Pengendalian Kualitas Proses Pengemasan Pupuk Urea Di PT. Pupuk Kujang Cikampek

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah PT. Pupuk Kujang adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan

  pupuk yang salah satu produknya adalah urea. Bahan baku utama yang digunakan adalah gas alam, air, dan udara. Secara garis besar bahan baku utama tersebut diolah untuk menghasilkan ammonia cair dan karbondioksida. Ammonia cair dan karbondioksida dicampur di unit sintesa. Kemudian urea yang terbentuk dari unit sintesa dimurnikan di unit dekomposisi lalu dipekatkan dan dikristalkan yang kemudian dikirim ke unit pembutiran untuk dibuat urea prill. Selanjutnya, urea prill tersebut ditransfer ke dinas pengantongan untuk dikemas. Urea prill tersebut dikemas dalam karung dengan berat bersih 50 kg.

  Suatu proses produksi akan berpeluang menghasilkan suatu produk yang bervariasi sehingga berbeda dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Salah satunya perbedaan dari timbangan berat bersih produk yang tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan. Hal tersebut bisa terjadi dengan banyaknya faktor penyebab kesalahan didalam proses produksinya. Dengan persaingan industri di Indonesia yang semakin ketat maka hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Karena suatu produk yang bermutu dan berkualitas tinggi akan berkaitan dengan kepuasan konsumen yang secara langsung akan memberikan keuntungan pada perusahaan.

  Pada saat ini metode yang digunakan untuk uji kendali di PT. Pupuk Kujang tepatnya di bagian bagging adalah menggunakan batas berat toleransi ±300 gram untuk berat timbangan urea prill 50 kg. Berdasarkan proses dari observasi ke lapangan langsung ternyata didalam proses produksinya masih ditemukan beberapa kesalahan atau cacat produk yang dihasilkan dari prosesnya tersebut. Pada

  Salah satu metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan mutu kualitas produk agar memiliki kesesuaian dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu dengan menerapkan metode six sigma, six sigma adalah suatu metode yang memiliki tujuan untuk mengurangi cacat hasil produksi dan meminimalkan ongkos produksi. Dari pengertian diatas bisa dikatakan six sigma memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu kualitas suatu produk mulai dari pembuatan sampai ongkos pembuatan yang bisa berdampak pada keuntungan perusahaan. Dari uraian diatas, proses pengendalian kualitas perlu dimaksimalkan oleh PT Pupuk Kujang, yang tujuannya untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas dari urea prill yang dihasilkan agar sesuai dengan karakteristik dan spesifikasi produk yang ditetapkan berdasarkan kebijakan pimpinan perusahaan. Pengendalian kualitas ini juga merupakan usaha untuk meningkatkan mutu kualitas produk urea agar semua hasilnya memiliki kualitas yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang “Pengendalian Kualitas Proses Pengemasan Pupuk Urea Di PT. Pupuk

  Kujang Cikampek” 1.2. Identifikasi masalah

  a) Jenis cacat apa saja yang terjadi pada saat proses pengemasan di PT Pupuk

  Kujang?

  b) Proses apa saja yang dapat menyebabkan menurunya kualitas proses pengemasan pupuk urea prill di PT Pupuk Kujang? c)

  Apakah pengendalian mutu proses pengemasan pada periode agustus 2013

  • – september 2014 terkendali atau tidak terkendali? 1.3.

   Tujuan penelitian

  Dalam melakukan penelitian pengendalian kualitas menggunakan metode six sigma ini Tujuan yang ingin dicapai adalah: a)

  Mengidentifikasikan jenis cacat apa saja yang terjadi pada proses pengemasan di PT Pupuk Kujang. b) Mengidentifikasikan proses apa saja yang mempengaruhi mutu pengemasan pupuk urea di PT Pupuk Kujang.

  c) Memberikan rekomendasi perbaikan pada proses pengemasan untuk mengurangi kecacatan pada kemasan di PT Pupuk Kujang.

  1.4. Asumsi

  Dalam melakukan penelitian pengendalian kualitas menggunakan metode six

  

sigma di PT Pupuk Kujang ini diasumsikan semua pekerja di unit bagging dalam

kondisi sehat.

  1.5. Pembatasan masalah

  Agar tidak terjadi penyimpangan dari pokok permasalahan terhadap pengendalian kualitas yang di hadapi di PT. Pupuk Kujang maka dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut :

  a) Penelitian hanya dilakukan pada produk urea prill 50kg di PT Pupuk Kujang Cikampek.

b) Penelitian hanya dilakukan di bagian bagging di PT. Pupuk Kujang Cikampek.

1.6. Sistematika Penulisan

  Lembar Pengesahan Lembar Pernyataan Abstrak Lembar Peruntukan Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Lampiran

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Bagian ini berisikan tentang asal masalah dari apa yang akan diselesaikan dan metode apa yang dipilih untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

  1.2. Identifikasi Masalah

  Bagian ini berisikan tentang menentukan atau menspesifikasikan suatu permasalahn yang ada, sehinnga permasalahan yang akan diselesaikan lebih fokus dan terarah 1.3.

   Tujuan Penelitian

  Bagian ini berisikan tentang tujuan dari penelitian ini dilakukan sehingga dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan tempat dilaksanakannya penelitian.

  1.4. Asumsi

  Begian ini berisikan tentang asumsi penulis tentang yang terjadi di dalam perusahaan tempat dilakukannya penelitian.

  1.5. Pembatasan Masalah

  Bagian ini berisikan tentang batas-batas permasalahan yang akan diselesaikan si dalam perusahaan, sehingga di dalam menyelesaikannya lebih fokus dan terarah.

