Model Pengelolaan Sumberdaya Udang Penaeidae spp di Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah

(1)

MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA UDANG

PENAEIDAE SPP DI KABUPATEN CILACAP

PROVINSI JAWA TENGAH

Oleh :

TRIONO PROBO PANGESTI

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Model Pengelolaan Sumberdaya Udang

Penaeidae spp di Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juni 2011

Triono Probo Pangesti NIM. C.452070064


(3)

ABSTRACT

Cilacap is one of fishery centers in Indonesia, with one of the common best product is shrimp. Shrimp capture fisheries in Cilacap are majority using trammel net. Nowadays, the actual condition shows that it occured biological degradation on shrimp resources. This marked by production decline on shrimp production. Shrimp production on among 2004-2008 declined on average 7,2%.

To achieve the study goals, the data was analyzed by 4 approaches:

1) Specifying maximum sustainable yields of shrimp resources in Cilacap by bio-economy analysis;

2) Mapping mangrove area in Cilacap by using Geographic Information System Analysis;

3) Reviewing the factors of shrimp production decline by Ishikawa method; 4) Arranging management model by SWOT analysis and Analytic Hierarchy

Process (AHP). SWOT analysis used for arranges the management strategy of shrimp resources. While Analytic Hierarchy Process (AHP) used for support arrangement of some priority from many choices.

This study proved that shrimp production decline is in the line with mangrove area decline. Mangrove area decline influenced toward shrimp population and in the future will cause shrimp production decline.

Considering the significant of mangrove advantages for fish resource sustainability, so strategy for increasing environmental capacity and shrimp resources, as the result on AHP analysis have to be implemented intensively. It is expected by the recovery or better environment capacity, that is mangrove then shrimp population will increase and makes chance to increase shrimp production by fishers.

The most fifth actors that have crucial role on the declination of shrimp landings are government, community, stake holders, non-organizational government, and academics who must be simultaneously work together to run the strategy so can improve the weakness and threat, and also creates achievement on shrimp resources sustainability and the most is shrimp fishery business will be continued and gives benefit to all of parties who involved on shrimp fishery.


(4)

RINGKASAN

Triono Probo Pangesti, NRP. C452070064/SPT. Model Pengelolaan Sumberdaya Udang Penaeidae spp di Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah. Dibawah bimbingan Dr. Ir. Eko Sri Wiyono, M.Si sebagai ketua dan Dr. Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si sebagai anggota.

Cilacap adalah salah satu sentra perikanan di Indonesia. Salah satu produk utamanya adalah udang, dengan hasil tangkapan mayoritas adalah udang

Penaidae spp. Sumberdaya udang Penaidae spp di perairan Cilacap sebagaian besar merupakan jenis udang jerbung (Penaeus merguensis) dan udang dogol (Metapenaeus endevouri dan Metapenaeus ensis) serta mayoritas ditangkap dengan dengan menggunakan trammel net. Namun demikian kondisi aktual saat ini menunjukkan telah terjadi degradasi biologi sumberdaya udang. Hal ini ditandai dengan terjadinya tren penurunan produksi (hasil tangkapan) udang. Produksi udang pada tahun 2004-2008 menurun sebesar rata-rata 6,3%.

Penurunan hasil tangkapan tersebut diduga disebabkan karena terjadinya eksploitasi sumberdaya udang secara besar-besaran dan kerusakan ekologi kawasan pesisir khususnya mangrove. Eksploitasi sumberdaya secara besar-besaran atau intensitas penangkapan yang sangat tinggi menyebabkan laju pertumbuhan biologi menurun karena menyempitnya kesempatan udang untuk berkembang biak. Sedangkan kerusakan mangrove disebabkan oleh pengurangan dan konversi. Hal tersebut diduga disebabkan oleh: 1) kebutuhan lahan untuk perumahan akibat pertumbuhan penduduk dan kebutuhan lahan untuk pengembangan ekonomi yaitu untuk industri, pariwisata, pertanian dan perikanan budidaya; 2) pencemaran perairan yang berasal dari limbah buangan industri, limbah aktifitas pariwisata, limbah rumah tangga, limbah pertanian dan limbah perikanan budidaya; 3) tata guna atau tata ruang kawasan pesisir yang tidak melindungi mangrove.

Kondisi tersebut bila tidak ditangani dengan baik, tentunya akan merugikan nelayan dan mengganggu keberlanjutan perikanan udang. Untuk itu maka perlu diformulasikan suatu strategi pengelolaan sehingga kerusakan dapat dihentikan dan kondisi perikanan udang dapat diperbaiki. Dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan: 1) berapakah potensi lestari maksimum sumberdaya udang di Cilacap?; apa yang menyebabkan penurunan hasil tangkapan udang di Cilacap?; 2) apa yang diperlukan dalam memperbaiki perikanan udang di Cilacap?; (3) dimanakah lokasi sebaran mangrove di Cilacap? Penelitian ini dilakukan di Cilacap untuk tujuan menyusun strategi pengelolaan perikanan udang di Cilacap. Secara rinci penelitian ini bertujuan: 1) menentukan potensi lestari maksimum sumberdaya udang di Cilacap; 2) menyusun peta kawasan mangrove di Cilacap; 3) menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan hasil tangkapan udang di Cilacap; 4) menyusun strategi pengelolaan sumberdaya udang di Cilacap;

Untuk mencapai tujuan penelitian, data telah dianalisis dengan empat pendekatan:

1) Menentukan potensi lestari maksimum sumberdaya udang di Cilacap dengan analisis bio-ekonomi. Model bio-ekonomi menggunakan model Gordon-Schaefer.

2) Menyusun peta kawasan mangrove di Cilacap dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).

3) Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan hasil tangkapan udang dengan metode Ishikawa. Melalui metode ini telah dicari faktor-faktor yang menjadi penyebab penurunan hasil tangkapan udang di Cilacap.


(5)

4) Menyusun model pengelolaan dengan menggunakan Analisis SWOT dan

Analytic Hierarchy Process (AHP). Analisis SWOT digunakan untuk menyusun strategi pengelolaan sumberdaya udang. Sedangkan Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menyusun suatu prioritas strategi.

Hasil analisis biologi menunjukkan bahwa nilai potensi lestari maksimum udang (MSY) adalah sebesar 955.493,34 kg/tahun. MSY tersebut akan diperoleh pada saat upaya penangkapan sebesar 55.014,68 trip. Berdasarkan analisis bio-ekonomi menunjukkan bahwa nilai potensi bio-ekonomi lestari maksimum (MEY) adalah sebesar 926.973,78 kg/tahun. Nilai MEY tersebut akan diperoleh pada saat upaya penangkapan sebesar 45.510,03 trip.

Berdasarkan citra satelit tahun 2005, 2007 dan 2009, diolah menjadi peta liputan lahan Cilacap tahun 2005, peta liputan lahan Cilacap tahun 2007 dan peta liputan lahan Cilacap tahun 2009. Berdasarkan ketiga peta tersebut diperoleh luasan kawasan mangrove yaitu: tahun 2005 seluas 14.502,55 Ha; tahun 2007 seluas 9.326,71 Ha; dan tahun 2009 seluas 2.618,78 Ha.

Hasil analisis dengan menggunakan diagram tulang ikan (Ishikawa) terhadap permasalahan penurunan hasil tangkapan udang di Cilacap, menunjukkan bahwa ada 5 (lima) sebab utama atau faktor yang menyebabkannya, yaitu: sumberdaya manusia nelayan, kapal dan alat tangkap, populasi udang, metode penangkapan dan mangrove.

Berikut adalah akar sebab dari permasalahan penurunan hasil tangkapan udang yaitu:

1) Sumberdaya manusia nelayan:

(1) Kurangnya partisipasi nelayan untuk menjaga sumberdaya udang dan mangrove. Hal ini disebabkan penyuluhan yang tidak intensif.

(2) Manfaat ekonomi usaha penangkapan rendah. Hal ini disebabkan karena nilai ekonomi hasil tangkapan udang tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup nelayan.

2) Kapal dan alat tangkap:

(1) Jumlah armada kapal penangkap udang yang terus bertambah. Penambahan tersebut karena bertambahnya kapal lokal dan kapal dari luar Cilacap.

(2) Alat tangkap yang terus bertambah dari sisi ukuran maupun jumlahnya. Ukuran alat tangkap semakin besar dan jumlah alat tangkap juga semakin bertambah.

3) Populasi udang:

(1) Jumlah populasi udang semakin menurun akibat tekanan penangkapan yang tinggi.

(2) Pertumbuhan udang terganggu, sebagai akibat dari penangkapan yang turut menangkap induk dan anakan udang (nener).

4) Metode penangkapan:

(1) Pengaturan waktu tangkap tidak diatur. Waktu penangkapan idealnya diatur untuk memberikan kesempatan udang agar berkembang biak.

(2) Jumlah upaya (trip) penangkapan tidak dikendalikan. Upaya penangkapan idealnya diatur agar efektif, efisien dan tetap menguntungkan.

5) Mangrove:

(1) Konservasi lahan mangrove untuk lahan industri, pertanian, perikanan budidaya dan perumahan.

(2) Pencemaran perairan di lokasi mangrove sebagai akibat aktifitas industri, pariwisata, rumah tangga, pertanian dan perikanan budidaya yang membuang limbah, pupuk dan bahan-bahan kimia yang mencemari perairan.

(3) Penebangan mangrove untuk dijual sebagai kayu bakar maupun dibuat arang.


(6)

Perumusan strategi pengelolaan sumberdaya udang, telah dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT. Aktor yang paling berperan dalam permasalahan penurunan hasil tangkapan udang adalah:

1) Pemerintah, sebagai aktor yang paling berpengaruh terhadap penyusunan dan penerapan kebijakan;

2) Masyarakat, yaitu nelayan penangkap udang, dan masyarakat umum yang berinteraksi langsung dengan lingkungan dan mangrove;

3) Pelaku usaha, yaitu pemilik kapal, pengusaha perbekalan, pembeli dan pemasar udang hasil tangkapan, dan pengusaha pengolahan udang;

4) Lembaga Swadaya Masyarakat, sebagai lembaga kontrol sosial terhadap kebijakan maupun kegiatan yang terkait dengan sumberdaya udang maupun sumberdaya alam yang mendukungnya;

5) Akademisi, sebagai pihak yang berperan meneliti sumberdaya maupun kebijakan yang disusun dan diterapkan pemerintah.

Berdasarkan faktor IFAS dan EFAS (Internal/External Factor Analysis Summary) yang berhasil dibangun menghasilkan matriks SWOT dan kemudian dapat disusun strategi penyelesaian masalah dari masing-masing komponen SWOT. Strategi tersebut dihasilkan dari perbandingan nilai kuantitatif pembobotan antara kekuatan dengan peluang (SO), kelemahan dengan peluang (WO), kekuatan dengan ancaman (ST), dan kelemahan dengan ancaman (WT).

Berdasarkan hasil analisis SWOT, maka selanjutnya dipilih strategi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada yaitu: (1) Strategi penegakkan hukum; (2) Strategi pengelolaan perikanan tangkap udang terpadu; (3) Strategi pengembangan ekonomi masyarakat pesisir; (4) Strategi peningkatan daya dukung lingkungan dan sumberdaya udang; (5) Strategi rehabilitasi mangrove dan ekosistem perairan.

Berdasarkan hasil analisis AHP, maka urutan prioritas strategi pengelolaan sumberdaya udang di Cilacap adalah : (1) Strategi peningkatan daya dukung lingkungan dan sumberdaya udang; (2) Strategi rehabilitasi mangrove dan ekosistem perairan; (3) Strategi penegakkan hukum; (4) Strategi pengelolaan perikanan tangkap udang terpadu; (5) Strategi pengembangan kawasan ekonomi masyarakat pesisir.

