HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT ORANG TUA DENGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PASIEN ANAK USIA 6-12 TAHUN DI RSGM UMY

(1)

i

MULUT PASIEN ANAK USIA 6-12 TAHUN DI RSGM UMY

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh: Muhamad Rakhim

20120340087

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016


(2)

ii

MULUT PASIEN ANAK USIA 6-12 TAHUN DI RSGM UMY

Disusun oleh: Muhamad Rakhim

20120340087

Telah diseminarkan pada tanggal: 9 Agustus 2016

Dosen Pembimbing Dosen Penguji

drg. Novitasari Ratna Astuti, M.P.H. drg. Sri Utami, M.P.H. NIK: 19791121201404173229 NIK: 19790612200910173110

Mengetahui,

Kaprodi Pendidikan Dokter Gigi FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

drg. Hastoro Pintadi, Sp. Pros. NIK: 19680212200410173071


(3)

iii

Bapak Mustofa, M.kes,Apt dan Triyanti Setyorini.Apt yang selalu memberikan doa restu, motivasi, semangat, cinta yang tiada henti dan penuh sabar Kakak-kakakku Annisa rosalisa safitri dan muhamad rahman semoga kita bisa

membahagiakan orang tua selalu.

Saudara dan teman-teman yang selalu memberikan semangat, nasehat dan kasih sayang selama ini.


(4)

iv

Penyayang atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Hubungan Tingkat Pengetahuan Komunikasi

Terapeutik Mahasiswa Profesi PSPDG UMY Terhadap Keterampilan

Komunikasi Dengan Pasien di RSGM UMY” untuk memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar sarjana Kedokteran Gigi. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangan, tetapi penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada:

1. dr. Ardi Pramono, Sp. An., M. Kes., selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

2. drg. Hastoro Pintadi, Sp. Pros., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

3. drg. Novitasari Ratna Astuti, M.P.H., selaku dosen pembimbing. Terima kasih atas waktu, ilmu, saran, inspirasi, semangat dan doa yang diberikan selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

4. drg. Sri Utami, M.P.H., selaku dosen penguji. Terima kasih atas waktu, saran, masukannya dan kesabarannya.


(5)

v

6. Bapak Mustofa M.Kes., Apt., dan Ibu Triyanti Setyorini, apt., yang selalu memberikan doa restu, motivasi, semangat dan cinta yang tiada henti.

7. Kakak-kakakku Annisa Rosalisa Safitri dan Muhamad Rahman yang selalu memberikan semangat dan dukungan

8. Rizki Ayu Avilla dan Nimas Sekar Sudarta yang selalu memberikan motivasi selama ini.

9. Dian Misbahi Khafia dan Cynintiya Ramadhani Roseaf yang membantu mengolah data dan menyusun KTI.

10. Sahabat-sabahat Osce Holic yang selalu mendukung dan mendoakan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

11. Teman-teman satu bimbingan Ulya Alfistra, Dicky Pratama dan Rahmad Umar yang telah bekerja sama dengan baik dan menukar pikiran bersama. 12. Keluarga besar KG 2012 yang saling memberikan semangat dan


(6)

vi Nama : Muhamad Rakhim NIM : 20120340087

Program Studi : Pendidikan Dokter Gigi

Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis ini benar-benar hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Karya Tulis Ilmiah ini.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Karya Tulis Ilmiah ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Yogyakarta, 8 Mei 2015 Yang membuat pernyataan,


(7)

vii

KATA PENGANTAR ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

INTISARI... xi

ABSTRACT ... xii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Keaslian Penelitian ... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka... 8

1. Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut... 8

2. Kebersihan gigi dan mulut... 12

3. Masa anak usia 6-12 tahun ... 16

4. RSGM UMY ... 18

B. Landasan Teori ... 20

C. Kerangka Konsep ... 21

D. Hipotesis ... 22

BAB III.METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian ... 23

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 23

C. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 24

D. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25

E. Variabel Penelitian ... 25

F. Definisi Operasional ... 26

G. Instrumen Penelitian ... 27

H. Jalannya Penelitian ... 27

I. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 29

J. Analisis Data ... 30

K. Alur Penelitian ... 31

L. Etika Penelitian ... 32

BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN A. HasilPenelitian ... 33

1. Analisis Univariat ... 33

a. Karakteristik responden orang tua ... 33

b. Karakteristik responden anak ... 34


(8)

viii

DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN


(9)

ix

Tabel 3. Responden Anak Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ... 34 Tabel 4. Rata-Rata Skor PHP-M pada Anak... 35 Tabel 5. Hasil Analisis UjiSpearman ... 35


(10)

(11)

(12)

xi

mulut pada anak adalah kurangnya menjaga kebersihan gigi dan mulut anak. Peran orang tua mengenai pengetahuan kesehatan gigi dan mulut sangatlah penting untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut anak. Pengetahuan yang kurang dari orang tua dapat dihubungkan dengan anak yang mengabaikan kebersihan gigi dan mulut.

Tujuan Penelitian:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut anak usia 6-12 tahun di RSGM UMY.

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan adalah 69 responden yang diambil dengan menggunakan tehnik Accidental sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua berupa kuesioner dan data skor PHP-M anak pada rekam medis.

Hasil penelitian: Hasil analisis Spearman menunjukkan bahwa nilai p 0,000 dengan koefisien korelasi 0,607 yang berarti terdapat hubungan yang sedang antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dan status kebersihan gigi dan mulut anak.

Kesimpulan: Terdapat hubungan yang sedang antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut anak usia 6-12 tahun di RSGM UMY, semakin baik tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua maka semakin tinggi status kebersihan gigi dan mulut anak.

Kata kunci: Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, status kebersihan gigi dan mulut, PHP-M


(13)

xii

children’s oral hygiene. Lack of parent’s knowledge may have related with children that ignore oral hygiene.

Purpose: The aim of this study is to find out the relation between parent’s knowledge level of dental and oral health and oral hygiene status of their children aged 6-12 years at RSGM UMY.

Method: This is an analitic observational with cross sectional design. The sample was taken with accidental sampling method and is found sampling were 69 parent’s that took their children to RSGM UMY to got treatment. The instrument used were questionnaires for parent’s knowledge and PHP-M oral hygiene forms for children.

Result: The spearman analysis result showed that P is 0,000 and correlation coefficient is 0,607 which means there are relation between parent’s level of oral health knowledge and children’s oral hygienestatus.

Conclusion: There are moderate relationship between parent’s dental and oral health knowledge level on 6-12years old children’s oral hygienestatus. Parents with high level of dental and oral health knowledge have children with high oral hygiene status.


(14)

1 A. Latar Belakang

Penyakit gigi dan mulut menempati peringkat sepuluh besar penyakit terbanyak di Indonesia (Depkes, 2014). Penduduk yang mempunyai masalah gigi dan mulut menurut Hasil Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas) oleh Departemen Kesehatan RI meningkat dari 23,2% tahun 2007 menjadi 25,9% pada tahun 2013. Penduduk yang mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut tersebut, persentase penduduk yang menerima perawatan medis gigi meningkat dari 29,7% tahun 2007 menjadi 31,1% pada tahun 2013. Provinsi DIY termasuk daerah nomor lima yang memiliki penduduk dengan kesehatan gigi buruk dengan persentase sebesar 8,5% (Depkes, 2014).

Prevalensi anak usia 5-9 tahun dan 10-14 tahun yang mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut berturut-turut sebesar 28,9% dan 25,2% (Depkes, 2014). World Health Organization 2004 menunjukkan masalah kesehatan gigi dan mulut pada kelompok umur 12 tahun dalam katagori sedang atau rata-rata indeks kebersihan gigi berkisar 1,3-3,0. Data RSGM menunjukkan pasien anak usia 6-12 tahun yang merawatkan gigi di RSGM UMY pada bulan januari berjumlah 260 pasien, pada bulan febuari berjumlah 284 pasien dan pada bulan maret berjumlah 174 pasien, sehingga total jumlah pasien anak usia 6-12 tahun pada awal tahun 2015 berjumlah 718 pasien, dengan kasus terbanyak terjadi pada karies gigi


(15)

yang berjumlah 233 kasus yang disebabkan oleh kurangnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Kebersihan gigi dan mulut pada masa anak-anak dapat diukur dengan menggunakan berbagai indeks salah satunya adalah Personal Hygiene Performanced Modified Index (PHP-M). Indeks ini sering digunakan untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut pada masa gigi geligi bercampur karena dapat menghitung secara obyektif (Sriyono dan Sudibyo, 2011).

