Analisis Manfaat Program Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Tingkat PendidikanMasyarakat Desa Sekitar Perusahaan

ANALISIS MANFAAT PROGRAM
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
TERHADAP TINGKAT PENDIDIKAN MASYARAKAT DESA
SEKITAR PERUSAHAAN

SAEFIHIM

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

ii

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Manfaat
Program Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Tingkat Pendidikan
Masyarakat Desa Sekitar Perusahaanadalah benar karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan

tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, April 2014
Saefihim
NIM I34100026

ii

ABSTRAK
SAEFIHIM. Analisis Manfaat Program Corporate Social Responsibility (CSR)
Terhadap Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Sekitar Perusahaan. Di bawah
bimbingan IVANOVICH AGUSTA.
Untuk mengimbangi perusahaan dalam mencari laba sebanyak-banyaknya
tanpa mengesampingkan masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai wujud share
profit dalam kegiatan usaha mereka, dirancang program-program CSR untuk
mewujudkan kesejahteraan masyarakat berasaskan kemandirian dan
keberlanjutan. Asspek ekonomi dan sosial merupakan manfaat dalam jangka

menengah yang diakibatkan dari pengimplemantasian program CSR.Manfaat
program
CSR
dalam
perubahan
taraf
hidup
(aspek ekonomi) dan modal sosial (aspek sosial) dapat mewujudkan tingkat
pendidikan yang tinggi pada masyarakat sebagai penerima manfaat. Pendidikan
menjadi penting karena pendidikan merupakan aspek yang memberikan kontribusi
sumberdaya manusia yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan dalam berbagai aktivitas. Dalam kasus ini terdapat hubungan antara
perubahan taraf hidup dan modal sosial dengan tingkat pendidikan.
Kata Kunci: CSR, manfaat, masyarakat, modal sosial, taraf hidup, tingkat
pendidikan
ABSTRACT
SAEFIHIM. Analysis of The Outcome of Corporate Social Responsibility (CSR)
To The Education Level of Communities Around The Company. Under the
guidance of IVANOVICH AGUSTA.
To offset the company in seeking profit as much as possible without

compromising community and environment as a form of “profit share” in their
business activities, CSR Programs are designed for the welfare of community
based on self-relience and suistainability. Economic and social aspects are the
outcome in medium-term caused by implemantation of CSR programs. The
outcome of CSR program on changes the standard of living (economic aspecst)
and social capital (social aspects) can realize a high level of education in
community as beneficiaries. Education becomes important because education is a
contributing aspect of human resources that are intended to increase the
knowledge and abilities in a variety of activities. In this case there is a relationship
between the changes in living standards and social capital with education level.
Keywords: CSR, community, education level, outcome, social capital, standard of
living

iv

ANALISIS MANFAAT PROGRAM CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP TINGKAT
PENDIDIKAN MASYARAKAT DESA SEKITAR
PERUSAHAAN


SAEFIHIM

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
pada
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

vi

Judul Skripsi

Nama

NIM

: Analisis Manfaat Program Corporate Social Responsibility
(CSR) Terhadap Tingkat PendidikanMasyarakat Desa Sekitar
Perusahaan
: Saefihim
: I34100026

Disetujui oleh

Dr Ivanovich Agusta, SP MSi
Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Siti Amanah, MSc
Ketua Departemen

Tanggal Lulus: ________________


viii

PRAKATA
Untaian puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan
Semesta Alam, yang masih memberikan nikmat jasmani dan rohani serta waktu
yang bermanfaat bagi penulis sehingga skripsi dengan judul “Analisis Manfaat
Program Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Tingkat
Pendidikan Masyarakat Desa Sekitar Perusahaan “ dapat diselesaikan tanpa
hambatan dan masalah yang berarti. Pujian dan sholawat senantiasa penulis
sampaikan kepada Rasulullah SAW, keluarga beliau, dan para sahabat hingga
tabi’in dan pengikutnya hingga hari akhir.
Penulis menyadari bahwa studi pustaka ini dapat terselesaikan dengan baik
karena dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan rasa teruma kasih kepada:
1. Almarhum Ayah Sobari, Ibunda Carsiti, Kakak-kakak semuanya Cunaya,
Cunayi, Nawangsih, Sujadi, Riyani serta Adik-adik tercinta Fahudi dan
Sofyan, yang merupakan sumber motivasi penulis dalam segala hal.
2. Dr Ivanovich Agusta, SP MSi, dosen pembimbing skripsi yang telah banyak
mencurahkan waktu untuk membimbing dan memberikan masukan yang
sangat berarti selama penulisan skripsi ini.

3. Dr Ir Arya Hadi Dharmawan, MSc Agr, dosen pembimbing akademik yang
telah membimbing saya dan memberi masukan dalam hal akademik.
4. Bapak Resifil Hakim dan Ibu Novera beserta anak-anaknya di Pattaya,
Thailand yang telah banyak memberikan bantuan, semangat dan kehangatan
layaknya keluarga.
5. Dikti dan Kemendikbud yang telah memberikan beasiswa penuh selama
kuliah serta Direktorat Kemahasiswaan yang telah membantu kelancaran
kuliah serta atas semangat dan motivasi untuk berprestasi.
6. Teman-teman seperjuangan Deslaknyo, Milatul Ulfa, Bakhrul Ulum, Syaiful
Bahri, Jajang Jaelani, Ahmad Rifai, Agus Alim, Hermin Rahayu, Meziriati
Henri, mutmaina atas semangat dan kebersamaan layaknya keluarga.
7. Keluarga bapak makmur, kang Badrussalam dan warga desa Purwabakti atas
dukungan, kerjasama serta kebersamaan layaknya keluarga selama penelitian.
8. Teman-teman satu bimbingan, Ritma Pradhita, Ajron Abdullah, dan Ipa
Sahda, dan Adi Chandra yang saling menyemangati satu sama lain.
9. Teman-teman seperjuangan SKPM 47 atas semangat dan kebersamaan
selama ini.
10. Keluarga Bapak Donny Citra Lesmana, terimakasih atas kebaikan dan
dukungannya selama ini.
11. Dan semua pihak yang telah memberikan dukungan sehingga

terselesaikannya studi pustaka ini
Akhirnya penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan
pembaca dalam memahami lebih jauh tentang CSR.
Bogor, April 2014
Saefihim

x

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
xiii
DAFTAR GAMBAR
xv
PENDAHULUAN
1
Latar Belakang
1
Rumusan Masalah
5
Tujuan Penelitian

5
Kegunaan Penelitian
6
PENDEKATAN TEORITIS
7
Tinjauan Pustaka
7
Sejarah dan Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)
7
Karakteristik Corporate Social Responsbility (CSR)
8
Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR)
9
Konsep Modal Sosial
10
Evaluasi Program
11
Konsep Taraf Hidup
12
Tingkat Pendidikan

