Kajian Awal Tentang Komunitas Tamil Dan Punjabi Di Medan: Adaptasi Dan Jaringan Sosial

Zulkifli B. Lubis

Kajian Awal tentang Komunitas Tamil dan Punjabi di Medan …

KAJIAN AWAL TENTANG KOMUNITAS TAMIL
DAN PUNJABI DI MEDAN:
Adaptasi dan Jaringan Sosial
Zulkifli B. Lubis
University of North Sumatra,Medan, Indonesia
Abstract Since the end of 19th century the city of Medan has emerged as a trade center visited and inhabited by people from surrounding areas and other countries. This paper attempts to analyze the pattern or mechanism of adaptation of some immigrants communities in Medan and how these people developed their social networks in a plural society. The main focus of this study is the Tamil and Punjabi communities in Medan who form a big part of Indian immigrant in Medan. The migration of people from the Indian subcontinent to Sumatra took place in several waves since centuries ago, but this paper only focuses on their existence in Medan since the end of 19th century when Indian labour was brought in en masse to work in the plantation industry. The early findings of this study indicate that both communities show different ways of adapting because of both internal and external factors. Differences were also found in the way they developed social networks with local communities as well as with their own ethnic groups in India or in neighbouring countries in South East Asia. The Tamil immigrants tended to be absorbed or assimilated into the local culture, with the result that their social networks with their compatriots were weakened. In contrast, the Punjabi people tried to maintain their original culture and intensified their relationships with Punjabi communities elsewhere.
Keywords: Tamil, Punjabi, adaptasi, jaringan sosial, karakteristik sosial budaya

Pendahuluan Sejarah peradaban manusia selalu dipenuhi
oleh peristiwa perpindahan massif dari satu tempat ke tempat lain, baik yang berlangsung secara alamiah maupun karena terpaksa. Dengan perpindahan manusia yang massif tersebut terjadilah proses difusi kebudayaan, akulturasi, dan asimilasi. Kisah-kisah kehadiran satu kaum di tengah-tengah kaum yang lain sebagai akibat dari gerak migrasi penduduk sudah lama menjadi perhatian dan bahan kajian kalangan ilmuwan sosial. Berkembangnya kota-kota besar dunia yang juga disesaki oleh migran dari pedesaan maupun dari luar negeri bahkan telah lama menjadi arena para ilmuwan, khususnya antropolog, untuk mempelajari proses-proses adaptasi kaum migran terhadap kehidupan di perkotaan, gejala etnisitas dan kelas-kelas sosial di kota, urbanisme, dan juga masalah-masalah kaum miskin di perkotaan (lihat George Gmelch & Walter P. Zerner 1980).
Kota Medan di Sumatera Utara, Indonesia, adalah sebuah kota yang tumbuh pesat sejak pertengahan abad ke-19 sebagai sebuah kota berpenduduk majemuk, baik dari kalangan penduduk pribumi maupun imigran dari kawasan Asia seperti Cina, India, Arab, dan

imigran dari kawasan Asia Tenggara.67 Gerak perpindahan kaum migran ke kota Medan tidak lepas dari tarikan magnet pertumbuhan kota ini sebagai sentra kemajuan ekonomi sehingga dijadikan sebagai tempat tujuan baru yang menjanjikan harapan untuk perbaikan hidup. Sudah luas diketahui bahwa kota Medan dan Tanah Deli (Sumatera Timur) pada umumnya yang pernah dijuluki sebagai “Het Dollar Land” berkembang sangat cepat sejak pertengahan abad ke-19 seiring dengan perkembangan industri perkebunan (mulanya perkebunan tembakau) yang dirintis oleh Jacobus Nienhys sejak 1863. Buruh-buruh dari Cina, India, dan Pulau Jawa ketika itu didatangkan dalam jumlah besar oleh pengusaha-pengusaha perkebunan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Selain mereka yang didatangkan sebagai kuli, migran lain pun terus berdatangan ke kota ini untuk tujuan berdagang dan mengisi berbagai lowongan pekerjaan yang tersedia.
67 Lalu lintas perpindahan manusia itu juga berlangsung dari arah sebaliknya meskipun dalam jumlah yang relatif kecil, misalnya terlihat dari arus migrasi orang Minangkabau dan Mandailing dari Sumatera ke Semenanjung Malaysia pada pertengahan abad ke-19, maupun migrasi orang-orang dari Pulau Jawa dan sekitarnya di abad ke-20.

136


Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI • Vol. 1 • No.3 • Desember 2005

Fenomena kota Medan sebagai sebuah kota berpenduduk majemuk yang dihuni oleh migran lokal dan regional pernah menjadi bahan kajian antropolog Edward Bruner, yang antara lain memfokuskan kajiannya pada proses-proses adaptasi migran Batak Toba (lihat Bruner 1961).68 Demikian juga antropolog Usman Pelly (1994) pernah melakukan kajian tentang proses urbanisasi dan adaptasi migran Minangkabau dan Mandailing di kota Medan, yang menurut beliau sangat ditentukan oleh misi budaya yang dimiliki oleh masing-masing kelompok etnik. Sementara itu, kajian-kajian tentang migran asing seperti orang Cina, India, dan Arab yang juga telah sejak lama hidup di kota Medan sejauh ini belum banyak mendapat perhatian dari para ilmuwan. Khusus tentang orang India, memang sudah ada tulisan dari A. Mani (1980) yang berusaha memotret gambaran kaum migran India di Sumatera Utara, sebagai bagian dari tulisan yang dimuat dalam Indian Communities in Southeast Asia (K.S.Shandu & A. Mani 1980).
Tulisan ini merupakan catatan awal dari sebuah kajian yang sedang saya lakukan tentang keturunan migran asal India di kota Medan. Sebagai sebuah catatan awal, tulisan ini sama sekali belum mampu memberikan gambaran yang komprehensif dan mendalam tentang kehidupan warga keturunan migran asal India yang ada di Medan. Ketertarikan saya pada masalah migran asal India ini bermula dari pengamatan tentang fenomena adaptasi dengan penduduk pribumi yang relatif kontras antara migran India maupun Arab dengan migran asal Cina. Dalam pandangan kalangan awam, warga keturunan Cina di Medan cenderung eksklusif dan relatif kurang bergaul dengan penduduk pribumi, sementara orang Arab misalnya hampir melebur menjadi bagian yang nyaris sama dengan komunitas tempatan. Sementara itu, terhadap warga keturunan India pandangan dan streotip negatif tidak sekuat terhadap orang Cina, dan dalam pandangan kaum awam mereka
68 Dalam salah satu tulisannya Edward Bruner menguraikan bahwa kota Medan tidak memiliki satu kebudayaan yang dominan sebagai rujukan adaptasi bagi kelompok-kelompok etnik yang ada di sana; berbeda dengan kota Bandung misalnya di mana kebudayaan Sunda menjadi kebudayaan yang dominan. Ketiadaan kebudayaan yang dominan di kota Medan menjadikan berbagai kelompok etnik yang ada dapat mengekspresikan kebudayaannya secara lebih bebas.

