ANALISIS PENGARUH INVESTASI PEMERINTAH DAN INVESTASI SWASTA TERHADAP KESEMPATAN KERJA DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2000-2011

(1)

2000-2011

Oleh Nela Desi Lapita

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI

Pada

Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2013


(2)

SWASTA TERHADAP KESEMPATAN KERJA DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2000-2011

Oleh

NELA DESI LAPITA

Investasi adalah pengeluaran atau pembelanjaan penanaman modal dan perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian. Investasi terdiri dari dua yaitu investasi pemerintah dan investasi swasta. Investasi pemerintah yang berasal dari

pemerintah yang terdiri dari belanja modal. Investasi swasta yang berasal dari perusahaan swasta. Adapun investasi swasta dibagi menjadi 2 yaitu PMA (Penanaman Modal Asing) dan PMDN ( Penanaman Modal Dalam Negeri). Investasi Pemerintah dan Investasi Swasta merupakan faktor yang mendorong perekonomian di Provinsi Lampung sehingga dengan adanya investasi maka akan memperluas kesempatan kerja di Provinsi lampung.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh investasi pemerintah dan investasi swasta terhadap kesempatan kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda

menggunakan OLS ( Ordinary Least Square). Hasil dari penelitian ini investasi pemerintah dan investasi swasta berpengaruh positif dan signifikan serta secara bersama-sama berpengaruh terhadap kesempatan kerja. Jika dilihat dari koefisien elastisitas investasi pemerintah naik sebesar 1% maka penciptaan kesempatan kerja juga akan bertambah sebesar 52,7%. Sedangkan jika investasi swasta naik sebesar 1 % maka penciptaan kesempatan kerja juga akan bertambah sebesar 1,02 %.

Kata Kunci : Regresi Linier Berganda, Investasi Pemerintah, Investasi Swasta, Kesempatan Kerja.


(3)

(4)

(5)

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... i

DAFTAR GAMBAR ... ii

DAFTAR LAMPIRAN ... iii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 12

C. Tujuan Penelitian ... 13

D. Kerangka Pemikiran ... 13

E. Hipotesis ... 15

F. Ruang Lingkup ... 15

G. Sistematika Penulisan ... 17

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Investasi ... 18

B. Kesempatan Kerja ... 26

C. Konsep Pengangguran ... 30

D. Teori Pengeluaran Pemerintah ... 32

E. Penelitian Terdahulu ... 34

III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data ... 40

B. Metode Pengumpulan Data ... 40

C. Variabel Penelitian ... 41

D. Alat Analisis ... 42

E. Uji Asumsi Klasik ... 43

1. Uji Asumsi Normalitas ... 44

2. Uji Asumsi Heteroskedastisitas ... 44

3. Uji Asumsi Autokorelasi ... 45

4. Uji Asumsi Multikolinieritas ... 46

F. Pengujian Hipotesis ... 46

1. Uji t ... 46


(7)

1. Hasil Uji Asumsi Normalitas ... 53

2. Hasil Uji Multikolinieritas ... 54

3. Hasil Uji Asumsi Heteroskedastisitas ... 55

4. Hasil Uji Asumsi Autokorelasi ... 56

C. Pengujian Hipotesis ... 56

1. Hasil Uji t ... 56

2. Hasil Uji F ... 58

D. Implikasi Hasil Penelitian ... 59

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA... 67


(8)

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah dibutuhkannya investasi. Investasi merupakan salah satu pendorong untuk mendapatkan pendapatan yang akan digunakan sebagai masa mendatang. Investasi terdiri atas dua, yaitu investasi swasta dan investasi pemerintah. Investasi pemerintah yaitu modal yang berasal dari pemerintah sedangkan Investasi swasta adalah modal yang berasal dari perusahaan swasta. Adapun Investasi dibagi menjadi Penanaman Modal Dalam Negeri ( PMDN) dan juga Penanaman Modal Asing (PMA). Investasi meningkatkan output perekonomian dan dapat menghasilkan input. Oleh karena adanya investasi-investasi baru maka memungkinkan terciptanya barang modal baru sehingga akan menyerap faktor produksi baru yaitu menciptakan lapangan kerja baru atau kesempatan kerja baru yang akan menyerap tenaga kerja yang berkompeten dan

berkualitas. Salah satu input yang mendorong salah satunya adalah tenaga kerja, tenaga kerja merupakan faktor pendorong penting dalam pertumbuhan perekonomian.

Karena adanya investasi maka akan meningkatkan kesempatan kerja. Sehingga tenaga kerja merupakan salah satu input penting dalam perekonomian daerah


(9)

maka dibutuhkan suatu kebijakan ketenaga-kerjaan terpadu yang menjadi bagian dari program pembangunan (ruang lingkup sektoral, provinsi dan nasional). Kebijakan tersebut harus dapat menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan maupun penciptaan lapangan kerja. Sehingga kebijakan dan program

pembangunan dapat benar-benar berpihak pada kaum miskin dan berorientasi pada masyarakat. Oleh karena tenaga kerja merupakan salah satu input penting dalam perekonomian daerah maka dibutuhkan suatu kebijakan ketenagakerjaan terpadu yang menjadi bagian dari program pembangunan (ruang lingkup sektoral, provinsi dan nasional).

Kebijakan tersebut harus dapat menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan maupun penciptaan lapangan kerja. Oleh karena itu kebijakan dan program pembangunan dapat benar-benar berpihak pada kaum miskin dan berorientasi pada masyarakat (Situmorang, 2007). Keberhasilan suatu pemerintahan salah satunya dilihat dari sejauh apa pemerintah tersebut berhasil menciptakan lapangan kerja bagi masyarakatnya, dengan penciptaan lapangan kerja yang tinggi akan berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat sehingga pada akhirnya kesejahteraan masyarakat akan meningkat (Purwanti, 2009). Stok modal atau investasi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan tingkat pendapatan nasional. Kegiatan investasi memungkinkan suatu masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan taraf kemakmuran (Sukirno, 2000). Karena adanya investasi maka dapat menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas

kesempatan kerja yang akan menyerap tenaga kerja sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran di suatu daerah. Sebagai akibat yang akan terjadi


(10)

penambahan output dan pendapatan baru pada faktor produksi tersebut dan akan menambah output nasional sehingga akan terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Laju jumlah penduduk serta kesempatan kerja di Provinsi Lampung seperti terlihat pada Gambar 1 berfluktuasi dari tahun 2000 sampai 2011.

Fluktuasi jumlah penduduk bekerja tersebut disebabkan oleh banyak faktor yang akan mempengaruhi kesempatan kerja, diantaranya kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia.

Sumber: Disnaker dan transmigrasi Provinsi Lampung,2012 BPS Provinsi Lampung, 2012

Gambar 1.Penduduk dan Kesempatan Kerja di Provinsi Lampung pada Tahun 2000-2011 (dalam jiwa)

Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa di Provinsi Lampung jumlah penduduk setiap tahunnya meningkat walaupun peningkatan tersebut tidak terlalu pesat. Begitupun halnya dengan kesempatan kerja yang setiap tahunnya

mengalami peningkatan secara terus menerus. Data kesempatan kerja diatas diambil dari jumlah orang yang bekerja dan merupakan angkatan kerja.

(Suparmoko, 2002) yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah orang-orang 0

1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 8000000 9000000 10000000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12


(11)

yang telah masuk pasar tenaga kerja dengan status bekerja yang usianya 15 tahun ke atas namun data di atas diambil dengan kriteria memasuki usia 18-64 tahun. Dari data di atas kesempatan kerja setiap tahunnya mengalami kenaikan walaupun terlalu tinggi, karena bila mengalami penurunan kesempatan kerja berdampak kepada pendapatan masyarakat, yang menyebabkan daya beli masyarakat menjadi menurun sehingga dapat mengakibatkan penurunan perekonomian.

Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki potensi kekayaan alam yang besar juga tidak lepas dari permasalahan ekonomi pada umumnya, seperti masalah inflasi, jumlah pengangguran yang tinggi dan masalah pendistribusian pendapatan serta jumlah penduduk miskin yang semakin bertambah. Permasalahan tersebut dikarenakan Indonesia sebagai suatu negara yang berkembang belum mampu memanfaatkan potensi-potensi yang sudah ada sehingga membutuhkan investasi yang besar. Investasi dalam jumlah yang besar diharapkan tidak dalam bentuk aliran dana yang terlalu besar (capital inflow) karena capital inflow yang terlalu besar ini cenderung akan mengakibatkan terjadinya inflasi. Aliran dana dalam jumlah yang terlalu besar akan cenderung menciptakan ketidakseimbangan pasar di dalam negeri akibat tidak seimbangnya jumlah uang yang beredar dengan jumlah barang yang ada.

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu perkembangan dan perubahan kegiatan ekonomi menuju ke arah yang lebih baik lagi demi terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat serta daerah yang mandiri. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Salah satu caranya dengan meningkatkan investasi modal baik itu PMDN dan PMA dan dapat memberikan


(12)

kualitas pelayanan publik serta mampu meningkatkan partisipasi publik dan investasi pembangunan. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu daerah dapat digambarkan melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Menurut Lapangan Usaha sehingga dapat dikatakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung dapat tercermin dari PDRB Provinsi Lampung. Kinerja perekonomian Provinsi Lampung dilihat dari perkembangan komponen pengeluaran agregat meliputi Konsumsi Rumah Tangga, Investasi, Konsumsi Pemerintah, Ekspor dan Impor dimana masing-masing komponen pengeluaran agregat tersebut nantinya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Berikut pada Gambar 2 dapat disajikan gambar Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Lampung Menurut Lapangan Usaha dari tahun 2000-2011.

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu perubahan kegiatan ekonomi menuju ke arah yang lebih baik sehingga terjadi kemakmuran terhadap masyarakatnya. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah maupun swasta untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah salah satunya dengan peningkatan investasi modal. Sehingga dapat tercermin melalui peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat pertumbuhan ekonomi provinsi Lampung tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto-nya mengalami fluktuasi. Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di provinsi Lampung meningkat secara berkala di tiap tahunnya. Sehingga dapat disimpulkan pertumbuhan PDRB di provinsi Lampung tiap


(13)

tahunnya mengalami kenaikan secara berkala. Sehingga pertumbuhan ekonomi di provinsi Lampung dilihat pada setiap tahunnya mengalami kenaikan dan dapat dikatakan juga pertumbuhan ekonomi di provinsi Lampung baik.

Keberhasilan pembangunan pada intinya ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan yaitu : sumber daya manusia, modal yang tersedia untuk

keperluan produksi, sumber daya alam yang tersedia, tingkat teknologi yang ada, keadaan lingkungan sosial serta kebudayaan dalam masyarakat (Suparmoko, 1992).

Sumber: BPS Provinsi Lampung, 2012

Gambar 2. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Lampung Menurut Lapangan Usaha tahun dasar 2000.

