Factors influence subak members in adopting system of rice intensification (sri) in seven regencies in the Province of Bali

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI ANGGOTA
SUBAK MENGADOPSI SYSTEM OF RICE
INTENSIFICATION (SRI)
DI TUJUH KABUPATEN DI PROVINSI BALI

OLEH:
I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul Faktor-faktor
yang Memengaruhi Anggotas Subak Mengadopsi System of Rice
Intensification (SRI) di Tujuh Kabupaten di Provinsi Bali adalah benar
hasil karya saya sendiri dengan arahan Komisi Pembimbing dan belum
pernah diajukan dalam bentuk apapun pada Perguruan Tinggi manapun.
Bahan rujukan atau sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang telah diterbitkan ataupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
disertasi ini.

Bogor,

Januari 2012

I Gede Setiawan Adi
Putra

ii

ABSTRACT
I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA. Factors Influence Subak Members in
Adopting System of Rice Intensification (SRI) in Seven Regencies in the Province
of Bali Supervisor Commission: Amri Jahi (Chief Supervisor), Djoko Susanto,
Pang S. Asngari, I Gusti Putu Purnaba and Sugiyanta (as members).
Subak as the traditional irrigation institusion of Bali has a large potential
in adopting the System of Rice Intesification (SRI) innovation. The goals of this
research are: (1) To find the factors which affect the adoption of SRI amongst
subak members; (2) To analyse the perception, attitude, self-reliance and
adoption factors of the subak members; (3) To analyse the causal relations
(cause-effect) between the factors that affect the adoption of SRI amongst subak
farmers; and (4) To formulate a model of SRI adoption amongst the subak
member farmers in accordance to the social system of subak. This research is
designed to be Ex post facto. The population of this research is 288 members of
subak that have implemented the System of Rice Intensification (SRI). Using the
Slovin formula, the sample of this research becomes 104 people. The analysis
used is Structural Equation Model (SEM) with the Lisrel Version 8.3 programme.
The results are: (1) The factors that affect the adoption of SRI by the members of
subak are characteristics, facilitator competence, caretaker competence,
perception, attitude, and self-reliance.; (2) Perception is affected by
characteristic, facilitator competence, and caretaker competence. Attitude is
affected by perception, characteristic, facilitator competence, and subak caretaker
competence. Self-reliance is affected by attitude, perception, characteristic,
facilitator competence, and subak caretaker competence. Adoption is affected by
self-reliance, perception, attitude, characteristic, facilitator competence, and
subak caretaker competence; (3) The better the characteristic, facilitator
competence, subak caretaker competence, perception, attitude, and self-reliance
of the subak members, the better the adoption of SRI; and (4) The suitable
development model of SRI is the model which develops self-reliance and
emphasizes on independent learning.
Keywords: adoption, innovation, SRI, farmers, caretakers, facilitators

iii

RINGKASAN
I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Anggota
Subak Mengadopsi System of Rice Intensification (SRI) di Tujuh Kabupaten
Provinsi Bali. Komisi Pembimbing: Amri Jahi (Ketua), Djoko Susanto, Pang S.
Asngari, I Gusti Putu Purnaba dan Sugiyanta (masing-masing sebagai anggota).

Subak sebagai lembaga tradisional pengelola air irigasi di Bali memiliki
potensi yang besar dalam pengadopsian inovasi SRI. Petani anggota subak
memiliki sejumlah alasan yang kuat untuk mengadopsi SRI.
Tujuan utama penelitian ini adalah: (1) Menemukan faktor-faktor yang
memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; (2)
Menganalisis pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI, sikap
anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak menerapkan SRI
terhadap pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; (3) Menganalisis
hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang memengaruhi
pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak; dan (4) Merumuskan model
pengadopsian SRI di kalangan petani anggota subak yang sesuai dengan sistem
sosial subak.
Populasi penelitian ini adalah anggota subak (kelompok tani tradisional di
Bali yang berfungsi sebagai pengelola air irigasi) dan menerapkan System of Rice
Intensification (SRI) yang berjumlah 288 orang yang tersebar di tujuh kabupaten
di Bali. Dengan rumus Slovin, ditetapkan sampel penelitian sebanyak 104 orang
petani anggota subak yang telah menerapkan SRI.
Penelitian dirancang sebagai penelitian Ex post facto. Ex post facto berarti
”setelah kejadian,” peneliti berusaha untuk menentukan sebab, atau alasan adanya
perbedaan tingkah laku atau status kelompok individu. Model yang digunakan
adalah model persamaan structural (Structural Equation Model). Model ini
digunakan untuk menguji model-model empiris untuk menjelaskan varian dan
korelasi antara suatu set peubah-peubah yang diobservasi (observe) dalam suatu
sistem kausal (sebab akibat) dari faktor-faktor yang tidak diobservasi (unobserve).
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data
sekunder. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas
isi. Untuk mendapatkan keabsahan peubah penelitian, faktor, serta isi maka
iv

instrumen penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan penilaian juri dari
luar komisi pembimbing. Korelasi Cronbach alpha digunakan untuk menentukan
tingkat reliabilitas butir-butir pertanyaan dalam kuesioner. Pengumpulan data
dilakukan dari Bulan September sampai dengan Bulan Oktober 2011. Pendugaan
parameter dan uji lanjut pada model SEM diselesaikan dengan perangkat lunak
Lisrel versi 8.3.
Hasilnya adalah: (1) Faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI
oleh anggota subak adalah karakteristik anggota subak yang terdiri dari: umur,
pendidikan dan pengalaman. Faktor kompetensi fasilitator yang terdiri dari:
kemampuan

