UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN SERAPAN HARA TANAMAN JAGUNG MANIS Zea mays saccharata Sturt.)PADA TANAH ULTISOL NATAR

ABSTRAK

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA
DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI
DAN SERAPAN HARA TANAMAN JAGUNG MANIS
(Zea mays saccharata Sturt.) PADA TANAH
ULTISOL NATAR
Oleh
YOGA HERIANTO

Jagung manis merupakan tanaman yang mampu mengangkut hara yang tinggi dari
dalam tanah. Sehingga dibutuhkan usaha pemupukan untuk meningkatkan
produksi jagung manis sekaligus memelihara kesuburan tanah. Pupuk
Organonitrofos merupakan pupuk organik yang terbentuk dari proses
pengomposan kotoran sapi segar (FM) dan batuan fosfat (BF) yang ditambahkan
mikroba penambat N (Aspergillus niger dan Pseudomonas fluorescens) dan pelarut
P (Azobacter sp dan Azospirillum sp). Untuk mengetahui kinerja dari pupuk
Organonitrofos dan kombinasinya maka dilakukan uji efektivitasnya terhadap
tanaman jagung manis. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui dosis
pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk kimia yang terbaik
terhadap pertumbuhan, produksi dan serapan hara tanaman jagung manis, dan (2)
Mengetahui efektivitas pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia secara agronomi maupun ekonomi pada tanaman jagung manis. Pada
penelitian ini terdapat 6 perlakuan yaitu A (kontrol), B (Urea 400 kg ha-1, SP-36

300 kg ha-1, KCl 250 kgha1), C (urea 300 kg ha-1, SP-36 225 kg ha-1, KCl 187.5
kg ha-1, Organonitrofos 500 kg ha-1), D (urea 200 kg ha-1, SP-36 150 kg ha-1, KCl
125 kg ha-1, 1000 Organonitrofos kg ha-1), E (urea 100 kg ha-1, SP-36 75 kg ha-1,
KCl 62.5 kg ha-1, Organonitrofos 2000 kg ha-1), T6 (Organonitrofos 3000 kg ha-1)
dengan 3 ulangan. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak kelompok. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk Organonitrofos dan
kombinasinya dengan pupuk kimia dengan dosis Urea 300 kg ha-1, SP-36 225 kg
ha-1, KCl 187,5 kg ha-1 dan Organonitrofos 500 kg ha-1 memberikan pengaruh
nyata dalam meningkatkan pertumbuhan, produksi dan serapan hara, tetapi tidak
berbeda nyata terhadap perlakuan dengan dosis Urea 400 kg ha-1, SP-36 300 kg ha1

, KCl 250 kg ha-1. Serta pemberian pupuk Organonitrofos dan kombinasinya

dengan pupuk kimia dengan dosis Urea 300 kg ha-1, SP-36 225 kg ha-1, KCl 187,5
kg ha-1 dan Organonitrofos 500 kg ha-1 memberikan pengaruh efektif secara
agronomis maupun ekonomis berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan, tetapi
tidak lebih efektif dibandingkan dengan dosis rekomendasi.

Kata kunci : Organonitrofos, Efektivitas pemupukan, Jagung manis

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA
DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI
DAN SERAPAN HARA TANAMAN JAGUNG MANIS
(Zea mays saccharata Sturt.) PADA TANAH
ULTISOL NATAR

(Skripsi)

Oleh
YOGA HERIANTO

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

DAFTAR GAMBAR

Gambar
Halaman
1. Tata letak percobaan ................................................................................
12
2.

Pengaruh pemupukan terhadap tinggi tanaman jagung manis ................

28

3.

Pengaruh pemupukan terhadap jumlah daun jagung manis ....................

30

4.

Pengaruh pemupukan terhadap diameter batang jagung manis ..............

33

i

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ...................................................................................
iii
DAFTAR GAMBAR ...............................................................................

ix

I. PENDAHULUAN ...............................................................................

1

1.1 Latar belakang dan Masalah ..........................................................
1.2 Tujuan ...........................................................................................
1.3 Kerangka pemikiran ......................................................................
1.4 Hipotesis ........................................................................................

1
4
5
7

II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................

8

2.1 Tanaman jagung manis .................................................................
2.2 Tanah Ultisol .................................................................................
2.3 Pengaruh pupuk Organonitrofos dan pupuk kimia terhadap
pertumbuhan dan produktivitas jagung manis ..............................
2.4 Peranan Nitrogen, Fosfor dan Kalium dalam tanaman ..................

8
9
11
13

II. METODE PENELITIAN .................................................................
3.1 Tempat dan waktu penelitian ........................................................
3.2 Bahan dan alat ...............................................................................
3.3 Metode penelitian ..........................................................................
3.4 Pelaksanaan penelitian ..................................................................
3.5 Variabel pengamatan .....................................................................

15
15
15
16
16
19

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................

23

4.1 Pupuk Organonitrofos dan Sifat Kimia Tanah ..............................
4.2 Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan
pupuk kimia terhadap tinggi tanaman jagung manis ....................
4.3 Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan
pupuk kimia terhadap jumlah daun jagung manis ........................
4.4 Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan
pupuk kimia terhadap diameter batang jagung manis ...................
4.5 Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan
pupuk kimia terhadap bobot berangkasan jagung manis ..............

23
28
30
33
35

ii

4.6 Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan
pupuk kimia terhadap bobot produksi jagung manis ....................
4.7 Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan
pupuk kimia terhadap serapan NPK jagung manis .......................
4.8 Relative Agronomic Effectiveness (RAE) .....................................
4.9 Uji ekonomis pupuk Organonitrofos .............................................

39
43
50
51

V. KESIMPULAN DAN SARAN .........................................................

55

5.1 Kesimpulan ..................................................................................
5.2 Saran .............................................................................................

55
56

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................

57

LAMPIRAN ..............................................................................................

61

iii

DAFTAR TABEL

Tabel
Halaman
1. Perlakuan aplikasi pupuk organonitrofos dan pupuk anorganik .................
16
2.

Hasil analisis kimia pupuk Organonitrofos ................................................

23

3.

Hasil analisis kimia tanah sebelum penanaman dan aplikasi pupuk
Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk kimia .............................

24

Hasil analisis kimia tanah setelah aplikasi pupuk Organonitrofos dan
kombinasinya dengan pupuk kimia .............................................................

25

Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap tinggi tanaman jagung manis pada 7 MST .........................