lebih mampu beradaptasi dengan penduduk pribumi. Menarik juga untuk dicatat bahwa, orang-orang Cina yang pada awalnya datang ke Medan sebagai kuli perkebunan kemudian telah berkembang menjadi satu kelompok yang menguasai ekonomi, sementara migran keturunan India yang juga datang dalam kurun waktu yang sama dan untuk sebagian dengan status yang sama, tampaknya tidak memperlihatkan kemajuan penguasaan ekonomi semaju orang Cina.
Uraian dalam tulisan ini tidak bermaksud memberikan jawaban terhadap perbedaan perkembangan yang dialami oleh migran keturunan Cina dan India di kota Medan, mengenai ini biarlah menjadi suatu agenda kajian yang saya harapkan bisa dilakukan di masa depan. Lebih khusus, pada tahap kajian yang saya lakukan sampai sekarang, tulisan ini lebih dimaksudkan sebagai uraian yang memotret secara garis besar keberadaan komunitas India, khususnya orang Tamil dan Punjabi di kota Medan. Bahan-bahan yang disajikan dalam tulisan ini juga masih didominasi oleh sumber-sumber sekunder, yang dirujuk dari berbagai tulisan yang ada. Dengan kata lain, tulisan pendek ini merupakan bagian kecil yang belum tertata baik dari sebuah ambisi yang lebih besar untuk menulis etnografi orang India di Medan. Perbandingan yang coba dilakukan dalam tulisan ini tentang komunitas Tamil dan Punjabi juga didasarkan pada pengamatan bahwa kedua kelompok etnik asal India ini memperlihatkan corak adaptasi yang relatif berbeda ketika mereka berinteraksi dengan komunitas-komunitas tempatan di kota Medan.
Kedatangan Orang India di Medan Bahwa pengaruh kebudayaan India sangat
kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia sudah menjadi pengetahuan awam, dan proses penyerapan unsur-unsur budaya India oleh berbagai komunitas yang ada di negeri ini juga masih berlangsung hingga hari ini. Temuantemuan arekologis di Sumatera maupun di Jawa mulai dari abad ke-7 M hingga abad ke-14 memperlihatkan kesinambungan kehadiran peradaban India di Kepulauan Nusantara (lihat Y.Subbarayalu 2002a). Untuk konteks Sumatera Utara misalnya, kehadiran orang-orang India sudah terekam dalam sebuah prasasti bertarikh 1010 Saka atau 1088 M tentang perkumpulan

137

Zulkifli B. Lubis

Kajian Awal tentang Komunitas Tamil dan Punjabi di Medan …

pedagang Tamil di Barus yang ditemukan pada 1873 di situs Lobu Tua (Barus), sebuah kota purba di pinggir pantai Samudera Hindia. Prof. K.A. Nilakanta Sastri (1932) seperti dikutip dari tulisan Y. Subbarayalu (2002) menulis tentang prasasti itu sebagai berikut:
“Fragmen prasasti dari Loboe Toewa berharga untuk dijadikan sebagai bukti yang jelas bahwa aktivitas perdagangan mereka (yaitu perkumpulan pedagang Tamil) telah menyebar ke Sumatera. Mungkin tidak tepat menyimpulkan berdasarkan prasasti itu bahwa bahasa Tamil telah digunakan dalam dokumendokumen umum di Pulau Sumatera pada abad ke-11 Masehi, namun jelas bahwa sekumpulan orang Tamil telah tinggal di Sumatera secara permanen atau semi permanen, dan termasuk di antaranya tukang-tukang yang mahir mengukir prasasti di atas batu.”
Keberadaan kaum pedagang Tamil pada abad ke-11 di pantai barat Sumatera, kemudian dikaitkan oleh sejumlah penulis dengan migrasi yang mereka lakukan ke arah pedalaman Sumatera karena terdesak oleh kekuatan armada pedagang-pedagang dari Arab/Mesir (Brahma Putro 1979). Brahma Putro, seorang warga suku Karo yang menulis buku “Karo dari Jaman ke Jaman”(1979) menyebutkan bahwa orang-orang Tamil yang terdesak dari Barus kemudian terasimilasi dengan suku Karo yang tinggal di Dataran Tinggi Tanah Karo (pedalaman Sumatera), dan mereka inilah di kemudian hari yang menjadi keturunan marga (klen) Sembiring (Maha, Meliala, Brahmana, Depari), Sinulingga, Pandia, Colia, Capah, dsb. Secara fisik warga Karo dari kelompok klen tersebut memiliki persamaan dengan orang-orang Tamil69.