Kesehatan adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Sehat secara rohani maupun jasmani penting bagi setiap orang tidak terkecuali anak-anak. Setiap orang tua menginginkan anaknya bisa tumbuh dan berkembang secara optimal yang hanya didapatkan dengan memiliki tubuh yang sehat. Kesehatan gigi dan mulut juga penting diperhatikan karena dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan (Malik, 2008).

Salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut pada anak adalah perilaku orang tua dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Perilaku orang tua ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan orang tua tentang kesehatan gigi dan mulut. Pengetahuan yang kurang dari orang tua dapat dihubungkan dengan anak yang mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Pengetahuan anak-anak akan pentingnya kebersihan gigi dan mulut masih kurang sehingga menyebabkan ketergantungan anak pada orang tua dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut (Notoatmodjo, 2012).


(16)

Anak usia 6-12 tahun atau usia sekolah dasar masih belum mengetahui dan mengerti bagaimana cara memelihara kebersihan gigi dan mulut, oleh sebab itu pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada periode ini perlu mendapatkan perhatian. Anak pada usia ini mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan sudah mulai peka untuk belajar. Pengetahuan orang tua sangat diperlukan pada masa ini untuk membentuk pengetahuan anak (Sutjipto, 2013). Pengetahuan orang tua mengenai kesehatan gigi dan mulut sangat penting untuk mendorong anak dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut tersebut dapat di peroleh secara alami maupun secara terencana melalui proses pendidikan. Orang tua dengan pengetahuan kurang mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor presdiposisi bagi anak yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut (Riyanti, 2005).

Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya mendorong kesehatan seseorang. Tingkat pengetahuan akan kesehatan akan memberikan seseorang pemahaman, upaya penanggulangan penyakit dan mengaplikasikan kesehatan, sehingga tumbuh kemauan seseorang untuk memelihara kebersihan gigi dan mulut.

Perintah untuk mencari ilmu pengetahuan dan menjaga kebersihan banyak terdapat dalam ayat-ayat Al-quran ataupun sabda Nabi Muhammad SAW. Diantara ayat dan hadits yang berhubungan dengan perintah mencari pengetahuan dan menjaga kebersihan adalah sebagai berikut:


(17)

Hai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan padamu berlapang-lapang pada majlis-majlsi, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila di katakan; Berdirilah! maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui dngan apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Mujadalah:11)

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa kebersihan gigi dan mulut merupakan komponen terpenting dalam membentuk kesehatan gigi dan mulut bagi anak-anak. Pengetahuan orang tua dapat memberikan pengalaman dan mengajarkan anak mengenai pentingnya kebersihan gigi dan mulut karena orang tua lah yang bertanggung jawab akan kesehatan gigi dan mulut. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut pasien anak usia 6-12 tahun di RSGM UMY.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut pasien anak usia 6-12 tahun di RSGM UMY ?


(18)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua terhadap status kebersihan gigi dan mulut pasien anak usia 6-12 tahun di RSGM UMY. D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Orang Tua

Orang tua akan semakin mengerti bahwa memberikan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak sejak dini sangat bermanfaat.

2. Bagi RSGM UMY

Memberikan informasi status kebersihan gigi dan mulut pasien anak di RSGM dilihat dari pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua.

3. Bagi Mahasiswa kedokteran

Dapat dijadikan sumber pustaka untuk dilakukannya penelitian selanjutnya.

4. Bagi Penulis

Dapat mengetahui hubungan antara pengetahuan kesehatan ggi dan mulut orang tua dengan kebersihan gigi dan mulut anak.


(19)

E. Keaslian Penelitian

Pembahasan tentang tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mult anak usia 6-12 tahun di RSGM UMY belum pernah diteliti sebelumnya. Pembahasan mengenai hubungan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan anak sudah pernah dilakukan penelitian, diantaranya:

1. Worang dan Pangemanan (2014) melakukan penelitian dengan judul

“Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Dengan Kebersihan Gigi dan Mulut Anak di TK Tunas Bhakti Manado”. Persamaan antara

penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah terdapat pada desain penelitian yang menggunakan pendekatancross sectional. Perbedaan terdapat pada subjek penelitian dan uji statistik yang digunakan. penelitian sebelumnya subjek penelitian nya adalah anak TK di Tunas Bhakti Manado namun tidak di jelaskan usia anak yang akan diteliti sedangkan penelitian ini anak berusia antara 6-12 tahun. Analisis data yang di gunakan, pada penelitian sebelumnya adalah uji korelasi pearson sedangkan pada penelitian yang akan ini menggunakan ujispearman.

2. Yulianti R.P. dan Muhlisin A. (2011) melakukan penelitian dengan

judul “Hubungan Antara Pengetahuan Orang Tua Tentang Kesehatan

Gigi dan Mulut dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak di SDN V

Jateng Karangayar”. Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan di lakukan adalah pada desain penelitian yang


(20)

menggunakan cross sectional. Perbedaan dari kedua penelitian ini terdapat pada variabel dependent dan Analisis data. Peneltian sebelumnya variabel dependent adalah kejadian karies gigi pada anak sedangkan penelitian yang akan dilakukan variabel dependent adalah status kebersihan gigi dan mulut pada anak. Analisis data yang digunakan pada penelitian sebelum nya menggunakan analisis data uji Kolmogorov-Smirnovdan analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah ujispearman.

3. Jain R dkk. (2014) melakukan penelitian dengan judul “Knowledge, attitude and practices of mothers toward their children’s oral health: A questionnaire survey among subpopulation in Mumbai (India)

persamaan penelitian ini dan penelitian yang akan di lakukan adalah terdapat pada desain penelitian yang menggunakan cross-sectional. Perbedaan penelitian terdapat pada analisis data dan subjek penelitian, pada penelitian sebelumnya analisis data yang digunakan one-way ANOVA, sedangkan pada penelitian menggunakan uji spearman. Subjek penelitan yang digunakan pada penelitian sebelumnya adalah anak usia 3-5 tahun pada penelitian ini subjek yang digunakan adalah anak usia 6-12 tahun.


(21)

8 A. Telaah Pustaka

1. Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut a. Definisi pengetahuan.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan manusia sebagian besar diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain membentuk tindakan seseorang (over behaviour) (Notoatmodjo, 2012).

Pengetahuan orang tua sangat penting dalam kesehatan gigi anak, mengingat pada anak-anak banyak sekali didapatkan masalah kesehatan gigi dan mulut. Orang tua diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak, agar anak dapat memelihara kebersihan gigi dan mulutnya. Orang tua juga mempunyai peran yang cukup besar di dalam mencegah terjadinya akumulasi plak dan terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak (Christiono, 2011)


(22)

Pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dalam konteks kesehatan sangat beraneka ragam. Menurut (Budiman dan Riyanto, 2013) pengetahuan di bagi menjadi 2 jenis yaitu:

1) Pengetahuan implisit

Pengetahuan Implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dengan faktor yang tidak bersifat nyata, seperti keyakinan pribadi, prinsip, dan perspektif. Pengetahuan implisif sering berisis kebiasaan dan budaya yang di miliki oleh seseorang, sebagai contoh: orang tua mengetahui bahwa menyikat gigi anak sebelum tidur malam dapat menghindari karies pada anak namun orang tua masih belum melaksanakan.

2) Pengetahuan eksplisit.

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah di dokumentasikan dan disimpan dalam wujud nyata yang dapat membentuk perilaku kesehatan seseorang, sebagai contoh: orang tua mengetahui bahwa menyikat gigi anak sebelum tidur malam dapat menghindari karies pada anak dan orang tua sudah menyikat gigi anak setiap malam hari.

b. Tingkatan pengetahuan.

Menurut (Notoatmodjo, 2012) pengetahuan tercakup dalam enam tingkatan yaitu:


(23)

1) Tahu (know)

Mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya yang termasuk ke dalam pengetahuan tingkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) dari bahan yang telah di pelajari atau rangsangan yang sudah diterima. Tingkatan pengetahuan ini adalah tingkatan yang paling rendah.

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai kemmapuan untuk menjelaskan suatu objek secara benar yang telah di ketahui dan menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham dan mempelajari objek dapat dengan jelas, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan meramalkan objek tersebut.

3) Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menggunakan materi yang telah dia pelajari sebelumnya pada suatu kondisi atau kondisi real (sebenarnya).

4) Analisis (Analysis)

Analisis diartikan sebagai kemampuan menjabarkan suatu objek atau materi ke dalam sebuah komponen-komponen tetapi masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan.


(24)

5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis merupakan emampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6) Evaluasi(Evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu obyek tertentu.

c. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan.

Pengetahuan di pengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya yaitu (Budiman dan Riyanto, 2013):

1) Pendidikan

Pendidikan adalah sebuh proses pengubahan sikap, mengembangkan kepribadian, dan tata laku seseorang atau kelompok untuk mendawasakan manusia melalui upaya pelajaran dan pelatihan. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan pengetahuan karena dapat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang.

