PENGARUH SANKSI TILANG BAGI PELANGGAR TERHADAP KEDISIPLINAN DALAM BERLALU LINTAS MASYARAKAT DI DUSUN II DESA BUMISARI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

(1)

ABSTRAK

PENGARUH SANKSI TILANG BAGI PELANGGAR TERHADAP KEDISIPLINAN DALAM BERLALU LINTAS MASYARAKAT

DI DUSUN II DESA BUMISARI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Oleh WAGIYAH

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana pengaruh sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 46 orang. Pengumpulan data menggunakan teknik angket, wawancara dan observasi. Analisis data menggunakan Chi Kuadrat. Berdasarkan pengujian dan analisis data dapat diketahui bahwa: Ada pengaruh antara sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan, dimana sanksi tilang yang sesuai dengan prosedur sangat mempengaruhi kedisiplinan dalam berlalu lintas. Dibuktikan dengan hasil perhitungan yang menggunakan Chi Kuadrat bahwa x2hitung lebih besar dari x2 tabel (x2 hitung≥ x2 tabel), yaitu 99,49 ≥ 9,48 pada taraf signifikan 5% (0,05) dan derajat kebebasan = 4, serta mempunyai derajat keeratan pengaruh antara variabel dalam kategori sangat berpengaruh dengan koefisien kontingensi C = 0,82 dan koefisien kontingensi maksimum Cmaks = 0,81. Berdsarkan perhitungan tersebut maka koefisien kontingensi C = 0,98 berada pada kategori sangat berpengaruh. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apabila sanksi tilang ditearapkan sesuai dengan prosedur yang benar maka akan berdampak besar pada perilaku disiplin dalam berlalu lintas. Agar masyarakat mengetahui dan paham mengenai prosedur penindakan tilang yang benar serta lebih luasnya mengenai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ maka perlu didukung dengan pembinaan, pengawasan dan sosialisasi oleh pihak berwajib.


(2)

KEDISIPLINAN DALAM BERLALU LINTAS MASYARAKAT DI DUSUN II DESA BUMISARI KECAMATAN NATAR

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Oleh

WAGIYAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2014


(3)

PENGARUH SANKSI TILANG BAGI PELANGGAR TERHADAP KEDISIPLINAN DALAM BERLALU LINTAS MASYARAKAT

DI DUSUN II DESA BUMISARI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

(Skripsi)

Oleh

WAGIYAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2014


(4)

PELANGGAR TERHADAP KEDISIPLINAN DALAM BERLALU LINTAS MASYARAKAT DI DUSUN II DESA BUMISARI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Nama Mahasiswa : Wagiyah

No. Pokok Mahasiswa : 1013032066

Program Studi : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. Holilulloh, M.Si. M.Mona Adha, S.Pd, M.Pd.

NIP 19610711198703 1 003 NIP 19791117 200501 1 002 2. Mengetahui

Ketua Jurusan Pendidikan IPS Ketua Program Studi PPKn

Drs. Hi. Buchori Asyik, M.Si. Hermi Yanzi, S.Pd, M.Pd. NIP 19560108 198503 1 002 NIP 19820727 200604 1 002


(5)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Drs. Holilulloh, M.Si. ...

Sekretaris : M. Mona Adha, S.Pd., M.Pd. ...

Penguji

Bukan Pembimbing : Drs. Berchah Pitoewas, M.H. ...

2. Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si. NIP 19600315 198503 1 003


(6)

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di OKU Timur, Sumatera Selatan pada tanggal 11 Januari 1992. Anak kedua dari empat bersaudara pasangan Bapak Wakidi dan Ibu Saimah.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh yaituSekolah Dasar di SD Negeri 2 Peracak Kabupaten OKU Timur yang diselesaikan pada tahun 2004, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 3 Martapura Kabupaten OKU Timur diselesaikan pada tahun 2007, dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Martapura Kabupaten OKU Timur yang di selesaikan pada tahun 2010.

Pada tahun 2010, penulis diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung pada Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Selama kuliah penulis aktif di UKMF Forum Pembinaan dan Pengkajian Islam (FPPI) sebagai Wakil Ketua Biro BBQ (2012/2013), serta Dewan Pembina UKMF FPPI (2013/2014). Penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di MA Nurul Iman Sekincau dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Sekincau Kecamatan Sekincau Kabupaten Lampung Barat.


(8)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu,

dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu padahal itu

amat buruk bagimu. Allah mengetahui

sedangkan kamu tidak mengetahui


(9)

PERSEMBAHAN

Segala puji hanya milik Allah SWT, atas rahmat dan nikmat yang tak

terhitung, sholawat beriring salam selalu tercurah kepada Rasulullah

Muhammad SAW.

Dengan segala ketulusan serta kerendahan hati kupersembahkan

sebentuk karya sederhana ini kepada :

Ayahanda dan Ibundaku tercinta yang selalu menjadi semangat dalam

hidupku, kesabaran dan do a dalam setiap sujudmu, serta harapan di

setiap tetesan keringatmu untuk

menanti keberhasilanku

Serta


(10)

Bismillaahirrahmaanirrahim,

Alhamdulillah penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dalam penulisan skripsi yang berjudul Pengaruh Sanksi Tilang bagi Pelanggar terhadap Kedisiplinan dalam Berlalu Lintas Masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan”.

Terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari hambatan yang datang baik dari luar dan dari dalam diri penulis. Penulisan skripsi ini juga tidak lepas dari bimbingan dan bantuan serta petunjuk dari Bapak Drs. Holilulloh, M.Si. selaku Pembimbing I, yang telah memberikan motivasi dan bimbingannya. Dan juga Bapak Mohammad Mona Adha, S.Pd, M.Pd. selaku Pembimbing Akademik (PA) sekaligus Pembimbing II, terimakasih atas kesediaannya dalam membimbing dan memberikan motivasi dalam bimbingannya. Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.


(11)

2. Bapak Dr. Thoha B.S Jaya, M.S. selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

3. Bapak Drs. Arwin Ahmad, M.Si. selaku Pembantu Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

4. Bapak Drs. Hi. Iskandarsyah, M.H. selaku Pembantu Dekan III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

5. Bapak Drs. Hi. Buchori Asyik, M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

6. Bapak Drs. Berchah Pitoewas, M.H. selaku pembahas I, terima kasih atas masukan, saran, dan kritikannya kepada penulis.

7. Bapak Hermi Yanzi, S.Pd., M.Pd. selaku Pembahas II sekaligus ketua Program Studi PPKn, terima kasih atas masukan, saran, dan kritikannya pada penulis.

8. Bapak Susilo, S.Pd., M.Pd. terima kasih atas bantuan, saran, dan masukan serta kritik kepada penulis.

9. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

10. Bapak dan Ibu staf tata usaha dan karyawan Universitas Lampung.

11. Bapak Supriono, S.E. selaku Kepala Desa Bumisari yang telah memberi izin penelitian dan segala bantuan yang diberikan kepada penulis.

12. Bapak dan Ibu staf pemerintahan Desa Bumisari terima kasih telah membantu dalam proses penelitian kepada penulis.


(12)

dalam hal mengisi angket penelitian skripsi ini.

14. Teristimewa untuk kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda Wakidi dan Ibunda Saimah terima kasih atas nafkah, jerih payah, keikhlasan, cinta, kasih sayang, doa, motivasi dan dukungan moral yang diberikan.

15. Kakakku Eko Budi Utomo terima kasih atas dukungan motivasinya selama ini, adik-adikku yang luar biasa Sugeng Budi Pekerti dan Samsudi terima kasih atas keceriaan yang kalian berikan selama ini, nenek tercinta yang tak henti-hentinya mendoakan ku, dan seluruh keluarga besarku yang selalu memberikan motivasi, dukungan dan doa untuk keberhasilanku.

16. Teman-teman PPKn 2010 semuanya tanpa terkecuali, terima kasih untuk kekompakan dalam suka maupun duka selama ini, semoga dengan berakhirnya studi bukan merupakan akhir dari kebersamaan kita. Mari bersama menjemput kesuksesan.

17. Saudara-saudara seperjuangan sekaligus sahabat-sahabat terbaik Uni Mirna, Ngah bie, Mbak Nurul, Reti, Mbak Hani, Marettha, Esy, Ani, Iim, Ayu Sumu, Nurmala, Nida, Kristi, En, Brian, Erma, Nani, serta adik-adik binaan Sri Rahayu, Uci, Yuli, Yuni, Maya, Nurma, Mila, terima kasih telah bersamaku dalam tarbiyah dan dakwah ini. Aku mencintai kalian karena Allah.

18. Teman-teman asrama edelweis Mbak Feni, Mbak Afri, Santi, Ovi, Iin, Ana, Tazkiya, Tiara, Riris, Iis, Mona dan Eka. Terima kasih atas semangat, motivasi dan keceriaan yang telah diberikan.


(13)

19. Teman-teman seperjuangan KKN PPL MA Nurul Iman Sekincau Kabupaten Lampung Barat, Dinny, Yunita, Hana, Nailul, Tika, Amel, Rani, Rozi, Erwin, Perdan terima kasih atas terciptanya persaudaraan selama kita bersama. 20. Kakak tingkat 2008, 2009 serta adik-adik tingkat PPKn 2011, 2012, dan 2013

terima kasih atas motivasi dan dukungannya.

21. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam penyusunan skripsi ini.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata kesempurnaan. Penulis berharap semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, Juli 2014 Penulis,


(14)

Halaman

ABSTRAK ... i

HALAMAN JUDUL……… ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

SURAT PERNYATAAN... v

RIWAYAT HIDUP... vi

PERSEMBAHAN... vii

MOTO... viii

SANWACANA... ix

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah... 7

C. Pembatasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 8

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8

F. Ruang Lingkup Penelitian... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori... 11

1. Tinjauan TentangPeraturan Lalu Lintas……….. 11

a. Pengertian Lalu Lintas ... 11

b. Tata Cara Dalam Berlalu Lintas... 12

c. Sanksi Pelanggaran Lalu Lintas (Tilang) ... 16

1. Pengertian Sanksi……… 17

2. Pelanggaran Lalu Lintas (Tilang)………... 18

3.Sanksi Pelanggaran Lalu Lintas (Tilang)…………... 20

d. Surat Tilang ... 21

e. Prosedur Teknisi Penindakan Tilang... 28

f. Bentuk Sanksi Bagi Pelanggar Lalu Lintas Sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 2009... 32

2. Tinjauan Tentang Kedisiplinan………... 36

a. Pengertian Kedisiplinan ... 36

b. Unsur-unsur Kedisiplinan ... 38


(15)

d. Fungsi Kedisiplinan ... 40

e. Kedisiplinan Dalam Berlalu Lintas ... 41

1. Pengertian Kedisiplinan Dalam Berlalu Lintas... 41

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan Berlalu Lintas ... 42

B. Penelitian Yang Relevan... 45

C. Kerangka Pikir ... 46

D. Hipotesis Penelitian ... 48

III. METODELOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 49

B. Populasi dan Sampel ... 49

1. Populasi... 49

2. Sampel... 50

3. Teknik Sampling... 51

C. Variabel Penelitian... 51

D. Definisi Konseptual dan Definisi Operasional Variabel... 52

E. Rencana Pengukuran Variabel ... 53

F. Teknik Pengumpulan Data... 53

1. Teknik Pokok ... 53

a. Angket ... 53

2. Teknik Penunjang... 54

a. Wawancara ... 54

b. Dokumentasi... 54

G. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 54

1. Uji Validitas ... 54

2. Uji Reliabilitas... 55

H. Teknik Analisis Data... 56

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Langkah-langkah penelitian……… 60

1. PersiapanPengajuan Judul………. 60

2. Penelitian Pendahuluan……….. 61

3. Pengajuan Rencana Penelitian………... 62

4. Penyusunan Alat Pengumpulan Data………. 62

5. Pelaksanaan Penelitian………... 63

6. Pelaksanaan Uji Coba Angket……… 63

B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian………... 68

1. Luas danBatas Wilayah………. 68

2. Keadaan Penduduk………. 68

3. Sarana dan Prasarana……….. 69

4. Perangkat Desa………... 70

C. Deskripsi Data………. 72

1. Pengumpulan Data……….. 72

2. Penyajian Data……… 72


(16)

2. Pengujian TingkatKeeratan Pengaruh………... 87

E. Pembahasan……… 89

V. KESIMPULAN DAN SARAN……… 98

A. Kesimpulan………... 98

B. Saran………. 99 DAFTAR PUSTAKA


(17)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Bentuk dan jumlah pelanggaran LLAJ

di Kecamatan Natar per-Oktober-Desember 2013……….. 5

Tabel 2.1 Bentuk sanksi bagi pelanggar lalu lintas sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 2009……….. 32

Tabel 3.1 Jumlah orang yang pernah ditilang di Dusun II Desa Bumisari……….. 50

Tabel 3.2 Sampel pada masing-masing RT di Dusun II Desa Bumisari……….. 51

Tabel 4.1 Distribusi hasil uji coba angket kepada sepuluh orang responden diluar sampel untuk item ganjil(X)………. 64

Tabel 4.2 Distribusi hasil uji coba angket kepada sepuluh orang responden diluar sampel untuk item ganjil(Y)………. 65

Tabel 4.3 Distribusi antara item ganjil (X) dengan item genap (Y)……….. 66

Tabel 4.4 KependudukanDesa Bumisari………. 69

Tabel 4.5 Sarana dan prasarana pendidikan………. 69

Tabel 4.6 Sarana danprasarana ibadah……… 70

Tabel 4.7 Sarana dan prasarana kesehatan………. 70

Tabel 4.8 Distribusi frekuensi indikator sanksi yang sesuai dengan UU No. 22 Tahun 2009 Tentang LLAJ……….. 74

Table 4.9 Distribusi frekuensi indikator pemahaman terhadap peraturan lalu lintas……… 77


(18)

lintas……… 81 Tabel 4.12 Distribusi frekuensi kedisiplinan dalam berlalu lintas……... 82 Tabel 4.13 Distribusi tingkat perbandingan jumlah responden mengenai pengaruh

sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun IIDesa Bumisari……….. 84 Tabel 4.14 Daftar Kontingensi perolehan data pengaruh sanksi tilang bagi pelanggar

terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa


(19)

DAFTAR GAMBAR


(20)

1. Surat keterangan penelitian dari Pembantu Dekan I 2. Surat izin penelitian pendahuluan

3. Surat izin penelitian

4. Surat balasan/surat keterangan telah melakukan penelitian 5. Kisi-kisi angket

6. Angket penelitian

7. Rekapitulasi hasil perhitungan angket penelitian variabel x 8. Rekapitulasi hasil perhitungan angket penelitian variabel Y


(21)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan negara hukum yang hampir semua aspek di dalamnya diatur oleh hukum. Tujuan dibuatnya hukum ini adalah untuk menciptakan suatu masyarakat yang tertib, menjamin keadilan sosial dalam masyarakat dan sarana penggerak pembangunan. Adanya hukum yang dibuat tersebut sebagai suatu sarana mencapai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara terutama pencapaian kesejahteraan masyarakat dalam pembangunan sebagai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Salah satu dari banyak aspek yang diatur oleh hukum di negara ini yaitu mengenai lalu lintas dan angkutan jalan, yang selanjutnya disingkat LLAJ. Sistem lalu lintas dan angkutan jalan memiliki peran strategis sebagai sarana memperlancar arus transportasi barang dan jasa. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 menimbang bahwa “Lalu lintas dan angkutan jalan harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, kesejahteraan, ketertiban berlalu lintas dan angkutan jalan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan wilayah”.


(22)

Penyelenggaraan LLAJ yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan tersebut disebutkan dalam Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun2009 bahwa “LLAJ adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas lalu Lintas, angkutan jalan, jaringan lalu lintas dan angkutan jalan, prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, kendaraan, pengemudi, pengguna jalan, serta pengelolaannya”. Terkait dengan LLAJ sebagai satu kesatuan sistem, maka pengelolaan di bidang LLAJ merupakan pengelolaan yang bersifat koordinasi dan integrasi yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh beberapa instansi terkait.

Saat ini, banyak sekali dijumpai permasalahan yang berkaitan dengan pelanggaran hukum, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Pelanggaran yang kerap kali terjadi salah satunya adalah tentang pelanggaran LLAJ ini. Penegakan hukum berupa penindakan terhadap pelanggaran LLAJ diatur dalam Pasal 264 sampai dengan Pasal 272 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Sedangkan sanksi berupa ketentuan pidana bagi pelanggaran lalu lintasnya diatur dalam Pasal 272 sampai dengan Pasal 317. Penindakan pelanggaran ini dilakukan dalam bentuk pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan yang dilakukan oleh Petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia (selanjutnyad isingkat Petugas Polri) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (selanjutnya disingkat PPNS LLAJ).

Penegakan hukum dalam penindakan pelanggaran LLAJ diperiksa menurut acara pemeriksaan cepat dan dapat dikenai pidana denda berdasarkan


(23)

3 penetapan pengadilan. Penindakan pelanggaran di jalan dilakukan dengan menerbitkan Surat Tilang bagi pelanggar LLAJ.

Penindakan pelanggaran LLAJ sebagaimana didasarkan pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dikategorikan sebagai tindak pidana ringan. Adanya Surat Tilang dan sanksi atau denda yang harus dibayarkan terhadap pelanggaran lalu lintas di jalan tidak dikategorikan sebagai tindak pidana ringan dalam ranah hukum pidana, tetapi karakteristik tindakan pemeriksaan dan objek pemeriksaan lebih dominan berada dalam ranah hukum administrasi.

Seperti yang telah disebutkan bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 merupakan Undang-Undang yang mengatur tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Namun di lapangan, Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tersebut ternyata tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Terlepas dari kurangnya sosialisasi dari pihak Kepolisian terkait maupun rendahnya pengetahuan masyarakat tentang peraturan lalu lintas dan angkutan jalan, serta adanya sikap kurang tanggap dari sebagian masyarakat terhadap himbauan kepolisian untuk disiplin dalam berlalu lintas.

Pada praktiknya sebagaimana telah diketahui bersama, dalam melakukan perjalanan seringkali ditemukan para penegak disiplin melakukan razia kepada pengguna jalan yang menggunakan kendaraan bermotor demi keamanan dan kenyamanan berlalu lintas, dimana sudah sepatutnya bagi para pengguna jalan, baik sepeda motor, mobil dan tranportasi bermotor lainnya untuk melengkapi peralatan berkendara baik secara fisik maupun administrasi.


(24)

Ketika penegak disiplin tersebut mendapati suatu pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara, maka yang dilakukan adalah menindak sesuai dengan prosedur yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 kemudian menetapkan Surat Bukti Pelanggaran (Tilang) kepada si pelanggar. Namun seringkali dalam penyelesaian perkara pelanggaran LLAJ tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Banyak kasus pelanggaran lalu lintas yang diselesaikan di tempat oleh oknum aparat penegak hukum atau Polantas, dengan kata lain perkara pelanggaran tersebut tidak sampai diproses menurut hukum. Banyak sekali oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab baik itu dari masyarakat maupun oknum aparat penegak hukum itu sendiri. Yaitu ketika terjadi pelanggaran, prosesnya diselesaikan dengan cepat melalui cara “damai.” Sedangkan berdasarkan pengamatan, hal ini dirasa kurang menimbulkan efek jera bagi si pelanggar. Sudah semestinya ketika terjadi pelanggaran maka pihak aparat penegak hukum wajib memprosesnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini akan lebih menimbulkan efek jera bagi si pelanggar untuk berdisiplin dalam berlalu lintas.