Tetapi kedatangan orang-orang India dalam jumlah besar dan hingga sekarang menetap dan membentuk suatu komunitas di berbagai bagian wilayah Sumatera timur dan khususnya Medan baru terjadi sejak pertengahan abad ke-19, yaitu sejak dibukanya industri perkebunan di Tanah Deli. Menurut catatan T. Lukman Sinar (2001) di tahun 1874 sudah dibuka 22 perkebunan dengan memakai kuli bangsa Cina 4.476 orang,
69 Cerita-cerita mitologis, folklore lisan, kpercayaan pribumi dan nama-nama yang digunakan orang karo banyak yang bersumber dari khasanah kebudayaan India, khususnya dari India Selatan. Kesamaan ras/warna kulit seperti Orang Tamil juga dengan mudah dijumpai pada sebagian orang Aceh, orang Mandailing, selain pada orang Karo.

kuli Tamil 459 orang, dan orang Jawa 316 orang. Perkembangan jumlah kuli semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya, yang terbanyak adalah kuli Cina (53.806 orang pada 1890 dan 58.516 orang pada 1900) dan kuli Jawa (14.847 orang pada 1890 dan 25.224 orang pada 1900); sementara kuli Tamil bertambah menjadi 2.460 orang pada 1890 dan 3.270 orang pada 1900.
Selain mereka yang didatangkan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan sebagai kuli, migran orang Cina, India, dan juga Arab mulai berdatangan ke Sumatera Timur untuk berdagang dan menjadi pekerja di bidang-bidang lain. Migran dari India yang datang untuk berdagang antara lain adalah orang-orang dari India Selatan (Tamil Muslim) dan juga orang Bombay serta Punjabi. A. Mani (1980:58) menyebutkan bahwa di luar pekerja kontrak di perkebunan, orang-orang India yang lain juga banyak datang ke Medan untuk berpartisipasi memajukan berbagai sektor usaha yang sedang tumbuh di kota ini; seperti kaum Chettiars atau Chettis (yang berprofesi sebagai pembunga uang, pedagang, dan pengusaha kecil); kaum Vellalars dan Mudaliars (kasta petani yang juga terlibat dalam usaha dagang); kaum Sikh dan orang-orang Uttar Pradesh. Selain itu juga terdapat orang-orang Sindi, Telegu, Bamen, Gujarati, Maratti (Maharasthra), dll. Tetapi orang-orang Indonesia pada umumnya tak mengenali perbedaan mereka dan secara sederhana menyebutnya sebagai orang Keling dan orang Benggali saja.
Di masa kolonial, buruh-buruh Tamil yang bekerja di perkebunan biasanya dipekerjakan sebagai tukang angkat air, membetulkan parit dan jalan (Lukman Sinar 2001; Mahyuddin et.al; tt); sementara orang-orang Punjabi yang beragama Sikh biasanya bekerja sebagai penjaga keamanan, pengawal di istana dan kantorkantor, penjaga toko, dan lain-lain. Orang Sikh yang bekerja di perkebunan juga bertugas sebagai penjaga malam dan pengantar surat; juga memelihara ternak sapi untuk memproduksi susu (Mani 1980:58).
Pada masa sekarang tidak diperoleh angka yang pasti mengenai jumlah warga keturunan India di kota Medan, karena sensus penduduk setelah tahun 1930 tidak lagi menggunakan kategori etnik. Menurut A. Mani (1980) pada tahun 1930 terdapat sekitar 5000 orang Sikh di Sumatera Utara. Sementara itu A. Mani (1980)

138

Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI • Vol. 1 • No.3 • Desember 2005

memperkirakan bahwa jumlah orang Tamil di Sumatera Utara adalah sekitar 18.000 jiwa, namun ada juga yang menyebut sekitar 30.000 jiwa pada tahun 1986 (Napitupulu 1992).
Karakteristik Sosial Budaya Komunitas Tamil
Pemukiman Pada masa kolonial, orang-orang Tamil
bermukim di sekitar lokasi-lokasi perkebunan yang ada di sekitar kota Medan dan Sumatera Timur. Setelah masa kemerdekaan, mereka pada umumnya berdiam di sekitar kota, yang terbanyak di kota Medan, juga di Binjai, Lubuk Pakam, dan Tebing Tinggi. Pemukiman mereka yang tertua di kota Medan terdapat di suatu tempat yang dulu dikenal dengan nama Kampung Madras, yaitu di kawasan bisnis Jl.

Zainul Arifin (dulu bernama Jalan Calcutta). Kawasan ini lazim juga dikenal dengan sebutan Kampung Keling. Lokasi perkampungan mereka terletak di pinggiran Sungai Babura, sebuah sungai yang membelah kota Medan dan menjadi jalur utama transportasi di masa lampau. Di kawasan ini hingga sekarang masih mudah ditemukan situs-situs yang menandakan keberadaan orang Tamil, misalnya tempat ibadah umat Hindu Shri Mariamman Kuil (sebagai kuil terbesar) yang dibangun tahun 1884 dan sejumlah kuil lainnya; juga pemukiman dan mesjid yang dibangun oleh orang Tamil Muslim sejak tahun 1887.
Pada masa sekarang ini permukiman orang Tamil sudah menyebar di sejumlah tempat di seluruh Medan dan sekitarnya, seperti diuraikan dalam tabel berikut.


Table 1: Konsentrasi Pemukiman Orang Tamil di Medan dan sekitarnya

No NAMA LOKASI 1 Jl. Teratai, Jl.Dr. Cipto 2 Kesawan
3 “Pondok Seng” (Jl. T. Cik di Tiro)

MAYORITAS AGAMA
Hindu, Budha Hindu, Islam
Sudah digusur kira-kira 10 thn lalu, dulunya Kristen, Budha, Hindu

RUMAH IBADAH
Kuil Shri Mariamman Dulu ada kuil, tapi sudah dipindahkan ke Kuil Kaliaman sekarang (Jl Taruma/Kediri) Kuil Muniandi Di Jl. Muara Takus “dianggap dewa yang berlaku jahat”

4 Kebun Bunga

Hindu, Islam

Kuil Subramaniam (digunakan oleh

kaum Chetty yg tinggal di Jl. Mesjid);


juga ada masjid orang Tamil

5 Kampung Keling/Desa Hindu

Kuil Shri Mariamman; kuil Sikh

Madras Hulu

6 Kampung Kubur

Hindu, Islam, Budha, Mesjid orang Tamil

Kristen

(South Indian Moslem)

7 Jl. Taruma/Kediri

Hindu


Kuil Kaliamman

8 Komplek Jl. Kang-kung / Orang Telenggu, agama Kuil Mariamman

Jl. Darat/ Jl. Abdullah Hindu, Budha, Islam,

Lubis

Katolik

9 Kampung Anggrung/Jl. Budha

Ada vihara, ada kuil, ada gereja Tamil

Polonia/Gang A,B,C,D,E/

Indonesia

Jl. Mongonsidi/Jl. Karya


Kasih

10 Pantai Burung, Kampung Hindu, Budha, Kristen, Ada kuil Shri Mariamman

Aur, Sukaraja, Kebun Islam

Sayur/dekat Kowilhan; Jl.

