MAKALAH POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT DESA

MAKALAH
POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT DESA DAN KOTA
Tugas mata kuliah Sosiologi Komunikasi
DOSEN PEMBIMBING : Marwan Mahmudi, Drs. M.Si

Disusun oleh :
Aditya Widya Firdaus
Bayu Woto Putra
:
Dede Sakinah Lubis
Fitria Heidiana
Fariz Khamarullah Dasya

:

44216010150
44216010155
:
44216010160
:
44216010177
:
44216010157

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI PUBLIC RELATIONS
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
1

Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang, penulis panjatkan puja da puji syukur
atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah Sosiologi Komunikasi tentang Pola
Komunikasi Masyarakat Desa dan Kota.
Adapun makalah Sosiologi Komunikasi tentang Pola
Komunikasi Masyarakat Desa dan Kota telah penulis usahakan
semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Penulis tidak lupa menyampaikan banyak terimakasih kepada
semua pihak yang telah membantu.
Namun tidak lepas dari semua itu, penulis menyadari
sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusunan
bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu penulis
mohon maaf atas kesalahan yang penulis buat.
Akhirnya, penulis mengharapkan semoga dari
makalah Sosiologi Komunikasi tentang Pola Komunikasi
Masyarakat Desa dan Kota ini dapat diambil manfaatnya
sehingga dapat memberikan pengetahuan terhadap pembaca.
Jakarta, 5
Juni 2017
Penulis

2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR2
DAFTAR ISI

3

BAB I PENDAHULUAN 4
A.

Latar Belakang

B.

Rumusan Masalah 4

BAB II PEMBAHASAN

4

5

A.

Pengertian Komunikasi dan Sosiologi Komunikasi

B.

Definisi Pola Komunikasi

C.

Masyarakat Desa

- Pengertian desa

5

6

6

- Sistem komunikasi masyarakat Desa
- Ciri-ciri masyarakat Perdesaan

6

6

- Budaya masyarakat Perdesaan
D.

Masyarakat Kota

- Pengertian Kota

9

9

- Sistem komunikasi masyarakat Kota
- Ciri-ciri masyarakat kota

9

10

- Budaya masyarakat Kota 10
E.

Pola Komunikasi Desa dan Kota

F.

Contoh kasus 13

BAB III PENUTUP 14
Simpulan

14

3

11

7

5

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Makalah ini merupakan pemenuhan tugas Sosiologi
Komunikasi yang memang harus terpenuhi sebagai nilai tambahan yang
sudah ditentukan oleh pengajar, disamping itu juga makalah ini sangat
bermanfaat bagi pembaca karena pada makalah ini sedikit atau
banyaknya terdapat ilmu yang dapat di ambil sebagai pengetahuan atau
wawasan.

B.

Rumusan Masalah
Beberapa pokok yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain
adalah sebagai berikut :

1. Pengertian Komunikasi dan Sosiologi Komunikasi
2. Definisi Pola Komunikasi
3. Pengertian Desa dan Kota
4. Pola Komunikasi Desa dan Kota

C.

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari pembasan dalam makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Menambah nilai dan memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi
Komunikasi.
2. Mengetahui pengertian Desa dan Kota.
3. Mengkaji system komunikasi desa dan kota.
4. Mengetahui pola komunikasi masyarakat desa dan kota.

4

BAB II
PEMBAHASAN
A.

PENGERTIAN KOMUNIKASI DAN SOSIOLOGI
KOMUNIKASI

KOMUNIKASI
Pengertian Komunikasi Secara Umum adalah proses pengiriman dan
penerimaan pesan atau informasi antara dua individu atau lebih dengan
efektif sehingga dapat dipahami dengan mudah. Istilah komunikasi dalam
bahasa
inggris
disebut communication,
yang
berasal
dari
kata communication atau communis yang memiliki arti sama atau sama
yang memiliki makna pengertian bersama. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan
pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud
dapat dipahami.