fasilitator

beradaptasi dengan klien,

kemampuan fasilitator

menyampaikan materi secara sistematis, dan kemampuan fasilitator memberikan
semangat kepada klien untuk mengadopsi SRI. Faktor kompetensi pengurus subak
yang terdiri dari: kompetensi pengurus subak memberi semangat kepada
anggotanya untuk menerima SRI, dan kompetensi pengurus subak mencarikan
jalan penyelesaian masalah yang dihadapi anggotanya. Persepsi anggota subak
tentang SRI yang terdiri dari: persepsi anggota subak yang menyatakan bahwa
SRI sesuai dengan nilai, adat-istiadat, dan kebiasaan dalam sistem sosial subak.
Sikap anggota subak terhadap SRI yang terdiri dari: sikap terhadap inovasi SRI
yang hemat air, dan jumlah rumpun/anakan padi SRI lebih banyak dibandingkan
dengan metode konvensional. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI yang
terdiri dari: kemandirian anggota subak dalam pengambilan keputusan, dan
kemandirian anggota subak dalam belajar; (2) Tingkat persepsi anggota subak
tentang SRI termasuk dalam kategori sangat tinggi. Persepsi anggota subak
tentang SRI dipengaruhi oleh karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator,
dan kompetensi pengurus subak. Anggota subak bersikap positif terhadap SRI.
Sikap anggota subak terhadap SRI dipengaruhi oleh persepsi anggota subak
tentang SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi
pengurus subak; Tingkat kemandirian anggota subak menerapkan SRI termasuk
dalam kategori sedang. Kemandirian anggota subak menerapkan SRI dipengaruhi
oleh sikap anggota subak terhadap SRI, persepsi anggota subak tentang SRI,
karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator, dan kompetensi pengurus
subak. Tingkat pengadopsian SRI oleh anggota subak termasuk tinggi.
v

Pengadopsian SRI oleh petani anggota subak dipengaruhi oleh kemandirian
anggota subak menerapkan SRI, persepsi anggota subak tentang SRI,

sikap

anggota subak terhadap SRI, karakteristik anggota subak, kompetensi fasilitator
dan kompetensi pengurus subak; (3) Semakin baik karakteristik anggota subak,
kompetensi fasilitator, kompetensi pengurus subak, persepsi anggota subak
tentang SRI, sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak
menerapkan SRI maka semakin baik pula pengadopsian SRI oleh anggota subak;
dan (4) Model pengembangan SRI bagi anggota subak yang sesuai adalah model
pengembangan kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan
anggota subak.
Saran yang dapat diberikan adalah: (1) Kepada fasilitator yang berperan
dalam penyebarluasan inovasi SRI agar mempertahankan bahkan meningkatkan
kompetensinya karena sangat berperan dalam pembentukan persepsi yang positif
tentang SRI, pembentukan sikap yang baik di antara anggota subak dan dapat
menumbuhkan kemandirian pada anggota subak; (2) Melalui proses mental
pengadopsian SRI, anggota subak dapat belajar cara-cara bertani yang lebih baik
dibandingkan metode konvensional; (3) Untuk menyebarluaskan penerapan SRI
di kalangan anggota subak, pengurus subak harus lebih aktif dalam
menyebarluaskan informasi tentang SRI karena pengurus subak berhadapan
langsung dengan anggotanya; (4) Kepada perguruan tinggi yang ada di Bali,
terutama yang memiliki fakultas pertanian agar membentuk laboratorium
lapangan berupa denplot-denplot percontohan berbagai inovasi pertanian sebagai
upaya menumbuhkan minat masyarakat Bali menjadi petani. Laboratorium
lapangan ini menjadi tempat interaksi antara civitas akademika pertanian dengan
masyarakat tani untuk mengenal suatu inovasi sekaligus sebagai tempat belajar
bersama; dan (5) Kepada pemerintah daerah Provinsi Bali, model pengembangan
kemandirian yang menekankan pada belajar mandiri di kalangan anggota subak
dapat ditindak lanjuti dengan program aksi berupa denplot-denplot SRI di seluruh
kabupaten dan kota di Bali, sehingga kualitas hidup anggota subak akan lebih
sejahtera.

vi

©Hak cipta milik IPB, tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
(1)

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencamtumkan atau menyebut sumber.
(a) Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penulisan karya
ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah;
(b) Pengutipan tidak merugikan kepentingan wajar IPB.

(2)

Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

vii

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI ANGGOTA SUBAK
MENGADOPSI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI)
DI TUJUH KABUPATEN DI PROVINSI BALI

OLEH :
I GEDE SETIAWAN ADI PUTRA

DISERTASI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada Program Mayor Ilmu Penyuluhan Pembangunan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
viii

Penguji Luar Komisi
Penguji Ujian Tertutup

:
:

(1) Dr. Ir.Ma’Mun Sarma, MS., MEc.
Dosen Departemen Komunikasi dan Pembangunan
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor.

(2) Dr. Ir. Iskandar Lubis, MS.
Dosen Departemen Agronomi dan
Holtikultura, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Penguji Ujian Terbuka

:

(3) Prof. Dr. Ir. I Gde Pitana Brahmananda, MSc.
Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Republik
Indonesia.
(4) Dr. Ir. Basita Ginting Sugihen, MA.
Dosen Departemen Komunikasi dan Pembangunan
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor.

ix

Judul Penelitian

:

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Anggota
Subak
Mengadopsi
System
of
Rice
Intensification (SRI)
di Tujuh Kabupaten di
Provinsi Bali

Nama

:

I Gede Setiawan Adi Putra

NRP

:

P.061050021

Program Mayor

:

Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN)
Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Amri Jahi, MSc.
Ketua

Prof (Ris) Dr. Djoko Susanto, SKM.

Prof. Dr. H. Pang S. Asngari

Anggota

Anggota

Dr. Ir. I Gusti Putu Purnaba, DEA.

Dr. Ir. Sugiyanta, MSi.

