangrove
Sekalipun dalam praktikum didak dilakukan sampling terhadap biota, namun
secara visual dan berdasarkan data sekunder yang diperoleh, dapat digambarkan kondisi
fauna pada ekosistem mangrove tersebut. Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi
berbagai fauna, yaitu fauna khas mangrove dan fauna yang berasosiasi dengan mangrove.
Fauna tersebut menjadikan mangrove sebagai tempat tinggal, mencari makan, bermain
atau tempat berkembang biak. Secara garis besar, ekosistem mangrove di Passo
menyediakan lima tipe habitat bagi fauna, yakni :


Tajuk pohon yang dihuni oleh berbagai spesies burung, mamalia dan serangga.



Lobang pada cabang dan genangan air pada cagak antara batang dan cabang
yang merupakan habitat untuk serangga (terutama nyamuk).



Permukaan substrat sebagai habitat keong/kerang dan ikan glodok.



Lobang permanen dan semi permanen di dalam substrat sebagai habitat kepiting.



Saluran-saluran air sebagai habitat ikan/anakan udang.
Penelitian mengenai fauna mangrove menyimpulkan bahwa fauna mangrove

hampir mewakili semua phylum, mulai dari protozoa sederhana sampai burung, reptilia
dan mamalia. Secara garis besar fauna mangrove dapat dibedakan atas fauna darat
(terrestrial), fauna air tawar dan fauna laut. Fauna darat, misalnya biawak (Varanus
salvator), berbagai spesies burung, dan lain-lain. Sedangkan fauna laut didominasi oleh
Mollusca dan Crustaceae. Golongan Mollusca umumnya didominasi oleh Gastropoda,
14

sedangkan golongan Crustaceae didominasi oleh Bracyura. Para peneliti melaporkan
bahwa fauna laut tersebut merupakan komponen utama fauna hutan mangrove.
Sedangkan fauna air tawar seperti: burung air dengan populasi terbesar pada famili
Heron (Ardeidae) dan Cormorant (Phalacrocoracidae). Spesies yang lainnya termasuk
ke dalam family Darter (Anhingidae), Stork (Ciconiidae) dan Ibises (Threskiornithidae).
Mamalia, terutama dari spesies primata yang terdapat di mangrove adalah biawak
(Varanus salvator), kadal (Mabouya multifasciata), berbagai spesies ular seperti Boiga
dendrophila.
2. Faktor Oseanografi di ekosistem mangrove
Dalam praktikum ini juga telah diamati beberapa factor lingkungan terutama
factor oseanografi yang mempengaruhi keberadaan ekosistem mangrove antara lain :
a. Suhu
Suhu udara pada saat pengamatan sebesar 28,5 0C dan suhu air mencapai 310C.
Suhu berperan penting dalam proses fisiologis, seperti fotosintesis dan respirasi.
Kusmana (1993) menyatakan bahwa pertumbuhan mangrove yang baik memerlukan suhu
rata-rata minimal lebih besar dari 20ºC dan perbedaan suhu musiman tidak melebihi 5ºC.
Berdasarkan hasil penelitian Kusmana (1993) diketahui bahwa hutan mangrove yang
terdapat di bagian timur pulau Sumatera tumbuh pada suhu rata-rata bulanan dengan
kisaran dari 26,3 ºC sampai dengan 28,7 ºC. Hutching dan Saenger (1987) mendapatkan
kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan beberapa spesies tumbuhan mangrove, yaitu
Avicennia marina tumbuh baik pada suhu 18 - 20 ºC, R. stylosa, Ceriops spp., Excoecaria
agallocha dan Lumnitzera racemosa pertumbuhan tertinggi daun segar dicapai pada suhu
26-28 ºC, suhu optimum Bruguiera spp. 27 ºC, Xylocarpus spp. berkisar antara 21-26 ºC
dan X. granatum 28 ºC. Dengan demikian, kondisi suhu udara pada ekosistem mangrove
di Passo masih dalam kondisi yang baik.
b. Pasang surut
Hasil penelitian pasut di teluk Ambon, menunjukan bahwa perbedaan pasang
tertinggi dan surut terendah berkisar antara 1,5 – 2, 0 m dan merupakan pasut ganda.
Adanya perbedaan pasang surut ini sangat menentukan zonasi komunitas flora dan fauna
mangrove. Durasi pasang surut berpengaruh besar terhadap perubahan salinitas pada
15

