Pengaruh pemberian minyak kelapa virgin terhadap sekresi air susu ibu dan pemeriksaan asam lemak rantai sedang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Air susu ibu (ASI)
Air susu ibu sangat diperlukan selama masa pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Selain mengandung zat nutrisi yang dibutuhkan, ASI juga
meningkatkan daya tahan tubuh dan mengandung antibakteri dan antivirus yang
melindungi bayi terhadap infeksi. Air susu ibu sebagai makanan tunggal akan
cukup memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi normal sampai usia empat
sampai enam bulan (Khairunniyah, 2004).
Air susu ibu menurut stadium laktasi:
i) Kolostrum
Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar
mammae, dari hari pertama sampai hari ketiga dan sangat penting diberikan
kepada bayi untuk membangun sistem pertahanan tubuh. Jika dibandingkan
dengan susu matur (matang), kolostrum lebih banyak mengandung protein,
kolesterol, lesitin, vitamin yang larut lemak, antibodi, mineral terutama: natrium,
kalium dan klorida, sedangkan kandungan karbohidrat, lemak dan total energi
lebih rendah, pH lebih alkalis dan bila dipanaskan akan menggumpal. Komposisi
kolostrum ini sangat sesuai dengan kebutuhan bayi pada hari-hari pertama
kehidupannya (Soetjiningsih, 1997).
ii) Air Susu Peralihan

Merupakan air susu ibu peralihan dari kolostrum sampai menjadi air susu
ibu yang matur, disekresi dari hari keempat sampai hari kesepuluh. Kadar protein

Universitas Sumatera Utara

makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat, lemak dan volume air susu ibu
semakin meningkat dibanding kolostrum (Soetjiningsih, 1997).
iii) Air Susu Matur (Matang)
Merupakan air susu ibu yang disekresi pada hari kesepuluh dan seterusnya,
komposisi relatif konstan mulai minggu ketiga sampai minggu kelima, cairan
berwarna putih kekuningan. Pada Ibu yang sehat dimana produksi air susu ibu
cukup, air susu ibu ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan
cukup untuk bayi sampai umur enam bulan (Soetjiningsih, 1997).
2.1.1 Komposisi Air Susu Ibu (ASI)
Air susu ibu mengandung sekitar 88 % air per 1 gram air susu ibu, 1,10%
protein yang sesuai untuk pertumbuhan dan kondisi ginjal bayi dan 3,50-4,50%
lemak. Walaupun kuantitas protein air susu ibu rendah dibanding susu sapi,
namun kualitasnya lebih baik. Kadar lemak dalam air susu ibu lebih tinggi,
namun mudah diserap oleh bayi karena trigliserida dalam air susu ibu terlebih
dahulu dipecah menjadi asam lemak dan gliserol oleh enzim lipase yang terdapat

di dalam air susu ibu (Soetjiningsih, 1997).
Air susu ibu mengandung asam lemak jenuh yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan bayi. Kandungan asam lemak jenuh memberikan manfaat besar
terhadap kesehatan bayi diantaranya asam lemak jenuh rantai sedang disintesis
oleh kelenjar mammae melalui sirkulasi yang panjang (Alexandra et al., 2009;
Spear et al., 1992).
Kadar vitamin di dalam air susu ibu diperoleh dari asupan makanan ibu
yang harus cukup dan seimbang. Komposisi vitamin A dan C di dalam air susu
ibu cukup tinggi, vitamin K dan E dalam jumlah yang cukup, dan vitamin D

Universitas Sumatera Utara

dalam jumlah yang sedikit, sehingga bayi yang prematur atau bayi yang kurang
mendapatkan sinar matahari, dianjurkan untuk diberi suplementasi vitamin D
(Suharjo, 1996).
Komposisi asam lemak, nutrisi dan vitamin di dalam air susu ibu dapat dilihat
pada Tabel 2.1.
Tabel. 2.1 Komposisi asam lemak, nutrisi dan vitamin di dalam air susu ibu
Asam lemak jenuh (%)
Asam butirat

0,40
Asam kaproat
0,10
Asam kaprilat
0,30
Asam kaprat
0,30
Asam laurat
5,80
Asam miristat
8,60
Asam palmitat
22,60
Asam stearat
7,80
Asam arakidonat
1,00
Asam lemak tidak jenuh (%)
Asam oleat
36,40

