Pengujian Antikoagulan Bromadiolon pada Tikus Sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)

PENGUJIAN ANTIKOAGULAN BROMADIOLON PADA
TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)

PUTRI SETYA UTAMI

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ABSTRAK

PUTRI SETYA UTAMI. Pengujian Antikoagulan Bromadiolon pada Tikus
Sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.). Dibimbing oleh SWASTIKO
PRIYAMBODO.
Pengujian umpan beracun bersifat kronis (antikoagulan) berbahan aktif
bromadiolon terhadap tikus sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)
dilaksanakan di Laboratorium Vertebrata Hama, Departemen Proteksi Tanaman,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tikus sawah dikenal sebagai hewan
pengganggu karena merupakan hama utama pada tanaman padi dan hampir selalu
menyebabkan kehilangan hasil di beberapa daerah sentra produksi padi di
Indonesia, serta dapat menularkan penyakit pada manusia. Oleh karena itu,
diperlukan usaha pengendalian yang optimal untuk menjaga populasi hama ini di
bawah ambang ekonomi. Pengendalian secara kimiawi menggunakan rodentisida
selama ini dianggap merupakan metode paling efektif dan dalam aplikasinya di
lapangan biasanya hanya diberikan satu pilihan umpan beracun tanpa adanya
umpan lain, namun pada kenyataannya pasti terdapat umpan lain. Pengujian
rodentisida antikoagulan bromadiolon terhadap tikus sawah dilakukan dengan
metode pilihan dan terdapat empat jenis formulasi bromadiolon yang digunakan.
Dalam pengujian ini, tikus diberikan tiga jenis pilihan umpan (rodentisida, gabah,
dan beras). Tikus sawah lebih menyukai gabah yang merupakan pakan dasarnya.
Rodentisida Bromadiolon A, C, dan D yang berbentuk serealia lebih disukai oleh
tikus sawah dibandingkan dengan Bromadiolon B yang berbentuk blok. Namun
rodentisida yang paling banyak dikonsumsi yaitu Bromadiolon C (0.2997 g),
sedangkan Bromadiolon B paling sedikit dikonsumsi (0.0008 g). Kematian paling
tinggi terjadi pada perlakuan Bromadiolon A yang disertai penurunan bobot tubuh
terbesar, namun rodentisida yang lebih efektif dalam mengendalikan tikus sawah
di lapang yaitu Bromadiolon C.
Kata kunci: Tikus sawah, antikoagulan, bromadiolon

ABSTRACT

PUTRI SETYA UTAMI. Trial of Anticoagulant Bromadiolone Rice Field Rat
(Rattus argentiventer Rob. & Klo.). Supervised by SWASTIKO
PRIYAMBODO.
Trial of the chronical poisonous bait (anticoagulant) based on bromadiolone
to rice field rat (Rattus argentiventer Rob. & Klo.) carried out at the laboratory of
Vertebrate Pests, Plant Protection Department, Faculty of Agriculture, Bogor
Agricultural University. Rice field rats known as a destroyer animal because it is a
major pest in rice crop and always causes loss of product in some areas at the
centre of the rice production in Indonesia, and can transmit disease to human.
Therefore, it required the control efforts to maintain the population bellow the
economic level. Chemical control using rodenticide is considered to be the most
effective method and its application in the field is normally given only one choice
of bait in the absence of other toxic bait, however in fact there are other feed. Trial
the rodenticide anticoagulants (bromadiolone) to rice field rat conducted with
choice-test method. There are four types of bromadiolone formulations used. In
this trial, the rat was given three kinds of feed options (rodenticide, grains, and
rice). Rice field rats preferred grain is a basic feed. The shape of Bromadiolone A,
C, and D is cereal, and it is preferred by rice field rat compared to Bromadiolone
B in the form of blocks. Rats consumed Bromadiolone C (0.2997 g) more than
others, whereas the Bromadiolone B is the least amount of consumption (0.0008
g). Most deaths occurred on the Bromadiolone A that accompanied the greatest
decrease in body weight, however Bromadiolone C is the most effective
rodenticide in controlling rice field rats.
Key words: Rice field rat, anticoagulant, bromadiolone

PENGUJIAN ANTIKOAGULAN BROMADIOLON PADA
TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)

PUTRI SETYA UTAMI
A34080021

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Proteksi Tanaman

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Skripsi
Nama Mahasiswa
NRP

: Pengujian Antikoagulan Bromadiolon pada Tikus
Sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)
: Putri Setya Utami
: A34080021

Disetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Swastiko Priyambodo, M.Si
NIP 19630226 198703 1 001

Diketahui,
Ketua Departemen Proteksi Tanaman

Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih, M.Si
NIP 19650621 198910 2 001

Tanggal Lulus:

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 4 Mei 1990 dari pasangan
Bapak Drs. H. Subadri, MM dan Ibu Hj. Lilis Muflihah, S.Pd. Penulis merupakan
anak kedua dari tiga bersaudara.
Penulis memulai studinya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pegadungan 11
Pagi, Jakarta Barat dan lulus pada tahun 2002. Setelah itu penulis melanjutkan
studi ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 169 Jakarta Barat dan lulus
pada tahun 2005. Selanjutnya, penulis melanjutkan studi ke Sekolah Menengah
Atas Negeri (SMAN) 33 Jakarta Barat dan lulus pada tahun 2008. Pada tahun
yang sama dengan kelulusan SMA, penulis diterima di Departemen Proteksi
Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di organisasi kemahasiswaan,
antara lain menjadi anggota Divisi Insekta Unit Konservasi Fauna IPB pada tahun
2008/2009, menjadi anggota UKM Gentra Kaheman IPB pada tahun 2008/2009,
menjadi pengurus pada Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA)
IPB, yaitu sebagai anggota Divisi Komunikasi dan Informasi pada tahun
2009/2010, dan menjadi anggota Entomologi Club pada tahun 2009/2010. Penulis
juga pernah magang di Laboratorium Vertebrata Hama, Departemen Proteksi
Tanaman pada tahun 2010.

