perkembangan bahasa anak bahasa anak

MAKALAH
PROSES PEMEROLEHAN BAHASA ANAK
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: pengembangan Kemampuan Berbahasa Anak
Dosen Pengampu: Sri Wahyuningsih, M.Pd

Disusun oleh:
Normaidah
Nofia Fitria Ningrum

(1310410026)
( 1310410016)

Nurul Hasanati

(1310410002)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH / PGRA
2015

0

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Anak usia dini memiliki kapasitas kemampuan berbahasa yang berbeda – beda. Ia
dapat menggunakan bahasa atas dasar Pemerolehan bahasa di keluargadan di
lingkungannya. Kemampuan menggunakan bahasa anak itu datang nya ada yang
disengaj adan ada pula yang tidak disengaja.Kemampuan menggunakan bahasa
yang

dikarenakan secara direncanakan dan disengaja dalam ilmu linguistic

disebut belajar bahasa.Sebaliknya, kemampuan menggunakan bahasa yang
asalnya tidak disengaja dan tidak direncanakan disebut pemerolehan bahasa.
Pemerolehan bahasa anak usia dini penting untuk diketahui sebagai pangkal tolak
untuk mengembangkan bahasanya dikanak – kanak. Dengan mengetahui dan
memahami pemerolehan bahasa anak, calon guru TK perlu memahami konsep
pemerolehan bahasa anak.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dan proses pemerolehan bahasa anak ?
2. Bagaimana teori pemerolehan bahasa anak ?
3. Apa saja isu/permasalahan dalam pemerolehan bahas anak ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Proses Pemerolehan Bahasa Anak
1

1. Pengertian pemerolehan bahasa anak
Bahasa merupakan sarana yang efektif untuk menjalin komunikasi social. Tanpa
bahasa, komunikasi tidak dapat dilakukan dengan baik dan interkasi social pun tidak
akan pernah terjadi1. sedangkan Pemerolehan bahasa diartikan sebagai periode
seorang individu memperoleh bahasa atau kosakata baru. Kapan periode itu
berlangsung? Dapat dikatakan hamper sepanjang masa. Namun, selama ini
pemahaman masyarakat tentang pemerolehan bahasa lebih banyak tercurah pada
masyarakat usia dini atau masyarakat yang belajar bahasa asing.2
2. Proses pemerolehan bahasa anak
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses pemilikan kemampuan
berbahasa secara alami. Dalam proses berbahasa, seseorang dikendalikan oleh sistem syaraf
pusat yang ada di otaknya. Pada belahan otak sebelah kiri dikendalikan oleh sistem syaraf
pusat yang ada di mengontrol produksi atau penghasilan bahasa, seperti berbicara dan
menulis. Pada belahan otak sebelah kanan terdapat wilayah wernicke yang mempengaruhi
dan bagian otak itu terdapat wilayah motor suplementer. Bagian ini berfungsi untuk
mengendalikan unsur fisik penghasil ujaran.
Berdasarkan tugas tenaga bagian otak itu, alur penerimaan dan penghasilan bahasa
dapat disederhanakan seperti berikut. Bahasa didengarkan dan dipahami melalui daerah
Wernicke. Isyarat bahasa itu kemudian dialihkan ke daerah Broca untuk mempersiapkan
penghasilan balasan. Selanjutnya isyarat tanggapan bahasa itu dikirimkan ke daerah motor,
seperti alat ucap, untuk menghasilkan bahasa secara fisik. 3
Kegiatan pemerolehan Bahasa melibatkan dua kemampuan. Pertama,
kemampuan reseptif, yaitu kemampuan menyerap,menerima, dan memahami tuturan
orang lain. Kedua, kemampuan produktif, yaitu kemampuan menghasilkan tuturan,
untuk mengekspresikan diri atau menanggapi rangsang bahasa yang disampaikan oleh
orang lain. Ketika anak melakukan kegiatan berbahasa secara langsung, secara
perlahan dan tentu saja tanpa disadari, telah terbangun unsur dan kaidah bahasa
( kosakata,struktur,dan makna) dan kaidah bahasa4
Tahap-Tahap Pemerolehan Bahasa
1. Tahap asing Pralinguistik
1 Syaiful Bahri Djamarah, psikologi belajar, PT Asdi Mahasatya, Jakarta: 2008 hal 46
2 Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, strategi pembelajaran Bahasa, Rosda, Bandung: 2008 hal 84
3 Http://wastksdbrajaselebah.blogspot.com