Asam linoleat
8,30
Asam linolenat
0,40
Komposisi nutrisi ASI untuk setiap (100 ml)
Protein (g)
1,20
Kasein (g)
0,40
Laktalbumin (g)
0,30
Lemak (g)
3,80
Laktosa (g)
7,00
Nilai-Kalori (Kcal)
71
Mineral (g)
0,21
Kalsium (mg)

33
Fosfor (mg)
43
Magnesium (mg)
4
Kalium (mg)
55
Natrium (mg)
15
Besi (mg)
0,15
Cu (mg)
0,04
Mangan (mg)
0,07
Vitamin
Vitamin A (I.U)
160
Vitamin D (I.U)
1,40

Asam nikotianat (mg)
0,17
Asam folat (mcg)
0,20

Universitas Sumatera Utara

Biotin (mcg)
Vitamin B12 (mcg)
Vitamin C (mg)
Sumber: Maheswari dan Ronny, 2008).

0,40
0,03
4,00

2.1.2 Manfaat Air Susu Ibu (ASI)
Air susu ibu merupakan makanan sumber nutrisi yang terbaik untuk bayi
karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki dibanding air susu yang lain. Manfaat
yang diperoleh baik untuk bayi maupun ibu, antara lain: komposisi air susu ibu

sangat cocok dengan fungsi pencernaan bayi yang belum lengkap ataupun bayi
dengan lahir prematur, komposisi sesuai dengan kebutuhan bayi menurut usia
bayi, mengandung zat pelindung yang dapat menghindarkan bayi dari berbagai
penyakit infeksi, terutama karena konsentrasi Immunoglobulin A (IgA) yang
tinggi dalam kolostrum, sehingga sangat efektif melawan organisme patogen
ketika sistem imum bayi belum sepenuhnya terbentuk (Rutishauser, 1996).
Pemberian air susu ibu juga mempunyai beberapa keuntungan yaitu:
terjalin hubungan yang lebih erat antara ibu dan bayi, mempercepat pengembalian
uterus ke kondisi awal dan

penyembuhan paska melahirkan, menghindari

kemungkinan menderita kanker payudara pada masa mendatang dan dengan
menyusui kesuburan ibu akan berkurang untuk beberapa bulan kedepan
(membantu program keluarga berencana, KB) (Soetjiningsih, 1997; Suradi dan
Utami 2008).
Pemberian air susu ibu ekslusif yaitu pemberian air susu ibu sampai bayi
umur enam bulan yang memberikan dampak positif bagi kesehatan bayi. Air susu
ibu mempunyai toleransi yang baik, mudah dicerna, mempunyai suhu yang
optimal, selalu tersedia setiap saat dibutuhkan oleh bayi dan tidak memerlukan

persiapan yang rumit atau alat takaran, bersih, aman, tidak mudah terkontaminasi

Universitas Sumatera Utara

dari luar bila langsung diberikan sehingga bayi yang disusui tidak mudah
terserang diare, serta tidak adanya bahaya alergi (Soetjiningsih, 1997).
2.1.3 Sintesis Air Susu Ibu (ASI)
Kelenjar mammae menghasilkan air susu ibu melalui proses yang panjang.
Sel-sel epitel kelenjar mammae mengandung sel-sel bakal (stem cells) dan sel-sel
alveoli sekretoris. Sel-sel bakal distimulasi oleh hormon pertumbuhan manusia
(Human Growth Hormone, HGH) yang dihasilkan oleh sel-sel eosinofilik pituitari
anterior dan insulin. Kebanyakan ASI disintesis ketika terjadi proses penyusuan,
yang produksinya dirangsang oleh prolaktin. Skema sel-sel sekretori kelenjar
mammae dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Skema sel sekretori kelenjar mammae (Lawrence, 1999).
Menurut Lawrence (1999), bagian-bagian sel sekretori beserta fungsinya
adalah sebagai berikut:
i) Nukleus, berfungsi untuk duplikasi material genetik dan transkripsi kode
genetik. Sintesis Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) dan Riboluse Nucleic Acid

(RNA) dalam nukleus bertambah saat kehamilan dan paling tinggi saat
menyusui.

