Analisis Sifat Listrik Komposit Polimer-Zeolit Terhadap Penyerapan Gas Metanol dan Etanol

(1)

5

Lampiran 1 Alat dan Bahan penelitian

Ove

Ti ba ga Digital


(2)

5

Baha Pe eliia

Cha ber Pe gujia


(3)

59


(4)

6

Lampiran 3 Data pengujian komposit

Data Pengujian Sensor Komposit Menggunakan Metanol 1 ml No Waktu (Sekon) Volume (ml)

1 0 0 3.28

2 125 0.03 3.25

3 246 0.06 3.23

4 366 0.1 3.22

5 486 0.13 3.25

6 606 0.16 3.27

7 726 0.2 3.28

8 846 0.23 3.28

9 966 0.26 3.28

10 1088 0.3 3.26

11 1208 0.33 3.23

12 1328 0.36 3.2

13 1448 0.4 3.17

14 1568 0.43 3.15

15 1688 0.46 3.13

16 1808 0.5 3.11

17 1928 0.53 3.08

18 2048 0.56 3.05

19 2168 0.6 3.02

20 2288 0.63 3

21 2408 0.66 2.97

22 2528 0.7 2.94

23 2649 0.73 2.91

24 2769 0.76 2.88

25 2989 0.8 2.85

26 3109 0.83 2.83

27 3229 0.86 2.82

28 3349 0.9 2.81

29 3569 0.93 2.8


(5)

6

Data Pengujian Sensor Komposit Menggunakan Metanol 2 ml No Waktu (Sekon) Volume (ml)

1 0 0 2.77

2 120 0.06 2.72

3 240 0.13 2.7

4 360 0.2 2.69

5 480 0.26 2.68

6 601 0.33 2.67

7 721 0.4 2.67

8 841 0.46 2.66

9 961 0.53 2.64

10 1081 0.6 2.63

11 1201 0.66 2.62

12 1321 0.73 2.6

13 1440 0.8 2.6

14 1560 0.86 2.58

15 1680 0.93 2.57

16 1800 1 2.54

17 1920 1.06 2.51

18 2040 1.13 2.48

19 2160 1.2 2.48

20 2280 1.26 2.48

21 2400 1.33 2.48

22 2520 1.4 2.47

23 2640 1.46 2.46

24 2760 1.53 2.45

25 2880 1.6 2.44

26 3000 1.66 2.43

27 3120 1.73 2.43

28 3240 1.8 2.43

29 3360 1.86 2.43

30 3480 1.93 2.43


(6)

6

Data Pengujian Sensor Komposit Menggunakan Etanol 1 ml No Waktu (sekon) Volume ( ml)

1 0 0 3.18

2 120 0.03 3.13

3 240 0.06 3.09

4 360 0.1 3.07

5 480 0.13 3.06

6 600 0.16 3.06

7 723 0.2 3.05

8 844 0.23 3.06

9 964 0.26 3.05

10 1084 0.3 3.05

11 1204 0.33 3.04

12 1324 0.36 3.03

13 1445 0.4 3.02

14 1565 0.43 3.02

15 1685 0.46 3.01

16 1805 0.5 3.01

17 1926 0.53 3

18 2046 0.56 2.99

19 2166 0.6 2.99

20 2286 0.63 2.98

21 2406 0.66 2.97

22 2526 0.7 2.97

23 2647 0.73 2.96

24 2767 0.76 2.94

25 2887 0.8 2.94

26 3007 0.83 2.93

27 3127 0.86 2.93

28 3247 0.9 2.92

29 3367 0.93 2.92

30 3487 0.96 2.92


(7)

ϲϯ


(8)

(9)

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Bakker Eric. Electrochemical Sensors 2004, 76, 3285-3298

Chung, Deborah L. 2010. Composite Materials, Science and Applications. Second Edition, Springer-Verlag London Limited 2010, London.

Dai, Liming; Prabhu Soundarrajan; Taehyung Kim. Sensors and Sensor Arrays

Based on Conjugated Polymers and Carbon Nanotubes. Pure Appl.

Chem., Vol. 74, No. 9, pp. 1753-1772, 2002.

Elida Cristina et al. Simultaneous/ Selective Detection of Dopamine and Adsorbic

Acid at Synthetic Zeolite-Modified/ Graphite-Epoxy Composite Macro/ Quasi-Microlectrodes. MDPI Sensors 2013, 13, 7296-7307; doi:

10.3390/s130607296

Fink, Johannes K. 2012. Polymeric Sensors and Actuators. John Wiley and Sons, Inc. Hoboken and Scrivener Publishing LLC. New Jersey

Gunawan et al. Pengujian Karakteristik Komposit Polimer-Karbon Sebagai

Bahan Sensor Gas. TELKOMNIKA, Vol. 10, No.2, June 2012, pp.

275-280.

Grate, J. W.; S.N. Kaganove; D.A. Nelson. Polymers For Chemical Sensors

Using Hydrosilation Chemistry. 2001. Pacific Northwest National

Laboratory, Richland, Washington

Gardner, J.T.; Bartlett P.N.; Pratt, K.F.E. Modeling of Gas-Sensitive Conducting

Polymer Devices.Iee Proceedings-Circuit Devices and Systems 1995,

142,321-333.

Hamlaoul, M.L.; Kherrat, R.; Marrakchi, M.; Jaffrezic-Renault, N.; Walcarius, A.

Mater. Sci. Eng. C 2002, C21, 25.

Hua Bai and Gaoquan Shi. Gas Sensors Based on Conducting Polymer MDPI Sensors 2007, 7, 267-307.

Kalogeras, I. M. and A. Vassilikou-Dova. Electrical Properties of Zeolitic Catalysts. Defect and Diffusion Forum VOl. 164 (1998) pp. 1-36. Scitec


(11)

ϱϲ

Kenny, Tom. Basic Sensor Technology – Sensor Technology Handbook 2005, 1, 1-15 Elsevier, Inc.

Koizumi, Naokazu and Tetsuya Hanai. Dielectric Properties of Polyethylene

Glycols Dielectric Relaxation in Solid State. Bulletin of the Institute for Chemical Research, Kyoto University (1964), 42 (2-3): 115-127

Kumar, D et al. Advances In Sensors Based On Conducting Polymers. Journal of Scientific & Industrial Research. Vol. 65, July 2006, pp. 549-557

Ping Ning; Juan Qiu; Xueqian Wang; Wei Liu; Wei Chen. Metal loaded Zeolit

adsorbents for hydrogen cyanide removal 2012,

10.1016/S1001-0742(12)60138-7

Soegandi, Totok M.S. 2010. Rancang Bangun Sensor ion fosfat di dalam tanah

untuk bidang pertanian. LIPI

Srihapsari, 2006. Penggunaan Zeolit Alam yang Telah Diaktivasi Dengan Larutan

HCl untuk Menjerap Logam-Logam Penyebab Kesadahan Air.Univesitas

Negeri Semarang.

Subaer. 2007. Pengantar Fisika Geopolimer. Direktorat jendral pendidikan tinggi: Jakarta.

Thomas, Sabu et al. Polymer Composite.Wiley-VCH Verlag GmbH and Co. KGaA Weinheim 2012, Germany.

Toal, Sarah J. and William C. Trogler. Polymer Sensors for Nitroaromatic

Explosives Detection. Journal of Materials Chemistry DOI: 10.10396/b517953j

Xiaowen Xu; Jing Wang; Yingcai Long. Zeolit-Based Materials for Gas Sensors


(12)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

1. Hot Plate

2. Timbangan digital − ��

3. Magnetic Stirrer

4. Beaker Glass ukuran 100 ml

5. Beaker Glass ukuran 50 ml

6. Pipet tetes berjumlah 5 buah

7. Gelas Ukur 10 ml

8. Gelas Ukur 5 ml

9. Multimeter Digital Merk FTIKE 1 buah

10.Beaker Glass 100 ml dan 50 ml masing-masing berjumlah 2 buah

11.Oven 0� − 3 0�

12.Desikator

13.Ruang penggujian (Terbuat dari papan akrilik)


(13)

3.1.2 Bahan

1. Zeolit Teraktivasi 100 Mesh 2. Polimer PEG 6000 100 mg 3. Sodium Lauril Sulfat (SLS) 4. Aquadest

5. Papan PCB 6. ����

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Polimer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA USU) dan Laboratorium Ilmu Dasar (LIDA) Universitas Sumatera Utara.

3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Metodologi Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah pembuatan dan karakterisasi, maka penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium yang bertujuan untuk mengidentifikasi apakah Zeolit yang telah diaktivasi dapat digunakan sebagai bahan sensor gas yang kemudian untuk diuji sifat sensitifitas sensor tersebut dengan menggunakan gas yang telah ditentukan.

Tahapan penelitian meliputi: 3.3.1.1 Aktivasi zeolit

Proses Aktivasi zeolit menggunakan larutan � � 98 persen yang dipanaskan selam 2 jam pada suhu 105 derajat celcius dan diaduk sampai 80 rpm menggunakan magnetic stirrer. Sebanyak 50 gram zeolit alam 100 mesh dimasukkan kedalam gelas beaker yang berisi 200 mL H2SO4 1 N. Di aduk dengan menggunakan magnetic stirrer selama 2 jam dengan kecepatan 80 rpm


(14)

sambil dipanaskan pada suhu 105oC. Disaring dengan menggunakan kertas saring. Kemudian dibilas dengan menggunakan aquadest sampai pH netral. 3.3.1.2 Pembuatan substrate

Papan PCB (Printed Circuit Board) ditempa dan dipotong dengan ukuran 3 cm x 5 cm kemudian dibentuk pola dengan memanaskan lembaran pola yang sudah dipersiapkan dan diberi tekanan selama 30 menit. Kemudian PCB yang sudah ditempel oleh pola dicelupkan di dalam air selama 10 menit. Kemudian digosok dan dicelupkan ke dalam larutan FeCl3 selama 20 menit. Dibersihkan dengan menggosok dengan bensin dan tisu sekaligus.


(15)

3.3.1.3Diagram alir pembuatan komposit

Proses pembuatan sensor zeolit menggunakan skema pembuatan dari referensi Budi Gunawan et.al. Diagram alir pembuatan komposit diperlihatkan pada gambar 3.1 di bawah.

Gambar 3.1 Diagram Alir Pembuatan Didekantasi selama 1

malam

Larutan Berbentuk

Gel

SLS sebagai Zat Penggandeng

Larutan

PEG Ditambah

Zeolit 0,2 g (100 Mesh)

Dan

Diaduk me Ditambah

Polimer PEG 0,2

gram

Aquadest 0,2 ml

Dilapiskan pada board sensor Pada luasan yang telah ditetapkan

Dimasukkan ke Decicator selama minimal 1 x 24 jam Komposit Polimer Konduktif


(16)

3.3.1.4Perhitungan konduktivitas listrik komposit

Perhitungan konduktivitas listrik didapat dengan mengambil parameter resistansi awal dari komposit melalui persamaan di bawah. Metode eksperimen perhitungan konduktivitas listrik komposit diperlihatkan seperti pada gambar 3.2 berikut

Gambar 3.2 Skema pengukuran resistansi komposit polimer-zeolit Kemudian, perhitungan konduktivitas listrik dihitung menggunakan persamaan

= �� � =

Dengan

R = Resistansi dari komposit

L = Ketebalan komposit

A = Luas Komposit

Ohm meter

Material Komposit


(17)

3.3.1.5Pengujian komposit polimer-zeolit

Pengujian terhadap gas methanol dan ethanol yang digunakan dengan volume 1 ml dan waktu pengujian selama 1 jam. Kemudian ditambahkan 1 ml sampai total volume yang diuji mencapai 5 ml.