2) Informasi

Informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui, yang dapat kita simpan, manipulasi, mengumumkan, menganalisis dan menyebarkan informasi itu untuk tujuan tertentu.

3) Sosial, budaya dan ekonomi

Sosial dan budaya adalah suatu kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok tanpa melalui


(25)

penalaran apakah yang dilakukan itu baik atau buruk. Status ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang karena dengan status ekonomi akan menentukan tersedianya suatu fasilitas.

4) Lingkungan

Lingkungan berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang karena dengan lingkungan terjadi interaksi timbal balik yang dapat direspon oleh seseorang tersebut.

5) Pengalaman

Pengalaman sebagi sumber pengetahuan adalah suatu untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi sebelumnya.

6) Usia

Usia sangat berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang karena usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Usia madya seseorang akan berperan aktif untuk mencari, mempelajari, menangkap informasi dan bersiap dengan pengetahuan yang didapat untuk menyesuaikan diri pada masa yang akan datang.

2. Kebersihan Gigi dan Mulut

Kebersihan gigi dan mulut (oral hygiene) merupakan suatu pemeliharaan kebersihan dan hygiene struktur gigi dan mulut melalui


(26)

sikat gigi, stimulasi jaringan, pemijatan gusi, hidroterapi, dan prosedur lain yang dapat menjaga pertahan gigi dan kesehatan mulut (Dorland, 2002) kebersihan gigi dan mulut merupakan upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada tiap individu.

Pengukuran tingkat kebersihan gigi dan mulut dapat dilakukan dengan berbagai macam indeks, baik untuk mengukur debris, kalkulus, maupun plak. Plak dapat dijumpai paling tidak ada 6 indeks untuk mengukur ada tau tidak adanya plak (Sriyono dan Sudibyo, 2011)

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut. Berdasarkan Carranza (2012), kebersihan gigi dan mulut dipengaruhi oleh beberapa faktor:

1) Plak gigi

Plak merupakan akumulasi dari bakteri dan debris yang terdapat pada permukaan gigi. Plak biasa ditemukan pada bagian occlusal pits, fissures, margin cervical gigi dan di periodontal pocket (Felton dan Alison, 2009)

Plak adalah akumulasi mikrobilogi yang tidak termineralisasi yang menempel pada permukaan gigi, restorasi gigi dan alat-alat prostetik yang menunjukkan organisasi struktural dengan predominance dari bentuk filamentous yang terbentuk oleh matrik organiks yang diperoleh


(27)

glikoprotein,saliva dan produk-produk mikrobra ekstra seluler dan tidak bisa di hilangkan dengan berkumur air (Axelsson, 2002)

2) Pembentukan Plak Gigi

Menurut Kidd dan Bechal (2013) menyataan bahwa plak gigi merupakan lengketan yang berisi bakteri serta produk-produkya, yang terbentuk pada semua permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini tidak terjadi secara kebetulan melainkan terbentuk melalui serangkaian tahapan. Email yang bersih terpapar di rongga mulut maka akan di tutupi oleh lapisan organic yang amorf yang di sebut pelikel. Pelikel ini terdiri atas glikoprotein yang diendapkan dari saliva dan terbentuk segera setelah penyikatan gigi. Sifatnya sangat lengket dan mampu membantu melekatkan bakteri-bakteri tertentu pada permukaan gigi.

Bakteri yang mula-mula menghuni pelikel terutama terbentuk kokus. Streptokokus adala yang paling banyak. Organisme tersebut tumbuh, berkembang biak dan mengeluarkan gel sel estrak-sel yang lengket dan akan menjerar berbagai bentuk bakteri yang lain. Plak dalam beberapa hari aka bertambah tebal dan terdiri dari berbagai macam mikroorganisme. Flora plak yang tadinya didominasi


(28)

oleh bentuk kokus berubah menjadi flora campuran yang terdiri dari atas kokus, batang, dan filament.

b. Indeks kebersihan mulut PHP-M (Personal Hygiene Performance-Modified)

Indeks kebersihan gigi dan mulut PHP-M (Personal Hygiene Performance-Modified) dari Martin dan Meskin (1972) merupakan indeks yang telah dimodifikasi dari Indeks PHP (Patient Hygiene Performance Index) dari Podshadley dan Haley (1986), metode dari indeks PHP-M ini sering digunakan untuk pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut pada masa geligi campuran. Prinsip pemeriksaan hampir sama dengan indeks PHP, permukaan yang diperiksa adalah bagian bukal dan lingual. Indek PHP ini untuk menilai debris, sedangkan indeks PHP-M untuk mengukur plak secara obyektif. Pemeriksaan PHP-M menggunkan disclousing agent sebagai indicator plak pada gigi. PHP-M bila di pakai sebagai alat ukur kebersihan mulut yang dikombinasikan dengan instruksi pada individu, maka akan dapat diketahui hasil dari tingkat kebersihan mulut (Sriyono dan Sudibyo, 2011)

Berdasarkan Sriyono dan Sudibyo (2011) gigi yang diperiksa pada metode PHP-M ini diantaranya adalah:


(29)

2) Gigi kaninus atas kanan sulung atau permanen, bila gigi ini tidak ada dapat digunakan gigi anterior lainnya

3) Gigi molar satu atas kiri sulung atau premolar satu atas kiri 4) Gigi paling posterior yang tumbuh di kwadran kiri bawah 5) Gigi kaninus kiri bawah sulung atau permanen, bila gigi ini

tidak ada dapat dipakai gigi anterior lainnya.

6) Gigi molar satu kanan bawah sulung ata premolar satu kanan bawah.

c. Tahapan penentuan skor PHP-M

Penilain dimulai dengan membuat garis imaginer pada gigi sehingga membentuk 5 garis imaginer. Gigi dinilai pada permukaan lingual dan labial. Plak terlihat di salah satu area, maka diberi skor 1, jika tidak ada plak diberi skor 0 atau tanda (-). Hasil penilaian plak yaitu dengan menjumlahkan setiap skor plak pada setiap permukaan gigi, sehingga skor plak untuk setiap gigi dapat berkisar antara 0-10. Skor plak untuk semua gigi dapat berkisar antara 0-60

3. Masa Anak Usia 6-12 Tahun

Masa Anak adalah masa di mana seseorang telah melewati masa pra kelahiran dan masa bayi. Menurut Santrock (2012) masa kanak-kanak di bagi menjadi 2 yaitu:


(30)

a. Masa kanak-kanak awal (early childhood)

Masa kanak-kanak awal atau early childhood adalah periode perkembangan yang dimulai dari akhir masa bayi hingga usia 5 atau 6 tahun. Periode ini kadang kala disebut sebagai

“tahun-tahun prasekolah”. Selama masa ini , anak-anak kecil belajar untuk lebih mandiri dan merawat dirinya sendiri, mengembangkan sejumlah keterampilan kesiapan sekolah (mengikuti intruksi, mengenali huruf), dan meluangkan banyak waktu untuk bermain.

b. Masa kanak-kanak pertengahan dan akhir (middle and late childhood)

Masa kanak-kanak pertengahan dan akhir atau middle and late childhood adalah periode perkembangan yang berlangsung antara 6 hingga 12 tahun, kurang lebih bersamaan dengan sekolah dasar. Anak-anak pada periode ini mulai belajar menguasai keterampilan-keterampilan dasar seperti membaca, menulis, aritmetika. Anak pada masa ini sudah dihadapkan dengan dunia yang lebih luas serta kebudayaannya.

Menurut Khairani (2013), anak umur usia 6-12 tahun adalah periode anak akhir yang dimulai ketika mereka memasuki sekolah dasar di mana mereka akan mendapatkan pengetahuan penting, berguna, dan anak mulai mempelajari dan mengembangkan keterampilan yang mereka miliki.


(31)

Anak- anak akan mempelajari aspek hidup keseharian dari orang tuanya, proses ini akan di sebut sebagai sosialisasi dan akan terus berjalan secara bertahap, orang tua merupakan tempat awal anak memperoleh pengetahuan baik itu tentang kesehatan gigi dan mulut. Anak yang terlalu sering mengalami masalah gigi dan mulut di sebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua akan kesehatan gigi dan mulut sehingga perlu berhati-hati dalam melakukan program bagi anak-anak. Orang tua yang memiliki tingkat pengetahuan yang bagus yakin bahwa anak mereka yang memiliki masalah kesehatan gigi dan mulut akan dapat memberikan solusi yang lebih positif (Welbury dkk.,2005). 4. Rumah Sakit Gigi dan Mulut UMY (RSGM UMY)

Menurut Permenkes RI no 1173/Menkes/Per/X/2004, rumah sakit gigi dan mulut, selanjutnya di singkat RSGM adalah sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut perorangan untuk pelayanan pegobatan dan pemulihan tanpa mengabaikan pelayanan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang dilaksananakan memalui pelayanan rawat jalan, gawat darurat dan pelayanan tindakan medik.

Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UMY merupakan rumah sakit khusus yang menangani masalah gigi dan mulut sejak berdirinya rumah sakit ini pada tahuun 2008. Kegiaatan RSGM meliputi pelayanan, pendidikan, dan penelitian. Kegiata pelayanan


(32)

meliputi pelayanan gigi primer, sekunder dan tersier dengan standar pelayanan prima serta pelayanan penunjang yang meliputi laboratorium, radiologi dan laboratorium pemrosesan bahan. Kegiatan pendidikan melalui penyediaan sarana pendidikan dan latihan bagi jenjang diploma, S1, S2 dan S3 serta Sp bidang kedokeran gigi. Kegitan penelitian dan pengembangan diarahkan kepada kajian-kajian yang terkait dengan pengembangan ilmu kedokteran gigi, pendidikan berkelanjutan untuk meningkatkana mutu pelayanan, pengobatan efektif dan efisien (Kisdianata dkk,, 2016).

Menurut Permenkes RI no 1173/Menkes/Per/X/2004fungsi RSGM adalah menyelenggarakan:

1) Pelayanan medik gigi dasar, spesialistik dan subspesialistik. 2) Pelayanan penunjang.

3) Pelayanan rujukan.

4) Pelayanan gawat darurat kesehatan gigi dan mulut. 5) Pendidikan.

6) Penelitian dan pengembangan

Data RSGM UMY menunjukkan pasien anak usia 6-12 tahun yang merawatkan gigi di RSGM UMY pada Bulan Januari berjumlah 260 pasien, Bulan Febuari berjumlah 284 pasien dan Bulan Maret berjumlah 174 pasien, sehingga total jumlah pasien anak usia 6-12 tahun pada awal tahun 2015 berjumlah 718 pasien.


(33)

B. Landasan Teori

Pengetahuan adalah merupakan suatu hasil dari tidak tahu menjadi tahu yang di dapatkan setelah orang melakukan peindraan terhadap suatu objek yang telah dipelajari. Pengindraan itu bisa di dapatkan melalui penglihatan,pendengaran, penciuman, perabaan bahkan penciuman. Pengetahuan dibagi menjadi 2 yaitu pengetahuan implisit yaitu pengetahuan yang kita dapat namun tidak kita aplikasikan dan eksplisif adalah pengetahuan yang kita dapat dan dapat kita aplikasikan. Tingkat pengetahuan di bagi menjadi 6 yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi, dari 6 tingkat ini kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan seseorang yang dimiliki. Pengetahuan orang tua akan kesehatan gigi dan mulut dapat membantu meningkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak.

Kebersihan gigi dan mulut adalah keadaan di mana rongga mulut bersih dari plak, debris, dan stain yang dapat menimbulkan berbagai penyakit periodontal. Kebersihan gigi dan mulut dapat di nilai menggunakan indeks Personal Hygiene Performanced Modified (PHP-M) yaitu indeks yang menggunakan disclosing agent yang dapat mengukur tingkat kebersihan gigi dan mulut pada masa gigi bercampur secara obyektif dengan melihat jumlah plak pada permukaan gigi.

Anak usia 6-12 tahun adalah masa pertengahan dan akhir (middle and late childhood) adalah masa di mana anak mulai dapat memahami dan mulai belajar apa yang telah dia lihat dan ketahui. Anak mulai


(34)

bersosialisasi dengan orang-orang namun orang tua adalah awal dari pengetahuan tersebut karena anak mempelajari aspek hidup dari orang tua, yang disebut sebagai proses sosialisasi. Anak yang yang terlalu sering mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua akan kesehatan gigi dan mulut sehingga pengetahuan orang tua akan kesehatan gigi dan mulut sengat perlu diperhatikan pada masa anak usia 6-12 tahun.

C. Kerangka Konsep

Gambar 1. Kerangka Konsep Keterangan :

= Variabel yang di teliti = Variabel yang tidak diteliti

Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua

Status Kebersihan gigi dan mulu Anak Faktor Pengaruh 1. Pendidikan 2. Informasi 3. Sosial, budaya, dan ekonomi 4. Lingkungan 5. Pengalaman 6. Usia Personal Hygiene Performaced Modified (PHP-M) Tingkat Pengetahuan : 1. Tahu 2. Memahami 3. Aplikasi 4. Analisis 5. Sintesis 6. Evauasi


(35)

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut pada anak usia 6-12 tahun di RSGMUMY.


(36)

23 A. Desain penelitian

Desain penelitian adalah observasional analitikdengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antar variabel dan subjek dalam penelitian diamati sekali, pengukuran terhadap variabel subjek dilakukan pada saat pemeriksaan (Dahlan, 2010)

B. Sampel dan Populasi 1. Populasi

Populasi penelitian adalah sekelompok subjek atau data dengan karateristik tertentu (Sastroasmoro dan Ismael, 2002). Populasi penelitian adalah orang tua yang merawatkan gigi anak di RSGM UMY dan anak yang mendapatkan perawatan gigi di RSGM UMY

2. Sampel

Sampel penelitian adalah subset (bagian) populasi yang di teliti (Sastroasmoro dan Ismael, 2002). Sampel pada penelitian ini adalah orang tua dan anak yang berkunjung ke RSGM UMY untuk merawatkan gigi anak pada mahasiswa profesi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah yaitu accidental sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan kebetulan, siapa saja yang secara kebetulan atau accidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel atau sumber data (Riyanto, 2011).


(37)

Sampel menggunakan rumus sebagai berikut : =( )

= (1,96) 0,2(1 0,2)

0,1 = 62

Keterangan: n = jumlah responden

Zα = Deviat baku alpha(5% = 1,96)

P = Proposi kategori (dariJain et all, 2014 = 0,2) Q = 1-P

d = presisi (10% = 0,1)

Sehingga sampel yang akan di gunakan 62 + 10 % = 69 responden.

C. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 1. Kriteria Inklusi

Kriteria Inklusi yang digunakan dalam penelitian ini a) Orang tua yang memiliki anak usia 6-12 tahun b) Orang tua yang bersedia menjadi responden

c) Orang tua dengan anak yang memiliki fisik yang normal atau tidak berkebutuhan khusus

2. Kriteria Eksklusi

Anak dengan dengan keseluruhan gigi yang akan di nilai masih merupakan gigi decidui.


(38)

D. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian di laksanakan di RSGM UMY 2. Waktu Penelitian di laksanakan pada Bulan Juni 2015

E. Variabel Penelitian

Variabel adalah karakteristik subjek penelitian yang berubah dari satu subjek ke subjek lainnya (Hidayat, 2007)

1. Variabel Bebas (Independent)

Variabel bebas pada penelitian ini adalah pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua.

2. Variabel Terikat (Dependent)

Variabel Terikat pada penelitian ini adalah status kebersihan gigi dan mulut anak usia 6-12 tahun.

3. Variabel Terkendali

Variabel terkendali pada penelitian ini adalah anak usia 6-12 tahun

4. Variabel tidak terkendali

Variabel tidak terkendali pada penelitian ini adalah jenis kelamin anak, status pendidikan orang tua, status ekonomi, perilaku orang tua dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.


(39)

F. Definisi Operasional

Definisi Operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Hidayat, 2007), Definisi Operasional dari penelitian ini adalah:

1. Pengetahuan Orang Tua tentang Kesehatan Gigi dan Mulut.

Pengetahuan orang tua tentang kesehatan gigi dan mulut adalah sesuatu yang di ketahui, dipahami, dan dapat diaplikasikan tentang cara untuk mendapatkan kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut yang meliputi: kesehatan dan kebersihan gigi, penyebab gigi berlubang, perawatan gigi dan mulut, dan pencegahan gigi dan mulut. Alat ukur yang di gunakan pada penelitian ini adalah kuesioner dengan skala pengukuran tingkat pengetahuan yang terdiri dari : Baik (≥ 75%), Sedang (56%-74%), Buruk (≤ 55 %)(Budiman dan Riyanto, 2013). Skala data pada tingkat pengetahuan adalah ordinal.

2. Status Kebersihan Gigi dan Mulut Anak

Kebersihan gigi dan mulut anak adalah kondisi yang menggambarkan keadaan rongga mulut anak yang dilihat dari adanya plak pada permukaan gigi bukal dan lingual. Alat Ukur Penilaian di ukur dengan menggunakan indeks kebersihan gigi PHP-M yaitu kebersihan gigi dan mulut dilihat dari jumlah total skor plak pada permukaan gigi. Data pada penilaian ini adalah ratio.