28

Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap jumlah daun jagung manis pada 7 MST.............................

31

Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap diameter batang jagung manis pada 7 MST .......................

34

Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot berangkasan jagung manis .......................................

36

Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot produksi jagung manis p ..........................................

40

10. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot kering jagung manis ..............................................

42

11. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan N jagung manis ....................................................

44

12. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan P jagung manis .....................................................

46

4.

5.

6.

7.

8.

9.

iv

13. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan K jagung manis ....................................................

48

14. RAE pengaruh pemberian pupuk Organonitrofos dan kombinasinya
dengan pupuk kimia terhadap bobot tongkol, biji dan berangkasan
Kering ..........................................................................................................

50

15. Index rasio pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
.
anorganik .....................................................................................................

51

16. Harga asumsi pupuk subsidi dan pupuk non subsidi ..................................

52

17. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap tinggi tanaman jagung manis pada 2 MST..........................

61

18. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap tinggi tanaman jagung manis pada 3 MST........................

61

19. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap tinggi tanaman jagung manis pada 4 MST..........................

61

20. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap tinggi tanaman jagung manis pada 5 MST..........................

61

21. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap tinggi tanaman jagung manis pada 6 MST.........................

62

22. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap tinggi tanaman jagung manis pada 7 MST ........................

62

23. Uji homogenitas tinggi jagung manis pada 7 MST .....................................

62

24. Analisis ragam tinggi tanaman jagung manis pada 7 MST..........................

63

25. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap jumlah daun jagung manis pada 2 MST ............................

63

26. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap jumlah daun jagung manis pada 3 MST .............................

63

27. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap jumlah daun jagung manis pada .........................................

63

28. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap jumlah daun jagung manis pada ......................................

64

v

29. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap jumlah daun jagung manis pada 6 MST ............................

64

30. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap jumlah daun jagung manis pada 7 MST .............................

64

31. Uji homogenitas jumlah daun jagung manis pada 7 MST .........................

65

32. Analisis ragam jumlah daun jagung manis 7 MST .....................................

65

33. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap diameter batang jagung manis pada 2 MST ........................

65

34. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap diameter batang jagung manis pada 3 MST .......................

66

35. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap diameter batang jagung manis pada 4 MST ........................

66

36. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap diameter batang jagung manis pada 5 MST ........................

66

37. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap diameter batang jagung manis pada 6 MST .......................

66

38. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap diameter batang jagung manis pada 7 MST ........................

67

39. Uji homogenitas diameter batang jagung manis pada 7 MST .....................

67

40. Analisis ragam diameter batang jagung manis 7 MST ...............................

67

41. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot berangkasan basah jagung manis ..............................

68

42. Uji homogenitas bobot berangkasan basah jagung manis............................

68

43. Analisis ragam bobot berangkasan basah jagung manis .............................

68

44. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot berangkasan basah jagung manis per petak ..............

69

45. Uji homogenitas bobot berangkasan basah jagung manis per petak ............

69

46. Analisis ragam bobot berangkasan basah jagung manis per petak ..............

69

vi

47. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot berangkasan kering jagung manis .............................

70

48. Uji homogenitas bobot berangkasan kering jagung manis ..........................

70

49. Analisis ragam bobot berangkasan kering jagung manis ............................

70

50. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot kering tongkol kosong jagung manis ........................

71

51. Uji homogenitas bobot kering tongkol kosong jagung manis ......................

71

52. Analisis ragam kering tongkol kosong jagung manis .................................

71

53. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot kering biji jagung manis ............................................

72

54. Uji homogenitas bobot kering biji jagung manis .........................................

72

55. Analisis ragam kering biji jagung manis ....................................................

72

56. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot tongkol dan biji tanpa kelobot
jagung manis ................................................................................................

73

57. Uji homogenitas bobot tongkol dan biji tanpa kelobot
jagung manis ................................................................................................

73

58. Analisis ragam bobot tongkol dan biji tanpa kelobot
jagung manis ..............................................................................................

73

59. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot tongkol dan biji dengan kelobot
jagung manis ................................................................................................

74

60. Uji homogenitas bobot tongkol dan biji dengan kelobot
jagung manis ...............................................................................................

74

61. Analisis ragam bobot tongkol dan biji dengan kelobot
jagung manis ..............................................................................................

74

62. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap bobot tongkol dan biji tanpa kelobot
jagung manis per petak ................................................................................

75

vii

63. Uji homogenitas bobot tongkol dan biji tanpa kelobot
jagung manisper petak .................................................................................

75

64. Analisis ragam bobot tongkol dan biji tanpa kelobot
jagung manisper petak................................................................................

75

65. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan N jagung manis .....................................................

76

66. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan P jagung manis .......................................................

76

67. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan K jagung manis ....................................................

76

68. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara N berangkasan jagung manis ........................

77

69. Uji homogenitas serapan hara N berangkasan jagung manis .....................

77

70. Analisis ragam N berangkasan jagung manis .............................................

77

71. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara P berangkasan jagung manis ........................

78

72. Uji homogenitas serapan hara P berangkasan jagung manis .....................

78

73. Analisis ragam P berangkasan jagung manis .............................................

78

74. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara K berangkasan jagung manis .......................

79

75. Uji homogenitas serapan hara K berangkasan jagung manis .....................

79

76. Analisis ragam K berangkasan jagung manis ............................................

79

77. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara N biji jagung manis ......................................

80

78. Uji homogenitas serapan hara N biji jagung manis ...................................

80

79. Analisis ragam N biji jagung manis ...........................................................

80

viii

80. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara P biji jagung manis .......................................

81

81. Uji homogenitas serapan hara P biji jagung manis ....................................

81

82. Analisis ragam P biji jagung manis ...........................................................

81

83. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara K biji jagung manis ......................................

82

84. Uji homogenitas serapan hara K biji jagung manis ...................................

82

85. Analisis ragam K biji jagung manis ...........................................................

82

86. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara N tongkol jagung manis ...............................

83

87. Uji homogenitas serapan hara N tongkol jagung manis ............................

83

88. Analisis ragam N tongkol jagung manis ....................................................

83

89. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara P tongkol jagung manis ................................

84

90. Uji homogenitas serapan hara P tongkol jagung manis .............................

84

91. Analisis ragam P tongkol jagung manis .....................................................

84

92. Pengaruh pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia terhadap serapan hara K tongkol jagung manis ...............................