Instrumentasi pengujian terdiri dari bagian chamber pengujian, multimeter (ohmmeter), selang, hotplate. Skema instrumentasi pengujian diperlihatkan pada gambar 3.3 di bawah

Gambar 3.3 Skema pengujian komposit polimer-zeolit 3.3.1.6 Hasil pengolahan data berupa kesimpulan

Adapun parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Pengujian komposit sensor untuk mengetahui hubungan antara volume gas dengan perubahan resistansi komposit sensor sebanyak 3 kali untuk mendapatkan resistansi awal rata-rata terhadap gas yang diuji 2. Pengolahan data untuk mendapatkan korelasi antara volume dan

resistansi melalui analisis regresi linier

Hot Plate

Ta

bun

g

U

k

u

r

Selang

Chamber Pengujian Komposit Polimer-zeolit Ohmmeter


(18)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik listrik komposit 4.1.1 Analisis Sifat Listrik

Komposit yang dibuat adalah komposit polimer-zeolit teraktivasi, polimer yang digunakan adalah polimer PEG 6000; tentunya sifat listrik yang dianalisis nantinya akan bermanfaat apakah komposit bersifat semikonduktif sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan sensor. Sifat listrik yang dianalisis terdiri dari 3 sifat yaitu:

1. Resistivitas 2. Konduktivitas 3. Sensitifitas

Perhitungan resistivitas dan konduktivitas dari komposit dapat dihitung dengan menggunakan persamaan

� = �

Dengan R = Resistansi Komposit sewaktu di uji

� = Hambatan jenis atau resistivitas l = Ketebalan komposit

A = Luas komposit

Metode pengukuran dilakukan dengan cara metode 2 probe point. Komposit polimer zeolit yang telah dibuat, hal tersebut dapat dilakukan dikarenakan pada komposit yang dibuat memenuhi arus dapat lewat dalam sebuah komposit yang sifatnya semikonduktif diperlihatkan pada gambar 4.1 di bawah ini


(19)

ϰϰ

Gambar 4.1 Skema arus dalam material

Arus yang lewat itu berdasarkan aliran elektron yang lewat pada suatu penampang dengan ketebalan yang dilewati. Ketika arus tersebut melewati maka akan didapat hambatan yang bersumber dari susunan material tersebut, dan ini berbicara tentang atom dalam material tersebut.

Sehingga, dengan masing-masing parameter yang telah ditentukan berupa 1. Resistansi rata-rata berupa

Tabel 4.1 Pengukuran Resistansi awal komposit polimer-zeolit

No � Ω

1 3.28

2 3.29

3 3.3

4 3.29

5 3.31

6 3.3

7 3.29

8 3.32

9 3.31


(20)

ϰϱ

2. Luas komposit

Luas Komposit diukur dan dihitung dengan menggunakan persamaan

= � × = ×

= , × , = , = , × −

Ketebalan Komposit dapat diukur dengan menggunakan penggaris dengan ketebalan sebesar

= ± .

= × − ± .

Maka, dengan memasukkan parameter-parameter berupa 1. Pengukuran resistansi komposit

2. Luas permukaan komposit 3. Ketebalan komposit

= � � → � = � Maka, nilai resistivitas berupa

� = �= , × Ω⁄ = , × Ω Sehingga konduktivitas dari komposit sebesar

� = � = , × − � = , × −

− = , × − −

Sehingga, nilai dari resistivitas dan konduktivitas yang didapat dari material komposit polimer zeolit didapat dengan mengambil parameter pengukuran resistansi dengan metode 2 probe point, dan didapat nilai dari resistivitas dan konduktivitas yang ada di atas.


(21)

ϰϲ

Tingginya nilai resistansi material komposit yang dibuat dikarenakan 2 komposisi bahan yang digunakan, yaitu zeolit teraktivasi dan polimer poli etilen glikol (PEG 6000). Berdasarkan grafik kondukvitas zeolit yang diteliti oleh I.M. Kalogeras; A. Vassilikou-Dova mengenai zeolit dan Naokazu Koizumi; Tetsuya Hanai mengenai Polietilen glikol, sifat listrik dari kedua bahan masing-masing diperlihatkan pada gambar 4.2 berikut

Gambar 4.2 Grafik konduktivitas zeolit Sumber I. M. Kalogeras dan A. Vassilikou-Dova

Akumulasi dari sifat listrik jenis zeolit yang didapat berdasarkan data diatas, konduktivitas ion zeolit teraktivasi diketahui berdasarkan temperatur ruangan dari sistem zeolit tersebut. Besarnya konduktivitas listrik dari zeolit terkonsentrasi diantara − − , yang juga berarti nilai dari resistivitasnya berkisar diantara Ω − Ω .

Sedangkan untuk nilai konduktivitas dari masing-masing jenis PEG relatif kecil seperti yang telah diteliti oleh Naokazu Koizumi dan Tetsuya Hanai. Nilai konduktivitas PEG ditunjukkan pada gambar 4.3 di bawah


(22)

ϰϳ

Gambar 4.3 Tabel Konduktivitas PEG Liquid Carbowax Sumber Naokazu Koizumi dan Tetsuya Hanai

Dari gambar tabel di atas tampak, nilai konduktivitas dari masing-masing jenis PEG relatif kecil. Dengan mengambil jenis yang sama, konduktivitas dari PEG 6000 berkisar antara −9− , × −9. Sehingga didapat nilai dari resistivitas dari PEG berupa 9Ω − , × Ω . Dengan adanya penelitian ini, komposit polimer-zeolit yang dibuat dapat mengurangi tingginya nilai resistivitas dari poli etilen glikol sehingga komposit polimer-zeolit dengan komposisi tertentu dapat menghasilkan sifat semikonduktif yang diinginkan. Tentunya sifat ini sangat berguna untuk dijadikan sebagai bahan pembuat sensor gas.

Perbandingan yang didapat antara sensor gas standard dengan komposit polimer-zeolit yang telah dibuat tampak pada technical parameter. Pada komposit polimer -zeolit didapat resistansi yang didapat = , × Ω sedangkan pada sensor gas standar = Ω − Ω. Perbedaan tersebut dikarenakan perbedaan komposisi yang berbeda. Pada penelitian ini, polimer PEG 6000 didoping dengan zeolit aktif, sedangkan pada sensor gas standard komposisinya keramik �

didoping dengan metal oksida berupa . Sehingga parameter teknisnya tentu berbeda.


(23)

ϰϴ

4.2

Data Penelitian

Data pengukuran resistansi komposit polimer-zeolit terhadap Metanol dan Etanol sebanyak 1ml dan 2 ml

Tabel 4.2 Resistansi komposit polimer-zeolit terhadap metanol Data Resistansi Komposit Polimer-Zeolit

No R1 Awal ( Ω R2 Uji 1 ml ( Ω) R3 Uji 2 ml ( Ω) Persentase

1 3,282 2,77 2,43 25,95

Tabel 4.3 Tabel resistansi komposit polimer-zeolit terhadap etanol Data Resistansi Komposit Polimer-Zeolit

No R1 Awal ( Ω) R2 Uji 1 ml ( Ω) R2 Uji 2 ml ( Ω) Persentase

1 3,184 2,92 2,89 8,29

Dengan:

R1 = Resistansi Awal

R2 = Resistansi Pengujian 1 ml R3 = Resistansi Pengujian 2 ml

Besar dari perubahan resistansi terhadap volume gas alkohol yang diuji tergantung dari besar volume gas yang diinjeksikan dan komposisi komposit. Untuk komposit polimer-zeolit yang dibuat dengan komposisi zeolit dan PEG 6000 dengan perbandingan 1:1 masing-masing 0,2 gram. Hal ini bertujuan untuk melakukan kajian awal apakah PEG 6000 yang didoping oleh zeolit mampu untuk menyerap gas alkohol yang diinjeksi.

Dari tabel di atas, tampak pada perubahan resistansi 3,282 menurun menjadi 2,77 Mega Ohm dilakukan pengujian 1 ml volume methanol selama 1 jam. Kemudian ditambahkan volume sebanyak 2 ml dengan waktu pengujian


(24)

ϰϵ

selama 1 jam juga. Begitu juga prosedur pengujian dilakukan terhadap methanol. Dari hasil yang didapat selama pengujian dapat diambil analisis bahwa, untuk ukuran komposit yang telah dibuat, komposit memiliki titik jenuh dan hanya mampu mendeteksi volume gas alkohol yang diinjeksikan sebesar 3-4 ml gas alkohol. Lebih dari itu, maka komposit akan mengalami titik jenuh dan apabila dipaksa akan mengalami efek swelling. Efek swelling merupakan sebuah peristiwa dimana komposit mengalami kejenuhan dalam proses adsorpsi, sehingga mengakibatkan komposit secara fisikal mengalami pembengkakan dan dapat mengalami kerusakan.

Berdasarkan data sheet dari Hanwei Electronics Co., LTD (Terlampir), bahwa karakteristik suatu material untuk aplikasi sensor ditinjau dari karakteristik sensitifitas sesuai dengan tabel 4.4 di bawah

Tabel 4.4 Parameter Standar Sensor

Symbol Parameter name parameter Technical Remarks Rs Sensing Resistance (1000ppm isoΩ − Ω

-butane)

Detecting concentration

scope: 200ppm-5000ppm

LPG and propane 300ppm-5000ppm

butane 5000ppm -20000ppm

methane 300ppm-5000ppm

100ppm-2000ppm Alcohol

�(3000/1000)

isobutene Concentration Slope Rate ≤ , Standard

Detecting Condition

Temp: ℃ ± ℃ � : � ± ,

Humidity: % ± % �ℎ: � ± ,

Preheat time Over 24 hour

Sumber dari http://www.hwsensor.com

Struktur dan konfigurasi dari sensor gas MQ-2 ditunjukkan pada gambar 1 (terlampir). Sensor difabrikasi dari material mikro keramik tube � dan tin dioxide ( ) sebagai layar aktif. Maka, dengan penggunaan metal oksida akan menghasilkan fabrikasi sensor yang lebih baik lagi. Oleh karena itu dengan membandingkannya dengan komposit polimer-zeolit yang dibuat dalam penelitian ini akan tampak perbedaan dalam material sensor tersebut.


(25)

ϱϬ

4.3 Pembahasan

4.3.1 Kurva karakteristik sensitifitas sensor gas standard

Parameter karakteristik sensitifitas dapat dilihat dari data sheet yang telah dilampirkan. Dalam gambar 3 pada lampiran (lampiran technical data) bahwa sifat sensitifitas dari sensor gas standar adalah berbanding terbalik dengan volume ppm yang diinjeksikan. Semakin besar volume gas dalam ppm yang diinjeksikan akan membuat karakteristik resistansi menurun.

Nilai resistansi dari Sensor MQ-2 berbeda-beda terhadap jenis dan konsentrasi gas yang diuji. Jadi, ketika menggunakan sensor tersebut pengaturan skala sensitifitas sangat diperlukan. Hal ini juga tampak pada jenis dan konsentrasi gas yang diuji pada komposit polimer zeolit. Pada penelitian ini, komposit polimer-zeolit memiliki kesamaan dengan sensor MQ-2 yang menjadi standard.

4.3.2 Pengujian terhadap volume gas alkohol (sensitifitas)

Dari grafik pengujian, sensitivitas komposit terhadap masing-masing volume injeksi gas alkohol memiliki fungsi transfers secara linear menurun kebawah. Pada pengujian terhadap volume etanol sebanyak 1 ml, komposit polimer zeolit menunjukkan perubahan resistansi berbanding terbalik terhadap volume. Semakin besar volume maka resistansi dari komposit polimer-zeolit menurun.