(40)

c. Anak usia 6–12 tahun

Anak usia 6 -12 tahun adalah masak kanak –kanak yang terjadi bersamaan dengan usia sekolah dasar. Respoden anak didapatkan berdasarkan hasil wawancara terhadap responden orang tua yaitu usia pada saat penelitian adalah 6 – 12 tahun berdasarkan ulang tahun terakhir anak.

G. Instrumen Penelitian.

Instrumen Penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmojo, 2010). Peneliti dalam penelitian ini menggunakan instrument berupa kuesioner dan data sekunder yang berupa hasil rekam medis PHP-M pada anak.

Kuesioner pengetahuan kesehatan gigi dan mulut terdiri dari 30 butir pertanyaan yang diadaptasi dari Khanza (2014) dengan komponen pertanyaan berupa 10 pernyataan mengenai cara merawat kebersihan gigi, 10 pernyataan mengenai penyebab gigi berlubang dan 8 pernyataan mengenai merawat gigi dan mulut. Kuesioner yang diisi oleh responden dengan skala data ordinal.

1. Tingkat pengetahuan kategori baik jika nilai≥ 75%

2. Tingkat Pengetahuan kategori sedang jika nilai 56-74 % 3. Tingkat Pengetahuan kategori buruk jika nilai≤ 55 %

H. Jalannya Penelitian


(41)

1. Tahap persiapan

a. Penyusunan proposal karya tulis ilmiah dan seminar proposal yang dilaksanakan pada bulan April-Juni 2015.Membuat surat ijin dan melakukan pre-penelitian untuk mengumpulkan data jumlah pasien anak usia 6-12 tahun di RSGM UMY

b. Pembuatan ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan FKIK UMY.

c. Pembuatan surat ijin melakukan penelitian di RSGM UMY setelah proposal disetujui.

d. Pembuatan kuesioner.

e. Menguji validitas dan reliabilitas kuesioner pada 26 responden orang tua yang sedang melakukan perawatan di RSGM UMY f. Analisis hasil uji validitas dan reliabilitas.

2. Tahap pelaksanaan

a) Menentukan hari penelitian dan menyerahkan surat ijin penelitian. b) Mempersilahkan responden untuk mengisi informed consent dan

lembar kuesioner.

c) Membagikan kuesioner kepada orang tua yang merawatkan anak di RSGM UMY dan melakukan pengisian PHP-M oleh peneliti dilihat dari rekam medis pada anak.

d) Mengumpulkan kuesioner yang telah diisi oleh responden. e) Menyajikan data hasil penelitian.


(42)

g) Menarik kesimpulan. I. Uji Validitas dan Uji Realibilitas.

1. Uji Validitas

Menurut Budiman dan Riyanto (2013), Uji Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat validitas atau kesahihan instrument. Suatu instrument dikatakan valid atau sahih mempunyai validitas yang tinggi dan sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah.

Uji validitas dilakukan untuk menguji setiap pertanyaan angket tehnik uji yang digunakan adalah korelasiproduct moment.Instrumen dikatakan valid apabila nilai koofisien korelasi r hitung > r (Riwidikdo, 2012). Nilai (r) tabel dengan jumlah responden 26 orang tua adalah 0,404. Hasil uji validitas kuesioner tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dari 30 item pernyataan terdapat 4 item pernyataan yang dinyatakan tidak valid yaitu nomor 12, 20, 21 dan 24. Hasil akhir dari uji validitas didapatkan hasil 26 item pernyataan pada kuesioner tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut.

2. Uji Realibilitas

Uji Realibilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat di percaya atau dapat di handalkan (Budiman dan Riyato, 2013). Teknik uji realibilitas dapat menggunaka koefisien realibilitas Alpha Cronbach. Instrumen penelitian dikatakan reliabel apabila nilai alpha (α) > 0,7 (Uyanto, 2009). Nilai alpha (α) pada


(43)

instrumen tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut adalah 0,737 maka instrumen dikatakan reliabel.

J. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dari karakteristik usia dan jenis kelamin responden.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat yang digunakan pada penelitian ini adalah uji korelasispearmankarena skala data variabel penelitian adalah ordinal dan ratio. Uji korelasi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang dengan status kebersihan gigi dan mulut anak.


(44)

K. Alur Penelitian

Gambar 2. Alur Penelitian

Penilaian skor PHP-M oleh penilti yang dilihat

dari rekam medis yang Sampel orang tua yang merawatkan anak

nya di mahasiswa profesi RSGM UMY

Informed consent

Pengumpulan data

Perkenalan, pengarahan dan penjelasan mengenai jalan nya penelitian

Pengisian kuisioner pengetahuan kesehatan gigi

dan mulut pada orang tua

Laporan Analisis data


(45)

L. Etika Penelitian

Peneliti harus melaksanakan beberapa prosedur etik dalam melaksanakan penelitian ini, antara lain:

1. Peneliti mengajukanethical clearancekepada tim Komite Etik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY.

2. Peneliti mengajukan surat ijin penelitian kepada RSGM UMY.

3. Peneliti menjelaskan prosedur penelitian kepada subjek penelitian kemudian subjek menandatanganiinformed consentsecara sukarela. 4. Apabila terdapat penolakan dari subjek penelitian, peneliti harus


(46)

33 A. Hasil Penelitian

1. Analisis Univariat

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 69 responden yang terdiri dari 69 orang tua dan 69 pasien anak usia 6-12 tahun yang melakukan perawatan di RSGM UMY.

a. Karakteristik responden orang tua

Karakteristik responden berdasarkan usia dan jenis kelamin orang tua dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan (76,8%) dengan usia responden terbanyak adalah 36-45 tahun (55%).

Tabel 1. Karakteristik Responden orangtua Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia Karakteristik n (%) Umur

26-35 27 (39,1)

36-45 38 (55)

46-55 4 (5,9)

Jenis Kelamin

Laki - Laki 16 (23,3) Perempuan 53 (76,8)


(47)

Tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2 menunjukkan hasil bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kesehatan gigi dan mulut yang baik (77%).

b. Karakteristik responden anak

Karakteristik responden berdasarkan usia dan jenis kelamin pasien anak dapat dilihat Tabel 2 berikut:

Tabel 3 memperlihatkan bahwa responden pasien sebagian besar berusia 6–8 tahun (54%) dan responden terbanyak adalah perempuan (59%).

Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Orang Tua Berdasarkan Jenis Kelamin Tingkat Pengetahuan Perempuan Laki-laki Total

n (%) n (%) n (%) Baik 39 (73,5) 14 (26,5) 53 (77%) Sedang 14 (87,5) 2 (12,5) 16 (23%)

Tabel 3. Responden Anak

Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Karakteristik n (%) Usia

6–8 tahun 37 (54%) 9–12 tahun 32 (46%) Jenis Kelamin

Perempuan 41 (59%) Laki -Laki 28 (41%)


(48)

c. Karateristik tingkat kebersihan gigi dan mulut anak

Rata-rata skor penilaian PHP-M dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4. menunjukkan bahwa rata-rata skor PHP-M anak yang merawatkan gigi di RSGM UMY sebesar 19,05.

2. Hasil Analisis Uji Spearman

Hasil analisis uji Spearman dapat dilihat pada Tabel. 5 berikut Tabel 5. Hasil Analisis UjiSpearman

Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai P = 0,000 (P < 0,05) yang berarti H0 ditolak maka Ha diterima sehingga, tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua berhubungan dengan status kebersihan gigi dan mulut anak.

Berdasarkan hasil uji korelasi di dapat nilai koefisen korelasi (r=0,607) yang menunjukkan bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi sedang.