85

93. Uji homogenitas serapan hara K tongkol jagung manis ............................

85

94. Analisis ragam K tongkol tanaman jagung manis .....................................

85

95. Deskripsi Jagung Manis Varietas Bonanza F1 ...........................................

86

PERSEMBAHAN

Dengan rasa syukurku kepada Allah SWT
Kupersembahkan karyaku untuk:

Keluargaku tercinta
Papah, Mamah dan Adik-adikku yang selalu senantiasa mendoakan dan
mengharapkan keberhasilanku serta atas kasih sayang, perhatian, semangat, dan
nasihat yang takkan pernah terlupakan.

Tanah Air Tercinta
Indonesia

Almamater tercinta
Fakultas Pertanian
Universitas Lampung

iv

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Tribudisyukur Lampung Barat pada tanggal 8 Mei
1991. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Haryana dan Ibu Eti
Sariningsih. Pendidikan formal Penulis diawali dari pendidikan di Sekolah Dasar
Negeri 1 Tribudisyukur (1997-2003). Penulis melanjutkan ke Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama Negeri 2 Sumberjaya (2003-2006) dan Sekolah Menengah Atas
Perintis 2 Bandar Lampung pada tahun (2006-2009). Tahun 2009, penulis
diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian Program studi Agroteknologi
Strata 1 (S1) Reguler Universitas Lampung melalui jalur PKAB.

Penulis memilih Agronomi sebagai konsentrasi dari perkuliahan. Selama menjadi
mahasiswa, penulis pernah aktif di Koperasi Mahasiswa Universitas Lampung
(2010) dan Pengurus Perma AGT (2011-2013). Selain itu, penulis pernah menjadi
asisten mata kuliah praktikum mata kuliah Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan,
Dasar-Dasar Budidaya Tanaman (Agroteknologi dan Agribisnis), Pengantar Ilmu
Perkebunan (D3 Perkebunan) dan Produksi Tanaman Perkebunan (D3
Perkebunan). Pada Januari-Februari 2012 penulis melaksanakan Praktik Umum
(PU) di PT Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Pagar Alam Sumatera Selatan.

SANWACANA

Alhamdulillah, puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
karunia, hidayah, serta nikmat yang diberikan sehingga Penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Uji Efektivitas Pupuk Organonitrofos dan
Kombinasinya dengan Pupuk Kimia terhadap Pertumbuhan, Produksi dan Serapan
Hara Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) pada Tanah
Ultisol Natar”. Penyusunan skripsi ini merupakan syarat memperoleh gelar
Sarjana Pertanian pada Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas
Lampung.

Dalam penyusunan skripsi ini Penulis banyak mendapat bantuan baik ilmu,
materil, petunjuk, bimbingan dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu pada
kesempatan ini, Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1.

Bapak Dr. Ir. Yafizham, M.S. selaku dosen pembimbing I yang telah banyak
meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengetahuan, pelajaran,
ilmu, kritik dan saran serta dukungan moril-materiil kepada Penulis.

2.

Bapak Prof. Ir. J. Lumbanraja, Ph.D. selaku dosen pembimbing II yang telah
banyak meluangkan waktu memberikan bimbingan diskusi, ilmu dalam
penyelesaian skripsi Penulis.

3.

Bapak Prof. Dr. Ir. Setyo Dwi Utomo, M.Sc. selaku dosen penguji yang telah
memberikan kritik dan saran dalam penyelesaian tugas akhir ini serta semua
ilmu yang telah diberikan.

4.

Bapak Dr. Ir. Agustiansyah, M.P. selaku dosen Pembimbing Akademik.

5.

Seluruh dosen mata-kuliah Jurusan Agroteknologi atas semua ilmu, didikan,
dan bimbingan yang Penulis peroleh selama perkuliahan.

6.

Papah, Mamah dan Adik-adik (Ucu Aldi dan De’ Tia) Penulis yang telah
banyak memberi doa, dukungan moril dan materil setiap harinya.

7.

Teman-teman satu bimbingan dalam penelitian ini, Rizki Angga Kurniawan,
Eri Hendra Kesuma dan Untung Sakinata.

8.

Sahabat dan teman-teman terbaik Fajar Santoso, I Gusti Putu S., Rifky A. P.,
Ketut Adipuso, Angga Sukowardana, Aditya Haryadi, Shiamita K. Dewi,
Anggita Cheriany, Oktarina Maulidia, Husna Fii Karisma Jannah dan Indah
Fajarwati serta teman-teman Agroteknologi angkatan 2009.

9.

Keluarga besar Formatin crew yang selalu memberi keceriaan serta masukan
kepada penulis.

10. Semua pihak yang telah membantu serta mendukung Penulis yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.

Semoga Allah SWT membalas semua amal baik yang telah dilakukan. Penulis
berharap tugas akhir ini berguna bagi kelanjutan riset mengenai tema tersebut.

Bandar Lampung, Agustus 2014
Penulis

Yoga Herianto

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Di Indonesia, jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) atau sweet corn mulamula dikenal dalam bentuk kemasan kaleng hasil impor. Kemudian sekitar tahun
1980-an barulah tanaman ini dibudidayakan di Indonesia secara komersial,
meskipun masih dalam skala kecil. Selanjutnya jagung manis semakin dikenal
serta banyak dikonsumsi karena memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan
jagung biasa (Sugito dkk., 1991).

Permintaan masyarakat Indonesia akan sayuran termasuk jagung manis pada tahun
2011 yaitu sekitar 87.336 ton (Pusat Kajian Hortikultura Tropika, 2011). Hal ini
berdampak pada kebijakan pemerintah melakukan impor jagung manis pada tahun
2011 yang mencapai 4.178 ton (Direktorat Jenderal Horikultura, 2011). Tingginya
impor jagung manis tersebut disebabkan rendahnya produktivitas jagung manis di
Indonesia yang rata-rata hanya sebesar 8,31 ton ha-1 (Palungkun dan Asiani, 2004)
dengan luasan lahan tanam hanya sekitar 105 hektar (BPS Kab. Bogor, 2011) belum
mampu memenuhi kebutuhan jagung manis dalam negeri (Palungkun dan Asiani,
2004). Menurut Apriyantono (2012) produksi jagung manis khususnya varietas
Bonanza F1 berpotensi menghasilkan produksi tongkol dengan kelobot 33—34,5 ton
ha-1. Rendahnya produktivitas jagung manis di dalam negeri tersebut diakibatkan oleh

2

mahalnya biaya produksi seperti harga benih maupun harga pupuk kimia serta sistem
budidaya yang belum tepat (Palungkun dan Asiani, 2004).

