ANALISIS HUBUNGAN BELANJA INFRASTRUKTUR TERHADAP INVESTASI SWASTA (PMA DAN PMDN) DI PROVINSI LAMPUNG

ABSTRAK
ANALISIS HUBUNGAN BELANJA INFRASTRUKTUR TERHADAP
INVESTASI SWASTA (PMA DAN PMDN) DI PROVINSI LAMPUNG

Oleh
DENDI WAHYUDI

Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan belanja infrastruktur (jalan,
irigasi, dan jaringan) terhadap investasi swasta (PMA dan PMDN) di Provinsi
Lampung pada tahun 2004 – 2011. Penelitian ini menggunakan alat analisis
koefisien korelasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa belanja infrastruktur
berkorelasi positif secara erat dan signifikan terhadap investasi swasta di Provinsi
Lampung. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan belanja infrastruktur diikuti juga
dengan kenaikan investasi swasta. Namun selama periode tahun 2004 – 2011
investasi di Lampung mengalami fluktuasi. Hal tersebut dikarenakan oleh
beberapa faktor, yakni: Pertama, Lampung termasuk daerah yang terkena dampak
krisis global. Kedua, karena kondisi infrastruktur belum sepenuhnya menunjang.
Dan ketiga, kebijakan nasional yang belum optimal penerapannya di Provinsi
Lampung.

ABSTRACT
ANALYSIS CORRELATION OF INFRASTRUCTURE EXPENDITURE TO
PRIVATE INVESTMENT (PMA AND PMDN)
IN THE LAMPUNG PROVINCE

By
DENDI WAHYUDI

This study aims to analyze the correlation between infrastructure spending (roads,
irrigation, and networking) to private investment (domestic and foreign) in
Lampung Province in the year 2004 to 2011. This study uses correlation
coefficient analysis tool. The research concludes that infrastructure spending is
closely correlated positive and significant impact on private investment in the
province of Lampung. This means that any increase in spending on infrastructure
followed by the increase in private investment. However, during the period 2004 2011 investment in Lampung fluctuated. This is due to several factors, namely:
First, Lampung including areas affected by the global crisis. Second, because the
condition is not fully supporting infrastructure. And third, the national policy is
not optimal application in Lampung province.

Kementerian Pendidikan Nasional
Fakultas Ekonomi Universitas Lampung
Jl. Soemantri Brojonegoro No.01
Bandar Lampung

ANALISIS HUBUNGAN BELANJA INFRASTRUKTUR TERHADAP
INVESTASI SWASTA (PMA DAN PMDN) DI PROVINSI LAMPUNG

(Skripsi)

Oleh
Nama
NPM
Konsentrasi
Pembimbing I
Pembimbing II

: Dendi Wahyudi
: 0811021024
: Ekonomi Publik dan Fiskal
: H. Moneyzar Usman, S.E., M.Si.
: Asih Murwiati, S.E., M.E.

Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
Bandar Lampung
2013

Judul Skripsi

: ANALISIS HUBUNGAN BELANJA
INFRASTRUKTUR TERHADAP INVESTASI
SWASTA (PMA DAN PMDN) DI PROVINSI
LAMPUNG

Nama Mahasiswa

: Dendi Wahyudi

Nomor Pokok Mahasiswa : 0811021024
Jurusan

: Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Fakultas

: Ekonomi

MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing
Pembimbing Utama

Pembimbing Pembantu

H. Moneyzar Usman, S.E., M.Si.
NIP 196006211986031002

Asih Murwiati, S.E.,M.E.
NIP 197404102008122001

2. Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Muhhamad Husaini, S.E., M.E.
NIP 196012201989031004

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua

: H. Moneyzar Usman, S.E., M.Si.

Sekretaris

: Asih Murwiati, S.E., M.E.

Penguji
Bukan Pembimbing

: Muhiddin Sirat, S.E., M.P.

Dekan Fakultas Ekonomi

Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si.
NIP 196109041987031011
Tanggal Lulus Ujian Skripsi : 2 Januari 2013

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISM
“Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi ini telah
ditulis dengan sungguh-sungguh dan tidak merupakan penjiplakan hasil karya
orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar
maka saya sanggup menerima hukuman/sanksi peraturan yang berlaku.”

Bandar Lampung, 1 Februari 2013
Penulis,

Dendi Wahyudi

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 6 Januari 1991 di Teluk Betung, Bandar
Lampung. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari Bapak
Syam’un Umar dan Ibu Tarmini Triyanti.

Penulis mengenyam pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah
Dasar di SD Tamansiswa Teluk Betung dari tahun 1995 sampai 2002. Pada tahun
2002, penulis melanjutkan di SMP Negeri 9 Bandar Lampung. Selanjutnya
penulis melanjutkan di SMA Negeri 8 Bandar Lampung pada tahun 2005. Pada
tahun 2008 hingga sekarang penulis terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Ekonomi
Pembangunan melalui jalur tes SNM PTN.

Penulis mengikuti beberapa organisasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas
Lampung. Lembaga kemahasiswaan yang pernah diikuti antara lain Himpunan
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (Himepa), Badan Eksekutif Mahasiswa
Fakultas Ekonomi (BEM FE), dan Unit Kegiatan Mahasiswa Radio Kampus
Universitas Lampung (UKM Rakanila). Penulis pernah dipercaya menjabat
sebagai Direktur (ketua) UKM Rakanila periode 2010-2011. Penulis pernah
berhasil menjuarai beberapa kali kejuaraan futsal dan pernah mendapat juara II
lomba debat ekonomi syariah pada tahun 2012.

HALAMAN MOTTO

 Tak ada rahasia untuk menggapai sukses.
Sukses itu terjadi karena persiapan, kerja keras,
dan mau belajar dari kegagalan.
(Generall Collin Powell)

 Yang berbahaya bukanlah orang yang memiliki impian lalu gagal,
Namun yang berbahaya adalah orang yang tidak memiliki impian,
lalu berhasil.
(Deddi Corbuzier)



Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya;

hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu,
tetapi dibalas dengan buah.
(Abu Bakar Sibli)

Kupersembahkan kerja kerasku ini dalam rangka
meraih ridha Allah SWT.
Dan aku dedikasikan karya sederhanaku untuk:

Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan
kasih sayang dengan tulus dan ikhlas.
Kakak, adik, serta keluarga yang selalu mendukungku.
Semua sahabat dan teman-teman seperjuanganku di
Jurusan Ekonomi Pembangunan dan UKM Rakanila yang
selalu memberi dukungan dan dorongan motivasi yang
sangat luar biasa.