SOSIOLOGI KOMUNIKASI
Menurut Soerjono Soekanto (Soekanto, 1992: 471), sosiologi komunikasi
merupakan kekhususan sosiologi mempelajari interaksi sosial yaitu suatu
hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses saling pengaruhmempengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok maupun
antarkelompok. Menurut Soekanto, Sosiologi Komunikasi juga yang ada
kaitannya dengan public speaking, yaitu bagaimana seseorang berbicara
kepada publik.
Secara komprehensif Sosiologi Komunikasi mempelajari tentang interaksi
sosial dengan segala aspek yang berhubungan dengan interaksi tersebut
seperti bagaimana interaksi (komunikasi) itu dilakukan dengan
menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari interaksi
tersebut, sampai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial di
masyarakat yang di dorong oleh efek media berkembang serta
konsekuensi sosial macam apa yang ditanggung masyarakat sebagai
akibat darfi perubahan yang didorong oleh media massa itu.

B.

Defsini Pola Komunikasi

Pengertian pola komunikasi disampaikan oleh Syaiful Bahri Djamarah
adalah sebagai berikut :
Pola komunikasi dapat dipahami sebagai pola hubungan antara dua orang
atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang
tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Dimensi pola
komunikasi terdiri dari dua macam, yaitu pola yang berorientasi pada
5

konsep dan pola yang berorientasi pada sosial yang mempunyai arah
hubungan yang berlainan. Pola Komunikasi adalah proses atau pola
hubungan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih guna menyampaikan
pesan sesuai dengan yang diinginkan.

C.

Masyarakat Desa
 Pengertian desa

Desa adalah bentuk pemerintahan terkecil yang ada di negeri ini. Luas
wilayah desa biasanya tidak terlalu luas dan dihuni oleh sejumlah
keluarga. Mayoritas penduduknya bekerja di bidang agraris dan tingkat
pendidikannya cenderung rendah. Karena jumlah penduduknya tidak
begitu banyak, maka biasanya hubungan kekerabatan
antarmasyarakatnya terjalin kuat. Para masyarakatnya juga masih
percaya dan memegang teguh adat dan tradisi yang ditinggalkan para
leluhur mereka.
Sementara Paul H. Landis menyatakan pengertian desa adalah sebagai
berikut :
Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai
berikut :
1. mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara
ribuan jiwa.
2. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap
kebiasaan
3. Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang
sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan
alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat
sambilan.

 Sistem komunikasi masyarakat desa
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan
batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga
atau anggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya, bahwa
seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari masyarakat dimana ia hidup dicintainya serta mempunyai
perasaan
bersedia
untuk
berkorban
setiap
waktu
demi
masyarakatnya
atau
anggota-anggota
masyarakat,
karena
beranggapan sama-sama sebagai anggota masyarakat yang saling
mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggungjawab yang
6

sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama didalam
masyarakat.

 Ciri-ciri masyarakat pedesaan
1. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara
ribuan jiwa.
2. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuan terhadap
kebiasaan.
3. Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang
sangat dipengaruhi alam sekitar seperti : iklim, keadaan alam,
kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah
bersifat sambilan.
4. Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai
hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan
dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
5. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar
kekeluargaan.
6. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari
pertanian.
7. Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata
pencaharian, agama, adat istiadat, dan sebagainya.
Karena sebagian besar masyarakat mempunyai kepentingan pokok
yang hampir sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan
mereka. Seperti pada waktu mendirikan rumah, upacara pesta
perkawinan, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan
sebagainya, dalam hal-hal tersebut mereka akan selalu bekerjasama.
Bentuk kerjasama dalam masyarakat itu disebut dengan istilah
gotong royong dan tolong menolong.
Bentuk komunikasi di pedesaan lebih cenderung kepada komunikasi
antar personal. Yaitu proses pertukaran informasi di antara seseorang
dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya diantara dua
orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Dengan
bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi
bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasi sehingga
bertambah komplekslah komunikasi tersebut. Contoh: ketika di suatu
desa akan diadakan kerjabakti atau gotong royong maka informasi
itu akan cepat tersebar luas melalui satu orang kepada orang yang
lainnya sehingga masyarakat akan turut dalam acara gotong royong
tersebut.