substrat mangrove. Salinitas air menjadi sangat tinggi pada saat pasang naik, dan
menurun selama pasang surut. Perubahan tingkat salinitas pada saat pasang merupakan
salah satu faktor yang membatasi distribusi spesies mangrove, terutama distribusi
horisontal. Pada areal yang selalu tergenang hanya R. mucronata yang tumbuh baik,
sedang Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp. jarang mendominasi daerah yang sering
tergenang. Pasang surut juga berpengaruh terhadap perpindahan massa antara air tawar
dengan air laut, dan oleh karenanya mempengaruhi distribusi vertikal organisme
mangrove.
Durasi pasang juga memiliki efek yang mirip pada distribusi spesies, struktur
vegetatif, dan fungsi ekosistem mangrove. Hutan mangrove yang tumbuh di daerah
pasang diurnal memiliki struktur dan kesuburan yang berbeda dari hutan mangrove yang
tumbuh di daerah semi-diurnal, dan berbeda juga dengan hutan mangrove yang tumbuh
di daerah pasang campuran. Rentang pasang surut merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi, khususnya sistem akar dari mangrove. Di daerah mangrove dengan
rentang pasang yang lebar, akar tunjang dari Rhizophora spp. tumbuh lebih tinggi,
sedangkan di daerah yang rentangnya sempit memiliki akar yang lebih rendah. Aegialites
rotundifolia dan Sonneratia spp. menunjukkan perilaku yang perakaran yang mirip.
Pneumatoforanya yang besar (kuat dan panjang) sangat baik di atas permukaan substrat
di zona peralihan pasang lebih luas dan lebih kecil untuk daerah dengan rentang pasang
yang sempit.
d. Gelombang dan arus
Gelombang pantai, yang sebagian besar dipengaruhi angin, merupakan penyebab
penting abrasi dan suspensi sedimen. Pada pantai berpasir dan berlumpur, gelombang
dapat membawa partikel pasir dan sedimen laut. Partikel besar atau kasar akan
mengendap, terakumulasi membentuk pantai berpasir. Mangrove akan tumbuh pada
lokasi yang arusnya tenang. Keberadaan tegakan mangrove di pesisir pantai dapat
melindungi kerusakan pantai akibat energi gelombang dan arus berupa abrasi dan
tsunami. Hasil penelitian Pratikto et al. (2002) di Teluk Grajagan - Banyuwangi, yaitu
dari tinggi gelombang di daerah tersebut sebesar 1,09 m, dan energi gelombang sebesar
1493,33 Joule, dengan adanya hutan mangrove di daerah tersebut, maka terjadi reduksi