Universitas Sumatera Utara

ii) Sitosol mengandung sitoplasma tanpa bagian mitokondria dan mikrosom,
sitosol ini mengandung enzim yang merupakan kofaktor penting untuk sintesis
ASI.
iii) Mitokondria bertambah jumlahnya dalam sel-sel epitel kelenjar mammae yang
merupakan alat pernapasan utama atau penyedia Adenosin Triofosfat (ATP)
pada sel dan pengatur beberapa metabolisme sel melewati permeabilitas yang
berbeda untuk anion-anion tertentu, menyediakan sitrat sebagai sumber karbon
untuk biosintesis asam lemak dan asam amino non-essensial.
iv) Keping mikrosom terdiri dari badan Golgi, retikulum endoplasmik dan
membran untuk sintesis lemak, mengolah asam amino, glukosa dan asam
lemak menjadi protein, karbohidrat dan lemak untuk disekresikan.
v) Badan golgi berfungsi untuk sintesis laktosa, dan tempat penyimpanan kasein
dan laktosa.
vi) Endoplasmik retikulum berfungsi untuk sintesis protein, trigliserid, fosfolipid
dan denaturasi asam lemak.

2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi sintesis, sekresi dan komposisi Air
Susu Ibu (ASI)
Faktor psikologis, fisiologis, sosiologis dan tingkat konsumsi zat gizi dapat
mempengaruhi sintesis, sekresi dan komposisi air susu ibu. Agar air susu ibu yang
diberikan dapat dikonsumsi bayi secara optimal maka dibutuhkan kerjasama yang
baik (keeratan hubungan emosional) antara ibu dengan bayinya.
Menurut Soetjinigsih, (1997), faktor psikologis diantaranya, ibu dengan
perasaan resah, gelisah dan emosi yang labil sering menemui kesukaran dalam
menyusui, syok karena berita buruk secara psikologis juga dapat menyebabkan air
susu ibu berhenti secara cepat. Faktor fisiologis yang mempengaruhi volume air

Universitas Sumatera Utara

susu ibu mencakup kapasitas ibu untuk mensekresi air susu ibu dan kemampuan
bayi untuk mengkonsumsi air susu ibu (frekuensi, durasi menyusui, berat badan
lahir bayi dan kekuatan isapan bayi). Volume air susu ibu yang disekresikan
bervariasi terhadap periode laktasi. Menurut Santosa (2001), volume air susu ibu
cenderung meningkat pada minggu kedua dan ketiga, kemudian berkurang
kembali pada minggu keempat. Kapasitas ibu untuk menghasilkan air susu ibu
dan kemampuannya untuk mensekresikan sangat bergantung pada anatomi

kelenjar mammae, faktor hormonal dan makanan ibu. Faktor sosiologis
mempengaruhi kuantitas air susu ibu melalui mekanisme psikologis dan fisiologis,
misalnya pendapat umum bahwa menyusui adalah hal yang tidak disukai
menyebabkan ibu tidak nyaman untuk menyusui bayinya sehingga menyebabkan
penghambatan sekresi air susu ibu. Dalam masyarakat dimana ibu harus bekerja
jauh dari rumah, menyebabkan kesempatan menyusui berkurang dan bayi
diberikan pengganti air susu ibu juga akan mempengaruhi kuantitas air susu ibu
yang dikonsumsi bayi (Soetjinigsih, 1997; Wright dan Bruner, 1994).
Komposisi asam lemak di dalam air susu ibu dipengaruhi oleh diet ibu.
Salah satu asam lemak yang memberikan manfaat bagi bayi adalah asam lemak
jenuh rantai sedang. Untuk itu penting bagi ibu untuk memasukkan asam lemak
jenuh rantai sedang diantaranya asam kaprilat, kaprat dan laurat yang banyak
terdapat di dalam VCO dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan tubuh
dan bayi (Haug et al., 2007).
Finley et al. (1985) melaporkan bahwa jumlah asam lemak yang disintesis
oleh kelenjar mammae meningkat sesuai usia laktasi, hal ini menunjukkan bahwa
bayi dengan usia lebih tinggi dapat menerima air susu ibu dengan kandungan