Pada pengujian terhadap penambahan volume methanol dari 1 ml ditambah 2 ml, komposit polimer zeolit menunjukkan perubahan resistansi berbanding terbalik terhadap volume. Semakin besar volume maka resistansi dari komposit polimer-zeolit menurun.Penurunan resistansi tersebut tampak pada grafik pengujian dengan persamaan garis lurus menurun kebawah diperlihatkan pada gambar 4.4 berikut:


(26)

ϱϭ

Gambar 4.4(a)

Gambar 4.4(b)

Gambar 4.4 (c)

Gambar 4.4 Pengujian penyerapan gas alkohol terhadap komposit (a) metanol 1ml (b) metanol 3 ml (c) etanol 1 ml

2.7 2.8 2.9 3 3.1 3.2 3.3 3.4

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

R e si stan si ( 10 M )

Volume Metanol (ml)

2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8

1 1.5 2 2.5 3

Re si stansi (M Ω )

Volume Methanol (ml)

2.85 2.9 2.95 3 3.05 3.1 3.15 3.2

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

R e si stan si (M Ω )

Volume Etanol (ml)

= , − , �= , = , − , �= , = , − , �= ,


(27)

ϱϮ

Gambar 4.4(a) menunjukkan perubahan resistansi yang disebahkan oleh volume metanol sebesar 1 ml. Perubahan resistansi ditunjukkan dengan persamaan matematika yaitu = , − , dengan koefisien regresi linear sebesar = , . Gambar 4.4(b) menunjukkan perubahan resistansi yang disebahkan oleh penambahan volume metanol sebesar 2 ml. Perubahan resistansi ditunjukkan dengan persamaan matematika yaitu = , −

, dengan koefisien regresi linear sebesar = , . Sedangkan pada gambar 4.4(c) merupakan perubahan resistansi terhadap penyerapan etanol sebesar 1 ml. perubahan resistansi tidak seperti pada etanol. Perubahan resistansi tetap sama, linear berbanding terbalik dengan persamaan linear = , −

, dengan besar koefisien regresi linear = , .

Dari hasil penelitian ini, bahan zeolit yang teraktivasi dapat berfungsi sebagai bahan aktif dalam proses pembacaan alkohol. Dari hasil grafik karakteristik resistansi terhadap volume injeksi, terlihat bahwa, untuk sensitifitas gas methanol lebih sensitif dibandingkan dengan etanol. Hal ini disebabkan karena methanol memiliki rantai panjang yang lebih pendek dibandingkan etanol. Sehingga, untuk komposit yang dibuat sangat efektif untuk mendeteksi golongan alkohol, terutama pada methanol.Sehingga, dari pembahasan dalam penelitian ini didapat beberapa hasil analisis yaitu:

1. Bahan PEG 6000 yang merupakan bahan bermaterial polimer bisa dibuat menjadi sensor gas alkohol dengan memberikan zat additif atau doping zeolit teraktivasi

2. Zeolit alam teraktivasi dapat digunakan sebagai salah satu material layer aktif pada komposit polimer-zeolit.

3. Sensor komposit polimer-zeolit yang dibuat mampu mendeteksi gas alkohol yang diuapkan. Indikator pendeteksian tersebut terlihat dari adanya perubahan nilai resistansi komposit ketika terkena gas alkohol. 4. Nilai resistansi komposit polimer-zeolit akan turun sebanding dengan

kenaikan volume injeksi pada ukuran dan komposisi komposit yang telah dibuat. Komposit polimer-zeolit ini jenuh pada volume injeksi 3-4 ml gas alkohol.


(28)

BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan data yang didapat dan analisis yang diperoleh terdapat 3 kesimpulan berdasarkan tujuan penelitian, yaitu:

1. Zeolit yang digunakan dalam proses penelitian ini dapat digunakan sebagai

bahan pendeteksi gas alkohol. Hal tersebut tampak dari data dan grafik pengujian dengan adanya penurunan nilai resistansi komposit yangdibuat. Zeolit teraktivasi digunakan sebagai bahan doping pada PEG 6000

menjadi komposit polimer-zeolit, sehingga dapat dibuat menjadi bahan

sensor gas.

2. Komposit polimer-zeolit dibuat dengan menggunakan matrix polimer PEG

6000 dan filler zeolit alam teraktivasi. Kemudian dilakukan pengujian karakteristik listrik zeolit dan didapatkan nilai resistivitas jenis dan

konduktivitas jenis masing-masing sebesar � = ,3 × Ω� dan

� = ,35 × − ��� � /� −1

3. Karakteristik sensitifitas komposit polimer-zeolit yang dibuat ditentukan

oleh volume gas yang diinjeksikan, serta jenis gas alkohol, luas dan ketebalan komposit yang digunakan. Dari hasil analisis pengujian

menunjukkan bahwa, komposit polimer-zeolit memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap methanol yang diuji. Parameter volume gas

menunjukkan bahwa adanya titik jenuh dari komposit polimer-zeolit yang


(29)

ϱϰ

5.2 Saran

Untuk penelitian lebih lanjut dari skripsi ini disarankan:

1. Perlu dikaji lebih jauh mengenai pengaruh vasiasi pengisi dan pengikat yaitu zeolit teraktivasi dan matrix PEG 6000 dari variasi komposisi terhadap karakterstik resistivitas dan konduktivitas

2. Perlu dikaji lebih jauh mengenai pengaruh metode pembuatan komposit pada parameter jarak drop coating material terhadap substrat yang digunakan dalam proses pembuatannya.

3. Perlu dilakukan pengujian dengan menggunakan beberapa jenis gas yang berbeda karena sifat dari zeolit yang mampu menyerap jenis golongan alkohol dan gas-gas tertentu.

4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai komposisi optimal untuk mengetahui performansi komposit dalam mendeteksi gas-gas tertentu.


(30)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 TINJAUAN PUSTAKA

Penggunaan polimer telah banyak digunakan di berbagai hal, salah satunya adalah karakterisasi polimer sebagai bahan polymeric chemiresistors yang digunakan sebagai bahan gas sensor. Penggunaan polimer ini dapat dijadikan sebagai bahan gas sensor dengan melakukan doping beberapa senyawa aktif sehingga terbentuk komposit polimer. Perkembangan komposit polimer ini telah banyak dilakukan penelitian dengan memberikan pengisi sehingga terbentuk komposit polimer-filler.

Mineral-mineral seperti zeolit dan karbon teraktivasi sering

digunakan sebagai lapisan aktif dalam sintesa dan karakteristik material sensor yang didesain untuk mendapatkan respon analisis elektrik yang memiliki karakter high sensitivity dan high selectivity. Mineral zeolite dan karbon teraktivasi ini memiliki karakter berupa penyerapan yang tinggi untuk zeolit.

Polimer merupakan material non konduktif yang dapat menjadi konduktif dengan menambahkan karbon aktif sebagai filler sehingga terbentuk komposit polimer karbon. Komposit polimer-karbon mempunyai

resistansi berubah apabila terkena gas. Konduktifitas komposit polimer

-karbon sebagai sensor gas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu Jenis gas yang dideteksi, volume gas, suhu dan kelembaban. Untuk mengetahui karakteristik sensor komposit polimer-karbon, telah dibuat sensor polimer

dari 6 jenis bahan, yaitu: PEG 6000, PEG 20M, PEG 200, PEG 1540, silicon dan squelene. Jenis gas yang diuji, yaitu: Aseton, Aseton Nitril,


(31)

Benzena, Etanol, Metanol, Etil Aseton, Kloroform, n-Hexan dan Toluena. (Gunawan et.al 2012)

Penelitian mengenai komposit polimer-senyawa aktif telah pula dilakukan oleh D. Kumar. Penggunaan polimer konduktif terkonjugasi yang didesain sehingga terbentuk layer aktif dari polimer konduktif dengan proses elektrokimia biosensor berupa transfer elektron sehingga terbentuk kondisi polimer dengan senyawa-senyawa aktif berupa anion dan kation. (D. Kumar 2006)

Kemudian, penggunaan polimer sebagai pendeteksi gas-gas kimia yang menguap juga telah menghasilkan karakteristik yang diinginkan. Hal tersebut juga tampak dari kemampuan dari komposit polimer tersebut dalam mendeteksi beberapa konsentrasi dari molekul-molekul gas terhadap permukaan komposit polimer. Penelitian adanya hubungan secara linier antara energi bebas dengan interaksi yang interaktif berupa penyerapan molekul gas yang diuapkan melalui interaksi disperse, induksi dipol dan interaksi yang terjadi antara dua kutub (muatan), dan interaksi antara ikatan hidrogen. (J. W. Grate 2001)

Penggunaan polimer konduktif seperti polypyrrole, polyaniline, polythiophene dan turunan polimernya juga digunakan sebagai layer aktif dalam sintesis material sensor sebagai material gas sensor dengan proses sintesis secara kimia maupun elektrokimia yang didoping melalui reaksi redoks atau protonasi. Material ini cenderung akan memiliki senyawa -senyawa aktif. Material ini juga memiliki daya sensing yang relatif tinggi dalam waktu yang rendah. (Huai Bai dan Gaoquan Shi 2007)

Penggunaan komposit polimer-senyawa aktif juga telah dilakukan melalui polimer terkonjugasi yang memiliki hubungan berupa interaksi antara penerima elektron dan donor elektron. Komposit polimer-karbon aktif ini memiliki karakteristik sebagai material transduser-aktif yang memiliki karakteristik sensing terhadap nitrogen yang telah diuapkan sehingga terbentuk material sensing yang atraktif. (Liming Dai 2002)


(32)

Zeolit yang juga merupakan mineral yang dapat diaktivasi juga telah digunakan sebagai bahan doping untuk komposit polimer makro/ quasi mikroelektroda. Proses ini melalui epoksi graphite dan dimodifikasi melalui komposit zeolite-epoksi grafit sebagai quasi-mikroelektroda. Karakteristik yang didapat berupa tingginya sensitivitas dan selektvitas dari material ini sehingga dapat digunakan sebagai sensor polimer komposit. (Elida et al 2013)

Senyawa nitroaromatik juga dapat dideteksi melalui penelitian pembuatan sensor polimer yang berfungsi sebagai sensor ledakan dari senyawa-senyawa nitroaromatik. Senyawa nitromaromatik yang dideteksi adalah trinitrotoluena melalui sensor polimer yang didoping dengan partikel karbon yang dilapisi dengan berbagai macam polimer organik. Proses pendeteksi ini terlihat dari interaksi antara polimer sensor ini dengan senyawa trinitrotoluena yang diadsorpsi oleh lapisan polimer-karbon aktif. (Sarah J. Toal dan William C. Trogler 2006)

2.2 POLIMER

2.2.1 Polimer Konduktif

Kebanyakan dari jenis polimer merupakan insulator. Insulator merupakan material yang tidak mampu untuk menghantarkan listrik. Tetapi, tidak semua jenis polimer merupakan material insulator. Ada beberapa jenis polimer yang dapat menghantarkan muatan elektron. Pada dasarnya, plastik (contoh polimer paling umum) diketahui polimer tidak dapat menghantarkan listrik. Namun, ketika polimer tersebut didoping atau dirusak, maka polimer tersebut akan memiliki sifat semikonduktor. Sebut saja seperti grafit yang juga disebut sebagai salah satu jenis polimer. Grafit memiliki sifat mampu menghantarkan listrik. Hal tersebut dikarenakan adanya struktur dari grafit yang mampu menghantarkan listrik, dan ini disebut dengan sistem terkonjugasi. Hal ini disebut dengan polimer terkonjugasi.