Upaya mengatasi permasalahan penurunan hasil tangkapan udang berdasarkan analisis hierarki yang digunakan diperoleh rekomendasi strategi sebagai berikut:

1) Strategi peningkatan daya dukung lingkungan dan sumberdaya udang:

(1) Pembangunan kawasan hutan mangrove menjadi kawasan wisata mangrove;

(2) Pengamanan (sterilisasi) hutan mangrove sebagai nursery ground udang dari kegiatan penangkapan udang;

(3) Pengamanan (sterilisasi) perairan dari pencemaran; (4) Pengaturan selektifitas udang yang ditangkap;

(5) Penyuluhan kepada nelayan dan masyarakat pesisir secara intensif tentang pentingnya mangrove bagi kelestarian sumberdaya udang.

2) Strategi rehabilitasi mangrove dan ekosistem perairan:

(1) Penyelenggaraan kegiatan penanaman kembali (reboisasi) mangrove pada lokasi yang kerusakannya cukup parah;

(2) Pelatihan dan pemberdayaan kepada masyarakat lokal untuk pengamanan hutan mangrove;

(3) Pengelolaan perairan dengan baik dan ramah lingkungan terutama dari aktifitas industri yang merusak dan mencemari ekosistem perairan.

3) Strategi Penegakan hukum:

(1) Penegakkan hukum pada pencemaran perairan di sekitar hutan mangrove; (2) Penegakkan hukum pada usaha perikanan tangkap udang yang dilakukan


(7)

(3) Penegakkan hukum pada kegiatan perikanan tangkap yang tidak ramah lingkungan;

(4) Penegakkan hukum pada kegiatan penebangan liar hutan mangrove;

(5) Pengontrolan terhadap dokumen tata guna lahan di sekitar hutan mangrove.

4) Strategi pengelolaan perikanan tangkap udang terpadu: (1) Pengaturan jumlah upaya penangkapan;

(2) Pengaturan ukuran mata jaring;

(3) Pembatasan dan pelarangan jenis alat tangkap; (4) Pembatasan kapal ikan;

(5) Penerapan pajak izin penangkapan; (6) Penerapan sistem pembatasan produksi; (7) Penerapan sistem zonasi penangkapan udang.

5) Strategi pengembangan kawasan ekonomi masyarakat pesisir:

(1) Penyuluhan masyarakat terkait diversifikasi usaha perikanan sehingga masyarakat mulai beralih dari usaha perikanan tangkap menjadi usaha perikanan budidaya;

(2) Mempersiapkan komoditas, sarana dan prasarana budidaya yang sesuai dan ramah lingkungan bagi pengembangan perikanan budidaya di Kabupaten Cilacap;

(3) Pengembangan ekonomi masyarakat dengan pola kredit usaha rakyat dari perbankan maupun pemerintah dengan bungan sangat rendah maupun yang tanpa bunga.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

1) Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan sumberdaya udang yang baik, lestari dan berkelanjutan adalah: (1) Sumberdaya manusia nelayan; (2) Kapal dan alat tangkap; (3) Mangrove; (4) Metode penangkapan; (5) Populasi udang. 2) Strategi pengelolaan sumberdaya udang terdiri dari: (1) Strategi peningkatan

daya dukung lingkungan dan sumberdaya udang; (2) Strategi rehabilitasi mangrove dan ekosistem perairan; (3) Strategi penegakkan hukum; (4) Strategi pengelolaan perikanan tangkap udang terpadu; (5) Strategi pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.

Selanjutnya, prioritas strategi peningkatan daya dukung lingkungan dan sumberdaya udang dilakukan dengan cara:

(1) Pembangunan kawasan hutan mangrove menjadi kawasan wisata mangrove;

(2) Pengamanan (sterilisasi) hutan mangrove sebagai nursery ground udang dari kegiatan penangkapan udang;

(3) Pengamanan (sterilisasi) perairan dari pencemaran; (4) Pengaturan selektifitas udang yang ditangkap;

(5) Penyuluhan kepada nelayan dan masyarakat pesisir secara intensif tentang pentingnya mangrove bagi kelestarian sumberdaya udang.

Beberapa hal yang menjadi saran dari penelitian ini adalah:

1) Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Cilacap, keberadaan kawasan sentra produksi perikanan (KSP) terpadu, kawasan mangrove, kawasan industri dan kawasan pemukiman perlu diselaraskan pengalokasiannya sehingga dapat saling menunjang secara positif dan meminimalkan dampak negatifnya.

2) Kebijakan pemerintah daerah harus memperhatikan berbagai permasalahan dalam pengelolaan sumberdaya udang sehingga pada implementasi pembangunan daerah tidak berdampak negatif pada sumberdaya udang, dan jika memungkinkan dimasukan dalam renstra daerah.


(8)

© Hak Cipta Milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2011 Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam Bentuk apa pun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya


(9)

MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA UDANG

PENAEIDAE SPP DI KABUPATEN CILACAP

PROVINSI JAWA TENGAH

Oleh :

TRIONO PROBO PANGESTI

Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Sains

Mayor Sistem dan Pemodelan Perikanan Tangkap Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


(10)

(11)

JUDUL TESIS : MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA

UDANG PENAEIDAE SPP DI KABUPATEN

CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH

NAMA MAHASISWA : TRIONO PROBO PANGESTI NO. MAHASISWA : C.452070064

MAYOR : Sistem dan Pemodelan Perikanan Tangkap DEPARTEMEN : Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Menyetujui: 1. Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Eko Sri Wiyono, M.Si Dr. Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si

Ketua Anggota

2. Ketua Program Studi Teknologi 3. Direktur Sekolah Pasca

Kelautan Sarjana IPB

Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Agr


(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 8 Maret 1975. Pendidikan Sekolah Dasar pada SDN Banteran I Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas diselesaikan pada tahun 1986, Pendidikan Sekolah Menengah Pertama pada SMPN I Wangon Kabupaten Banyumas, Pendidikan Sekolah Menengah Atas pada SMAN I Purwokerto Kabupaten Banyumas. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta dan selesai Program Diploma IV pada tahun 1996. Pada tahun 2006 Penulis melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan Sarjana S1 pada Universitas Satya Negara Indonesia dan selesai pada tahun 2007.

Penulis bekerja pada beberapa perusahaan swasta dari tahun 1996 s.d. 1998. Penulis juga berwirausaha dari tahun 1996 sampai sekarang. Tahun 1998-1999 Penulis bekerja pada Pelabuhan Perikanan Nusantara Cilacap (sekarang Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap). Tahun 1999-2001 Penulis bekerja pada Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. Tahun 2001 sampai sekarang Penulis bekerja pada Pusat Data, Statistik dan Informasi (PUSDATIN) Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Penulis melanjutkan pendidikan jenjang Strata-2 (S2) Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, pada Program Studi Sistem Teknologi Kelautan, Mayor Sistem dan Pemodelan Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan pada tahun 2008 dan selesai pada tahun 2011.


(13)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga Penulis dapat menyelesaikan kuliah sampai dengan penelitian dan tesis ini. Penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Eko Sri Wiyono, M.Si selaku ketua komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan sejak perencanaan penelitian, pelaksanaan penelitian, penulisan hingga penyelesaian tesis ini.

2. Ibu Dr. Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan sejak perencanaan penelitian, pelaksanaan penelitian, penulisan hingga penyelesaian tesis ini.

3. Bapak Dr. Ir. Sugeng Hari Wisudo, M.Si yang bersedia menjadi dosen penguji tesis.

4. Bapak Prof. Dr. John Haluan, M.Sc sebagai ketua program studi yang selalu memberikan semangat dari kuliah sampai dengan penyelesaian tesis ini.

5. Bapak Justiar Noer, Bapak Saifuddin Mohalisi dan Sdr. Irwan Fakhry yang telah memberikan dukungan moral sekaligus rekan diskusi sehingga Penulis dapat menyelesaikan penelitian dan tesis ini.

6. Ibu Sri Indrastuti, S.Pi, Bapak Ir. Andreas D. Patria, M.Si dan Bapak Ir. Supriatna, MMSI, Ibu Mareta Nirmalanti, S.Pi, M.Si dan Bapak Aghi

Perkasa, S.Pi, masing-masing sebagai atasan, rekan sejawat dan sahabat yang telah memberikan dukungan moral dan memberikan banyak saran pada saat kuliah, penelitian dan penyelesaian tesis.

7. Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi (PUSDATIN) yang telah memberikan bantuan fasilitas dan perijinan, serta seluruh pejabat dan staf Pusat Data, Statistik dan Informasi (PUSDATIN) atas dukungannya kepada Penulis dalam mengukuti kuliah S-2.

8. Seluruh pejabat dan staf Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cilacap, khususnya Bapak Riyanto, A.Pi, MM, yang telah memberikan dukungan data, fasilitas, petunjuk dan bimbingan selama pelaksanaan penelitian.

9. Seluruh pejabat dan staf Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, khususnya Bapak Joko Riyanto, S.Pi, yang telah memberikan dukungan data, fasilitas, petunjuk dan bimbingan selama pelaksanaan penelitian.

10. Seluruh nelayan, pengurus nelayan, pengusaha perikanan tangkap dan pegawai Tempat Pelelangan Ikan di Kabupaten Cilacap.

11. Ayahanda, Ibunda, Istri (Erni Sulistyani) dan anak-anakku tercinta (Anisa Adelia Safitri dan Shafira Alya Rahmadanti) yang selalu memberikan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dan studi S-2.

12. Semua pihak yang telah membantu Penulis dalam perkuliahan, penelitian dan penulisan Tesis.


(14)

KATA PENGANTAR

Perikanan tangkap udang merupakan salah satu tempat bergantung nelayan sebagai mata pencahariannya. Hal ini bergantung kepada sumberdaya udang sebagai tujuan tangkap sehingga perlu dijaga kelestarian udang agar usaha nelayan dapat berjalan dan tetap menguntungkan.

Kondisi akhir-akhir ini yang telah terjadi penurunan hasil tangkapan tentunya cukup mengkhawatirkan mengingat ketergantungan mata pencaharian sebagian masyarakat sebagai nelayan. Kondisi tersebut bila tidak ditangani dengan baik, tentunya akan merugikan nelayan dan mengganggu keberlanjutan perikanan udang. Untuk itu maka dalam penelitian ini telah diformulasikan suatu model pengelolaan sehingga kerusakan dapat dihentikan dan kondisi perikanan udang dapat diperbaiki.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penelitian dan tesis ini masih belum sempurna, namun demikian penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama para pengelola perikanan tangkap udang.