16

gelombang sebesar 0,7340, dan perubahan energi gelombang sebesar 19635,26 Joule,
sehingga keberadaan hutan mangrove dapat memperkecil gelombang tsunami yang
menyerang daerah pantai.
e. Salinitas
Hasil pengukuran salinitas berkisar antara 30 – 32 ppt dengan densitas 1.023
kg/m3. Lugo (1980) mengatakan bahwa lingkungan asin (bergaram) diperlukan untuk
kestabilan ekosistem mangrove, seperti halnya banyak spesies yang kurang bersaing di
bawah kondisi air tawar. Salinitas air dan salinitas substrat rembesan merupakan faktor
penting dalam pertumbuhan, daya tahan, dan zonasi spesies mangrove. Tumbuhan
mangrove tumbuh subur di daerah estuaria dengan salinitas 10 - 30 ppt. Salinitas yang
sangat tinggi (hypersalinity) misalnya ketika salinitas air permukaan melebihi salinitas
yang umum di laut (± 35 ppt) dapat berpengaruh buruk pada vegetasi mangrove, karena
dampak dari tekanan osmotik yang negatif. Akibatnya, tajuk mangrove semakin jauh dari
tepian perairan secara umum menjadi kerdil dan berkurang komposisi spesiesnya.
Meskipun demikian, beberapa spesies dapat tumbuh di daerah dengan salinitas sangat
tinggi, seperti yang dilaporkan oleh Wells (1982) dalam Aksornkoae (1993), bahwa di
Australia A. marina dan E. agallocha dapat tumbuh di daerah dengan salinitas maksimum
63 ppt, Ceriops spp. 72 ppt., Sonneratia spp. 44 ppt., R. apiculata 65 ppt dan R. stylosa
74 ppt. Dalam hal ini, Watson (1928), de Haan (1931) dan Chapman (1944) membuat
korelasi antara salinitas, frekuensi genangan pasang (kelas genangan) dan spesies pohon
mangrove.
Mangrove merupakan vegetasi yang bersifat salt-tolerant bukan salt-demanding,
oleh karenanya mangrove dapat tumbuh secara baik di habitat air tawar. Kebanyakan
mangrove tumbuh di habitat maritim mungkin disebabkan oleh beberapa faktor sebagai
berikut : (a) penyebaran biji/propagul mangrove terbatas oleh daya jangkau pasang surut,
(b) anakan mangrove kalah bersaing dengan tumbuhan darat, dan (c) mangrove dapat
mentoleransi kadar garam.
f. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut sangat penting bagi eksistensi flora dan fauna mangrove
(terutama dalam proses fotosintesis dan respirasi) dan percepatan dekomposisi serasah.

17

Oleh karena itu, konsentrasi oksigen terlarut berperan mengontrol komposisi spesies,
distribusi dan pertumbuhan mangrove. Dalam praktikum ini, hasil pengukuran DO
menunjukkan nilai antara 1,81 – 2,40 mg/L.
Konsentrasi oksigen terlarut bervariasi menurut waktu, musim, kesuburan
substrat, keanekaragaman tumbuhan, dan organisme akuatik. Konsentrasi oksigen
terlarut harian tertinggi dicapai pada siang hari dan terendah pada malam hari.
Aksornkoae (1978) mendapatkan konsentrasi oksigen terlarut di hutan mangrove 1,7 3,4 mg/L, lebih rendah dibanding di luar hutan mangrove yang besarnya 4,4 mg/L.
Substrat pada hutan mangrove yang berlumpur dan jenuh air mengandung
oksigen rendah dan bahkan tidak mengandung oksigen (anoksik). Dalam kondisi
lingkungan demikian hanya spesies-spesies tumbuhan tertentu saja yang dapat hidup.
Sementara pada bagian atas substrat dimungkinkan sedikit teroksidasi dan terlihat
berwarna kecoklatan, tetapi bagian bawahnya berwarna abu-abu kebiruan. Untuk
mengatasi

kondisi

tersebut,

tumbuhan

mangrove

beradaptasi

melaui

sistem

perakarannya yang khas (Whitten et al., 1987). Selain adanya sistem perakaran yang
khas, kekurangan oksigen juga dapat dipenuhi oleh adanya lubang-lubang dalam
substrat yang dibuat oleh hewan-hewan, misalnya kepiting. Lubang-lubang tersebut
membawa oksigen ke bagian akar tumbuhan mangrove (Ewusie, 1980).
g. Substrat
Hasil pengamatan terhadap substrat menunjukkan bahwa substrat yang dominan
adalah pasir halus, pasir berlumpur dan lumpur berpasir. Lear dan Turner (1977) dalam
Soeroyo (1983), mengatakan bahwa mangrove terutama tumbuh pada substrat berlumpur,
namun berbagai spesies mangrove dapat tumbuh pula di substrat berpasir, koral, substrat
berkerikil, bahkan substrat gambut. Pada umumnya ciri substrat di hutan mangrove selalu
basah, mengandung garam, sedikit oksigen dan kaya akan bahan organik. Pembentukan
substrat mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (a) faktor fisik yang mencakup
transportasi nutrien oleh arus pasang, aliran air laut, gelombang dan aliran sungai, (b)
faktor fisik-kimia, misalnya penggabungan dari beberapa partikel oleh pengumpalan dan
pengendapan, dan faktor biotik, seperti produksi dan perombakan senyawa-senyawa
organik.

