Respons Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max(L.) Merrill) Terhadap Pemberian Debu Vulkanik Hasil Erupsi Gunung Sinabung Dan Pupuk Kandang Sapi

47 RESPONS PERTUMBUHAN DANPRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill)
TERHADAP PEMBERIAN DEBU VULKANIK HASIL ERUPSI GUNUNG SINABUNG DAN PUPUK KANDANG SAPI
SKRIPSI
Oleh: ELSA ANGELITA
100301026
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2015

48 RESPONS PERTUMBUHAN DANPRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill)
TERHADAP PEMBERIAN DEBU VULKANIK HASIL ERUPSI GUNUNG SINABUNG DAN PUPUK KANDANG SAPI
SKRIPSI
Oleh: ELSA ANGELITA 100301026 / BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar sarjana di Fakultas PertanianUniversitas Sumatera Utara, Medan.
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2015

49

Judul Skripsi
Nama NIM Program Studi Minat

:Respons Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max(L.) Merrill) Terhadap Pemberian Debu Vulkanik Hasil Erupsi Gunung Sinabung Dan Pupuk Kandang Sapi
: Elsa Angelita : 100301026 : Agroekoteknologi : Budidaya Pertanian dan Perkebunan

Disetujui Oleh: Komisi Pembimbing

Ir. Jonis Ginting, MS. Ketua

Ferry Ezra T Sitepu S.P., M.Si Anggota
Mengetahui,

Prof. Dr. Ir. T. Sabrina, M.Sc. Ketua Program Studi Agroekoteknologi

i ABSTRACT ELSA ANGELITA: Response Growth and Production of Soybean (Glycine max (L.) Merrill) against the giving of Results of Volcanic Ash Eruption of Sinabung Mount and Cow Manure. Supervised by JONIS GINTING and FERRY EZRA T SITEPU. This research was conducted at the Research Institute of Tobacco Deli Sampali PTPN II, Medan at a height of ± 25 meters above sea level from October to January 2015. This research used a randomized block design (RAK) with factorial. The first factor is the provision of Results of Volcanic Ash Eruption of Sinabung Mount with four treatments, Vo: Control (Topsoil), V1: Topsoil: Volcanic Ash (100 g), V2: Topsoil: Volcanic Ash (150 g), V3: Topsoil: Volcanic Ash (200 g) and the second factor is cow manure with four treatments, Po: Control, P1: 68 g / polybag (0.5 Kg), P2: 136 g / polybag (1 Kg), P3: 204 g / polybag ( 1.5 Kg). The results showed that the best treatment of volcanic ash was on the treatment without volcanic ash (Vo)plant height, leaf number 5 WAP and 100-seed weight. Treatment of cow manure is best in treatment of 1.5 kg of cow manure (P3) at leaf number 6 WAP, root dry weight, shoot dry weight, number of pods per sample, 100-seed weight and seed yield per plant. Interaction ofResults of Volcanic Ash Eruption of Sinabung Mount and Cow Manure best treatment in combination treatment with volcanic ash 150 g with 1 kg of cow manure (V2P2). Keywords: Soybean, volcanic ash, cow manure.
i

ii ABSTRAK ELSA ANGELITA: Respons Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai(Glycine max (L.) Merrill)terhadap Pemberian Debu Vulkanik Hasil Erupsi Gunung Sinabung dan Pupuk Kandang Sapi.Dibimbing oleh JONIS GINTING dan FERRY EZRA T. SITEPU. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian Tembakau Deli Sampali PTPN II, Medan pada ketinggian + 25 meter di atas permukaan laut dari bulan Oktober sampai Januari 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial.Faktor pertama adalah pemberian debu vulkanik hasil erupsi gunung sinabung dengan empat perlakuan yaitu Vo: Kontrol (Topsoil), V1: Topsoil : Abu Vulkanik (100 g), V2: Topsoil : Abu Vulkanik (150 g), V3: Topsoil : Abu Vulkanik (200 g)dan faktor kedua adalah pemberian pupuk kandang sapi dengan empat perlakuan yaitu Po : Kontrol, P1: 68 g/polibeg (0,5 Kg), P2: 136 g/polibeg (1 Kg), P3: 204 g/polibeg (1,5 Kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan debu vulkanik terbaik pada perlakuan tanpa debu vulkanik (Vo) pada parameter tinggi tanaman 5 MST, jumlah daun 5 MST dan bobot 100 biji. Perlakuan pupuk kandang sapi yang terbaik pada perlakuan 1,5 kg pupuk kandang sapi (P3) pada parameter jumlah daun 6 MST, bobot kering akar, bobot kering tajuk, jumlah polong per sample, bobot 100 biji dan produksi biji per tanaman. Interaksi kedua perlakuan terbaik pada kombinasi perlakuan debu vulkanik 150 g dengan pupuk kandang sapi 1 Kg (V2P2). Kata kunci: Kedelai, debu vulkanik, pupuk kandang sapi.
ii

iii RIWAYAT HIDUP Penulis lahir pada 6 Oktober 1991 di Medan, anak ke-1 dari 2 bersaudara dari ayahanda Toga Manurung dan Ibunda Yuni Sitorus. Pendidikan formal yang telah diperoleh penulis antara lain tahun 1998 – 2004 menempuh pendidikan dasar di SD RK BUDI MURNI 6Medan; tahun 2004 – 2007 menempuh pendidikan di SMP SWASTA GAJAH MADAMedan; tahun 2007 - 2010 menempuh pendidikan di SMAN 7Medan dan terdaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur ujian masuk bersama (UMB) pada tahun 2010. Penulis memilih program studi Agroekoteknologi minat Budidaya Pertanian dan Perkebunan (BPP). Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai asisten Laboratorium Tanaman Penyegar (2014). Penulis juga anggota dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate (BSRE) Pematang Siantar pada bulan Juli – Agustus 2013.
iii

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat

dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Respons Pertumbuhan dan Produksi Tanaman

Kedelai(Glycine max (L.)Merrill)terhadap Pemberian Debu VulkanikHasil Erupsi Gunung

Sinabung dan Pupuk Kandang Sapi” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh

gelar sarjana Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda Toga Manurung dan Ibunda Yuni

Sitorus yang tak hentinya memberikan cinta kasih dan dukungan baik secara moril maupun

materi hingga saat ini.Juga kepada adinda Rina Manurung.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih pada

dosen

pembimbing yaitu, bapak Ir. Jonis Ginting, MS., selaku ketua komisi pembimbing dan bapak

Ferry Ezra Sitepu S.P., M.Si, selaku anggota komisi pembimbing yang telah membantu penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Balai Penelitian Tembakau Deli Sampali

PTPN II Medan dan teman – teman Agroekoteknologi angkatan 2010, dan semua pihak yang

tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi

kita semua.