  1.6. Sistematika Penulisan

  Bagian ini berisikan tentang urutan urutan sistematik di dalam pembuatan dan penulisan laporan. Bab 2 Landasan Teori Bab ini berisikan tentang teori-teori para ahli yang dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan suatu penelitian atau dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

  Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah Bab ini berisikan tentang kerangka pemecahan masalah (flowchart) yang

  digunakan untuk memecahkan permasalahan dan tentang cara-cara urutan yang sistematik di dalam memecahkan permaslahan.

  Bab 4 Pengumpulan Dan Pengolahan Data Bab ini berisikan proses pengumpulan data dan menganalisis pengendalian kualitas ures prill 50kg di PT. Pupuk kujang. Bab 5 Analisis Bab ini berisikan tentang hasil dari pengolahan data yang didapat pada bab sebelumnya tentang hasil menganalisis pengendalian kualitas urea prill 50kg di PT. Pupuk Kujang Cikampek. Bab 6 Kesimpulan Dan Saran Bab ini berisikan tentang hasil kesimpulan dari keseluruhan proses penelitian yang

  telah dilaksanakan di PT.Pupuk Kujang Cikampek dan memberi saran yang bermanfaat atas hasil penelitian untuk peningkatan mutu dan kualitas dari produk yang dihasilkan.

  Daftar Pustaka Lampiran

Bab 2 Landasan Teori

  2.1. Pengertian Mutu

  Definisi mutu atau kualitas menurut para ahli dikemukakan secara berbeda akan tetapi memiliki maksud yang sama yang berarti mutu atau kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu; kadar, derajat atau taraf yang artinya secara bebas adalah standar sesuatu sebagai pengukur yang membedakan suatu benda dengan yang lainnya. Dibawah ini pengertian mutu menurut beberapa para ahli:

   Dikemukakan oleh Philip B. Crosby (1979:3) bahwa “mutu adalah kesesuaian terhadap persyaratan-persyaratan. persyaratan-persyaratan perlu dispesifikasikan secara jelas sehingga semua orang tahu apa yang diharapkannya ”.

   Dikemukakan Ahyari (2012:3) bahwa “mutu adalah jumlah dari sifat-sifat produk, seperti daya tahan, kenyamanan pemakaian dan daya guna ”.

  2.2. Pengertian Pengendalian Mutu

  Rudy Priantoro (2012:4) mengemukakan bahwa “pada intinya pengendalian mutu adalah kerja sama dan keterpaduan maksud dan tujuan dalam memproduksi barang atau jasa untuk menghasilkan mutu produk yang tinggi ”. Dengan melakukan pengendalian pada cycle, setiap tahap dalam proses produksi yang merupakan gugus mata rantai produksi sehingga dapat dijamin keterpaduan dan kerja sama yang baik antara kelompok karyawan pada tahap produksi dengan managemen, untuk menghasilkan mutu dan hasil kerja kelompok sebagai mata rantai produksi.

  2.3. Konsep dan Tujuan Pengendalian Mutu

  Pengendalian mutu merupakan suatu sistem kendali yang efektif untuk mengordinasikan usaha penjagaan kualitas, dan perbaikan mutu dari kelompok- sangat ekonomis serta dapat memuaskan kebutuhan dan keingian konsumen. Beberapa alasan mengapa pengendalian mutu harus diterapkan oleh suatu perusahaan antara lain: a)

  Agar produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh pengguna sebelumnya, sehingga dapat memuaskan konsumen didalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

  b) Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dapat dihindarkan sehingga akan menghemat pemakaian bahan baku, dan sumber daya lainnya, serta produk-produk yang cacat atau rusak dapat dikurangi.

2.4. Six sigma

  2.4.1. Pengertian Six sigma

Sigma yang berarti standar deviasi yang menggambarkan variasi proses dari nilai

  rata-rata nilai yang bisa digambarkan dengan arah positif atau negatif. Sigma dalam statistik dikenal sebagai simpangan baku yang menyatakan nilai simpangan terhadap nilai tengah. suatu proses dikatakan baik apabila berjalan pada rentang yang telah disepakati. Rentang tersebut memiliki batas, batas atas atau USL dan batas bawah LSL. Proses yang terjadi diluar rentang disebut cacat.

  2.4.2. Dasar Statistik Six sigma

  Sig Sigma terbukti menjadi pendekatan yang populer untuk mengusir variabilitas dari proses melalui penggunaan alat statistik. Sigma, ( �) adalah simbol yunani untuk pengukuran dispersi statistik yang disebut standar deviasi. Ini adalah pengukuran terbaik dari variabilitas proses, karena lebih kecil deviasi, maka variabilitas akan berkurang dalam proses. para ahli sig Sigma mengatakan, proses jarang tetap terpusat, tetap cenderung bergeser ke atas dan dibawah target, dengan nilai 1,5 Sigma. Nilai 3,4 cacat per juta kesempatan (DPMO) untuk six sigma proses diperoleh dengan asumsi bahwa batas spesifikasinya adalah 6 standar penyimpangan dari nilai proses target dan bahwa proses bisa berubah sebanyak 1,5

  Sigma.

  Kalau pada umumnya standar kualitas dinyatakan dalam ±3 Sigma, maka six sigma menggunakan ±6 Sigma. Nemun demikian, jika kita hitung berapa banyak produk yang akan berada diluar batas penerimaan atau produk cacat berdasarkan statistik, angkanya jauh lebih kecil daripada 3,4 DPMO. Jumlah produk cacat 3,4 dalam satu juta produk atau potensinya sebenarnya sudah sangat kecil. Ukuran 6 Sigma (six sigma) pada kurva normal mewakili tingkatan utilitas jumlah produk yang harus dalam kondisi baik dengan probabilitas 0,9999996660 (probabilitas defect yang diijinkan berarti 1 - 0,9999996660), yang artinya hanya diijinkan jumlah produk yang cacat adalah 3,4 per satu juta produk. Atau dengan kata lain enam Sigma adalah tingkatan yang setara dengan variasi proses sejumlah setengah dari yang ditoleransi oleh tahap desain dan dalam waktu yang sama memberi kesempatan agar rata-rata produksinya bergeser sebanyak 1,5 defiasi standar dari target. Gambar 2.1 menjelaskan konsep enam Sigma dalam kurva normal.