13
Kerangka Pemikiran
15
Hipotesis
17
Definisi Operasional
17
PENDEKATAN LAPANGAN
27
Lokasi dan Waktu Penelitian
27
Metode Penelitian
28
Teknik Penentuan Informan dan Responden
28
Teknik Pengumpulan Data
30
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
30
PROFIL DESA PURWABAKTI

33
Kondisi Geografi dan Demografi
33
Kondisi Sosial dan Ekonomi
34
Ikhtisar
36
PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
37
Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Indonesia Power
37
Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Indonesia PowerUBP
Kamojang Unit PLTP Gunung Salak
39
Ikhtisar
42
MANFAAT PROGRAM CSR DALAM PERUBAHAN TARAF HIDUP DAN
MODAL SOSIAL MASYARAKAT DESA SEKITAR PERUSAHAAN
43
Perubahan Taraf Hidup
43
Perubahan Modal Sosial
50
Ikhtisar
57

xii

PENDIDIKAN MASYARAKAT DESA PURWABAKTI KECAMATAN
PAMIJAHAN KABUPATEN BOGOR
Sarana dan Prasarana
Kemampuan Mencapai Pendidikan Tertinggi
Kendala dalam Pendidikan
Ikhtisar
HUBUNGAN PERUBAHAN TARAF HIDUP DAN MODAL SOSIAL
DENGAN TINGKAT PENDIDIKAN MASYARAKAT DESA SEKITAR
PERUSAHAAN
Hubungan Perubahan Taraf Hidup Dengan Tingkat Pendidikan
Hubungan Perubahan Modal Sosial Dengan Tingkat Pendidikan
Ikhtisar
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
RIWAYAT HIDUP

59
59
60
63
70

71
71
73
74
77
77
77
79
81

DAFTAR TABEL
Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3
Tabel 4
Tabel 5
Tabel 6
Tabel 7
Tabel 8
Tabel 9
Tabel 10
Tabel 11
Tabel 12
Tabel 13
Tabel 14
Tabel 15

Tabel 16

Tabel 17

Tabel 18
Tabel 19
Tabel 20
Tabel 21
Tabel 22

Karakteristik tahap-tahap kedermawanan sosial dalam tanggung
jawab sosial perusahaan
Definisi operasional taraf hidup
Definisi operasional modal sosial
Definisi operasional tingkat pendidikan
Pelaksanaan penelitian tahun 2013-2014
Uji statistik realibilitas
Jumlah dan persentase penduduk Desa Purwabakti, Kecamatan
Pamijahan berdasarkan pekerjaan
Jumlah dan persentase penduduk Desa Purwabakti, Kecamatan
Pamijahan berdasarkan tingkat pendidikan
Daftar kelompok binaan CSR PT Indonesia Power UBP
Kamojang Unit PLTP Gunung Salak Desa Purwabakti
Jumlah dan persentase responden penerima program menurut
perubahan taraf hidup
Paired samples statistics perubahan taraf hidup penerima
program
Paired samples correlations perubahan taraf hidup penerima
program
Paired samples test perubahan taraf hidup penerima program
Jumlah dan presentase responden bukan penerima program
menurut perubahan taraf hidup
Independent Samples Test taraf hidup penerima program dan
bukan penerima program sebelum adanya program CSR PT
Indonesia Power
Independent Samples Test taraf hidup penerima program dan
bukan penerima program setelah adanya program CSR PT
Indonesia Power
Group Statistic perubahan taraf hidup penerima program dan
bukan penerima program setelah adanya program CSR PT
Indonesia Power
Jumlah dan presentase responden penerima program menurut
perubahan modal sosial
Paired samples statistics perubahan modal sosial penerima
program
Paired samples correlations perubahan modal sosial penerima
program
Paired samples test perubahan modal sosial penerima program
Jumlah dan persentase responden bukan penerima program
menurut kondisi sosial

9
17
21
25
27
30
34
35
41
44
45
45
45
47

48

49

49
51
52
53
53
54

xiv

Tabel 23

Tabel 24

Tabel 25

Tabel 26

Tabel 27
Tabel 28
Tabel 29
Tabel 30

Tabel 31

Independent Samples Test modal sosial penerima program dan
bukan penerima program sebelum adanya program CSR PT
Indonesia Power
Independent Samples Test modal sosial penerima program dan
bukan penerima program sesudah adanya program CSR PT
Indonesia Power
Group Statistic perubahan modal sosial penerima program dan
bukan penerima program setelah adanya program CSR PT
Indonesia Power
Jumlah dan presentase rumah tangga responden penerima
program CSR berdasarkan kemampuan mencapai pendidikan
tertinggi
Jumlah dan presentase rumah tangga responden bukan penerima
program CSR berdasarkan kemampuan mencapai pendidikan
tertinggi
Independent Samples Test kemampuan mencapai pendidikan
tertinggi penerima program dan bukan penerima program
Group statistics kemampuan mencapai pendidikan tertinggi
penerima program dan bukan penerima program
Uji korelasi Rank Spearman perubahan taraf hidup dengan
tingkat pendidikan penerima program
Uji korelasi Rank Spearman perubahan modal sosial dengan
tingkat pendidikan penerima program

55

55

56

61
62
63
63

72
73

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Gambar 4
Gambar 5
Gambar 6

Gambar 7

Gambar 8

Gambar 9

Gambar 10
Gambar 11
Gambar 12
Gambar 13
Gambar 14
Gambar 15
Gambar 16
Gambar 17
Gambar 18
Gambar 19

Konsep the triple bottom line corporate social responsibility
(CSR)
Kerangka pemikiran
Kerangka penentuan responden dan kontrol
Daerah penolakan H1 dan H0 uji korelasi Rank Spearman
Sketsa lokasi penelitian Desa Purwabakti
Grafik presentase rumah tangga berdasarkan tingkatan taraf
hidup sebelum dan sesudah ada program kelompok CSR PT
Indonesia Power
Grafik presentase rumah tangga bukan penerima program
berdasarkan tingkatan taraf hidup sebelum dan sesudah ada
program kelompok CSR PT Indonesia Power
Grafik presentase rumah tangga penerima program berdasarkan
tingkatan modal sosial sebelum dan sesudah ada program
kelompok CSR PT Indonesia Power
Grafik presentase rumah tangga bukan penerima program
berdasarkan tingkatan modal sosial sebelum dan sesudah ada
program kelompok CSR PT Indonesia Power
Grafik presentase masyarakat Desa Purwabakti berdasarkan
tingkat pendidikan
Grafik jumlah responden penerima dan bukan penerima program
menurut kendala pada uang pangkal sekolah
Grafik jumlah responden penerima dan bukan penerima program
menurut kendala pada baju seragam sekolah
Grafik jumlah responden penerima dan bukan penerima program
menurut kendala pada buku tulis
Grafik jumlah responden penerima dan bukan penerima program
menurut kendala pada buku pelajaran
Grafik jumlah responden penerima dan bukan penerima program
menurut kendala pada alat tulis
Grafik jumlah responden penerima dan bukan penerima program
menurut kendala pada uang jajan/bekal
Grafik jumlah responden penerima dan bukan penerima program
menurut kendala pada jarak ke sekolah
Grafik presentase responden penerima program terhadap
persepsi hubungan pendidikan dan pekerjaan.
Grafik presentase responden bukan penerima program terhadap
persepsi hubungan pendidikan dan pekerjaan.

