KAUSALITAS PAJAK, BELANJA INFRASTRUKTUR DAN INVESTASI DI PROVINSI LAMPUNG

KAUSALITAS PAJAK, BELANJA INFRASTRUKTUR DAN INVESTASI DI
PROVINSI LAMPUNG

Oleh

DANNY CHANDRA

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk hubungan kausalitas
antara pajak, belanja infrastruktur dan investasi di Provinsi Lampung. Penelitian ini
menggunakan data sekunder dengan rentang waktu 2001-2013. Teknik analisis yang
digunakan yaitu mengunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan metode penghitungan
kausalitas granger untuk mengetahui arah hubungan antar variabel. Hasil penelitian ini
yaitu menunjukkan bahwa pada lag optimum 2 tidak terjadi kasualitas dari ketiga
vaeriabel yang diteliti. Dari hasil penelitian Pajak memiliki hubungan satu arah dengan
belanja infrastruktur dimana pajak mempengaruhi belanja infrastruktur, pajak juga
memiliki hubungan satu arah dengan investasi dimana pajak mempengaruhi investasi,
dan investasi memiliki hubungan satu arah dengan belanja infrastruktur yaitu investasi
mempengaruhi belanja infrastruktur. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini
adalah mengoptimalkan penerimaan sektor pajak, peningkatan kualitas dan kuantitas
infrastruktur.

Kata Kunci : Kausalitas, Pajak, Belanja Infrastruktur, Investasi

CAUSALITY TAX, INFRASTRUCTURE SPENDING AND INVESTMENT IN
LAMPUNG PROVINCIAL

By

DANNY CHANDRA

ABSTRACT

This study aims to determine the causality between the form of taxes, infrastructure
spending and investment in the province of Lampung. This study uses secondary data
with the time span 2001-2013. The analysis technique used is quantitative descriptive
analysis using the methods used to determine the direction of granger causality
between variables. The results of this research that shows that the optimum lag 2 does
not occur variable causality of the three studied. From the research tax has a one-way
relationship with the infrastructure spending that taxes affect infrastructure spending,
taxes also have a one-way relationship with investments in which taxes affect
investment, and the investment has a one-way relationship with investments in
infrastructure spending that affect infrastructure spending. Advice can be given in this
study is to optimize tax receipts, an increase in the quality and quantity of
infrastructure.

Keywords : Causality, Tax, Infrastructure Spending, Investment

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Danny Chandra, dilahirkan di Bandarjaya,pada tanggal 21
Desember 1992. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari Bapak Amanto
dan Ibu Wunasih dan kakak dari Wenny Arnandha.

Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) Istiqlal Bandarjaya(1997-1998), Sekolah
Dasar Negeri Gedong 3 Semarang (1998-2004), Sekolah Menengah Pertama
Negeri1 Terbanggi Besar (2004-2007), Sekolah Menengah Atas Negeri 1
Terbanggi Besar (2007-2010). Kemudian pada tahun 2010 penulis terdaftar
sebagai Mahasiswa di Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi
Universitas Lampung.).

Pada tahun 2012 penulis melaksanakan Kuliah Kunjung Lapangan (KKL) di
Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementrian Koperasi dan UMKM, dan Bank
Indonesia (BI).Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun
2013selama 40 hari di Pekon Mulyo Rejo Kecamatan Banyumas Kabupaten
Pringsewu.

Penulis mengikuti beberapa organisasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas
Lampung. Lembaga Kemahasiswaan yang pernah diikuti antara lain Badan
Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (BEM FE) sebagai Brigadir Muda, Pers
Mahasiswa PILAR Ekonomi dan Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan
(HIMEPA) sebagai Kepala Bidang Kaderisasi dan Hubungan Luar.

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk Allah SWT. Sebagai rasa syukur atas ridho
serta karunia-Nya sehingga skripsi ini telah terselesaikan dengan baik. Serta
RasulullahNabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman
kebodohan menuju zaman ilmu pengetahuan
Alhamdulillaahirabbil’ alamiin.

Untuk kedua orang tuaku Bapak Amanto dan Mama Wunasih, terima kasih atas
doa yang selama ini diberikan untuk kelancaran skripsi ini, kalian
adalahhartadihidupku.

Adikku Wenny Arnandha yang luar biasa terima kasih atas doa dan dukunganya.

Dosen-dosen serta sahabat-sahabat terbaik yang turut memberikan arahan,
dukungandan doa yang menambahkan semangat atas selesainya skripsi ini.

Juga almamater tercinta. Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
Terima Kasih

MOTO

“… Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan …”
(Q.S. Al-Insyiraah : 5-6)

“Belajarlah dari kesalahan di masalalu, mencoba dengan cara yang berbeda, dan
selalu berharap untuk sebuah keberhasilan dan kesuksesan di masadepan”
(Danny Chandra)

“Bermimpi, berfikir, bertindak, berdoa, berhasil, bersukur”
(Danny Chandra)

SANWACANA

Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji syukur penulis
ucapkankan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul“Kausalitas Pajak,
Belanja Infrastruktur dan Investasi di Provinsi Lampung.” Sebagai salah satu
syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis di
Universitas Lampung.

Penulis telah banyak menerima bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai
pihak dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karenaitu, dengan segala kerendahan
hati sebagai wujud rasa hormat dan penghargaan serta terima kasih yang sebesarbesarnya kepada yang terhormat:
1.

Bapak Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E, M.Si. selalu Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

2.

Bapak

M.Husaini,

S.E,

M.E.P.

selaku

Ketua

Jurusan

Ekonomi

Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.
3.

Ibunda Asih Murwiati, S.E, M.Si selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi
Pembangunan

Fakultas

Ekonomi

Universitas

Lampung sekaligus

Pembimbing Akademik yang telah memberikan saran, masukan, dan
pendengar curahan hati dalam menghadapi dan menyelesaikan skripsi ini.

4.

Bapak Dr. Hi. Toto Gunarto, S.E, M.Si selaku Pembimbing Utama yang
telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan, dan
saran dalam proses penyusunan skripsi ini hingga akhir kepada penulis.

5.

Bapak Dedy Yuliawan, S.E, M.Si selaku Pembimbing Pendamping yang
telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan, dan
saran dalam proses penyusunan skripsi ini hingga akhir kepada penulis.