Medan, Mei 2015

Penulis

iv

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT..................................................................................................... i ABSTRAK ..................................................................................................... ii RIWAYAT HIDUP........................................................................................ iii KATA PENGANTAR ................................................................................... iv DAFTAR ISI ................................................................................................. v DAFTAR TABEL.......................................................................................... vii DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. ix

PENDAHULUAN

Latar Belakang .............................................................................................. Tujuan Penelitian .......................................................................................... Hipotesis Penelitian ....................................................................................... Kegunaan Penelitian ......................................................................................

1 4 4 4

TINJAUAN PUSTAKA

Debu Vulkanik Gunung Sinabung ................................................................. Kelebihan dan Kekurangan Debu Vulkanik .................................................. Pengaruh Debu Vulkanik Terhadap Tanah dan Tanaman ............................. Pupuk Kandang Sapi ...................................................................................... Kelebihan dan Kekurangan Pupuk Kandang Sapi .........................................

5 6 6 7 7

BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................................... 12 Bahan dan Alat .............................................................................................. 12 Metode Penelitian .......................................................................................... 12
PELAKSANAAN PENELITIAN
Persiapan Lahan ............................................................................................ 15 Penanaman Benih .......................................................................................... 15 Persiapan Media Tanam ................................................................................. 15 Persiapan Debu Vulkanik dan Pupuk Kandang Sapi ..................................... 15 Penanaman ..................................................................................................... 16 Penjarangan .................................................................................................... 16 Pemeliharaan .................................................................................................. 16
Penyiraman.............................................................................................. 16 Penyiangan .............................................................................................. 16 Pengendalian Hama dan Penyakit........................................................... 16 Panen ............................................................................................................. 16 Pengamatan Parameter .................................................................................. 17 Tinggi Tanaman (cm) ............................................................................. 17 Jumlah Daun (helai) ............................................................................... 17 Diameter Batang (mm) ........................................................................... 17 Umur Berbunga (hari) ............................................................................ 17 Bobot Kering Akar (g) ........................................................................... 17 Bobot Kering Tajuk (g)........................................................................... 18 Jumlah Polong per Tanaman (polong) ................................................... 18 Produksi Biji per Tanaman (g)................................................................ 18

v

v

Bobot 100 Biji (g) ................................................................................... 18
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil .............................................................................................................. 19 Pembahasan ................................................................................................... 33
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan .................................................................................................... 37 Saran............................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 38 LAMPIRAN................................................................................................... 41

vi

vi

DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Tinggi tanaman (cm) kedelai perlakuan olah debu vulkanik dan pupuk kandang sapi pada umur 3 – 6 MST ..................................................................................... 20
2. Jumlah daun (helai) kedelai perlakuan olah debu vulkanik dan pupuk kandang sapi pada umur 3 – 6 MST ...................................................................................... 22
3. Diameter batang (mm) kedelai perlakuan olah debu vulkanik dan pupuk kandang sapipada umur 3 – 6 MST ........................................................................ 26
4. Umur berbunga (hari)kedelai perlakuan debu vulkanik dan pupuk kandang sapi.. 28
5. Umur panen (hari)kedelai perlakuan olah debu vulkanik dan pupuk kandang sapi .......................................................................................................................... 29
6. Bobot kering akar (g)kedelai perlakuan olah debu vulkanik dan pupuk kandang sapi .......................................................................................................................... 29
7. Bobot kering tajuk (g)kedelai perlakuan olah debu vulkanik dan pupuk kandang sapi .......................................................................................................................... 30
8. Jumlah polong per tanaman (polong)kedelai perlakuan olah debu vulkanik dan pupuk kandang sapi................................................................................................. 31
9. Produksi biji per tanaman (g)kedelai perlakuan olahdebu vulkanik dan pupuk kandang sapi............................................................................................................ 32
10. Bobot 100 biji(g)kedelai perlakuan olah debu vulkanik dan pupuk kandang sapi . 32

vii

vii

DAFTAR LAMPIRAN No. Halaman 1. Bagan Lahan Penelitian ............................................................................... 47 2. Bagan Plot Penelitian................................................................................... 48 3. Jadwal Kegiatan Penelitian.......................................................................... 49 4. Deskripsi Varietas Grobokan....................................................................... 50 5. Data Analisis Tanah..................................................................................... 52 6. Data Analisis Pupuk Kandang Sapi ............................................................. 53 7. Data Analisis Debu Vulkanik Awal ............................................................ 54 8. Data Analisis Debu Vulkanik Akhir............................................................ 55 9. Foto Penelitian ............................................................................................. 56 10. Data Pengamatan Tinggi Tanaman Kedelai Umur 3 MST (cm) ................. 60 11. Sidik Ragam Tinggi Tanaman Kedelai Umur 3 MST ................................ 60 12. Data Pengamatan Tinggi Tanaman Kedelai Umur 4 MST (cm) ................. 61 13. Sidik Ragam Tinggi Tanaman Kedelai Umur 4 MST ................................. 61 14. Data Pengamatan Tinggi Tanaman Kedelai Umur 5 MST (cm) ................. 62 15. Sidik Ragam Tinggi Tanaman Sorgum Umur 5 MST................................. 62 16. Data Pengamatan Tinggi Tanaman Kedelai Umur 6 MST (cm) ................. 63 17. Sidik Ragam Tinggi Tanaman Kedelai Umur 6 MST ................................. 63 18. Data Pengamatan Jumlah Daun Kedelai Umur 3 MST (helai).................... 64 19. Sidik Ragam Jumlah DaunKedelaiUmur 3 MST ....................................... 64 20. Data Pengamatan Jumlah Daun Kedelai Umur 4 MST (helai).................... 65 21. Sidik Ragam Jumlah Daun Kedelai Umur 4 MST ...................................... 65 22. Data Pengamatan Jumlah Daun Kedelai Umur 5 MST (helai).................... 66 23. Sidik Ragam Jumlah Daun Kedelai Umur 5 MST ...................................... 66 24. Data Pengamatan Jumlah Daun Kedelai Umur 6 MST (helai).................... 67 25. Sidik Ragam Jumlah Daun Kedelai Umur 6 MST ...................................... 67 26. Data Pengamatan Diameter Batang Kedelai Umur 3 MST (mm) ............... 68
viii