(33)

Polimer merupakan senyawa kimia yang memiliki rantai berulang dari atom yang panjang, secara struktural senyawa kimia polimer ini terbentuk dari pengikat yang berupa molekul yang sama atau identik. Molekul yang sama ini disebut dengan monomer. Sekalipun biasanya merupakan senyawa organik (yaitu senyawa yang memiliki rantai karbon), ada juga jenis polimer yang inorganik. Secara umum polimer didefenisikan sebagai substansi yang memiliki lebih dari molekul-molekul tersebut. Salah satu contoh yang paling umum dari jenis polimer ini adalah plastik.

Polimer bukan saja berfungsi sebagai salah satu material yang diinginkan sifat kekuatan mekanis-nya. Polimer juga sering digunakan sebagai matrix dalam proses pembuatan komposit. Matrix berarti polimer dapat berfungsi juga sebagai pengikat. Artinya dalam penggunaannya polimer memiliki fungsi tertentu juga. Sebenarnya polimer terdiri dari banyak kelas material yang memiliki fungsi seperti bukan saja pengikat melainkan juga memiliki sifat kekuatan yang baik juga.

Dalam penelitian ini jenis polimer yang digunakan adalah polimer polietilen glikol PEG 6000. Secara mendasar polietilen sering disingkat PE adalah senyawa material termoplastik yang digunakan secara luas oleh banyak orang. Secara kimiawi PEG merupakan jenis polimer sintetik yang larut dalam air dan memiliki kesamaan struktur kimia. Beberapa sifat utama dari PEG adalah stabil, tersebar merata, mudah menguap dan dapat mengikat pigmen. Oleh karena itu, PEG sering digunakan dalam industri pangan, kosmetik dan farmasi (obat-obatan).

Polimer terkonjugasi sering dimanfaatkan dalam sistem optik dan elektrik sensor. Dalam arti, polimer terkonjugasi atau polimer konduktif dapat digunakan sebagai bahan sensor untuk mendeteksi dengan menggunakan sifat optis, elektrokimia dan konduktif. Polimer konduktif merupakan polimer yang unik karena memiliki karakteristik yang dapat diubah ketika diberikan doping. Beberapa jenis dari polimer terkonjugasi ini dapat dijumpai pada jenis polimer berupa poly(fluorene)s, poly(phenylene


(34)

vinylene)s, poly(phenylene ethynelen)s, dan poly(thiophene)s, dan poly (ethleyene glycol)s.

Poli Etilen merupakan salah satu jenis polimer yang mudah didapat dan harganya terjangkau. Penggunaan polyethylene di Indonesia hanya digunakan sebagai bahan pembuatan kosmetik dan obat-obatan di bidang farmasi. Namun, penggunaannya secara ilmu kimia dan fisika masih jarang untuk digunakan. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian menggunakan poly ethylene glycol yang merupakan salah satu jenis polimer konduktif dan didoping dengan zeolit teraktivasi sehingga dihasilkan komposit polimer konduktif dengan tujuan untuk mendeteksi gas-gas yang mampu diserap oleh zeolit sebagai layer aktif dan adsorbent.

Telah diketahui bahwa senyawa polietilen glikol merupakan senyawa polimer terkonjugasi. Dalam situsnya, Wikipedia.org menuliskan mengenai polimer terkonjugasi, yaitu polimer semikonduktif dan konduktif adalah polimer terkonjugasi yang menunjukkan perubahan ikatan tunggal dan ganda antara atom-atom karbon pada rantai utama polimer. Ikatan ganda diperoleh dari karbon yang memiliki empat elektron valensi, namun pada molekul terkonjugasi hanya memiliki tiga (terkadang dua) atom lain.

Polyethylene glycol juga sering digunakan di dalam aplikasi farmasi dan biomedis. Senada dengan hal tersebut, Anushree Datta dalam thesisnya mengemukakan bahwa polietilen glikol memiliki gugus monomer hydrophilic yang memiliki kelebihan yang berbeda dalam fabrikasi dan aplikasi dari hidrogel. Material ini saat ini sering digunakan untuk penggunaan obat-obatan, enkapsulasi dan sebagai promoters dari adesi polyethylene glycol. Sifat unik dari PEG banyak digunakan dalam beberapa hal. PEG tidak beracun, sehingga sangat efektif dalam proses pemanfaatannya dalam pembuatan komposit polimer-zeolit. Tidak memiliki efek samping, dengan demikian PEG telah dimanfaatkan dalam berbagai variasi termasuk pada bidang medis, termasuk obat-obatan.

Pelapisan polimer dalam penggunannya banyak digunakan dalam pembuatan komposit. Dalam kebanyakan proses pengeringan kimia, jumlah


(35)

polimer yang digunakan untuk itu, lebih dari 95 persen dari strip. Polimer oleh karena itu, penting dan harus dipilih dengan hati-hati. Usmani dan rekan kerjanya telah menghubungkan kimia Polimer untuk biokimia, dan yang telah menyebabkan pemahaman lebih baik dan peningkatan pengeringan kimia. Pertimbangan-pertimbangan umum sering menjadi permasalahan dalam proses pengeringan.

Pengikat polimer diperlukan untuk memasukkan komponen kimia dalam bentuk lapisan atau impregnasi. Matriks reagen harus hati-hati dipilih untuk mengurangi atau menghilangkan bebas-keseragaman dalam konsentrasi reagen karena tidak tepat pencampuran, menetap, atau ketebalan lapisan yang tidak seragam. Oleh karena itu, larutan berbasis emulsi polimer dan polimer yang mudah larut dalam air secara ekstensif sedang digunakan.

Polimer harus hati-hati disaring dan dipilih untuk menghindari gangguan dengan kimia. Sifat polimer, seperti, komposisi, kelarutan, viskositas, konten yang solid, surfaktan, sisa inisiator, film pembentuk suhu dan ukuran partikel harus dipertimbangkan dengan cermat. Secara umum, polimer harus baik, ketebalan dan adhesi yang baik untuk mendukung substrat. Selain itu, seharusnya tidak atau banyak cara untuk menangani tujuan tersebut, selama pembuatan strip. Matrix yang dilapisi atau impregnasi harus memiliki ukuran porositas yang diinginkan yang memungkinkan sehingga analisis penetrasi yang diukur serta memiliki gloss yang diinginkan, pembengkakan karakteristik, dan permukaan energetika.

Pembengkakan binder polimer atau dalam istilahnya disebut dengan “Swelling Effect” dikarenakan penyerapan sampel cair mungkin terjadi karena dalam proses pembuatannya terkontaminasi dan tidak menguntungkan terhadap sistem. Emulsi polimer memiliki keuntungan yang berbeda atas polimer yang mudah larut, karena berat molekul tinggi, sifat mekanik yang unggul, dan potensi untuk penyerapan enzim. Polimerik Binder digunakan dalam multi lapisan mencakup berbagai emulsi polimer.


(36)

2.2.2 Polimer untuk gas sensor

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, penggunaan poly ethylene sebagai salah satu jenis polimer konduktif dapat digunakan sebagai bahan pembuat sensor. Namun, dalam penelitian ini, material polimer didoping dengan menggunakan zeolit yang teraktivasi. Penggunaan zeolit sebagai layer aktif dalam salah satu dasar pembuatan sensor merupakan hal yang sering dilakukan. Namun, di Indonesia hanya digunakan sebagai salah satu bahan kosmetik dan obat-obatan. Disamping itu, pemanfaatan zeolit hanya sebatas sebagai penyerapan secara kimia.

PEG merupakan salah satu jenis polimer yang memiliki sifat toksik yang kecil sehingga dapat digunakan dalam beberapa hal industri farmasi. Polimer jenis ini juga sering digunakan sebagai pelumas dalam pelapisan permukaan dalam suasana larutan dan lingkungan non-larutan. Sehingga PEG disebut dengan polimer yang fleksibel, polimer yang mudah larut terhadap air dan kemudian dapat digunakan sebagai surfaktan juga. Struktur PEG ditunjukkan pada gambar 2.1 di bawah

Gambar 2.1 Struktur PEG

Sensor gas pada dasarnya sering menggunakan polimer konduktif seperti poly aniline (PANI), poly pyrrole (PPY) dan Poly Ethylene (PE) sebagai layer aktif dari sensor yang dibuat. Telah diketahui bahwa, jenis polimer ini secara ideal memiliki ikatan ganda yang terkonjugasi dilihat dari strukturnya. Hal ini mampu membuat, jenis polimer ini memiliki konduktivitas listrik. Walaupun tidak sebesar jenis material konduktor lainnya, jenis polimer ini apabila dilakukan doping akan menghasilkan konduktivitas listrik yang mampu dijadikan sebagai bahan sensor. Namun, dalam penelitian ini, layer aktif didukung oleh dua jenis material yaitu zeolit


(37)

dan polimer yang memiliki sifat konduktif dan mampu dijadikan sebagai pengikat. (Johannes Karl Fink 2012)

2.3 MATERIAL KOMPOSIT

Material komposit adalah bahan yang diperoleh melalui kombinasi bahan yang berbeda untuk mencapai sifat yang masing-masing bahan tidak ada. Material komposit dibuat bertujuan untuk menciptakan bahan komposit yang memiliki sifat-sifat yang berasal dari bahan pembuatnya. Bahan komposit dibuat melalui cara yang berbeda, ada yang mengalami reaksi secara alami, perubahan fasa atau melalui fenomena lainnya. Contohnya adalah serat karbon yang diperkuat oleh polimer. Pembuatan material komposit dapat disesuaikan dengan mencari bahan-bahan yang diinginkan sifatnya dan diperkuat dengan sifat bahan yang diinginkan. Oleh karena sifatnya yang memiliki karakteristik tertentu, komposit merupakan material rekayasa yang paling komersial.

Material komposit sering dibuat dengan menggabungkan dua jenis bahan yaitu, pengisi atau filler dan pengikat atau polymer matrix. Filler pada umumnya sering digunakan serat yang bertujuan untuk mendapatkan sifat -sifat tertentu, sedangkan polimer bertujuan bukan hanya sebagai pengikat melainkan sifat yang diinginkan juga digunakan.

Kebanyakan pembuatan bahan komposit hanya bertujuan untuk mendapatkan berat yang lebih ringan, kekuatan yang lebih tinggi, tahan terhadap korosi dan memiliki biaya pembuatan yang murah. Secara umum, komposit dibuat untuk mendapatkan material yang memiliki karakteristik dari kekuatan mekanis yang tinggi dengan biaya yang murah. Padahal, kemampuan material komposit bukan hanya pada bidang kekuatan mekanis, melainkan bisa juga digunakan dalam material listrik. Hal ini yang menjadi daya jual dalam perkembangan material komposit sebagai salah satu material pengganti logam yang sifatnya konduktif.

Rekayasa material komposit sebagai bahan pengganti material listrik sekarang ini telah banyak digunakan. Dengan mengambil konsep komposit


(38)

konduktif membentuk material elektrik yang banyak kita kenal sekarang ini. Konsep ini sering kita jumpai dalam material seperti sensor. Perkembangan ini dapat kita lihat pada begitu banyaknya jenis sensor yang telah dibuat seperti cadmium-sulfida yang dijadikan sebagai bahan sensor cahaya; carbon nano tube yang sering dijadikan sebagai bahan pengganti konduktor; serat karbon yang juga memiliki sifat mekanik dan elektrikal yang baik.

Sifat komposit pada penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sensor yang merupakan jenis material semikonduktor. Disinggung dari segi materialnya, sensor yang yang dibuat berdasarkan komposit yang berasal dari kombinasi polimer dan zeolit. Polimer yang digunakan merupakan polimer etilen glikol dengan sebutan PEG sebagai matrix dan zeolit aktif sebagai pengisi atau filler. Filler yang digunakan berupa serat partikel dengan ukuran 100 mesh. Maka, komposit yang akan dibuat akan menghasilkan sifat semikonduktor yang seperti diinginkan.