Hukum LLAJ yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur atau ketentuan hukum yang berlaku diharapkan mampu meminimalisir pelanggaran terhadap LLAJ. Penerapan sanksi pelanggaran lalu lintas atau tilang harus diterapkan dimanapun tanpa memandang tempat. Karena pelanggar yang ditilang belum tentu tidak akan mengulangi kesalahannya lagi, terlebih ketika terjadi pelanggaran perkaranya selesai hanya dengan suap. Terbukti dengan masih tingginya angka pelanggaran terhadap LLAJ hampir di semua tempat. Masih


(25)

5 banyak terjadi pelanggaran dalam berlalu lintas, di pedesaan yang jauh dari keramaian maupun di perkotaan yang jumlah kendaraannya cukup padat. Seperti halnya di Kecamatan Natar, yang jumlah penduduknya cukup padat yang juga mengakibatkan tingginya jumlah kendaraan bermotor. Semakin tinggi jumlah kendaraan bermotor, maka semakin tinggi pula tingkat pelanggaran terhadap LLAJ. Misalnya mengendarai sepeda motor tidak menggunakan helm, muatan kendaraan yang tidak sesuai dengan kapasitas, tidak menggunakan sabuk pengaman bagi pengendara mobil, tidak mampu menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM), tidak mampu menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) serta adanya pola perilaku yang kurang disiplin lainnya dari sebagian besar masyarakat dalam berlalu lintas.

Hal demikianlah yang terjadi di Kecamatan Natar, yang berdasarkan survei yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa tingkat pelanggaran lalu lintas masih tergolong tinggi. Hal ini dibuktikan dengan data yang diperoleh oleh peneliti yaitu sebagai berikut:

Tabel 1.1 Bentuk dan Jumlah Pelanggaran LLAJdi Kecamatan Natar per Oktober-Desember 2013.

No Bentuk Pelanggaran Jumlah

1. Tidak mempunyai SIM 234

2. Tidak mempunyai STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor)

48

3. Tidak menggunakan helm 56

4. Ketidaklengkapan komponen kendaraan 135 5. Tidak menyalakan lampu utama di siang hari 65 6. Tidak menggunakan sabuk pengaman bagi

pengendara mobil

121 7. Muatan pada mobil yang melebihi kapasitas 54

Total 713


(26)

Sedangkan hasil observasi atau studi pendahuluan di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar diperoleh data awal yaitu terdapat 178 orang yang pernah ditilang per Nopember – Januari 2014. Alasannya sebagian besar karena tidak memiliki SIM, tidak mempunyai STNK, komponen fisik kendaraan yang tidak lengkap, tidak menyalakan lampu utama pada siang hari, tidak menggunakan sabuk pengaman sewaktu mengendarai roda empat.

Pelanggaran-pelanggaran lalu lintas seperti yang telah disebutkan di atas disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu minimnya pengetahuan mengenai peraturan, marka dan rambu lalu lintas. Penyebabnya adalah kurangnya kesadaran untuk mencari tahu arti dari marka dan rambu-rambu lalu lintas ditambah pada saat ujian memperoleh SIM, mereka lebih senang mendapatkan SIM dengan instan daripada mengikuti seluruh prosedur; sudah terbiasa melihat orang lain melanggar lalu lintas; hanya patuh ketika ada aparat penegak hukum (polantas) yang patroli atau melewati pos polisi; memutar balikkan ungkapan. Sering kali ada ucapan, "peraturan dibuat untuk dilanggar." Padahal ini Ini sangat menyesatkan; tidak memikirkan keselamatan diri atau orang lain. Pemerintah telah mewajibkan beberapa standar keselamatan pengemudi saat mengemudikan kendaraannya seperti wajib memasang safety belt untuk pengemudi roda empat dan wajib memakai helm, kaca spion tetap terpasang, dan menyalakan lampu pada malam maupun siang hari; melanggar dengan berbagai alasan; serta yang paling sering terjadi adalah bisa "damai" ketika tilang. Ini hal yang paling sering terjadi. Ketika pengemudi-pengemudi melanggar peraturan atau tidak lengkapnya surat-surat saat dirazia, hal yang pertama diajukan oleh pengemudi tersebut adalah jalan "damai".


(27)

7 Lalu lintas merupakan hal sangat urgen untuk dikaji, karena lalu lintas merupakan jantung dalam keberlangsungan mobilitas kehidupan suatu negara. Penyelesaian pelanggaran lalu lintas dengan cara “damai” yang kerapkali

terjadi dirasa kurang menimbulkan efek jera bagi si pelanggar, sedangkan penyelesaian dengan ketentuan hukum yang berlaku akan lebih menimbulkan efek jera bagi si pelanggar.

Oleh karena itulah, peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian tentang pengaruh sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, peneliti mengidentfikasikan masalah sebagai berikut :

1. Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat tergolong tinggi.

2. Penerapan sanksi tilang yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang LLAJ tidak begitu berjalan.

3. Penyelesaian perkara pelanggaran lalu lintas yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.


(28)

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, agar penelitian ini tidak meluas jangkauannya, maka penelitian ini permasalahannya akan dibatasi pada:

“Pengaruh sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas”.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini

adalah “Bagaimanakah pengaruh sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan?”

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisis pengaruh sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

2. Kegunaan Penelitian

a. Kegunaan Secara Teoretis

Secara teoritis penelitian ini berguna untuk memperbanyak khasanah pengetahuan dan penelitian mengenai wilayah kajian Pendidikan


(29)

9 Kewarganegaraan khusunya bidang hukum dan kemasyarakatan yang terkait dengan permasalahan hukum lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ).

b. Kegunaan secara praktis

1) Bagi aparat penegak disiplin lalu lintas

Memberikan informasi pentingnya melaksanakan prosedur penindakan pelanggaran lalu lintas (tilang) yang benar sesuai dengan ketentuan dan hukum yang berlaku.

2) Bagi masyarakat

Memberikan informasi pentingnya kedisiplinan dalam berlalu lintas serta memberikan informasi pentingnya mengetahui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

3) Sebagai suplemen bahan ajar bagi calon guru Mata Pelajaran PKn yang difokuskan pada materi Hukum.

F. Ruang Lingkup Penelitian 1. Ruang Lingkup Ilmu

Ruang lingkup ilmu dalam penelitian ini adalah ruang lingkup PKn khususnya Pendidikan Hukum dan Kemasyarakatan yang mengkaji mengenai kedisiplinan dalam berlalu lintas.


(30)

2. Ruang Lingkup Objek

Ruang lingkup objek penelitian ini adalah sanksi tilang dan kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

3. Ruang Lingkup Subjek

Subjek penelitian ini adalah masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

4. Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah pada penelitian ini adalah di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

5. Ruang Lingkup Waktu

Penelitian ini dilaksanakan sejak dikeluarkannya Surat Izin Penelitian Pendahuluan oleh Dekan FKIP pada tanggal 24 Desember 2013 sampai dengan tanggal 06 Mei 2014.


(31)

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori

1. Tinjauan Tentang Peraturan Lalu Lintas a. Pengertian Lalu Lintas

Kebutuhan bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya merupakan suatu kebutuhan primer dalam kehidupan manusia. Kebutuhan itu pula yang kemudian mendasari manusia membutuhkan sarana transportasi. Peranan transportasi sangat penting untuk mendukung mobilitas manusia. Seiring perkembangan zaman manusia dapat menciptakan kendaraan bermotor untuk memudahkannya dalam bertransportasi. Dan salah satu jenis transportasi yang paling dibutuhkan manusia untuk menunjang pergerakannya adalah sarana transportasi darat. Berdasarkan hal tersebut, kemudian dalam bertransportasi dikenal istilah “lalu lintas”.

Menurut UU No. 22 Tahun 2009 pengertian lalu lintas adalah

“Gerak kendaraan dan orang di ruang jalan, dimana definisi kendaraan itu sendiri berarti suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor”.


(32)

b. Tata Cara Dalam Berlalu Lintas

Tata cara dalam berlalu lintas menurut buku Panduan Praktis Berlalu Lintas Direktorat Lalu Lintas Polri adalah sebagai berikut:

1. Ketertiban dan Keselamatan

a) Setiap orang yang menggunakan jalan wajib: 1) Berperilaku tertib; dan atau

2) Mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan LLAJ, atau yang dapat menimbulkan kerusakan jalan.

b) Setiap pengemudi kendaraan bermotor di jalan wajib memetuhi ketentuan:

1) Rambu-rambu lalu lintas. 2) Marka jalan.

3) Alat pemberi isyarat lalu lintas. 4) Gerakan lalu lintas.

5) Berhenti dan parkir.

6) Peringatan dengan bunyi dan sinar.

7) Keecepatan maksimal atau minimal; dan atau

8) Tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain.

c) Pada saat diadakan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan pengemudi kendaraan bermotor wajib menunjukkan:


(33)

13

1) Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK) atau Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor (STCK).

2) Surat Izin Mengemudi (SIM). 3) Bukti lulus uji berkala; dan atau. 4) Tanda bukti lain yang sah.

d) Setiap pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih di jalan dan penumpang yang duduk di sampingnya wajib menggunakan sabuk keselamatan.

e) Setiap orang yang mengendarai dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

2. Penggunaan lampu

a) Pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama kendaraan bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisi tertentu.

b) Pengemudi sepeda motor selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud di atas wajib menyalakan lampu utama pada siang hari.

3. Jalur atau lajur lalu lintas

a) Dalam berlalu lintas pengguna jalan harus menggunakan jalur jalan sebelah kiri.

b) Penggunaan jalan selain jalur sebelah kiri hanya dapat dilakukan apabila:


(34)

1) Pengemudi bermaksud akan melewati kendaraan di depannya atau;

2) Diperintahkan oleh petugas Kepolisian Republik Indonesia untuk digunakan sementara sebagai jalur kiri. 3) Sepeda motor, kendaraan bermotor yang kecepatannya

lebih rendah, mobil barang, dan kendaraan tidak bermotor berada pada jalur kiri jalan.

4) Jalur kanan hanya diperuntukkan bagi kendaraan kecepatan lebih tinggi, akan membelok, mengubah arah, atau mendahului kendaraan lain.