Tabel. 4 Rata-Rata Skor PHP-M pada Anak

Perempuan Laki- laki Rata-rata skor (n=41) (n=28) total PHP-M Rata-rata

18,09 20,17 19,5 skor PHP-M

Kebersihan Pengetahuan Correlation Coefficient .607

Sig. .000


(49)

B. Pembahasan

Penelitian ini menggunakan responden sebanyak 69 orang tua yang mengantarkan anaknya merawatkan gigi di RSGM UMY pada mahasiswa profesi. Hasil penelitian ini menunjukkan distribusi karakteristik orang tua yang mayoritas adalah berjenis kelamin perempuan atau mayoritas adalah ibu (76,8%) dengan usia rata-rata responden 36-45 tahun (55%). Ibu merupakan peranan penting dalam menjaga kebersihan gigi anak hal ini didukung oleh (Kumar dkk 2013) yang mengatakan bahwa peran ibu sangat diperlukan untuk membimbing, memberikan pengertian, mengawasi dan menyediakan fasilitas untuk anak agar anak dapat memelihara kebersihan gigi dan mulutnya. Menurut Azwar (2006) umur merupakan salah satu faktor yang menentukan kematangan seseorang dalam berfikir, bertindak, maupun belajar. Kematangan dalam berfikir seseorang dapat mempengaruhi baik pengetahuan, sikap, maupun praktek seseorang. Tahapan kehidupan seseorang yang dapat memberikan pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

Hasil penelitian tingkat pengetahuan orang tua menunjukkan bahwa 70% orang tua yang merawatkan anaknya di RSGM UMY memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Tingkat pengetahuan setiap individu berbeda antara satu dengan lainnya. Menurut Budiman dan Riyanto (2013) ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang adalah pendidikan, informasi, sosial,budaya dan


(50)

ekonomi, lingkungan, pengalam dan usia. Menurut Herjulianti (2002) mengatakan bahwa pengetahuan kesehatan gigi dan mulut seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti tingkat pendidikan, minat, dan lain sebagainya, sedangkan faktor internalnya adalah tersedia fasilitas kesehatan yang memadai seperti tenaga kesehatan dan sarana prasarana. Tingkat pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebuat dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan gigi dan mulut orang tua sudah pada tahap aplikasi yang menurut Notoatmodjo (2012) yang diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menggunakan materi yang telah dia pelajari sebelumnya pada suatu kondisi atau kondisi real (sebenarnya). Hasil ini dapat dilihat dari status kebersihan gigi dan mulut pasien anak yang sebagian besar status kebersihan gigi baik (76%). Hasil ini dapat juga dilihat dari hasil kuesioner peneliti pada tahap aplikasi sebagian besar jawaban benar.

Hasil penelitian status kebersihan gigi dan mulut anak (PHP-M) menunjukkan bahwa status 76% pasien anak memiliki status kebersihan gigi yang baik. Faktor yang mempengaruhi upaya untuk menjaga kebersihan dan mulut adalah kesadaran dan perilkaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut masing-masing individu (Yani, 2005). Anak


(51)

usia prasekolah atau usia 6–12 tahun pendidikan dan pengetahuan orang tua tidak menjamin anak untuk merawat dan menjaga kebersihan gigi dan mulut, pada usia ini peran serta dan perhatian dari orang tualah yang paling dibutuhkan. Orang tua di harapkan selalu memberikan contoh pada anaknya agar anak dapat menjaga dan merawat kebersihan gigi dan mulut (Worang, 2014).

Hasil uji spearman menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut pasien anak di RSGM UMY. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dapat mempengaruhi status kebersihan gigi dan mulut anak dan semakin baik tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua maka status kebersihan gigi dan mulut anak semakin tinggi. Penelitian ini di dukung oleh penelitian yang dilakukan Worang dkk (2014) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut anak. Penelitian ini juga menyatakan bahwa peran orang orang tua sangatlah penting untuk meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut anak dan merupakan salah satu upaya dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak. Menurut Yulianti dan Muhlisin (2011) Orang tua memiliki pengaruh yang kuat terhadap anak. Pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua dalam memelihara gigi dan mulut memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap anak. Orang tua dengan pengetahuan


(52)

rendah mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor presdiposisi dan perilaku yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak (Riyanti, 2005).

Semakin baik tingkat pengetahuan orang tua maka semakin tinggi status kebersihan gigi anak hal ini disebabkan oleh pengetahuan yang baik akan kesehatan gigi dan mulut dapat memberikan manfaat yaitu dapat mengubah perilaku anak untuk selalu menjaga dan merawat kebersihan gigi. Purwoko (2011) menyatakan bahwa peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dapat memiliki manfaat yaitu terjadinya perubahan perilaku seseorang dalam bidang kesehatan gigi dan mulut, termasuk tindakan mencegah penyakit, menjaga dan merawatan kebersihan gigi. Anak usia sekolah dasar sebagian besar masih memiliki pengetahuan kesehatan gigi dan mulut yang masih rendah (Ramdhan A. dkk, 2015). Keberhasilan kebersihan gigi dan mulut dapat dicapai salah satunya adalah melalui kemampuan menjaga kebersihan gigi dan mulut secara baik yang dipengaruhi oleh pengetahuan. Seorang anak perlu dibekali pengetahuan yang baik tentang bagaimana cara merawat dan menjaga kesehatan gigi dari orang tua sehingga mampu membersihkan gigi untuk terhindar dari penyakit gigi (Purwoko, 2011).


(53)

40 A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yng telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan yang sedang antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut pasien anak usia 6–12 tahun di RSGM UMY.

2. Semakin baik tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua maka semakin tinggi status kebersihan gigi dan mulut anak.

3. Tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua adalah baik (70%)

4. Rata-rata nilai skor PHP-M anak yag merawatkan gigi di RSGM UMY sebesar 19,05

B. SARAN

1. Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada orang tua

2. Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk orang tua agar tetap terus meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut agar anak dapat terhindar dari masalah akan kesehatan gigi dan mulut.


(54)

Daftar Pustaka

Axelsson, P. (2002).Diagnosis and Risk Prediction of Periodontal Diseases vol 3. Slovakia: quintessence books.

Azwar. (2006).Sikap manusia, teori dan pengukurannya edisi jke 2 cetakan ke IV. yogyakarta: pustaka pelajar.

Budiman, dan Riyanto, A. (2013). Kapita Selekta Kuesioner:Pengetahuan dan Sikap dalam Penenelitian Kesehatan.Jakarta Selatan: Salemba Medika. Carranza, F. A. (2012). Carranza's Clinical Periodontology. St. Louis, Missouri:

Elsavier Saunders.

Christiono, S. (2011, november 21).Fakultas Kedokteran Gigi Unisula. Retrieved fromFkg.unissula.ac.id:http://fkg.unissula.ac.id/index.php?option=com_co ntent&view=article&id=26:orang-tua-berperan-jaga-kesehatan-gigi-anak&catid=2:berita-utama-fkg

Dahlan, M. S. (2010). Besar sampel dan cara pengembilan dalam penelitian kedokteran dan kesehatan.jakarta: Salemba Medika.

DepkesRI. (2014). Info dantin pusat data dan infomasi kementrian kesehatan RI. Jakarta Selatan: Kementrian kesehatan RI.

DepkesRI. (2013). Risek Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) 2013. Jakarta. Kementrian Kesehatan RI

Dorland, W. N. (2002).Kamus Kedokteran Dorland.Jakarta: EGC.

Felton, A., dan A. C. (2009). Basic Guide To Oral Health Education and Promotion.United Kingdom: Wiley-Blackwell.

Herjulianti, E., Indriani, T. S., dan Artini, S. (2002).Ilmu Pendidikan Kesehaatan Gigi dan Mulut.Jakarta: EGC.

Hidayat, A. A. (2007).Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.

Jain, R., Oswal K.C., Chitguppi. (2014).Knowledge, attitude and practices of mothers toward their children’s oral health: A questionnaire survey among subpopulation in Mumbai (India). Journal of dental research and scientific development. India

Khairani, M. (2013).Psikologi Perkembangan.Yogyakarta: Aswaja Pressindo. Kidd, A.M.E., dan Bechal, S.J., (2013) Dasar- Dasar Karies Penyakit dan


(55)

Kisdianata, W., Pribadi, F., dan Fauziyah. (2016). Evaluasi Kinerja Sistem Informasi Manajemen dalam Mendukung Proses Manajemen di Rumah Sakit Gigi dan Mulut UMY. Yogykarta. Jurnal asosiasi dosen umy. Kumar, g., Singh, D. K., dan Jalaluddin, M. (2013). Oral health of pre-school

aged children in dhanbad distric, Jharkhand, india-a peek into their mother attitude.Journal of clininal and diagnostic research, vol-7(9).

Khanza, K.I.P. (2015).Pengaruh pendidikan kesehatan gigi dan mulut dengan media power point terhadap tingkat pengetahuan siswa usia 9-10 tahun di SD negeri Keputran 2 Yogyakarta. UMY. Yogyakarta

Malik, I. (2008).Kesehatan gigi dan mulut.Bandung.

MenkesRI. (2015, april 27). Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 1173/Menkes/Per/X/2004. Retrieved from http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_permenkes/PMK%20No.%20117 3%20ttg%20Rumah%20Sakit%20Gigi%20Dan%20Mulut.pdf

Notoatmodjo, S. (2012). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmojo, S. (2010).Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta. Purwoko. (2011). Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Status Kesehatan

Gigi pada Anak Sekolah Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Sawit I. Surakarta

Ramdhan, A., Cholil., Sukmana. B. I. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Angka Karies Gigi di SMPN 1 Marabahan. Banjarmasin. Dentino Jurnal.