Dalam upaya meningkatkan perekonomian di suatu daerah maka pemerintah senantiasa menciptakan suasana yang dapat meningkatkan investasi karena

dengan adanya investasi maka dapat meningkatkan peningkatan produksi dan juga berdampak pada peningkatan tingkat kesempatan kerja selain itu pemerintah juga mencegah terjadinya pengangguran. Karena investasi merupakan pengeluaran pemerintah dan non pemerintah (Swasta) maka secara keseluruhan membutuhkan


(14)

modal riil untuk mendirikan perusahaan baru dengan hasil keuntungan mereka dan dapat memperluas usaha yang telah ada sehingga dampak positifnya adalah memberikan peningkatan kesempatan kerja dan peluang kerja bagi masyarakat. Selain itu pula dapat memperoleh keuntungan besar dari pada modal awal untuk menginvestasikan modalnya tersebut. Upaya tersebut yang memicu Pemerintah Daerah Provinsi Lampung khususnya investasi untuk berorientasi padat karya yang dapat memperluas kesempatan kerja investasi pada hakekatnya merupakan langkah awal kegiatan untuk memajukan pertumbuhan perekonomian. Dinamika penanaman modal mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi, juga mencerminkan naik turunnya pembangunan ekonomi. Perkembangan Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)

Provinsi Lampung pada tahun 2000-2011 pada Gambar 3.

Sumber: BPMD Provinsi Lampung, 2012

Gambar 3. PMA dan PMDN Provinsi Lampung pada Tahun 2000-2011 Berdasarkan gambar di atas maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan PMDN dan PMA di Provinsi Lampung tidak menentu, kadang mengalami

0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

PMA (US $) PMA (Rp) PMDN (Rp) Investasi Swasta


(15)

peningkatan di tiap tahunnya dan kadang mengalami penurunan. Dapat dilihat PMDN dari tahun 2000 sampai tahun 2006 dari data diatas dapat dilihat bahwa di tiap tahunnya mengalami kenaikan, namun pada tahun 2007 sampai 2010

mengalami penurunan namun di tahun 2011 kembali mengalami kenaikan.

Sedangkan pada PMA kenaikan tidak berpengaruh banyak dapat dilihat dari tabel di atas kenaikan atau penurunan hanya sedikit begitu pun dengan kenaikan. Seperti halnya dengan investasi swasta perkembangan di tiap tahunnya tidak menentu. Seperti yang dapat kita lihat di atas pada tahun 2000 sampai 2006 mengalami kenaikan sedangkan pada tahun 2007 sampai 2011 menalami penurunan.

Investasi pemerintah lebih menekankan pada usaha pembangunan infrastruktur dengan memanfaatkan dana yang berasal dari APBD. Investasi pemerintah dilakukan guna menyediakan barang publik. Besarnya investasi pemerintah dapat dihitung dari selisih antara total anggaran pemerintah dengan belanja modal (Rustiono, 2008). Melalui pengeluaran pemerintah dalam APBD tiap tahunnya yang diarahkan ke berbagai sektor pembangunan, program dan proyek sesuai dengan prioritas yang ditetapkan, diharapkan mampu menstimulan perkembangan kesempatan kerja. Berkaitan dengan uraian di atas, dapat dilihat perkembangan realisasi pengeluaran pemerintah yaitu belanja modal di Provinsi Lampung pada Gambar 4.


(16)

Sumber : BPS Provinsi Lampung, 2012

Gambar 4. Realisasi Belanja Modal Provinsi Lampung pada tahun 2000-2011 Pada Gambar 4 menunjukkan bahwa realisasi belanja modal pemerintah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan secara terus menerus. Pengeluaran pemerintah yang digunakan dalam penelitian ini adalah data belanja modal, pengeluaran rutin terdiri dari belanja modal. Dapat dilihat pada tabel di atas pengeluaran rutin pemerintah di tiap tahunnya meningkat secara berkala. Lampung sebagai salah satu daerah tujuan wisata dimana Lampung memiliki tradisi dan adat istiadat yang unik telah dikenal luas secara nasional maupun internasional sehingga Lampung memiliki potensi dalam memberikan kontribusi terhadap peningkatan investasi dari para investor baik swasta maupun asing. Pengembangan keadaan perekonomian di Provinsi Lampung yang didasarkan pada kebutuhan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang potensial, maka dari itu potensi-potensi tersebut perlu dikelola dan dimanfaatkan karena dapat memberikan kontribusi yang besar untuk negara dengan menarik investasi pada sektor swasta yang sekaligus dapat menciptakan kesempatan kerja. Investasi

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Belanja Modal (juta Rupiah)

Belanja Modal (juta Rupiah)


(17)

sektor swasta ini dapat berupa swasta domestik maupun swasta asing, untuk merangsang investasi asing dilakukan dengan cara memberikan kemudahan-kemudahan sistem kerjasama dengan pengusaha domestik, jaminan keamanan dan lain-lain (Yusuf, 2008).

Kebijakan perluasan kesempatan kerja merupakan suatu kebijakan penting dalam pelaksanaan pembangunan karena salah satu tolak ukur untuk menilai

keberhasilan ekonomi suatu negara atau bangsa adalah kesempatan kerja yang diciptakan oleh adanya pembangunan ekonomi. Suatu perekonomian yang

berkembang dengan pesat bukan jaminan terhadap suatu negara tersebut dikatakan makmur bila tidak diikuti dengan perluasan kesempatan kerja guna menampung tenaga baru yang setiap tahunnya memasuki dunia kerja. Pertumbuhan ekonomi nasional maupun regional berkaitan erat dengan perluasan kesempatan kerja karena faktor produksi tenaga kerja merupakan faktor yang penting artinya bagi pertumbuhan perekonomian, selain dipengaruhi oleh faktor lain seperti modal, alam dan teknologi. Pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja agar angkatan kerja yang ada dapat diserap. Penurunan

kesempatan kerja berdampak kepada pendapatan masyarakat, yang menyebabkan daya beli masyarakat menjadi menurun. Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki potensi kekayaan alam yang besar juga tidak lepas dari permasalahan ekonomi pada umumnya, seperti masalah inflasi, jumlah pengangguran yang tinggi dan masalah pendistribusian pendapatan serta jumlah penduduk miskin yang semakin bertambah.

Maka dapat dilihat dari Gambar 1 yaitu jumlah penduduk dan kesempatan kerja maka saling berkaitan. Seberapa besar jumlah penduduk yang ada dalam suatu


(18)

wilayah serta tingkat kesempatan kerja yang dicapai dalam wilayah tersebut. Karena bila jumlah penduduk yang meningkat sementara kesempatan kerja sedikit maka akan terjadi ketimpangan. Selain itu akan ada banyak pengangguran akibat tingkat kesempatan kerja sedikit. Sehingga untuk menciptakan kesempatan kerja yang luas ada beberapa faktor yang dapat dilihat dari PDRB, investasi pemerintah, dan investasi swasta dilihat pada Gambar 2 yaitu jumlah PDRB, karena semakin besar jumlah PDRB suatu provinsi maka pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut dapat dikatakan baik dapat dilihat pada tiap tahunnya mengalami kenaikan sehingga mempengaruhi tingkat investasi pemerintah dan investasi swasta karena dengan jumlah PDRB yang besar berarti pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah akan dapat dikatakan baik.

Kemudian pada Gambar 3 yaitu perkembangan PMA dan PMDN serta investasi swasta di Provinsi Lampung dengan kata lain kita dapat melihat perkembangan investasi baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Baik dilihat dari

perusahaan-perusahaan swasta yang ada, maupun perusahaan-perusahaan asing yang menanamkan sahamnya di Lampung. Pada Gambar 4 yaitu investasi pemerintah yang terdiri dari realisasi belanja modal pemerintah. Oleh karena besarnya tingkat PDRB maka akan mempengaruhi tingkat investasi pemerintah dan investasi swasta sehingga dapat memperbesar tingkat kesempatan kerja yang ada di suatu wilayah. Karena presentase kesempatan kerja yang besar akibatnya akan mengurangi angka pengangguran dan juga dapat meningkatkan daya beli sehingga pertumbuhan ekonominya akan lebih baik.

Jika investasi naik maka modal di daerah tersebut juga akan mengalami kenaikan pula. Sehingga akan memperluas usaha serta memperluas tingkat kesempatan


(19)

kerja. Investasi pemerintah dan investasi swasta jika mengalami kenaikan maka akan meningkatkan produksi sehingga faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, kapital, modal, serta sumber daya alam, sumber daya manusia juga akan

mengalami kenaikan. Salah satunya adalah kesempatan kerja sebagai bukti

keberhasilan pemerintah daerah dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang telah ada. Jumlah penduduk di Provinsi Lampung mengalami peningkatan namun tidak sebanding dengan tingkat kesempatan kerja padahal investasi pemerintah dan investasi swasta meningkat di tiap tahunnya. Sehingga untuk mengetahui seberapa besar pengaruh investasi pemerintah dan investasi swasta terhadap kesempatan kerja, maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul

“Analisis Pengaruh Investasi Pemerintah dan Investasi Swasta Terhadap Kesempatan Kerja di Provinsi Lampung.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh investasi pemerintah dan investasi swasta secara parsial

terhadap kesempatan kerja di Provinsi Lampung?

2. Bagaimana pengaruh investasi pemerintah dan invesatasi swasta secara bersama-sama terhadap kesempatan kerja Provinsi Lampung?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan latar belakang di atas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis pengaruh investasi pemerintah dan investasi swasta secara parsial terhadap kesempatan kerja Provinsi Lampung.


(20)

2. Untuk menganalisis pengaruh investasi pemerintah dan investasi swasta secara bersama-sama terhadap kesempatan kerja Provinsi Lampung.

D. Kerangka Pemikiran

Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki wilayah yang cukup luas dan mempunyai sumber daya manusia serta alam yang cukup memadai serta jumlah penduduk yang tidak sedikit. Karena adanya sumber daya manusia dan alam yang memadai ditambah peran Pemerintah khususnya dalam hal ini adalah investasi diharapkan dapat memaksimalkan dan memperluas kesempatan kerja di Provinsi Lampung. Serta sarana yang menunjang maka investasi

pemerintah dan investasi swasta dapat menanamkan modal demi memperluas produksi yang akan meningkatkan pendapatan.

Alur Investasi merupakan pembentukan modal yang mendukung peran swasta dalam perekonomian yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Dalam model pertumbuhan solow, pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditopang dari sisi modal berupa investasi saja tetapi tenaga kerja yang merupakan faktor produksi input yang nantinya akan mempengaruhi PDRB dengan kegiatan ekonomi yang dilakukannya. Penyerapan tenaga kerja dalam angkatan kerja merupakan hal yang mutlak dibutuhkan agar perekonomian terus berlanjut. Jika tidak maka akan terjadi pengangguran akan semakin meningkat.

