Investigasi Kejadian Luar Biasa Pertama Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kaimana, Papua Barat

Investigasi Kejadian Luar Biasa.................... (Hana Krismawati, et. al)

Investigasi Kejadian Luar Biasa Pertama Demam Berdarah Dengue
di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat
Investigation of First Dengue Hemorhagic Fever Outbreak
in Kaimana District, West Papua Province
Hana Krismawati *, Tri Nury Kridaningsih, Mardi Raharjo, dan Evy Iriani Natalia

Balai Litbang Biomedis Papua, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI
Jl. Kesehatan No.10 Dok II, Kota Jayapura, Papua

INFO ARTIKEL
Article History:
Received: 10 Januari 2017
Revised: 18 Mei 2017
Accepted: 29 Mei 2017

Keywords:
dengue,
Kaimana,
Aedes albopictus


Kata kunci:
Demam Berdarah Dengue,
Kaimana,
Aedes albopictus

A B S T R A C T / A B S T R A K
The first case of Dengue Hemorhagic Fever (DHF) occurred in May-June in Kaimana
district of West Papua. This investigation was aimed to identify the distribution of dengue
cases related to the patient’s living environment. This was an observational research. An
entomological survey was conducted to identify species, breeding habitats and vector
confirmation through virus detection in mosquitoes. Interviews in patients with dengue
positive as well as entomological surveys were conducted in June 2012. Mosquito samples
were collected by resting habitat and human landing collection. Larvae were collected
from water containers at 25 sampling sites consisting of patient's house hold, school and
hospital. Larvae collection were rearranged in Entomology Laboratory. Dengue virus in
mosquitoes was detected using RT-PCR method using Lanciotti primer. The results
showed that the age of infected patients was predominantly 6-12 years (48.1%) and
dominated by females (63%). The study showed one case died (3.7%) and 26 ill patients
(96.3%). The entomological survey showed that Aedes aegypti was not found in Kaimana

while the second vector of Ae. albopictus was found abundantly. Molecular detection of
dengue virus with Lanciotti primer showed that positive dengue virus was detected in
mosquito and also larvae sample collections.
Kasus pertama Demam Berdarah Dengue (DBD) telah terjadi pada bulan Mei-Juni di
Kabupaten Kaimana Papua Barat. Investigasi ini bertujuan mempelajari distribusi
kasus DBD yang berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal pasien. Jenis penelitian
ini adalah observasional. Survei entomologi dilakukan untuk mengidentifikasi spesies,
breeding habitat dan melakukan konfirmasi vektor melalui deteksi virus pada nyamuk.
Wawancara pada pasien yang positif menderita dengue serta survei entomologi
dilakukan pada bulan Juni 2012. Sampel nyamuk dikoleksi pada resting habitat dan
umpan orang. Larva dikoleksi dari kontainer yang berada pada 25 titik sampling yang
terdiri dari lingkungan rumah tinggal pasien, sekolah dan rumah sakit. Koleksi larva
selanjutnya direaring di Laboratorium Entomologi. Keberadaan virus DBD pada
nyamuk dideteksi menggunakan metode RT PCR dengan primer Lanciotti. Laporan
kasus menunjukkan bahwa usia pasien yang terinfeksi sebagian besar adalah 6-12
tahun (48,1%) dan didominasi oleh perempuan (63%). Penelitian menunjukkan satu
kasus meninggal (3,7%) dan 26 pasien sakit (96,3%). Survei entomologi menunjukkan
bahwa Ae. aegypti tidak ditemukan di Kaimana sementara vektor kedua Ae. albopictus
ditemukan melimpah. Deteksi molekuler virus dengue dengan lancioti primer
menunjukkan bahwa virus positif terdeteksi pada koleksi sampel nyamuk dan larva.

