Produksi Kedelai Organik berdasarkan Perbedaan Dosis Pupuk dan Fungi Mikoriza Arbuskula

i

PRODUKSI KEDELAI ORGANIK BERDASARKAN
PERBEDAAN DOSIS PUPUK DAN FUNGI MIKORIZA
ARBUSKULA

TRY AYU HANDAYANI
A24080040

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

i

RINGKASAN

TRY

AYU

HANDAYANI.

Produksi

Kedelai

Organik berdasarkan

Perbedaan Dosis Pupuk dan Fungi Mikoriza Arbuskula. (Dibimbing oleh
MAYA MELATI dan ARUM SEKAR WULANDARI).
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan dosis
pupuk kandang ayam ditambah pupuk hijau dan pengaruh dosis Fungi Mikoriza
Arbuskula (FMA) terhadap pertumbuhan dan produktivitas kedelai yang
dibudidayakan secara organik. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB,
Cikarawang dan Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan
Bioteknologi, LPPM IPB dimulai dari bulan Oktober 2011–April 2012.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial, dua faktor
dan empat ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk organik, yaitu 6.25 ton
pupuk kandang ayam per ha dengan penambahan 6.25 ton Tithonia diversifolia
per ha dan 12.5 ton pupuk kandang ayam per ha ditambah 6.25 ton Tithonia
diversifolia per ha. Faktor kedua adalah dosis FMA yang terdiri atas 0, 2.5, dan 5
g/lubang tanam. Sumber inokulum FMA berasal dari Departemen Silvikultur,
Fakultas Kehutanan, IPB. Pupuk hijau T. diversifolia diperoleh dari hasil panen
pucuk tanaman yang ada di sekitar lokasi penelitian.
Pupuk kandang ayam dan pupuk hijau didekomposisikan pada alur
tanaman kedelai selama 4 minggu sebelum penanaman kedelai. Setelah waktu
dekomposisi selesai, benih kedelai ditanam di sepanjang alur dengan jarak tanam
40 cm x 10 cm, sebanyak 1 benih per lubang tanam. Aplikasi Fungi Mikoriza
Arbuskula (FMA) bersamaan dengan penanaman benih kedelai. Di atas alur
tanam diberi mulsa 6.25 ton jerami per ha secara merata dan di sekitar petakan
ditanam tagetes untuk menghambat serangan organisme pengganggu tanaman.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk organik
berpengaruh nyata terhadap kandungan N biji kedelai, kandungan P biji kedelai,
dan jumlah daun trifoliet saat 4 MST. Perlakuan dosis FMA berpengaruh nyata
terhadap kandungan P biji kedelai dan tidak berpengaruh nyata pada komponen
yang lain. Rata-rata produktivitas kedelai organik yang mampu dicapai dari hasil
penelitian ini adalah 2.30 ton per ha.

ii

PRODUKSI KEDELAI ORGANIK BERDASARKAN
PERBEDAAN DOSIS PUPUK DAN FUNGI MIKORIZA
ARBUSKULA

Skripsi sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

TRY AYU HANDAYANI
A24080040

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

iii

Judul : PRODUKSI KEDELAI ORGANIK BERDASARKAN
PERBEDAAN DOSIS PUPUK DAN FUNGI MIKORIZA
ARBUSKULA
Nama : TRY AYU HANDAYANI
NIM : A24080040

Menyetujui,
Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Ir. Maya Melati, M.S., M.Sc.

Dr. Ir. Arum Sekar Wulandari, M.S.

NIP. 19640128 199103 2 001

NIP. 19660316 200604 2 003

Mengetahui,
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc.Agr
NIP. 19611101 198703 1 003

Tanggal Lulus :.....................................................................

iv

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan pada
tanggal 22 Juni 1990. Penulis adalah anak ketiga dari pasangan Bapak Zulkifli dan
Ibu Ponisih.
Tahun 2008 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Prabumulih, Sumatera
Selatan. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB), program studi
Agronomi dan Hortikultura melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI)
pada tahun 2008.
Selama masa studi, penulis memperoleh berbagai pengalaman dalam
kegiatan akademik dan non-akademik. Penulis menjadi asisten praktikum Biologi
Dasar TPB (2012), Guru privat Biologi (2011), anggota pelaksana program
Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat kerjasama IPB dengan
Kementerian pertanian (2011), dan peserta IPB Goes to Field (2010). Selain itu,
penulis melibatkan diri dalam beberapa organisasi dan kepanitiaan antara lain:
Panitia Lomba Karya Tulis Ilmiah, Festival Tanaman XXXII, IPB (2011), Panitia
International Scholarship Education Expo, BEM KM IPB (2010), organisasi
Lembaga Dakwah Fakultas FKRD, dan Koperasi Himagron, IPB (2009).
Penelitian yang juga pernah penulis lakukan berjudul Pengaruh Perlakuan
Kitosan terhadap Viabilitas Benih Pepaya (Carica papaya L.) pada Ruang Simpan
AC dan Suhu Kamar yang lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa (2010).

v

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan
kemudahan dan kekuatan kepada penulis untuk menyelesaikan penelitian dan
skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pertanian di
fakultas pertanian institut pertanian bogor.
Judul penelitian yang telah dilaksanakan adalah Produksi Kedelai Organik
berdasarkan Perbedaan Dosis Pupuk dan Fungi Mikoriza Arbuskula. Pemilihan
judul penelitian tersebut disebabkan oleh keinginan penulis untuk mengetahui cara
budidaya kedelai organik yang efektif. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat
bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam
bidang pertanian organik, serta menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi
para petani kedelai organik.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr. Ir. Maya Melati, M.S.,
M.Sc. dan Dr. Ir. Arum Sekar Wulandari, M.S. yang telah memberikan bimbingan
dan pengarahan selama kegiatan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada tim laboran di Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya
Hayati dan Bioteknologi, PAU, IPB serta kedua orang tua yang telah memberikan
dorongan yang tulus baik moril maupun materiil. Semoga hasil penelitian ini
bermanfaat bagi pihak yang memerlukan.

Bogor, Agustus 2012
Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

viii

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

ix

PENDAHULUAN.......................................................................................
Latar Belakang.....................................................................................
Tujuan ..................................................................................................
Hipotesis ..............................................................................................

1
1
3
3

TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................
Botani Kedelai .....................................................................................
Pertanian Organik ................................................................................
Kedelai Organik ...................................................................................
Pupuk Kandang Ayam .........................................................................
Pupuk Hijau .........................................................................................
Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) ......................................................

4
4
5
5
7
8
9

BAHAN DAN METODE ...........................................................................
Tempat dan Waktu Percobaan .............................................................
Bahan dan Alat ....................................................................................
Metode Pelaksanaan ............................................................................
Pelaksanaan Penelitian ........................................................................
Budidaya Kedelai di Lahan Penelitian .........................................
Pengamatan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) ..........................