Teori investasi oleh Harrod-Domar yang menyatakan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi diperlukan investasi-investasi baru sebagai stok modal PMDN. Oleh karena semakin banyak tabungan yang akan diinvstasikan maka semakin cepat terjadi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi secara riil tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada setiap tabungan dan investasi tergantung


(21)

dari tingkat produktivitas investasi tersebut (Todaro, 1993). PMDN dan PMA dapat diartikan sebagai pengeluaran dan pembelanjaan penanaman modal atau perusahan lain non pemerintah untuk membeli barang-barang produksi. Oleh karena akumulasi modal yang cukup maka pemerintah dan swasta maka faktor input berupa tenaga kerja bisa diserap oleh sektor usaha yang ada di daerah tersebut yang pada akhirnya mendorong PDRB. Sedangkan investasi pemerintah yaitu merupakan pengeluaran rutin yang harus dikeluarkan oleh pemerintah sebagai contoh belanja modal.

Permasalahan ketenagakerjaan merupakan masalah bagi suatu daerah yang jumlah pertumbuhan penduduknya tinggi tetapi diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja. Karena dengan presentase tingkat kesempatan kerja rendah maka semakin banyak penduduk yang menganggur namun sebaliknya bila tingkat presentase kesempatan kerja meningkat maka tingkat atau jumlah orang yang menganggur akan berkurang. Bila seperti itu maka perekonomian dalam suatu daerah dapat dikatakan baik. Hal ini dapat terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang tidak secepat dengan laju pertumbuhan penduduk. Sehingga antara investasi pemerintah dan investasi swasta berpengaruh terhadap kesempatan kerja di Provinsi Lampung

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Investasi Pemerintah

Investasi Swasta


(22)

E. Hipotesis

Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka dapat diajukan rumusan hipotesis sebagai berikut:

1. Diduga investasi pemerintah dan invesatasi swasta secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Lampung.

2. Diduga investasi pemerintah dan investasi swasta secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Lampung.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk adalah jumlah semua orang yang berdomilisi di wilayah geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap. Data yang dipakai adalah data seluruh penduduk atau orang-orang yang ada di suatu wilayah Provinsi Lampung.

2. Jumlah Kesempatan kerja

Jumlah kesempatan kerja dalam hal ini adalah data orang-orang yang telah memasuki pasar kerja dan telah menjadi angkatan kerja.Dalam hal ini penduduk yang termasuk angakatan kerja yaitu usia 15 tahun ke atas yang sedang bekerja atau yang sedang mencari kerja. Orang yang telah memasuki pasar kerja dan menjadi angkatan kerja yang berusia antara 15 tahun ke atas menurut jenis kegiatan yang dilakukan di Kabupaten/ Kota Lampung.


(23)

3. Investasi Pemerintah

Peranan pemerintah dalam suatu negara dapat dilihat dari semakin besarnya pengeluaran pemerintah dalam proporsinya terhadap pendapatan nasional. Pengeluaran pemerintah dalam arti riil dapat dipakai sebagai indikator besarnya kegiatan pemerintah yang dibiayai oleh pengeluaran pemerintah. Semakin besar dan banyak kegiatan pemerintah, maka semakin besar pula pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan (Suparmoko, 2002).

Pengeluaran rutin yaitu pengeluaran yang digunakan untuk pemeliharaan dan penyelenggaraan pemerintah yang meliputi belanja modal.

4. Investasi Swasta

Investasi asing di Indonesia dapat dilakukan dalam dua bentuk investasi, yaitu investasi portofolio dan investasi langsung. Investasi portofolio dilakukan melalui pasar modal dengan instrument surat berharga seperti saham dan obligasi. Investasi langsung yang dikenal dengan penanaman modal asing (PMA) merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total atau mengakuisisi perusahaan. Dibanding dengan investasi portofolio, penanam modal asing lebih banyak mempunyai kelebihan. Selain sifatnya yang permanen/ jangka panjang, penanam modal asing memberi andil dalam alih teknologi, alih keterampilan manajemen dan membuka lapangan kerja baru. Data yang digunakan adalah investasi langsung yang berupa PMA dan PMDN.


(24)

G. Sistematika Penulisan

Bab I : Pendahuluan, berisikan tentang latar belakang, permasalahan, tujuan penulisan, kegunaan penulisan, hipotesis, dan sistematika penulisan. Bab II : Tinjauan pustaka, berisikan tentang tinjauan-tinjauan pustaka tentang

investasi pemerintah, investasi swasta, pengangguran, kesempatan kerja, hasil penelitian sebelumnya.

Bab III : Metodelogi Penelitian, berisikan tentang operasional variabel, metode penarikan sampel, prosedur pengumpulan data, metode analisis, pengujian hipotesis, dan kerangka pemikiran.

Bab IV : Hasil perhitungan dan pembahasan berisikan tentang analisis dan pembahasan hasil perhitungan.

Bab V : Kesimpulan dan saran

Daftar Pustaka


(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Investasi

Investasi merupakan salah satu indikator penting di dalam kaitannya dengan pendapatan nasional. Hubungan antara investasi dan pendapatan nasional itu sedemikian pentingnya, sehingga dapatlah dimengerti mengapa dalam semua teori ekonomi makro investasi di bahas dalam bagian tersendiri. Teori

konvensional (klasik) tentang investasi pada pokoknya didasarkan atas teori produktivitas batas (marginal productive) dari faktor produksi modal (kapital). Berdasarkan teori ini besarnya modal yang akan di investasikan dalam proses produksi ditentukan oleh produktivitas marginalnya dibandingkan dengan tingkat bunga, sehingga investasi itu akan terus dilakukan bilamana produktivitas batas dari investasi masih lebih tinggi dari pada tingkat bunga yang akan diterima. Investasi akan dijalankan bilamana pendapatan dari investasi itu (prospected yield) lebih besar dari tingkat bunga. Bila hendak membandingkan antara

pendapatan dari investasi dengan suku bunga maka tidak boleh dilupakan bahwa barang-barang modal umumnya mempunyai penggunaan yang panjang dan tidak hanya sekali pakai, sehingga pendapatan dari investasi (yang akan dibandingkan dengan bunga) adalah terdiri dari jumlah-jumlah pendapatan yang akan diterima setiap akhir tahun, selama penggunaan barang modal itu dalam produksi (umur ekonomis), jumlah pendapatan tiap-tiap tahun selanjutnya dibandingkan dengan


(26)

tingkat bunga yang berlaku sekarang. Investasi dalam suatu barang modal adalah menguntungkan bilamana biaya (ongkos) plus bunga lebih kecil dari hasil

pendapatan yang diharapkan dari investasi itu. Dengan demikian unsur-unsur yang diperhitungkan dalam penentuan investasi adalah : (1) tingkat ongkos biaya atas barang modal; (2) tingkat bunga; dan (3) tingginya hasil pendapatan yang diterima. Berubahnya salah satu dari ketiga faktor di atas, akan mengakibatkan berubahnya perhitungan profitabilitas.

Menurut pandangan dari JM. Keynes, masalah investasi, baik penentuan jumlah maupun kesempatan untuk melakukan investasi didasarkan atas konsep Marginal Effeciency of Investment (MEI). Dengan mendasarkan atas konsep pemikiran tersebut investasi akan dilaksanakan apabila MEI masih lebih tinggi daripada tingkat bunga.

Secara grafis MEI itu digambarkan sebagai suatu skedul yang menurun, skedul ini menggambarkan jumlah investasi yang akan terlaksana pada setiap tingkat bunga. Menurunnya tingkat skedul MEI ini antara lain disebabkan oleh dua hal, yaitu :

- Bahwa semakin banyak jumlah investasi yang terlaksana dalam masyarakat, makin rendah Efisiensi Marginal Investasi itu.

- Semakin banyak investasi dilakukan, maka ongkos dan barang modal (asset) menjadi lebih tinggi.

Investasi yang sering dikenal dengan istilah penanaman modal. Kegiatan investasi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga dapat meningkatkan

perekonomian guna memperbesar dan meningkatkan tingkat produksi dalam suatu usaha dan meningkatkan kesempatan kerja. Dengan demikian istilah investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanam-penanam modal


(27)

atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian (Sukirno, 2001).

Menurut (Suparmoko, 1993) memberikan arti investasi sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanam-penanam modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.

Secara garis besar investasi dapat digolongkan menjadi tiga (Sukirno, 2001) yaitu antara lain.

1) Autonomous investment, yaitu investasi yang tidak dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, misalnya investasi pada rehabilitasi prasarana jalan dan irigasi. Investasi jenis ini biasanya lebih banyak dilakukan oleh sektor pemerintah, karena investasi ini akan menyangkut banyak aspek sosial budaya yang ada di masyarakat.

2) Induced investment, yaitu macam investasi yang mempunyai kaitan dengan tingkat pendapatan, misalnya adanya kenaikan pendapatan yang ada pada masyarakat di suatu tempat atau negara menyebabkan kenaikan kebutuhan barang tertentu. Kenaikan atau pertambahan permintaan terhadap barang sudah tentu akan mendorong untuk melakukan investasi.

3) Investasi yang sifatnya dipengaruhi oleh adanya kenaikan tingkat bunga uang atas modal yang berlaku di masyarakat.

Dari ketiga investasi yang digolongkan menurut (Sukirno, 2005) investasi di Provinsi Lampung cenderung lebih dominan pada kelompok Induced Investment


(28)

yaitu investasi yang mempunyai kaitan dengan tingkat pendapatan. Hal ini disebabkan karena pada umumnya masyarakat Lampung menanamkan modalnya hanya untuk mereka yang memiliki pendapatan yang lebih, misalnya investor berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang berkembang di Lampung. Keuntungan investasi di suatu industri akan menarik investor lain untuk berinvestasi karena menginginkan keuntungan. Oleh karena itu, investor dapat memperkirakan keuntungan dari investasi yang akan dilakukannya.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah investasi (Deliarnov, 1995) yaitu antara lain sebagai berikut.

a) Inovasi dan Teknologi

Adanya temuan-temuan baru menyebabkan cara-cara berproduksi lama menjadi tidak efisien. Untuk itu perusahaan-perusahaan perlu menemukan investasi untuk membeli peralatan mesin-mesin yang canggih.

b) Tingkat Perekonomian

Makin banyak aktivitas perekonomian makin besar pendapatan nasional dan makin banyak bagian pendapatan yang dapat ditabung, yang pada gilirannya akan diinvestasikan pada suatu usaha yang menguntungkan.

c) Tingkat Keuntungan Perusahaan

Makin besar tingkat keuntungan perusahaan, maka makin banyak bagian laba yang dapat ditahan dan dapat digunakan untuk tujuan investasi.

d) Situasi Politik

Jika situasi politik aman dan pemerintah banyak memberikan kemudahan-kemudahan bagi perusahaan, maka tingkat investasi akan tinggi. Salah satu kegiatan investasi yang dapat diketahui adalah penanaman modal, penanaman


(29)

modal dapat dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta. Untuk investasi swasta di Indonesia yang dilakukan dengan kemudahan fasilitas berupa PMA dan PMDN.

