PENERAPAN PUTUSAN REHABILITASI TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENGGUNA NARKOTIKA (STUDI KASUS PUTUSAN NO : 130/Pid.B/2011/PN.LW)

ABSTRAK
PENERAPAN PUTUSAN REHABILITASI TERHADAP PELAKU
TINDAK PIDANA PENGGUNA NARKOTIKA
(STUDI KASUS PUTUSAN NO : 130/Pid.B/2011/PN.LW)
Oleh
ZEPY TANTALO

Pemerintah Indonesia menyadari semakin banyaknya penyalahgunaan narkotika
dikalangan masyarakat Indonesia, menyadari penyalahgunaan Narkotika ini
dirasakan sangatlah merugikan Indonesia karena dampak yang timbul bagi bangsa
ini adalah suatu pembodohan rakyat secara masal. Negara Indonesia adalah negara
yang meletakkan hukum sebagai supremasi kekuasaan tertinggi dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Konsep Negara hukum dalam berbangsa dan bernegara
membawa keharusan untuk mencerminkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan
bernegara, khususnya dalam bidang hukum acara pidana terkait dengan proses
peradilan dalam hal penjatuhan sanksi pidana. Banyak upaya yang telah ditempuh
pemeritah dalam pemberantasan narkotika ini diantaranya dengan membentuk
Undang-Undang yang khusus mengatur tentang narkotika, memberikan sanksi
yang tegas terhadap pelaku penyalahgunaan narkotika, dan membentuk badanbadan khusus yang menangani tindak pidana narkotika seperti Badan Narkotika
Nasional (BNN), pemerintah juga menekankan kepada para penegak hukum untuk
tidak pandang bulu dalam upaya pemberantasan penyalahgunaan narkotika. Pada
skripsi ini mengangkat permasalahan tentang, putusan rehabilitasi terhadap pelaku
tindak pidana pengguna narkotika ini masuk kedalam putusan pidana pokok,
putusan pidana tambahan, atau masuk putusan pidana diluar ketentuan pidana
tersebut, dan Mengungkap faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan
putusan rehabilitasi terhadap pelaku tindak pidana.
Penelitian ini dilakukan di pengadilan negeri liwa terhadap 2 (dua) orang hakim
sebagai responden, 1 (satu) orang Kepala seksi Pidana Umum pada kejaksaan
negeri liwa, serta ditambah salah satu dosen hukum pidana Fakultas Hukum
Universitas Lampung. Dalam proses penulisan penelitian ini penulis
menggunakan metode pendekatan masalah secara yuridis normatif dan yuridis
empiris, dengan memiliki dua jenis sumber data yaitu sumber data primer dan
sumber data skunder.
Berdasarkan penelitian diperoleh hasil penelitian sebagai berikut, yaitu tentang
penyalahgunaan pemakaian narkotika tentunya kita memiliki pemikiran mengenai
pemposisian terdakwa apakah si terdakwa tersebut dapat diakatakan sebagai
pelaku ataukah sebagai korban dari pelaksanaan proses penegakan hukum
terhadap pelanggaran penyalahgunaan narkotika dapat dikenakan sanksi

Zepy Tantalo

rehabilitasi terhadap pelanggarnya, dan pemberian tindakan pemidana berupa
tindakan perawatan dan perbaikan terhadap pelaku tindak pindana pengguna
narkotika sebagai pengganti dari hukuman didasarkan pada korban adalah orang
sakit sehingga membutuhkan tindakan perawatan dan rehabilitasi. Penerapan
putusan rehabilitasi ini adalah salah satu bentuk dari penggabungan antara adanya
suatu tindakan (treatment) perbaikan diri tehadap seseorang dengan adanya
perampasan hak kemerdekaan terhadap pelaku tindak pidana pengguna narkotika
serta dalam proses pelaksanaan putusan rehabilitasi ini bagi pelaku yang telah
dijatuhkan putusan rehabilitasi diharuskan wajib lapor kepada jaksa sebagai
pelaksana dari penjatuhan putusan terhadap terdakwa. Faktor yang menjadi
penghambat dalam proses penerapan putusan rehabilitasi ini adalah faktor
hukumnya sendiri, faktor penegak hukum, faktor sarana dan fasilitas, dan faktor
masyarakatnya.
Saran dalam penulisan skripsi ini adalah Penerapan putusan rehabilitasi ini
seharusnya ditetapkan sebagai suatu tindakan pemidanan bukan termasuk dalam
pidana pokok ataupun pidana tambahan terhadap semua pelaku tindak pidana
pengguna narkotika. Karena pengguna narkotika bukan merupakan pelaku
kejahatan melainkan seorang korban yang dianggap tidak jahat, penetapan ini
dialakukan agar pelaku pengguna tidak mendapat tekanan batin (mental) karena
dianggap sebagai pelaku kejahatan. Serta faktor yang menjadi penghambat dalam
penerapan putusan rehabilitasi terhadap pelaku tindak pidana narkotika yang
berasal dari faktor penegak hukum serta faktor sarana dan prasarana dapat diatasi
dengan baik, baik oleh pemerintah ataupun aparaturnya sendiri agar dalam proses
pelaksananaan putusan rehabilitasi ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan semula
yang diharapkan.

Kata Kunci : Pidana, Rehabilitasi, Tindakan Pemidanaan

PENERAPAN PUTUSAN REHABILITASI TERHADAP PELAKU
TINDAK PIDANA PENGGUNA NARKOTIKA
(STUDI KASUS PUTUSAN NO : 130/Pid.B/2011/PN.LW)

Oleh

Zepy Tantalo

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
Sarjana Hukum
Pada
Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

PENERAPAN PUTUSAN REHABILITASI TERHADAP PELAKU
TINDAK PIDANA PENGGUNA NARKOTIKA
(STUDI KASUS PUTUSAN NO : 130/Pid.B/2011/PN.LW)
(Skripsi)

Oleh

Zepy Tantalo

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

DAFTAR ISI

Halaman
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang ………………………………………………………….. 1
B. Permasalahan dan Ruang Lingkup…………………………...…………. 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian …………………………………………. 7
D. Kerangka Teoritis dan Konseptual……………………………………… 8
E. Sistematika Penulisan …………………………………………………... 19
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Hukum Pidana ……………………………………………… 21
B. Pengertian Putusan …………..…………………………………………. 22
C. Dasar Hukum Pidana Rehabilitasi ……………………………………… 23
D. Rehabilitasi ……………………………………………………………... 26
E. Pelaku Tindak Pidana Pengguna Narkotika ……………………………. 28
III. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Masalah ……………………………………………………. 32
B. Sumber dan Jenis Data …………………………………………………. 32
C. Penentuan Populasi dan sample ………………………………………… 33
D. Pengumpulan dan Pengolahan Data ……………………………………. 34
E. Analisis Data …………………………………………………………….36