Jakarta, Juni 2011


(15)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT ... i

RINGKASAN ... ii

RIWAYAT HIDUP ... viii

UCAPAN TERIMA KASIH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 2

1.3 Perumusan Masalah ... 2

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 3

2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Sumberdaya Udang ... 4

2.2 Wilayah Pesisir Cilacap ... 8

2.2.1 Kondisi Wilayah Pesisir Cilacap ... 8

2.2.2 Mangrove ... 9

2.3 Model Bio-ekonomi Gordon-Schaefer ... 14

2.4 Sistem Informasi Geografis (SIG) ... 18

2.5 Metode Ishikawa ... 21

2.6 Analisis SWOT ... 22

2.7 Analytic Hierarchy Process (AHP) ... 23

3 METODOLOGI PENELITIAN ... 31

3.1 Waktu dan Tempat ... 31

3.2 Tahapan Penelitian ... 32

3.3 Pengumpulan Data ... 32

3.3.1 Data Statistik ... 33

3.3.2 Data Spasial ... 33


(16)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35

4.1 Produksi Udang Kabupaten Cilacap ... 35

4.1.1 Sumberdaya Udang dan Metode Penangkapan Udang .. 35

4.1.2 Hasil Analisis Biologi Hasil Tangkapan Udang ... 36

4.1.3 Hasil Analisis Bio-ekonomi Penangkapan Udang ... 41

4.2 Peta Kawasan Mangrove di Cilacap ... 45

4.3 Permasalahan Penurunan Hasil Tangkapan Udang ... 47

4.4 Strategi Pengelolaan Sumberdaya Udang ... 49

4.5 Prioritas Strategi Pengelolaan Sumberdaya Udang ... 55

4.4.1 Dekomposisi Masalah ... 55

4.4.2 Hasil Penilaian Elemen dan Analisis Kebijakan ... 57

4.6 Strategi dan Rekomendasi Kebijakan Pengelolaan Udang Berkelanjutan di Cilacap ... 60

4.7 Pembahasan ... 64

5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

5.1 Kesimpulan ... 66

5.2 Saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 67


(17)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Skala penilaian ... 28

2 Perbandingan antar kriteria ... 29

3 Perbandingan antar pilihan untuk kriteria C1 ... 29

4 Sintesa penilaian ... 30

5 Data produksi udang, kapal, alat tangkap trammel net dan Trip penangkapan udang tahun 1999-2008 ... 35

6 Perhitungan CPUE pada penangkapan udang tahun 1999-2008 . ... 37

7 Hasil analisis bio-ekonomi terhadap hasil produksi, MSY, MEY dan Open Acces pada pengelolaan udang ... 42

8 Identifikasi SWOT pada permasalahan penurunan hasil tangkapan udang ... 50

9 Faktor-faktor strategis internal (IFAS) ... 51

10 Faktor-faktor strategis eksternal (IFAS) ... 52

11 Matriks SWOT pengelolaan udang Kabupaten Cilacap ... 54

12 Prioritas permasalahan berdasar akar permasalahan pada pengelolaan udang berkelanjutan ... 57

13 Prioritas permasalahan berdasar aktor pada pengelolaan udang berkelanjutan ... 58

14 Hierarki strategi kebijakan pengelolaan udang berkelanjutan Berdasarkan aktor ... 59


(18)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Daur hidup udang Penaeid (Farley 2002) ... 7

2 Penyebaran mangrove di seluruh dunia (UNEP 2007) ... 10

3 Manfaat hutan mangrove (Dixon 1989 dalam Bengen 2001) ... 13

4 Keseimbangan bio-ekonomi Gordon-Schaefer (Fauzi dan Anna 2005) 17 5 Diagram tulang ikan ... 21

6 Diagram proses hierarki analisis ... 25

7 Peta posisi geografis Kabupaten Cilacap ... 31

8 Peta lokasi TPI di Kabupaten Cilacap ... 31

9 Diagram alur tahapan penelitian ... 32

10 Udang sedang dilelang di TPI PPS Cilacap ... 36

11 Grafik CPUE penangkapan udang dengan trammel net ... 38

12 Kurva korelasi model Schaeffer hasil tangkapan lestari udang dengan upaya penangkapan (E) dengan trammel net ... 40

13 Perbandingan upaya penangkapan udang dengan trammel net terhadap hasil produksi, MSY, MEY, dan Open Acces periode 1998-2008 ... 42

14 Perbandingan hasil penangkapan udang dengan trammel net terhadap hasil produksi, MSY, MEY dan Open Acces periode 1998-2008 ... 43

15 Perbandingan keuntungan hasil tangkapan udang dengan trammel net terhadap hasil produksi, MSY, MEY dan Open Acces periode 1998-2008 ... 43

16 Kurva keseimbangan bio-ekonomi Gordon-Schaefer pengelolaan udang dengan alat tangkap trammel net ... 44

17 Peta liputan lahan Kabupaten Cilacap tahun 2005 ... 46

18 Peta liputan lahan Kabupaten Cilacap tahun 2007 ... 46


(19)

20 Faktor-faktor penyebab penurunan hasil tangkapan udang ... 48

21 Diagram kuadran sintesis prioritas IFAS dan EFAS ... 53

22 Diagram AHP untuk pengelolaan sumberdaya udang di Cilacap ... 56

23 Urutan prioritas permasalahan berdasar tujuan yang ingin dicapai pada pengelolaan udang berkelanjutan ... 58

24 Urutan prioritas aktor berdasar tingkat kepentingan pada pengelolaan udang berkelanjutan ... 59

25 Urutan prioritas strategi berdasar level aktor pada pengelolaan udang berkelanjutan ... 60

26 Desain strategi pengelolaan udang berkelanjutan ... 61

27 Citra satelit Kabupaten Cilacap tahun 2005 ... 73

28 Citra satelit Kabupaten Cilacap tahun 2007 ... 73


(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Perhitungan analisis bio-ekonomi ... 71 2 Citra satelit Kabupaten Cilacap tahun 2005, 2007 dan 2009 ... 73


(21)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cilacap adalah salah satu sentra perikanan di Indonesia. Salah satu produk utamanya adalah udang, dengan hasil tangkapan mayoritas adalah udang

Penaidae spp. Sumberdaya udang Penaidae spp di perairan Cilacap sebagian besar merupakan jenis udang jerbung (Penaeus merguensis) dan udang dogol (Metapenaeus endevouri dan Metapenaeus ensis). Penangkapan udang sebagian besar menggunakan trammel net. Namun demikian kondisi aktual saat ini menunjukkan telah terjadi degradasi biologi sumberdaya udang. Hal ini ditandai dengan terjadinya tren penurunan produksi (hasil tangkapan) udang. Produksi udang pada tahun 2004-2008 menurun sebesar rata-rata 7,2%.

Pengelolaan sumberdaya perikanan yang diupayakan oleh pemerintah hingga saat ini masih didasarkan kepada sifat atau dinamika biologis sumberdaya dan pemanfaatan ekonomi. Pendekatan pengelolaan diarahkan untuk menciptakan kondisi produksi yang secara ekonomis efisien, walaupun berbagai pihak menyatakan kondisi ini masih jauh dari ideal. Pengelolaan perikanan harus mengacu kepada pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Terdapat beberapa kelompok udang yang teridentifikasi di pasaran memiliki nilai ekonomis tinggi diantaranya adalah famili Penaeidae dan famili

Panulirudae. Indonesia sedikitnya memiliki 8 (delapan) spesies udang yang berada di bawah famili Penaeidae diantaranya adalah Penaeus monodon,

P. semisulcatus, P. merguiensis, P. chinensis, P. indicus, Metapenaeus endevouri, M. ensis, dan M. elegans; sedangkan dari famili Panulirudae (lobster) mempunyai 5 (lima) spesies yaitu Panulirus versicolor, P. ornatus,

P. pennicilatus, P. longiceps dan P. marginatus.

Hasil produksi udang laut Cilacap digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi di Cilacap sendiri serta daerah lain di Jawa Tengah, juga untuk memenuhi kebutuhan di Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Timur. Hal ini terjadi karena telah terjadi peningkatan pesat industri pengolahan hasil perikanan khususnya udang di berbagai daerah tersebut. Industri dimaksud membutuhkan suplai udang sebagai bahan bakunya. Dengan terjadinya peningkatan konsumsi ikan (termasuk udang) masyarakat dari tahun ke tahun, juga menyebabkan peningkatkan suplai udang dan produk-produk olahannya ke pasar.


(22)

Sumberdaya udang adalah sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) namun bersifat tidak tak terbatas, sehingga sangat penting menjaga kelestarian dan keberlanjutan untuk mencegah kepunahannya. Undang-Undang nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan yang kemudian diperbaiki dengan Undang nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan mengamanatkan tentang pengelolaan perikanan yang ideal. Kondisi ideal tersebut diantaranya untuk mengatur keseimbangan eksploitasi dan kelestarian sumberdaya ikan. Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mengamanatkan untuk pengelolaan wilayah pesisir dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem secara seimbang dengan pemanfaatan ekonominya.

1.2 Identifikasi Masalah

Masalah pokok pada perikanan udang di Cilacap adalah penurunan hasil tangkapan. Permasalahan tersebut diduga disebabkan karena:

1) Telah terjadi eksploitasi sumberdaya udang secara besar-besaran atau intensitas penangkapan yang tinggi, sehingga menyebabkan laju pertumbuhan menurun;

2) Kerusakan ekologi kawasan pesisir khususnya mangrove, yang disebabkan oleh pengurangan dan konversi, yaitu: (1) Kebutuhan lahan untuk perumahan akibat pertumbuhan penduduk dan pengembangan ekonomi untuk industri, pariwisata, pertanian dan perikanan budidaya; (2) Pencemaran perairan yang berasal dari limbah buangan industri, limbah aktivitas pariwisata, limbah rumah tangga, limbah pertanian dan limbah perikanan budidaya; (3) Tata guna lahan atau tata ruang kawasan pesisir yang tidak melindungi kelangsungan hutan mangrove.

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan kondisi tersebut, dalam penelitian ini telah dirumuskan permasalahan:

1) Berapa potensi lestari maksimum sumberdaya udang di Cilacap?; 2) Sampai sejauh mana tingkat degradasi hutan mangrove di Cilacap?. 3) Apa yang menyebabkan penurunan hasil tangkapan udang di Cilacap?;


(23)

4) Apa yang diperlukan untuk pengelolaan optimum sumberdaya udang di Cilacap?;

Dalam penelitian ini, sumberdaya udang Penaidae spp dibatasi pada spesies udang jerbung (Penaeus merguensis) dan udang dogol (Metapenaeus endevouri

dan Metapenaeus ensis) sebagai spesies mayoritas yang tertangkap di Cilacap. Unit usaha penangkapan udang dibatasi menggunakan alat tangkap trammel net. Pemetaan kawasan ekologi wilayah pesisir dibatasi dengan pemetaan kawasan mangrove.

1.4 Tujuan Penelitian.

Kondisi penurunan hasil tangkapan udang yang terjadi jika tidak ditangani dengan baik, akan merugikan nelayan dan mengganggu keberlanjutan sumberdaya udang. Untuk itu maka perlu diformulasikan suatu model pengelolaan yang tepat agar kerusakan dapat dihentikan dan kondisi perikanan udang dapat diperbaiki. Penelitian ini dilakukan di Cilacap dengan tujuan untuk menyusun model pengelolaan sumberdaya udang di Cilacap. Secara rinci penelitian ini bertujuan: 1) Menentukan potensi lestari maksimum sumberdaya udang di Cilacap; 2) Menyusun peta kawasan mangrove di Cilacap.

3) Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan hasil tangkapan udang di Cilacap;

4) Menyusun model pengelolaan sumberdaya udang di Cilacap;

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi aparat pengambil kebijakan dan bagi pelaku usaha, yaitu:

1) Sebagai bahan masukan untuk pengambilan kebijakan pengelolaan perikanan udang khususnya oleh pemerintah daerah setempat dalam hal:

(1) pengelolaan sumberdaya udang yang baik, lestari dan berkelanjutan; (2) pengelolaan kawasan pesisir khususnya kawasan mangrove sehingga dapat

terjadi sinergi antara pemanfaatan sumberdaya udang secara lestari dan berkelanjutan, pemenuhan kebutuhan penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi.

2) Sebagai bahan penunjang bagi kegiatan perikanan udang sehingga efektif, efisien dan tetap menguntungkan pelaku usaha.


(24)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sumberdaya Udang

Sumberdaya alam (natural resources) pada dasarnya mempunyai pengertian

segala sesuatu yang berada di bawah atau di atas bumi, termasuk tanah itu sendiri (Suparmoko 1998). Dengan kata lain, sumberdaya alam adalah sesuatu yang masih terdapat di dalam maupun di luar bumi yang sifatnya masih potensial dan belum dilibatkan dalam proses produksi. Pengertian ini berbeda dengan barang

sumberdaya (resources commodity), karena merupakan sumberdaya alam yang

sudah diambil dari dalam atau di atas bumi dan siap dipergunakan atau dikombinasikan dengan faktor produksi lainnya untuk menghasilkan produk baru yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen maupun produsen.

