PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED INSTRUCTION) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN MOTIVASI BELAJAR IPA BIOLOGI SISWA SMPN 11 MATARAM TAHUN AJARAN 20132014 Nurawaliyah

  

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH ( PROBLEM

BASED INSTRUCTION) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN

  

MOTIVASI BELAJAR IPA BIOLOGI SISWA SMPN 11 MATARAM TAHUN

AJARAN 2013/2014

1) 2) 3)

  

Nurawaliyah , Agus Ramdani , M. Yamin

1)

  

Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataram

2) 3) Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataram

  Universitas Mataram, Jalan Majapahit No.62, Mataram Email: awaliyah_rhama93@yahoo.co.id

  

ABSTRAK

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar IPA Biologi siswa SMPN 11 Mataram tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini telah dilaksanakan di SMPN 11 Mataram dari bulan Mei sampai Juni 2014. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain penelitian nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 192 siswa. Sampel penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling dan diperoleh kelas VII A sebagai kelas eksperimen dan kelas VII D sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis adalah tes essay dan untuk mengukur motivasi belajar berupa angket motivasi belajar. Data penelitian dianalisis menggunakan uji-t pada taraf signifikansi 5% dengan bantuan Microsoft Excel 2007. Hasil penelitian terhadap kemampuan berpikir kritis menunjukan bahwa setelah dilakukan uji beda terhadap nilai posttest diperoleh nilai t hitung > t kritik yaitu 6,095 > 2,000 sedangkan untuk motivasi belajar diperoleh t hitung > t kritik yaitu 2,633 > 2,000. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar IPA Biologi yang signifikan pada kedua kelas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar IPA Biologi siswa SMPN 11 Mataram Tahun ajaran 2013/2014.

  Kata Kunci: Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Kemampuan Berpikir Kritis, Motivasi

  Belajar

ABSTRACT

  The aim of this research is to examine the effect of problem based instruction model on student’s critical thinking skills and motivasion at grade VII of academic years 2013/2014.This research has been conducted in SMPN 11 Mataram from May to June 2014. Type of research is quasi experimental and research design was nonequivalent control group design. Populations of this study were all students at grade VII of academic year 2013/2014. Samples were determined by purposive sampling technique and obtained VII A as experimental class and VII D as control class. Instrument used to measure both student’s critical thinking skills was essay test and to measure motivation learning was motivation questionnaire. Data of students’s critical thinking and motivation were analyzed by using t- test formula at level of significant 5% with help of Data Analysis at Microsoft Excel 2007. Result showed for critical thinking skills after different test on the posttest obtained t value > t critical is 6.095 > 2.000, while for the learning motivation obtained t value > t critical is 2.633 > 2.000. The results showed that student’s critical thinking skills and motivation in both classes was significantly different. It can be concluded that problem based instruction model give an effect on student’s critical thinking skills and motivation.

  Key Words: Problem Based Instruction Model, Critical Thinking Skills, Motivation PENDAHULUAN

  Melalui pendidikan ilmu pengetahuan alam (IPA), siswa dapat mempelajari pengetahuan ilmiah dan keterampilan proses yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. IPA membentuk sikap ilmiah siswa seperti ingin tahu, berpikir terbuka, berpikir kritis, keinginan memecahkan masalah, membangun sikap peka terhadap lingkungan dan bisa merespon suatu tindakan (Trianto, 2013).

  Pembelajaran IPA pada hakikatnya meliputi tiga komponen yaitu sikap ilmiah, proses ilmiah, dan produk ilmiah. Oleh karenanya, pembelajaran IPA disekolah tidak hanya dituntut untuk menghafal konsep yang diberikan beserta teori-teori sains, tetapi siswa dituntut untuk lebih menguasai konsep tersebut yang berkenaan dengan proses bagaimana fakta, konsep dan teori-teori tersebut ditemukan (Warpala, 2006) yang dikutip dalam Anggareni dkk (2013).