© 2017 Jurnal Vektor Penyakit. All rights reserved

*Alamat Korespondensi : email : hkrismawati@gmail.com

PENDAHULUAN

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
sampai saat ini masih merupakan masalah
kesehatan yang cukup serius untuk
diwaspadai karena dapat menyebabkan
kematian terutama pada kelompok anak anak.
Diperkirakan lebih kurang terdapat 500 ribu

kasus DBD terjadi setiap tahunnya di seluruh
dunia, dimana 90% dari kasus-kasus tersebut
terjadi pada anak-anak di bawah umur 15
tahun. Di Indonesia kasus DBD pertama kali
dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya, akan
tetapi konfirmasi virologis baru didapat tahun
1

1972. Sejak saat itu, penyakit tersebut

http://dx.doi.org/10.22435/vektorp.v11i1.5906.19-26

19

Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 11 No. 1, 2017 : 19 - 26

menyebar ke seluruh daerah dengan jumlah
kasus yang cenderung meningkat dan secara
sporadik selalu menimbulkan wabah atau
2
Kejadian Luar Biasa (KLB) setiap tahun. Di
Papua, dengue pernah dilaporkan ditemukan
pada sero survey di Jayapura tahun 1960 dan
outbreak di Merauke tahun 2001.3

DBD disebabkan oleh virus dengue yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti
dan Ae. albopictus. Kedua nyamuk ini terdapat

hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali
di tempat-tempat dengan ketinggian lebih
dari 1000 meter dia atas permukaan laut.
Nyamuk Ae. aegypti merupakan vektor utama
virus dengue karena nyamuk tersebut
terdapat di dalam rumah dan sekitar rumah.
Sedangkan nyamuk A. albopictus hidupnya di
kebun-kebun sehingga lebih jarang kontak
manusia. Sekali virus dengue berada di tubuh
nyamuk maka virus tersebut akan berada
dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya.
Penularan penyakit ini terjadi setiap kali
nyamuk menggigit, sebelum menghisap darah
nyamuk akan mengeluarkan air liur melalui
probosisnya agar darah yang dihisap tidak
membeku. Bersama air liur inilah virus
dengue ditularkan kepada orang lain.4

Virus dengue termasuk kelompok
arthropod borne virus (arbovirus), genus

Flavivirus, famili Flaviviridae. Berdasarkan
perbedaan antigennya, virus dengue dibagi
menjadi empat serotipe yaitu DEN-1, DEN-2,
DEN-3 dan DEN-4. Keempat serotipe tersebut
ditemukan di berbagai daerah di seluruh
Indonesia. Pengamatan virus yang dilakukan
sejak tahun 1975 yang dilakukan dibeberapa
rumah sakit menunjukkan bahwa keempat
serotipe tersebut ditemukan dan bersirkulasi
sepanjang tahun.1

Pasien yang menderita DBD
menunjukkan gejala seperti demam tinggi,
sakit kepala parah, nyeri di belakang mata,
nyeri pada sendi dan tulang, mual dan muntah,
serta munculnya ruam pada kulit. Penurunan
jumlah sel darah putih (leukopenia) dan
penurunan trombosit (trombositopenia) juga
seringkali dapat diobservasi pada pasien
demam berdarah. Pada beberapa epidemi,

pasien juga menunjukkan pendarahan yang
meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan
saluran cerna, kencing berdarah
(haematuria). Fase kritis DBD adalah setelah

20

2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami
penurunan suhu tubuh yang drastis. Pasien
akan terus berkeringat, sulit tidur, dan
mengalami penurunan tekanan darah. Bila
terapi dengan elektrolit dilakukan dengan
cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan
cepat setelah mengalami masa kritis. Namun
bila tidak, DBD dapat mengakibatkan
kematian. Disamping itu, penderita DBD juga
dapat mengalami sindrom syok seperti
gelisah, nadi cepat dan lemah, kaki tangan
dingin, dan kesadaran menurun.5