PRAKATA

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengujian
Antikoagulan Bromadiolon pada Tikus Sawah (Rattus argentiventer Rob. &
Klo.)”.  Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
Sarjana Pertanian, pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan ini dengan penuh hormat, cinta, kasih, dan sayang penulis
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibunda dan ayahanda yang selalu memberikan doa, kasih sayang, perhatian,
semangat, dukungan moril, lahir batin yang tiada hentinya, serta menjadi
panutan dan motivator bagi penulis agar senantiasa selalu menjadi yang
terbaik dan berguna bagi orang lain.
2. Kakak dan adik yang selalu menyayangi dan memberikan semangat kepada
penulis untuk terus memberikan yang terbaik.
3. Dr. Ir. Swastiko Priyambodo, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah
mencurahkan waktu, perhatian, semangat, bimbingan, arahan, masukan, dan
nasehat selama menjadi dosen pembimbing hingga penyelesaian skripsi ini.
4. Dr. Ir. Tri Asmira Damayanti, M.Agr selaku dosen penguji tamu yang telah
memberikan masukan dan saran untuk perbaikan skripsi ini.
5. Dr. Ir. Teguh Santoso, DEA selaku dosen pembimbing akademik yang telah
berperan besar di awal masa kuliah.
6. Seluruh staf pengajar di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor atas ilmu yang telah diberikan selama penulis
menuntut ilmu di IPB.
7. Bapak Ahmad Soban atas bantuannya selama penelitian sampai akhir
penelitian, serta staf dan administrasi Departemen Proteksi Tanaman.
8. Galih Pamungkas yang selalu memberikan semangat, doa, dukungan, dan
setia membantu dalam penelitian hingga penyusunan skripsi.
9. Rekan-rekan mahasiswa IPB khususnya Ushwanuuri RL, Priyanti Widya N,
Hamdayanti, M. Karami, Agus Wahid S, Novra E, Sherly Vonia I, Ni
Nengah, Yuke A, Minkhaya SP, Rizki Nazarreta, Rosi Rosidah J, dan seluruh
PTN ’45 atas semangat, doa, bantuan, kritik dan saran, serta dukungannya
selama ini.
10. Teman-teman B21, VSCAL, dan Savant atas semangat, doa, dan dukungan
yang diberikan kepada penulis.
11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis sadar bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna dan masih
membutuhkan saran serta kritik. Namun, penulis berharap agar tulisan ini dapat
memberikan manfaat dalam rangka pembelajaran bagi penulis pada khususnya
dan pembaca pada umumnya.
Bogor, Februari 2012
Penulis

viii 
 

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ..........................................................................................

x

DAFTAR GAMBAR .....................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

xii

PENDAHULUAN .........................................................................................

1

Latar Belakang ......................................................................................
Tujuan Penelitian ..................................................................................
Manfaat Penelitian ................................................................................
Hipotesis ...............................................................................................

1
3
3
3

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................

4

Tikus Sawah .........................................................................................
Klasifikasi dan Morfologi ...........................................................
Biologi dan Ekologi ....................................................................
Metode Pengendalian Tikus Sawah ............................................
Rodentisida ...........................................................................................
Rodentisida Kronis ......................................................................
Bromadiolon ................................................................................
Gabah ....................................................................................................
Beras .....................................................................................................

4
4
4
7
7
8
9
9
10

BAHAN DAN METODE ..............................................................................

11

Tempat dan Waktu................................................................................
Bahan dan Alat .....................................................................................
Hewan Uji ...................................................................................
Umpan .........................................................................................
Rodentisida ..................................................................................
Kandang Percobaan .....................................................................
Timbangan...................................................................................
Metode ..................................................................................................
Persiapan Hewan Uji ...................................................................
Persiapan Rodentisida .................................................................
Pengujian Rodentisida vs Umpan ...............................................
Pemberian Umpan (Gabah) Pasca Perlakuan ..............................
Pengamatan yang dilakukan ........................................................
Peubah yang diamati ...................................................................
Konversi Umpan .........................................................................
Rancangan Percobaan .................................................................

11
11
11
12
12
13
14
14
14
15
15
16
16
17
17
17

HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................

18

Pengujian Ketertarikan Tikus Sawah terhadap Rodentisida
dan Umpan (Choice Test) .....................................................................

18

viii 
 

ix
 

Konsumsi Tikus Sawah terhadap Empat Formulasi
Rodentisida Bromadiolon............................................................
Kecenderungan Konsumsi Tikus Sawah terhadap Rodentisida ..
Pengujian Rodentisida vs Umpan ...............................................
Bobot Tubuh dan Kematian Tikus Sawah ..................................
Konsumsi Racun dan Lama Kematian dari Setiap Individu .......
Perbedaan Konsumsi antara Tikus Sawah Jantan dan Betina .....
Konsumsi Tikus Sawah terhadap Gabah Saat Perlakuan
dan Pasca Perlakuan ....................................................................
Bobot Tubuh Tikus Sawah Pasca Perlakuan ...............................

18
21
23
25
27
29
30
31

KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................

33

Kesimpulan ...........................................................................................
Saran .....................................................................................................

33
33

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

34

LAMPIRAN ...................................................................................................

37

 


 

DAFTAR TABEL

Halaman
1 Konsumsi tikus sawah terhadap keempat jenis formulasi bromadiolon ....

18

2 Konsumsi tikus sawah terhadap kedua jenis umpan dan rodentisida ........

23

3 Bobot tubuh dan kematian tikus sawah saat perlakuan ..............................

25

4 Perbedaan konsumsi antara tikus sawah jantan dan betina ........................

29

5 Konsumsi tikus sawah terhadap gabah saat perlakuan dan pasca
perlakuan ...................................................................................................

30

6 Bobot tubuh tikus sawah pada gabah pasca perlakuan ..............................

32

 


 

xi
 

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1 Laboratorium Vertebrata Hama, Departemen Proteksi Tanaman,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor .............................................

11

2 Tikus sawah (R. argentiventer) ..................................................................

12

3 Umpan: (A) Beras dan (B) gabah...............................................................

12

4 Rodentisida kronis bromadiolon: (A) Bromadiolon A 0.005%,
(B) Bromadiolon B 0.005%, (C) Bromadiolon C 0.005%,
(D) Bromadiolon D 0.25% ........................................................................

13

5 Kandang percobaan ....................................................................................

14

6 Timbangan elektronik (electronic top-loading balance for animal)..........

14

7 Konsumsi setiap individu tikus sawah terhadap rodentisida .....................

22

8 Proporsi konsumsi rodentisida, gabah, dan beras terhadap
konsumsi total pada keempat jenis bromadiolon ......................................

24

 

xii 
 

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1

Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap keempat jenis
formulasi bromadiolon ............................................................................

38

Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap
Bromadiolon A vs gabah vs beras...........................................................

38

Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap
Bromadiolon B vs gabah vs beras ...........................................................

38

Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap
Bromadiolon C vs gabah vs beras ...........................................................