18

Substrat tempat tumbuh mangrove dibentuk oleh akumulasi sedimen yang berasal
dari sungai, pantai atau erosi substrat yang terbawa dari dataran tinggi sepanjang sungai
atau kanal. Sebagian substrat berasal dari hasil akumulasi dan sedimentasi bahan-bahan
koloid dan partikel. Sedimen yang terakumulasi di suatu daerah mangrove dengan
lainnya memiliki karakterisitik yang berbeda, tergantung pada sifat dasarnya. Sedimen
yang berasal dari sungai berupa substrat berlumpur, sedangkan sedimen pantai berupa
pasir. Degradasi dari bahan-bahan organik yang terakumulasi sepanjang waktu juga
merupakan bagian dari substrat mangrove.
Substrat hutan mangrove merupakan lapisan sedimen, jadi warnanya sesuai
dengan asal-usul sedimennya. Umumnya pada kedalaman 0 - 10 m, substrat berwarna
kelabu hijau, hijau, hijau kelabu hingga kuning kelabu dan bertekstur berat, dan pada
kedalaman 10 cm atau lebih, berupa substrat kelabu berbintik-bintik coklat dan
bertekstur berat (Riele, 1937). Sedangkan berdasarkan letaknya, Matondang (1979)
menyatakan bahwa substrat mangrove dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu (a) daerah
dekat laut (halic hydraquent), berupa substrat liat relatif muda, mempunyai nilai N
sebesar 1 atau lebih, mengandung air secara permanen, densitas rendah (0,6), pH lebih
dari 5,5, saturasi dasar dan kapasitas kation yang tinggi, dan (b) daerah dekat darat atau
berbatasan dengan rawa (halic sulfaquent), yakni berupa substrat liat muda,
mengandung air secara permanen, pH hampir netral, mengandung sulfida pada
kedalaman sekitar 50 cm lapisan substrat mineral, saturasi dasar dan kapasitas tukar
kation yang tinggi.
Susunan spesies dan kerapatan pada hutan mangrove sangat dipengaruhi oleh
susunan tekstur substrat dan konsentrasi ion substrat yang bersangkutan. Pada lahan
mangrove yang substratnya lebih banyak terdiri atas liat (clay) dan debu (silt), terdapat
tegakan yang lebih rapat dari lahan yang substratnya mengandung liat dan debu pada
konsentrasi yang lebih rendah. Substrat dengan konsentrasi kation Na > Mg > Ca atau K,
tegakan dikuasai oleh spesies Avicennia spp., atau Sonneratia spp., atau Rhizophora spp.,
atau Bruguiera spp. Adapun pada substrat dengan susunan konsentrasi kation Mg > Ca >
Na atau K tegakan dikuasai oleh nipah (Nypa fruticans). Lebih lanjut pada substrat
dengan susunan kation Ca > Mg > Na atau K tegakan dikuasai oleh spesies Melaleuca
spp. (Wiroatmodjo, 1994).
19