Produktivitas jagung manis yang rendah di Indonesia terutama disebabkan karena
pembudidayaan dilakukan pada lahan berkesuburan tanah rendah. Sebagian besar
tanah di Lampung adalah Tanah Ultisol yaitu dengan luasan sekitar 1,5 juta hektar
(Badan Koordinasi Penanaman Modal, 2011). Prasetyo dan Suriadikata (2006)
menyatakan bahwa Tanah Ultisols umumnya memiliki kejenuhan basa < 35%, pH
tanah umumnya agak masam hingga sangat masam, serta memiliki kapasitas tukar
kation yang tergolong rendah. Kandungan unsur hara Tanah Ultisols yang rendah
ini dapat ditangani dengan pemupukan. Pemupukan merupakan pemberian unsur
hara ke dalam tanah yang bertujuan untuk mengembalikan unsur hara yang telah
diserap oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang (Lingga dan Marsono, 2001).

Pada umumnya pupuk yang digunakan dalam budidaya jagung manis adalah
pupuk anorganik. Pemakaian pupuk anorganik atau kimia selain dapat
meningkatkan produksi tanaman namun juga dapat merusak sifat fisik serta
populasi mesofauna di dalam tanah (Lingga dan Marsono, 2001). Suwahyono
(2011) mengemukakan bahwa pupuk kimia tidak mampu memperbaiki kualitas
tanah, berbeda dengan pupuk organik yang bisa berfungsi sebagai penyubur dan
pembenah tanah. Selain itu pupuk organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan
produksi tanaman karena mampu berperan dalam memperbaiki struktur tanah,
meningkatkan daya simpan air, meningkatkan aktivitas biologi tanah, serta
sebagai sumber nutrisi tanaman lengkap. Oleh karena itu dalam usaha pertanian
saat ini lebih dianjurkan menggunakan pupuk organik.

3

Pemanfaatan pupuk organik sangat diperlukan untuk perbaikan produkivitas
Tanah Ultisol agar dapat memperbaiki lingkungan media tumbuh yang sesuai
untuk pertumbuhan tanaman seperti jagung manis. Bahan organik di dalam tanah
sangat berperan dalam proses kimia, fisika dan biogis dalam tanah. Proses kimia
berkaitan dengan meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation (KTK).
Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) tanah berasal dari bahan
organik. Proses fisika dikaitkan dengan sifat polaritas air yang bermuatan negatif
dan positif yang selanjutnya berkaitan dengan partikel tanah dan bahan organik.
Sedangkan proses biologis berkaitan dengan pemberian bahan organik dapat
meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme (Ermadani dan
Mahbub, 2011).

Salah satu pupuk organik yang dapat digunakan untuk perbaikan kesuburan Tanah
Ultisol adalah pupuk Organonitrofos. Pupuk Organonitrofos terbentuk dari proses
pengomposan kotoran sapi segar (FM) dan batuan fosfat (BF) (Nugroho dkk.,
2012) yang ditambahkan mikroba penambat N (Aspergillus niger dan
Pseudomonas fluorescens) dan pelarut P (Azobacter sp dan Azospirillum sp)
(Nugroho dkk., 2013). Pemberian pupuk Organonitrofos ini diharapkan mampu
meningkatkan produksi jagung manis sehingga dapat meminimalkan penggunaan
pupuk kimia. Pada penelitian sebelumnya, Deviana (2013) menyatakan bahwa
aplikasi kombinasi pupuk Organonitrofos dan pupuk kimia dengan dosis 150 kg
urea ha-1, 50 kg SP-36 ha-1, 100 kg KCl ha-1, 2.000 kg Organonitrofos ha-1
secara signifikan dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi, serta serapan
hara P dan K pipil tanaman jagung. Sedangkan menurut Septima (2013)
pemberian pupuk Organonitrofos beserta dan kombinasinya dengan pupuk kimia

4

dengan dosis 100 kg urea ha-1 + 50 kg TSP ha-1 + 100 kg KCl ha-1 + 2.000
Organonitrofos ha-1 dan 5.000 Organonitrofos ha-1 menghasilkan tinggi tanaman
yang lebih baik daripada taraf dosis pupuk tunggal.

Pada penelitian ini kondisi lahan yang digunakan memiliki tingkat kesuburan
tanahyang lebih rendah bila dibandingkan dengan lahan penelitian pada Tanah
Ultisol Gedung Meneng. Selain itu, pada Tanah Ultisol Natar kondisi lahannya
cenderung miring yang memungkinkan unsur hara yang diberikan terbawa oleh
alian air serta memiliki sistem irigasi yang buruk karena hanya mengandalkan air
hujan atau lahan tadah hujan.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja dari pupuk Organonitrofos dan
kombinasinya dengan pupuk anorganik maka dilakukan uji efektivitas. Menurut
Departemen pendidikan nasional (2009), efektivitas adalah sesuatu yang memiliki
pengaruh atau akibat yang ditimbulkan, manjur, membawa hasil dari suatu usaha
atau tindakan yang dapat dilihat dari tercapai tidaknya tujuan yang telah
dicanangkan.

1.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian dirumuskan
sebagai berikut:
(1) Mengetahui dosis pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia yang terbaik terhadap pertumbuhan, produksi dan serapan hara
tanaman jagung manis.

5

(2) Mengetahui efektivitas pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan
pupuk kimia secara agronomi maupun ekonomi pada tanaman jagung
manis.

1.3 Kerangka Pemikiran

Tanaman jagung manis tidak akan memberikan hasil maksimal manakala unsur
hara yang diperlukan tidak cukup tersedia. Sehingga perlu dilakukan pemupukan
untuk memperbaiki kandungan unsur hara tersebut. Akibat penanaman terus
menerus tanpa penggunaan bahan organik maka akan berdampak pada penyusutan
kandungan bahan organik tanah, bahkan banyak tempat-tempat yang kandungan
bahan organiknya sudah sampai pada tingkat rawan. Padahal menurut Agitarani
(2011), bahan organik penting dalam menunjang produktivitas tanaman dan
sekaligus mempertahankan kondisi lahan yang produktif dan berkelanjutan.

