Makna ziarah sebagai media komunikasi transendental : (studi etnografi komunikasi mengenai ziarah di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang)

  DAFTAR RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI Nama : Hadi Permana NamaPanggilah : Hady, Dhy Tempat / tglLahir : Purwakarta, 18 Maret 1990 JenisKelamin : Laki-laki Agama : Islam Status : Belum Menikah Nama Ayah : Asep Mulyana NamaIbu : Lika K

AlamatAsal : Kp. Sawah Leuga Rt. 01/01 Ds. Pasanggrahan Kec. Bojong Kab.

Purwakarta Prov. Jawa Barat Telepon : 08562 44144 22 PENDIDIKAN

   SD Negeri 2 Pasanggrahan, Tahun 1996 - 2002 SMP Negeri 1 Wanayasa, Tahun 2002 - 2005 SMA Negeri 1 Wanayasa, Tahun 2005 - 2008 Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Jurusan Ilmu Komunikasi Konsentrasi Humas, Tahun 2009 – 2013 Dengan IPK. 3,09.

PENDIDIKAN NON FORMAL BERSERTIFIKAT

   Table Manner di Hotel Banana Inn Hotel & SPA StiabudhiTahun 2009 Mentoring Agama Islam Seminar Bedah Buku Komunikasi yang dilaksanakan di UNIKOM Study Tour Mata Kuliah Media Massa Seminar Satu Jam Bersama si Cepot (Mata KuliahEkonomi) EPT Indonesia Universiti Of Computer English Department Sminar Strategi Mendidik Anak dalam Era Globalisasi (GGM) &Pemuda

  Pelopor Pembangunan

   Seminar “Road to Success of a Movie Maker”

PENGALAMAN ORGANISASI

   PASKIBRA KECAMATAN WANAYASA TAHUN 2005 – 2008 SENIOR KEHORMATAN PMR SMA 1 WANAYASA TAHUN 2007 PANITIA PENGIBARAN BENDERA 17 AGUSTUS TAHUN 2008 PANITIA STUDY TOUR MEDIA HUMAS 7 MASSA UNIKOM TAHUN 2010 KETUA ACARA MARKETING HUMAS UNIKOM TAHUN 2010 KARANG TARUNA DESA PASANGGRAHAN

PRESTASI YANG PERNAH DIRAIH

   JUARA 1 TENIS MEJA JUARA 1 BOLA VOLI JUARA 2 PASKIBRA DALAM BIDANG PBB

MAKNA ZIARAH SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI TRANSENDENTAL

   (Studi Etnografi Komunikasi Mengenai Ziarah di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang) SKRIPSI

  Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Kehumasan Oleh : Hadi Permana NIM. 41808985 PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI HUMAS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG 2013

KATA PENGANTAR

  Dengan mengucapkan Alhamdulillah Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT dengan segala rahmat dan karunia

  • – Nya pada akhirnya Peneliti dapat membuat dan menyelesaikan Skripsi dengan lancar.

  Ada pun tujuan dari Penyusunan Skripsi ini adalah sebagai bukti bahwa penulis telah melaksanakan penelitian sebagai syarat menempuh ujian sarjana pada program studi ilmu komunikasi konsentrasi kehumasan.

  Dalam Penyusunan Skripsi ini penulis berharap semoga penelitian yang akan dilakukan ini bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi banyak penulis khususnya dan terutama bagi para pembaca. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada Ibunda dan Ayahanda Tercinta dan peneliti memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang sudah membantu penulis dalam Penyusunan Skripsi ini. Dengan segala kerendahan hati, saya sebagai penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada Yang Terhormat : 1.

  Bapak Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian ini dan memberikan pengesahan penelitian ini sehingga dapat digunakan sebagai literatur bagi yang membutuhkan.

  2. Bapak Drs. Manap Solihat, M. Si, Selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Dosen Wali dan Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu penulis saat melakukan kegiatan perkuliahan maupun saat mengurus berbagai perizinan dan yang telah banyak sekali memberikan arahan, waktu dan tempat untuk membimbing penulis dari mulai bimbingan hingga penyusunan . Terimakasih juga atas segala nasehat dan dorongan yang membuat penulis tidak henti-hentinya berjuang dan terus semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. yang cukup membantu kelancaran penulis dalam menyelesaikan usulan penelitian ini, serta banyak memberikan bimbingan, arahan dan nasehatnya agar penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik.

  3. Yth. Melly Maulin P, S.Sos., M.Si, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi, yang telah memberikan ilmunya, nasehat, motivasi, arahan, semangat hingga proses penelitian selesai.

  4. Yth. Ibu dan Bapak Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi & Public

  Relations : Rismawaty, S.Sos., M.Si., Sangra Juliano P., S.I.Kom., Inggar Prayoga, S.I.Kom., Adiyana Slamet, S.I.P., M.Si., Ari Prasetyo, S.Sos., M.Si., Tine Agustin Wulandari, S.I.Kom., Yadi Supriadi, S.Sos., M. Phil, Olih Solihin, S. Sos., M.Si serta seluruh dosen-dosen yang telah memberikan

  ilmunya selama ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu. Terima kasih yang tiada tara untuk segala jasanya serta dukungan yang telah diberikan kepada peneliti selama ini.