Anggota

Anggota
Diketahui :

Ketua Program Studi/Mayor
Ilmu Penyuluhan Pembangunan,

Dekan Sekolah Pascasarjana,

Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc

Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr

Tanggal Ujian: 28 Januari 2012

Tanggal Lulus:

x

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga disertasi ini berhasil diselesaikan.
Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah pengadopsian System of Rice
Intensification (SRI) di kalangan anggota subak.
Penyelesaian penelitian

ini tidak terlepas dari bantuan berbagai

pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Amri Jahi,
MSc selaku ketua komisi pembimbing,

Bapak Prof. (Ris) Dr. Djoko

Susanto, SKM. (anggota), BapaK Prof. Dr. H. Pang S. Asngari (Anggota),
Bapak Dr. Ir. I Gusti Putu Purnaba, DEA (Anggota) dan Bapak Dr Ir.
Sugiyanta, MSi (Anggota) yang telah membimbing dan mengarahkan
penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada

pakar yang penulis

libatkan untuk menilai kuesioner penelitian ini di antaranya praktisi SRI dari
Lab Mikrobiologi Tanah Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Institut
Pertanian Bogor, dan ahli SRI dari Departemen Agronomi dan Holtikultura
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Kepada responden, para kelihan subak, dan

PPL yang telah

memberikan data dan informasi, penulis ucapkan terima kasih atas
kesediaan dan kerjasamanya sehingga penulis mendapatkan data sesuai
dengan yang diharapkan. Terima kasih pula penulis sampaikan kepada
Sudirta, Agus, Janu, dan Angga mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas
Pertanian

Universitas

Udayana

yang

telah

membantu

penulis

mengumpulkan data penelitian.
Penulis sampaikan terima kasih kepada Rektor IPB, Dekan Sekolah
Pascasarjana IPB, Dekan Fema IPB, Ketua Departeman KPM, Ketua
Program mayor PPN IPB beserta staff atas bantuan, pelayanan, dan
perhatiannya sehingga penulis dapat mengikuti pendidikan Program Doktor
dengan baik.
Kepada pimpinan Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia beserta jajarannya penulis sampaikan
terima kasih atas beasiswa BPPS, Beasiswa Sandwich, dan bantuan Hibah
xi

Penelitian Doktor yang sangat membantu penulis mengembangkan
kemampuan intelektual serta meringankan biaya pendidikan selama penulis
menempuh pendidikan Program Doktor di IPB.
Terima kasih penulis sampaikan kepada A.A. Sg. Dwinta
Kuntaladara dan Ibu Prof. Dr. Ir. A.A. Annik Ambarawati, MEc yang telah
membantu penulis dalam penerbitan bagian dari naskah disertasi ini pada
jurnal ilmiah. Kepada sahabatku: Arief Sukmana, Sumarlan, Hatta Jamil,
Prihandoko, Mutiya, Melvis, Farid, Hayati, Hartina Batoa, Syafruddin,
Kodir, Desi, As-Zaitun Collony, Bapak Haji Obos, Bapak Acep Kusnadti
(Piting), Bapak RT Nana, dan Bapak Umar yang telah membantu penulis
menemukan kesalahan-kesalahan pengetikan sekaligus sebagai teman
diskusi yang baik selama penulis menempuh pendidikan di IPB Bogor.
Akhirnya, terima kasih mendalam kepada kedua orang tua (Bapak
Drs. Ketut Astika dan Ibu Made Karoni) yang senantiasa memberikan
dukungan moril spirituil yang tiada terhingga kepada penulis, demikian
juga kepada Adinda Kadek Happy Kardiawan, SPd. dan keluarga, serta
Nyoman Herlina Kristianti, Amd. yang telah mendorong penulis berjuang
meraih prestasi. Kepada motivator sejati, istriku tersayang Ni Made Ary
Yunharmini, SE. dan Ibu Mertua Dra. Putu Darmini beserta keluarga besar
Sahadewa dan Angsoka penulis ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya
berkat dorongan dan dukungan yang begitu besar sehingga penulis dapat
meraih gelar doktor.
Penulis mengharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat
khususnya kepada kemajuan ilmu penyuluhan pembangunan. Kritik dan
saran yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan demi kesempurnaan
karya ilmiah ini.

Bogor, Januari 2012
Peneliti

xii

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Desa Penarukan

Kabupaten Buleleng

Provinsi Bali pada tanggal 14 September 1978 dari Ayah Drs. Ketut
Astika dan Ibu Made Karoni, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara.
Jenjang pendidikan penulis dimulai dari SD Negeri 4 Penarukan
di Singaraja lulus pada tahun 1990. Kemudian dilanjutkan di SMP Negeri
1 Singaraja lulus pada tahun 1993, setelah itu melanjutkan sekolah di
SMA Negeri 1 Singaraja, lulus pada tahun 1996. Selanjutnya penulis
meneruskan pendidikan S1 pada Program Studi Penyuluhan dan
Komunikasi Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas
Pertanian Universitas Udayana pada tahun 1996 dan lulus tahun 2000.
Pada tahun 2000 penulis diangkat menjadi Dosen pada Program
Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Selanjutnya, tahun
2002 penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S2 di
Sekolah Pascasarjana IPB pada Program Studi Ilmu Penyuluhan
Pembangunan (PPN) atas biaya BPPS dari DIKTI dan lulus pada tahun
2004.
Gelar Magister Sains yang penulis peroleh di tahun 2004 menjadi
bekal hidup penulis dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi
seperti: (1) mendampingi anggota subak dalam penguatan kelembagaan
melalui kegiatan Water Management Study in Saba River, dana hibah
dari JICA tahun 2004, (2) menjadi editor penerbitan buku yang berjudul
“Revitalisasi Subak dalam Memasuki Era Globalisasi” yang diterbitkan
Penerbit Andi Yogyakarta pada tahun 2005, dan (3) melaksanakan
kegiatan pendidikan dan pengajaran seperti mengasuh mata kuliah DasarDasar Penyuluhan dan Komunikasi pertanian serta menjadi pembimbing
skripsi mahasiswa Jurusan Agribisnis FP UNUD.
Setelah melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi kurang lebih
satu tahun, penulis melanjutkan pendidikan S3 di Sekolah Pascasarjana
IPB pada Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) pada
tahun 2005 atas biaya BPPS dari DIKTI.
xiii