Universitas Sumatera Utara

asam lemak lebih tinggi. Kandungan asam lemak yang berbeda pada dua populasi
ibu-ibu menyusui di wilayah Israel menunjukkan bahwa asam lemak tersebut
merupakan hasil dari diet ibu itu sendiri (Silberstein et al., 2013).
Metode pengumpulan air susu ibu sebagai sampel juga mempengaruhi
komposisi yang terkandung didalam air susu ibu. Beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam metode pengumpulan sampel adalah: kesamaan periode
atau lama menyusui, waktu atau jam pengambilan sampel air susu ibu, sampel air
susu ibu diambil dari sisi kelenjar yang sama, kesamaan jarak kehamilan ke
sebelum awal laktasi, kesamaan lamanya siklus menstruasi atau lamanya
kehamilan dan interval kehamilan sebelumnya (WHO, 2002).
2.1.5 Penyimpanan Air Susu Ibu (ASI)
Kondisi penyimpanan yang optimal diperlukan karena air susu ibu
merupakan produk atau bahan pangan dari manusia yang dikategorikan sebagai
hewan mamalia. Bahan pangan nabati relatif lebih tahan lama waktu simpannya
daripada hewani, sehingga air susu ibu sebagai produk hewani relatif pendek
waktu simpannya. Dibutuhkan kondisi optimal dan metode yang paling sesuai dari
berbagai macam metode penyimpanan yang ada untuk menyimpan air susu ibu
(Widyani dan Tety, 2008).
Komponen utama air susu ibu adalah zat gizi makro seperti laktosa,
protein dan lemak. Komponen tersebut memiliki kuantitas yang banyak di dalam
air susu ibu dibanding kandungan gizi lainnya, maka perlu diketahui sejauh mana
stabilitas zat gizi makro air susu ibu bertahan selama penyimpanan (Nestle, 2007).
Data mengenai tempat penyimpanan, temperatur dan anjuran masa penyimpanan
maksimal air susu ibu dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2 Tempat penyimpanan, temperatur dan anjuran masa penyimpanan
maksimal air susu ibu
Tempat
penyimpanan

Temperatur

Anjuran masa penyimpanan maksinal

- 3-4 jam
- 6-8 jam dapat diterima pada kondisi yang
terjaga
- 72 jam optimal
Pendingin
≤ 4 oC
- 5-8 hari dapat diterima pada kondisi yang
terjaga
- 6 bulan
Freezer
< -4 oC
- 12 bulan dapat diterima pada kondisi
yang terjaga
(Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) Protocol Committee: 2010).
Suhu ruang

16-29 oC

Slutzah et al. (2010) menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata
pada komposisi air susu ibu dengan perbedaan temperatur, tetapi terdapat
beberapa perubahan pada air susu ibu selama masa penyimpanan. Lamanya waktu
penyimpanan pada air susu ibu dapat menurunkan pH, jumlah sel darah putih dan
peningkatan jumlah asam lemak bebas. Menurut Lawrence (2001), komposisi
lemak, vitamin, enzim-enzim, pH dan pertumbuhan bakteri tidak terjadi
perubahan pada air susu ibu yang disimpan dan dijaga pada suhu -80 oC.
2.2 Minyak Kelapa Virgin
Menurut syarat mutu yang disepakati dalam Standar Nasional Indonesia
(SNI 7381: 2008) VCO adalah minyak yang diperoleh dari daging buah kelapa
(Cocos nucifera L.) tua yang segar dan diproses dengan diperas dengan atau tanpa
penambahan air, tanpa pemanasan atau pemanasan tidak lebih dari 60 oC dan
aman dikonsumsi manusia.
Pembuatan VCO dilakukan dengan menggunakan pemanasan yang rendah
atau tanpa pemanasan, caranya dengan menggunakan enzim atau mikroorganisme
penghasil enzim tertentu untuk memecah emulsi santan yang berikatan dengan

Universitas Sumatera Utara

lemak dan karbohidrat sehingga minyak dapat terpisah dengan baik, hasilnya
berupa VCO yang rasanya lembut dan bau khas kelapa yang unik, warnanya putih
dalam keadaan beku dan tidak berwarna atau bening dalam keadaan cair (Sibuea,
2004). Standar mutu VCO menurut SNI 7381: 2008 dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3. Standar mutu VCO menurut SNI 7381: 2008