2
16
29
31
33

44

48

52

54
60
64
65
65
66
67
67
68
69
69

xvi

1

PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang, masalah penelitian, tujuan penelitian, dan
kegunaan penelitian. Latar belakang penelitian menguraikan hal-hal yang
melatarbelakangi penelitian ini yang kemudian diakhiri dengan General Research
Question (GRQ). Pada bab masalah penelitian diuraikan permasalahan penelitian
yang merupakan penjabaran dari General Research Question atau disebut Spesific
Research Question (SRQ). Pada bab tujuan dijelaskan tujuan dari penelitian yang
dilaksanakan. Sedangkan pada bab kegunaan dijelaskan kegunaan penelitian baik
bagi peneliti, akademisi, perusahaan, pemerintah, dan masyarakat

Latar Belakang
Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial
perusahaan merupakan isu yang terus mengalami pembaharuan dan terus menerus
dikampanyekan sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap masyakat dan
lingkungan sekitar. Berbagai pihak telah menjalankan program ini sebagai wujud
tanggung jawab mereka atau hanya sekedar menjalankan mandat pemerintah. Hal
ini didukung oleh pernyataan Bowen yang menjadi dasar bagi pengembangan
konsep tanggung jawab sosial atau social responsibility. Bowen (1985) dalam
Solihin (2009), berpendapat bahwa para pelaku bisnis memiliki kewajiban untuk
mengupayakan suatu kebijakan serta membuat keputusan atau melaksanakan
berbagai tindakan yang sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai masyarakat. Definisi
mengenai CSR menurut ISO 26000 adalah tanggung jawab sebuah organisasi
terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatannya
pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku
transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan
kesejahteraan masyarakat, mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan,
sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional,
serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh.
Regulasi perundang-undangan yang dapat dijadikan sebagai acuan
pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) di Indonesia antara lain: UU
No.40/2007 tentang Perseroan Terbatas dan Peraturan Menteri BUMN No. 5
Tahun 2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. Pasal 74 ayat 1 dalam UU
No. 40/2007 disebutkan bahwa Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha di
bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan
tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam pasal ini disebutkan adanya sanksi
yang berlaku sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi
perseroan yang tidak melaksanakan.
Menurut Elkington (1997) yang dikutip Wibisono (2007) mengemukakan
konsep ‘The Triple Bottom Line’. Konsep ini mengakui bahwa jika suatu
perusahaan ingin berkelanjutan (sustain) maka perusahaan perlu memperhatikan
3P. Artinya ada aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan bukan hanya laba
semata (profit) yang merupakan tujuan utama didirikannya perusahaan tersebut.

2

Dalam praktiknya, perusahaan juga harus memberikan kontribusi positif kepada
masyarakat (people) dan ikut serta dalam menjaga dan melestarikan lingkungan
sekitar (planet). Profit merupakan orientasi utama perusahaan. Profit dibutuhkan
untuk peningkatan kesejahteraan para karyawan, pemegang saham dan pihakpihak yang terkait. People merupakan masyarakat yang secara langsung maupun
tidak langsung mempengaruhi dan dipengaruhi perusahaan. Planet merupakan
lingkungan berupa sumberdaya alam baik yang ditempati atau dikelolah oleh
perusahaan.
Sosial
(People)

Ekonomi
(Profit)

3P

Lingkungan
(Planet)

Sumber: Wibisono (2007)
Gambar 1

Konsep the triple
responsibility (CSR)

bottom

line

corporate

social

Pelaksanaan CSR pada dasarnya merupakan bentuk tanggungjawab sosial
perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Perusahaan mencari laba
sebanyak-banyaknya tanpa mengesampingkan masyarakat dan lingkungan sekitar
karena pada dasarnya harus ada share profit dalam kegiatan usaha mereka. Dalam
pelaksanaannya, CSR dibagi atas tiga tahapan yang menunjukan keberhasilan
CSR. Charity merupakan tahap pertama. Pada tahap ini perusahaan terlihat hanya
menjalankan kewajiban semata. Selanjutnya philantrophy, pada tahap ini sudah
mulai ada kesadaran secara sukarela. Dan tahap terakhir adalah Good Corporate
Citizenship (GCC) yang merupakan pelaksanaan CSR secara menyeluruh.
Namun, dalam prakteknya masih memungkinkan perusahaan untuk melakukan
tipe kegiatan yang berbeda berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Pelaksanaan CSR bermula ketika diberlakukannya UU No.40/2007 yang
memaksa perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan dan atau berkaitan
dengan pemanfaatan SDA melaksanaan program CSR. Untuk itu, sama halnya
dengan perusahan lain, PT Indonesia Power UBP Kamojang Unit Gunung Salak
yang secara langsung memanfaatkan SDA berupa panas bumi melakukan kegiatan
CSR-nya. Didirikan pada 3 Oktober 1995 sebagai anak perusahaan PT
Pembangkitan Jawa Bali I (PT PJB I) merupakan anak perusahaan PT. PLN
(Persero) yang bergerak dalam usaha pembangkitan tenaga listrik didirikan pada 3
oktober 1995. Nama itu kemudian berubah menjadi PT. Indonesia Power pada
tangaal 3 Oktober 2000. Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan Indonesia
Power memang cukup beragam. Tetapi secara garis besar terbagi dalam tiga
bidang, yaitu pelayanan masyarakat seperti bantuan infrastruktur, kesehatan,
beasiswa dan tanggap darurat bencana; pembinaan hubungan seperti diskusi dan