Pada Tahun 2008 penulis mendapat kesempatan untuk melaksanakan
studi literatur di Universitas Utara Malaysia (UUM) dalam kegiatan
Sandwich Programs dari DIKTI selama empat bulan dan menghasilkan
karya tulis dengan judul: Analizing Farmer’s Problems in Indonesia atas
bimbingan Prof. Dr. Hj. Nurahimah Muh. Yusoff, MSc.
Pada tahun 2009 penulis menjadi tenaga ahli untuk merumuskan
buku panduan penyelenggaraan penyuluhan di Timor Leste pada kegiatan
Rural Development Programs II-Timor Leste bekerjasama dengan GTZ.
Pada tahun 2010, penulis berkesampatan mendampingi peneliti System of
Rice Intensification dari Jepang yang melaksanakan penelitian di
Tasikmalaya bekerjasama dengan JIRCAS.
Setelah melewati proses pendewasaan dan pencarian jati diri yang
panjang dan berliku, baik dalam kegiatan akademik dan non-akademik,
penulis menikah dengan Ni Made Ary Yunharmini, SE pada tanggal 10
Bulan ke-10 tahun 2010, dan melalui pernikahan inilah penulis memasuki
babak baru episode kehidupan.

xiv

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................................... xvi
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. xvii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xviii
PENDAHULUAN ..................................................................................................
Latar Belakang ..............................................................................................
Masalah Penelitian ........................................................................................
Tujuan Penelitian ..........................................................................................
Kegunaan Penelitian ......................................................................................
Definisi Istilah...............................................................................................

1
1
7
8
8
10

TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................................
System of Rice Intensification (SRI)..............................................................
Subak ............................................................................................................
Karakteristik Petani Anggota Subak ..............................................................
Kompetensi Penyuluh....................................................................................
Kompetensi Pengurus Subak .........................................................................
Persepsi.........................................................................................................
Sikap .............................................................................................................
Community Development Menuju Kemandirian Petani ..................................
Perilaku .........................................................................................................
Proses Adopsi Inovasi dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya ..................
Kecepatan Adopsi .........................................................................................
Model Logik Penelitian .................................................................................

13
13
20
22
26
27
31
35
54
56
57
66
68

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS ..........................................................
Kerangka Berpikir .........................................................................................
Hipotesis Penelitian .......................................................................................

73
73
81

METODE PENELITIAN ........................................................................................
Desain Penelitian..........................................................................................
Populasi dan Sampel .....................................................................................
Data dan Instrumentasi ..................................................................................
Instrumen Penelitian......................................................................................
Uji Kesahihan (Validity Test) ..............................................................
Reliabilitas Instrumen ..........................................................................
Pengumpulan Data ........................................................................................
Analisis Data .................................................................................................

83
83
84
85
97
97
98
98
99

HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................................
Gambaran Umum Lokasi Penelitian ..............................................................
Hasil .............................................................................................................
Pembahasan ..................................................................................................
Model Peningkatan Kapasitas Anggota Subak untuk Mengadopsi SRI di
Bali ...............................................................................................................

103
103
105
122
133

KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................................
Kesimpulan ...................................................................................................
Saran.............................................................................................................

141
141
142

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................

143

LAMPIRAN ...........................................................................................................

151

xv

DAFTAR TABEL

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.

Halaman
Perbandingan SRI dan metode konvensional .....................................
20
Sebaran data populasi dan sampel penelitian .....................................
85
Peubah dan indikator peubah penelitian.............................................
86
Pengukuran peubah karakteristik anggota dan pengurus subak (X 1 ) ..
88
89
Kompetensi fasilitator (X 2 ) ..............................................................
Kompetensi pengurus subak (X 3 ) .....................................................
90
91
Persepsi anggota subak tentang SRI (Y 1 ) .........................................
Sikap anggota subak tentang SRI (Y 2 ) .............................................
92
93
Kemandirian Anggota Subak (Y 3 )....................................................
Pengadopsian SRI (Y 4 ) .....................................................................
94
Pengujian model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak.........
100
Luas wilayah, jumlah kecamatan dan Dewsa per Kabupaten se Bali
Tahun 2007 .......................................................................................
103
Sebaran karakteristik petani anggota subak dalam pengadopsian SRI
107
Distribusi responden berdasarkan kompetensi fasilitator....................
109
Distribusi responden berdasarkan kompetensi pengurus subak ..........
111
Persepsi anggota subak tentang SRI ..................................................
113
Sikap anggota subak terhadap SRI ....................................................
114
Kemandirian anggota subak menerapkan SRI....................................
116
Dekomposisi antar peubah pengadopsian SRI....................................
119

xvi

DAFTAR GAMBAR

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

Bibit padi siap ditanam pada SRI ....................................................
Pemindahan bibit pada SRI ............................................................
Pengelolaan air pada SRI ................................................................
Jarak tanam pada SRI ......................................................................
Diperlukan pengendalian gulma lebih cermat pada SRI ...................
Persepsi...........................................................................................
Hubungan antara nilai, sikap, nilai, motif, dan dorongan .................
Sikap ...............................................................................................
Proses pengambilan keputusan inovasi ............................................
Faktor-Faktor yang mempengaruhi proses adopsi inovasi ...............
Hubungan proses komunikasi, proses adopsi dan berbagai metoda
penyuluhan .....................................................................................
Proses perubahan adopsi .................................................................
Model cervero program evaluasi .....................................................
Model logik penelitian ....................................................................
Kerangka berpikir penelitian ...........................................................
Model empiris untuk uji Structural Equation Model (SEM) .............
Hasil CFA peubah karakteristik individu petani ..............................
Hasil CFA peubah kompetensi fasilitator ........................................
Hasil CFA peubah kompetensi pengurus subak ...............................
Hasil CFA peubah persepsi anggota subak tentang SRI ...................
Hasil CFA peubah sikap anggota subak terhadap SRI .....................
Hasil CFA peubah kemandirian anggota subak menerapkan SRI .....
Hasil CFA peubah pengadopsian SRI dikalangan anggota subak .....
Pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI.........
Model Peningkatan Kapasitas Subak untuk Mengadopsi SRI di Bali

xvii

Halaman
17
17
18
18
19
34
36
43
60
63
64
65
66
69
80
101
108
110
112
113
115
116
117
118
134