No Jenis uji
1
Keadaan:
1.1 Bau
1.2 Rasa
1.3 Warna

2

Satuan

Air dan senyawa yang
%
menguap
3
Bilangan iod
g iod/100g
4
Asam lemak bebas (dihitung
%
sebagai asam laurat)
5
Bilangan peroksida
mg ek/kg
6
Asam lemak
6.1 Asam kaproat (C6:0)
%
6.2 Asam kaprilat (C8:0)
%
6.3 Asam kaprat (C10:0)
%
6.4 Asam laurat (C12:0)
%
6.5 Asam miristat (C14:0)
%
6.6 Asam palmitat (C16:0)
%
6.7 Asam stearat (C18)
%
6.8 Asam oleat (C18:1))
%
6.9 Asam linoleat (C18:3)
%
7
Cemaran mikroba
7.1 Angka lempeng total
Koloni/ml
8
Cemaran logam
8.1 Timbal (Pb)
mg/kg
8.2 Tembaga (Cu)
mg/kg
8.3 Besi (Fe)
mg/kg
8.4 Cadmium (Cd)
mg/kg
9
Cemaran Arsen (As)
mg/kg
CATATAN ND = No detection (tidak terdeteksi)

Persyaratan
Khas kelapa segar, tidak
tengik
Normal, khas minyak kelapa
Tidak berwarna hingga
kuning pucat
Maks 0,20
4,10-11,00
Maks 0,20
Maks 0,20
ND-0,70
4,60-10,00
5,00-8,00
45,10-53,20
16,80-21,00
7,50-10,20
2,00-4,00
5,00-10,00
ND-0,20
Maks 10
maks 0,10
maks 0,40
maks 5,00
maks 0,10
Maks 0,10

Universitas Sumatera Utara

Menurut Fife (2003), VCO berkhasiat membantu mengurangi resiko
penyakit aterosklerosis, kanker, mendukung sistem fungsi kekebalan, mencegah
osteoporosis, diabetes, penuaan dan pengerutan kulit, penyedia sumber energi
spontan, menjaga kesehatan kulit, menghancurkan virus-virus berbahaya seperti:
herpes, hepatitis C dan Human Immunodeficiency Virus (HIV), mengurangi berat
badan, memperbaiki sistem pencernaan serta penyerapan nutrisi dan telah
dibuktikan dapat menghambat pertumbuhan berbagai bakteri patogen diantaranya
Listeria monocytogene, Staphylococcus sp. maupun Helicobacter sp., membunuh
khamir dan jamur-jamur tertentu (Siti dan Supraptini, 2010).
Minyak kelapa virgin aman dikonsumsi oleh ibu hamil, menyusui, anakanak bahkan balita. Pada ibu menyusui, dengan mengkonsumsi VCO maka
komposisi asam lemak rantai sedang di dalam air susu ibu meningkat secara nyata
sehingga dapat menurunkan pH pada air susu ibu. Penurunan pH pada air susu ibu
akan mempengaruhi pertumbuhan bakteri patogen sehingga jumlah bakteri akan
turun. Air susu ibu dengan komposisi asam lemak rantai sedang yang tinggi
dipercaya sangat baik melindungi bayi dari serangan infeksi virus dan berbagai
bakteri patogen. Bayi yang mengkonsumsi air susu ibu juga memiliki antibodi
yang kuat sehingga

menambah sistem kekebalan tubuh terhadap serangan

berbagai penyakit sehingga dapat memberikan dampak positif kepada bayi yang
sedang menyusui (Nandi et al., 2005; Purwati dkk., 2012).
Dosis optimal VCO untuk dewasa secara umum direkomendasikan oleh
para ahli adalah tiga sampai empat sendok makan sehari untuk mendapatkan efek
terapi. Jumlah tersebut setara dengan jumlah asam lemak rantai sedang yang
dikonsumsi oleh bayi perhari yang diperolehnya dari air susu ibu dan

Universitas Sumatera Utara

menyediakan asam laurat yang cukup untuk membangun sistem kekebalan tubuh.
Dosis terapi yang lebih tepat adalah tiga setengah sendok makan sehari (Subroto,
2006).
2.3 Asam Lemak
Asam lemak memainkan peran penting dalam sistem biologis dan
persyaratan asam lemak bayi baru lahir yang hanya ditutupi oleh air susu ibu,
sehingga sangat penting untuk memenuhi syarat asupan asam lemak bagi
kebutuhan biologis bayi baru lahir pada air susu ibu (American Academy of
Pediatrics and Work Group on Breastfeeding, 2005). Asam lemak yang berperan

