Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 Pada Harian Kompas (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme)

KONSTRUKSI BERITA UJIAN NASIONAL 2011
PADA HARIAN KOMPAS
(Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK
pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme)

Diajukan Oleh:

NAMA : ELISABET M SAMOSIR
NIM

: 090922061

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas
(Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas dengan Pendekatan
Paradigma Konstruktivisme). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana
rekonstruksi berita Ujian Nasional dan mengetahui bagaimana pandangan dan posisi harian
Kompas terkait pemberitaan Ujian Nasional 2011.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan yang dipakai adalah
paradigma kontruktivisme, yaitu paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan bahwa
pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan ) kita sendiri.
Subyek penelitian yang dipakai adalah berita tentang ujian nasional tahun 2011
tingkat SMA/MA/SMK pada harian Kompas yang terbit mulai tanggal 16 April sampai
tanggal 18 Mei 2011, tidak termasuk opini dan berita lokal . Setelah berita dikumpulkan
terdapat 11 berita yang memenuhi kriteria penelitian. Kemudian data-data yang telah
terkumpul dikliping, ditabulasikan dan berikutnya dianalisis. Ada dua tahap analisis yang
dilakukan, yaitu analisis tekstual kuantitatif dengan cara mentabulasikan berita berdasarkan
jumlah, frekuensi, dan persentase dari setiap kategori paragraph, jenis berita, posisi
berita,rubrik berita, atribut sosial narasumber, dan isu yang diangkat dalam berita. Kemudian
analisis berikutnya adalah analisis framing yang bertujuan untuk melihat isu yang diangkat
dan aspek apa yang ditonjolkan dalam berita ujian nasional tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya konstruksi dalam berita ujian nasional 2011
tingkat SMA/MA/SMK. Konstruksi tersebut dapat dilihat dari isu yang diangkat dan aspek
yang ditonjolkan. Isu yang diangkat adalah pelaksanaan ujian nasional 2011 tingkat
SMA/MA/SMK dan aspek yang ditonjolkan yaitu ujian nasional 2011 mengalami
peningkatan kualitas yang signifikan, dilihat dari meningkatnya persentase kelulusan siswa
tahun ini.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Pujian, hormat dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memampukan penulis untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “KONSTRUKSI
BERITA UJIAN NASIONAL 2011 PADA HARIAN KOMPAS (Studi Analisis Framing
Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK pada Harian Kompas dengan
Pendekatan Paradigma Konstruktivisme)”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan
untuk menyelesaikan masa studi dan mencapaigelar kesarjanaan di Program Ekstensi Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari dalam keterbatasannya, masih banyak

kekurangan dalam

penulisan skripsi ini. Untuk itu dengan besar hati penulis menerima masukan yang baik untuk
perkembangan skripsi ini skripsi ini.
Dan pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
1. Orangtua penulis W. Samosir/S. Panggabean dan seluruh keluarga besar (Abang,
kakak, dan ipar) yang telah mendukung penulis dalam doa, perhatian dan kebutuhankebutuhan penulis, sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik.
2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan FISIP Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Fatma wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Sumatera Utara, terima kasih atas bantuan Ibu kepada penulis dalam
penulisan skripsi ini.
4. Bapak Syarifuddin Pohan, M.Si, Ph.D selaku Dosen Pembimbing, terima kasih
banyak penulis ucapkan atas bantuan Bapak dalam setiap ilmu, pemikiran, dorongan
dan waktu yang Bapak luangkan untuk membantu penulis dalam penyelesaian skripsi
ini.
5. Seluruh dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU, terimakasih telah membekali penulis
dengan pengetahuan selama proses perkuliahan.

Universitas Sumatera Utara

6. Harian Kompas sebagai sumber berita yang sangat berpengaruh besar dalam penulisan
dan penyelesaian skripsi ini.
7. Sahabat penulis , Desi dan Echa terimakasih telah memotivasi dan mendukung
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
8. Seluruh teman-teman ekstensi Ilmu Komunikasi angkatan 2009, terimakasih atas
kebersamaan kita selama kuliah.
9. Rekan kerja penulis, khususnya kak Nurul Fatimah, terimakasih banyak untuk setiap
izin dan pengertian yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Teman-teman KTB dan Persekutuan Siswa Kristen, terimakasih telah mendoakan dan
memotivasi penulis selama penyelesaian skripsi ini.
11. Dan semua pihak yang telah mendukung penulisan skripsi ini, terimakasih untuk
segalanya.

Medan, 16 Agustus 2011
Penulis

Elisabet M.Samosir

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
LAMPIRAN
BAB I. PENDAHULUAN

1

I.1 Latar Belakang Masalah

1

I.2 Perumusan Masalah

4

I.3 Pembatasan Masalah

5

I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

5

I.4.1 Tujuan Penelitian

5

I.4.2 Manfaat Penelitian

5

I.5 Kerangka Teori

6

I.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa

6

I.5.2 Berita dan Jurnalistik

7

I.5.3 Paradigma Konstruktivisme

8

I.5.4 Ideologi Media

9

I.5.5 Hegemoni Media

9

I.5.6 Analisis Framing

10

I.6 Kerangka Konsep

11

I.7 Operasional Konsep

13

Universitas Sumatera Utara

BAB II. URAIAN TEORITIS

14

II.1Komunikasi dan Komunikasi Massa

14

II.2 Berita dan Jurnalistik

17

II.2.1 Berita

17

II.2.2 Jurnalistik

19

II.3 Paradigma Konstruktivisme

20

II.4 Ideologi Media

27

II.5 Hegemoni Media

28

II.6 Analisis Framing

30

BAB III. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN METODOLOGI
PENELITIAN
III.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

37
37

III.1.1 Sejarah Harian Kompas

38

III.1.2 Visi, Misi, dan Motto Harian Kompas

40

III.1.3 Nilai-nilai Dasar Harian Kompas

41

III.2 Metode Penelitian

41

III.3 Subjek Penelitian

43

III.4 Teknik Pengumpulan Data

43

III.5 Teknik Analisis Data

44

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

48

IV.1 Analisis Isi Tekstual

49

IV.2 Analisis Framing

62

IV.2.1 Frame Berita

63

Universitas Sumatera Utara

IV.2.2 Rangkuman Frame Berita
BAB V. PENUTUP

83
87

V.1 Kesimpulan

87

V.2 Saran

88

V.3 Implikasi Penelitian

89

V.3.1 Implikasi Teoritikal

89

V.3.2 Implikasi Praktikal

89

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel. 1 Perbandingan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis

22

Tabel 2 Dimensi Framing Robert Entman

35

Tabel 3 15 Koran Teratas Tingkat Nasional

37

Tabel 4 Contoh Tabel Narasumber

44

Tabel 5 Contoh Tabel Jumlah Paragraf

45

Tabel 6 Contoh Tabel Jenis Berita

45

Tabel 7 Contoh Tabel Rubrik

45

Tabel 8 Contoh Tabel Isu yang Ditonjolkan

46

Tabel 9 Daftar Berita Ujian Nasional

49

Tabel 10 Profil Berdasarkan Halaman

50

Tabel 11 Profil Berdasarkan Jenis Berita

52

Tabel 12 Profil Berdasarkan Rubrik

53

Tabel 13 Profil Berdasarkan Jumlah Paragraf

53

Tabel 14 Profil Berdasarkan Narasumber

54

Tabel 15 Profil Berdasarkan Isu yang Diangkat

55

Tabel 16 Frekuensi Jumlah Paragraf

56

Tabel 17 Frekuensi Jenis Berita

57

Tabel 18 Frekuensi Posisi Berita

58

Tabel 19 Frekuensi Rubrik

58

Tabel 20 Frekuensi Narasumber

60

Tabel 21 Frekuensi Isu yang Ditonjolkan

61

Tabel 22 Daftar Berita yang Diteliti

62

Tabel 23 Frame Berita Ujian Nasional

86

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas
(Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas dengan Pendekatan
Paradigma Konstruktivisme). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana
rekonstruksi berita Ujian Nasional dan mengetahui bagaimana pandangan dan posisi harian
Kompas terkait pemberitaan Ujian Nasional 2011.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan yang dipakai adalah
paradigma kontruktivisme, yaitu paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan bahwa
pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan ) kita sendiri.
Subyek penelitian yang dipakai adalah berita tentang ujian nasional tahun 2011
tingkat SMA/MA/SMK pada harian Kompas yang terbit mulai tanggal 16 April sampai
tanggal 18 Mei 2011, tidak termasuk opini dan berita lokal . Setelah berita dikumpulkan
terdapat 11 berita yang memenuhi kriteria penelitian. Kemudian data-data yang telah
terkumpul dikliping, ditabulasikan dan berikutnya dianalisis. Ada dua tahap analisis yang
dilakukan, yaitu analisis tekstual kuantitatif dengan cara mentabulasikan berita berdasarkan
jumlah, frekuensi, dan persentase dari setiap kategori paragraph, jenis berita, posisi
berita,rubrik berita, atribut sosial narasumber, dan isu yang diangkat dalam berita. Kemudian
analisis berikutnya adalah analisis framing yang bertujuan untuk melihat isu yang diangkat
dan aspek apa yang ditonjolkan dalam berita ujian nasional tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya konstruksi dalam berita ujian nasional 2011
tingkat SMA/MA/SMK. Konstruksi tersebut dapat dilihat dari isu yang diangkat dan aspek
yang ditonjolkan. Isu yang diangkat adalah pelaksanaan ujian nasional 2011 tingkat
SMA/MA/SMK dan aspek yang ditonjolkan yaitu ujian nasional 2011 mengalami
peningkatan kualitas yang signifikan, dilihat dari meningkatnya persentase kelulusan siswa
tahun ini.

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG MASALAH
Bidang yang sangat berpengaruh dalam pembangunan suatu bangsa adalah bidang

pendidikan. Pendidikan mengintegrasi dalam segala bidang dan dengan pendidikan tercipta
sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan bukan hanya membentuk kognitif, tetapi
pendidikan juga harus mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik,
seperti: pengenalan diri, keterampilan, akhlak mulia, kecerdasan, kekuatan spiritual dan lainlain. Untuk mencapai tujuan yang mulia ini disusunlah kurikulum, yang merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan dan metode pembelajaran.
Dan untuk melihat tingkat keberhasilan pendidikan tersebut dilakukanlah evaluasi. Evaluasi
yang berhasil adalah evaluasi yang mengunakan alat yang sesuai untuk mengukur setiap
aspek tujuan.
Dalam sistem pendidikan Indonesia, khususnya untuk Sekolah Dasar sampai Sekolah
Menengah Atas/sederajat, saat ini menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK),
Ujian Nasional merupakan evaluasi belajar pada akhir tahun ajaran yang diterapkan pada
beberapa mata pelajaran.
Namun UN hingga kini menjadi kontroversi di tengah-tengah masyarakat maupun
pemerintah. Banyak polemik yang tak kunjung terjawab. Beberapa diantaranya seperti
makelar jawaban, jual beli soal maupun kunci jawaban, pencurian soal, unjuk rasa, kasus
bunuh diri, frustrasi dan dampak psikologis terkait siswa-siswi yang tidak lulus. Di satu sisi,
UN merupakan sebuah cita-cita mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Dimana pemerintah menginginkan pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.
Di sisi lain pemerintah belum memiliki kemampuan untuk meningkatakan standarisasi dan
kualitas pendidikan kita, baik kualitas pengajar, standarisasi kurikulum dan standarisasi
sarana prasarana yang ada. Sehingga sistem pendidikan kita mengalami ketimpangan.
Selain itu, standar nilai kelulusan yang disamaratakan secara nasional dan yang
semakin tinggi setiap tahunnya, merupakan hal yang tidak relevan. Faktanya masih banyak

Universitas Sumatera Utara

sekolah-sekolah di daerah yang tidak difasilitasi oleh pemerintah, baik dari segi sarana
prasarana, jumlah dan kwalitas tenaga pengajar. Di daerah masih ada sekolah yang hanya
memiliki dua atau tiga orang guru, untuk mengajar siswa SMA dari kelas X sampai kelas XII.
Masih banyak sekolah yang gedung dan alat mobilernya tidak memadai untuk mendukung
proses belajar mengajar. Sementara di kota-kota besar, gedung-gedung sekolah berdiri megah
dengan tenaga pengajar yang berkualitas dan dilengkapi oleh fasilitas yang mendukung
pendidikan. Bagaimana mungkin sekolah-sekolah tertinggal dapat disetarakan standar
penilaiannya dengan sekolah-sekolah bonafit yang ada di perkotaan, dimana semua fasilitas
pendidikan serba memadai.
Ujian nasional yang berlangsung hanya dalam beberapa hari dan hanya menguji
beberapa mata pelajaran dijadikan patokan untuk mengukur keberhasilan siswa/siswi juga
dianggap kurang tepat. Karena pada saat pengumuman, tidak sedikit ditemui siswa yang
selama tiga tahun menjalani pembelajaran memiliki prestasi yang baik dinyatakan tidak lulus.
Dengan menjadikan UN patokan tunggal dalam evaluasi hasil belajar, seolah-olah
meniadakan arti dari pendidikan selama tiga tahun sebelumnya dan mata pelajaran yang tidak
masuk ujian nasional. Sistem ujian nasional memandang keberhasilan anak didik dilihat
hanya dalam beberapa hari, tidak secara kontiniu selama proses belajar mengajar dilakukan.
Hal-hal diataslah yang memicu banyaknya penyalahgunaan ujian nasional.
Pendidikan dipolitisasi sedemikian rupa demi kepentingan yang tidak memihak kepada
seluruh masyarakat. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya tidak mengherankan apabila
ditemukan banyak kejanggalan-kejanggalan. Seperti, pembagian kunci jawaban kepada siswa
oleh tim sekolah ataupun “tim sukses”,