viii

27. Sidik Ragam Diameter Batang Kedelai Umur 3 MST ................................ 68 28. Data Transformasi (√x + 0,5) Diameter Batang Tanaman Kedelai 3
MST (cm) ................................................................................................... 69
29. Sidik Ragam Transformasi√(x + 0,5) diameter Batang Tanaman Kedelai 3 MST (cm)................................................................................... 69
30. Data Pengamatan Diameter Batang Kedelai Umur 4 MST (mm) ............... 70 31. Sidik Ragam Diameter Batang Kedelai Umur 4 MST ................................ 70 32. Data Transformasi (√x + 0,5) Diameter Batang Tanaman Kedelai 4
MST (cm) ................................................................................................... 71
33. Sidik Ragam Transformasi (√x + 0,5) Diameter Batang Tanaman Kedelai 4 MST (cm)................................................................................... 71
34. Data Pengamatan Diameter Batang Kedelai Umur 5 MST (mm) ............... 72 35. Sidik Ragam Diameter Batang Kedelai Umur 5 MST ................................ 72 36. Data Pengamatan Diameter Batang Kedelai Umur 6 MST (mm) ............... 73 37. Sidik Ragam Diameter BatangKedelaiUmur 6 MST .................................. 73 38. Data Pengamatan Umur BerbungaKedelai (hari) ........................................ 74 39. Sidik Ragam Umur Berbunga Kedelai (hari) .............................................. 74 40. Data Pengamatan Bobot Kering Akar (g) Kedelai ...................................... 75 41. Sidik Ragam Bobot Kering Akar Kedelai ................................................... 75 42. Data Pengamatan Bobot Kering Tajuk Kedelai (g) ..................................... 76 43. Sidik Ragam Bobot Kering Tajuk Kedelai .................................................. 76 44. Data Transformasi (√x+0,5) Berat Kering Tajuk Tanaman Kedelai (g)................ 77 45. Sidik Ragam Transformasi √(x+0,5) Berat Kering Tajuk Tanaman
Kedelai (g).................................................................................................. 77
46. Data PengamatanJumlah Polong per Tanaman Kedelai (polong) ............... 78 47. Sidik Ragam Jumlah Polong per TanamanKedelai (polong) ...................... 78 48. Data Pengamatan Produksi Biji per Tanaman Kedelai (g) .......................... 79 49. Sidik Ragam Produksi Biji per Tanaman Kedelai ....................................... 79 50. Data Pengamatan Produksi 100 biji Kedelai (g).......................................... 80 51. Sidik Ragam Produksi 100 biji Kedelai....................................................... 80
ix

ix

i ABSTRACT ELSA ANGELITA: Response Growth and Production of Soybean (Glycine max (L.) Merrill) against the giving of Results of Volcanic Ash Eruption of Sinabung Mount and Cow Manure. Supervised by JONIS GINTING and FERRY EZRA T SITEPU. This research was conducted at the Research Institute of Tobacco Deli Sampali PTPN II, Medan at a height of ± 25 meters above sea level from October to January 2015. This research used a randomized block design (RAK) with factorial. The first factor is the provision of Results of Volcanic Ash Eruption of Sinabung Mount with four treatments, Vo: Control (Topsoil), V1: Topsoil: Volcanic Ash (100 g), V2: Topsoil: Volcanic Ash (150 g), V3: Topsoil: Volcanic Ash (200 g) and the second factor is cow manure with four treatments, Po: Control, P1: 68 g / polybag (0.5 Kg), P2: 136 g / polybag (1 Kg), P3: 204 g / polybag ( 1.5 Kg). The results showed that the best treatment of volcanic ash was on the treatment without volcanic ash (Vo)plant height, leaf number 5 WAP and 100-seed weight. Treatment of cow manure is best in treatment of 1.5 kg of cow manure (P3) at leaf number 6 WAP, root dry weight, shoot dry weight, number of pods per sample, 100-seed weight and seed yield per plant. Interaction ofResults of Volcanic Ash Eruption of Sinabung Mount and Cow Manure best treatment in combination treatment with volcanic ash 150 g with 1 kg of cow manure (V2P2). Keywords: Soybean, volcanic ash, cow manure.
i

ii ABSTRAK ELSA ANGELITA: Respons Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai(Glycine max (L.) Merrill)terhadap Pemberian Debu Vulkanik Hasil Erupsi Gunung Sinabung dan Pupuk Kandang Sapi.Dibimbing oleh JONIS GINTING dan FERRY EZRA T. SITEPU. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian Tembakau Deli Sampali PTPN II, Medan pada ketinggian + 25 meter di atas permukaan laut dari bulan Oktober sampai Januari 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial.Faktor pertama adalah pemberian debu vulkanik hasil erupsi gunung sinabung dengan empat perlakuan yaitu Vo: Kontrol (Topsoil), V1: Topsoil : Abu Vulkanik (100 g), V2: Topsoil : Abu Vulkanik (150 g), V3: Topsoil : Abu Vulkanik (200 g)dan faktor kedua adalah pemberian pupuk kandang sapi dengan empat perlakuan yaitu Po : Kontrol, P1: 68 g/polibeg (0,5 Kg), P2: 136 g/polibeg (1 Kg), P3: 204 g/polibeg (1,5 Kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan debu vulkanik terbaik pada perlakuan tanpa debu vulkanik (Vo) pada parameter tinggi tanaman 5 MST, jumlah daun 5 MST dan bobot 100 biji. Perlakuan pupuk kandang sapi yang terbaik pada perlakuan 1,5 kg pupuk kandang sapi (P3) pada parameter jumlah daun 6 MST, bobot kering akar, bobot kering tajuk, jumlah polong per sample, bobot 100 biji dan produksi biji per tanaman. Interaksi kedua perlakuan terbaik pada kombinasi perlakuan debu vulkanik 150 g dengan pupuk kandang sapi 1 Kg (V2P2). Kata kunci: Kedelai, debu vulkanik, pupuk kandang sapi.
ii

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kedelai merupakan tanaman sumber protein yang murah, sehingga dapat digunakan

untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.Kebutuhan terhadap kedelai semakin meningkat

dari tahun ketahun sejalan dengan bertambahnya penduduk dan meningkatkan kesadaran

masyarakat terhadap makanan berprotein nabati. Data BPS 2007 dalam Budi (2006)

menyebutkan kebutuhan kedelai dalam negeri kurang lebih mencapai 2 juta ton/tahun, dimana

produksi dalam negeri tahun 2007 baru mencapai 608.263 ton. Produksi kedelai nasional dalam

8 tahun terakhir dari tahun 2000 sampai 2007 ternyata mengalami penurunan rata-rata sebesar

7,20 %.