penting bagi pertumbuhan bayi yaitu asam kaprilat, kaprat dan laurat yang banyak
terdapat di dalam VCO (Darmoyuwono, 2006).
Asam lemak digolongkan menjadi tiga yaitu berdasarkan panjang rantai
karbon yaitu: asam lemak rantai pendek (short chain fatty acids, SCFA)
mempunyai atom karbon 2 sampai 6, asam lemak rantai sedang (medium chain
fatty acids, MCFA) mempunyai atom karbon 8 sampai 12 dan asam lemak rantai
panjang (long chain fatty acids, LCFA) mempunyai atom karbon 14 sampai 24
(Doyle, 1997).
Berdasarkan tingkat kejenuhan asam lemak dibagi atas asam lemak jenuh
(saturated fatty acid, SFA) karena rantai hidrokarbonnya tidak mempunyai ikatan
rangkap, asam lemak tak jenuh tunggal (mono unsaturated fatty acid, MUFA)
rantai hidrokarbonnya mempunyai satu ikatan rangkap dan asam lemak tak jenuh
jamak (poly unsaturated fatty acid, PUFA) rantai hidrokarbonnya mempunyai dua
atau lebih ikatan rangkap (Doyle, 1997; Silalahi, 2000).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan bentuk isomer geometrisnya asam lemak dibagi atas asam
lemak tak jenuh “Cis” (bentuk alami) jika atom-atom hidrogen pada ikatan
rangkap terletak disisi yang sama dari rantai hidrokarbon, misalnya asam oleat
(cis-D9-C18:1) dan asam lemak tak jenuh “Trans” (bentuk tidak alami) jika atomatom hidrogen pada ikatan rangkap terletak disisi yang berlawanan dari rantai
hidrokarbon, misalnya asam elaidat (trans-D9-C18:1) (Doyle et al. 1997; Silalahi,
2000).
2.3.1 Asam lemak rantai sedang
Menurut Syah (2005), asam lemak rantai sedang bekerja secara selektif
dalam membunuh bakteri, sehingga bakteri yang dibutuhkan tubuh (terletak dalam
usus) tidak terpengaruh, akan tetapi bakteri patogen (bakteri penyebab penyakit)
akan dimatikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi inaktivasi
bakteri yang bekerja di dalam usus seperti Escherichia coli dan Salmonella
enteritidis, akan tetapi menunjukkan inaktivasi yang tinggi pada Staphylococcus
epidermidis dan Hemophilus influenza.
Asam laurat pertama kali ditemukan dalam minyak kelapa oleh Kabara et
al., (1960), dan sudah dibuktikan dapat membunuh berbagai jenis mikroba yang
membran sel nya terdiri dari asam lemak (lipid coated microorganisms). Asam
kaprilat merupakan fungisida yang ampuh untuk mengobati infeksi jamur kandida
atau keputihan pada wanita. Kemampuan monogliserida dari asam-asam lemak
kaprilat, kaprat dan laurat yang terkandung di dalam VCO dapat mematikan
beberapa virus (Fife, 2003; Suhirman, 2004).
Di dalam tubuh, asam laurat yang merupakan komponen utama VCO
sebagian akan diubah menjadi senyawa monogliserida yang disebut monolaurin.

Universitas Sumatera Utara

Senyawa ini merupakan bahan dalam sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan
tubuh kita dapat dengan mudah mengahancurkan bakteri penyebab penyakit itu
dengan bantuan monolaurin tersebut. Akan tetapi produksi monolaurin ini hanya
dimungkinkan apabila mengkonsumsi asam laurat, misalnya dari minyak kelapa.
Hal ini dikarenakan tubuh kita tidak dapat memproduksi atau mensintesis asam
laurat (Darmoyuwono, 2006; Kumar et al., 2005).
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Jensen et.al (1986) terhadap
kelompok bayi yang diberi asupan asam lemak rantai sedang dan asam lemak
rantai panjang, kelompok yang diberikan asam lemak rantai sedang diperoleh
penyerapan asam lemak nya lebih baik 95,20% jika dibandingkan dengan
penyerapan asam lemak rantai panjang sebesar 89,90%. Penelitian yang dilakukan
oleh Tantibhedyangkul et al. (1978) menyimpulkan bahwa pemberian formula
dengan komposisi asam lemak rantai sedang sebanyak 80% kepada bayi prematur,
menunjukkan penyerapan kalsium dan magnesium yang lebih baik.
2.4 Analisis Asam Lemak
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui jumlah asam lemak
di dalam air susu ibu menggunakan metoda kromatografi gas. Francois et al.,
(1998) menganalisis asam lemak di dalam air susu ibu dari empat belas orang ibu
dalam waktu berbeda setelah mengkonsumsi formula dari lemak nabati secara
kromatografi gas, diantaranya dengan mengkonsumsi formula minyak kelapa
sebanyak 40 gram, dapat meningkatkan kandungan asam laurat di dalam air susu
ibu dari 3,90% menjadi 9,20% setelah 10 jam dan 9,60% setelah 14 jam.
Kesuksesan pemisahan komposisi asam lemak dalam bentuk (Fatty Acid
Methyl Ester, FAME) dengan kromatografi gas bergantung pada