2.3.1 Komposit dengan Matrix Polimer

Komposit merupakan kombinasi dari beberapa material yang berbeda secara komposisi, dimana masing-masing material yang dikombinasikan memiliki perbedaan satu sama lain. Perbedaan ini ketika dikombinasikan justru membentuk sifat yang diinginkan, sebut saja seperti sifat listrik, sifat mekanik dan beberapa sifat lainnya dari bagian komposit. Material komposit dibuat terdiri dari dua atau lebih material yang berbeda fasa. Material tersebut berupa material pengisi dan pengikat atau matrix. Matrix pada komposit merupakan bagian terpenting dalam pembentukan komposit yang diinginkan. Biasanya matrix yang digunakan untuk komposit adalah material yang tidak terlalu keras, seperti polimer.

Umumnya, dalam pembuatan komposit komersil, penggunaan matrix polimer sering digunakan. Istilah umum untuk matrix polimers ini sering disebut dengan larutan resin. Saat ini, telah begitu banyak jenis polimer yang dijadikan matrix sebagai bahan baku pembuatan material tergantung dari jenis komposit yang ingin dibuat. Begitu banyak jenis


(39)

polimer yang telah dijadikan matrix dalam pembuatan komposit seperti polyester, vinil ester, epoksi, polietilen glikol, polipropilen dan lain sebagainya. Sedangkan, pada komposit, material yang ditambah atau disebut

filler sering disebut dengan serat atau fibre. Namun, tidak hanya serat yang

digunakan seperti serat tumbuhan tetapi batu-batuan alam berupa mineral juga sering digunakan.

Komposit yang terdiri dari matrix polimer dan mineral alam sangat populer saat ini. Pengembangan komposit tipe ini sedang dikembangkan, sebut saja seperti serat karbon yang memiliki aplikasi yang banyak. Hal tersebut dikarenakan, dalam pembuatan komposit tidak terlalu mahal biayanya dan metode pembuatannya sangat mudah. Disamping itu, produk komposit yang dihasilkan memiliki keuntungan. Keuntungan tersebut ditinjau dari karakteristik yang bagus, antara lain:

1. Kekuatan khusus tinggi 2. Kekakuan khusus tinggi 3. Ketahanan fraktur tinggi 4. Ketahanan abrasi baik 5. Ketahanan impak baik 6. Ketahanan korosi yang baik 7. Ketahanan fatigue yang baik 8. Biaya yang murah

Dalam penelitian ini, kombinasi mineral alam zeolit yang merupakan mineral aluminum silikat dengan matrix polimer polyethylene glycol memiliki keuntungan. Disamping harganya yang terjangkau dan metode fabrikasinya yang mudah, karakteristik yang didapat juga menguntungkan. Keuntungan tersebut berupa kombinasi dari karakteristik dari zeolit dan matrix polyethylene glycol. Karakteristik yang didapatkan pada penelitian ini nantinya berupa:


(40)

1. Sifat zeolit sebagai penyerap

2. Sifat polyethylene glycol sebagai pengikat

3. Sifat kombinasi berupa penyerapan yang dapat dibaca secara digital

Keuntungan dari matrix polimer komposit ini dihasilkan karena polyethylene glycol merupakan jenis polimer terkonjugasi yang memiliki kekuatan yang tinggi dalam ikatan intramolekuler. Sehingga, keuntungan lainnya berupa bisa diaplikasikan sebagai material yang mampu menahan suhu dan tekanan tertentu. Sehingga dapat digunakan sebagai komposit polimer konduktif.

2.3.2 Karakteristik resistivitas listrik komposit

Arus listrik ( I dengan satuan ampere, A) didefenisikan sebagai banyaknya jumlah arus (dalam coulomb, C) yang mengalir melalui luas penampang per satuan waktu. Maksudnya arus adalah jumlah muatan bukan besar muatan. Dengan demikian, arah arus adalah sama dengan aliran muatan positif dan berlawanan dengan arah aliran muatan negatif. Maka, dengan jumlah arus yang melewati luas permukaan disebut dengan rapat arus yang disimbolkan dengan J yaitu jumlah arus per luas penampang per satuan unit waktu. Satuan dari rapat arus adalah Ampere/ .

Adanya arus yang lewat dalam suatu material menunjukkan adanya muatan yang bergerak sehingga terjadi beda potensial atau tegangan. Muatan yang bergerak ini disebut dengan muatan pembawa atau disebut dengan carriers of electricity. Konsentrasi muatan pembawa didefenisikan sebagai jumlah dari muatan pembawa per satuan volume (dengan satuan

).

Material konduktor merupakan material yang memiliki jumlah muatan pembawa yang banyak. Sehingga, dalam hal ini muatan pembawa dialihkan kepada elektron (electron carrier). Sedangkan dalam material semikonduktor elektron dan holes atau lubang elektron memiliki peranan


(41)

penting dalam proses terjadinya arus listrik yang lewat. Sehingga dalam konteks semikonduktor, lubang-lubang yang kekurangan elektron akan diisi oleh elektron yang lewat. Maka, secara matematis, arus listrik berupa

=

2.3.1

Dimana n merupakan jumlah dari muatan yang dibawa, muatan elektron bernilai = , × − 9 . Dengan menurunkan persamaan 2.3.1 terhadap kecepatan elektron dalam satu detik per luas penampang, akan didapat rapat arus berupa

=

=

2.3.2

Dengan melakukan perbandingan dari persamaan muatan listrik berupa = � , maka persamaan 2.3.2 dapat diturunkan sebagai

=

2.3.3

Dimana, nilai rapat arus per satuan medan listrik dikenal dengan sebutan konduktivitas listrik yang disimbolkan dengan �. Sehingga dapat didefenisikan

� =

2.3.4

Dari persamaan diatas maka, nilai � = /� dimana � = merupakan resistivitas atau hambatan jenis dari suatu material. Dan satuan dari konduktivitas listrik adalah � = Ω⁄

Dalam penelitian ini, karakteristik komposit sebagai salah satu bentuk bahan semikonduktor dapat dilakukan. Melalui persamaan 2.3.3 dapat dicari hambatan jenis dari bahan polimer semikonduktor. Karakteristik hambatan jenis ini menjadi salah satu acuan dalam menentukan apakah material komposit ini layak untuk dijadikan bahan sensor. Melalui persamaan 2.3.4 didapat hubungan antara � = / dengan satuan Ω atau dalam SI yaitu / .


(42)

Maka, persamaan yang didapat berupa

= �

2.3.5

� =

��

2.3.6

Dengan mengetahui bahwa nilai � = = /�, maka persamaan diatas dapat disubstitusi, menjadi

� =

=

=

��

=

�� 2.3.7

Dengan menganggap nilai � = / dan pada persamaan sebelumnya telah diketahui bahwa nilai dari / = / yang berarti rapat arus persatuan luas. Maka, dengan mengambil parameter ini dapat dihitung konduktivitas listrik melalui persamaan

=

��

→ =

�� 2.3.8

2.4 MINERAL ZEOLIT

Istilah zeolite merujuk pada jaringan polimer anorganik tiga dimensi dari keluarga Kristal alumina silikat. Material ini terbentuk dari tetrahedral , yang saling berhubungan melalui penggunaan bersama atom oksigen. Stoikiometri zeolite dinyatakan dengan rumus umum,

� +[

�]−. � (1)

Dalam hal ini x menyatakan rasio atomic Si:Al. Kisi ekstra kation + seperti +, +, +, + dan [ ]+ diperlukan sebagai kompensasi muatan. Zeolit ditemukan secara alami, tetapi dapat pula disintesis secara hidrotermal dari campuran kuat sodium silikat, aluminium hidroksida, dan bahan organik. Rangka zeolite terbentuk melalui penggunaan bersama sudut − dan tetrahedral ditunjukkan pada gambar 2.2 berikut


(43)

Gambar 2.2 Struktur zeolit

Gambar 2.2 memperlihatkan struktur faujasite sebagai representasi dari zeolite-X dengan rasio Si:Al = 1, dan zeolite-Y dengan rasio Si:Al= 2.5. Pada gambar tersebut atom-atom Si dan Al terletak pada sudut-sudut puncak (vertices) dan atom-atom O menempati garis segmen yang menghubungkan puncak-puncak struktur.

Sintesis zeolite bergantung pada penggunaan material dasar yang sangat reaktif, pH, dan derajat saturasi yang tinggi. Material dasar yang demikian akan menghasilkan inti (nuclei) dalam jumlah yang banyak pada temperature yang relative rendah. Pada umumnya proses formasi zeolite dilakukan dengan teknik sol-gel. Salah satu prosedur formasi zeolite yang dapat dijelaskan sebagai berikut. Bahan yang mengandung Al dilarutkan di dalam larutan alkali tinggi sodium silikat dan membentuk gel alumina silikat gel. Kristalisasi umumnya dilakukan pada suhu antara 100-180 derajat celcius selama beberapa jam hingga beberapa hari. Selama proses tersebut fase amorf mengalami disolusi dan rekonstruksi secara terus -menerus hingga fase Kristal mulai tumbuh.

Kandungan silika di dalam zeolite merupakan parameter penting yang menentukan tingkat keasaman, rapat massa, dan daya tahan termal zeolite. Dewasa ini lempung alumina silikat banyak dipakai untuk memproduksi zeolite dengan kandungan silica yang tinggi. Sebagai contoh, sintesi zeolite A diperoleh dari prosedur hidrotermal kaolin (atau

Alu i iu Silikat


(44)

metakaolin) di dalam larutan alkali yang kuat dan direaksikan pada suhu 100 derajat celcius. Reaksi pembentukan zeolite ini diperlihatkan menurut persamaan berikut:

. . + → . . + (2)

Seperti yang akan dijelaskan kemudian, berbeda dengan geopolimer, sains zeolite telah berkembang sejak 40 tahun yang lalu, dan manufaktur dalam skala besar untuk menghasilkan resin pertukaran ion, saringan molekul, sorben, dan katalis dapat ditemukan di banyak tempat. Namun demikian, penggunaan atau aplikasi zeolite masih terbatas disebabkan oleh sifat mekaniknya yang buruk serta sangat sensitif terhadap tingkat keasaman lingkungan.

Penggunaan zeolit sebagai salah satu superadsorben menjadi satu alasan bagi para akademisi untuk memanfaatkannya sebagai salah satu bahan detektor atau sensor. Zeolit sering digunakan dalam penjernihan air dan gas, hal tersebut dilakukan zeolit sebagai adsorbent. Peranan zeolit dalam proses penjernihan ini dapat dilakukan karena zeolit memiliki karakteristik yang unik pada strukturnya. Zeolit merupakan batuan alam yang mengandung mineral alumunium silikat yang memiliki pori-pori.

Pori-pori dalam zeolit berukuran dari Å sampai Å. Contohnya zeolit A yang merupakan zeolit sintetik mempunyai ukuran rongga dengan diameter , Å. Faujasite dan modernite yang mempunyai ukuran pori dengan diameter masing-masing sebesar . Å . Å. Ukuran pori-pori tersebut membuat zeolit memiliki karakteristik seperti saringan alam dengan tingkat adsorbansi yang tinggi. Disamping itu, zeolit memiliki kemampuan untuk mengikat ion-ion positif (ion exchange) sehingga dalam proses penjernihan yang dilakukan oleh zeolit melalui dua karakteristik yang dimilikinya yaitu:


(45)

a. Penyerapan dengan menggunakan pori-pori zeolit b. Pertukaran ion dengan menggunakan interaksi antar ion

Aktivasi zeolit secara kimia dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori, membuang senyawa pengotor dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Proses aktivasi zeolit dengan perlakuan asam seperti HCl dan H2SO4 pada konsentrasi 0,1 N hingga 1 N menyebabkan zeolit mengalami dealuminasi dan dekationisasi yaitu keluarnya Al dan kation -kation dalam kerangka zeolit.

