KONTRIBUSI MODEL QUANTUM LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN MENGGAMBAR KUSEN PINTU DAN JENDELA:Penelitian terhadap Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Garut Tahun Ajaran 2011/2012 No Panggil.

(1)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku


(2)

PERNYATAAN ... ABSTRAK ... KATA PENGANTAR ... DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ...

DAFTAR LAMPIRAN ………...

BAB I. PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang Masalah ... B. Identifikasi Masalah ... C. Batasan Masalah ... D. Rumusan Masalah ... E. Tujuan Penelitian ... F. Manfaat Penelitian ... G. Definisi Operasional ... H. Sistematika Penulisan ... BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... A. Model Pembelajaran CTL ... B. Prestasi Belajar ... C. Pembelajaran Mengidentifikasi Tanaman dan Pertumbuhannya ... D. Aktivitas Belajar ... E. Penelitian yang telah dilakukan ...

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... A. Pelaksanaa Penelitian ... B. Metode Penelitian ... C. Prosedur Penelitian ... D. Instrumen Penelitian ... E. Validasi Instrumen ... F. Analisa Data ... G. Validasi Data ... BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... A. Deskripsi Hasil Penelitian ... B. Pembahasan ... BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... A. Kesimpulan ... B. Saran ...

i ii iii vi viii ix x 1 1 3 4 5 5 5 7 8 10 10 18 20 21 22 23 23 23 24 27 29 35 37 38 38 61 72 72 73


(3)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

DAFTAR PUSTAKA ...

LAMPIRAN………..

74 75


(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan di Indonesia dapat ditempuh melalui tiga jalur, yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal. Salah satu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan formal ialah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Posisi SMK menurut UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 terdapat pada pasal 18 dan pasal 15, termasuk

pada “satuan pendidikan menengah kejuruan sebagai lanjutan dari pendidikan

dasar yang bertujuan mempersiapkan peserta didik terutama dalam bidang

pekerjaan tertentu”. Dalam proses pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa sikap mandiri, kreatif, inovatif, efektif, efisien, terampil serta menguasai pengetahuan dan teknologi sehingga dapat menjadi lulusan-lulusan SMK yang berkarakter, terampil, dan cerdas.

SMK Pertanian merupakan salah satu sistem pendidikan yang mulai dikembangkan di Negara Indonesia, akan tetapi minat terhadap pembelajaran pertanian di masyarakat sangat minim. Dengan mengubah cara pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan diharapkan akan meningkatkan pemahaman dan minat siswa dan masyarakat terhadap pendidikan pertanian. Dalam rangka mengembangkan iklim belajar mengajar yang lebih bermakna dan menyenangkan, sangat diperlukan adanya keterkaitan antar komponen pendidikan. Komponen pendidikan yang meliputi


(5)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

guru, siswa, kurikulum, alat (media pembelajaran) dan sumber belajar, materi, metode maupun alat evaluasi saling bekerja sama untuk mewujudkan proses belajar yang kondusif.

Seiring perkembangan dunia pendidikan, telah ditemukan berbagai macam model, metode, strategi dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa, sehingga siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kontekstual merupakan model pembelajaran yang mampu mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan yang telah diperolehnya melalui pola pikir mereka sendiri. Nurhadi, (2003:13) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:

Konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antar pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL), menawarkan bentuk pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara muatan akademik yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Dengan demikian, peran siswa dalam pembelajaran CTL adalah sebagai subjek pembelajar yang menemukan dan membangun sendiri konsep yang dipelajarinya. Belajar bukanlah menghafal dan mengingat fakta, tetapi belajar


(6)

adalah upaya untuk mengoptimalkan potensi siswa baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Melihat proses pembelajaran produktif di SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur yang selama ini berlangsung masih berfokus kepada guru sebagai sumber utama pengetahuan (transfer pengetahuan dari guru ke siswa). Ternyata hal ini merupakan salah satu kelemahan proses pembelajaran di sekolah, artinya pembelajaran yang dilaksanakan oleh para guru kurang adanya usaha dalam melibatkan proses kemampuan berpikir siswa.

Hasil observasi awal di kelas X APTKJ (Agribisnis Pembibitan Tanaman dan Kultur Jaringan) di SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur diketahui jumlah persentase siswa yang meraih nilai diatas KKM sangat rendah. Terbukti pada nilai hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran produktif tahun ajaran 2011/2012 pada standar kompetensi mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya yang meraih nilai diatas KKM hanya 5,8% dan pada tahun sebelumnya hanya 6,4%.

Berdasarkan permasalahan dan gambaran umum yang telah dipaparkan di atas, peneliti memandang perlu untuk mengadakan penelitian

tentang “Penerapan Model Pembelajaran Berbasis CTL (Contextual Teaching

And Learning) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Standar

Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman dan Pertumbuhannya di SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur”.


(7)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

Berdasarkan uraian diatas, muncul beberapa masalah yang memperkuat alasan mengapa permasalahan tersebut diangkat. Adapun identifikasi masalah dari judul yang penulis pilih adalah sebagai berikut: 1. Penguasaan materi dan keterampilan siswa pada standar kompetensi

mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya masih belum optimal, hal ini dapat dilihat dari nilai hasil evaluasi siswa yang memenuhi kriteria kelulusan minimum (KKM) < 60%.