6.

Seluruh bapak dan ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah
membekali penulis dengan ilmu dan pengetahuan selama masa perkuliahan.

7.

Keluargaku Tercinta, Bapak dan Mamak yang tiada hentinya mendukung
dan tak pernah lelah mendoakan, adik Wenny Arnandha yang selalu
memberikan senyuman penyemangat dan doa yang tulus ikhlas.

8.

Bu Mar, Bu Yati, Mas Kus, pakde kantin, pakde-pakde, dan para staf
Ekonomi Pembangunan yang telah membantu kelancaran proses skripsi ini.

9.

Sahabat-sahabatku A. Citra Varika, Devy Septi Heryani, Agus Wantoro,
Army Aftrastya, Beni Purnama yang selalu saya repotkan, pemberi
semangat, doa dan motivasi.

10. Teman-teman Ekonomi Pembangunan 2010 Icha, Monce, Amin, Desy
Ratnasari, Sonia, Dania, Tante, Ajeng, Darus, Dimas, Dede, Dicki, Ardan,
Febri, Dwi Adi, Cermen dan lainnya yang telah memberikan bantuan dan
semangat dalam hidup. Serta seluruh teman-teman EP’10 yang tak dapat
disebut satu persatu karena keterbatasan yang ada.
11. Orang-orang

terhebat Arif, Desmon, Samsu, Ariken, Mahmud, Roni,

Solihin, Eka, Rini, Aya dan Shinta.

12. Keluarga KKN tersayang,semua keluarga induk semang, Angga, Alam,
Kyai Rona, Yogi, Ennisa, Soraya, Lia, Echa, Lina, Nisa, Kiki, yang telah
memberikan pengalaman serta kebersamaan yang luar biasa selama masa
KKN.
13.

Seluruh keluarga besar PILAR yang telah menjadi bagian dari penulis.

14. Seluruh keluarga besar HIMEPA yang telah menjadi bagian dari penulis.
15. Kakak tingkat EP angkatan 2007, 2008, dan 2009 serta adik-adik EP
angkatan 2011 dan 2012yang tidak dapat disebutkan satu-persatu namun
terima kasih banyak , atas dukungannya.

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan pengorbanan bapak, ibu,
kakak, adik, dan teman-teman. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari
kesempurnaan akan tetapi penulis berharap semoga karya ini berguna dan
bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Bandarlampung,13 Oktober 2014
Penulis

Danny Chandra

i

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI.................................................................................................... …….i
DAFTAR TABEL............................................................................................ …....iii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... ……iv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... …….v
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................12
C. Tujuan Penelitian .........................................................................................11
D. Kerangka Pemikiran.....................................................................................13
E. Hipotesis.......................................................................................................16
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori.............................................................................................17
1. Otonomi Daerah .......................................................................................17
2. Teori Pajak ...............................................................................................22
3. Teori Belanja Daerah ...............................................................................25
4. Teori Pengeluaran Pemerintah .................................................................28
5. Teori Investasi ..........................................................................................31
6. Teori Kebijakan Fiskal .............................................................................34
B. Penelitian Terdahulu ....................................................................................41
III. METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Sumber Data .................................................................................44
B. Definisi Variabel Operasional......................................................................44
C. Teknik Analisis ............................................................................................45
1. Penentuan Lag Optimum........................................................................45
2. Uji Kausallitas........................................................................................46
3. Uji t-statistik...........................................................................................47
4. Pengujian Kausalitas ..............................................................................47
5. Pengujian Arah Kausalitas .....................................................................49
D. Gambaran Umum Provinsi Lampung ..........................................................50

ii

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penentuan lag Optimum .....................................................................52
B. Hasil Uji Kausalitas......................................................................................53
C. Hasil Uji t-statistik .......................................................................................55
D. Pembahasan..................................................................................................57

V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ......................................................................................................67
B. Saran.............................................................................................................68
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Realisasi Pendapatan Pemerintah Provinsi Lampung 2009-2011.........................7
2. Kondisi Ruas Jalan, Status Jalan Provinsi, Desember 2011 .................................8
3. Kondisi Ruas Jalan, Status Jalan Provinsi, September 2012 ................................8
4. Realisasi Investasi di Provinsi Lampung 2004-2011 ............................................9
5. Deskripsi Variabel................................................................................................37

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar
1.
2.
3.
4.
5.

Halaman

Kerangka Pemikiran................................................................................... 16
Perkembangan Penerimaan Pajak dan Belanja Infrastruktur ..................... 58
Perkembangan Penerimaan Investasi dan Belanja Infrastruktur................ 60
Perkembangan Penerimaan Pajak dan Investasi ........................................ 63
Hasil Penelitian ......................................................................................... 66

v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Data yang Digunakan Dalam Penelitian ...................................................

L.1

2. Hasil Uji Lag Optimum..............................................................................

L.2

3. Hasil Uji Granger Causality ......................................................................

L.3

4. Hasil Uji T-Statistik ...................................................................................

L.4

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dasar pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia dimulai sejak Undang-Undang
dasar 1945 yang mengamanatkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia
dibagi atas provinsi-provinsi yang lebih lanjut dibagi atas kabupaten dan kota.
Setiap daerah memiliki hak dan kewajiban untuk mengatur dan melaksanakan
urusan pemerintahannya sendiri yang menjadi wewenangnya dan sesuai dengan
kemampuan keuangan daerah yang dimiliki.
Otonomi daerah adalah salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pusat
semenjak diberlakukannya UU No. 22 Th 1999 tentang Pemerintahan Daerah,
yang kemudian diubah menjadi UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 25 tahun
1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
kemudian dan diubah kembali dengan UU No. 33 tahun 2004. Pelaksanaan
undang-undang ini telah menyebabkan perubahan yang mendasar mengenai
pengaturan hubungan Pusat dan Daerah, khususnya dalam bidang administrasi
pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah, yang dikenal sebagai era otonomi daerah.