38

Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap
Bromadiolon D vs gabah vs beras...........................................................

38

Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi gabah antara tikus sawah
jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon A ..................................

38

Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi beras antara tikus sawah
jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon A ..................................

39

Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi rodentisida antara tikus
sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon A .......................

39

Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi gabah antara tikus
sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon B .......................

39

10 Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi beras antara tikus
sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon B .......................

39

11 Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi rodentisida antara
tikus sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon B ..............

39

12 Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi gabah antara tikus
sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon C .......................

39

13 Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi beras antara tikus
sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon C.... ...................

40

14 Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi rodentisida antara tikus
sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon C .......................

40

15 Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi gabah antara tikus
sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon D .......................

40

16 Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi beras antara tikus
sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon D .......................

40

17 Analisis sidik ragam perbedaan konsumsi rodentisida antara
tikus sawah jantan dan betina pada perlakuan Bromadiolon D ..............

40

2
3
4
5
6
7
8
9

xii 
 

xiii
 

18 Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap gabah
saat perlakuan dan pasca perlakuan Bromadiolon A ..............................

40

19 Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap gabah
saat perlakuan dan pasca perlakuan Bromadiolon B ..............................

41

20 Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap gabah
saat perlakuan dan pasca perlakuan Bromadiolon C ..............................

41

21 Analisis sidik ragam konsumsi tikus sawah terhadap gabah
saat perlakuan dan pasca perlakuan Bromadiolon D ..............................

41 

1
 

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tikus (Ordo Rodentia) merupakan hewan liar dari golongan mamalia dan
dikenal sebagai hewan pengganggu dalam kehidupan manusia. Hewan pengerat
dan pemakan segala jenis makanan (omnivora) ini sering menimbulkan kerusakan
dan kerugian dalam kehidupan manusia antara lain dalam bidang pertanian,
perkebunan, permukiman dan kesehatan. Tikus sudah mampu beradaptasi dengan
baik serta menggantungkan dirinya pada kehidupan manusia dalam hal pakan dan
tempat tinggal. Selain itu, tikus dapat membahayakan manusia karena mampu
menularkan penyakit pada manusia. Kelompok hewan ini dapat menjadi vektor
beberapa penyakit zoonosis antara lain Yersiniosis, Leptospirosis, dan
Salmonellosis. Sedangkan patogen yang dapat ditularkan kepada manusia yaitu
Lymphochytis choriomeningitis, Entamoeba histolytica, dan Giardia muris
(Meehan 1984). Berdasarkan hal tersebut tikus sering dipandang oleh manusia
sebagai hewan yang memiliki efek negatif dalam ekosistem alam (Dickman
1988). Namun menurut Priyambodo (2009), hewan ini dapat memberikan
keuntungan bagi manusia terutama dalam bidang pengetahuan, yaitu dapat
digunakan sebagai hewan percobaan di Laboratorium. Sebagai contoh,
penggunaan tikus putih (Rattus norvegicus Strain Albino) dan mencit putih (Mus
musculus Strain Albino) di Laboratorium untuk pengujian obat sebelum
diaplikasikan pada manusia.
Perkembangan hama tikus dapat berlangsung sangat cepat apabila kondisi
ketersediaan makanan mencukupi, kurangnya usaha pengendalian yang dilakukan
oleh petani serta sedikitnya musuh alami tikus yang terdapat di alam, sehingga
kondisi ini melampaui batas ambang ekonomi dan merugikan petani. Ada 29
spesies tikus yang menjadi hama penting di Asia Tenggara yang dapat
menyebabkan kehilangan ekonomi dan menularkan penyakit pada manusia
(Hoque et al. 1988). Beberapa spesies tikus tersebut yang terdapat di Indonesia
antara lain Bandicota indica (wirok besar), Rattus norvegicus (tikus riul), R. rattus
diardii (tikus rumah), R. argentiventer (tikus sawah), R. exulans (tikus ladang),
dan R. tiomanicus (tikus pohon) (Priyambodo 2009).


 

Tikus sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.) merupakan salah satu hama
utama pada tanaman padi yang memiliki sifat-sifat sangat berbeda dengan jenis
hama utama padi yang lainnya. Tikus sawah dapat beradaptasi dengan baik pada
berbagai agroekosistem, baik lahan sawah irigasi, lahan sawah kering, maupun
lahan sawah rawa pasang surut. Tikus sawah dapat menyebabkan kerusakan pada
tanaman padi mulai dari saat persemaian hingga padi siap dipanen, dan bahkan di
dalam gudang penyimpanan. Kehilangan hasil panen akibat serangan tikus sawah
hampir selalu terjadi pada setiap musim tanam di beberapa daerah sentra produksi
padi di Indonesia. Rata-rata luas serangan tikus sawah pada periode 1994-2005
mencapai 113 514 ha dengan intensitas kerusakan 20% (Direktorat Perlindungan
Tanaman Pangan 2006). Oleh karena itu, usaha pengendalian terhadap hewan ini
perlu dilakukan yang mencakup berbagai macam aspek kegiatan.
Usaha pengendalian tikus sawah selama ini belum menunjukkan hasil yang
optimal. Hal ini karena tikus sawah memiliki karakter biologis dan keunikan
perilaku yang berbeda dengan hama lainnya (Brown et al. 2003; Nolte et al.
2002). Teknologi pengendalian tikus sawah yang telah dikenal selama ini lebih
memfokuskan pada kegiatan kultur teknis, sanitasi, fisik/mekanis, kimiawi,
biologis, dan cara pengendalian lokal lainnya.
Pengendalian secara kimiawi menggunakan rodentisida selama ini dianggap
merupakan metode paling efektif untuk mengendalikan tikus sawah. Hal tersebut
dapat terjadi karena efektifitas rodentisida dapat dibuktikan secara langsung
dengan terbunuhnya sejumlah tikus setelah pengumpanan rodentisida. Namun
penggunaan bahan kimia secara terus menerus akan berdampak pada lingkungan
yaitu terbunuhnya hewan non target serta pencemaran habitat.
Aplikasi pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan rodentisida di
lapangan biasanya hanya diberikan satu pilihan umpan beracun tanpa adanya
umpan lain. Pada kenyataannya di lapang pasti terdapat umpan lain, seperti bulir
padi, apabila rodentisida diaplikasikan pada saat tanaman memasuki fase
generatif. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengujian terhadap beberapa jenis
formulasi rodentisida disertai pemberian umpan lain yang tidak beracun berupa
serealia untuk mengetahui kecenderungan tikus sawah dalam mengonsumsi
beberapa jenis umpan pilihan, yaitu umpan beracun dan umpan tanpa racun.