Ion exchange pada zeolit berkaitan pada absorbsi kimia yang memiliki interaksi kimia dengan permukaan katalis dengan partikel reaktan. Zeolit memiliki 2 sisi aktif yang bisa melakukan adsorbsi sekaligus perturakan ion. Sisi aktif tersebut adalah sisi aktif Bronsted dan sisi aktif Lewis. Dimana pada zeolit mekanisme Bronsted dan Lewis terjadi karena adanya donor proton dan aceptor proton. Secara reaksi kimia seperti dibawah ini

+ ⇌ � + � (3)

+ ⇌ −+ + (4)

Interaksi kimia ini akan membentuk sebuah interaksi antara kation dan anion yang akhirnya akan menunjukkan pertukaran ion (ion exchange). Umumnya, zeolit alam mengandung ion-ion logam golongan IA dan IIA seperti litium, natrium dan kalsium. Sehingga secara sistem periodik unsur keelektropositipan dari reaktan bisa bertukar kation dengan kation-kation yang terikat pada zeolit sehingga disebut sebagai pertukaran ion.

Aktivasi asam menyebabkan terjadinya dekationisasi yang menyebabkan bertambahnya luas permukaan zeolit karena berkurangnya pengotor yang menutupi pori-pori zeolit. Luas permukaan yang bertambah diharapkan meningkatkan kemampuan zeolit dalam proses penyerapan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan H2SO4 untuk mengaktivasi zeolit alam yang bertujuan untuk membersihkan pori-pori zeolit. Meningkatnya


(46)

kemampuan penyerapan zeolit akan memungkinkan zeolit dalam menyerap jenis gas yang diuji.

Tingginya kandungan Al dalam kerangka zeolit menyebabkan kerangka zeolit sangat hidrofilik. Sifat hidrofilik dan polar dari zeolit ini merupakan hambatan dalam kemampuan penyerapannya. Proses aktivasi dengan asam dapat meningkatkan kristalinitas, keasaman dan luas permukaan. Setiap oksigen dalam ikatan ini cenderung akan mengikat + membentuk −atau gugus silanol yang bersifat polar. Ion hidrogen pada gugus hidroksil ini siap dipertukarkan dengan kation lain. Pada keadaan netral atau agak asam, dapat terjadi hidrolisis akan menyebabkan kenaikan pada pH dengan reaksi :

+ +(5)

Keadaan yang demikian akan menyebabkan kapasitas pertukarannya meningkat. Maka, dengan keadaan zeolit yang memiliki pori-pori dan ion -ion negatif dalam strukturnya membuat penulis memiliki hipotesa bahwa, zeolit mampu digunakan sebagai bahan pendeteksi gas-gas yang bersifat berbahaya.

Dalam penggunaannya, zeolit yang merupakan mineral alam dengan struktur framework tiga dimensi dan menunjukkan sifat penukar ion dan penyerapan sehingga menunjukkan potensi dalam pengolahan limbah gas. Dengan mengambil sifat penyerapannya, zeolit dapat digunakan untuk mengolah sekaligus mendeteksi logam dan beberapa jenis gas. Proses penyerapan zeolit ini yang menunjukkan adanya sebuah sistem saringan berlapis-lapis dalam struktur zeolit ini. Dalam situs resminya, BATAN (http://batan.go.id) merilis penggunaan zeolit dalam bidang proses industri sebagai berikut.

Berdasarkan sifat sorpsinya terhadap gas dan hidrasi molekul air, zeolit dapat digunakan untuk proses pengeringan pada berbagai produk industri. Molekul uap air dapat diserap sebanyak 8-10 gram dengan 100 gram klinoptiolit (jenis mineral zeolit) dibandingkan dengan 3 gram dan 1,2 gram oleh dan gel silikat dengan berat yang sama pada kondisi 1,33


(47)

atm dan . Zeolit klinoptiolit yang diaktivasi pada suhu −

selama 2-3 jam. Sebagai “drying agent” dari senyawa organic, zeolit juga dapat digunakan antara lain:

 Pada proses pemurnian metil khlorida dalam industri karet

 Pemurnian fraksi alkohol, metanol, benzena, xylen, LPG dan LNG pada industri petro-kimia

 Untuk hidrokarbon propellents-fillers aerosol untuk pengganti freons

 Penyerap klorin, bromin, dan fluorin

 Untuk menurunkan humiditas ruangan

Disamping itu, penggunaan zeolit dalam proses penyerapan beberapa jenis gas antara lain:

 Gas mulia antara lain Ar, Kr, dan gas Helium

 Gas rumah kaca seperti , , , , �

 Gas organic seperti , , , , termasuk pirogas dan fraksi etana/ etilen

 Pemurnian udara bersih yang mengandung Oksigen

 Campuran filter pada rokok

 Penyerapan gas dan penghilangan warna dari cairan gula pada pabrik gula

Atas beberapa penggunaan tersebut dalam bidang katalis, sorben zeolit biasanya digunakan akhir-akhir ini dalam industri petrokimia pada proses isomerisasi, hidro sulforisasi, hydrocracking, hidrogenasi, reforming, dehidrasi, dehidrogenasi, dan de-alkilasi, cracking paraffin, disportion toluene/ benzene dan xylene. Namun, penggunaan zeolit sebagai salah satu bahan pengisi dalam komposit masih jarang digunakan di Indonesia. Penggunaan zeolit sebagai pengisi dalam pembuatan komposit penyerapan gas dapat bermanfaat sebagai salah satu bentuk komposit pendeteksi jenis gas tertentu.


(48)

2.4.1 Adsorpsi Zeolit

Dalam proses pendeteksian, mineral zeolit mengambil proses berupa pori -pori zeolit yang mampu bersifat adsorpsi. Adsorpsi adalah proses dimana molekul-molekul fluida menyentuh dan melekat pada permukaan padatan (Nasruddin, 2005). Adsorpsi adalah fenomena fisik yang terjadi saat molekul-molekul gas atau cair dikontakkan dengan suatu permukaan padatan dan sebagian dari molekul-molekul tadi mengembun pada permukaan padatan tersebut (Suryawan, Bambang 2004). Walaupun adsorpsi biasanya dikaitkan dengan perpindahan dari suatu gas atau cairan kesuatu permukaan padatan, perpindahan dari suatu gas kesuatu permukaan cairan juga terjadi. Substansi yang terkonsentrasi pada permukaan didefenisikan sebagai adsorbat dan material dimana adsorbat terakumulasi didefenisikan sebagai adsorben (Hines, A.L dan Robert N. Maddox, 1985).

Zeolit merupakan salah satu material yang memiliki kemampuan mekanisme adsorpsi. Proses adsorpsi pada zeolit melalui pori-pori tersebut mengalami mekanisme bersentuhan sehingga terjadi suatu keadaan yang disebut dengan adsorp dan desorp. Mineral zeolit mampu untuk dikembalikan kepada keadaan awal. Yaitu dengan cara memberikan temperatur yang tinggi sehingga partikel-partikel dalam pori-pori dapat dibersihkan dan menjadi zeolit aktif kembali.

Menurut Ferdinan Delesev Ginting, Proses adsorpsi dapat berlangsung jika suatu permukaan padatan dan molekul-molekul gas atau cair, dikontakkan dengan molekul-molekul tersebut, maka didalamnya terdapat gaya kohesif termasuk gaya hidrostatik dan gaya ikatan hidrogen yang bekerja diantara molekul seluruh material. Gaya- gaya yang tidak seimbang pada batas fasa tersebut menyebabkan perubahan-perubahan konsentrasi molekul pada interface solid/ fluida. Untuk mengetahui karakteristik yang terjadi dalam proses adsorpsi dapat diilustrasikan dengan gambar 2.3 di bawah ini.


(49)

Gambar 2.3 Proses Adsorpsi Zeolit

Padatan berpori yang menghisap (adsorption) dan melepaskan

(desorption) suatu fluida disebut adsorbent. Molekul fluida yang dihisap

tetapi tidak terakumulasi/ melekat kepermukaan adsorben disebut

adsorptive, sedangkan yang terakumulasi/ melekat disebut adsorbat.

Padatan berpori dalam hal ini adalah mineral alumunium silikat yang disebut dengan zeolit. Fenomena penyerapan oleh zeolit terutama disebabkan karena adanya gaya Van der Waals dan gaya hidrostatik sehingga atom yang diserap berada di permukaan sehingga tidak terjadi yang dinamakan dengan ikatan kimia. Proses penyerapan tanpa menghasilkan reaksi atau ikatan kimia ini disebut dengan adsorpsi fisika. Pada penelitian ini, adsorpsi fisika berupa partikel-partikel gas memasuki pori-pori zeolit tanpa menghasilkan reaksi atau ikatan kimia. Pada dasarnya zeolit merupakan adsorben yang mengadsorpsi secara fisik. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mempengaruhi adsorpsi secara perpindahan kalor dan perpindahan massa.

2.4.2 Faktor yang mempengaruhi adsorpsi

Pori-pori yang digunakan dalam proses penyerapan memiliki peranan penting, hal tersebut tampak pada gambar 2.3 yaitu dengan adanya

Desorp/ melepaskan Adsorbate

Adsorp/ menghisap Adsorptiv


(50)

hubungan penyerapan dan pori-pori. Pori-pori pada zeolit seperti yang telah diterangkan sebelumnya berkisar antar Å − Å memiliki pengaruh dalam proses penyerapan. Secara fisikal, proses penyerapan ini tentunya dipengaruhi oleh adanya luasan dari pori-pori tersebut. Interaksi seperti gaya van der waals yang terjadi. Oleh karena itu, daya adsorpsi dipengaruhi oleh tiga faktor seperti yang diterangkan oleh Ferdinan Delesev Ginting (Bah et al, 1997 dan Suryawan, Bambang 2004) yaitu:

1. Tekanan (P), tekanan yang dimaksud adalah tekanan adsorbat. Kenaikan tekanan adsorbat dapat menaikkan jumlah yang diadsorpsi.

2. Temperatur Absolut (T), temperatur yang dimaksud adalah temperature adsorbat. Pada saat molekul-molekul gas atau adsorbat melekat pada permukaan adsorben akan terjadi pembebasan sejumlah energi yang dinamakan dengan peristiwa eksotermis. Berkurangnya temperatur akan menambah jumlah adsorbat yang teradsoprsi demikian juga untuk peristiwa sebaliknya.

3. Interaksi Potensial (E), interaksi potensial antara adsorbat dengan dinding adsorben sangat bervariasi, tergantung dari sifat adsorbat-adsorben.

Disamping itu, faktor internal dari material adsorben juga berpengaruh dalam proses penyerapan. Hal tersebut berdampak pada kemampuan material dalam menghasilkan bentuk interaksi dalam proses penyerapan. Oleh karena itu, material adsorbent selalu digunakan dalam bentuk kemurnian yang tinggi. Proses pemurnia dengan cara tinggi dapat dilakukan secara fisikal dan kimiawi. Dalam prosesi fisikal dapat dilakukan dengan proses aktivasi dengan menggunakan suhu atau temperatur yang tinggi. Sedangkan dalam proses kimiawi dilakukan dengan cara menambahkan zat berupa pengasaman dalam proses pemurnian material adsorben dalam penelitian ini. Hal ini merujuk pada penyerapan adsorben dipengaruhi oleh volume yang dipakai, dan luas permukaan yang spesifik, sehingga karakteristik yang dibutuhkan untuk adsorpsi yang baik, yaitu:


(51)

1. Luas permukaan adsorben. Semakin besar luas permukaan maka semakin besar pula daya adsorpsinya karena proses adsorpsi terjadi pada permukaan adsorben. Yaitu, pada pori -pori permukaan adsorben.