2

Tujuan utama penyelenggaraan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan
pelayanan publik dan memajukan perekonomian daerah. Pada dasarnya
terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal,
yaitu : (1) meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan
mensejahterakan masyarakat, (2) menciptakan efisiensi dan efektivitas
pengelolaan sumber daya daerah, dan (3) memberdayakan dan menciptakan ruang
bagi masyarakat (publik) untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan
(Mardiasmo, 2002:76). Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
juga dinyatakan bahwa untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas,
nyata, dan bertanggung jawab diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali
sumber-sumber keuangan sendiri, yang didukung oleh perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dan daerah serta antara provinsi dan kabupaten/kota yang
merupakan prasyarat dalam sistem pemerintah daerah. Dengan desentralisasi juga
diharapkan adanya pelimpahan wewenang dan tanggung jawab terhadap sumbersumber keuangan untuk menyediakan pelayanan publik.

Pelaksanaan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah di Indonesia telah
diberlakukan secara efektif sejak 1 Januari 2001. Melalui kebijakan otonomi
daerah dan desentralisasi fiskal, pemerintah daerah diberi wewenang atau
kekuasaan untuk mengatur dan menjalankan roda pemerintahannya sesuai dengan
undang-undang yang berlaku. Pemerintah daerah didorong untuk dapat lebih
mengembangkan daerah otonom agar mampu bersaing dengan daerah lain dan
menyusun prioritas pembangunan yang dibutuhkan sesuai dengan potensi-potensi
yang dimiliki oleh daerah tersebut sehingga dapat mendorong pemerataan
pembangunan disetiap daerah.

3

Pada dasarnya desentralisasi fiskal dan otonomi daerah akan berjalan dengan
lancar jika didukung oleh kemampuan keuangan daerah yang memadai. Dalam
undang-undang nomor 33 tahun 2004 telah diatur sumber-sumber keuangan
daerah yang dapat digunakan untuk menjalakan pemerintahan yang menjadi
tanggung jawab pemerintah daerah. Sumber-sumber yang dapat digunakan antara
lain yaitu pendapatan asli daerah, dana perimbangan, pinjaman daerah, hibah dan
pendapatan lain-lain yang sah.
Pemerintah daerah diharapkan dapat menggali semua potensi PAD yang dimiliki
untuk dapat membiayai pemerintahannya sendiri. Menurut Halim (2007:130),
ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin, sehingga PAD
harus menjadi sumber keuangan terbesar yang didukung oleh kebijakan
perimbangan keuangan pusat dan daerah. Santosa dan Rahayu (dalam Parmawati,
2010:7) menyebutkan bahwa PAD sebagai salah satu penerimaan daerah
mencerminkan tingkat kemandirian daerah. Semakin besar PAD maka
menunjukan bahwa daerah mampu melaksanakan desentralisasi fiskal dan
ketergantungan terhadap Pemerintah Pusat berkurang. Sampai saat ini potensi
pendapatan asli daerah masih menitikberatkan pada perolehan pajak dan retibusi
daerah.
Dalam era otonomi daerah sekarang ini, daerah diberikan kewenangan yang lebih
besar untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Sejalan dengan
kewenangan tersebut, Pemerintah Daerah diharapkan lebih mampu menggali
sumber-sumber keuangan khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan
pemerintahan dan pembangunan di daerahnya melalui PAD.

4

Tuntutan peningkatan PAD semakin besar seiring dengan semakin banyaknya
kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada daerah disertai pengalihan
personil, peralatan, pembiayaan dan dokumentasi (P3D) ke daerah dalam jumlah
besar (Sidik, 2002:3). Sumber-sumber penerimaan daerah yang potensial harus
digali secara maksimal, termasuk diantaranya adalah pajak daerah dan retribusi
daerah yang memang telah sejak lama menjadi unsur PAD yang utama.
Pemberian kewenangan dalam pengenaan pajak dan retribusi daerah, diharapkan
dapat lebih mendorong Pemerintah Daerah terus berupaya untuk mengoptimalkan
PAD, khususnya yang berasal dari pajak daerah dan retribusi daerah.
Pajak daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam
penyelenggaraan otonomi daerah. Pajak daerah merupakan sumber pendapatan
daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan daerah. Pajak merupakan urat nadi perekonomian suatu daerah. Di
setiap daerah di Indonesia penerimaan dari sektor pajak selalu meningkat. Hal ini
dapat dilihat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), besaran
pos penerimaan pajak selalu bertambah dari tahun ke tahun. Penerimaan dari
sektor pajak menjadi penting karena pajak merupakan pendapatan utama sebuah
daerah.
Anggaran pendapatan dan belanja merupakan instrumen kebijakan fiskal
pemerintah untuk mempengaruhi pertumbuhan perekonomian. Kebijakan fiskal
bekerja mempengaruhi perekonomian melalui anggaran yang berfungsi sebagai
alokasi, distribusi dan stabilisasi (Musgrave, 1996 dalam Parmawati dan
Sasana,2010:9). APBD adalah suatu wujud implementasi pengelolaan keuangan
daerah sejak pelaksanaannya desentralisasi fiskal yang sepenuhnya dipegang dan

5

dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Selain di lihat dari segi pendapatannya atau
penrimaan daerahnya, APBD juga dilihat dari anggaran belanja yang merupakah
salah satu instrumen kebijakan fiskal pemerintah untuk mempengaruhi
pertumbuhan perekonomian.

Pada awal penerapan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah terlihat jika
peranan pajak dalam membiayai pemerintahan masih terlalu kecil jika
dibandingkan dengan dana transfer dari pemerintah pusat. Namun seiring
berjalannya waktu penerimaan asli daerah terus meningkat dan menunjukkan
tingkat kemandirian daerah yang lebih baik. Meskipun tidak dapat dipungkiri
bahwa tanpa adanya bantuan dari pusat, maka kegiatan-kegiatan pemerintah
daerah untuk perekonomian akan terhambat.

Pada sisi pengeluaran anggaran belanja pemerintah sebagian digunakan untuk
pembangunan infrastruktur. Penyediaan infrastruktur merupakan komponen
penting dalam sistem kehidupan, pemerintahan, kemasyarakatan, dan
perekonomian. Pembangunan infrastruktur sejalan dengan kondisi perekonomian
makro didalam negara yang bersangkutan. Infrastruktur memiliki peran yang luas
dan mencakup berbagai konteks dalam pembangunan baik dalam konteks fisik
lingkungan, ekonomi, sosial budaya, dan konteks lain. Infrastruktur diharapkan
mampu menciptakan mobilitas sosial dan ekonomi masyarakat serta dapat
memperlancar arus perekonomian. Hal ini dikarenakan infrastruktur merupakan
driving force dalam pertumbuhan ekonomi.