2. Siswa belum mampu memahami dan menafsirkan konsep hubungan tanaman dan pertumbuhannya, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa yang masih dibawah nilai KKM yaitu 75.

C. Batasan Masalah

Sesuai dengan latar belakang dan identifikasi masalah serta agar penelitian ini lebih terarah dan tidak terlalu luas ruang lingkupnya, maka dibatasi pada permasalahan sebagai berikut :

1. Model pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL). 2. Materi pada mata pelajaran produktif dibatasi pada pokok bahasan

tentang standar kompetensi mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya kelas X.

3. Prestasi belajar dalam penelitian ini dibatasi pada hasil belajar siswa berupa nilai pre test dan post test serta aktivitas belajar siswa pada setiap siklus. Aktivitas belajar siswa meliputi mengumpulkan informasi,


(8)

melakukan diskusi, keterampilan siswa bertanya, keterampilan siswa menjawab, membuat kesimpulan, dan mempresentasikan.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah

Apakah dengan penerapan model pembelajaran berbasis Contextual

Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa

pada standar kompetensi mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya di SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur?

E. Tujuan Penelitan

Tujuan penelitian merupakan pedoman bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan dari penelitian ini pada umumnya adalah untuk memecahkan masalah pada metode pembelajaran yang selama ini kurang efektif digunakan oleh guru di SMK pertanian. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada standar kompetensi mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya setelah diterapkan model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and

Learning (CTL).


(9)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

Adapun manfaat yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Teoritis

Memberikan gambaran umum tentang penerapan model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran produktif di SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur.

2. Praktis

a. Dapat memberikan masukan kepada praktisi dalam menerapkan model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) pada kegiatan pembelajaran khususnya untuk mata pelajaran produktif di SMK Pertanian serta dapat mengetahui tingkat keberhasilan dari penerapan pendekatan tersebut.

b. Memberikan informasi pada guru atau calon guru tentang model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran produktif di SMK Pertanian.

c. Menjadikan suasana belajar lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan

d. Peneliti mengharapkan, siswa lebih kritis dalam menanggapi pelajaran produktif terutama yang sangat berkaitan terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat.


(10)

e. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan ide-ide lain maupun sumbangan dalam bentuk perbaikan pembelajaran khususnya pada sekolah itu sendiri dan pada institusi pendidikan lain pada umunya.

G. Definisi Operasional 1. Penerapan

Penerapan adalah pemasangan, pengenaan atau perihal mempraktikan (KBBI, 2002). Yang dimaksud dengan penerapan di sini adalah mempraktikan pembelajaran berbasis Contextual Teaching and

Learning (CTL) dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran produktif

di SMK N 2 Cilaku Cianjur.

2. Model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL)

Model pembelajaran berbasis CTL merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka (Sanjaya, 2006).

Model pembelajaran CTL yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa diberikan pembelajaran secara kontekstual yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Metode CTL yang digunakan dibuat


(11)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

sederhana yang sudah dikenal siswa yang relevan dengan kompetensi pada mata pelajaran produktif.

3. Prestasi belajar

Prestasi belajar diartikan sebagai tingkat keterkaitan siswa dalam proses belajar mengajar sebagai hasil evaluasi yang dilakukan guru. Menurut Tirtonegoro (2001), mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak didik dalam periode tertentu.

Prestasi belajar pada penelitian ini yaitu dilihat dari hasil belajar siswa dan aktivitas belajar. Hasil belajar yang dimaksud disini adalah nilai hasil pre test dan post test dari setiap siklus pembelajaran pada standar kompetensi mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya. Sedangkan aktivitas belajar di dalam kelas dilihat dari siswa mengumpulkan informasi, melakukan diskusi, keterampilan siswa bertanya, keterampilan siswa menjawab, membuat kesimpulan, mempresentasikan dan lain-lain. H. Sistematika Penulisan

Agar pembahasan dalam proposal penelitian nanti terdapat kesinambungan dan sistematis, maka dalam penulisannya ini mencakup tiga bab berdasarkan pembahasan sebagai berikut :


(12)

Berisi tentang latar belakang penelitian, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Berisi tentang tinjauan pustaka mengenai model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning), prestasi belajar, pembelajaran mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya, dan penelitian yang telah dilakukan.

BAB III METODE PENELITIAN

Berisi tentang rencana penelitian, desain penelitian, prosedur penelitian; instrument penelitian, validasi instrument, teknik pengolahan data, dan validasi data.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN


(13)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pelaksanaan penelitian 1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Cilaku Kabupaten Cianjur.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas X Kompetensi Keahlian APTKJ 1 (Agribisnis Pembibitan Tanaman dan Kultur Jaringan) SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Model Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian tindakan kelas ini berfokus pada upaya untuk mengubah kondisi riil sekarang ke arah kondisi yang diharapkan (improvemen oriented).