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Peta wilayah Provinsi Bali .....................................................................
Hasi uji CFA peubah penelitian ..............................................................
Data deskriptif peubah penelitian ...........................................................
Kompetensi fasilitator ............................................................................
Kompetensi pengurus subak ...................................................................
Persepsi anggota subak tentang SRI .......................................................
Sikap anggota subak terhadap SRI .........................................................
Kemandirian anggota subak menerapkan SRI.........................................
Pengadopsian SRI di kalangan anggota subak ........................................
Perbandingan budidaya padi metode SRI dan konvensional ...................
Analisis usahatani SRI ...........................................................................
Hasil uji analisis SEM dengan software Lisrel Versi 8.3 .........................
Foto-foto penelitian ................................................................................

xviii

151
152
153
158
159
160
161
162
163
167
168
169
177

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Konferensi Bali dan berbagai organisasi dunia, baik lembaga swadaya
masyarakat maupun lembaga pemerintah, sudah mengakui dampak perubahan
iklim terhadap berbagai sektor, khususnya di sektor pertanian. Jika intensitas
bencana akibat pemanasan global makin sering dan tanpa ada upaya-upaya
adaptasi maka kegagalan panen akan makin sering terjadi dan pada akhirnya
berdampak

pada

ketahanan

pangan

nasional.

Pemanasan

global

telah

mengacaukan musim hujan dan musim kemarau. Para petani kini sulit
menentukan jenis varietas dan kalender tanam, karena iklim sulit diduga. Di
berbagai wilayah di Indonesia, kekeringan dan banjir menggagalkan produksi
pangan. Sawah banyak puso atau gagal panen yang disebabkan oleh kemarau
panjang dan banjir. Oleh sebab itu mesti ada upaya untuk mengatasi perubahan
iklim global dalam dunia pertanian.
Dari aspek pengelolaan air irigasi sawah pada umumnya dilakukan dengan
penggenangan secara terus-menerus; di lain pihak kesediaan air semakin terbatas.
Untuk itu diperlukan peningkatan efisiensi penggunaan air melalui usahatani
hemat air. Usahatani padi sawah metode System of Rice Intensification (SRI)
merupakan teknologi usahatani ramah lingkungan, efisiensi input melalui
pemberdayaan petani dan kearifan lokal.
SRI mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1997 dan telah
diujicobakan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara
Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Hasil penerapan SRI di
beberapa lokasi penelitian menunjukkan bahwa budidaya padi metode SRI telah
meningkatkan hasil dibandingkan dengan budidaya padi metode konvensional.
Anggota subak memiliki sejumlah alasan yang kuat untuk mengadopsi SRI
di sawahnya. SRI menggunakan benih yang lebih sedikit dibandingkan dengan
penanaman padi secara konvensional. Rata-rata benih yang digunakan berkisar
antara lima hingga 10 kg/ha. Dengan menggunakan benih yang lebih sedikit,
maka secara otomatis dapat menekan biaya yang mesti dikeluarkan untuk
pembelian benih sehingga dapat menekan ongkos produksi. Selain itu, petani

1

2

dapat memilih bermacam varietas yang sesuai dengan kondisi setempat yang telah
biasa mereka tanam.
Selain dapat menghemat benih, alasan lainnya adalah masa tanam padi
metode SRI lebih cepat dibandingkan dengan cara bertanam padi secara
konvensional. Pada SRI, umur delapan hingga 12 hari semaian siap ditanam
ketika baru tumbuh dua tangkai daun. Tujuannya adalah saat benih tumbuh lebih
memungkinkan untuk menghasilkan rumpun yang lebih banyak dan pertumbuhan
akar yang lebih banyak.
Anggota Subak tertarik menerapkan SRI di sawah mereka karena hemat
air. Dalam bercocok tanam padi secara konvensional pada umumnya dilakukan
dengan penggenangan secara terus menerus, di lain pihak kesediaan air semakin
terbatas. Sistem bercocok tanam padi metode SRI tidak membutuhkan air yang
berlebih. Namun, lahan tidak boleh mengalami kekeringan secara terus menerus
sehingga diperlukan manajemen air yang lebih baik. SRI memerlukan irigasi
berkala untuk menjaga tanah tetap basah.

Aktivitas pengairan yang terputus

(intermiten) harus dilakukan untuk memberikan kondisi aerobik dan anaerobik
bagi biota tanah untuk menyalurkan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Ini
bertujuan untuk memperkuat perakaran tanaman.
SRI menarik minat anggota subak untuk diterapkan pada sawah-sawah
mereka karena sedikit memerlukan pupuk dan pestisida buatan pabrik. Pupuk
menjadi input produksi yang memerlukan biaya semakin besar karena semakin
hari harganya semakin tinggi. Pemakaian pestisida yang cenderung berlebihan dan
tidak terkontrol mengakibatkan keseimbangan alam terganggu, musuh alami hama
menjadi punah sehingga banyak hama dan penyakit tanaman semakin tumbuh
berkembang dengan pesat, dan adanya residu pestisida pada hasil panen.
Jika anjuran bercocok tanam SRI diikuti dengan baik oleh anggota subak
maka padi metode SRI akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan metode
konvensional. Pada metode konvensional, benih padi mengalami proses adaptasi
yang panjang pada lingkungannya yang baru. Berbeda dengan SRI proses itu
tidak memerlukan waktu yang lama, sehingga benih yang ditanam lebih awal
dapat lebih cepat menyesuaikan diri dengan kondisi lahan. Dengan demikian

3

secara otomatis padi metode SRI memiliki umur panen yang lebih cepat
dibandingkan dengan metode konvensional.
Jumlah anakan/rumpun padi metode SRI lebih banyak dibandingkan
dengan metode konvensional. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota
subak untuk menerapkannya.

Jarak tanam yang lebih lebar memungkinkan

tanaman padi leluasa untuk mendapatkan bahan makanan yang tersedia tanpa
harus bersaing dengan tanaman padi yang ada di sekitarnya.

