Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTERI PADA
PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI PERJANJIAN
PERKAWINAN MENURUT PASAL 29 UNDANG-UNDANG
NOMOR 1 TAHUN 1974

TESIS

OLEH

NORA SARI DEWI NASUTION
087011085/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTERI PADA
PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI PERJANJIAN
PERKAWINAN MENURUT PASAL 29 UNDANG-UNDANG
NOMOR 1 TAHUN 1974

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada
Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

Oleh
NORA SARI DEWI NASUTION
087011085/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

JUDUL TESIS

: PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTRI
PADA PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI
PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT PASAL
29 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974
NAMA MAHASISWA : NORA SARI DEWI NASUTION
NIM
: 087011085
PROGRAM STUDI : MAGISTER KENOTARIATAN

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)
Ketua

(Dr. T. Keizerina Devi A,SH, CN, M.Hum) (Chairani Bustami, SH, SpN, MKn)
Anggota
Anggota

Ketua Program Studi,

Dekan,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

(Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum)

Tanggal lulus : 06 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal : 06 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

:

Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN

Anggota

:

1. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum
2. Chairani Bustami, SH, SpN, MKn
3. Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, MHum
4. Dr. Utary Maharani Barus, SH, MHum

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974
pada hakekatnya mengandung pengertian suatu ikatan lahir bathin antara seorang lakilaki dan seorang perempuan dimana diantara mereka terjalin hubungan yang erat dan
mulia sebagai sepasang suami istri untuk hidup bersama dengan tujuan membentuk dan
membina suatu keluarga yang bahagia, sejahtera, dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang
Maha Esa. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada prinsipnya
mengandung azas monogami, dimana satu orang suami hanya boleh mempunyai satu
orang istri, demikian pula sebaliknya. Perkawinan poligami merupakan suatu
pengecualian menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dengan wajib memenuhi
sejumlah syarat, ketentuan dan prosedur hukum yang telah diterapkan. Pasal 29 ayat 1
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 merupakan salah satu pasal yang bertujuan untuk
melindungi hak-hak para istri yang dipoligami, yaitu dengan mengadakan suatu
perjanjian tertulis pra perkawinan yang memuat dan mengatur hak-hak dan kewajiban
suami istri apabila melaksanakan perkawinan poligami. Permasalahan yang dibahas
dalam penelitian ini meliputi pengaturan perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan
poligami yang telah dicatatkan, hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian perkawinan
bagi istri yang dipoligami dan juga akibat hukum yang timbul jika suami yang
berpoligami melanggar perjanjian perkawinan tersebut.
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, dengan menggunakan pendekatan yuridis
normatif, yaitu penelitian yang memaparkan, menganalisa dan menyimpulkan masalah
perkawinan poligami dan permasalahan yang terkait didalamnya dengan mengacu kepada
norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan tentang
perkawinan. Bahan-bahan hukum yang diperoleh terdiri dari bahan hukum primer yaitu
undang-undang tentang perkawinan dan peraturan yang terkait dengan perkawinan
tersebut. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari hasil-hasil penelitian, laporan-laporan
serta artikel yang berkaitan dengan penelitian ini.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan
poligami yang dicatatkan dapat dilakukan melalui pembuatan perjanjian sebelum
perkawinan dilangsungkan. Akte perjanjian perkawinan tersebut bersifat akta autentik
(notaril) yang terdiri dari beberapa pasal yang pada intinya berisikan hak-hak dan
kewajiban seorang istri yang dipoligami terutama di bidang harta benda perkawinan, dan
hak-hak lainnya yang berupa nafkah lahir batin yang wajib dipenuhi oleh suami yang
berpoligami, termasuk larangan penggunaan kekerasan dalam perkawinan, hak-hak asuh
anak bila terjadi perceraian. Akibat hukum apabila suami melanggar hal-hal yang telah
diperjanjikan dalam perjanjian sebelum perkawinan tersebut berlangsung, dapat diancam
dengan hukuman ganti rugi sebagai pengganti hak-hak bagi pihak yang dirugikan.
Bentuk ganti rugi yang dimaksud adalah ganti rugi yang telah disepakati kedua belah
pihak yang telah tertuang dalam perjanjian tersebut. Disamping itu pelanggaran
perjanjian dapat pula dijadikan alas an oleh istri yang dipoligami untuk menuntut
perceraian ke pengadilan Agama.
Kata kunci : Perlindungan hak-hak istri, perkawinan poligami, perjanjian perkawinan
i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Marriage, according to Article I of Marriage Law No. 1/1974, basically
constitutes a material and spiritual bond between a man and a woman, where a close
and lofty relationship was established between a husband and a wife who pledge
allegiance to live together happily, prosperously, and eternally, based on God
Almighty. Law No. 1/1974 on Marriage principally constituted to pronciple of
monogamy in which a man could marry only one woman at one time, and vice versa.
Polygamy is an exception of Law No. 1/1974 in which the married couple must
comply with a number of requirements and legal procedures which have been
applied. Article 29, paragraph (1)of Law No. 1/1974 is one of the articles which is
aimed to protect the rights of the polygamous wives by making a written agreement
prior to marriage which contains and regulatesn the husband’s and the wives right
and obligation in the polygamous marriage. The problems discussed in this research
included the regulations on the protection of the wives’ right in legal polygamous
marriage, anything which has been promised in the marriage contract to the
polygamous wives’ and the legal consequences which might arise when the
polygamous husbands violate the marriage law.
This research was descriptive analytic with judicial normative approach in
which the research desribed, analyzed and concluded the problems of polygamous
marriage and any problems which were related to it which refereed to legal norms
found in the legal provisions on marriage. The legal materials consisted of the
primary legal materials such as marriage law and legal provisions which were
related to the marriage. The secondary legal materials consisted of the results of
researches, reports and articles which were reklated to the research.
The result of the research showed that the protection of the wives’ rights in
the legal polygamous marriage could be done through the marriage contract prior to
the marriage. The marriage contract should be authentic (notarial). Consisted of
some articles which basically contained the polygamous wives’ right and obligation,
especially the joint property and the other rights such as the financial and conjugal
rights which had to be fulfilled by the polygamous husbands, including the
prohibition against violence in married life and the custody of the children if there
was a divorce. A legal consequence would be taken by the husband if he broke the
agreement of the marriage contract. Besides that, the violation of the agreement
could be taken as the reason for the polygamous wives to life a claim for divorce to
Religious Court.