Harjodipuro (Sunendar, 2008) menjelaskan bahwa PTK adalah sebuah bentuk kegiatan refleksi diri yang dilakukan oleh para pelaku pendidikan dalam suatu situasi kependidikan untuk memperbaiki rasionalitas dan keadilan tentang: (a) praktik-praktik kependidikan mereka, (b) pemahaman mereka tentang praktik-praktik tersebut, (c) situasi dimana praktik-praktik tersebut dilaksanakan.

Peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan guru bidang studi sebagai observer. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus, dengan tiap


(14)

siklus mempunyai 4 tahapan, yaitu: Planning (rencana), Action (tindakan),

Observation (pengamatan), Reflection (refleksi).

Rancangan penelitian yang akan digunakan mengacu pada model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart, yaitu model Spiral yang dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Diagram Alir PTK (Modifikasi dari Berbagai Sumber)

Peneliti merencanakan 3 siklus untuk pelaksanaan penelitian ini, akan tetapi apabila dalam dua siklus siswa yang telah mencapai nilai KKM ≥ 60 % maka siklus akan dihentikan dengan pertimbangan telah mencapai tujuan yang diharapkan. Apabila setelah siklus ketiga tujuan belum tercapai maka siklus dilanjutkan hingga mencapai tujuan, atau sesuai dengan saran dan pertimbangan dari kolaborator penelitian atau dosen pembimbing (pakar). C. Prosedur Penelitian

1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan

Pengamatan

Pelaksanaan


(15)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

Perencanaan penelitian adalah melakukan identifikasi masalah kemudian membuat rencana suatu kegiatan pembelajaran berdasarkan analisa masalah yang didapatkan, dari mulai penetapan waktu, materi, metode penyampaian materi. Perencanaan dalam penelitian tindakan sebaiknya lebih bersifat fleksibel, hal ini dimaksudkan untuk mengatasi tantangan tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Perencanaan yang dilakukan peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini terdiri dari beberapa kegiatan perencanaan, di antaranya yaitu: a. Menentukan tempat pelaksanaan penelitian,

b. Melakukan pra-pengamatan sebelum penelitian terhadap kelas yang akan digunakan,

c. Merundingkan mitra, dalam hal ini kolaborator untuk penelitian, d. Persiapan kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti: pembuatan silabus,

menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa, menyiapkan alat dan bahan untuk percobaan, dan instrumen pada setiap siklusnya.

e. Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas pada setiap siklusnya,

f. Menganalisis data yang diperoleh selama melakukan tindakan

g. Merencanakan bagaimana langkah atau tindakan perbaikan yang akan dilakukan untuk memperbaiki tindakan yang sebelumnya.


(16)

Peneliti melaksanakan tiga siklus dalam penelitian ini, dimana standar kompetensi yang diajarkan adalah mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya. Kompetensi dasar untuk siklus I adalah tentang menjelaskan hubungan antara tanaman dan pertumbuhannya, sedangkan siklus II dan III tentang menjelaskan air sebagai unsur essensial tanaman. 2. Pelaksanaan/Tindakan (Action)

Tindakan merupakan tahap implementasi dari berbagai rencana dan kegiatan praktis yang telah dirancang pada tahap sebelumnya dan merupakan tindakan yang terkontrol secara seksama. Tindakan dapat terlaksana dengan baik jika mengacu pada rencana yang rasional dan terukur. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini menggunakan metode pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL). Tahapan-tahapan pembelajaran yang terjadi pada siklus I, II dan III dapat dilihat pada RPP dan kelengkapan kegiatan terdapat pada Lembar Kerja Siswa yang telah dibuat (terlampir).

3. Pengamatan (Observation)

Pelaksanaan pengamatan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Selain itu, dalam pengamatan dilakukan juga analisis. Peneliti akan melakukan analisa berdasarkan pengamatan seluruh pelaksanaan tindakan.

Pada tahap ini, peneliti dan mitra melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala yang muncul selama berlangsungnya tindakan yang


(17)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

dilakukan oleh peneliti. Kegiatan ini bertujuan untuk merekam dan mengumpulkan data yang diperlukan oleh peneliti.

Hasil observasi dalam penelitian ini nantinya ialah berdasarkan data yang terekam di kelas selama proses tindakan berlangsung. Peneliti bersama-sama dengan mitra peneliti juga akan melakukan interpretasi terhadap data-data yang diperoleh. Setiap akhir tindakan, peneliti dengan mitra peneliti melakukan diskusi balikan mengenai hal-hal yang harus diperbaiki, ditingkatkan, ditambah, atau dikurangi bahkan dihilangkan dalam tindakan berikutnya untuk memperoleh data yang diinginkan. Hasil diskusi balikan tersebut kemudian oleh peneliti dijadikan acuan untuk tindakan berikutnya yang akan dilakukan.

4. Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan sarana untuk melakukan pengkajian kembali terhadap tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap subyek penelitian yang telah dicatat dalam pengamatan. Langkah refleksi ini berusaha mencari alur pemikiran yang logis dalam kerangka kerja proses, problem, isu dan hambatan yang muncul dalam perencanaan tindakan strategi.