 Budaya Masyarakat Pedesaan
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat
dan lebih mendalam daripada hubungan mereka dengan warga masyarakat
7

pedesaan lain diluar batas wilayahnya. Penduduk masyarakat pedesaan
pada umumnya hidup dari pertanian. Pada umumnya penduduk pedesaan
di Indonesia apabila ditinjau dari segi kehidupannya sangat terikat dan
sangat tergantung pada tanah (earth – bound). Karena mereka sama sama
tergantung pada tanah, maka mereka sama sama mempunyai kepentingan
pokok yang sama, sehingga mereka juga akan bekerja sama untuk
mencapai
kepentingan
kepentingannya.
Misalnya pada musim pembukaan tanah atau pada waktu menanam iba,
mereka akan bersama sama mengerjakannya. Hal itu mereka lakukan,
karena biasanya satu keluarga saja tak akan cukup memiliki tenaga kerja
untuk mengerjakan tanahnya. Sebagai akibat kerjasama tadi, timbulah
lembaga kemasyarakatan yang dikenal dengan nama gotong royong yang
bukan merupakan lembaga yang sengaja dibuat. Oleh karena itu, pada
masyarakat - masyarakat pedesaan, tidak akan dijumpai pembagian kerja
berdasarkan keahlian, akan tetapi biasanya pembagian kerja didasarkan
pada
usia,
mengingat
kemampuan
fisik
masing
masing
.
Golongan orang tua pada masyarakat pedesaan, pada umumnya
memegang peranan penting. Orang orang akan selalu minta nasehat
nasehat kepada mereka, apabila ada kesulitan yang dihadapi.
Kesukarannya adalah golongan orang tua memiliki tradisi yang kuat,
sehingga sukar untuk mengadakan perubahan perubahan yang nyata.
Pengendalian sosial masyarakat sangat kuat sehingga perkembangan jiwa
individu
sangat
sukar
untuk
dilaksanakan.
Salah satu alat komunikasi masyarakat desa yang berkembang adalah
desas desus yang biasanya bersifat negatif. Sebagai akibat sistem
komunikasi yang sederhana, hubungan antara seseorang dengan orang
lain sangat dapat diatur dengan seksama. Rasa persatuan sangat erat
sekali sehingga menimbulkan rasa saling kenal mengenal dan saling tolong
menolong
yang
baik.
Pada masyarakat pedesaan dimana sebagian besar mereka adalah
masyarakat tradisional terdapat berbagai media sosial sebagai sarana
efektif saling berinteraksi. Media ini telah sejak lama tumbuh dan
berkembang bersama masyarakat dan menjadi media sosialisasi nilai-nilai
antar warga masyarakat, bahkan dari generasi ke generasi. Media ini
dikenal sebagai media rakyat.
Media rakyat sering muncul dalam bentuk kesenian daerah atau
kebudayaan tradisonal daerah. Kesenian atau budaya daerah digunakan
sebagai wahana untuk memperkenalkan dan memberikan pesan-pesan
pembangunan kepada masyarakat pedesaan. Karena warga masyarakat
pedesaan masih menyukai dan membutuhkan budaya atau kesenian