Keywords : Protection of Wives’ Rights, Polygamous Marriage, Marriage Contract

ii

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini tepat pada
waktunya. Adapun judul tesis ini adalah “Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri
pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974”. Penulisan tesis ini merupakan suatu
persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang
Ilmu Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan
dorongan baik berupa masukan maupun saran, sehingga penulisan tesis dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih
yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan
amat terpelajar Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Pembimbing
utama penulis, Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Pembimbing II
penulis, Ibu Chairani Bustami, SH, SpN, MKn, selaku selaku Pembimbing III penulis
yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk
kesempurnaan penulisan tesis ini.
Kemudian juga, kepada Dosen Penguji yang terhormat dan amat terpelajar
Ibu Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, M.Hum dan Ibu Dr. Utary Maharani Barus,
SH, M.Hum yang telah berkenan memberi masukan dan arahan yang konstruktif
dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian
tertutup sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah.
Dalam kesempatan ini penulis juga dengan tulus mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1.

Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSC (CTM),, Sp.A (K), selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan

iii

Universitas Sumatera Utara

fasilitas kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
Tesis ini.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH. MHum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara, yang telah memberi kesempatan dan fasilitas kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus pembimbing
yang telah memberikan bimbingan serta saran yang membangun kepada penulis
Tesis ini.
4. Bapak dan Ibu Guru Besar juga Dosen Pengajar pada Program Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik
dan membimbing penulis sampai kepada tingkat Magister Kenotariatan.
5. Para pegawai/karyawan pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara, yang selalu membantu kelancaran dalam hal
manajemen administrasi yang dibutuhkan.
Sungguh rasanya suatu kebanggaan tersendiri dalam kesempatan ini penulis
juga turut menghaturkan sembah sujud dan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada Ayahanda Bapak H. Bahman Nasution, SH dan Ibunda Rosmala Dewi
Batubara, yang telah melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkan penulis,
Ayah dan Ibu mertua, Bapak Ussulluddin Lubis dan Ibu Hj. Dahliana Pulungan, yang
telah memberikan bimbingan, perhatian dan doa yang cukup besar selama ini,
sehingga penulis dapat menyelesaikan studi pada Program Magister Kenotariatan
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada suami
tercinta Syahril Lubis, SE, serta kakak dan adik-adikku Drg. Suri Kumala Dewi
Nasution, A. Putra Rahmadan Nasution dan Akbar Halim Nasution, juga kepada Staf
bagian Pendidikan Magister Kenotariatan USU, Bu Fatimah, Kak Lisa, Kak Sari, Kak
Winda, Afni, Bang Iken, Bang Aldy dan Bang Rizal, yang selama ini telah

iv

Universitas Sumatera Utara

memberikan semangat dan doa restu serta kesempatan untuk menimba ilmu di
Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan
kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selalu
dilimpahkan kebaikan, kesehatan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna,
namun tak ada salahnya jika penulis berharap kiranya tesis ini dapat memberikan
manfaat kepada semua pihak.

Medan, Agustus 2011
Penulis,

Nora Sari Dewi Nasution

v

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

I.

IDENTITAS PRIBADI
Nama Lengkap

: Nora Sari Dewi Nasution

Tempat/Tanggal Lahir

: Binjai, 05 September 1986

Status

: Menikah

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Jl. STM / Pembangunan No. 34/18 Medan

II. KELUARGA
Nama Suami

: Syahril Lubis, SE

Pekerjaan

: PT. Bank Sumut

III. PENDIDIKAN
- SD

: SD Taman Siswa Binjai (Tahun 1992 s/d 1998)

- SLTP

: SLTP Ahmad Yani Binjai (Tahun 1998 s/d 2001)

- SMU

: SMU Kartika I-2 Medan (Tahun 2001 s/d 2004)

- Perguruan Tinggi

: - Fakultas Hukum Universitas Pembangunan
Panca Budi Medan (Tahun 2004 s/d 2008)
- Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
USU Medan (Tahun 2008 s/d 2011)

vi

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK .................................................................................................

i

ABSTRACT ................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR...............................................................................

iii

RIWAYAT HIDUP ...................................................................................

vi

DAFTAR ISI..............................................................................................

vii

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

PENDAHULUAN...................................................................

1

A. Latar Belakang.....................................................................

1

B. Permasalahan.......................................................................

9

C. Tujuan Penelitian.................................................................

10

D. Manfaat Penelitian...............................................................

10

E. Keaslian Penulisan...............................................................

11

F. Kerangka Teori dan Konsepsi .............................................

12

G. Metode Penelitian................................................................

20

PERLINDUNGAN HAK ISTRI DALAM PERKAWINAN
POLIGAMI YANG DICATATKAN....................................

25

A. Hak-hak Istri dalam Perkawinan Berdasarkan Hukum Islam

25

B. Hak-hak Istri dalam Perkawinan Poligami..........................

38

HAL-HAL YANG DAPAT DIPERJANJIKAN DALAM
PERKAWINAN POLIGAMI................................................

52

A. Kedudukan Istri-istri dalam Perkawinan Poligami..............

52

B. Perjanjian Perkawinan Poligami..........................................

54

C. Hal-hal yang Diperjanjikan dalam Perjanjian Perkawinan
Poligami...............................................................................

62

D. Hal-hal yang Diperjanjikan dalam Perkawinan Poligami ...

74

AKIBAT HUKUM PELANGGARAN ATAS PERJANJIAN
PERKAWINAN POLIGAMI................................................