10
10
10
11
12
12
14

HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................
Hasil .....................................................................................................
Pembahasan .........................................................................................

16
16
31

KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................
Kesimpulan ..........................................................................................
Saran ....................................................................................................

36
36
36

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

37

LAMPIRAN ................................................................................................

42

vii

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1. Pengamatan peubah vegetatif dan generatif tanaman kedelai..............

13

2. Hasil analisis hara makro dan mikro pupuk kandang ayam dan
Tithonia diversifolia ..............................................................................

17

3. Sumbangan unsur hara pupuk organik ..................................................

18

4. Rekapitulasi hasil sidik ragam komponen pertumbuhan dan produksi
kedelai dengan perlakuan dosis pupuk dan FMA…………….............

20

5. Komponen pertumbuhan kedelai dengan perlakuan dosis pupuk .........

22

6. Komponen pertumbuhan kedelai dengan perlakuan dosis FMA ..........

22

7. Komponen produksi kedelai dengan perlakuan dosis pupuk ................

24

8. Komponen produksi kedelai dengan perlakuan FMA ..........................

24

9. Pengaruh interaksi perlakuan dosis pupuk dan FMA terhadap
beberapa karakter agronomi kedelai .....................................................

25

10. Rekapitulasi hasil sidik ragam kelimpahan spora FMA pada perlakuan
pupuk dan FMA………………………………………………………..

26

viii

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1. Suhu (˚C) dan curah hujan (mm) selama pertanaman kedelai ...............

18

2. Hama dan penyakit pada kedelai............................................................

20

3. Rata-rata kepadatan spora berdasarkan perlakuan FMA .......................

26

4. Rata-rata kepadatan spora (per 100 g tanah) pada petak perlakuan.. .....

27

5. Sebaran genus FMA setiap petak perlakuan ..........................................

28

6. Bentuk infeksi akar FMA .......................................................................

29

7. Rata-rata infeksi akar (%) pada perlakuan pupuk organik .....................

30

8. Rata-rata infeksi akar (%) pada perlakuan FMA ...................................

30

9. Rata-rata infeksi akar (%) pada interaksi perlakuan ..............................

31

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1. Lay out petak percobaan........................................................................

43

2. Deskripsi kedelai varietas anjasmoro ....................................................

44

3. Kriteria penilaian sifat-sifat kimia tanah ...............................................

45

4. Interpretasi nilai unsur hara mikro ........................................................

45

5. Perbandingan perlakuan dosis pupuk organik beberapa musim tanam

46

6. Hasil analisis tanah beberapa musim tanam..........................................

46

7. Kondisi iklim wilayah Darmaga, Bogor ...............................................

47

8. Korelasi antara peubah dengan komponen hasil kedelai ......................

48

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan salah satu komoditas pangan
utama di Indonesia. Kedelai memiliki banyak produk-produk olahan yang menjadi
kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti tempe, tahu, kecap, dan tauco. Bahan
pangan tersebut mengandung gizi dan harganya terjangkau oleh masyarakat. Hasil
penelitian di berbagai bidang kesehatan telah membuktikan bahwa konsumsi
produk kedelai berperan penting dalam menurunkan resiko terkena penyakit
degeneratif yang disebabkan adanya zat isoflavon dalam kedelai (Koswara, 2006).
Berbagai manfaat dan kebutuhan kedelai tersebut belum didukung oleh
ketersediaan dalam negeri. Produksi kedelai nasional hanya mencapai 851,000 ton
sedangkan konsumsi nasional mencapai 2,400,000 ton pada angka tetap tahun
2011. Rata-rata produktivitas berkisar 1.37 ton/ha sehingga kekurangan kebutuhan
kedelai bergantung pada impor (Ferdiansyah, 2012). Komisi Pengawas Persaingan
Usaha (2008) menunjukkan bahwa struktur pasar kedelai bersifat oligopolistik
dengan indikasi 74.66% pasokan kedelai dikuasai oleh perusahaan importir
sehingga kondisi tersebut berdampak buruk bagi petani lokal. Oleh sebab itu,
perlu adanya peningkatan produksi nasional menuju kemandirian pangan, antara
lain dengan peningkatan produktivitas melalui budidaya yang tepat dan efektif.
Budidaya kedelai dapat dilakukan secara organik dan konvensional.
Sistem budidaya pertanian organik menerapkan sistem pertanian berwawasan
lingkungan

untuk

melindungi

keseimbangan

ekosistem

alam

dengan

meminimalkan penggunaan bahan-bahan sintetik (Winarno et al., 2003). Produk
pertanian organik juga mulai banyak diminati oleh masyarakat. Gaya hidup sehat
dengan slogan back to nature menjadi trend baru untuk meninggalkan pola hidup
lama yang menggunakan bahan kimia tidak alami, seperti pupuk dan pestisida
kimia sintetis (Badan Litbang Pertanian, 2002). Namun, sistem budidaya organik
memiliki faktor pembatas, yaitu hara yang diberikan melalui pupuk organik
lambat tersedia bagi tanaman dan diperlukan dalam jumlah yang relatif besar
dibandingkan dengan pupuk kimia. Oleh sebab itu, perlu adanya perkembangan
teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi sistem pertanian organik.

2

Ketersediaan hara dalam sistem budidaya organik dapat diatasi dengan
penambahan pupuk kandang dan pupuk hijau. Pemupukan dengan pemberian
bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pupuk organik
juga berperan dalam memperbaiki pertumbuhan tanaman dengan meningkatkan
ketersediaan hara yang diperlukan tanaman secara langsung dan tidak langsung.
Sumber bahan-bahan organik yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pupuk kandang ayam dan T. diversifolia. Penelitian terdahulu menunjukkan
bahwa pemberian pupuk kandang ayam dapat meningkatkan bobot kering bintil
akar sebanyak 162% dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk dan dapat
meningkatkan ketersediaan P dalam tanah dan kadar P dalam daun, sehingga
pemupukan 15 ton pupuk kandang ayam per ha dapat menghasilkan biji kedelai
kering 4 kali lebih banyak dari tanaman yang tidak mendapat pupuk kandang
(Melati et al., 2008).
Pemberian pupuk T. diversifolia dapat meningkatkan bobot segar tanaman
karena mampu menyediakan nitrogen sebagai bahan dasar pembentukkan klorofil
dan mudah terdekomposisi (Widiwurjani dan Suhardjono, 2006). Beberapa
peneliti telah melakukan percobaan dengan menggunakan pupuk kandang ayam
dan T. diversifolia sebagai sumber bahan organik di lahan pertanaman kedelai.
Hasil penelitian Kurniansyah (2010) menunjukkan bahwa penggunaan 10 ton
pupuk kandang ayam ditambah 3.5 ton T. diversifolia per ha mampu mencapai
produktivitas sebesar 1.48 ton per ha sedangkan 20 ton pupuk kandang ayam per
ha tanpa penambahan T. diversifolia hanya mencapai produktivitas sebesar 1.16
ton/ha. Selanjutnya Herwanti (2011) menunjukkan bahwa 5 ton pupuk kandang
ayam ditambah 1.75 ton T. diversifolia per ha dapat mencapai produktivitas
kedelai sebesar 2.07 ton per ha. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
pupuk kandang ayam dapat dikombinasikan dengan pupuk hijau T. diversifolia.
Dosis pupuk yang digunakan pada penelitian ini sebesar 6.25 ton pupuk kandang
ayam per ha ditambah 6.25 ton T. diversifolia per ha. Perlakuan penurunan dosis
pupuk tersebut sebagai upaya untuk mengurangi jumlah pupuk kandang yang
diberikan, dengan harapan kedelai masih dapat berproduksi dengan baik.
Penambahan unsur hara dengan pemberian pupuk organik harus disertai oleh
kemampuan kedelai dalam menyerap hara karena tidak semua hara tersedia bagi