Riwikdo, H. (2012). Statistik Kesehatan. Jakarta: Nuha Medika. Riyanti, E. (2005).Pengenalan dan Perawatan Kesehatan Gigi Anak.

Riyanto, A. (2011).Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.Yogyakarta: Nuba Medika

Santrock, J. W. (2012).Perkembangan Masa-Hidup.Jakarta: Erlangga.

Sastroasmoro, S., & Ismael, S. (2002). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.Jakarta: Sagung Seto.

Sriyono, N. W., dan Sudibyo. (2011).Seri II Kesehatan Oral.yogyakarta: FKIK. Sutjipto, C. (2013). Gambaran tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut

anak usia 10-12 tahun di SD Kristeen Eben Haezar 02 Manado. e-Biomedik, 1.


(56)

Uyanto, S. S. (2009). Pedoman analisis data dengan SPSS. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Welbury, R., Duggal, M., dan Hosey, M. T. (2005). Paediactric Dentistry. New York: Oxford University Press.

Worang, T. Y., dan Pangemanan, D. H. (2014). Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua dengan Kebersihan Gigi dan Mulut Anak di TK Tunas Bhakti Manado.Jurnal e-GiGi (eG), 2.

Yani R, W. E. (2005). Hubungan pola menykat gigi dengan karies gigi.Indonesia journal of dentistry.

Yulianti, R. P., dan Muhlisin, A. (2011). Hubungan Antara Pengetahuan Orang Tua Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak di SDN V Jateng Karanganyar. Jawa tengah.


(57)

Lampiran 1. Persetujuan Responden

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Saya, yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama :

Umur / Kelamin : tahun, Laki-laki* / Perempuan* Alamat :

Menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan Persetujuan

Untuk menjadi responden penelitian yang berjudul :

“HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT ORANG TUA DENGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PASIEN ANAK USIA 6-12 TAHUN DI RSGM UMY”

Terhadap Surveyor

Nama : Muhamad Rakhim NIM : 20120340087

Fakultas / Program Studi : Kedokteram / Pendidikan Dokter Gigi Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Yang tujuannya untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut pasien anak usia 6-12 tahun di RSGM UMY.

Demikian persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan. Yogyakarta,

Peneliti Yang membuat pernyataan

(………) (………..)


(58)

Lampiran 2. Kuesioner

KUESIONER PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Tanggal Pencacatan : Nama Orang Tua Responden :

Usia :

Alamat Tinggal :

Berilah tanda centang (√) pada pernyataan di bawah ini pada kolom B jika pernyataan benar dan pada kolom S bila pernyataan salah.

No Pernyataan B S

1. Kebersihan gigi dapat mempengaruhi kesehatan gigi.

2. Menggosok gigi cukup 1 kali sehari pada waktu mandi pagi. 3. Pasta gigi menggunakan Flouride.

4. Sebelum tidur kita perlu menggosok gigi.

5. Anak-anak boleh memakai sikat gigi orang dewasa.

6. Sikat gigi yang baik adalah yang tangkainya lurus dan kepala sikatnya kecil sehingga bisa masuk ke dalam mulut dengan mudah.

7. Menggosok gigi dilakukan setelah makan dan sebelum tidur. 8. Sikat gigi yang baik adalah sikat yang bulunya halus dan rata. 9. Menyikat gigi tidak perlu terlalu kuat agar gusi tidak berdarah. 10. Menyikat gigi cukup pada bagian depan gigi saja.

11. Karies adalah penyakit gigi berlubang.

12. Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang bergizi tidak terlalu penting untuk kesehatan gigi.

13. Gigi yang kotor dan tidak dibersihkan akan menyebabkan gigi berlubang.


(59)

15. Gigi berlubang hanya disebabkan oleh bakteri saja. 16. Coklat dan permen adalah makanan yang merusak gigi.

17. Sehabis minum dan makan makanan yang manis sebaiknya kita langsung berkumur dengan air putih.

18. Mengurangi makan makanan yang manis dapat mengurangi terjadinya gigi berlubang.

19. Minimal 6 bulan sekali kita perlu ke dokter gigi untuk kontrol gigi.

20. Gigi yang sudah goyah harus dicabut ke dokter gigi. 21. Kita tidak perlu ke dokter gigi bila gigi kita tidak sakit. 22. Kita boleh mencabut sendiri gigi yang sudah goyah.

23. Jika ada gigi yang berlubang sebaiknya kita pergi ke dokter gigi untuk dilakukan perawatan tambal gigi.

24. Kotoran pada sekeliling gigi yang sudah keras tidak perlu dihilangkan karena akan membuat gigi menjadi kuat.

25. Gigi anak tidak perlu dirawat ataupun ditambal karena akan diganti dengan gigi baru.


(60)

FORM PEMERIKSAAN PHP-M

No RM Pasien :

Nama Responden : Tempat,Tanggal Lahir :

Usia :

Jenis Kelamin :

Alamat :

Hasil Pemeriksaan Skor Gigi yang diperiksa:

Skor PHP-M

Skor PHP-M : Total skor PHP-M = Kriteria PHP-M

Baik : 0 - 20

Sedang : 21 - 40 Buruk : 41 - 60


(61)

DATA RESPONDEN

No.

Res JK Usia/ Tahun Skor KTP No RM Anak JK Usia/ Tahun Skor PHP-M

1 P 32 25 Baik 32860 P 8 19

2 L 36 22 Baik 33467 L 11 15

3 L 35 24 Baik 33679 L 7 20

4 L 37 26 Baik 33680 P 8 13

5 P 30 24 Baik 11840 P 9 17

6 P 36 24 Baik 20158 L 8 14

7 P 40 21 Baik 33487 L 7 18

8 P 32 25 Baik 33823 L 9 17

9 P 32 25 Baik 35525 P 6 20

10 P 40 20 Sedang 33963 L 9 30

11 L 36 20 Sedang 34686 P 10 25

12 P 31 24 Baik 34697 L 9 16

13 P 36 26 Baik 31249 P 6 19

14 P 37 23 Baik 33871 P 6 9

15 L 36 24 Baik 33593 P 8 20

16 L 31 22 Baik 31366 L 7 18

17 L 32 22 Baik 30952 L 10 17

18 P 27 25 Baik 34220 P 6 14

19 P 33 25 Baik 34481 L 7 27

20 P 27 25 Baik 34628 P 10 16

21 P 27 22 Baik 32716 L 6 39

22 P 35 20 Sedang 33230 P 6 28

23 P 32 23 Baik 33658 L 6 16

24 P 28 23 Sedang 31540 L 7 41

25 P 28 25 Baik 32951 L 6 19

26 P 42 24 Baik 34655 P 7 21

27 L 35 19 Sedang 35938 P 9 25

28 P 36 23 Baik 32623 L 7 10

29 P 38 23 Baik 35352 P 12 15

30 P 30 21 Baik 35995 P 12 17

31 P 39 23 Baik 36000 P 7 25

32 P 36 19 Sedang 36020 P 12 23

33 P 37 23 Baik 33638 P 9 11


(62)

35 P 38 19 Sedang 17005 L 8 34

36 L 40 21 Baik 35036 P 11 19

37 L 37 25 Baik 26592 P 7 12

38 P 29 23 Baik 34031 P 6 16

39 P 40 25 Baik 35351 P 8 15

40 P 36 25 Baik 35937 L 10 18

41 P 38 19 Sedang 32094 P 8 25

42 P 40 24 Baik 11145 P 11 16

43 P 38 20 Sedang 32228 L 10 17

44 L 41 25 Baik 32093 L 9 16

45 P 26 20 Sedang 32090 P 7 40

46 P 45 19 Sedang 31094 P 9 20

47 P 31 22 Baik 20533 P 6 6

48 P 50 18 Sedang 24900 L 11 26

49 P 38 20 Sedang 34946 P 11 21

50 L 42 24 Baik 35378 L 9 20

51 P 37 25 Baik 35417 L 11 10

52 P 34 20 Sedang 35254 P 8 25

53 P 32 23 Baik 35118 L 8 20

54 P 37 25 Baik 35757 P 7 31

55 P 36 24 Baik 35918 L 6 19

56 p 28 23 Baik 34473 P 10 19

57 L 40 25 Baik 34705 P 9 15

58 P 30 20 Sedang 35086 P 6 22

59 P 41 21 Baik 35477 L 11 20

60 P 39 19 Sedang 34904 P 11 23

61 P 26 24 Baik 35525 P 6 19

62 L 36 22 Baik 34292 L 7 14

63 P 55 21 Baik 34686 L 10 15

64 P 39 22 Baik 35036 P 11 16

65 P 51 21 Baik 34872 P 12 20

66 L 46 23 Baik 35170 P 11 11

67 P 36 24 Baik 35703 L 9 19

68 L 33 23 Baik 35086 P 8 18

69 P 31 22 Baik 35335 P 6 16

KTP = kategori tingkat pengetahuan


(63)

Correlations

Tingkat Pengetahuan

Kebersihan gigi dan mulut Spearman's rho Tingkat Pengetahuan Correlation Coefficient 1,000 ,607(**)

Sig. (2-tailed) . ,000

N 69 69

Kebersihan gigi dan mulut

Correlation Coefficient ,607(**) 1,000

Sig. (2-tailed) ,000 .