SANWACANA

Assalamualaikum, Wr.Wb.
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan Rahmat
dan Hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Skripsi dengan judul “Analisis Hubungan Belanja Infrastruktur Terhadap
Investasi Swasta (PMA dan PMDN) di Provinsi Lampung” adalah salah satu
syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi di Universitas Lampung.

Selama penelitian ini, penulis tidak akan bisa menyelesaikan penelitian ini dengan
baik tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. H. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

2.

Bapak M. Husaini, S.E.,M.Si. selaku ketua jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan.

3.

Bapak H. Moneyzar Usman, S.E., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi
atas kesediaan memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses
penyelesaian skripsi ini.

4.

Ibunda Asih Murwiati,S.E.,M.E. selaku dosen pendamping skripsi. Terima
kasih atas bimbingan, saran, serta motivasinya sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.

5.

Ibu Dr. Dorothy Rouly Pandjaitan, S.E., M.Si. selaku pembimbing akademik.

6.

Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi terutama di lingkungan jurusan
Ekonomi Pembangunan; Pak Muhiddin, Pak Yoke, Pak Sahala, Pak Toto, dan
seluruh dosen FEB yang telah berjasa mencerdaskan anak bangsa.

7.

Staff dan karyawan di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Bu Mar,
Bang Herman, Mbak Mimi, Pak De jajan, dll. yang telah membantu saya
dalam proses administrasi.

8.

Keluarga angkatan-8 Rakanila tercinta; Rosta, Tinus, Lindy, Iin, Ayu Karung,
Listya, Grace, Aci, Jem, Iman, Daffy, Vera, Chiko. Kebersamaan membuat
kita semakin kuat, jadi jangan biarkan kebersamaan ini lekang oleh waktu.

9.

Teman-teman EP ’08; Ocy langsing, Denny macho, Eva kecil, Edo kurus,
Apri muda, Ajo ceking, Adit cungkring, Dioda, Dwi, Indra Cina, Iduy, Indra
Ahmady, Annisa, Angga, Cnul, Tama, Icha, Faheri, Kartika, Agil, Aldi, Andi,
Elza, Febry, Irva, Prima, Nanda, Em, Odi, Saut, Tina, Ve, Pupu, Dian,
Apyudi, Ratih, Selly, Indri, Komeng, Cumi, Priya, Fiqih, Finny, Novi,
Wayan, Ivo, Nasir, Nurkholis, Fadli, Ferly, Melisa, Tegar, Eka, Desi, Nice,
Gista, Amel. Terima kasih atas cerita manis yang telah kita torehkan bersama.
Kalian tidak akan pernah menjadi mantan teman saya.

10. Teman susah, teman nakal, teman segala-galanya, My best partner, Ade
‘odoy’ Wahyudi. Terima kasih buat semuanya.

11. Partner skripsi; Ocy, Indra Cina sang master eviews, Dioda, Ajo, Dwi, Tinna,
Kartika, dan Sonia. Terima kasih sudah mau direpotkan.
12. Teman begadang bola, teman main PES, dan teman futsal; Bobby, Ongki,
Yanto, Odoy, dan Aldi. Salam respect untuk semuanya.
13. Stare Insieme; Edo, Jisung, Denny, Tama, Iduy, Apri, Reza, Fikri, Idiyus,
Indra A, Angga, Agil, Irva, Aldi.
14. Adik-adik angkatan 9, 10, 11 Rakanila; Risma, Kris, Yunika, Wahyu, dkk
(angkatan 9), Fais, Eka, Nadia, Rini, Yoan, dkk (angkatan 10), Jaya, Sakti,
Sonia, Gomgom, Bayu, Dyanti, dkk. (angkatan 11). Semoga terus membawa
Rakanila menjadi lebih baik lagi...
15. Senior Rakanila; Bang levi, Mba Vita, Kak Igo, Kak Mbi, Mba Farah, Bang
Fajar, Kak Adi, Kak Guntur, Kak Erwin, Kak Heri, dll.
16. Kakak-kakak dan Adik-adik EP; Pandi Oka, Sena, Thomas, dkk. (EP 07),
Onyeng, Bukit, Makro, dkk. (EP 09). Dimas, Dede, Echy, Ajeng, Sonia, dkk.
(EP 10), dan adik-adik EP 2011 dan 2012.
17. La Beneamata, Sonia Anggun Andini.
18. Dan almamater ku tercinta, Universitas Lampung.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari
kesempurnaan. Namun penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat
bagi penulis secara pribadi maupun bagi pembaca.
Bandar Lampung, 19 Desember 2012
Penulis,

Dendi Wahyudi

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ....................................................................................................i
DAFTAR TABEL .............................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................v
I. PENDAHULUAN .........................................................................................1
A. Latar Belakang ........................................................................................1
B. Permasalahan ...........................................................................................15
C. Tujuan Penelitian .....................................................................................15
D. Kerangka Pemikiran ................................................................................16
E. Hipotesis ..................................................................................................18
F. Sistematika Penulisan ...............................................................................18
II. TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................20
A. Tinjauan Teoritik .....................................................................................20
1. Teori Investasi .....................................................................................20
2. Kebijakan Fiskal ..................................................................................22
3. Pengeluaran Pemerintah .......................................................................25
a. Teori Makro ....................................................................................26
1. Model Pembangunan Tentang Perkembangan Pengeluaran
Pemerintah .................................................................................26
2. Teori Wagner ..............................................................................27

ii

3. Teori Peacock dan Wiseman .......................................................29
b. Teori Mikro .........................................................................................31
4. Fungsi Pemerintah ...............................................................................32
a. Fungsi Alokasi ...................................................................................33
b. Fungsi Distribusi ...............................................................................35
c. Fungsi Stabilisasi ...............................................................................36
5. Teori Barang Publik .............................................................................36
a. Teori Pigou ......................................................................................37
b. Teori Bowen ....................................................................................39
c. Teori Erick Lindahl .........................................................................39
d. Teori Anggaran ...............................................................................40
6. Pembangunan Jalan Raya Dalam Otonomi Daerah ................................41
B. Tinjauan Empirik .....................................................................................43
III. METODE PENELITIAN ............................................................................47
A. Jenis dan Sumber Data ..........................................................................47
B. Definisi Variabel Operasional ................................................................48
1. Investasi Swasta (PMA dan PMDN) ....................................................48
2. Belanja Infrastruktur ............................................................................48
C. Gambaran Umum Provinsi Lampung ....................................................49
1. Letak dan Kondisi Alam ..................................................................49
2. Potensi Daerah ................................................................................50
3. Perekonomian ..................................................................................50
D. Alat Analisis ..........................................................................................51
E. Metode Analisis ......................................................................................51

iii

1. Analisis Koefisien Korelasi ..............................................................51
2. Uji t Statistik Koefisien Korelasi ......................................................52
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................54
A. Hasil Penelitian dan Analisis ..................................................................54
1. Koefisien Korelasi (r) .......................................................................54
2. Uji t Statistik Koefisien Korelasi .....................................................54
B. Pembahasan ............................................................................................56
1. Implikasi Hasil Penelitian ................................................................56
2. Implikasi Teoritis dan Empiris ..........................................................57
3. Faktor Penghambat Investasi Swasta di Provinsi Lampung ..............59
4. Potensi Investasi di Provinsi Lampung .............................................62
5. Rencana atau Masterplan Untuk Mendukung Investasi di Lampung .66
V. SIMPULAN DAN SARAN ..........................................................................68
A. Simpulan ................................................................................................68
B. Saran ......................................................................................................69
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel

Halaman

1.1

Peringkat Daya Saing Infrastruktur Tahun 2008 dan 2009 ....................4

1.2. Akses dan Stok Infrastruktur ................................................................5
1.3. Indikator dan Capaian Kinerja Misi I ....................................................8
1.4. Faktor-Faktor Penghambat Investasi .....................................................9
1.5. Perkembangan Investasi di Provinsi Lampung Tahun 2004-2011 .........10
1.6. Proyeksi Kebutuhan Investasi Tahun 2009-2014 Dengan Ekspektasi
Perkembangan Moderat (dalam juta rupiah) .........................................11
1.7. Kondisi Ruas Jalan, Status Jalan Provinsi, Desember 2010 ...................12
1.8. Kondisi Ruas Jalan, Status Jalan Provinsi, September 2011 ..................12
1.9. Perkembangan Belanja Infrastruktur Tahun 2004-2011 ........................13
2.1. Ringkasan Empirik ...............................................................................46
4.1. Hasil Koefisien korelasi (r) ...................................................................54
4.2. Hasil Uji t statistik ................................................................................55
4.3. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2008 di Beberapa Negara Dunia ............60
4.4. Tabel Daftar UMP Beberapa Provinsi di Indonesia ...............................65

DAFTAR GAMBAR
Gambar

Halaman

1.1. Bagan Prioritas Nasional Kabinet Indonesia Bersatu II RPJMN 20102014 .....................................................................................................2
1.2. Aspirasi Pencapaian PDB Indonesia .....................................................6
1.3. Bagan Kerangka Pemikiran ..................................................................18
2.1. Kurva Pengeluaran Investasi ................................................................22
2.2. Kurva Kebijakan Fiskal Ekspansioner ..................................................23
2.3. Kurva Kebijakan Fiskal Kontraksioner .................................................24
2.4. Pertumbuhan Pengeluaran Pemerintah Menurut Wagner .....................29
2.5. Kurva Perkembangan Pengeluaran Pemerintah .....................................30
2.6. Penyediaan Dan Pembiayaan Barang Publik Yang Optimal Menurut
Pigou....................................................................................................38
4.1. Uji t statistik .........................................................................................55
4.2. Grafik Perkembangan Belanja Infrastruktur Dengan Investasi ..............56
4.3. Realisasi Penanaman Modal Luar Jawa dan Jawa .................................64

I.

A.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Visi Indonesia 2014 menurut SBY-B (Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono) dalam
buku yang berjudul Membangun Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan
Berkeadilan (2009), adalah terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan
berkeadilan. Misinya adalah melanjutkan pembangunan menuju Indonesia yang
sejahtera, memperkuat pilar-pilar demokrasi, dan memperkuat dimensi keadilan di
semua bidang.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 merupakan
penjabaran dari visi, misi, dan program presiden yang perumusannya didasarkan pada
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025. Arah
pembangunan pemerintah pusat sejak 2004 lalu yakni tertuang dalam triple track
strategy, yaitu pro-growth, pro-job, dan pro-poor. Track pertama adalah
meningkatkan pertumbuhan dengan mengutamakan ekspor dan investasi. Track
kedua adalah menggerakkan sektor riil untuk menciptakan lapangan kerja. Track
ketiga adalah merevitalisasi pertanian, kehutanan, dan ekonomi perdesaan untuk
mengurangi kemiskinan. Berikut merupakan prioritas nasional kabinet Indonesia
Bersatu II RPJMN 2010-2014:

2

Gambar 1.1. Bagan Prioritas Nasional Kabinet Indonesia Bersatu II RPJMN
2010-2014.
1 Reformasi birokrasi dan administrasi
2 Pendidikan
3 Kesehatan
4 Pengurangan Kemiskinan
5 Swasembada Pangan
11 Prioritas Nasional

6 Infrastruktur

2010-2014
7 Investasi dan Iklim Bisnis
8 Energi
9 Lingkungan dan Bencana Alam
10 Daerah tertinggal, daerah perbatasan, daerah
terluar, dan daerah pascakonflik
11 Budaya, Kreativitas, dan Inovasi Teknologi
12 Politik, Hukum, dan Keamanan
Prioritas Lain

13 Ekonomi
14 Kesejahteraan Masyarakat

Sumber: Inpres No. 1/2010 dalam Mudrajad Kuncoro, 2008
Dalam sasaran program ekonomi nasional (2005-2009), salah satu sasaran yang ingin
dicapai adalah peningkatan investasi, khususnya investasi sektor riil. Investasi atau
penanaman modal yang dicapai haruslah memiliki daya saing penanaman modal.
Salah satu ukuran daya saing nasional dalam kancah internasional adalah kemudahan
berusaha – ease of doing business versi Bank Dunia. Bank dunia menggunakan
sepuluh kriteria untuk menentukan peringkat daya saing setiap negara. Kesepuluh
kriteria tersebut adalah: 1) starting a business, 2) dealing with licenses, 3) employing