3

tanaman. Upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi serapan hara
oleh tanaman adalah dengan memanfaatkan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA).
FMA banyak mendapat perhatian karena kemampuannya berasosiasi
membentuk simbiosis mutualistik dengan hampir 80% spesies tanaman (Steussy,
1992). Tanaman inang dapat menjalankan fungsi tumbuh dan berkembang secara
sempurna (Koide dan Schreiner, 1992). Peran FMA yang paling utama adalah
mampu meningkatkan ketersediaan hara terutama fosfor. Peran FMA tersebut
dapat dijadikan upaya dalam menghadapi permasalahan pertanian organik yang
bergantung pada sumber hara yang lambat tersedia bagi tanaman.
Pemanfaatan FMA dalam sistem budidaya kedelai telah dipelajari dalam
beberapa penelitian. Nurhayati (2008) menjelaskan bahwa penambahan inokulum
mikoriza yang dikombinasikan dengan Bradyrhizobium di tanah gambut dapat
meningkatkan secara nyata pertumbuhan vegetatif dan generatif kedelai.
Selanjutnya Herawati (2009) menyatakan bahwa penggunaan inokulum FMA
dapat meningkatkan jumlah polong biji dua kedelai sebesar 32.45%.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan dosis
pupuk kandang ayam ditambah pupuk hijau T. diversifolia dan pengaruh dosis
Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap pertumbuhan dan produktivitas
kedelai yang dibudidayakan secara organik.

Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah
1. Terdapat dosis pupuk kandang ayam dan pupuk Tithonia yang memberikan
pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan produktivitas kedelai yang
dibudidayakan secara organik.
2. Ada pengaruh pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap
pertumbuhan dan produktivitas kedelai yang dibudidayakan secara organik.
3. Terdapat interaksi antara FMA dengan kombinasi pupuk yang memberikan
pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan produktivitas kedelai.

4

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Kedelai
Kedelai (Glycine max (L.) Merr) merupakan tanaman yang telah
dibudidayakan sejak tahun 2500 SM di dataran Cina, berasal dari daerah
Manchuria dan Jepang, Asia Timur (Suprapto, 2002). Kedelai termasuk dalam
famili Leguminosae. Tanaman ini memiliki percabangan sedikit, sistem perakaran
tunggang, dan batang berkambium. Kedelai dapat berubah menjadi tumbuhan
setengah merambat dalam keadaan pencahayaan rendah (Adisarwanto, 2008).
Sistem perakaran kedelai terdiri atas akar tunggang dan akar sekunder
(serabut). Akar tunggang umumnya hanya tumbuh pada kedalaman lapisan olah
tanah yang tidak terlalu dalam yaitu 30–50 cm. Akar tunggang dapat mencapai
kedalaman hingga lebih dari 2 m pada kondisi lahan optimal. Akar serabut
tumbuh hingga kedalaman tanah 20–30 cm. Akar adventif dapat terbentuk saat
terjadinya cekaman kekeringan dan salinitas tinggi (Adisarwanto, 2006).
Pertumbuhan tanaman kedelai dibagi menjadi tipe indeterminate dan
determinate. Pertumbuhan tipe indeterminate memiliki bunga yang hanya tumbuh
pada ketiak tangkai daun (rasim) aksilar dan pembungaan dimulai sebelum
perpanjangan batang tanamannnya berakhir, pembentukkan bunga dan polong
kedelai terjadi sebelum tanaman kedelai tumbuh secara utuh. Pertumbuhan tipe
determinate memiliki bunga yang tumbuh pada rasim aksilar dan terminal serta
pertumbuhan vegetatifnya akan berakhir dengan pembungaan di ujung batang
(Poehlman dan Sleper, 1995).
Buku pada batang kedelai merupakan tempat tumbuhnya bunga. Buku
yang menghasilkan buah disebut buku subur (Purwono dan Purnamawati, 2007).
Jumlah buku pada batang dipengaruhi oleh tipe tumbuh batang dan periode
panjang penyinaran. Jumlah buku batang indeterminate lebih banyak daripada
batang determinate (Adisarwanto, 2007).
Polong terbentuk saat 7–10 hari setelah bunga pertama muncul. Polong
muda berwarna hijau dan akan berubah menjadi kuning kecoklatan saat masak.
Tiap polong berisi 1–5 biji, tergantung varietas. Warna biji juga bervariasi seperti
kuning, hitam, atau cokelat (Purwono dan Purnamawati, 2007).

5

Pertanian Organik
Pertanian organik merupakan sistem pertanian yang memanfaatkan siklus
organik

secara

optimal

untuk

mendukung

tercapainya

pertanian

yang

berkelanjutan. Pertanian organik merupakan suatu sistem terpadu yang bertujuan
untuk meningkatkan potensi dan daya dukung lingkungan terhadap agroekosistem
dalam jangka panjang (Rigby dan Caceres, 2001).
Pertanian organik menerapkan sistem pertanian berwawasan lingkungan
dengan tujuan untuk melindungi keseimbangan ekosistem alam dengan
meminimalkan penggunaan bahan-bahan sintetik (Winarno et al., 2003). Pertanian
organik juga bertujuan untuk memperoleh hasil optimal yang disertai dengan
rotasi tanaman, penggunaan pupuk hijau, kompos, cover crop, dan mulsa. Rotasi
tanaman sebagai salah satu cara untuk mengendalikan organisme pengganggu
tanaman (OPT). Pupuk hijau dan kompos digunakan sebagai sumber hara untuk
kesuburan tanah, sedangkan cover crop dan mulsa diterapkan untuk mencegah
pertumbuhan gulma (Suwena, 2002).
Budidaya

organik

berupaya

untuk

meniadakan

atau

membatasi

kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh budidaya konvensional.
Strategi pertanian organik adalah memindahkan hara secepatnya dari sisa
tanaman, kompos, dan pupuk kandang menjadi biomassa tanah yang selanjutnya
menjadi hara dalam larutan tanah setelah mengalami proses mineralisasi.
Pertanian organik dapat mendaur-ulang unsur hara melalui satu atau lebih tahapan
bentuk senyawa organik sebelum diserap tanaman. Hal ini bertolak belakang
dengan sistem pertanian konvensional yang memberikan unsur hara secara cepat
dan langsung (Sutanto, 2002).