  5. Yth. Ibu Ratna W., A.Md., selaku sekretariat Dekan FISIP, Ibu Astri

  Ikawati., A.Md,.Kom., dan Ibu Rr. Sri Intan Fajarini, S.I.Kom Selaku

  Sekretariat Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNIKOM, yang telah membantu kelancaran proses administrasi skripsi penulis dari pra hingga pasca skripsi.

  6. Bapak Guru Jojo selaku ketua pengurus pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang yang telah memberikan perizinanya bagi peneliti.

  7. Pak Sail selaku pengurus pemakaman Nangka Beurit, yang telah meluangkan waktunya bagi peneliti.

  8. Keluarga Tercinta yang sudah memberikan dorongan baik itu materil maupun immateril. Thanks for all Ibu dan Bapak, selaku orang tua penulis yang sudah banyak memberikan supportnya, doanya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini Love You.

  9. My Brother “Abib Pazua” atas support dan kontribusinya meminjamkan

  computer dan cannon

  ’nya..Nuhun pisan… “Yuli Bayu Atuti”. Walaupun tiap malem suka,ganggu konsentrasi,,,

  but, I Love U So Much… Kecerewetanmu

  adalah motivasi bagi aku..:) 10. Sahabat-sahabat Humas 3 tersayang Indra Purnama, Indra Saputra,

  Prasetya, Ligga, dll yang tidak bisa penulis sebut satu persatu..terimakasih

  untuk kalian yang selalu mengingatkan dan sudah banyak membantu penulis..kalian bakalan slalu jadi sahabat terbaik!

  Akhir kata, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan usulan penelitian ini. Jerih payah yang tak ternilai ini akan penulis jadikan sebagai motivasi di masa yang akan datang.

  Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu penulis dalam pembuatan usulan penelitian ini. Penulis berharap semoga usulan penelitian ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca sekalian umumnya.

  Bandung, Februari 2013 Peneliti

  

DAFTAR ISI

Hal

LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................i

SURAT PERNYATAAN ...................................................................................... ii

LEMBAR PERSEMBAHAN .............................................................................. iii

ABSTRAK .............................................................................................................iv

ABSTRACT ............................................................................................................. v

KATA PENGANTAR ...........................................................................................vi

DAFTAR ISI .......................................................................................................... x

DAFTAR TABAL ...............................................................................................xvi

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii

  BAB I. PENDAHULUAN

  

1.1. Latar Belakang Masalah ............................................................................... 1

  1.2. Rumusan Masalah

  1.2.1. Pertanyaan Makro .................................................................... 13

  1.2.2. Pertanyaan Mikro ..................................................................... 14

  1.3. Kegunaan Penelitian

  1.3.1. Maksud Penelitian .................................................................... 14

  1.3.2. Tujuan Penelitian ..................................................................... 14

  1.4. Kegunaan Penelitian

  1.4.2. Kegunaan Praktis ..................................................................... 15

  

1.5. Sistematika Penulisan ................................................................................... 16

  BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

  

2.1. Tinjauan Pustaka ......................................................................................... 19

   2.1.1. Tinjauan Tentang Penelitian Sebelumnya

  2.1.1.1. Tinjauan Penelitian ........................................................... 19

  2.1.2. Tinjauan Tentang Komunikasi

  2.1.2.1. Pengertian Komunikasi ..................................................... 21

  2.1.2.2. Unsur Komunikasi ............................................................ 23

  2.1.2.3. Tujuan Komunikasi .......................................................... 24 2.1.3.

   Tinjauan Tentang Etnografi Komunikasi 2.1.3.1.

  Sejarah Kajian Etnografi Komunikasi ............................ 24 ...............................................................

  2.1.3.2.

  26 Definisi Etnografi .............

  2.1.3.3.

  28 Metode Etnografi Untuk Penelitian Komunikasi 2.1.4.

   Tinjauan Tentang Komunikasi Transendental 2.1.4.1.

  Pengertian Komunikasi Transendental ............................. 30 2.1.4.2. Hakikat Komunikasi Transendental ................................. 30 2.1.5.

   Tinjauan Tentang Interaksi Simbolik ..................................................

  2.1.5.1.

  32 Sejarah Interaksi Simbolik 2.1.6.

   Tinjauan Tentang Simbol 2.1.6.1.

  Pengertian Simbolik ......................................................... 41 ................................................................

  2.1.6.2.

  45 Jenis-jenis Simbol ............................................

  2.1.6.3.

  45

  2.1.7. Tinjauan Tentang Kebudayaan 2.1.7.1.

  Pengertian Kebudayaan .................................................... 49 ....................................................

  50 2.1.7.2. Unsur-unsur Kebudayaan 2.1.8.

   Tinjauan Tentang Komunikator .....................

  2.1.8.1.

  65 Pengertian dan Karakteristik Komunikastor .................................................

  67 2.1.8.2. Syarat-syarat Komunikator 2.1.8.3.

  Tugas Komunikator .......................................................... 70 2.1.9.

   Tinjauan Tentang Ziarah 2.1.9.1.

  Sejarah Ziarah .................................................................. 73 2.1.9.2. Pengertian Ziarah ............................................................. 74 2.1.9.3. Tata Cara Ziarah .............................................................. 75 2.1.9.4. Fungsi Ziarah .................................................................... 76 .........................................................