kebocoran soal maupun kunci jawaban yang

terorganisir oleh penyelenggara pendidikan dari berbagai tingkat, guru yang memperbaiki
lembar ujian siswa, anjuran ataupun nasehat guru supaya kerjasama ketika ujian berlangsung,
dan masih ada lagi trik-trik yang digencarkan dalam kecurangan UN. Demi “keberhasilan”
segala cara pun dihalalkan, sehingga cita-cita mulia pendidikan tercoreng menjadi
pembodohan.

Universitas Sumatera Utara

Hal di atas merupakan racun mematikan bagi bangsa Indonesia secara sistemik mulai
dari pemimpin nasional, pemimpin provinsi, daerah, guru bahkan sampai kepada siswa-siswi.
Sistem ini akan merusak mental bangsa. Mengajarkan generasi penerus untuk meraih
keberhasilan dengan kecurangan. Hal yang menyedihkan, menanggapi kondisi tersebut,
Mendiknas menuturkan dengan enteng : “Menyelengarakan Ujian Nasional adalah sebuah
tugas besar, jika terjadi beberapa kecurangan, saya rasa itu wajar, karena kami bukan
malaikat,” (http://kompasiana.com/post/edukasi/2011/04/26/menurut-mendiknas-kecuranganun-wajar/). Dinas Pendidikan dan sekolah bersandiwara demi nama baik dengan meraih
tingkat kelulusan yang tinggi, bahkan mereka sangat bangga apabila mencapai persentase
100% walau dengan kecurangan.
Memandang fakta-fakta yang ada di lapangan, sangat bijak bila sistem ujian nasional
ini ditinjau ulang keberadaannya. Berbagai desakan dan tuntutan juga sudah disampaikan
agar ujian nasional ditiadakan. Tetapi hal itu tidak membuat pemerintah bergeming. Ujian
nasional 2011 tetap diadakan meskipun dengan beberapa ketentuan yang baru lagi. Tahun ini,
paket soal UN dikemas dalam lima kode soal (A,B,C,D,E) dan memperhitungkan nilai
sekolah sebanyak 40% sebagai penentu nilai kelulusan, dengan nilai kelulusan minimal
adalah 5.5. Dari segi sistem sudah semakin baik, tetapi sistem yang setiap tahunnya
mengalami perubahan, juga menjadi kelemahan karena ketidak adaan sistem baku ujian
nasional. Mental peserta ujian sudah terlanjur terkontaminasi dan pada pelaksanaan ujian
nasional 2011 ini pun, kecurangan tetap terjadi.
Hampir seluruh media, khususnya media cetak menyoroti masalah ujian
nasional ini. Pemberitaannya juga beragam-ragam, ada yang mengkritik dan
mendukung menolak UN dan ada juga surat kabar yang menampilkan seolah-olah
ujian nasional berjalan dengan baik dan benar. Kompas juga mengulas setiap berita
tentang ujian nasional dengan detail dan mendasar. Inilah mengapa peneliti memilih
harian Kompas sebagai objek penelitian tentang berita ujian nasional 2011.
Kompas merupakan salah satu surat kabar yang telah mengawal perjalanan
negeri ini sejak tahun 1963. Kompas bermula sebagai media bulanan yang bernama

Universitas Sumatera Utara

“Inti Sari”, dengan 128 halaman pada saat pertama kali terbit pada tanggal 7 agustus
1963. perkembangan berikutnya berubah nama menjadi “Bentara Rakyat” dan
terakhir menjadi Kompas. Kompas edisi pertama dicetak pada tanggal 28 juni 1965
dengan motto “ Amanat Hati Nurani Rakyat”. Dan saat terbit pada 6 Oktober 1965,
Kompas menembus angka 23.268 eksemplar, hingga pada akhir pemerintahan
Soeharto tiras Kompas mencapai angka lebih dari 600 ribu eksemplar per hari.
Pembaca koran ini mencapai 2.25 juta orang di seluruh Indonesia. Sejarah perjalan
Kompas menjadi sebuah jaminan objektifitas dalam setiap pemberitaannya
(http://wikipedia.org/wiki/KOMPAS).
Pada umumnya pemberitaan di media cetak maupun elektronik sedikit banyak
selalu dipengaruhi oleh latar belakang, seperti ideologi dan pemilik media. Bahkan
secara khusus cara pandang wartawan terhadap suatu isu mempengaruhi isi berita
yang dibuatnya. Dan tidak menutup kemungkinan hal serupa juga terjadi dalam surat
kabar harian Kompas terkait pengulasan berita tentang ujian nasional 2011. Kita tidak
mengetahui secara jelas fakta-fakta apa yang mendasari pemikiran wartawan dan
bagaimana suatu peristiwa tersebut dikonstruksi menjadi berita. Untuk mengetahui
lebih mendalam konstruksi pemberitaan, peneliti menggunakan analisis framing.
Framing bersama semiotik dan analisis wacana berada dalam rumpun studi analisis.
Proses framing berkaitan dengan persoalan bagaimana sebuah realitas dikemas dan
disajikan dalam persentase media.
Dari serangkaian penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti konstruksi
berita tentang ujian nasional 2011 pada harian Kompas.
1.2

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perumusan masalah sebagai berikut:
“Bagaimanakah konstruksi berita Ujian Nasional 2011 dalam harian Kompas?”