Kedelai Organik
Budidaya kedelai secara organik menggunakan bahan-bahan organik
sebagai sumber hara. Pupuk organik yang merupakan hasil akhir dari perubahan
atau peruraian bagian-bagian atau sisa-sisa tanaman dan binatang dapat menjadi
(alternatif) sumber hara bagi tanaman kedelai (Sutedjo, 1994). Bahan organik
dapat menyerap air sebanyak 5–10 kali beratnya, misalnya 1 kg bahan organik
dapat menyerap 5–10 L air (Bintoro et al., 2007). Pupuk organik memiliki

6

keunggulan dalam hal memperbaiki struktur tanah, meningkatkan bahan organik
tanah, harga relatif murah, mengandung unsur hara makro dan mikro, menambah
daya serap air, dan memperbaiki kehidupan mikroorganisme dalam tanah
(Indriani, 2001). Mikroorganisme yang terdapat dalam pupuk organik dapat
menyebabkan unsur hara yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi mudah diserap
tanaman, sehingga dapat memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman.
Penelitian yang dilakukan Melati et al. (2008) memperlihatkan adanya
kecenderungan bahwa pemberian pupuk organik secara tunggal dengan pupuk
kandang ayam lebih baik dibandingkan dengan pupuk organik yang lain. Namun,
perlakuan kombinasi pupuk organik menghasilkan jumlah dan bobot polong isi
per tanaman lebih baik dibandingkan dengan perlakuan pupuk tunggal. Kombinasi
pupuk organik memiliki peranan masing-masing seperti: pupuk kandang ayam
berperan membantu proses dekomposisi pupuk hijau dan kompos, pupuk hijau
menyumbang hara yang terkandung (terutama N), sedangkan kompos berperan
dalam meningkatkan bahan organik karena kandungan unsur makronya rendah.
Pemberian pupuk organik dan adanya residu abu sekam padi dapat
menurunkan intensitas serangan hama pada pertanaman kedua rata-rata sebesar
75% dari kontrol. Lebih rendahnya intensitas serangan hama pada perlakuan yang
menggunakan abu sekam padi diduga disebabkan oleh kandungan utama yang
terdapat di dalamnya yaitu silikat dan karbon. Peranan silikat bagi tanaman selain
sebagai unsur hara mikro juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap
hama dan penyakit melalui pengerasan jaringan. Abu sekam dapat diberikan
sebagai kombinasi dengan pupuk organik untuk menekan intensitas serangan
hama, namun tidak dianjurkan untuk diberikan secara tunggal karena
menyebabkan jumlah maupun bobot polong kedelai rendah (Melati et al., 2008).
Pengendalian hama penyakit tanaman kedelai organik dapat dilakukan
dengan metode pengendalian hayati melalui penggunaan tanaman pengendali
organisme pengganggu tanaman (OPT) maupun pestisida biologis, seperti tahi
kotok (Tagetes erecta) dan serai (Cymbopogon nardus). Menurut Kusheryani dan
Aziz (2006), lahan pertanaman kedelai yang ditanami dengan tanaman penolak
OPT jenis Tagetes erecta memiliki total intensitas serangan hama dan penyakit
yang lebih rendah dibandingkan dengan tanaman penolak OPT yang lain.

7

Pupuk Kandang Ayam
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran padat dan cair dari
ternak yang tercampur dengan sisa makanannya serta alas kandang. Pupuk
kandang yang diberikan ke lahan pertanian akan memberikan keuntungan, antara
lain: memperbaiki struktur tanah, sumber unsur hara bagi tanah, menambah
kandungan humus atau bahan organik dalam tanah, meningkatkan (efektifitas)
jasad renik, meningkatkan kapasitas penahan air, mengurangi erosi dan pencucian
serta peningkatan KTK tanah. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian pupuk
kandang ayam dosis 20 ton/ha memberikan hasil yang nyata tertinggi terhadap
peubah yang diamati, antara lain: tinggi tanaman, indeks luas daun (ILD), jumlah
cabang, jumlah ruas, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot polong
panen/petak, bobot polong isi dan hampa pada tanaman kedelai (Sinaga, 2005).
Kotoran ayam memiliki kandungan N, P2O5, K2O, dan kadar air (KA)
sebesar 1.5, 1.3, 0.8, dan 57% (Lingga, 1991). Pupuk kandang ayam mengandung
unsur nitrogen tiga kali lebih besar daripada pupuk kandang yang lainnya.
Kandungan unsur hara dari pupuk kandang ayam lebih tinggi disebabkan oleh
bagian cair (urine) bercampur dengan bagian padat (Sutedjo, 2002).
Hasil penelitian Kurniasih (2006) menunjukkan bahwa budidaya organik
menggunakan pupuk kandang ayam menghasilkan produktivitas tertinggi
dibandingkan dengan budidaya menggunakan pupuk hijau dan konvensional.
Produktivitas kedelai pada budidaya konvensional dan organik dengan pupuk
kandang ayam sebesar 1.80 dan 6.03 kg/10 m2. Namun perlakuan pupuk kandang
dapat meningkatkan intensitas serangan hama. Sebaliknya intensitas kejadian
penyakit dilaporkan lebih rendah dibandingkan dengan aplikasi pupuk hijau. Hal
tersebut diduga karena pada proses dekomposisi pupuk kandang dihasilkan asam
organik yang lebih tinggi untuk menekan serangan patogen.
Pemberian pupuk kandang ayam dapat meningkatkan bobot kering bintil
akar sebanyak 162% dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk. Pemberian
pupuk kandang ayam dapat meningkatkan ketersediaan P dalam tanah dan kadar P
dalam daun, sehingga pemupukan 15 ton pupuk kandang ayam per ha dapat
menghasilkan biji kedelai kering 4 kali lebih banyak dari tanaman yang tidak
mendapat pupuk kandang (Melati et al., 2008).

