PENERAPAN MODEL SIKLUS BELAJAR LEARNING CYCLE MODELS DALAM MENULIS PANTUN.

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masa remaja menurut Elizabeth B Hurlock, (1980:25) merupakan salah satu masa perkembangan manusia yang menarik perhatian untuk dibicarakan, karena pada masa remaja mengalami berbagai permasalahan yang harus dihadapi. Masa remaja disebut sebagai masa transisi yaitu masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa.

Salah satu tugas perkembangan masa remaja adalah mengembangkan kemampuan intelektual, perkembangan intelektual yang harus dimiliki remaja yaitu kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif, mempunyai inisiatif yang tinggi, dan kemampuan untuk memperoleh atau menggunakan pengetahuan dalam memecahkan masalah serta mampu menetapkan tujuan yang hendak dicapai (Irwanto, 1994: 67). Kemampuan intelektual tidak akan bermanfaat apabila siswa tidak mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi. Kemampuan intelektual merupakan faktor penting untuk mencapai suatu prestasi.

Prestasi merupakan dorongan yang kuat untuk berhasil mencapai tujuannya. Berprestasi ialah idaman setiap siswa di sekolah, baik itu prestasi bidang belajar, pribadi, sosial, maupun karir. Prestasi yang pernah diraih oleh siswa akan menumbuhkan motivasi baru untuk menjalani aktivitas di sekolah. Motivasi siswa mencapai suatu prestasi harus mempunyai motivasi berprestasi


(2)

yang tinggi. Motivasi merupakan kekuatan, dorongan, keinginan yang terdapat dalam diri siswa, yang menyebabkan siswa bertindak atau berbuat, sehingga motivasi berprestasi yang tinggi mendorong siswa untuk fokus pada pencapaian prestasi. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi ketika menghadapi permasalahan akan melakukan cara-cara yang positif untuk memecahkan masalahnya, seperti bertanggung jawab terhadap pribadinya dan belajar dengan sungguh-sungguh (Wenar&Kering, 2007 online tersedia pada http://teknologikinerja.wordpress.com/upload/11/pengaruh - motivasi-terhadap-peningkatan kinerja.pdf).

Djiwandono (2002: 286) menyatakan motivasi yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah motivasi berprestasi dimana siswa mengelola dirinya sendiri dengan perilaku yang bertanggungjawab dengan tujuan yang ingin dicapai.

Menurut Mc Clelland dan Atkinson (1953:78) ”Achievment motivation should be characterzed by high hopes of success rather than by fear of failure” artinya motivasi berprestasi merupakan ciri seseorang yang mempunyai harapan tinggi untuk mencapai keberhasilan dari pada ketakutan kegagalan. Mc Clelland (1953:78) menyatakan ”motivasi berprestasi merupakan kecenderungan seseorang dalam mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku untuk mencapai suatu standar prestasi”. Pencapaian standar prestasi digunakan oleh siswa untuk menilai kegiatan yang pernah dilakukan. Siswa yang menginginkan prestasi yang baik akan menilai kegiatan yang dilakukannya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkannya.


(3)

3

Menurut Clegg, Brian (2000:53) motivasi berprestasi merupakan suatu keinginan untuk berhasil, berusaha keras, dan mengungguli orang lain berdasarkan suatu standar mutu tertentu. Ciri-ciri individu yang memiliki motivasi yang tinggi menurut Dinata (2009, online tersedia pada http://dinata-online.co.cc) adalah menetapkan tujuan yang menantang dan sulit namun realistik, terus mengejar kesuksesan dan mampu mengambil resiko pada suatu kegiatan, merasakan puas setelah mendapatkan kesuksesan tetapi terus berusaha untuk menjadi yang terbaik, dan tidak merasa terganggu oleh kegagalan yang diperolehnya.

Bagi para siswa, prestasi merupakan suatu hal yang harus siswa raih, siswa perjuangkan, dan siswa banggakan, bagi siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, prestasi akan didapatkannya. Namun bagi siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah, tentu sulit meningkatkan prestasi.

Anik Mukharomah (2010: 5, online tersedia pada http://www.pustakaskripsi.com/upload/2010/11/hubungan - kecerdasan- motivasi berprestasi-dengan kebiasaan belajar siswa.pdf.) siswa yang motivasi berprestasi rendah memiliki sikap kurang menunjukkan potensi dan kemampuannya, prestasi belajarnya kurang, bahkan dalam kenyataannya ciri-ciri pribadi yang belum memiliki motivasi berprestasi adalah adanya kecenderungan dalam kenakalan permasalahan remaja. Karakteristik remaja yang tidak memiliki motivasi berprestasi adalah: mudah merasa kecewa dan putus asa, kurang berani dalam menghadapi realitas, ingin segera mendapatkan yang diinginkan dengan tidak berusaha, mudah merasa bosan dan jenuh; mempuyai kepribadian antisosial, suka


(4)

memberontak, permusuhan yang tersembunyi, kurang percaya diri, mudah terpengaruh; impulsif, kurang memperhitungkan resiko dari tindakan-tindakannya. Rendahnya motivasi berprestasi remaja ditujukkan dengan nilai-nilai prestasi siwa yang naik turun atau tidak stabil. Siswa cenderung mengabaikan tugas jika kurang mendapatkan pengawasan dari guru. Siswa menunjukkan kurang kesadaran dan dorongan dari dalam diri sendiri untuk mencapai prestasi yang lebih baik.

Umniyah (2008: 73) menyatakan individu yang mempunyai motivasi berprestasi rendah, diantaranya kurang memiliki tanggung jawab pribadi dalam mengerjakan suatu aktivitas, memiliki program dalam aktivitas tetapi tidak didasarkan pada rencana dan tujuan yang realistik serta lemah melaksanakannya, bersikap apatis dan tidak percaya diri, ragu ragu dalam mengambil keputusan, tindakannya kurang terarah pada tujuan, tidak memiliki sikap inovatif dan kreatif dalam mempergunakan cara belajar, tidak memiliki sikap gigih dan giat dengan cara yang kreatif untuk menyelesaikan tugas sekolahnya, tidak memanfaatkan waktu dalam belajar sehingga memperoleh hasil belajar yang kurang maksimal.

Fenomena di SMA Pasundan 8 Bandung berdasarkan wawancara dengan guru BK dan pengamatan langsung menunjukan indikator siswa kurang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi dapat dilihat dari perilaku siswa kelas X tahun ajaran 2010/2011 yang menunjukan yaitu : 1) sikap yang asal lulus dan naik kelas; 2) sikap kurang memiliki tanggung jawab pribadi dalam mengerjakan suatu aktivitas; 3) kurang menciptakan cara belajar yang efektif sehingga kurang menguasai materi perlajaran; 4) memiliki sikap apatis dan tidak percaya diri; 4)


(5)

5

ragu-ragu dalam mengambil keputusan; 5) tindakannya kurang terarah pada tujuan; 6) kurang memiliki disiplin pribadi dalam belajar; 7) tidak mengikuti kegiatan belajar yang sedang berlangsung; 8) kurang memanfaatkan waktu untuk belajar lebih keras sehingga kurang memperoleh hasil prestasi yang baik.

Fenomena yang terjadi pada siswa di SMA Pasundan 8 Bandung menunjukan banyak siswa yang sulit untuk mengembangkan prestasinya. Hasil Penelitian Nur Aziza (2010: 53, online tersedia pada

http://www.infoskripsi.com/upload/2010/12/ hubungan-motivasi- berprestasi-

dengan rokrastinasi akademik.pdf.) menunjukan remaja sebagai peserta didik memiliki sikap tidak bersungguh-sungguh dalam mengikuti pelajaran, memiliki perasaaan bosan dalam melakukan sesuatu, kurang memiliki tujuan yang jelas dalam pencapaian belajar, mengerjakan tugas tidak tepat pada waktunya, dan memiliki sikap mudah putus asa. Kurangnya motivasi dalam mencapai prestasi diduga kuat menjadi penyebab ketidakoptimalan pencapaian prestasi di bidang akademik. Adapun indikator yang menunjukkan kurangnya motivasi berprestasi siswa ialah kurangnya sikap bekerja keras dan mengikuti kegiatan belajar di sekolah dengan sebaik-baiknya, kurang memiliki kesadaran dalam bertindak dan rasa bertanggungjawab atas tugas yang diberikan oleh guru, siswa kurang bersikap mengantisipasi kegagalan yang akan terjadi, serta minimnya iklim persaingan di dalam kelas.

Hasil penelitian di SMA Kutoharjo 5 Rembang Surakarta yang dilakukan oleh Diah Rizkiani (2007: 65, online tersedia pada http://diahrizkiani.wordpress.com/2011/1/


(6)

hambatan-dalam-mencapai-motivasi-berprestasi-siswa-SMA-5-Kutoharjo-Rembang.pdf.) menunjukkan siswa tidak melaksanakan tugas sekolah atau bertanggung jawab terhadap pekerjaannya (55%), siswa memiliki sikap yang pesimis dan tidak percaya diri dengan kemampuan/potensi yang dimiliki (59%), siswa kurang menumbuhkan rasa persaingan di dalam kelas (29%) dan kurang memiliki sikap belajar aktif di dalam kelas dan tidak berusaha keras untuk melakukan kegiatan belajar dengan sebaik-baiknya dalam mencapai prestasi (37%).

Hasil penelitian terdahulu menunjukkan kurangnya motivasi berprestasi pada siswa dan perlu mendapatkan perhatian lebih dari layanan bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling sebagai suatu sub sistem pendidikan memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian proses pembelajaran dengan memfasilitasi siswa agar mampu mencapai perkembangannya dengan optimal. Salah satu perkembangan yang harus dicapai siswa di sekolah yaitu perkembangan akademik terutama dalam mengembangkan motivasi berprestasi siswa.