1.1. Investasi Pemerintah

Menurut (Suparmoko, 2002) peranan pemerintah dalam suatu negara dapat dilihat dari semakin besarnya pengeluaran pemerintah dalam proporsinya terhadap pendapatan nasional. Pengeluaran pemerintah dalam arti riil dapat dipakai sebagai indikator besarnya kegiatan pemerintah yang dibiayai oleh pengeluaran

pemerintah. Semakin besar dan banyak kegiatan pemerintah, maka semakin besar pula pengeluaran pembangunan. Pengeluaran pemerintah dapat dibedakan

menjadi pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.

1) Pengeluaran rutin yaitu pengeluaran yang digunakan untuk pemeliharaan dan penyelenggaraan pemerintah yang meliputi belanja pegawai, belanja barang, pembayaran bunga utang, subsidi dan pengeluaran rutin lainnya. Melalui pengeluaran rutin, pemerintah dapat menjalankan misinya dalam rangka menjaga kelancaran penyelenggaraan pemerintah, kegiatan operasional dan pemeliharaan aset negara, pemenuhan kewajiban pemerintah kepada pihak ketiga, perlindungan kepada masyarakat miskin dan kurang mampu serta menjaga stabilitas perekonomian. (Mangkoesoebroto, 1994)

2) Pengeluaran pembangunan (Belanja Modal) yaitu pengeluaran yang digunakan untuk membiayai pembangunan di bidang ekonomi, sosial dan umum dan yang bersifat menambah modal masyarakat dalam bentuk pembangunan baik prasarana fisik maupun non fisik yang dilaksanakan dalam periode tertentu. Anggaran pembangunan secara fisik maupun nonfisik


(30)

selalu disesuaikan dengan dana yang dimobilisasi. Dana ini kemudian dialokasikan pada berbagai bidang sesuai dengan prioritas yang telah

direncanakan. Peranan anggaran pembangunan lebih ditekankan pada upaya penciptaan kondisi yang stabil dan kondusif bagi berlangsungnya proses pemulihan ekonomi dengan tetap memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

1.2. Investasi Swasta

Investasi asing di Indonesia dapat dilakukan dalam dua bentuk investasi, yaitu investasi portofolio dan investasi langsung. Investasi portofolio dilakukan melalui pasar modal dengan instrument surat berharga seperti saham dan obligasi.

Investasi langsung yang dikenal dengan PMA merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total atau mengakuisisi perusahaan. Dibanding dengan investasi portofolio, penanam modal asing lebih banyak mempunyai kelebihan. Selain sifatnya yang permanen/ jangka panjang, penanam modal asing memberi andil dalam alih teknologi, alih keterampilan manajemen dan membuka lapangan kerja baru.

1.3. Penanaman Modal

Penanaman modal pada hakekatnya merupakan kegiatan investasi yang dapat dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta. Untuk investasi swasta di Indonesia yang dilakukan dengan kemudahan fasilitas berupa PMA dan PMDN. Pemerintah juga mengatur undang-undang tentang investasi yang dilakukan oleh pihak swasta ataupun dalam negeri. Indonesia no 25 tahun 2007 tentang


(31)

PMDN. PMA adalah kegiatan menanamkan modal untuk melakukan usaha di wilayah Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun penanam modal dalam negeri, sedangkan penanaman modal dalam negeri adalah kegiatan menanamkan modal untuk kegiatan usaha di wilayah Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri.

1.4. Hubungan investasi pemerintah dengan kesempatan kerja

Menurut (Suryati, 2000) investasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta, memiliki pengaruh yang cukup besar pada penyerapan tenaga kerja, di mana terdapat hubungan yang positif antara investasi pemerintah dan investasi swasta terhadap penyerapan tenaga kerja.

a. Konsep investasi dan ketersediaan tenaga kerja

Investasi yang mampu mendorong pertumbuhan tidak hanya berasal dari tabungan domestik. Investasi dari luar negeri juga dapat mempengaruhi GDP dan GNP dengan cara yang berbeda (Mankiw, 2003). Investasi asing

merupakan salah satu cara yang bisa dimanfaatkan oleh sebuah negara untuk tumbuh dan sekaligus mempelajari teknologi terkini yang telah

dikembangkan dan digunakan di negara-negara kaya. Walaupun sejumlah keuntungan dari investasi ini kembali kepada investor asing, namun investasi ini menaikkan persediaan modal, yang kemudian menaikkan produktivitas dan gaji. Menurut (Pratiwi, 2005) investasi yang mempunyai multiplier effect berdampak pada peningkatan kesejahteraan, yang diukur melalui kenaikan pendapatan. Artinya apabila pendapatan meningkat, jumlah barang dan jasa yang akan dikonsumsi akan meningkat pula. Apabila permintaan barang dan


(32)

jasa meningkat, maka akan meningkatkan peluang lapangan kerja. Hal ini akan mengurangi tingkat pengangguran. Berkurangnya pengangguran ini disebabkan oleh terserapnya angkatan kerja dalam proyek-proyek investasi.

1.5. Hubungan investasi swasta dengan kesempatan kerja

Menurut (Sukirno, 2000) kegiatan investasi memungkinkan suatu masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja,

meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan taraf kemakmuran

masyarakat. Peranan ini bersumber dari tiga fungsi penting dari kegiatan investasi, yakni:

1) Investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, sehingga kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan agregat, pendapatan nasional serta kesempatan kerja.

2) Pertambahan barang modal sebagai akibat investasi akan menambah kapasitas produksi.

3) Investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi.

Menurut (Arsyad, 1999) hasil produksi yang optimal di suatu daerah akan membawa pengaruh terhadap peningkatan kesempatan kerja, dimana dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan produksi suatu daerah maka daerah tersebut akan keluar dari lingkaran kemiskinan serta kesejahteraan masyarakat daerah tersebut akan meningkat pula. Hubungan antara investasi (PMA dan PMDN) dengan kesempatan kerja menurut Teori Harrod-Domar (Mulyadi, 2000) investasi tidak hanya menciptakan permintaan, tetapi juga memperbesar kapasitas produksi. Tenaga kerja yang merupakan salah satu faktor produksi, otomatis akan


(33)

ditingkatkan penggunanya. Dinamika penanaman modal mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi, mencerminkan marak lesunya pembangunan. Maka setiap negara berusaha menciptakan iklim yang dapat menggairahkan investasi terutama investasi swasta yang dapat membantu membuka lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan kesempatan kerja (Dumairy, 1997).

B. Kesempatan Kerja

Tenaga kerja adalah penduduk dalam usia kerja atau jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara dalam memproduksi barang atau jasa. Tenaga kerja yang masuk dalam usia kerja yaitu antara 15-64 tahun (Suparmoko, 2002). Tiga golongan yang disebut pencari kerja, bersekolah, dan mengurus rumah tangga walaupun tidak sedang bekerja mereka dianggap secara fisik maupun sewaktu-waktu dapat ikut bekerja. Secara praktis pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja dibedakan hanya oleh batas umur. Dimana tiap-tiap negara memberi batasan umur yang berbeda (Mulyani, 2010).

Pengertian bekerja yang digunakan dalam sensus penduduk adalah mereka yang melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dengan lama bekerja paling sedikit 1 jam secara berkesinambungan dalam seminggu yang lalu. Untuk selanjutnya penduduk yang bekerja tersebut dinamakan sebagai angkatan kerja yang terserap atau kesempatan kerja (Mulyani, 2010).

Pertumbuhan angkatan kerja dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu struktur umur penduduk dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja dalam suatu negara atau suatu daerah sewaktu-waktu tergatung dari jumlah penduduk


(34)

usia kerja. Perbandingan anatara angkatan kerja dan penduduk dalam usia kerja ini disebut tingkat partisipasi kerja (Beni Mulyani, 2010).

Kebutuhan tenaga kerja sangat penting dalam masyarakat karena merupakan salah satu faktor yang potensial untuk pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Tenaga kerja menjadi sangat penting peranannya dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan karena dapat meningkatkan output dalam perekonomian berupa produk domestik bruto (PDRB). Karena jumlah penduduk semakin besar maka semakin besar juga angkatan kerja yang akan mengisi produksi sebagai input.

2.1. Permintaan Tenaga Kerja

Permintaan tenaga kerja berarti hubungan antara tingkat upah dan kuantitas tenaga kerja yang dikehendaki oleh pengusaha untuk dipekerjakan, ini berbeda dengan permintaan konsumen terhadap barang dan jasa. Orang membeli barang karena barang itu memberikan nikmat (utility) kepada si pembeli. Sementara pengusaha mempekerjakan seseorang karena memproduksikan barang untuk dijual kepada masyarakat konsumen. Oleh karena itu, kenaikan permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja, tergantung dari kenaikan permintaan masyarakat akan barang yang diproduksinya. Permintaan tenaga kerja seperti itu disebut “derived demand “ (Payaman Simanjuntak, 2002).


(35)

A. Perubahan Tingkat Upah

Perubahan tingkat upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. Apabila digunakan asumsi bahwa tingkat upah naik maka akan terjadi:

1. Naiknya tingkat upah akan meningkatkan biaya produksi perusahaan, yang selanjutnya akan meningkat pula harga per unit barang yang diproduksi. Biasanya konsumen akan memberikan respon yang cepat apabila terjadi kenaikan harga barang, yaitu mengurangi konsumsi atau bahkan tidak lagi mau membeli barang yang bersangkutan. Akibatnya banyak produksi barang yang tidak terjual, terpaksa produsen menurunkan jumlah produksinya, mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena pengaruh turunnya skala produksi disebut efek skala produksi atau “ scale –effect.”

2. Apabila upah naik maka pengusaha ada yang lebih suka menggunakan teknologi padat modal untuk proses produksinya dan menggantikan kebutuhan akan tenaga kerja dengan kebutuhan akan barang modal seperti mesin dan lain-lain. Penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena adanya pergantian atau penambahan penggunaan mesin-mesin disebut efek subtitusi tenaga kerja atau “substitution effect“. Baik efek skala produksi maupun efek subtitusi akan menghasilkan suatu bentukkurva permintaan tenaga kerja yang mempunyai slope negatif seperti tampak pada kurva dibawah ini :


(36)

Gambar 2.2 Kurva Permintaan Tenaga Kerja

Sumber : Ehrenberg dan Smith, (1994)

2.2. Penawaran Tenaga Kerja

Penawaran tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang dapat disediakan oleh pemilik tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah dalam jangka waktu tertentu. Dalam teori klasik sumber daya manusia (pekerja) merupakan individu yang bebas mengarnbil keputusan untuk bekerja atau tidak. Bahkan pekerja juga bebas untuk menetapkan jumlah jam kerja yang diinginkannya. Teori ini didasarkan pada teori tentang konsumen, dimana setiap individu bertujuan untuk.

Memaksimumkan kepuasan dengan kendala yang dihadapinya.