3

komunikasi sosial serta pemberdayaan seperti pengembangan ekonomi mikro dan
lembaga keuangan mikro. Program-program ini dirangkai dengan nama IP-CARE
(Indonesia Power Community Assistance, Relation and Empowerment). Kegiatan
community development di PT. Indonesia Power didefinisikan sebagai “kegiatan
pengembangan masyarakat yang dilakukan perusahaan dan diarahkan untuk
memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya
yang lebih baik dari sebelumnya sehingga kehidupan masyarakat di sekitar
perusahaan diharapkan menjadilebih berdaya dan mandiri dengan kualitas dan
kesejahteraan yang lebih baik”. Landasan utama kebijakan tanggung jawab sosial
perusahaan sub bidang pengembangan komunitas adalah Pedoman Tata Kelola
Perusahaan PT. Indonesia Power yang menyatakan bahwa “Perusahaan melihat
bahwa hubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai salah satu
jaminan bagi keberlangsungan bisnis Perusahaan” yang pelaksanaannya diatur
melalui Surat Keputusan Direksi PT. Indonesia Power Nomor 08.K/010/IP/2004
tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Community Development di Lingkungan
PT. Indonesia Power.1
Kegiatan Community Development di Lingkungan PT. Indonesia Power
dibagi ke dalam beberapa kegiatan besar. Diantaranya: (1) Community Assistance:
Improving Quality of Life merupakan program dalam pemenuhan kebutuhan
masyarakat setempat sebagai wujud dukungan terhadap kegiatan pembangunan
yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah setempat yang dilakukan
melalui bantuan pembangunan, perbaikan sarana umum, biaya pendidikan formal
bagi siswa sekola dasar, menengah, dan perguruan tinggi dan berbagai bentuk
partisipasi perusahaan dalam berbagai kegiatan pendidikan, kesehatan, sosial dan
budaya. (2) Community Relation: Engage With Community adalah memfasilitasi
tumbuhnya pemahaman dan komitmen diantara para stakeholders untuk mencapai
tujuan yang saling menguntungkan; mendorong lahirnya sikap positif masyarakat
setempat terhadap perusahaan serta memperbaiki dan mendorong lahirnya
kebijakan publik yang kondusif terhadap keberlangsungan bisnis perusahaan.(3)
Community Empowerment: Promoting Sustainable Economics merupakan
pemberian akses yang lebih luas kepada masyarakat setempat untuk menunjang
kemandiriannya. Kemandirian ini tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomis
melainkan aspek lingkungan, sosial, dan kebudayaan. Seperti dalam pemberian
bantuan modal usaha, peningkatan keterampilan, bantuan romosi dan pemasaran,
serta riset dan pembangunan.
Berdasarkan pemaparan di atas maka program CSR yang dilaksanakan oleh
perusahaan lebih menitikberatkan pada aspek ekonomi dan sosial. Dengan adanya
program CSR diharapkan adanya perubahan kondisi ekonomi dan sosial tersebut
ke arah yang lebih baik bagi masyarakat yang menerima program CSR.
Masyarakat penerima program selanjutnya akan merasakan hasil, manfaat, atau
dampak dari program yang mereka dapatkan. Dalam evaluasi pembangunan,
menurut Budimanta (2008) dijelaskan bahwa lamanya program pembangunan
dapat dijadikan ukuran evaluasi. Hasil (output) digunakan untuk mengevaluasi
jangka pendek, manfaat (outcome) untuk jangka menengah, dan dampak (impact)
untuk jangka panjang. Artinya prograsm CSR khususnya pada aspek ekonomi dan

1

PT Indonesia Power http://www.indonesiapower.co.id di akses pada tanggal 30 Desember 2013

4

sosial akan dirasakan manfaatnya ketika program yang ada sudah berada pada
tujuan jangka menengah.
Manfaat program CSR pada aspek ekonomi dan sosial ini tentunya
diharapkan dapat mempengaruhi aspek lainnya yang berhubungan, salah satunya
adalah pendidikan. Basrowi dan Juariyah (2010) dalam penelitiannya mengenai
hubungan kondisi sosial ekonomi dengan tingkat pendidikan menyatakan bahwa
terdapat hubungan yang kuat antara keduanya. Semakin tinggi kondisi sosial dan
ekonomi suatu rumah tangga maka akan semakin tinggi tingkat pendidikannya.
Dalam penelitiannya, Basrowi dan Juariyah menggunakan beberapa indikator
kondisi sosial ekonomi antara lain: kepemilikan lahan pertanian, jenis bangunan
rumah, mata pencaharian, penghasilan, pengeluaran dan komposisi jumlah
anggota keluarga. Indikator yang ada kemudian dihubungkan dengan tingkat
pendidikan. Dijelaskan dalam penelitian bahwa pendidikan yang tinggi akan
mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Tarigan (2006) menyatakan bahwa
Pendidikan diyakini sangat berpengaruh terhadap kecakapan, tingkah laku dan
sikap seseorang, dan hal ini semestinya terkait dengan tingkat pandapatan
seseorang. Artinya secara rata-rata makin tinggi tingkat pendidikan seseorang
maka makin memungkinkan orang tersebut memperoleh pendapatan yang lebih
tinggi. Selain itu, pendidikan memang sangat diperlukan dan berguna bagi
anggota masyarakat. Pendidikan sebenarnya bukan hanya terkait dengan
kemampuan untuk memperoleh tingkat pendapatan yang lebih baik tetapi juga
berpengaruh terhadap sikap dan perilaku sehingga terkait dengan kehidupan
sehari-hari.
Kondisi ekonomi dan sosial masyarakat Kabupaten Bogor nampaknya
masih rendah jika mengingat fungsi Kabupaten Bogor sebagai daerah penunjang
ibukota. Hal ini ditandai dengan masih adanya masyarakat Kabupaten Bogor yang
buta huruf. Berdasarkan penelitian Heriadi (2006) angka melek huruf di
Kabupaten Bogor 91,35 persen untuk perempuan, sedangkan untuk laki-laki 96,67
persen. Artinya masih ada sekitar 8,65 persenperempuan dan 3,33 persen laki-laki
dari masyarakat di Kabupaten Bogor yang masih buta huruf. Kecamatan
Pamijahan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bogor yang terletak
dibawah kaki gunung salak. Berdasarkan penelitian Heriadi (2006), Kecamatan
Pamijahan merupakan salah satu kecamatan yang memiliki indikator keberhasilan
dalam pendidikan yang cukup baik karena berada di rataan kabupaten. Indikator
ini dilihat berdasarkan banyaknya sekolah, rasio murid dan guru, banyaknya guru,
angka partisipasi murid, dan rasio murid. Desa Purwabakti yang berada di
Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah yang
menjadi penerima manfaat program CSR yang dilaksanakan PT. Indonesia Power
regional Jawa Barat. Mengacu pada pemaparan diatas maka program-program
CSR yang dilaksanakan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kondisi
ekonomi dan sosial dari masyarakat penerima program CSR. Jika dikaitkan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Basrowi dan Juariyah (2010) maka kondisi
ekonomi dan sosial memiliki hubungan dengan tingkat pendidikan. Oleh karena
itu, pertanyaan yang akan dibahas dalam proposal penelitian ini adalah
sejauhmana manfaat program Corporate Social Responsibility (CSR)
terhadap tingkat pendidikan masyarakat desa sekitar perusahaan.