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden ……………………………………………….. 37
B. Putusan Rehabilitasi Pada Kasus Tindak Pidana Pengguna Narkotika
Termasuk Dalam Pidana Pokok atau Pidana Tambahan (Studi Kasus
Putusan No: 130/Pid.B/2011/PN.LW)….………………………………..39
C. Faktor Penghambat Dalam Penerapan Putusan Pidana Rehabilitasi
(Studi Kasus Putusan No: 130/Pid.B/2011/PN.LW)……………………. 48

V. PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………………... 54
B. Saran ……………………………………………………………………. 56
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku
Andrisman, Tri. 2007. Asas-asas dan Dasar Aturan
Indonesia, CV Sinar Sakti. Bandar Lampung.

Umum Hukum Pidana

C.S.T. Kansil dan Christine S.T Kansil. 2004. Pokok-pokok Hukum Pidana.
Pradnya Paramita. Jakarta.
Dewantara, Nanda Agung. 1987. Masalah kebebasan hakim dalam menangani
suatu perkara pidana. Aksara Persada-Indonesia. Jakarta.
Hamzah, Andi. 2008. Hukum Acara Pidana Indonesia. Sinar Grafika. Jakarta
Kanter E.Y dan S.R. Sianturi. 2002. Azas-Azas Hukum Pidana Di Indonesia Dan
Penerapannya. Storia Grafika. Jakarta.
Masyhuri dan M. Zainudin. 2008.Metodologi penelitian pendekatan praktis dan
aplikatif. PT. Refika aditama. Bandung.
Harahap, M. Yahya. 2000. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP.
Sinar Grafika. Jakarta
Moeljatno. 2009. Asas-Asas Hukum Pidana. Edisi Revisi. Rineka Cipta. Jakarta
Mohd. Din, 2009. Stimulasi Pembangunan Hukum Pidana Nasional, Dari Aceh
Untuk Indonesia, Unpad Press, Bandung,
Muladi. 2008, Lembaga Pidana Bersyarat. P.T Alumni. Bandung.
Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1992. Teori-teori dan Kebijakan Pidana,
Alumni, Bandung.
Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1998. Teori-Teori dan Kebijakan Pidana,
Alumni, Bandung.
Nawawi Arief, Barda, 2002. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Citra
Aditya Bakti, Bandung.

Prodjohamidjojo, Martiman. 1997. Memahami Dasar-dasar Hukum Pidana
Indonesia 2. PT. Pradnya Panemita. Jakarta.
Projodikoro, Wirjono. 2003. Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, Refika
Aditama, Jakarta.
Setiady, Tolib. 2010. Pokok-pokok Hukum Penitensier Indonesia. Alfabeta,
Bandung.
Soekanto, Soerjono. 1982. Pengantar Penelitian Hukum.UI. Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 1983. Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum.
Rajawali. Jakarta
Soekanto, Soerjono, 1984. Pengantar Penelitian Hukum. UI-Press. Jakarta.

Sudarto, 1986. Kapita Selekta Hukum Pidana, Alumni Bandung.
Sudarto, 1982. Pemidanaan Pidana dan Tindakan, BPHN, Jakarta.
Wiranata, I Gede AB. 2011. Materi Kuliah Metode Penelitian Hukum. FH Unila.
Bandar Lampung.

Undang-Undang

Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor. 4 tahun 2010
Undang-Undang Nomor. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
Undang-Undang Nomor. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman

Internet
“Teknik Analisis Data
dalam Penelitian “diakses 10 oktober 2012.
“kategori : Metode Penelitian” diakses
10 oktober 2012.

diakses
pada tanggal 22 April 2012.

Judul Skripsi

:

Nama Mahasiswa

: ZEPY TANTALO

No. Pokok Mahasiswa

: 0912011393

Bagian

: Hukum Pidana

Fakultas

: Hukum

PENERAPAN PUTUSAN REHABILITASI
TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA
PENGGUNA NARKOTIKA ( Studi Kasus
Putusan No : 130 / Pid.B / 2011 / PN.LW )

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Firganefi, S.H, M.H.
NIP. 19631217 198803 2 003

Tri Andrisman S.H, M.H.
NIP. 19611231 198903 1 023

2. Ketua Bagian Hukum Pidana,

Diah Gustiniati, S.H., M.H.
NIP.19620817 198703 2 003

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua

: Firganefi, S.H., M.H.

………………

Sekretaris/Anggota

: Tri Andrisman, S.H., M.H.

………………

Penguji Utama

: Diah Gustiniati, S.H., M.H.

………………

2. Dekan Fakultas Hukum

Dr. Heryandi, S.H., M.S.
NIP. 19621109 198703 1 003

Tanggal Lulus Ujian Skripsi: 24 April 2013

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya kecilku ini kepada
Allah S.W.T
Papa tercinta dan Mama tersayang yang tak pernah
berhenti berdoa dan selalu mencurahkan perhatian serta
kasih sayangnya padaku dan tak pernah letih berkorban dan
berusaha untuk keberhasilanku
Kakak dan adiku tersayang (Deddy dan Husain) yang selalu
memberikan semangat, doa dan dukungannya dalam setiap
langkah-langkahku
Semua pihak yang telah berjasa membantu penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini

i

SANWACANA

Dengan mengucapkan alhamdulillahirrobbilalamiin, atas nama dan hidayah yang
dilimpahkan Allah S.W.T kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul Penerapan Putusan Rehabilitasi Terhadap Pelaku
Tindak

Pidana

Pengguna

Narkotika

(Studi

Kasus

Putusan

No

:

130/Pid.B/2011/PN.LW)
Penulis menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalam penulisan
skripsi ini, hal tersebut dikarenakan terbatasnya kemampuan serta pengetahuan
penulis. Penulisan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan skripsi ini.
Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini bukanlah jerih payah sendiri, akan tetapi
bimbingan dari berbagai pihak sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan
ucapan terima kasih yang tulus kepada :
1.

Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Lampug yang telah banyak membantu penulis selama melaksanakan studi di
Fakultas Hukum.

2.

Ibu Diah Gustiniati Maulani,S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung sekaligus Pembahas 1 (satu) yang

ii

telah banyak memberikan saran, masukan, arahan dan bantuan serta nasihat
kepada penulis untuk menyempurnakan penulisan skripsi ini.
3.