Gambar 2.1. Six sigma Motorola Jika rata-rata atau target dijaga maka kemungkinan terjadinya cacat diluar wilayah yang 6 Sigma kedua arah hanyalah satu per satu milyar kejadian. Jika pergeseran terjadi kedua arah, makakemungkinan cacat pafa tingkatan enam Sigma paling banyak hanyalah 3,4 per satu juta kejadian, dan jika pergeseran terjadi pada target distribusi, maka jumlah cacat hanyalah dua per satu milyar kejadian. Dengan cara yang sama dapat definisi kualitas 3 Sigma, kualitas 5 Sigma dan seterusnya, cara termudah mempelajari konsep ini adalah dengan membayangkan jarak dari target kebatas atas atau batas bawah spesifikasi (setengah batas toleransi) yang diukur oleh deviasi standar variasi yang terlibat pada tingkatan Sigma. Level kualitas (Sigma) bisa ditemukan dengan bantuan excel dengan rumus sebagai berikut:

  =NORMSINV (1 – DPMO/1.000.000) + SHIFT

  Pada tabel 2.1 menunjukan perubahan nilai atau tingkat kualitas setiap pergeseran standar deviasi atau Sigma per satu juta pada satu ekor distribusi normal.

Tabel 2.1 Tingkat Kualitas Sigma

  Yields DPMO Sigma

  (probabilitas tanpa cacat) (defect per million opportunitiy) 30,9% 690.000

  1 69,2% 308.000

  2 93,3% 66.800

  3 99,4% 6.210

  4 99,98% 320

  5 99,9997%

  3.4

  6 Dalam banyak kasus, penendalian proses agar sesuai dengan target merupakan pilihan yang lebih murah dibandingkan mengurangi variabilitas proses. tingkatan

  Sigma dapat dengan mudah dihitung dengan excel, menggunakan formula: =NORMSINV (1 – Jumlah Cacat/Jumlah Kemungkinan) + SHIFT

  Tidak semua proses harus beroperasi pada tingkatan kualitas six sigma, itu semua bergantung pada seberapa penting suatu proses secara strategis serta biaya perbaikan jika dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkan. Tebel 2.2 menunjukan perbedaan level kualitas pada 3 Sigma dan 6 Sigma di perusahaan.

Tabel 2.2 Level Kualittas Pada 3 Sigma Dan 6 Sigma Di Perusahaan

  

3 sigma 6 sigma

Biaya kegagalan 10-15% dari penjualan Biaya kegagalan 5% dari penjualan

66.067 defect per satu juta CTQ 3.4 defect per satu juta kemungkinan

  

Tergantung pada deteksi untuk temukan defect Fokus pada proses, bukan menghasilkan defect

Percaya kalau kualitas yang tinggi itu mahal Menghasilkan kualitas tinggi, dan menciptakan biaya rendah Tidak tersedia pendekatan sistematik Menggunakan pengukuran analisis, perbaikan dan kontrol Membandingkan dengan pesaing terbaik dunia

  Definisi CTQ secara eksternal (dari costumer)

2.4.3. Metrik dan Pengukuran Six sigma

  

Six sigma dimulai dengan penekanan cara pengukuran kualitas yang berlaku secara

  umum. Dalam terminologi six sigma, sebuah cacat (defect) atau ketidakcocokan (nonconformance) adalah kekeliruan atau kesalahan yang diterima pelanggan. Unit kerja adalah outpu suatu proses atau tahapan proses. kualitas output diukur dalam tingkat kecacatan per unit (defect per unit – DPU).

  

Tingkat Kecacatan Per Unit = Jumlah Cacat Yang Ditemukan/Jumlah Unit

Yang Diproduksi

  Akan tetapi jenis pengukuran output seperti ini cenderung lebih berfokus pada produk akhir, buka pada proses yang menghasilkan produk tersebut. Selain itu, cara ini sulit diterapkan pada proses dengan tingkat kesulitan yang berbeda, terutama aktivitas jasa. Dua proses yang berbeda bisa saja memiliki jumlah peluang kesalahan yang amat berbeda, sehingga menyulitkan perbandingan konsep. Six

  

sigma mendefinisikan ulang pengertian kinerja kualitas sebagai tingkat kecacatan

  per juta kemungkinan. (defect per million opportunities – DPMO).

  � � � =

  � � � × � � × Keterangan:

   Deffect: Jumlah cacat yang ditemukan  Unit inspected: Jumlah unit yang diproduksi  Deffect opportunity: Kemungkinan kesalahan

2.4.4. Metodologi Six sigma

  Didalam implementasinya metode six sigma memerlukan sejumlah tahap yang dikenal dengan DMAIC, yaitu:

1. Define Langkah awal dalam pelaksanaan metodologi six sigma adalah proses define.

  Dimana manajemen perusahaan yaitu pimpinan-pimpinan perusahaan yang ingin mencoba six sigma, yang pertama perusahaan atau manajemen harus mengidentifikasi secara jelas problema-problema yang dihadapi. Tidak menutup kemungkinan, manajemen harus memetakan proses kegiatan guna memahami dan melokalisir masalah. Kedua, memilih sebuah alternatif tindakan sebagai proyek untuk menanggulangi meluasnya problema atau menyelesaikannya. Ketiga, perusahaan perlu merumuskan tolak ukur atau parameter keberhasilan proyek yang dipilih menyangkut luasnya ruang gerak, tingkat penyelesaian masalah sebagai sasaran yang dibidik, tersedianya alat-alat atau perlengkapan dan tenaga pelaksana, waktu serta biaya.