8

tradisional sebagai sebuah bentuk hiburan maka media ini juga menjadi
sarana yang sangat tepat sebagai media tranformasi nilai-nilai.
Terdapat tiga media yang sangat berpotensi dalam penyebaran informasi
di pedesaan, yaitu :
A. Koran masuk desa adalah media massa atau Koran kota yang
dikelola untuk masyarakat desa.
B. Media rakyat adalah media profil pedesaan yaitu dari, oleh, dan
untuk rakyat pedesaan tetapi belum ada di Indonesia.
C. Dan yang ketiga adalah media tradisional.
Robert de Laurent mengatakan bahwa media rakyat sama dengan surat
kabar pedesaan.
Sedangkan beberapa fungsi media masyarakat menurut Cepen adalah
1. memberi saluran alternative sebagai sasaran bagi rakyat untuk
mengemukakan kebutuhan dan kepentingan rakyat.
2. Berguna menyeimbangkan pemihakan kepada perkotaan yang
tercermin dari isi media.
3. Membantu menjembatani kesenjangan antara pinggiran dengan
perkotaan.
4. Mencegah membesarnya rasa kecewa, rasa puas diri dan
keterasingan dikalangan penduduk daerah pedesaan.
5. Memberikan fasilitas berkembangnya keswadayaan, kemampuan
mendorong diri sendiri dan kemampuan mengambil keputusan
sendiri.
6. Dan berguna bagi umpan balik system pemantauan dan
pengawasan suatu proyek tertentu.
Peran komunikasi dalam hal ini adalah merupakan saluran sosialisasi
kebudayaan, yang mencerminkan bahwa komunikasi antar sesama adalah
merupakan suatu yang harus dijaga dalam komunikasi di pedesaan,
komunikasi tidak sekedar sebuah fenomena pertukaran informasi pengirim
dan penerima pesan, lebih dari itu komunikasi merupakan upaya mencapai
saling pengertian dan dari komunikasi inilah suatu kebudayaan diturunkan
ke generasi selanjutnya. Kemudian komunikasi menyebarluaskan ide-ide
baru sehingga menjadi nilai-nilai baru. Nilai-nilai baru ini biasanya muncul
dari kreatifitas individu-individu atau consensus dari kelompok-kelompok
manusia. Komunikasi menyediakan kesempatan dan rentang waktu bagi
masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai baru tersebut.
Corak kehidupan social di desa dapat dikatakan masih homogen. Pola-pola
interkasi social pada suatu masyarakat ditentukan oleh struktur social
masyarakat yang bersangkutan. Dalam interaksi social selalu diusahakan
agar supaya kesatuan social (social unity) tidak terganggu, konfik atau
pertentangan social sedapat mungkin dihindarkanjangan sampai terjadi.
Bahkan kalau terjadi konfik diusahakan supaya konfik tersebut tidak
9

terbuka di hadapan umum. Bila terjadi pertentangan diusahakan untuk
dirukunkan karena memang prinsip kerukunan inilah yang menjiwai
hubungan social pada masyarakat pedesaan karena masyarakat ini sangat
mendambakan tercapainya keserasian dalam kehidupan masyarakat.

D.

Masyarakat Kota

 Pengertian Kota
Definisi kota disampaikan oleh Bintarta adalah sebagai berikut :

Kota diartikan sebagai suatu sistim jaringan kehidupan yang ditandai
dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata
ekonomi yang heterogen dan bercorak materialistis atau dapat pula
diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami
dan non alami dbgan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar
dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis
dibandingkan dengan daerah dibelakangnya.

 Sistem komunikasi masyarakat kota
Dengan perkembangan ilmu dan teknologi kontak sosial dewasa ini
tidak hanya diartikan dengan hubungan fisik. Teknologi komunikasi
dan informasi telah dapat mengubah bentuk kontak tidak hanya
badaniah, tidak hanya diartikan sebagai pertemuan dua orang yang
kemudian berkomunikasi akan tetapi lebih luas menyangkut peran
teknologi. Akibatnya terjadi beberapa perubahan dalam masyarakat.
Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai norma, nilai,
pola-pola perilaku masyarakat, organisasi, susunan dan stratifikasi
kemasyarakatan sebagai akibat dari dinamika masyarakat yang
ditimbulkan dari kemajuan teknologi dan informasi. Hal tersebut
sangat terlihat pada sistem komunikasi pada masyarakat perkotaan.
Penduduk kota sangat bervariasi atau heterogen baik dari segi etnis,
lapangan pekerjaan, tingkat pendidikan, serta latar belakang agama
maupun kebudayaan yg dianutnya. Hubungan sosialnya sangat
kompleks, misal dari segi pekerjaan, warga kota sangat beraneka,
mereka dapat berhubungan dengan banyak sekali orang disekitarnya
dalam berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan.
Masyarakat perkotaan cenderung memiliki sistem komunikasi yang
tertutup dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Mereka lebih
memilih untuk menggunakan gadget untuk berkomunikasi dengan
orang lain ketimbang bertemu langsung, meskipun jaraknya cukup
10