Dalam rangka mempercepat pembangunan ekonomi daerah, pemda selain
menggali potensi daerah juga diharapkan mampu meningkatkan investasi yang

6

masuk kedaerah. Dengan meningkatnya investasi di daerah maka akan membawa
dampak ganda, yaitu memperbesar peluang untuk penyerapan tenaga kerja dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat (Saragih, 2003). Pemanfaatan potensi
sumber daya yang dimiliki merupakan peluang yang baik untuk dikembangkan
bagi kesejahteraan masyarakat lokal. Jika investasi daerah berkembang dengan
baik, maka akan mendorong pertumbuhan industri dan peningkatan perdagangan
barang dan jasa antar daerah. Investasi adalah pengaitan sumber-sumber dalam
jangka panjang untuk menghasilkan laba di masa yang akan datang (Mulyadi,
2001:23).
Pembangunan daerah secara menyeluruh dan berkesinambungan akan lebih sulit
dilakukan pemerintah daerah apabila tanpa adanya dukungan dari pihak swasta.
Disamping menggali sumber pembiayaan asli daerah dan dana transfer pemerintah
pusat, pemerintah daerah juga mengundang sumber pembiayaan dari pihak swasta
salah satunya adalah Penanaman Modal (Sarwedi 2002 dalam Sagita 2013:4).
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah daerah perlu membuat kebijakan yang
mendukung penanaman modal yang saling menguntungkan baik bagi pemerintah
daerah, pihak swasta maupun terhadap masyarakat daerah. Tumbuhnya iklim
investasi yang sehat dan kompetitif diharapkan akan memacu perkembangan
investasi yang saling menguntungkan dalam pembangunan daerah.

Provinsi Lampung sebagai salah satu daerah yang telah melaksanakan otonomi
daerah merupakan salah satu Provinsi yang memiliki potensi yang cukup baik,
terutama potensi pada sumber daya alam. Dilihat dari segi potensi ekonomi, saat

7

ini Lampung merupakan salah satu Provinsi sebagai lumbung pangan di
Indonesia. (Capaian Kinerja Pembangunan Provinsi Lampung, 2011).
Dalam penerimaan daerah, pendapatan daerah provinsi Lampung terdiri dari
pendapatan asli dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berupa pajak daerah,
retribusi daerah, BUMD dan lain – lain Pendapatan asli Daerah yang sah, dana
perimbangan dan pendapatan lainnya yang sah. Perbedaan sumber daya yang
dimiliki setiap daerah menyebabkan pendapatan daerah berbeda-beda. Hal itu
mendorong pemerintah melakukan transfer ke daerah dalam bentuk dana
perimbangan. Akan tetapi potensi sesungguhnya dalam PAD yaitu berasal dari
penerimaan pajak daerah. Setiap tahunnya pajak daerah adalah sektor yang
berkontribusi terbesar dalam PAD.

Tabel 1. Realisasi Pendapatan Pemerintah Provinsi Lampung 2009-2011
(dalam ribu rupiah)
No
1
2

Jenis pendapatan
Silpa
Pendapatan Asli Daerah
Pajak daerah
Retribusi
HPKD
Lain-lain yg sah

2009
183.672.386
860.357.826
725.464.224
7.266.015
12.137.116
47.490.471

2010
79.029.067
1.118.340.908
951.316.482
7.059.463
12.869.366
147.095.597

2011
161.181.630
1.395.675.721
1.199.945.830
8.689.231
19.389.638
167.642.021

3

Dana perimbangan
DBH
DAU
DAK
Dana Penyesuaian

829.026.291
160.504.618
628.505.673
40.016.000
-

970.241.277
237.470.234.
643.376.134
27.537.800
61.821.109

1.063.287.255
251.104.017
769.973.038
42.210.200
-

Lain-lain pendapatan
53.002.724
yang sah
Hibah
2.067.905
Lainnya
50.934.819
Jumlah
1.724.386.841
Sumber: Lampung Dalam Angka 2013, BPS

3.101.946

69.027.926

3.101.946
2.091.684.131

69.027.926
2.527.990.902

4

8

Pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa realisasi pendapatan daerah Provinsi Lampung
terus meningkat setiap tahunnya. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan
hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Dari yang sebesar Rp. 1.724.386.841.000
pada tahun 2009, menjadi sebesar Rp. 2.527.990.902.000 pada tahun 2011.
Dalam realisasi pendapatan daerah tersebut dapat dilihat bahwa pendapatan
provinsi Lampung paling besar disumbang dari sektor penerimaan pajak. Sektor
pajak menyumbang hampir 50% dari total pendapatan daerah pada tahun 2011.
Pemerintah harus labih berupaya untuk meningkatkan PAD agar tidak bergantung
pada dana perimbangan dari pemerintah pusat.

Dalam pos belanja pemerintah, jumlah belanja infrastruktur di Provinsi Lampung
berfluktuatif setiap tahunnya. Kondisi infrastruktur menjadi perhatian karena
merupakan faktor penting pendorong perekonomian. Berikut merupakan kondisi
belanja infrastrukur di Provinsi Lampung.
Tabel 2. Belanja Infrastruktur Provinsi Lampung 2001-2013.
Tahun Belanja Infrastruktur
2001
20.665
2002
23.403
2003
41.523
2004
21.766
2005
23.772
2006
24.185
2007
13.614
2008
54.854
2009
98.062
2010
65.171
2011
264.110
2012
447.013
2013
195.067
Sumber: BPS Lampung

Perkembangan (%)
0
0.1325
0.7743
-0.4758
0.0922
0.0174
-0.4371
3.0292
0.7877
-0.3354
3.0526
0.6925
-0.5636

9

Pada Tabel 2, dapat dilihat anggaran belanja infrastruktur pemerintah provinsi
Lampung. Belanja infrastuktur di Provinsi Lampung berfluktuasi setiap tahunnya.
Pada tahun 2001-2003 mengalami kenaikan, lalu pada 2004 menurun. Pada 20042006 menalami kenaikan dan 2007 kembali terjadi penurunan. Pada 2008-2012
terjadi kenaikan yang cukup tajam, lalu kembali menurun pada 2013.