  Define bertujuan untuk mengidentifikasi produk atau proses yang akan diperbaiki dan menentukan sumber-sumber (resources) apa yang dibutuhkan dalam pelaksanaan proyek. Untuk memperoleh tingkat kualitas tertentu dari sebuah hasil yang diinginkan, manajemen perusahaan bisa mengukur, mengkaji, mengendalikan dan menyempurnakan faktor-faktor kunci yang amat berpengaruh terhadap hasil tersebut.

2. Measure

  Pada tahap ini, terlebih dulu manajemen harus memahami proses internal perusahaan yang sangat potensial mempengaruhi mutu output (disebut critical to quality/ CTQ). Kemudian mengukur besaran penyimpangan yang terjadi dibandingkan dengan baku mutu yang telah ditetapkan pada CTQ. Artinya dalam tahap ini kita harus mengetahui kegagalan atau cacat yang terjadi dalam produk atau proses yang akan kita perbaiki. Secara umum tahap Measure bertujuan untuk mengetahui CTQ dari produk atau proses yang ingin kita perbaiki, selanjutnya mengumpulkan beberapa informasi dasar (baseline information) dari produk atau proses dan terakhir kita menetapkan target perbaikan yang kita ingin capai. Penyimpangan merupakan karakteristik yang dapat diukur yang dijumpai pada proses atau output, namun tidak berada di dalam batas-batas penerimaan pelanggan. Setelah besaran penyimpangan teridentifikasi, manajemen bisa menghitung penghematan dana yang diperoleh jika penyimpangan tersebut tereliminasi. Selanjutnya manajemen perlu membandingkan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan proyek penanggulangan simpangan dengan penambahan laba sebagai akibat dari penghematan yang diperoleh. Jika biaya proyek lebih besar atau sama dengan penghematan yang diperoleh, maka six sigma ditolak, dan jika lebih kecil daripada penghematan yang diperoleh, maka six sigma harus diwujudkan.

  Pada saat menelusuri atau mengukur proses internal yang mempengaruhi CTQ, pengumpulan data harus dilakukan dengan benar, untuk itu di bawah ini beberapa pertanyaan untuk membantu pada saat pengumpulan data:

  1. Pertanyaan apa saja yang harus dijawab?

  2. Data jenis apa yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan?

  3. Siapa yang dapat menyediakan data tersebut?

  4. Bagaimana mengumpulkan data yang optimal tanpa melakukan kesalahan?

  3. Analyze

  Disini manajemen berupaya memahami mengapa terjadi penyimpangan dan mencari alasan-alasan yang mengakibatkannya. Maka dari tiu, manajemen harus mengembangkan sejumlah asumsi sebagai hipotesis. Hipotesis atau dugaan-dugaan sementara mengenai faktor-faktor penyebab penyimpangan harus diuji. Jika hasil uji terhadap hipotesis diterima berarti faktor-faktor penyebab simpangan berpengaruh secara signifikan terhadap penyimpangan yang ada. Apabila hasil uji terhadap hipotesis ditolak berarti faktor-faktor tersebut tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penyimpangan yang ada. Setelah mendata faktor-faktor yang dominan mengakibatkan penyimpangan, manajemen harus melangkah ke tahap improve.

  4. Improve

  Pada tahap improve setlah sumber-sumber dan akr penyebab dari masalah kualitas teridentifikasi, maka dilakukanlah penetapan rencana tindakan untuk melaksanakan usaha peningkatan kualitas six sigma. Pengembanan rencana tindakan merupakan salah satu aktivitas yang penting dalam program peningkatan kualitas six sigma, yang berarti bahwa dalam tahap ini tim peningkatan kualitas six sigma harus memutuskan apa yang akan dicapai (berkaitan dengan target yang ditetapkan), mengapa rencana tindakan itu harus dilakukan, dimana rencana tindakan itu akan dilakukan, bagaimana melaksanakan rencana perbaikan itu, dan siapa yang akan metode 5w+1h dapat digunakan pada tahap pengembangan dan pemberian usulan perbaikan pada rencana perbakan yang akan dilakukan.

Tabel 2.3 Penggunaan Metode 5w+1h Untuk Rencana Tindakan Perbaikan

  Jenis

  5W+1H Deskripsi Tindakan Apa yang menjadi target

  Tujuan Utama What Merumuskan target tujuan dari perbaikan sesuai dengan

  Alasan Mengapa rencana tindakan

  Why kebutuhan pelanggan

  Kegunaan itu diperlukan Dimana rencana tindakan

  Lokasi Where itu akan dilakukan Mengubah urutan

  Urutan Proses Kapan rencana tindakan itu aktivitas atau

  When

  Waktu akan dilakukan mengkombinasikan Siapa yang akan aktivitas-aktivitas yang dapat mengerjakan dan terkena

  Orang Who dilakukan bersama dampak rencana tindakan pebaikan

  Menyederhanakan Bagaimana mengerjakan aktivitas-aktivitas

  How

  Metode aktivitas rencana tindakan rencana tindakan perbaikan itu yang ada

5. Control

  Pada tahap terakhir ini, manajemen harus mempertahankan perubahan-perubahan yang telah dilakukan terhadap variabel-variabel x dalam rangka melestarikan hasil (Y) yang senantiasa memuaskan pelanggan. Secara berkala manajemen tetap wajib membuktikan kebenaran sambil memantau proses kegiatan yang sudah disempurnakan melalui alat-alat ukur dan metode yang telah ditentukan sebelumnya untuk menilai kapabilitas perusahaan.

2.5. Seven Tools

  Didalam membantu pelaksanaanya metode six sigma didalamnya terdapat alat-alat bantu yang bisa membantu memaksimalkan kegunaan metode tersebut, seven tools adalah alat bantu yang bisa digunakan untuk memetakan suatu persoalan sengan cara menyusun data di dalam suatu diagram agar lebih mudah dimengerti dan dipahami serta untuk mengetahui inti penyebab dari suatu permasalahan.