Semakin besar elastisitas tersebut semakin besar peranan input tenaga kerja untuk menghasilkan output, berarti semakin kecil jumlah tenaga kerja yang diminta. Sedangkan untuk menggambarkan pola kombinasi faktor produksi yang tidak sebanding (Variable proportions) umumnya digunakan kurvaisokuan

(isoquantities) yaitu kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi faktor produksi (tenaga kerja dan kapital) yang menghasilkan volume produksi yang


(37)

sarna. Lereng isokuan menggambarkan laju substitusi teknis marginal atau marginal Rate of Technical Substitution atau dikenal dengan istilah MRS. Hal ini dimaksudkan untuk melihat hubungan antara faktor tenaga kerja dan kapital yang merupakan lereng dari kurva isoquant.

2.3. Indikator Kesempatan Kerja

Adapun indikator dari kesempatan kerja adalah sebagai berikut: 1) Laju pertumbuhan investasi

Menurut (Tambunan, 2001) investasi merupakan suatu faktor krusial bagi kelangsungan proses pembangunan ekonomi (sustainable development), atau pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Karena adanya kegiatan produksi maka terciptalah kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat meningkat yang selanjutnya dapat menciptakan serta meningkatkan permintaan di pasar. Pendapat tersebut menjelaskan tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh investasi, dimana munculnya investasi akan mendorong kesempatan kerja dan peningkatan terhadap pendapatan.

2) Laju pertumbuhan penduduk

Banyaknya peluang atau kesempatan kerja yang terisi dapat tercermin dari besarnya jumlah penduduk yang bekerja, sehingga dengan demikian laju pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar dikatakan dapat menentukan percepatan laju pertumbuhan ekonomi.

3) Angkatan Kerja (labor force)

Merupakan bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat atau berusaha untuk terlibat dalam kegiatan produksi barang dan jasa. Kebutuhan akan tenaga kerja didasarkan pada pemikiran bahwa tenaga kerja dalam


(38)

masyarakat merupakan salah satu faktor yang potensial untuk pembangunan ekonomi secara keseluruhan, dimana tenaga kerja yang berpotensi tersebut akan digunakan dalam menentukan proses pembangunan ekonomi.

C. Konsep Pengangguran

Pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkan (Sukirno, 2000). (Nanga, 2001) mendefinisikan pengangguran sebagai keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja, tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif sedang mencari pekerjaan. Angkatan kerja adalah jumlah orang yang bekerja dan tidak bekerja, yang berada pada kelompok umur tertentu (15-64 tahun). Pada prinsipnya pengangguran berarti hilangnya output dan kesengsaraan bagi orang yang tidak bekerja, pemborosan terhadap sumber daya ekonomi dan meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk kompensasi pengangguran dan kesejahteraan. (Simanjuntak, 2002) mendefinisikan pengangguran sebagai orang yang tidak bekerja sama sekali atau bekerja kurang dari dua hari dalam seminggu sebelum pencacahan dan sedang berusaha memperoleh pekerjaan.

Menurut (Nanga, 2001), dilihat dari sebab timbulnya, pengangguran dapat dibedakan menurut penyebabnya sebagai berikut:

1) Pengangguran friksional atau transisi adalah pengangguran yang timbul karena adanya perubahan dalam syarat-syarat tenaga kerja yang terjadi karena berkembangnya perekonomian. Pengangguran jenis ini dapat juga disebabkan


(39)

karena berpindahnya orang-orang dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, maupun melalui siklus kehidupan yang berbeda. 2) Pengangguran struktural adalah pengangguran yang terjadi karena adanya

perubahan dalam struktur pasar tenaga kerja sehingga terjadi ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan tenaga kerja. Salah satu penyebab

pengangguran struktural adalah kemajuan teknologi, sehingga pengangguran ini sering disebut dengan pengangguran teknologi.

3) Pengangguran alamiah adalah tingkat pengangguran yang terjadi pada kesempatan kerja penuh atau tingkat pengangguran dimana inflasi yang diharapkan sama dengan tingkat inflasi actual. Friedman (Nanga, 2001) mendefinisikan tingkat pengangguran alamiah sebagai tingkat pengangguran dimana baik tekanan ke atas maupun ke bawah terhadap inflasi dan upah berada dalam keseimbangan. Pengangguran alamiah terdiri atas

pengangguran friksional dan pengangguran struktural. Para ahli ekonomi memperkirakannya berkisar antara 4,0 – 6,5 persen.

4) Pengangguran konjungtur dan siklis adalah jenis pengangguran yang terjadi karena merosotnya kegiatan perekonomian atau karena permintaan agregatif efektif lebih kecil dibandingkan penawaran agregat. Para ahli ekonomi menyebut pengangguran ini sebagai demand deficient unemployment.

D. Teori Pengeluaran Pemerintah

1. Pengeluaran Pemerintah Menurut Teori Makro

Dalam teorinya Rostow dan Musgrave menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap awal, tahap menengah, dan tahap lanjut. Pada awal perkembangan ekonomi, presentasi investasi pemerintah


(40)

terhadap investasi total investasi besar, sebab pada tahap ini pemerintah harus menyediakan sarana prasarana transportasi dan sebagainya. Pada tahap, menengah pembangunan ekonomi, investasi pemerintah tetap diperlukan untuk

meningkatkan pembangunan ekonomi agar dapat tinggal landas, namun pada tahap ini peranan investasi swasta sudah semakin besar (Mangkoesoebroto, 1995). Pada tingkat ekonomi lebih lanjut, Rostow mengatakan dalam (Mangkoesoebroto, 1997), bahwa pembangunan ekonomi aktivitas pemerintah beralih dari

penyediaan prasarana ke pengeluaran-pengeluaran untuk aktivitas sosial, seperti halnya program kesejahteraan hari tua, program pelayanan kesehatan masyarakat, dan sebagainya.

2. Pengeluaran Pemerintah Menurut Teori Ekonomi Mikro

Tujuan dari teori ekonomi mikro mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang menimbulkan

permintaan akan barang publik dan faktor-faktor yang mempengaruhi tersedianya barang publik. Interaksi antara permintaan dan penawaran barang untuk barang publik menentukan jumlah barang publik yang akan disediakan melalui anggaran belanja. Jumlah barang publik yang disediakan tersebut akan menimbulkan permintaan akan barang lain.

Anggaran yang dilakukan untuk melaksanakan aktivitas pemerintah. Salah satu aktivitas pemerintah adalah pengeluaran pemerintah adalah pengeluaran

pembangunan dalam berbagai sektor. Pembangunan yang dilaksanakan

pemerintah direncanakan dalam perumusan anggaran yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembangunan, karena anggaran tersebut merupakan variabel yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat. Alokasi dana pemerintah dalam


(41)

anggaran (budget) yang bertindak sebagai alat pengatur prioritas pembangunan dengan mempertimbangkan tujuan yang dicapai. Oleh karena itu usaha

pembangunan harus selalu berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan Trilogi Pembangunan (Suparmoko, 1995). Melihat perkembangan kegiatan pemerintah dari tahun ke tahun, peranan pemerintah cenderung meningkat. Peningkatan kegiatan pemerintah ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Adanya kenaikan tingkat penghasilan masyarakat, maka kebutuhan

masyarakat juga meningkat. Hal ini mengakibatkan,meningkatnya kegiatan pemerintah dalam usaha memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut seperti kebutuhan akan prasarana transportasi, pendidikan, dan kesehatan umum. 2. Perkembangan penduduk, hal ini membutuhkan peningkatan kegiatan

pemerintah untuk mengimbangi perkembangan penduduk dalam memenuhi kebutuhan penduduk tersebut.

3. Perkembangan ekonomi, juga dibutuhkan peranan pemerintah yang besar guna mengisi kegiatan ekonomi.

E. Teori Ekonometrika 1. Regresi Linier Berganda

Widarjono (2008) model regresi sederhana tidak mencerminkan kondisi perilaku variabel ekonomi yang sebenarnya. Model yang terdiri ataslebih dari satu variabel independen disebut regresi berganda ( multiple regression). Pertama akan dimulai bagaimana mendapatkan koefisien berganda dengan metode OLS. Masalah interval estimasi dan uji hipotesis kembali dibahas untuk estimator dalam regresi berganda. Dibahas uji serempak pengaruh semua variabel independen terhadap


(42)

variabel dependen. Berikut ini adalah bentuk umum regresi berganda dengan jumlah k variabel independen dapat ditulis sbb:

Yi = ઺0+ ઺1X1i + ઺2X2i + ઺kX1ki +ei ...(1)

(Gujarati, 2006) mendefinisikan analisis regresi sebagai kajian terhadap hubungan satu variabel yang disebut sebagai variabel yang diterangkan ( The Explained Variable) dengan satu atau dua variabel yang menerangkan (The Explanatory) variabel pertama disebut variabel terikat dan variabel kedua disebut variabel bebas. Jika variabel bebas lebih dari satu maka analisis regresi disebut regresi linier berganda, disebut berganda karena pengaruh beberapa variabel bebas akan dikenakan pada variabel terikat. asumsi-asumsi pada model regresi linier berganda adalah sebagai berikut:

1. Model regresinya adalah linier dalam parameter. 2. Nilai rata-rata dari error adalah nol.

3. Variansi dari error adalah konstan (homoskedastik). 4. Tidak terjadi autokorelasi pada error.

5. Tidak terjadi multikolinieritas pada variabel bebas. 6. Error berdistribusi normal.

2. Distibusi lag

(Gujarati, 1995) analisis runtun waktu merupakan analisis sekumpulan data dalam suatu periode waktu yang lampau yang berguna untuk mengetahui atau

meramalkan kondisi masa mendatang. Hal ini didasarkan bahwa perilaku manusia banyak dipengaruhi kondisi atau waktu sebelumnya sehingga dalam hal ini faktor waktu sangat penting peranannya. Pada analisis regresi, yang menggunakan data time series model regresi tidak hanya variable X pada waktu t, tetapi juga variable


(43)

bebas X waktu (t-1) yang disebut dengan variable lag. Dalam kegiatan ekonomi, terkadang suatu variabel tidak langsung berpengaruh seketika namun yang terjadi memiliki jarak waktu. Waktu yang diperlukan dalam realisasi tersebut dinamakan lag. Contohnya kredit perkebunan pemberian kredit dari suatu bank pada

perkebunan karet untuk keperluan investasi, namun pengaruh kredit (X) yang akan di rasakan oleh produksi (Y) waktu. Mungkin perubahan akan dirasakan oleh X, akan memerlukan 1 tahun (t-1), 2 tahun (t-2), 5 tahun (t-5), 10 tahun (t-10). (Supranto, 1995) model regresi dengan menggunakan data runtun waktu tidak hanya menggunakan pengaruh perubahan variabel bebas terhadap variabel tak bebas dalam kurun waktu yang sama dan selama periode pengamatan yang sama, tetapi juga menggunakan periode waktu sebelumnya. Waktu yang diperlukan bagi variabel bebas X dalam mempengaruhi variabel tak bebas Y disebut kelambanan atau lag.