4 Solchan TW, Yetty Mulyati dkk, Pendidikan bahasa indonesia di SD, Universitas terbuka, Jakarta: 2011 hal 4-5

2

Bunyi bahasa yang dihasilkan akan semakin mendekati bunyi vocal atau konsonan
tertentu. Perkembangan bahasa pada fase ini disebut Pralinguistik. Fase ini
bersangsung sejak anak lahir sampai berumur sekitar 12 bulan.
a. Pada umur 0-2 bulan,anak hanya mengeluarkan bunyi-bunyi refleksif untuk
menyatakan rasa lapar, haus, sakit atau ketidak nyamanan, serta bunyi-bunyi vegetatif
yang berkaitan dengan aktifitas butuh.
b. Pada umur 2-5 bulan, anak mulai mendekut dan mengluarkan bunyi-bunyi vocal yang
bercampur dengan bunyi-bunyi mirip konsonan.
c. Pada umur 4-7 bulan, anak mulai mengeluarkan bunyi yang agak utuh dengan rentang
waktu yang lebih lama.
d. Pada umur 6-12 bulan, anak mulai mulai berceloteh. Celotehannya berupa reduplikasi
atau mengulangan konsenan dan vocal yang sama.
2. Tahap satu Kata Holofrasis
Pada umur 12-18 bulan, anak mulai mengunakan satu kata yang bermakna
mewakili keseluruhan ide yang di sampaikannya.
Kata yang diucapkan anak adalah kata-kata yang telah dikenal dan di kuasainya.
Kata-kata itu biasanya sering muncul dalam tuturan keseharian dilingkungan anak.
3. Tahap Dua kata
Pada usia 18-24 bulan, tahap ini kosakata dan gramatika anak berkembang dengan
cepat, seiring dengan kematangan otak dan alat ucapannya.
4. Tahap telegrafis
Antara usia 2-3 tahun anak telah menghasilkan ujaran dalam bentuk kalimatkalimat pendek. Ciri yang paling mencolok pada fase ini bukanlah pada jumlah
kata yang dihasilkan anak, tetapi pada fariasi bentuk kata yang sudah mulai
muncul. Namun demikian, pada fase ini, anak belum menggunakan kata tugas
dalam bertutur.
Bayi dalam usia 2-4 bulan ternyata telah memahami dan merespon maksud
tuturan orang tuanya, melalui berbagai nada suara tertentu. Sekitar 6 bulan, anak
mulai mengaitkan tuturan yang di dengarnya dengan konteks yang menyertainya,
seperti ucapan dadah(disertai dengan lambaian tangan ), tepuk tangan atau
gurauan .5
B. Teori-Teori Pemerolehan Bahasa
1. Teori Pemerolehan Bahasa Behavioristik (akuisisi)
5 Solchan TW, Yetty Mulyati dkk, Pendidikan bahasa indonesia di SD, Universitas terbuka, Jakarta: 2011 hal 1719

3

Menurut pandangan kaum behavioristik, bahwa anak sejak lahir tidak membawa
struktur linguistic.Artinya, anak lahir tidak ada struktur lingustik makan, antara
lain dapat dipenuhi dengan makan nasi atau makan bubur. Bagi seorang anak yang
mereaksi terhadap stimulus yang datang, ia mencoba menghasilkan sebagian
ujaran berupa bunyi yang kemudian memperoleh pengakuan dari orang yang di
lingkungan anak itu.
Dikaitkan dengan akuisisi bahasa, teori behavioris mendasarkan pada proses
akuisisi itu melalui perubahan tingkahlaku yang teramati. Gagasan behavioristic
terutama didasarkan pada teori belajar yang pusat perhatian tertuju pada peranan
lingkungan, baik verbal maupun nonverbal.Teori belajar behavioris ini
menjelaskan bahwa perubahan tingkahlaku dilakukan dengan menggunakan
model stimulus dan respon.Apabila anak berkata, “Bu, saya minta makan”,
sebenarnya sebelum ada ujaran ini anak telah ada stimulus berupa perut terasa
kosong dan lapar.Rasa lapar menimbulkan keinginan untuk makan.Keinginan
untuk makan, anatara lain dapat dipenuhi dengan makan nasi atau makan bubur.
Bagi seorang anak yang mereaksi terhadap stimulus yang datang, ia mencoba
menghasilkan sebagian ujaran berupa bunyi yang kemudian memperoleh
pengakuan dari orang yang di lingkungan anak itu.
Teori akuisisi bahasa berdasarkan konsep behavioris bahwa anak – anak
mengakuisisi bahasa melalui hubungan dengn lingkungan, dalam hal ini dengan
cara meniru. Pateda (1990:45) menyatakan bahwa factor yang penting dalam
meniru adalah frekuensi berulangnya satu kata dan urutan kata.
2. Teori pemerolehan bahasa Mentalistik (Nativisme)
Menurut pandangan kaum mentalis atau rasionalis atau nativis, proses akuisisi
bahasa bukan karena hasil proses belajar, tetapi karena sejak anak lahir ia telah
memiliki sejumlah kapasitas atau potensi bahasa yang akan berkembang sesuai
proses kematangan intelektualnya. Kaum mentalis berpendapat bahwa setiap anak
yang lahir telah memiliki sejumlah kapasitas atau potensi bahasa.Potensi bahasa
ini akan berkembang apa bila saatnya tiba. Pandangan ini biasa pula disebut
pandangan natavis (brown, 1980:20). Kaum mentalis beranggapan bahwa setiap
anak yang lahir telah memliki apa yang mereka sebut LAD ( LanguageAcquistion
Device)
mcNeill (dalam Brown, 1980:22)6
3. Teori Akuisisi Bahasa Kognitiftik