5

Rumusan Masalah
Menurut Untung (2008) CSR merupakan komitmen perusahaan atau dunia
bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan
dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan
pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi, dan sosial.
Program-program CSR yang dilaksanakan perusahaan pada dasarnya memiliki
manfaat dalam sosial dan ekonomi terhadap masyarakat sekitar perusahaan
sebagai penerima program sesuai dengan tujuan CSR perusahaan yakni “kegiatan
pengembangan masyarakat yang dilakukan perusahaan dan diarahkan untuk
memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya
yang lebih baik dari sebelumnya sehingga kehidupan masyarakat di sekitar
perusahaan diharapkan menjadi lebih berdaya dan mandiri dengan kualitas dan
kesejahteraan yang lebih baik”. Berdasarkan informasi yang didapatkan bahwa
program CSR yang telah dilaksanakan oleh PT Indonesia Power UBP Kamojang
memasuki usia empat tahun. Artinya program CSR yang dilaksanakan dapat
dievaluasi manfaatnya. Oleh karena itu, menjadi penting bagi peneliti untuk
menganalisis sejauhmana manfaat program CSR terhadap perubahan modal
sosial dan taraf hidup masyarakat desa sekitar perusahaan.
Manaso Malo (2001) dalam Basrowi dan Juariyah (2010) memberikan
batasan tentang kondisi sosial ekonomi yaitu, Merupakan suatu kedudukan yang
diatur secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam sosial
masyarakat. Pemberian posisi disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban
yang harus dimainkan oleh si pembawa status.Menurut Drijarkara (2001) dalam
Basrowi dan Juariyah (2010) Pendidikan adalah memanusiakan manusia.
Pelaksanaan pendidikan berlangsung dalam keluarga sebagai pendidikan informal,
di sekolah sebagai pendidikan formal, dan di masyarakat sebagai pendidikan
nonformal serta berlangsung seumur hidup. Tingkat pendidikan adalah tahap
pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik ,
tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran.
Tingkat pendidikan dapat dilihat sejauh mana seseorang melaksanakan pendidikan
formal. Pendidikan formal saat ini menjadi sangat penting akibat tuntutan
globalisasi sebagai salah satu modal untuk meningkatkan kualitas hidup
seseorang. Berdasarkan penelitian Basrowi dan Juariyah (2010) bahwa kondisi
ekonomi dan sosial masyarakat mempunyai hubungan dengan tingkat pendidikan.
Oleh karena itu, menjadi penting bagi peneliti untuk menganalisis
sejauhmana hubungan perubahan modal sosial dan taraf hidup masyarakat
terhadap tingkat pendidikan masyarakat desa sekitar perusahaan.

Tujuan Penelitian
Tujuan Penulisan Penelitian secara umum adalah untuk menganalisis
“Manfaat Program Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Tingkat
Pendidikan Masyarakat Desa Sekitar Perusahaan” dan secara khusus bertujuan
untuk:
1. Menganalisis manfaat program CSR terhadap perubahan taraf hidup dan
modal sosial masyarakat sekitar perusahaan.

6

2. Menganalisis pengaruh perubahan taraf hidup dan modal sosial
masyarakat terhadap tingkat pendidikan anak pada masyarakat desa sekitar
perusahaan.

Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi para pihak yang
berminat maupun yang terkait dengan masalah CSR, khususnya kepada:
1. Peneliti untuk menambah pengetahuan dan pengalaman mengenai CSR
dan mampu memaknai secara ilmiah fenomena yang terlihat. Sedangkan
untuk Civitas Akademika dapat memperoleh koleksi terbaru penelitian
yang akan memperkaya perkembagan pengetahuan mengenai CSR.
2. Perusahaan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dan data untuk
mengevaluasi penerapan program CSR yang telah dilaksanakan yang
berbasiskan pengembangan masyarakat. Selain itu perusahaan dapat
memiliki data dan informasi terbaru yang dapat digunakan untuk
meningkatkan efektifitas .
3. Masyarakat, dapat memperoleh pengetahuan serta gambaran mengenai
tingkat pendidikan masyarakat akibat manfaat program CSR yang telah
dilaksanakan.
4. Pemerintah, diharapkan dapat menentukan arah kebijakan dan peraturan
mengenai CSR yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

7

PENDEKATAN TEORITIS

Bab ini terdiri atas beberapa sub bab. Sub bab pertama membahas tinjauan
pustaka. Dalam sub bab tinjauan pustaka dijelaskan mengenai teori dan konsep
yang dipakai dalam penelitian. Pada sub bab selanjutnya adalah kerangka
pemikiran. Dilanjutkan dengan sub bab hipotesis, dan definisi operasional.

Tinjauan Pustaka

Sejarah dan Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)
CSR yang terus dikampanyekan dan diimplemantisikan oleh perusahaan
tidak begitu saja muncul dalam bentuk yang sekarang.CSR telah mengalami
evolusi dan metamorfosis dalam rentang waktu yang cukup lama. Berbagai
tahapan telah dilewati dalam perkembangannya. Isu-isu CSR kini telah
mengalami peralihan yang signifikan. Terbukti dengan ditempatkannya isu CSR
ke dalam isu central bagi para pelaku bisnis dan pihak-pihak terkait lainnya yang
mulai memfokuskan dalam isu ini. Dalam perkembangan CSR, sejauh ini tidak
ada jejak baku yang disepakati secara bulat tentang tahap perkembangan ini.
Wibisono (2007) menjelaskan pada masa industrialisasi banyak dari perusahaan
hanya menfokuskan pada keuntungan belaka. Pada masa itu penyediaan lapangan
kerja, pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui produknya, dan pembayaran
pajak kepada pemerintah sudah dianggap cukup sebagai bentuk sumbangan
kepada masyarakat. Seiring berjalannya waktu masyarakat menuntut perusahaan
tidak hanya menyediakan barang dan jasa yang diperlukan melainkan menuntut
tanggungjawab sosial perusahaan. Hal ini didasari karena adanya ketimpangan
ekonomi antara pelaku usaha dengan masyarakat sekitar. Selain itu, operasi
perusahaan yang menimbulkan dampak negatif seperti eksploitasi SDA dan
rusaknya lingkungan disekitar perusahaan melatarbelakangi munculnya konsep
CSR primitif: kedermawanan yang bersifat karitatif.
Tahun 1950-an gema CSR mulai semakin terasa. Persoalan kemiskinan
dan keterbelakangan mulai mendapatkan perhatian lebih luas. Bahkan beberapa
kalangan menyebutkan pada masa itu merupakan dimulainya era modern dari
CSR. Mereka menganggap bahwa buku yang bertajuk Social Responsiility of The
Businessman karya Howard R. Bowen yang ditulis pada tahun 1953 merupakan
literatur awal yang menjadi tonggak sejarah CSR modern. Dan akhirnya Bowen
dijuluki sebagai “Bapak CSR”. Pada dekade yang sama, gema CSR juga ditandai
dengan terbitnya buku legendaris “Silent Spring”. Di dalam buku ini pertama
kalinya wacana lingkungan di kemukakan dalam tataran global. Rachel Carson
sebagai penulis ingin mengingatkan kepada masyarakat dunia bahwa netapa
mematikannya pestisida bagi lingkungan dan kehidupan. (Wibisono 2007).
Tahun 1966 pemikiran tentang korporasi yang lebih manusiawi muncul
melalui karya Lester Thurow “The Future Capitalism” yang menjelaskan
kapitalisme yang menjadi mainstream saat itu tidak hanya berkutat pada masalah