Udang merupakan bagian dari sumberdaya alam. Wilayah perairan pantai selatan Jawa memiliki potensi sumberdaya udang yang tinggi, khususnya wilayah Cilacap sebagai sentra produksi udang. Di Cilacap banyak sekali ditemukan berbagai jenis udang dengan komoditas utama adalah udang Penaeid.

Udang sebagai sumberdaya hayati akuatik, meskipun bersifat dapat pulih (renewable), bukanlah berarti tidak terbatas. Sumberdaya udang perlu dikelola dengan baik sehingga tetap lestari dan bermanfaat secara ekonomi bagi nelayan. Dengan pengelolaan yang baik diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan dan berkontribusi bagi perekonomian daerah. Pengelolaan sumberdaya udang harus dilaksanakan secara terpadu dengan lingkungan pendukung dan sumberdaya lain yang mempengaruhinya.

Menurut Kusumastanto (2002), permasalahan pada pengelolaan perikanan, antara lain meliputi masalah biologi dan masalah ekonomi. Masalah biologi seperti ancaman berkurangnya stok, dan masalah ekonomi seperti borosnya tenaga kerja dan modal. Dalam kapasitas penangkapan yang berlebih serta pendapatan

yang menurun, dapat diatasi dengan sistim Individual Transferable Quota (ITQ).

Namun sistim ITQ dirasakan kurang sesuai untuk diterapkan di Indonesia, sehingga menyarankan kepada pemerintah agar mempertimbangkan model

Territorial Used Right yang dipandang lebih realistis bagi Indonesia dalam memasuki era otonomi daerah. Pengelolaan dilakukan melalui pendekatan


(25)

Community Based Management maupun Co-management, sehingga akan semakin besar kesempatan bagi nelayan lokal, untuk berpartisipasi dalam proses pengelolaan sumberdaya perikanan dan akan menguntungkan masyarakat dan generasi di masa datang.

Perikanan tangkap termasuk industri primer karena memanfaatkan sumber daya ikan sebagai kekayaan alam lautan. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui pengumpulan dan pengambilan sumberdaya ikan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan pangan atau lainnya. Ikan yang menjadi tujuan penangkapan adalah ikan bersirip, udang, cumi-cumi, hewan karang, kekerangan, atau hewan sejenis moluska termasuk juga benda seperti mutiara, rumput laut dan lain-lain. Jumlah produksi hasil laut yang diambil oleh nelayan tidak boleh melebihi kapasitas produksi yang terkandung dalam potensi sumber daya setiap jenisnya.

Udang Penaeid adalah termasuk jenis Decapoda yang melepaskan telurnya ke laut secara demersal segera setelah dibuahi, sedangkan jenis-jenis Decapoda lainnya membawa telurnya sampai menetas menjadi larva. Daur hidup dari udang Penaeid dibagi menjadi dua fase, yaitu fase lautan dan fase muara sungai. Udang betina memijah di laut terbuka. Telur-telur dilepaskan secara demersal dan setelah 24 jam menetas menjadi larva tingkat pertama (nauplius). Selanjutnya setelah 3-8 kali moulting berubah menjadi protozoea, mysis dan pasca larva. Saat pasca larva merupakan tingkatan yang sudah mencapai daerah asuhan di pantai dan mulai menuju dasar perairan. Larva bergerak dari daerah pemijahan di tengah laut ke teluk-teluk dan muara-muara sungai. Kemudian berubah menjadi yuwana, makan dan tumbuh di daerah asuhan 3-4 bulan menjadi udang muda, mulai berupaya ke laut dan menjadi udang dewasa kelamin, kawin dengan udang betina kemudian memijah. Yuwana banyak ditemukan di muara sungai dan biasanya

pada perairan yang ada mangrovenya. Ruaya udang dikenal sebagai

inshore-offshore migration yaitu dari pantai ke tengah laut dan sebaliknya, sepanjang pantai dan secara vertikal dalam kolom air, dan setelah menetas, larva udang bergerak secara pasif dari daerah pemijahan ke arah pantai dan muara sungai, dan pada fase yuwana meninggalkan lingkungan muara sungai dan memasuki perairan


(26)

Menurut Munro (1968) dalam Naamin (1984 dan 1992), life cycles atau daur hidup udang jerbung terbagi menjadi dua fase yaitu fase laut dan fase muara sungai (Gambar 1) dengan tahapan sebagai berikut:

1) Udang jerbung bertelur dan menetas menjadi larva di laut.

Telur udang jerbung akan menetas menjadi larva stadium nauplius menurut

Teng (1971) dalam Dall et al. (1990) dalam waktu 0,48 hari dan menurut Raje

dan Ranade (1972) dalam Dall et al. (1990) dalam waktu 0,88 hari serta

menurut Motoh dan Buri (1979) dalam Dall et al. (1990) dalam waktu kurang

dari 1 hari.

2) Larva berkembang menjadi post larva masuk ke muara sungai.

Menurut Munro (1968) dalam Naamin (1984 dan 1992), perkembangan larva udang penaeid terdiri dari beberapa stadium yaitu mulai dari nauplius menjadi protozoea dan berkembang menjadi mysis dan selanjutnya menjadi post larva. Menurut Garcia dan Le Reste (1981), waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan nauplius menjadi post larva adalah selama sekitar 3 minggu,

menurut Raje dan Ranade (1972) dalam Dall et al. (1990) membutuhkan waktu

sekitar 13,88 hari dan menurut Motoh dan Buri (1979) dalam Dall et al. (1990)

membutuhkan waktu sekitar 9,24 hari.

3) Post larva berkembang menjadi udang remaja kembali ke laut.

Menurut Garcia dan Le Reste (1981) dalam Naamin (1984), udang tumbuh dari stadium post larva menjadi stadium yuana (juvenil) di muara dan membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan dan kemudian baru mulai meninggalkan lingkungan muara sungai dan memasuki perairan pantai sebagai udang muda (yuana) dan kemudian migrasi ke laut.

4) Udang remaja berkembang menjadi udang dewasa dan matang telur serta

kemudian memijah di laut.

Menurut Dall et al. (1990), udang muda bermigrasi ke laut yang lebih dalam,

menjadi dewasa, kawin dan memijah. Waktu yang diperlukan untuk menjadi dewasa/induk sekitar 8-20 bulan.

Secara singkat pertumbuhan udang adalah telur, nauplius, protozoea, mysis, post larva, yuana (juvenil), udang muda (yuana) dan udang dewasa/induk. Pertumbuhan dari telur sampai menjadi udang dewasa/induk membutuhkan waktu satu sampai dua tahun.


(27)

Gambar 1 Daur hidup udang Penaeid (Farley 2002)

Udang Penaeid termasuk dalam kelas Crustacea. Klasifikasi udang

Penaeidae spp adalah sebagai berikut: Phylum: Arthropoda

Class: Crustacea

Sub class: Malacostraca Series: Eumalacostraca

Superorder: Eucarida Order: Decapoda Sub Order: Natantia

Section: Penaeidea Family: Penaeidae Sub Family: Penaeinae

Genus: Penaeus

Spesies: Penaeus merguensis

Genus: Metapenaeus

Spesies: - Metapenaeus endevouri

- Metapenaeus ensis

Habitat dan biologi udang Penaeid, benthic hidup di berbagai jenis

lingkungan di dasar laut seperti di batu, lumpur, pasir dsb. Pada golongan Penaeus, proses pemijahan berlangsung di lepas pantai, dengan kedalaman antara

10 dan 80 m. Kantung sperma betina berada pada thelycum (alat kelamin yang

berada pada kaki bagian belakang) yang digunakan ketika telur luruh. Setelah

pembuahan, telur akan menetas dalam beberapa jam. Planktonic larvae akan

dibawa oleh arus menuju pantai selama sekitar 3 minggu, dengan ukuran 6 sampai 14 mm. Perkembangan menuju dewasa akan berlangsung di air payau, mulut sungai, danau, daerah mangrove dan diakhiri dengan migrasi di lepas pantai untuk pemijahan kembali (Bianchi 1985).


(28)

Udang Penaeid adalah jenis udang yang berjenis heteroseksual. Kelamin bisa dibedakan dari luar setelah tingkat pasca larva terakhir selesai. Petasma alat

kelamin jantan terletak antara pasangan pertama kaki renang, sedangkan thelycum

alat kelamin betina terletak antara pasangan keempat dan kelima kaki jalan. Udang dewasa memperlihatkan perbedaan ukuran yang jelas untuk umur, karena udang betina lebih besar dari udang jantan pada umur yang sama. Udang Penaeid

tidak mempunyai pasangan seks tertentu (promiscuos). Pembuahan terjadi di luar,

udang betina kulitnya harus dalam keadaan lunak, sedangkan udang jantan kulitnya harus dalam keadaan keras untuk menempelkan (impregnation) kantong

sperma (spermatophores). Telur yang dilepaskan oleh seekor induk udang

diperkirakan sekitar 100.000 telur pada setiap kali memijah (Tuma 1967).

2.2 Wilayah Pesisir Cilacap

2.2.1 Kondisi Umum Wilayah Pesisir Cilacap

Menurut Dahuri (2001), wilayah pesisir umumnya merupakan kawasan yang paling padat dihuni, serta menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan pembangunan. Kawasan pesisir di dunia termasuk di Indonesia mengalami tekanan ekologis yang parah dan komplek, sehingga menjadi rusak. Di Indonesia, kerusakan wilayah pesisir terutama disebabkan oleh pola pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tanpa ada perhatian yang memadai terhadap karakteristik, fungsi, dan dinamika ekosistem. Padahal wilayah pesisir dan lautan beserta segenap sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terkandung di dalamnya diharapkan akan menjadi tumpuan pembangunan nasional pada abad ke-21, oleh karena itu perlu perbaikan yang mendasar di dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan sumberdaya alam pesisir. Pola pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi perlu diganti dengan pembangunan berkelanjutan.

Wilayah perairan pantai Cilacap memiliki nilai yang amat penting, bagi pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya alam hayati khususnya perikanan dan nirhayati khususnya minyak bumi. Kedua sumberdaya alam dimaksud memiliki ciri pemanfaatan yang berbeda, dan berkaitan satu sama lain. Kondisi pantai Cilacap yang cukup dalam sampai ke pinggir menjadikan daerah ini cocok dikembangkan Pelabuhan Samudera dan sekaligus menjadi pusat industri. Hal

tersebut memerlukan pengelolaan dan kerjasama yang baik seluruh stakeholders


(29)

Secara ekologis kawasan perairan Cilacap didominasi oleh ekosistem mangrove seluas kurang lebih 15.000 hektar. Ekosistem tersebut terbentuk dari proses sedimentasi yang cukup lama dari Sungai Kaliyasa dan Laguna Segara Anakan. Laguna Segara Anakan memiliki panjang lebih kurang 12 km dengan debit aliran air 1.500 m3/detik dan konsentrasi muatan padatan tersuspensi mencapai 80 mg/l. Debit sungai yang tinggi sangat mempengaruhi formasi vegetasi mangrove di Laguna Segara Anakan. Laguna Segara Anakan sangat

berguna sebagai daerah asuhan (nursery ground) bagi udang. Laguna Segara

Anakan merupakan pertemuan antara dua daerah aliran sungai (DAS) besar, yaitu DAS Citandui dan DAS Segara Anakan. Hal tersebut menyebabkan sedimentasi

yang tinggi sehingga banyak sekali ditemukan sedimen lumpur carbonaceous,

sehingga sangat mendukung pertumbuhan asosiasi mangrove (Waryono 2002). Kepercayaan tradisional masyarakat lokal yang berdomisili di tengah Laguna Segara Anakan meyakini bahwa merekalah yang berhak untuk menguasai sumber daya alam baik dari perairan maupun di kawasan mangrove. Masyarakat lokal tersebut mengambil keuntungan dari berbagai jenis ikan, udang, kepiting dan kerang, juga memanfaatkan kulit bakau untuk bahan dasar tenun dan daun pohon mangrove untuk atap dan dinding. Jumlah penduduk di Kabupaten Cilacap mengalami perkembangan yang sangat pesat, yaitu 1.709.908 jiwa tahun 2004, dengan peningkatan penduduk mencapai 0,69 persen per tahun. Penduduk dengan jumlah yang besar akan berpengaruh pula terhadap kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan (Waryono 2002).