Hal ini akan

merangsang tumbuhnya anakan/rumpun yang jauh lebih banyak jika dibandingkan
dengan metode konvensional.
Kualitas batang dan daun padi metode SRI adalah lebih kuat. Hal ini
berawal dari menanam bibit lebih muda yang menyebabkan potensi tumbuhnya
tangkai dan akar tanaman akan semakin banyak dan kokoh. Hal ini dapat
meningkatkan minat anggota subak untuk menerapkan SRI, karena tanaman
tumbuh dengan sehat. Jika tanaman padi tumbuh dengan sehat maka padi metode
SRI lebih tahan terhadap berbagai penyakit.

Selain itu, tanaman juga akan

semakin kokoh karena ditopang oleh akar-akar yang sehat, sehingga petani tidak
merasa khawatir tanaman mereka roboh jika diterpa hujan dan angin yang kuat.
Padi metode SRI lebih bernas karena pertumbuhan tanaman menjadi lebih
optimal jika dibandingkan dengan metode konvensional. Selain itu jumlah bulir
padi lebih banyak sesuai dengan jumlah anakannya. Hal ini yang menjadi alasan
lainnya anggota subak menerapkan SRI pada lahan usaha taninya. Alasan lain
anggota subak menerapkan SRI adalah waktu panen yang lebih cepat.

Padi

metode SRI dapat menghemat waktu hingga 10 hari jika dibandingkan dengan
metode konvensional.
Rasa nasi padi metode SRI adalah lebih enak. Tidak digunakannya pupuk
anorganik dan pestisida menghasilkan beras yang alami, sehingga rasa nasi padi
metode SRI lebih enak dibandingkan padi yang menggunakan pupuk buatan dan
pestisida yang berlebihan. Alasan ini semakin menguatkan anggota subak untuk
menerapkan SRI di lahan usahataninya.
Pada akhirnya, alasan yang paling kuat anggota subak menerapkan SRI
adalah keuntungan yang lebih besar. Pada metode SRI jerami lebih tinggi dan
bulir padi lebih bernas, menghemat waktu hingga 10 hari, sedikit bahkan tidak

4

sama sekali memakai bahan kimia, lebih hemat air dibandingkan dengan metode
konvensional, sedikit bulir padi yang kosong, meningkatkan ketahanan tanaman
dari angin, dan lahan semakin sehat karena terjadi aktivitas biologis dalam tanah.
Secara ilmiah, SRI telah menunjukkan hasil-hasil yang sangat baik dan
menjanjikan cara becocok tanam padi yang intensif dan dengan produksi yang
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan cara bercocok tanam padi konvensional.
Kenyataannya, inovasi SRI baru diadopsi oleh sebagian kecil angota subak di
seluruh Bali. Hal inilah yang menjadikan minat penulis untuk meneliti lebih jauh
faktor-faktor yang memengaruhi anggota subak menerapkan metode SRI pada
lahan usahataninya.
Banyak perubahan yang terjadi pada level individual, dimana seseorang
bertindak sebagai individu yang menerima atau menolak inovasi. Perubahan pada
level ini disebut dengan bermacam-macam nama, antara lain difusi, adopsi,
modernisasi, akulturasi, belajar atau sosialisasi. Perubahan juga terjadi pada level
sistem sosial. Ada berbagai istilah yang dipakai untuk perubahan macam ini,
misalnya pembangunan, sosialisasi, integrasi atau adaptasi.
Perubahan pada kedua level itu berhubungan erat. Subak adalah suatu
sistem sosial, maka pengadopsian SRI akan membawa pada proses pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh anggota subak untuk mengubah cara bertaninya
dari cara-cara konvensional ke penerapan SRI. Perubahan pada sebagian anggota
subak akan menyebabkan perubahan pada subak sebagai suatu sistim sosial.
Keputusan anggota subak untuk mengadopsi SRI akan diikuti dengan perubahan
pada cara-cara bertani yang ada pada sistem sosial subak di Bali.
Dibalik semua itu, semua analisis perubahan sosial harus memusatkan
perhatian pada proses belajar anggota subak. Masuknya inovasi SRI ke dalam
sistem sosial subak tidak semata-mata sebagai proses alih teknologi dari metode
konvensional ke metode SRI, tetapi lebih pada proses belajar anggota subak di
dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Semua inovasi pasti mempunyai komponen ide, tetapi banyak inovasi
yang tidak memiliki wujud fisik misalnya ideologi. Inovasi yang tidak memiliki
wujud fisik tidak dapat diadopsi secara fisik, pengadopsiannya hanyalah berupa
keputusan simbolis.

Sedangkan inovasi yang mempunyai komponen ide dan

5

komponen objek (fisik) seperti yang terdapat pada SRI, pengadopsiannya akan
diikuti keputusan tindakan berupa tingkah laku nyata.
Penerimaan atau penolakan suatu inovasi adalah keputusan yang dibuat
oleh seseorang.

Jika seseorang menerima (mengadopsi) inovasi, dia mulai

menggunakan ide baru, praktek baru atau barang baru itu dan menghentikan
penggunaan ide-ide yang digantikan oleh inovasi itu. Keputusan inovasi adalah
proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil
keputusan untuk menerima atau menolaknya kemudian mengukuhkannya.
Keputusan inovasi merupakan suatu tipe pengambilan keputusan yang khas;
Keputusan ini mempunyai cici-ciri dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak
diketemukan dalam situasi pembuatan keputusan yang lain. Faktor-faktor yang
memengaruhi pengambilan keputusan untuk menerima ataupun menolak suatu
inovasi menjadi topik utama penelitian ini.