Pada proses refleksi ini peneliti menganalisa dan mengulas data hasil tes untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, terutama pembelajaran pada standar kompetensi mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya. Terlihat pada


(18)

refleksi siklus I, terlihat adanya kekurang sempurnaan maka dilakukan perbaikan pelaksanaan pembelajaran siklus I pada siklus berikutnya. D. Instrument Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Tes tertulis

Tes tertulis merupakan teknik pengumpulan data dengan cara memberikan sejumlah item pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan kepada subjek penelitian. Pada penelitian ini metode tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai pengetahuan awal siswa (pre test) dan hasil belajar siswa (post test). Tes dalam penelitian ini berbentuk tes objektif dan subjektif. Tes objektif dengan bentuk pertanyaan pilihan ganda 15 soal pada siklus I, 10 soal untuk siklus II dan 5 soal untuk siklus III. Tes subjektif yang diberikan berupa soal essay yang memuat beberapa pertanyaan mengenai materi pada standar kompetensi mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya. Tes ini digunakan untuk mengetahui nilai kognitif yang merupakan hasil belajar siswa.

Instrumen pilihan ganda terlebih dahulu akan dikonsultasikan guru mata pelajaran di sekolah. Kemudian instrumen tes tersebut diujicobakan kepada siswa di luar subjek penelitian yang telah mempelajari materi yang diujikan. Uji coba instrumen diberikan kepada siswa kelas XI APTKJ di SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur.


(19)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

Pemilihan kelas XI APTKJ di SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur karena siswa tersebut sebelumnya telah mendapatkan materi tentang mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya. Setelah data hasil uji coba terkumpul kemudian dianalisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Selain itu, setiap butir soal dianalisis untuk mengetahui indeks kesukaran dan daya pembeda.

2. Pedoman Observasi

Observasi merupakan suatu pengamatan yang dilakukan dengan teliti dan sistematis untuk tujuan tertentu. Pedoman observasi yang digunakan ada dua macam yaitu pedoman observasi untuk siswa dan guru. Pedoman obseravsi siswa digunakan untuk mengamati tingkat aktivitas belajar siswa sedangkan pedoman observasi guru digunakan untuk melihat keterlaksanaan penerapan metode pembelajaran CTL selama kegiatan belajar mengajar

3. Perangkat tugas/Job sheet

Instrumen penelitian ini digunakan untuk mengetahui hasil kemampuan yang berupa jobsheet yang telah disusun oleh peneliti bersama guru pengajar standar kompetensi mengidentifikasi tanaman dan pertumbuhannya sesuai dengan kompetensi dasar yang ditentukan.

Jobsheet digunakan untuk menilai performa kerja siswa ketika melakukan

praktek. Jobsheet terlampir pada lampiran. E. Validasi Instrument


(20)

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan judgement expert (validasi pakar) untuk lembar observasi, soal essay dan soal pilihan ganda. Validasi pakar adalah validasi kepada para ahli (expert judgement) mengenai instrumen yang akan diujikan kepada para siswa untuk memperoleh data. Ahli yang dilibatkan dalam validasi model evaluasi ahli dalam bidang evaluasi dan praktisi standar kompetensi tersebut yaitu tim guru mata pelajaran standar kompetensi yang digunakan. Sebelum instrumen digunakan untuk mengukur, peneliti terlebih dahulu melakukan diskusi dan meminta masukan kepada para ahli, sehingga instrument tersebut benar-benar dapat mengukur apa yang harus diukur.

2. Validasi empiris

Validasi untuk instrumen soal tes pilihan ganda menggunakan validasi empiris, yaitu analisis butir soal. Soal yang akan digunakan diujikan kepada siswa kelas XI yang telah mendapatkan pembelajaran standar kompetensi ini pada tahun sebelumnya, kemudian soal dianalisis berdasarkann validitas, reabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda. Soal yang memenuhi kriteria kemudian diujikan kepada subjek penelitian. a. Validitas

Uji validitas alat evaluasi bertujuan untuk mengetahui valid tidaknya suatu instrumen tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Untuk mengetahui validitas instrumen, setelah tes diujicobakan kemudian dihitung


(21)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

koefisien korelasi antara nilai hasil uji coba dengan nilai rata-rata harian.