 

3
 

Rodentisida yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berbahan aktif
bromadiolon karena menurut Buckle (1994) dapat digunakan secara luas untuk
mengendalikan tikus di permukiman dan di pertanian. Selain itu, rodentisida ini
bekerja lambat sehingga tidak menimbulkan jera umpan (bait-shyness) pada tikus,
tidak memerlukan umpan pendahuluan (pre-baiting) dalam aplikasinya, dan
konsentrasinya rendah sehingga diterima oleh tikus.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsumsi tikus sawah
terhadap empat jenis formulasi rodentisida berbahan aktif bromadiolon pada saat
terdapat

umpan

tanpa

racun

dalam

usaha

pengendalian

tikus

sawah

(R. argentiventer) yang efektif dan efisien.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai jenis
formulasi bromadiolon yang efektif dan efisien untuk aplikasi pengendalian tikus
sawah (R. argentiventer) di lapangan pada saat terdapat umpan lain yang tidak
beracun.

Hipotesis
Tikus sawah (R. argentiventer) lebih memilih umpan gabah dibandingkan
umpan yang lainnya karena gabah merupakan pakan dasar sesuai dengan
habitatnya, di lahan persawahan, dimana selalu tersedia bulir padi. Selain itu, tikus
sawah lebih menyukai pakan yang berbentuk serealia dibandingkan berbentuk
blok, sehingga rodentisida bromadiolon berbentuk serealia yang lebih banyak
dikonsumsi oleh tikus sawah.


 

TINJAUAN PUSTAKA

Tikus Sawah
Klasifikasi dan Morfologi
Tikus sawah merupakan hewan pengerat yang termasuk dalam Filum
Chordata, Subfilum Vertebrata, Kelas Mamalia, Subkelas Theria, Infrakelas
Eutheria, Ordo Rodentia, Subordo Myomorpha, Famili Muridae, Subfamili
Murinae, Genus Rattus, dan Spesies R. argentiventer Rob. & Klo. (Boeadi 1979).
Tikus sawah merupakan hewan terestrial yang memiliki tonjolan pada
telapak kaki yang relatif kecil dan permukaannya halus. Selain itu, tikus sawah
memiliki rambut agak kasar, moncong berbentuk kerucut, badan berbentuk
silindris, warna badan pada bagian punggung coklat kelabu kehitaman, dan warna
badan pada bagian perut kelabu pucat atau putih kotor. Ciri khusus dari tikus
sawah yaitu ekor relatif lebih pendek daripada panjang kepala dan badan. Panjang
kepala dengan badan 130-210 mm, ekor 120-200 mm, dan tungkai 34-43 mm.
Jumlah puting susu tikus betina 12 buah, 3 pasang di bagian dada dan 3 pasang di
bagian perut (Priyambodo 2009).

Biologi dan Ekologi
Tikus sawah (R.argentiventer) merupakan hama utama penyebab kerusakan
terbesar tanaman padi, terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola
tanam yang intensif. Tikus sawah dapat merusak tanaman padi pada semua stadia
pertumbuhan dari semai hingga panen, bahkan di dalam gudang penyimpanan
(BB Padi 2009). Tikus sawah sebagian besar tinggal di persawahan dan
lingkungan sekitar sawah. Tikus sawah memiliki daya adaptasi yang tinggi
sehingga mudah tersebar di dataran rendah dan dataran tinggi. Selain itu, tikus
sawah juga suka menggali liang untuk berlindung dan berkembangbiak, membuat
terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi (Rochman 1992).
Tikus sawah memiliki panca indera yang berkembang dengan baik sehingga
dapat menunjang setiap aktivitas kehidupannya. Sebagai hewan nokturnal,
penglihatan tikus sawah telah berkembang dan beradaptasi untuk melihat dalam
intensitas cahaya rendah. Tikus dapat mengenali bentuk benda hingga jarak


 

5
 

pandang 10-15 m (Anggara et al. 2008). Namun tikus sawah dianggap buta warna
sehingga sebagian warna terlihat abu-abu (Rochman 1992). Indera penciuman
berkembang baik sehingga tikus dapat mendeteksi wilayah pergerakan tikus lain,
jejak anggota kelompoknya, dan betina estrus. Indera pendengaran tikus sawah
berkembang sempurna. Indera pengecap berkembang baik sehingga mampu
mendeteksi rasa pahit, racun, dan enak atau tidaknya suatu pakan. Indera peraba
juga berkembang baik, misai dan rambut-rambut panjang pada sisi tubuhnya
digunakan sebagai sensor sentuhan terhadap benda-benda yang dilalui (BB Padi
2009).
Sebagai hewan nokturnal, tikus memiliki orientasi mencari makan,
pasangan, dan kawasan (Brooks & Rowe 1979). Selain itu, tikus memiliki
kemampuan

fisik

seperti

menggali,

memanjat,

meloncat,

melompat,

menggerogoti, berenang, dan menyelam (Rochman 1992). Tikus telah memiliki
otak yang berkembang sempurna sehingga mampu belajar dan mengingat dengan
baik. Tikus sawah dapat mengingat sarang, sumber pakan yang aman ataupun
beracun, dan sumber air (Anggara et al. 2008).
Tikus sawah termasuk hewan omnivora (pemakan segala jenis makanan),
seperti biji-bijian (beras, gabah, jagung), umbi-umbian, serangga, dan sebagainya.
Pada saat makanan berlimpah, tikus sawah akan menjadi lebih selektif dan
memilih makanan yang paling disukai, yaitu biji-bijian atau padi yang tersedia di
sawah (Rochman et al. 1982).
Seluruh bagian tanaman padi pada berbagai stadia pertumbuhan dapat
dirusak oleh tikus. Walaupun demikian, tikus paling suka memakan bagian malai
atau bulir tanaman padi pada stadia generatif. Pada stadia persemaian, tikus
mencabut benih yang sudah mulai tumbuh (bibit) untuk memakan bagian biji
yang masih tersisa (endosperm). Pada stadia vegetatif, tikus memotong bagian
pangkal batang untuk memakan bagian batangnya. Adapun pada stadia generatif,
tikus memotong pangkal batang untuk memakan bagian malai atau bulirnya
(Priyambodo 2009).
Tikus sawah memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi. Di lahan yang
ditanami padi secara terus menerus (2 kali per tahun) puncak populasi akan terjadi
2 kali, yaitu pada saat tanaman fase generatif. Di lahan yang ditanami padi 1 kali