3

workers, 4) registering property, 5) getting credit, 6) properting investors, 7) paying
taxes, 8) trading across borders 9) enforcing contracts 10) closing a business.
Berdasarkan standar kriteria Bank Dunia tersebut daya saing Indonesia tergolong
masih rendah. Pada 2009, Indonesia berada di peringkat 122 dari 183 negara yang
disurvey. Posisi ini jauh lebih rendah dibanding negara-negara lain sekawasan seperti:
Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. (Renstra Badan Penanaman Modal
Provinsi Lampung, 2009)
Pemerintah juga melakukan pembangunan infrastruktur guna mendukung investasi
yang berdaya saing. Pemerintah berupaya membangun sarana dan prasarana
transportasi, meningkatkan keselamatan transportasi nasional secara terpadu,
meningkatkan mobilitas dan distribusi nasional, membangun transportasi yang
berkelanjutan, membangun transportasi terpadu yang berbasis pengembangan
wilayah, dan sebagainya. Hasil yang dicapai adalah kondisi mantap jalan pada akhir
tahun 2007 mencapai 28.417, 68 km atau sekitar 82%. Kondisi ini telah melampaui
target awal sebesar 81 %. Walaupun demikian, berdasarkan kajian World Economic
Forum (2009), tingkat daya saing (competiveness) infrastruktur Indonesia pada tahun
2008 berada pada peringkat ke-96 dari 134 negara. Posisi Indonesia jauh di bawah
negara-negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan (peringkat ke-18), Malaysia (19),
Thailand (35), China (58). Peringkat daya saing infrastruktur Indonesia tidak jauh
berbeda dengan Vietnam (97). Peringkat Indonesia sedikit membaik pada tahun 2009
dengan menduduki peringkat ke-84. Peringkat daya saing infrastruktur dapat dilihat
pada tabel berikut.

4

Tabel 1.1. Peringkat Daya Saing Infrastruktur Tahun 2008 dan 2009.
Negara

Peringkat 2008

Peringkat 2009

Korea Selatan

18

20

Malaysia

19

27

Thailand

35

41

China

58

66

Brasil

89

81

Indonesia

96

84

Vietnam

97

111

Argentina

84

94

Sumber: World Economic Forum (2008), World Competitiveness Report (2009 –
2010) dalam Mudrajad Kuncoro
Dari perspektif ekonomi, infrastruktur mencakup berikut. Pertama, infrastruktur
transportasi seperti jalan, rel, pelabuhan, bandara. Kedua, infrastruktur ekonomi
seperti bank, pasar, mal, pertokoan. Ketiga, infrastruktur pertanian seperti irigasi,
bendungan, pintu-pintu pengambilan dan distribusi air irigasi. Keempat, infrastruktur
sosial seperti bangunan ibadah, balai pertemuan, dan pelayanan masyarakat. Kelima,
infrastruktur kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, balai pengobatan. Keenam,
infrastruktur energi seperti pembangkit listrik, jaringan listrik, POM bensin. Ketujuh,
infrastruktur telekomunikasi, termasuk BTS, STO, jaringan telepon.
Tabel-tabel berikut ini menunjukkan kondisi akses dan stok infrastruktur Indonesia
dibandingkan dengan negara-negara lain dalam ASEAN+1.

5

Tabel 1.2. Akses dan Stok Infrastruktur.
Negara
Malaysia
Thailand
Filipina
Cina
Indonesia
Vietnam
Kamboja
Laos
Mongola

Akses Suplai
Air Bersih

Akses
Sanitasi

Akses
Listrik

93

Akses
Telepon

Akses
Internet

97

62

34,4

93

98

84

50

11.1

86

83

79

31

4,4

76

39

99

42

6,3

78

55

55

13

3,8

49

25

81

9

4,3

44

22

17

4

0,2

58

30

41

3

0,3

60

30

90

19

5,8

Sumber: Kompas (2009) dalam Mudrajad Kuncoro, 2008
Salah satu indikator dalam pembangunan ekonomi adalah PDB. Dalam Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang
dituangkan dalam Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011, salah satu sasaran yang
ingin dicapai dalam pembangunan nasional tahun 2045 adalah tingkat PDB sebesar
USD15,0 – 17,5 triliun. Hal tersebut mustahil dicapai apabila iklim investasi tidak
terjadi kestabilan dan pertumbuhan yang positif tidak tercapai dengan baik. Maka
sebelum sasaran PDB tersebut dicapai, maka hal yang paling utama harus dilakukan
adalah menggairahkan kegiatan ekonomi serta iklim investasi yang sehat. Berikut
disajikan gambar aspirasi pancapaian PDB di Indonesia hingga tahun 2045
mendatang.

6

Gambar 1.2. Aspirasi Pencapaian PDB Indonesia.

Sumber: Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 32 Tahun 2011
Penggairahan iklim investasi di Indonesia dimulai dengan diundangkannya UndangUndang No. 6/Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Pemberlakuan kedua Undang-Undang ini menyusul tampilnya rezim orde baru
memegang tampuk pemerintahan. Sebelumnya, dalam pemerintahan orde lama,
Indonesia sempat menentang kehadiran investasi dari luar negeri. Ketika itu tertanam
keyakinan bahwa modal asing hanya akan menggerogoti kedaulatan negara. UndangUndang tapi kemudian dilengkapi dan disempurnakan pada tahun 1970. UU
No.6/Tahun 1968 tentang PMDN disempurnakan dengan UU No.12/Tahun 1970.
Perbaikan iklim penanaman modal tak henti-hentinya dilakukan pemerintah, terutama
sejak awal pelita IV atau tepatnya tahun 1984. Melalui berbagai paket kebijaksanaan
deregulasi dan debirokratisasi dilakukan penyederhanaan mekanisme perizinan,
penyederhanaan tata cara impor barang modal, pelunakan syarat-syarat investasi,

7

serta perangsangan investasi untuk sektor-sektor dan di daerah-daerah tertentu.
Dewasa ini kesempatan berinvestasi di Indonesia semakin terbuka, terutama bagi
penanam modal asing. Di samping dalam rangka menarik investasi langsung,
keterbukaan ini sejalan pula dengan era perdagangan bebas yang akan dihadapi mulai
tahun 2020 kelak. (Dadang Firmansyah, 2008)
Sejak diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah, peran daerah
cukup menentukan dalam pembangunan nasional. Tujuan suatu daerah tertuang
dalam suatu visi dan misi. Adapun visi Provinsi Lampung hingga tahun 2014
mendatang (RPJM D II) adalah “Lampung Unggul dan Berdaya Saing Berbasis
Ekonomi Kerakyatan.” Sedangkan Misinya yakni:
1. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi daerah untuk meningkatkan
kesejahteraan.
2. Meningkatkan daya dukung infrastruktur dalam skala tinggi untuk
mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan sosial.
3. Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
4. Mengembangkan masyarakat berbasis IPTEKS.
5. Mengembangkan masyarakat agamis, berbudaya, dan mengembangkan
budaya daerah.
6. Meningkatkan pelestarian SDA dan kualitas lingkungan hidup yang
berkelanjutan.
7. Menegakkan supremasi hukum untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera
dan demokratis.