88

vii

Universitas Sumatera Utara

A. Sanksi-sanksi dalam Perjanjian Perkawinan Poligami........

88

B. Pelanggaran dalam Perjanjian Perkawinan Poligami ..........

89

C. Akibat Hukum Pelanggaran dalam Perjanjian Perkawinan
Poligami...............................................................................

91

KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................

94

A. Kesimpulan..........................................................................

94

B. Saran ....................................................................................

95

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................

97

BAB V

viii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974
pada hakekatnya mengandung pengertian suatu ikatan lahir bathin antara seorang lakilaki dan seorang perempuan dimana diantara mereka terjalin hubungan yang erat dan
mulia sebagai sepasang suami istri untuk hidup bersama dengan tujuan membentuk dan
membina suatu keluarga yang bahagia, sejahtera, dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang
Maha Esa. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada prinsipnya
mengandung azas monogami, dimana satu orang suami hanya boleh mempunyai satu
orang istri, demikian pula sebaliknya. Perkawinan poligami merupakan suatu
pengecualian menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dengan wajib memenuhi
sejumlah syarat, ketentuan dan prosedur hukum yang telah diterapkan. Pasal 29 ayat 1
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 merupakan salah satu pasal yang bertujuan untuk
melindungi hak-hak para istri yang dipoligami, yaitu dengan mengadakan suatu
perjanjian tertulis pra perkawinan yang memuat dan mengatur hak-hak dan kewajiban
suami istri apabila melaksanakan perkawinan poligami. Permasalahan yang dibahas
dalam penelitian ini meliputi pengaturan perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan
poligami yang telah dicatatkan, hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian perkawinan
bagi istri yang dipoligami dan juga akibat hukum yang timbul jika suami yang
berpoligami melanggar perjanjian perkawinan tersebut.
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, dengan menggunakan pendekatan yuridis
normatif, yaitu penelitian yang memaparkan, menganalisa dan menyimpulkan masalah
perkawinan poligami dan permasalahan yang terkait didalamnya dengan mengacu kepada
norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan tentang
perkawinan. Bahan-bahan hukum yang diperoleh terdiri dari bahan hukum primer yaitu
undang-undang tentang perkawinan dan peraturan yang terkait dengan perkawinan
tersebut. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari hasil-hasil penelitian, laporan-laporan
serta artikel yang berkaitan dengan penelitian ini.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan
poligami yang dicatatkan dapat dilakukan melalui pembuatan perjanjian sebelum
perkawinan dilangsungkan. Akte perjanjian perkawinan tersebut bersifat akta autentik
(notaril) yang terdiri dari beberapa pasal yang pada intinya berisikan hak-hak dan
kewajiban seorang istri yang dipoligami terutama di bidang harta benda perkawinan, dan
hak-hak lainnya yang berupa nafkah lahir batin yang wajib dipenuhi oleh suami yang
berpoligami, termasuk larangan penggunaan kekerasan dalam perkawinan, hak-hak asuh
anak bila terjadi perceraian. Akibat hukum apabila suami melanggar hal-hal yang telah
diperjanjikan dalam perjanjian sebelum perkawinan tersebut berlangsung, dapat diancam
dengan hukuman ganti rugi sebagai pengganti hak-hak bagi pihak yang dirugikan.
Bentuk ganti rugi yang dimaksud adalah ganti rugi yang telah disepakati kedua belah
pihak yang telah tertuang dalam perjanjian tersebut. Disamping itu pelanggaran
perjanjian dapat pula dijadikan alas an oleh istri yang dipoligami untuk menuntut
perceraian ke pengadilan Agama.
Kata kunci : Perlindungan hak-hak istri, perkawinan poligami, perjanjian perkawinan
i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Marriage, according to Article I of Marriage Law No. 1/1974, basically
constitutes a material and spiritual bond between a man and a woman, where a close
and lofty relationship was established between a husband and a wife who pledge
allegiance to live together happily, prosperously, and eternally, based on God
Almighty. Law No. 1/1974 on Marriage principally constituted to pronciple of
monogamy in which a man could marry only one woman at one time, and vice versa.
Polygamy is an exception of Law No. 1/1974 in which the married couple must
comply with a number of requirements and legal procedures which have been
applied. Article 29, paragraph (1)of Law No. 1/1974 is one of the articles which is
aimed to protect the rights of the polygamous wives by making a written agreement
prior to marriage which contains and regulatesn the husband’s and the wives right
and obligation in the polygamous marriage. The problems discussed in this research
included the regulations on the protection of the wives’ right in legal polygamous
marriage, anything which has been promised in the marriage contract to the
polygamous wives’ and the legal consequences which might arise when the
polygamous husbands violate the marriage law.
This research was descriptive analytic with judicial normative approach in
which the research desribed, analyzed and concluded the problems of polygamous
marriage and any problems which were related to it which refereed to legal norms
found in the legal provisions on marriage. The legal materials consisted of the
primary legal materials such as marriage law and legal provisions which were
related to the marriage. The secondary legal materials consisted of the results of
researches, reports and articles which were reklated to the research.
The result of the research showed that the protection of the wives’ rights in
the legal polygamous marriage could be done through the marriage contract prior to
the marriage. The marriage contract should be authentic (notarial). Consisted of
some articles which basically contained the polygamous wives’ right and obligation,
especially the joint property and the other rights such as the financial and conjugal
rights which had to be fulfilled by the polygamous husbands, including the
prohibition against violence in married life and the custody of the children if there
was a divorce. A legal consequence would be taken by the husband if he broke the
agreement of the marriage contract. Besides that, the violation of the agreement
could be taken as the reason for the polygamous wives to life a claim for divorce to
Religious Court.