Oleh karena itu perlu dilakukan modifikasi pada media tanam dan pemupukan pada

tanaman kedelai. Upaya meningkatkan produktivitas tanaman kedelai dapat dilakukan dengan

banyak cara. Produksi tanaman kedelai sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya, pengendalian

hama dan pemupukan yang dapat dilakukan melalui akar dan daun. Pemupukan melalui daun

dilakukan dengan menyemprotkan pupuk dalam bentuk cair pada tanaman secara

langsung.Metode ini merupakan metode yang efektif untuk memberikan hara yang terkandung

dalam pupuk, karena pupuk mudah masuk dan terserap ke dalam stomata.Hasil penelitian

terhadap ukuran membuka celah stomata daun kedelai

(Glycine max (L.) Merril var.

Lokon) pada pagi,siang dan sore hari, menunjukkan bahwa stomata membuka maksimal pada

pagi hari. Siang hari stomata tetap membuka tetapi tidak maksimal, untuk mengurangi terjadinya

penguapan, sedangkan pada sore hari terjadi pembukaan stomata lebih besar dari siang hari

(Meirina, 2006).

Abu vulkanik adalah bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat

terjadi suatu letusan dan dapat jatuh pada jarak mencapai ratusan bahkan ribuan kilometer dari

kawah karena pengaruh hembusan angin. Adanya abu vulkanik merupakan akibat dari proses

erupsi gunung berapi. Erupsi adalah fenomena keluarnya magma dari dalam bumi karena

2 dorongan dari gas yang bertekanan tinggi dalam perut bumi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusan gunung Merapi dinamakan “Letusan Tipe Merapi” oleh para ahli gunung api, karena kekhasan Merapi ketika meletus yang dicirikan dengan adanya luncuran awan panas yang biasa disebut “Wedhus Gembel” yang berarti bulu biri-biri. Secara tidak langsung unsur-unsur yang terkandung dalam abu vulkanik turut memberikan kontribusi pada kesuburan tanah di sekitar gunung Merapi (Ratdomopurbo, 2007).
Selain itu pupuk kandang dapat menambah ketersediaan bahan makanan (unsur hara) bagi tanaman yang dapat diserap dari dalam tanah.Selain itu, pupuk kandang mempunyai pengaruh positif terhadap sifat fisik dan kimiawi tanah, mendorong kehidupan (perkembangan) jasad renik.Menurut Buckman and Brady (1982) pupuk kandang mempunyai kemampuan mengubah faktor dalam tanah, sehingga menjadi faktor-faktor yang menjamin kesuburan tanah.
Dari uraian diatas maka abu vulkanik dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.Mineral tersebut berpotensi sebagai penambah cadangan mineral tanah, memperkaya susunan kimia dan memperbaiki sifat fisik tanah.Menurut Sediyarso (1987) dapat juga digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki tanah-tanah miskin hara atau tanah yang sudah mengalami pelapukan lanjut.
Penelitian pemberian debu vulkanik dan hasil erupsi gunung sinabung dan pupuk kandang sapi terhadap tanaman kedelai (Glycine maxL.Merrill) masih sedikit oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang judul respons pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine maxL.Merrill) terhadap pemberian debu vulkanik hasil erupsi gunung sinabung dan pupuk kandang sapi. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine maxL.Merrill) terhadap pemberian debu vulkanik hasil erupsi gunung sinabung dan pupuk kandang sapi.

3 Hipotesa Penelitian
Adanya pengaruh nyata terhadap pemberian abu vulkanik hasil erupsi gunung sinabung, pupuk organik kotoran sapi terhadap respons pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai (Glycine maxL. Merrill) serta interaksi keduanya. Kegunaan Penulisan
Penelitian ini berguna untuk mendapatkan kombinasi dosis yang ideal antara abu vulkanik hasil erupsi gunung sinabung dan pupuk organik kotoran sapi untuk menghasilkan pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine maxL. Merrill) serta sebagai salah satu syarat untuk dapat melakukanpenelitian di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

4 TINJAUAN PUSTAKA Debu Vulkanik Gunung Sinabung Abu vulkanik merupakan bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara pada saat terjadi letusan.Secara umum komposisi abu vulkanik terdiri atas Silika dan Kuarsa. Menurut Anda (2010) abu vulkanik mengandung mineral yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman dengan komposisi total unsur tertinggi yaitu Ca, Na, K dan Mg, unsur makro lain berupa P dan S, sedangkan unsur mikro terdiri dari Fe, Mn, Zn, Cu. Mineral tersebut berpotensi sebagai penambah cadangan mineral tanah, memperkaya susunan kimia dan memperbaiki sifat fisik tanah.Menurut Sediyarso (1987) dapat juga digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki tanah-tanah miskin hara atau tanah yang sudah mengalami pelapukan lanjut. Abu vulkanik juga dapat mengakibatkan terkontaminasinya air bersih, tersumbatnya saluran air, serta rusaknya fasilitas air bersih. Sumber air dan pasokan air terbuka lainnya, seperti sungai, danau, atau tangki air, pun sangat rentan terhadap hujan abu. Menurut Sediyarso (1987) abu yang bersifat asam, yang bersenyawa dengan hujan dan menjadi hujan asam, dapat membakar jaringan tanaman.Konsentrasi dan ketebalan abu yang tinggi dapat menyebabkan kematian pada beberapa tanaman.Demikian juga pasokan air untuk pertanian menjadi tercemar, sehingga risiko gagal panen menjadi semakin besar. Sebagai salah satu logam berat yang terkandung dalam mineral debu vulkanik Gunung Sinabubg adalah Tembaga (Cu). Menurut Barasa (2012) bahwa fungsi dan peranan CU antara lain mengaktifkan enzim sitokrom-oksidase, askorbit-oksidase, asam butirat –fenolase dan laktase. Berperan dalam metabolism protein dan karbohidrat, berperan dalam perkembangan tanaman generative serta berperan fiksasi N secara simbiotis dan penyusunan lignin. Tanah vulkanik/tanah gunung berapia dalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi dari letusan gunung berapi yang subur mengandung unsur hara yang tinggi .Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.Menurut Sudaryo (2009) tanah yang berkembang