2.2.2 Mangrove

Kelestarian sumberdaya udang sangat bergantung kepada daya dukung lingkungan penunjangnya. Lingkungan penunjang sumberdaya udang adalah ekosistem wilayah pesisir yaitu mangrove, estuaria, padang lamun dan terumbu karang. Kondisi kualitas perairan yang baik dan tidak tercemar juga menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup udang.

2.2.2.1 Pengertian Mangrove

Mangrove adalah sejumlah komunitas tumbuhan pantai tropis dan subtropis yang didominasi tumbuhan bunga terestrial berhabitat pohon dan semak yang dapat menginvasi dan tumbuh di kawasan pasang surut. Hutan mangrove disebut juga hutan pasang surut, hutan payau, rawa-rawa payau atau hutan bakau. Istilah yang sering digunakan adalah hutan mangrove atau hutan bakau.


(30)

Daerah yang terdapat dalam kawasan pasang surut lingkungan tempat tumbuh mangrove mengandung substrat yang tidak stabil, dengan variasi salinitas yang tinggi dan pasang surut harian yang bersifat fluktuatif. Hal tersebut menyebabkan lahannya menjadi bersifat ekstrim dan tidak dapat dijadikan lahan bagi tumbuhan selain mangrove. Mangrove telah melalui berbagai evolusi fisiologis dan penyesuaian struktural seperti kutikula berlilin pada daun, akar nafas yang beragam dan bibit yang merupakan anakan dari mangrove. Pada akhirnya evolusi dari mangrove menciptakan habitat bersarang dan perkembangbiakan yang penting bagi banyak spesies satwa liar.

Mangrove adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat payau. Tanaman dikotil adalah tumbuhan yang buahnya berbiji berbelah dua. Kelompok pohon di daerah mangrove bisa terdiri atas suatu jenis pohon tertentu saja atau sekumpulan komunitas pepohonan yang dapat hidup di air asin. Hutan mangrove biasa ditemukan di sepanjang pantai daerah tropis dan subtropis, antara 32° Lintang Utara dan 38° Lintang Selatan sebagaimana Gambar 2.


(31)

Kata mangrove merupakan perpaduan bahasa Melayu manggi-manggi dan bahasa Arab el-gurm menjadi mang-gurm, keduanya sama-sama berarti Avicennia (api-api), pelatinan nama Ibnu Sina yaitu seorang dokter Arab yang banyak mengidentifikasi manfaat obat tumbuhan mangrove. Kata mangrove dapat ditujukan untuk menyebut spesies, tumbuhan, hutan atau komunitas. Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem paling produktif dan memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain sebagai sumber bahan bangunan, kayu bakar, arang, tanin, bahan pewarna, bahan makanan, bahan obat, serta bahan baku industri, seperti pulp, rayon dan lignoselulosa. Keanekaragaman hayati ekosistem mangrove berpotensi besar untuk menghasilkan produk berguna di masa depan (bioprospeksi). Tumbuhan obat yang selama ini dimanfaatkan secara tradisional

dapat diteliti secara mendalam hingga diperoleh obat modern (Setyawan et al.

2002).

2.2.2.2 Formasi Mangrove

Menurut Setyawan et al. (2002), dalam penelitian pada wilayah perairan

pantai selatan Jawa menghasilkan bahwa jumlah keseluruhan spesies mangrove komponen mayor, minor dan tumbuhan asosiasi pada 10 muara sungai di pantai selatan Jawa lebih banyak daripada di Segara Anakan, masing-masing 29 dan 27 spesies. Spesies yang ditemukan di Segara Anakan umumnya merupakan kelompok mayor dan minor, sedang spesies dari 10 muara sungai umumnya dari kelompok tumbuhan asosiasi. Hal ini terjadi karena pengamatan di Segara Anakan dilakukan pada pusat-pusat distribusi mangrove, dimana invasi tumbuhan asosiasi masih sangat terbatas. Sebaliknya pada 10 muara sungai yang diamati, kecuali Sungai Jeruk Legi-Donan, komunitas mangrove hanya tinggal sisa-sisa (relik), dimana invasi tumbuhan pantai dan spesies asosiasi lainnya sangat tinggi. Apabila pengamatan vegetasi mangrove di Segara Anakan juga dilakukan pada area tepi vegetasi, boleh jadi jumlah spesies asosiasi yang ditemukan akan bertambah.

Dalam penelitian Setyawan et al. (2002), spesies mangrove komponen

mayor, minor dan tumbuhan asosiasi yang dijumpai di 10 muara sungai secara berturut-turut sebanyak 9, 2 dan 18 spesies, sedangkan di Segara Anakan dijumpai secara berturut-turut sebanyak 13, 8, dan 6 spesies. Tumbuhan mangrove


(32)

komponen mayor yang paling sering dijumpai pada muara muara sungai di pantai

selatan Jawa adalah Sonneratia alba (9 sungai), disusul Nypa fruticans (6

sungai), Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa (4 sungai). Sedangkan

Avicennia marina, Bruguiera cylindrica, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, dan Rhizophora apiculata masing-masing hanya ditemukan pada satu

sungai. Sonneratia alba selaku tumbuhan pionir tampaknya memiliki pola

pemencaran dan daya adaptasi lebih baik dari pada spesies lain. Tumbuhan tersebut mampu tumbuh pada lebih banyak muara sungai.

2.2.2.3 Fungsi dan Manfaat Mangrove

Mangrove mempunyai keterkaitan dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia sebagai penyedia bahan pangan, papan dan kesehatan. Fungsi mangrove dibedakan menjadi 5 golongan yaitu:

1) Fungsi Fisik

(1) Menjaga garis pantai agar tetap stabil dan kokoh dari abrasi air laut.

(2) Melindungi pantai dan tebing sungai dari proses erosi atau abrasi serta

menahan atau menyerap tiupan angin kencang dari laut ke darat pada malam hari.

(3) Menahan sedimen secara periodik sampai terbentuk lahan baru.

(4) Sebagai kawasan penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke

danau, atau sebagai filter air asin menjadi air tawar.

2) Fungsi Kimia

(1) Sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen.

(2) Sebagai penyerap karbondioksida.

(3) Sebagai pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan

kapal di laut.

3) Fungsi Biologi

(1) Sebagai kawasan untuk berlindung, bersarang serta berkembang biak bagi

burung dan satwa lain.

(2) Sebagai sumber plasma nutfah dan sumber genetika.


(33)

(4) Sebagai penghasil bahan pelapukan yang merupakan sumber makanan penting bagi invertebrata kecil pemakan bahan pelapukan (detritus) yang kemudian berperan sebagai sumber makanan bagi hewan yang lebih besar.

(5) Sebagai kawasan pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan

(nursery ground) bagi udang.

(6) Sebagai daerah mencari makanan (feeding ground) bagi plankton.

4) Fungsi Ekonomi

(1) Penghasil bahan baku industri, misalnya pulp, tekstil, makanan ringan.

(2) Penghasil bibit ikan, udang, kerang dan kepiting, telur burung serta madu.

(3) Penghasil kayu bakar, arang serta kayu untuk bangunan dan perabot rumah

tangga.

5) Fungsi Wisata

(1) Sebagai kawasan wisata alam pantai untuk membuat trail mangrove.

(2) Sebagai sumber belajar bagi pelajar.

(3) Sebagai lahan konservasi dan lahan penelitian.

Dixon (1989) dalam Bengen (2001) menggambarkan manfaat hutan mangrove sebagaimana pada Gambar 3.


(34)

2.3 Model Bio-ekonomi Gordon-Schaefer

Model produksi hanya dapat mengetahui potensi produksi sumberdaya perikanan dan tingkat produksi maksimumnya. Model tersebut belum mampu menunjukkan potensi industri penangkapan ikan dan belum dapat menentukan tingkat pengusahaan yang maksimum bagi nelayan.

Sumberdaya perikanan tangkap merupakan sumberdaya yang open access,

artinya setiap orang dapat melakukan kegiatan penangkapan ikan di suatu wilayah perairan tanpa adanya pembatasan. Kecenderungan ini menyebabkan tingkat upaya tangkap ikan meningkat hingga tercapai keseimbangan dimana tidak lagi diperoleh keuntungan dari pemanfaatan sumberdaya ikan tersebut. Dengan

perkataan lain dapat dikondisikan daerah tersebut telah mengalami overfishing

(Fauzy dan Anna 2005).

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan di suatu wilayah perairan, maka konsep yang harus dikembangkan adalah konsep kepemilikan

tunggal (single owner concept) yang menganggap stok sumberdaya perikanan di

suatu wilayah perairan sebagai modal (aset) oleh pihak pemilik tunggal, yakni pemerintah daerah. Pemilik tunggal mempunyai tujuan untuk memaksimumkan keuntungan dari pemanfaatan sumberdaya ikan pada jangka panjang.

Titik pada saat keuntungan yang diperoleh dari usaha penangkapan sama

dengan nol (n = 0) disebut titik open access equilibrium (keseimbangan bionomi).

Model bio-ekonomi merupakan hasil penggabungan dari model biologi dan ekonomi. Biasanya model bio-ekonomi penangkapan ikan berdasarkan pada model biologi Schaefer dan model ekonomi dari Gordon. Persamaan tersebut dinamakan model Gordon-Schaefer. Asumsi dasar yang digunakan dalam model ini adalah permintaan ikan hasil tangkapan dan penawaran upaya penangkapan adalah elastis sempurna. Harga ikan (p) dan biaya marginal upaya penangkapan masing-masing mencerminkan manfaat marginal dari ikan hasil tangkapan bagi masyarakat dan biaya sosial marginal upaya penangkapan (Fauzy dan Anna 2005).