4. Tata Cara Melewati

a) Pengemudi kendaraan bermotor yang akan melewati kendaraan lain harus menggunakan lajur atau jalur jalan sebelah kanan dari kendaraan yang akan dilewati, mempunyai jarak pandang yang bebas dan tersedia ruang yang cukup bagi kendaraan yang akan dilewati.

b) Dalam keadaan tertentu, pengemudi dapat menggunakan lajur jalan sebelah kiri dengan tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan LLAJ.

c) Apabila kendaraan yang akan dilewati telah memberi isyarat akan menggunakan lajur atau jalur jalan sebelah kanan, pengemudi sebagaimana dimaksud dilarang melewati kendaraan tersebut.


(35)

15

5. Belokan dan simpangan

a) Pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping dan di belakang kendaraan serta memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan. b) Pengemudi kendaraan yang akan berpindah lajur atau

bergerak ke samping wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping dan di belakang serta memberikan isyarat.

c) Pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas.

6. Perlintasan kereta api

Pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib:

a) Berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah ditutup, dan atau ada isyarat lain.

b) Mendahulukan kereta api, dan

c) Memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel.


(36)

7. Kecepatan

Pengemudi kendaraan bermotor di jalan dilarang:

a) Mengemudikan kendaraan melebihi batas kecepatan paling tinggi yang ditetapkan secara nasional dan ditentukan berdasarkan kawasan pemukiman, perkotaan, jalan antar kota dan jalan bebas hambatan dan dinyatakan dengan rambu lalu lintas.

b) Berbalapan dengan kendaraan motor lain.

c) Batas kecepatan paling rendah pada jalan bebas hambatan ditetapkan dengan batas absolut.

8. Berhenti

Selain kendaraan motor umum dalam trayek setiap kendaraan bermotor dapat berhenti di setiap jalan, kecuali:

a) Terdapat rambu larangan berhenti dan atau marka jalan yang bergaris utuh.

b) Pada tempat tertentu yang dapat membahayakan keamanan, keselamatan serta mengganggu ketertiban dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan, dan atau

c) Di jalan tol.

c. Sanksi Pelanggaran Lalu Lintas (Tilang) 1. Pengertian Sanksi

Seringkali didengar atau didapati apabila seseorang melanggar suatu peraturan atau tata tertib maka akan dikenakan sanksi.


(37)

17

Sanksi diberikan sebagai hukuman atas apa yang telah dilakukan seseorang dalam hal melanggar aturan atau tata tertib.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:132), “Sanksi

adalah tanggungan (tindakan-tindakan, hukuman, dan sebagaianya) untuk memaksa seseorang untuk menepati perjanjian atau menaati apa-apa yang sudah dikemukakan”.

Menurut Van Den Steenhoven dalam Hilman Hadikusuma

(2004:114) “Sanksi adalah unsur-unsur sebagai unsur hukum yaitu ancaman penggunaan paksaan fisik, otoritas resmi, penerapan ketentuan yang secara teratur, dan reaksi masyarakat

yang tidak spontan sifatnya”.

Kemudian ditambahkan oleh Sudikno Mertokusumo (2011: 76)

bahwa “Sanksi adalah tidak lain merupakan reaksi, akibat atau konsekuensi pelanggaran terhadap kaidahsosial”.

Diperkuat oleh pendapat Paul Bohannan dalam Hilman

Hadikusuma (2004:116), “Sanksi merupakan seperangkat aturan yang mengatur bagaimana pranata-pranata hukum mencampuri suatu masalah agar dapat memelihara suatu sistem sosial sehingga memungkinkan warga masyarakat hidup dalam sistem itu secara tenang serta dengan cara-cara yang dapat diperhitungkan”.


(38)

Dari beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian sanksi adalah suatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan secara sadar dan sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain akibat dari kelalaian perbuatan atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan tata nilai yang berlaku dalam lingkungan hidupnya. Dimana tindakan tersebut menimbulkan nestapa atau penderitaan dengan maksud supaya penderitaan itu benar-benar dirasakannya dan akhirnya sadar akan kesalahannya untuk menuju ke arah kebaikan.

2. Pelanggaran Lalu Lintas (Tilang)

Pelanggaran lalu lintas yang sering disebut juga dengan tilang merupakan ruang lingkup hukum pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Pelanggaran terhadap aturan hukum pidana dapat diberi tindakan hukum langsung dari aparat dan tidak perlu menunggu laporan atau pengaduan dari pihak yang dirugikan.

Pelanggaran lalu lintas banyak macamnya, diantaranya yang kerapkali terjadi adalah:

a) Menggunakan jalan dengan cara merintangi yang dapat membahayakan ketertiban atau keamanan lalu lintas atau yang mungkin menimbulkan kerusakan pada jalan.

b) Mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak dapat memperlihatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), STNK, Surat


(39)

19

Tanda Uji Kendaraan (STUK) yang sah atau tanda bukti lainnya sesuai peraturan yang berlaku atau dapat memperlihatkan tetapi masa berlakunya sudah kadaluwarsa. c) Membiarkan atau memperkenankan kendaraan bermotor

dikemudikan oleh orang lain yang tidak memiliki SIM. d) Tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan

lalu lintas jalan tentang penomoran, penerangan, peralatan, perlengkapan, pemuatan kendaraan dan syarat penggandengan dengan kendaraan lain.

e) Membiarkan kendaraan bermotor yang ada di jalan tanpa dilengkapi plat tanda nomor kendaraan yang sah, sesuai dengan surat tanda nomor kendaraan yang bersangkutan. f) Pelanggaran terhadap perintah yang diberikan oleh petugas

pengatur lalu lintas jalan, rambu-rambu atau tanda yang yang ada di permukaan jalan.

g) Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tentang ukuran dan muatan yang diijinkan, cara menaikkan dan menurunkan penumpang dan atau cara memuat dan membongkar barang. h) Pelanggaran terhadap ijin trayek, jenis kendaraan yang

diperbolehkan beroperasi di jalan yang ditentukan.

Pelanggaran-pelanggaran lalu lintas seperti yang telah disebutkan di atas tentunya akan banyak menimbulkan kerugian dan dampak negatif. Dampak negatif yang ditimbulkan diantaranya adalah:


(40)

a) Tingginya angka kecelakaan lalu lintas baik pada persimpangan lampu lalu lintas maupun pada jalan raya. b) Keselamatan para pengendara dan para pejalan kaki menjadi

terancam.

c) Kemacetan lalu lintas akibat dari masyarakat yang enggan untuk berjalan kaki atau memanfaatkan alat transportasi yang tidak bermotor.

d) Kebiasaan melanggar peraturan lalu lintas yang biasa kemudian menjadi budaya melanggar peraturan.

3. Sanksi Pelanggaran Lalu Lintas (Tilang)

Seperti yang telah diuraikan di latar belakang bahwa pelanggaran lalu lintas masih marak terjadi di berbagai tempat. Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 yang didalamnya memuat sanksi bagi pelanggaran lalu lintas merupakan salah satu upaya untuk mencegah tingginya angka pelanggaran lalu lintas.

Sanksi untuk pelanggaran lalu lintas ini berada dalam ruang lingkup hukum pidana. Dalam hukum pidana juga dikenal dua jenis perbuatan yaitu kejahatan dan pelanggaran, kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi juga bertentangan dengan nilai moral, nilai agama dan rasa keadilan masyarakat, contohnya mencuri, membunuh, dan sebagainya. Sedangkan pelanggaran ialah perbuatan yang hanya dilarang oleh undang-undang. Dalam hal ini adalah pelanggaran


(41)

21

lalu lintas contohnya seperti tidak memakai helm, tidak menggunakan sabuk pengaman dalam berkendara, dan sebagainya.

Sanksi yang diberikan kepada pelanggar lalu lintas adalah berupa sanksi yang pada umumnya disebut istilah “tilang”. Prosedur

pelaksanaan tilang ini adalah apabila secara jelas penyidik/penyidik pembantu yang sah secara undang-undang melihat, mengetahui, terjadinya pelanggaran lalu lintas jalan tertentu sebagaimana tercantum dalam tabel pelanggaran lalu lintas. Pihak peniyidik berhak menindak pelaku pelanggaran lalu lintas dengan ketentuan yang sesuai dengan hukum yang berlaku.

d. Surat Tilang

Hal yang pertama kali dilakukan oleh penyidik ketika melihat pelanggaran lalu lintas adalah menindak kemudian menetapkan surat tilang bagi si pelanggar.

Dijelaskan dalam (http://www.medanbisnisdaily.com) bahwa ketika terkena tilang, ada beberapa alternatif warna surat tilang yang bisa digunakan. Namun semua tetap harus sesuai dengan pelanggaran dan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Ada dua alternatif yang bisa dilakukan ketika ditilang. Yaitu menerima atau menolak tuduhan pelanggaran lalu lintas. Ketika menerima tuduhan, maka yang diminta adalah surat


(42)

tilang warna biru, artinya pelanggar tidak perlu mengikuti sidang untuk mendapatkan pembelaan dari hakim. Jika meminta surat tilang biru ini bisa langsung membayar uang denda melalui transfer pada bank yang dituju. Biasanya bank yang ditunjuk adalah BRI. Untuk biayanya diketahui lebih mahal jika disesuaikan undang-undang lalu lintas yang berlaku.

Sedangkan apabila pelanggar menerima tuduhan, maka yang diminta adalah surat tilang warna merah. Kemudian pelanggar diberikan kesempatan untuk membela diri atau minta keringanan kepada hakim. Pada umumnya tanggal sidang maksimum 14 hari dari tanggal kejadian, tergantung hari sidang tilang di Pengadilan Negeri (PN) bersangkutan.

Surat tilang atau bukti pelanggaran tersebut merupakan catatan penyidik mengenai pelanggaran lalu lintas dan angkutan jalan tertentu yang dilakukan seseorang sebagai bukti terjadinya pelanggaran. Bukti pelanggaran ini berupa blanko atau surat yang berisikan rincian seperti tempat dan waktu terjadinya pelanggaran, pasal yang dilanggar, nomor seri surat tilang, dan lain sebagainya yang kemudian dikenakan kepada pelanggar lalu lintas.