Dari segi infrastruktur, saat ini infrastruktur di Provinsi Lampung dapat dikatakan
cukup memprihatinkan. Salah satu kondisi infrastruktur yang menjadi perhatian
adalah kondisi infrastruktur transportasi. Berikut merupakan kondisi infrastrukur
transportasi jalan sampai Desember 2011 dan September tahun 2012 di Provinsi
Lampung.
Tabel 3. Kondisi Ruas Jalan, Status Jalan Provinsi, Desember 2011.
Kondisi
Jalan

%

Baik

Sedang

Mantap

48,618

33,178

15,440

Tidak
Mantap

51,281

Total (%)

100,00

33,178

15,440

Rusak
Ringan

Rusak
Berat

14,326

36,955

14,326

36,955

Sumber: Dinas Bina Marga Provinsi Lampung
Tabel 4. Kondisi Ruas Jalan, Status Jalan Provinsi, September 2012.
Kondisi
Jalan
Mantap
Tidak
Mantap

%

Baik

Sedang

53,58
47,84

37,09

16,49

Total (%)
101,42
37,09
16,49
Sumber: Dinas Bina Marga Provinsi Lampung

Rusak
Ringan

Rusak
Berat

13,60

34,24

13,60

34,24

10

Data tersebut menggambarkan bagaimana kondisi infrastruktur jalan di Provinsi
Lampung. Dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4, sampai dengan Desember 2011
kondisi jalan mantap hanya mencapai 48,618%. Walaupun pada September 2012
kondisi jalan mantap terjadi perbaikan menjadi 53,58%, namun kondisi yang
demikian belum mampu untuk menunjang suatu kondisi infrastruktur jalan yang
ideal.

Selain itu secara letak geografis, Provinsi Lampung merupakan wilayah kawasan
sekitar ibu kota Indonesia yaitu Jakarta dan provinsi paling selatan Pulau
Sumatera. Dilihat dari potensi dan letak geografis, maka Provinsi Lampung
seharusnya merupakan provinsi yang banyak diminati oleh penanam modal atau
investor untuk melakukan investasi, terutama investasi sektor riil baik yang
berasal dari dalam negeri maupun asing.
Tabel 5. Realisasi Investasi di Provinsi Lampung 2004-2011

Tahun

Jumlah Proyek

Nilai Investasi
PMDN (Rp)

Jumlah (Rp)
PMA+PMDN

PMA

PMDN

PMA (US$)

2004

8

2

280.406.939

618.000.000

2.524.280.451.000

2005

14

8

63.498.091

1.440.039.566.000

2.011.522.475.000

2006

10

13

178.282.567

3.763.050.000.000

5.367.593.103.000

2007

13

7

248.283.336

951.356.400.000

3.185.888.424.000

2008

2

7

19.557.747

622.635.916.800

798.655.640.000

2009

17

10

470.530.463

471.430.641.606

5.246.735.268.464

2010

36

53

624.724.659

7.583.944.825.370

13.206.466.756.370

2011

58

92

827.889.065

10.268.952.530.000

17.719.954.115.000

Sumber : Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Daerah
Provinsi Lampung

11

Pada Tabel 5, dapat diketahui jumlah realisasi investasi di Provinsi Lampung yang
bersummber dari PMA dan PMDN tahun 2004-2011. Realisasi investasi pada
tahun 2005 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu menjadi
2.011.522.475.000 pada tahun 2005. Pada tahun 2006 investasi diprovinsi
lampung mengalami kenaikan, baik dari segi jumlah proyek maupun nilai
investasi yaitu sebesar 5.367.593.103.000. Kemudian pada tahun 2007 dan 2008
nilai investasi terus menurun. Jumlah proyek juga mengalami penurunan yang
cukup drastis. Pada tahun 2009-2011 jumlah proyek investasi terus mengalami
peningkatan. Nilai investasi juga mengalami lonjakan yang sangat drastic hingga
mencapai 17.719.954.115.000 pada tahun 2011. Jumlah investasi yang masuk ini
tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal
termasuk diantaranya infrastruktur yang memadai.
Demi terciptanya ekonomi yang berkembang di Provinsi Lampung maka
pembangunan ekonomi harus dilakukan oleh pemerintah daerah. Pemerintah
Lampung harus mampu memanfaatkan seluruh dana yang ada untuk
pembangunan ekonomi. Dalam hal untuk meningkatkan pendapatan didaerah
Lampung dibutuhkan peran serta sektor swasta sebagai modal untuk membangun
daerah ini. Sebagai pedoman perencanaan guna meningkatkan pembangunan di
daerah Lampung, Pemerintah harus menggunakan metode pembangunan dari
bawah ke atas agar pembangunan ekonomi di daerah ini bisa berkelanjutan dan
sesuai dengan harapan.
Hal yang penting bagi pemerintah adalah mengetahui ada tidaknya hubungan
kausalitas antara PAD, belanja infrastruktur dan investasi di Provinsi Lampung.
Sifat dari hubungan tersebut diperlukan bagi pemerintah daerah dalam langkah-

12

langkah meningkatkan peranannya untuk meningkatkan produk masyarakat yang
berkualitas, yang selanjutnya akan mendorong kemajuan pembangunan
daerahnya. Salah satu tujuan utama dilaksanakannya otonomi daerah yaitu untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Diharapkan dengan kebijakan yang tepat
antara pemungutan pajak, pembangunan infrastruktur dan masuknya investasi
swasta mampu mewujudkan tujuan otonomi tersebut.

Berdasarkan kondisi tersebut, penulis tertarik melakukan penelitian mengenai
permasalahan ini, dan menyajikannya ke dalam bentuk penelitian dengan judul
“Kausalitas Pajak, Belanja Infrastruktur dan Investasi di Provinsi
Lampung”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, Maka rumusan masalah yang
dapat diambil yaitu:
1. Apakah terdapat kausalitas antara Pajak dan Belanja Infrastruktur di
Provinsi Lampung?
2. Apakah terdapat kausalitas antara Pajak dan Investasi di Provinsi
Lampung?
3. Apakah terdapat kausalitas antara Belanja Infrastruktur dan Investasi di
Provinsi Lampung?