  2.1.9.5.

  77 Macam-macam Ziarah 2.1.10.

   Tinjauan Tentang Pemakaman 2.1.10.1.

  Pengertian Pemakaman .................................................. 78 2.1.11.

   Tinjauan Tentang Media 2.1.11.1.

  Pengertian Media ........................................................... 79 2.1.11.2. Jenis-jenis Media ........................................................... 80 2.1.11.3. Fungsi Media ................................................................. 81

  2.2. Kerangka Pemikiran

  2.2.1. Kerangka Teoritis ..................................................................... 81

  2.2.2. Kerangka Konseptual ............................................................... 91

  BAB III. OBJEK DAN METODE PENELITIAN

  

3.1. Objek Penelitian ........................................................................................... 95

  3.1.1. Tinjauan Tentang Makam Nangka Beurit

  3.1.1.1. Sejarah Makam Nangka Beurit ......................................... 95

  3.2. Metode Penelitian

  3.2.1. Desain Penelitian ..................................................................... 101

  3.2.2. Teknik Pengumpulan Data

  3.2.2.1. Studi Pustaka .................................................................. 110

  3.2.2.2. Studi Lapangan ............................................................... 112

  3.2.3. Teknik Penentuan Informan

  3.2.3.1. Informan Penelitian ........................................................ 115

  3.2.3.2. Informan Kunci (Key Informan) ...................................... 117

  3.2.4. Teknik Analisis Data ............................................................... 117

  3.2.5. Teknik Pengujian Keabsahan Data ....................................... 119

  3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.3.1.

  Lokasi Penelitian ...................................................................... 121 3.3.2. Waktu Penelitian ....................................................................... 122

  BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Identitas Informan dan Informan Kunci 4.1.1. Informan Penelitian ................................................................. 129 4.1.2. Informan Kunci ........................................................................ 135 4.2. Deskripsi Hasil Penelitian

  4.2.1. Situasi Simbolik Makna Ziarah Sebagai Media Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupeten Subang ....................................................................... 138 4.2.1.1.

  Objek Fisik Benda ............................................................ 139 4.2.1.2. Objek Sosial (Perilaku Manusia) .................................... 143 4.2.2. Produk Interaksi Sosial Makna Ziarah Sebagai Media

  Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupeten Subang ...................................................................... 146 4.2.3. Interpretasi Makna Ziarah Sebagai Media Komunikasi

  Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupeten Subang .......................................................................................... 147 4.2.3.1.

  Tindakan Tertutup ............................................................ 148 4.2.3.2. Tindakan Terbuka ............................................................ 150 4.3.

   Pembahasan Hasil Penelitian 4.3.1.

  Situasi Simbolik Makna Ziarah Sebagai Media Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupeten Subang ...................................................................................................... 152 4.3.1.1.

  Objek Fisik Benda ............................................................ 152 4.3.1.2. Objek Sosial Perilaku Manusia ........................................ 156 4.3.2. Produk Interaksi Sosial Makna Ziarah Sebagai Media

  Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupeten Subang ....................................................................... 160 4.3.3. Interpretasi Makna Ziarah Sebagai Media Komunikasi

  Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupeten Subang .......................................................................................... 161

  BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ................................................................................................. 168 5.2. Saran ........................................................................................................... 171 5.2.1. Saran Bagi Pengurus Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang .................................................................... 171 5.2.2. Saran Bagi Peneliti Selanjutnya ................................................ 171

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 172

LAMPIRAN ........................................................................................................ 175

............................................................................................ CURRICULLUM VITAE

  

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 3.1 Krangka penelitian pendekatan etnografi 105

  Tabel 3.2

  Data Informan Penelitian

  116

Tabel 3.3 Informan Kunci

  117 Tabel 4.1

  Jadwal Wawancara Informan

  129

Table 4.2 Jadwal Wawancara Informan Kunci 135

  

DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 1.1. Makam Arya Wangsa Goparan

  5 Gambar 4.1. Informan Penelitian (Dedi) 130 Gambar 4.2.

  Informan Penelitian (Rachman A)

  131

Gambar 4.3. Informan Penelitian (Asepudin) 132Gambar 4.4. Informan Penelitian (Nurdin) 133 Gambar 4.5.

  Informan Penelitian (Suherman)

  134

Gambar 4.5. Informan Kunci Penelitian (Humaedi) 136

  

DAFTAR LAMPIRAN

Hal

  Lampiran 1

  

Surat Penugasan Menjadi Pembimbing Skripsi

  175 Lampiran 2 Berita Acara Bimbingan Skripsi 176 Lampiran 3

  Lembar Revisi Seminar Usulan Penelitian

  177 Lampiran 4 Surat izin penelitian 178 Lampiran 5 Pedoman Wawancara Informan 179 Lampiran 6

  Pedoman Wawancara Informan Kunci

  180 Lampiran 7 Pedoman Observasi 182 Lampiran 8

  Transkip Observasi

  183 Lampiran 9 Identitas Informan dan Informan Kunci 186 Lampiran 10 Hasil Wawancara Informan 192 Lampiran 11

  Hasil Wawancara Informan Kunci

  208 Lampiran 12 Dokumentasi

  211

  

DAFTAR PUSTAKA

Referensi Buku

  Ardianto, Elvinaro. 2011. Metodologi Penelitian Untuk Public Relations.