(35)

Menurut Schaefer (1957) diacu dalam Fauzi dan Anna (2005), perubahan cadangan sumberdaya ikan secara alami dipengaruhi oleh pertumbuhan logistik ikan, yang secara metematis dapat dinyatakan dalam sebuah fungsi sebagai berikut:

(dx/dt = f x)

dx/dt = xr (1- x/k) ... (1) dimana:

x = ukuran kelimpahan biomas ikan

k = daya dukung alam

r = laju pertumbuhan instrinsik

f (x) = fungsi pertumbuhan biomas ikan dx/dt = 1aju pertumbuhan biomas

Apabila sumberdaya tersebut dimanfaatkan melalui kegiatan penangkapan, maka ukuran kelimpahan akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut merupakan selisih antara laju pertumbuhan biomas dengan jumlah biomas yang ditangkap, sehingga secara hubungan fungsional, dinyatakan sebagai berikut:

dx/ dt = f ( x )−h ... (2)

dimana :

h = hasil tangkapan

dan hasil tangkapan, secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

h = q.E.x ... (3)

dimana:

q = koefisien teknologi penangkapan

E = tingkat upaya penangkapan (effort)

Pada kondisi keseimbangan, perubahan kelimpahan sama dengan nol (dx/dt = 0), dengan asumsi koefisien teknologi sama dengan satu (q =1) maka diperoleh hubungan antara laju pertumbuhan biomassa dengan hasil tangkapan. Hubungan tersebut secara matematis dinyatakan dengan menggabungkan persamaan (1) dengan persamaan (3), sehingga diperoleh persamaan baru sebagai berikut:


(36)

h q.E sehingga h dinyatakan x Deng diperoleh hubungan lestarinya, h Deng satuan upa sumberday dim p c TR TC Dala penerimaa yang men acces fish biaya tota meningkat total lebih untuk me keseimban

= f (x E.z = r.x hubungan a

n dalam per

= k −

gan mensu fungsi pr antar tin , sehingga s = k.E gan memas aya penang ya perikana = TR = p.h mana :

= ke = ha = bia

R = pe

C = bia

am kondisi an total (TR nurut Gordo

ery". Pada t

alnya, sehi tkan upaya h besar dar engurangi u

ngan akan te x)

x (1− x / k) .

antara ukura rsamaan seb

− k / rE ...

ubsitusikan roduksi les ngkat upay secara matem

E−(k / r)E2

sukkan fakt gkapan, mak

an menjadi

R −TC ...

h − c.E ...

untungan p arga rata-rata

aya penangk nerimaan to aya total pen

open acces

R) sama den on disebut tingkat upay ngga pelak panangkap ri penerima upaya, den ercapai. ... an kelimpah bagai beriku ... persamaan stari perika ya (effort)

matis persa ... tor harga p ka persamaa

... ...

emanfaatan a hasil tang kapan ikan otal

nangkapan

ss, tingkat k

ngan biaya t juga sebag ya di bawah ku perikana pan ikannya aan total, se ngan demik

... han (stok) de

ut:

... (5) ke dal anan tangk dengan h amaannya m ... er satuan h an keuntung

... ...

n sumberday kapan per satuan u

ikan keseimbang total (TC), d

gai "bioecon

h E0A, pener

an akan le a. Pada ting ehingga me kian hanya ... engan tingk ... lam persam kap yang asil tangka menjadi: ... hasil tangka gan dari usa

... ...

ya

upaya

gan akan te dengan ting

nomic equi

rimaan total ebih banyak kat upaya d endorong p

pada ting (4)

kat upaya da

(5)

maaan (3), menggamb apan (prod

(6)

ap dan biay aha pemanf

(7) (8)

ercapai pada gkat upaya =

ilibrium of

l lebih besa k tertarik u

di atas E0A

pelaku perik gkat upaya apat maka arkan duksi) ya per faatan a saat

= E0A,

f open

ar dari untuk biaya kanan


(37)

Gambar 4 Keseimbangan bio-ekonomi Gordon-Schaefer (Fauzi dan Anna 2005) Pada Gambar 4, terlihat bahwa keuntungan maksimum akan dicapai pada tingkat upaya MEY, dimana jarak vertikal antara peneriman total dan biaya total

mencapai tingkat yang paling tinggi. Tingkat MEY disebut sebagai Maximum

Economic Sustainble Yield (MEY). Apabila tingkat upaya pada keseimbangan

open access (E0A) dibandingkan dengan tingkat upaya pada saat MEY, ternyata

tingkat upaya yang dibutuhkan pada keseimbangan open access, jauh lebih banyak dari pada tingkat upaya pada saat MEY, ini berarti bahwa pada

keseimbangan open access telah terjadi penggunaan sumberdaya yang berlebihan,

yang menurut Gordon disebut sebagai economic overfishing.

Overfishing (tangkap lebih) pada hakikatnya adalah penangkapan ikan yang melebihi kapasitas stok (sumberdaya), sehingga kemampuan stok untuk

memproduksi pada tingkat maximum sustainable yield (MSY) menurun. Secara

umum overfishing dipilah menjadi dua yaitu overfishing secara biologi (biological

overfishing) yang menggunakan poin referensi maximum sustainable yield (MSY) dan overfishing secara ekonomi (economical overfishing) yang menggunakan poin


(38)

Overfishing pada dasarnya adalah penangkapan ikan yang melebihi

kapasitas daya dukung alam sebenarnya. Economical overfishing (tangkap lebih

secara ekonomi) pada hakikatnya adalah situasi dimana perikanan tangkap yang semestinya mampu menghasilkan rente ekonomi yang positif, namun ternyata

menghasilkan rente ekonomi yang nihil oleh karena pemanfaatan input (effort)

yang berlebihan (Fauzy 2010).

2.4 Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem komputer yang mempunyai kemampuan pemasukan, pengambilan, analisis data dan tampilan data geografis yang sangat berguna bagi pengambilan keputusan. Sistem Informasi Geografis dirancang untuk secara efisien memasukkan, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis dan menyajikan semua jenis informasi yang berorientasi geografis (Prahasta 2002).

Peta merupakan gambaran kenampakan muka bumi pada bidang datar dengan menggunakan skala. Gambar peta merupakan gambaran kenampakan muka bumi yang diperkecil dari kenyataan sebenarnya dan digambarkan dalam bentuk simbol. Peta dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi lingkungan suatu tempat. Peta juga digunakan untuk mendapatkan luasan suatu wilayah (kawasan) misalnya kawasan hutan.

Peta akan memiliki tingkat pemanfaatan yang lebih tinggi apabila peta tersebut kemudian dikonversi menjadi Sistem Informasi Geografis (SIG). Dengan SIG, maka peta tidak hanya sekedar dipahami sebagai gambar 2 dimensi saja, tetapi peta dapat dimaksimalkan pemanfaatannya sebagai alat untuk melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan integrasi pembangunan antar sektor, antar institusi, dan antar stakeholders.

Pemasukan data ke dalam sistem informasi geografis dilakukan dengan cara digitasi dan tabulasi. Manajemen data meliputi semua operasi penyimpanan, pengaktifan, penyimpanan kembali, dan pencetakan semua data yang diperoleh dari masukan data. Proses manipulasi dan analisa data dilakukan interpolasi spasial dari data non-spasial menjadi data spasial, mengkaitkan data tabuler ke


(39)

data raster, tumpang susun peta yang meliputi map crossing, tumpang susun dengan bantuan matriks atau tabel dua dimensi, dan kalkulasi peta. Keluaran utama dari sistem informasi geografis adalah informasi spasial baru yang dapat disajikan dalam dua bentuk yaitu tersimpan dalam format raster dan tercetak ke

hardcopy, sehingga dapat dimanfaatkan secara operasional.

Perencanaan spasial atau keruangan di wilayah pesisir lebih kompleks dibandingkan dengan perencanaan spasial di daratan karena 1) perencanaan di daerah pesisir harus mengikutsertakan semua aspek yang berkaitan baik dengan wilayah daratan maupun lautan, 2) aspek daratan dan lautan tersebut tidak dapat dipisahkan secara fisik oleh garis pantai. Kedua aspek tersebut saling berinteraksi secara terus menerus dan bersifat dinamis seiring dengan proses-proses fisik dan biogeokimia yang terjadi, 3) bentang alam daerah pesisir berubah secara cepat bila dibandingkan dengan wilayah daratan. Secara praktis penerapan SIG untuk pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan adalah 1) Konsep

pembangunan basis data, 2) Penentuan ketersediaan wilayah pesisir (Coastal Use

Availability), dan 3) Penentuan wilayah pesisir untuk pengembangan (Dahuri 1997).

Struktur data spasial dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu struktur data vektor dan raster. Struktur data vektor kenampakan keruangan akan dihasilkan dalam bentuk titik dan garis yang membentuk kenampakan tertentu, sedangkan struktur data raster kenampakan keruangan akan disajikan dalam bentuk konfigurasi sel-sel yang membentuk gambar (Prahasta 2002).

Sistem Informasi Geografis (SIG) terdiri dari tiga bagian yang terintegrasi, yaitu 1) Geografi; dunia nyata, atau realita spasial, atauilmu bumi (geografi); 2) Informasi; data dan informasi, meliputi arti dan kegunaanya; dan 3) Sistem; teknologi komputer dan fasilitas pendukung. Dengan kata lain SIG merupakan kumpulan dari tiga aspek dalam kehidupan dunia modern kita, dan menawarkan metode baru untuk memahaminya.

Informasi penutupan lahan dapat diekstrak langsung melalui proses interpretasi citra atau foto udara yang kualitasnya baik. Namun demikian,


(40)

informasi tentang penggunaan lahannya tidak dapat diketahui secara langsung.Oleh karena itu diperlukan pengecekan lapang untuk mengetahui

penggunaanlahan di suatu daerah. Pengecekan lapang atau disebut juga ground

“truth” didefinisikan sebagai observasi, pengukuran, dan pengumpulaninformasi tentang kondisi aktual di lapangan dalam rangka menentukan hubungan antara data penginderaan jauh dan obyek yang diobservasi. Dengan demikian apabila ditemukan perbedaan pola atau kecenderungan yang tidak dimengerti pada data penginderaan jauh, bisa dilakukan verifikasi dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) telah banyak digunakan untuk perencanaan pertanian, industri dan penggunaan lahan. Analisis terpadu terhadap penggunaan lahan, debit air, data kependudukan dan pengaruh dari masing-masing data dapat dilakukan.

Secara teknis, proses analisis spasial untuk penentuan lahan mangrove dan konversi lahan yang terjadi di pesisir Kabupaten Cilacap dengan bantuan perangkat lunak SIG ArcView dapat dilakukan dengan bantuan ekstensi Geoprocessing. Tahapan atau langkah-langkah dalam analisis spasial akan diuraikan berikut ini dengan menggunakan contoh. Data spasial yang digunakan dalam contoh ini adalah data spasial dalam format ArcView Shapefile (*.shp), dengan nama file sebagai berikut: 1) Vegetasi.shp (data spasial kondisi penutupan lahan); 2) Mangrove.shp (data spasial mangrove); 3) Sedimentasi.shp (data spasial tingkat sedimentasi); dan 4) Bangunan.shp (data spasial kondisi bangunan konversi lahan).

Batas wilayah pemetaan dari data spasial pada contoh yang digunakan adalah DAS/Sub DAS Lancar. Sungai Lancar adalah sungai yangbermuara di Segara Anakan. Meskipun sungai dan sistem sungaiyang digunakan dalam contoh ini adalah riil namun data dan informasi untuk setiap kriteria/ parameter telah disesuaikan dengan maksud hanya sebagai contoh untuk mempermudah dalam menjelaskan tahapan teknis penyusunan data spasial lahan kritis. Secara garis besar tahapan dalam analisis spasial untuk penyusunan data spasial lahan kritis


(41)

2.5 Metode Ishikawa

Metode Ishikawa atau disebut diagram tulang ikan (fish-bone diagram)

digunakan untuk mencari akar sebab dari suatu masalah. Melalui metode ini telah dicari faktor-faktor yang menjadi penyebab penurunan hasil tangkapan udang di Cilacap. Diagram ini digunakan untuk menyelidiki akibat yang jelek dan untuk mengambil tindakan guna memperbaiki penyebab dan untuk mempelajari penyebab-penyebabnya. Karena bentuk diagram tersebut

seperti tulang ikan maka disebut juga diagram tulang ikan (fish-bone

diagram) (Ishikawa 1989). Diagram tulang ikan disebut juga diagram sebab

akibat (cause effect diagram), Bentuk gambar diagram tulang ikan adalah

sebagaimana Gambar 5.

Gambar 5 Diagram tulang ikan

Langkah-langkah untuk menyusun diagram Ishikawa yang baik dan mendapatkan hubungan sebab akibat yang runut, maka beberapa hal perlu diperhatikan dalam rangka penyusunannya adalah:

a. Nyatakan permasalahan yang merupakan akibat utama yang akan ditelusuri penyebabnya;

b. Tuliskan akibat utama (masalah utama) tersebut di dalam segi-empat pada posisi kepala ikan;

c. Tuliskan ke 4 faktor penyebab primer yaitu SDM, metoda, material dan mesin pada masing-masing 4 cabang utama tulang ikan (jika proses yang dianalisis adalah proses manufakturing).