kondisi

Universitas Sumatera Utara

percobaan dari metode yang digunakan. Kebanyakan metode kromatografi gas
untuk mendeteksi asam lemak menggunakan kolom kapiler. Kolom yang
digunakan bisa pendek (50-60 m) atau panjang (100-120 m) dengan fase diam
berupa senyawa yang kepolarannya tinggi. Selain itu, detektor yang dapat
digunakan yaitu detektor ion nyala (Flame Ionization Detector, FID) dengan suhu
pengoperasian 250°C. Gas

pembawa yang dapat digunakan yaitu helium,

nitrogen, atau hidrogen. Metode boron triflorida merupakan metode yang dapat
digunakan untuk menghasilkan FAME dari trigliserol minyak atau lemak (AOCS,
1997; Moss dan Wilkening, 2005).
Pada kondisi ini, pemisahan berdasarkan pada panjang rantai dari asam
lemak, derajat ketidakjenuhan, dan geometri serta posisi ikatan rangkapnya.
Deretan elusi yang diharapkan untuk asam lemak yang spesifik dengan panjang
rantai yang sama pada kolom yang kepolarannya tinggi yaitu sebagai berikut:
bentuk jenuh (saturated), bentuk tidak jenuh dengan satu ikatan rangkap (mono
unsaturated) dan bentuk tidak jenuh dengan dua ikatan rangkap (diunsaturated)
(Moss dan Wilkening, 2005).
Metil ester asam lemak dari air susu ibu dibuat dengan mereaksikan
sampel dengan natrium hidroksida yang akan membentuk garam natrium asam
lemak, reaksi akan terus berlangsung sampai seluruh asam lemak lepas dari
lemak. Kemudian, kedalam garam natrium asam lemak ditambahkan boron
trifluorida 14% dalam metanol, maka akan terbentuk FAME. Pembuatan FAME
menggunakan natrium hidroksida berguna untuk membentuk metoksida yang
bersifat basa kuat, sehingga pembentukan FAME menjadi lebih baik. Boron
triflourida adalah asam lewis sebagai katalisator yang dapat menerima sepasang

Universitas Sumatera Utara

elektron sehingga pembentukan metanoat lebih cepat dan sempurna. Natrium
hidroksida jenuh berguna untuk memisahkan koloid berwarna putih yang tersebar
di dalam larutan akibat dari komponen asam lemak yang tidak tersabunkan
(Haryati, 1999; Solomon, 1994).
2.5 Antropometri
Pengukuran antropometri merupakan pengukuran individu dari ukuran
tubuh seperti tinggi badan, berat badan, persen lemak tubuh, densitas tulang dan
lingkar pinggang yang dapat digunakan untuk menilai status gizi dari ketidak
seimbangan antara asupan protein dan energi (Brown, 2005; Supariasa, 2002).
Pada orang dewasa, pengukuran antropometri untuk penentuan status gizi
didasarkan pada rasio berat badan (dalam satuan kilogram) dengan kuadrat tinggi
badan (dalam satuan meter), yang disebut indeks massa tubuh (IMT). Nilai IMT
18,5-24,9 kg/m2
menggambarkan kecukupan nutrisi, IMT 25-29,9 kg/m2 termasuk kategori
kelebihan berat badan, IMT≥ 30 kg/m2 termasuk kategori kegemukan (Beaton et
al., 1990; Deurenberg et al., 1999).
Pengukuran antropometri bayi terdiri dari berat badan, panjang badan dan
lingkar kepala. Bayi yang lahir cukup bulan mempunyai berat badan dua kali berat
lahir pada umur 5 bulan, tiga kali berat lahir pada usia 1 tahun, dan empat kali
berat lahir pada usia 2 tahun. Pada bayi normal rata-rata kehilangan berat badan
sebesar 5-8% selama minggu pertama setelah lahir dimana persentase kehilangan
ini lebih besar pada anak yang diberi air susu ibu yaitu 7,40% dibanding yang
tidak yaitu 4,90%. Setelah minggu pertama pola pertambahan berat badan pada