13

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pola hubungan antara Pajak,
infrastruktur jalan dan investasi di Provinsi Lampung. Secara umum penelitian ini
bertujuan untuk :
1. Menganalisis apakah terdapat kausalitas antara Pajak dan Belanja
Infrastruktur di Provinsi Lampung
2. Menganalisis apakah terdapat kausalitas antara Pajak dan Investasi di
Provinsi Lampung
3. Menganalisis apakah terdapat kausalitas antara belanja infrastruktur dan
investasi di Provinsi Lampung

D. Kerangka Pemikiran
Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal adalah salah satu kebijakan
yang diambil oleh pemerintah dalam bidang fiskal. Dengan diterapkannya
kebijakan fiskal ini maka akan mempengaruhi sistim anggaran yang merupakan
implementasi dari penerapan kebijakan tersebut khususnya dalam mengelola
keuangan daerah. Kebijakan tersebut akan mempengaruhi perekonomian di daerah
melalui siklus APBD pada penerimaan daerah dan pengeluaran daerahnya.
Pajak merupakan urat nadi perekonomian suatu Negara ataupun daerah. Di setiap
daerah di Indonesia penerimaan dari sektor pajak selalu meningkat. Hal ini dapat
dilihat dalam APBD, besaran pos penerimaan pajak selalu bertambah dari tahun
ke tahun. Penerimaan dari sektor pajak menjadi penting karena pajak merupakan

14

pendapatan utama sebuah daerah, termasuk Provinsi Lampung. Penerimaan sektor
pajak sangat penting bagi keberlangsungan perekonomian suatu Negara.
Dengan meningkatnya penerimaan pajak suatu daerah maka menunjukan bahwa
jumlah pendapatan daerah yang dapat dialokasikan untuk belanja daerah semakin
meningkat. Sebagian besar pengeluaran pemerintah dibiayai oleh pajak. Misal
pengeluaran pemerintah untuk belanja pegawai, pembangunan infrastruktur,
belanja barang dan jasa dan masih banyak lagi. Dengan meningkatnya penerimaan
pajak, dapat mendorong peningkatan belanja pemerintah untuk penyediaan
infrastruktur publik. Semakin besar pendapatan daerah, maka semakin besar dana
yang bisa dialokasikan untuk membangun infrastruktur. Teori ekonomi Keynes
menjelaskan hipotesis siklus arus uang yang mengacu pada ide bahwa
peningkatan belanja (konsumsi) dalam suatu perekonomian akan meningkatkan
pendapatan yang kemudian akan mendorong lebih meningkatkan lagi belanja dan
pendapatan. Dengan sistem penyusunan defisit anggaran, maka pemerintah akan
menerapkan kebijakan Fiskal Ekspansif, yaitu kebijakan meningkatkan
penerimaan pajak untuk membiayai defisit anggaran. Jika semakin besar belanja
pemerintah, maka pemerintah akan memacu peningkatan penerimaan asli
daerahnya, terutama dari sektor pajak untuk membiayai belanja tersebut.
Besaran alokasi dana pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah tidak
lain yaitu untuk mendukung investasi dan daya saing daerah. Dengan tersedianya
infrastruktur yang baik diharapkan mampu menarik investasi untuk
mengembangkannya atau menanamkan investasinya didaerah tersebut. Begitu
juga sebaliknya, infrastruktur yang buruk dapat menjadi hambatan investasi untuk
masuk. Investasi juga dapat mempengaruhi belanja infrastruktur melalui

15

pertumbuhan ekonomi. Pada saat banyak investor yang menanamkan investasinya
maka akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, akan meningkatkan kegiatan
perekonomian masyarakat dan meningkatkan output masyarakat. Dengan
meningkatnya jumlah investasi yang masuk, maka pemerintah akan menerapkan
kebijakan belanjanya menyesuaikan untuk melengkapi sarana prasarana
penunjang investasi. Hal ini dilakukan untuk mendorong output masyarakat.
Investasi swasta dipandang sebagai jalan utama untuk mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi melalui perpajakan (Widmalm dan Romer dalam John
2010). Pajak yang lebih tinggi mengurangi jumlah tabungan, menghambat
investasi swasta dan konsumsi, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pajak yang lebih tinggi membuat insentif bagi agen untuk terlibat
dalam kegiatan yang kurang produktif dan lebih ringan dikenakan pajak, yang
mengarah ke tingkat ekonomi yang lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi
(Myles dalam John 2010). Selain itu investasi yang tinggi akan meningkatkan
penerimaan pajak bertambah. Peningkatan investasi akan meningkatkan output
masyarakat. Produktivitas masyarakat diharapkan semakin tinggi dan pada
gilirannya terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah. Semakin meningkat
produk daerah maka pendapatan masyarakat akan semakin tinggi dari hasil
penjualan produk daerah, sehingga pemerintah dapat menyerap kembali dalam
bentuk pajak daerah. Hal ini akan meningkatkan pendapatan PAD. Hal ini berarti
jika semakin besar investasi daerah, maka penerimaan daerah dari sektor pajak
akan meningkat. Hal ini karena kemampuan masyarakat untuk membayar pajak
meningkat, dan juga objek pajak akan bertambah.