  Bandung : Remaja Rosdakarya Bandung. Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. Sage Publications, Inc: California.

  Cangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

  Effendy, Onong. Uchjana.1993 Ilmu, Teori Dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

  Effendy, Onong. Uchjana. 2006. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

  Gunadi, Y.S. 1998. Himpunan Istilah Komunikasi. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Herlina, Nina. 2002. Sejarah dan Budaya Politik. Bandung : CV. Satya Historika.

  James, Dananjaya. 1988. Manfaat Media Tradisional Untuk Pembangunan Dalam

  Kebudayaan Dan Pembangunan Sebuah Terapan Terhadap Antropologi Terapan Di Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

  Koentjaraningrat, 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT. Asdi Mahasatya.

  Kuswarno, Engkus. 2011. Etnografi Komunikasi. Bandung : Widya Padjadjaran.

  173

  Maryaeni. 2005. Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Mulyana, Deddy. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar Edisi Revisi.

  Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif (cetakan keempat belas).

  Bandung: PT Remaja Rosda karya. Rakhmat, Jalaluddin. 2002. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : PT. Rosdakarya.

  Sugiyono. 2007. Memahani Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sugiyono, 2010. Metodeologi Penelitian Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

  Sobur, Alex. 2006. Semiontika Komunikasi. Bandung : Pt. Remaja Rosdakarya Offset.

  Sember Lain

  Ma’mun, Asep 2007. Persepsi Masyarakat terhadap Ziarah Kubur: Studi

  

Kasus atas Masyarakat Aeng Panas . Institut Dirasat Islamiyah Al-Amien

(IDIA) Prenduan Sumenep Madura.

  Internet Searching

(Kamis, 8-Nov-

2012 Pukul 20.00).

  Kamis, 8-Nov-2012 Pukul 21.00)

  174 amis, 8-Nov-2012 Pukul 23.00) (Sabtu, 10-Nov-2012 Pukul 19.00) Minggu, 11-Nov_2012 Pukul 23.00)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide,gagasan)

  dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduaanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.

  Komunikasi merupakan kebutuhan dasar atau primer manusia. Komunikasi merupakan sarana interaksi antar manusia yang efektif. Dinyatakan berinteraksi jika mereka yang terlibat masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi yang dilakukan oleh manusia disebut tindakan komunikasi. Tindakan komunikasi menyangkut perasaan, pikiran dan perbuatan manusia.

  Adapun definisi komunikasi menurut Everett M. Rogers, seorang pakar sosiologi Pedesaan Amerika membuat definisi : “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba saling pengertian” (Rogers dan Kincaid dalam Cangara, 2004 : 19). Sejak kita lahir dan selama hidupnya manusia akan selalu terlibat dalam tindakan-tindakan komunikasi. Tindakan komunikasi dapat terjadi

  2 kita perlu berhubugan, bergaul dengan sesama manusia lain. Itu merupakan sisi dinamis dari manusia. Hubungan yang dilakukan atau dijalin setiap saat merupakan kegiatan berkomunikasi. Dalam ilmu komunikasi dikenal dengan istilah komunikasi yang dilakukan antara manusia dengan Tuhannya, dalam ilmu komunikasl disebut komunikasi transendental dan komunikasi ini dalam istilah Islam dikenal dengan sebutan hablu minnallah dan habluminannas.

  Komunikasi transendental memang tidak pernah dibahas secara luas, cukup dikatakan bahwa komunikasi transendental adalah komunikasi antara manusia dengan Tuhan, dan karenanya masuk dalam bidang agama.

  

Dedy Mulyana , pakar ilmu komunikasi, mengatakan bahwa, bentuk

  komunikasi ini paling sedikit dibicarakan dalam disiplin ilmu komunikasi, tetapi justru bentuk komunikasi inilah yang terpenting bagi manusia.

  Karena keberhasilan manusia melakukannya tidak saja menentukan nasibnya di dunia tetapi juga di akhirat.

  Dalam komunikasi transendental, tanda-tanda atau lambang- lambang Allah SWT lazim disebut ayat-ayat Allah. Dan ayat-ayat Allah itu terbagi atas dua, yaitu ayat-ayat Quraniyah (firman Allah dalam Alquran) dan ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Ke dua ayat tersebut saling mengisi dan menjelaskan. Karena dalam Alquran tercantum dengan rinci bagaimana luasnya alam semesta yang bisa kita lihat dengan kasat

  3 mata dan menjelaskan pula tentang alam barzah, alam akhirat, surga dan neraka sebagai alam ghaib.

  Makna komunikasi transendental biasa diartikan proses membagi ide, informasi dan pesan dengan orang lain pada tempat dan waktu tertentu serta berhubungan erat dengan hal-hal yang bersifat transenden (metafisik dan pengalaman supranatural). Hingga komponen komunikasi seperti siapa (what) bisa bersifat metafisik, isi (say what) juga berhubungan dengan metafisik, demikin juga dengan kepada siapa (to whom) dan media perantara (chanel) serta efeknya.