Berdasarkan laporan dinas kesehatan,
lokasi kejadian KLB berada di dua kelurahan
yaitu kelurahan Kaimana dan kelurahan
Krooy di Distrik Kaimana wilayah kerja
Puskesmas Kaimana Kabupaten Kaimana.
Kasus DBD mulai terjadi pada tanggal 27 april
2012 dan dilakukan penyelidikan kasus dan
penanggulangan KLB pada tanggal 1 Mei 2012
– 21 Mei 2012. Pelaksanaan penyelidikan
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kaimana
bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi
Papua Barat. Kepastian diagnostik dilakukan
dengan melihat gejala klinis dan
menggunakan RDT, uji trombosit, dan
hematokrit yang dilakukan oleh analisis
kesehatan RSUD Kaimana dan Puskesmas
Kaimana. Upaya penanggulangan yang telah
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kaimana
meliputi fogging ke rumah-rumah penduduk
6

dan pembagian abate ke penduduk.
Investigasi ini bertujuan mengidentifikasi
nyamuk vektor DBD pada KLB di Kaimana.

BAHAN DAN METODE

Jenis penelitian ini adalah observasional
dengan rancangan penelitian cross sectional.
Pengambilan sampel dilakukan selama tujuh
hari pada tanggal 15 - 21 Juni 2012 di
Kabupaten Kaimana. Proses selanjutnya, data
diolah dan akan disajikan dalam bentuk tabel
dan grafik.

Data penderita DBD dikumpulkan dari
laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Kaimana,
Rumah Sakit Kaimana dan laporan penduduk.
Wawancara dilakukan dengan melakukan
kunjungan ke rumah-rumah pasien yang
dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten

Kaimana, data dari rumah sakit dan laporan
masyarakat.

Investigasi Kejadian Luar Biasa.................... (Hana Krismawati, et. al)


Pengumpulan Data Entomologi dilakukan
dengan melakukan koleksi nyamuk dan survei
jentik. Koleksi nyamuk dilakukan pada masa
aktif nyamuk Aedes yaitu pukul 12.00-15.00
dengan penangkapan di resting habitat dan
umpan orang dengan menggunakan aspirator.
Nyamuk yang ditangkap adalah nyamuk yang
hinggap pada penangkap nyamuk. Nyamuk
yang dikoleksi ditempatkan pada cup dan
dilakukan identifikasi. Survei jentik dilakukan
dengan melakukan koleksi jentik di setiap
rumah penderita, rumah sakit dan sekolah.
Jentik dikoleksi dari kontainer air yang berada
di rumah penderita. Jentik yang dikoleksi

ditempatkan pada cup jentik untuk direaring
di laboratorium. Parameter lingkungan yang
diukur adalah pH, kadar garam dan suhu.
Pengukuran pH dan suhu dilakukan dengan
Hanna Instrument sedangkan kadar garam
diukur dengan salinometer. 7 Analisis data
dilakukan secara deskriptif menggunakan
tabel frekuensi.

Untuk melakukan konfirmasi vektor
dengue dilakukan deteksi virus dengue pada
nyamuk Ae. albopictus yang dikoleksi dari
lapangan maupun hasil yang direaring dari
jentik yang berhasil dikoleksi di area
sampling. Ekstraksi RNA total nyamuk
dilakukan menggunakan teknik microspin
c o l o m n . K i t ya n g d i g u n a k a n u n t u k
mengekstraksi RNA adalah Qiagen Mini Spin
Qoloumn RNA Extraction kit. Nyamuk yang
akan diekstraksi dipingsankan pada suhu -20˚
C. Nyamuk yang sudah pingsan ditempatkan
pada eppendorf tube 1,5 ml. Secara aseptic
nyamuk digerus menggunakan grinder
dengan penambahan 500 µl RNAse free water.
Jika semua jaringan nyamuk sudah hancur
m a k a d i l a ku k a n s e n t r i f u g a s i u n t u k
memisahkan asam nukleat dengan debris sel
nyamuk. Sentrifugasi dilakukan pada
kecepatan 8000 rpm selama 15 menit. Hasil
sentrifugasi selanjutnya diambil bagian
supernatant yang mengandung asam nukleat.
Bagian supernatant ini yang kemudian
diekstraksi menggunakan Qiagen Mini Spin
Qoloumn sesuai prosedur dalam mannual.
Hasil ekstraksi RNA dianalisis pada gel
elektroforesis. 8