Keywords : Protection of Wives’ Rights, Polygamous Marriage, Marriage Contract

ii

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pernikahan atau perkawinan merupakan perilaku sakral yang termaktub dalam
seluruh ajaran agama. Dengan pernikahan diharapkan akan menciptakan pergaulan
laki-laki dan perempuan menjadi terhormat,1 interaksi hidup berumah tangga dalam
suasana damai, tenteram, dan rasa kasih sayang antara anggota keluarga,2 yang
semuanya bermuara pada harmonisasi keluarga.
Al-Qur’an menyebut perkawinan sebagai perjanjian yang kokoh, mitsaqan
ghaliza, seperti yang termaktub dalam Surat An-Nisaa ayat 21 yang artinya :3
Bagaimana kamu akan mengambil mahar yang telah kamu berikan kepada
isterimu, padahal sebagian kamu telah bergaul dengan sebagian yang lain
sebagai suami isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu
perjanjian yang kuat.
Sebagai suatu perjanjian, perkawinan mengandung tiga unsur utama, yaitu :4
1. Perkawinan tidak dapat dilakukan tanpa ada unsur suka rela dari kedua belah
pihak5

1

Abd Nashr Taufik Al-Athar, Saat Anda Meminang, (Jakarta : Terj. Abu Syarifah dan Afifah
Pustaka Azam), 2000, hlm. 5.
2
Ahmad Azar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta, Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 1995), hlm. 1.
3
Al-Qur’an dan Terjemahnya (Madinah : Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, 2003).
4
Soemiyarti, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan, (Yogyakarta :
Liberty, 1982), hlm. 10.
5
Jawad Muhammad Muqniyah, Pernikahan Menurut Hukum Perdata dari Lima Mahzab,
(Yogyakarta : Penerbit Kota Kembang, 1978), hlm. 9.

Universitas Sumatera Utara

2. Perkawinan itu memiliki dan mengatur batas-batas hukum mengenai hak dan
kewajiban yang harus dilaksanakan sebaik mungkin oleh suami dan isteri
tersebut.6
3. Kedua belah pihak (suami dan isteri) yang mengikatkan diri dalam perkawinan
masing-masing mempunyai hak untuk memutuskan perkawinan itu berdasarkan
prosedur tertentu menurut ketentuan hukum yang ada.
Meski perkawinan dapat dikatakan sebagai suatu bentuk perjanjian karena
adanya unsur persetujuan untuk saling mengikatkan diri, persetujuan dalam
perkawinan tidak sama dengan persetujuan lain yang dikenal dalam hukum perdata.
Alasannya, pada persetujuan biasa para pihak bebas menentukan isi perjanjiannya
asal tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. Sebaliknya dalam
perkawinan, isi perjanjian (ikatan) sudah ditentukan oleh hukum.7
Para ulama sepakat bahwa terjadinya perkawinan secara sah menurut hukum
Islam adalah melalui akad nikah yang memuat dua unsur, yaitu ijab dan qabul. Ijab
adalah lafaz penawaran yang sah dari pihak perempuan melalui walinya dan qabul
adalah penerimaan yang sah dari pihak calon pengantin laki-laki atau wakilnya. Lafaz
ijab dan qabul dimulai dengan kata zawajtu (aku jodohkan) atau ankahtu (aku
nikahkan) dari wali calon pengantin perempuan dan dijawab dengan kata khabilatu
(saya terima) atau radhitu (saya rela) oleh calon pengantin laki-laki.8 Ketentuan ini

6

Soemiyarti, Op.cit, hlm. 10
Muhammad Idris Ramulyo, Tinjauan Beberapa Pasal Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 Dari Segi Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta : IND HILL. Co, 1990), hlm. 17.
8
Jawad Muhammad Muqniyah, Op.cit, hlm. 7.
7

Universitas Sumatera Utara

menjadi kesepakatan menurut Imam Malik bin Annas, Imam Muhammad Hambal
(Hambali) maupun Imam Syafi’i.9
Perkawinan pada prinsipnya menganut asas monogami. Prinsip ini tampak
pada Pasal 3 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974. Dengan kata lain,
perkawinan poligami dipandang sebagai suatu bentuk pengecualian yang hanya dapat
dilaksanakan jika terpenuhi syarat dan prosedur tertentu. Ketentuan mengenai
poligami yang secara legalistik formal diatur oleh hukum positif di Indonesia,
berdasarkan bunyi Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 hanya
berlaku bagi orang-orang yang agamanya tidak melarang poligami bagi pelakunya.
Poligami merupakan permasalahan dalam perkawinan yang paling banyak
diperdebatkan sekaligus kontroversial. Poligami ditolak dengan berbagai macam
argumentasi baik yang bersifat normatif, psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan
ketidakadilan gender. Para penulis barat sering mengklaim bahwa poligami adalah
bukti bahwa ajaran Islam dalam bidang perkawinan sangat diskriminatif terhadap
perempuan. Poligami dikampanyekan karena dianggap memiliki sandaran normatif
yang tegas dan dipandang sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan
fenomena selingkuh dan prostitusi.10
Poligami memiliki akar sejarah yang panjang dalam perjalanan peradaban
manusia itu sendiri. Sebelum Islam datang ke Jazirah Arab, poligami merupakan
sesuatu yang telah mentradisi bagi masyarakat Arab. Poligami masa itu dapat disebut
9

Ibid, hlm. 8
Amiur Nurudin dan Ahmad Azhari Tarigan, Hukum Perdata di Indonesia, (Jakarta :
Pernada Media, 2004), hlm. 156.
10