8

ekonomi, namun juga memasukkan sosial dan lingkungan untuk mencapai
suistainable society. Di lanjutkan pada tahun 1970-an terbitlah “The Limit of
Growth”yang hingga saat ini terus mengalami pembaharuan karya para
cendekiawan yang tergabung dalam Club Of Rome.Sejalan dengan semakin
berkembangnya CSR, kegiatan kedermawanan perusahaan telah mencapai
Philantrhopy serta Community Development. Dalam hal ini terjadi perpindahan
penekanan dari fasilitasi dan dukungan pada sektor-sektor produktif ke sektor
sosial yang dilatarbelakangi oleh kesadaran perusahaan. Pada tahun 1980-an
mulai bergeser dari Philantrhopy ke Community Development. Pada masa ini
mulai muncul pola-pola pemberdayaan masyarakat. Dasawarsa 1990-an adalah
dasawarsa yang diwarnai dengan beragam pendekatan seperti stakeholder dan
Civil Society yang tentu saja mempengaruhi Community Development. KKT
Bumi yang diadakan Rio de Jenairo Brazil pada tahun 1992 menegaskan konsep
pembangunan berkelanjutan yang didasarkan pada perlindungan lingkungan
hidup, pembangunan ekonomi dan sosial. Terobosan terbari dalam CSR dikenal
dengan istilah Tripple Bottom Line yang dikenalkan oleh John Elkington. Inti dari
buku yang dibuatnya adalah bahwa jika perusahaan ingin sustain, maka ia perlu
memperhatikan 3P yaitu Profit, People, dan Planet. Selanjutnya Gaung CSR
mulai bergema diselenggarakan World Summit on Suistainable Development
(WSSD) pada tahun 2002 di Johannesburg Afrika Selatan.
Definisi mengenai CSR menurut ISO 26000 adalah tanggung jawab
sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan
kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam
bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan
berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat, mempertimbangkan harapan
pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma
perilaku internasional, serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh.
Selain itu, Untung (2008) menjelaskan bahwa CSR merupakan komitmen
perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi
yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan
dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek
ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Hal ni diperkuat oleh Elkington (1997) dalam bukunya yang berjudul
“cannibals with forks, the triple bottom line of twentieth century of business”,
dimana dalam buku tersebut Elkington mengemukakan konsep 3P (profit, planet,
dan people) yang menerangkan bahwa dalam menjalankan operasional
perusahaan, selain mengejar keuntungan/profit ekonomis sebuah korporasi harus
dapat memberikan kontribusi positif bagi people (masyarakat) dan berperan aktif
dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet) (Wibisono 2007).

Karakteristik Corporate Social Responsbility (CSR)
Pelaksanaan prograam CSR dibagi atas tiga tahapan yang menunjukan
keberhasilan CSR. Charity merupakan tahap pertama. Pada tahap ini perusahaan
terlihat hanya menjalankan kewajiban semata. Selanjutnya philantrophy, pada
tahap ini sudah mulai ada kesadaran secara sukarela. Dan tahap terakhir adalah
Good Corporate Citizenship (GCC) yang merupakan pelaksanaan CSR secara

9

menyeluruh. Untuk lebih jelasnya, perbandingan diantara ketiganya ditampilkan
dalam matriks dibawah ini:
Tabel 1 Karakteristik tahap-tahap kedermawanan sosial dalam tanggung jawab
sosial perusahaan
Good Corporate
Citizenship (GCC)
Pencerahan diri &
rekonsiliasi dengan
ketertiban social

Paradigma

Charity

Philanthropy

Motivasi

Agama, tradisi,
adaptasi

Norma, etika, dan
hukum universal

Misi

Mengatasi
masalah setempat

mencari dan
mengatasi akar
masalah

Memberikan
kontribusi kepada
masyarakat

Pengelolahan

Jangka pendek,
mengatasi
masalah sesaat

Terencana,
terorganisir,
terprogram

Terinternalisasi dalam
kebijakan perusahaan

Pengorganisasian

Kepanitiaan

Yayasan/dana
Keterlibatan baik dana
abadi/profesionalitas maupun sumberdaya
lain

Penerima
Manfaat

Orang miskin

Masyarakat luas

Kontribusi

Hibah sosial

Hibah pembangunan Hibah (sosial &
pembangunan serta
keterlibatan sosial)

Inspirasi

Kewajiban

Masyarakat luas dan
perusahaan

Kepentingan bersama

Sumber: Ambadar (2008)
Berdasarkan matriks diatas, Ambabar (2008) menjelaskan tahapan
keberhasilan sebuah perusahaan dalam menjalankan program CSR-nya. Tentu
saja keberhasilan terbesar jika perusahaan telah mencapai tahap Good Corporate
Citizenship (GCC). Namun, dalam prakteknya perusahaan dapat melakukan
kegiatan yang berbeda. Hal ini didasarkan pada kebutuhan masyarakat yang
berbeda.

Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR)
Elkington (1997) dalam bukunya yang berjudul “cannibals with forks, the
triple bottom line of twentieth century of business”, dimana dalam buku tersebut

10

Elkington mengemukakan konsep 3P (profit, planet, dan people) yang
menerangkan bahwa dalam menjalankan operasional perusahaan, selain mengejar
keuntungan /profit ekonomis sebuah korporasi harus dapat memberikan
kontribusi positif bagi people (masyarakat) dan berperan aktif dalam menjaga
kelestarian lingkungan (planet) (Wibisono 2007). Ketiga komponen yang
dijelaskan memiliki keterkaitan yang erat. Dalam aspek ekonomi, perusahaan
mencari profitatau keuntungan sebanyak-banyaknya sebagai organisasi untuk
kepentingan pada stakeholder yang terdapat didalamnya. Perusahaan terus
melakukan kegiatan ekonomi untuk keberlangsungan perusahaan. Ketika
perusahaan dalam kondisi yang mapan, sebuah program CSR akan berada pada
tahapan tertinggi tidak lagi sebatas charity. Manfaat program CSR tidak hanya
lagi dirasakan oleh sekelompok orang saja melainkan masyarakat luas. Dalam
aspek sosial, perusahaan tidak hanya lagi memikirkan internal perusahaan saja.
Disinilah perusahaan mulai memperhatikan masyarakat sekitar perusahaan
sebagai penerima dampak atas kegiatan atau keputusan yang telah dilakukan
perusahaan. Dalam hal ini ada keterkaitan dengan share profit. Perusahaan tidak
hanya memikirkan keuntungan untuk perusahaan itu sendiri melainkan
memikirkan untuk masyarakat sekitar sebagai penerima dampak. Dalam hal ini
sangat banyak program CSR yang dilaksanakan baik dalam bidang sosial,
ekonomi, dan lingkungan. Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar
perusahaan merupakan pilihan yang baik sebagai salah program CSR. Program ini
diharapkan menciptakan kesejahteraan masyarakat yang didalamnya terdapat
kemandirian dan keberlanjutan. Beralih ke aspek terakhir yakni planetatau
lingkungan yang mengindikasikan bahwa perusahaan harus memperhatikan
lingkungan sekitar dengan tidak merusaknya. Selain itu harus ada keberlanjutan
dari lingkungan tempat dimana perusahaan melakukan eksploitasi sebagai bentuk
pemanfaatan SDA.