Mangkubumi

11 Jl. Pasundan, Jl. PWS, Hindu, Budha

Ada kuil Guru Bakti, ada kuil Shri

Sikambing, Jl. Sekip, Jl.

Mariamman

Karya Sei Agul, Jl. Sei


Sikambing

139

Zulkifli B. Lubis

Kajian Awal tentang Komunitas Tamil dan Punjabi di Medan …

No NAMA LOKASI

MAYORITAS AGAMA

RUMAH IBADAH

12 Kampung Durian/Medan Hindu

Ada kuil Shri Mariamman

Timur


13 Jl. S. Parman/ G.Pasir, G. Budha, Hindu, Kristen Kuil Shri Mariamman, ada vihara

Sauh/ Jl. Hayam Wuruk,

Budha, ada mesjid, ada gereja

Pabrik Es (Jl. S.Parman/

dekat St. Thomas)

14 Jl. Malaka, Jl. Gaharu, Jl. Hindu

Serdang

15 Glugur, Jl. Bilal, Pulo Hindu, Budha

Kuil Shri Mariamman

Brayan/Lr 7, 21,22, 23,


Sampali, Mabar

16 Pasar III Pd Bulan, Jl. Sei Hindu, Budha, Islam Ada kuil shri Mariamman

Serayu Karang Sari

Polonia, Tanjung Sari,

Medan Sunggal

17 Desa Helvetia

Hindu, Budha, Kristen Kuil Shri Mariamman

Katolik

18 Kampung Lalang, Diski

Katolik, Hindu, Budha, Kuil Shri Mariamman


Islam

19 Kuala

Bekala, Hindu

Kuil Shri Mariamman

Tuntungan/Pondok Keling

(daerah kebun)

20 Binjai/Timbang Langkat Hindu, Budha, Islam Kuil Shri Mariamman

21 Langkat/Padang Cermin Hindu, Islam

Kuil Shri Mariamman

(daerah kebun), Tj.


Beringin, Selesai (daerah

kebun), Tanjung Jati

(daerah kebun), Tanjung

Pura

22 Lubuk Pakam, Batang Kuis Hindu, Budha, Islam Kuil Subramaniam

23 Tebing Tinggi/Kampung Hindu, Budha, Islam Kuil shri Mariamman

Keling

24 Pertumbukan/Deli Serdang Hindu, Islam

25 Kisaran/ Asahan

Hindu

Sebuah laporan menyebutkan bahwa penduduk Tamil yang berjumlah kira-kira 30.000 jiwa di Medan dan sekitarnya, terbagi atas 66 % yang menganut agama Hindu, 28 % agama Budha, 4,5 % beragama Katolik dan Kristen, dan 1,5 % yang beragama Islam (Napitupulu, 1992). Dalam sebuah wawancara dengan Pastor James Bharataputra (Juli 2003), pimpinan Graha Anne Maria Velankanni di Medan, disebutkan bahwa jumlah umat Tamil Katolik di kota Medan saat ini kira-kira 800 orang.
Mata Pencaharian Hidup Di masa lalu pekerjaan orang-orang Tamil
banyak diasosiasikan dengan pekerjaan kasar, seperti kuli perkebunan, kuli pembuat jalan, penarik kereta lembu, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang lebih mengandalkan otot. Hal ini

terkait dengan latar belakang orang Tamil yang datang ke Medan, yaitu mereka yang berasal dari golongan rendah di India, yang tentu saja memiliki tingkat pendidikan yang amat rendah pula. Mereka inilah yang dipekerjakan di zaman kolonial sebagai kuli di perkebunan-perkebunan milik orang Eropa. Di masa sekarang keturunan mereka banyak yang bekerja sebagai karyawan swasta, buruh, dan juga sebagai sopir. Kalau di masa kolonial sebagian dari mereka menjadi penarik kereta lembu dan pembuat jalan, di masa kini keturunan mereka banyak yang sudah mengusahakan jasa transportasi angkutan barang (truk pick up) dan juga menjadi pemborong pembangunan jalan. Keahlian mereka dalam kedua bidang pekerjaan ini banyak diakui orang.
Orang-orang Tamil yang datang secara mandiri ke Medan pada umumnya memiliki jenis mata pencaharian hidup sebagai pedagang.

140

Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI • Vol. 1 • No.3 • Desember 2005