1.3

PEMBATASAN MASALAH

Universitas Sumatera Utara

Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas, maka peneliti merasa perlu untuk
melakukan pembatasan agar dalam penelitian lebih jelas dan lebih fokus. Adapun pembatasan
masalah adalah sebagai berikut:
a. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, untuk mengetahui isi pemberitaan Ujian
Nasional 2011.
b. Penelitian ini menggunakan analisis framing . Media yang diteliti adalah media
cetak harian, dalam hal ini harian Kompas.
c. Penelitian ini dibatasi untuk meneliti konstruksi berita Ujian Nasional 2011 untuk
tingkat SMA/MA/SMK.
d. Berita yang diteliti adalah pemberitaan mengenai Ujian Nasional 2011 yang terbit
mulai tanggal 16 April sampai dengan tanggal 18 Mei 2011.
1.4

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui konstruksi berita Ujian Nasional 2011 di Harian Kompas.
2. Untuk mengetahui pandangan dan posisi harian Kompas

terkait pemberitaan

Ujian Nasional 2011.
1.4.2 Manfaat Penelitian
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan memperkaya

bacaan referensi, bahan penelitian serta sumber bacaan di lingkungan Universitas
Sumatera Utara.
2. Secara teoritis, untuk menerapkan ilmu yang diterima penulis selama menjadi

mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU, serta menambah wawasan peneliti
mengenai studi konstruktivitas berita Ujian Nasional 2010 pada harian Kompas.

Universitas Sumatera Utara

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak yang

membutuhkan dan yang terkait di dalamnya agar dapat lebih meningkatkan
kualitasnya.
1.5

KERANGKA TEORI
Dalam penelitian ilmiah, yang menjadi landasan dalam berpikir adalah teori. Teori

berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan memberikan pandangan terhadap sebuah
permasalahan. Teori merupakan himpunan konstruk (konsep), definisi dan preposisi yang
mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara
variable, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat,2004:6).
1.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa
Harold Laswell menerangkan cara terbaik untuk menggambarkan komunikasi
adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who Says What In Which
Channel To Whom With What Effect? Yang berarti “ Siapa Mengatakan Apa dengan
Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?” (Mulyana,2005:62).
Komunikasi massa merupakan salah satu jenis dari komunikasi. Komunikasi
massa itu sendiri diadopsi dari istilah bahasa Inggris, mass communication,
kependekan dari mass media communication (komunikasi media massa). Artinya
komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang “mass
mediated”.
Kata massa dalam komunikasi massa dapat diartikan lebih dari sekedar “orang
banyak”. Massa kita artikan sebagai “meliputi semua orang yang menjadi sasaran
alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran. Massa
mengandung pengertian orang banyak, tetapi mereka tidak harus berada di suatu
lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar di berbagai lokasi dalam waktu yang
sama dan menerima pesan-pesan komunikasi yang sama. (Wiryanto,2005,3).
Khalayak media bukan partisipan komunikasi, melainkan objek dari
komunikasi yang termediasi dan terstruktur dari satu arah. Konteks produksi pesan

Universitas Sumatera Utara

berbeda

dengan

konteks

penerimanya.

Secara

signifikan

tidak

ditemukan

resiproksitas, kesetaraan, dan saling pemahaman. Dalam komunikasi massa, individu
dan komunitas lebur dalam totalitas massa. Dengan konteks ini, komunikasi massa
modern mencerminkan problem-problem masyarakat massa (Sudibyo,2009:194).
Beberapa ciri-ciri komunikasi massa yang membedakannya dengan komunikasi lain
adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi massa berlangsung satu arah
2. Komunikator pada komunikasi massa terlembaga
3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum
4. Media komunikasi massa menimbulakan keserempakan
5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen.

1.5.2 Jurnalistik dan Berita
Jurnalistik adalah istilah yang berasal dari bahasa Belanda journalistiek, dan
dalam bahasa Inggris journalistic atau journalism, yang bersumber pada perkataan
journal sebagai terjemahan dari bahasa Latin diurnal, yang berarti “harian” atau
“setiap hari”. Secara gamblang, jurnalistik didefenisikan sebagai keterampilan atau
kegiatan mengolah bahan berita mulai dari peliputan sampai kepada penyusunan yang
layak disebarluaskan kepada masyarakat.
Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang
terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran internet, atau dari mulut ke mulut kepada
orang ketiga atau orang banyak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berita
diartikan sebagai cerita atau keterangan mengenai cerita atau peristiwa yang hangat.
Sedangkan pemberitaan diartikan proses, cara, perbuatan memberitakan atau
melaporkan. Ada juga ahli yang mendefenisikan berita sebagai susunan kejadian
setiap hari, sehingga masyarakat menerimanya dalam bentuk yang tersusun dan

Universitas Sumatera Utara

dikemas rapi menjadi cerita, pada hari yang sama di radio, atau televisi dan keesokan
harinya di berbagai media. Tidak semua hal dapat dikatakan berita, sesuatu dapat
dikatakan berita jika terdapat unsur-unsur berita di dalamnya, seperti aktual (baru),
kedekatan, penting, akibat, pertentangan/konflik, seks, ketegangan, kemajuankemajuan, konsekuensi, emosi, humor, dan human interest.
1.5.3 Paradigma Konstruktivisme
Pengertian paradigma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diantaranya: 1.
paradigma adalah daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan
konjugasi (penggabungan inti) dan deklinasi (perbedaan kategori) dari kata tersebut.;
2. paradigma adalah model dari teori ilmu pengetahuan; 3. paradigma adalah
kerangka berfikir.
Menurut ilmu komunikasi definisi paradigma adalah pola yang meliputi
sejumlah unsur, yang berkaitan secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
Pemahaman terhadap paradigma dan perspektif yang kini menjadi acuan
dalam teori komunikasi modern diilhami oleh tradisi proses informasi, dimana teori
komunikasi itu berawal dari perspektif pemprosesan informasi sehingga menjadi
paradigma.
Menurut Robert Fredrichs, definisi paradigma adalah pandangan yang
mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi subject matter yang
semestinya dipelajari.
Konstruktivisme mengatakan bahwa kita tidak akan pernah mengerti realitas
yang sesungguhnya secara ontologis. Yang kita mengerti adalah struktur konstruksi
dari suatu objek. Konstruktivisme tidak bertujuan mengerti realitas, tetapi hendak
melihat bagaimana kita menjadi tau akan sesuatu (Ardianto,,2007:80).
Pandangan

konstruktivisme

menolak

pandangan

positivisme

yang

memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme,
bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka

Universitas Sumatera Utara

dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Positivisme meyakini bahwa
pengetahuan harus merupakan representasi dari kenyataan dunia yang terlepas dari
pengamat (objektivisme). Konstruktivitas adalah salah satu filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri
(Ardiyanto,2007:154).
1.5.4 Ideologi Media
Kata ideology berasal dari bahasa Greek, terdiri dari kata idea dan logia. Idea berasal
dari kata idein yang berarti melihat. Idea berarti sesuatu yang ada dalam pikiran sebagai hasil
perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Sedangkan logis berasal dari kata logos yang
berarti world. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjutnya
kata logia berarti science (pengetahuan) atau teori (Sobur,2004:64).
Ideologi dapat diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu
yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya.
Ideologi ini abstrak dan berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam
menafsirkan realitas (Sudibyo,2001:12).
Media berperan mendefenisikan bagaimana realitas itu dijelaskan dengan cara tertentu
kepada khalayak. Pendefenisian tersebut bukan hanya peristiwa, melainkan juga aktor-aktor
sosial. Dari berbagai fungsi media dalam mendefenisikan realitas, fungsi utama ideologi
adalah media sebagai mekanisme integrasi sosial, yaitu menjaga nilai-nilai kelompok dan
mengontrol bagaimana nilai-nilai kelompok itu di jalankan. Berita dibentuk dari ideologi
dominan dalam suatu wilayah. Ideologi juga bisa bermakna pemaknaan atau penandaan.
1.5.5 Hegemoni Media
Teori Althusser tentang ideology menekankan bagaimana kekuasaan kelompok
dominan dalam mengontrol kelompok lain. Mengenai cara atau penyebaran ideologi
dilakukan, teori Gramcsi tentang hegemoni sangat baik. Antonio Gramsci membangun suatu
teori yang menekankan cara penyebaran ideologi tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Teori hegemoni Gramsci menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada pertarungan
yang memperebutkan penerimaan publik. Karena pengalaman sosial kelompok subordinat
(apakah oleh kelas, gender, ras, umur, dan sebagainya) berbeda dengan ideologi kelompok
dominan. Oleh karena itu, perlu usaha bagi kelompok dominan untuk menyebarkan ideologi
dan kebenarannya agar diterima, tanpa perlawanan. Salah satu strategi kunci dalam hegemoni
adalah nalar awam (common sense) (Eriyanto,2001:107).
Kelebihan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana
yang dominan, yang terkadang kebenarnya bersifat sepihak. Ada suatu nilai atau konsensus
yang dianggap memang benar, sehingga ketika ada cara pandang atau wacana lain dianggap
tidak benar. Media disini secara tidak sengaja dapat menjadi alat bagaimana nilai-nilai atau
wacana yang dipandang dominan itu disebarkan dan meresap dalam benak khalayak sehingga
menjadi konsensus bersama.
1.5.6 Analisis Framing
Kata framing berasal dari bahasa Inggris yakni dari kata frame. Gagasan ini
pertama kali dilontarkan Beterson pada tahun 1955. Mulanya frame dimaknai sebagai
struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan
politik, kebijakan, dan wacana. Dalam perspektif komunikasi, analisis framing
dipergunakan untuk menbedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi
fakta.
Analisis framing adalah salah satu bentuk analisis teks yang berada dalam
kategori penelitian konstruksionis. Paradigma ini memandang realitas kehidupan
sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil dari konstruksi (Eriyanto,2005:37).
Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspekif atau cara
pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.
Framing juga merupakan pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk
dan dikonstruksi oleh media (Eriyanto,2005:66).

Universitas Sumatera Utara

Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isi dan penekanan
aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita
melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Ia juga
menambahakan bahwa frame berimplikasi penting bagi komunikasi politik.
Menurutnya, frame menuntut perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan
mengabaikan elemen lainnya memungkinkan khalayak memiliki reaksi berbeda.
Pendekatan Entman inilah yang digunakan dalam penelitian ini. Dua dimensi
yang telah dituliskan di atas, selanjutnya di konsepsi oleh Etnman menjadi perangkat
frame yang selalu ada dalam sebuah berita. Perangkat framing yang dimaksud
meliputi pendefenisian masalah (Define Problem), memperkirakan masalah atau
sumber masalah (Diagnose Causes), membuat keputusan moral (Make Moral
Judgement), menekankan penyelesaian (Treatment Recommendatioan). Empat
perangkat framing ini merupakan “pisau analisis” framing yang digunakan untuk
mengolah dan menganalisa frame pemberitaan sebuah media.
1.6. KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep dalam penelitian ini memakai analisis framing Robert
Entman. Fokus perhatian Entman tertuju pada dua dimensi besar yaitu seleksi isu dan
penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas isu.
Kemudian Entman mengkonsepsi dua dimensi besar tersebut ke dalam
perangkat framing. Perangkat framing yang dimaksud adalah:
1.

Pendefenisian masalah (define problem), yaitu bagaimana suatu peristiwa dilihat?
Atau sebagai masalah apa?

2.

Memperkirakan masalah (diagnose causes), yaitu melihat peristiwa disebabkan apa?
Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah?

3.

Membuat keputusan moral (make moral judgement), yaitu nilai moral apa yang
disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk
melegitimasi suatu tindakan?

Universitas Sumatera Utara

4.

Menekankan penyelesaian (Treatment recommendation), yaitu penyelesaian apa yang
ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut? Jalan apa yang ditawarkan dan harus
ditempuh untuk mengatasi masalah.

Visualisasi Konseptual Analisis Framing Robert Entman



FRAMING
Seleksi isu
Penonjolan aspek tertentu dari isu
BERITA

Problem Identification
Pendefinisian Masalah

Moral Judgement/ Evaluation
Membuat Keputusan Moral

Diagnoses Causes
Memperkirakan Sumber Masalah

Treatment Recommendation
Rekomendasi Penyelesaian

(Sumber : Majalah Kajian Media Dictum Vol.1, No. 2 September 2007, dalam skripsi
Andi Sunarjo Simatupang. 2010. Konstruksi Berita 100 Hari SBY-Boediono, FISIP
USU MEDAN)

1.7

TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih
mudah

dibaca

atau

dipresentasikan

(Singarimbun,1995:263).

Dilihat

dari

kemungkinan banyaknya jumlah artikel berita harian Kompas, maka peneliti akan
menyederhanakan dalam bentuk analisis dua tahap. Tahap tersebut adalah:
a. Dengan metode analisis isi tekstual secara konvensional kuantitatif untuk

mengetahui isu-isu yang dianggap menonjol yang membantu dalam pemilihan
berita yang akan dikonstruksi. Dalam penelitian ini kategorisasi yang digunakan

Universitas Sumatera Utara

peneliti adalah berdasarkan jumlah paragraph, jenis berita, posisi berita, rubrik
berita, nama dan atribut sosial narasumber dan isu yang menonjol dalam berita.
Kemudian kategorisasi tersebut akan ditabulasikan berdasarkan jumlah,
frekuensi dan persentase.
b. Analisis kualitatif dalam konstruksi berita yang dipilih oleh peneliti untuk

diteliti. Berita yang akan diteliti kemudian ditabulasikan berdasarkan berita yang
diteliti dan frame isi pemberitaan, yaitu pendefenisian masalah, memperkirakan
masalah

atau

sumber,

membuat

keputusan

moral,

dan

menekankan

penyelesaian.