Hasil elektroforesis yang
memvisualisasikan kualitas ekstrak RNA
sampel nyamuk selanjutnya diseleksi. Sampel

yang menunjukkan kualitas hasil ekstraksi
yang bagus diambil untuk dideteksi virus
dengue menggunakan metode Polymerase
Chain Reaction (PCR). PCR dilakukan dengan
primer Lancioti DEN 1( 5' TCA ATA TGC TGA
AAC GCG CGA GAA ACC G 3') dan DEN 2 (5' TTG
CAC CAA CAG TCA ATG TCT TCA GGT TC .
Kondisi PCR terdiri dari Sintesis cDNA 42˚
selama 60 menit; pre denaturasi 94˚C selama 2
menit; 35 siklus denaturasi (94˚ C, 30 detik),
annealing (55˚C, 1 menit) dan elongasi ( 72˚ C,
2 menit). 9 Kit yang digunakan untuk
melakukan amplifikasi gen virus dengue
adalah iScript cDNA Synthesis Kit dan iProof
High Fidelity PCR Kit dari Biorad Company.
HASIL

Kabupaten Kaimana adalah salah satu
wilayah pemekaran di Provinsi Papua Barat.
Sebelumnya Kabupaten Kaimana ini adalah
bagian administratif dari Kabupaten Fak-fak.
Kaimana merupakan daerah pesisir yang
te rb a g i m e n j a d i t u j u h d i s t r i k . Pe t a
Administrasi Kabupaten Kaimana dapat
dilihat pada Gambar 1.

Hasil investigasi tim peneliti Balai Litbang
Biomedis Papua mendapatkan 27 kasus
dengan gejala demam pada periode KLB yang
terdiagnosa sebagai Dengue Haemorhagic
Fever, Dengue Fever dan tidak diketahui
(unknown). Sebagian besar penderita adalah
anak-anak sekolah usia 6 - 12 tahun (48,15%).
Terdapat satu kasus meninggal dan 26 kasus
sembuh. Karakteristik demografis penderita
dengue dapat dilihat pada Tabel 1.

Kejadian Luar Biasa DBD di Kaimana
dimulai pada akhir bulan Mei dan berakhir
pada pertengahan Juni 2012. Kasus DBD
memuncak pada 1 Mei – 17 Mei 2012. Kasus
terbanyak terjadi pada tanggal 13 Mei 2016.
Kurva epidemiologi disajikan pada Gambar 2.

Survei entomologi mendapatkan hasil
nyamuk Ae. albopictus sebagai vektor DBD.
Hasil survei nyamuk dewasa maupun survei
jentik yang direaring mendapatkan hasil yang
sama yaitu A. albopictus.
Hasil PCR nyamuk yang dikoleksi di
lapangan disajikan pada Gambar 3. Hasil PCR
menunjukkan bahwa nyamuk Ae. albopictus
positif terdeteksi virus dengue.
21

Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 11 No. 1, 2017 : 19 - 26

PEMBAHASAN

Laporan yang diberikan Dinas Kesehatan
Kabupaten Kaimana, dengue belum pernah
dilaporkan terjadi di daerah Kaimana Di
Papua. KLB dengue pertama pernah juga
dilaporkan di Merauke pada tahun 2001. Pada
kejadian tersebut dideteksi Den 3 adalah

serotipe yang ditemukan pada pasien KLB. 3
Sebelumnya infeksi dengue ditemukan di
tahun 1960 di Sentani Jayapura pada survei
serologi.3 Wawancara yang dilakukan di rumah
penderita didapatkan hasil 27 kasus.
Keduapuluh tujuh kasus ini didapatkan dari
data KLB Dinas Kesehatan, Rekam Medis RSUD

Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Kaimana Tahun 2012
Tabel 1. Karakteristik Demografi Penderita DBD pada KLB DBD Kaimana Tahun 2012




Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Umur
< 5
6 – 12
13-20
> 20
Kasus
Sembuh
Meninggal
Gejala
Demam
Sakit kepala
Perdarahan
Mual
Petechiae
Muntah
Sakit tenggorokan
Sakit perut

22

Total




10/27 (37,04)
17/27(62,94)

10/27 (37,04)
13/27 (48,15)
1/27 (3,70)
3/27 (11,11)

26/27 (96,30)
1/27 (3,70)

27/27 (100,00)
20/27 (74,07)
7/27 (25,93)
12/27 (44,44)
16/27 (59,26)
14/27 (51,85)
7/27 (25,93)
4/27 (14,81)

Dengue

DF


3/10 (30,00)
3/17 (17,65)

2/10 (20,00)
3/13 (23,08)
0/1 (00,00)
0/3 (00,00)

5/26 (19,23)
0/1 (00,00)

5/27 (18,52)
3/20 (15,00)
3/7 (42,56)
3/12 (25,00)
3/16 (18,75)
2/14 (14,29)
2/7 (28,57)
2/4 (50,00)

DHF


4/10 (40,00)
5/17 (29,41)

4/10 (40,00)
5/13 (38,46)
1/1 (100,00)
0/3 (00,00)

10/26 (38,46)
1/1 (100,00)

11/27 (40,74)
10/20 (50,00)
2/7 (28,57)
4/12 (33,33)
5/16 (31,25)
7/14 (50,00)
2/7 (28,57)
1/4 (25,00)

Unknown

3/10 (30,00)
9/17 (52,94)

4/10 (40,00)
5/13 (38,46)
0/1 (00,00)
3/3 (100,00)

11/26 (42,31)
0/1 (00,00)

11/27 (40,27)
7/20 (35,00)
2/7 (28,57)
5/12 (41,67)
8/16 (50,00)
5/14 (35,71)
3/7 (42,86)
1/4 (25,00)

Investigasi Kejadian Luar Biasa.................... (Hana Krismawati, et. al)

Gambar 2. Kurva Epidemiologi KLB Kaimana Tahun 2012

Gambar 3. Hasil Deteksi Virus Dengue Menggunakan Teknik PCR
Kaimana dan laporan warga yang
dikonfirmasi di rumah-rumah pasien karena
beberapa pasien didiagnosa oleh dokter
praktek swasta.

Berdasarkan data didapatkan bahwa
sebagian besar pasien adalah anak-anak di
bawah usia 15 tahun, dua orang pasien berusia
di atas 15 tahun. Hal ini sama dengan yang
didapatkan oleh Sukri3 tetapi berbeda dengan

sebaran usia pada KLB di Cina.10

Gejala klinis yang dominan adalah demam
lebih dari tiga hari dan tes torniket. Tidak
semua pasien melakukan penegakkan
diagnosis dengan RDT tetapi hanya dilakukan
uji torniket dan cek trombosit. Dari 27 pasien,
sejumlah 22 pasien menjalani rawat inap dan
lima orang rawat jalan, 26 sembuh dan satu
pasien meninggal. Pasien-pasien yang tidak
23

Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 11 No. 1, 2017 : 19 - 26

menjalani rawat inap di rumah sakit dirawat kurang. Berdasarkan hasil wawancara
secara mandiri oleh keluarga dan ada tiga kesadaran penduduk yang disurvei untuk
pasien diinfus di rumah. Sebagian besar menjalankan program 3 M tergolong tinggi.
pasien beraktivitas dominan di luar rumah Namun demikian, di sekitar rumah para
atau sekolah pada jam 07.00-13.00. Pasien pasien tetap ditemukan genangan air pada
pertama ditemukan pada tanggal 28 April benda-benda misalnya ban bekas, tong bekas
2012 di daerah Bumsur.
dan lain-lain.