  2.5.1 Check Sheet

  Lembar pengamatan adalah lembar yang digunakan untuk mencatat data produk termasuk juga waktu pengamatan, permasalahn yang dicari, dan jumlah cacat pada setiap permasalahan.

Tabel 2.4 checksheet

  JAM KERJA DEFECT

  1

  2

  3

  4

  

5

  6

  7

  8 TOTAL A B C D E TOTAL

  2.5.2 Scatter Diagram

  Scatter Diagram adalah grafik yang menampilkan hubungan antar dua variabel apakah hubungan antara dua variabel tersebut kuat atau tidak, yaitu antara faktor proses yang mempengaruhi proses dengan kualitas. Pada sumbu x menunjukan nilai variabel independen, sedangkan Pada sumbu y menunjukan nilai variabel dependen.

SCATTER DIAGRAM

  90

  80

  70

  60 y

  50 it al

40 Qu

  30

  20

  10

  20

  40

  60 80 100 120 Price

Gambar 2.3 scatter diagram

2.5.3 Fishbone Diagram

  Diagram sebab akibat juga sering disebut ishikawa diagram karena diagram ini diperkenalkan oleh dokter Kaoru Ishikawa pada tahun 1943. Diagram ini terdiri dari sebuah panah horizontal yang panjang dengan deskripsi masalah. Penebab- penyebab masalah digambarkan dengan garis radial dari garis panah yang menunjukan masalah. Kegunaan dari diagram sebab akibat adalah: 1.

  Menganalisis sebab dan akibat suatu masalah 2. Menentukan penyebab permasalahan.

3. Menyediakan tampilan yang jelas untuk mengetahui sumber-sumber variasi.

  Problem

  2.5.4 Pareto Chart

  Fungsi dari pareto diagram adalah untuk mengidentifikasi atau menyeleksi masalah utama peningkatan kualitas. Diagram ini menunjukan seberapa besar frekuensi berbagai maca tipe permasalahan yang terjadi dengan daftar masalah pada sumbu x dan jumlah atau frekuensi kejadian pada sumbu y. Kategori masah diidentifikasikan sebagai masalah utama dan maslah yang tidak penting. Prinsip pareto adalah 80% masalah (ketidaksesuaian atau cacat) disebabkan oleh 20% penyebab. Pronsip pareto ini sangat penting karena prinsip ini mengidentifikasi kontribusi terbesar variasi proses yang menyebabkan performansi yang jelek seperti cacat. Pada akhirnya, diagram pareto membantu pihak manajemen untuk secara cpat menemukan permasalahan yang kritis yang membutuhkan perhatian secepatnya sehingga dapat segera diambl kebijakan untuk mengatasinya.

  Pareto Chart 20.000

  150,00% 15.000 100,00% 10.000 50,00% 5.000 0,00% A B C

  Jumlah Cacat (unit) Persentase Cacat Kumulatif

Gambar 2.5 Diagram Pareto

  2.5.5 Stratifikasi

  Stratifikasi adalah suatu upaya untuk mengurai atau mengklasifikasi persoalan menjadi kelompok atau golongan sejenis yang lebih kecil atau menjadi unsur-unsur tunggal dari persoalan.

  2.5.6 Histogram

  Histogram adalah diagram batang yang menunjukan tabulasi dari data yang diatur frekuensi. Histogram menunjukan karakteristik dari data yang dibagi-bagi menjadi kelas-kelas. Ada histogram frekuensi, sumbu x menunjukan nilai pengamatan nilai dari tiap kelas. Histogram dapat berbentuk normal atau berbentuk seperti lonceng yang menunjukan bahwa banyak data yang terdapat pada nilai rata-ratanya. Bentuk histogram yang miring atau tidak simetris menunjukan bahwa banyak data yang tdak berada pada nilai rata-ratanya, tetapi kebanyakan datanya berada pada batas atas atau bawah.fungsi dari histogram adalh sebagi berikut: 1.

  Menentukan apakah suatu produk dapat diterima atau tidak.

  2. Menentukan apakah proses produk sudah sesuai atau belum.

  3. Menentukan apakah diperlukan langkah-langkah perbaikan.

  

Histogram

2000 1800 1600 1400 cat

  1200 ca

  1000 lah

  800 m

  600 ju

  400 200 periode

Gambar 2.6 Histogram

2.5.7 Control Chart

  Peta kendali merupakan sekumpulan data yang ditulis dalam bentuk grafik dan digunakan unuk membuat penilaian status pengendalian kualitas pada sebuah proses produksi. X chart adalah jenis kontrol chart yang menggunakan angka rata-rata dari contoh yang diambil dari suatu paket produk output yang akan diukur variabel atau atribut kualitas dan biasa dinamakan sample average. X chart mempunyai tiga parameter penting yang ditentukan dengan cara perhitungan dari data-data historis, yaitu:  Nilai rata-rata  Batas pengendalian atas  Batas pengendalian bawah

Gambar 2.7 Peta Kendali

2.6.Istilah-Istilah Dalam Konsep Six sigma

  Sebelum membahas lebih jauh tentang konsep six sigma, perlu dikemukakan beberapa istilah yang berlaku dalam metode six sigma agar untuk selanjutnya metode ini lebih dipahami. Istilah-istilah itu antara lain adalah critical to quality (CTQ), defect, defect per opportunity (DPO), defect per milion opportunities (DPMO).

   Critical To Quality (CTQ) Atribut-atribut yang sangat penting untuk diperhatikan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Merupakan elemen dari suatu produk, proses, atau praktek-praktek yang berdampak pada kepuasan pelanggan.

   Defect

   Defect Per Opportunity (DPO) Ukuran kegagalan yang dihitung dalam program peningkatan kualitas six sigma, yang menunjukan banyaknya cacat atau kegagalan per satu kesempatan. Dihitung menggunakan formula: DPO = banyaknya cacat atau kegagalan yang ditemukan dibagi dengan (banyak unit yang diperiksa dikalikan banyaknya CTQ potensial yang menyebabkan cacat atau kegagalan itu).