Bimbingan yang dapat diberikan untuk membantu siswa mengembangkan motivasi berprestasi ialah bimbingan akademik (belajar), karena bimbingan belajar merupakan bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah akademik yang meliputi kebiasaan belajar, mengembangkan motivasi berprestasi, cara belajar yang efektif, dan menyelesaikan tugas-tugas (Juntika Nurihsan, 2003:21).

Bimbingan akademik (belajar) diarahkan untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada siswa di sekolah. Konselor membantu siswa sukses dalam


(7)

7

belajar, meraih prestasi dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan program/pendidikan. Bimbingan belajar dirasa tepat untuk membantu siswa dalam menemukan cara belajar yang tepat, mengatasi kesukaran-kesukaran mengenai belajar, dan cara mengatur waktu dalam belajar, khususnya ditujukkan untuk mengembangkan potensi diri siswa agar mampu menemukan dan menciptakan cara yang cocok dalam belajar (Dewa Ketut Sukardi, 2002: 464).

Bimbingan akademik (belajar) untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa disusun dalam rancangan program bimbingan dan konseling yang direncanakan secara sistematis, terarah, dan terpadu sebagai upaya meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Program bimbingan belajar selain dapat membantu siswa dalam meningkatkan motivasi berprestasi juga dapat membantu siswa mengatasi permasalahan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan fenomena yang dipaparkan, penelitian mengangkat masalah “Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa”. (Studi Deskriptif Terhadap Siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung Tahun Ajaran 2011-2012).

B. Rumusan Masalah

Sekolah merupakan suatu lingkungan formal tempat terlaksananya serangkaian kegiatan terencana dan terorganisasi, termasuk kegiatan dalam rangka proses belajar mengajar. Kegiatan sekolah bertujuan menghasilkan perubahan-perubahan positif di dalam diri siswa yang sedang menuju kedewasaan. Dengan demikian tugas sekolah tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan aspek


(8)

intelektual siswa, melainkan juga bertanggung jawab dalam menumbuhkan, mendorong, membina dan mengembangkan kepribadian siswa dalam mencapai suatu prestasi. Pernyataan mengenai tugas sekolah sesuai dengan pendapat Kartadinata (1983:150) bahwa “Sekolah tidak hanya menekankan kepada pengembangan kemampuan kognitif, tetapi juga menekankan kepada pengembangan kepribadian sebagai sesuatu yang terintegrasi dan utuh”. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab besar untuk mencapai tujuan pendidikan dalam mengembangkan potensi akademik siswa, agar menjadi siswa yang mandiri, berilmu, kreatif, dan bertanggung jawab.

Di Sekolah pengembangan motivasi untuk meraih tujuan-tujuan pendidikan yang secara langsung merupakan prestasi yang harus diraih siswa. Motivasi untuk meraih suatu tujuan belajar, motivasi menjalankan aktivitas belajar, serta motivasi mengerjakan tugas-tugas di sekolah, dan dapat meningkatkan suatu prestasi. Motivasi menghasilkan prestasi dan prestasi menghasilkan motivasi. Ini mengisyaratkan betapa pentingnya motivasi berprestasi siswa di sekolah, karena prestasi adalah suatu kebanggaan.

Motivasi berprestasi merupakan hal penting yang harus diperhatikan dan dimiliki oleh setiap siswa di sekolah. Motivasi berprestasi membantu siswa mampu mendorong tingkah lakunya untuk mencapai prestasi tertentu, mampu mengelola dirinya sendiri, mengembangkan kreativitas, memiliki sikap mampu menanggung resiko dan memiliki cara belajar yang efektif. Siswa yang kurang memiliki motivasi berprestasi akan menghambat proses belajar dan sikap persaingan belajar dalam mencapai prestasi di sekolah.


(9)

9

Motivasi berprestasi siswa perlu ditingkatkan, karena apabila permasalahan siswa kurang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi akan menimbulkan permasalahan lainnya yang akan menghambat pembentukan proses belajar dan aktualisasi siswa di sekolah. Usaha ke arah motivasi berprestasi dapat dilakukan dengan memberikan intervensi dalam bentuk bimbingan dan konseling.

Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa yang dilakukan secara berkesinambungan agar siswa dapat memahami dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat serta kehidupan pada umumnya dan mampu mencapai perkembangannya dengan optimal. Bimbingan yang dapat diberikan untuk membantu siswa mengembangkan motivasi berprestasi ialah bimbingan akademik (belajar), karena bimbingan belajar merupakan bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah akademik. Permasalahan siswa kurang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi akan menimbulkan permasalahan lainn yang akan menghambat pembentukan proses belajar dan mencapai prestasi di sekolah.

Bimbingan belajar dapat diberikan secara tepat dan menyeluruh. Tepat dalam arti layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa, menyeluruh dalam arti dapat melayani seluruh kebutuhan perkembangan siswa. Bimbingan belajar dapat dilakukan dengan suasana belajar yang kondusif agar dapat meningkatkan motivasi dalam mencapai prestasi. Para pembimbing membantu siswa meningkatkan motivasi dalam mencapai prestasi, mengembangkan cara belajar yang efektif, dan agar mampu menyesuaikan diri


(10)

terhadap tuntutan pendidikan. Bimbingan belajar dikemas dalam sebuah program untuk meningkatkan motivasi beprestasi siswa.

Mengingat pentingnya program bimbingan belajar di sekolah sesuai dengan kebutuhan siswa, tuntutan lingkungan masyarakan dan kebijakan lembaga untuk membantu siswa mencapai kompetensi akademik, maka rumusan masalah penelitian dalam pertanyaan umum adalah ”Bagaimana rumusan program bimbingan belajar hipotetik untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa”?

Adapun pertanyaan penelitian, yaitu :

Bagaimanakah gambaran umum motivasi berprestasi siswa pada kelas X SMA Pasundan 8 Bandung Tahun Ajaran 2011-2012?

C. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian bertujuan untuk merumuskan program hipotetik bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung Tahun Ajaran 2011-2012.

Secara khusus tujuan dari penelitian yaitu memperoleh gambaran umum motivasi berprestasi siswa pada kelas X SMA Pasundan 8 Bandung Tahun Ajaran 2011-2012.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian adalah sebagai berikut : 1. Bagi Sekolah

Penelitian yang dilakukan akan memberikan kontribusi dalam membuat dasar kebijakan untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa sehingga dapat membantu proses belajar di sekolah.


(11)

11

2. Bagi Guru Pembimbing (konselor)

Rekomendasi program bimbingan belajar yang dapat di gunakan sekolah dalam membantu siswa meningkatkan motivasi berprestasi siswa.

3. Bagi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Penelitian akan menjadi salah satu contoh program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa.

E. Asumsi Dasar

1. Siswa yang memiliki dorongan untuk berprestasi atau motivasi berprestasi yang tinggi cenderung akan belajar keras dan berjuang untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan proses belajarnya, sehingga mencapai prestasi baik sesuai dengan kemampuannya” (Mc Clelland (1985:134) 2. Siswa dengan Motivasi Berprestasi tinggi cenderung mendapatkan

angka-angka yang baik dalam pelajaran yang berkaitan dengan karir masa depan mereka” (Irma Rosdiyanti 1997:33 (Ratnawulan, 2001:58)

3. Siswa yang memiliki motivasi prestasi rendah cenderung belum memiliki cita-cita yang tinggi” (Habsari 2005:1 (Ratnawulan, 2001:86).

4. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi cenderung memiliki prestasi belajar tinggi, dan sebaliknya mereka yang prestasi belajar rendah dimungkinkan karena motivasi berprestasinya juga rendah”. (Mc Clelland 1985:130).

5. Bimbingan akademik ialah bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah akademik (Juntika Nurihsan, 2003:21).


(12)

6. Bimbingan belajar merupakan bimbingan yang tepat untuk mengembangkan motivasi siswa dalam mencapai suatu prestasi dan membantu siswa dalam menghadapi permasalahan akademik atau belajar misalnya menemukan cara belajar yang tepat, dalam mengatasi kesukaran-kesukaran mengenai belajar, dan cara mengelola diri dan waktu dalam belajar, menciptakan suasana dalam belajar kondusif (Dewa Ketut Sukardi, 2002: 464).

7. Bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga individu sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat (Rochman Natawidjaya (Winkel, 1991:67).

F. Pendekatan dan Metode Penelitian 1. Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian yaitu pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam mengetahui tingkatan motivasi berprestasi siswa SMA Pasundan 8 Bandung. Profil motivasi berprestasi siswa yang ditampilkan dapat dilihat melalui data numerikal atau angka yang diperoleh secara statistika (analisis statistik).

Metode yang digunakan adalah deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan profil motivasi berprestasi siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung yang kemudian dijadikan sebagai dasar pembuatan program bimbingan


(13)

13

belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung.

2. Populasi dan Sampel

Pertimbangan dasar dalam menentukan sampel dan populasi penelitian di SMA Pasundan 8 Bandung adalah belum adanya program bimbingan belajar yang dikhususkan untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa di sekolah.

Sampel penelitian diambil dari populasi siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung, Tahun Ajaran 2011-2012. Dengan asumsi kelas X merupakan bagian dari masa pengenalan (orientasi) sehingga siswa masih dalam proses interaksi dengan lingkungan sekolah maupun dengan teman sebayanya. Dalam mencapai prestasi, siswa perlu memiliki motivasi berprestasi tinggi, karena siswa dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan, berkompetisi meraih prestasi dapat memanfaatkan waktu dalam belajar untuk mencapai prestasi.

Pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling), dengan arti bahwa setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan sesuai dengan penjelasan Arikunto (2006: 112), “apabila subjek penelitian kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% dari jumlah populasi”.


(14)

Adapun langkah-langkah pengembangan program bimbingan belajar: Tahap I :

Studi Pendahuluan 1. Studi Literatur 2. Studi Empiris

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian diawali dengan kegiatan studi pendahuluan di SMA Pasundan 8 bandung yang dilaksanakan dalam penelitian. Dilanjutkan dengan kegiatan wawancara kepada guru bimbingan dan konseling mengenai motivas berprestasi siswa dan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah dan melakukan penyebaran angket.