  Kecenderungan pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) dikalangan siswa kelas VII masih dianggap sebagai produk, yaitu berupa kumpulan konsep yang harus dihafal sehingga berdampak pada rendahnya kemampuan siswa pada aspek kognitif tingkat tinggi (Anggareni dkk, 2013). Aspek kognitif menurut taxonomi Bloom terdiri dari 6 aspek yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi (Jufri, 2010).

  Kemampuan berpikir kritis melatih siswa untuk membuat keputusan dari berbagai sudut pandang secara cermat, teliti, dan logis. Dengan kemampuan berpikir kritis siswa dapat mempertimbangkan pendapat orang lain serta mampu mengungkapkan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu pembelajaran disekolah sebaiknya melatih siswa untuk menggali kemampuan dan keterampilan dalam mencari, mengolah, dan menilai berbagai informasi secara kritis.

  Selain melatih kemampuan berpikir kritis, pembelajaran disekolah sebaiknya kegiatan yang membangkitkan keinginan atau motivasi siswa dalam belajar. Seorang siswa yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya apabila seseorang kurang atau tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak tahan lama belajar. Hal ini berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketekunan belajar (Uno, 2012).

  Dengan demikian, apabila proses belajar telah benar-benar bermakna, hasil belajar yang optimal akan didapatkan. Dalam hal ini, hasil belajar yang diperoleh tidak hanya kognitif tingkat rendah, seperti menyebutkan atau menghafalkan, tetapi tingkatan yang lebih tinggi, seperti berpikir kritis. Selain itu, apabila proses belajar berlangsung dengan baik, diharapkan motivasi belajar siswa semakin meningkat sehingga terwujudnya hasil belajar yang optimal.

  Hasil observasi dan wawancara dengan guru ilmu pengetahuan alam (IPA) yang dilakukan di SMP Negeri 11 Mataram pada bulan Pebruari tahun 2014 menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan sudah cukup beragam, diantaranya dengan metode ceramah, diskusi, dan praktikum, namun hal ini kurang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya juga dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menganalisis masalah. Dari hasil wawancara dengan pihak guru ditemukan fakta bahwa pembelajaran berbasis masalah belum pernah diterapkan di dalam proses pembelajaran sehingga guru masih tetap menggunakan pembelajaran yang biasa digunakan sehari-hari yaitu pembelajaran dengan menggunakan model konvensional (ekspositori).

  Permasalahan penting lainnya adalah hasil analisis terhadap soal-soal yang digunakan guru pada kegiatan ulangan tengah semester (middle test ) menunjukkan bahwa soal-soal yang dikembangkan masih terbatas pada tipe soal mengingat (C1), memahami (C2), dan mengaplikasikan (C3) sehingga guru kurang melatihkan siswa dalam aspek menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Didominasinya soal-soal bertipe C1, C2, dan C3 dari tes ulangan tengah semester (middle test ) mengindikasikan guru kurang melatihkan siswa dalam berpikir tingkat tinggi yaitu menganalisis (C4), mensintesis (C5) dan mengevaluasi (C6).

  Salah satu alternatif yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah tersebut adalah model pembelajaran berbasis masalah. Ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sadia (2008) yang menyatakan bahwa salah satu model yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis adalah model pembelajaran berbasis masalah. PBM merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir, mengembangkan kemandirian dan percaya diri (Boud and Felleti (1997) yang dikutip dalam (Jauhar, 2011). Menurut Widjajanti (2011) mengatakan bahwa masalah yang nyata dan kompleks memotivasi siswa untuk mengidentifikasi dan meneliti konsep dan prinsip yang mereka perlu ketahui. Siswa bekerja dalam tim kecil, memperoleh, mengkomunikasikan, serta memadukan informasi dalam proses menemukan (inquiry).

  Menurut Arends (2009) yng dikutip dalam (Warsono dan Hariyanto, 2012) bahwa terdapat 5 sintaks dari pembelajaran berbasis masalah secara umum yaitu: (1) orientasi masalah kepada siswa; (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan atau individual; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

  Menurut Johnson (2002) berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah.