(Awat, 1995) Model regresi yang memuat variabel tak bebas yang dipengaruhi oleh variabel bebas pada waktu t, serta dipengaruhi juga oleh variabel bebas pada waktu t-1, t-2 dan seterusnya disebut model dinamis distribusi lag, sebab

pengaruh dari suatu atau beberapa variabel bebas X

terhadap variabel tak bebas Y menyebar (spread or distributed) ke beberapa periode waktu dengan Yt = હ + ઺0 Xt + ઺1Xt-1 +઺2Xt-2 + .... + et. Model regresi yang memuat variabel tak bebas yang dipengaruhi oleh variabel bebas pada waktu, serta dipengaruhi juga oleh variabel tak bebas itu sendiri pada waktu t-1 disebut model autoregressive.

(Widarjono, 2009) tidak semua dampak atau hasil dari suatu kebijakan ekonomi dapat berpengaruh langsung secara instan, tapi memerlukan waktu atau


(44)

kelambanan (lag). Seperti halnya kebijakan dari bidang investasi, tidak akan langsung berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja tapi bisa satu tahun atau lebih memiliki dampak dalam penyerapan tenaga kerja. Model regresi yang memasukkan tidak hanya nilai sekarang (current) tetapi juga nilai kelambanan dari variabel independen disebut model kelambanan (distributed-lag model).

F. Penelitian Terdahulu

Tabel 1. Daftar Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Penelitian Alat Analisis Hasil 1. Ari Gunawan

(2006) Pengaruh Produksi Total dan Investasi Terhadap Kesempatan Tenaga Kerja di Provinsi Bali (1985-2004) Regresi Linier Berganda (SPSS)

t-hitung > t-tabel (14,588>1,725) yang berarti hubungan positif antara produksi total dengan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan t-hitung> t-tabel (1,788<1,725) yang berarti ada hubungan positif antara tingkat investasi dengan penyerapan tenaga kerja. Uji serempak dengan tingkat keyakinan 90% diperoleh hasil F-tabel (3,49)< f-hitung (107,024) yang berarti produksi total dan investasi berpengaruh secara serempak terhadap


(45)

kesempatan kerja di provinsi Bali.

2. Oki Permata Sari (2007) Pengaruh Investasi Pemerintah dan Investasi Swasta Secara Simultan dan Parsial terhadap Kesempatan Kerja di Provinsi Bali tahun 1999-2009 Regresi Berganda (SPSS) Hasil pengujian simultan menunjukkan bahwa investasi pemerintah dan investasi swasta berpengaruh signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Bali 1999-2009 dengan nilai f-hitung (22,326) > F-tabel (4,46). Pengujian secara parsial menunjukkan bahwa investasi pemerintah berpengaruh positif dan signifikan yang ditunjukkan oleh t-hitung (3,309)> t-tabel (1,860) secara investasi swasta berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesempatan kerja dengan nilai hitung (2,473)> t-tabel (1,860) dengan niali koefisien

determinasi (R2) sebesar 0,828


(46)

yang menunjukkan bahwa 84,8%variasi naik turunnya kesempatan kerja di Provinsi Bali tahun 1999-2009 dipengaruhi oleh faktor investasi pemerintah dan investasi swasta. 3. Ir. Erlina

Situmorang , M.Si Analisa Kebijakan Investasi dan Ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat

Deskriptif Dalam kurun waktu 2003-2005, perekonomian Provinsi Papua Barat bertumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa hasil perekonomian Provinsi Papua Barat berkembang cukup baik, namun blum disertai dengan penyerapan tenaga kerja yang baik. Investor sektor publik tumbuh secara fluktuatif dengan pertumbuhan yang sangat signifikan terjadi pada kurun waktu


(47)

2002-2004. Namun pertumbuhan penyerapan tenaga kerja jauh lebih rendah dan tidak linier dengan pertumbuhan investasi sektor publik.

4. Ayu Wafi Lestari (2011) Pengaruh Jumlah Usaha, Nilai Investasi, dan Upah Minimum Terhadap Permintaan Tenaga Kerja Pada Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Semarang Regresi Linier Berganda (SPSS) Variabel jumlah unit usaha kecil dan menengah pada (IKM) di kabupaten Semarang (UNIT) , nilaiinvestasi pada IKM di Kabupaten Semarang (INV) dan nilai Upah Minimum Kabupaten (UMK) berpengaruh signifikan terhadap variabel permintaan tenaga kerja pada Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Semarang pada taraf 95%

5. Budi

PrasetiyoWibo wo Pengaruh Modal dan tenaga Kerja Terhadap Perkembangan Ekonomi di Provinsi Lampung tahun Regresi Linier Berganda

Belanja modal , investasi swasta (PMA-PMDN) berperngaruh positif dan signifikan terhadap


(48)

1992-2009 pertumbuhan PDRB di Provinsi Lampung sedangakan tenaga kerja berpengaruh positif tapi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan PDRB di provinsi Lampung.

Sebagai upaya untuk

meningkatkan PDRB provinsi lampung maka diperlukan kebijakan

mendorong minat berinvestasi di daerah .

pengembangan usaha sebaiknya diarahkan pada kegiatan yang bersifat padat kaya agar mampu menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin.


(49)

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder tahunan 2000-2011. Data sekunder tersebut bersumber dari Lampung dalam Angka (BPS), Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker Trans) Provinsi Lampung. Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data Investasi Pemerintah (IP), data Investasi Swasta (IS), yakni Investasi yang berasal dari penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Modal Asing ( PMA) serta Kesempatan Kerja (KK).

B. Metode Pengumpulan Data

Selain mendapatkan dari beberapa instansi penelitian ini dilakukan dengan

penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara membaca dan memahami melalui buku-buku, jurnal penelitian, literatur, dan hasil-hasil

penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.Tabel 1. Nama,variabel, ukuran dan sumber data

No Nama Data Nama

Variabel

Satuan Pengukuran

Sumber Data

1. PMA dan PMDN IS Rupiah BPMD

2. Belanja Modal IP Rupiah BPS

3. Kesempatan Kerja KK Jiwa BPS dan


(50)

C. Variabel Penelitian

Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Variabel terikat, merupakan variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variasi yang dialami oleh variabel bebas. Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya adalah kesempatan kerja Provinsi Lampung.

2) Variabel bebas, merupakan variabel yang akan mempengaruhi nilai variabel terikat dari variasi atau perubahan yang dialami variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas yaitu investasi pemerintah dan investasi swasta.

1.1 Definisi Operasional Variabel

Pengertian dan batasan-batasan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Investasi Pemerintah

Investasi pemerintah adalah pengeluran pemerintah dalam arti riil dapat dipakai sebagai indikator besarnya kegiatan pemerintah yang dibiayai oleh pengeluaran pemerintah. Oleh karena itu semakin besar dan banyak kegiatan pemerintah maka semakin besar pula pengeluaran belanja modal pemerintah. Sebagai contoh belanja modal. Karena pengeluaran tersebut maka pemerintah membiayai pengeluaran yang besar.

2) Investasi Swasta

Investasi swasta yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keseluruhan nilai realisasi investasi swasta yang memperoleh fasilitas dari pemerintah berupa PMA dan PMDN yang dilakukan di Provinsi Lampung dalam kurun waktu 2000-2011. Dalam hal ini PMA yaitu perusahaaan asing yang ada di Provinsi


(51)

Lampung dan juga PMDN yaitu perusahaan-perusahaan milik pemerintah di Provinsi Lampung dijumlah maka hasilnya adalah Investasi Swasta.

3) Kesempatan Kerja

Jumlah total kesempatan kerja Provinsi Lampung, yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah seluruh penduduk Provinsi Lampung yang sudah memasuki pasar kerja atau dengan kata lain penduduk yang sudah bekerja pada periode tahun 2000-2011.

D. Alat Analisis

Teknik analisis yang diguanakan adalah analisis kuantitatif. Untuk menjelaskan pengaruh beberapa variabel bebas atau variabel penjelas (independent variable) terhadap satu variabel terikat (dependent variable), teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda. Penelitian ini juga mengunakan variabel lag yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh investasi tahun sebelumnya berdampak pada tahun selanjutnya. Karena investasi tidak dapat dirasakan secara langsung dampak yang ditimbulkan sehingga dalam penelitian ini menggunakan variabel lag. Bentuk fungsi tersebut dirumuskan sebagai berikut ( Purba, 2006; Mulyani, dalam Budi, 2011)


(52)

Model Kelambanan (Lag)

Tidak semua dampak atau hasil dari suatu kebijakan ekonomi dapat berpengaruh langsung secara instan, tapi memerlukan waktu atau kelambanan (lag). Seperti halnya kebijakan dari bidang investasi, tidak akan langsung berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja tapi bisa satu tahun atau lebih memiliki dampak dalam penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lag investasi sebagai variabel independen (Widarjono, 2009). Dari persamaan fungsi (1) diatas dan dengan konsep model kelambanan dapat dibuat model persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:

KK= �0+ �1IP (t-1) + �2IS(t-1) +�...(2) Keterangan :

KK = Kesempatan Kerja Provinsi Lampung IP(t-1) = Investasi Pemerintah tahun sebelumnya IS(t-1) = Investasi Swasta tahun sebelumnya �1, �2 = Koefisien regresi

�0= Konstanta (alpha) ��= Variabel Penganggu

Untuk memperjelas hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat pada persamaan diatas perlu adanya pengujian statistik dan pengujian parameter.

E. Uji Asumsi Klasik

Untuk menghitung persamaan regresi sederhana melalui metode kuadrat terkecil Ordinary Least Square (OLS) maka data harus memenuhi empat asumsi dasar, yaitu:


(53)

Uji Normalitas, Uji Heteroskedastisitas, Uji asumsi Otokorelasi, Uji asumsi Multikolinieritas.

Agar dapat mengambil kesimpulan berdasarkan hasil regresi maka model persamaan harus terbebas dari asumsi klasik. Untuk menghasilkan keputusan BLUE ( Best, Linier, Unbiased, Estimated), maka harus memenuhi diantaranya empat asumsi dasar yang tidak boleh dilanggar oleh regresi linear berganda, yaitu:

a. Tidak boleh ada autokorelasi b. Tidak boleh ada heteroskedastisitas c. Tidak boleh ada multikolinieritas d. Data berdistribusi normal

Apabila salah satu dari empat asumsi dasar tersebut dilanggar, maka persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE ( Best, Linier, Unbiased, Estimated).

1. Uji Asumsi Normalitas

Uji Normalitas adalah untuk mengetahui apakah data sudah tersebar secara normal. Dalam penelitian ini uji normalitas menggunakan metode Jarque-Berra (Uji JB). Metode JB ini didasarkan pada sampel besar yang diasumsikan bersifat asymptotic. Uji statistik dari JB ini menggunakan perhitungan skewness dan kurtosis.