Pupuk Organonitrofos merupakan pupuk yang baru dikembangkan dengan bahan
baku batuan sapi dan batuan fosfat. Nugroho, dkk., (2012) telah mengembangkan
pupuk organomineral NP (Organonitrofos). Pupuk Organonitrofos terbentuk dari
proses pengomposan kotoran sapi segar (FM) dan batuan fosfat (BF) yang
ditambahkan mikroba penambat N dan pelarut P. Dengan demikian pemberian
pupuk Organonitrofos ini diharapkan mampu meningkatkan produksi jagung
manis dan mengrangi penggunaan pupuk anorganik.

Pemberian pupuk Organonitrofos beserta dan kombinasinya dengan pupuk kimia
dengan dosis 100 kg urea ha-1 + 50 kg TSP ha-1 + 100 kg KCl ha-1 + 2.000
Organonitrofos ha-1 dan 5.000 Organonitrofos ha-1 menghasilkan tinggi tanaman

6

yang lebih baik daripada taraf dosis pupuk tunggal dan dosis 600 kg urea ha-1, 150
kg SP36 ha-1, 150 kg KCl ha-1, 500 kg Organonitrofos ha-1, serta dosis150 kg urea
ha-1, 50 kg SP36 ha-1, 100 kg KCl ha-1,1.000 kg Organonitrofos ha-1 pada tanaman
jagung (Zea mays) (Septima, 2013). Sedangkan Deviana (2013) menyatakan
bahwa peningkatan pertumbuhan dan produksi terjadi secara signifikan pada
aplikasi kombinasi pupuk Organonitrofos dan pupuk kimia dengan dosis 150 kg
-1

urea ha-1, 50 kg SP-36 ha-1, 100 kg KCl ha-1, 2.000 kg Organonitrofos ha .

Menurut Syukur dan Rifianto (2013) jagung manis merupakan tanaman
hotikultura yang dalam proses budidayanya memerlukan asupan unsur hara yang
memadai. Dibandingkan jagung pipil, jagung manis memerlukan lebih banyak
nitrogen selama siklus hidupnya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan unsur hara
tersebut dilakukan pemupukan.

Aplikasi kombinasi pupuk kimia dan pupuk organik dapat dilakukan karena
terdapat interaksi positif antar keduanya. Pupuk kimia bersifat lebih cepat tersedia
bagi tanaman, sedangkan pupuk organik bersifat lambat tersedia bagi tanaman,
tetapi dapat memperbaiki kesuburan tanah karena penguraian bahan organik oleh
organisme tanah dan dapat menjerap air yang sangat penting bagi tanaman.
Menurut Maulidia (2013) pemberian pupuk Organonitrofos disertai kombinasinya
dengan pupuk anorganik dengan dosis 100 kg ha-1 urea, 100 kg ha-1 SP36, 200 kg
ha-1 KCl, 1.000 kg ha-1 Organonitrofos mampu meningkatkan produksi umbi dan
serapan hara NPK pada tanaman ubikayu. Kombinasi penggunaan pupuk tersebut
juga diharapkan dapat mengurangi pengunaan pupuk kimia serta dapat
meningkatkan pertumbuhan dan produksi jagung manis.

7

Kombinasi antara pupuk kimia dan pupuk organik diharapkan dapat saling
melengkapi kekurangan dari masing-masing pupuk tersebut. Pupuk organik yang
dikombinasikan dengan pupuk kimia memiliki banyak kelebihan, baik bagi
tanaman maupun bagi tanah. Pemberian bahan organik ke dalam tanah dapat
membantu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia melalui perbaikan
sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta mempunyai pengaruh nyata pada
pertumbuhan dan produktifitas tanaman.

1.5 Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
(1) Terdapat dosis pupuk Organonitrofos dan kombinasinya dengan pupuk
kimia yang terbaik terhadap pertumbuhan, produksi, dan serapan hara
tanaman jagung manis.
(2) Terdapat kombinasi dosis pupuk Organonitrofos dan pupuk kimia yang
paling efektif secara agronomi maupun secara ekonomi pada tanaman
jagung manis.

8

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Jagung Manis

Jagung manis (Zea mays Saccharata) merupakan salah satu jenis tanaman yang
dipanen muda dan banyak diusahakan di daerah tropis. Jagung manis atau yang
sering disebut sweet corn dikenal di Indonesia pada awal 1980 melalui hasil
persilangan (Koswara, 1986). Sejak itu jagung manis di Indonesia mulai ditanam
secara komersial karena penanamannya yang sederhana dan digemari oleh
masyarakat.

Sifat manis pada jagung manis disebabkan oleh gen su-1 (sugary), bt-2 (britlle) ataupun
sh-2 (shrunken). Gen ini dapat mencegah perubahan gula menjadi pati pada
endosperma sehingga jumlah gula yang ada kira-kira dua kali lebih banayak dari
jagung biasa (Koswara, 1986). Menurut Syukur dan Rifianto (2013) bahwa umur
produksi jagung manis lebih genjah, sehingga sangat menguntungkan dari segi
ekonomi.

Jagung manis tergolong tanaman monokotil yang berumah satu (monoecious) yang
artinya benang sari dan putik terletak pada bunga yang berbeda, tetapi dalam satu
tanaman yang sama. Berdasarkan tipe bunga tersebut, maka penyerbukannya dilakukan
dengan menyerbuk silang. Penyerbukan dibantu oleh angin dan gaya gravitasi.
Penyerbukan juga dapat dipengaruhi oleh suhu dan varietas jagung manis dan dapat

9

berakhir setelah 3 -- 10 hari. Rambut togkol biasanya muncul 1 – 3 hari setelah serbuk
sari mulai tersebar dan siap diserbuki keluar dari kelobot, dengan potensi produksi
tongkol optimal sebesar 20 ton ha-1 (Syukur dan Rifianto, 2013).

Syukur dan Rifianto (2013) mengatakan bahwa untuk memperoleh produksi yang
tinggi, jagung manis sebaiknya dibudidayakan di dataran rendah hingga dataran
tinggi (0 - 1.500 m dpl) pada lahan kering yang berpengairan cukup maupun tadah
hujan dengan pH tanah antara 5,5 - 7. Selain itu, pemberian pupuk N, P dan K
merupakan salah satu penunjang keberhasilan dalam budidaya jagung manis. Hal
ini karena sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas produksi jagung
manis.