 

per tahun, puncak populasi hanya terjadi 1 kali, yaitu pada fase generatif. Dalam
satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan ratarata 10 ekor anak per kelahiran. Tikus betina relatif cepat matang seksual (± 1
bulan) dibandingkan dengan tikus jantan (± 2-3 bulan). Cepat atau lambatnya
kematangan seksual tersebut tergantung dari ketersediaan pakan di lapangan serta
tempat berlindung dan bersarang yang memadai. Apabila hal tersebut terpenuhi
maka tikus sawah dapat berkembangbiak dalam waktu singkat sehingga akan
terjadi peningkatan populasi yang sangat pesat atau disebut juga ledakan populasi
(Macdonald & Fenn 1994).
Masa kebuntingan tikus betina sekitar 21 hari dan mampu kawin kembali
24-48 jam setelah melahirkan (post partum oestrus) (Southwhick 1969; Meehan
1984). Terdapatnya padi yang belum dipanen dapat memperpanjang periode
reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut, anak tikus dari kelahiran pertama
sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total
sebanyak 80 ekor tikus dalam satu musim tanam padi. Secara teoritis dari 1
pasang tikus dapat berkembang menjadi + 2.000 ekor dalam waktu 1 tahun
(Meehan 1984).
Pada saat tanaman fase padi vegetatif, tikus hidup soliter dan di luar liang,
sedang pada fase generatif, tikus hidup berpasang-pasangan dan tinggal di dalam
liang persawahan dengan pematang yang sempit (Sudarmaji 2005). Luas wilayah
dan jarak jelajah harian tikus dipengaruhi oleh jumlah sumber pakan dan populasi
tikus. Bila sumber pakan berlimpah, jelajah hariannya pendek (50-125 m) dan bila
sumber pakan sedikit, jelajah harian panjang (100-200 m) (BB Padi 2009).
Keberadaan tikus di lapang dapat diketahui dengan cara pengumpanan tanpa
racun yang dipasang minimal sebanyak 20 titik umpan per hektar atau
pengamatan jejak dan jalan lintas tikus. Selain itu, keberadaan tikus di suatu
tempat dapat diketahui dengan adanya benda yang rusak. Penentuan yang akurat
akan adanya investasi tikus dapat diperoleh melalui pengamatan terhadap bahan
makanan atau aktivitas sarang dan tanda-tanda pergerakan tikus dari sarang ke
daerah makanan (Chandra 2005).


 

7
 

Metode Pengendalian Tikus Sawah
Pengendalian tikus sawah sering dilakukan oleh manusia. Beberapa metode
pengendalian yang dapat dilakukan antara lain kultur teknis, sanitasi, fisikmekanis, biologis atau hayati, dan kimiawi. Elemen penting yang harus
diperhatikan untuk mengendalikan tikus di persawahan adalah sanitasi lingkungan
dan monitoring populasi tikus di sekitar persawahan (Priyambodo 2009). Sanitasi
dapat menyebabkan tikus kehilangan tempat persembunyian dan sumber pakan
alternatif terutama saat periode bera, sehingga secara tidak langsung dapat
menurunkan populasi tikus sawah (Sudarmaji 2004).
Pengendalian secara hayati (biologi) terhadap populasi tikus dilakukan
dengan menggunakan parasit, predator, atau patogen untuk mengurangi atau
bahkan menghilangkan populasi tikus dari suatu habitat. Namun cara ini kurang
efektif dan kurang memberikan hasil yang memuaskan. Pengendalian populasi
tikus secara hayati dengan penggunaan parasit, patogen, dan manipulasi genetik
telah dirintis, namun belum dapat diterapkan secara luas (Fall 1977).
Pengendalian secara kultur teknis dapat dibagi menjadi beberapa cara yaitu
pengaturan pola tanam, pengaturan waktu tanam, pengaturan jarak tanam, dan
penggunaan tanaman perangkap, sedangkan pengendalian secara kimiawi dapat
dilakukan dengan beberapa cara yaitu penggunaan umpan beracun, penggunaan
bahan fumigasi, dan bahan kimia penarik (attractant) (Priyambodo 2009). Metode
pengendalian terhadap tikus yang sering digunakan oleh manusia yaitu secara
mekanik dengan menggunakan perangkap dan secara kimiawi dengan
menggunakan rodentisida (Mutiarani 2009).
Umumnya pengendalian hama dengan menggunakan rodentisida dapat
dikatakan berhasil. Pengendalian dengan bahan kimia dapat memberikan efek
positif maupun negatif. Efek positif berupa hasil yang cepat dan efektif sedangkan
efek negatifnya antara lain pencemaran lingkungan dan resistensi hama.

Rodentisida
Rodentisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang
digunakan untuk mematikan berbagai jenis hewan pengerat, misalnya tikus.
Rodentisida dapat membunuh tikus (hewan pengerat) dengan cara meracuni


 

makanannya (tanaman). Menurut Prakash (1988) berdasarkan kecepatan kerjanya,
rodentisida dibagi menjadi dua jenis yaitu rodentisida akut (bekerja cepat) dan
rodentisida kronis (bekerja lambat).
Rodentisida akut adalah racun yang bekerja cepat dengan merusak sistem
syaraf tikus. Rodentisida akut dapat menyebabkan kematian setelah mencapai
dosis letal dalam waktu 24 jam atau kurang (Buckle & Smith 1996). Berdasarkan
toksisitasnya, rodentisida akut dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu highly
toxicity (toksisitas tinggi), moderately toxicity (toksisitas sedang), dan lower
toxicity (toksisitas rendah) (Priyambodo 2009).
Rodentisida kronis (antikoagulan) merupakan rodentisida yang bekerja
lambat dengan cara menghambat proses koagulasi atau penggumpalan darah serta
memecah pembuluh darah kapiler. Rodentisida kronis dapat dikelompokkan
berdasarkan kelompok kimia bahan aktifnya dan berdasarkan saat diproduksinya
(Priyambodo 2009).