8

Pupuk Hijau
Pupuk hijau merupakan salah satu bahan organik yang digunakan sebagai
pupuk dalam pertanian organik. Pupuk hijau berasal dari bagian-bagian tanaman
seperti daun, tangkai, dan batang yang dapat dimanfaatkan sebagai penambah
bahan organik tanah dan unsur-unsur lainnya terutama nitrogen (Lingga, 1998;
Sutanto, 2002). Pupuk hijau dapat memberikan keuntungan dalam memperkaya
bahan organik tanah, memberikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan
mikroorganisme tanah, mengembalikan unsur hara yang tercuci, dan menambah
unsur N dalam tanah. Penggunaan pupuk hijau sebagai pupuk langsung dan
penutup tanah sebaiknya dilakukan dengan menebarkan benih sekitar 3–4 bulan
sebelum penanaman tanaman semusim (Marsono dan Sigit, 2001).
Tithonia diversifolia atau bunga matahari Meksiko adalah salah satu jenis
tanaman legume yang dapat tumbuh baik pada tanah yang kesuburannya rendah.
T. diversifolia merupakan tanaman semak yang tumbuh di pinggir jalan, tebing,
dan sekitar lahan pertanian. T. diversifolia dapat diperbanyak secara generatif
maupun vegetatif melalui akar, setek batang, atau tunas. T. diversifolia merupakan
tanaman yang mengandung unsur N dan K yang dapat dimanfaatkan sebagai
pupuk hijau dan sumber bahan organik tanah. Daun Tithonia kering mengandung
3.5–4.0% N, 0.35–0.38% P, 3.5–4.1% K, 0.59% Ca, dan 0.27% Mg. Pupuk hijau
dari Tithonia juga dapat mensubstitusi pupuk KCl (Hartatik, 2007). Selanjutnya
Olabode et al. (2007) menambahkan bahwa selain memiliki unsur hara yang
tinggi, T. diversifolia memiliki kemampuan untuk menyerap hara secara maksimal
sehingga penggunaan T. diversifolia sebagai pupuk hijau sangat dianjurkan untuk
meningkatkan kesuburan tanah.
Penggunaan T. diversifolia sebagai pupuk organik dapat meningkatkan
berat segar tanaman karena mampu menyediakan nitrogen sebagai bahan dasar
pembentukkan klorofil dan mudah terdekomposisi, sehingga dapat menyediakan
unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Widiwurjani dan Suhardjono, 2006).
Olabode et al. (2007) juga menambahkan bahwa Tithonia merupakan sumber
bahan organik yang baik karena memiliki nisbah C/N rendah (8–8.5), fraksi
terlarut bahan organik tinggi, dan kandungan lignin yang rendah (6.5%) sehingga
mudah terdekomposisi dan cepat menyediakan unsur hara ke dalam tanah.

9

Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA)
Mikoriza adalah suatu struktur sistem perakaran yang terbentuk sebagai
manifestasi adanya simbiosis mutualisme antara fungi (Myces) dan perakaran
tumbuhan tingkat tinggi (Setiadi, 2002). FMA merupakan bagian dari mikoriza
yang terdiri atas genus Glomus, Schlerocystis, Gigaspora, Scutellispora,
Acaulospora, dan Entrophospora (Setiadi et al., 1992). Kompatibilitas antara
FMA dan tanaman inang adalah kemampuan kedua simbion menggunakan fungsi
simbiosis secara penuh. Bagi mikoriza, fungsi tersebut ialah menembus akar inang
dan membentuk arbuskula tempat bahan (fosfat dan karbohidrat) dipertukarkan
dan mempengaruhi perkembangbiakan FMA. Tanaman inang dapat menjalankan
fungsi tumbuh dan berkembang secara sempurna (Koide dan Schreiner, 1992).
Fungsi FMA yang menjadi pembahasan utama adalah FMA mampu
meningkatkan serapan hara P. FMA mampu menghasilkan enzim ekstraseluler
asam fosfatase yang dapat mengkatalisis pelepasan P dari kompleks organik di
dalam tanah menjadi bentuk P anorganik (tersedia) bagi tanaman, sehingga hara
diserap dengan mudah oleh hifa eksternal FMA dan ditransfer ke inang melalui
akar yang terinfeksi (Jakobsen and Rosendahl, 1990; Marshner and Dell, 1994).
Terjadinya asosiasi antara FMA dapat diketahui dengan melihat ada atau
tidaknya infeksi akar pada tanaman inang. Infeksi FMA dapat diketahui dengan
adanya struktur-struktur yang dihasilkan oleh FMA antara lain: hifa, vesikula,
arbuskula, maupun spora (Setiadi dan Setiawan, 2011). Persentase infeksi akar
dan produksi spora oleh FMA dipengaruhi oleh spesies FMA itu sendiri,
lingkungan, dan tanaman inangnya sehingga baik jumlah spora maupun
persentase infeksi akar tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja, melainkan
akumulasi dari berbagai faktor yang dapat mempengaruhinya (Gunawan, 1993).
Kolonisasi akar kedelai oleh FMA dapat meningkatkan pertumbuhan dan
hasil kedelai (Ganry et al., 1985) dan konsentrasi P tanaman kedelai
(Bethlenfalvey et al., 1985). Inokulasi FMA dapat meningkatkan efisiensi
penggunaan pupuk P pada tanaman kedelai (Simanungkalit, 1993). Efisiensi hasil,
jumlah polong, dan serapan P tertinggi pada tanaman kedelai dicapai tanpa
pemberian pupuk P. Hasil jumlah polong dan serapan P kedelai menurun dengan
meningkatnya jumlah pupuk P yang diberikan.

10

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan
Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB, Cikarawang, Darmaga,
Bogor dan Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi,
IPB. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Oktober 2011 sampai
dengan April 2012. Analisis tanah dan hara dilakukan di Laboratorium Kimia
Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB.
Bahan dan Alat
Bahan tanaman yang digunakan adalah benih kedelai varietas Anjasmoro.
Benih tersebut diberi seed treatment dengan menggunakan inokulum Rhizobium
spp. Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain alkohol 70%, HCl 2%, KOH
2.5%, larutan trypan blue, dan aquades.
Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang ayam petelur dan
pupuk hijau T. diversifolia. Penentuan dosis T. diversifolia didasarkan pada
informasi dari penelitian sebelumnya bahwa 5 ton T. diversifolia per ha yang
dikombinasikan dengan pupuk kandang ayam telah memberikan hasil yang baik.
Inokulum

FMA diperoleh dari Departemen Silvikultur,

Fakultas

Kehutanan, IPB. Inokulum tersebut mengandung Glomus manihotis, Gigaspora
sp., dan Acaulospora sp. Jumlah spora FMA per 15 g sampel sebanyak 214 spora.
Kapur Dolomit, abu sekam, dan jerami padi juga ditambahkan pada lahan
penelitian. Penelitian ini juga menggunakan tanaman pengendali organisme
pengganggu tanaman (OPT), yaitu tahi kotok (Tagetes erecta) dan serai
(Andropogon nardus) yang berasal dari lahan penelitian sebelumnya.
Alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi alat budidaya tanaman,
timbangan, meteran, dan peralatan lain yang diperlukan di lapangan. Alat-alat
yang digunakan untuk pengambilan contoh tanah dan akar tanaman adalah
kantong plastik, spidol, dan kertas label. Pengamatan di laboratorium
menggunakan saringan spora (saringan bertingkat dua yaitu: 715 μm dan 45 μm),
pinset spora, mikroskop, kaca preparat, cover glass, cawan Petri, pipet, timbangan
analitik, dan gunting akar.