   Defect Per Milion Opportunities (DPMO) Ukuran kegagalandalam program peningkatan kualitas six sigma,yang menunjukan kegagalan per sejuta kesemparan. Target dari pengendalian kualitas Six sigma sebesar 3,4 DPMO seharusnya tidak diinterprestasikan sebagai 3,4 unit output yang cacat dari sejuta unit output yang diproduksi, tetapi diinterprestasikan sebagai dalam satu unit produk tunggal terdapat rata-rata kesempatan untuk gagal dari suatu karakteristik CTQ (critical-to-quality) adalah hanya 3,4 kegagalan per satu juta kesempatan (DPMO).

2.7. Teori Kemasan

  Kemasan adalah suatu metode pemasaran yang digunakan dalam perindustrian untuk menjaga produk yang dikemas didalamnya agar mutu dan kualitas didalamnya tetap terjaga sebelum sampai ditangan konsumen atau dipasarkan. Kemasan yang di desain dengan menarik secara langsung akan menarik perhatian konsumen untuk membeli produk yang berada di dalamnya. Selain menarik kemasan juga harus bisa melindungi isi dari produk didalamnya. Diantaranya tujuan dari kemasan dipakai adalah sebagai berikut:

   Melindungi produk dari luar.  Membedakan suatu produk dengan produk lainnya.  Menarik perhatian dari konsumen.  Menjelaskan informasi dalam kemasan.

Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah

3.1 Flowchart Pemecahan Masalah

  Kerangka pemecahan masalah (flowchart) yang digunakan untuk memecahkan permasalahan dan tentang cara-cara urutan yang sistematik di dalam memecahkan permaslahan. Proses langkah-langkah dalam menyelesaikan permasalahan ini dibuat kedalam kerangka pemecahan masalah pada gambar dibawah ini.

  

Mulai

Studi Lapangan

Studi Literatur

Pendahuluan Dan

  

Identifikas i Mas alah

Tujuan Penelitian Dan

Pembatasan Masalah

Pengumpulan Data Proses

  

Dan Hasil Produks i

Pengolahan Data

  

1. Define

  

2. Measur e

  

3. Analyze

  

4. Improve

Analisis

Kes impulan Dan Saran

selesai

1.2. Langkah-langkah Pemecahan Masalah

  Langkah-langkah dalam pemecahan masalah penelitian adalah sebagai berikut: 1.2.1.

   Mulai.

  1.2.2. Studi Lapangan

  Studi lapangan merupakan langkah awal dalam menentukan suatu permasalahan yang akan dikaji dan dijadikan penelitian. Studi lapangan langsung mendatangi perusahaan PT Pupuk Kujang cikampek. Studi lapangan ini dilakukan pada unit

  

bagging dan rendal produksi. Yang selanjutnya penelitian ini lebih terfokus pada

  unit bagging sebelum produk akan dipasarkan. Sampai pada akhirnya ditemukan bahwa terdapat permasalahan pada proses yang menyebabkan kerugian bagi perusahaan.

  1.2.3. Studi Literatur

  Studi literatur merupakan langkah selanjutnya dari penelitian dalam menentukan metode yang akan digunakan untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di PT Pupuk Kujang Cikampek. Studi literatur dilakukan dengan mempelajari teori-teori dan konsep yang berhubungan dengan permasalahan yang terjadi. Sumber dari studi literatur ini bisa didapatkan dalam buku, jurnal dan skripsi atau penelitian yang telah dilakukan. Setiap pemecahan masalah yang akan diselesaikan akan selalu dilandasi oleh sebuah metode yang dianggap sesuai dengan permasalahan yang terjadi di PT Pupuk Kujang cikampek. Six sigma merupakan suatu metode yang bisa digunakan untuk mengendalikan kualitas sebuah proses produksi sehingga menghasilkan produk yang berkualitas. Dengan menggunakan konsep six sigma diharapkan tidak terjadi lagi kesalahan dalam proses produksi yang dapat merugikan perusahaan.

  1.2.4. Pendahuluan dan Identifikasi Masalah

  Melakukan proses tanya jawab dengan bagian penimbangan setelah itu dilanjut proses selanjutnya mengidentifikasi permasalahan yang kemudian difokuskan dalam suatu bahasan yang lebih spesifik yang tujuannya agar maslah yang dituju lebih terarah dan terfokuskan.

  1.2.5. Tujuan Penelitian

  Dalam melakukan penelitian pengendalian kualitas menggunakan metode six sigma ini Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan hasil produksi agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan untuk meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.

  1.2.6. Pengumpulan Data

  Pada proses tahapan ini yaitu melakukan pengumpulan data, dimana seluruh data yang didapatkan dari perusahaan tempat dilaksanakannya penelitian dikumpulkan adapun data yang diperoleh data hasil produksi.

  1.2.7. Pengolahan Data

  Setelah data perusahaan telah dikumpulkan maka proses selanjutnya yaitu proses pengolahan data yang terdiri dari:

  1. Define

  Pada tahap define bertujuan untuk mengidentifikasi produk atau proses yang akan diperbaiki dan menentukan sumber-sumber dalam pelaksanaan. Pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui sumber-sumber penyebab terjadinya cacat pada hasil akhir penimbangan urea. Pada tahap ini digunakan sebuat alat dari pengendalian kualitas yaitu checksheet yang bertujuan untuk memudahkan proses pengumpulan data agar lebih mudah diteliti dan dianalisis.