8

8. Mewujudkan pemerintah yang bersih, berorientasi kemitraan dengan
masyarakat dan dunia usaha, serta bertatakelola baik.
(Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, 2007)
Provinsi Lampung yang merupakan salah satu wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia merupakan salah satu Provinsi yang memiliki potensi yang cukup baik,
terutama potensi pada sumber daya alam. Dilihat dari segi potensi ekonomi, saat ini
Lampung merupakan salah satu Provinsi sebagai lumbung pangan di Indonesia.
(capaian kinerja pembangunan Provinsi Lampung, 2011). Selain itu secara letak
geografis, Provinsi Lampung merupakan wikayah hinterland atau kawasan sekitar ibu
kota Indonesia yaitu Jakarta dan provinsi paling selatan Pulau Sumatera. Dilihat dari
potensi dan letak geografis, maka Provinsi Lampung seharusnya merupakan provinsi
yang banyak diminati oleh penanam modal atau investor untuk melakukan investasi,
terutama investasi sektor riil baik yang berasal dari dalam negeri maupun asing.
Berikut disajikan tabel indikator dan capaian kinerja Provinsi Lampung hingga 2014
mendatang.
Tabel 1.3. Indikator dan Capaian Kinerja Misi 1.
No
1

Indikator Kinerja

Satuan

Capaian Kinerja
2010 2011

2012

2013

2014

Makro daerah
-Pertumbuhan ekonomi

%

5,75

6,3

5,7-6,7

5,8-6,8

5,9-6,9

-Pertumbuhan investasi

%

6

11,9

12,5

13

14,5

%

9,95

4,24

8

7

6

sektor riil
2

Inflasi

Sumber: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, 2007

9

Investasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, berikut merupakan faktor-faktor yang
memengaruhi investasi berdasarkan hasil survey bank dunia:
Tabel 1.4. Faktor-faktor Penghambat Investasi.
No

Faktor-Faktor Penghambat

Persentase

Kendali
Kewenangan

1

Ketidakpastian Pengaturan dan Kebijakan

23 Persen

Pusat

Ekonomi
2

Ketidakstabilan Makro Ekonomi

18 Persen

Pusat

3

Perpajakan

17 Persen

Pusat

4

Keuangan

10 Persen

Pusat

5

Korupsi

10 Persen

Pusat dan Daerah

6

Infrastruktur

9 Persen

Pusat dan Daerah

7

Praktek Anti Persaingan

5 Persen

Pusat dan Daerah

8

Keahlian dan Pendidikan Tenaga Kerja

5 Persen

Pusat dan Daerah

9

Kriminalitas

3 Persen

Pusat dan Daerah

Sumber: Bank Dunia dalam http://riaubisnis.com
Jika diperhatikan faktor-faktor penghambat investasi di atas, maka salah satu
penghambat terjadinya investasi adalah pada faktor infrastruktur dimana kendali
kewenangan ada di pusat dan daerah dengan tingkat persentase sebesar 9%. Variabel
infrastruktur memang bukanlah faktor utama sebagai penghambat investasi swasta.
Namun penulis akan mengangkat variabel infrastruktur dalam penelitian ini karena
seperti yang tertera pada tabel di atas dimana infrastruktur merupakan kendali
kewenangan yang diatur olah pusat dan daerah sehingga daerah juga memiliki peran
dalam hal ini. Selain itu alasan penulis mengambil variabel infrastruktur dikarenakan

10

pada penelitian sebelumnya sudah ada yang melakukan penelitian dengan variabel
infrastruktur. Maka dari hasil penelitian ini bisa membandingkan bagaimana kondisi
dan peran infrastruktur terhadap investasi di Lampung dengan kondisi infrastruktur
terhadap investasi swasta di daerah lain.
Berikut disajikan data investasi swasta di Provinsi Lampung dalam beberapa tahun
terakhir:
Tabel 1.5. Perkembangan Investasi di Provinsi Lampung Tahun 2004-2011.
Tahun

Jumlah Proyek

Nilai Investasi
PMDN (Rp)

Jumlah (Rp)
PMA+PMDN

PMA

PMDN

PMA (US$)

2004

8

2

280.406.939

618.000.000

2.524.280.451.000

2005

14

8

63.498.091

1.440.039.566.000

2.011.522.475.000

2006

10

13

178.282.567

3.763.050.000.000

5.367.593.103.000

2007

13

7

248.283.336

951.356.400.000

3.185.888.424.000

2008

2

7

19.557.747

622.635.916.800

798.655.640.000

2009

17

10

470.530.463

471.430.641.606

5.246.735.268.464

2010

36

53

624.724.659

7.583.944.825.370

13.206.466.756.370

2011

58

92

827.889.065

10.268.952.530.000

17.719.954.115.000

Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Daerah
Provinsi Lampung
Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah investasi di Provinsi Lampung yang berasal
dari PMA dan PMDN di Provinsi Lampung dari tahun 2004 sampai 2011 mengalami
fluktuasi. Perkembangan investasi yang fluktuasi ini membuat penulis ingin
menganalisis lebih lanjut tentang keterkaitan antara belanja infrastruktur dengan
investasi swasta (PMA dan PMDN) di Provinsi Lampung.

11

Adapun proyeksi kebutuhan investasi Provinsi Lampung tahun 2009-2014 dengan
ekspektasi perkembangan moderat adalah sebagai berikut:
Tabel 1.6. Proyeksi Kebutuhan Investasi Tahun 2009-2014 Dengan Ekspektasi
Perkembangan Moderat (dalam juta rupiah).
Tahun

*PDRB

Pertumbuhan

Kebutuhan Investasi

PDRB

ICOR = 3

ICOR = 4

2009

35.567.010

1.497.371

4.492.113

5.989.484

2010

37.002.935

1.494.919

4.484.756

5.979.674

2011

38.438.860

1.491.428

4.474.283

5.965.711

2012

39.874.785

1.491.317

4.473.951

5.965.268

2013

41.310.711

1.487.186

4.461.557

5.948.742

2014

42.746.636

1.487.583

4.462.749

5.950.332

Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Daerah Provinsi
Lampung
Dari tabel tersebut dapat kita lihat bahwa dengan ICOR = 3, kebutuhan investasi
hingga 2014 mendatang adalah sebesar Rp.4,4 Triliun. Sedangkan dengan ICOR = 4,
kebutuhan investasi adalah sebesar Rp.5,9 Triliun. Dengan kebutuhan investasi
demikian, maka akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah setempat untuk
menciptakan iklim investasi yang sehat agar kebutuhan investasi tersebut dapat
tercapai dengan baik.
Untuk menciptakan kondisi perekonomian dan suatu kondisi iklim usaha yang sehat
perlu didukung dengan beberapa faktor. Seperti yang telah disajikan pada tabel 1.4.
dimana faktor utama penghambat investasi adalah kebijakan ekonomi dan kondisi