Korelasi dihitung dengan menggunakan rumus produk momen dari Pearson sebagai berikut:

Keter angan :

rxy = koefisien korelasi antara X dan Y

N = banyaknya peserta tes X = nilai hasil ujicoba

Y = nilai rata-rata ulangan harian

Untuk mengetahui tinggi, sedang, atau rendahnya validitas instrumen, nilai koefisien diinterpretasikan dengan klasifikasi menurut Arikunto (2007: 75) sebagai berikut:

0,800 ≤ rxy≤ 1,00 korelasi sangat tinggi

0,600 ≤ rxy < 0,800 korelasi tinggi

0,400 ≤ rxy < 0,600 korelasi sedang

0,200 ≤ rxy < 0,400 korelasi rendah

0,00 ≤ rxy≤ 0,200 korelasi sangat rendah

b. Reliabilitas

Suatu tes dikatakan reliabel apabila hasil tes tersebut tetap apabila diteskan berkali-kali. Untuk mengetahui reliabilitas suatu instrumen atau alat evaluasi dilakukan dengan cara menghitung

 

  2 2 2 2 xy Y Y N X X N Y X XY N r


(22)

koefisien reliabilitas instrumen. Perhitungan koefisien reliabilitas ini dihitung dengan menggunakan rumus Spearman-Brown (Arikunto, 2007: 93) berikut:

Keterangan:

r11 = koefisien reliabilitas

2 1 2 1

r = korelasi antara skor-skor setiap belahan tes.

Koefisien reliabilitas yang diperoleh diinterpretasikan menggunakan klasifikasi koefisien reliabilitas menurut Guliford (Suherman, 2003: 139) sebagai berikut:

r11 < 0,20 derajat reliabilitas sangat rendah

0,20 ≤ r11 < 0,40 derajat reliabilitas rendah

0,40 ≤ r11 < 0,70 derajat reliabilitas sedang

0,70 ≤ r11 < 0,90 derajat reliabilitas tinggi

0,90 ≤ r11 < 1,00 derajat reliabilitas sangat tinggi.

c. Indeks Kesukaran

Indeks kesukaran menyatakan sukar atau mudahnya sebuah soal. Rumus yang digunakan untuk mengetahui indeks kesukaran tiap butir soal adalah sebagai berikut (Arikunto, 2007: 208):

B P ) r (1 2r r 2 1 2 1 2 1 2 1 11


(23)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

Keterangan:

P = indeks kesukaran butir soal

B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul JS = jumlah seluruh siswa peserta tes

Untuk mengetahui interpretasi indeks kesukaran tiap butir soal yang digunakan adalah sebagai berikut (Arikunto,2007:210):

1,00 < IK ≤ 0,30 soal sukar

0,30 < IK ≤ 0,70 soal sedang

0,70 < IK ≤ 1,00 soal mudah d. Daya Pembeda

Arikunto (2007: 211), menyatakan “Daya pembeda soal adalah

kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan

rendah)”. Untuk menghitung daya pembeda setiap butir soal digunakan rumus sebagai berikut :

Pb Pa Jb Bb Ja Ba

D   

Keterangan :

D = Daya Pembeda


(24)

Jb = banyaknya peserta kelompok bawah

Ba = banyaknya kelompok peserta atas yang menjawabsoal dengan benar

Bb = banyaknya kelompok peserta bawah yang menjawabsoal dengan benar

Pa = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar. Pb = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda yang digunakan adalah sebagai berikut (Arikunto, 2007: 218):

0,00 < DP ≤ 0,20 jelek

0,20 < DP ≤ 0,40 cukup

0,40 < DP ≤ 0,70 baik

0,70 < DP ≤ 1,00 sangat baik F. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui tes tertulis dan observasi. Data yang diperoleh dengan tes dan lembar observasi tersebut dikumpulkan secara bertahap pada setiap pelaksanaan pembelajaran. Adapun analisis data yang digunakan yaitu:

1. Analisis tes tertulis

Tes tertulis digunakan untuk mengukur prestasi belajar pada aspek kognitif. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dengan menggunakan deskripsi proses pembelajaran dan anlisis


(25)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

data kuantitatif dengan mencari rata-rata hasil belajar siswa tiap siklus.

Analisis tes tertulis ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Memberikan pre test dan post test.

b. Menilai hasil tes siswa dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang digunakan di SMK Negeri 2 Cilaku yaitu dengan nilai 75

c. Membandingkan hasil belajar siswa aspek kognitif pada siklus I dengan siklus II untuk mengetahui peningkatan aspek kognitif

d. Mendeskripsikan untuk menjelaskan peningkatan hasil belajar aspek kognitif dari siklus I, siklus II dan siklus III.

Nilai siswa diperoleh dengan menggunakan rumus (Sukardi,2008:146):

Nilai =

Rata-rata nilai siswa diperoleh dengan menggunakan rumus:

̅ =

Rata-rata nilai siswa yang telah diperoleh kemudian dikonfersikan pada tabel dibawah ini:

Tabel 3.1 Katagori Tafsiran Rata-Rata Hasil Belajar

Nilai rata-rata Keterangan

40-55 Sangat rendah

56-65 Rendah


(26)

76-85 Tinggi

86-100 Tinggi sekali

Sumber:(Sukardi,2008)

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar antara sebelum dan sesudah pembelajaran dilakukan uji N-Gain, dihitung dengan rumus :

N-Gain =

Tabel 3.2 Kriteria Normalized Gain

Skor N-gain Kriteria N-gain

0,70 < N-gain Tinggi

0,30 ≤ N-gain < 0,70 Sedang

N-gain, 0,30 Rendah

Sumber: (Hake, 1998)