Alat pengumpul data berupa angket motivasi berprestasi siswa berdasarkan konsep Mc Clelland dengan beberapa ahli sesuai dengan kebutuhan penelitian. Angket yang dikembangkan berbentuk kuesioner dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawab oleh responden (Sugiyono, 2010:135). Angket yang digunakan dengan menggunakan skala likert dengan menyediakan lima alternatif jawaban Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS).

Tahap II: Design

Program Hipotetik

Tahap III : Penelahaahan secara empiris dan Judgment

program oleh pakar bimbingan dan konseling Tahap IV :

Revisi dan Penyusunan Program


(15)

67 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif karena diperlukan hasil penelitian mengenai motivasi berprestasi siswa. Pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang akan mengukur motivasi berprestasi siswa. Data hasil penelitian berupa skor (angka-angka) akan diproses melalui pengolahan statistik selanjutnya dideskripsikan untuk mendapatkan gambaran motivasi berprestasi siswa di sekolah. Gambaran motivasi berprestasi siswa di sekolah diukur melalui indikator-indikator dari masing-masing aspek yang akan dijadikan sumber dalam penyusunan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa di sekolah.

Metode yang digunakan adalah deskriptif, karena diharapkan diperoleh gambaran motivasi berprestasi siswa di sekolah beserta indikator-indikator dari masing-masing aspek pada variable motivasi berprestasi. Gambaran indikator-indikator dari masing-masing aspek pada variable motivasi berprestasi siswa dianggap sebagai fenomena motivasi berprestasi siswa di sekolah yang sesungguhnya. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha untuk memecahkan masalah ada sekarang berdasarkan data-data faktual. Motivasi berprestasi siswa di sekolah menjadi data awal pengukuran kebutuhan penyusunan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa.


(16)

Kondisi motivasi berprestasi siswa di sekolah menjadi data awal pengukuran kebutuhan penyusunan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi.

Program bimbingan yang layak dilaksanakan meliputi empat tahapan kegiatan sebagai berikut:

1. Tahap pengidentifikasian, terdiri dari dua bagian, yaitu:

a. Identifikasi tentang motivasi berprestasi siswa. Pengidentifikasian ini dilakukan melalui penyebaran angket kepada siswa.

b. Identifikasi tentang layanan bimbingan belajar yang dibutuhkan siswa untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa.

2. Tahap pengembangan program layanan bimbingan belajar di SMA Pasundan 8 Bandung berdasarkan kajian terhadap data-data hasil pengidentifikasian disertai terhadap konsep bimbingan belajar, maka dikembangkanlah sebuah program hipotetik.

3. Tahap diskusi program hipotetik. Untuk menguji kelayakan sebuah program langkah berikutnya adalah mengadakan diskusi dengan dosen dan guru Bimbingan dan Konseling sebagai pertimbangan dalam pengembangan program.

4. Tahap penyempurnaan program. Berdasarkan diskusi yang telah dilakukan akhirnya program disempurnakan dan dinyatakan sebagai program yang layak untuk dilaksanakan.


(17)

69

B. Definisi Operasional Variabel 1. Motivasi Berprestasi

Motivasi berprestasi pada penelitian merujuk pada konsep motivasi berprestasi yang dikemukakan oleh Mc Clelland. Motivasi berprestasi merupakan dorongan / keinginan yang ada dalam diri individu yang ditunjukkan dalam bentuk tanggung jawab pribadi, menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan, berusaha bekerja kreatif, berusaha mencapai cita-cita, melakukan antisipasi, melakukan kegiatan sebaik-baiknya.

Aspek-aspek motivasi berprestasi dituangkan ke dalam indikator sebagai berikut:

a. Mempunyai tanggung jawab pribadi.

Mempunyai tanggung jawab pribadi merupakan keadaan siswa yang mempunyai kemauan untuk melakukan tugas sekolah atau bertanggung jawab terhadap tugas-tugas/ pekerjaan yang diterimanya. Siswa yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya akan puas dengan hasil pekerjaannya karena merupakan hasil usahanya sendiri.

b. Menetapkan nilai yang akan dicapai.

Menetapkan nilai yang akan dicapai adalah kemampuan siswa dapat menetapkan nilai yang akan dicapai. Nilai yang lebih tinggi dari nilai sendiri atau lebih tinggi dari nilai yang dicapai orang lain. Untuk mencapai nilai yang sesuai dengan standar keunggulan, siswa harus menguasai secara tuntas materi yang dipelajari.


(18)

c. Berusaha bekerja kreatif.

Berusaha bekerja kreatif merupakan kemampuan siswa akan gigih dan giat mencari cara yang kreatif untuk menyelesaikan tugas sekolahnya dan cara belajar yang kreatif sehingga menampilakan sesuatu yang berbeda/bervariasi. d. Berusaha mencapai cita-cita

Berusaha mencapai cita-cita adalah siswa yang mempunyai cita-cita akan rajin mengerjakan tugas, belajar dengan keras, dan menetapkan cita-cita yang diinginkannya. Dengan demikian siswa akan berusaha seoptimal mungkin untuk mencapai cita-cita yang diinginkannya.

e. Melakukan antisipasi

Melakukan kegiatan untuk menghindari kegagalan atau kesulitan yang mungkin terjadi. Antisipasi dapat dilakukan siswa dengan menyiapkan semua keperluan atau peralatan sebelum pergi ke sekolah. Siswa datang ke sekolah lebih cepat dari jadwal belajar atau jadwal ujian, mencari soal atau jawaban untuk latihan. Siswa menyokong persiapan belajar yang perlu dan membaca materi pelajaran yang akan di berikan guru pada hari berikutnya.

f. Melakukan kegiatan sebaik-baiknya

Melakukan kegiatan sebaik-baiknya merupakan kemampuan siswa untuk tidak ada kegiatan yang lupa dikerjakan, membuat jadwal kegiatan belajar dan mentaati jadwal tersebut, berinisiatif untuk belajar mengerjakan soal-soal latihan tanpa menunggu perintah guru, memiliki buku pelajaran dan alat tulis yang dibutuhkan dalam belajar.


(19)

71

2. Program Bimbingan Belajar

Program bimbingan merupakan serangkaian kegiatan bimbingan yang disusun secara sistematis, terarah, dan terpadu dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan pelaksanaannya serta pada akhirnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Tujuan dari program bimbingan belajar agar siswa dapat mengembangkan potensi diri agar mampu meningkatkan motivasi berprestasi dan menciptakan suasana belajar yang efektif sehingga siswa dapat menguasai materi atau mengikuti kegiatan belajar secara sungguh-sungguh di sekolah. Pada penelitian, program bimbingan yang dimaksud adalah serangkaian kegiatan yaitu perencanaan, perancangan, penerapan dan evaluasi. Dalam program tersebut tercakup beberapa komponen yaitu latar belakang program, tujuan program, ruang lingkup program, kegiatan, pelaksana program, sarana, biaya dan evaluasi program.

Bimbingan merupakan upaya untuk membantu individu berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya secara bertahap dalam proses yang matang. Rochman Natawidjaya (Winkel, 1991:67) mengartikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat mernahami dirinya, sehingga individu sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat.

Bimbingan belajar merupakan bimbingan untuk membantu siswa dalam mengembangkan diri, sikap, dan kebiasaan belajar yang tepat bagi dirinya sendiri.


(20)

Cara-cara dan pola belajar yang kurang tepat bagi siswa akan mengakibatkan materi-materi pelajaran tidak dikuasai dengan baik, sehingga ketika mengikuti pelajaran selanjutnya akan menemui kesulitan yang cukup menghambat (Winkel, 1991 : 125-126). Bimbingan akademik dilakukan dengan cara meningkatkan suasana belajar mengajar agar terhindar dari kesulitan belajar. Bimbingan belajar diarahkan untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam belajar, dan memecahkan masalah akademik yang dialami siswa. Secara khusus bimbingan belajar ditujukkan untuk mengembangkan diri siswa agar mampu menemukan dan menciptakan cara yang cocok dalam belajar, memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, serta mengembangkan keterampilan atau teknik belajar yang efektif (Syamsu Yusuf, 2009:52).

Program bimbingan dan konseling di sekolah merupakan serangkaian rencana aktivitas layanan bimbingan dan konseling di sekolah, yang selanjutnya akan menjadi pedoman bagi setiap personel dalam pelaksanaan dan pertanggungjawabannya. Program bimbingan dan konseling sekolah yang komprehensif di dalamnya akan tergambar visi, misi, tujuan, fungsi, sasaran layanan, kegiatan, strategi, personel, fasilitas dan rencana evaluasinya. (Uman Suherman 2007:59).

Pada penelitian yang dimaksud dengan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa di sekolah adalah rancangan aktivitas layanan bimbingan dan konseling yang terencana, terorganisasi dan terkoordinasi dalam periode tertentu untuk membantu siswa dalam meningkatkan motivasi


(21)

73

berprestasi siswa yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa di sekolah.

Struktur program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi mengacu kepada struktur pengembangan program berbasis tugas perkembangan. Stuktur program yang dikembangkan dalam penelitian yaitu: a) Rasional Program, b) Visi dan Misi, c) Deskripsi Kebutuhan, d) Tujuan, e) Komponen Program, f) Rencana Operasional, g) Pengembangan Tema, h) Pengembangan Satuan Layanan, i) Evaluasi.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Pertimbangan dasar dalam menentukan sampel dan populasi penelitian di SMA Pasundan 8 Bandung adalah karena peneliti merasa belum ada suatu program bimbingan konseling khususnya bimbingan belajar yang secara khusus fokus untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa.

Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana atau yang biasa disebut dengan istilah random sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling), dengan arti setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel pengolahan data awal pembuatan program. Teknik pengambilan sampel yang digunakan sesuai dengan penjelasan Surakhmad (1998:100), yaitu “apabila populasi di bawah 100 dapat dipergunakan sampel sebesar 50%, dan jika berada di antara 100 sampai 1000, maka dipergunakan sampel sebesar 15% - 50% dari jumlah populasi”. Berdasarkan asumsi yang dikemukakan Surakhmad, peneliti akan mengambil sampel sebanyak


(22)

27% dari jumlah siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung tahun ajaran 2011/2012. Penentuan jumlah sampel di rumuskan sebagai berikut:

S = 27% + 1000 - n (50%-15%) 1000 - 100

Dimana:

S = Jumlah sampel yang di ambil. n = Jumlah anggota populasi. S = 27% + 1000 - 345 (50%-15%) 1000 - 100

S = 27% + 655 (35%) 900

S = 27% + (0,73) (35%) S = 27% + 25.55 % S = 52.55 %

Dengan demikian sampel diperoleh sebesar 52.55% X 345 =181.29 = 181 Siswa

Populasi kelas X SMA Pasundan 8 Bandung berjumlah 345 siswa. Sehingga sampel yang diambil sebesar 52.55 % tersebut berjumlah 181 siswa/ responden.

Sampel penelitian ini diambil dari populasi kelas X dengan asumsi bahwa: 1) Siswa kelas X merupakan bagian dari masa penyesuaian yang lebih tinggi


(23)

75

baik akademis maupun non akademis setelah berakhirnya masa sekolah menengah pertama (SMP) sehingga dapat dijadikan kesempatan untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa di sekolah.

2) Sesuai dengan rekomendasi yang diberikan oleh guru pembimbing dimana terdapat berbagai kesulitan dalam pencapaian prestasi siswa-siswi kelas X untuk meningkatkan motivasi berprestasi yang baik, hal tersebut terlihat dari keseharian siswa di sekolah.

3) SMA Pasundan 8 Bandung belum memiliki program bimbingan khususnya program bimbingan belajar yang dikhususkan untuk meningkatkan siswa disekolah.

Jumlah populasi dan sampel dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.1

Jumlah Anggota Populasi dan Sampel Siswa Kelas X SMA Pasundan 8 Bandung

Tahun Ajaran Kelas Jumlah

2011 - 2012

X-1 46

X-2 45

X-3 43

X-4 45

X-5 43

X-6 45

X RSBI A 29

X RSBI B 28


(24)

Tahun Ajaran Kelas Jumlah Jumlah

Keseluruhan

345

Jumlah Sampel 181

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data tentang gambaran motivasi berprestasi siswa dan tentang program bimbingan diperlukan alat/instrumen untuk mengungkapnya. Penelitian menggunakan dua jenis instrument, yaitu angket pengungkap motivasi berprestasi dan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Angket yang dikembangkan berbentuk kuesioner dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawab oleh responden (Sugiyono, 2010:135). Angket yang digunakan menyediakan empat alternatif jawaban Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS) dengan skor berkisar antara 1 sampai dengan 4.

1. Pengembangan Kisi-kisi Instrumen

Angket atau kuesioner dalam penelitian dipergunakan untuk memperoleh gambaran tentang motivasi beprestasi siswa. Sebelum menyusun butir pertanyaan dan pernyataan, terlebih dahulu dirumuskan kisi-kisi instrumen. instrumen di buat berdasarkan indikator yang memuat aspek mempunyai tanggung jawab pribadi, menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan, berusaha bekerja kreatif, berusaha mencapai


(25)

77

cita-cita, melakukan antisipasi, melakukan kegiatan sebaik-baiknya. Perumusan kisi-kisi instrumen disajikan dalam Tabel 3.3.

Tabel 3.2

Kisi-kisi Instrumen Motivasi berprestasi Siswa (Sebelum Validasi)

Aspek Indikator No Pernyataan ∑∑∑∑

(+) (-) A. Mempunyai

tanggung jawab pribadi.

1. Bertanggung jawab terhadap tugas-tugas/ pekerjaan yang diterimanya.

1, 2, 3 4 4

2. Puas dengan hasil usahanya sendiri.

5, 6 7, 8 4

B. Menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan

3. Menetapkan nilai yang akan dicapai.

9, 10, 11,12

13,14 6

4. Berupaya menguasai materi pelajaran secara tuntas.

15, 16, 17,18

19,20, 21,22

8

C. Berusaha bekerja kreatif

5. Gigih/giat mencari cara untuk menyelesaikan tugas.

23, 24,25

26, 27 5

6. Menampilkan sesuatu yang berbeda/bervariasi.

28, 29, 30, 31

32, 33 6

D. Berusaha

mencapai cita-cita

7. Rajin mengerjakan tugas. 34, 35, 36


(26)

E.

8. Belajar dengan keras. 39, 40, 43, 44,

45

41,42, 46, 47

9

9. Menetapkan cita-cita. 48, 49, 50

51, 52 5

F. Melakukan Antisipasi

10.Mengantisipasi kegagalan atau kesulitan yang mungkin terjadi

53, 54 55, 56 4

11.Membuat persiapan belajar 57, 58 59, 60 4 G. Melakukan

kegiatan sebaik-baiknya.

12.Tidak ada kegiatan yang lupa dikerjakan.

61, 62 63, 64 4

13.Membuat jadwal kegiatan belajar dan mentaati jadwal tersebut.

65, 66, 67

68, 69 5

14.Berinisiatif untuk belajar mengerjakan soal-soal latihan tanpa menunggu perintah guru.

70, 71 72, 73 4

15.Memiliki buku pelajaran dan alat tulis yang dibutuhkan dalam belajar.

74, 75, 76


(27)

79

Tabel 3.3

Kisi-kisi Penilaian Uji Kelayakan Program Bimbingan Belajar untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa

Variabel Aspek Indikator

Program Bimbingan Belajar

Landasan

Penyusunan Program

1. Dasar Pemikiran

2. Landasan Formal yang digunakan (landasan hukum penyelenggaraan BK)

3. Visi dan Misi BK Sekolah 4. Tujuan Pengembangan Program Proses Penyusunan

Program

1. Komponen Layanan

a. Layanan dasar bimbingan b. Layanan responsif

c. Layanan perencanaan individual d. Dukungan sistem

2. Materi layanan yang digunakan pada masing-masing komponen layanan 3. Personel/pihak yang terlibat 4. Mekanisme kerja antar personel

a. Alur kewenangan antar personel b. Alur kerjasama antar personel 5. Sarana dan Prasarana yang digunakan (sarana dan prasarana fisik)


(28)

Evaluasi Program 1. Pendekatan konteks a. Tujuan

b. Hasil yang diharapkan c. Kriteria Keberhasilan 2. Pendekatan input

a. Kuantitas dan kualitas personel b. Fasilitas yang dibutuhkan c. Waktu yang disediakan untuk

mencapai tujuan

d. Interaksi antar komponen 3. Pendekatan proses

a. Fungsi Komponen

b. Proses pengelolaan komponen c. Kesesuaian antara tujuan dan

hasil yang diharapkan 4. Pendekatan hasil

a. Dampak dari kegiatan layanan b. Realisasi tujuan yang diharapkan

E. Uji Coba Alat Ukur

Kuesioner sebagai alat pengumpul data yang dipergunakan telah melaui beberapa tahap pengujian, sebagai berikut:


(29)

81

a. Uji Kelayakan Instrumen

Uji kelayakan instrumen bertujuan mengetahui tingkat kelayakan instrumen dari segi bahasa, konstruk, dan konten. Penimbang dilakukan oleh tiga dosen ahli/dosen dari Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB) untuk mengetahui kelayakan instrumen tersebut. Masukan dari tiga dosen ahli dijadikan landasan dalam penyempurnaan alat pengumpul data yang dibuat. Instrumen angket hasil judgement dari dosen ahli, adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4 Judgement Angket

Kesimpulan No Item Jumlah

Memadai 2,3,4,915,16,18,19,21,23,24,25,27,28, 31,37,40,41,43,44,45,47,50,51,55,56, 57,58,59,61,62,64,66,70,73,74,75,77,78

40

Revisi 1,5,6,7,8,11,12,13,14,17,26,29,33,35,36, 38,39,42,43,52,53,54,60,65,67,68,71,72

27

Buang 10,20,22,30,32,49,76 7

Tambahan 4

Total 71

Hasil penimbangan menunjukan terdapat 40 item yang dapat digunakan, 27 item yang perlu direvisi dan 7 item yang harus dibuang karena tidak relevan dengan indikator dan aspek. Berdasarkan saran dari salah seorang dosen ahli, terdapat satu indikator yang perlu dihilangkan karena bermakna sama dengan


(30)

indikator lain dalam satu aspek tersebut. Dengan demikian, jumlah pernyataan yang digunakan untuk uji coba instrumen ialah sebanyak 71 item.

Adapun kisi-kisi instrumen setelah uji kelayakan instrumen dapat dilihat pada tabel 3.6 berikut :

Tabel 3.5

Kisi-kisi Instrumen Motivasi Berprestasi Siswa (Setelah Uji Kelayakan Instrumen)

Aspek Indikator No Pernyataan ∑∑∑∑

(+) (-) A. Mempunyai

tanggung jawab pribadi.

1. Bertanggung jawab terhadap tugas-tugas/ pekerjaan yang diterimanya.

1, 2, 3 4 4

2. Puas dengan hasil usahanya sendiri.

5, 6 7, 8 4

B. Menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan

3. Menetapkan nilai yang akan dicapai.

9, 10, 11

12, 13 5

4. Berupaya menguasai materi pelajaran secara tuntas.

14, 15, 16, 17

18, 19 6

C. Berusaha bekerja kreatif

5. Gigih/giat mencari cara untuk menyelesaikan tugas.

20, 21, 22

23, 24 5

6. Menampilkan sesuatu yang berbeda/bervariasi.


(31)

83

D. Berusaha

mencapai cita-cita

7. Rajin mengerjakan tugas. 29, 30, 31

32, 33 5

8. Belajar dengan keras. 34, 35, 38, 39,

40

36,37, 41, 42

9

9. Menetapkan cita-cita. 43, 44 45, 46 4 E. Melakukan

Antisipasi

10.Mengantisipasi kegagalan atau kesulitan yang mungkin terjadi

47, 48 49, 50 4

11.Membuat persiapan belajar 51, 52 53, 54 4 F. Melakukan

kegiatan sebaik-baiknya.