5 dariabu vulkanik umumnya dicirikan oleh kandungan mineral liat allophan yang tinggi.Allophan adalah Alumino silikat amorf yang dengan bahan organik dapat membentuk ikatan kompleks. Di daerah yang kering, tanah dari abu vulkanik tersebut memiliki warna tanah yang tidak sehitam dari daerah lain. Kelebihan dan Kekurangan Debu Vulkanik
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lubis (2011) menunjukkan bahwa penambahan bahan media tanam berupa debu vulkanik gunung merapi dengan dosis yang semakin tinggi dapat meningkatkan tinggi tanaman, berat kering bagian atas dan panjang akar pada tanaman.
Abu vulkanik merupakan bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara pada saat terjadi letusan.Secara umum komposisi abu vulkanik terdiri atas Silika dan Kuarsa. Abu vulkanik mengandung mineral yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman dengan komposisi total unsur tertinggi yaitu Ca, Na, K dan Mg, unsur makro lain berupa P dan S, sedangkan unsur mikro terdiri dari Fe, Mn, Zn, Cu. Menurut hasil penelitian Sediyarso (1987) mineral tersebut berpotensi sebagai penambah cadangan mineral tanah, memperkaya susunan kimia dan memperbaiki sifat fisik tanah sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki tanah-tanah miskin hara atau tanah yang sudah mengalami pelapukan lanjut.
Dalam jangka panjang, abu vulkanik juga akan memberikan dampak yang sangat positif bagi peningkatan produktivitas tanah. Saat kadar keasaman dari abu vulkanik telah dapat dinormalisasi melalui proses alamiah ataupun dengan bantuan manusia menggunakan dolomit sebagai penetral. Menueut penelitian Hermawati (2010) maka kandungan mineral yang tersimpan dalam abu vulkanik akan menjadi pupuk alamiah yang sangat baik untuk perkembangan tanaman pertanian.
Debu vulkanik mengandung kation-kation basa yang dapat meningkatkan pH, KTK tanah serta Kejenuhan Basa (KB) yang mengakibatkan kesuburan tanah dan tanaman meningkat (Karmina, 2009).

6 Pengaruh Debu Vulkanik Terhadap Tanah dan Tanaman
Menurut hasil penelitian yang dilakukan (Rostman, dkk, 2011) menyatakan bahwa berdasarkan analisis tanah setelah diinkubasi, adanya penambahan debu vulkanik gunung merapi tidak selalu berpengaruh positif terhadap sifat kimia tanah.Akan tetapi kesuburan tanah mungkin berpengaruh negatif untuk jangka pendek karena kandungan mineral debu mungkin tersedia untuk diambil tanaman sehingga perlu dibantu dengan pemupukan untuk memelihara kesuburan tanah.
Debu yang jatuh dan menutupi lahan pertanian memberikan dampak positif dan negatif bagi tanah dan tanaman. Menurut penelitain (Andhika, 2011) dampak positif bagi tanah, secara tidak langsung, adalah memperkaya dan meremajakan tanah yang juga meningkatkan pertumbuhan tanaman, sedangkan dampak negatifnya adalah debu tersebut menutupi permukaan daun sehingga menghambat proses fotosintesa dan tanaman tersebut lambat laun akan mati. Hal ini mengakibatkan penurunan produksi tanaman.Dampak negatif lainnya adalah kemungkinan terkandungnya logam-logam berat dalam debu vulkanik tersebut.
Lapisan debu vulkanik yang berpotensi mengandung hara penyubur tanah untuk pertanian sebenarnya baru bisa dimanfaatkan sekitar 10 tahun setelah peristiwa penyebaran abu vulkanik itu.Penyuburan tanah bisa dipercepat jika dicampur dengan kompos, urea, dan lain-lain menurut Barasa (2012) sifat-sifat tanah yang dipengaruhi yaitu sifat fisik, kimia, serta biologi tanah.Oleh sebab itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui perubahan sifat - sifat tanah yang terjadi akibat ketebalan debu vulkanik. Dalam hal ini akan dikaji perubahan sifat fisik tanah dan kandungan logam beratnya.
Tanah-tanah yang berada di sekitar kawasan Gunung Sinabung sebelum meletus akhirakhir ini memiliki kesuburan yang lebih tinggi sehingga tanaman yang tumbuh di atasnya dapat tumbuh subur. Menurut penelitian Solihin (2012) hal ini disebabkan oleh material-material yang dikeluarkan dari gunung tersebut pada letusan sebelumnya mengandung hara yang baik bagi tanah setelah melapuk. Debu dan pasir vulkanik yang disemburkan ke langit mulai dari

7 berukuran besar sampai berukuran yang lebih halus. Debu dan pasir vulkanik ini merupakan salah satu batuan induk tanah yang nantinya akan melapuk menjadi bahan induk tanah dan selanjutnya akan mempengaruhi sifat dan ciri tanah yang terbentuk. Pupuk Kandang Sapi
Pupuk kandang dapat menambah ketersediaan bahan makanan (unsur hara) bagi tanaman yang dapat diserap dari dalam tanah.Selain itu, pupuk kandang mempunyai pengaruh positif terhadap sifat fisik dan kimiawi tanah, mendorong kehidupan (perkembangan) jasad renik. Menurut penelitian Sumiati (1999) dengan kata lain: pupuk kandang mempunyai kemampuan mengubah faktor dalam tanah, sehingga menjadi faktor-faktor yang menjamin kesuburan tanah.
Pupuk organik padat dari kotoran hewan lebih banyak dikomersialkan dari pada yang cair, sebab oleh ketersediaan di lapangan.Menurut Kanonova (1966) kotoran hewan bentuk padat lebih tersedia dibandingkan dengan kotoran hewan cair.Namun, perbandingan penyebaran kandungan unsur kotoran padat dan kotoran cair tidak jauh berbeda.
Pupuk kandang dapat menambah ketersediaan bahan makanan (unsur hara) bagi tanaman yang dapat diserap dari dalam tanah.Selain itu, pupuk kandang mempunyai pengaruh positif terhadap sifat fisik dan kimiawi tanah, mendorong kehidupan (perkembangan) jasad renik. Menurut Buckman and Brady (1982) dengan kata lain: pupuk kandang mempunyai kemampuan mengubah faktor dalam tanah, sehingga menjadi faktor-faktor yang menjamin kesuburan tanah.
Pupuk kandang sapi adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak sapi, baik berupa kotoran padat yang bercampur sama sisa makanan ataupun air, sehingga kualitas pupuk kotoran sapi beragam tergantung pada jenis, umur serta kesehatan ternak, jenis dan kadar serta jumlah pakan yang dikonsumsi. Menurut Asni (2008) pupuk kandang sapi biasanya terdiri atas campuran 0,5 % N, 0,25 % P2O5 dan 0,1 % K2O dan yang cair dengan kadar air 95 % mengandung 1 % N, 0,2 % P2O5 dan 1,35 % K2O.