BAB II
URAIAN TEORITIS

II.1. Komunikasi dan Komunikasi Massa

Universitas Sumatera Utara

BAB II
URAIAN TEORITIS

II.1. Komunikasi dan Komunikasi Massa
Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas komunikasi karena
komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial manusia dan
masyarakat. Aktivitas komunikasi dapat dilihat pada setiap aspek kehidupan sehari-hari
manusia yaitu sejak dari bangun tidur sampai manusia beranjak tidur pada malam hari. Bisa
dipastikan sebagian besar dari kegiatan kehidupan kita mengunakan komunikasi baik
komunikasi verbal maupun nonverbal.
Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, “comunis”, yang berarti membuat
kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar katanya
“communis” adalah “communico” yang artinya berbagi. Dalam literatur lain disebutkan
komunikasi juga berasal dari kata “communication” atau “communicare” yang berarti "
membuat sama" (to make common). Istilah “communis” adalah istilah yang paling sering di
sebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata kata Latin yang
mirip Komuniksi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan di anut
secara sama. (http://cahpct.blogdetik.com/2009/04/02/definisi-komunikasi/)
Pengertian komunikasi sudah didefinisikan oleh banyak orang, jumlahnya sebanyak
orang yang mendifinisikannya. Menurut Harold Lasswell komunikasi pada dasarnya
merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa?
kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom?
with what effect?). Menurut Onong Uchjana Effendi, komunikasi adalah proses penyampaian

Universitas Sumatera Utara

pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media). Wilbur
Schramm menyatakan komunikasi sebagai suatu proses berbagi (sharing process).

Dance dan Larson (Vardiansyah, 2004 : 9) setidaknya telah mengumpulkan 126
definisi komunikasi yang berlainan Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis pada
prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang
atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi
dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk
melakukan umpan balik.

Ilmu komunikasi dari waktu ke waktu mengalami perkembangan yang semakin pesat.
Pada awalnya komunikasi memang sekadar alat antar manusia, agar manusia saling
berhubungan dan mengerti. Awalnya komunikasi tidak mendapat perhatian lebih, sampai
pada abad ke-5 SM, di Yunani berkembang ilmu retorika yang berarti seni berpidato dan
berargumentasi yang bersifat menggugah atau seni menggunakan bahasa secara lancar untuk
mempengaruhi atau mengajak. Sejak abad ini komunikasi khususnya dalam hal retorika
mendapat perhatian besar dari para filsuf-filsuf besar pada waktu itu, inilah yang menjadi
bibit dari komunikasi massa (Ardianto.2007;20).
Komunikasi massa itu sendiri diadopsi dari istilah bahasa Inggris, mass
communication. Artinya komunikasi yang menggunakan media massa. Kata massa dalam
komunikasi massa dapat diartikan lebih dari sekedar orang banyak. Massa kita artikan
sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orangorang pada ujung lain dari saluran. Massa mengandung pengertian orang banyak, tetapi
mereka tidak harus berada di suatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar di
berbagai lokasi dalam waktu yang sama dan menerima pesan-pesan komunikasi yang sama
(Wiryanto,2005,3).

Universitas Sumatera Utara

Khalayak media bukan partisipan komunikasi, melainkan objek dari komunikasi yang
termediasi dan terstruktur dari satu arah. Konteks produksi pesan berbeda dengan konteks
penerimanya. Secara signifikan tidak ditemukan resiproksitas, kesetaraan, dan saling
pemahaman. Dalam komunikasi massa, individu dan komunitas melebur dalam totalitas
massa. Dengan konteks ini, komunikasi massa modern mencerminkan problem-problem
masyarakat massa (Sudibyo,2009:194).
Beberapa ciri-ciri komunikasi massa yang membedakannya dengan komunikasi lain
adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Dalam media cetak seperti koran,
komunikasi hanya berjalan satu arah. Komunikan tidak bisa memberikan respon
kepada komunikator media yang bersangkutan.
2. Komunikator pada komunikasi massa terlembaga. Komunikator dalam media massa
bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang yang digerakkan oleh satu system
manajemen dalam mencapai tujuan tertentu.
3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. Pesan pada komunikasi massa itu tidak
ditujukan pada satu orang atau satu kelompok tertentu, tetapi kepada seluruh lapisan
masyarakat.
4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Media massa dapat
menyampaikan pesan kepada komunikan secara serempak walau berada pada tempat
yang berbeda.
5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen. Media massa bersifat anonim dan
heterogen, maksudnya komunikan merupakan orang-orang yang tidak saling
mengenal dan beraneka ragam, baik itu status, daerah, prinsip dan lain-lain.

Universitas Sumatera Utara

Komunikasi massa memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut:
a. Menginformasikan (to inform). Maksudnya media massa merupakan tempat untuk
menginformasikan peristiwa-peristiwa atau hal-hal penting yang perlu diketahui oleh
khalayak.
b. Mendidik (to educate). Tulisan di media massa dapat mengalihkan ilmu pengetahuan
sehingga mendorong perkembangan intelektual, membentuk watak dan dapat meningkatkan
keterampilan serta kemampuan yang dibutuhkan para pembacanya.
c. Menghibur (to intertait). Media massa merupakan tempat yang dapat memberikan hiburan
atau rasa senang kepada pembacanya atau khalayaknya.
d. Mempengaruhi (to influence). Maksudnya bahwa media massa dapat mempengaruhi
pembacanya. Baik pengaruh yang bersifat pengetahuan (cognitive), perasaan (afektive),
maupun tingkah laku (conative).
e. Kontrol sosial (wacth dog), maksudnya bahwa dengan adanya media massa kita dapat
mengontrol jalannya pemerintahan.

II.2 Jurnalistik dan Berita
II.2.1. Jurnalistik
Istilah jurnalistik berasal dari bahasa Belanda journalistiek. Seperti halnya dengan istilah
bahasa Inggris journalism yang bersumber dari kata journal, yang merupakan terjemahan dari
bahasa Latin diurnal yang berarti “harian” atau “setiap hari”.

Dari berbagai literatur dapat dikaji defenisi jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan,
mencari,mengumpulkan,mengolah, menyajikan dan menyebarkan berita, melalui media
berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya”(Haris S.2005). Peristiwa
apa saja, apakah itu peristiwa factual atau pendapat seseorang, jika diperkirakan dapat

Universitas Sumatera Utara

menarik perhatian khalayak, merupakan bahan dasar jurnalistik yang kemudian bisa diolah
menjadi berita untuk disebarluaskan kepada masyarakat (Effendy,2005:151).