Selain syarat tumbuh dan pemupukan, benih unggul sangat berpengaruh terhadap
tinggi atau rendahnya hasil produksi. Menurut Sugito dkk. (1991), benih
merupakan faktor yang penting untuk menunjang keberhasilan awal kehidupan
tanaman. Sehingga untuk mendapatkan produksi yang tinggi perlu digunakan
benih yang bermutu juga. Benih sweet corn berbeda dengan jagung biasa,
bentuknya keriput dan lebih ringan. Selain itu, benih sweet corn masih sulit
diusahakan sendiri dan hanya bisa dilakukan oleh pemulia tanaman.

Dalam usaha memenuhi faktor penunjang keberhasilan budidaya, munculnya
hama dan penyakit menjadi salah satu faktor penghambat yang dapat merusak
hasil produksi. Kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit berkisar
5 - 50%. Bahkan bila serangan tersebut sangat fatal bisa mengaibatkan
kehilangan total. Oleh karena itu, pengendalian hama dan penyakit merupakan

10

tahap yang harus untuk menunjang keberhasilan usaha budidaya jagung manis,
baik prefentif maupun pengendalian (Syukur dan Rifianto, 2013).

2.2 Tanah Ultisol

Ultisol merupakan tanah mineral asam yang memiliki produktivitas rendah
dengan bahan organik tanah rendah, nutrisi, kation kapasitas tukar (KTK) dan
konten yang relatif Al tinggi. Peningkatan kimia tanah properti sangat diperlukan
untuk meningkatkan produktivitas tanaman (Ermadani dan Mahbub, 2011).
Menurut Sutanto (2005), luasan tanah Ultisol di Indonesia meliputi ± 49 juta
hektar atau 26% dari luas daratan Indonesia dengan topografi datar-bergunung
atau bergelombang-berbukit.

Tanah Ultisol dicirikan oleh adanya akumulasi liat pada horizon bawah. Tanah
ultisol memiliki horizon tanah dengan peningkatan liat yang dikenal sebagai
horizon argilik. Biasanya horizon ini kaya akan Al yang mengakibatkan peka
terhadap perkembangan akar suatu tanaman. Selain itu, kandungan hara pada
umumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif dan kandungan
bahan organik rendah karena proses dekomposisi berjalan cepat dan sebagian
terbawa erosi. Dominasi kaolinit pada tanah ini tidak memberi kontribusi pada
kapasitas tukar kation tanah, sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung
pada kandungan bahan organik dan fraksi liat. Sedangkan reaksi tanah pada
umumnya masam hingga sangat masam (pH 5−3,10), kecuali dari batu gamping
yang mempunyai reaksi netral hingga agak masam (pH 6,80−6,50). (Prasetyo dan
Suriadikarta, 2006). Menurut Arsyad (2001), usaha tani tanaman semusim pada
lahan kering Ultisol dapat mempercepat degradasi lahan terutama akibat curah

11

hujan yang tinggi dan erosi serta pengelolaan tanah yang tidak sesuai dengan
kaidah konservasi tanah dan air.

Menurut Sutedjo dan Kartasaputra (2010) pemberian pupuk perlu diperhatikan
karena pertanaman dan panenan yang terus-menerus tanpa diimbangi dengan
pemberian pupuk akan menguras unsur-unsur hara yang tersedia dalam tanah.
Sehingga kesuburan tanah dapat tetap terjaga walaupun digunakan sebagai lahan
pertanian.

2.3 Pengaruh pupuk Organonitrofos dan pupuk kimia terhadap
pertumbuhan dan produktivitas jagung manis

Pupuk merupakan zat yang berisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk
menggantikan unsur hara di dalam tanah yang telah habis digunakan oleh tanaman
untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan pemupukan adalah menambah unsur
hara bagi tanah (pupuk akar) atau tanaman (pupuk daun) (Lingga dan Marsono,
2001).

Berdasarkan asal pembuatannya, pupuk digolongkan menjadi pupuk organik dan
pupuk anorganik. Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari alam baik
tumbuhan maupun hewan. Pupuk ini mempunyai kelebihan yaitu memperbaiki
struktur tanah, menaikkan daya serap tanah terhadap air, menaikkan kondisi
kehidupan di dalam tanah dan sebagai sumber zat bagi tanaman. Sedangkan
pupuk anorganik merupakan pupuk yang pembuatannya dibantu oleh manusia dan
mesin. Kelebihan dari pupuk ini adalah dapat diberikan dengn takaran yang pas,
tersedia dalam jumlah yang cukup serta mudah tersedia bagi tanaman. Namun,
penggunaan pupuk anorganik memiliki kelemahan yaitu hampir tidak memiliki

12

unsur hara mikro. Sehingga penggunaan pupuk anorganik ini perlu diimbangi
dengan pupuk organik yang mengandung hara mikro (Lingga dan Marsono,
2001).

Pupuk nitrogen merupakan salah satu pupuk yang sangat dibutuhkan bagi semua
pertumbuhan tanaman, karena fungsinya sebagai penyusun semua senyawa
protein. Pada tanaman yang sering dipangkas, kekurangan nitrogen akan
berpengaruh terhadap pembentukan cadangan makanan untuk pertumbuhan
tanaman (Lindawati, dkk., 2000). Menurut Kresnatita (2004), jagung manis
merupakan tanaman yang responsif terhadap pemupukan. Pupuk nitrogen
merupakan kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi jagung. Dosis
pupuk nitrogen yang direkomedasikan untuk tanaman jagung manis adalah 200 N
kg ha-1.

Menurut Sirappa dan Razak (2010), tanaman jagung membutuhkan minimal 13
jenis unsur hara selama pertumbuhannya yang diserap melalui tanah. Unsur hara
N, P, dan K diperlukan dalam jumlah lebih banyak dan sering kekurangan. Unsur
hara Ca, Mg, dan S diperlukan dalam jumlah sedang. Sementara itu, unsur hara
Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit.

Pupuk Organonitrofos merupakan jenis pupuk organik yang berasal dari
campuran kotoran sapi dan batuan fosfat. Dalam pupuk ini diberikan mikroba
pelarut fosfat yang berfungsi untuk melarutkan batuan fosfat, dan mikroba
amonifikasi berfungsi dalam proses mineralisasi N yang mengubah N organik
menjadi NH4. Disamping itu, kotoran sapi segar yang telah terdekomposisi
menghasilkan NH4+ dan NO3- yang tersedia bagi tanaman ( Triolanda, 2011).