Rodentisida Kronis
Rodentisida kronis (antikoagulan) merupakan rodentisida yang bersifat tidak
langsung mematikan setelah tertelan oleh hewan sasaran, namun memerlukan
waktu beberapa lama untuk bereaksi dan menimbulkan kematian terhadap target.
Hal ini disebabkan rodentisida memiliki daya kerja yang lambat (Buckle 1994).
Berdasarkan

kelompok

bahan

kimia

aktifnya,

rodentisida

kronis

(antikoagulan) dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu hydroxicoumarin dan
indanedione (Priyambodo 2009). Selain itu rodentisida kronis (antikoagulan) juga
dapat dikelompokkan berdasarkan saat diproduksinya, yaitu rodentisida
antikoagulan generasi I dan generasi II. Rodentisida antikoagulan generasi II
dibuat karena sudah terjadi atau diperkirakan akan terjadi resistensi tikus terhadap
rodentisida antikoagulan generasi I (Priyambodo 2009).
Penggunaan rodentisida yang bersifat kronis bertujuan untuk menghindari
sifat jera umpan yang dimiliki oleh tikus, sehingga pengendalian dengan
pengumpanan dapat berjalan lebih efektif. Pengendalian dengan rodentisida
semacam ini memerlukan pemberian yang berulang selama 3 hari atau lebih,
namun pemakaian rodentisida kronis secara terus-menerus dapat menyebabkan


 

9
 

terbentuknya populasi tikus yang resisten di beberapa negara sehingga
pemanfaatannya harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu dampak yang
ditimbulkan oleh rodentisida kronis yaitu terhambatnya pembentukan protrombin
yang menyebabkan kerapuhan kapiler darah sehingga terjadi pendarahan (Chandra
2005). Rodentisida ini membuat darah menjadi berkurang kekentalannya dan
semakin lama semakin encer sehingga pada akhirnya tikus akan mati karena
pendarahan didalam tubuhnya (Syamsuddin 2007). Tikus yang telah mengonsumsi
rodentisida antikoagulan dengan dosis yang mematikan biasanya akan mengalami
kematian 2-14 hari setelah proses peracunan (Surtikanti 2007).

Bromadiolon
Bromadiolon merupakan salah satu golongan antikoagulan generasi kedua
yang efektif terhadap tikus dan hewan pengerat lainnya (Bennet 2002). Struktur
kimia

dari

bromadiolon

yaitu

3-[3-(4’-bromobiphenyl-4-yl)-3-hydroxy-1-

phenylpropyl]-4-hydroxycoumarin [28772-56-7], C30H23BrO4 (Buckle 1994).
Bromadiolon diproduksi dalam berbagai bentuk yaitu bentuk umpan siap
saji, bentuk tepung atau bubuk, dan bentuk blok. Secara umum bromadiolon
digunakan dengan konsentrasi 0.005% dan sudah efektif di lapangan terhadap
tikus yang sudah resisten terhadap antikoagulan generasi pertama. Bromadiolon
merupakan racun antikoagulan dengan dosis tunggal 50 mg/kg dengan LD50
kurang dari 2 mg/kg. Penggunaan bromadiolon harus dilakukan dengan tepat dan
aman karena seringkali ditemukan bau bangkai tikus yang sulit terdeteksi (Pardosi
& Sukana 2005).

Gabah
Gabah merupakan bulir padi yang termasuk tahap penting dalam
pengolahan padi sebelum dikonsumsi. Menurut Priyambodo (2009), tikus dapat
menyerang padi pada berbagai stadia pertumbuhan. Pada stadia persemaian, tikus
merusak tanaman padi dengan mencabut benih yang sudah mulai tumbuh (bibit)
untuk memakan bagian biji yang masih tersisa (endosperm). Pada stadia vegetatif,
tikus memotong bagian pangkal batang untuk memakan bagian batangnya. Pada
stadia generatif, tikus dapat menyerang bagian malai atau bulir tanaman padi.

10 
 

Gabah tersusun dari 15-30% kulit luar (sekam), 4-5% kulit ari, 12-14%
bekatul, 65-67% endosperm, dan 2-3% lembaga. Lapisan bekatul paling banyak
mengandung vitamin B1. Selain itu, bekatul juga mengandung protein, lemak,
vitamin B2, dan niasin. Endosperm merupakan bagian utama butir beras, dengan
komposisi utama adalah pati. Selain itu endosperm mengandung protein cukup
banyak, serta selulosa, mineral, dan vitamin dalam jumlah kecil (Lasztity 1986).

Beras
Beras merupakan salah satu padi-padian terpenting di dunia yang
dikonsumsi oleh manusia. Beras yang dihasilkan dari tanaman padi merupakan
makanan pokok sebagian besar penduduk Asia. Sekitar 1.75 milyar dari ± 3
milyar penduduk Asia termasuk ± 300 juta penduduk Indonesia menggantungkan
kebutuhan kalorinya dari beras. Beras merupakan gabah yang bagian kulitnya
sudah dibuang dengan cara digiling dan disosoh menggunakan alat pengupas dan
penggiling (huller) serta penyosoh (polisher). Struktur beras terdiri dari beberapa
bagian yaitu kulit gabah, lapisan perikarp, lapisan aleuron, bakal kecambah, dan
bagian endosperm (Lasztity 1986). Permukaan beras ditutupi oleh selaput tipis
yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, mineral, dan lemak.
Beras sebagai komoditas pangan menyumbang energi, protein, dan zat besi
masing-masing sebesar 63.1%, 37.7%, dan 25-30% dari total kebutuhan tubuh.
Setelah dimasak kandungan protein yang dimiliki beras menurun sampai 2%
(Tasar 2000). Lebih dari 50% penduduk dunia juga tergantung pada beras sebagai
sumber kalori utama. Pangan, khususnya beras yang dikonsumsi harus sehat dan
aman (Wahyudin 2008).

10 
 

11 
 

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Vertebrata Hama, Departemen
Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Gambar 1), dari
Bulan Oktober hingga Desember 2011.

Gambar 1 Laboratorium Vertebrata Hama, Departemen Proteksi Tanaman,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Bahan dan Alat
Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tikus sawah (R.
argentiventer Rob. & Klo.) (Gambar 2). Tikus sawah yang digunakan diperoleh
dari daerah Subang, Jawa Barat. Tikus yang akan diuji diidentifikasi berdasarkan
jenis tikus, kondisi kesehatan, jenis kelamin, bobot tubuh, dan tidak bunting.
Tikus yang dibutuhkan untuk penelitian ini yaitu 10 ekor untuk setiap perlakuan
dengan bobot tubuh > 70 g.

12 
 

Gambar 2 Tikus sawah (R. argentiventer)
Umpan
Umpan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu beras
(Gambar 3A) dan gabah (Gambar 3B). Beras merupakan makanan pokok bagi
sebagian besar masyarakat. Sedangkan gabah merupakan bentuk dasar dari beras
sebelum dilakukan penggilingan dan dapat digunakan sebagai pakan hewan
terutama tikus sawah.