Berdasarkan lampiran kesepakatan bersama ketua mahkamah agung, menteri kehakiman, jaksa agung dan kepala kepolisian Republik Indonesia tentang petunjuk pelaksanaan tata cara penyelesaian pelanggaran lalu lintas jalan tertentu bahwa surat tilang merupakan


(43)

23

alat utama yang digunakan dalam penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas jalan tertentu sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Pasal 211 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang berdasarkan kajian, apabila tidak dilakukan tindakan Kepolisian secara terencana dan konsisten akan dapat menimbulkan akibat-akibat diantaranya adalah:

1) Mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. 2) Mengakibatkan kemacetan lalu lintas.

3) Mengakibatkan kerusakan prasarana jalan dan sarana angkutan. 4) Menimbulkan ketidak-tertiban dan ketidak-teraturan.

5) Menimbulkan polusi.

6) Berkaitan dengan kejahatan.

Dalam pelaksanaan penindakan pelanggaran lalu lintas jalan tertentu, terlibat aparat penegak hukum yaitu Polisi, Hakim, dan Jaksa selaku eksekutor.

Surat tilang ini sebagai bukti bahwa seseorang telah melakukan pelanggaran lalu lintas, sedangkan esensi dari surat tilang ini adalah sanksi atau denda yang dikenakan dan diharapkan dapat menimbulkan efek jera bagi si pelanggar lalu lintas.

Rincian surat tilang berdasarkan Lampiran Kesepakatan Bersama Ketua Mahkamah Agung, Menteri Kehakiman, Jaksa Agung Dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia sebagai berikut:


(44)

a) Spesifikasi Teknis Surat Tilang 1) Format ukuran

Lembar Surat Tilang berukuran 1/2 folio. 2) Warna dan peruntukan

Lembar surat Tilang terdiri atas 5 (lima) lembar yang masing-masing:

a) Merah : Untuk pelanggar/tersangka. b) Biru : Untuk pelanggar/tersangka. c) Kuning : Untuk Polri.

d) Hijau : Untuk Pengadilan. e) Putih : Untuk Kejaksaan. 3) Isi Buku Tilang

Setiap Buku Tilang terdiri dari: a) 5 (lima) Set surat Tilang.

b) 1 (satu) lembar tabel Pelanggaran dan uang titipan, serta angka pinalti dan biaya perkara.

4) Isi lembar surat tilang

Pada halaman depan lembar surat Tilang berisi kolom atau tulisan sebagai berikut:

a) Nama kesatuan Kepolisian Penindak. b) Nomor Registrasi.

c) Tulisan Pro Justitia. d) Nomor seri surat Tilang.


(45)

25

e) Nama dan identitas petugas penindak sekaligus sebagai Penyidik/Penyidik pembantu.

f) Nama dan identitas pelanggar, identitas kendaraan bermotor dan Surat Izin Mengemudi.

g) Pasal yang dilanggar.

h) Besarnya uang titipan yang harus disetor. i) Besarnya angka pinalti.

j) Tempat dan waktu terjadinya pelanggaran.

k) Kantor BRI yang ditunjuk untuk menerima uang titipan, tanda tangan petugas penerima uang titipan, cap BRI, serta tanggal penerimaan.

l) Pernyataan penyidik mengenai pensitaan dan atau penerimaan titipan surat-surat atau kendaraan (Bermotor) sebagai jaminan sesuai ketentuan dalam KUHAP.

m) Pernyataan/keterangan tersangka/pelanggar bahwa telah melakukan pelanggaran lalu lintas jalan tertentu, dan kolom tanda tangan.

n) Waktu sidang dan alamat Pengadilan Negeri.

o) Tanda tangan, Nama dan Pangkat penindak/Penyidik/Penyidik pembantu serta Cap Kepolisian.

p) Keterangan fungsi surat Tilang sebagai: 1) Tanda bukti penyitaan/titipan.


(46)

2) Surat penunjukkan dari pelanggar pada wakilnya untuk hadir di Sidang Pengadilan, apabila pelanggar tidak hadir disidang pengadilan.

3) Kesanggupan pelanggar membayar uang titipan selambat lambatnya 5 (lima) hari setelah pelanggar menanda tangani surat Tilang.

4) Surat pengantar untuk menyetor uang titipan ke BRI. 5) Bukti setor uang titipan untuk mengambil barang titipan. 6) Surat kuasa bagi BRI untuk menyalurkan uang titipan

menjadi denda dan biaya perkara atau mengembalikan sisa uang titipan kepada pelanggar.

q) Struk sebagai alat pengawasan bagi Pimpinan, berisi Nomor Seri, nama/pangkat/Nrp petugas/penyidik/penyidik pembantu, tanda tangan petugas, dan tanggal penggunaan

Pada lembar belakang lembar merah berisi:

a) Bukti penyerahan surat-surat/kendaraan yang disita/titipan dari pelanggar.

b) Nama, Pangkat/Nrp, Kesatuan dari petugas yang menyerahkan benda sitaan/titipan dan tanda tangan.

c) Nama, alamat dan pekerjaan yang menerima pengembalian benda sitaan/titipan dan tanda tangan.

d) Tanda Bukti eksekusi.


(47)

27

1) Bagi yang menyelesaikan perkara diluar pengadilan tilang diancam pasal 209, 418, 419 KUHP, jo UU No. 11/1980 tentang tindak pidana suap jo UU no. 3/1971 tentang tindak pidana korupsi.

2) Surat Tilang ini merupakan Surat Pengadilan untuk menghadap ke Pengadilan Negeri pada tempat, hari, tanggal dan waktu yang telah ditetapkan sehubungan dengan pelanggaran yang telah dilakukan.

3) Batas waktu penyetoran uang titipan dan besarnya angka pinalti maksimal serta sanksi terhadap pelanggarannya. 4) Ancaman bagi yang tidak memenuhi surat panggilan

dengan tuntutan melanggar pasal 216 ayat (1) KUHP, yang diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 4 bulan 2 minggu atau, denda setinggi-tingginya 15 kali Rp. 600,-.

f) Tanda bukti eksekusi.

Pada lembar belakang lembar kuning, hijau dan putih berisi: a) Putusan Sidang Pengadilan.

b) Pernyataan si pelanggar atau wakilnya. c) Tanda bukti eksekusi.

d) Catatan petugas.

Dan pada lembar biru. entuk dan materinya sama dengan lembar merah.


(48)

e. Prosedur Teknisi Penindakan Tilang

Prosedur teknisi penindakan tilang petunjuk pelaksanaan tata cara penyelesaian pelanggaran lalu lintas jalan tertentu yaitu sebagai berikut:

1. Penggunaan Surat Tilang

a. Surat Tilang digunakan, apabila secara jelas penyidik/penyidik pembantu melihat, mengetahui, terjadinya pelanggaran lalu lintas jalan tertentu sebagaimana tercantum dalam Tabel Pelanggaran. Setelah surat Tilang diisi dan ditanda tangani oleh pelanggar serta petugas sendiri, lembar biru diberikan kepada Pelanggar untuk menyetor uang titipan di BRI.

b. Cara Pengisian:

1) Pengisian blanko dengan huruf balok dan dengan menggunakan ballpoint pen.

2) Pengisian yang bersifat tetap dan sama dapat menggunakan cap.

3) Cap Satuan menggunakan ukuran kecil.

4) Menulis dan menanda tangani dengan menekan yang cukup kuat.

5) Pengisian pasal yang dilanggar dan besarnya uang titipan serta angkapinalti dan biaya perkara berdasarkan pada tabel yang telah tersedia.


(49)

29

6) Memberikan tanda silang bila diperlukan pada kotak yang disediakan.

2. Penyitaan

Sesuai ketentuan dalam Pasal 38 (2) KUHAP yaitu dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, tanpa mengurangi ketentuan ayat (1) Penyidik dapat melakukan penyitaan hanya atas benda bergerak dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada Ketua Pengadilan Negeri Setempat guna memperoleh persetujuan.

3. Pengembalian Benda Sitaan.

Pengembalian benda sitaan tersebut di atas dapat dilaksanakan apabila:

a) Setelah pelanggar melaksanakan vonis Hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

b) Sesuai yang diatur dalam pasal 46 KUHAP.

4. Pengembalian Barang Titipan.

Pengembalian barang titipan dapat dilaksanakan bilamana: a) Pelanggar telah menyerahkan uang titipan dan

menunjukkan surat Tilang warna biru (tanda bukti setor).


(50)

b) Telah melengkapi kekurangan surat-surat/kelengkapan kendaraannya.

5. Penyerahan Uang Titipan

a) Setelah menerima lembar surat Tilang warna biru, pelanggar menyerahkan uang titipan ke Kantor BRI yang ditunjuk sebesar yang tertera dalam surat Tilang.

b) Pelanggar menerima tanda bukti setor dari Kantor BRI, dan lembar surat Tilang warna biru yang telah ditanda tangani petugas dan Cap BRI.

c) Batas waktu penyerahan uang titipan selambat-lambatnya 5 (lima) hari terhitung mulai tanggal ditanda tangani Surat Tilang.

6. Pengembalian Lembar Merah

BRI akan menerima dari Eksekutor daftar pelanggar yang telah diputus Pengadilan yang dilampiri surat Tilang warna merah dan biru selambat-lambatnya tiga hari dari tanggal pelaksanaan Sidang Tilang. Pengembalian lembar Merah dari BRI kepada Polri dilaksanakan segera/secepatnya setelah uang titipan dirubah menjadi denda dan biaya perkara.

7. Acara Pemerasaan Perkara Pelanggaran Lalu Lintas Jalan a) Penyidik memberi tahukan kepada Pelanggar tentang hari,

tanggal, jam dan tempat ia harus menghadap ke Sidang Pengadilan.


(51)

31

b) Pelanggar dapat menunjuk seorang wakil yang disediakan oleh Kepolisian dengan surat Tilang untuk mewakilinya di Sidang Pengadilan.

c) Pelanggar atau wakilnya menerima putusan Hakim.

d) Selanjutnya berlaku ketentuan sebagai mana tersebut pada Pasal 214 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

e) Petugas Kejaksaan Negeri sebagai Eksekutor memberitahukan dan menyerahkan lembar blanko Tilang warna merah dan biru kepada BRI bahwa uang titipan atas nama Pelanggar yang telah disetorkan, telah berubah menjadi uang denda dan biaya perkara serta agar disetorkan ke Kas Negara.