  Menurut Huitt (1998) dalam Fathurrohman (2010) menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan suatu proses kognitif yang sistematis dan aktif dalam menilai argumen-argumen, menilai sebuah kenyataan, menilai kekayaan dan hubungan dua atau lebih objek serta memberikan bukti-bukti untuk menerima atau menolak sebuah pernyataan.

  Menurut Zeidler at al (1992) yang di kutip dalam (Jufri, 2010) berpikir kritis terdiri dari beberapa indikator yaitu: (1) merumuskan masalah; (2) memberikan argument; (3) melakukan deduksi; (4) melakukan induksi; (5) melakukan evaluasi; dan (6) mengambil keputusan dan menentukan tindakan.

  Berpikir kritis dan kreatif memungkinkan siswa untuk mempelajari masalah secara sistematis, menghadapi banyak rintangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pertanyaan inovatif, dan merancang solusi yang tepat. Apabila hal tersebut dilatih secara terus menerus, akan meningkatkan motivasi belajar (Muspita dkk, 2013).

  Motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku/ aktivitas tertentu lebih baik dari sebelumnya (Uno, 2012). Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi diharapkan dapat memperoleh hasil belajar yang tinggi pula (Jufri, 2010).

  Menurut Sardiman (2012) motivasi mengandung 3 elemen penting yaitu: (1) motivasi mengawali terjadinya perubahan energy didalam sistem neurophysiological;

  (2) motivasi ditandai dengan munculnya rasa, afeksi seseorang; (3) motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan.

  Menurut Keller (1987) terdapat empat kategori kondisi motivasional yang perlu diperhatikan oleh guru yaitu; (1) Perhatian (Attention), perhatian siswa didorong oleh rasa ingin tahu sehingga siswa akan memberikan perhatian ; (2) Keterkaitan (Relevance), motivasi siswa akan terpelihara apabila mereka menganggap bahwa apa yang dipelajari bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang didapatkan; (3) Percaya diri (Confidence), motivasi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil; dan (4) Kepuasan (Satisfaction), Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa.

  Penelitian yang relevan yang pernah dilakukan antara lain oleh Muspita dkk (2013) menunjukan bahwa model pembeljaran berbasis masalah dapat meningkatkan keampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa SMPN 1 Aikmel pada mata pelajaran IPS. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Susilo dkk (2012) perangkat pembelajaran

  IPA berbasis masalah mampu meningkatkan motivasi dan kemampuan berpikir kritis siswa SMPN 1 Ngadirejo Temanggung dalam pembelajaran IPA pada materi berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Afcariono (2008) menunjukan peningkatan pola pikir siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah pada kelas X-A SMAN 1 Ngantang Kota Batu Malang dengan materi klasifikasi makhluk hidup.

  Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based

  Instruction ) terhadap kemampuan berpikir

  kritis dan motivasi belajar IPA Biologi siswa SMPN 11 Mataram tahun ajaran 2013/2014.

METODE PENELITIAN

  Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment ). Desain penelitian yang digunakan adalah nonequivalent control group design . Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 11 Mataram terhadap siswa kelas VII semester genap tahun ajaran 2013/2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII yang terbagi dalam enam kelas, sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling dan diperoleh kelas VII A sebagai kelas eksperimen yang diberikan pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah dan kelas

  VII D sebagai kelas kontrol yang diberikan pembelajaran dengan pembelajaran kelas kontrol 59 dengan nilai standar konvensional. Materi yang diajarkan deviasi sebesar ± 9,241. Perbandingan dalam penelitian ini adalah Ekosistem dan rata-rata di kedua kelas sampel tersebut Pelestarian Sumber Daya Hayati. dapat dilihat pada diagram berikut ini.

  Variabel bebas dalam penelitian ini 80 90 adalah model pembelajaran berbasis 70 masalah dan variabel terikatnya adalah 60

  ta

  kemampuan berpikir kritis dan motivasi

  a 50

  • -r ta
  • 40

      belajar IPA Biologi. Instrumen yang a

      R 30 Mean

      digunakan untuk mengukur KPK berupa 20 tes uraian yang telah valid dan reliabel 10 sebanyak 19 soal dan untuk mengukur

      Eksperimen Kontrol

      motivasi belajar berupa angket motivasi

      Kelas Sampel

      sebanyak 30 item pernyataan. Analisis uji

      Gambar

      1. Diagram nilai rata-rata

      hipotesis menggunakan uji-t dengan

      kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen dan kelas kontrol. Batang galat

      bantuan Data Analysis pada program

      menunjukkan standar deviasi Microsoft Excel 2007 .