Di antaranya menjadi pedagang tekstil dan pedagang rempah-rempah di pusat-pusat pasar di Medan. Selain itu mereka juga banyak yang bekerja sebagai supir angkutan barang, bekerja di toko-toko Cina, dan menyewakan alat-alat pesta. Selain itu banyak juga yang melakoni usaha sebagai penjual makanan, misalnya martabak keling. Pada umumnya, mereka yang berjualan rempah-rempah, tekstil, dan menjual makanan adalah orang-orang Tamil yang beragama Islam. Mereka adalah kaum Muslim migran yang datang dari India Selatan hampir bersamaan dengan kedatangan orang-orang India pada umumnya ke Medan pada pertengahan abad ke-19. Di masa sekarang juga sudah terdapat sejumlah orang Tamil yang sukses sebagai pengusaha di level daerah maupun nasional.
Organisasi sosial dan keagamaan Sejauh ini tidak ada organisasi yang dapat
menghimpun warga Tamil dalam satu kesatuan. Mereka pada umumnya lebih terikat oleh kesatuan berdasarkan kesamaan agama, terutama di kalangan penganut Hindu, Budha, dan Katolik. Sementara mereka yang beragama Islam lebih cenderung melebur menjadi komunitas muslim di mana mereka bermukim. Penganut Hindu terhimpun dalam wadah kuil yang di kota Medan secara kultural menyatu dalam Perhimpunan Shri Mariamman Kuil. Shri Mariamman Kuil yang terletak di Kampung Keling dibangun pada tahun 1884, dan berfungsi sebagai “payung” bagi kuil-kuil lain yang terdapat di sejumlah tempat lain di kota Medan. Hampir di setiap permukiman warga Tamil dibangun sebuah kuil, yang terbanyak menggunakan nama Shri Mariamman Kuil70. Kuil Shri Mariamman juga menghimpun pemuda-pemudi yang aktif di kuil dalam sebuah perhimpunan muda-mudi kuil.
Mereka yang beragama Budha terhimpun dalam wadah vihara dan organisasi yang disebut
70 Salah satu kuil yang juga sudah tergolong tua adalah Kuil Thandayuthapani, yang didirikan oleh kaum Chettiar pada tahun 1918. Menurut A. Mani (1980:77) kaum Chettiars, atau disebut juga Nattukotai Naharathars, merupakan sebuah kasta khusus di salah satu distrik di Tamil Nadu. Mereka datang ke Medan seiring dengan kedatangan buruh Tamil ke perkebunan-perkebunan, dan mereka berdagang dan meminjamkan uang kepada orangorang Tamil maupun penduduk pribumi. Di kalangan warga Medan, mereka ini lazim dikenal dengan sebutan
Chetti-chetti.

Adi-Dravida Sabah; dan untuk kaum remaja ada organisasi bernama Muda-mudi Budha Tamil. Kaum Buddhis Tamil juga memiliki sejumlah vihara sebagai tempat beribadah, di antaranya adalah Vihara Bodhi Gaya dan Vihara Lokasanti di Kampung Anggrung serta Vihara Ashoka di kawasan Polonia, dan sejumlah vihara di tempat-tempat lain. Kaum Buddhis Tamil secara kelembagaan menyatu dalam wadah Perwalian Umat Budha Indonesia (Walubi) dan pusatnya adalah Vihara Borobudur.
Warga Tamil Katolik juga memiliki sebuah gereja Katolik yang dibangun pada tahun 1912, yang sebagian besar anggotanya juga tergolong Tamil Adi-Dravida. Tengku Lukman Sinar (2001:76) menyebutkan bahwa sejak tahun 1912 telah ada missionaris Katolik khusus untuk orang-orang India Tamil di Medan. Sebuah gereja lain dibangun pada tahun 1935 oleh pastor Reverend Father James (Sami, 1980:83). Warga Tamil Kristen dan Katolik bermukim di sebuah lokasi yang disebut Kampung Kristen. Menurut Mani (1980) sebagian besar mereka datang dari Malaya, Pondicherry, dan Karaikal. Pastor James Bharataputra yang datang ke Indonesia tahun 1967 dan bertugas di Medan sejak 1972, pernah mendirikan sekolah khusus untuk orang-orang India Tamil yang miskin, bernama Lembaga Sosial dan Pendidikan Karya Dharma. Sekarang sekolah itu diambil alih oleh Yayasan Don Bosco, dan menjadi SD St. Thomas 56. Pastor James membeli sebidang tanah di kawasan Tanjung Selamat pada tahun 1979, yang semula direncanakannya untuk tempat pemukiman baru bagi orang-orang Tamil Katolik yang menumpang di sekitar Jl. Hayam Wuruk. Pada tahun 2001 beliau membangun sebuah Kapel untuk umat Tamil Katolik di atas tanah tersebut, yang diresmikan oleh Uskup Agung Medan (Mgr A.G.P. Datubara, OFM,Cap); dan di sebelah bangunan kapel berukuran kecil itu sekarang sedang berdiri (masih dalam proses pembangunan) sebuah gedung yang bernama Graha Bunda Maria Annai Velangkanni.
Sementara itu, warga Tamil Muslim sejak 1887 sudah memiliki sebuah lembaga sosial yang bernama South Indian Moslem Foundation and Welfare Committee. Warga Tamil Muslim mendapat hibah dua bidang tanah dari Sultan Deli, untuk tempat membangun mesjid dan pekuburan bagi Tamil Muslim. Ada dua masjid yang dibangun oleh yayasan tersebut, satu

141

Zulkifli B. Lubis

Kajian Awal tentang Komunitas Tamil dan Punjabi di Medan …

terletak di Jalan Kejaksaan Kebun Bunga dan satu lagi di Jl. Zainul Arifin. Lokasi pekuburan terdapat di samping Masjid Ghaudiyah (Jl. Zainul Arifin). Tanah wakaf di lokasi Kebun Bunga cukup luas (sekitar 4000 meter) sedangkan lokasi Masjid Ghaudiyah sekitar 1000 meter persegi. Sebagian dari tanah wakaf yang di masjid Ghaudiyah dimanfaatkan untuk lokasi pembangunan ruko, terdiri dari 13 pintu, yang disewakan kepada orang lain dan uangnya digunakan untuk kemakmuran masjid dan menyantuni kaum Muslim Tamil yang miskin. Sampai sekarang yayasan yang menaungi masjid itu terus diurus oleh keturunan Tamil Muslim dan pada saat ini dipimpin oleh Abu Bakkar Siddiq (45 thn) seorang pedagang dan dibantu oleh Kamaluddin seorang pengusaha keramik. Sampai dengan tahun 1970-an, setiap tahun dilakukan perayaan hari besar keagamaan yang menghadirkan orang-orang Tamil Muslim di seluruh kota Medan, Tebing Tinggi, hingga Pematang Siantar. Kesempatan itu sekaligus menjadi forum silaturahmi bagi warga Tamil Muslim, namun perayaan demikian sudah tidak pernah lagi berlangsung belakangan ini.
Selain organisasi sosial yang berbasis keagamaan seperti disebutkan di atas, pada tahun 1960-an terdapat sejumlah organisasi yang bertujuan mempromosikan kebudayaan dan pendidikan Tamil; di antaranya adalah The Deli Hindu Sabah, Adi-Dravida Hindu Sabah, Khrisna Sabah, yang bergerak di bidang keagamaan, sosial, dan aktivitas kebudayaan (Mani 1980:63). Juga ada The Indian Boy Scout Movement, Indonesian Hindu Youth Organization, dan North Sumatera Welfare Association, dan lain-lain. Seorang tokoh Tamil yang kharismatis dan menggerakkan kemajuan bagi orang Tamil di kota Medan adalah D. Kumaraswamy. Pada masa sekarang ini hampir semua organisasi sosial tersebut tidak lagi aktif.
Orientasi budaya Menjadi bagian dari bangsa Indonesia
merupakan satu pilihan yang secara sadar dijalankan oleh warga Tamil di Medan dan Sumatera Utara pada umumnya. Mereka teguh dalam soal ini, dan banyak di antara kaum tua orang Tamil yang juga ikut berjuang menegakkan kemerdekaan Indonesia, dan banyak pula di antara warga Tamil yang berstatus sebagai pegawai negeri. Tetapi sebuah keprihatinan muncul di kalangan generasi tua