8. Daftar Pencarian Pelanggar

a) Dalam hal pelanggar dalam batas waktu yang ditentukan tidak menyerahkan uang titipan maka identitas pelanggar dimasukkan dalam Daftar Pencarian Pelanggar (DPP). b) Apabila pelanggar tidak dapat menunjukkan alasan yang

sah tentang tidak memenuhi kewajibannya menyetorkan uang titipan maka herdasarkan Instruksi Kapolri, SIM yang bersangutan dapat dibatalkan dan STNK dapat tidak diterbitkan untuk tahun berikutnya.

c) Apabila pelanggar yang tidak menunjuk wakil dan tidak hadir pada waktu sidang Pengadilan Tilang tanpa alasan


(52)

yang sah, identitas pelanggar dimasukkan dalam Daftar Pencarian Pelanggar (DPP) dan atas kewenangan Hakim diputus verstek dapat dijatuhi hukuman lebih berat.

f. Bentuk sanksi bagi pelanggar lalu lintas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009

Untuk sanksi bagi pelanggaran lalu lintas sendiri, diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 pada Bab XX mengenai Ketentuan Pidana. Berikut akan dijelaskan di dalam tabel mengenai sanksi atau ketentuan pidana bagi pelanggaran lalu lintas, yakni sebagai berikut:

Tabel 2.1 Daftar Ketentuan Pidana Denda Tilang

No Jenis Pelanggaran Ancaman Hukuman Dasar Hukum (UU No. 22 Tahun 2009 1. 2. 3.

Tidak dilengkapi dengan perlengkapan berupa ban cadangan, segitiga

pengaman, dongkrak, pembuka roda, dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan

Mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor

Mengemudikan Kendaraan

Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling paling banyak

Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau

denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)

Pidana kurungan

Pasal 278

Pasal 280


(53)

33

4.

5.

6.

Bermotor di Jalan dengan tidak memiliki Surat Izin Mengemudi

Mengemudikan Sepeda Motor di Jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat

pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban

Mengemudikan Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih di Jalan yang tidak memenuhi

persyaratan teknis yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu mundur, lampu tanda batas dimensi badan kendaraan, lampu

gandengan, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, kedalaman alur ban, kaca depan, spakbor, bumper, penggandengan,

penempelan, atau penghapus kaca

Mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor

paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling

banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu

rupiah)

Pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)

Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan dan/atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu Pasal 285 Ayat (1) Pasal 285 Ayat (2) Pasal 288 Ayat (1)


(54)

7. 8. 9. 10. 11. Mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dapat menunjukkan Surat Izin Mengemudi yang sah

Mengemudikan Kendaraan Bermotor atau Penumpang yang duduk di samping Pengemudi yang tidak mengenakan sabuk keselamatan

Mengemudikan Sepeda Motor tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia

Mengemudikan Sepeda Motor yang membiarkan penumpangnya tidak mengenakan helm

Setiap orang yang

mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan tanpa menyalakan lampu utama pada malam hari dan kondisi tertentu

rupiah)

Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan dan/atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 Pasal 288 Ayat (2) Pasal 289 Pasal 291 Ayat (1) Pasal 291 Ayat (2) Pasal 293 Ayat (1)


(55)

35 12. 13. 14. 15. 16. 17.

Setiap orang yang

mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan tanpa menyalakan lampu utama pada siang hari

Mengemudikan Kendaraan Bermotor yang akan membelok atau berbalik arah, tanpa memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan

Mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya

mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan

kerusakan Kendaraan dan/atau Barang

Mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya

mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan

Mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya

mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat

Mengemudikan Kendaraan

(dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Pidana kurungan paling lama 15 (lima belas) hari atau denda paling banyak

Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah)

Pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) Pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling banyak

Rp.2.000.000,00 (dua juta rupiah) Pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) Pidana penjara Pasal 293 Ayat (2) Pasal 294 Pasal 310 Ayat (1) Pasal 310 Ayat (2) Pasal 310 Ayat (3) Pasal 310


(56)

Bermotor yang karena kelalaiannya

mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban meninggal dunia

paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah)

Ayat (4)

2. Tinjauan Tentang Kedisiplinan a. Pengertian Kedisiplinan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sudah akrab dengan kata

“kedisiplinan”. Kata disiplin kini menyebar luas, tidak terbatas pada

instansi pemerintah saja namun juga di instansi swasata. Disiplin pada dasarnya adalah faktor penunjang produkitivitas seseorang. Setiap tindakan akan mempunyai konsekuensi jika tidak disiplin dalam menjalankannya. Disiplin diartikan sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat bersikap tertib. Disiplin bisa diartikan sebagai sikap paham akan tanggung jawab dan tetap bersikap profesional dan tidak terpengaruh oleh emosi pribadi. Disiplin juga mengajarkan kepada kita bagaimana memanajemen diri. Oleh karena itu kedisiplinan sangat diperlukan dalam banyak aspek kehidupan.

Menurut Prijodarminto (2003: 11), bahwa “Kedisiplinan adalah suatu

kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Karena sudah menyatu dengannya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi atau sama sekali


(57)

37

tidak dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan membebani dirinya bilamana ia tidak berbuat sebagaimana lazimnya”.

Kemudian Asy Mas’udy dalam Al-Iman Aulia (https://www.facebook.com/permalink.php.id) menyatakan bahwa

“Disiplin adalah latihan ingatan dan watak untuk menciptakan

pengawasan (kontrol diri), atau kebiasaan mematuhi ketentuan dan perintah. Jadi arti disiplin secara lengkap adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tampa

paksaan dari siapa pun”.

Syaiful Bahri Djamarah (2010: 17) menambahkan bahwa “Kedisiplinan

merupakan perilaku yang terbentuk dari hasil latihan untuk mematuhi aturantata tertib yang ditentukan”.

Dan selanjutnya menurut John Maxwell (dalam hadziq, 2012: 22)

bahwa “Disiplin adalah sebagai suatu pilihan dalam hidup untuk

memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang kita

inginkan”.

Disiplin adalah sikap yang tercermin dalam perbuatan tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan terhadap berbagai peraturan dan ketentuan yang ditentukan pemerintah atau etik, norma, dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat.


(58)

Kedisiplinan berkenaan dengan kepatuhan dan ketaatan seseorang atau kelompok orang terhadap norma-norma dan peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Kedisiplinan dibentuk serta berkembang melalui latihan dan pendidikan sehingga terbentuk kesadaran dan keyakinan dalam dirinya untuk berbuat tanpa paksaan.

Dari pengertian-pengertian kedisiplinan menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan adalah segala bentuk sikap seseorang yang mencerminkan bahwa dirinya patuh terhadap suatu peraturan, baik peraturan itu dibuat oleh dirinya sendiri maupun orang lain dengan kepahaman terhadap hak dan kewajiban serta kepahaman terhadap konsekuensi apabila ia melanggar.

b. Unsur-unsur kedisiplinan

Dalam mengembangkan dan meningkatkan kedisiplinan perlu ada unsur-unsur yang diharapkan dapat mendukung tercapainya kedisiplinan. Unsur-unsur tersebut diantaranya adalah:

a) Sikap Mental

Artinya adalah adanya sikap mental yang tercermin dari perbuatan seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya serta menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan peraturan yang telah ditetapkan.


(59)

39

b) Alat ukur

Artinya adalah adanya alat ukur seperti waktu, tugas, pekerjaan, dan larangan-larangan yang dituangkan dalam perarturan.

c) Sanksi atau hukuman

Artinya adanya sanksi atau hukuman yang diberikan kepada pelanggar peraturan atau ketentuan yang telah ditetapkan.

d) Pemahaman yang baik mengenai sistem peraturan, perilaku, norma, kriteria dan standar sehingga menumbuhkan pengertian yang mendalam.

e) Sikap kelakuan yang wajar yang menunjukkan kesungguhan hati untuk mentaati segala hal secara hormat dan tertib.

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kedisiplinan

Kedisiplinan merupakan tingkah laku manusia yang kompleks karena menyangkut unsur pembawaan dan lingkungan sosialnya. Ditinjau dari sudut psikologi, bahwa manusia memiliki dua kecenderungan yang cenderung bersikap baik dan cenderung bersikap buruk, cenderung patuh dan tidak patuh, cenderung menurut atau membangkang,. Kecenderungan tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tergantung bagaimana pengoptimalannya.

Sehubungan manusia memiliki dua potensi dasar tersebut, maka agar manusia memiliki sikap positif dan berperilaku disiplin sesuai dengan aturan maka perlu upaya optimalisasi daya-daya jiwa manusia melalui berbagai bentuk penanaman disiplin dan kepatuhan.


(60)

Upaya-upaya tersebut baik melalui pembiasaan-pembiasaan, perubahan pola dan sistem aturan yang mengatur tingkah lakunya, kebijaksanaan, sistem sanksi, dan penghargaan bagi pelaku dan pengawasan.

Menurut Subari (1994:166), “Ada dua faktor penyebab timbul suatu tingkah laku disiplin yaitu kebijaksanaan aturan itu sendiri dan pandangan seseorang terhadap nilai itu sendiri”.