(42)

d. Kembangkan tiap faktor primer tersebut ke dalam faktor penyebab sekunder. Kemudian faktor penyebab sekunder yang ditemukan dituliskan sebagai ranting pada cabang tulang ikan.

e. Ulangi hal yang sama terhadap masing-masing ranting, yaitu kembangkan kemungkinan penyebab tersier dan susunlah ke dalam grafik berupa anak ranting dan seterusnya.

f. Pertimbangkan untuk melakukan pemecahan ranting apabila anak ranting yang terbentuk terlalu bertumpuk.

g. Periksa kembali semua penyebab yang telah dituliskan, hilangkan hal-hal yang mungkin merupakan suatu akibat (dengan demikian menjadi masalah lain), atau merupakan suatu gejala (dengan demikian menjadi tidak nyata karena tidak dapat diukur, dikontrol atau tidak spesifik).

h. Ulangi pemeriksaan terhadap grafik yang diperoleh, eliminasi penyebab yang tidak dapat atau belum dapat diukur dan dikontrol atau dengan kata lain tidak dapat dilakukan perbaikan atas penyebab tersebut karena tidak spesifik. Selain itu lakukan penggantian istilah apabila ada istilah yang kurang tepat atau kurang spesifik.

i. Usahakan agar penyebab-penyebab teridentifikasi yang tersisa juga

merupakan proses variabel. Sehingga peningkatan dan perbaikan terhadap proses variabel tersebut akan dapat dipastikan memberikan dampak atau akibat yaitu berkurangnya masalah utama atau bahkan hilangnya masalah utama (yaitu masalah yang dituliskan pada posisi kepala tulang ikan).

2.6 Analisis SWOT

Analisis SWOT digunakan untuk menyusun strategi pengelolaan sumberdaya udang. Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman. Istilah SWOT merupakan singkatan dari

strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang) dan

threats (ancaman). Keterangan dalam mendefinisikan SWOT diantaranya yaitu: 1) strengths: faktor internal kekuatan; 2) weaknesses: faktor internal kelemahan; 3) opportunities: faktor eksternal peluang; 4) threats: faktor eksternal ancaman (Rangkuti 1997).


(43)

Identifikasi dalam analisis SWOT merupakan bagian yang sangat penting untuk ketepatan langkah-langkah berikutnya untuk pencapaian tujuan. Analisis ini dimulai dengan menentukan apakah tujuan yang akan dicapai, dan jika ternyata tujuannya tidak tercapai dan mengarah pada tujuan yang berbeda yang tidak dikehendaki maka tahapan prosesnya diulangi. Tahapan analisis SWOT adalah, sebagai berikut:

1) Tetapkan tujuan. Mendefinisikan apa tujuan organisasi yang akan dicapai.

2) Lingkungan pemindaian. Penilaian internal SWOT organisasi, ini perlu untuk

menyertakan sebuah penilaian situasi sekarang serta portofolio produk/jasa dan analisis dari siklus/produk jasa hidup.

3) Analisis strategi yang ada, ini harus memperhitungkan kondisi internal dan

eksternal.

4) Isu strategis didefinisikan sebagai faktor kunci dalam pengembangan rencana

perusahaan yang harus ditangani oleh organisasi.

5) Mengembangkan revisi strategi baru dimana revisi analisis isu-isu strategis

bisa berarti dan diperlukan untuk mengubah tujuan.

6) Menetapkan faktor penting keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan

implementasi strategi kebijakan yang baru.

7) Persiapan operasional, sumber daya, proyek rencana implementasi strategi.

8) Hasil pemantauan berupa pemetaan terhadap rencana, mengambil tindakan

korektif yang dapat berarti mengubah tujuan/strategi.

2.7 Analytic Hierarchy Process (AHP)

Analytic Hierarchy Process (AHP) atau Proses Hierarki Analisis (PHA) digunakan untuk membantu menyusun suatu prioritas dari berbagai pilihan dengan menggunakan beberapa kriteria (multi kriteria) (Saaty 1991). Dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan, AHP sangat membantu dalam menemukan satu yang paling sesuai dengan tujuan.

Pada awal pengembangannya, yang dilakukan berdasarkan matematika dan psikologi, AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970 dan telah secara ekstensif dipelajari dan disempurnakan sejak itu. Sistem tersebut menyediakan kerangka kerja yang komprehensif dan rasional untuk penataan


(44)

masalah keputusan, sehingga dapat mewakili dan mengukur unsur-unsur, untuk elemen-elemen yang berkaitan dengan tujuan secara keseluruhan, dan untuk mengevaluasi solusi alternatif. Hal ini digunakan di seluruh dunia dalam berbagai situasi pengambilan keputusan, baik pada bidang pemerintah, bisnis, industri, kesehatan, dan pendidikan. Beberapa perusahaan menyediakan perangkat lunak komputer bahkan AHP dilakukan dalam proses untuk membantu dalam operasional kegiatan.

Penggunaan AHP dilakukan pada awalnya untuk representasi keputusan mereka ke dalam hierarki lebih mudah dipahami berdasarkan sub-masalah, masing-masing yang dapat dianalisis secara independen. Unsur-unsur hierarki dapat berhubungan dengan setiap aspek dari keputusan apa pun masalah berwujud atau tidak berwujud, suatu permasalahan yang diukur atau diperkirakan secara kasar, baik atau buruknya secara langsung akan berpengaruh pada semua yang berlaku untuk keputusan yang akan dilakukan. Setelah hierarki dibangun, barulah pembuat keputusan dapat mengevaluasi berbagai elemen dengan membandingkan mereka satu sama lain dua sekaligus, sekaligus dampak terhadap elemen atas perlakuan dalam hirarki.

Dalam melakukan perbandingan, para pembuat keputusan bisa menggunakan data konkret tentang unsur-unsur, atau mereka bisa menggunakan penilaian mereka tentang makna relatif unsur-unsur kepentingan yang dimiliki. Ini adalah esensi dari AHP bahwa penilaian manusia, dan bukan hanya informasi yang mendasari, dapat digunakan dalam melakukan evaluasi. AHP mengkonversi evaluasi ini untuk numerik nilai-nilai yang dapat diolah dan dibandingkan selama rentang seluruh masalah. Sebuah bobot numerik atau prioritas diturunkan untuk setiap elemen hierarki, sehingga sering dapat dibandingkan elemen dan beragam akan dibandingkan satu sama lain dalam cara yang rasional dan konsisten. Kemampuan ini membedakan AHP dari teknik pembuatan keputusan lainnya. Pada langkah akhir dari proses, prioritas numerik dihitung untuk masing-masing alternatif keputusan. Angka-angka ini merupakan kemampuan relatif alternatif untuk mencapai tujuan keputusan, sehingga mereka membiarkan pertimbangan langsung dari berbagai kursus tindakan.


(45)

Gambar 6 Diagram Proses Hierarki Analisis (PHA)

Diagram di atas menunjukkan sebuah hierarki AHP sederhana pada akhir proses pengambilan keputusan. Prioritas numerik, berasal dari masukan para pembuat keputusan, disajikan untuk setiap node dalam hirarki. Dalam keputusan ini, tujuannya adalah untuk memilih suatu perihal yang paling sesuai berdasarkan empat kriteria tertentu. Kriteria yang paling penting akan dengan mudah mencapai tujuan, diikuti oleh kriteria lainnya. Faktor-faktor ini memiliki karakteristik masing-masing.

Menjalankan suatu proses yang membutuhkan keputusan langsung, Analytic

Hierarchy Process (AHP) sangat berguna dalam kasus dimana suatu tim atau orang yang bekerja pada masalah yang kompleks, terutama mereka dengan taruhan tinggi, yang melibatkan persepsi dan penilaian manusia, yang memiliki resolusi jangka panjang akibatnya. Faktanya analisis ini memiliki kelebihan unik ketika unsur-unsur dan karakteristik penting dalam proses pengambilan keputusan, dirasa sulit untuk mengukur atau membandingkan, atau dimana komunikasi antara anggota tim yang terhambat oleh spesialisasi yang berbeda, atau dari perspektif yang berbeda. Keputusan untuk situasi dimana AHP dapat diterapkan mencakup:

1) Pilihan - Pemilihan salah satu alternatif dari satu perangkat alternatif, biasanya

dimana ada kriteria keputusan yang terlibat.

2) Peringkat - Puting satu set alternatif guna dari paling sedikit diinginkan

3) Prioritas - Menentukan kebaikan relatif dari anggota dari satu set alternatif,

sebagai lawan memilih satu tunggal atau hanya peringkat mereka


(46)

5) Benchmarking - Membandingkan proses dalam organisasi sendiri satu dengan orang-orang dari organisasi best-of-breed lainnya

6) Manajemen mutu - Berurusan dengan aspek multidimensi kualitas dan

peningkatan kualitas.

Aplikasi AHP untuk situasi keputusan yang kompleks memiliki angka dalam ribuan, dan telah menghasilkan banyak hal pada masalah yang melibatkan perencanaan, alokasi sumber daya, penetapan prioritas, dan pemilihan di antara alternatif. Indikator lainnya termasuk peramalan, manajemen kualitas total, proses

bisnis re-engineering, fungsi penyebaran kualitas, dan balanced scorecard.

Banyak aplikasi AHP tidak pernah dilaporkan kepada masyarakat pada umumnya, karena merupakan konsumsi tingkat tinggi dalam organisasi besar di mana keamanan dan privasi pertimbangan melarang pengungkapan mereka.Tetapi beberapa penggunaan AHP telah dibahas dalam literatur. Baru-baru ini telah termasuk:

1) Memutuskan bagaimana cara terbaik untuk mengurangi dampak global

perubahan iklim (Fondazione Eni Enrico Mattei);

2) Mengukur keseluruhan kualitas dari sistem perangkat lunak (Microsoft

Corporation);

3) Memilih peringkat Perguruan Tinggi diluar negeri (Bloomsburg University of

Pennsylvania);

4) Memutuskan lokasi pembangunan pengeboran minyak lepas pantai

(Cambridge University);

5) Menilai resiko dalam operasi lintas-negara pipa minyak bumi (American

Society of Civil Engineers);

6) Memutuskan bagaimana cara terbaik untuk mengelola DAS (Pemerintah Kota

Surabaya).

AHP sering pula digunakan dalam merancang prosedur yang sangat spesifik untuk situasi tertentu, seperti rating bangunan berdasarkan makna bersejarah. AHP merupakan salah satu metode untuk membantu menyusun suatu prioritas dari berbagai pilihan dengan menggunakan beberapa kriteria (multi criteria). Karena sifatnya yang multi kriteria, AHP cukup banyak digunakan dalam penyusunan prioritas. Sebagai contoh, untuk menyusun prioritas penelitian, pihak manajemen lembaga penelitian sering menggunakan beberapa kriteria seperti dampak penelitian, biaya, kemampuan SDM, danjuga mungkin waktu pelaksanaan.


(47)

Di samping bersifat multi kriteria, AHP juga didasarkan pada suatu proses yang terstruktur dan logis. Pemilihan atau penyusunan prioritas dilakukan dengan suatu prosedur yang logis dan terstruktur. Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli-ahli yang representatif berkaitan dengan alternatif-alternatif yang akan disusun prioritasnya.

Secara garis besar, ada tiga tahapan AHP dalam penyusunan prioritas, yaitu: 1) Dekomposisi dari masalah; 2) Penilaian untuk membandingkan elemen-elemen hasil dekomposisi; dan 3) Sintesis dari prioritas.