11

Metode Pelaksanaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompokfaktorial. Rancangan percobaan terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis
pupuk kandang ayam petelur yang dikombinasikan dengan pupuk T. diversifolia
dan faktor kedua adalah dosis fungi mikoriza arbuskula (FMA)
Faktor pertama terdiri atas 2 taraf, yaitu 12.5 ton pupuk kandang ayam per
ha ditambah dengan 6.25 ton T. diversifolia per ha dan 6.25 ton pupuk kandang
ayam per ha ditambah dengan 6.25 ton T. diversifolia per ha. Faktor kedua terdiri
atas 3 taraf yaitu a) 0 g FMA per lubang tanam, b) 2.5 g FMA per lubang tanam,
dan c) 5 g FMA per lubang tanam. Seluruhnya terdapat 6 perlakuan dan 4 ulangan
sehingga terdapat 24 satuan percobaan.
Model rancangannya adalah Yijk

i

j

k

ij

ijk

Keterangan:
Yijk

nilai pengamatan pada faktor pupuk organik taraf ke-i dan faktor
FMA taraf ke-j dan kelompok ke-k
nilai tengah (rataan) umum

i

pengaruh utama faktor pupuk organik

j

pengaruh utama faktor FMA
)ij

(
k

komponen interaksi dari faktor pupuk organik dan FMA
pengaruh aditif dari kelompok dan diasumsikan tidak berinteraksi
dengan perlakuan (bersifat aditif)

ijk

pengaruh acak yang menyebar normal (0,

i

dosis pupuk organik (1, 2)

j

dosis FMA (1, 2, 3)

k

ulangan (1, 2, 3, 4)

2).

Data dianalisis dengan sidik ragam apabila berpengaruh nyata akan
dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan
5% jika rataan lebih dari dua.

12

Pelaksanaan Penelitian
Budidaya Kedelai di Lahan Penelitian
Pengolahan Lahan. Petak percobaan berukuran 3.2 m x 2 m. Lahan
penelitian dikelompokkan menjadi 4 blok, masing-masing blok menjadi ulangan.
Tanah diolah dan digemburkan lalu dibuat petak percobaan. Selanjutnya gulma
dibersihkan hingga petak percobaan siap ditanam.
Aplikasi Pupuk Hijau. Aplikasi pupuk hijau T. diversifolia dilakukan
dengan membenamkan potongan-potongan pucuk T. diversifolia ke dalam tanah
di sepanjang alur tanaman dengan dosis 6.25 ton T. diversifolia per ha. Kemudian
di dalam alur tersebut, ditambahkan 2.5 ton dolomit per ha, 2.5 ton abu sekam per
ha, dan pupuk kandang ayam dengan dosis sesuai perlakuan. Waktu dekomposisi
selama ± 4 minggu. Setiap petak percobaan mendapat penambahan pupuk hijau.
Penanaman Tanaman Pengendali OPT. Tanaman pengendali OPT yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tahi kotok dan serai. Penanaman tahi kotok
(Tagetes erecta) dilakukan 2 minggu sebelum penanaman kedelai. Jarak tanam
Tagetes erecta adalah 80 cm antar tanaman. Tanaman tersebut ditanam di pinggir
petak percobaan dan jumlah Tagetes erecta pada masing-masing petak percobaan
sebanyak 6 tanaman.
Tanaman serai (Andropogon nardus) terdapat di luar petakan dan
mengelilingi blok. Pemangkasan tanaman serai ini dilakukan apabila daunnya
telah rimbun. Daun tanaman ini menghasilkan bau yang dapat mengurangi
serangan hama.
Penanaman Kedelai. Penanaman kedelai dilakukan setelah kompos
pupuk hijau telah matang. Benih kedelai Anjasmoro diberi perlakuan seed
treatment dengan inokulum Rhizobium spp. (5 g Rhizobium/kg benih). Benih
ditanam di sepanjang alur pupuk hijau dengan jarak tanam 40 cm x 10 cm,
sebanyak 1 benih per lubang tanam. Aplikasi FMA bersamaan dengan penanaman
benih kedelai. Setelah benih kedelai ditanam, di atas alur tanam diberi mulsa 6.25
ton jerami per ha secara merata untuk menekan serangan lalat bibit.

13

Pemeliharaan. Pemeliharaan tanaman terdiri atas kegiatan pengendalian
OPT dan pembersihan gulma hingga periode kritis kedelai berakhir. Pengendalian
OPT dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati (larutan daun gamal dan
jengkol). Kegiatan yang juga tercakup dalam pemeliharaan adalah pembubunan
yang bertujuan memperkuat tegaknya batang kedelai saat mulai pengisian polong.
Panen dan Pengamatan. Panen biji kering kedelai dilakukan saat masak
panen. Pengamatan dilakukan terhadap peubah vegetatif dan generatif kedelai.
Peubah-peubah yang diamati pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengamatan peubah vegetatif dan generatif tanaman kedelai
No

Peubah

1

Analisis tanah

2
3
4
5
6
7

Daya tumbuh benih
Tinggi tanaman
Jumlah daun trifoleat
Umur berbunga kedelai
Jumlah bintil akar
Bobot basah daun,
batang, tajuk, akar, dan
bintil akar
Bobot kering daun,
batang, tajuk, akar, dan
bintil akar
Analisis hara daun
Jumlah tanaman panen
petak bersih
Jumlah buku produktif
Jumlah polong isi
Jumlah polong hampa
Jumlah polong terserang
hama
Analisis biji
Bobot biji kering per
tanaman
Bobot biji kering per
petak bersih
Bobot biji kering per
petak pinggir
Bobot kering 100 biji
Analisis pupuk kandang
Pengamatan OPT

8

9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

-

Waktu
pengamatan
sebelum tanam

%
cm
helai
MST
g

1 MST
setiap minggu
setiap minggu
7 MST
7 MST

Satuan

Keterangan
contoh diambil dari
tiap petakan
selama 3-7 MST
selama 3-7 MST
diambil 2 tanaman
per petakan