  Pemakaman Nagka Beurit atau Makam Aria Wangsa Goparana yang terletak di Blok Karang Nangka Beurit, Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang. Karena berada di Blok Karang Nangka Beurit, maka situs ini lebih dikenal dengan sebutan Keramat Nangka Beurit.

  Komplek makam berada di ujung kampung dekat areal persawahan tepatnya pada koordinat 06°39‟59” Lintang Selatan dan 107°39‟05” Bujur Timur.

  Untuk menuju makam, setelah melalui gerbang masuk berbentuk gapura bentar yang berada di ujung kampung, kemudian melewati jalan setapak yang sudah diplester. Di kanan jalan merupakan areal persawahan, sedang di kiri jalan jurang sedalam sekitar 4 m. Pada jurang tersebut terdapat banyak tumbuhan buah-buahan seperti durian, jambu air, nangka dan juga pala. Jalan setapak yang harus dilalui ini jauhnya sekitar 500 m.

  4 Pada ujung jalan setapak sebelum sampai ke komplek makam terdapat beberapa makam masyarakat. Kompleks makam Keramat Nangka Beurit dikelilingi pagar dengan gerbang masuk terletak di bagian selatan kompleks. Gerbang masuk berupa gapura berbentuk paduraksa dilengkapi pintu besi. Di dalam kompleks terdapat pemakaman umum. Makam- makam umum ada yang dilengkapi jirat ada pula yang tidak berjirat.

  Makam yang tidak berjirat pada umumnya dilengkapi nisan batu pipih panjang ada yang berbentuk seperti kujang. Pada bagian tenggara kompleks makam terdapat beberapa makam yang berada pada lahan berpagar tembok. Tokoh yang dimakamkan di bagian tersebut adalah para juru kunci. Gerbang masuk ke komplek makam para juru kunci berupa gapura paduraksa. Makam Aria Wangsa Goparana berada pada bagian barat laut komplek makam. Makam berada pada bangunan cungkup permanen dengan atap tumpang dari bahan genting. Pintu masuk cungkup berada di sisi timur. Pada dinding sisi utara, barat, dan selatan terdapat jendela kaca. Kondisi makam Aria Wangsa Goparana sulit dilihat karena tertutup kain kelambu. Nisan makam dibungkus kain putih sehingga bentuknya sulit diketahui. Di sebelah timur cungkup makam Aria Wangsa Goparana terdapat bangunan mushala yang bernama Mushala Al-Ikhlas. Seluruh bangunan di kompleks makam ini merupakan bangunan baru yang pemugarannya dilaksanakan pada 25 Maret 1984 dan peresmiannya pada

  27 Mei 1984.

  5 Arya Wangsa Goparana adalah tokoh penyebar Islam di

  Sagalaherang. Tokoh ini merupakan putera Sunan Wanaperi, raja kerajaan Talaga. Di Talaga, Arya Wangsa Goparana merupakan orang pertama yang memeluk Islam. Ketika itu ia mendapat pelajaran dari Sunan Gunungjati. Pada tahun 1530 ia mengadakan perjalanan ke arah barat dalam rangka menyebarkan agama Islam. Wilayah yang diislamkannya meliputi Subang, Pagaden, Purwakarta, Cianjur, Sukabumi, dan Limbangan. Ketika itu kawasan ini merupakan wilayah kerajaan Sumedang Larang. Arya Wangsa Goparana menurunkan lima orang putera yaitu Entol Wangsa Goparana, Wiratanudatar, Yudanegara, Cakradiparana, dan Yudamanggala. Putera Arya Wangsa Goparana ini kemudian menyebar ke daerah Limbangan, Cijegang (Cikalongkulon), Cikundul dan tempat-tempat lain. Di tempat yang baru, keturunan Arya Wangsa Goparana banyak yang menjadi orang penting seperti bupati dan ulama besar.

Gambar 1.1. Makam Arya Wangsa Goparana

  Sumber : www.google.com

  6 Makam Keramat Nangka Beurit merupakan salah salah satu fenomena warisan budaya yang keadaannya masih terjaga sampai saat ini, dan keadaannya dijadikan sebagai tempat media ziarah bagi pengunjung yang datang ke pemakaman keramat ini.

  Seperti yang telah dijelaskan oleh Boove dan Thill, bahwa definisi budaya adalah : “system sharing atas symbol-simbol kepercayaan, sikap, nilai-nilai, harapan dan norma-norma untuk berperilaku. Dalam hal ini, semua anggota dalam budaya memiliki asumsi yang serupa tentang bagaimana seseorang berpikir, berperilaku dan berkomunikasi serta cenderung untuk melakukan berdasarkan asumsi- asumsi tersebut”. Seorang Esposito dalam karya fontumentalnya (Ensiklopedi

  

Oxford: Dunia Islam Modern ). Menyatakan hasil risetnya tentang ziarah

  kubur sebagai hal yang pernah dilakukan umat islam zaman dahulu dan memiliki kecenderungan dilakukan sampai saat ini oleh golongan Islam yang masih menyakini tentang wasiah atau perantara orang-orang suci (Esposito, 2001:196)

  ”. Umumnya umat Islam yang mempercayai hal itu dalam hidupnya dalam waktu tertentu berkunjung ke pemakaman tertentu yang dianggap sebagai orang suci semasa hidupnya. Seperti halnya makam Nangka Beurit Kabupaten Subang, yang sering dikunjungi oleh masyarakat untuk melakukan tradisi berziarah.