Semua penderita tidak melakukan
Berdasarkan data penelitian didapatkan
perjalanan keluar pulau pada satu bulan bahwa gejala klinis yang umumnya dialami
terakhir sebelum wabah terjadi. Berdasarkan oleh penderita DBD pada KLB ini adalah
laporan dari warga yang telah dikonfirmasi demam dan pateki. Disamping itu penderita
oleh dinas ada aliran migrasi penduduk ke juga mengalami sakit kepala (74,1%),
Kaimana pada tanggal 27 April 2012-5 Mei perdarahan (25,9%), nyeri telan (14,8%),
2012. Aliran pendatang terjadi karena nyeri perut (25,9%), mual (44,4%), muntah
penyelenggaraan MTQ se-Provinsi Papua (51,9%) dan rawat inap (66,7%). Data juga
Barat. Para peserta menginap di sekolah- menunjukkan bahwa penderita yang
sekolah yang tersebar di Kota Kaimana. mengalami kontak dengan penderita lain
Berdasarkan informasi dari responden adalah sebesar 18,5%.
kegiatan MTQ diselenggarakan di sekolah
Berdasarkan hasil PCR didapatkan bahwa
dengan melakukan beberapa kegiatan yang pada nyamuk terdeteksi mengandung virus
sifatnya outdoor berlokasi di sekitar halaman dengue yang memiliki ukuran 511 BP. Pada
sekolah. Hal ini membuka kemungkinan hasil PCR didapatkan band yang tegas pada
terjadinya kontak dengan vektor Ae. marker 511 BP, tetapi banyak band pengotor
albopictus. Pada KLB dengue yang terjadi di pada ukuran kilobase di bawahnya. Di bagian
Cina, sumber transmisi berasal dari penduduk atas terdapat band yang sangat tegas pada
yang pulang dari perjalanan ke Thailand. Di ukuran 900 bp, hal itu bisa dikarenakan
Belanda, peningkatan kasus dengue juga adanya sisa cDNA.
dilaporkan pada penduduk yang pulang dari
Keterbatasan studi ini adalah hanya 25
bepergian ke Suriname.11
rumah
dan sekolah yang bisa disampling

Hasil PCR menunjukkan bahwa Ae. berkaitan dengan keterbatasan sumber daya.
albopictus positif terdeteksi virus dengue. Ae. Dari 25 titik sampling tersebut didapatkan
albopictus cenderung hidup di luar rumah dan 40% positif jentik Ae. albopictus dengan House
jarang kontak pada manusia. Namun pada Index 26,6% dan Container Index 21,2%.
kasus KLB yang terjadi di Cina Ae. albopictus Berdasarkan standar Depkes jika House Index
juga merupakan vektor yang melimpah. Di di atas 10 % maka dikatakan bahwa wilayah
Malaysia, sebuah studi yang dilakukan Rohani itu dianggap beresiko tinggi terjadi penularan
et.al menemukan infeksi virus dengue yang DBD.
diturunkan pada larva Ae. albopictus.12 Di Cina,
jentik Ae. albopictus ditemukan di genangan
air yang dihasilkan saat terjadi taifun. Pada KESIMPULAN
Survei entomologi menunjukkan bahwa
kasus di Kaimana, jentik Ae. albopictus
Ae.
aegypti tidak ditemukan di Kaimana
ditemukan di tampungan air dan sumur di
luar rumah. Sedikit ditemukan Ae. aegypti di sementara vektor kedua Ae. albopictus
dalam rumah karena budaya masyarakat di ditemukan melimpah. Deteksi molekuler
sana tampungan dalam rumah adalah virus dengue dengan lancioti primer
tampungan non permanen seperti ember yang menunjukkan bahwa virus positif terdeteksi
pada koleksi sampel nyamuk dan larva.
langsung habis setelah digunakan.