Ibu Firganefi, S.H., M.H., selaku pembimbing satu yang telah

banyak

meluangkan waktu dan memberikan bantuan saran, masukan, dan pengarahan
dengan penuh kesabaran dan memberikan wawasan yang luas kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
4.

Bapak Tri Andrisman, S.H., M.H., selaku pembimbing dua yang memberikan
saran, arahan dan bimbingan serta nasihat kepada penulis dengan penuh
kesabaran dan memberikan wawasan yang luas kepada penulis sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5.

Ibu Dona Raisa, S.H., M.H., selaku pembahas dua yang telah memberikan
saran dan kritiknya dalam perbaikan skripsi ini.

6.

Bapak Dr. Eddy Rifai’i, S.H., M.Hum., selaku responden, yang telah
meluangkan waktunya untuk memberikan pendapatnya dalam menyelesaikan
permasalahan dalam skripsi ini.

7.

Para Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang tak bisa disebutkan
satu persatu, atas bimbingan dan pengajarannya selama penulis menjadi
mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung.

8.

Ibu Sri, terimakasih atas bantuannya selama penulisan skripsi ini.

9.

Seluruh karyawan Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah
membantu penulis dalam proses akademis dan kemahasiswaan.

10. Bapak Maryono, S.H., selaku Hakim pada Pengadilan Negeri Liwa yang
bersedia meluangkan waktu untuk memberikan informasi yang sangat
bermanfaat dalam penulisan skripsi ini.

iii

11. Bapak Fakhrudin, S.H., M.H., selaku Hakim pada Pengadilan Negeri Liwa
yang bersedia meluangkan waktu untuk memberikan informasi yang sangat
bermanfaat dalam penulisan skripsi ini.
12. Bapak Riyo Syaputra, S.H., selaku Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan
Negeri Liwa yang bersedia meluangkan waktu untuk memberikan informasi
yang sangat bermanfaat dalam penulisan skripsi ini.
13. Buat Papa Daeng Fauzi, S.H., dan Mama Susilowati, terima kasih atas doa
yang tak henti-hentinya disetiap waktu yang telah memberikan kekuatan bagi
penulis untuk menyelesaikan skripsi ini
14. Kakak dan Adikku, Deddy Faisal, S.H., M.H dan M. Ihkwan Husain terima
kasih untuk doa, dukungan dan perhatiannya selama ini yang telah banyak
mengorbankan seluruhnya baik materi, waktu, tenaga, pikiran serta doanya
sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
15. Seluruh paman dan bibi beserta sepupu yang terus memberikan semangat
dorongan motifasi dan dukungan serta saran-saran yang membangun dari
awal hingga akhir masa studi perkuliahan.
16. Teman-teman di Fakultas Hukum Universitas Lampung, Inggit Putri Ayu,
Hernadi Sutanto, Yohanes Aritonang, Yuni Rahayu, Beni Kurniawan, Anand
Faiza Berlian, Ari reza Pratama, M. Abrar Haq B, Sofyan Yasir Alfarizi, Rio
Riansyah, Irawan Syaputra, Raditya Satwika, Zulkadri Anand, Rifki
Apriansayah, M. Andri Mirmaska, dan seluruh Civitas Akademika Fakultas
Hukum Universitas Lampung yang tidak bias disebutkan satu persatu.
17. Semua pihak yang tak bisa di sebutkan satu persatu yang telah memberikan
bantuan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

iv

18. Terutama sekali kepada Allah S.W.T yang telah meridhai langkah penulis
dalam proses penyusunan skripsi ini.
Semoga Allah S.W.T membalas semua kebaikan yang diberikan kepada penulis
dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembacanya.

Bandar Lampung, April 2013
Penulis

Zepy Tantalo

v

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Metro pada tanggal 12 September
1991, merupakan putra kedua, anak kedua dari tiga bersaudara
buah hati dari pasangan Bapak Daeng Fauzi, S.H. dan Ibu
Susilowati.
Jenjang pendidikan dimulai pada SD Negeri 01 Kota Metro yang diselesaikan
pada tahun 2003. Sekolah Menengah Pertama di SMP negeri 4 Kota Metro pada
tahun 2006. Sekolah Menengah Atas di selesaikan di SMA Negeri 1 Kota Metro
pada tahun 2009 dan pada tahun 2009 penulis diterima sebagai mahasiswa
Fakultas Hukum Universitas Lampung melalui jalur Ujian Masuk Lokal (UML)
Selama menempuh masa studi di Fakultas Hukum Universitas Lampung, penulis
aktif mengikuti berbagai kegiatan lembaga kemahasiswaan internal kampus
diantaranya pernah menjadi anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas
Hukum periode 2011-2012. Pada tahun 2012 penulis mengikuti Kuliah Kerja
Nyata di Kabupaten Mesuji.

Motto

Melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin, dan
Pekerjaan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik

Zepy Tantalo

I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Peredaran narkotika di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya
sudah menjadi suatu permasalahan pokok yang harus ditindak lanjuti oleh setiap
Negara. Permasalahan narkotika ini dianggap sebagai suatu tindakan melawan
hukum di seluruh Negara yang ada di dunia ini. Negara Indonesia adalah negara
yang meletakkan hukum sebagai supremasi kekuasaan tertinggi dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Konsep Negara hukum dalam berbangsa dan bernegara
membawa keharusan untuk mencerminkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan
bernegara, khususnya dalam bidang hukum acara pidana terkait dengan proses
peradilan dalam hal penjatuhan sanksi pidana oleh hakim. Penjatuhan putusan
oleh hakim tidak terlepas dari sesuatu yang diyakini dan terbukti dalam sidang
pengadilan.
Segala peraturan mengenai hukum pidana berakhir pada pemidanaan yang dapat
merenggut kemerdekaan seseorang, baik itu harta bendanya maupun jiwanya.
Sebagaimana yang terjadi di negara lain, maka di Indonesia terdapat suatu
pendapat mengenai adanya ketidak puasan masyarakat terhadap pidana
perampasan kemerdekaan atau pidana penjara dalam kenyataan terbukti sangat