      Kemampuan berpikir kritis yang Uji perbedaan post-test dianalisis diteliti dalam penelitian ini yaitu menggunakan rumus t-Test: Two Sample merumuskan masalah, memberikan

      Assuming Equal Variances pada program

      argument, melakukan deduksi, melakukan

      Microsoft Excel 2007. Secara singkat,

      induksi, melakukan evaluasi dan analisis data post-test kemampuan berpikir mengambil keputusan dan menentukan kritis dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini. tindakan. Motivasi belajar yang diteliti

      Tabel

      1. Analisis data post-test kemampuan berpikir kritis adalah terdiri dari 4 aspek yaitu perhatian,

      EKSPERIMEN KONTROL

      keterkaitan, percaya diri dan kepuasan

      Mean 73,16 58,74 Variance 88,0731 85,3978 Observations

      31

      31 HASIL DAN PEMBAHASAN Pooled Variance 86,7355

    1. Kemampuan Berpikir Kritis

      Hypothesized Mean Difference

      Hasil post-test merupakan nilai

      Df

      60 rata-rata dari kedua materi yang diajarkan. t Stat 6,0956 P(T<=t) one-tail

      Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis

      t Critical one-tail 1,6706

      siswa di kelas eksperimen 73 dengan nilai

      P(T<=t) two-tail

      standar deviasi sebesar ± 9,385 dan di

      EKSPERIMEN KONTROL t Critical two-tail 2,0003

      Berdasarkan analisis data diperoleh t hitung = 6,0956 lebih besar daripada harga t

      kritik

      = 2,0003, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, dengan demikian terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini berarti model pembelajaran berbasis masalah berpengaruh lebih baik daripada pembelajaran konvensional terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.

      Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Astika dkk (2013) menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap sikap ilmiah dan keterampilan berpikir kritis. Hal ini sejalan dengan Astika dkk (2013) yang menunjukan bahwa model pembelajaran berbasis masalah PBM berpengaruh terhadap sikap ilmiah dan keterampilan berpikir kritis siswa. Selain itu penelitian Herman (2007) dan Fachrurazi (2011) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis siswa. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut diantaranya adalah langkah-langkah dari model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instruction).

      Pada saat melakukan orientasi masalah, siswa dirangsang untuk berpikir tentang mengidentifikasi masalah apa yang akan diselesaikan dan bagaimana upaya dalam menyelesaikannya. Masing-masing siswa bisa mempunyai cara-cara yang berbeda dalam meyelesaikan masalah tersebut. Menurut penelitian yang dilakukan Susilo dkk (2012) bahwa dalam model pembelajaran berbasis masalah siswa terlatih untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi permasalahan dengan cermat sehingga siswa dapat mengembangkan daya nalarnya secara kritis untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

      Dalam pembelajaran berbasis masalah akan membahas masalah-masalah autentik dengan struktur yang kompleks. Latihan- latihan memecahkan masalah autentik ini menjadikan siswa selalu memberdayakan kemampuan berpikirnya dan menjadikan siswa mempunyai kemampuan berpikir lebih tinggi sehingga mampu memecahkan masalah riil dan mengkaitkannya dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Hal ini sesuai dengan pendapat Yildirim dan Ozkahraman (2011) serta penelitian yang dilakukan oleh Lissa dkk (2012) yang menegaskan kemampuan berpikir dapat dikembangkan melalui suatu pengkondisian untuk berpikir yaitu berupa latihan berpikir melalui menjawab soal