16

PAD

Belanja Infrastruktur

Investasi

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

E. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini yaitu :
1. Diduga terdapat hubungan kausalitas antara Pajak dan belanja infrasturktur
di Provinsi Lampung
2. Diduga terdapat hubungan kausalitas antara belanja infrastruktur dan
investasi di Provinsi Lampung
3. Diduga terdapat hubungan kausalitas antara Pajak dan investasi di Provinsi
Lampung

17

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Fiskal
Dalam istilah, otonomi secara etimologi berasal dari bahasa/kata latin yaitu "autos
yang berarti "sendiri", dan "nomos" yang berarti "aturan". Sehingga otonomi
diartikan "pengundangan sendiri", “mengatur atau memerintah sendiri”. Menurut
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, otonomi daerah
adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dari pengertian tersebut di atas dapat diartikan bahwa otonomi daerah merupakan
kemerdekaan atau kebebasan menentukan aturan sendiri berdasarkan perundangundangan, dalam memenuhi kebutuhan daerah sesuai dengan potensi dan
kemampuan yang dimiliki oleh daerah. Otonomi daerah yang sudah berjalan di
negara kita diharapkan bukan hanya pelimpahan wewenang dari pusat kepada
daerah untuk menggeser kekuasaan. Hal itu ditegaskan oleh Kaloh (2002:47),
bahwa otonomi daerah harus didefinisikan sebagai otonomi bagi rakyat daerah
dan bukan otonomi "daerah" dalam pengertian wilayah/teritbrial tertentu di

18

tingkat lokal. Otonomi daerah bukan hanya merupakan pelimpahan wewenang
tetapi juga peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.
Berbagai manfaat dan argumen yang mendukung pelaksanaan otonomi daerah
tidak langsung dapat dianggap bahwa otonomi adalah sistem yang terbaik.
Berbagai kelemahan masih menyertai pelaksanaan otonomi yang harus
diwaspadai dalam pelaksanaannya.

Asas-asas penyelenggaraan pemerintah daerah di Indonesia berdasarkan UndangUndang No.33 tahun 2004 dibagi menjadi tiga, yaitu : desentralisasi,
dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Konsekuensi dari pelimpahan sebagian
wewenang pemerintahan dari pusat ke daerah otonom, tidak lain adalah
penyerahan dan pengalihan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya
manusia (SDM) sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut.
Desentralisasi fiskal adalah suatu proses distribusi anggaran dari tingkat
pemerintahan yang lebih tinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah untuk
mendukung fungsi atau tugas pemerintahan dan pelayanan publik sesuai dengan
banyaknya kewenangan bidang pemerintahan yang dilimpahkan. Menurut Kusaini
(2006:6), Desentralisasi fiskal merupakan pelimpahan kewenangan di bidang
penerimaan anggaran atau keuangan yang sebelumnya tersentralisasi, baik secara
administrasi maupun pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah
pusat.

Pemberian otonomi daerah melalui desentralisasi fiskal terkandung tiga misi
utama (Fahmi, 2013:3), yaitu:


Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah

19



Meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat.



Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta
(berpartisipasi) dalam proses pembangunan.

a. Teori Pengelolaan Pemerintaan Daerah dalam Otonomi Daerah
Penerapan otonomi daerah oleh pemerintah pusat di Indonesia memiliki tujuan
untuk kemandirian pemerintah daerah dalam mengelola rumah tangganya. Dalam
penerapannya pemerintah pusat tidak lepas tangan secara penuh dan masih
memberikan bantuan kepada pemerintah daerah berupa dana perimbangan yang
dapat digunakan untuk pembangunan dan menjadi komponen penerimaan daerah
dalam APBD. Menurut Sidik (2002:5), transfer pemerintah pusat diharapkan
menjadi faktor pendorong bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan upaya
pengumpulan penerimaan daerahnya. Pemerintah daerah harus dapat menjalankan
rumah tangganya secara mandiri dengan mengupayakan peningkatan pelayanan
publiknya. Belanja daerah yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan
pelayanan publik digunakan untuk pembangunan, perbaikan sektor pendidikan,
kesehatan, transportasi dan sebagainya, sehingga masyarakat juga menikmati
manfaat dari pembangunan daerah. Tersedianya infrastruktur yang baik
diharapkan dapat menciptakan efisiensi dan efektivitas diberbagai sektor.

Produktivitas masyarakat diharapkan semakin tinggi dan pada gilirannya terjadi
peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah. Pembangunan dalam sektor pelayanan
publik akan merangsang masyarakat untuk lebih aktif dalam meningkatkan
produktivitasnya dan bergairah dalam bekerja karena ditunjang oleh fasilitas yang
memadai, selain itu investor juga akan tertarik berinvestasi karena fasilitas yang

20

tersedia di daerah. Semakin meningkat produk daerah maka pendapatan
masyarakat akan semakin tinggi dari hasil penjualan produk daerah, sehingga
pemerintah dapat menyerap kembali dalam bentuk pajak daerah. Selain itu,
semakin besar investasi masuk maka jumlah objek pajak akan semakin meningkat.
Hal ini akan meningkatkan pendapatan PAD dari sektor pajak.

b. Teori Peranan Pemerintah dalam Perekonomian
Dalam lingkup regional, pemerintah mempunyai peranan dan fungsi yang
strategis dalam mempengaruhi perekonomian. Dalam pandangan Klasik Adam
Smith, pemerintah mempunyai tiga fungsi, yaitu: fungsi pemerintah memelihara
ketahanan dan keamanan, fungsi pemerintah untuk menyelenggarakan keadilan
serta fungsi pemerintah untuk menyediakan baran-barang umum.
Menurut Musgrave (Kuncoro,2007:12), dalam pandangan teori ekonomi publik,
kebijakan pemerintah berperan dalam mempengaruhi perekonomian melalui
anggaran berfungsi sebagai alokasi, distribusi dan stabilisasi. Menurut Sutriono
(Sagita, 2013:21), fungsi tersebut dijelaskan sebagai berikut;


Fungsi alokasi, yaitu pemerintah berperan dalam mengalokasikan sumbersumber perekonomian kepada seluruh masyarakat secara efisien.



Fungsi distribusi, yaitu pemerintah berperan dalam memeratakan
kesejahteraan masyarakat secara proporsional untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi masyarakat yang optimal.



Fungsi stabilisasi, yaitu pemerintah berperan dalam menjaga dan
menjamin perekonnomian secara makro.