F. Fraiser Bon membagi fungsi jurnalistik ke dalam empat bagian, yaitu To Inform, To
Interpret, To Guide, dan To Entertain. Sedangkan Assegaft membaginya menjadi memberi
informasi, memberi hiburan, melaksanakan kontrol sosial, pers (the fourth estate) (Haris,
2005).

Berdasarkan bentuk dan pengelolaanya, jurnalistik dapat dibagi ke menjadi (Sumandria,
2006):

1. Jurnalistik media cetak

Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual.
Verbal, menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata dalam
rangkaian kata dan kalimat yang efektif dan komunikatif. Visual, menunjuk kepad
kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak dan hal-hal yang
menyangkut segi tampilan.

2. Jurnalistik media elektronik auditif

Jurnalistik media elektronik auditif atau jurnalistik radio siaran, lebi anyak
dipengaruhi dimensi verbal, tehnologikal dan fisikal. Verbal berhubungan dengan
kemempuan menyusun kata, tehnologikal berhubungan dengan tehnologi yang

Universitas Sumatera Utara

memungkinkan daya pancar radio dapat ditangkap dengan baik. Fisikal erat kaitannya
dengan kesehatan fisik dan kemampuan pendengaran khalayak.

3. Jurnalistik media elektronik audiovisual

Merupakan gabungan dari verbal, visual, tehnologikal, dan dimensi dramatikal.
Dramatikal berarti berkaitan nilai dan aspek dramatic yang dihasilkan oleh rangkain
gambar secara simultan.

II.2.2 Berita

Salah satu produk jurnalistik adalah berita. Berita menurut Doug Newsom & James A.
Wollert dapat didefenisikan sebagai apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih
luas lagi masyarakat. Dan menurut Michael V. Charnley berita adalah laporan tercepat
mengenai fakta dan opini yang menarik dan penting, atau keduanya bagi sejumlah besar
penduduk (Sumandria,2006). Berita dapat disajikan dalam bentuk cetak, siaran, internet, atau
dari mulut ke mulut. Berita merupakan laporan tentang fakta atau ide yang termassa, yang
dipilih oleh redaksi suatu media untuk disiarkan atau dicetak, yang dapat menarik perhatian
pembaca atau penonton, baik itu karena pentingnya berita tersebut atau bisa juga karena
beritanya luar biasa. Ada beberapa konsep berita yang dapat dikembangkan yaitu, berita
dapat sebagai laporan tercepat, rekaman fakta-fakta objektif, interpretasi, sensasi, minat
insan, ramalan dan sebagai gambar (Effendi,2005:131).

Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik wartawan Indonesia berisi “Wartawan Indonesia (WI)
menyajikan berita secara berimbang & adil, mengutamakan kecermatan & ketepatan, serta

Universitas Sumatera Utara

tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri”. Oleh karena itu berita tersaji harus akurat,
lengkap, adil dan berimbang, objektif, ringkas dan jelas, hangat.

Ada beberapa nilai yang menentukan suatu peristiwa layak dijadikan sebagai berita atau
tidak, yaitu: keluarbiasaan (unusualness), kebaruan (newness), akibat ( impact), aktual (
timeliness), kedekatan (proximity), informasi (information), konflik (conflict), orang penting
(public figure ), kejutan (surprising), ketertarikan manusiawi (human interest), seks ( sex ) .
Berita tidak mutlak harus memenuhi unsur-unsur tersebut, tetapi semakin banyak unsur
tersebut melekat pada suatu peristiwa, semakin tinggilah nilai layak peristiwa tersebut
menjadi sebuah berita.
II.3 Paradigma Konstruktivisme
Pengertian paradigma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diantaranya: 1.
paradigma adalah daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi
(penggabungan inti) dan deklinasi (perbedaan kategori) dari kata tersebut.; 2. paradigma
adalah model dari teori ilmu pengetahuan; 3. paradigma adalah kerangka berfikir.
Menurut kamus komunikasi (1989) definisi paradigma adalah pola yang meliputi
sejumlah unsur, yang berkaitan secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Paradigma adalah sudut pandang dan cara pandang untuk mengamati sesuatu. Cara
kita memandang atau pendekatan yang kita gunakan mengamati kenyataan akan menentukan
pengetahuan yang kita peroleh. Paradigma yang digunakan dalam menghampiri suatu
peristiwa komunikasi akan menghasilkan perbedaan yang besar dalam jawaban dan makna
yang dideduksi. Pemahaman tentang uang dari perspektif ekonomi, berbeda dengan
pemahaman tentang uang dari perspektif sosial. Jadi penggunaan paradigma mewajibkan
peneliti untuk toleran terhadap paradigma lainnya. Paradigma selalu mendahului observasi
kita. Suatu peristiwa bisa saja diamati dengan pikiran yang terbuka dan netral, tetapi tetap

Universitas Sumatera Utara

harus mengobservasi hal tersebut, dan hal tersebut bisa dilakukan dengan cara-cara tersendiri.
Nilai paradigma tidak terletak pada nilai kebenarannya atau seberapa baik ia mencerminkan
realitas yang ada, karena paradigma tergantung tujuan yang hendak diteliti. Yang menjadi
intinya adalah upaya mencari paradigma yang dapat memberikan kepada kita konseptualisasi
realitas yang paling bermanfaat bagi pencapaian tujuan kita. Memilih suatu paradigma berarti
memilih suatu paradigma dengan keuntungan dan kelemahannya yang terkandung di
dalamnya tanpa mengingkari nilai dan mempermasalahkan validitas paradigma lain
(Ardianto.2007: 75-78).
Guba dan Lincoln (1994) mengajukan tipologi yang mencakup empat paradigma:
1. positivism, postpositivism,
2. critical theories, dan
3. contructivism
Masing-masing dengan implikasi metodologi tersendiri. (http//manajemenkomunikasi.
blogspot.com/2010/10/12/pengertian-dan-fungsi-teori-dalam.html).
Tetapi sejumlah ilmuwan sosial lain melihat positivism dan postpositivism bisa
disatukan sebagai classical paradigm karena dalam prakteknya implikasi metodologi
keduanya tidak jauh berbeda. Karena itu, untuk mempermudah kepentingan bahasan tentang
implikasi metodologi dari sebuah paradigma, maka teori-teori dan penelitian ilmiah
komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam 3 paradigma, yaitu:
1. Classical paradigm (mencakup positivism dan postpositivism).
2. Critical Paradigm, dan
3. Constructivism Paradigm.
Tabel 1 berikut menyajikan perbandingan atau perbedaan dari ruang lingkup
paradigma tersebut dipandang dari sisi ontologism, epistemology dan metodologis.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 1. Perbandingan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis
Bidang
Positivisme
Ontology
Realisme
naïf;
adalah
Asumsi tentang semesta
realitas
nyata dan dapat
diketahui
apa
adanya.