12.Tidak ada kegiatan yang lupa dikerjakan.

55, 56 57, 58 4

13.Membuat jadwal kegiatan belajar dan mentaati jadwal tersebut.

59, 60, 61

62, 63 5

14.Berinisiatif untuk belajar mengerjakan soal-soal latihan tanpa menunggu perintah guru.

64, 65 66, 67 4

15.Memiliki buku pelajaran dan alat tulis yang dibutuhkan dalam belajar.


(32)

b. Uji Keterbacaan Item

Sebelum instrumen motivasi berprestasi diuji validitas, instrumen tersebut di uji keterbacaan kepada sampel setara yaitu kepada tiga atau lima orang siswa dari SMA Pasundan 8 Bandung atau SMA lain di Bandung, untuk mengukur sejauh mana keterbacaan instrumen tersebut. Setelah uji keterbacaan, pernyataan-pernyataan yang tidak dipahami di revisi sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat dimengerti oleh siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung dan kemudian dilakukan uji validitas eksternal.

Berdasarkan hasil uji keterbacaan, responden dapat memahami dengan baik seluruh item pernyataan yang ada baik dari segi bahasa maupun makna yang terkandung dalam pernyataan. Dengan demikian, dapat disimpulkan seluruh item pernyataan dapat digunakan dan mudah dimengerti oleh siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung tahun ajaran 2011-2012.

c. Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas dan reliabilitas instrumen dapat diketahui setelah dilakukan uji coba instrumen. Uji coba angket dilaksanakan terhadap siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung Tahun Ajaran 2011/2012. Angket diberikan kepada siswa yang tidak termasuk sampel penelitian, sebanyak 118 orang siswa. Siswa sebelum mengisi angket, terlebih dahulu diberikan penjelasan mengenai cara-cara pengisian angket.

1) Uji Validitas Butir Item

Uji validitas dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan tingkat kesahihan instrumen yang akan digunakan dalam mengumpulkan data penelitian.


(33)

85

Uji validitas diuji cobakan pada kelas X SMA Pasundan 8 Bandung Tahun Ajaran 2011-2012 18 Oktober 2011.

Pengujian validasi butir item yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pengujian validasi konstruk seluruh item yang terdapat dalam angket yang mengungkap motivasi berprestasi siswa. Uji validitas butir item dilakukan untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan dalam penelitian dapat digunakan untuk mengukur apa yang akan diukur (Sugiyono, 2010: 177). Semakin tinggi nilai validasi soal menunjukan semakin valid instrumen yang akan digunakan.

Pengolahan data dalam penelitian dilakukan dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Pengujian validitas alat pengumpul data menggunakan rumus korelasi product-moment dengan skor mentah.

rhitung =

(

)

(

)

) }

{

(

{

(

) }

− − − 2 2 2 2 y y n x x n y x xy n Keterangan :

rhitung : Koefisien korelasi yang dicari

∑ x : Jumlah skor item

∑ y : Jumlah skor total (seluruh item) n : Jumlah responden

(Arikunto, 2006: 170) Pengujian validitas dilakukan terhadap 71 item pernyataan dengan jumlah subjek 118 siswa. Dari 71 item diperoleh 63 item yang valid dan 8 item tidak valid.


(34)

Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas

Kesimpulan Item Jumlah

Valid 1,2,3,4,5,6,9,10,12,13,14,16,17,20,24,25,26,27,28,31,32,3 3,34,35,36,38,39,40,41,42,43,44,45,46,48,50,51,52,53,54, 56,57,58,59,60,61,62,63,64,66,67,68,69, 70

63

Tidak valid 11, 18, 21, 23, 29, 30, 37, 71 8

2) Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas instrumen bertujuan untuk melihat tingkat keterandalan atau kemantapan sebuah instrumen (level of consistency) penelitian atau sejauh mana instrumen mampu menghasilkan skor-skor secara konsistensi (Sugiono, 2010: 183).

Reliabilitas instrumen merupakan penunjuk sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan instrumen tersebut dapat dipercaya. Reliabilitas intrumen ditunjukkan sebagai derajat keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh oleh subjek penelitian dengan instrumen yang sama dalam kondisi yang berbeda. Derajat konsistensi diperoleh sebagai proporsi varians skor perolehan subjek.

Metode yang digunakan dalam uji reliabilitas adalah metode Alpha dengan memanfaatkan program SPSS 17.0 for windows. Rumus yang digunakan untuk mencari reliabilitas alat ukur tentang motivasi berprestasi siswa adalah dengan menggunakan rumus metode Alpha sebagai berikut :

        −       − =

t i S S k k r 1 1 11


(35)

87

(Arikunto, 2006:195) Keterangan :

r11 = Nilai Reliabilitas

Σsi = Jumlah Varians Skor tiap-tiap item Si = Varians total

k = Jumlah item

Hasil pengolahan data menggunakan program SPSS 17.0 for windows untuk mencari nilai reliabilitas angket motivasi berprestasi dapat dilihat pada tabel 3.7 berikut:

Tabel 3.7 Hasil Uji reliabilitas Instrumen Cronbach's

Alpha

N of Items

,877 63

Hasil uji coba instrumen diperoleh nilai reliabilitas sebesar 0, 877. dengan tingkat kepercayaan 95%, artinya tingkat korelasi atau derajat keterandalan sangat tinggi, yang menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan sudah baik dan dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data.

Keterangan :

0,00 – 0,199 derajat keterandalan sangat rendah 0,20 – 0,399 derajat keterandalan rendah

0,40 – 0,599 derajat keterandalan cukup 0,60 – 0,799 derajat keterandalan tinggi


(36)

Adapun kisi-kisi instrumen setelah uji coba dapat dilihat pada tabel 3.9 berikut :

Tabel 3.8

Kisi-kisi Instrumen Motivasi Berprestasi Siswa (Setelah Uji Kelayakan Instrumen)

Aspek Indikator No Pernyataan ∑∑∑∑

(+) (-) A. Mempunyai

tanggung jawab pribadi.

1. Bertanggung jawab terhadap tugas-tugas/ pekerjaan yang diterimanya.

1, 2, 3 4 4

2. Puas dengan hasil usahanya sendiri.

5, 6 7, 8 4

B. Menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan

3. Menetapkan nilai yang akan dicapai.

9, 10, 12, 13 4

4. Berupaya menguasai materi pelajaran secara tuntas.

14, 15, 16, 17

19 5

C. Berusaha bekerja kreatif

5. Gigih/giat mencari cara untuk menyelesaikan tugas.

20, 22 24 3

6. Menampilkan sesuatu yang


(37)

89

D. Berusaha mencapai cita-cita

7. Rajin mengerjakan tugas. 31 32, 33 5 8. Belajar dengan keras. 34, 35,

38, 39, 40

36, 41, 42

8

9. Menetapkan cita-cita. 43, 44 45, 46 4 E. Melakukan

Antisipasi

10.Mengantisipasi kegagalan atau kesulitan yang mungkin terjadi

47, 48 49, 50 4

11.Membuat persiapan belajar 51, 52 53, 54 4 F. Melakukan

kegiatan sebaik-baiknya.

12.Tidak ada kegiatan yang lupa dikerjakan.

55, 56 57, 58 4

13.Membuat jadwal kegiatan belajar dan mentaati jadwal tersebut.

59, 60, 61

62, 63 5

14.Berinisiatif untuk belajar mengerjakan soal-soal latihan tanpa menunggu perintah guru.

64, 65 66, 67 4

15.Memiliki buku pelajaran dan alat tulis yang dibutuhkan dalam belajar.


(38)

F. Penyusunan Program Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa

Proses penyususnan program bimbingan belajar dalam penelitian terdiri dari tiga langkah, sebagai berikut :

1. Penyusunan Program

Penyusunan program dimulai dengan melakukan analisis terhadap data yang diperoleh mengenai gambaran motivasi berprestasi siswa di sekolah dan indikator-indikator motivasi berprestasi siswa. Gambaran indikator-indikator motivasi berprestasi merupakan dasar dalam penyusunan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Penyusunan program terdiri dari aspek-aspek antara lain landasan penyusunan program, proses penyusunan program dan evaluasi program.

2. Validasi Program

Langkah berikutnya setelah penyusunan program adalah melakukan validasi program yang telah disusun kepada dosen ahli program dari jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan dan guru Bimbingan dan Konseling SMA Pasundan 8 Bandung. Hasil Validasi Program merupakan pedoman untuk melakukan revisi dan perbaikan untuk menyusun program bimbingan belajar yang tepat dalam meningkatkan motivasi berprestasi siswa.

Proses validasi program diawali dengan proses penimbangan kisi-kisi penilaian uji kelayakan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa.


(39)

91

3. Penyusunan Program Hipotetik

Penyusunan rumusan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa , dilakukan berdasarkan hasil penelitian dan hasil validasi program pada dosen. Rumusan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa menjadi rekomendasi bagi layanan bimbingan dan konseling di sekolah

G. Analisis Data 1. Verifikasi data

Verifikasi data adalah suatu langkah pemeriksaan terhadap data yang diperoleh dalam rangka pengumpulan data, sehingga verifikasi data bertujuan untuk menyeleksi atau memilih data yang memadai untuk diolah. Dari hasil verifikasi diperoleh data yang diisikan responden menunjukkan kelengkapan dan cara pengisian yang sesuai dengan petunjuk, atau jumlah data sesuai dengan subjek dan keseluruhan data memenuhi persyaratan untuk dapat diolah. Tahapan verifikasi data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Melakukan pengecekan jumlah angket yang telah terkumpul harus sama dengan jumlah angket yang disebarkan sesuai jumlah sampel.

b. Memberikan nomor urut pada setiap angket untuk menghindari kesalahan pada saat melakukan rekapitulasi data.

c. Melakukan tabulasi data yaitu merekap data yang diperoleh dari responden dengan melakukan tahapan penyekoran yang telah ditetapkan.