8 Kelebihan dan Kekurangan Pupuk Kandang Sapi
Biasanya pemberian pupuk kandang sapi selalu diikuti peningkatan hasil tanaman. Peningkatan hasil tanaman tersebut tergantung pada beberapa faktor, menurut Effendi (1993) faktornya terlihat pada tingkat kematangan pupuk kandang sapi itu sendiri, sifat-sifat tanah, cara aplikasi dan sebagainya. Pengaruh dari pupuk kandang sapi terhadap hasil tanaman dapat disebabkan oleh pengaruh yang menguntungkan terhadap sifat-sifat fisik, kima dan biologi tanah.
Pupuk kandang kotoran sapi mempunyai bebarapa sifat yang lebih baik dari pupuk alami lainnya maupun pupuk buatan, yaitu sebagai sumber hara makro dan mikro, dapat meningkatkan daya menahan air dan banyak mengandung mikroorganisme.Menurut penelitian Dahlan dan Kaharuddin (2007) menyatakan jenis unsur hara makro utama dalam pupuk kandang sapi adalah nitrogen, phospat dan kalium.
Unsur hara yang akan diserap oleh akar ditentukan oleh semua faktor yang mempengaruhi ketersediaan unur hara sampai unsur hara tersebut berada di permukaan akar sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan serta hasil tanaman. Penambahan hasil tanaman sebagai respon penambahan pupuk berbanding lurus dengan selisih hasil maksimum dengan hasil aktual hasil maksimum dicapai pada sejumlah nutrisi yang tidak terlalu tinggi pemberiannya karena makin tinggi pemberian, maka justru menurun. Menurut penelitian Agus (2010) menyatakan bila salah satu faktor lebih kuat pengaruhnya dari faktor lain sehingga faktor lain tersebut tertutupi dan masing-masing faktor sifat yang jauh berpengaruh pengaruhnya dan sifat kerjanya, maka akan menghasilkan hubungan yang berpengaruh dalam mempengaruhipertumbuhan suatu tanaman.
Pupuk organik yang dapat digunakan seperti pupuk kimia adalah kompos, pupuk kandang, azola, pupuk hijau, limbah industri, limbah perkotaan termasuk limbah runah tangga.Menurut Asni (2008) karakteristik umum yang dimiliki pupuk organik, ialah, kandungan

9 unsur hara rendah dan sangat bervariasi, penyediaan hara terjadi sangat lambat dan menyediakan hara dalam jumlah yang terbatas.

10

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian Tembakau Deli Sampali PTPN II, Medan

pada ketinggian + 25 meter di atas permukaan laut.Dilaksanakan dari bulan Oktober 2014

sampai dengan Januari 2015.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kedelai varietas Anjasmoro, top

soil, debu vulkanik hasil erupsi gunung sinabung , pupuk kandang sapi di ambil dari sisa kotoran

sapi yang telah siap digunakan, air, fungisida dan bahan lainnya yang dapat mendukung

penelitian ini.

Alat yang digunakan adalah polibeg sebagai medai tanam, handsprayer, timbangan,

ember, cangkul, kalkulator, penggaris, alat tulis, meteran, jangka sorong, label nama, pacak

penanda sampel, spidol dan alat lainnya yang dapat mendukung penelitian ini.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, dengan faktor

perlakuan perbandingan yaitu:

Faktor I

: Debu Vulkanik (V) terdiri dari 4 taraf yaitu :

Vo : Kontrol (Topsoil) V1 : Topsoil : Abu Vulkanik (100 g)

V2 : Topsoil : Abu Vulkanik (150 g) V3 : Topsoil : Abu Vulkanik (200 g)

Faktor II Po P1

: Pupuk Kandang Sapi (P) terdiri dari 4 taraf yaitu : : Kontrol : 68 g/polibeg (0,5 Kg)

11

P2 : 136 g/polibeg (1 Kg)

P3 : 204 g/polibeg (1,5 Kg)

Sehingga diperoleh 16 kombinasi perlakuan yaitu :

V0P0

V1P0

V2P0

V3P0

V0P1

V1P1

V2P1

V3P1

V0P2

V1P2

V2P2

V3P2

V0P3

V1P3

V2P3

V3P3

Jumlah Ulangan (Blok)

= 3 Ulangan

Jumlah Plot

= 48 Plot

Jumlah Polibag/Plot

= 5 Polibag/Plot

Jumlah Polibag Seluruhnya

= 240 Polibag

Jumlah Tanaman Sampel Per Plot = 4 Tanaman

Jumlah Tanaman Sampel Seluruhnya= 192 Tanaman

Ukuran Plot

= 100 cm x 100 cm

Jarak Antar Plot

= 30 cm

Jarak Antar Ulangan

= 50 cm

Volume Polibeg

= 40x50 cm (15 kg)

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam, berdasarkan model

linear sebagai berikut :

Yijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ) jk + εijk

i = 1,2,3

j = 1,2,3,4

k = 1,2,3,4

Dimana :

Yijk : Hasil pengamatan blok ke-i karena pemberian Abu Vulkanik

dan pupuk organik kotoran sapi pada taraf ke-j.

µ : Nilai tengah.

ρi : Efek dari blok ke i.

12 αj : Efek dari perlakuan abu vulkanik dan pada taraf ke-j βk : Efek dari perlakuan pupuk organik kotoran sapi pada taraf ke-k (αβ) jk:Efek interaksi perlakuan abu vulkanik pada taraf ke-j dan pupuk organik kotoran
sapi pada taraf ke-k. εijk : Efek galat pada blok ke-i akibat perlakuan abu vulkanik pada taraf ke-j dan
pupuk organic kotoran sapi pada taraf ke-k. Terhadap faktor yang berpengaruh nyata maka dianalisis dengan Uji Beda Rataan berdasarkan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 % (Silaban et al.,2013).