Universitas Sumatera Utara

poligami tak terbatas, bahkan lebih dari itu tidak ada gagasan keadilan di antara para
istri. Suamilah menentukan sepenuhnya siapa yang ia sukai dan siapa yang ia pilih
untuk dimiliki secara tidak terbatas. Istri-istri harus menerima takdir mereka tanpa
ada usaha memperoleh keadilan.11
Kedatangan Islam dengan ayat-ayat poligaminya (Q.S. an-Nisa’; 3 dan 129),
kendatipun tidak menghapus praktek poligami, namun Islam membatasi kebolehan
poligami hanya sampai empat orang istri dengan syarat-syarat yang ketat pula seperti
keharusan adil di antara istri. Menurut Asghar, sebenarnya dua ayat diatas
menjelaskan betapa Al-Qur’an begitu berat untuk menerima institusi poligami, tetapi
hal itu tidak bisa diterima dalam situasi yang ada, oleh karena Al-Qur’an
membolehkan laki-laki kawin hingga empat orang istri, dengan syarat harus adil.
Asghar mengutip al-Tabari, inti ayat di atas sebenarnya bukan pada kebolehan
poligami, tetapi bagaimana berlaku adil terhadap anak yatim terlebih lagi ketika
mengawini mereka.12
Menurut hukum Islam (fiqh), kebolehan hukum poligami telah menjadi
kesepakatan ulama walaupun dengan persyaratan yang ketat, yaitu harus berlaku adil
terhadap istri-istrinya. Pengertian poligami adalah seorang suami yang beristeri lebih
dari satu orang13 yang dalam ajaran Islam hal tersebut diperbolehkan, dengan perintah
Allah untuk berlaku adil sebagaimana firman Allah sebagai berikut :

11

Asghar Ali Engineer, Pembebasan Perempuan, (Yogyakarta : LKIS, 2003), hlm. 111.
Ibid, hlm. 112-113.
13
Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
12

Universitas Sumatera Utara

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanitawanita lain yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu
takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, yaitu
budak-budak yang kamu miliki, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada
tidak berbuat aniaya.
Namun fakta yang berkembang, harmonisasi keluarga terganggu oleh
fenomena poligami. Walaupun secara normatif poligami diakui oleh hukum Islam,
tetapi karena suatu hal, maka poligami ditentang banyak intelektual, lebih-lebih para
penggerak wanita. Apalagi terdapat sinyalemen bahwa poligami yang dipraktikkan
oleh banyak muslim telah mereduksi rasa penghargaan kepada wanita dan nilai-nilai
keadilan.
Pasal-pasal

dalam

perundang-undangan

Indonesia

tentang

poligami

sebenarnya sudah cukup berusaha mengatur agar laki-laki yang melakukan poligami
adalah laki-laki yang benar-benar mampu berbuat adil dan mampu menafkahi isteriisteri dan anak-anaknya. Selain itu, perundang-undangan Indonesia berupaya
menghargai isteri sebagai pasangan hidup. Terbukti bahwa untuk berpoligami suami
harus mendapat persetujuan isteri. Untuk mencapai tujuan ini, perundang-undangan
Indonesia memberikan kepercayaan yang besar kepada hakim pengadilan agama.14
Hal lain yang sangat perlu diperhatikan menyangkut ketentuan mengenai
kewajiban suami untuk berlaku adil dan jaminan suami bahwa ia memiliki
kemampuan untuk menafkahi isteri-isteri dan anak-anaknya. Dua kewajiban penting

14

Khoiruddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara : Studi Terhadap PerundangUndangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia, (Jakarta : INIS Leiden,
2002), hlm. 58.

Universitas Sumatera Utara

yang harus dipenuhi suami sebelum mengajukan permohonan menikah lagi ke
pengadilan agama ini ternyata tidak membawa konsekuensi hukum jika ternyata
dilanggar oleh suami. Sebab-sebab yang mendasari ketiadaan pengaturan tentang
sanksi terhadap pelanggaran prinsip kemampuan ekonomi dan berlaku adil menurut
kajian lebih dalam, sebab adanya sanksi sesungguhnya merupakan konsekuensi dari
adanya suatu kaidah hukum. Tentang ini Malinowski mengemukakan :15
“The rules of law stands out from the rest in that they are felt and regarded as
the obligations of one person and the rightful claims of another. They are
sanctioned not by a mere psychological motive, but by a definitive social
machinery of binding force…”
Franz Magnis Suseno dalam kalimat yang kurang lebih mengandung
kesamaan makna menyatakan bahwa norma hukum dikatakan berlaku hanya apabila
norma tersebut diterima dan diakui masyarakat. Ciri khas suatu norma hukum adalah
bahwa suatu pelanggaran tidak akan dibiarkan begitu saja. Artinya, norma hukum itu
bukan norma yang hanya diharapkan berlaku oleh penegak hukum dan pembuat
Undang-Undang, tetapi benar-benar berlaku dan secara nyata menentukan tingkah
laku masyarakat. Dengan demikian, maka bagi norma hukum, faktisitasnya
merupakan unsur yang menentukan.16
Penelitian dan jajak pendapat yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk
penelitian oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, ternyata menunjukkan bahwa
pelanggaran terbanyak atas ketentuan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun
15

Soerjono Soekanto, Pokok-pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada,
1999), hlm. 61.
16
Franz Magnis Suseno, Etika Politik : Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern,
(Jakarta : Gramedia, 1987), hlm. 74-75.

Universitas Sumatera Utara

1974 berkaitan dengan poligami.17 Penyebab banyaknya pelanggaran itu setidaknya
dapat dilihat dari sudut sosiologi hukum, yang salah satu tujuannya adalah meneliti
efektivitas ketentuan hukum dalam masyarakat.18 Salah satu tokohnya, Eugen
Ehrilch, pelopor sociological jurisprudence, mengemukakan bahwa hukum positif
hanya akan efektif dan ditaati apabila selaras dengan social patterns yang berlaku
di masyarakat.19 Oleh karena itu, perlu dikaji mengapa pasal-pasal hukum tentang
poligami sangat banyak dilanggar, sebab menurut Soerjono Soekanto dan
S. Hutagalung kesadaran hukum masyarakat untuk mentaati hukum adalah satusatunya sumber bagi daya mengikat hukum tersebut.20
Belakangan muncul wacana tentang perjanjian pranikah, yaitu suatu
perjanjian yang diproyeksikan sebagai “senjata” bagi wanita untuk melindungi
hak-haknya dalam apabila suaminya berpoligami. Perjanjian pranikah tersebut diatur
dalam Pasal 29 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang
berbunyi sebagai berikut :
1. Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas
persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh
pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak
ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut.
2. Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas
hukum, agama dan kesusilaan.
3. Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.