Substrat-substrat mangrove umumnya mengadung zat besi dan bahan-bahan
organik yang tinggi, ditambah dengan keberadaan sulfat dari fasang air laut membuat
substrat menjadi rentan khususnya terhadap asam sulfat karena oksidasi, seperti yang
sering terjadi pada saat pembuatan tambak. Pada kondisi anaerob yang berlaku secara
umum, sulfat dari air laut direduksi menjadi sulfida (FeS) atau pirit (FeS2) oleh bakteribakteri perombak sulfat yang termasuk, paling tidak 2 marga bakteri, yaitu Desulfovibrio
dan Desulfomaculum. Drainase alami atau buatan dan aerasi sedimen yang mengandung
pirit mendorong terjadinya oksidasi dan formasi asam sulfat (H2SO4) yang dilepaskan
dalam jumlah besar dalam keadaan tidak ada kalsium karbonat (CaCO3), melalui rekasi
kimia sebagai berikut:
2FeS2 + 2H2O + 7O2  2FeSO4 + H2SO4
Ketika reaksi tersebut terjadi - seringkali sebagai akibat dari pembuatan tambak
atau dikonversi menjadi lahan pertanian - pH substrat turun menjadi 3 atau kurang.
Kondisi ini merupakan masalah yang sangat serius untuk budidaya perairan dan pertanian
serta regenerasi hutan mangrove. Ancaman asam sulfat harus dipertimbangkan secara
hati-hati dalam konversi mangrove untuk penggunaan lain, begitu juga dengan ancaman
kontaminasi asam terhadap lingkungan. Dunn (1975) melaporkan bahwa kematian massal
ikan terjadi saat hujan lebat diakibatkan oleh pencucian asam substrat ke sungai.
3. Dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove
Dari hasil pengamatan visual serta wawancara dengan masyarakat sekitarnya,
didapati bahwa telah terjadi perubahan ekosistem baik mangrove akibat kegiatan
masyarakat sekitarnya baik sengaja maupun tidak sengaja.
Dampak dari aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove, menyebabkan
luasan hutan mangrove cukup menurun.

20

Tabel 1. Beberapa kegiatan masyarakat sekitar dan dampanyak terhadap
ekosistem mangrove di desa Passo.
Kegiatan

Penebangan
kayu bakar

untuk

Pembuangan sampah
cair (Sewage) seperti
buangan
limbah
rumahtangga
dan
limbah pertanian

Pembuangan sampah
padat (plastic, botol
aqua, karung goni,
tas kresek, dll)

Pencemaran
minyak
akibat
berlabuhnya kapalkapal di perairan
teluk.

Dampak Potensial
 Berubahnya komposisi tumbuhan; pohon-pohon mangrove
akan digantikan oleh spesies-spesies yang nilai ekonominya
rendah dan hutan mangrove yang ditebang ini tidak lagi
berfungsi sebagai daerah mencari makan (feeding ground)
dan daerah pengasuhan (nursery ground) yang optimal bagi
bermacam ikan dan udang stadium muda yang penting
secara ekonomi.
 Penurunan kandungan oksigen terlarut dalah air air, bahkan
dapat terjadi keadaan anoksik dalam air sehingga bahan
organik yang terdapat dalam sampah cair mengalami
dekomposisi anaerobik yang antara lain menghasilkan
hidrogen sulfida (H2S) dan aminia (NH3) yang keduanya
merupakan racun bagi organisme hewani dalam air. Bau H2S
seperti telur busuk yang dapat dijadikan indikasi
berlangsungnya dekomposisi anaerobik.
 Kemungkinan terlapisnya pneumatofora dengan sampah
padat yang akan mengakibatkan kematian pohon-pohon
mangrove.
 Perembesan bahan-bahan pencemar dalam sampah padat
yang kemudian larut dalam air ke perairan di sekitar
pembuangan sampah.
 Kematian pohon-pohon mangrove akibat terlapisnya
pneumatofora oleh lapisan minyak.
 musnahnya daerah asuhan (nursery ground) bagi larva
dan bentuk-bentuk juvenil ikan dan udang yang bernilai
ekonomi penting di lepas pantai, dan dengan demikian
mengancam regenerasi ikan dan udang tersebut.

4. Pengelolaan ekosistem mangrove di Teluk Ambon
Dari hasil pengamatan dan analisa faktor-fakor di atas, maka pengelolaan
mangrove di Passo sebagai daerah konservasi perlu didasarkan atas tiga isu utama. Isuisu tersebut adalah : isu ekologi dan sosial ekonomi, kelembagaan dan perangkat hukum,
serta strategi dan pelaksanaan rencana.