Konsep Modal Sosial
Colleta dan Cullen (2000) dalam Nasdian (2014), modal sosial
didefinisikan sebagai “suatu sistem yang mengacu kepada atau hasil dari
organisasi sosial dan ekonomi, seperti pandangan umum (world-view),
kepercayaan (trust), pertukaran timbal balik (reciprocity), pertukaran ekonomi
dan informasi (informational and economic exchange), kelompok-kelompok
formal dan informal (formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi yang
melengkapi modal-modal lainnya (fisik, manusiawi, budaya) sehingga
memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan.
Menurut Djohan (2007) dalam Rosyida (2010), modal sosial yang ideal
adalah modal sosial yang tumbuh di masyarakat. Modal sosial yang dimiliki
seyogianya memiliki muatan nilai-nilai yang merupakan kombinasi antara nilainilai universal yang berbasis humanisme dan nilai-nilai pencapaian (achievement
values) dengan nilai-nilai lokal. Modal sosial yang berbasis pada ideologi
pancasila merupakan bentuk modal sosial yang perlu dikembangkan bersamasama guna membangun masyarakat Indonesia yang partisipatif, kokoh, terus
bergerak, kreatif, kompak, dan yang menghormati manusia lain. Modal sosial

11

memiliki unsur-unsur penopang, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Social
participation. Social participation berarti partisipasi sosial anggota masyarakat.
Pada masyarakat tradisional, hal ini melekat dalam perayaan kelahiran,
perkawinan, kematian, (2) Reciprocity atau timbal balik, yaitu saling membantu
dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan orang laindan
kepentingan diri sendiri. Dengan demikian hubungan yang terjadi menyangkut
hak dan tanggung jawab, (3) Trust atau kepercayaan, (4) Acceptance and diversity
atau penerimaan atas keberagaman, yaitu adanya toleransi yang memperhatikan
sikap dan tindak-tanduk serta perilaku yang saling hormat-menghormati, saling
pengertian, dan apresiasi di antara lingkungan, (5) Norma dan nilai, Norma dan
nilai merupakan value sistem yang akan berkembang menjadi suatu budaya, (6)
Sense of efficacy atau perasaan berharga, yaitu timbulnya rasa percaya diri dengan
memberikan penghargaan kepada setiap orang, dan (7) Cooperation and
proactivity atau kerjasama dan proaktif. Dalam kaitannya dengan modal sosial,
kerjasama harus terus bergerak serta dituntut kreatif dan aktif.
Global Social Capital Survey merupakan model yang dikembangkan oleh
Deepa Narayan dan Cassidy, dengan menggunakan 7 (tujuh) indikator untuk
mengukur ketersediaan modal sosial. Ketujuh indikator tersebut adalah: (a)
karakteristik kelompok (meliputi jumlah keanggotaan; kontribusi dana; frekuensi
partisipasi; partisipasi dalam pembuatan keputusan; heterogenitas keanggotaan;
sumber pendanaan bagi organisasi); (b) norma-norma umum (meliputi kesediaan
menolong orang lain; kepedulian pada orang lain; keterbukaan pada orang lain);
(c) kebersamaan (meliputi seberapa jauh orang-orang dapat hidup bersama;
tingkat kebersamaan di antara orang-orang); (d) sosialitas keseharian; (e)
hubungan ketetanggaan (meliputi kesediaan meminta tolong pada tetangga untuk
merawat anak yang sakit; atau membantu diri sendiri yang sedang sakit); (f)
voluntarisme (meliputi apakah pernah bekerja sebagai relawan; ekspektasi dari
kegiataan sukarela; kritik terhadap mereka yang menolak bekerja sukarela;
kontribusi pada lingkungan ketetanggaan; apakah pernah menolong orang lain);
serta (g) kepercayaan (meliputi kepercayaan pada keluarga; pada tetangga; pada
orang dari kelas yang berbeda; pada pemilik usaha; pada aparat pemerintah; pada
penegak hukum, seperti jaksa, hakim, dan polisi; pada aparat pemerintah daerah).
2

Evaluasi Program
Evaluasi program merupakan hal yang penting dalam penyelenggaraan
program pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat karena kaitannya dengan
program yang akan dilaksanakan selanjutnya. Menurut Musa (2005) evaluasi
program adalah suatu kegiatan untuk memperoleh gambaran tentang keadaan
suatu obyek yang dilakukan secara terencana, sistematik, dengan arah dan tujuan
yang jelas. Kegiatan tersebut secara umum dapat diartikan sebagai upaya seksama
untuk mengumpulkan, menyusun, mengolah, dan menganalisa fakta, data dan
informasi untuk menyimpulkan harga, nilai, kegunaan, dan kinerja mengenai
Deepa Narayan dan Michael F. Cassidy. 2001. “A Dimensional Approach to Measuring
Social Capital: Development and Validation of a Social Capital Inventory”. Dalam Current
Sociology, Vol 49 (2), Maret, hal. 61-65
2