Post-Positivisme
Realisme kritis:
semesta
luar
bersifat
nyata
akan tetapi tidak
pernah seluruhnya
diketahui secara
sempurna,
ada
banyak
kemungkinan
yang
dapat
diketahui
Epistemology
Bersifat dualis, Obyektivisme
Asumsi tentang objektivis
yang
dimodifikasi,
hubungan antara
yang
diteliti
yaitu objektivitas
sebagai buah dari
dengan
yang
meneliti
keinginan untuk
mengontrol, teori
yang
ersifat
tentative
dan
probabilitas.
Metodologis
Eksperimental
Eksperimental
Asumsi
manipulatif,
yang dimodifikasi
metodologis
pembuktian atas dan
terbuka
tentang
hipotesis,
secara kritis pada
bagaimana
kuantitatif.
keanekaragaman
peneliti
dan
latar
memperoleh
penelitian
yang
pengetahuan
lebih alami.

Kritis
Realisme kritis:
semesta
hidup
atau virtual yang
dikonstruksi
secara
sosial,
politik, budaya,
ekonomi,
etnik
dan gender

Konstruktivisme
Relativisme,
semesta
yang
diketahui
itu
spesifik,lokal yang
dikonstruksi oleh
paradigm tertentu
atau
perspektif
tertentu.

Bersifat
transaksional,
dialogis, temuantemuan
ilmiah
dimuati nilai dan
kepentingan

Bersifat
transaksional,
dialogis,
teori
konstruksi sebagai
hasil
investigasi
dan proses sosial
(khususnya ilmu
pengetahuan sosial
budaya)

Dialogis,
transformative
guna mengatasi
kesadaran palsu.

Hermeneutik dan
dialektis,
ilmu
hasil
konstruksi
atau
interaksi
peneliti terhadap
objek yang diteliti.

Sumber: Ardianto, Elvinaro, 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung. PT.Rosda
Karya.

Paradigma Konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma
positivis. Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang
tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivis.
Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia
secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia bertindak sebagai agen
yang mengkonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna
ataupun pemahaman perilaku dikalangan mereka sendiri.

Universitas Sumatera Utara

Kajian pokok dalam paradigma konstruktivisme menurut Weber, menerangkan
bahwa substansi bentuk kehidupan di masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif
saja, melainkan dilihat dari tindakan perorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif.
Weber juga melihat bahwa tiap individu akan memberikan pengaruh dalam masyarakatnya
tetapi dengan beberapa catatan, dimana tindakan sosial yang dilakukan oleh individu tersebut
harus berhubungan dengan rasionalitas dan tindakan sosial harus dipelajari melalui penafsiran
serta pemahaman.
Bila ditelusuri ke belakang, konstruktivisme berasal dari teori Popper yang
membedakan alam semesta ke dalam tiga pengertian, yaitu: (1) dunia fisik; (2) dunia
kesadaran atau mental atau disposisi tingkah laku; (3) dunia dari isi objektif pemikiran
manusia, khususnya pengetahuan ilmiah, puitis dan seni. Popper menyatakan objektivisme
tidak dapat dicapai pada dunia fisik, melainkan melalui pemikiran manusia secara pribadi
maupun kelompok. Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi konstruktivisme yang tidak
hanya menyajikan batasan baru mengenai keobjektifan, melainkan juga batasan baru
mengenai kebenaran dan pengetahuan manusia.
Konstruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang
belajar mengerti. Kosntruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan
bahwa pengetahuan kita adalah konstruki (bentukan) kita sendiri. Dalam konstruktivisme,
pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan bukan titik pasti
yang kaku, tetapi merupakan suatu proses menjadi mengerti. Para konstruktvis menganut
paham bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang terlibat dalam proses
mengetahui. Keberadaan realitas tidak hadir begitu saja pada pikiran pengamat, realitas ada
karena pada diri manusia terdapat skema, kategori, konsep, dan struktur pengetahuan yang
berkaitan dengan objek yang diamati (Ardianto,2007:154).
Secara ringkas gagasan kontruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum
sebagai berikut (Von Glasersferldd dan Kitchener, 1987):

Universitas Sumatera Utara

1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi
merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
2. Subjek membentuk

Dokumen yang terkait

Konstruksi berita 100 hari sby-boediono (studi analisis framing tentang berita 100 hari sby-boediono pada harian Kompas

0 18 138

Analisis Framing Pemberitaan Perjalanan Koalisi Gerindra Dengan Ppp Pada Pilpres 2014 Di Harian Kompas

0 23 143

Polemik Ujian Nasional dalam Harjo (Studi Analisis Framing Pemberitaan Surat Kabar Harian Jogja Mengenai Polemik Ujian Nasional SMA Periode April 2011).

0 8 16

KONSTRUKSI PEMIMPIN NASIONAL DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS (Analisis Framing Laporan Jajak Pendapat KOMPAS dengan Topik Kepemimpinan Nasional Periode 2009-2012).

0 3 14

SKRIPSI Polemik Ujian Nasional dalam Harjo (Studi Analisis Framing Pemberitaan Surat Kabar Harian Jogja Mengenai Polemik Ujian Nasional SMA Periode April 2011).

0 5 13

PENDAHULUAN Polemik Ujian Nasional dalam Harjo (Studi Analisis Framing Pemberitaan Surat Kabar Harian Jogja Mengenai Polemik Ujian Nasional SMA Periode April 2011).

0 2 31

PENUTUP Polemik Ujian Nasional dalam Harjo (Studi Analisis Framing Pemberitaan Surat Kabar Harian Jogja Mengenai Polemik Ujian Nasional SMA Periode April 2011).

0 3 29

KONSTRUKSI PEMIMPIN NASIONAL DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS KONSTRUKSI PEMIMPIN NASIONAL DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS (Analisis Framing Laporan Jajak Pendapat KOMPAS dengan Topik Kepemimpinan Nasional Periode 2009-2012).

0 2 16

PENDAHULUAN KONSTRUKSI PEMIMPIN NASIONAL DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS (Analisis Framing Laporan Jajak Pendapat KOMPAS dengan Topik Kepemimpinan Nasional Periode 2009-2012).

0 4 30

PENUTUP KONSTRUKSI PEMIMPIN NASIONAL DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS (Analisis Framing Laporan Jajak Pendapat KOMPAS dengan Topik Kepemimpinan Nasional Periode 2009-2012).

0 3 11