2. Analisis pedoman observasi

Pedoman observasi merupakan indikator penilaian aktivitas belajar siswa. Analisis data yang digunakan untuk pedoman observasi yaitu metode deskriptif dengan membandingkan aktivitas belajar siswa sebelum tindakan dengan aktivitas belajar siswa setelah tindakan. Data observasi diperoleh dengan melihat data pada lembar observasi. Sudjana (2006:

77-78) menyatakan “Skala penilaian yang digunakan yaitu dengan rentang


(27)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

1 = kurang 2 = cukup 3 = baik 4 = baik sekali

Data yang diperoleh akan dihitung dengan rumus (Sudjana, 2006:78):

N = nilai yang diperoleh

nilai maksimal

100

Hasil yang diperoleh kemudian dikonfersikan pada tabel 3.3 : Tabel 3.3 Konversi Nilai Keterlaksanaan Pembelajaran Oleh Guru

Nilai Keterangan

10-29 Sangat kurang

30-49 Kurang

50-69 Cukup

70-89 Baik

90-100 Baik sekali

Sumber: (Sudjana, 2006)

G. Validasi Data

Untuk menguji kebenaran penelitian PTK, maka setiap data yang diperoleh keabsahannya. Pengecekkan keabsahan data pada penelitian ini adalah dengan cara Member Cek.

Members check yaitu mengecek kebenaran dan kesahihan data temuan dengan cara mengkonfirmasikan dengan sumber data. Dalam proses ini, data


(28)

atau informasi tentang keseluruhan pelaksanaan tindakan yang diperoleh peneliti utama dan peneliti mitra dikonfirmasi kebenarannya kepada guru kelas melalui diskusi balikan (refleksi kolaboratif) pada setiap akhir pelaksanaan tindakan lain pada akhir keseluruhan pelaksanaan tindakan.


(29)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Berdasarkann hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis CTL (Contextual Teaching and

Learning) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X APTKJ 1

berupa hasil belajar dan aktivitas belajar pada standar kompetensi Mengidentifikasi Tanaman dan Pertumbuhannya di SMK Negeri 2 Cilaku Cianjur

2. Penelitian yang digunakan ialah dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan selama 3 siklus. Tahapan analisis yang dilakukan penulis terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, analisis data berupa hasil pembelajaran dan observasi serta refleksi.

3. Peningkatan hasil belajar setelah mengalami pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and

Learning) terlihat dari nilai rata-rata N- gain dari nilai pre tes ke nilai pos

tes. Peningkatan hasil belajar pada siklus I sebesar 0,4 (kategori sedang), siklus II sebesar 0,5 (kategori sedang), siklus III sebesar 0,7 (kategori tinggi).

4. Pembelajaran Berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) ini dapat membantu siswa untuk melihat makna suatu teori atau bahan pelajaran


(30)

dengan cara mengkaitkan konsep materi pelajaran dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap penerapan model Pembelajaran Berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) pada standar kompetensi Mengidentifikasi Tanaman dan Pertumbuhnnya. Peneliti mengemukakan beberapa saran diantaranya sebagai berikut:

1. Hendaknya guru dapat menerapkan pembelajaran dengan model pembelajaran CTL serta mengembangkan berbagai aktivitas dan kreatifitas peserta didik dalam pembelajaran

2. Diharapkan penelitian mengenai model pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) ini dapat terus dikembangkan dengan menambah indikator penelitian yang diteliti dan dilakukan pada materi dan sampel yang lain

3. Pembuatan kelompok kerja siswa ketika menerapkan model pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) diusahakan selalu heterogen, karena penempatan siswa-siswa yang aktif pada setiap kelompok dengan adil akan mempermudah proses pembelajaran

4. Model pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran bagi guru dalam upaya meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa


(31)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku


(32)

Nurul Imamah, 2012

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Moh. 1987. Mengajarkan IPA dengan Menggunakan Metode Discovery

dan Inquiry. Jakarta: Debdikbud.

Arends, Richardl. 2001. Classroom Instructional Management. New York: The McGraw-Hill Company.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Sistem. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2000. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Karsa.

Bandono. 2008. Menyusun Model Pembelajaran CTL. [Online]. Tersedia:

http://bandono.web.id. [22 Juni 2012]

Darsono, Max. 2000. Belajar Pembelajaran. Semarang. IKIP: Semarang Press. Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual

Teaching and Learning). Jakarta: Dikdasmen

Departemen pendidikan. 2002. KBBI. Jakarta: Balai Pustaka

Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Persero Balai Pustaka. Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito Bandung.

Hake. 1998. Interactive Engagement Methods in Introductory Mechanic Cours. [Online]. Tersedia: http://www.Physics.indana/edu/IEM_2bfdf. [22 Juni 2012].


(33)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku Cianjur

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Hakim, Thursan. 2005. Belajar secara Efektif. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya nusantara.

Irianti, Mitri. dan Syahza, Almasdi. 2010. Pembelajaran Kontekstual. Riau: FKIP Universitas Riau

Kanisius. 2006. Konsep Diri Positif Menentukan Prestasi Anak. Yogyakarta: Kanisius.