12

makro ekonomi yang pengaturannya ada di pusat. Selain itu faktor lainnya adalah
infrastruktur dimana kewenangan ada di pusat dan daerah. Oleh karena itu,
pemerintah pusat dan daerah memiliki peran penting terhadap kondisi infrastruktur
dalam menunjang investasi swasta.
Jika dilihat pada realitanya, saat ini infrastruktur di Provinsi Lampung dapat
dikatakan cukup memprihatinkan. Salah satu kondisi infrastruktur yang menjadi
perhatian adalah kondisi infrastruktur transportasi. Berikut merupakan kondisi
infrastrukur transportasi jalan sampai Desember 2010 dan September tahun 2011 di
Provinsi Lampung.
Tabel 1.7. Kondisi Ruas Jalan, Status Jalan Provinsi, Desember 2010.
Kondisi
Jalan

%

Baik

Sedang

Mantap

48,618

33,178

15,440

Tidak
Mantap

51,281

Total (%)

100,00

33,178

15,440

Rusak
Ringan

Rusak
Berat

14,326

36,955

14,326

36,955

Sumber: Dinas Bina Marga Provinsi Lampung
Tabel 1.8. Kondisi Ruas Jalan, Status Jalan Provinsi, September 2011.
Kondisi
Jalan
Mantap
Tidak
Mantap

%

Baik

Sedang

53,58
47,84

37,09

16,49

Total (%)
101,42
37,09
16,49
Sumber: Dinas Bina Marga Provinsi Lampung

Rusak
Ringan

Rusak
Berat

13,60

34,24

13,60

34,24

13

Data tersebut menggambarkan bagaimana kondisi infrastruktur jalan di Provinsi
Lampung. Dapat dilihat pada tabel 1.8, sampai dengan Desember 2010 kondisi jalan
mantap hanya mencapai 48,618%. Walaupun pada September 2011 kondisi jalan
mantap terjadi perbaikan menjadi 53,58%, namun kondisi yang demikian belum
mampu untuk menunjang suatu kondisi infrastruktur jalan yang ideal. Kondisi
infrastruktur tentu tidak lepas dari belanja pemerintah daerah. Berikut merupakan
belanja daerah yang dialokasikan untuk pembangunan dan pemeliharaan
infrastruktur:
Tabel 1.9. Perkembangan belanja infrastruktur tahun 2004 – 2011.
No Tahun

Anggaran

Realisasi

%

1

2004

102.290.933.482

99.146.460.733

96,92

2

2005

154.736.960.474

143.308.139.119

92,61

3

2006

314.327.404.982

281.522.942.568

89,56

4

2007

254.889.019.712

243.775.221.672

95,63

5

2008

221.479.255.005

219.446.571.836

99,08

6

2009

229.538.579.631

227.378.291.794

99,05

7

2010

378.375.812.655

373.874.490.740

98,81

8

2011

445.648.755.500

436.755.916.585

98,01

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) dan Biro Keuangan Provinsi Lampung
Dalam penelitian ini, data yang digunakan untuk dilakukan pengolahan adalah data
realisasi belanja infrastruktur. Belanja infrastruktur yang dimaksud dalam penelitian

14

ini adalah belanja untuk pengadaan dan pemeliharaan infrastruktur berupa jalan,
irigasi, dan jaringan.
Dari penjelasan diatas maka penulis akan melakukan penelitian dengan judul
“Analisis Hubungan Belanja Infrastruktur Terhadap Investasi Swasta (PMA dan
PMDN) di Provinsi Lampung.” Alasan penulis melakukan penelitian ini adalah
penulis ingin menganalisis secara fokus hubungan antara belanja infrastruktur
terhadap investasi swasta di Provinsi Lampung. Dalam penelitian ini, penulis
melakukan analisis melihat bagaimana hubungan belanja infrastruktur terhadap
investasi. Setelah diketahui hasil, penulis juga akan menganalisis faktor-faktor apa
saja yang menghambat investasi di provinsi Lampung.
Berdasarkan hasil survey Bank Dunia, infrastruktur memang bukanlah faktor utama
dalam memengaruhi investasi. Namun penulis ingin menganalisis secara mendalam
keterkaitan antara belanja infrastruktur terhadap investasi swasta di Lampung karena
seperti yang dijelaskan pada tabel 1.4. bahwa kendali kewenangan infrastruktur ada di
pusat dan daerah. Selain itu, variabel belanja sektor infrastruktur juga pernah
dijadikan sebagai variabel yang dimasukkan pada penelitian terdahulu sebagai
variabel yang memengaruhi investasi swasta. Maka hasil dari penelitian ini dapat kita
bandingkan dengan penelitian terdahulu dengan objek lokasi penelitian yang berbeda.

15

B.

Permasalahan

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan bank dunia, dikatakan bahwa salah satu
penghambat masuknya investasi swasta di suatu daerah adalah infrastruktur.
Mudrajad Kuncoro menjelaskan bahwa infrastruktur mencakup infrastruktur
transportasi, infrastruktur ekonomi, infrastruktur pertanian, infrastruktur sosial,
infrastruktur kesehatan, infrastruktur energi, dan infrastruktur telekomunikasi. Supaya
penelitian ini dapat lebih fokus, maka penelitian ini tidak menjawab bagaimana
hubungan semua cakupan infrastruktur tersebut terhadap investasi di Lampung.
Penulis lebih memfokuskan pada belanja infrastruktur yang mencakup jalan, irigasi,
dan jaringan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan
diangkat dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana hubungan belanja sektor infrastruktur (jalan, irigasi, dan jaringan)
terhadap investasi swasta di Provinsi Lampung?
C.

Tujuan Penelitian

Dari latar belakang dan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk:
1.

Menganalisis hubungan belanja infrastruktur (jalan, irigasi, dan jaringan) dengan
investasi swasta di Provinsi Lampung.

2.

Mengukur keeratan dan signifikansi korelasi antara belanja infrastruktur dengan
investasi swasta di Provinsi Lampung.

16

D.