2. Tidak ada perubahan volume yang berarti selama proses adsopsi dan deadsorpsi

3. Kemurnian adsorben. Adsorben yang memiliki tingkat kemurnian tinggi, daya adsorpsinya lebih baik.

4. Jenis/ gugus fungsi atom yang ada pada permukaan adsorben. Sifat-sifat atom di permukaan berkaitan dengan interaksi molekul antara adsorbat dan adsorben yang lebih besar pada adsorbat tertentu1

2.5 MATERIAL KOMPOSIT POLIMER ZEOLIT

Material komposit zeolit merupakan material yang dibuat dalam penelitian ini dengan tujuan mendapatkan dua sifat dari polimer terkonjugasi dan sifat penyerapan dari zeolit. Pembuatan material komposit polimer zeolit dilakukan dengan melarutkan matrix PEG 6000 menggunakan aquadest kemudian dicampur dengan zeolit yang telah disediakan. Matrix PEG 6000 ini selain berfungsi sebagai pengikat juga berfungsi sebagai polimer terkonjugasi.

Material komposit polimer-zeolit dapat didefenisikan sebagai material yang terbentuk dari kombinasi dua atau lebih material yang dalam proses pembentukannya melalui pencampuran yang tidak homogen. Artinya, sifat dari masing-masing material yang dikombinasi memiliki sifat yang berbeda. Dalam penelitian ini, zeolit yang merupakan mineral aluminum silikat yang karakteristiknya seperti batu-batuan alam diambil sifat penyerapan dari zeolit. Disamping, itu zeolit yang digunakan sebagai bahan pengisi pada komposit polimer-zeolit ini, juga merupakan senyawa yang


(52)

mampu diaktivasi kembali. Sedangkan pada PEG 6000 digunakan sebagai matrix yang juga memiliki karakteristik sebagai polimer terkonjugasi.

2.6 SENSOR

Dalam penggunaannya, sensor seringkali dijadikan sebagai device utama dalam mendesain sebuah sistem. Sinyal analog yang dikonversikan ke dalam sinyal digital merupakan syarat awal dalam fabrikasi sensor. Sehingga, dalam proses fabrikasinya kemampuan dalam sifat analog digital converter. Oleh karena itu, dalam fabrikasi sensor ada tujuh karakteristik yang diperlukan untuk memenuhi syarat suatu material dikatakan sensor.

2.6.1 Sensor dan karakteristik

Sensor merupakan device yang digunakan untuk mentransformasi sifat-sifat fisika menjadi sinyal elektrik. Atau dapat dikatakan sensor mampu meng -konversi sinyal-sinyal analog ke dalam sinyal digital. Sinyal analog yang didapat dari sensor berasal dari pergerakan elektron ketika sensor tersebut diberikan suatu ekspos.

Tom Kenny menuliskan syarat-syarat tertentu dalam meng-karakteristik suatu material dikatakan sensor yaitu:

 Fungsi transfer menunjukkan hubungan fungsional antara sinyal input fisik dan sinyal keluaran listrik. Biasanya hubungan ini digambarkan sebagai grafik yang menunjukkan hubungan antara input dan output sinyal yang diberikan pada sensor yang kemudian rincian dari hubungan fungsi transfer tersebut mungkin merupakan deskripsi lengkap tentang karakteristik sensor.

 Sensitivitas. Sensitivitas didefinisikan dalam hal hubungan antara sinyal input fisik dan sinyal keluaran listrik. Hal ini umumnya rasio antara perubahan kecil dalam sinyal listrik untuk perubahan kecil dalam sinyal fisik. Dengan demikian, maka dapat dinyatakan sebagai turunan dari


(53)

fungsi transfer sehubungan dengan sinyal fisik seperti tegangan dan hambatan.

Span atau Dynamic Range. Merupakan interval sinyal input yang dapat

dikonversikan ke sinyal listrik oleh sensor disebut dengan Dynamic

Range. Sinyal di luar kisaran ini menyebabkan ketidaktelitian tidak

dapat diterima besarnya. Rentang atau jangkauan yang dinamis biasanya ditentukan oleh pemasok sensor sebagai rentang di mana karakteristik kinerja lainnya.

 Akurasi atau Ketidakpastian. Ketidakpastian secara umum didefinisikan sebagai kesalahan terbesar yang diharapkan antara sinyal output aktual dan ideal.

 Histeresis. Beberapa sensor tidak kembali ke nilai output yang sama ketika stimulus input ke atas atau bawah. Lebar dari kesalahan yang diharapkan dari segi kuantitas yang diukur didefinisikan sebagai histeresis.

 Nonlinieritas. Merupakan deviasi maksimum dari fungsi transfer linier selama rentang dinamis yang ditentukan. Ada beberapa ukuran untuk kesalahan ini. Yang paling umum adalah membandingkan fungsi transfer aktual dengan garis lurus terbaik, yang terletak di antara dua garis sejajar yang mencakup fungsi transfer keseluruhan selama rentang dinamis tertentu perangkat.

 Noise. Semua sensor menghasilkan beberapa output suara di samping sinyal keluaran. Dalam beberapa kasus, noise dari sensor berasal dari noise-noise yang ada pada komponen elektronik, atau kurang dari fluktuasi sinyal fisik, dalam hal ini tidak penting.

Cahaya, tekanan, thermal, gas, adalah beberapa contoh ekspose yang sering diberikan terhadap sensor tersebut. Dalam metode fabrikasi sensor, suatu device dapat dikatakan sensor adalah apabila device tersebut memiliki 2 hal penting sebagai penyusunnya yaitu substrat dan layar aktif. Layar aktif merupakan jantung suatu material sensor.


(54)

Pada saat sekarang ini, sensor difabrikasi dengan menggunakan teknologi nano yang dapat menghasilkan kualitas sensor yang baik. Namun, proses fabrikasi tersebut memakan banyak biaya sehingga para peneliti dituntut untuk menghasilkan sensor yang memiliki kualitas yang baik. Fabrikasi sensor sampai saat ini telah berkembang dengan pesat. Berikut beberapa metode yang sering digunakan dalam proses fabrikasi sensor.

 Electro chemical deposition.

 Dip-Coating.

 Spin-Coating.

 Langmuir-Blodgett.

 Layer by Layer self-assembly

 Thermal evaporation.

 Vapor Deposition Polymerization.

 Drop-Coating.

 Chemical Vapour Deposition.

Dengan begitu banyaknya metode fabrikasi sensor, maka telah begitu banyak pengembangan dalam pembuatannya. Pada umumnya, metode yang paling sering dan mudah digunakan adalah metode Drop Coating. Metode ini merupakan salah satu metode yang mudah dan efektif sehingga dapat dilakukan. Untuk itu, penulis pada tulisan ini mengutamakan metode pembuatan sensor menggunakan metode drop coating.

Kemampuan zeolit dalam menyerap beberapa jenis gas membuat mineral aluminium silikat dapat dijadikan sebagai layar aktif dalam metode pembuatan sensor. Zeolit ini nantinya akan dilapisi secara drop coating ke

substrate tembaga yang ada pada papan PCB (Printed Circuit Board).

Huai Bai et all, menyatakan metode analisis senyawa organik yang penting, seperti benzena, toluena dan beberapa senyawa organik yang mudah menguap lainnya tidak reaktif pada suhu kamar dan dalam kondisi


(55)

ringan. Oleh karena itu, sulit untuk dideteksi oleh reaksi kimia sehingga dilakukan pendeteksian dengan polimer. Dengan bentuk struktur yang berulang, maka zeolite yang juga polimer mampu berinteraksi dengan senyawa-senyawa tersebut. Namun, senyawa tersebut mungkin memiliki interaksi fisik lemah dengan polimer sehingga terjadi proses penyerapan. Hal tersebut mengakibatkan pembengkakan/ efek swelling pada matriks polimer. Interaksi ini tidak mengubah tingkat oksidasi pada polimer, tetapi juga dapat mempengaruhi sifat-sifat bahan penginderaan dan membuat gas terdeteksi. Pelapisan komposit ditunjukkan pada gambar 2.4 berikut:

Gambar 2.4 Pelapisan Komposit Polimer-Zeolit

Sesuai dengan gambar di atas, maka proses deteksi gas-gas tertentu akan dapat dilakukan dengan adanya muatan listrik yang dialirkan. Bartlett’s group menyajikan model dasar untuk sensor gas polimer yang terdiri dari film tipis polimer yang uniform dilapisi di atas sepasang elektroda Coplanar serta didukung oleh substrat isolasi. Oleh karena itu, kemampuan zeolit sebagai adsorbent akan dipengaruhi oleh gas-gas yang diserap sehingga tegangan pada mula-mula akan berubah seiring dengan jumlah dan jenis gas yang diserap.

Atas dasar itu maka penulis melakukan penelitian ini dalam rangka memanfaatkan zeolit yang merupakan batu-batuan alam yang banyak dijumpai di Indonesia untuk dijadikan sebagai sensing materials.

2.6.2 Preparasi layar aktif dan komposit polimer

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, pada penelitian ini zeolit yang juga merupakan salah satu polimer dengan gugus rantai


(56)

alumunium silikat dapat digunakan dengan sebagai layer aktif. Hal tersebut dibuktikan dengan kemampuan zeolit yang mampu menyerap gas dan sifat -sifat listrik dipengaruhi oleh gas yang dilewati. Sifat tersebut berupa kemampuan menyerap gas, kemampuan inilah yang dijadikan peneliti sebagai layer aktif yang merupakan bagian penting pada karakterisasi sensor dengan menggunakan drop coating.

2.6.3 Prinsip Sensing Zeolit

Perbandingan jumlah alumunium dan silikon dalam struktur zeolit biasanya dapat secara efektif disesuaikan, dan dengan mengubah perbandingan jumlah alumunium dan silikon pada zeolit, kapasitas pertukaran ion dan konduktivitas, interaksi antara zeolit dengan molekul teradsorpsi, dan memodifikasi sifat hidrofilik atau hidrofobik membuat struktur dan sifat zeolit berubah. Beberapa interaksi tersebut dapat memberikan asumsi bahwa zeolit berinteraksi dengan suatu senyawa sebagai adsorbent dan prinsip pertukaran ion. Artinya, dengan dua kemampuan zeolit tersebut, sifat sensing zeolite yang berasal dari adsorbent dapat digunakan sebagai layer aktif untuk sensor yang akan dibuat.

Dengan struktur kimia yang sangat baik dan stabilitas termal baik, zeolit dapat digunakan sebagai substrat untuk meng-karakteristik senyawa dan perangkat yang diinginkan berupa sifat fisik dan kimia dasar. Misalnya senyawa anorganik atau organik, logam dan logam-organik senyawa cluster mereka dapat diserap ke dalam pori-pori dan struktur dalam zeolit. Beberapa partikel berukuran nano oksida logam atau logam telah berhasil dimasukkan ke dalam struktur dan pori-pori sehingga sangat tersebar pada permukaan luar zeolit. Beberapa aplikasi dari bahan zeolit dapat dijadikan sebagai sensor gas telah dikembangkan berdasarkan karakteristik yang disebutkan di bawah ini

 Sejumlah senyawa secara khusus mampu dideteksi dalam bentuk gas melalui pori-pori zeolit , misalnya ruthenium (II) yang merupakan senyawa kompleks dapat diserap zeolit karena memiliki super


(57)

adsorbent. Hal ini membuat zeolit dapat dijadikan sebagai sebagai sensor oksigen, kemudian dengan memasukkan metilen biru ke dalam zeolit membuat zeolit dapat mendeteksi kelembapan ataupun dengan mengkarakteristik LiCl menjadi zeolit sebagai sensor kelembaban.