  2. Measure

  Pada tahap ini sumber-sumber cacat kemudian diurutkan mulai dari yang kecil sampai yang paling besar tingkat pengaruhnya. Setelah itu dilakukan pengukuran nilai sigma dengan perhitungan DPMO (Deffect per Million Opportunities). Tahap pengukuran level sigma untuk mengetahui kapabilitas proses produk sepatu yang dapat diketahui menggunakan rumus : �

  � � = � � � × � � × 3.

   Analyze

  Pada tahap analis ini dilakukan proses menganalisis dan mengidentifikasi menggunakan diagram sebab akibat (fishbone) untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi cacat serta memberikan ususlan dan rekomendasi untuk dalam upaya peningkatan kualitas. Menganalisis hasil dari pengukuran level sigma pada proses penimbangan, menganalisis faktor-faktor ketidaksesuaian berat urea pada proses penimbangan menggunakan diagram sebab akibat dan memberikan usulan perbaikan untuk perbaikan hasil akhir produksi.

4. Improve

  Pada tahap improve dilakukan memberikan rekomendasi perbaikan yang bertujuan untuk mengurangi jumlah cacat yang terjadi dari hasil implementasi six sigma. Kemudian menganalisis hasil implementasi perbaikan. Metode yang dipakai untuk tahap ini yaitu dengan menggunakan 5W + 1H (what, when, where, who, why, how). metode ini merupakan tahap selanjutnya dari diagram sebab akibat yang hasilnya telah diketahui pada tahap analyze. Metode 5W +1H ini merupakan penjabaran dari: 1.

   What: merupakan maksud dari apa yang menjadi pokok permasalahan yang akan diperbaiki.

2. When: kapan pelaksanaan perbaikan akan dilaksanakan 3.

   Where: dimana rencana perbaikan akan dilaksanakan 4. Who: siapa yang akan bertanggung jawab melaksanakan perbaikan 5. Why: mengapa perbaikan perlu dilakukan dengan membandingan apakah hasil

  produk yang dihasilkan sesuai dengan standar perusahaan 6.

   How: merupakan penjelasan bagaimana tahapan-tahapan pelaksanaan perbaikan ini dikerjakan.

  1.2.8. Analisis

  Selanjutnya setelah proses pengolahan data selesai maka proses selanjutya yaitu menganalisis hasil pengolahan data agar bisa diketahui penyebab dari masalah proses penimbangan apakah ada atau tidak.

  1.2.9. Kesimpulan dan Saran

  Proses menarik kesimpulan dari proses penelitian secara keseluruhan yang didapatkan dari hasil menganalisis hasil dari pengolahan data yang telah dilakukan serta memberikan sara-saran yang bermanfaat bagi kemajuan persahaan.

  1.2.10. Selesai.

  Merupakan tahap terakhir dari proses penelitian.

Bab 4 Pengumpulan dan Pengolahan Data

4.1 Pengumpulan Data

4.1.1.Unit Produksi PT Pupuk Kujang

  PT Pupuk Kujang Cikampek dalam proses produksinya mulai dari bahan baku sampai produk yang siap dipasarkan memiliki 5 unit produksi yang saling berkaitan dan bekerja sama didalam prosesnya. Terdiri dari unit pembangkit uap, unit pembangkit listrik, unit penjernihan air, unit amonia, dan unit urea.

  1. Unit Pembangkit Uap

  Unit pembangkit uap di pabrik Kujang 1A terdiri dari satu unit Waste Heat Boiler dengan kapasitas 97 ton/jam dan dua unit Package Boiler dengan kapasitas 100 ton/jam/unit. Unit pembangkit uap di pabrik Kujang 1B terdiri dari satu unit Waste Heat Boiler dengan kapasitas 30 ton/jam dan satu unit Package Boiler dengan kapasitas 100 ton/jam.

  2. Unit Pembangkit Listrik

  Baik Kujang 1A maupun Kujang 1B masing-masing memiliki unit pembangkit listrik tersendiri. Unit pembangkit listrik di Kujang 1A terdiri dari satu unit Gas Turbin Generator kapasitas 15 MW. Tiga unit Diesel Standby Generator kapasitas 750 KW/unit dan satu unit Diesel Emergency Generator kapasitas 375 KW.

  3. Unit Penjernihan Air

  Unit pengolahan air di Kujang 1A mengolah air baku menjadi air bersih untuk berbagai keperluan antara lain Air Pendingin kapasitas 573 m3/jam; Air minum kapasitas 75 m3/jam; Air Bebas Mineral kapasitas 180 ton/jam; Air Bersih untuk Perusahaan Patungan 125 m3/jam. Sedangkan unit pengolahan air di Kujang 1B memiliki kapasitas terpasang sebesar 650 m3/jam. Air yang sudah diolah kemudian

  360 m3/jam; Air Bebas Mineral kapasitas 180 ton/jam. Selain keperluan di atas, unit pengolah air juga memasok kebutuhan air hydran di area Pupuk Kujang.

  4. Unit Amonia

  Unit Amonia Kujang 1A dan Kujang 1B menghasilkan Amonia dengan kapasitas terpasang masing-masing sebesar 1000 MT/hari. Selain itu dihasilkan juga produk samping berupa gas Karbondioksida yang digunakan untuk bahan baku pembuatan Urea.

  5. Unit Urea

  Amonia dan Karbondioksida yang diperoleh dari unit Amonia kemudian diproses di unit Urea. Pabrik Urea Kujang 1A dan 1B memiliki kapasitas terpasang yang sama yaitu masing-masing 1.725 MT/hari atau sebesar 570.000 MT/tahun sehingga kapasitas total produksi Urea Pupuk Kujang sebesar 1.140.000 MT/tahun.

4.1.2. Proses Produksi Urea Bahan baku utama dalam proses produksi urea adalah gas alam, air, dan udara.

  Ketiga bahan baku tersebut kemudian diolah menhasilkan nitrogen (N2), hidrogen (H2), dan karbondioksida (CO2). Amonia dibuat dalam pabrik amonia dan merupakan hasil dari reaksi gas nitrogen dan hidrogen. Pabrik amonia kujang 1A dirancang oleh Kellog Overseas Corp. Dari Amerika Serikat sedangkan untuk Kujang 1B dibangun oleh Toyo Engineering Corporation.