Ho : p-value > α (5%), Residual berdistribusi normal Ha : p-value < α (5%), Residual tidak berdistribusi normal


(54)

2. Uji Asumsi Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas merupakan salah satu penyimpangan terhadap asumsi kesamaan varian (homoskedastisitas), yaitu varians error bernilai sama untuk setiap kombinasi tetap dari X1, X2, …, Xp. Jika asumsi ini tidak dipenuhi maka dugaan OLS tidak lagi bersifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator), karena akan menghasilkan dugaan dengan galat baku yang tidak akurat. Untuk uji asumsi heteroskedastisitas dapat dilihat melalui uji White (Gujarati, 2003: 413) Untuk uji White menggunakan rumusan hipotesis sebagai berikut:

Ho: tidak terdapat heteroskedastisitas Ha: terdapat heteroskedastisitas Kriteria pengujiannya adalah:

(1) Ho ditolak dan Ha diterima, jika nilai (n x R2) < nilai Chi-kuadrat (2) Ho diterima dan Ha ditolak, jika nilai (n x R2) > nilai Chi-kuadrat

Jika Ho ditolak, berarti terdapat heteroskedastisitas. Jika Ho diterima berarti tidak terdapat heteroskedastisitas.

3. Uji Asumsi Autokorelasi

Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu. Dalam konteks regresi, model regresi linier klasik mengasumsikan bahwa autokorelasi seperti itu tidak terdapat dalam disturbansi atau penggunaan. Dengan menggunakan lambang µ secara sederhana dapat dikatakan model klasik mengasumsikan bahwa unsur gangguan yang berhubungan dengan observasi tidak dipengaruhi oleh unsur disturbansi atau gangguan yang berhubungan dengan pengamatan lain yang manapun. Untuk


(55)

mendeteksi adanya autokorelasi dalam model penelitian ini dilakukan melalui uji Lagrange Multiplier Test (LM Test), yaitu dengan membandingkan nilai X² hitung dengan X² tabel, dengan kriteria penilaian sebagai berikut :

1. Jika nilai X² hitung > X² tabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada autokorelasi dalam model empiris yang digunakan, ditolak. 2. Jika nilai X² hitung < X² tabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa

tidak ada autokorelasi dalam model empiris yang digunakan, tidak dapat ditolak.

4. Uji Multikolinieritas

Multikolinieritas digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan linear diantara variabel-variabel bebas dalam model regresi. Interpretasi dari persamaan regresi linier secara implisit bergantung pada asumsi bahwa variabel-variabel bebas dalam persamaan tidak saling berkorelasi. Uji asumsi multikolinieritas adalah untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan problem multikolinieritas. Dari sebuah persamaan regresi linear yang dibuat berdasarkan data yang ada, kita belum tahu apakah model regresi tersebut mengalami multikolinearitas. Untuk itu perlu perlu diketahui cara-cara dalam mendeteksi adanya multikolinearitas. Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas, antara lain sebagai berikut :

1. Menganalisis koefisien korelasi sederhana antara variabel bebasnya Multikolinearitas dapat diduga dari tingginya nilai korelasi antara variabel bebasnya, disini kita dapat menduga kolinearitas antara variabel bebas


(56)

dengan melihat nilai dari koefisien korelasi sederhana yang cukup tinggi (0,8 ≤ r ≤ 1,0).

2. Menggunakan Variation Inflation Factor (VIF)

Variance Inflation Factor (VIF) adalah salah satu cara dalam mendeteksi adanya multikolinearitas. Mulktikolinearitas dalam sebuah regresi dapat diketahui apabila nilai VIF lebih dari 5.

Masalah multikolinearitas dapat dihilangkan dengan menempuh beberapa cara, antara lain :

1. Menambahkan data yang baru.

Oleh karena adanya kolinearitas merupakan gambaran sampel, ada kemungkinan bahwa untuk sampel lainnya yang mencakup variabel-variabel yang sama persoalan multikolinearitas mungkin tidak seserius seperti sampel sebelumnya.

2. Menghilangkan satu atau beberapa variabel bebas yang dianggap memiliki korelasi tinggi dari model regresi.

Pada permasalahan multikolinearitas yang serius, salah satu hal yang mudah untuk dilakukan ialah mengeluarkan salah satu variabel yang berkorelasi tinggi dengan variabel lainnya.

F. Pengujian Hipotesis 1. Uji t

Selanjutnya untuk mengetahui keakuratan data maka perlu dilakukan beberapa pengujian :


(57)

1. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi dilakukan untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen secara bersama-sama memberi penjelasan terhadap variabel dependen dimana nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1 (0 < R2 <1) semakin besar nilai R2 maka semakin besar variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independen yang dapat dijelaskan oleh variabel

dependen. Semakin angkanya mendekati 1 maka semakin baik garis regresi karena mampu menjelaskan data aktualnya.

2. Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji t )

Pengujian hipotesis koefisien regresi dengan menggunakan uji t pada tingkat kepercayaan 95 persen atau α = 5 % dengan derajat kebebasan df = (n-k).

Dimana :

) ( 2

2 2

 

 

  

se t

Hipotesis:

Ho: 2= 0 , tidak ada pengaruh antara peubah bebas dengan peubah terikat Ho: 2≠ 0 , ada pengaruh antara peubah bebas dengan peubah terikat Pengujian :

(1) Ho ditolak dan Ha diterima, jika t hitung ≥ t tabel ; -t hitung ≤ -t tabel (2) Ho diterima dan Ha ditolak, jika t hitung < t tabel ; -t hitung > -t tabel Jika Ho ditolak, berarti peubah bebas yang diuji berpengaruh nyata terhadap peubah terikat. Jika Ho diterima berarti peubah bebas yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap peubah terikat (Gujarati , 2003:129)


(58)

3. Uji Koefisien Regresi Secara Menyeluruh (Uji F)

Pengujian hipotesis koefesien regresi dengan menggunakan uji F pada tingkat kepercayaan 90% dengan dengan Numerator Degree of Freedom (n1) = k -1 = 2 dan Denominator of Freedom (n2) = n – k = 7.

Hipotesis yang dirumuskan:

Ho : βi = 0, variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Ha : βi ≠ 0, variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Kriteria pengujiannya adalah:

1)Ho ditolak dan Ha diterima, jika F hitung > F tabel. 2)Ho diterima dan Ha diltoak, jika F hitung ≤ F tabel.

Jika Ho ditolak, berarti variabel bebas yang diuji berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Jika Ho diterima berarti variabel bebas yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

Cara mencari F hitung (Widarjono):

= /�

/(� − � −1)=

2/(� −1)

1− 2/(� − �)

Keterangan :

R2 : koefisien determinasi n : jumlah sampel


(59)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Investasi pemerintah dan variabel investasi swasta berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Lampung.

2. Investasi pemerintah dan investasi swasta secara bersama-sama berpengaruh siginfikan terhadap kesempatan kerja Provinsi Lampung. Berarti secara bersama-sama semua variabel bebas berpengaruh dan signifikan terhadap variabel terikat.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:

1. Melihat besarnya pengaruh investasi terhadap penyerapan tenaga kerja, maka investasi pemerintah diharapkan dapat lebih ditingkatkan. Sehingga akan mengurangi tingkat penganguran di Provinsi Lampung sehingga seharusnya pemerintah daerah perlu meninjau kembali penyerapan tenaga kerja agar pemanfaatan tenaga kerja benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Provinsi Lampung yaitu dengan menciptakan permintaan dan meningkatkan kapasitas produksi yang akhirnya akan memperbesar tingkat kesempatan kerja. Sebagai contoh: Program PNPM yang harus dibenahi dan lebih ditingkatkan sehingga dapat memperbesar tingkat penyerapan tenaga kerja, dan juga pada sektor


(60)

pertanian karena dengan memperluas sektor pertanian maka peluang untuk memperbesar tingkat kesempatan kerja juga meningkat dengan kata lain jika sektor pertanian meningkat maka permintaan akan barang meningkat dan produksi meningkat sehingga berdampak pada peningkatan kesempatan kerja. Meningkatkan infrastruktur dengan memanfaatkan dana APBD dengan menyediakan barang publik yang diarahkan ke berbagai sektor pembangunan, program-program pemerintah sehingga mampu menstimulan perkembangan kesempatan kerja.

2. Untuk investasi swasta diharapkan pemerintah lebih dapat menciptakan peluang yang dapat menggairahkan investasi swasta karena investasi sektor swasta lebih banyak memiliki potensi dalam menciptakan kesempatan kerja dan hendaknya pemerintah terus mendorong pertumbuhan investasi tersebut lebih ke arah bersifat padat karya. Dengan semakin meningkatnya investasi swasta, perusahaan-perusahaan swasta akan memperbesar hasil produksinya ataupun tercipta perusahaan baru yang mana tenaga kerja pun akan semakin banyak dibutuhkan sehingga lapangan usaha menjadi terbuka yang pada akhirnya meningkatkan kesempatan kerja itu sendiri. Sehingga akan memperkecil tingkat penganguran dan tingkat kemiskinan di Provinsi Lampung.


(61)

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta : BPFE UGM.

Awat, N. (1995). Metode Statistika dan Ekonometri . Yogyakarta : Liberty. Badan Penanaman Modal Daerah Provinsi Lampung 2003-2012. BPMD Provinsi

Lampung.

BPS Privinsi Lampung . 2012 . Lampung Dalam Angka 2012 . Lampung . Deliarnov. 1995.Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta: Universitas Indonesia. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi 2003-2012. Angkatan Kerja 2012 .

Disnaker Trans Provinsi Lampung.

Dumairy . 1997 .Perekonomian Indonesia. Jakarta : Erlangga. Grafindo Persada .

Ehrenberg,Smith . 1994. Modern labor economics: Theory and public policy.HarperCollins College Publishers (New York).

Gujarati, Damodar. 1995. Basic Econometric.Mc Graw-Hill.

Gujarati, N.D. 2006. Basic Econometrics . 4 th ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc. Jakarta. Salemba empat .

Gunawan, Ari . 2006. Pengaruh Produksi Total dan Investasi Terhadap Kesempatan Tenaga Kerja. Skripsi. Udayana.

Hendarmin . (2008) .” Pengaruh Belanja Modal Daerah dan Investasi Swasta Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kesempatan Kerja dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Barat”.

http://repository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/55/Pengaruh %20Belanja%20Modal.pdf?sequence=1 .Universitas Tarumanegara.

Irawan, M. Suparmoko. 1992. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta : BPFE. Jakarta : LPFE-UI.


(62)

Kutner, M.H., C.J. Nachtsheim., dan J. Neter. 2004. Applied Linear Regression Models . 4 th ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Lestari, Wafi Ayu . 2011. Pengaruh Jumlah Usaha, Nilai Investasi, dan Upah Minimum terhadap Tenaga kerja pda IKM kabupaten Semarang. Jawa Tengah.

Mankiw, N. Gregory. 2000. Teori Makro Ekonomi. Jakarta : Erlangga . Mangkoesoebroto, Guritno. 1997. Ekonomi Publik. BPFE Jogyakarta.

Muana, Nanga. 2001. Makroekonomi : Teori, Masalah, dan Kebijakan . Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada .

Mulyadi, Subari. 2002. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT Raja Mulyani, Beni.2010.Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Daerah Terhadap

Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kota Metro. Skripsi FE Universitas Lampung. Lampung.

Pramitha Purwanti, Putu Ayu. 2009. Analisis Kesempatan Kerja Sektoral di Kabupaten Bangli dengan Pendekatan Pertumbuhan Berbasis Ekspor. Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Jurnal Ekonomi Pembangunan.Vol. 5, No. 1, 2009, ISSN 1907-3275.

Rustiono, Deddy. 2008. Analisis Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, Dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Jawa Tengah . Tesis. Magister Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan. Sari, Permata Oki . 2007 . Pengaruh Investasi Pemerintah dan Investasi Swasta

terhadap Kesempatan Kerja. Skirpsi. Situs

http://fekool.com/wp- content/uploads/downloads/2012/02/IE-Pengaruh-Investasi-Pemerintah-dan-Investasi-Swasta-Terhadap-Kesempatan-Kerja.pdf. Universitas Udayana. Simanjuntak. 1990. Payaman. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Situmorang, Erlina . 2007 . Analisa Kebijakan Investasi dan Ketenagakerjaan di

Provinsi Papua Barat. Papua Barat.

Sukirno, Sadono . 2004. Teori Pengantar Makro Ekonomi . Jakarta. Raja Grafindo Persada .

Sukirno,Sadono .2004 . Teori Pengantar Mikro Ekonomi . Jakarta . Raja Grafindo Persada .

Sunan,Muamil Astuti Endang.2009.dengan judul “Analisis Investasi, Pengeluaran Pemerintah, dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kesempatan Kerja di provinsi Nusa Tenggara


(63)

Barat.http://www.google.co.id/#q=teori+investasi+pemerintah+terhadap+kese mpatan+kerja .Universitas Sumatera Utara.

Suparmoko, M . 2002.Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek .Yogyakarta. BPFE Yogya.

Tambunan, Tulus. 2001. Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran. Cetakan Pertama. Jakarta : LPFE-UI.

Todaro, 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jilid I, Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga.

Universitas Lampung . 2009 . Format Penulisan Karya Ilmiah . Universitas Lampung .

Wibowo, Prasetiyo Budi. 2011 . Pengaruh Modal dan Tenaga Kerja Terhadap Perkembangan Ekonomi di Provinsi Lampung. Skripsi FEB Universitas Lampung .

Widarjono, Agus . 2008 . Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya . Jakarta. Erlangga .

Yusuf, Muhammad Arif. 2008. Analisis Pengaruh Investasi, Inflasi, Pengeluaran Pemerintah, Penawaran Uang Dan Ekspor Terhadap Pertumbuhan

Ekonomi Indonesia Tahun 1981-2006. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.


(1)

51

3. Uji Koefisien Regresi Secara Menyeluruh (Uji F)

Pengujian hipotesis koefesien regresi dengan menggunakan uji F pada tingkat kepercayaan 90% dengan dengan Numerator Degree of Freedom (n1) = k -1 = 2 dan Denominator of Freedom (n2) = n – k = 7.

Hipotesis yang dirumuskan:

Ho : βi = 0, variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Ha : βi ≠ 0, variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Kriteria pengujiannya adalah:

1)Ho ditolak dan Ha diterima, jika F hitung > F tabel. 2)Ho diterima dan Ha diltoak, jika F hitung ≤ F tabel.

Jika Ho ditolak, berarti variabel bebas yang diuji berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Jika Ho diterima berarti variabel bebas yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

Cara mencari F hitung (Widarjono):

= /�

/(� − � −1)=

2/(� −1)

1− 2/(� − �)

Keterangan :

R2 : koefisien determinasi n : jumlah sampel


(2)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Investasi pemerintah dan variabel investasi swasta berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Lampung.

2. Investasi pemerintah dan investasi swasta secara bersama-sama berpengaruh siginfikan terhadap kesempatan kerja Provinsi Lampung. Berarti secara bersama-sama semua variabel bebas berpengaruh dan signifikan terhadap variabel terikat.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:

1. Melihat besarnya pengaruh investasi terhadap penyerapan tenaga kerja, maka investasi pemerintah diharapkan dapat lebih ditingkatkan. Sehingga akan mengurangi tingkat penganguran di Provinsi Lampung sehingga seharusnya pemerintah daerah perlu meninjau kembali penyerapan tenaga kerja agar pemanfaatan tenaga kerja benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Provinsi Lampung yaitu dengan menciptakan permintaan dan meningkatkan kapasitas produksi yang akhirnya akan memperbesar tingkat kesempatan kerja. Sebagai contoh: Program PNPM yang harus dibenahi dan lebih ditingkatkan sehingga dapat memperbesar tingkat penyerapan tenaga kerja, dan juga pada sektor


(3)

67

pertanian karena dengan memperluas sektor pertanian maka peluang untuk memperbesar tingkat kesempatan kerja juga meningkat dengan kata lain jika sektor pertanian meningkat maka permintaan akan barang meningkat dan produksi meningkat sehingga berdampak pada peningkatan kesempatan kerja. Meningkatkan infrastruktur dengan memanfaatkan dana APBD dengan menyediakan barang publik yang diarahkan ke berbagai sektor pembangunan, program-program pemerintah sehingga mampu menstimulan perkembangan kesempatan kerja.

2. Untuk investasi swasta diharapkan pemerintah lebih dapat menciptakan peluang yang dapat menggairahkan investasi swasta karena investasi sektor swasta lebih banyak memiliki potensi dalam menciptakan kesempatan kerja dan hendaknya pemerintah terus mendorong pertumbuhan investasi tersebut lebih ke arah bersifat padat karya. Dengan semakin meningkatnya investasi swasta, perusahaan-perusahaan swasta akan memperbesar hasil produksinya ataupun tercipta perusahaan baru yang mana tenaga kerja pun akan semakin banyak dibutuhkan sehingga lapangan usaha menjadi terbuka yang pada akhirnya meningkatkan kesempatan kerja itu sendiri. Sehingga akan memperkecil tingkat penganguran dan tingkat kemiskinan di Provinsi Lampung.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta : BPFE UGM.

Awat, N. (1995). Metode Statistika dan Ekonometri . Yogyakarta : Liberty. Badan Penanaman Modal Daerah Provinsi Lampung 2003-2012. BPMD Provinsi

Lampung.

BPS Privinsi Lampung . 2012 . Lampung Dalam Angka 2012 . Lampung . Deliarnov. 1995.Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta: Universitas Indonesia. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi 2003-2012. Angkatan Kerja 2012 .

Disnaker Trans Provinsi Lampung.

Dumairy . 1997 .Perekonomian Indonesia. Jakarta : Erlangga. Grafindo Persada .

Ehrenberg,Smith . 1994. Modern labor economics: Theory and public policy.HarperCollins College Publishers (New York).

Gujarati, Damodar. 1995. Basic Econometric.Mc Graw-Hill.

Gujarati, N.D. 2006. Basic Econometrics . 4 th ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc. Jakarta. Salemba empat .

Gunawan, Ari . 2006. Pengaruh Produksi Total dan Investasi Terhadap Kesempatan Tenaga Kerja. Skripsi. Udayana.

Hendarmin . (2008) .” Pengaruh Belanja Modal Daerah dan Investasi Swasta Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kesempatan Kerja dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Barat”.

http://repository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/55/Pengaruh %20Belanja%20Modal.pdf?sequence=1 .Universitas Tarumanegara.

Irawan, M. Suparmoko. 1992. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta : BPFE. Jakarta : LPFE-UI.


(5)

69

Kutner, M.H., C.J. Nachtsheim., dan J. Neter. 2004. Applied Linear Regression Models . 4 th ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Lestari, Wafi Ayu . 2011. Pengaruh Jumlah Usaha, Nilai Investasi, dan Upah Minimum terhadap Tenaga kerja pda IKM kabupaten Semarang. Jawa Tengah.

Mankiw, N. Gregory. 2000. Teori Makro Ekonomi. Jakarta : Erlangga . Mangkoesoebroto, Guritno. 1997. Ekonomi Publik. BPFE Jogyakarta.

Muana, Nanga. 2001. Makroekonomi : Teori, Masalah, dan Kebijakan . Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada .

Mulyadi, Subari. 2002. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT Raja Mulyani, Beni.2010.Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Daerah Terhadap

Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kota Metro. Skripsi FE Universitas Lampung. Lampung.

Pramitha Purwanti, Putu Ayu. 2009. Analisis Kesempatan Kerja Sektoral di Kabupaten Bangli dengan Pendekatan Pertumbuhan Berbasis Ekspor. Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Jurnal Ekonomi Pembangunan.Vol. 5, No. 1, 2009, ISSN 1907-3275.

Rustiono, Deddy. 2008. Analisis Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, Dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Jawa Tengah . Tesis. Magister Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan. Sari, Permata Oki . 2007 . Pengaruh Investasi Pemerintah dan Investasi Swasta

terhadap Kesempatan Kerja. Skirpsi. Situs

http://fekool.com/wp- content/uploads/downloads/2012/02/IE-Pengaruh-Investasi-Pemerintah-dan-Investasi-Swasta-Terhadap-Kesempatan-Kerja.pdf. Universitas Udayana. Simanjuntak. 1990. Payaman. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Situmorang, Erlina . 2007 . Analisa Kebijakan Investasi dan Ketenagakerjaan di

Provinsi Papua Barat. Papua Barat.

Sukirno, Sadono . 2004. Teori Pengantar Makro Ekonomi . Jakarta. Raja Grafindo Persada .

Sukirno,Sadono .2004 . Teori Pengantar Mikro Ekonomi . Jakarta . Raja Grafindo Persada .

Sunan,Muamil Astuti Endang.2009.dengan judul “Analisis Investasi, Pengeluaran Pemerintah, dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kesempatan Kerja di provinsi Nusa Tenggara


(6)

Barat.http://www.google.co.id/#q=teori+investasi+pemerintah+terhadap+kese mpatan+kerja .Universitas Sumatera Utara.

Suparmoko, M . 2002.Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek .Yogyakarta. BPFE Yogya.

Tambunan, Tulus. 2001. Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran. Cetakan Pertama. Jakarta : LPFE-UI.

Todaro, 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jilid I, Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga.

Universitas Lampung . 2009 . Format Penulisan Karya Ilmiah . Universitas Lampung .

Wibowo, Prasetiyo Budi. 2011 . Pengaruh Modal dan Tenaga Kerja Terhadap Perkembangan Ekonomi di Provinsi Lampung. Skripsi FEB Universitas Lampung .

Widarjono, Agus . 2008 . Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya . Jakarta. Erlangga .

Yusuf, Muhammad Arif. 2008. Analisis Pengaruh Investasi, Inflasi, Pengeluaran Pemerintah, Penawaran Uang Dan Ekspor Terhadap Pertumbuhan

Ekonomi Indonesia Tahun 1981-2006. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.