(40)

2. Penyekoran

Instrumen pengumpul data menggunakan skala Likert yang menyediakan empat alternatif jawaban. Peneliti menggunakan empat alternatif jawaban untuk menentukan adanya gradasi atau peringkat dari sangat positif sampai sangat negatif, sehingga peneliti menggunakan empat alternatif jawaban yaitu “Sangat sesuai”, “Sesuai”, “Tidak Sesuai”, “Sangat Tidak Sesuai”. Peneliti menentukan banyak alternatif jawaban untuk mendapatkan informasi yang lebih cermat, lebih teliti yang ditandai dengan gradasi atau berperingkat. Dalam menganalisis data yang berasal dari angket bergradasi atau berperingkat 1 sampai dengan 4, peneliti menyimpulkan setiap opsi alternatif respons mengandung arti dan nilai skor seperti tertera pada tabel 3.9.

Tabel 3.9

Pola Skor Opsi Alternatif Respons Model Summated Ratings (Likert)

Pernyataan

Skor Lima Alternatif Respons

SS S TS STS

Favorable (+) 4 3 2 1

Un-Favorable (-) 1 2 3 4

Pada alat ukur, setiap item diasumsikan memiliki nilai 1 - 4 dengan bobot tertentu. Bobotnya ialah :

1) Untuk pilihan jawaban sangat sesuai (SS) memiliki skor 4 pada pernyataan positif atau skor 1 pada pernyataan negatif.


(41)

93

2) Untuk pilihan jawaban Sesuai (S) memiliki skor 3 pada pernyataan positif atau skor 2 pada pernyataan negatif.

3) Untuk pilihan jawaban tidak sesuai (TS) memiliki skor 2 pada pernyataan positif atau 3 pada pernyataan negatif.

4) Untuk pilihan jawaban sangat tidak sesuai (STS) memiliki skor 1 pada pernyataan positif dan skor 4 pada pernyataan negatif.

3. Pengolahan Data

Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran yang jelas mengenai motivasi berprestasi siswa yang diperoleh berdasarkan angket yang telah disebarkan pada siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung tahun ajaran 2011/2012. Data yang diperoleh akan diolah dan menjadi landasan dalam pembuatan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Gambaran umum karakteristik sumber data penelitian yaitu motivasi berprestasi siswa yang akan dijadikan landasan dalam pembuatan program bimbingan terlebih dahulu dilakukan pengelompokan data menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Penentuan kelompok siswa dengan kategori motivasi berprestasi yang tinggi, sedang dan rendah dalam penelitian dilakukan konversi skor mentah menjadi skor matang dengan menggunakan batas aktual dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menghitung skor total masing-masing responden.

2) Menghitung rata-rata dari skor total responden (µ) dengan menggunakan program SPSS 17.0 for windows.


(42)

3) Menentukan standar deviasi dari skor total responden (ơ) dengan menggunakan program SPSS 17.0 for windows.

4) Mengelompokan data menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah dengan pedoman sebagai berikut:

Tabel 3.10

Konversi skor mentah menjadi skor matang dengan batas aktual Skala skor mentah Kategori Skor

X > µ + 1,0 ơ Tinggi µ - 1,0 ơ≤ X ≥ µ + 1,0 ơ Sedang X > µ - 1,0 ơ Rendah (perhitungan konversi skor terlampir)

1. Pengolahan Data untuk Pengembangan Program

Hasil pengolahan data motivasi berprestasi siswa yang dijadikan landasan dalam pembuatan program bimbingan terlebih dahulu dilakukan pengelompokan data menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Hasil pengelompokan data berdasarkan kategori dan interpretasinya dapat dilihat pada tabel 3.11 berikut

Tabel 3.11

Interpretasi Skor Kategori Motivasi Berprestasi

Kategori Skor Interpretasi

Tinggi >140 (tinggi)

Siswa pada kategori tinggi telah mencapai tingkat motivasi berprestasi yang optimal pada setiap aspeknya, yaitu dorongan / keinginan


(43)

95

Kategori Skor Interpretasi

yang tinggi dalam diri individu yang ditunjukkan dalam bentuk tanggung jawab pribadi, menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan, berusaha bekerja kreatif, berusaha mencapai cita-cita, melakukan antisipasi, melakukan kegiatan sebaik-baiknya.

Sedang 129< X>140 (Sedang)

Siswa pada kategori sedang telah mencapai tingkat motivasi berprestasi yang cukup optimal pada setiap aspeknya, yaitu dorongan / keinginan yang sedang dalam diri individu yang ditunjukkan dalam bentuk tanggung jawab pribadi, menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan, berusaha bekerja kreatif, berusaha mencapai cita-cita, melakukan antisipasi, melakukan kegiatan sebaik-baiknya.

Rendah <128 (rendah)

Siswa pada kategori rendah telah mencapai tingkat motivasi berprestasi yang tidak optimal pada setiap aspeknya, yaitu dorongan / keinginan yang rendah dalam diri individu yang ditunjukkan dalam bentuk tanggung


(44)

Kategori Skor Interpretasi

jawab pribadi, menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan, berusaha bekerja kreatif, berusaha mencapai cita-cita, melakukan antisipasi, melakukan kegiatan sebaik-baiknya.

Berdasarkan tabel 3.11 menunjukan dari hasil penelitian, siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung membutuhkan upaya pemberian layanan untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa yaitu berupa layanan dasar, layanan responsif, perencanaan individual dan dukungan sistem. Pemberian layanan difokuskan berdasarkan kualifikasi dari interpretasi skor ketegori motivasi berprestasi.

H. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian meliputi langkah berikut :

1. Studi pendahuluan di SMA Pasundan 8 Bandung yang dilaksanakan pada saat kegiatan Program Latihan Profesi (PLP), yaitu pada tanggal 17 februari 2011. 2. Membuat proposal penelitian dan mengkonsultasikannya dengan dosen mata

kuliah Metode Riset Bimbingan Konseling.

3. Proposal penelitian yang telah disahkan oleh dosen mata kuliah diserahkan dengan persetujuan dari dari dewan skripsi, calon dosen pembimbing skripsi serta ketua jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan.


(45)

97

4. Mengajukan permohonan pengangkatan dosen pembimbing skripsi pada tingkat fakultas.

5. Mengajukan permohonan izin penelitian dari jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang memberikan rekomendasi untuk melanjutkan ke tingkat Fakultas dan Rektor UPI. Kemudian surat izin penelitian yang telah disahkan kemudian disampaikan pada kepala sekolah SMA Pasundan 8 Bandung. 6. Membuat instrumen penelitian berikut penimbangannya kepada tiga orang

dosen ahli dari jurusan PPB.

7. Mengumpulkan data dengan menyebarkan angket pada siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung Tahun ajaran 2011-2012.

8. Mengolah dan menganalisis data dari hasil angket yang telah disebarkan tentang motivasi berprestasi.

9. Pembuatan program bimbingan hipotetik berdasarkan hasil analisis data deskripsi motivasi berprestasi siswa

10. Diskusi dengan dosen dan guru Bimbingan dan Konseling mengenai kelayakan program bimbingan hipotetik.

11. Penyempurnaan program berdasarkan hasil diskusi dan penilaian yang telah dilakukan, sehingga program tersebut layak untuk dilaksanakan.


(46)

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan temuan penelitian dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:

1. Motivasi berprestasi siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung Tahun Ajaran 2011-2012 berada pada kategori sedang, artinya siswa memiliki dorongan / keinginan yang ada dalam diri individu yang ditunjukkan dalam bentuk tanggung jawab pribadi, menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan, berusaha bekerja kreatif, berusaha mencapai cita-cita, melakukan antisipasi, melakukan kegiatan sebaik-baiknya. 2. Pada pencapaian aspek motivasi berprestasi siswa, hasil penelitian menunjukan sebagian

besar siswa mampu:

a) Bertanggung Jawab secara pribadi pada indikasi kemampuan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas / pekerjaan yang diterimanya, dan puas dengan hasil usaha sendiri.

b) Menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan pada indikasi kemampuan menetapkan nilai yang akan dicapai, dan kemampuan berusaha menguasai materi.

c) Berusaha bekerja kreatif pada indikasi kemampuan menampilkan sesuatu yang berbeda atau bervariasi, dan belum mampu bersikap gigih/ giat mencari cara menyelesaikan tugas.

d) Berusaha mencapai cita-cita pada indikasi mampu bersikap rajin mengerjakan tugas, belajar dengan keras, dan menetapkan cita-cita.

e) Melakukan antisipasi pada indikasi mampu membuat persiapan belajar, dan belum mampu mengantisipasi kegagalan atau kesulitan yang mungkin terjadi.


(47)

f) Melakukan kegiatan dengan sebaik-baiknya pada indikasi kemampuan membuat jadwal kegiatan belajar dan mentaati jadwal belajar, berinisiatif untuk belajar mengerjakan soal-soal latihan tanpa menunggu perintah guru, mempersiapkan buku pelajaran dan alat tulis yang dibutuhkan dalam belajar, dan belum mampu melaksanakan dan mengingat kegiatan yang akan dikerjakan.

3. Program bimbingan belajar yang disusun memuat komponen-komponen seperti rasional program, visi dan misi, deskripsi kebutuhan, tujuan, komponen program, rencana operasional, pengembangan tema, pengembangan satuan layanan, evaluasi. Secara keseluruhan setiap aspek dan indikator motivasi berprestasi siswa dijadikan landasan pengembangan program yang diberikan melalui layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual dan dukungan sistem, dengan materi relevan yang telah disesuaikan dengan hasil analisis kebutuhan siswa kelas X SMA Pasundan 8 Bandung tahun ajaran 2011/2012. (Program terlampir pada lampiran 6).