      2. Motivasi Belajar

      yang berorientasi pada keterampilan Hasil uji perbedaan pada posttest berpikir tingkat tinggi. menunjukkan bahwa ada perbedaan Kegiatan mengembangkan dan motivasi belajar antara siswa di kelas menyajikan hasil karya mampu menarik eksperimen dengan siswa di kelas kontrol perhatian kelompok lain untuk Nilai rata-rata posttest di kelas menanggapi presentasi tersebut. pada saat eksperimen 79,129 dengan nilai standar kelompok penyaji manyampaikan hasil deviasi sebesar ± 9,763 dan di kelas diskusinya, kelompok lain berusaha untuk kontrol 72,903 dengan standar deviasi memikirkan dan menalar maksud yang sebesar ± 8,829. Perbandingan nilai rata- disampaikan oleh kelompok penyaji. Hal rata posttest diperlihatkan pada diagram di tersebut sejalan dengan hal yang bawah ini. disampaikan oleh Johnson (2002) 100 90 menyatakan bahwa pemikir kritis akan 80 melakukan pertimbangan-pertimbangan 70 untuk meningkatkan pengetahuan dan 60

      ta a -r 50

      mendapatkan pemahaman. Pemikir kritis

      ta a 40 R M ean

      akan menganalisis dengan hati-hati setiap 30 yang disampaikan oleh orang lain. 20 Dalam PBM fokus pembelajaran ada 10 pada masalah yang dipilih sehingga siswa

      Eksperimen Kontrol

      tidak saja mempelajari konsep-konsep

      Kelas Sampel

      yang berhubungan dengan masalah tetapi

      Gambar 2. Diagram nilai rata-rata motivasi

      juga metode ilmiah untuk memecahkan belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol. masalah tersebut. Model pembelajaran

      Batang galat menunjukkan standar deviasi

      berbasis masalah mampu membawa siswa Uji perbedaan posttest dianalisis menggunakan pengetahuan yang diperoleh menggunakan rumus t-Test: Two Sample dikelas untuk menyelesaikan masalah- pada program

      Assuming Equal Variances

      masalah baru yang belum pernah dihadapi,

      Microsoft Excel 2007. Secara ringkas hasil

      serta tanggung jawab yang lebih terhadap analisis data dapat dilihat dalam tabel 2. belajarnya seiring dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuan (Muspita dkk, 2013).

      Tabel 2. Hasil uji hipotesis data posttest motivasi belajar.

    EKSPERIMEN KONTROL

      Mean 79,129 72,903 Variance 95,316 77,957 Observations

      31

      31 Pooled Variance 86,637 Hypothesized Mean Difference Df

      60 t Stat 2,633 P(T<=t) one-tail 0,005 t Critical one-tail 1,671 P(T<=t) two-tail 0,011 t Critical two-tail 2,000

      Berdasarkan analisis data diperoleh t

      hitung

      = 2,633 lebih besar daripada harga t

      kritik

      = 2,000, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, dengan demikian terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini berarti penerapan model pembelajaran berbasis masalah memberikan pengaruh lebih baik daripada pembelajaran konvensional terhadap motivasi belajar siswa.

      Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muspita dkk (2013) yang menyimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis, motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut diantaranya adalah langkah-langkah dari model PBM.

      Tingginya motivasi belajar IPA siswa yang menggunakan model PBM dikarenakan pada model pembelajaran tersebut siswa dituntut untuk melakukan proses pemecahan terhadap masalah yang disajikan oleh guru. Dengan penyajian masalah tersebut siswa akan merasa tertantang dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Uno (2012) yang menyatakan bahwa seseorang merasa yakin mampu menghadapi tantangan maka biasanya orang tersebut akan terdorong untuk melakukan kegiatan tersebut.

      Selain itu, kegiatan awal dengan melakukan orientasi masalah kepada siswa dimaksudkan untuk menarik perhatian siswa agar mampu mengkonstruksi pengetahuannya dengan materi yang akan diajarkan dan mengkaitkan dengan keadaan lingkungan sekitarnya (Eggen and Kauchak, 2012).