13 PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Lahan yang digunakan untuk penelitian terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sampah.Dipersiapkan sebaik mungkin di lahan yang datar, dekat dengan sumber air, memiliki drainase yang baik serta tidak tergenang. Kemudian dibuat plot-plot dengan ukuran 100 cm x 100 cm dengan jarak antar plot 30 cm dan jarak antar ulangan 50 cm. Persiapan Benih Benih yang digunakan adalah benih kedelai dengan Varietas Grobongan .Benih direndam ± 10 menit dengan air. Persiapan Media Tanam Persiapan media tanam yaitu disiapkan polibeg berukuran 15 kg. Sebelum digunakan topsoil terlebih dahulu diayak lalu dibersihkan dari kotoran yang ada. Analisis tanah dilakukan sebelum tanam dan sesudah tanam kedelai dipanen. Persiapan Debu Vulkanik dan Pupuk Kandang Sapi Debu vulkanik yang digunakan berasal dari debu vulkanik gunung sinabung yang diperoleh dari desa Kutarakyat dan Kutagugung, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo Sumatera Utara.Debu vulkanik dianalisi untuk mengetahui kandungan yang terdapat di dalamnya. Sedangkan pupuk kandang sapi yang digunakan adalah pupuk kandang sapi yang sudah mengalami proses fermentasi. Pupuk kandang sapi dianalisis terlebih dahulu untuk mengetahui kandungan yang terdapat di dalamnya. Penanaman Penanaman dilakukan dengan cara merendam benih terlebih dahulu.Benih ditanam sebanyak 2 benih per polibeg dengan kedalaman tanah 2-3 cm, setelah itu siram air ke dalam polibeg.Sebelumnya penanaman dilakukan sekitar dua minggu setelah debu vulkanik dan pupuk kandang sapi diinkubasikan sesuai perlakuan ke dalam media tanam.

14 Penjarangan
Penjarangan dilakukan pada 2 MST dengan cara memilih satu tanaman yang pertumbuhannya baik dan membuang tanaman yang tidak dipakai dengan cara dipotong. Untuk menjaga agar produksi kedelai tetap baik, benih kedelai yang tidak tumbuh sebaiknya segera diganti dengan biji-biji yang baru. Waktu penyulaman yang terbaik adalah sore hari. Pemeliharaan Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pada pagi dan sore hari dengan menggunakan gembor.Bila hari hujan maka penyiraman cukup dilakukan satu kali saja dan tergantung pada kondisi tanah. Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mengikis gulma yang tumbuh dengan tangan atau pisau. Pengendalian Hama dan Penyakit
Jika terjadi serangan hama dilakukan pengendalian dangan cara penyemprotan pestisida sesuai dosis anjuran.
Panen Kriteria panen yaitu sebagian besar daun sudah menguning tetapi bukan karena serangan
hama dan penyakit, lalu gugur, buah berubah warna dari hijau sampai kuning kecokelatan, batang berwarna kuning agak kecokelatan. Panen dilakukan sekali dengan cara memotong 5 cm diatas pangkal batang utama dengan menggunakan pisau. Kemudian polong dijemur dibawah sinar matahari dan biji diambil dari polongnya.

15 Pengamatan Parameter Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang hingga titik tumbuh tanaman dengan menggunakan meteran.Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 2 MST hingga 8MST dengan interval pengamatan 1 minggu. Jumlah Daun (helai)
Pengamatan jumlah daun dilakukan pada saat tanaman berumur 2 MST sampai 8 MST. Perhitungan jumlah daun dilakukan dengan cara menghitung jumlah daun yang telah membuka sempurna. Diameter Batang (mm)
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan jangka sorong.Dilakukan pengamatan ini setelah tanaman berumur 2 MST - 8 MST.Diberi tanda pada pangkal sekitar 2 cm untuk mempermudah pengamatan selanjutnya. Umur Berbunga (hari)
Umur berbunga adalah kondisi dimana tanaman mengalami fase generatif atau fase pembungaan.Umur berbunga diamati setelah tanaman mengeluarkan bunga sekitar 75 %. Bobot Kering Akar (g)
Akar yang diukur adalah akar yang sudah dipisahkan dari tajuk dan dibersihkan dari kotoran, lalu diovenkan pada suhu 70° C selama 24 jam.Setelah itu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam desikator lalu ditimbang bobot keringnya dengan timbangan analitik sehingga diperoleh bobot kering yang konstan.Bobot kering akar diukur pada saat panen. Bobot Kering Tajuk (g)
Bagian tajuk tanaman dipisahkan dari akar dengan cara memotong pada bagian pangkal batang lalu tajuk tersebut dibersihkan dari kotoran, lalu diovenkan pada suhu 70° C selama 24 jam. Setelah itu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam desikator lalu ditimbang bobot keringnya

16 dengan timbangan analitik sehingga diperoleh bobot kering yang konstan.Bobot kering tajuk diukur pada sat panen. Jumlah Polong per Tanaman (polong)
Pengamatan dilakukan terhadap semua jumlah polong setiap tanaman sampel.Jumlah polong per tanaman dihitung pada saat panen. Produksi Biji per Tanaman (g)
Pengamatan ini dilakukan pada saat kadar air biji ± 12%. Untuk mencapai kadar air tersebut dilakukan dengan cara menjemur biji di bawah sinar matahari ± 2-3 hari, kemudian ditimbang.
Bobot 100 Biji (g) Pengamatan ini dilakukan setelah tanaman di panen, bobot biji kering ditimbang dari
setiap perlakuan per sampel dengan kadar air biji setiap perlakuan ± 12%. Bobot 100 Biji (g) = Bobot biji per tanaman x 100
Jumlah biji per tanaman

17 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan debu vulkanik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 5 MST dan jumlah daun 5 MST, bobot 100 biji, dan umur berbunga serta berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lain. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang sapi berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 5 dan 6 MST, jumlah polong per sampel, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot 100 biji, jumlah biji, dan umur berbunga serta berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lain. Interaksi kedua perlakuan menunjukkan berpengaruh nyata terhadap umur berbunga serta berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lain. Tinggi Tanaman (cm) Data pengamatan dan sidik ragam tinggi tanaman pada umur 3 - 5 MST dapat dilihat pada Lampiran 11-18. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan debu vulkanik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 5 MST dan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman 3, 4 dan 6 MST. Perlakuan pupuk kandang sapi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada semua umur pengamatan.Interaksi keduanya juga berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada semua umur pengamatan. Tinggi tanaman kedelai perlakuan debu vulkanik dan pupuk kandang sapi pada umur 3 – 5 MST dapat dilihat pada Tabel 1.