Untuk membahas faktor-faktor

tersebut akan melibatkan pengertian-pengertian tentang belajar dan pengambilan
keputusan dari teori-teori dan konseptualisasi proses keputusan inovasi.
Penyebaran suatu inovasi tidak bisa terpelas dari peranan agen pembaru
dalam usaha memengaruhi keputusan inovasi yang diambil anggota subak.
Kenyataannya, masih sering ditemukan jarak pemisah antara agen pembaru
dengan orang-orang atau sistem sosial yang menjadi sasarannya, karena mereka
berbeda dalam bahasa, status sosial ekonomi, kemampuan teknis maupun nilainilai dan sikap-sikapnya. Kesenjangan yang demikian tidak hanya dengan sistim
kliennya, tetapi kadang-kadang juga dengan atasannya di lembaga penyuluhan
dimana agen pembaru itu bekerja. Hal yang demikian ini sering mengakibatkan
terjadinya konflik peranan pada diri agen pembaru dan kesulitan-kesulitan
berkomunikasi. Sebagai jembatan dua sistem sosial, agen pembaru diharapkan
menjadi seseorang yang tetap melaksanakan tugas intansinya dan juga
memperjuangkan kepentingan petani, ibaratnya sebelah kakinya ditaruh di
lembaga pembaru sedang sebelah kaki lainnya diletakkan di sistem kliennya.
Difusi SRI akan lebih berhasil jika agen pembaru mengenal dan dapat
menggerakkan para pengurus subak sebagai tokoh masyarakat setempat. Waktu
dan tenaga agen pembaru untuk menyebarluaskan SRI terbatas. Jika agen
pembaru

mengarahkan

komunikasinya,

memusatkan

usahanya

untuk

6

memengaruhi pengurus subak, maka agen pembaru dapat menghemat tenaga,
biaya, dan sosial. Dengan menghubungi tokoh masyarakat berarti agen pembaru
tidak perlu lagi menghubungi semua anggota subak satu persatu, karena setelah
sampai ke pengurus subak SRI akan lebih cepat tersebar.
Pembentukan persepsi anggota subak tentang SRI yang baik menjadi
masalah tersendiri bagi agen pembaru. Agen pembaru cenderung memberikan
jawaban terhadap stimuli berdasarkan kebiasaan, dan jawaban tersebut akan rusak
jika ditata dalam situasi yang baru.

Masalah demikian sering dihadapi agen

pembaru yang melayani kliennya dengan latar belakang budaya yang beragam.
Agen pembaru yang telatih dan berasal dari daerah perkotaan biasanya harus
belajar untuk mengamati situasi pertanian, karena yang diajak bekerjsama dan
mengamati sesuatu adalah orang-orang dengan latar belakang yang berbeda.
Anggota subak mungkin memandang kondisi tertentu dengan cara berbeda.
Sebelum anggota subak mengenal SRI, maka anggota subak tidak dapat
membentuk sikap tertentu terhadap SRI. Kepribadian anggota subak, begitu pula
norma-norma sistem sosialnya memengaruhi anggota subak mencari informasi,
pesan apa saja yang belum diterima, dan bagaimana menafsir keterangan yang
diperoleh itu untuk kelangsungan usahataninya. Dengan demikian persepsi
penting dalam menentukan perilaku komunikasi anggota subak pada tahap
penentuan sikap terhadap metode SRI. Ciri-ciri inovasi yang tampak seperti
keuntungan relatif, kompatibilitas, dan kerumitan atau kesederhanaannya sangat
penting artinya pada tahap anggota subak mempersepsikan inovasi SRI.
Dalam mengembangkan sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap SRI,
anggota subak menerapkan ide baru itu secara mental pada situasi dirinya
sekarang atau masa mendatang sebelum menentukan apakah akan mencobanya
atau tidak. Proses mental ini dapat dianggap sebagai percobaan pengganti
(semacam penilaian, namun berbeda dengan percobaan inovasi secara fisik yang
dipandang sebagai bagian dari tahap keputusan). Setiap inovasi termasuk SRI
mengandung risiko subyektif tertentu pada anggota subak. Anggota subak belum
tahu persis akibat atau hasil yang akan diperoleh dari SRI, karena itu anggota
subak perlu memperkuat sikap terhadap SRI.

7

Tujuan akhir seorang agen pembaru adalah berkembangnya perilaku
“memperbarui diri sendiri” pada anggota subak. Dengan kata lain, penyuluhan
pertanian menghasilkan petani pembelajar, petani penemu ilmu dan teknologi,
petani pengusaha agribisnis yang unggul, petani pemimpin di masyarakatnya,
petani “guru” dari petani lain yang bersifat mandiri. Sifat mandiri meliputi
kemandirian material, kemandirian intelektual, dan kemandirian pembinaan.
Kemandirian material artinya anggota subak memiliki kapasitas untuk
memanfaatkan secara optimal potensi sumberdaya alam yang mereka miliki
sendiri tanpa harus menunggu bantuan orang lain atau tergantung dari luar.
Kemandirian intelektual artinya anggota subak memiliki kapasitas untuk
mengkritisi dan mengemukakan pendapat tanpa dibayang-bayangi rasa takut atau
tekanan dari pihak lain. Kemandirian pembinaan artinya anggota subak memiliki
kapasitas untuk mengembangkan dirinya sendiri melalui proses belajar tanpa
harus tergantung atau menunggu sampai adanya “pembina” atau “agen pembaru”
dari luar sebagai “guru” mereka.
Masalah Penelitian
Proses resosialisasi sangat diperlukan untuk mengembangkan program
belajar pada masyarakat tani.

Proses resosialisasi ini penting karena proses

sosialisasi cara bertani yang didapat dari nenek moyangnya tidak cukup dan tidak
memadai untuk dijadikan bekal bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa
depan. Dengan demikian, petani sangat memerlukan wadah untuk belajar kembali
tentang teknik bertani yang lebih baik.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan
masalah penelitian sebagai berikut:
(1) Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan
anggota subak;
(2) Bagaimanakah pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI,
sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak
menerapkan SRI terhadap pengadopsian metode SRI di kalangan anggota
subak;
(3) Bagaimanakah hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang
memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak; dan