      Siswa juga akan memusatkan perhatian pada penyampaian guru karena adanya kebutuhan terhadap informasi tersebut dalam proses penyeleaian masalah yang di sajikan oleh guru. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sardiman (2012) menyatakan bahwa motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan untuk mengatasi kesulitan.

      Dalam penyelesaian masalah siswa tidak bisa melakukan proses penyelesaian masalah secara individu melainkan dilakukan secara berkelompok. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar yang memungkinkan siswa menjadi nara sumber bagi teman yang lain untuk mempelajari materi pelajaran atau memecahkan suatu masalah melalui pengamatan langsung sehingga terjalin interaksi sosial dengan teman sebayanya. Oleh sebab itu guru harus bisa membangun suasana kerjasama dan kompetisi yang sehat dalam proses belajar mengajar sehingga siswa termotivasi untuk memperoleh yang terbaik untuk kelompoknya (Jufri, 2010).

      Susilo dkk (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model PBM memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa bekerja sama dalam kelompok. Keuntungannya siswa dapat berkomunikasi secara ilmiah dalam suatu kegiatan diskusi, memupuk kerja sama tim, meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah dan memudahkan pemahaman konsep.

      Dengan menggunakan masalah autentik siswa merasa materi yang dipelajari berhubungan dengan kehidupannya dan akhirnya siswa merasa bahwa pelajaran tersebut akan berguna untuk kehidupannya. Ini sejalan dengan pendapat Uno (2012) yang menyatakan bahwa siswa akan tertarik untuk belajar jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya.

      KESIMPULAN

      Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan: (1) Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang diberikan pelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang diberikan pelajaran menggunakan pembelajaran konvensional sehingga model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instruction) berpengaruh lebih baik terhadap kemampuan berpikir kritis Siswa SMPN

      11 Mataram Tahun Ajaran 2013/2014; (2) Terdapat perbedaan motivasi belajar IPA Biologi antara siswa yang diberikan pelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang diberikan pelajaran menggunakan pembelajaran konvensional sehingga model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instruction) berpengaruh lebih baik terhadap motivasi belajar IPA Biologi Siswa SMPN 11 Mataram Tahun Ajaran 2013/2014.

      SARAN

      Berkaitan dengan penelitian ini,disarankan: (1) Perlu adanya perencanaan yang baik oleh guru untuk mempersiapkan pembelajaran sehingga dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang Eggen, P. and Kauchak, D. 2012.

      Strategies and Models for

      akan dicapai; (2) Penilaian motivasi Teachers . Boston: Pearson. belajar sebaiknya dilakukan pada setiap

      Fachrurazi. 2011. Penerapan Pembelajaran kali pertemuan agar peneliti dapat lebih Berbasis Masalah untuk memahami motivasi belajar siswa yang Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Komunikasi dipengaruhi oleh perlakuan yang Matematis Siswa Sekolah Dasar. diberikan; (3) Para peneliti dapat Jurnal Pendidikan (1): 76-88 . melanjutkan penelitian dengan

      Fathurrohman. 2010. Pendekatan menggunakan model pembelajaran Pembelajaran Berbasis Masalah

      untuk Meningkatkan Kemampuan

      berbasis masalah (Problem Based

      Berpikir Kritis Siswa SD dalam

    instruction ) untuk pokok bahasan yang Pembelajaran PKN. Skripsi

      (Online). Jurusan Pendidkan Pra- lain dan untuk mengukur kemampuan sekolah dan Sekolah dasar FIP metakognisi, kemampuan bertanya dan UNY. kemampuan menjawab pada sekolah

      Herman, T. 2007. Pembelajaran Berbasis menengah atas. masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis Tingkat Tinggi Siswa Sekolah

      

    DAFTAR PUSTAKA Menengah Pertama. Educationist

    : 47-56.

      (1)

      Afcariono, M. 2008. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah Lissa, Prasetyo, A. P. B. dan Indriyanti, D. untuk Meningkatkan Kemampuan

      R. 2012. Pengembangan Instrumen Berpikir Kritis Siswa pada Mata

      Penilaian Keterampilan Berpikir Pelajaran Biologi. Jurnal

      Kritis Tingkat Tinggi Materi Pendidikan Inovatif 3 (2) : 65-68. Sistem Respirasi dan Ekskresi.