21

a. Isu Ekologi dan Isu Sosial Ekonomi
Isu ekologi meliputi dampak ekologis intervensi manusia terhadap ekosistem
mangrove. Berbagai dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove harus
diidentifikasi, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi di kemudian hari.
Adapun isu sosial ekonomi mencakup aspek kebiasaan manusia (terutama
masyarakat sekitar hutan mangrove) dalam memanfaatkan sumberdaya mangrove. Begitu
pula kegiatan industri, tambak, perikanan tangkap, pembuangan limbah, dan sebagainya
di sekitar hutan mangrove harus diidentifikasi dengan baik.
b. Isu Kelembagaan dan Perangkat Hukum
Di samping lembaga-lembaga lain, Departemen Pertanian dan Kehutanan, serta
Departemen Kelautan dan Perikanan, merupakan lembaga yang sangat berkompeten
dalam pengelolaan mangrove. Koordinasi antar instansi yang terkait dengan pengelolaan
mangrove adalah mendesak untuk dilakukan saat ini.
Aspek perangkat hukum adalah peraturan dan undang-undang yang terkait dengan
pengelolaan mangrove. Sudah cukup banyak undang-undang dan peraturan yang dibuat
oleh pemerintah dan instansi-instansi yang terkait dalam pengelolaan mangrove. Yang
diperlukan sekarang ini adalah penegakan hukum atas pelanggaran terhadap perangkat
hukum tersebut bahkan diperlukan perangkat hukum sampai tingkat perda disertai dengan
sanksi yang tegas dan tepat..
c. Isu Strategi dan Pelaksanaan Rencana
Dalam kerangka pengelolaan dan pelestarian mangrove, terdapat dua konsep
utama yang dapat diterapkan. Kedua konsep tersebut pada dasarnya memberikan
legitimasi dan pengertian bahwa mangrove sangat memerlukan pengelolaan dan
perlindungan agar dapat tetap lestari. Kedua kosep tersebut adalah perlindungan hutan
mangrove dan rehabilitasi hutan mangrove (Bengen, 2001). Salah satu cara yang dapat
dilakukan dalam rangka perlindungan terhadap keberadaan hutan mangrove adalah
dengan menunjuk suatu kawasan hutan mangrove untuk dijadikan kawasan konservasi,
dan sebagai bentuk sabuk hijau di sepanjang pantai dan tepi sungai.

22

Dalam konteks di atas, berdasarkan karakteristik lingkungan, manfaat dan
fungsinya, status pengelolaan ekosistem mangrove dengan didasarkan data Tataguna
Hutan Kesepakatan (Santoso, 2000) terdiri atas :
 Kawasan Lindung (hutan, cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman
laut, taman hutan raya, cagar biosfir).
 Kawasan Budidaya (hutan produksi, areal penggunaan lain).
Perlu diingat di sini bahwa wilayah ekosistem mangrove selain terdapat kawasan
hutan mangrove juga terdapat areal/lahan yang bukan kawasan hutan, biasanya status
hutan ini dikelola oleh masyarakat (pemilik lahan) yang dipergunakan untuk budidaya
perikanan, pertanian, dan sebagainya.
Saat ini dikembangkan suatu pola pengawasan pengelolaan ekosistem mangrove
partisipatif yang melibatkan masyarakat. Ide ini dikembangkan atas dasar pemikiran
bahwa masyarakat pesisir yang relatif miskin harus dilibatkan dalam pengelolaan
mangrove dengan cara diberdayakan, baik kemampuannya (ilmu) maupun ekonominya.
Pola pengawasan pengelolaan ekosistem mangrove yang dikembangkan adalah pola
partisipatif meliputi : komponen yang diawasi, sosialisasi dan transparansi kebijakan,
institusi formal yang mengawasi, para pihak yang terlibat dalam pengawasan, mekanisme
pengawasan, serta insentif dan sanksi (Santoso, 2000).
5. Strategi pengelolaan ekosistem mangrove
Pembangunan sumberdaya pesisir dan lautan yang optimal dan berkelanjutan
dapat dicapai dengan menerapkan strategi pengelolaan wilayah pesisir secara tepat dan
terpadu. Ekosistem mangrove di Passo merupakan bagian integral dari sumberdaya
pesisir dan lautan Teluk Ambon, maka dalam pembuatan kebijakannya juga tidak terlepas
dari arahan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu.
Rumusan strategi pengelolaan dan pengembangan ekosistem padang mangrove
ini, aspek utama dari arahan kebijakan pembangunan wilayah pesisir lebih ditekankan
pada 3 aspek, yaitu : aspek biofisik, aspek sosial, ekonomi dan budaya serta aspek hukum
dan kelembagaan.