17

Badan Pembinaan Hukum Nasional, Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang 20 Tahun
Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, (Jakarta : Badan Pembinaan Hukum
Nasional, 1995), hlm. 21.
18
Soerjono Soekanto, Op.cit, hlm. 22.
19
Ibid, hlm. 36.
20
Ibid, hlm. 147

Universitas Sumatera Utara

4. Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat diubah, kecuali
bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan perubahan
tidak merugikan pihak ketiga.
Perjanjian pranikah sering juga disebut dengan perjanjian perkawinan. Jika
diuraikan secara etimologi, maka dapat merujuk pada dari dua akar kata, perjanjian
dan pernikahan. Dalam bahasa Arab, ‘janji’ atau ‘perjanjian’ biasa disebut dengan
atau,21 yang dapat diartikan dengan persetujuan yang dibuat oleh dua pihak atau
lebih, tertulis maupun lisan, masing-masing sepakat untuk mentaati isi persetujuan
yang telah dibuat bersama.22
Adapun perjanjian pranikah (prenuptial agreement), yaitu suatu perjanjian
yang dibuat sebelum pernikahan dilangsungkan dan mengikat kedua belah pihak
calon pengantin yang akan menikah dan berlaku sejak pernikahan dilangsungkan.
Perjanjian biasanya dibuat untuk kepentingan perlindungan hukum terhadap harta
bawaan masing-masing, suami ataupun isteri, meskipun undang-undang tidak
mengatur tujuan perjanjian perkawinan dan apa yang dapat diperjanjikan, segalanya
diserahkan pada kedua pihak.
Pada perkawinan poligami, perjanjian perkawinan ini merupakan salah satu
bentuk perlindungan terhadap isteri dalam menjaga hak-haknya sebagai salah satu
pihak dalam perkawinan poligami yang mungkin merasa dirugikan dengan adanya
praktek poligami yang dilakukan pihak suami. Misalnya akta perjanjian kawin di luar
persekuytuan harta benda dalam perkawinan yang isinya antara lain tidak ada

21
22

M. Abdul Mujieb, dkk., Kamus Istilah Fiqih, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1994), hlm. 138.
Sudarsono, Kamus Hukum, (Jakarta : Rineka Cipta, tt), hlm. 355.

Universitas Sumatera Utara

percampuran harta benda sehingga hutang yang dibuat masing-masing pihak menjadi
tanggungan masing-masing pihak. Selain itu misalnya semua pengeluaran biaya
pendidikan, pemeliharaan anak-anak yang lahir dari perkawinan mereka seluruhnya
menjadi tanggungan pihak suami. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji tentang
pemanfaatan perjanjian perkawinan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam upaya melindungi hak-hak isteri pada
perkawinan poligami.

B. Permasalahan
1. Bagaimana perlindungan hak-hak isteri dalam perkawinan poligami yang
telah dicatatkan ?
2. Hal-hal apa saja yang diperjanjikan dalam perjanjian perkawinan bagi isteri
yang dipoligami ?
3. Apa akibat hukum jika suami yang berpoligami melanggar perjanjian
perkawinan ?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui perlindungan hak-hak isteri dalam perkawinan poligami
yang telah dicatatkan.
2. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang diperjanjikan dalam perjanjian
perkawinan bagi isteri yang dipoligami.
3. Untuk mengetahui akibat hukum jika suami yang berpoligami melanggar
perjanjian perkawinan.

Universitas Sumatera Utara

D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
Diharapkan akan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan ilmu hukum perkawinan dan
hukum perdata pada umumnya.
2. Secara Praktis
Dapat diajukan sebagai pedoman dan bahan rujukan bagi rekan-rekan
mahasiswa, masyarakat, lembaga penegak hukum, praktisi hukum dan
pemerintah agar dapat lebih mengetahui dan memahami tentang hak-hak
perkawinan pada perkawinan poligami melalui perjanjian perkawinan di
Indonesia dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan peraturan
lainnya yang terkait di Indonesia. Penelitian ini juga sedapat mungkin
dilakukan agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu
peraturan yang baik adalah peraturan yang tidak saja memenuhi persyaratanpersyaratan formal sebagai suatu peraturan, tetapi menimbulkan rasa keadilan
dan kepatutan dan dilaksanakan/ditegakkan dalam kenyataannya.

E. Keaslian Penulisan
Berdasarkan pemeriksaan dan hasil-hasil penelitian yang ada, penelitian
mengenai “Perlindungan Terhadap Hak-hak Isteri Pada Perkawinan Poligami Melalui
Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974”
belum pernah dibahas oleh mahasiswa lain di lingkungan Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

dan tesis ini asli disusun oleh penulis sendiri dan bukan plagiat atau diambil dari tesis
orang lain. Semua ini merupakan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran
ilmiah. Sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara
ilmiah. Apabila ternyata ada tesis yang sama, maka penulis akan bertanggung jawab
sepenuhnya. Dari hasil observasi yang telah dilakukan, ada beberapa tesis yang
memiliki topik yang sama, namun dalam hal permasalahan dan pembahasannya jelas
berbeda dengan isi tesis ini, yakni :
1. Pengaturan Harta Bersama Dalam Perkawinan Poligami (Studi : Di Kecamatan
Medan Maimun) oleh Mahasiswa Magister Kenotariatan Fitria Agustina.
2. Perjanjian Perkawinan Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Dan
Hukum Islam oleh Mahasiswa Magister Kenotaritan Irma Febriani Nasution.
3. Pembagian Harta Bersama Dalam Hal Putusnya Perkawinan Karena Perceraian
oleh Mahasiswa Magister Kenotariatan Lusinda Maranatha Siahaan.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Teori dipergunakan untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala
spesifik atau proses tertentu terjadi.23 Sedang kerangka teori merupakan landasan dari
teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari
permasalahan yang dianalisis. Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran

23

JJ.M. Wuisman, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Asas-asas, Penyunting M. Hisyam, (Jakarta :
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996), hlm. 203.