      Lembaran Ilmu Kependidikan (1) :

      Anggareni, N., Ristiati, N. dan Widiyanti, 27-32.

      N. 2013. Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri terhadap

      Jauhar, M. 2011. Implementasi PAIKEM Kemampuan Berpikir Kritis dan

      dari Behavioristik sampai

      Pemahaman Konsep IPA Siswa

      Kontruktivisme . Jakarta: Prestasi

      SMP. e-jurnal Program Pasca Pustakarya.

      sarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA (4).

      Johnson, E. B. 2002. CTL (Contextual

      Teaching and Learning) Astika, U., Kusuma, I. K. dan Suastra, I. Menjadikan Kegiatan Belajar –

      W. 2013. Pengaruh Model

      mengajar Mengasyikan dan

      Pembelajaran Berbasis Masalah

      Bermakna . Ibnu Setiawan

      terhadap Sikap Ilmiah dan (Penerjemah). 2009. Bandung:

      Keterampilan Berpikir Kritis. e- Penerbit Kaifa.

      Jurnal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA (3). Jufri,

      A. W. 2010. Belajar dan Asesmen . Bandung: PT Remaja Pembelajaran Sains . Mataram: Rosdakarya. Arga Puji Press.

      Widjajanti, D. B. 2011. Problem Based Keller, J. M. 1987. Development and Use Learning dan Contoh of The ARCS Models of Implementasinya . Makalah

      Instructional Design. Journal of disajikan pada Seminar

      Instructional Development (10) : 2- Pendidikan, UNY, Yogyakarta, 10 10.

      Maret 2010. Muspita, Z., Lasmawan, I. W. dan Yildirim, B and Ozkahraman, S. 2011.

      Sariyasa. 2013. Pengaruh Model Critical Thinking in Nursing Pembelajaran Berbasis Masalah Process and Education. terhadap Kemampuan Berpikir Internasional Journal of Kritis, Motivasi Belajar, dan Hasil Humanities and Social Science . 1 Belajar IPS Siswa Kelas VII (13): 257-262. SMPN

      11 Aikmel. e-Jurnal

      Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar (3) :1-8.

      Sadia, I. W. 2008. Model Pembelajaran yang Efektif untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis (Suatu Persepsi Guru). Jurnal

      Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA (1) : 219-238.

      Sardiman, A. M. 2012. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar.

      Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Susilo, A. B., Wiyanto dan Supartono.

      2012. Model Pembelajaran IPA Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP. Unnes Science Education Journal (1): 12-20.

      Trianto. 2013. Model-model Pembelajaran Terpadu . Jakarta: Bumi Aksara. Uno, H. B. 2012. Teori Motivasi dan

      Pengukurannya . Jakarta: Bumi Aksara.

      Warsono dan Hariyanto. 2012.

      Pembelajaran Aktif Teori dan


Dokumen yang terkait

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK PENGELOLAAN LINGKUNGAN

0 7 63

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) DAN MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA

0 7 90

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH FISIKA SISWA SMA.

0 2 24

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH FISIKA SISWA SMK.

0 8 32

PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMAN 1 BATANG KUIS.

0 1 23

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA SMA NEGERI 1 LUBUK PAKAM.

0 1 15

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA SMAN 1 LUBUK PAKAM.

0 2 32

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) TERHADAP PENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEMAMPUAN ANALISIS SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA BIOLOGI KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH BANYUMAS TAHUN AJARAN 20112012

0 0 11

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PBL (PROBLEM BASED LEARNING) TERHADAP PEMAHAMAN DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA KONSEP BIOLOGI SISWA KELAS IX IPA SMA NEGERI PATIKRAJA

0 0 16

EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH DAN PENGUASAAN KONSEP IPA BIOLOGI PADA SISWA SMPN 19 MATARAM TAHUN AJARAN 20152016

0 0 16

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

64 1374 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 370 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 327 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 210 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 306 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 408 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 374 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 226 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 378 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 430 23