(A)

(B)

Gambar 3 Umpan: (A) Beras dan (B) gabah
 

Rodentisida
Rodentisida yang digunakan bersifat kronis (antikoagulan) sehingga tidak
langsung menyebabkan kematian setelah pemberian rodentisida, namun
dibutuhkan beberapa waktu. Pemberian rodentisida dilakukan secara berulang
untuk dapat menimbulkan keracunan serta kematian. Rodentisida kronis yang
digunakan berbahan aktif bromadiolon yang terdiri dari empat jenis yaitu
Bromadiolon A 0.005% berbentuk butiran beras dengan warna merah muda pekat
(Gambar 4A), Bromadiolon B 0.005% berbentuk blok dengan warna biru
(Gambar 4B), Bromadiolon C 0.005% berbentuk butiran beras dengan warna
12 
 

13
 

merah muda agak pudar (Gambar 4C), dan Bromadiolon D 0.25% berbentuk
tepung dengan warna biru muda (Gambar 4D).

(A)

(B)

(C)

(D)

Gambar 4 Rodentisida kronis bromadiolon: (A) Bromadiolon A 0.005%,
(B) Bromadiolon B 0.005%, (C) Bromadiolon C 0.005%, (D)
Bromadiolon D 0.25%

Kandang Percobaan
Kandang percobaan (Gambar 5) yang digunakan untuk pemeliharaan dan
perlakuan berbentuk balok yang terbuat dari kawat bangunan yang kuat dan keras
dengan ukuran p x l x t masing-masing yaitu 38 cm x 22 cm x 22 cm. Lubanglubang kawat pada kandang berukuran kecil sehingga tidak memungkinkan tikus
untuk keluar dari kandang. Pada setiap kandang percobaan dilengkapi dengan
peralatan tambahan berupa gelas berisi air untuk minum tikus, wadah umpan
beserta umpannya, dan bumbung bambu sebagai tempat persembunyian tikus.

14 
 

Gambar 5 Kandang percobaan
Timbangan
Alat untuk menimbang yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
timbangan elektronik (electronic top-loading balance for animal) (Gambar 6).
Timbangan elektronik digunakan untuk menimbang bobot tubuh hewan uji (tikus)
sebelum dan setelah perlakuan. Selain itu, timbangan juga digunakan untuk
menimbang bobot konsumsi tikus terhadap ketiga jenis umpan (beras, gabah, dan
rodentisida).

Gambar 6 Timbangan elektronik (electronic top-loading balance for animal)
Metode
Persiapan Hewan Uji
Tikus sawah yang digunakan sebagai hewan uji diambil dari daerah Subang,
Jawa Barat. Tikus sawah yang digunakan sebagai hewan uji diidentifikasi
berdasarkan kondisi kesehatan, jenis kelamin, serta bobot tubuh. Bobot tubuh
tikus sawah yang digunakan > 70 g. Selain itu dilakukan pemilihan tikus sawah
yang sehat dan tidak bunting.
14 
 

15
 

Tikus sawah yang dibutuhkan untuk penelitian ini sebanyak 10 ekor untuk
setiap perlakuan. Setelah perlakuan pertama, untuk perlakuan berikutnya
digunakan tikus sawah yang sama (berlanjut) sehingga tikus sawah yang telah
digunakan sebelumnya, digunakan kembali untuk perlakuan berikutnya. Apabila
terdapat tikus sawah yang mati pada perlakuan sebelumnya, maka untuk
perlakuan berikutnya digunakan tikus yang baru. Total tikus yang digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 16 ekor tikus sawah, karena terdapat enam ekor
tikus yang mati.

Persiapan Rodentisida
Rodentisida golongan bromadiolon yang digunakan terdiri atas empat jenis
(Bromadiolon A, B, C, dan D). Tiga jenis dari empat jenis rodentisida yang ada
merupakan rodentisida siap pakai. Namun terdapat rodentisida Bromadiolon D
yang berbentuk tepung sehingga perlu dilakukan pencampuran terlebih dahulu
dengan beras dan minyak. Untuk membuat rodentisida siap saji dari jenis
Bromadiolon D sebanyak 100 g diperlukan rodentisida tepung sebanyak 2.5 g dan
beras sebanyak 97.5 g. Kemudian kedua bahan tersebut dicampurkan dan
ditambahkan minyak goreng secukupnya yang berfungsi untuk melekatkan tepung
pada beras. Selanjutnya ketiga bahan tersebut diaduk secara merata sehingga
warna beras menjadi biru muda seluruhnya. Konsentrasi untuk bromadiolon D
menjadi 0.006%.

Pengujian Rodentisida vs Umpan
Pengujian antikoagulan bromadiolon pada tikus sawah menggunakan
metode pilihan (choice test), yaitu pengujian umpan beracun terhadap tikus
dengan memberikan alternatif umpan lain, sehingga tikus mempunyai pilihan
dalam mengonsumsi umpan yang disediakan. Pengujian ini terdiri dari empat
urutan perlakuan yaitu perlakuan Bromadiolon A vs gabah vs beras, Bromadiolon
B vs gabah vs beras, Bromadiolon C vs gabah vs beras, dan Bromadiolon D vs
gabah vs beras.
Teknik pengujian untuk semua perlakuan (rodentisida vs gabah vs beras)
yaitu tikus sawah yang akan digunakan sebagai hewan uji masing-masing

16 
 

ditimbang terlebih dahulu bobot tubuhnya sebagai bobot awal dengan
menggunakan timbangan elektronik, bobot tubuh yang digunakan > 70 g.
Selanjutnya masing-masing hewan uji dimasukkan ke dalam kandang percobaan
yang telah dilengkapi dengan bumbung bambu dan gelas yang berisi air untuk
minum tikus sawah setiap harinya. Setelah seluruh hewan uji dimasukkan ke
dalam kandang percobaan, kemudian dimasukkan rodentisida, gabah, dan beras
dalam wadah yang terpisah ke dalam kandang percobaan. Sebelum diaplikasikan,
masing-masing umpan beracun dan tidak beracun (rodentisida, gabah, beras)
ditimbang bobotnya menggunakan timbangan elektronik. Untuk rodentisida bobot
awal yang digunakan sebanyak > 10 g, untuk gabah dan beras bobot awal yang
digunakan sebanyak > 20 g.
Tikus yang sama digunakan kembali untuk perlakuan berikutnya, namun
sebelumnya tikus diadaptasikan kembali dengan pemberian gabah. Apabila
terdapat tikus yang mati pada saat perlakuan, maka diganti dengan tikus sawah
yang baru untuk perlakuan berikutnya. Metode pengujian yang sama dilakukan
untuk semua perlakuan.