Tamil dewasa ini melihat kenyataan bahwa

semakin lama mereka kehilangan identitas

kebudayaan Tamil. Sebagian besar generasi

muda tidak bisa lagi berbahasa Tamil, bahkan

orang tua juga banyak yang tidak mampu lagi

menggunakan bahasa itu di lingkungan

keluarga. Pendeta Gurusamy, pimpinan Shri

Mariamman Kuil, menyebutkan bahwa

pelaksanaan peribadatan di kuil-kuil Hindu saat

ini juga tidak lagi sepenuhnya dapat dilakukan

menurut ketentuan penggunaan mantra-mantra

yang berbahasa Tamil maupun Sanskerta.

Sebuah

upacara

penyucian

kuil

(Kumbhabisegam) Shri Mariamman Kuil di

Kampung Durian pada tanggal 13 Juli 2003

harus dipimpin oleh pendeta yang khusus

diundang dari Malaysia.

Orientasi politik kaum Tamil di Medan di

masa lampau adalah Golkar, dan sekarang ini

kecenderungannya adalah PDIP. Kaum muda

Tamil banyak juga yang aktif di organisasi

kepemudaan seperti Pemuda Pancasila, sehingga

mereka semakin dalam terabsorbsi dengan

lingkungan pergaulan dan kebudayaan

komunitas pribumi.

Komunitas Punjabi Orang Punjabi yang beragama Sikh sudah
hadir di Sumatera Utara sejak awal perkebunan tembakau dibuka. Asal-usul mereka dapat ditelusuri ke Amritsar atau Jullundur di kawasan Punjab, India. Mereka biasanya datang ke Deli untuk beberapa tahun dan kembali ke India untuk kawin, lalu membawa isterinya kembali ke Sumatera (Mani 1980). Di Sumatera Utara mereka banyak bermukim di kota Medan, Binjai, dan Pematang Siantar. Pada umumnya dulu mereka bekerja sebagai pengawas dan pengatar surat di perkebunan, serta memelihara ternak sapi.
Berbeda dengan orang Tamil yang bermukim di suatu tempat yang relatif menyatu dan mudah dikenali menurut nama-namanya, orang Punjabi tidak bermukim di suatu tempat yang demikian. Mereka tersebar di kota maupun di pinggiran kota berbaur dengan pemukiman penduduk lainnya. Biasanya mereka bertempat tinggal dekat dengan lokasi usaha, misalnya di sekitar pusat perdagangan, dan juga di bagian pinggiran kota di mana mereka bisa memelihara sapi. Tidak diketahui dengan jelas berapa jumlah mereka saat ini di kota Medan. Namun diperkirakan jumlah mereka lebih dari 5000

142

Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI • Vol. 1 • No.3 • Desember 2005

orang sekarang ini, termasuk yang tinggal di Binjai dan Pematang Siantar.
Mata pencaharian hidup Berbeda dengan orang Tamil yang
sebagian dipekerjakan sebagai kuli di perkebunan pada masa kolonial, orang-orang Punjabi pada umumnya bekerja sebagai petugas jaga malam, pengawal, maupun sebagai upas. Dengan bekal pendidikan mereka yang relatif lebih baik, orang-orang Punjabi dapat mengisi berbagai lowongan pekerjaan administratif di kantor-kantor perusahaan yang ada di Medan ketika itu.
Pekerjaan yang ditekuni oleh orang-orang Punjab berada di seputar triple S, yaitu susu, sport, dan sekolah (pendidikan). Pada masa sekarang boleh dikatakan merekalah yang menguasai bisnis tersebut, meskipun banyak juga di antara orang-orang Punjabi yang sudah menggeluti profesi lain seperti dokter, dosen, manajer, akuntan, dan lain sebagainya.
Spesialisasi orang Punjab dalam memelihara ternak sapi untuk mendapatkan susunya sudah dikenal luas oleh masyarakat Medan sejak dahulu kala. Penduduk setempat selalu menyebut mereka sebagai “Orang Benggali”, atau sebutan “susu Benggali”untuk produk susu yang mereka jual. Sebutan itu

sesungguhnya tidak tepat, karena mereka bukan orang Benggala, melainkan suku Punjabi dari India Utara. Lokasi-lokasi pemukiman orang Punjabi yang bekerja memelihara ternak sapi antara lain ada di kawasan Percut Sei Tuan, juga di kawasan Karang Sari Polonia. Orang-orang Punjab ini mudah dikenali dari pakaian sorban yang terlilit di kepala mereka, dan dengan menggunakan sepeda motor mereka mengantar susu kepada para pelanggannya.
Selain itu, jenis usaha yang banyak digeluti bahkan jaringan bisnisnya dikuasai oleh orangorang Punjabi adalah bisnis alat-alat olah raga dan musik, yang di Medan dikenal dengan sebutan toko sport. Diperkirakan usaha toko sport ini sudah berkembang di Medan sejak tahun 1930-an (Veneta 1998). Tapi Tengku Lukman Sinar (2001) mencatat bahwa toko India yang pertama di Medan adalah “Hoondamall”yang didirikan tahun 1888; dan toko alat-alat olah raga yang tertua adalah “Hari Bros”yang didirikan tahun 1926. Toko yang disebut terakhir ini masih eksis sampai sekarang, tapi “Hoondamal” sudah tutup dan berubah menjadi restauran. Tabel di bawah ini adalah nama sejumlah toko sport yang ada di kota Medan, yang sebagian besar dimiliki oleh orang Punjabi.

