Kelemahan Pelaksanaan Kegiatan

Kelemahan Pelaksanaan Kegiatan

5.10 Pelaksanaan program Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle (mendaur ulang) atau 3R oleh instansi pemerintah pusat dan daerah tidak dilaksanakan secara terpadu mengakibatkan pemborosan keuangan negara sebesar Rp19,66 miliar dan tidak tercapainya tujuan program 3R secara optimal.

5.11 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kota Bekasi, dan Kota Denpasar tidak mencapai sasaran dan target sesuai master plan atau rencana strategik pengelolaan sampah daerahnya. Hal tersebut mengakibatkan tujuan pengelolaan sampah seperti pengurangan timbunan sampah ke TPA, peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan persampahan, peningkatan SDM yang profesional dalam mengelola kebersihan kota, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah dan kebersihan kota tidak tercapai sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

5.12 Kegiatan Jabodetabek Waste Management Corporation (JWMC) Consultant Support senilai Rp9,91 miliar dan USD651.40 ribu pada Kementerian PU tidak menghasilkan output sesuai yang telah ditetapkan, seperti terbentuknya suatu organisasi pengelola sampah yang memadai untuk area Jabodetabek, dan tersusunnya rencana tindakan peningkatan operasi TPA open dumping.

5.13 Pewadahan sampah pada tempat penampungan sementara (TPS) di Kota Jakarta, Kota Bandung dan Kota Denpasar tidak memenuhi persyaratan 5.13 Pewadahan sampah pada tempat penampungan sementara (TPS) di Kota Jakarta, Kota Bandung dan Kota Denpasar tidak memenuhi persyaratan

5.14 Pelayanan pengangkutan sampah yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan Kota Bekasi, Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung, dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Gianyar tidak optimal

5.15 Pemberian biaya BBM solar kendaraan angkut sampah ke Stasiun Peralihan Antara (SPA)/Pusat Daur Ulang dan Komposting (PDUK) Cacing Jakarta dan TPA Bantar Gebang Kota Bekasi senilai Rp39,09 miliar yang ditetapkan dalam SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 91 Tahun 2000 kurang memperhatikan jarak tempuh perjalanan yang berbeda, yang disebabkan dasar penetapan jatah BBM solar untuk kendaraan tipe kecil sebanyak 30 liter/rit dan kendaraan tipe besar sebanyak 35 liter/rit kurang didukung dengan penelitian dan kajian yang memadai.

5.16 Pengelolaan sampah di TPA aktif dan bekas TPA tidak berwawasan lingkungan (environmental friendly) mengakibatkan lingkungan di sekitar TPA menjadi tercemar sehingga menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar, serta membahayakan keselamatan masyarakat. Permasalahan ini disebabkan Provinsi DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kota Bandung, Kota Denpasar, dan Kabupaten Gianyar tidak menjalankan kewajibannya untuk:

• melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; dan

• melakukan penegakan hukum lingkungan hidup pada tingkat provinsi/ kabupaten/kota.

5.17 Kegiatan revitalisasi TPA Regional Sarbagita di Suwung, Bali menghadapi permasalahan seperti wilayah TPA Suwung yang direvitalisasi menjadi Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) Sarbagita belum seluruhnya memiliki izin pemanfaatan kawasan hutan dari Menteri Kehutanan, pekerjaan caping area dan landscape sebagian dilakukan di area yang belum memiliki izin tersebut, dan pekerjaan lapisan proteksi leachate sebagian dilakukan di area yang dikelola pihak swasta (dhi. PT NOEI). Hal ini mengakibatkan tujuan konservasi hutan mangrove di Tahura Ngurah Rai berpotensi tidak tercapai dan pemborosan keuangan negara sebesar Rp2,23 miliar.

5.18 PT GTJ belum memenuhi kewajibannya sesuai kontrak atas pekerjaan pematangan lahan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang senilai Rp543,78 juta yang disebabkan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta belum optimal melaksanakan pengawasan pelaksanaan perjanjian kerjasama dengan PT GTJ dalam meningkatkan sarana dan prasarana 5.18 PT GTJ belum memenuhi kewajibannya sesuai kontrak atas pekerjaan pematangan lahan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang senilai Rp543,78 juta yang disebabkan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta belum optimal melaksanakan pengawasan pelaksanaan perjanjian kerjasama dengan PT GTJ dalam meningkatkan sarana dan prasarana

5.19 Pengadaan bahan baku tanah penutup (cover soil) TPA Sumur Batu tidak memenuhi/mencapai tujuan pengadaan cover soil dan tidak efektif dalam mengurangi permasalahan lingkungan yang ada, mengakibatkan pemborosan keuangan daerah senilai Rp542,60 juta.

5.20 Institusi pemerintah terkait perubahan iklim sampai dengan November 2009 berjumlah lima institusi, yaitu KNLH (dhi. Asdep Urusan Pengendalian Dampak Perubahan Iklim (Asdep 2/III), Kementerian PPN (Sub Direktorat Iklim dan Cuaca pada Direktorat Lingkungan Hidup), Komisi Nasional Perubahan Iklim (Komnas PI), Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB), dan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Banyaknya institusi ini mengakibatkan kinerja pemerintah terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim menjadi tidak efisien dan efektif, serta menimbulkan risiko tumpang tindih tugas, kewenangan, kegiatan, dan pembiayaan.

5.21 Kegiatan-kegiatan terkait clean development mechanism (CDM )pengolahan sampah senilai Rp538,84 juta pada Kementerian PU berisiko tidak berkelanjutan sehingga manfaat yang direncanakan dari penerapan rencana lanjutan dari pekerjaan jasa konsultasi kajian penerapan mekanisme pembangunan bersih bidang persampahan belum dapat dirasakan.