Dalam mencapai sistem pemerintahan yang efektif dan efisien ketiga fungsi
anggaran tersebut ditempuh dengan mengalokasikan transfer ke daerah. Fisher

21

(dalam Parmawati, 2010:5), memberikan gambaran bahwa transfer sudah
merupakan fenomena umum yang terjadi disemua negara di dunia terlepas dari
sistem pemerintahannya dan bahkan sudah menjadi ciri yang paling menonjol
dalam hubungan keuangan antara pusat dan daerah.

c. Teori Pengelolaan Keuangan Pemerintah
Dalam analisis Keuangan Negara, model-model tradisional menyatakan bahwa
baik pengeluaran maupun penerimaan pemerintah ditentukan secara simultan
sebagai “kemurahan hati pemerintah” (benevolent government) dalam upaya
pemerintah untuk memaksimalkan fungsi kesejahteraan masyarakatnya (social
welfare fuction) (Cullis dan Jones dalam Sidik, 2002:24). Aliran teori yang
berbeda-beda mengenai interdependensi antara kedua variabel tersebut berawal
dari debat antara hipotesis pajak dan pengeluaran (tax and spend) dengan
pengeluaran dan pajak (spend and tax). Kausalitas dari pengeluaran menuju
penerimaan (spend and tax) berarti bahwa pengeluaran berubah sebelum terjadi
perubahan penerimaan. Hal ini terjadi ketika kenaikan pengeluaran tersebut
diciptakan oleh kejadian-kejadian khusus yang menyebabkan pemerintah
menaikkan pajak agar masyarakat tetap memperoleh pelayanan publik. Hipotesis
ini ditujukan pertama kali oleh Peacock dan Wiseman (dalam Kuncoro, 2007:27),
mereka berargumen bahwa kenaikan pengeluaran pemerintah (sebagai akibat dari
suatu gejolak) akan berlanjut (persistent) walaupun gejolak itu telah selesai.

Implikasi dari arah kausalitas ini adalah bahwa sistem pengelolaan keuangan
daerah adalah desentralisasi. Kausalitas dari penerimaan menuju pengeluaran (tax
and spend), mengindikasikan bahwa penerimaan berubah sebelum terjadi

22

perubahan pengeluaran. Ini terjadi ketika tingkat pengeluaran disesuaikan dengan
perubahan penerimaan, karena kenaikan pajak mengarah pada kenaikan
pengeluaran sehingga pengeluaran dapat naik atau turun terhadap level berapa pun
yang dapat disokong oleh penerimaan (Friedman 1978 dalam Kuncoro 2007:10).

Implikasi dari arah kausalitas ini adalah bahwa sistem pengelolaan keuangan
daerah dengan sentralisasi. Kausalitas secara timbal balik (bidirection) terjadi
ketika pengeluaran berubah bersamaan dengan perubahan penerimaan. Ini berarti
pemerintah melakukan sinkronisasi fiskal. Hipotesis sinkronisasi fiskal ini valid
ketika keputusan perubahan sisi penerimaan dan pengeluaran disesuaikan dengan
tuntutan masyarakat. Proposisi ini pertama kali diajukan oleh Musgrave (dalam
Afrizal, 2013:12). Implikasi dari arah kausalitas ini adalah bahwa sistem
pengelolaan keuangan daerah diputuskan secara bersama-sama antara kontrol dari
pusat dan tuntutan daerah.

2. Teori Pajak
Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH (dalam Waluyo, 2009:36), pajak
adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung
dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak
adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai
pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan
sumber utama untuk membiayai public investment.

23

Pajak dari perspektif ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya dari
sektor privat kepada sektor publik. Pemahaman ini memberikan gambaran bahwa
adanya pajak menyebabkan dua situasi menjadi berubah. Pertama, berkurangnya
kemampuan individu dalam menguasai sumber daya untuk kepentingan
penguasaan barang dan jasa. Kedua, bertambahnya kemampuan keuangan negara
dalam penyediaan barang dan jasa publik yang merupakan kebutuhan masyarakat.

a. Fungsi Pajak
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara,
khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber
pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran
pembangunan. Berdasarkan hal diatas maka pajak mempunyai beberapa fungsi,
yaitu:


Fungsi anggaran (budgetair)

Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan
melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat
diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan
rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya.
Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah,
yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan
pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan
pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan
dari sektor pajak.

24



Fungsi mengatur (regulerend)

Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak.
Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam
negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak.
Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea
masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.


Fungsi stabilitas

Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan
yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan,
Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di
masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.


Fungsi redistribusi pendapatan

Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua
kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga
dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat.

b. Penerimaan Pajak
Penerimaan pajak adalah penghasilan yang diperoleh oleh pemerintah yang
bersumber dari pajak rakyat. Tidak hanya sampai pada definisi singkat di atas
bahwa dana yang diterima di kas negara tersebut akan dipergunakan untuk
pengeluaran pemerintah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,
sebagaimana maksud dari tujuan negara yang disepakati oleh para pendiri awal

25

negara ini yaitu menyejahterakan rakyat, menciptakan kemakmuran yang
berasaskan kepada keadilan sosial.

Untuk dapat mencapai tujuan ini, negara harus melakukan pembangunan disegala
bidang. Sebagai sebuah negara yang berdasarkan hukum material/sosial,
Indonesia menganut prinsip pemerintahan yang menciptakan kemakmuran rakyat.
Dalam hal ini, ketersediaan dana yang cukup untuk melakukan pembangunan
merupakan faktor yang sangat penting. Dalam menjamin ketersediaan dana untuk
pembangunan ini, salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah dengan
melakukan pemungutan pajak.

3. Teori Belanja Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bahwa belanja daerah adalah
semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih
dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.
Peningkatan pengeluaran pemerintah daerah dalam investasi modal (belanja
daerah) diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan publik dan pada
gilirannya mampu meningkatkan partisipasi (kontribusi) publik terhadap
pembangunan. Hal ini berarti dengan bertambahnya belanja daerah maka akan
berdampak pada periode yang akan datang yaitu produktivitas masyarakat
meningkat dan bertambahnya investor (Parmawati dan Sasana, 2010).

Menurut Keputusan Menteri No. 29 Tahun 2002 menyebutkan bahwa belanja
daerah adalah semua pengeluaran kas daerah dalam periode anggaran tertentu

26

yang menjadi beban daerah. Pengeluaran ini dilakukan oleh pemerintah daerah
untuk melaksanakan wew
Lanjutkan membaca

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 1031 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

17 292 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 233 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

2 165 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 226 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 305 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 288 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

5 164 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

7 298 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 329 23