N 69 69

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Reliability Statistics

,894 26

Cronbach's


(1)

Lampiran 2. Kuesioner

KUESIONER PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Tanggal Pencacatan :

Nama Orang Tua Responden :

Usia :

Alamat Tinggal :

Berilah tanda centang (√) pada pernyataan di bawah ini pada kolom B jika pernyataan benar dan pada kolom S bila pernyataan salah.

No Pernyataan B S

1. Kebersihan gigi dapat mempengaruhi kesehatan gigi.

2. Menggosok gigi cukup 1 kali sehari pada waktu mandi pagi. 3. Pasta gigi menggunakan Flouride.

4. Sebelum tidur kita perlu menggosok gigi.

5. Anak-anak boleh memakai sikat gigi orang dewasa.

6. Sikat gigi yang baik adalah yang tangkainya lurus dan kepala sikatnya kecil sehingga bisa masuk ke dalam mulut dengan mudah.

7. Menggosok gigi dilakukan setelah makan dan sebelum tidur. 8. Sikat gigi yang baik adalah sikat yang bulunya halus dan rata. 9. Menyikat gigi tidak perlu terlalu kuat agar gusi tidak berdarah. 10. Menyikat gigi cukup pada bagian depan gigi saja.

11. Karies adalah penyakit gigi berlubang.

12. Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang bergizi tidak terlalu penting untuk kesehatan gigi.

13. Gigi yang kotor dan tidak dibersihkan akan menyebabkan gigi berlubang.


(2)

15. Gigi berlubang hanya disebabkan oleh bakteri saja. 16. Coklat dan permen adalah makanan yang merusak gigi.

17. Sehabis minum dan makan makanan yang manis sebaiknya kita langsung berkumur dengan air putih.

18. Mengurangi makan makanan yang manis dapat mengurangi terjadinya gigi berlubang.

19. Minimal 6 bulan sekali kita perlu ke dokter gigi untuk kontrol gigi.

20. Gigi yang sudah goyah harus dicabut ke dokter gigi. 21. Kita tidak perlu ke dokter gigi bila gigi kita tidak sakit. 22. Kita boleh mencabut sendiri gigi yang sudah goyah.

23. Jika ada gigi yang berlubang sebaiknya kita pergi ke dokter gigi untuk dilakukan perawatan tambal gigi.

24. Kotoran pada sekeliling gigi yang sudah keras tidak perlu dihilangkan karena akan membuat gigi menjadi kuat.

25. Gigi anak tidak perlu dirawat ataupun ditambal karena akan diganti dengan gigi baru.


(3)

FORM PEMERIKSAAN PHP-M

No RM Pasien :

Nama Responden :

Tempat,Tanggal Lahir :

Usia :

Jenis Kelamin :

Alamat :

Hasil Pemeriksaan

Skor Gigi yang diperiksa:

Skor PHP-M

Skor PHP-M : Total skor PHP-M =

Kriteria PHP-M

Baik : 0 - 20

Sedang : 21 - 40


(4)

DATA RESPONDEN

No.

Res JK Usia/

Tahun Skor KTP No RM Anak JK Usia/ Tahun Skor PHP-M

1 P 32 25 Baik 32860 P 8 19

2 L 36 22 Baik 33467 L 11 15

3 L 35 24 Baik 33679 L 7 20

4 L 37 26 Baik 33680 P 8 13

5 P 30 24 Baik 11840 P 9 17

6 P 36 24 Baik 20158 L 8 14

7 P 40 21 Baik 33487 L 7 18

8 P 32 25 Baik 33823 L 9 17

9 P 32 25 Baik 35525 P 6 20

10 P 40 20 Sedang 33963 L 9 30

11 L 36 20 Sedang 34686 P 10 25

12 P 31 24 Baik 34697 L 9 16

13 P 36 26 Baik 31249 P 6 19

14 P 37 23 Baik 33871 P 6 9

15 L 36 24 Baik 33593 P 8 20

16 L 31 22 Baik 31366 L 7 18

17 L 32 22 Baik 30952 L 10 17

18 P 27 25 Baik 34220 P 6 14

19 P 33 25 Baik 34481 L 7 27

20 P 27 25 Baik 34628 P 10 16

21 P 27 22 Baik 32716 L 6 39

22 P 35 20 Sedang 33230 P 6 28

23 P 32 23 Baik 33658 L 6 16

24 P 28 23 Sedang 31540 L 7 41

25 P 28 25 Baik 32951 L 6 19

26 P 42 24 Baik 34655 P 7 21

27 L 35 19 Sedang 35938 P 9 25

28 P 36 23 Baik 32623 L 7 10

29 P 38 23 Baik 35352 P 12 15

30 P 30 21 Baik 35995 P 12 17

31 P 39 23 Baik 36000 P 7 25

32 P 36 19 Sedang 36020 P 12 23

33 P 37 23 Baik 33638 P 9 11


(5)

35 P 38 19 Sedang 17005 L 8 34

36 L 40 21 Baik 35036 P 11 19

37 L 37 25 Baik 26592 P 7 12

38 P 29 23 Baik 34031 P 6 16

39 P 40 25 Baik 35351 P 8 15

40 P 36 25 Baik 35937 L 10 18

41 P 38 19 Sedang 32094 P 8 25

42 P 40 24 Baik 11145 P 11 16

43 P 38 20 Sedang 32228 L 10 17

44 L 41 25 Baik 32093 L 9 16

45 P 26 20 Sedang 32090 P 7 40

46 P 45 19 Sedang 31094 P 9 20

47 P 31 22 Baik 20533 P 6 6

48 P 50 18 Sedang 24900 L 11 26

49 P 38 20 Sedang 34946 P 11 21

50 L 42 24 Baik 35378 L 9 20

51 P 37 25 Baik 35417 L 11 10

52 P 34 20 Sedang 35254 P 8 25

53 P 32 23 Baik 35118 L 8 20

54 P 37 25 Baik 35757 P 7 31

55 P 36 24 Baik 35918 L 6 19

56 p 28 23 Baik 34473 P 10 19

57 L 40 25 Baik 34705 P 9 15

58 P 30 20 Sedang 35086 P 6 22

59 P 41 21 Baik 35477 L 11 20

60 P 39 19 Sedang 34904 P 11 23

61 P 26 24 Baik 35525 P 6 19

62 L 36 22 Baik 34292 L 7 14

63 P 55 21 Baik 34686 L 10 15

64 P 39 22 Baik 35036 P 11 16

65 P 51 21 Baik 34872 P 12 20

66 L 46 23 Baik 35170 P 11 11

67 P 36 24 Baik 35703 L 9 19

68 L 33 23 Baik 35086 P 8 18

69 P 31 22 Baik 35335 P 6 16

KTP = kategori tingkat pengetahuan


(6)

Correlations

Tingkat Pengetahuan

Kebersihan gigi dan mulut Spearman's rho Tingkat Pengetahuan Correlation Coefficient 1,000 ,607(**)

Sig. (2-tailed) . ,000

N 69 69

Kebersihan gigi dan mulut

Correlation Coefficient ,607(**) 1,000

Sig. (2-tailed) ,000 .

N 69 69

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Reliability Statistics

,894 26

Cronbach's


Dokumen yang terkait

Penatalaksanaan Gigi Dan Mulut Pada Penderita Skleroderma

0 29 40

Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Dengan Status Kesehatan Gigi dan Mulut Murid

0 75 1

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANGTUA DENGAN TINGKAT KEKOOPERATIFAN ANAK USIA 6-12 TAHUN DALAM KUNJUNGAN PERAWATAN GIGI DAN MULUT DI RSGM UMY

2 9 72

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN MEDIA POWER POINT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK USIA 7 – 8 TAHUN

4 29 71

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN KEJADIAN Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Prasekolah Di Tk 01Pertiwi Karangbangun Karanganyar.

0 9 15

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN KEJADIAN Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Prasekolah Di Tk 01Pertiwi Karangbangun Karanganyar.

0 1 17

HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK DI SDN V JATEN KARANGANYAR.

0 1 16

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT DENGAN PEMBESARAN TONSIL PADA ANAK USIA SEKOLAH.

10 23 50

Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan

0 0 8

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT ANAK TUNA RUNGU USIA 9-12 TAHUN DI SLB KOTA PADANG

2 5 11