g

7 MST

dikeringkan dengan
oven pada suhu
500C (5x24 jam)
N, P, dan K
-

%
-

7 MST
saat panen

-

saat panen
saat panen
saat panen
saat panen

-

%
g

saat panen
setelah panen

N dan P
-

g

setelah panen

-

g

setelah panen

-

g
%
%

setelah panen
7 MST
7-12 MST

analisis lengkap

14

Pengamatan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA)
Pengambilan Contoh. Contoh tanah dari lahan penelitian diambil
sebanyak ± 100 g untuk setiap perlakuan dan ulangan, sehingga terdapat 24
contoh. Contoh tanah diambil sebelum aplikasi FMA dan saat kedelai berumur 11
MST yang diambil dari daerah rhizosfer kedelai, sedangkan untuk pengambilan
contoh akar, akar yang diambil adalah akar sekunder (serabut) dari masing-masing
tanaman contoh kedelai saat kedelai berumur 13 MST. Contoh akar kemudian
dimasukkan ke dalam plastik dan diberi label sesuai dengan perlakuan.
Pengamatan Infeksi Akar. Pewarnaan akar dilakukan untuk melihat
infeksi akar, dengan menggunakan metode Phyllip dan Hyman (1970) yang
dimodifikasi. Tahapan pewarnaan tersebut adalah: 1) pemotongan akar serabut
dari masing-masing contoh akar yang telah diambil dari lahan penelitian, 2) saat
di laboratorium, akar yang akan diamati dicuci dengan air mengalir hingga
kotoran dan tanah yang menempel pada akar hilang, 3) akar direndam dalam
larutan KOH 10% sampai akar berwarna putih atau kuning bening, 4) lalu akar
dibilas dengan air bersih dan direndam dalam larutan HCL 2% selama ± 24 jam,
5) setelah itu, akar dibilas dengan air bersih kembali, 6) akar direndam dengan
larutan staining trypan blue 0,05% sampai akar berwarna biru, 7) larutan staining
dibuang dan diganti dengan larutan destaining selama ± 24 jam sampai warna akar
tidak biru pekat lagi.
Pengamatan infeksi akar dilakukan dengan memotong contoh akar yang
telah diwarnai, lalu potongan-potongan akar tersebut ditata di atas preparat
kemudian ditutup dengan cover glass. Jumlah potongan akar setiap preparat
sebanyak 10 potong. Preparat tersebut diamati di bawah mikroskop. Infeksi akar
dapat dilihat melalui adanya vesikula, arbuskula, hifa, maupun spora yang
menginfeksi akar kedelai.
Perhitungan Infeksi Akar. Perhitungan infeksi akar menggunakan rumus
Giovannety dan Mosse (1980) sebagai berikut :

15

Ekstraksi dan Identifikasi Spora. Ekstraksi spora dilakukan agar spora
terpisah dari contoh tanah sehingga indentifikasi spora FMA dan jumlahnya dapat
diketahui. Teknik tuang-saring dari Pacioni (1992) adalah teknik yang digunakan
untuk mengekstraksi spora FMA. Prosedur kerjanya, yaitu: contoh tanah sebanyak
100 g dicampurkan dengan air dan diaduk sampai butiran-butiran tanahnya
hancur. Selanjutnya disaring dalam satu set saringan dengan ukuran 710 μm dan
45 μm, secara berurutan dari atas ke bawah. Saringan bagian atas disemprot
dengan air kran untuk memudahkan bahan saringan lolos. Kemudian saringan
paling atas dilepas dan pada saringan kedua tersisa sejumlah tanah yang tertinggal
pada saringan terbawah. Selanjutnya cairan yang agak bening dipindahkan ke
dalam cawan Petri dan dihitung jumlah spora yang terkandung dalam cairan
tersebut di bawah mikroskop cahaya, kemudian diidentifikasi genusnya.
Perhitungan Spora. Perhitungan spora dilakukan untuk mengetahui
kepadatan spora. Kepadatan spora adalah banyaknya spora tiap contoh tanah yang
dianalisis. Kepadatan spora dihitung dengan dengan rumus sebagai berikut:

Dengan demikian untuk menghitung kepadatan spora pada analisis contoh tanah
sebanyak 100 g adalah: kepadatan spora = jumlah spora/100 g.

16

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Berdasarkan kriteria penilaian sifat-sifat kimia tanah menurut Pusat
Penelitian Tanah (1983), hasil analisis tanah awal menunjukkan reaksi tanah
masam dengan pH sebesar 5.50. Kandungan C-organik tergolong rendah sebesar
1.52% dan unsur makro seperti Ca, Mg, dan K tergolong tinggi berturut-turut
sebesar 11.21, 2.28, dan 0.70 me/100g. Namun kandungan unsur esensial makro
seperti unsur P sangat rendah sebesar 5.70 ppm.
Unsur makro P merupakan hara esensial bagi tanaman yang berperan
dalam pembentukan bunga, buah, dan biji (Hardjowigeno, 2007). Unsur P pada
kedelai berperan dalam pembentukan biji dalam polong. Hasil analisis tanah di
atas menunjukkan bahwa kandungan P menjadi salah satu faktor pembatas di
lahan pertanaman kedelai dan dapat dikatakan bahwa unsur P kurang tersedia bagi
tanaman kedelai, selain disebabkan oleh jumlahnya yang sangat rendah dalam
tanah, faktor penyebab lain adalah reaksi tanah yang masam.
Reaksi tanah yang masam menyebabkan unsur P tidak dapat diserap oleh
tanaman karena difiksasi oleh Al. Pada reaksi tanah yang masam, unsur-unsur
mikro juga menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro yang cukup
banyak. Unsur mikro diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil
sehingga menjadi racun jika terdapat dalam jumlah yang terlalu besar
(Hardjowigeno, 2007). Berdasarkan interpretasi nilai unsur hara mikro menurut
Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (2004), hasil
analisis tanah menunjukkan kandungan unsur mikro Fe, Cu, Zn, dan Mn tergolong
sedang berturut-turut sebesar 2.74, 1.84, 10.09, dan 42.85 ppm.
Upaya untuk mengatasi reaksi tanah yang masam adalah dengan
penambahan kapur. Menurut Balai Penelitian Tanah (2010), pemberian kapur
dalam tanah dapat meningkatkan pH tanah. Pemberian kapur pada tanah masam
juga dimaksudkan untuk menurunkan atau meniadakan pengaruh Al terhadap
pertumbuhan tanaman serta meniadakan selaput Al pada akar tanaman. Akar
tanaman yang diselaputi oleh Al, tidak dapat menyerap hara dengan optimum.
Kedelai merupakan salah satu tanaman yang rentan terhadap kadar Al tanah.

17

Hasil analisis tanah menunjukkan nilai kejenuhan basa sebesar 86.32%
tergolong sangat tinggi dan nilai KTK tanah sebesar 17.11 me/100g masih
tergolong sedang. Nilai kejenuhan basa yang tinggi harus didukung oleh nilai
KTK yang tinggi karena tanah dengan KTK tinggi bila didominasi oleh kation
basa (kejenuhan basa tinggi) dapat meningkatkan kesuburan tanah. Tanah dengan
KTK tinggi mampu menjerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada
tanah dengan KTK rendah (Hardjowigeno, 2007).
Upaya untuk meningkatkan KTK tanah yang masih tergolong sedang
tersebut adalah dengan pemberian pupuk organik. Stevenson (1982) menyatakan
bahwa bahan organik sekalipun kecil, akan berpengaruh besar terhadap KTK
tanah sehingga semakin tinggi bahan organik tanah semakin tinggi pula KTK
tanah. Selanjutnya Kasno (2009) menambahkan bahwa pemberian bahan organik
dapat meningkatkan pH tanah, hara P, dan KTK tanah.
Hasil analisis hara makro dan mikro pupuk (Tabel 2) menunjukkan
perbandingan kandungan hara pada masing-masing pupuk organik yang
digunakan dalam penelitian ini, yaitu: pupuk kandang ayam dan pupuk hijau T.
diversifolia. Pupuk kandang ayam unggul pada kandungan hara P (3.75%), Ca
(7.55%), Mg (0.64%), dan unggul pada beberapa unsur hara mikro (Fe, Zn, dan
Mn). Pupuk hijau T. diversifolia unggul pada unsur hara C (54.88%), N (3.06%),
K (5.75%), dan Cu (32.40%).
Tabel 2. Hasil analisis hara makro dan mikro pupuk kandang ayam dan
Tithonia diversifolia
Pupuk