2

merugikan baik terhadap individu yang dikenai pidana. Berhubungan dengan
pendapat ini maka harus dilakukan pencarian alternatif lain dalam sistem
pemidanaan yang ada di Indonesia yang antara lain adalah dengan cara
pendayagunaan rehabilitasi terhadap pelaku tindak pidana yang dianggap tidak
jahat.
Rehabilitasi merupakan alternatif dari sanksi pidana perampasan kemerdekaan,
norma-norma hukum pidana yang menyangkut pemidanaan tidak hanya dilihat
sebagaimana yang dirumuskan, tetapi akan ditinjau secara luas bekerjanya di
dalam masyarakat dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Sanksi
rehabilitasi dijadikan sarana penanggulangan kejahatan yang akan ditentukan oleh
kemampuan sanksi pidana tersebut untuk memenuhi tujuan pemidanaan yang
integratif. Tujuan pemidanaan yang bersifat integratif adalah sebagai berikut :1
1. Perlindungan masyarakat
2. Memelihara solidaritas masyarakat
3. Pencegahan (umum dan khusus)
4. Pengimbalan / pengimbangan
Pemidanaan harus diberikan secara tepat sesuai dengan keadaan pribadi pelanggar
hukum, sanksi rehabilitasi dapat dipakai sebagai alternatif dalam pemberian
pidana pelanggar hukum. Mengenai pemberian sanksi rehabilitasi dalam kasus
seorang pelaku pengguna narkotika, seorang hakim harus jeli untuk melihat delik
yang dilakukan oleh terdakwa.

1

Muladi. Lembaga pidana bersyarat. P.T Alumni. 1985, hlm. 11.

3

Kasus penggunaan narkotika khususnya di Indonesia KUHP tidak menjelaskan
secara rinci mengenai tindak pidana bagi pengguna narkotika melainkan diatur
dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, didalam undang
undang tersebut yakni pasal 103 ayat (1) huruf (a),dan (b) menyatakan bahwa
“Hakim yang memeriksa perkara Pecandu Narkotika dapat: memutus untuk
memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau
perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut terbukti
bersalah melakukan tindak pidana Narkotika; atau menetapkan untuk
memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau
perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut tidak terbukti
bersalah melakukan tindak pidana Narkotika.”2
Dengan kata lain hakim dapat memutuskan seorang terdakwa tidak hanya dapat
memberikan sanksi pidana penjara atau pidana denda saja tetapi juga dapat
memberi sebuah putusan pidana rehabilitasi terhadap seorang yang terbukti
melakukan tindak pidana pengguna narkotika.
Kemudian dalam hal ini pidana rehabilitasi akan menimbulkan masalah kepada
beberapa pihak yang secara langsung atau pun tidak langsung yang terlibat dalam
sebuah permasalah yang sama.
Mengenai pidana rehabilitasi terhadap pelaku pengguna narkotika sebagaimana
telah di terangkan bahwa delik yang dilakukan seorang terdakwa pelaku
penggguna narkotika dalam sebuah persidangan di pengadilan haruslah jelas agar
fakta yang diungkap dalam persidangan juga menjadi jelas, dari hal itulah maka
hakim sangatlah berperan penting dalam hubungan pengambilan sebuah
keputusan dalam persidangan. Bertitik tolak pada hubungan formal ini haruslah
tidak dilupakan bahwa seorang terdakwa adalah seorang manusia dan dilihat dari

2

Lihat Pasal 103 Ayat(1) huruf (a) Undang-undang no. 35 tahun 2009, tentang Narkotika.

4

segi kemanusiaan, sewajarnya lah seorang pelaku pengguna narkotika
mendapatkan sebuah putusan rehabilitasi, yang bertujuan untuk melindungi,
memperbaiki dan agar dia mendapatkan perawatan dari sebuah tempat rehabilitasi
pengguna narkotika. Karena sudah jelas bagi mereka pengguna narkotika, efek
dari kecanduan akan narkotika tersebut akan timbul apabila mereka tidak
ditangani oleh pihak yang ahli dibidang tersebut. Mengenai penjatuhan sanksi
pidana rehabilitasi bagi seorang pengguna narkotika apabila pelaksanaan
pembinaan dan pengawasan pidana rehabilitasi dilaksanakan sebagaimana
mestinya akan dapat bermanfaat bagi terpidana maupun orang lain.
Penjatuhan sanksi pidana rehabilitasi bukan hanya untuk melindungi masyarakat,
tetapi harus pula membina si pelanggar hukum. Dalam hal ini hakim dapat
dituntut untuk dapat mengambil keputusan secara tepat dan memenuhi rasa
keadilan, baik bagi masyarakat maupun terdakwa. Hakim dalam menjatuhkan
pidana harus mempertimbangkan antara lain hal-hal yang meliputi kepribadian
terdakwa, umur terdakwa dan sopan santun terdakwa dalam pemeriksaan tersebut.
Penggunaan sanksi pidana rehabilitasi terhadap pelaku tindak pidana yang tidak
bersifat

jahat,

akan

menunjang

pelaksanaan

hukum

pidana

yang

berprikemanusiaan dan dapat mengurangi penerapan pidana perampasan
kemerdekaan. Sanksi pidana rehabilitasi tidak berguna bagi yang benar-benar
bersifat jahat. Tidak hanya standar pelaksanaan pidana rehabilitasi di Indonesia
merupakan hambatan utama terhadap suatu pendayagunaan sanksi pidana
rehabilitasi.

5

Pidana rehabilitasi juga memberikan kesempatan kepada terpidana untuk
memperbaiki diri bukan didalam Lembaga Permasyarakatan, melainkan di dalam
lingkungan masyarakat, sehingga dapat menjalani kehidupan yang normal. Selain
itu juga mencegah adanya predikat jahat pada dirinya bila ia harus masuk penjara.
Pidana rehabilitasi merupakan cara penerapan pidana yang dalam pengawasan dan
pelaksanaannya dilakukan di luar penjara. Menjatuhkan pidana rehabilitasi bukan
berarti membebaskan terpidana, secara fisik terpidana memang bebas dalam arti
tidak diasingkan dalam masyarakat dalam suatu penjara atau lembaga
pemasyarakatan, akan tetapi secara formal statusnya tetap terpidana karena ia
telah dijatuhi pidana hanya saja dengan pertimbangan tertentu pidana itu tidak
perlu dijalani. Pidana akan tetap dijalani apabila ternyata terpidana telah
melanggar.
Hakim dalam hal menjatuhkan pidana rehabilitasi haruslah didasari pada
pemeriksaan dan pertimbangan yang cermat dan teliti. Hakim tidak boleh
menjatuhkan pidana rehabilitasi, kecuali dalam pemeriksaan hakim mendapat
sebuah keyakinan bahwa dapat diadakan pengawasan yang tepat selama terpidana
berada diluar penjara atau selama terpidana masih harus memenuhi syarat khusus
yang ditetapkan oleh putusan pengadilan.
Tentunya dalam penetapan putusan yang diambil atau ditetapkan oleh majelis
hakim tidak jauh dari apa yang telah didakwakan oleh penuntut umum kepada
terdakwa terlebih lagi bila putusan tersebut diputus diluar dari surat dakwaan atau
tuntutan yang telah diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum. Hal ini sesuai dengan
Fungsi surat dakwaan itu sendiri yaitu dalam sidang pengadilan merupakan