dekat. Rasa individualisme yang tinggi menyebabkan komunikasi
yang terjalin tidak seerat seperti masyarakat pedesaan.
Adanya teknologi yang berkembang pesat juga menyebabkan sikap
acuh tak acuh timbul pada masyarakat perkotaan, kepedulian
terhadap sesama bukanlah suatu hal yang dikatakan penting seperti
yang terjadi pada masyarakat pedesaan. Masyarakat perkotaan lebih
memilih

untuk

memperhatikan

kebutuhannya

dibandingkan

kebutuhan orang lain yang ada disekitarnya. Keberadaan alat
teknologi

atau

gadget

menjadi

sesuatu

yang

diagungkan

di

masyarakat perkotaan. Semuanya dilakukan dengan menggunakan
teknologi untuk mempermudah dalam menjalani aktivitas.

 Ciri-ciri masyarakat kota
1.

Kehidupan

keagamaan

berkurang

dibandingkan

dengan

kehidupan keagamaan di desa. Ini dikarenakan masyarakat
kota lebih disibukkan dengan urusan duniawi.
2.

Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri
tanpa bergantung dengan orang lain(individualisme).

3.

Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas
dan memunyai batas-batas nyata.

4.

Kemungkinan

untuk

mendapatkan

pekerjaan

juga

lebih

banyak diperoleh warga kota.
5.

Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat
perkotaan

menyebabkan

interaksi

yang

terjadi

lebih

didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
6.

Jalan kehidupan yang cepat di kota-kota mengakibatkan
pentingnya faktor waktu bagi warga kota sehingga pembagian
waktu yang teliti sangat penting untuk dapat mengejar
kebutuhan-kebutuhan seorang individu.

7.

Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kotakota sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima
pengaruh dari luar.

 Budaya masyarakat kota

11

Dalam masyarakat perkotaan sistem nilai yang cenderung dianut
adalah adanya sikap individualistis- elu elu gue gue, urusan lu bukan
urusan gue- dan semacamnya, yang mengantarkan masyarakat perkotaan
pada keadaan yang ”sunyi”. Tidak butuh orang lain. Cenderung sendiri.
Yang disebut keteraturan hidup adalah bila telah memiliki rumah sebagai
tempat tinggal untuk diri dan keluarga, rutinitas kerja setiap hari, liburan
di penghujung minggu, menerima uang pensiun di hari tua dan tidak
mengganggu kehidupan orang lain. Keselarasan hidup adalah bila dirinya
dan keluarga telah memiliki “tempat” di muka bumi ini. Lalu, bagaimana
dengan kehidupan sosial? Masyarakat yang menghuni kota-kota besar
tersebut adalah masyarakat yang multi kultural dengan kepentingan
yang money oriented, sehingga kehidupan sosial akan dijalankan
sepanjang memiliki kontribusi berupa reward untuk kelangsungan
hidupnya. Individualis yang demikian kental di kalangan masyarakat
perkotaan mendorong mereka untuk acuh kepada sesamanya.
Melihat fenomena sekarang ini, di masyarakat perkotaan yang
cenderung selfish dan egoistis (baca individualisme), kebutuhan
komunikasi antar personal digantikan dengan kebutuhan untuk
memenuhi kebutuhan biologis dalam artian hanyalah kebutuhan
memenuhi sandang, pangan dan papan. Padahal sebagai zoon
politicon, manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi
dengan orang lain untuk melanjutkan keberlangsungan hidupnya.
Kebutuhan berkomunikasi antar pribadi tertuang melalui komunikasi
secara verbal (bahasa yang di gunakan) maupun non verbal
(kinesik, okulesik, haptiks, proksemik). Komunikasi yang baik
sebenarnya dapat menjadi sarana atau media untuk mencapai
tujuan yang diharapkan.
Menurut Clifford Morgan, pola komunikasi dalam masyarakat
sukar dinilai baik buruknya yaitu karena harus disesuaikan dengan
norma masyarakatnya sendiri sehingga mencerminkan kebutuhan
masyarakatnya. Menurut penelitian yang dilakukan olehnya, Morgan
menemukan bahwa untuk masyarakat perkotaan, memiliki pola
komunikasi yang disebutnya sebagai pola Com-Con (singkatan
dari completely connected). Di dalam completely connected
structure terdapat pada umumnya orang-orang di dalamnya merasa
terlibat dan bebas, tidak tergantung dari orang lain. Dalam
hubungan ini, anggota masyarakat lebih bebas untuk memilih
dengan siapa mereka hendak berkomunikasi. Pola komunikasi yang
terbentuk pun hanyalah “seperlunya”. Bahkan kalau dirasa memang
tidak perlu tatap muka dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi.