12

suatu (barang, organisasi, dan lain-lain) yang kemudian dibuat kesimpulan
sebagai proses dari pengambilan keputusan.
Menurut Budimanta (2008) Program adalah serangkaian proses yang
diarahkan untuk pencapaian suatu tujuan khusus atau hasil. Sumberdaya yang
diubah disebut input (masukan), sedangkan hasil dibagi menjadi tiga yaitu output
(hasil), outcome (manfaat), dan impact (dampak). Masukan adalah segala jenis
barang, jasa, dana, tenaga manusia, teknologi dan sumberdaya lainnya yang selalu
tersedia untuk terlaksananya suatu kegiatan dalam rangka menghasilkan output
(hasil) dan mencapai tujuan program. Selanjutnya Budimanta (2008) juga
menjelaskan bahwa tujuan merupakan hasil yang diharapkan akan dicapai oleh
suatu proyek atau program pembangunan. Tujuan dapat disusun secara bertingkat
menjadi dua tahapan atau lebih yaitu sebagai berikut:
1. Output
: hasil atau tujuan jangka pendek
2. Outcome
: manfaat atau tujuan jangka menengah
3. Impact
: dampak atau tujuan jangka panjang
Jenis-jenis evaluasi program dapat dikategorikan berdasarkan waktu
pelaksanaannya (Musa 2005):
1. Evaluasi Awal (Ex-ante Evaluation)
Evaluasi awal adalah evaluasi yang dilakukan sebelum suatu
program dilaksanakan. Evaluasi ini dilakukan dengan maksud untuk
mengetahui apakah program memang layak dilaksanakan secara
ekonomis, teknis, finansial, sosial, maupun politis. Evaluasi ini dikenal
juga sebagai studi kelayakan.
2. Evaluasi Proses (On-going Evaluation)
Evaluasi proses atau monitoring dilakukan pada setiap tahapan
dalam perencanaan dan pelaksanaan program. Evaluasi proses adalah
evaluasi yang dilakukan ketika program sedang berjalan untuk mengetahui
apakah tahapan program berlangsung sebagaimana mestinya, sesuai yang
dirumuskan pada perencanaan program.
3. Evaluasi Akhir (Ex-post Evaluation)
Evaluasi akhir adalah evaluasi yang dilakukan pada saat program
selesai dilaksanakan untuk melihat hasil dan kesesuaian dengan tujuan.

Konsep Taraf Hidup
Taraf hidup dilihat dari Data BPS tahun 2005 dalam Rahman (2009) yaitu
luas lantai bangunaan tempat tinggal, jenis lantai bangunan tempat tinggal, jenis
dinding bangunan tempat tinggal, fasilitas tempat buang air besar, sumber
penerangan rumah tangga, sumber air minum, bahan bakar untuk memasak,
konsumsi daging/ayam/susu/perminggu, pembeliaan pakaian baru setiap anggota
rumah tangga setiap tahun, frekuensi makan dalam sehari, kemampuan membayar
untuk berobat ke puskesmas atau dokter, lapangan pekerjaan kepala rumah
tangga, pendidikan tertinggi kepala rumah tangga dan kepemilikan asset/harta
bergerak maupun tidak bergerak. Taraf hidup adalah tingkat kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya
Taraf hidup dalam hal ini dikaitkan dengan suatu keadaan perekonomian
masyarakat. Taraf hidup menjadi penting untuk diperhatikan, sebagaimana yang

13

telah diungkapkan oleh berbagai definisi CSR bahwa salah satu tujuan
diadakannya program adalah adanya peningkatan taraf hidup. Beberapa indikator
taraf hidup hanya melihat taraf hidup masyarakat sesuai dengan keadaan sekitar.

Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyumbangkan kemampuan
usaha manusia dalam rangka memajukan aktivitas. Pendidikan sebagai suatu
aspek yang menyumbangkan sumber daya manusia yang dimaksudkan untuk
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang dalam berbagai kegiatan,
juga diharapkan mampu membuka cara berpikir ekonomis dalam arti mampu
mengembangkan potensi yang ada untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin.
Menurut Drijarkara (2001) pendidikan adalah memanusiakan manusia.
Pelaksanaan pendidikan berlangsung dalam keluarga sebagai pendidikan informal,
di sekolah sebagai pendidikan formal, dan di masyarakat sebagai pendidikan
nonformal serta berlangsung seumur hidup. Menurut Ihsan (2003) adalah, “Dalam
pengertian sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk
menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik
jasmanimaupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam lingkungan
masyarakat dan kebudayaan”. Basrowi dan Juariyah (2010). Sedangkan dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa pendidikan merupakan proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalamusaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses perbuatan
cara mendidik.
Hal ini juga didukung oleh Tarigan (2006) yang menyatakan bahwa
Pendidikan diyakini sangat berpengaruh terhadap kecakapan, tingkah laku dan
sikap seseorang, dan hal ini semestinya terkait dengan tingkat pandapatan
seseorang. Artinya secara rata-rata makin tinggi tingkat pendidikan seseorang
maka makin memungkinkan orang tersebut memperoleh pendapatan yang lebih
tinggi. Selain itu, pendidikan memang sangat diperlukan dan berguna bagi
anggota masyarakat. Pendidikan sebenarnya bukan hanya terkait dengan
kemampuan untuk memperoleh tingkat pendapatan yang lebih baik tapi juga
berpengaruh terhadap sikap dan perilaku sehingga terkait dengan kehidupan
sehari-hari.
Menurut Djumramsjah (2004) dalam Tarigan (2006) tujuan pendidikan itu
menciptakan integritas atau kesempurnaan pribadi. Integritas itu menyangkut
jasmaniah, intelektual, emosional, dan etis. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 menyatakan bahwa
“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Setelah kita dapatkan definisi
dan konsep pendidikan, sangat jelas bahwa pendidikan tidak hanya sebagai
kegiatan formal dan informal belaka. Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari
pendidikan. Tidak hanya untuk pribadi melainkan untuk masyarakat secara luas.
Menurut UU Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tingkat pendidikan
atau sering disebut dengan jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang

14

ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan
dicapai dan kemampuan yang dikembangkan. Jenjang pendidikan formal terdiri
dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
1. Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun,
diselenggarakan selama enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah
lanjutan tingkat pertama atau satuan pendidikan yang sederajat.Pendidikan dasar
merupakan jenjang pendidikan

Dokumen yang terkait

Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

1 58 93

Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility, Nilai Perusahaan, Dan Kualitas Audit, Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bei

4 98 116

Pengaruh Kinerja Keuangan, Good Corporate Governance, dan pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

12 179 88

Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR)Internal dan Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Pada PT Darmasindo Intikaret Tebing Tinggi Sumatera Utara

18 141 162

Pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kebijakan Struktur Modal Sebagai Variabel Pemoderasi Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

0 38 84

Corporate Social Responsibility Yang Dilakukan PT. Pertamina Ep Field Pangkalan Susu Terhadap Masyarakat Sekitar

1 47 121

Pengaruh Implementasi Program Corporate Social Responsibility Beasiswa dan Citra Perusahaan(Studi Kasus Pengaruh Implementasi Program Corporate Social Responsibility Beasiswa Djarum Terhadap Peningkatan Citra Positif Perusahaan PT Djarum pada Mahasiswa US

4 66 121

Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governace dan profitabilitas Terhadap Harga Saham Dengan corporate Social Responsibility Sebagai Variabel Moderating Pada Perusahaan Sektor Industri Barang Industri yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

1 46 93

Pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Struktur Modal Sebagai Variabel Pemoderasi pada Perusahaan Properti yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

1 42 103

Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Struktur Kepemilikan Sebagai Variable Moderating: Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

0 56 121