B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian dikemukakan rekomendasi sebagai berikut: 1. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor)

Gambaran motivasi berprestasi siswa SMA yang telah digambarkan pada bab sebelumnya dijadikan dasar program sebagai rekomendasi dari penelitian ini untuk digunakan di sekolah, khususnya SMA Pasundan 8 Bandung. Program yang disusun merupakan program bimbingan belajar yang diduga dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Pemberian layanan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi dimulai dengan pemahaman konselor mengenai kebutuhan siswa (need asessment). Konselor diharapkan dapat memberikan layanan bimbingan belajar yang dilakukan melalui bimbingan kelompok pada komponen layanan dasar sehingga guru pembimbing diharuskan membentuk kelompok pada setiap sesi pemberian materi dengan strategi diskusi, tanya jawab, dan


(48)

layanan responsif, perencanaan individual dan pelaksanaan kegiatan dukungan sistem diharapkan dapat dilakukan dengan melakukan koordinasi dengan siswa, guru mata pelajaran, wali kelas dan pihak yang terkait dalam mendukung pelaksanaan program. Bimbingan belajar dapat dilakukan di ruangan kelas atau fasilitas yang disediakan di sekolah. Pelakasanaan program dilakukan oleh konselor yang memahami konsep bimbingan belajar dan motivasi berprestasi.

Evaluasi program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi dilakukan pada akhir pelaksanaan program dan konselor menyusun laporan kegiatan program yang telah dilakukan. Jadwal pelaksaaan program yang direkomendasikan terlampir.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

a) Program yang dirumuskan oleh peneliti bersifat hipotetik, peneliti selanjutnya diharapkan mampu melakukan uji coba program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa sehingga dapat diperoleh penyempurnaan program.

b) Mengkaji lebih jauh mengenai motivasi berprestasi yang dapat dihubungkan dengan dimensi-dimensi lainnya seperti sikap dan kebiasaan belajar, kedisiplinan, prestasi belajar, kecerdasan emosional, latar belakang sosial-ekonomi, sehingga gambaran penelitian yang dihasilkan dinamis dan menyeluruh.

c) Peneliti selanjutnya diharapkan mampu menguji efektivitas dalam mengembangkan self-efficacy sebagai intervensi bimbingan dan konseling yang dapat meningkatkan motivasi berprestasi.

3. Bagi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Data hasil penelitian ini dapat direkomendasikan untuk mata kuliah bimbingan belajar. Berbagai keterampilan yang dihasilkan dalam program bimbingan belajar


(49)

dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa sehingga memiliki kesiapan belajar yang optimal.


(50)

172

DAFTAR PUSTAKA

ABKIN. (2008). Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan. Bandung: ABKIN.

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Asian, Brain. 2012. Motivasi Belajar. [Online]. Tersedia http://www. anneahira.com/motivasi/index.htm).

Bahri, Zainun. (2002). Peran Bimbingan dan Konseling di Instuti Pendidikan. Jakarta: Balai Aksara.

Clegg, Brian. 2000. Instant Motivation (79 cara instant menumbuhkan motivasi), alih bahasa : Arvin Saputra. Jakarta: Erlangga.

Dinata. (2009). Pentingnya Motivasi Berprestasi. [Online]. Tersedia di: http://dinata-online.co.cc. [15 Oktober 2010].

DJiwandono. (2002). Pentingnya Motivasi Belajar. Jakarta. Penerbit: Rajagrafindo Persada.

Fitriani, Ega Wiwit. (2010).Perbedaan Motivasi Berprestasi Siswa dilihat dari Pola Asuh Orangtua. Skripsi. Publikasi Jurusan PPB FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Furqon. (2008). Statistika Terapan untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Handoko, Martin. (1992). Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta: Kanisius.

Handoko, Teguh. (2009). Perhatian Orang tua dan Minat belajar dengan Prestasi Belajar siswa. [Online]. Tersedia di: http:// www. minat dan prestasi. com. [10 Oktober 2010].

Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi Kelima). Alih bahasa: Istiwidiyati & Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.

Irwanto. (1994). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Bina Aksara.

Kartadinata, Sunaryo et all. (2002). Bimbingan Sekolah Menengah. Bandung: CV Maulana.


(51)

173

Kartadinata, Sunaryo. (1983). Kontribusi Iklim Kehidupan Keluarga dan Sekolah Terhadap Adekuasi Penyesuaian Diri. Tesis FIP. UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Kautsar, Ilman. (2009). Program Bimbingan Belajar Untuk mengatasi Masalah Mencontek Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi. Publikasi Jurusan PPB FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Koeswara, E. (1995). Teori Motivasi dan Penelitiannya. Bandung: Angkasa. Kurniasih, Ellis. 2008. Karakteristik Motivasi Belajar Jurusan IPA dan IPS Siswa

Madrasah Aliyah (Studi Deskriptif terhadap Siswa Kelas Xi IPA, Kelas XII IPA dan Kelas XII IPS MAN Ciawi Kabupaten Tasikmalaya Tahun Ajaran 2007/2008). Skripsi Jurusan FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan. Kusumadewi, Dini. (2010). Lingkungan Keluarga yang Mempengaruhi Berprestasi. [Online]. Tersedia di: http:// www. episentrum.com. [10 Oktober 2010].

Maxwell, John C. (2002). Sukses Dibangun Setiap Hari. Alih bahasa: Maicy Priskila. Jakarta: PT. Mitra Media.

Mc. Clelland, Atkinson, Clark & Lowell. (1953). The Achievment Motive. New York: Halsted Press.

Mc. Clelland, David C. (1961). The Achieving Society. New York: D. Van Nostrand Company, Inc.

Mc.Clelland, D. C (1985). Human Motivation. Illinois : Scott, Foresman & Company.

Miharja, Sugandi. (2001). Konseling Kelompok Berorientasi Keagamaan untuk Meningkatkan Motif Berprestasi (Hasil Studi Eksperimen Bersama Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kabupaten Garut). Tesis pada Prodi BK PPs UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Moh. Surya. (2003). Psikologi Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Moekijat. 2001. Pengembangan manajemen dan Motivasi: Bandung: CV Pionir Jaya.

Moekijat. 2002. Dasar-Dasar Motivasi. Bandung: Pionir Jaya.

Muhibin, Syah. (2003). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


(52)

Mukharomah, Anik. (2010). Hubungan Kecerdasan Motivasi Berprestasi dengan

Kebiasaan Belajar Siswa. [Online]. Tersedia:

http://www.pustakaskripsi.com/wp-content/upload/2010/11/hubungan-kecerdasan-motivasi berprestasi-dengan kebiasaan belajar siswa.pdf. [4 November 2010].

Munandar, Utami. (1999). Kreativitas dan Keterbakatan : StrategiMewujudkan Protensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Natawidjaja, Rochman. (1979). Praktek Keguruan Buku Guru SGO Editor. Jakarta: Depdikbud.

Nur Aziza. (2010). Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Prokrastinasi Akademik. [Online]. Tersedia: http://www.infoskripsi.com/. [12 Desember 2010].

Nurikhsan, Juntika. (2003). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Mutiara.

Nurikhsan, Juntika. (2006). Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung: Refika Aditama

Purwanto, Ngalim. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Prayitno, Elida. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pustaka, Familia. (2006). Konsep Diri Positif, Menentukan Prestasi Anak. Yogyakarta: Kanisius.

Rasimin. (2001). Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Depdikbud.

Ratnawulan, Teti. (2001). Pengembangan Program Pelatihan Motivasi Berprestasi Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).Tesis PPB FIP. Bandung: Tidak diterbitkan.

Raynor, Atikson J.W. 1978. Personality, Motivation and Achievment. USA: Hemisphere Publishing Corporation.

Rizkiani, Diah. (2007). Hambatan dalam Mencapai Motivasi Berprestasi Siswa

SMA 5 Kutoharjo Rembang Surakarta. [Online]. Tersedia:


(53)

175

Rosleny. (2007). Progrma Bimbingan dan Konseling untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SMP (Studi Terhadap Siswa SMPN 20 Bandung). Tesis pada Prodi BK PPs UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Said, Jabir. (2009). Peran Orang Tua Terhadap Motivasi Berprestasi. [Online]. Tersedia di: http:// www.ubb.ac.id. [10 Oktober 2010].

Schaefer, Susan D. 1979. The Motivation Process. New Delhi: Prentice hall of india private limited.

Siregar, Ade Rahmawati. (2006). Motivasi Berprestasi Mahasiswa Ditinjau dari Pola Asuh. Skripsi pada Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara. Medan: tidak diterbitkan.

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka Setia.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suherman, Uman dan Dadang Sudrajat. (1998). Evaluasi dan Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung : Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI.

Suherman, Uman. (2007). Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bekasi: Madani.

Sukadji. (2001). Motivasi dalam Masyarakat. Jakarta :Gramedia.

Sukardi, Dewa Ketut. (2002). Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2005). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sumadi, Suryabrata. (1981). Psikologi Belajar. Jakarta: Depdikbud.

Supriatna, Mamat. (2011). Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi Orientasi Dasar Pengembangan Profesi Konselor. Jakarta: PT. Rajagrafindo.


(54)

Syakira, Ghana. (2010). Motivasi dan Faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi. [Online]. Tersedia di: http://sobbaru.blogspot.com [10 Oktober 2010].

Syamsudin Makmun, Abin. (2004). Psikologi kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ulfa, Nesia. (2010). Efektivitas Bimbingan Akademik melalui Symbolic Modeling Untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa. Skripsi. Publikasi Jurusan PPB FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Umniyah. (2008). Motivasi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: CV. Rajawali.

Vroom, Victor H. (1979). Management and Motivation. New York: Pinguin Books.

Wenar & Kering. (2007). Pengaruh motivasi terhadap peningkatan kinerja. [Online]. Tersedia: http://teknologikinerja.wordpress.com. [9 November 2010].

Winkel, W. S & Sri Hastuti. (1987). Bimbingan dan Konseling diinstuti Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Winkel, W. S. (1987). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pengajaran. Jakarta : Gramedia

Winkel, W. S. (1991). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grafindo.