 Rekontruksi zeolit pada struktur kristal kuarsa (permukaan-akustik -gelombang, microcantilever, atau serat optik) untuk mendeteksi beberapa gas dengan penyerapan selektif.

 Perbedaan konduktivitas zeolit karena proses penyerapan beberapa gas untuk membuat sensor berdasarkan pengukuran spektroskopi impedansi.

 Menempatkan zeolit ke sensor sebagai bahan filter untuk meningkatkan selektivitas untuk beberapa molekul gas tertentu.

 Perendaman zeolit ke beberapa bahan dapat membuat komposit melakukan karakterisasi untuk membuat sensor, seperti konduktivitas polianilin yang dikomposisikan pada Zeolit memiliki sifat responsif terhadap CO, sedangkan komposit SnO2-Zeolit responsif terhadap hidrogen dan karbon monoksida.

2.7 Alkohol

Dalam ilmu fisika dan kimia, alkohol merupakan senyawa yang tergolong mudah terbakar dan mudah menguap. Hal ini tampak pada penggunaan alkohol yang sering digunakan sebagai bahan bakar dan pelarut dalam kedua ilmu tersebut. Di ilmu kimia, alkohol merupakan senyawa organic yang memiliki gugus fungsi hidroksil, yaitu −. Gugus tersebut berikatan dengan atom karbon, sehingga secara umum, alkohol merupakan senyawa hidrokarbon yang berikatan dengan gugus hidroksil. Khususnya pada senyawa ini, hidro karbon berperan sebagai pusat dari susunan senyawa alkohol yang pada suatu saat karbon akan tersaturasi. Sehingga atom karbon dapat memiliki satu ikatan dan bahkan lebih dari satu ikatan yaitu 3 ikatan dengan atom-atom yang lain.


(58)

Hal penting yang perlu diketahui dari senyawa alkohol adalah pengelompokan alkohol yang merupakan senyawa rantai lurus. Secara umum, jenis kelompok alkohol yang sering dipasarkan adalah metanol dan etanol, disamping itu penggunaan propanol juga umum dipasarkan karena dimanfaatkan pada LPG. Maka, LPG bukan saja singkatan dari Liquid Petroleum Gas melainkan Liquid Propanol Gas.

Penggunaan alkohol sering digunakan oleh manusia sebagai minuman penghangat sejak dahulu. Begitu banyak variasi dari berbagai jenis senyawa alkohol ini, sebut saja seperti metanol dan etanol. Variasi ini terlihat dari penggunaan alkohol dengan fungsi masing-masing. Sebut saja seperti untuk higienis dan medis. Alcohol memiliki sifat yang toksik, bukan saja mudah menguap dan mudah terbakar. Sehingga dalam skala tertentu, alkohol dapat menjadi senjata pemusnah massal apabila tidak dikelola secara baik. Pengelolaan yang efektif adalah bagaimana mencegah senyawa alkohol dalam tindakan preventif. Yaitu pencegahan terhadap metanol dan etanol merupakan tindakan yang efektif.

2.7.1 Metanol

Metanol merupakan senyawa alkohol yang memiliki rantai hidrokarbon yang paling kecil. Metanol, sering juga disebut dengan Alkohol Kayu atau Metil Alkohol, umumnya didapat dari gas alam dan batubara. Metanol juga dapat diproduksi melalui sumber daya alam yang dapat diperbaharui seperti dari gas tempat pembuangan sampah dan gas dari sisa pencernaan. Dalam tubuh manusia metanol diketahui terdapat dalam jumlah yang kecil. Hal tersebut dikarenakan proses pencernaan manusia yang berasal dari memakan buah-buahan dan sayuran sehari-hari.

Dalam situsnya Methanol Institute merilis bahwa, Metanol merupakan senyawa kimia yang berbahaya yang sangat mudah terbakar, menguap dan beracun. Metanol harus disimpan dengan baik, diangkut dan digunakan oleh orang-orang yang terlatih sehingga ketika terjadi kesalahan dapat diatasi secara cepat dan tanggap. Bagi manusia, metanol sangat


(59)

beracun karena jika uap yang terhirup serta tertelan dapat mengakibatkan gejala yang mematikan. Kontak langsung dengan metanol harus, tertelannya metanol secara sengaja baik secara langsung dan tidak langsung dapat mengakibatkan sakit permanen terhadap sistem saraf, kebutaan dan bahkan kematian. Metanol sangatlah beracun, dapat mengakibatkan asidosis stemic, kerusakan saraf optik dan efek terhadap sistem saraf tengah. Struktur kimia metanol ditunjukkan pada gambar 2.5

Gambar 2.5 Struktur Kimia Metanol

Metanol harus disimpan dalam sistem yang tertutup atau diletakkan pada kotak yang secara langsung tidak terkena atmosfir. Kotak penyimpanan harus dibuat label sehingga dapat diketahui isi dari kotak tersebut. Anda harus memiliki prosedur penanganan produk metanol yang komprehensif dan sistem yang baik. Karena sifatnya yang beracun, metanol sering digunakan sebagai bahan additive bagi pembuatan alkhol untuk penggunaan industri.

Reaksi kimia dari metanol yang terbakar di udara dan membentuk karbon dioksida dan air adalah sebagai berikut:

+ → + (6)

Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati apabila berada di sebuah ruangan penyimpanan metanol untuk mencegah terjadinya kebakaran dan cedera dari sifat metanol yang mudah menguap dan terbakar. Apalagi dengan kondisi api dari metanol yang tidak berwarna.


(60)

2.7.2 Etanol

Umumnya, jenis alkohol yang sering dikonsumsi oleh masyarakat disebut dengan etanol. Etanol dalam kadar tertentu sering dijadikan sebagai minuman keras. Etanol, disebut juga dengan etil alkohol, merupakan alkohol murni yang memiliki sifat yang sama dengan jenis metanol. Senyawa etanol merupakan cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, dan tidak berwarna. Etanol merupakan salah satu obat rekreasi yang paling sering digunakan dan merupakan senyawa psikoaktif. Struktur kimia etanol ditunjukkan pada gambar 2.6 berikut

Gambar 2.6 Struktur Kimia Etanol

Etanol adalah pelarut serbaguna, larut dalam air dan pelarut organic lainnya, meliputi asam asetat, aseton dan toluene. Ia juga larut dalam hidrokarbon alifatik yang ringan seperti pentane. Etanol termasuk dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon yang berikatan dengan gugus hidroksil paling tidak memiliki dua atom hydrogen yang terikat dengannya juga. Etanol sering digunakan untuk bahan-bahan penelitian dalam rangka pemurnian suatu bahan.

Dalam ilmu kimia, etanol banyak digunakan sebagai pelarut bahan -bahan kimia yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan kegiatan sehari. Etanol tersebut digunakan sebagai pelarut untuk pewarna makanan, bahan penelitian dan bahkan sekarang ini dijadikan sebagai salah satu alternatif pengganti bahan bakar minyak. Sifat etanol yang tidak berwarna, dan memiliki aroma yang khas.


(61)

Sifat-sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil dan etanol memiliki rantai karbon yang pendek, namun lebih panjang dibandingkan metanol. Rumus kimia dari etanol adalah

sehingga titik didihnya lebih tinggi dibandingkan metanol. Gugus hidroksil dapat berpartisipasi dalam ikatan hydrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih sulit untuk menguap. Namun, tetap etanol merupakan senyawa yang sifatnya mudah terbakar dan mudah menguap.


(1)

vi

DAFTAR ISI

Persetujuan i Pernyataan ii Penghargaan iii Abstrak iv Abstract v

Daftar Isi vi

Daftar Istilah viii

Daftar Tabel ix

Daftar Gambar x

Daftar Lampiran xi

BAB 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Permasalahan dan Identifikasi Masalah 2

1.3 Pembatasan Masalah 3

1.4 Tujuan Penelitian 3

1.5 Manfaat Penelitian 4

BAB 2 Landasan Teori

2.1 Tinjauan Pustaka 5

2.2 Polimer 7

2.2.1 Polimer konduktif 7

2.2.2 Polimer untuk gas sensor 11

2.3 Material Komposit 12

2.3.1 Komposit dengan matrix polimer 13 2.3.2 Karakteristik resistivitas listrik komposit 15

2.4 Mineral Zeolit 17

2.4.1 Adsorpsi zeolit 23

2.4.2 Faktor yang mempengaruhi adsorpsi 24 2.5 Material Komposit Polimer Zeolit 26


(2)

vii

2.6 Sensor 27

2.6.1 Sensor dan karakteristik 27 2.6.2 Preparasi layer aktif dan komposit polimer 30 2.6.3 Prinsip sensing zeolit 31

2.7 Alkohol 32

2.7.1 Metanol 33

2.7.2 Etanol 35

BAB 3 Metodologi Penelitian

3.1 Alat dan Bahan 37

3.1.1 Alat 37

3.1.2 Bahan 38

3.2 Lokasi Penelitian 38

3.3 Prosedur Penelitian 38

3.3.1 Metodologi penelitian 38

3.3.1.1 Aktivasi zeolit 38

3.3.1.2 Pembuatan substrate 39 3.3.1.3 Diagram alir pembuatan komposit 40 3.3.1.4 Perhitungan konduktivitas listrik komposit 41 3.3.1.5 Pengujian komposit polimer-zeolit 42 3.3.1.6 Hasil pengolahan data 42 BAB 4 Hasil dan Pembahasan

4.1 Karakteristik Listrik Komposit 43 4.1.1 Analisis sifat listrik 43

4.2 Data Penelitian 48

4.3 Pembahasan 50

4.3.1 Kurva karakteristik sensor gas standard 50 4.3.2 Pengujian terhadap volume gas alkohol (sensitifitas) 50 BAB 5 Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan 53

5.2 Saran 54

Daftar Pustaka 55


(3)

viii

DAFTAR ISTILAH

PEG = Poli etilen glikol PANI = Poli anilin PPY = Poli pirrol PE = Poli etilen

PCB = Printed circuit board KPZ = Komposit polimer-zeolit R = Resistansi/ Hambatan satuan Ω

A = Luas komposit satuan 2 I = Arus listrik satuan Ampere l = Ketebalan komposit satuan C = Coulomb

n = Jumlah elektron pembawa

� = Resistivitas/ hambatan jenis satuan Ω/


(4)

ix

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Judul Halaman

4.1 Tabel pengukuran resistansi awal komposit polimer-zeolit 44 4.2 Tabel resistansi komposit polimer-zeolit terhadap methanol 48 4.3 Tabel resistansi komposit polimer-zeolit terhadap etanol 48


(5)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur PEG 11

Gambar 2.2 Struktur zeolit 18

Gambar 2.3 Proses adsorpsi zeolit 24

Gambar 2.4 Pelapisan komposit polimer zeolit 30

Gambar 2.5 Struktur kimia metanol 34

Gambar 2.6 Struktur kimia etanol 35

Gambar 3.1 Diagram alir pembuatan komposit 40 Gambar 3.2 Skema pengukuran resistansi komposit polimer-zeolit 41 Gambar 3.3 Skema pengujian komposit polimer-zeolit 42 Gambar 4.1 Skema arus dalam material 44 Gambar 4.2 Grafik konduktivitas zeolit 46 Gambar 4.3 Tabel konduktivitas PEG Liquid Carbowax 47 Gambar 4.4 Pengujian penyerapan gas alkohol terhadap komposit 51


(6)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Judul Halaman

Lampiran 1 Alat dan Bahan Penelitian 57 Lampiran 2 Gambar pengujian komposit 59

Lampiran 3 Data Pengujian Komposit 62