6

landasan dan titik tolak pemeriksaan terdakwa. Berdasarkan rumusan surat
dakwaan dibuktikan kesalahan terdakwa. Pemeriksaan sidang tidak boleh
menyimpang dari apa yang dirumuskan dalam surat dakwaan 3
Jika hakim berpendapat lain mengenai suatu perkara mengenai kebenaran materil
maka hakim harusnya memutus perkara tersebut dengan putusan bebas dari segala
tuntutan.

Namun

dalam

pengambilan

putusan

dengan

Nomor

:

130/Pid.B/2011/PN.LW tentang pelaku pengguna narkotika, maka isi dari putusan
tersebut menyatakan bahwa terdakwa dijatuhi pidana Rehabilitasi pada Panti
Rehabilitasi Parmadi Putra Yayasan Sinar Jati Lampung, sedangkan yang dituntut
oleh Jaksa Penuntut umum adalah penjatuhan pidana penjara selama 6 tahun dan
denda 1.000.000.000 (satu milyar rupiah) sesuai dengan ketentuan pada Pasal 114
Ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika jo Pasal 55
Ayat (1) ke 1 KUHP.
Berkaitan dengan uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian dengan mengangkat hal tersebut sebagai bahan penyusunan skripsi
yang akan diberi judul tentang: “ Penerapan Putusan Rehabilitasi terhadap Pelaku
Tindak

Pidana

Pengguna

Narkotika

(Studi

Kasus

Putusan

Nomor

130/Pid.B/2011/PN.LW) “

3

M. Yahya Harahap, 2000. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP. Jakarta: Sinar
Grafika. hlm:378

:

7

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup
1. Permasalahan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, maka permasalahan dalam
penulisan ini adalah :
a. Apakah putusan rehabilitasi pada kasus tindak pidana pengguna narkotika
termasuk ke dalam pidana pokok atau pidana tambahan (Studi kasus Putusan
No : 130/ Pid.B/2011/PN.LW) ?
b. Apakah yang menjadi faktor penghambat dalam penerapan pidana rehabilitasi
(Studi kasus Putusan No : 130/ Pid.B/2011/PN.LW)?
2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup ilmu dalam penelitian ini adalah ilmu hukum pidana yang
mencakup baik itu ditinjau dari hukum formil maupun hukum materiil yang
dibatasi pada tingkat peradilan tindak pidana pengguna narkotika. Lokasi
penelitian ini dilakukan pada pengadilan Negeri Liwa pada tahun 2013.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui Apakah putusan rehabilitasi pada kasus tindak pidana
pengguna narkotika termasuk kedalam pidana pokok atau pidana tambahan.
b. Untuk mengetahui faktor penghambat dalam penerapan putusan pidana
rehabilitasi terhadap pelaku tindak pidana pengguna narkotika.

8

2. Manfaat Penelitian

a.

Manfaat Teoritis

Dengan dilaksanakan penulisan ini, diharapkan akan dapat mengembangkan ilmu
penulisan hukum khususnya hukum acara pidana serta dapat menambah informasi
tentang bentuk pemidanaan alternatif dari pidana pencabutan perampasan
kemerdekaan dan pelaksanaan pidana khususnya pidana rehabilitasi bagi pelaku
pengguna narkotika.
b. Manfaat Praktis
Memperoleh data guna dianalisis agar dapat digunakan penulis dalam menjawab
masalah yang penulis kemukakan serta memberikan wawasan bagi ilmu hukum
dan aparat penegak hukum dalam pendayagunaan pidana rehabilitasi.
D. Kerangka Teoritis dan Konseptual
1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah sebuah konsep yang merupakan abstraksi dari hasil
pemikiran yang pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan identifikasi terhadap
suatu permasalahan sosial yang ada pada masyarakat yang dianggap relevan oleh
peneliti.
Membahas permasalahan dalam skripsi ini, pada tahap persidangan seorang hakim
dalam hal menjatuhkan putusan terhadap seorang terdakwa haruslah berdasarkan
pertimbangan dan melihat fakta-fakta yang ada dalam mengungkap perkara
kriminal. Dalam kehidupan masyarakat yang semakin komplek saat ini dituntut
adanya penegakkan hukum dan keadilan untuk memenuhi rasa keadilan

9

masyarakat. Untuk itu figur seorang hakim sangat menentukan melalui putusanputusannya karena pada hakekatnya hakimlah yang menjalankan kekuasaan
hukum peradilan demi terselenggaranya fungsi peradilan itu.4 Dalam menemukan
hukumnya seorang hakim diperbolehkan untuk bercermin pada yurisprudensi dan
pendapat para ahli hukum terkenal (doktrin). Menurut pendapat Wirjono
Projodikoro dalam menemukan hukum tidak berarti bahwa seorang hakim
menciptakan hukum, menurut beliau hakim hanya merumuskan hukum.5
Undang-undang No. 4 Tahun 2004 Jo Undang-Undang No. 48 tahun 2009 tentang
kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa dalam hal sidang permusyawaratan
setiap hakim wajib menyampaikan pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap
perkara yang sedang diperiksa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
putusan. Dengan demikian, pertimbangan hakim sebelum menjatuhkan putusan
pidana harus sesuai dengan rasa keadilan.
Salah satu dari putusan perkara pidana di dalam pengadilan merupakan salah satu
dari lima kemungkinan antara lain :
a. Putusan bebas (vrijspraak), apabila pengadilan berpendapat bahwa dari hasil
pemeriksaan disidang pengadilan, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang
didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.6
b. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum (onslag van recht vervolging),
apabila pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada

4

Nanda Agung Dewantara. Masalah kebebasan hakim dalam menangani suatu perkara pidana.
Aksara Persada-Indonesia. 1987. hlm.25
5
Ibid, hlm. 25
6
Lihat Pasal 191 Ayat (1), Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