Kerangka Pemikiran

Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan
ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak)
pemerintah. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pendapatan
berupa pajak. Kebijakan fiskal yang diterapkan di Indonesia adalah kebijakan fiskal
ekspansioner (defisit anggaran). Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan
produk domestik bruto dan menurunkan angka pengangguran.
Seperti dijelaskan di awal, belanja atau pengeluaran merupakan instrumen dalam
kebijakan fiskal. Pengeluaran tersebut digunakan untuk membiayai penyelenggaraan
negara dan daerah serta menyediakan belanja dan pelayanan publik. Penyediaan
barang dan jasa publik disediakan oleh pemerintah yang berasal dari APBN dan/atau
APBD pada pos belanja. Dalam penelitian ini, variabel utama yang digunakan adalah
pengeluaran/belanja pemerintah yang merupakan pilar dalam kebijakan fiskal.
Peran pemerintah dalam pembangunan ekonomi salah satunya adalah pada
penyediaan barang dan jasa. Barang yang disediakan oleh pemerintah disebut barang
publik (public goods), sedangkan jasa yang disediakan oleh pemerintah disebut
pelayanan publik. Keduanya disediakan pemerintah agar dapat dikonsumsi oleh
publik tanpa dipungut biaya secara langsung dan siapa saja boleh menggunakannya.
Biaya yang diperoleh untuk menyediakan barang dan jasa publik diperoleh dari pajak
yang dipungut dari masyarakat atau wajib pajak.
Salah satu barang publik yang dapat dinikmati oleh setiap masyarakat adalah
infrastruktur transportasi seperti jalan dan jembatan. Pembangunan infrastruktur

17

merupakan salah satu aspek penting dan vital untuk mempercepat proses
pembangunan nasional. Infrastruktur juga memegang peranan penting dalam
memperlancar kegiatan ekonomi supaya biaya finansial tidak membengkak.
Dampak atas kondisi infrastruktur adalah terciptanya kelancaran dalam mobilitas
masyarakat, mempermudah komunikasi jarak jauh, dan tercipta kondisi keadilan
sosial bagi masyarakat banyak. Peran infrastruktur sebagai pendorong perkembangan
ekonomi adalah pada saat suatu wilayah belum berkembang atau terisolasi.
Sementara peran pendukung dimiliki pada saat suatu wilayah telah terdapat kegiatan
ekonomi, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih kanjut.
Sedangkan bila ekonomi pada suatu wilayah telah berkembang baik, maka
pembangunan infrastruktur akan berperan untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih
lanjut.
Salah satu pilar pendukung untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang baik
adalah investasi swasta, baik investasi dalam negeri maupun investasi asing. Investasi
yang baik dalam suatu daerah akan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat
menyerap tenaga kerja dan menekan laju pengangguran. Selain itu dengan tingkat
investasi yang tumbuh positif, maka pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dapat
tercapai.
Dalam kerangka ini maka infrastruktur mempunyai peranan penting dalam
mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan, pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi dan stabilitas nasional yang sehat, serta dalam jangka

18

panjang terciptanya landasan yang kuat untuk tumbuh dan berkembang atas kekuatan
sendiri menuju kondisi masyarakat yang sejahtera dan merata. Berikut merupakan
bagan kerangka pemikiran penelitian.
Gambar 1.3. Bagan Kerangka Pemikiran.
Pengeluaran
Pemerintah

Kebijakan
Fiskal

E.

Barang
Publik

Infrastruktur
 Jalan
 Irigasi
 Jaringan

Investasi
Swasta

Hipotesis

Berdasarkan penjelasan tersebut maka diduga terdapat hubungan yang positif dan erat
antara belanja infrastruktur dengan tingkat investasi swasta (PMA dan PMDN) di
Provinsi Lampung.
F.

Sistematika Penulisan

Rencana penulisan ini akan dibagi dalam lima bab, yaitu :
BAB I

: Pendahuluan, yang berisikan latar belakang, permasalahan, tujuan
penulisan, kerangka pemikiran dan sistematika penulisan.

BAB II

: Tinjauan Pustaka dan Studi Empiris yang berkaitan dengan
masalah yang sedang diteliti.

BAB III

: Metode Penelitian terdiri atas jenis dan sumber data, alat analisis,
gambaran umum Provinsi Lampung, batasan variabel, dan metode
analisis.

19

BAB IV

: Hasil Penelitian dan Pembahasan.

BAB V

: Simpulan dan Saran.

DAFTAR PUSTAKA

II.

A.

Tinjauan Teoritik

1.

Teori Investasi

TINJAUAN PUSTAKA

Teori ekonomi mengartikan atau mendefinisikan investasi sebagai: pengeluaranpengeluaran untuk membeli barang modal dan peralatan-peralatan produksi
dengan tujuan untuk mengganti dan terutama menambah barang-barang modal
dalam perekonomian yang akan digunakan untuk memproduksi barang dan jasa di
masa yang akan datang. Dengan perkataan lain, investasi berarti kegiatan
perbelanjaan untuk meningkatkan kapasitas produksi suatu perekonomian.
(Sadono Sukirno dalam Hadi Sasana, 2008)
Secara statistik, investasi atau pengeluaran untuk membeli barang-barang modal
dan peralatan produksi, dibedakan menjadi 4 komponen, yaitu: investasi
perusahaan-perusahaan swasta, pengeluaran untuk mendirikan tempat tinggal,
perubahan dalam inventaris (inventory) perusahaan dan investasi yang dilakukan
oleh pemerintah. Tujuan pengusaha untuk mewujudkan alat-alat produksi tersebut
adalah untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan produksi yang dilakukannya
di masa depan. Hal ini berarti investasi yang dilakukan di masa kini sangat erat
hubungannya dengan prospek memperoleh untung di masa depan. Semakin cerah
prospek untuk memperoleh keuntungan yang lumayan di masa depan, semakin

21

tinggi investasi yang dilakukannya pada masa kini (Gunawan dalam Hadi Sasana,
2008).
Dari segi nilai dan proporsinya terhadap pendapatan nasional, investasi
perusahaan tidaklah sebesar pengeluaran konsumsi rumah tangga. Namun
demikian investasi perusahaan peranannya sangatlah penting dibanding konsumsi
rumah tangga. Di berbagai negara, terutama di negara-negara industri yang
perekonomiannya sudah sangat berkembang, investasi perusahaan adalah adalah
sangat “volatile” yaitu selalu mengalami kenaikan dan penurunan yang sangat
besar, dan sebagai sumber penting dari berlakunya fluktuasi dalam kegiatan
perekonomian. Di samping itu, kegiatan investasi memungkinkan suatu
masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja,
meningkatkan pendapatan nasional, dan meningkatkan taraf kemakmuran
masyarakat. Peranan ini bersumber dari tiga fungsi penting kegiatan investasi
dalam perekonomian. Pertama, investasi merupakan salah satu komponen dari
pengeluaran agregat, sehingga kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan
agregat dan pendapatan nasional. Kedua, pertambahan barang modal sebagai
akibat investasi akan menambahkan kapasitas memproduksi di masa depan dan
perkembangan ini akan menstimulasi pertambahan produksi nasional serta
kesempatan kerja. Ketiga, investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi,
perkembangan ini akan memberi sumbangan penting terhadap peningkatan
produktivitas dan pendapatan per kapita masyarakat. (Hadi Sasana, 2008)
Adam Smith (dalam Dadang Firmansyah) menyatakan bahwa investasi dilakukan
karena para pemilik modal mengharapkan untung dan harapan masa depan
keuntungan bergantung pada iklim investasi hari ini dan pada keuntungan nyata.