Upaya penanggulangan yang dilakukan SARAN
Dinas Kesehatan meliputi fogging dan
Penanggulangan kasus DBD dapat
pembagian abate. Namun demikian, ada dilakukan dengan menggalakkan edukasi
sebagian pasien yang tidak mendapatkan pada masyarakat tentang kesadaran untuk
abate karena distribusi dan suplai yang

24

Investigasi Kejadian Luar Biasa.................... (Hana Krismawati, et. al)

menjaga kesehatan lingkungan, khususnya
memperhatikan tampungan air. Dalam aspek
klinis, diperlukan alat-alat kesehatan yang
bisa digunakan untuk menegakkan diagnosis.
Pemberantasan jentik juga harus dilakukan
dengan penaburan abate di setiap tampungan
air. Penyemprotan sarang nyamuk juga dapat
dilakukan sebagai upaya pencegahan
tersebarnya infeksi DBD. Oleh karena itu
diperlukan kerjasama yang sinergis antara
Dinas Kesehatan dan pihak-pihak terkait.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih diberikan kepada
Ke p a l a D i n a s Ke s e h a t a n K a b u p a te n
Kaiamana, Kepala Puskesmas Kaiamana,
Bapak Rusli dan Bapak Opik yang mendukung
proses investigasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Corwin AL, Larasati R, Bangs M, et al. Epidemic
dengue transmission in southern Sumatra,
Indonesia. Trans R Soc Trop Med Hyg.
2001;95(3):257-265. doi:10.1016/S00359203(01)90229-9.
2. Suwandono A, Kosasih H, Nurhayati, et al. Four
dengue virus serotypes found circulating
during an outbreak of dengue fever and dengue
haemorrhagic fever in Jakarta, Indonesia,
during 2004. Trans R Soc Trop Med Hyg.
2006;100(9):855-862.
3. SUKRI NC, LARAS K, WANDRA T, et al.
TRANSMISSION OF EPIDEMIC DENGUE
HEMORRHAGIC FEVER IN EASTERNMOST
INDONESIA. 2003;68(5):529-535.
4. World Health Organization. Dengue Guidelines
For Diagnosis Treatment, Prevention and

Control.; 2009.
5. Compans RW, Cooper MD. Current Topics in
Microbiology and Immunology Volume 338
Series Editors. (Rothman AL, ed.). Springer;
2010. doi:10.1007/978-3-642-02215-9.
6. Kaimana District Health Authority. Report of
Dengue Outbreak in Kaimana District. 2012.
7. Paupy C, Kassa Kassa F, Caron M, Nkoghé D,
Leroy EM. A chikungunya outbreak associated
with the vector Aedes albopictus in remote
villages of Gabon. Vector Borne Zoonotic Dis.
2 0 1 2 ; 1 2 ( 2 ) : 1 6 7 - 1 6 9 .
doi:10.1089/vbz.2011.0736.
8. Rosen L. CHAIN REACTION IN THE LIVER AND
LYMPHOID ORGANS BUT NOT IN THE. Am J
Trop Med Hyg. 1999;61(5):720-724.
9. Chang G, Vorndamt AV. Rapid Detection and
Typing of Dengue Viruses from Clinical
Samples by Using Reverse TranscriptasePolymerase Chain Reaction. 1992;30(3):545551.
10. Xu G, Dong H, Shi N, et al. AN OUTBREAK OF
DENGUE VIRUS SEROTYPE 1 INFECTION IN
CIXI , NINGBO , PEOPLE ' S REPUBLIC OF
CHINA , 2004 , ASSOCIATED WITH A
TRAVELER FROM THAILAND AND HIGH
DENSITY OF AEDES ALBOPICTUS. Am J Trop
Med Hyg. 2007;76(6):1182-1188.
11. Thai KTD, Wis JA, Vugt M Van. Dengue fever
among ill-returned travellers and concurrent
infection by two dengue virus serotypes.
Dengue Bull. 2009;33:60-69.
12. Rohani A, Zamree I, Lee HL, Mustafakamal I,
Norjaiza MJ, Kamilan D. Detection of
transovarial dengue virus from field-caught
Aedes aegypti and Ae . albopictus larvae using
C6 / 36 cell culture and reverse transcriptasepolymerase chain reaction ( RT-PCR )
techniques. Dengue Bull. 2007;31:47-57.

25

Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 11 No. 1, 2017 : 19 - 26

26