8

(4) Bagaimanakah model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak yang
sesuai dengan sistem sosial subak di Bali.
Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan suatu model peningkatan
kapasitas subak untuk mengadopsi SRI di Bali, sehingga petani memiliki tempat
untuk belajar, saling tukar menukar informasi, dan pengalaman, serta memiliki
ikatan yang kuat di antara sesama petani. Dengan demikian, petani memiliki
kekuatan untuk memecahkan masalah bersama-sama dengan dukungan nilai-nilai
tradisional yang sudah ada sejak dahulu kala.
Berdasarkan masalah penelitian, maka dirumuskan tujuan penelitian secara
lebih spesifik sebagai berikut.
(1) Menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan
anggota subak.
(2) Menganalisis pengaruh faktor-faktor persepsi anggota subak tentang SRI,
sikap anggota subak terhadap SRI, dan kemandirian anggota subak
menerapkan SRI terhadap pengadopsian SRI di kalangan anggota subak.
(3) Menganalisis hubungan kausalitas (sebab-akibat) diantara faktor-faktor yang
memengaruhi pengadopsian SRI di kalangan anggota subak
(4) Merumuskan model pengadopsian SRI di kalangan anggota subak yang sesuai
dengan sistem sosial subak.
Kegunaan Penelitian
Perubahan iklim global menjadi dasar kajian dalam penelitian ini, karena
salah satu akibat dari perubahan iklim global tersebut menyebabkan kelangkaan
sumber daya alam terutama air irigasi. Padahal air irigasi adalah sumber
kehidupan untuk kelangsungan hidup pertanian di negeri ini.
Subak sebagai lembaga tradisional pengelola air irigasi di Bali memiliki
potensi yang besar untuk menerima inovasi dan dikembangkan menjadi wahana
belajar petani. Dengan peningkatan kapasitas subak menjadi wahana belajar
petani maka diharapkan penelitian ini berguna dalam merumuskan konsep-konsep
dasar pengembangan subak sebagai wahana belajar petani. Dengan dukungan
konsep-konsep dasar yang strategis maka penelitian ini dapat memberikan

9

kontribusi yang berharga untuk memberikan solusi penyelesaian masalah yang
terkait dengan isu-isu lemahnya sumberdaya manusia, penguatan kelembagaan
tradisional, menurunnya fungsi lingkungan, ketahanan pangan, dan kesehatan.
Hasil penelitian tentang adopsi SRI dapat dimanfaatkan dalam kegiatan
penyuluhan, sehingga proses adopsi SRI oleh anggota subak dapat dipercepat.
Adapun implikasi penelitian adopsi SRI terhadap kegiatan penyuluhan adalah: (1)
Penyuluh dapat memilih dan mengembangkan berbagai sumber informasi yang
digunakan pada awal dan akhir proses adopsi metode SRI; (2) Media sangat
berperan menarik minat untuk melakukan komunikasi pribadi mengenai SRI,
penyuluhan akan efektif apabila ada tindak lanjut di lapangan. Contohnya: (a)
Siaran pedesaan tentang SRI. Walaupun minat masyarakat tani dapat
ditumbuhkan untuk menerapkan SRI, namun bila tidak ada tindak lanjut (diskusi,
denplot yang didampingi penyuluh) kegiatan ini tidak ada gunanya, (b)
Penempelan poster “SRI pola tanam masa kini” memang dapat menumbuhkan
minat dan kesadaran, tapi tidak ada gunanya jika tidak diikuti tindak lanjut, dan
(3) Agen penyuluh dapat membantu anggota subak untuk meningkatkan kapasitas
subak sebagai wahana belajar dan lembaga ekonomi sehingga menjadi lebih kuat
menghadapi penjual, pemberi kredit, dan/atau tuan tanah. Apabila ini dilakukan
akan mengubah suatu sistem yang lebih berpihak kepada yang lemah.
Penelitian ini juga berguna kepada anggota subak baik yang telah
mengadopsi SRI maupun yang belum mengadopsi SRI. Kepada anggota subak
yang telah mengadopsi SRI, hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan dan
dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki paket-paket teknologi SRI yang
belum diterapkan ataupun penerapannya di lapangan belum sempurna, sehingga
dapat meningkatkan kualitas penerapan SRI di masa depan. Kepada anggota
subak

yang

belum

menerapkan

SRI,

hasil

penelitian

ini

sebagai

stimuli/rangsangan menumbuhkan minat untuk menerapkan SRI di lahan
usahataninya, sehingga penyebaran SRI di kalangan anggota subak semakin cepat.
Kepada pengurus subak, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan
untuk menjadikan subak sebagai tempat belajar petani anggotanya untuk
mempertimbangkan, menilai, mencoba, dan menerapkan suatu inovasi baru yang
masuk ke dalam lembaga tradisional yang dipimpinnya, dan hasil penelitian ini

10

dapat dijadikan inspirasi bahwa subak yang dipimpinnya mempunyai potensi
untuk dikembangkan sebagai lembaga tradisional yang tidak hanya mengelola air
irigasi tetapi juga sebagai tempat belajar, tempat penguatan ekonomi pedesaan
terutama sebagai penyedia sarana produksi yang diperlukan anggotanya.
Penelitian ini juga berguna dalam pengembangan ilmu penyuluhan
pembangunan di masa depan. Diketahuinya faktor-faktor yang memengaruhi
adopsi inovasi pertanian dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut untuk
menyusun informasi, program, dan aksi penyuluhan yang sesuai dengan
kebutuhan petani.
Definisi Istilah
Subak:
Subak adalah lembaga irigasi tradisional di Bali yang berfungsi sebagai pengelola
air untuk memproduksi pangan, khususnya beras yang bersifat socio-agrarisreligius.
Karakteristik anggota subak:
Karakteristik

anggota

dan

pengurus

subak

merupakan

kondisi

yang

menggambarkan ciri atau profil seseorang atau sekelompok orang yang
membedakannya dengan individu atau kelompok lain.
Kompetensi Penyuluh:
Kompetensi penyuluh adalah kemampuan seseorang untuk mengubah perilaku
masyarakat menuju kondisi yang lebih bermutu, sekaligus mencapai tujuan
program intervensi. Peubah ini diukur berdasarkan kemampuan berkomunikasi,
kemampuan memotivasi, dan kemampuan melakukan transfer belajar. Transfer
belajar berarti kemampuan seseorang unt

Dokumen yang terkait

Factors influence subak members in adopting system of rice intensification (sri) in seven regencies in the Province of Bali