13

Pupuk organomineral NP (organonitrofos) adalah pupuk organik alternatif degan
bahan baku kotoran sapi (fresh manure) yang dikombinasikan dengan bahan
batuan fosfat (BF) dengan kombinasi campuran yang tepat serta diberikan
mikroba yang dapat meningkatkan peningkatan N2 (N2-fixer) dan pelarut fosfat
(P-solubilizer) melalui proses inokulasi ke dalam bahan campuran tersebut. Kedua
bahan baku tersebut bersumber dari sumberdaya lokal yang cukup melimpah di
Provinsi Lampung, sehingga harga pupuk alternatif ini akan lebih mudah dan
lebih kompetitif (Nugroho, dkk., 2012).

Menurut Yupitasari (2013) kombinasi pupuk Organonitrofos dengan pupuk
kimia secara nyata menghasilkan pertumbuhan, serapan hara N, P, dan K
tanaman dan buah tomat, dan produksi terbaik pada perlakuan urea 100 kg ha-1,
SP-36 50 kg ha-1, KCl 50 kg ha-1, Organonitrofos 1.000 kg ha-1. Hai ini serupa
dengan penelitian Deviana (2013) bahwa perlakuan dengan dosis 150 kg urea ha1

+ 50 kg SP-36 ha-1 + 100 kg KCl ha-1 +1.000 kg Organonitrofos ha-1 memiliki

tinggi tanaman yang lebih tinggi, jumlah daun yang lebih banyak serta produksi
terbaik dibandingkan perlakuan lainnya. Tetapi menurut Septima (2013)
pemberian pupuk Organonitrofos beserta dan kombinasinya dengan pupuk kimia
dengan dosis 100 kg urea ha-1 + 50 kg TSP ha-1 + 100 kg KCl ha-1 + 2.000
Organonitrofos ha-1 dan 5.000 Organonitrofos ha-1 menghasilkan tinggi tanaman
yang lebih baik.

14

2.4 Peranan Nitrogen, Fosfor dan Kalium dalam tanaman

Nitrogen (N) merupakan bagian pokok tanaman hidup yang hadir sebagai satuan
fundamental dalam protein, asam nukleik, klorofil dan senyawa organik lain yang
bersifat vital. Nitrogen memegang peranan penting sebagai penyusun klorofil,
yamg menjadikan daun berwarna hijau. Wana daun ini merupakan petunjuk yang
baik bagi aras nitrogen suatu tanaman. Kandungan nitrogen yang tinggi
menjadikan dedaunan lebih hajau dan mampu bertahan lebih lama
(Poerwowidodo, 1992).

Fosfor (P) termasuk unsur hara esensial bagi tanaman dengan fungsi sebagai
pemindah energi sampai segi-segi gen, yang tidak dapat digantikan unsur hara
lain. Ketidakcukupan pasokan P menjadikan tanaman tidak tumbuh maksimal atau
potensi hasilnya tidak maksimal. Peranan P dalam penyimpanan dan pemindahan
energi merupakan fungsi terpenting karena hal ini mempengaruhi proses
metabolisme dalam tanaman (Poerwowidodo, 1992).

Kalium merupakan unsur hara esensial bagi seluruh makhluk hidup. Pada jaringan
tanaman, kalium menyusun 1,7__2,7 % bahan kering daun normal. Kalium terlibat
dalam berbagai proses fisiologi tanaman, terutama berperan dalam berbagai reaksi
biokimia. Sekitar 50 macam enzim yang berpartisipasi dalam berbagai proses
metabolisme, mempunyai aktivitas yang tergantung sepenuhnya atau distimulasi
oleh ion K+ dan sebagian besar tipe reaksi enzim katalis diaktifkan oleh K+
(Poerwowidodo, 1992).

15

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
Universitas Lampung Desa Muara Putih Kecamatan Natar Lampung Selatan
dengan titik koordinat 05015’51” LS dan 105013’33” BT dari bulan Januari 2013
sampai dengan April 2013. Analisis tanah dan tanaman dilakukan di
Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan
Mei sampai dengan Juni 2013.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jagung manis
varietas Bonanza F1, Insektisida, herbisida, tali rafia, wadah plastik, koran,
pupuk Organonitrofos, pupuk urea, KCl dan SP-36.

Alat-alat yang digunakan adalah cangkul, meteran, alat tulis, cutter, hand
sprayer, neraca digital, golok, gunting, jangka sorong dan pH meter.

16

3.3 Metode Penelitian

Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari 6
perlakuan (Tabel 1), dengan setiap perlakuan dilakukan sebanyak 3
ulangan.

Table 1. Perlakuan Aplikasi Pupuk Organonitrofos dan Pupuk Kimia
Dosis (kg ha-1)
Perlakuan
Urea
SP36
KCl
Organonitrofos
A

0

0

0

0

B

400

300

250

0

C

300

225

187.5

500

D

200

150

125

1.000

E

100

75

62.5

2.000

F

0

0

0

3.000

Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett, aditivitas data diuji dengan uji
Tukey. Jika asumsi terpenuhi data dianalisis dengan sidik ragam, perbedaan nilai
tengah perlakuan diuji dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%.

3.4 Pelaksanaan Penelitian

1. Pengolahan tanah dan pembuatan petak percobaan
Pengolahan tanah dilakukan menggunakan bajak kemudian digemburkan
menggunakan cangkul untuk memperbaiki struktur tanah. Petak percobaan
dibuat masing-masing sebanyak 6 petak percobaan dengan 3 ulangan.
Setiap plot lahan berukuran 4 m x 8 m.

17

Ulangan 1
B

E

F

D

C

A

Ulangan 2
E

A

C

F

D

B

Ulangan 3
E

F

B

A

D

C

Gambar 1. Tata Letak Percobaan

2. Penanaman benih jagung
Benih jagung ditanam dengan jarak tanam 75 cm x 25 cm dengan jarak
antar petak 50 cm. Populasi setiap petak yaitu sebanyak 128 tanaman.
Penanaman benih jagung dilakukan dengan cara ditugal dan setiap lubang
tanam ditanam sebanyak dua benih jagung manis.