Kardi,S. dan Nur, M. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya : University Press Khabibah,S. 2006. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika dengan soal

Terbuka untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar. Disertasi:

Program pasca sarjana Unesa

Marzuki. 2002. Metodologi Riset. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

Nurhadi & Senduk, A.G. 2003 Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching

and Learning/CTL) dan penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas

Negeri Malang.

Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UM PRESS.

Nurhayati, Yayat. 2011. Model-model Pembelajaran Berbasis Komputer.

[Online]. Tersedia:

http://yayatnurhayatiiaincrb.blogspot.com/2011/12/model-model-pembelajaran-berbasis.html [22 juni 2012]

Partini Suardiman, S. 199. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta

Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta: Grasindo

Putra, Rizcky Ananda. 2012. Desain dan Jenis PTK. [Online]. Tersedia:

http://pt.scribd.com/rizckyp/d/88265086-Desain-Dan-Jenis-PTK [22 Juni

2012]

R.I. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Rusman. (2010). Model-model Pembelajaran. Bandung: Mulia Mandiri Pers. Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


(34)

Nurul Imamah, 2012

Sardiman. 2007. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Sudjana, Nana. 2006. Metoda statistika. Bandung: Tarsito

Sugiono. 2009 .Metode Penelitian Pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif,

dan R&D) . Bandung : CV. AlfabetaSukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.

Sunendar, Tatang. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. [Online]. Tersedia:

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/21/penelitian-tindakan-kelas-part-ii/ [22 Juni 2012]

Sungkowo. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL). Jakarta: Depdiknas

Suparno, Paul. 2001. Teori Pengembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius.

Surakhmad, Winarno. 2003. Pengantar Interaksi Belajar-Mengajar. Bandung: Tarsito.

Suryabrata, Sumadi. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali.

Syahza, A. 2010. Pembelajaran kontekstual. [Online] . Tersedia:

http://almasdi.unri.ac.id/index.php?option=com-content&view=article&id+68:berita-6&catid=25.the-project [22 Juni

2012]

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. 2008. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT Imperial Bhakti Utama.

Tim Peneliti Program Pasca Sarjana UNY. 2003. Pedoman Penilaian

Psikomotorik. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Tn. 2012. Pembelajaran. [Online]. Tersedia:


(35)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku Cianjur

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Trianto. 2007. Model-model Pembejaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka

Trianto. 2007. Model Pemebelajaran Terpadu Dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Prestasi Pustaka

Triyani, Arifah Nur. 2009. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

Teams-Games-Tournament (TGT) sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika Siswa pada Pokok Bahasan Peluang dan Statistika di SMP Negeri 4 Depok Yogyakarta Kelas IX C. [online]. Tersedia: http://www.scribd.com/doc/51704402/10/A-Jenis-Penelitian. [22 Juni 2012].

Universitas Pendidikan Indonesia, (2011). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Univesity Press UPI

Windura, Sutanto. 2008. Brain Management Series For Learning Strategi. Jakarta: Gramedia.

Windura, Sutrisno . 2000. Metodologi Research. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Wiriatmadja, R. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda Karya

Zaenal, Aqib. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SMP, SMA, SMK. Bandung: CV. Yrama Widya.


(1)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku Cianjur

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

dengan cara mengkaitkan konsep materi pelajaran dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap penerapan model Pembelajaran Berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) pada standar kompetensi Mengidentifikasi Tanaman dan Pertumbuhnnya. Peneliti mengemukakan beberapa saran diantaranya sebagai berikut:

1. Hendaknya guru dapat menerapkan pembelajaran dengan model pembelajaran CTL serta mengembangkan berbagai aktivitas dan kreatifitas peserta didik dalam pembelajaran

2. Diharapkan penelitian mengenai model pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) ini dapat terus dikembangkan dengan menambah indikator penelitian yang diteliti dan dilakukan pada materi dan sampel yang lain

3. Pembuatan kelompok kerja siswa ketika menerapkan model pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) diusahakan selalu heterogen, karena penempatan siswa-siswa yang aktif pada setiap kelompok dengan adil akan mempermudah proses pembelajaran

4. Model pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran bagi guru dalam upaya meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa


(2)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku Cianjur


(3)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku Cianjur

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Moh. 1987. Mengajarkan IPA dengan Menggunakan Metode Discovery dan Inquiry. Jakarta: Debdikbud.

Arends, Richardl. 2001. Classroom Instructional Management. New York: The McGraw-Hill Company.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Sistem. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2000. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Karsa.

Bandono. 2008. Menyusun Model Pembelajaran CTL. [Online]. Tersedia: http://bandono.web.id. [22 Juni 2012]

Darsono, Max. 2000. Belajar Pembelajaran. Semarang. IKIP: Semarang Press. Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Dikdasmen

Departemen pendidikan. 2002. KBBI. Jakarta: Balai Pustaka

Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Persero Balai Pustaka. Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito Bandung.

Hake. 1998. Interactive Engagement Methods in Introductory Mechanic Cours. [Online]. Tersedia: http://www.Physics.indana/edu/IEM_2bfdf. [22 Juni 2012].