23

a. Aspek biofisik
Komponen biofisik merupakan komponen utama dari sumberdaya alam yang
perlu dikelola dengan baik. Oleh karena jtu, strategi pengelolaan lingkungan kawasan
padang mangrove di daerah Passo tidak terlepas dari proses-proses ekologis dan biologis
yang berlangsung di dalamnya. Strategi yang diambil diharapkan dapat menjaga
keutuhan segenap komponen biofisik, baik biota maupun habitat dan lingkungannya.
Arahan strategi biofisik ditekankan pada keinginan untuk menjaga ekosistem
mangrove agar tetap memberikan manfaat ekologis kepada seluruh biota yang berasosiasi
dengan keberadaan ekosistem ini. Oleh karena itu, arahan strategi seoptimal mungkin
lebih ditekankan pada aspek konservasi, namun demikian tetap memperhatikan
pendekatan pemanfaatan lestari.
Adapun arahan kebijakan pengelolaan lingkungan kawasan ekosistem mangrove
pada aspek biofisik ini adalah sebagai berikut :
o Menjaga ekosistem mangrove dan biota serta mempertahankan rantai
makanan dan aliran energi yang terkandung dalam ekosistem mangrove
o Mencegah

kerusakan

fisik

mangrove

dari

kegiatan

pengerukan,

pengurugan, pembabatan maupun pengerusakan dasar oleh perahu atau
jangkar .
o Menjaga kualitas air dari pencemaran seperti sedimentasi, limbah air,
limbah padat, logam berat, limbah organik/pertanian, minyak dan lemak.
o Mengatur pemanfaatan sumberdaya hayati yang terkandung dalam
ekosistem mangrove dan sekitamya yang mencakup jumlah individu,
ukuran dan frekuensi penangkapan.
o Mengupayakan pengolahan limbah dan mengurangi masuknya limbah ke
laut.
b. Aspek sosial, ekonomi dan budaya
Komponen sosial ekonomi dan budaya merupakan komponen penunjang yang
sangat penting yang dapat memberikan nilai penting dari komponen biofisik. Aktivitas
sosial, ekonomi dan budaya dapat memberikan pengaruh negatif atau pengaruh positif

24

terhadap sumberdaya alam. Oleh karena itu, strategi pengelolaan ekosistem mangrove di
Passo harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan budaya, baik yang terkait
langsung maupun tidak langsung.
Arahan strategi sosial, ekonomi dan budaya dalam studi ini ditekankan pada
keinginan untuk memberikan penyadaran tentang arti penting nilai ekologis dan
ekonomis padang mangrove, sehingga keberadaannya tetap dipertahankan dan tetap
memberikan manfaat.
Arahan strategi social, ekonomi dan budaya ditekankan pada keinginan untuk
memberikan penyadaran tentang arti penting nilai ekologis dan ekonomis mangrove,
sehingga keberadaannya tetap dipertahankan dan tetap memberikan manfaat. Arahan
kebijakan pengelolaan lingkungan kawasan ekosistem mangrove pada aspek sosial,
ekonomi dan budaya ini adalah sebagai berikut:
o Memberi pengertian kepada masyarakat dan pengusaha setempat tentang
pentingnya fungsi ekosistem mangrove sebagai habitat sumber daya hayati
laut.
o Mencari dan meningkatkan nilai ekonomi dari habitat ekosistem mangrove
beserta biota penghuni lainnya.
o Memberikan penyuluhan dan pelatihan pemanfaatan sumberdaya hayati
laut yang prinsip-prinsip kelestarian.
o Memberikan bimbingan, modal dan peluang utnuk mengembangkan usaha
nelayan, melalui program kemitraan antara pemerintah, instansi terkait,
swasta, masyarakat dan stakeholder lainnya.
c. Aspek hukum dan kelembagaan
Arahan strategi hukum dan kelembagaan dalam studi ini ditekankan pada
keinginan untuk menjaga ekosistem mangrove agar tetap memberikan manfaat ekologis
dan ekonomis. Oleh karena itu, arahan kebijakannya lebih ditekankan pada upaya
penyadaran melalui jalur hukum dan kelembagaan.