  Pada masyarakat tertentu, tradisi yang berkaitan dengan peristiwa kelahiran, kematian dan perkawinan, serta berbagai peristiwa lainnya termasuk budaya ziarah kubur ternyata memiliki banyak ragamnya.

  7 penduduknya dengan berbagai motivasi dan tujuan yang tidak lepas dari pandangan hidup masyarakat pada umumnya. Dalam pandangan masyarakat yang sering melakukan ziarah kubur, diantaranya bahwa roh orang suci itu memiliki daya melindungi alam. Berikut merupakan padangan masyarakat mengenai ziarah yang telah diperjelas oleh Koentijaraningarat :

  “Orang suci yang meninggal, arwahnya tetap memiliki daya sakti, yaitu dapat memberikan pertolongan kepada orang yang masih hidup sehingga anak cucu yang masih hidup senantiasa berusaha untuk tetap berhubungan dan memujanya. (Koentijaraninggrat,

  1984:185) ”.

  Hal ini desebabkan dalam pandangan masyarakat umumnya roh yang meninggal itu bersifat abadi. Pada pernyataan tersebut peneliti memfokuskan objek pemakaman Nangka Beurit sebagai tempat berziarah, yang dijadikan sebagai media transendental. Fenomena ini dijadikan sebagai kebudayaan bagi masyarakat yang melakukan ritual ziarah dengan tujuan mendo

  ‟akan, adanya tujuan atau harapan, merupakan peribadatan kepada Tuhan dan sebagai budaya yang turun-temurun.

  Ziarah dijadikan media sebagai makna penyampaikan pesan-pesan yang bersifat verbal dan non verbal. Pemanfaatan media-media tradisional tentu saja tidak terlepas dari fungsinya masing-masing. Media tradisional dipergunakan sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan- pesan tertentu, dimana pemanfaatan media-media berfungsi untuk mentransmisikan pesan, menghibur, mendidik, mempengaruhi, juga

  8 berikutnya. Pesan-pesan tersebut ditransmisikan melalui simbol-simbol bahasa, warna, gerak, dan sebagainya yang memiliki makna.

  Makna yang terekspresikan secara langsung dapat diamati lewat bahasa, sedangkan yang tersembunyi bisa diamati melalui kata-kata secara tidak langsung dan juga melalui perilaku serta dari sumber yang diamati seperti simbol-simbol. Menurut James P. Spradley (1997 : 121) dan dikutip oleh Alex Sobur dalam buku “Semiotika Komunikasi”, bahwa: “Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol.” (Sobur, 2006 : 177)

  Menurut Clifford Geertz (1922 : 51) dan dijelaskan kembali oleh

  Alex Sobur

  dalam buku “Semiotika Komunikasi”, bahwa: “Makna hanya dapat „disimpan‟ di dalam simbol.” (Sobur, 2006 : 177) Sekalipun demikian, didalam setiap masyarakat, orang tetap menggunakan sistem makna yang kompleks ini untuk mengatur tingkah laku mereka, untuk memahami diri mereka sendiri dan orang lain, serta untuk memahami dunia tempat mereka hidup.

  Sistem simbol dan makna tersebut dapat diaplikasikan melalui interaksi simbolik. Esensi interaksi simbolik menurut Mulyana dan dikutip dalam bukunya Alex Sobur y ang berjudul “Semiotika

  

Komunikasi”, adalah: “Suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manuisa,

  9 yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna.” (Sobur, 2006 : 197)

  Sedangkan menurut Engkus Kuswarno dalam bukunya

  “Etnografi Komunikasi” mengatakan bahwa:

  “Karakteristik dasar ide ini adalah suatu hubungan yang terjadi secara alami antara manusia dalam masyarakat dan hubungan masyarakat dengan individu. Interaksi yang terjadi antara individu berkembang melalui simbol-simbol yang mereka ciptakan. Realitas sosial merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi pada beberapa individu dalam masyarakat. Interaksi yang dilakukan antar individu itu berlangsung secara sadar dan berkaitan dengan gerak tubuh, vokal, suara, dan ekspresi tubuh, yang kesemuanya itu mempunyai maksud dan disebut dengan simbol

  .” (Engkus Kuswarno, 2011 : 22) Adapun menurut teoritisi interaksi simbolik yang dipaparkan dalam buku

  “Metodologi Penelitian Kualitatif” karya Deddy Mulyana

  bahwa: “Kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Mereka tertarik pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yang ditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak- pihak yang terlibat dalam interaksi sosial.”

  (Deddy Mulyana, 2010 : 71) Dari beberapa esensi mengenai interaksi simbolik di atas, secara tidak langsung memberitahukan bahwa hidup agaknya memang digerakan oleh simbol-simbol, dibentuk oleh simbol-simbol, dan dirayakan dengan simbol-simbol dan itu yang menjadikan suatu aktivitas sebagai ciri khas manusia termasuk aktivitas budaya.