Yusiana, Regista. (2002). Hubungan antara Persepsi terhadap Peran Kelompok Teman Sebaya dengan Motivasi Berprestasi pada Siswa Pindahan Kelas 3 di SMUN 2 Bandung. Skripsi pada Jurusan Psikologi Universitas Islam Bandung: tidak diterbitkan.

Yusuf, Syamsu. (2009). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Rizqi Press.

Yusuf, Syamsu dan Juntika Nurihsan. (2006). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


(1)

dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa sehingga memiliki kesiapan belajar yang optimal.


(2)

172

DAFTAR PUSTAKA

ABKIN. (2008). Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan. Bandung: ABKIN.

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Asian, Brain. 2012. Motivasi Belajar. [Online]. Tersedia http://www. anneahira.com/motivasi/index.htm).

Bahri, Zainun. (2002). Peran Bimbingan dan Konseling di Instuti Pendidikan. Jakarta: Balai Aksara.

Clegg, Brian. 2000. Instant Motivation (79 cara instant menumbuhkan motivasi), alih bahasa : Arvin Saputra. Jakarta: Erlangga.

Dinata. (2009). Pentingnya Motivasi Berprestasi. [Online]. Tersedia di: http://dinata-online.co.cc. [15 Oktober 2010].

DJiwandono. (2002). Pentingnya Motivasi Belajar. Jakarta. Penerbit: Rajagrafindo Persada.

Fitriani, Ega Wiwit. (2010).Perbedaan Motivasi Berprestasi Siswa dilihat dari Pola Asuh Orangtua. Skripsi. Publikasi Jurusan PPB FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Furqon. (2008). Statistika Terapan untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Handoko, Martin. (1992). Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta: Kanisius.

Handoko, Teguh. (2009). Perhatian Orang tua dan Minat belajar dengan Prestasi Belajar siswa. [Online]. Tersedia di: http:// www. minat dan prestasi. com. [10 Oktober 2010].

Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi Kelima). Alih bahasa: Istiwidiyati & Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.

Irwanto. (1994). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Bina Aksara.

Kartadinata, Sunaryo et all. (2002). Bimbingan Sekolah Menengah. Bandung: CV Maulana.


(3)

173

Kartadinata, Sunaryo. (1983). Kontribusi Iklim Kehidupan Keluarga dan Sekolah Terhadap Adekuasi Penyesuaian Diri. Tesis FIP. UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Kautsar, Ilman. (2009). Program Bimbingan Belajar Untuk mengatasi Masalah Mencontek Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi. Publikasi Jurusan PPB FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Koeswara, E. (1995). Teori Motivasi dan Penelitiannya. Bandung: Angkasa. Kurniasih, Ellis. 2008. Karakteristik Motivasi Belajar Jurusan IPA dan IPS Siswa

Madrasah Aliyah (Studi Deskriptif terhadap Siswa Kelas Xi IPA, Kelas XII IPA dan Kelas XII IPS MAN Ciawi Kabupaten Tasikmalaya Tahun Ajaran 2007/2008). Skripsi Jurusan FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan. Kusumadewi, Dini. (2010). Lingkungan Keluarga yang Mempengaruhi Berprestasi. [Online]. Tersedia di: http:// www. episentrum.com. [10 Oktober 2010].

Maxwell, John C. (2002). Sukses Dibangun Setiap Hari. Alih bahasa: Maicy Priskila. Jakarta: PT. Mitra Media.

Mc. Clelland, Atkinson, Clark & Lowell. (1953). The Achievment Motive. New York: Halsted Press.

Mc. Clelland, David C. (1961). The Achieving Society. New York: D. Van Nostrand Company, Inc.

Mc.Clelland, D. C (1985). Human Motivation. Illinois : Scott, Foresman & Company.

Miharja, Sugandi. (2001). Konseling Kelompok Berorientasi Keagamaan untuk Meningkatkan Motif Berprestasi (Hasil Studi Eksperimen Bersama Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kabupaten Garut). Tesis pada Prodi BK PPs UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Moh. Surya. (2003). Psikologi Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Moekijat. 2001. Pengembangan manajemen dan Motivasi: Bandung: CV Pionir Jaya.

Moekijat. 2002. Dasar-Dasar Motivasi. Bandung: Pionir Jaya.

Muhibin, Syah. (2003). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


(4)

Mukharomah, Anik. (2010). Hubungan Kecerdasan Motivasi Berprestasi dengan

Kebiasaan Belajar Siswa. [Online]. Tersedia:

http://www.pustakaskripsi.com/wp-content/upload/2010/11/hubungan-kecerdasan-motivasi berprestasi-dengan kebiasaan belajar siswa.pdf. [4 November 2010].

Munandar, Utami. (1999). Kreativitas dan Keterbakatan : StrategiMewujudkan Protensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Natawidjaja, Rochman. (1979). Praktek Keguruan Buku Guru SGO Editor. Jakarta: Depdikbud.

Nur Aziza. (2010). Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Prokrastinasi Akademik. [Online]. Tersedia: http://www.infoskripsi.com/. [12 Desember 2010].

Nurikhsan, Juntika. (2003). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Mutiara.

Nurikhsan, Juntika. (2006). Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung: Refika Aditama

Purwanto, Ngalim. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Prayitno, Elida. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pustaka, Familia. (2006). Konsep Diri Positif, Menentukan Prestasi Anak. Yogyakarta: Kanisius.

Rasimin. (2001). Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Depdikbud.

Ratnawulan, Teti. (2001). Pengembangan Program Pelatihan Motivasi Berprestasi Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).Tesis PPB FIP. Bandung: Tidak diterbitkan.

Raynor, Atikson J.W. 1978. Personality, Motivation and Achievment. USA: Hemisphere Publishing Corporation.

Rizkiani, Diah. (2007). Hambatan dalam Mencapai Motivasi Berprestasi Siswa

SMA 5 Kutoharjo Rembang Surakarta. [Online]. Tersedia:


(5)

175

Rosleny. (2007). Progrma Bimbingan dan Konseling untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SMP (Studi Terhadap Siswa SMPN 20 Bandung). Tesis pada Prodi BK PPs UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Said, Jabir. (2009). Peran Orang Tua Terhadap Motivasi Berprestasi. [Online]. Tersedia di: http:// www.ubb.ac.id. [10 Oktober 2010].

Schaefer, Susan D. 1979. The Motivation Process. New Delhi: Prentice hall of india private limited.

Siregar, Ade Rahmawati. (2006). Motivasi Berprestasi Mahasiswa Ditinjau dari Pola Asuh. Skripsi pada Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara. Medan: tidak diterbitkan.

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka Setia.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suherman, Uman dan Dadang Sudrajat. (1998). Evaluasi dan Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung : Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI.

Suherman, Uman. (2007). Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bekasi: Madani.

Sukadji. (2001). Motivasi dalam Masyarakat. Jakarta :Gramedia.

Sukardi, Dewa Ketut. (2002). Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2005). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sumadi, Suryabrata. (1981). Psikologi Belajar. Jakarta: Depdikbud.

Supriatna, Mamat. (2011). Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi Orientasi Dasar Pengembangan Profesi Konselor. Jakarta: PT. Rajagrafindo.


(6)

Syakira, Ghana. (2010). Motivasi dan Faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi. [Online]. Tersedia di: http://sobbaru.blogspot.com [10 Oktober 2010].

Syamsudin Makmun, Abin. (2004). Psikologi kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ulfa, Nesia. (2010). Efektivitas Bimbingan Akademik melalui Symbolic Modeling Untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa. Skripsi. Publikasi Jurusan PPB FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Umniyah. (2008). Motivasi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: CV. Rajawali.

Vroom, Victor H. (1979). Management and Motivation. New York: Pinguin Books.

Wenar & Kering. (2007). Pengaruh motivasi terhadap peningkatan kinerja. [Online]. Tersedia: http://teknologikinerja.wordpress.com. [9 November 2010].

Winkel, W. S & Sri Hastuti. (1987). Bimbingan dan Konseling diinstuti Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Winkel, W. S. (1987). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pengajaran. Jakarta : Gramedia

Winkel, W. S. (1991). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grafindo.

Yusiana, Regista. (2002). Hubungan antara Persepsi terhadap Peran Kelompok Teman Sebaya dengan Motivasi Berprestasi pada Siswa Pindahan Kelas 3 di SMUN 2 Bandung. Skripsi pada Jurusan Psikologi Universitas Islam Bandung: tidak diterbitkan.

Yusuf, Syamsu. (2009). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Rizqi Press.

Yusuf, Syamsu dan Juntika Nurihsan. (2006). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


Dokumen yang terkait

Penerapan Model Siklus Belajar (Learning Cycle) dengan Media Flashcard untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA pada Siswa Kelas V SDN Mangkangkulon 01

0 25 482

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR ILMU BANGUNAN GEDUNG PADA SISWA KELAS X TEKNIK KONTRUKSI BATU DAN BETON SMK NEGERI 2 BINJAI TAHUN AJARAN 2014/2015.

0 3 26

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE EXAMPLE NON EXAMPLE DALAM MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MENGGAMBAR TEKNIK DASAR SISWA KELAS 1 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 2 BINJAI PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK KONSTRUKSI BATU DAN BET

0 2 27

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF THE POWER OF TWO TERHADAP HASIL BELAJAR ILMU BAHAN BANGUNAN PADA SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR BANGUNAN SMK NEGERI 2 BINJAI TAHUN AJARAN 20013/2014.

0 2 24

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PANTUN SISWA SEKOLAH DASAR.

0 1 46

PENERAPAN MODEL LEARNING CYCLE 5E UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA.

0 0 38

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS BELAJAR (LEARNING CYCLE) 5E DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FISIKA.

0 0 1

PENERAPAN MODEL QUANTUM LEARNING MELALUI TEKNIK PERMAINAN KATA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PANTUN - repository UPI S IND 1202950 Title

0 0 4

Pengaruh Penerapan Model Learning Cycle

0 0 13

PENERAPAN MODEL LEARNING CYCLE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI PADA SISWA SEKOLAH DASAR

0 0 6