22

Smith yakin keuntungan cenderung menurun dengan adanya kemajuan ekonomi.
Pada waktu laju pemupukan modal meningkat, persaingan yang meningkat antar
pemilik modal akan menaikkan upah dan sebaliknya menurunkan keuntungan.
Menurut Harrod-Domar pengeluaran investasi (I) tidak hanya mempunyai
pengaruh terhadap permintaan agregat (Z), tetapi juga terhadap penawaran agregat
(S) melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Dalam perspektif waktu
yang lebih panjang ini, I menambah stok kapital (misalnya, pabrik-pabrik, jalanjalan, dan sebagainya). Jadi I = ΔK, dimana K adalah stok kapital dalam
masyarakat. Ini berarti pula peningkatan kapasitas produksi masyarakat dan
selanjutnya berarti bergesernya kurva S ke kanan.
Gambar 2.1. Kurva Pengeluaran Investasi.

P
S0
a

b

S1
Z1
Z0

0

Q

Keterangan:
a : ΔI menggeser Z lewat proses multiplier (jangka pendek)
b : ΔI menggeser S lewat pertambahan kapasitas produksi (jangka panjang)
(Dadang Firmansyah, 2008)
2.

Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal merujuk pada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk
mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa

23

pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang
bertujuan menstabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan
jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran
dan pendapatan berupa pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan
pengeluaran pemerintah dapat memengaruhi variabel-variabel berikut:
 Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi
 Pola persebaran sumber daya
 Distribusi pendapatan

Konsep-konsep Dasar Kebijakan Fiskal:
a.

Kebijakan Fiskal: perubahan-perubahan pada belanja atau penerimaan pajak
pemerintahan pusat yang dimaksudkan untuk mencapai penggunaan tenaga
kerja penuh, stabilitas harga, dan laju pertumbuhan ekonomi yang pantas.

b.

Kebijakan Fiskal Ekspansioner: peningkatan belanja pemerintah dan/atau
penurunan pajak yang dirancang untuk meningkatkan permintaan agregat
dalam perekonomian. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan
produk domestik bruto dan menurunkan angka pengangguran.
Gambar 2.2. Kurva Kebijakan Fiskal Ekspansioner.
Spending

AS

P
AD2
Increase aggregate

AD1

GDP1

GDP2

(sumber: http://id.wikipedia.org)

GDP real

24

c. Kebijakan Fiskal Kontraksioner: pengurangan belanja pemerintah dan/atau
peningkatan pajak yang dirancang untuk menurunkan permintaan agregat
dalam perekonomian. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengontrol
inflasi.
Gambar 2.3. Kurva Kebijakan Fiskal Kontraksioner.
Decrease in
Spending

AS

P1

AD1

P2
Decrease aggregate

AD2
GDP2

GDP1

GDP Real

(sumber: http://id.wikipedia.org)
d. Efek Pengganda: dalam ilmu ekonomi, peningkatan belanja oleh
konsumen,perusahaan atau pemerintah akan menjadi pendapatan bagi pihakpihak lain.Ketika orang ini membelanjakan pendapatannya, belanja
tersebut menjadi pendapatan bagi orang lain dan seterusnya, sehingga
menyebabkan terjadinya peningkatan produksi dalam suatu
perekonomian. Efek pengganda dapat juga berdampak sebaliknya
ketika belanja mengalami penurunan.
e. Kebijakan Fiskal Sisi-Penawaran: kebijakan fiskal dapat secara langsung
memengaruhi bukan saja permintaan agregat, namun juga penawaran agregat.
Sebagai contoh, pemotongan tarif pajak akan memberikan insentif bagi
perusahaan untuk melakukan ekspansi atau investasi barang modal, karena

25

mereka memperoleh pendapatan setelah pajak yang lebih besar yang kemudian
dapat dibelanjakan.
3.

Pengeluaran Pemerintah

Pengeluaran pemerintah merupakan salah satu komponen kebijakan fiskal yang
bertujuan untuk laju investasi, meningkatkan kesempatan kerja, memelihara
kestabilan ekonomi dan menciptakan distribusi pendapatan yang merata melalui
belanja negara baik itu belanja rutin maupun belanja pembangunan Menurut Basri
dan Subri (2003), pengeluaran pemerintah itu sangat bervariasi, namun secara
garis besarnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Pertama, pengeluaran yang
merupakan investasi yang menambah kekuatan dan ketahanan ekonomi dimasa
yang akan datang. Kedua, pengeluaran yang langsung memberikan kesejahteraan
dan kemakmuran masyarakat. Ketiga, Pengeluaran yang merupakan penghematan
terhadap masa yang akan datang. Pengeluaran untuk menyediakan kesempatan
kerja yang lebih luas dan menyebarkan daya beli yang luas.
Sementara oleh Suparmoko (1987) membedakan pengeluaran negara dalam
beberapa macam yakni :
1.

Pengeluaran yang self liquiditing sebagian untuk seluruhnya, artinya
pengeluaran pemerintah akan mendapatkan pembayaran kembali dari
masyarakat yang menerima jasa-jasa/barang-barang yang bersangkutan.

2.

Pengeluaran yang produktif, artinya mewujudkan keuntungan-keuntungan
yang ekonomis bagi masyarakat dimana dengan naiknya tingkat penghasilan
dari sasaran pajak maka pada akhirnya akan menaikkan penerimaan
pemerintah.

26

3.

Pengeluaran yang tidak self liquiditing maupun tidak produktif, yaitu
pengeluaran yang langsung menambah kegembiraan dan kesejahteraan.

4.

Pengeluaran yang secara langsung tidak produktif dan merupakan
pemborosan, misalnya untuk pembiayaan pertahanan atau perang meskipun
pada saat pengeluaran, pada satu sisi terjadi pemborosan namun pada sisi
lain yang menerima mengalami kenaikan pendapatan.

5
Lanjutkan membaca

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

56 1234 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 346 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 285 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

4 197 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 268 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 363 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 331 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 190 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 343 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 385 23