10

terdakwa terbukti, akan tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak
pidana.7
c. Putusan pemidanaan, apabila pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah
melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan
menjatuhkan pidana.8
d. Putusan yang menyatakan dakwaan batal demi hukum yaitu apabila surat
dakwaan tidak memenuhi unsur yang ditentukan dalam Pasal 143 Ayat (2b).
Pengadilan dapat menjatuhkan putusan yang menyatakan dakwaan batal demi
hukum berdasarkan atas permintaan terdakwa atau Penasehat Hukum dalam
eksepsi maupun atas wewenang hakim karena jabatannya.9
e. Putusan yang menyatakan dakwaan tidak dapat diterima yaitu apabila surat
dakwaan mengandung cacat formal atau mengandung kekeliruan beracara.
Bisa cacat mengenai orang yang didakwa, keliru, susunan atau bentuk surat
dakwaan yang diajukan penuntut umum salah atau keliru.10

Selanjutnya untuk membahas permasalahan dalam penulisan penelitian ini
tentunya putusan pidana rehabilitasi ini termasuk dalam putusan pidana untuk itu
perlulah kita ketahui tentang Teori pemidanaan rehabilitasi menurut Muhammad
Mustofa, teori ini lebih memfokuskan diri untuk mereformasi atau memperbaiki
pelaku. Teori ini dilatarbelakangi oleh pandangan positivis dalam kriminologi,
maka penyebab kejahatan lebih dikarenakan adanya penyakit kejiwaan atau
penyimpangan sosial baik dalam pandangan psikiatri atau psikologi. Teori
rehabilitasi dalam pembinaan narapidana yang masih banyak diterapkan dewasa
7

Lihat Pasal 191, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Lihat Pasal 193 Ayat (1), Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
9
Lihat Pasal 143 ayat 2 huruf b, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
10
Lihat Pasal 143 ayat 3 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

8

11

ini berawal dari pemikiran klasik (abad 17-18) dalam hukum pidana yang
dilandasi oleh pemikiran rasionalisme dan humanitarianisme harus ditujukan
menghasilkan dampak jera dan bukan pembalasan dendam. Ciri dari penerapan
teori rehabilitasi adalah adanya usaha untuk membatasi penerapan hukuman
penjara dengan pemberian hukuman percobaan, mempercepat masa penghukuman
dengan pemberian remisi, pembebasan bersyarat, dan amnesti, serta penghapusan
hukuman mati. Sudah banyak di beberapa Negara yang menerapkan teori
rehabilitasi, seperti Australia, Brunei, Kanada, Malaysia, dan ternyata sangat
intensif dalam program rehabilitasi yang bertujuan untuk reintegrasi narapidana ke
masyarakat.11

Tentunya dalam pengambilan putusan seorang hakim tidak serta merta membuat
putusan, seperti apa yang telah dijelaskan dalam Pasal 183 dan 184 KUHAP
yaitu:

Pasal 183 KUHAP
“ hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh
keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa
terdakwalah yang bersalah melakukannya “12

11

Muhammad Mustofa, Dari Retribusi dan Rehabilitasi ke Restorasi, http://www.prakarsa
rakyat.org/artikel/artikel.php?aid=32186, diakses pada tanggal 7 november 2012.
12
Lihat Pasal 183 Kitab Undang-Undang Hukum AcaraPidana (KUHAP)

12

Alat bukti yang sah dalam persiadangan yang bias dijadikan dasar dalam
penetapan putusan hakim telah ditetapkan dalam Pasal 184 Ayat (1) KUHAP yang
menyatakan sebagai berikut :
“Alat bukti yang sah ialah : keterangan saksi, keeterangan ahli, surat, petunjuk
dan keterangan terdakwa.”13
Kemudian dalam perkembangannnya ada beberapa teori tentang pemidanaan
yang dijadikan dasar pertimbangan hakim dalam pengambilan putusannya, teori
tersebut adalah:14

1. Teori absolut atau teori pembalasan
Teori ini memberikan statement bahwa penjatuhan pidana semata-mata karena
seseorang telah melakukan suatu kejahatan atau tindak pidana. Pidana merupakan
akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang telah
melakukan kejahatan. Adapun yang menjadi dasar pembenarannya dari
penjatuhan pidana itu terletak pada adanya kejahatan itu sendiri, oleh karena itu
pidana mempunyai fungsi untuk menghilangkan kejahatan tersebut.

2. Teori relatif atau teori tujuan

Menurut teori ini penjatuhan pidana bukanlah sekedar untuk melakukan
pembalasan atau pengimbalan. Pembalasan itu sendiri tidak mempunyai nilai
tetapi hanya sebagai sarana melindungi kepentingan masyarakat. Lebih lanjut
teori ini menjelaskan bahwa tujuan dari penjatuhan pidana adalah sebagai berikut:
13
14

Lihat Pasal 184 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum AcaraPidana (KUHAP)
Tri Andrisman. Asas-asas dan Dasar Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia, CV Sinar Sakti.
2007. Hlm.24-30.

13

a. Teori menakutkan yaitu tujuan dari pidana itu adalah untuk menakut-nakuti
seseorang, sehingga tidak melakukan tindak pidana baik terhadap pelaku itu
sendiri maupun terhadap masyarakat (preventif umum).

b. Teori memperbaiki yaitu bahwa dengan menjatuhkan pidana akan mendidik
para pelaku tindak pidana sehingga menjadi orang yang baik dalam masyarakat
(preventif khusus).

Sedangkan prevensi khusus, dimaksudkan bahwa pidana adalah pembaharuan
yang esensi dari pidana itu sendiri. Sedangkan fungsi perlindungan dalam teori
memperbaiki dapat berupa pidana pencabutan kebebasan selama beberapa waktu.
Dengan demikian masyarakat akan terhindar dari kejahatan yang akan terjadi.
Oleh karena itu pemidanaan harus memberikan pendidikan dan bekal untuk tujuan
kemasyarakatan.
3. Teori gabungan
Dasar hukum dari teori gabungan ini, pada jalan pikiran bahwa pidana itu
hendaknya merupakan gabungan dari tujuan untuk pembalasan dan perlindungan
masyarakat, yang diterapkan secara kombinasi sesuai dengan tindak pidana yang
dilakukan dan keadaan si pembuatnya.
Aliran gabungan ini berusaha untuk memuaskan semua penganut teori
pembalasan maupun tujuan. Untuk perbuatan yang jahat, keinginan masyarakat
untuk membalas dendam direspon, yaitu dengan dijatuhi pidana penjara terhadap
penjahat,

namun

teori

tujuanpun

pendapatnya

diikuti,

yaitu

terhadap

14

penjahat/narapidana diadakan pembinaan, agar sekeluarnya dari penjara tidak
melakukan tindak pidana lagi.