E.Pola Komunikasi Desa dan Kota
Komunikasi adalah suatu proses penyapaian dan penerimaan pesan
yang berupa ketrangan-ketrangan, pikiran-pikiran atau emosi-emosi dan

12

perasaan dari satu orang atau kelopok kepada orang lain dan kelopok
lainya.
Komunikasi dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol yang
penggunaannya adalah secara terseleksi sesuai dengan situasi social
dimana komunikasi itu berlangsung, dan sesuai dengan tujuan dari
tindakan-tindakan yang dilakukan.Simbol adalah sesuatu tanda yang
terlahir karena suatu persetujuan yang merasang suatu tanggapan yang
seragamoleh orang-orang yang terlibat dalam persetujuan tersebut, yaitu
orang-orang yang mepunyai suatu kebudayaan yang sama. Simbol dapa
tberupa benda, suatu, kejadian, gerakantubuh, dansebagenya.
Situasi-situasi sosial yang ada dalam suatu masyarakat terwujud
dalam berbagai pola intraksi sosial yang kesemuan yaitu berpedoman
kepada kebudayaan yang ada. Suatu komunikasi yang melibatkan seluruh
atau sebagian besarwarga suatu masyarakat biasanya berupa suatu sistem
yang terdiri atas berbagai saluran-saluran komunikasi yang melibatkan
sejumlah orang yang biasanya merupakan suatu jaringan atau sejumlah
jaringan.Suatu komunikasi selalu menghasilkan interaksi sosial, dan
karenanya juga suatu jaringan komunikasi biasanya juga merupakan suatu
jaringan sosial.
Dalam setiap masyarakat tedapat jaringan sosial, tetapi jaringan
sosial yang ada dalam masyarakat yang satu dengan yang lainya tidaklah
sama corak dan macamnya karena perbedaan kebudayaan yang dimiliki
masing-masing. Dengan demikian, macam dan corak jaringan komunikasi
yang

ada

dalam

suatu

masyarakat

tidaklah

sama

dengan

yang

terdapatdalam masyarakat lainnya.
Ada dua macam komunikasi, yaitu resmi dan yang tidak resmi
(personal),

dan

yang

langsung

atau

tatap

muka

dan

yang

tidak

langsung .Misalnya komunikasi dengan tatap muka tetap iresmi, atau
sebagainya. Walapun cara-cara komunikasi ini terdapat dalam setiap
masyarakat, tetapi selalu terdapat perbeda anantara yang terdapat dalam
suatu masyarakat dengan yang tedapat dalam masyarakat lainnya.
Perbedaan itu terwujud dalam macamnya cara melaksanakan, cara
berkomunikasi yang harus memperhitungkan kedudukan, jabatan, dan
golongan social terwujud berdasarkan atas kebudayaan masyarakat yang
bersangkutan. Disamping itu juga, perbedaan ini terwujud dalam teknologi
13

yang

digunakan

dalam

penyapaian

pesan

tersebut

(ada

yang

menggunakan teknologi modern seperti internet ,televisi, hp, dan ada yang
mengunakan cara lain lagih).
Komunikasi di kota dan di desa di Indonesia dapat digolongkan
sebagai dua kutub yang saling bertemu dan masing-masing medominasi
kutubnya sendiri. Dengan kata lain lagih, dikota lebih didominasi oleh
komunikasi nasional, sedangkan di desa lebih didomininasi oleh komunikasi
kebudayaan suku bangsa, dan diantaranya terdapat kota-kota kecil di
masing-masing propinsi (termasuk ibukota propinsi). Disamping itu masih
terdapat lagi komunikasi yang terwujud dari kebudayaan campuran yang
macam