KA
(%)

Pupuk kandang ayam
Tithonia diversifolia1)

57.0
62.2

Kandungan hara
C
N
P
K
Ca
Mg
……….………………..…(%)..…….……..…………...
23.50
1.28
3.75
1.19
7.55
0.64
54.90
3.06
0.25
5.75
1.69
0.16

Tabel 2. Lanjutan
Kandungan hara
Pupuk
Pupuk kandang ayam
Tithonia diversifolia1)

Fe
Cu
Zn
Mn
……..................(ppm)…......………..…
6,312.50
22.80
287.55
639.05
297.70
32.40
157.80
235.90

Keterangan: 1)Hasil analisis yang dilakukan oleh Lestari (2011)

18

Perkiraan sumbangan hara potensial dari masing-masing pupuk organik
dapat diketahui dari perkalian antara jumlah pupuk organik yang digunakan (kg)
dengan kadar unsur dalam pupuk (%), setelah dikurangi dengan kadar air pupuk.
Nilai tersebut berupa dugaan karena tidak mempertimbangkan kemungkinan
kehilangan hara, kecepatan dekomposisi, dan perbedaan waktu ketersediaan hara
dalam tanah (Kurniansyah, 2010). Tabel 3 menunjukkan bahwa semakin besar
dosis pupuk yang diberikan maka sumbangan hara potensial akan semakin besar.
Tabel 3. Perkiraan sumbangan unsur hara pupuk organik
Pupuk organik (ton/ha)
12.5 pupuk kandang ayam + 6.25 Tithonia
6.25 pupuk kandang ayam + 6.25 Tithonia

Sumbangan unsur hara (kg)
N

P

K

Total
(kg)

141.09

207.47

199.80

548.36

106.69

106.69

167.82

381.20

Pertumbuhan optimal kedelai dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan
agroekosistem yang spesifik. Menurut Sumarno dan Manshuri (2007), tanaman
kedelai dapat membentuk pertumbuhan organ vegetatif dan generatif secara
maksimal pada suhu kardinal (23–26˚C). Pada penelitian ini, pertumbuhan organ
vegetatif kedelai (1–7 MST) terjadi pada suhu yang sesuai untuk pertumbuhan
maksimal kedelai yaitu: 25.1–26.1˚C. Pembentukan organ generatif kedelai
dimulai saat awal pembentukan bunga (6 MST) hingga polong kedelai siap panen
(14 MST), saat itu rataan suhu sebesar 25.1–26.2˚C, angka ini menunjukkan
bahwa pembentukan organ generatif juga terjadi pada suhu yang sesuai untuk
pertumbuhan maksimal kedelai (Gambar 1).
300
Curah Hujan (mm)

Suhu (˚C)

26.5
26
25.5
25

250
200
150
100
50

24.5

0
1

3

5

7

9

Umur (MST)

11 13

1

3

5

7

9

11 13

Umur (MST)

Gambar 1. Suhu (˚C) dan curah hujan (mm) selama pertanaman kedelai

19

Faktor lingkungan tumbuh yang juga mempengaruhi pertanaman kedelai
adalah curah hujan (CH). Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang
memiliki curah hujan sekitar 100–400 mm/bulan, sedangkan untuk mendapatkan
hasil optimal, tanaman kedelai membutuhkan curah hujan antara 100–200
mm/bulan (Ristek, 2000). Hal yang terpenting terdapat pada aspek distribusi curah
hujan, yaitu jumlahnya merata sehingga kebutuhan air pada tanaman kedelai dapat
terpenuhi. Umumnya kebutuhan air pada tanaman kedelai berkisar 350 – 450 mm
selama masa pertumbuhan kedelai.
Data curah hujan di atas menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Curah
hujan berada di bawah 100 mm pada fase perkecambahan kedelai hingga kedelai
berumur 4 MST. Kondisi agak kering tersebut tidak menguntungkan untuk proses
perkecambahan benih. Saat perkecambahan, faktor air menjadi sangat penting
karena akan berpengaruh pada proses pertumbuhan (Suprapto, 1998). Kondisi
kering pun terjadi pada masa pengisian polong (8 – 11 MST), grafik curah hujan
terlihat curam hingga mencapai titik terendah saat CH hanya sebesar 25.8 mm.
Menurut Suprapto (1998), kebutuhan air paling tinggi terjadi saat masa berbunga
dan pengisian polong. Kondisi kekeringan menjadi sangat kritis saat tanaman
kedelai berada pada stadia perkecambahan dan pembentukan polong.
Pertanaman kedelai secara umum menunjukkan kondisi yang baik.
Serangan hama dan penyakit kedelai juga rendah. Beberapa hama yang
menyerang kedelai pada fase vegetatif adalah ulat grayak (Spodoptera litura), ulat
bulu (Dasychira inclusa), ulat penggulung daun (Lamprosema indicate), dan
belalang (Valanga sp.). Intensitas serangan penyakit pada tanaman kedelai juga
rendah, ada beberapa tanaman yang terkena soybean mosaic virus (SMV). Kedelai
yang terkena SMV langsung dieradikasi untuk mencegah penularan ke tanaman
lain. Serangan penyakit tersebut masih berada di bawah ambang ekonomi.
Serangan hama yang dominan saat masa pembentukan dan pengisian
polong adalah kepik polong (Riptortus linearis) dan kepik tungkai besar
(Anoplocnemis phasina) (Gambar 2). Pengendalian hama tersebut dilakukan
dengan penyemprotan pestisida nabati (larutan jengkol) sejak awal pembentukan
polong sehingga serangan hama tersebut dapat ditekan. Di lahan penelitian juga
ditemukan predator alami dari famili Reduvidae dan Coccinellidae yang

20

membantu

dalam

mengendalikan

hama

kedelai.

Serangan

lalat

pucuk

(Melanagromiza dolicostigma) pada penelitian ini hampir tidak ada sehingga
polong bagian pucuk pun terisi penuh.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2. Hama dan penyakit pada kedelai

Dokumen yang terkait

Produksi Kedelai Organik berdasarkan Perbedaan Dosis Pupuk dan Fungi Mikoriza Arbuskula