Universitas Sumatera Utara

atau butir-butir pendapat teori, tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak
disetujui.24
Fungsi

teori

dalam

penelitian

tesis

ini

adalah

untuk

memberikan

arahan/petunjuk serta menjelaskan gejala yang diamati.25 Dikarenakan penelitian ini
merupakan penelitian hukum, maka kerangka teori diarahkan secara ilmu hukum dan
mengarahkan diri kepada unsur hukum.
Dalam ilmu hukum, ada empat unsur yang merupakan fondasi penting, yaitu :
moral, hukum, kebenaran, keadilan. Akan tetapi menurut filosof besar bangsa Yunani,
yaitu Plato, keadilan merupakan nilai kebajikan yang tertinggi. Menurut Plato, “Justice
is the supreme virtue which harmonize all other virtues.”26
Dikaitkan dengan fungsinya sebagai perlindungan kepentingan manusia, hukum
mempunyai tujuan dan hukum mempunyai sasaran yang hendak dicapai. Adapun
tujuan pokok hukum adalah menciptakan tatanan masyarakat yang tertib, menciptakan
ketertiban dan keseimbangan. Dengan tercapainya ketertiban dalam masyarakat
diharapkan kepentingan manusia akan terlindungi. Dalam mencapai tujuannya itu
hukum bertugas membagi hak dan kewajiban antar perorangan di dalam masyarakat,
membagi wewenang dan mengatur cara memecahkan masalah hukum serta memelihara
kepastian hukum.27

24

M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Madju, 1994), hlm. 80.
Snelbecker dalam Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja
Rosdakarya, 1993), hlm. 35.
26
Roscoe Pound, Justice According To Law, Yale University Press, New Haven USA, 1952,
hlm. 3.
27
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2003,
hlm. 77.
25

Universitas Sumatera Utara

Tentang isi keadilan sukar untuk memberi batasnya. Aristoteles membedakan
adanya dua macam keadilan, yaitu justitia distributiva dan justitia commutativa.
Justitia distributiva menuntut bahwa setiap orang mendapat apa yang menjadi hak atau
jatahnya, yang adil di sini ialah apabila setiap orang mendapat hak atau jatahnya secara
proporsional mengingat akan pendidikan, kedudukan, kemampuan dan sebagainya.
Sedangkan justitia commutativa memberi kepada setiap orang sama banyaknya, yang
adil ilah apabila setiap orang diperlakukan sama tanpa memandang kedudukan dan
sebagainya.28
Menganalisis perlindungan terhadap hak-hak isteri pada perkawinan poligami
melalui perjanjian perkawinan didasarkan pada pengertian tanggung jawab dalam
perjanjian yang dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Berdasarkan Pasal 1233
KUH Perdata yang menyatakan bahwa setiap perikatan dapat lahir dari undang-undang
maupun karena perjanjian. Jadi perjanjian adalah sumber dari perikatan. Sebagai
perikatan yang dibuat dengan sengaja, atas kehendak para pihak secara sukarela, maka
segala sesuatu yang telah disepakati, disetujui oleh para pihak harus dilaksanakan oleh
para pihak sebagaimana telah dikehendaki oleh mereka. Dalam hal salah satu pihak
dalam perjanjian tidak melaksanakannya, maka pihak lain dalam perjanjian berhak
untuk memaksa pelaksanaannya melalui mekanisme dan jalur hukum yang berlaku.29
Salah satu teori hukum kontrak klasik adalah teori kehendak. Menurut teori
kehendak, suatu kontrak menghadirkan suatu ungkapan kehendak diantara para
28

Ibid., hlm. 78-79.
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, (Jakarta :
Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 59.
29

Universitas Sumatera Utara

pihak, yang harus dihormati dan dipaksakan oleh pengadilan. Dalam teori kehendak
terdapat asumsi bahwa suatu kontrak melibatkan kewajiban yang dibebankan terhadap
para pihak.30
Gr. Van der Burght mengemukakan bahwa selain teori kehendak sebagai teori
klasik yang tetap dipertahankan, terdapat beberapa teori yang dipergunakan untuk
timbulnya suatu kesepakatan, yaitu :31
1. Ajaran kehendak (wilsleer), dimana ajaran ini mengutarakan bahwa faktor yang
menentukan terbentuk tidaknya suatu persetujuan adalah suara batin yang ada
dalam kehendak subjektif para calon kontraktan.
2. Pandangan normatif Van Dunne, dalam ajaran ini kehendak sedikitpun tidak
memainkan peranan. Apakah suatu persetujuan telah terbentuk pada hakikatnya
tergantung pada penafsiran normatif para pihak pada persetujuan ini tentang
dan peristiwa yang dihadapi bersama.
3. Ajaran kepercayaan (vetrouwensleer), ajaran ini mengandalkan kepercayaan
yang dibangkitkan oleh pihak lawan, bahwa ia sepakat dan oleh karena itu telah
memenuhi persyaratan tanda persetujuannya bagi terbentuknya suatu
persetujuan.
Perjanjian dibuat dengan pengetahuan dan kehendak bersama dari para pihak,
dengan tujuan untuk menciptakan atau melahirkan kewajiban pada salah satu atau
kedua belah pihak yang membuat perjanjian tersebut. Perjanjian sebagai sumber
30

Johannes Ibrahim dan Lindawaty Sewu, Hukum Bisnis dalam Persepsi Manusia Modern,
(Bandung : Refika Aditama, 2004), hlm. 39.
31
Ibid, hlm. 40.