dan

coraknya

berbeda

menurut

tempat

dan

suasana

kebudayaannya.
Polah komunikasi untuk masyarakat kota dan masyarakat desa
adalah pendekatan kebudayaan majemuk, adanya dua system komunikasi
yang beroprasi di Indonesia, yaitu system komunikasi nasional yang
merupakan sebagian bersumber dari kebudayaan nasional Indonesia, dan
system komunikasi suku bangsa yang bersumber pada kebudayaan suku
bangsa. Sistem komunikasi yang bersumber pada kebudayaan campuran
dapat dimasukan sebagai golongan ketiga.
Penyampaian informasi di kota-kota dan di desa-desa dilakuan
dengan

menggunakan

simbol-simbol

kebudayaan

nasional

(bahasa

indonesia), dengan cara-cara dan melalui saluran-saluran yang sekarang
ada dalam system komunikasi nasional. Penyapan pesan-pesan di kotakota tidak perlu diterjemakan atau di interpertasikan dalam simbol-simbol
kebudayaan sukubangsas etempat, sedangkan secara berangsur-angsur
dan menjadi lebih banyak di lakukan dengan pertejmahan pesan-pesan
yang ada dalam simbol-simbol kebudayaan suku bangsa setempat agar
pesan tersebut dapatdipahami secara benar dan tidak menibulkan salah
pengertian di pihak penerimanya, yaitu kusus warga desa. Disamping itu,
sejumlah orang yang menjadi pusat-pusat jaringan sosial yang ada dalam
suatu masyarakat desa dapat membantu penyapaian pesan-pesan yang
disampaikan.

F.Contoh Kasus
14

Anton merupakan masyarakat desa yang baru saja pindah kekota Jakarta,
dia diajak pamannya merantau kekota untuk mencari pekerjaan karena di
desa Anton sulit untuk mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Saat
mengelilingi Jakarta ia merasa bingung dengan kemajuan Jakarta yang
berbeda dengan desanya, dimana banyak sekali gedung gedung besar dan
segala sesuatu sudah menggunakan teknologi, dan orang orang Jakarta
yang rata rata bersifat individualistis membuat Anton takut untuk
berinteraksi.

Ketika

Anton

mencoba

untuk

berinteraksi,

lawan

komunikasinya merupakan dosen disalah satu universitas terkemuka di
Jakarta, sehingga dosen itu menggunakan kata yang menurut Anton sulit
untuk dimengerti karena Anton hanya lulusan SMP. Anton menyadari
bahwa masyarakat kota lebih mementingkan pendidikkannya dibanding
masyarakat didesa. Anton merasa tujuannya kekota menjadi sia sia karena
segala perbedaannya dianggap suit untuk diterima, karena segala budaya
dikota dan didesa berbeda sehingga orang desa yang pindah kekota akan
merasa sulit untuk beradaptasi dengan segala aturan dan segala aspek
yang ada dikota, begitu juga sebaliknya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

15

Berdasarkan dengan pengertian pola komunikasi suatu pola
akan terbentuk melalui beberapa prosesnya seperti pola
komunikasi masyarakat desa akan terbentuk dengan adanya
kebiasaan, atau budaya dari masyarakat itu sendiri. Dengan
adanya system dari komunikasi masyarakat desa, karakter
masyarakat desa, dan berdasarkan budayanya, semua itu akan
membentuk suatu pola komunikasi masyarakat desa. Begitu
juga sebaliknya dengan pola komunikasi masyarakat kota,
masyarakat kota memiliki karakter tersendiri dan kebiasaankebiasaan yang dapat membentuk ciri dari pola komunikasi
masyarakatnya.

16

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3864 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1026 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 924 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 616 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 772 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1320 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1213 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 802 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1084 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1315 23