Penjatuhan putusan pemidanaan dalam penerapannya terdapat putusan pidana
rehabilitasi. Seperti apa yang telah dijelaskan dalam teori rehabilitasi diatas pidana
rehabilitasi ini bertujuan untuk melindungi, membantu, serta membimbing
terpidana untuk menjadi lebih baik lagi dalam kehidupannya yang akan datang
dengan syarat-syarat tertentu yang telah telah ditetapkan oleh majelis hakim
dalam persidangan yang telah memiliki kekuatan hukum yang tetap dan mengikat.

Pemberian pidana rehabilitasi kepada pelaku pengguna narkotika yang telah
melanggar ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika sebagai pelaku tindak pidana pemakai /
pengguna narkotika. Dalam pengambilan keputusan pidana rehabilitasi pula
seorang hakim harus mempertimbangkan / memperhatikan hal-hal antara lain:

1. Apakah terdakwa melakukan tindakan yang kooperatif dalam persidangan,
2. Kepribadian terdakwa,
3. Umur terdakwa,
4. dan sopan santun terdakwa dalam persidangan.
Semakin tingginya angka tindak pidana penyalahgunaan narkotika ini maka fungsi
hukum pidana memiliki peranan yang sangatlah penting. Seperti yang diketahui
bahwa fungsi hukum pidana adalah untuk menimbulkan efek jera atau tidak
mengulangi kembali tindak pidana yang yang telah dilakukannya. Menurut
penulis tujuan yang seperti ini tidak akan menimbulkan kesadaran hukum bagi
para pengguna narkotika melainkan hanya akan merusak fisik dan mental

15

terhadap pelaku pengguna narkoba. Hukum pidana yang bersifat siksaan fisik
terhadap terpidana juga memiliki fungsi subsider yang artinya hukum pidana
hendaknya baru diadakan apabila usaha-usaha lain kurang memadai.
Penjatuhan putusan rehabilitasi dalam penerapannya belum ada kepastian apakah
rehabilitasi tersebut masuk kedalam putusan pidana pokok atau tambahan seperti
yang ditegaskan dalam Pasal 10 KUHP yakni :
a. Pidana pokok
1. Pidana mati
2. Pidana penjara
3. Kurungan
4. Denda
b. Pidana tambahan
1. Pencabutan hak-hak tertentu
2. Perampasan hak-hak tertentu
3. Pengumuman putusan hakim
Dengan demikian maka dengan adanya penerapan pidana rehabilitasi terhadap
pelaku tindak pidana narkotika ini dapat terciptanya suatu pola fikir, tingkah laku,
serta kepribadian yang baik dalam upaya penanggulangan terhadap pengguna
narkotika tanpa harus melukai fisik dari terpidana tersebut.
Teori yang digunakan dalam membahas faktor penghambat dalam penerapan
pidana rehabilitasi terhadap pelaku tindak pidana narkotika adalah teori yang

16

dikemukakan oleh soerjono soekanto mengenai penghambat penegakan hukum,
yaitu :15
1. Faktor hukumnya sendiri
Terdapat beberapa asas dalam berlakunya undang-undang yang tujuannya adalah
agar undang-undang tersebut mempunyai dampak yang positif. Artinya, agar
undang-undang tersebut mencapai tujuannya secara efektif di dalam kehidupan
masyarakat.
2. Faktor penegak hukum
Penegak hukum mempunyai kedudukan dan peranan. Seorang yang mempunyai
kedudukan tertentu lazimnya dinamakan pemegang peranan (role occupant).
Suatu hak sebenarnya wewenang untuk berbuat atau tidak berbuat, sedangkan
kewajiban adalah beban atau tugas.
3. Faktor sarana dan fasilitas
Penegak hukum tidak mungkin berlangsung lancar tanpa adanya faktor sarana
atau fasilitas. Sarana dan fasilitas tersebut antara lain mencakup tenaga manusia
yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai,
keuangan yang cukup dan seharusnya.
4. Faktor masyarakat
Penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai
kedamaian di dalam masyarakat. Oleh karena itu, dipandang dari sudut teetentu
maka masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum tersebut.
15

Soerjono Soekanto,.Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum.Rajawali. 1983,hlm.34
- 40.

17

5. Faktor kebudayaan
Kebudayaan hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum
yang berlaku, nilai-nilai yang merupakan konsepsi-konsepsi abstrak mengenai apa
yang dianggap baik dan apa yang dianggap tidak baik/buruk.
2. Konseptual
Konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsepkonsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti yang berkaitan dengan istilah
yang diteliti.16
Adapun pengertian dasar dan guna mengetahui maksud yang terkandung dalam
penulisan judul skripsi ini, perlulah disimak pengertian beberapa istilah-istilah
sebagai berikut :
a. Penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekan sesuatu teori, metode, dan
hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang
diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan
tersusun sebelumnya.
b. Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang
pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari
segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undangundang ini.17

16

Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. UI-Press. 1984, hlm. 124
Lihat Pasal 1 Ayat (11), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

17

18

c. Pidana atau istilah hukuman adalah, istilah yang dipakai silih berganti sebagai
kata yang mempunyai makna yang sama atau sinonim. Kedua arti istilah itu
adalah sanksi yang mengakibatkan nestapa, penderitaan, ataupun sengsara.
Hukum pidana mengancam bagi para pelanggar hukum dengan penderitaan
yang khusus dan menjatuhkan penderitaan (pidana) kepada siapa yang
melanggarnya.18
d. Rehabilitasi adalah hak seseorang untuk mendapatkan pemulihan haknya
dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya yang diberikan
pada tingkat penyidikan, penuntutan, atau peradilan karena ditangkap, dituntut
ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena
kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan menurut cara yang
diatur dalam KUHAP.19
e. Menurut pasal 1 butir 14 jo. butir 15 KUHAP Terdakwa adalah Seorang
tersangka (seseorang karena perbuatan atau keadaannya berdasarkan bukti
permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana) yang dituntut, diperiksa,
dan diadili di sidang pengadilan
f. Tindak Pidana menurut Moeljatno adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu
aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana
tertentu.20

18

Martiman Prodjohamidjojo, Memahami Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia 2. PT. Pradnya
Panemita. 1997, hlm. 57
19
Pasal 1 butir(23), Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
20
C.S.T. Kansil dan Christine S.T Kansil. Pokok-pokok Hukum Pidana. Pradnya Paramita. 2004,
hlm.54

19

g. Pelaku tindak pidana menurut KUHP pelaku dirumuskan dalam pasal 55 Ayat
(1) : “dipidana sebagai tinadak pidana : mereka yang melakukan, menyuruh
melakukan, yang turut serta melakukan, dan mereka yang sengaja
menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.”21
h. Pengguna

Narkotika

menggunakan

atau

atau

pencandu

narkotika

adalah,

menyalahgunakan

narkotika

dan

orang

dalam

yang

keadaan

ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis.22
E. Sistematika Penulisan

Penulisan hukum ini terbagi menjadi lima bab yang setiap bab terbagi dalam subsub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap
keseluruhan hasil penelitian. Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah
sebagai berikut:
I.