Pemberian Umpan (Gabah) Pasca Perlakuan
Setelah pengujian rodentisida vs umpan, dilanjutkan dengan pemberian
umpan gabah. Penggantian rodentisida dan umpan dengan gabah bertujuan untuk
mengondisikan tikus sawah setelah diberi perlakuan dengan rodentisida untuk
digunakan pada perlakuan berikutnya. Gabah yang akan diberikan diletakkan
dalam wadah dan kemudian dimasukkan ke dalam kandang berisi tikus sawah
yang telah selesai diberi perlakuan. Jumlah gabah yang diberikan pada tikus
sawah pasca perlakuan yaitu > 20 g.

Pengamatan yang dilakukan
Pengujian choice test (rodentisida vs umpan) dilakukan masing-masing
sebanyak 10 kali ulangan, menggunakan 10 ekor tikus sawah. Setiap ulangan
digunakan 1 ekor tikus sawah dan dilakukan pengamatan selama 5 hari berturut-

16 
 

17
 

turut. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap konsumsi gabah selama 3 hari
berturut-turut.
Peubah yang diamati
Konsumsi tikus sawah terhadap umpan beracun (rodentisida) dan umpan
tanpa racun (gabah, beras) dicatat setiap harinya dengan catatan tikus sawah telah
mengonsumsi salah satu umpan (beracun atau tanpa racun) yaitu rodentisida,
gabah, atau beras sebanyak ≥ 1 g agar dapat berganti ke hari berikutnya. Setelah 5
hari perlakuan, tikus sawah ditimbang kembali bobot tubuhnya sebagai bobot
akhir. Konsumsi gabah setiap hari dicatat dengan asumsi tikus sawah telah
mengonsumsi gabah sebanyak ≥ 1 g agar dapat berganti ke hari berikutnya.
Setelah 3 hari pemberian gabah, tikus sawah ditimbang kembali bobot tubuhnya
sebagai bobot awal untuk perlakuan berikutnya.

Konversi Umpan
Semua data konsumsi yang diperoleh dari pengujian preferensi makan tikus
sawah dikonversi terlebih dahulu kedalam 100 g bobot tubuh tikus, dengan rumus
sebagai berikut:
Konversi umpan atau rodentisida (g/100 g bobot tubuh) =
Bobot umpan atau rodentisida yang dikonsumsi (g) x 100%
Rata-rata bobot tubuh tikus (g)

Rerata bobot tubuh tikus (g) = Bobot awal + bobot akhir
2
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan untuk pengujian ini adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 1 jenis tikus yaitu tikus
sawah dengan 10 ulangan untuk uji rodentisida vs umpan. Apabila hasil yang
diperoleh berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji selang ganda Duncan
(Duncan Multiple Range Test) pada taraf α = 5% dan 1% dengan menggunakan
bantuan program SAS for Windows Versi 9.1.3.

 
 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengujian Ketertarikan Tikus Sawah terhadap Rodentisida dan Umpan
(Choice Test)
Konsumsi Tikus Sawah terhadap Empat Formulasi Rodentisida
Bromadiolon
Tikus sawah yang mempunyai habitat di lahan persawahan terdapat dalam
jumlah yang melimpah sehingga perlu dikendalikan, karena dapat menimbulkan
kerusakan pada tanaman serta kehilangan hasil terutama pada tanaman padi.
Rodentisida selama ini dianggap metode yang paling efektif dalam mengendalikan
tikus sawah. Bromadiolon sebagai salah satu golongan rodentisida telah dinilai
efektif dalam mengendalikan tikus sawah dan tersedia dalam berbagai jenis dan
bentuk, sehingga perlu diketahui bentuk dan jenis yang paling efektif dan efisien
dalam mengendalikan tikus sawah. Konsumsi tikus sawah terhadap empat
formulasi rodentisida bromadiolon dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Konsumsi tikus sawah terhadap keempat jenis formulasi bromadiolon
Rodentisida

Konsumsi (g/100 g bobot tubuh)

Bromadiolon A

0.1045 aA

Bromadiolon B

0.0008 aA

Bromadiolon C

0.2997 aA

Bromadiolon D

0.1146 aA

Pr > F

0.2533

Keterangan:

Angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda
Duncan pada taraf α=5% (huruf kecil) dan α=1% (huruf besar)

Hasil pengujian pada Tabel 1 menunjukkan bahwa konsumsi tikus sawah
terhadap keempat formulasi bromadiolon tidak menunjukkan perbedaan yang
nyata (sama). Konsumsi tikus sawah terhadap Bromadiolon C paling tinggi
diantara yang lainnya yaitu sebesar 0.2997 g. Bromadiolon C paling banyak
dikonsumsi oleh tikus sawah karena rodentisida tersebut memiliki kandungan
bahan tambahan (additives) yang disukai oleh tikus sawah sehingga nilai

19
 

konsumsi untuk rodentisida ini lebih besar diantara yang lainnya. Bahan tambahan
(additives) yang dapat meningkatkan ketertarikan tikus terhadap umpan beracun
yaitu diantaranya bahan penarik (arrestant atau attractant) dan bahan pengikat
(binder) yang terkandung di dalam umpan beracun (Priyambodo 2009).
Bromadiolon B paling sedikit dikonsumsi oleh tikus sawah karena
rodentisida ini berbentuk blok sehingga kurang disukai oleh tikus sawah. Menurut
Priyambodo (2009) tikus sawah lebih menyukai pakan berbentuk serealia
dibandingkan dengan pakan berbentuk blok, sehingga ketiga jenis rodentisida
(Bromadiolon A, C, dan D) yang berbentuk serealia lebih banyak dikonsumsi oleh
tikus sawah dibandingkan dengan Bromadiolon B. Selain itu, Bromadiolon B
kurang disukai oleh tikus sawah karena desain rodentisida ini ditujukan untuk
tikus rumah. Oleh sebab itu, dilakukan pengujian lanjutan terhadap Bromadiolon
B pada tikus rumah dengan metode yang sama.
Hasil pengujian lanjutan yang dilakukan terhadap Bromadiolon B pada tikus

Dokumen yang terkait

Pengujian Antikoagulan Bromadiolon pada Tikus Sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)