1) Dekomposisi Masalah

Dalam menyusun prioritas, maka masalah penyusunan prioritas harus

mampu didekomposisi menjadi tujuan (goal) dari suatu kegiatan, identifikasi

pilihan-pilihan (options), dan perumusan kriteria (criteria) untuk memilih

prioritas. Langkah pertama adalah merumuskan tujuan dari suatu kegiatan penyusunan prioritas. Untuk kasus pemilihan supplier, tujuan kegiatan adalah untuk memilih pemasok terbaik.

Dalam kasus pemilihan riset proposal, tujuan kegiatan mungkin mencari topik/proposal penelitian yang terbaik. Setelah tujuan dapat ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan kriteria dari tujuan tersebut.

Berdasarkan tujuan dan kriteria, beberapa pilihan perlu diidentifkasi. Pilihan-pilihan tersebut hendaknya merupakan pilihan-pilihan yang potensial, sehingga jumlah pilihan tidak terlalu banyak. Untuk penyusunan prioritas penelitian, pilihan yang mungkin adalah judul/topik penelitian yang diusulkan oleh peneliti.

2) Penilaian/Pembandingan Elemen

Setelah masalah terdekomposisi, maka ada dua tahap penilaian atau membandingkan antar elemen yaitu perbandingan antar kriteria dan perbandingan antar pilihan untuk setiap kriteria. Perbandingan antar kriteria dimaksudkan untuk menentukan bobot untuk masingmasing kriteria. Di sisi lain, perbandingan antar pilihan untuk setiapkriteria dimaksudkan untuk melihat bobot suatu pilihan untuk suatu kriteria. Dengan perkataan lain, penilaian ini dimaksudkan untuk melihat seberapa penting suatu pilihan dilihat dari kriteria tertentu.


(1)

68

Gordon HS. 1954. The Economic Theory of A Common Property Resources : The Fisheries. J. Polit. Econ, London

Haluan, J. 1994. Studi Pemanfaatan dan Potensi Sumberdaya Perikanan di Pantai Barat Sumatera. Pengembangan Pendidikan Ilmu Kelautan Dirjen DIKTI, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Holtermann P and Hans Burchard. 2008. Hydrodynamics of Segara Anakan Lagoon. London. Registered Environ Change 9:245-258. Springer Link Journal.

Ishikawa, K. 1989. Tehnik Penuntun Pengendalian Mutu. Jakarta: PT. Mediyatama Sarana Perkasa.

Kirkegaard, D J Tuma, RH Walker. 1970. Synopsis of Biologycal Data on The Banana Prawn (Penaeus merguiensis de Man), 1888. Sydney. CSIRO – Division Fisheries and Oceanography.

Kusumastanto, T., 2002. Reposisi “Ocean Policy” Dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Di Era Otonomi Daerah. Orasi Ilmiah: Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Kebijakan Ekonomi Perikanan dan Kelautan, FPIK-IPB. Bogor. IPB.

Munro, ISR. 1975. Biology of the banana prawn (Penaeus merguiensis) in the south-east corner of the Gulf of Carpentaria. First Australian National Prawn Seminar. Maroochydore, 1973. Austr. Govt. Printing Service. Canberra: 60-78.

Naamin, N. 1987. The Role of Segara Anakan Lagoon as a Nursery Ground of Penaeid Shrimp in the South Coast of Java. In Proceeding Technical Workshop ASEAN-US Coastal Resources Management Indonesia In-Country Project. Semarang. March 7-9, 1988: 17 p.

__________. 1984. Dinamika Populasi Udang Jerbung (Penaeus merguiensis de Man) di Perairan Arafura dan Alternatif Pengelolaannya. Disertasi (Tidak Dipublikasikan). Bogor. Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Naamin N, A. Farid, B. Sumiono, A. Suman dan W. Subagyo. 1981. Potensi dan

Penyebaran Sumber Daya Udang Ikan Laut di Perairan Indonesia. Direktorat Jendral Perikanan. Puslitbang Oceanologi LIPI.

Naamin N dan N.P. Van Zalinge. 1975. Laporan penelitian post larva dan juwana udang penaeid di Segara Anakan dan perairan mangrove Cilacap. Proyek UNDP/FAO-LIPI. Jakarta (tidak dipublikasikan).

Naamin N dan Achmad Sudrajat. 1973. Perkembangan Perikanan Trawl di Perairan Pantai Selatan Jawa. LPPL. PL.030/73. Jakarta.


(2)

69

Naamin N. 1975. Synopsis Biologi Udang Penaeid (Penaeus merguiensis de man) dan Penaeus monodon Fabr. LPPL.PL.005/71. Lembaga Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta. 13 hal.

Naamin N. 1977. Penyebaran Usaha Penangkapan dan Hasil Tangkapan Menurut Jenis Udang dan Sub Area Penangkapan di Perairan Arafura. Lembaga Penelitian. Jakarta. 53 hal.

Naamin et al. 1992. Pedoman Teknis Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Udang Jerbung Penaeid Bagi Pembangunan Perikanan. Seri Pengembangan Hasil Penelitian Perikanan no.PHP/KAN/PT.22/1992. BPPP Deptan. Jakarta.

Naamin N, Poernomo A. 1972. Study on the Spawning Ground of Commercial

Species of Shrimps along North Coast of Central Java. IPFC/72/35, 15th Sess., Wellington, New Zealand : 11p.

Nurani T.W, Daniel R. Monintja dan Alfi Ramdani Latar. 2006. Strategi Kebijakan

untuk Penanggulangan Kegiatan Penangkapan Ikan yang Illegal, Unreported, Unregulated (IUU Fishing) di Perairan Zona Ekonomik Eksklusif Indonesia Sebelah Utara Papua. Kumpulan Pemikiran Tentang Teknologi Perikanan Tangkap Yang Bertanggungjawab. Kenangan Purnabakti Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja. Departemen PSP. FPIK. IPB Bogor.

Prahasta, E. 2002. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung: Informatika.

__________. 2002. Sistem Informasi Geografis : Tutorial ArcView. Bandung: Informatika.

Prasetyo, L.B. 1999. Monitoring Perubahan Lansekap di Segara Anakan, Cilacap Dengan Menggunakan Citra Optik dan Radar. Bogor. Makalah Seminar: Penerapan SIG dan Radiotracking untuk pengelolaan keanekaragaman hayati, 26 Oktober 1999, Fakultas Kehutanan, IPB Bogor.

Rangkuti F. 1997. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Saaty, T.L. 1991. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Jakarta: PT. Dharma Aksara Perkasa.

Santosa, B.P dan Ashari, 2005. Analisis Statistik dengan Microsoft Excel & SPSS. Penerbit Andi Yogyakarta.

Seliman A. 2003. Alokasi Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bogor. Jurnal Pasca Sarjana IPB.


(3)

70

Setyawan AD, Ari Susilowati dan Wiryanto. 2002. Habitat Reliks Vegetasi Mangrove di Pantai Selatan Jawa. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sulanjari dan Sukimin. 2008. Model Dinamik Pertumbuhan Biomassa Udang

Windu dengan Faktor Mortalitas Bergantung Waktu. Jurnal Matematika, Vol. 11, No.3. 1410-8518.

Sumedi. 2005. Perbanyakan Mangrove dengan Sistem Cangkok dalam Upaya Regenerasi Mangrove. Kumpulan Makalah Kehutanan Indonesia. S.U. Mangrove. Hal. 280.1. Mangrove. Indonesia.

Suparmoko, M. 1998. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta: Badan Penerbitan Fakultas Ekonomi (BPFE) UGM.

Susila W.R. 2007. Penggunaan Analytical Hierarchy Process untuk Penyusunan Prioritas Proposal Penelitian. Jakarta. Jurnal Informatika Pertanian. Taylor, B.W. 2008. Sains Manajemen, Edisi 8 Buku 2 (Terjemahan : Introduction

to Management Science, 8th ed). Jakarta. Salemba Empat.

Tuma DJ. 1967. A Description of the development of primary and secondary sexual characters in the banana prawn, Penaeus merguensis de Man (Crustacea : Decapoda : Penaeinae). Austr. J. Mar. Freshw. Res., 18:73-88

Tumisem dan Suwarno. 2008. Degradasi Hutan Bakau Akibat Pengambilan Kayu Bakar Oleh Industri Kecil Gula Kelapa di Cilacap. Jakarta. Jurnal Forum Geografi Vol. 22, No. 2, Desember 2008: 159-168.

Undang-Undang nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan.

Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Undang-Undang nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan.

UNEP. 2007. World Mangrove Atlas.

Waryono, Tarsoen. 2002. The History And Social Value Characteristics Of Kampung Laut Segara Anakan Cilacap Community. Indonesia.

Zalinge V, Naamin N. 1975. The Cilacap Based Trawl Fishery for Shrimp along The South Coast of Java. Laporan Penelitian Perikanan Laut. 2/75/PL 055/75

Zarochman, 2003. Laju Tangkap Udang dan Masalah Jaring Apung di Pelawangan Timur Laguna Segara Anakan. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang: 173 p.


(4)

71  

Lampiran 1 Perhitungan Analisis Bio-ekonomi

Data produksi, upaya tangkap dan CPUE periode 1999 - 2008 Tahun  Produksi Udang  Trip Penangkapan  CPUE 

1999        738,778.74        44,600.00         16.56  

2000  809,526.83        45,280.00         17.88  

2001  980,030.66        45,500.00         21.54  

2002  969,526.83        46,120.00         21.02  

2003  1,035,038.32        46,680.00         22.17  

2004  1,118,644.20        47,700.00         23.45  

2005  1,081,616.71        48,330.00         22.38  

2006  998,338.78        48,900.00         20.42  

2007  810,526.09        50,240.00         16.13  

2008  818,595.00        51,170.00         16.00  

 

SUMMARY OUTPUT    

     

Regression Statistics     

Multiple R  0.244590506    

R Square  0.059824516    

Adjusted R Square ‐0.05769742    

Standard Error  2.920263891    

Observations  10    

     

ANOVA     

  df  SS MS F Significance F 

Regression  1 4.341146601 4.341146601 0.509049782  0.495834306 

Residual  8 68.22352954 8.527941192    

Total  9 72.56467614    

     

Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.0% Upper 95.0%

Intercept 34.73593989 21.0166988 1.652778118 0.136977134 -13.72865441 83.20053419 -13.72865441 83.20053419

X Variable 1 -0.000315697 0.000442477 -0.713477247 0.495834306 -0.00133605 0.000704656 -0.00133605 0.000704656

 

a = 34,74 b = -0,0003


(5)

72  

Perhitungan Tingkat MSY

MSY = a2/4b

MSY = (34,74)2/(4 x 0,0003) MSY = 955.493,34 kg

EMSY = a/2b

EMSY = 34,74/(2 x 0,0003)

EMSY = 55.014,68 trip

Perhitungan Analisis Sensitifitas MEY

OBJ COEFISIENT RANGE

VARIABLE CURRENT COEF.

ALLOWABLE INCREASE

ALLOWABLE DECREASE

X1 0,0000 961,229858 37884,000000

X2 0,0000 2,923975 2,899440

X3 0,0000 INFINITY 16,464909

RIGHTHAND SIDE RANGE

ROW CURRENT RHS

ALLOWABLE INCREASE

ALLOWABLE DECREASE

1 926973,78 8130034,50 2873272,00

2 12836,00 12182,62 INFINITY

3 3500,00 INFINITY 2585,34

Diperoleh dari nilai data bahwa sensitifitas tertinggi MEY adalah pada nilai: MEY = 926.973,78 kg


(6)

 

Lampiran 2 Citra Sat

Gamba

Gamba

Gamba

elit Kabupa

r 27 Citra s

r 28 Citra s

r 29 Citra s

73 aten Cilacap

atelit Kabup

atelit Kabup

atelit Kabup

p Tahun 200

paten Cilac

paten Cilac

paten Cilac

05, 2007 dan

  ap tahun 20

  ap tahun 20

  ap tahun 20

n 2009

005

007