Universitas Sumatera Utara

bayi bergantung pada ukuran awal bayi, apakah bayi disusui atau mendapat
formula, faktor fisiologi dan lingkungan (Soetjiningsih, 1995).
Kenaikan berat badan yang berkelanjutan terutama pada bayi baru lahir
merupakan salah satu hal yang penting dari keseluruhan proses tumbuh kembang
bayi yang optimal. Proses tumbuh kembang merupakan suatu hal yang sangat
kompleks. Nutrisi air susu ibu merupakan salah satu faktor yang mutlak harus
dipenuhi sebagai kebutuhan dasar bayi. Kekurangan satu atau lebih zat gizi dapat
berakibat penyimpangan tumbuh kembang dan selanjutnya menurunkan
produktivitas dan kualitas hidup (Soetjiningsih, 1995).
Panjang badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm (5000 kali panjang
ovum) dan pada usia satu tahun adalah satu setengah kali tinggi badan lahir yaitu
bertambah 25 cm. Pada tahun kedua, tinggi hanya bertambah 12-13 cm. Setelah
itu kecepatan pertumbuhan menurun menjadi 5-6 cm setiap tahun (Soetjiningsih,
1995).
2.5.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan antropometri
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam
arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak) selsel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel. Adanya multiplikasi dan
pertambahan ukuran sel berarti ada pertambahan secara kuantitatif dan hal
tersebut terjadi sejak sel telur bertemu dengan sperma hingga dewasa. Jadi,
pertumbuhan lebih ditekankan pada pertambahan ukuran fisik seseorang, yaitu
menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran
berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala (IDAI, 2002).

Universitas Sumatera Utara

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada bayi terdiri dari
faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Faktor dalam meliputi: ras atau
etnik bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, genetik dan kelainan kromosom.
Sedangkan faktor luar meliputi: Gizi, lingkungan fisik dan kimia, penyakit kronis
atau kelainan congenital, stimulasi dan obat-obatan.
Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan bayi, dimana
kebutuhan bayi berbeda dengan orang dewasa, karena makanan bagi bayi
dibutuhkan juga untuk pertumbuhan. Bayi yang lahir dari ibu dengan gizi kurang
dan hidup dilingkungan ekonomi rendah akan mengalami kurang gizi dan juga
mudah terkena infeksi (soetjiningsih, 1997).
2.6 Tingkat Konsumsi Zat Gizi
Penilaian konsumsi makanan dapat dilakukan secara kualitatif maupun
kuantitatif. Cara penilaian konsumsi makanan yang sering digunakan adalah cara
inventaris, cara pendaftaran, cara recall dan cara penimbangan. Dua cara yang
terakhir biasa digunakan untuk penilaian konsumsi makanan individu (Riyadi,
1993).
Cara recall dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan
yang dikonsumsi pada masa lalu, dengan wawancara yang dilakukan serinci
mungkin agar responden dapat mengungkapkan jenis bahan makanan dan
perkiraan jumlah makanan yang dikonsumsinya. Biasanya menggunakan
kuesioner yang mengarahkan wawancara menurut urutan waktu makan dan
pengelompokan bahan makanan. Penafsiran jumlah makanan yang dikonsumsi
ditanyakan dalam bentuk ukuran rumah tangga (URT) kemudian dikonversi
menjadi satuan berat (gram). Cara penimbangan dilakukan dengan menimbang

Universitas Sumatera Utara

berat setiap jenis bahan makanan yang dikonsumsi. Cara ini mempunyai ketelitian
paling tinggi dibandingkan cara lainnya dalam hal mengukur secara kuantitatif
konsumsi makanan, tetapi kadangkala kedua cara ini dipakai secara kombinasi
(Riyadi, 1993).

Universitas Sumatera Utara