  Secara keseluruhan tahapan proses produksinya urea prill 50 kg ini mengalami beberapa proses untuk kemudian menjadi urea yang siap dipasarkan. Tahapan- tahapan yang terjadi dalam prosesnya adlah sebagai berikut: 1.

  Proses pencampuran bahan kimia CO2 dan NH3. Dimana proses ini terjadi pada unit sintesa. Pada proses awal ini urea mulai terbentuk akibat reaksi kimia yang terjadi.

  2. Tahap selanjutnya kemudian gas yang terbentuk dari proses campuran gas dari CO2 dan NH3 dipisahkan untuk menjadi kemudian diolah menjadi amonia. Proses ini terjadi pada unit dekomposisi.

  3. Pada tahap ini gas-gas yang terbentuk pada tahap kedua akan tetapi hasilnya belum bisa digunakan kemudian diserap oleh reaktor menggunakan larutan

  karbamat dan steam condensate. dekomposisi untuk di recycle menjadi gas amonia yang dapat digunakan.

  4. Pada tahap keempat ini amonia yang terjadi pada unit dekomposisi maupun amonia yang didapatkan dari hasil rework diserap dan dikondensikan sebagai umpan yang berguna untuk proses absurbent. Proses ini terjadi pada unit dekomposisi.

  5. Pada tahap kelima ini urea yang mengalir dari unit dekomposisi setelah dipisahkan dengan gas. Kemudian urea tersebut dipisahkan kristal urea dari larutannya. Seteah kristal urea dipisahkan kemudian urea dikirim ke unit pengeringan (prilling).

6. Pada tahap keenam kemudian urea yang telah dikristalkan kemudian dilelehkan mencapai titik lelehnya agar menjadi bentuk butiran urea.

  Setelah urea mendapatkan bentuk sempurna lalu urea dikirimkan ke unit pengemasan (bagging) untuk siap dikemas. Proses ini terjadi di unit pengemasan.

  7. Pada tahap ketujuh setelah urea tersebut dikemas oleh karung. Kemudian urea ada yang langsung dipasarkan dan ada yang disimpan dahulu kedalam gudang.

  8. Tahap terakhir untuk urea yang disimpan dalam gudang, sebelum urea tersebut siap untuk dikirimkan ke konsumen urea tersebut dipindahkan dari dalam gudang kedalam truk melalui proses loading truk.

4.1.3. Proses Pengemasan Urea di Unit Bagging

  Tahap terakhir dari proses produksi yaitu proses pengemasan, setelah tahap pengemasan dilakukan maka urea siap untuk dipasarkan. Urea yang telah siap untuk dijual atau dipasarkan keluar diterima oleh divisi bagging untuk dikemas kedalam kemasan 50kg. Kemudian di dalam pengemasannya dilakukan pembagian kembali menjadi 3 jenis sistem pengemasan, yaitu:

  1. Bulk handling system

  

Bulk handling system adalah suatu alat transfer untuk butiran urea curah yang akan

  dikirimkan dari pabrik urea ke unit pengantongan untuk dikemas dengan karung plastik dan kemudian dijahit.

Tabel 4.1. Tujuh Alat Pada Bulk Handling System

  No Nama Alat

  1 Transfer Conveyor

  2 Transfer Conveyor

  3 Surge Hopper

  Vibrating Feeder

  4

  5 Travelling Tripper

  6 Transfer Conveyor

  7 Bin Storage Sumber: Unit Bagging PT Pupuk Kujang

  Dari ketujuh alat diatas memiliki kegunaan dan cara kerjanya masing-masing yaitu:  Transfer Conveyor yang memiliki kegunaan untuk menerima butiran urea curah.  Surge Hopper untuk menampung urea secara sementara dan sambil digetarkan menggunakan vibrating feeder.  Kemudian urea curah dialirkan kembali menggunakan transfer conveyor.  Kemudian akhirnya butiran urea curah didistribusikan dan dibagikan ke bin storage yang dioprasikan oleh travelling tripper.

  2. Bagging system

  

Bagging system merupakan peralatan yang bertugas untuk mengemas butiran urea

curah kedalam karung dengan berat ±50 kg secara otomatis.

Tabel 4.2. Alat Pada Bagging System

  No Nama alat

  1 Bagging Machine

  2 Baging Line Conveyor

  3 Sewing Machine

  4 Accumulator Conveyor Sumber: Unit Bagging PT Pupuk Kujang

  Dari ketiga alat diatas memiliki kegunaan dan cara kerjanya masing-masing yaitu:  Bagging Machine memiliki kegunaan utuk menakar butiran urea curah dengan berat 50 kg secara otomatis untuk dikirim dengan menggunakan baging line conveyor.

   Sewing Machine memiliki kegunaan untuk menjahit karung yang akan digunakan sebagai kemasan urea.  Accumulator Conveyor memiliki kegunaan untuk mengirim karung yang telah dijahit untuk diloading ke dalam truk atau disimpan didalam gudang.

  3. Bag handling system

  

Bag handling system merupakan suatu alat untuk mengirim urea yang telah dikemas

  didalam kemasan karung untuk disimpan didalam truk atau disimpan kedalam gudang persediaan melalui conveyor.

Tabel 4.3. Alat Pada Bag handling system

  No Nama Alat

  1 Accumulator Conveyor

  2 Short Conveyor

  3 Floor Conveyor

  4 Over Head Conveyor No Nama Alat

  5 Stacking Unit Conveyor

  6 Fork Lift

  7 Pallet Sumber: Unit Bagging PT Pupuk Kujang


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2181 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 560 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 484 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 313 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 433 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 690 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 598 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 386 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 567 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 686 23