18

Tabel 1.Tinggi tanaman (cm) kedelai perlakuan debu vulkanik dan pupuk kandang sapi pada

umur 3 – 5 MST

Debu

Pupuk Kandang Sapi (kg)

MST

Vulkanik (g)

P0 (0) P1 (0,5) P2 (1) P3 (1,5)

Rataan

V0 (0)

12,58 11,68 11,22 12,54

3

V1 (100) V2 (150)

12,59 12,53 12,31 12,77 12,73 12,11 13,50 12,53

V3 (200) 11,03 13,84 12,69 12,47

12,00 12,55 12,72 12,51

Rataan

12,23 12,54 12,43 12,58

V0 (0)

15,58 14,83 14,93 16,43

4

V1 (100) V2 (150)

15,40 15,63 15,15 15,96 14,91 15,28 15,32 15,97

V3 (200) 15,08 16,73 15,83 15,36

15,44 15,53 15,37 15,75

Rataan

15,24 15,62 15,31 15,93

V0 (0)

17,68 16,48 16,66 18,29

5

V1 (100) V2 (150)

17,28 15,39 15,80 16,07 15,51 16,48 16,98 16,11

V3 (200) 17,21 17,88 16,17 17,54

17,28 a 16,14 b 16,27 b 17,20 a

Rataan

16,92 16,56 16,40 17,00

V0 (0)

18,33 17,44 17,82 18,88

6

V1 (100) V2 (150)

18,42 16,21 18,83 17,29 18,42 18,81 18,96 16,23

V3 (200) 18,92 18,38 17,33 18,82

18,12 17,69 18,10 18,36

Rataan

18,52 17,71 18,23 17,80

Keterangan : Angka yang diikuti notasi yang sama pada setiap kolom yang sama menunjukkan

berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Rataan Duncan pada taraf α=5%.

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada perlakuan debu vulkanik tinggi tanaman kedelai tertinggi umur 3, 4, dan 6 MST cenderung pada perlakuan pemberian 200 gram debu vulkanik (V3) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lain.Pada tanaman umur 5 MST tanaman kedelai tertinggi pada perlakuan tanpa pemberian debu vulkanik (V0) yaitu 17,28 cm yang berbeda nyata V1 dan V2 dan berbeda tidak nyata dengan V3.
Tanaman kedelai umur 3 – 5 MST pada perlakuan pupuk kandang sapi yaitu cenderung tertinggi pada perlakuan 1,5 kg pupuk kandang sapi (P3) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lain (Tabel 1).
Hubungan tinggi tanaman kedelai 5 MST dengan debu vulkanik dapat dilihat pada Gambar 1.

Tinggi tanaman (cm)

17,40 17,20 17,00 16,80 16,60 16,40 16,20 16,00
01

ŷ = 0,517x2 - 2,597x + 19,33 R² = 0,989

19

1020 1530 Debu Vulkanik (g)

2004

Gambar 1. Hubungan tinggi tanaman kedelai 5 MST dengan debu vulkanik Gambar 1 menunjukkan hubungan tinggi tanaman kedelaiumur 5 MST dengan debu vulkanik berbentuk kuadratik negatif. Jumlah Daun (Helai) Data pengamatan dan sidik ragam jumlah daun pada umur 3 - 5 MST dapat dilihat pada Lampiran 19-26. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan debu vulkanik berpengaruh nyata terhadap jumlah daun umur 5 MST dan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 3, 4 dan 6 MST. Perlakuan pupuk kandang sapi berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 5 dan 6 MST dan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun padaumur 3 dan 4 MST.Interaksi keduanya juga berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada semua umur pengamatan. Jumlah daun kedelai perlakuan debu vulkanik dan pupuk kandang sapi pada umur 3 – 5 MST dapat dilihat pada Tabel 2.

20

Tabel 2.Jumlah daun (helai) kedelai perlakuan debu vulkanik dan pupuk kandang sapi pada

umur 3 – 5 MST

MST

Debu Vulkanik
(g)

Pupuk Kandang Sapi (kg) P0 (0) P1 (0,5) P2 (1) P3 (1,5)

Rataan

V0 (0)

4,58 5,33

3 V1 (100) 5,00 4,75 V2 (150) 4,50 4,75

V3 (200) 4,83 4,67

4,67 4,75 4,83 4,58 4,25 4,65 5,08 4,50 4,71 4,83 4,75 4,77

Rataan

4,73 4,88

4,79 4,56

V0 (0)

5,25 6,00

4 V1 (100) 5,08 5,42 V2 (150) 4,58 4,92

V3 (200) 4,92 5,08

5,17 5,42 5,46 5,75 5,83 5,52 5,58 5,00 5,02 5,17 5,33 5,13

Rataan

4,96 5,35

5,42 5,40

V0 (0)

6,92 8,75

5 V1 (100) 7,17 7,92 V2 (150) 6,33 7,75

V3 (200) 6,67 7,17

8,25 8,25 8,04 ab 9,67 9,67 8,60 a 7,50 8,67 7,56 b 7,58 9,00 7,60 b

Rataan

6,77 b 7,90 b 8,25 ab 8,90 a

V0 (0)

9,67 14,08

6 V1 (100) 11,08 12,33 V2 (150) 8,75 12,83

V3 (200) 10,83 12,67

12,17 13,42 11,83 11,83

12,25 15,58 13,67 15,67

12,04 13,10 11,77 12,75

Rataan

10,08 c 12,98 ab 12,31 b 14,29 a

Keterangan : Angka yang diikuti notasi yang sama pada setiap kolomdan baris yang sama pada

minggu pengamatan yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Beda Rataan Duncan pada taraf α=5%.

Tabel 2 menunjukkan bahwa pada perlakuan debu vulkanik jumlah daun kedelai

terbanyak umur 3, 4 dan 6 MST cenderung pada perlakuan pemberian 100 gram debu vulkanik

(V1) yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lain.Pada tanaman umur 5 MST jumlah daun kedelai terbanyak pada perlakuan pemberian debu vulkanik 100 gram (V1) yaitu 8,60 hel

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

109 3448 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 879 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 788 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 513 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 663 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1155 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

58 1053 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 656 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 934 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1143 23