Universitas Sumatera Utara

perikatan berbeda dari sumber perikatan lain, berdasarkan pada sifat kesukarelaan dari
pihak yang berkewajiban untuk melakukan prestasi terhadap lawan pihaknya dalam
perikatan tersebut. Dalam perjanjian, pihak yang wajib untuk melakukan suatu prestasi,
dalam hal ini debitur, dapat menentukan terlebih dahulu, dengan menyesuaikan pada
kemampuannya untuk memenuhi prestasi dan untuk menyelaraskan dengan hak yang
ada pada lawan pihaknya, apa, kapan, dimana, dan bagaimana ia akan memenuhi
prestasinya.32
Membicarakan perjanjian, tidak dapat dilepaskan dari KUH Perdata. Menurut
Pasal 1313 KUH Perdata, perjanjian dirumuskan sebagai suatu perbuatan dengan mana
satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.33
Menurut R. Setiawan, rumusan tersebut selain tidak lengkap juga sangat luas.
Tidak lengkap karena hanya menyebutkan persetujuan sepihak saja. Sangat luas karena
dipergunakannya perkataan “perbuatan” yang berarti tercakup juga perwakilan sukarela
dan perbuatan melawan hukum. Sehubungan dengan itu, perlu kiranya diadakan
perbaikan mengenai defenisi tersebut, sehingga perumusannya menjadi : “Perjanjian
adalah suatu perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau
saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.34
Sesuai dengan perkembangannya, perjanjian bukan lagi sebagai perbuatan
hukum, melainkan merupakan hubungan hukum. Pandangan ini dikemukakan oleh Van

32

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Op.cit, hlm. 14
Pasal 1313 KUH Perdata
34
R. Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, (Bandung : Binacipta, 1979), hlm. 49.
33

Universitas Sumatera Utara

Dunne, yang mengartikan tentang perjanjian, yaitu : “suatu hubungan hukum antara
dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.35
Dalam rangka menciptakan keseimbangan dan memelihara hak-hak yang
dimiliki oleh para pihak sebelum perjanjian yang dibuat menjadi perikatan yang
mengikat bagi para pihak, oleh KUH Perdata diberikan berbagai asas umum, yang
merupakan pedoman atau patokan, serta menjadi batas atau rambu dalam mengatur dan
membentuk perjanjian yang akan dibuat, hingga pada akhirnya menjadi perikatan yang
berlaku bagi para pihak, yang dapat dipaksakan pelaksanaannya atau pemenuhannya.36
Adapun prinsip-prinsip atau asas-asas yang menguasai hukum perjanjian yang
berkaitan dengan perjanjian perkawinan yaitu, asas konsensualisme, asas kebebasan
berkontrak, asas kekuatan mengikat (pacta sunt servanda), dan asas itikad baik. Asas
konsensualisme dilahirkan pada saat momentum awal perjanjian terjadi, yaitu pada
detik para pihak mencapai puncak kesepakatannya (Pasal 1320 angka 1 KUH Perdata).
Ketika para pihak menentukan hak dan kewajiban serta hal-hal lain yang menjadi
substansi perjanjian, maka para pihak memasuki ruang asas kebebasan berkontrak.
Dalam asas ini para pihak dapat menentukan bentuk dan isi dengan bebas sepanjang
dapat dipertanggungjawabkan dan bukanlah sesuatu yang terlarang (Pasal 1320 angka
4 KUH Perdata). Persetujuan secara timbal balik terhadap bentuk dan isi perjanjian
ditandai dengan adanya pembubuhan tanda tangan atau dapat dipersamakan dengan itu.

35

Lely Niwan, Hukum Perjanjian, (Yogyakarta : Dewan Kerjasama Ilmu Hukum Belanda
Dengan Indonesia Proyek Hukum Perdata, 1987), hlm. 26.
36
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Op.cit, hlm. 14.

Universitas Sumatera Utara

Akibatnya perjanjian tersebut mengikat kedua belah pihak dan harus dilaksanakan
dengan itikad baik. Sesuai asas pacta sunt servanda yang diatur dalam Pasal 1338
ayat (1) KUH Perdata yang menyatakan : “semua perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya” dan asas itikad baik
yang diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata yang menyatakan : “suatu
perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”.37
Menurut bentuknya, ada perjanjian yang berbentuk baku dan ada yang
berbentuk timbal balik. Adapun yang dimaksud dengan perjanjian baku adalah suatu
perjanjian yang dibuat hanya oleh salah satu pihak dalam kontrak tersebut, sedangkan
perjanjian berbentuk timbal balik adalah perjanjian yang menimbulkan hak dan
kewajiban kepada kedua belah pihak, dan hak serta kewajiban tersebut mempunyai
hubungan satu dengan lainnya (pihak satu yang mempunyai hak dan pihak lain sebagai
pihak yang berkewajiban).38 Perjanjian perkawinan dikategorikan sebagai perjanjian
yang timbal balik (tidak baku), untuk melakukan hal-hal tertentu, dimana pihak
pertama menghendaki dari pihak kedua agar dilakukannya suatu hal untuk mencapai
sesuatu tujuan.

37

Gunawan Widjaja, Memahami Prinsip Keterbukaan Dalam Hukum Perdata (Seri Hukum
Bisnis), (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 263-283.
38
J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Buku I, (Bandung :
Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 43.

Universitas Sumatera Utara

2. Kerangka Konsepsi
Guna menghindari kesalahpahaman atas berbagai istilah yang dipergunakan
dalam penelitian ini, maka berikut akan dijelaskan maksud dari istilah-istilah sebagai
berikut :
Perlindungan adalah jaminan perlindungan pemerintah dan/ atau masyarakat
dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.39
Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain
atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.40
Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang
wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.41
Perjanjian perkawinan adalah perjanjian dibuat oleh calon suami dengan calon
isteri pada waktu sebelum perkawinan dilangsungkan, perjanjian mana dilakukan
secara tertulis dan disahkan oleh pegawai pencatat nikah dan isinya berlaku juga
terhadap pihak ketiga sepanjang diperjanjikan.42
Dari sudut pandang terminologi, poligami berasal dari bahasa Yunani, dimana
kata poly berarti banyak dan gamien berarti kawin. Kawin banyak disini berarti seorang
pria kawin dengan beberapa wanita atau sebaliknya seorang wanita kawin dengan
39

www.hukumoneline.com. Diakses pada tanggal 13 Januari 2010.
Subekti, “Hukum Perjanjian”, (Jakarta : Cet. XII