(4)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku Cianjur

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Hakim, Thursan. 2005. Belajar secara Efektif. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya nusantara.

Irianti, Mitri. dan Syahza, Almasdi. 2010. Pembelajaran Kontekstual. Riau: FKIP Universitas Riau

Kanisius. 2006. Konsep Diri Positif Menentukan Prestasi Anak. Yogyakarta: Kanisius.

Kardi,S. dan Nur, M. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya : University Press Khabibah,S. 2006. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika dengan soal

Terbuka untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar. Disertasi: Program pasca sarjana Unesa

Marzuki. 2002. Metodologi Riset. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

Nurhadi & Senduk, A.G. 2003 Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UM PRESS. Nurhayati, Yayat. 2011. Model-model Pembelajaran Berbasis Komputer.

[Online]. Tersedia:

http://yayatnurhayatiiaincrb.blogspot.com/2011/12/model-model-pembelajaran-berbasis.html [22 juni 2012]

Partini Suardiman, S. 199. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta

Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta: Grasindo

Putra, Rizcky Ananda. 2012. Desain dan Jenis PTK. [Online]. Tersedia: http://pt.scribd.com/rizckyp/d/88265086-Desain-Dan-Jenis-PTK [22 Juni 2012]

R.I. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Rusman. (2010). Model-model Pembelajaran. Bandung: Mulia Mandiri Pers. Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


(5)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku Cianjur

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Sardiman. 2007. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Sudjana, Nana. 2006. Metoda statistika. Bandung: Tarsito

Sugiono. 2009 .Metode Penelitian Pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D) . Bandung : CV. AlfabetaSukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.

Sunendar, Tatang. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/21/penelitian-tindakan-kelas-part-ii/ [22 Juni 2012]

Sungkowo. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL). Jakarta: Depdiknas

Suparno, Paul. 2001. Teori Pengembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius.

Surakhmad, Winarno. 2003. Pengantar Interaksi Belajar-Mengajar. Bandung: Tarsito.

Suryabrata, Sumadi. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali.

Syahza, A. 2010. Pembelajaran kontekstual. [Online] . Tersedia:

http://almasdi.unri.ac.id/index.php?option=com-content&view=article&id+68:berita-6&catid=25.the-project [22 Juni 2012]

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. 2008. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT Imperial Bhakti Utama.

Tim Peneliti Program Pasca Sarjana UNY. 2003. Pedoman Penilaian Psikomotorik. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Tn. 2012. Pembelajaran. [Online]. Tersedia:


(6)

Nurul Imamah, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Ctl Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Mengidentifikasi Tanaman Dan Pertumbuhannya Di Smk Negeri 2 Cilaku Cianjur

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Trianto. 2007. Model-model Pembejaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka

Trianto. 2007. Model Pemebelajaran Terpadu Dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Prestasi Pustaka

Triyani, Arifah Nur. 2009. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournament (TGT) sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika Siswa pada Pokok Bahasan Peluang dan Statistika di SMP Negeri 4 Depok Yogyakarta Kelas IX C. [online]. Tersedia: http://www.scribd.com/doc/51704402/10/A-Jenis-Penelitian. [22 Juni 2012].

Universitas Pendidikan Indonesia, (2011). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Univesity Press UPI

Windura, Sutanto. 2008. Brain Management Series For Learning Strategi. Jakarta: Gramedia.

Windura, Sutrisno . 2000. Metodologi Research. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Wiriatmadja, R. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda Karya

Zaenal, Aqib. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SMP, SMA, SMK. Bandung: CV. Yrama Widya.


Dokumen yang terkait

STUDI KOMPARATIF ANTARA MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN MODEL PEMBELAJARAN TRADISIONAL DENGAN MEMPERHATIKAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI (Studi Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2011/2012

2 15 287

PENGGUNAAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V B SDN 1 TOTOKATON TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 7 62

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM-BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII.3 SEMESTER GENAP PADA SMP NEGERI 2 GADINGREJO KAB. PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 6 58

PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK LIMBAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X IPA Semester Genap SMA Negeri 1 Sidomulyo Kab. Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013)

1 6 52

AKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING DENGAN PENDEKATAN PETA PIKIRAN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS X SMA NEGERI 1 MARTAPURA KABUPATEN OKU TIMUR PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2014/2015

0 6 88

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA MATERI PASAR SASARAN SISWA KELAS X PEMASARAN 2 SMK N 9 SEMARANG (Studi Pada Tahun Ajaran 2015 2016)

0 8 163

KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING BERORIENTASI SOFT SKILLS PADA PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN ANIMASI 2 DIMENSI

2 26 202

View of PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PEMASARAN ONLINE PADA SISWA KELAS X PEMASARAN SMK BINA BANGSA SEDONG TAHUN PELAJARAN 2016/2017

0 0 11

PEMANFAATAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI

0 0 10

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE LEARNING TOGETHER (LT) DENGAN MEDIA SITUS PERADABAN DUNIA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SEJARAH (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas X IIS 3 SMA Negeri 5 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016)

1 1 14