25

Adapun arahan kebijakan pengelolaan lingkungan kawasan ekosistem mangrove
di Passo pada aspek hukum dan kelembagaan ini adalah sebagai berikut :
o Menata ruang aktivitas yang bertujuan untuk memperkecil dampak
kerusakan habitat padang mangrove.
o Membuat ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang
mengatur pengolahan dan pembuangan limbah ke laut.
o Membuat peraturan yang mengawasi kegiatan di ekosistem mangrove.
o Menentukan nilai kompensasi pada perusahaan/pabrik yang memberikan
kontribusi pencemaran dan kerusakan pada ekosistem padang mangrove.

26

V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa :
 Jenis mangrove yang ditemukan dilokasi praktikum, terdiri dari: Rhizophora,
Bruguiera, Sonneratia, Avicennia, dan Nypa.
 Ekosistem mangrove di Passo merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik
dan khas yang bernilai ekologis dan ekonomis.
 Mengingat aktivitas manusia dalam pemanfaatan mangrove di Passo, maka
diperlukan pengelolaan mangrove yang meliputi aspek perlindungan dan
konservasi.
 Dalam rangka pengelolaan, dikembangkan suatu pola pengawasan pengelolaan
mangrove yang melibatkan semua unsur masyarakat yang terlibat.

2. Saran
Perlu adanya monitoring yang kontinyu terhadap kondisi ekosistem mangrove di
Passo, sehingga perubahan dapat dikendalikan ke arah yang lebih baik. Selain itu, perlu
dipertimbangkan ulang apakah pelabuhan Angkatan Laut di Halong perlu dipertahankan
atau perlu dipindahkan, sehingga tidak memberikan dampak pencemaran minyak dan
lainnya terhadap mangrove telah dikonservasi.

27

DAFTAR PUSTAKA

Bengen, D.G. 2000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.
Bengen, D.G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Indonesia.
Dahuri, M., J.Rais., S.P. Ginting., dan M.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumber Daya
Wilayah Pesisir Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta, Indonesia.
Idawaty. 1999. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Lansekap Hutan Mangrove
Di Muara Sungai Cisadane, Kecamatan Teluk Naga, Jawa Barat. Tesis
Magister. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.
IUCN - The Word Conservation Union. 1993. Oil and Gas Exploration and Production
in Mangrove Areas. IUCN. Gland, Switzerland.
Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem Di Dalam Wilayah Pesisir. Sebagian bahan
kuliah SPL.727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Fakultas Perikanan dan
Kelautan IPB. Bogor, Indonesia.
Khazali, M. 1999. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat.
Wetland International – Indonesia Programme. Bogor, Indonesia.
Lawrence, D. 1998. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Alih
bahasa oleh T. Mack dan S. Anggraeni. The Great Barrier Reef Marine Park
Authority. Townsville, Australia.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Alih bahasa oleh M.
Eidman., Koesoebiono., D.G. Bengen., M. Hutomo., S. Sukardjo. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.
Santoso, N., H.W. Arifin. 1998. Rehabilitas Hutan Mangrove Pada Jalur Hijau Di
Indonesia. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove (LPP
Mangrove). Jakarta, Indonesia.
Santoso, N. 2000. Pola Pengawasan Ekosistem Mangrove. Makalah disampaikan pada
Lokakarya Nasional Pengembangan Sistem Pengawasan Ekosistem Laut
Tahun 2000. Jakarta, Indonesia.
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir
Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.
Widigdo, B. 2000. Diperlukan Pembakuan Kriteria Eko-Biologis Untuk Menentukan
“Potensi Alami” Kawasan Pesisir Untuk Budidaya Udang. Dalam : Prosiding
Pelatihan Untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor dan Proyek Pesisir
dan Coastal R

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Laporan Praktikum Biologi Konservasi Pul