Table 2: Sebagian Toko Sport di Kota Medan

No Nama Toko

Nama

Tahun Buka Asal

Pemilik

1 Rose & Co

1942-1984 India

2 Hari Bros

Harry

1948

India

3 PT. Ratan Sports Jager Singh 1951

India

4 Atal Sports

Sarbejit

1954

India

Singh

5 Sumatera Sports Amerjit

1969

Medan

Singh

6 Gajahmada

Hrnam

1978

Sports

Singh

7 Gajah Mada

Toli

1997

8 Anil Sports

Anil

1982

9 Sibal Sports

Sibal

1984

10 Olympic Sports Amrick

1985

singh

11 Sejahtera Sports Bobby

1987

Medan

12 Sejahtera Jaya

1997

Mean

13 Anand Sports Gurdial

1991

Singh

14 Ajit Sports

Ajit Singh 1996

Medan

Etnis

Lokasi

Punjabi Bamen Punjabi Punjabi

Kesawan Kesawan Kesawan Kesawan

Punjabi Jl.Palangkaraya

Punjabi Jl.Palangkaraya

Punjabi Bamen Bamen Surabaya

Jl. Plangkaraya Kesawan Kesawan Jl.Palangkaraya

Punjabi Punjabi Punjabi

Jl.Palangkaraya Tembung Kesawan

Punjabi Kesawan

143

Zulkifli B. Lubis

Kajian Awal tentang Komunitas Tamil dan Punjabi di Medan …

No Nama Toko 15 Aneka Sports Sumber: Venetta, 1998.

Nama Pemilik Maninder Singh

Tahun Buka Asal 1992

Etnis Punjabi

Lokasi Jl.Palangkaraya

Jenis usaha ketiga yang banyak ditangani orang Punjabi adalah kursus bahasa Inggris. Pengenalan orang-orang Punjab dengan bisnis kursus bahasa ini sudah berlangsung sejak lama. Sekolah pertama yang didirikan oleh orang Punjabi di kota Medan adalah King George V, didirikan pada tahun 1927, dengan bekerjasama dengan Baghel Singh, sekolah itu diperluas pada tahun 1930 dengan menambah staf dari India dan Malaya. Pada tahun 1931 berdiri pula sebuah sekolah bernama Khalsa English School, terletak di sebelah bangunan gurudwara di Jl. Teuku Umar, yang diperuntukkan bukan hanya untuk orang Punjabi dan Tamil saja, melainkan juga bagi penduduk lokal. Inisiatif untuk mendirikan sekolah Khalsa ini datang dari Kapten Orang Sikh bernama Ranjit Singh yang menyumbang dana Fl 5.000 dari Fl 30.000 yang dibutuhkan (lihat Lukman Sinar 2001; dan Mani 1980). Pada saat ini sekolah Khalsa tidak aktif lagi, dan pernah digantikan dengan sekolah Young Khalsa, yang juga telah tutup. Sebuah kursus Bahasa Inggris yang dikelola oleh orang Punjabi dan didirikan sejak 1975 adalah Tropical English Course di kawasan Pringgan Medan Baru.
Organisasi sosial dan keagamaan: kuil
gurudwara sebagai pusat Orang Punjabi di Medan nyaris identik
dengan agama yang dianut mereka, yaitu Sikh, sehingga kedua istilah ini seringkali dipertukarkan untuk menyebut objek yang sama. Seperti dikemukakan oleh A. Mani (1980:85) komunitas Sikh di Sumatera Utara berpusat pada dua institusi sosial yang penting, yaitu gurudwara (kuil) dan sistem kekerabatan mereka. Kedua institusi inilah yang berperan penting dalam mengetahui dengan pasti identitas Sikh. Kuil Sikh terdapat di beberapa tempat di Sumatera Utara, yang tertua adalah gurudwara yang terletak di Jl. Teuku Umar, persis bersebelahan dengan Shri Mariamman Kuil; di Kampung Anggerung, Karangsari Polonia, Binjai, dan Tebing Tinggi. Pada tanggal 1 Juni 2003 telah diresmikan sebuah gurudwara baru yang diberi nama “Gurudwara Shree Arjun Dev