  10 Dalam masyarakat, kebudayaan sering diartikan sebagai the

  

general body of the arts, yang meliputi seni sastra, seni musik, seni pahat,

  seni rupa, ilmu pengetahuan dan filsafat, atau bagian-bagian yang indah dari kehidupan manusia, sedangkan menurut para ahli kebudayaan diartikan sebagai berikut :

  Pengertian paling tua atas kebudayaan diajukan oleh Edward

  Burnett Tylor dalam karyanya berjudul “Primitive Culture” dan dikutip

  oleh Alo Liliweri, dalam bukunya yang berjudul

  “Dasar-Dasar

Komunikasi Antar Budaya” yang menyatakan bahwa: “Kebudayaan

  adalah kompleks dari keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat istiadat dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat.” (Liliweri, 2004 : 107).

  Menurut Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi dalam buku yang berjudul

  “Sosiologi Suatu Pengantar” karya Soerjono Soekanto,

  kebudayaan didefinisikan sebagai berikut : “Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material

  culture) yang diperlukan manusia untuk menguasai alam sekitar,

  agar kekuatan serta hasil dapat diabadikan untuk keperluan masyarakat.” (Soerjono Soekanto, 2007 : 151) Dikatakan (Geertz, dalam Susanto, 1992:57) dan dikutip kembali oleh Alex Sobur, dalam buku “Semiotika Komunikasi”:

  11 “Kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui mana manusia berkomunikasi, mengekalkan dan memperkembangkan pengetahuan tentang kehidupan ini dan bersikap terhadap kehidupan ini.” (Alex Sobur, 2006 : 178) Kearifan terlahir dari nilai-nilai dan perilaku dalam tatanan kehidupan masyarakat dalam proses yang tidak singkat dan keberlangsungannya dimediakan secara turun temurun. Kearifan lokal (local wisdom) merupakan kebijaksanaan yang dipraktekkan dalam berkehidupan masyarakat di suatu kawasan dengan menerapkan pengetahuan-pengetahuan lokal sesuai dengan watak dan perilaku masyarakatnya. Kearifan lokal ini disebut juga sebagai kearifan tradisional. Menurut Nina H. Lubis, dalam bukunya

  “Sejarah dan Budaya Politik”, Kearifan tradisional didefinisikan sebagai berikut :

  "Kearifan tradisional atau kearifan lokal adalah sesuatu yang berakar pada masa lalu dalam kehidupan tradisional lokal yang dijadikan rujukan tatanan kehidupan dan kebudayaan lokal masing- masing. Setiap kelompok memiliki kearifan lokal tersendiri untuk memelihara kesatuan integritas dan juga jati diri kelompok atau kaumnya. Kearifan tradisional artinya wawasan atau cara pandang menyeluruh yang bersumber dari tradisi kehidupan.” (Nina H. Lubis, 2002 : 221)

  Ajip Rosidi dalam bukunya yang berjudul “Kearifan Lokal”,

  mengatakan bahwa istilah “Kearifan Lokal” merupakan terjemahan dari

  

“Local Genius”. “Local Genius” sendiri diperkenalkan pertama kali oleh

Quaritch Wales pada tahun 1948-

  1949 dengan arti : “Kemampuan

  12 kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kebudayaan itu berhubungan.” (Rosidi, 2011 : 29)

  Bertolak dari penjelasan secara keseluruhan yang telah dikemukakan di atas. peneliti menyadari bahwa pentingnya keberadaan kebudayaan dalam suatu daerah, karena kebudayaan merupakan fakta kompleks yang selain memiliki kekhasan pada batas tertentu juga memiliki ciri yang bersifat universal dan menyangkut semua aspek kehidupan manusia yang disampaikan melalui suatu media ataupun interaksi, tetapi dewasa ini terdapat kecenderungan memudarnya nilai-nilai budaya pada setiap segi kehidupan masyarakat, khususnya budaya ziarah yang dijadikan sebagai media komunikasi transcendental.

  Pada zaman dahulu orang menganggap ziarah sebagai kunjungan yang merujuk pada aktivitas mengunjungi pemakaman dengan maksud mendo‟akan bagi yang sudah meninggal dan mengingat akan kematiannya. Dalam hal ini Eposito (2001:195) berdasarkan dokumen kaum Sunni, pada suatu waktu antara periode 610 dan 622, Nabi jelas-jelas melarang mengunjungi pemakaman dikarenakan bobot praktik tersebut cenderung berlebihan. Seperti menangis di samping kuburan atau menatapi orang yang sudah tiada, mengelus-elus kuburan, bahkan sampai aksi menampar pipi dan merobek pakaian (Bukhori, jana‟iz, hadis 382) Kegiatan yang berlebihan semacam itulah yang samapai pada akhirnya muncul pelanggaran praktik ziarah kubur.

  13 Spradley menjelaskan focus perhatian etnografi adalah pada apa yang individu dalam suatu masyarakat lakukan (prilaku), kemudian apa yang mereka bicarakan (bahasa), dan trakhir apakah ada hubungan antara prilaku dengan apa yang seharusnya dilakukan dalam masyrakat tersebut, sebaik apa yang mereka buat atau mereka pakai sehari-hari (artifak).

  Disini peneliti tertarik untuk dapat meneliti mengenai Makna

  Ziarah Sebagai Media Komunikasi Transendental (Studi Etnografi Komunikasi Mengenai Ziarah di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang) , dimana disini peneliti ingin memberikan penjelasan

  mengenai adanya suatu tradisi ziarah yang sering dilakukan oleh masyarakat sebagai budaya yang dijadikan tradisi komunikasi transendental bagi yang berkunjung ke pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang.