PENDAHULUAN

Merupakan BAB Pendahuluan yang membahas tentang latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran,
Metode Penelitian, Sistematika penulisan hukum.
II.

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Pustaka yang memuat tentang Pengertian hukum pidana, pengertian
putusan, dasar hukum pidana Rehabilitasi, pengertian rehabilitasi, dan mengenai
Pelaku Tindak Pidana narkotika.

21
22

Lihat Pasal 55 Ayat (1), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Lihat Pasal 1 Ayat (13), Undang-undang No. 35 tahun 2009 Tentang narkotika.

20

III.

METODE PELNELITIAN

Metode Penelitian pada bab ini penulis menjabarkan pendekatan masalah, sumber
dan jenis data, serta prosedur pengumpulan data dan pengelolaan data serta
analisis data.
IV.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab Hasil penelitian dan pembahasan ini berisi tentang pembahasan tentang
apakah putusaan rehabilitasi terhadap pelaku tindak pidana pengguna narkotika
masuk kedalam putusan pidana pokok atau pidana tambahan. Serta mengungkap
faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan pidana rehabilitasi.
V.

PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir dari penulisan ini dalam bab ini dimuat dan
diuraikan tentang kesimpulan dan saran dari penulis.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Hukum Pidana
Sebagaimana yang telah diuraikan oleh banyak pakar hukum mengenai hukum
pidana. Dalam hal penulisan penelitian tentang penerapan pidana rehabilitasi
terhadap pelaku tindak pidana pengguna narkotika ini perlulah diketahui apa
sebenarnya pengertian dari hukum pidana itu sendiri. Pengertian tentang hukum
pidana menurut Prof. Moeljatno adalah bagian dari keseluruhan hukum yang
berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk :1
1. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, dilarang,
dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang
siapa melanggar larangan tersebut.
2. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar
larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang
telah diancamkan.
3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan
apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tesebut.

1

Moeljatno. Asas-Asas Hukum Pidana. Edisi Revisi. Rineka Cipta. 2009, hlm. 1

22

Menurut pengertian diatas kita dapat mengerti dengan jelas bahwa hukum pidana
adalah suatu aturan yang mengatur tentang hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak
boleh dilakukan oleh setiap orang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yang
disertai dengan sanksi apa bila sesorang melanggar aturan tersebut.
Hukum pidana di Indonesia menyatakan dengan tegas bahwa seseorang dapat
dikenakan sanksi apabila perbuatan yang dilakukannya telah diatur dalam suatu
perundang-undangan sebelum perbuatan yang dianggap melawan hukum tersebut
dilakukan itu semua dikarenkan karena hukum mengenal adanya asas Legalitas.
Hal ini juga dipertegas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Pasal 1 Ayat (1) yang berbunyi :2
“ Tiada suatu perbuatan dapat di pidana kecuali atas kekuatan aturan pidana
dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan.”
B. Pengertian Putusan
Putusan pengadilan dalam Kitab Undang-Undang Acara Pidana menyatakan
bahwa :
“Pernyataan Hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang
dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum
dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana.”3
Hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap terdakwa harus sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam undang-undang yang telah
2
3

Lihat Pasal 1 Ayat (1), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Lihat Pasal 1 butir (11), Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

23

mengaturnya. Tentunya hakim juga harus mencari kebenaran materiil terhadap
apa yang telah di dakwakan oleh jaksa penuntu umum terhadap si terdakwa.
Dalam pasal 183 kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana menyatakan:
“Hakim tidak boleh menjatuhkan Pidana kepada seorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh
keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa
terdakwalah yang bersalah melakukannya“
C. Dasar Hukum Pidana Rehabilitasi
Di Indonesia sendiri untuk ketentuan tentang pidana rehabilitasi terhadap pelaku
tindak pidana pengguna Nakotika telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009 tentang Narkotika berupa ketentuan pasal 54 sampai pasal 59.
Dalam pasal 54 UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika menentukan :
“Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani
rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.”
Pasal 55 UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika menentukan :
1.

Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib
melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau
lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh
Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui
rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

2.

Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau
dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit,
dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh

24

Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui
rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
3.

Ketentuan mengenai pelaksanaan wajib lapor sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah

Pasal 56 UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika menentukan :
1.

Rehabilitasi medis Pecandu Narkotika dilakukan di rumah sakit yang ditunjuk
oleh Menteri.

2.

Lembaga rehabilitasi tertentu yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah
atau masyarakat dapat melakukan rehabilitasi medis Pecandu Narkotika
setelah mendapat persetujuan Menteri.

Pasal 57 UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika menentukan :
“Selain melalui pengobatan dan/atau rehabilitasi medis, penyembuhan
Pecandu Narkotika dapat diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau
masyarakat melalui pendekatan keagamaan dan tradisional.”
Pasal 58 UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika menentukan :
“Rehabilitasi sosial mantan Pecandu Narkotika diselenggarakan baik oleh
instansi pemerintah maupun oleh masyarakat.”

Pasal 59 UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika menentukan :
1.

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 dan Pasal 57
diatur dengan Peraturan Menteri.

25

2.

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 diatur dengan
peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
sosial.

Penjatuhan putusan pidana rehabilitasi oleh hakim terhadap pelaku tindak pidana
pengguna narkotika didasari pada ketentuan Pasal 103 Ayat (1) dan (2) UndangUndang Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika yang menyatakan :
1.

Hakim yang memeriksa perkara Pecandu Narkotika dapat:
a. memutus untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan
dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut
terbukti bersalah melakukan tindak pid

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

99 3013 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 767 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 662 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 432 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 587 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 983 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 901 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 548 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 802 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 970 23