3. Aplikasi pupuk
Pupuk organonitrofos diberikan pada waktu tanaman berumur 2 MST
sesuai dengan dosis perlakuan. Begitu juga SP36 dan KCl. Sedangkan
pupuk urea diaplikasikan sebanyak dua kali, aplikasi pertama dilakukan
bersamaan dengan pupuk organonitrofos dan aplikasi kedua ketika malai
mulai muncul. Pemupukan dilakukan dengan cara dilarik yang
sebelumnya dibuat larikan sepanjang baris tanam menggunakan cangkul.

4. Pemeliharaan
a. Pengairan
Pengairan hanya mengandalkan hujan karena jagung ini ditanam pada
lahan tadah hujan. Tetapi untuk 2 minggu pertama pengairan dilakukan

18

secara intensif disiram menggunakan gembor sebanyak 2 hari sekali
karena masih dalam masa perkecambahan.
b. Penyiangan gulma
Penyiangan gulma dilaksanakan secara manual dan kimia. Secara
manual dilaksakan pada umur tanaman 2 MST dan 4 MST
mengunakan cangkul maupun koret. Sedangkan secara kimia
dilakukan dengan penyemprotan herbisida Gramaxone saat tanaman
berumur 6 MST dan 8 MST. Hal ini dikarenakan tanaman jagung
sudah cukup tinggi untuk memperkecil kemungkinan terjadi keracunan
atau mati.
c. Pengendalian hama penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan secara teratur dengan
melakukan penyemprotan insektisida Reagent menggunakan hand
spreyer pada umur tanaman 2 MST, 6 MST dan 9 MST.
Pengendalian ini bersifat mencegah karena jagung manis secara umum
sangat rentan terhadap serangan hama penyakit.
d. Pembumbunan
Pembumbunan dilaksanakan pada umur 4 minggu setelah tanam
(MST) dengan cara dicangkul pada setiap baris tanam dan
menimbunkan tanahnya pada bagian batang bawah tanaman yang
bertujuan agar tanaman jagung tidak mudah rebah.

5. Panen
Panen dilaksanakan pada saat tanaman jagung manis berumur 12 MST.
Pemanenan dilakukan per ulangan dengan memisahkan tongkol sampel

19

dan tongkol bukan sampel. Kemudian batang tanaman dipotong
menggunakan golok dan kemudian ditimbang.

6. Pengambilan Sampel Tanah
Sampel tanah diambil 5 titik pengambilan sampel secara komposit lalu
tanahnya dicampur dan dikering anginkan pada sebelum tanam.Tanah
tersebut disaring hingga lolos saringan ø 2 mm.

3.5 Variabel Pengamatan

Variabel yang diamati pada penelitian ini meliputi tinggi tanaman, jumlah daun,
bobot basah berangkasan dan bobot basah tongkol, bobot kering berangkasan dan
bobot kering tongkol, bobot kering seratus butir, dan bobot kering tongkol
kosong.
3.5.1 Tinggi tanaman
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada usia 2 sampai 8 minggu
setelah tanam (MST) dari permukaan tanah hingga daun terpanjang.
Pengukuran dilakukan menggunakan penggaris dan meteran dalam satuan
centimeter. Sampel yang diamati sebanyak 10 tanaman per petak. Satuan
yang digunakan adalah centimeter.
3.5.2 Jumlah daun
Jumlah daun yang dihitung yaitu daun yang telah membuka sempurna
berwarna hijau dimulai saat 2 MST sampai muncul malai. Satuan yang
digunakan adalah helai per tanaman dengan jumlah sampel sebanyak 10
tanaman per petak. Satuan yang digunakan adalah helai per tanaman.

20

3.5.3 Diameter Batang
Diamater batang diukur pada bagian tengah batang dimulai saat 2 MST
sampai muncul malai menggunakan jangka sorong dengan satuan
centimeter. Sampel yang diamati sebanyak 10 tanaman per petak.
3.5.4 Bobot basah berangkasan dan bobot kering berangkasan
Pengambilan sampel bobot basah berangkasan dilakukan pada saat
pemanenan yaitu sekitar 12 minggu setelah tanam (MST). Tanaman
jagung dipotong tepat pada permukaan tanah kemudian ditimbang.
Sedangkan bobot kering berangkasan didapat dari berangkasan yang telah
dioven dengan suhu 800 C selama 48 jam kemudian ditimbang bobot
kering tanaman. Bobot kering digunakan untuk mengukur serapan hara
pada analisis tanaman. Satuan yang digunakan adalah ton per hektar.
3.5.5 Bobot basah tongkol dan bobot kering tongkol
Bobot basah tongkol dilakukan pada saat pemanenan yaitu bobot total
sampel. Sedangkan

Dokumen yang terkait

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, SERAPAN HARA, DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI RAWIT KATHUR (Capsicum frutescens) PADA TANAH ULTISOL GEDUNG MENENG

0 8 42

UJI EFEKTIVITAS KOMBINASI PUPUK ORGANONITROFOS DENGAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SERTA SERAPAN HARA TANAMAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) PADA TANAH ULTISOL GEDUNG MENENG

0 18 47

PENGARUH PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, SERAPAN HARA DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT (Lycopersicom esculentum) PADA MUSIM TANAM KEDUA

3 36 43

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN, SERAPAN HARA DAN PRODUKSI TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.) PADA MUSIM TANAM KEDUA DI TANAH ULTISOL GEDUNG MENENG

2 15 60

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, SERAPAN HARA DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata ) DI MUSIM TANAM KE TIGA PADA TANAH ULTISOL GEDUNG MENENG

0 10 48

PENGARUH PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP POPULASI DAN KEANEKARAGAMAN MESOFAUNA TANAH PADA PERTANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)MUSIM TANAM KEDUA

8 51 53

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, SERAPAN HARA DAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max L. Merr) PADA MUSIM TANAM KETIGA

2 27 50

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN, SERAPAN HARA, DAN PRODUKSI TANAMAN KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L.) PADA TANAH ULTISOL NATAR UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGA

2 25 47

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN SERAPAN HARA TANAMAN JAGUNG MANIS Zea mays saccharata Sturt.)PADA TANAH ULTISOL NATAR

0 6 48

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANONITROFOS DAN KOMBINASINYA DENGAN PUPUK KIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN, SERAPAN HARA DAN PRODUKSI TANAMAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz ) DI MUSIM TANAM KE DUA PADA TANAH ULTISOL GEDUNG MENENG

0 11 55

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

102 3159 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 792 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 703 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 458 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 611 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1052 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 956 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 578 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 845 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1041 23