1.2. Rumusan Masalah

  Dalam penelitian ini, peneliti dapat merumuskan masalah berdasarkan kerangka pemikiran sebelumnya, yakni :

1.2.1. Pertanyaan Makro

  Berdasarkan masalah diatas maka didapat pertanyaan makro dalam penelitian ini. Yaitu sebagai berikut :

  “Bagaimana Makna Ziarah Sebagai Media Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang?”

  14

  1.2.2. Pertanyaan Mikro

  Pada penelitian ini, peneliti merinci secara jelas dan tegas dari fokus pada rumusan masalah yang masih bersifat umum dengan subfokus-subfokus terpilih dan dijadikannya sebagai Pertanyaan Mikro. Dimana Pertanyaan Mikro akan dijabarkan seperti dibawah ini : 1.

  Bagaimana Situasi Simbolik Ziarah Sebagai Media Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang? 2. Bagaimana Produk Interaksi Sosial Ziarah Sebagai Media

  Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang? 3. Bagaimana Interpretasi Ziarah Sebagai Media Komunikasi

  Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang? 1.3.

   Kegunaan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian

  Adapun disini peneliti memiliki maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menguraikan, mengenai Makna Ziarah Sebagai

  Media Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang .

  1.3.2. Tujuan Penelitian

  Bekaitan dengan masalah yang akan diteliti, maka adapun tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah :

  15

  1. Untuk Mengetahui Situasi Simbolik Ziarah Sebagai Media Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang.

  2. Untuk Mengetahui Produk Interaksi Sosial Ziarah Sebagai Media Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang.

  3. Untuk Mengetahui Interpretasi Ziarah Sebagai Media Komunikasi Transendental di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang.

1.4. Kegunaan Penelitian 1.4.1. Kegunaan Teoritis

  Secara teoritis penulis berharap agar penelitian ini dapat menjadi bahan pengembangan ilmiah terutama bagi ilmu komunikasi khususnya mengenai makna ziarah sebagai media komunikasi transendental serta pengembangan ilmiah bagi ilmu sosial akan keberadaan budaya yang ada dalam sosialitas kita, yang salah satu contoh nyatanya mengenai ziarah sebagai media komunikasi.

1.4.2. Kegunaan Praktis

  Adapun dalam penelitian ini, selain memiliki kegunaan teoritisnya peneliti pun memaparkan kegunaan praktis dari penelitian yang dilakukan. Yaitu :

  16

  a) Kegunaan untuk Peneliti

  Dengan adanya penelitian ini diharapkan memberikan manfaat dan kegunaannya bagi peneliti. Dijadikan, sebagai pengalaman dan pembelajaran dalam mengaplikasikan pemahaman mengenai Ilmu Komunikasi secara umum dan Komunikasi Transendental.

  b) Kegunaan untuk Akademik Adapun manfaat dan kegunaannya bagi Akademisi.


Dokumen yang terkait

Pola komunikasi kaum sosialita di lingkungan masyarakat Kota Bandung : (studi deskriptif pola komunikasi kaum sosialita di Komunitas ABSOLVE Bandung)

0 14 1

Perilaku komunikasi para pengguna media sosial path di kalangan mahasiswa UNIKOM Kota Bandung : (studi deksriptif mengenai perilaku komunikasi para pengguna media sosial path di kalangan mahasiswa UNIKOM Kota Bandung)

7 114 145

Makna dalam kesenian sisingaan di Desa Sukajaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandun Barat ( studi etnografi komunikasi dalam kesenian Sisingaan di Desa Sukajaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat)

2 12 1

Perilaku komunikasi para pengguna media sosial path di kalangan mahasiswa UNIKOM Kota Bandung : (studi deksriptif mengenai perilaku komunikasi para pengguna media sosial path di kalangan mahasiswa UNIKOM Kota Bandung)

1 10 145

Perilaku komunikasi dalang sandiwara : (studi fenomologi mengenai perilaku komunikasi dalang sandiwara di Kecamatan Patrol Kabupaten Indramayu)

0 12 1

Komunikasi non verbal wasit sepak bola : (studi deskriptif komunikasi non verbal wasit dalam memimpin pertandingan sepak bola di Kabupaten Subang)

0 7 1

Aktivitas Komunikasi Upacara Adat Babarita (studi etnografi komunitas mengenai aktivitas komunikasi dalam upacara adat babarit Di Desa Sagarahiang Kabupaten Kuningan)

4 58 99

Pola komunikasi Bandung Xperia Communtiy dalam mepertahankan solidaritas anggotanya : (studi deskriptif mengenai pola komunikasi Bandung Xperia Community dalam mempertahankan solidaritas anggotanya)

1 11 112

Makna ziarah sebagai media komunikasi transendental : (studi etnografi komunikasi mengenai ziarah di Pemakaman Nangka Beurit Kabupaten Subang)

9 43 155

Desain komunikasi visual sebagai media promosi museum purbakala Sangiran

0 1 8

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1878 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 495 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 437 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 262 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 578 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 506 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 320 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 494 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 588 23