Didukung oleh pendapat lain (Hasibuan 2010:194) beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan diantaranya adalah:

a) Tujuan dan kemampuan b) Kepemimpinan

c). Keadilan

d). Pengawasan melekat e). Sanksi hukuman

f). Hubungan kemanusiaan g). Ketegasan

d. Fungsi Kedisiplinan

Kedisiplinan selalu dikedepankan di banyak hal. Karena kedisiplinan mempunyai banyak fungsi yang tentunya diharapkan bersama. Diantara fungsi kedisiplinan tersebut yaitu:

a) Menata kehidupan bersama. b) Membangun kepribadian

Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Disiplin yang diterapkan di masing-masing lingkungan tersebut memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Oleh karena itu, dengan disiplin seseorang akan terbiasa mengikuti, mematuhi aturan yang berlaku dan


(61)

41

kebiasaan itu lama kelamaan masuk ke dalam dirinya serta berperan dalam membangun kepribadian yang baik.

c) Melatih kepribadian

Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin terbentuk melalui latihan. Demikian juga dengan kepribadian yang tertib, teratur dan patuh perlu dibiasakan dan dilatih.

d) Menciptakan lingkungan yang kondusif.

e. Kedisiplinan Dalam Berlalu Lintas

1. Pengertian Kedisiplinan Dalam Berlalu Lintas

Kedisplinan banyak macamnya, ada kedisplinan dalam belajar, kedisiplinan dalam menggunakan waktu, dan sebagainya. Namun kali ini akan dibahas mengenai disiplinan dalam berlalu lintas. Kedisiplinan berlalu lintas sangat penting untuk diutamakan Karen berkenaan dengan keselamatan di jalan raya.

Disiplin lalu lintas adalah suatu kondisi psikologis berupa sikap mental seseorang berkaitan dengan penempatan diri yang baik terhadap aturan-aturan lalu lintas yang berlaku. Masyarakat sebagai subyek yang dikenai aturan ini memiliki peran besar dalam tercapainya kedisiplinan dalam kehidupan berlalu lintas dan angkutan jalan raya. Bagaimana aturan atau norma tersebut dapat berjalan terlihat dari perilaku anggota masyarakat dalam berlalu lintas.


(62)

Menurut Purwadi (2011: 34) bahwa “Disiplin berlalu lintas itu sendiri bilamana seseorang mematuhi apa yang tidak boleh pada saat berlalu lintas di jalan, baik dalam rambu ataupun tidak, dimana lalarangan-larangan tersebut termuat didalam UU RI No 22 tahun 2009 tentang LLAJ”.

Sejalan dengan itu pengertian disiplin berlalu lintas merujuk pada Undang-Undang RI No. 22 Tahun. 2009 yang menerangkan bahwa

“Kedisiplinan berlalu lintas adalah segala perilaku pengguna jalan

baik bermotor ataupun tidak di jalan raya yang sesuai dengan undang-undang ataupun peraturan lalu lintas yang telah ditetapkan”.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian kedisiplinan berlalu lintas adalah suatu tindakan ataupun perilaku yang dimiliki individu dalam menjalankan setiap peraturan yang harus ditaati sesuai undang-undang yang ada ketika mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kedisiplinan Dalam Berlalu Lintas

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kedisiplinan berlalu-lintas yaitu faktor ekstern dan intern. Faktor ekstern meliputi sosial budaya, sosial ekonomi dan pendidikan sedangkan faktor intern meliputi sikap individu dan kesadaran individu. Prijodarminto (2003: 23) mengungkapkan bahwa “Individu yang memiliki


(63)

43

kesadaran yang tinggi akan selalu berorientasi pada keselamatan diri di jalan”.

Selain itu faktor-faktor mempengaruhi disiplin berlalu lintas yang berkaitan dengan individu sebagai pengguna jalan antara lain: a) Faktor Internal

1) Unsur sikap idup

Sikap dipandang sebagai sesuatu predisposisi perilaku yang akan tampak aktual bila kesempatan untuk menyatakan terbuka luas, dan jika dilihat dari strukturnya, sikap terdiri atas beberapa komponen yang saling menunjang; kognitif, afektif, dan konatif.

2) Unsur tanggung jawab

Orang yang berdisiplin adalah orang yang bertanggung jawab.

3) Unsur keinsafan

Internalisasi terjadi ketika individu menerima pengaruh dan bersedia menuruti pengaruh itu dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yang individu percayai dan sesuai dengan sistem nilai yang dianutnya.

4) Unsur keyakinan

Tanpa adanya keyakinan dan kepercayaan bahwa disiplin itu baik dan bermanfaat, maka secara internal disiplin tidak mungkin dapat terwujud.


(64)

Adalah kekuatan dan mental spiritual yang menghindarkan seseorang untuk menghadapi friksi, gesekan serta benturan dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya.

6) Unsur kemampuan mengendalikan diri

Pengendalian diri adalah pengaruh seseorang terhadap peraturan tentang fisiknya, perilaku dan proses-proses psikologisnya.

b) Faktor Eksternal

1) Unsur pemaksaan oleh hukum dan norma yang diwakili oleh penegak hukum terhadap setiap anggota masyarakat untuk taat kepada hukum dan norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2) Unsur pengatur, pengendali dan pembentuk perilaku. Faktor ini merupakan aturan-aturan dan norma-norma yang dijadikan standar bagi individu dalam masyarakat atau kelompoknya. Adanya perangkat hukum, norma atas aturan-aturan ini maka individu belajar mengendalikan diri dengan aturan yang berlaku. Hukum dan norma selalu bersifat mengatur, mengendalikan serta membentuk perilaku manusia agar menjadi teratur, terkendali dan membentuk perilaku manusia agar menjadi teratur dengan adanya kepastian hukum.


(65)

45

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan dalam berlalu lintas berasal dari faktor internal dan faktor eksternal individu. Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri individu seperti; sikap tanggung jawab, keyakinan, kesadaran individu, penyesuaian diri, dan pengendalian diri. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi disiplin yang meliputi kondisi sosial ekonomi dan budaya, pendidikan, pemaksaan oleh hukum dan norma yang diwakili oleh penegak hukum terhadap setiap anggota masyarakat serta unsur pengatur, pengendali dan pembentuk perilaku.

B. Penelitian Yang Relevan

Ditingkat nasional penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ferdian Ade Cecar Tarigan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan. Adapun judul penelitian adalah: “Penerapan Pidana Denda Dalam Kasus Pelanggaran Lalu Lintas Di Medan (Studi Pelanggaran Lalu Lintas Di Medan).”

Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode yuridis normatif. Yang terdiri dari satu variabel yaitu penerapan pidana denda. Adapun hasil penelitianya menunjukan bahwa Pengadilan Negeri Medan telah menetapkan besarnya denda tilang yang harus dibayar oleh pengguna jalan yang melanggar ketentuan sesuai dengan Kordinasi antara Pengadilan, Kejaksaan dan kepolisian. Besarnya denda tersebut ditentukan oleh kategori jenis pelanggaran (ringan, sedang dan berat) dan jenis kendaraan yang


(66)

melanggar yaitu bermotor roda dua, roda empat, mobil penumpang umum, pick up, bus/truk dan truk gandeng. Hal ini dibuat atas keluarnya SEMA Nomor 4 Tahun 1993 yang berisi agar masing-masing daerah membuat standar besarnya jumlah denda atas pelanggaran lalu lintas dengan melihat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat daerah tersebut. Berdasarkan hasil penelitian juga menyatakan bahwa besarnya jumlah denda tilang yang ada di kota Medan masih dikategorikan rendah. Hal ini yang menyebabkan tidak efektifnya penerapan pidana denda serta penerpan pidana denda tersebut tidak mengakibatkan efek jera. Ini ditunjukkan dari angka pelanggaran lalu lintas yang tinggi setiap bulannya.

C. Kerangka Pikir

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 merupakan Undang-Undang yang mengatur tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang didalamnya secara jelas mengatur ketentuan pidana bagi pelanggaran lalu lintas. Sanksi yang ditetapkan bagi pelanggaran lalu lintas berupa sanksi pidana kurungan (penjara) dan atau berupa denda. Penerapan sanksi dan penindakan pada pelanggaran lalu lintas yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku adalah yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tersebut, tidak dengan cara “damai” di tempat. Diterapkannya hal tersebut dengan

harapan akan meminimalisir pelanggaran lalu lintas yang terjadi. Kedisiplinan dalam berlalu lintas diawali dengan pemahaman terhadap peraturan lalu lintas itu sendiri, dengan begitu maka akan tercipta sikap tertib dan sikap tanggung jawab dalam berlalu lintas. Sehingga apabila demikian adanya, lambat laun


(67)

47

akan tercipta suasana disiplin dalam berlalu lintas misalnya seperti mengutamakan ketertiban dan keselamatan dengan cara berperilaku tertib dan melengkapi komponen fisik seperti kelengkapan kendaraan bermotor maupun komponen administratif kendaraan bemotor seperti SIM, STNK; menggunakan helm SNI bagi pengendara roda dua dan sabuk keselamatan bagi pengendara roda empat/lebih, dan lain-lain; menyalakan lampu utama baik di malam hari maupun siang hari; mengikuti jalur atau lajur lalu lintas yang benar; tertib ketika berada di perlintasan kereta api; tidak mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi; serta menghormati pengguna jalan yang lain seperti pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor/tidak bermotor lainnya.

Berdasarkan pemikiran di atas, hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan kerangka pikir berikut ini:

Gambar 2.1 kerangka pikir Sanksi tilang (X)

Sanksi sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Kedisiplinan dalam berlalu lintas (Y) 1. Pemahaman terhadap

peraturan lalu lintas 2. Sikap tertib


(68)

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pemikiran dan landasan teori sebagaimana yang telah diutarakan maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: “Bahwapengaruh sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan masuk kategori tinggi”.


(69)

49

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif korelasional, karena penelitian ini melibatkan tindakan pengumpulan data yang menentukan apakah ada tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih, khususnya mengenai pengaruh sanksi tilang terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas. Sehingga penggunaan metode deskiptif korelasional sangat tepat untuk menguji ada tidaknya dan kuat lemahnya pengaruh variabel yang terkait dalam suatu objek atau subjek yang diteliti dalam pengaruh sanksi tilang terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan yang pernah ditilang per Nopember – Januari 2014 yaitu berjumlah 178 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut :


(70)

Tabel 3.1 Jumlah orang yang pernah ditilang di Dusun II Desa Bumisari per Nopember–Januari 2014

No. RT Jumlah orang yang

pernah ditilang 1.

2. 3. 4. 5.