Ji” di Kelurahan Sari Rejo Polonia. Kuil Sikh ini disebut sebagai yang termegah di Asia Tenggara, dibangun oleh para pengurus Yayasan Shree Guru Arjun Dev Ji, karena gurudwara sebelumnya yang dibangun pada 1 Juni 1953 oleh Banta Singh Fatupila, Chanan Singh Koorka, Singgara Singh Chabal, Djagat Singh Chabal, dan Harnam Singh Kairon, tidak mampu lagi menampung para jemaat (lihat Harian Analisa, 7 Juni 2003).
Institusi kedua yang menjadi unsur penentu bagi keutuhan kebudayaan Punjabi dan agama Sikh adalah sistem kekerabatan yang demikian ketat menjaga agar perkawinan hanya terjadi di kalangan orang Punjabi yang beragama Sikh. Tradisi endogami suku dan agama masih ketat diberlakukan, sehingga perkawinan dengan orang luar hampir tidak terjadi. Peranan orang tua dalam mencarikan jodoh bagi anaknya sangat penting, dan gurudwara biasanya menjadi tempat yang ideal untuk memulai proses mencari calon pasangan bagi anak perempuan.
Orang-orang Punjabi yang beragama Sikh menjalankan banyak ragam upacara keagamaan di gurudwara, yang salah satu bagian terpentingnya adalah membaca Kitab suci Granth Sahib. Para pebisnis Punjabi juga cukup taat menjalankan upacara-upacara sebagai permintaan doa demi kesuksesan usaha mereka. Veneta (1998) yang pernah melakukan kajian tentang bisnis toko sport orang Punjabi menyebutkan beberapa upacara yang sering dilakukan oleh keluarga Punjabi di gurudwara. Sebagi contoh adalah pelaksanaan upacara “Sukhmani” yang dilakukan pada bulan September 1996 oleh pemilik usaha toko Ratan Sports. “Sukhmani” adalah kegiatan pembacaan ayat-ayat suci oleh sekelompok wanita untuk mencari kebahagiaan hidup. Kegiatan upacara tersebut dilakukan untuk mengatasi keadaan toko yang kurang menguntungkan setelah perkongsian pengelolaan toko sebelumnya dibubarkan. Upacara lain yang juga dilakukan oleh pemilik toko sport lainnya (Gajahmada Sports) adalah “Khandepath”; upacara “Ardasa” ketika membuka toko yang baru (oleh pemilik toko Sejahtera Sports), “Prakash”, dll.

144

Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI • Vol. 1 • No.3 • Desember 2005

Orientasi budaya Seperti halnya orang Tamil, generasi muda
orang Punjabi juga mengalami proses yang relatif sulit untuk mempertahankan tradisi mereka. Namun demikian, orang Punjabi boleh dikatakan masih relatif lebih kuat dalam mempertahankan identitas-identitas budaya mereka dibandingkan dengan orang Tamil. Tradisi perkawinan yang bersifat endogam cukup efektif untuk membendung distorsi budaya yang bisa terjadi jika perkawinan dilakukan dengan pasangan dari suku dan agama lain.
Orang-orang Punjab juga tergolong kelompok yang cukup sukses dalam menjalankan bisnis mereka, sehingga secara ekonomi mereka lebih mapan dibandingkan dengan orang-orang Tamil kebanyakan. Kesuksesan bisnis mereka juga ditopang oleh masih kuatnya ikatan solidaritas sesama orang Punjab, yang antara lain diwujudkan melalui pengembangan jaringan bisnis sesama warga Punjab dari berbagai daerah di dalam maupun di luar negeri.
Adaptasi dan Jaringan Sosial Dengan tidak bermaksud menyatakan
uraian akhir ini sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa proses-proses adaptasi sosial

budaya komunitas Tamil di Medan berlangsung

lebih intensif dengan komunitas-komunitas

tempatan jika dibandingkan dengan orang-orang

Punjab. Kenyataan bahwa orang-orang Tamil

telah terfragmentasi berdasarkan agama,

membuat mereka lebih terbuka untuk berubah,

sehingga identitas ke-Tamil-an mereka

berangsur-angsur hilang. Bahkan kalangan

Tamil Muslim sudah mengidentifikasi diri ke

dalam komunitas yang dia masuki, dan kesatuan

sebagai sesama agama menjadi lebih kuat

dibandingkan dengan kesatuan sebagai sesama

warga etnik Tamil.

Hal yang agak berbeda terjadi di kalangan

orang-orang Punjabi. Dengan tetap

mempertahankan adat endogami dan peranan

institusi gurudwara dalam membentuk

lingkungan sosial budaya mereka, maka orang

Punjabi relatif lebih mampu bertahan dengan

karakteristik

budayanya.

Mereka

mengintensifkan hubungan-hubungan sesama

mereka, baik untuk kepentingan penguatan

solidaritas sosial maupun untuk tujuan

pengembangan bisnis. Pembangunan gurudwara

yang baru di Karang Sari Polonia yang

menghabiskan dana cukup besar menunjukkan

bahwa mereka bisa mengintensifkan solidaritas

di kalangan mereka untuk membangun kuil,

karena mendapat bantuan dari komuntas

Punjabi/Sikh di seluruh dunia.

Daftar Pustaka
Brahmaputro. 1979. Karo dari Jaman ke Jaman. Tanpa penerbit.
BWS. 2001. Kampung Madras, Sebuah Potret Komunitas India di Medan; naskah buku.
Gmelch, George & Walter P. Zerner. 1979. Urban Life: Readings in Urban Anthropology. State University of New York.
Lubis, Dina Fachria. 2002. Kajian Etnografi tentang Peternak Sapi Perah Suku Punjabi di Sumatera Utara. [Skripsi] Jurusan Antropologi Fisip USU.
Mani, A. 1980. “Indian in North Sumatera.” Dalam K.S. Sandhu & A. Mani “Indian Communities in Southeast Asia” Times Academic Press. Hal 46.
Napitupulu, Burju Martua. 1992. Eksistensi Masyarakat Tamil di Kota Medan: Suatu tinjauan Historis; [Skripsi] Jurusan Sejarah FS USU.
Pelly, Usman. 1994. Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta: Penerbit LP3ES.
Saifuddin Mahyudin, dkk. Biografi D. Kumarasamy; Naskah belum diterbitkan.

145

Zulkifli B. Lubis

Kajian Awal tentang Komunitas Tamil dan Punjabi di Medan …

Sandhu K.S. & A. Mani (editor). 1979. Indian Communities in Southeast Asia; Times Academic Press.
Sinar, Tengku Lukman. 2001. Sejarah Medan Tempo Doeloe. Cetakan kedelapan. Tanpa penerbit.
Veneta. 1998. Toko Sport Orang Punjabi; Suatu Studi Antropologi tentang Budaya Korporasi Bisnis Perdagangan Alat-alat Olahraga di Medan. [Skripsi] Jurusan Antropologi Fisip USU.
Y. Subbarayalu. “Prasasti Perkumpulan Pedagang Tamil di Barus; Suatu Peninjauan Kembali.” Dalam Claude Guillot (2002) “Lobu Tua Sejarah Awal Barus”; Yayasan Obor Indonesia dan Pusat Penelitian Arkeologi & Association Archipel.

146