VI VII VIII

IX X

34 orang 36 orang 23 orang 40 orang 35 orang

Jumlah 178 Orang

Sumber : Hasil observasi di Dusun II Desa Bumisari

2. Sampel

Menurut Arikunto (2008:107) “apabila subjek kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika subjeknya besar atau lebih dari 100 dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih”.

Berdasarkan ketentuan tersebut maka peneliti menetapkan jumlah populasi dari 178 orang yang pernah ditilang diambil 25% untuk dijadikan sampel, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 46 orang.

Untuk lebih jelas mengenai jumlah sampel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:


(71)

51

Tabel 3.2 Data Jumlah sampel pada masing-masing RT di Dusun II Desa Bumisari No. RT Jumlah orang yang pernah ditilang Sampel 25% 1. 2. 3. 4. 5. VI VII VIII IX X 34 36 23 40 45

34 x 25% = 9 36 x 25% = 9 23 x 25% = 6 40 x 25% =10 45 x 25% =12

Jumlah 178 orang 46 orang

Sumber : Hasil observasi di Dusun II Desa Bumisari

3. Teknik Sampling

Adapun teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling random proporsional (proportionate stratified random sampling). Di mana menurut Margono (2007:128) “sampel proporsional,

menunjuk kepada perbandingan penarikan sampel dari beberapa

subpopulasi yang tidak sama jumlahnya”. Dengan demikian setiap unit

sampling sebagai unsur populasi yang paling kecil dapat memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau mewakili populasi.

C. Variabel Penelitian

Secara umum variabel merupakan penjabaran konsep-konsep yang terdapat dalam judul, selanjutnya dijelaskan dalam dimensi-dimensi yang dapat diukur atau dapat diamati dari masing-masing konsep yang bersangkutan. Arikunto

(2008:91) menyampaikan bahwa variabel penelitian adalah “obyek penelitian yang menjadi penelitian”.


(72)

1. Variabel Bebas (X). Yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah sanksi tilang.

2. Variabel Terikat (Y). Yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah kedisiplinan dalam berlalu lintas.

D. Definisi Konseptual dan Definisi Operasional Variabel a. Definisi Konseptual

1) Sanksi tilang merupakan sanksi yang diberikan kepada pelanggar lalu lintas berupa sanksi pidana yang secara jelas diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009.

2) Kedisiplinan dalam berlalu lintas adalah suatu tindakan ataupun perilaku yang dimiliki individu dalam menjalankan setiap peraturan yang harus ditaati sesuai undang-undang yang ada ketika mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya.

b. Definisi Operasional Variabel

1) Sanksi tilang diberikan kepada pelaku pelanggaran lalu lintas dengan indikator sanksi yang diberikan menurut dengan UU No. 22 Tahun 2009 berupa pidana kurungan (penjara) dan atau denda.

2) Kedisiplinan dalam berlalu lintas merupakan salah satu etika berlalu lintas yang harus dilaksanakan dan akan mendapat sanksi bila dilanggar yang diukur melalaui skor berdasarkan indikator yaitu pemahaman terhadap peraturan lalu lintas, sikap tertib, dan sikap tenggung jawab.


(73)

53

E. Rencana Pengukuran Variabel

Untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka diperlukan alat ukur yang tepat. Rencana pengukuran variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sanksi tilang diukur dengan kategori sesuai, kurang sesuai dan tidak sesuai. Yang selanjutnya mempunyai tiga kemungkinan jawaban a, b dan c yang meliputi :

a. Memilihjawaban “sesuai”, diberikan nilai tiga (tiga); b. Memilihjawaban “kurang sesuai”diberikan nilai 2 (dua); c. Memilihjawaban “tidak sesuai”diberikan nilai 1 (satu).

2. Kedisplinan dalam berlalu lintas diukur dengan kategori tinggi, sedang rendah. Yang selanjutnya mempunyai tiga kemungkinan jawaban a, b, dan c yang meliputi :

a. Memilihjawaban “tinggi”diberikan nilai 3 (tiga); b. Memilihjawaban “sedang”diberikan nilai 2 (dua); c. Memilihjawaban “rendah” diberikan nilai 1 (satu).

F. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Pokok

a. Angket

Teknik angket atau kuisioner merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara membuat sejumlah pertanyaan yang diajukan kepada responden. Dengan tujuan menjaring data dan informasi langsung dari


(1)

Keterangan:

Cmaks : Koefesien kontingen maksimum

M : Harga minimum antara banyak baris dan kolom dengan kriteria I : Bilangan konstan

uji pengaruh makin dekat dengan harga Cmaks makin besar derajat asosiasi antar faktor. Dengan kata lain, faktor yang satu makin berkaitan dengan faktor yang lain.


(2)

96

V

.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data, pembahasan hasil penelitian, khususnya analisis data seperti yang telah diuraikan dalam pembahasan mengenai pengaruhsanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan maka penulis dapat menyimpulkan bahwa:

1. Ada pengaruh antara sanksi tilang bagi pelanggar terhadap kedisiplinan dalam berlalu lintas masyarakat di Dusun II Desa Bumisari , dimana sanksi tilang sangat mempengaruhi keidisplinan dalam berlalu lintas dibuktikan dengan hasil perhitungan yang menggunakan Chi Kuadrat bahwa x2 hitung lebih besar dari x2 tabel (x2 hitung ≥ x2 tabel), yaitu 99,49≥ 9,48 pada taraf signifikan 5% (0,05) dan derajat kebebasan = 4, serta mempunyai derajat keeratan pengaruh antara variabel dalam kategori sangat berpengaruh dengan koefisien kontingensi C = 0,82 dan koefisien kontingensi maksimum Cmaks = 0,81. Berdsarkan perhitungan

tersebut maka koefisien kontingensi C = 0,98 berada pada kategori sangat berpengaruh.


(3)

3. Agar sanksi tilang diterapkan sesuai dengan prosedur maka harus didukung perlu adanya kesadaran hukum yang tinggi oleh oleh pihak terkait yaitu masyarakat yang melanggar dan oknum berwajib sebagai penindak.

B. Saran

Setelah penulis menyelesaikan penelitian, membahas dan mengambil kesimpulan dari hasil penelitian, maka penulis mengajukan saran sebagai berikut:

1. Bagi aparat penegak disiplin lalu lintas, diharapkan dapat profesional dan benar-benar melaksanakan prosedur penindakan yang sesuai ketika menindak (menilang) pelanggar lalu lintas. Diharapkan tidak menyepakati ketika pelanggar lalu lintas mengajukan suap saat ditilang, serta mengadakan program sosialisasi terkait Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan maupun yang lain yang berhubungan dengan paraturan lalu lintas karena melihat masih rendahnya kepemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap peraturan lalu lintas demi tercipatanya kedisiplinan dalam berlalu lintas dan menghindarkan dari hal-hal yang tidak diharapkan.


(4)

98

2. Bagi masyarakat, diharapkan menjadi warga negara yang baik (good

citizen) yang mengedepankan sikap taat hukum, dengan tidak

menyalahkan gunakan dan bertindak yang tidak sesuai hukum seperti suap ketika ditilang. Menjalankan sanksi yang telah ditetapkan oleh hukum ketika ditilang, sebagai cerminan warga negara yang taat hukum. Juga diharapkan mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi terhadap peraturan lalu lintas, lebih banyak menggali informasi tentang peraturan lalu lintas demi keselamatan dan ketertiban saat berkendara. Dengan begitu maka akan lahir kesadaran dengan mengedepankan sikap tertib dan tanggung jawab ketika berlalu lintas.

3. Bagi calon guru PPKn, kasus tilang yang disertai proses penyelesaiannya sesuai hukum dapat dijadikan contoh dalam memberikan materi pelajaran yang berkaitan dengan taat hukum. Melatih siswa menjadi good citizen dan pribadi yang patuhterhadap hukum.


(5)

Aulia, Al-Iman. 2014.Kedisiplinandalam

https://www.facebook.com/permalink.php.id=106997906045785&stoy_fbid=3 66786710066902 (Diakses 15 Februari 2014)

Direktorat Lalu Lintas Polri. 2009.Panduan Praktis Berlalu Lintas. Sekretariat Negara.

Djamarah, Saiful Bahri. 2010.Psikologi Belajar.Rineka Cipta. Jakarta.

Ekaputra. 2005. Disiplin Berlalu Lintas Ditinjau Dari Persepsi Terhadap Peraturan Lalu Lintas.Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Hadikusuma, Hilman.2004.Pengantar Antropologi Hukum. PT Citra Aditya Bakti. Bandar Lampung.

Hasibuan, Malayu S.P. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara. Jakarta.

Jauhary, hadziq. 2012.Sukses Dengan Disiplin. PT. Bengawan Ilmu. Semarang. Kompasiana.Pelanggaran Lalu Lintas (KaryaIlmiah)

dalamhttp://spjchild.blogspot.com/2012/05/pelanggaran-lalulintas-karya-ilmiah.html(Diakses 14 Januari 2014)

Lampiran Kesepakatan Bersama Ketua Mahkamah Agung, Menteri Kehakiman, Jaksa Agung Dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia. 1993.Petunjuk Pelaksanaan Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Lalu Lintas Jalan Tertentu.Sekretariat Negara. Jakarta.


(6)

Medan Bisnis. 2013.Pahami Jenis Surat Tilang Polisidalam

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/04/28/26315/pahami_jenis _surat_tilang_polisi/ (Diakses 15 Februari 2014)

Mertokusumo, Sudikno. 2011.Mengenal Hukum: Suatu Pengantar. Liberty. Jakarta. Prijodarminto, Soegeng. 2003. Disiplin: Kiat menuju Sukses. Pradnya Paramita.

Jakarta.

Purwadi,,Didi. 2011.Rekayasa Lalu Lintas. Sinar Baru. Bandung.

Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan dan Penindakan Pelanggaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sekretariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia,. 2011.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sekretariat Negara. Jakarta. Subari. 1994. Supervisi Pendidikan dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar.

Bumi Aksara. Jakarta.

Sudjana. 2005.Metode Statistika.Tarsiti. Bandung

Sugiyono. 2009.Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Bandung.