6 Suhartono, Pengembangan Keterampilan Anak Usia Dini, Depertemen Pendidikan Nasioanal Direktorrat
Jederal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenaga Kerjaan
Perguruan tinggi. Jakarta:2005 hal71-80

4

Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat empiris maka pendekatan yang dianut
golongan kognitivistik lebih bersifat rasionalis. Konsep sentral dari pendekatan ini
yakni kemampuan berbahasa seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari
kematangan kognitif sang anak. Mereka beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan
atau dikendalikan oleh nalar manusia. Konsep sentral teori kognitif adalah
kemampuan berbahasa anak berasal dari kematangan kognitifnya Pendekatan kognitif
menjelaskan bahwa: dalam belajar bahasa, bagaimana kita berpikir, belajar terjadi dari
kegiatan mental internal dalam diri kita, belajar bahasa merupakan proses berpikir
yang kompleks. Menurut Piaget Struktur tersebut lahir dan berkembang sebagai
akibat interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif si anak dan
lingkungan lingualnya.7.

C. Isu/Permasalahan dalam Pemerolehan Bahasa Anak
a. Kompetensi dan performa
Kompetesi mengacu pada pengetahuan yg mendasari system, peristiwa atau tidakan,.
Kompetensi itu tidak dapat diobservasi.
Performa merupakan perwujudan atau realisasi kompetensi yang dapat diamati secara jelas.
Dalam Bahasa, Kompetensi merupakan perbuatan yang actual seperti berjalan, menari,
menyanyi. Dalam masyarakat teknologi perbedaan teknologi dan performa digunkan dalam
semua sisi kehidupan. Misal diasumsikan anak –anak memiliki kompetensi tertentu bahwa
kompetensi itu dapat diukur dan dapat dinilai dengan tehnik observasi dari sampel yang
dipilih dengan apa yang disebut dengan tes.
b. Pemahaman dan produksi
Pengamatan dan penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa dalam bahasa
anak-anak keunggulan umum pemahaman atas produksi. Dengan kata lain: anak-anak
tampaknya memahami “lebih banyak” ketimbang yang mereka produksi. Misalnya,
seorang anak mungkin memahami kalimat yang mengandung kata petunjuk melekat
di dalamnya (misalnya, “The ball that’s in the sandbox is red”) tetapi tidak mampu
membuat kalimat demikian. W.R. Miller (1963, 863) member contoh bagus tentang
fenomena perkembangan fonologis ini: “Baru-baru ini seorang bocah tiga tahun
mengatakan pada saya bahwa namanya Litha. Saya menanggapi “Litha?” Buka,
Litha.” “Oh, Lisa.” “Ya, Litha.” Anak itu jelas mengerti perbedaan besar antara s dan
7 Metode_guru_PAUD12.PDF

5

th, sekalipun dia sendiri tidak bisa menghasilkan perbedaan itu. Hal yang sama
berlaku juga untuk orang dewasa, dalam bahasa asing maupun asli. Kita bisa mengerti
kata, frase, tata bahasa, gaya, dan wacana yang sama sekali tidak pernah kita
keluarkan.
c.

Nature dan nurture
Kaum nativis berpandangan bahwa seorang anak dilahirkan dengan
pengetahuan bawaan kebahasaan yang sering disebut LAD yang bersifat universal
pada setiap manusia. Hipotesis tentang perlengkapan bawaan ini mungkin bisa
mengakhiri pertentangan antara gagasan behavioristik dan nativistik. Walaupun LAD
masih merupakan hipotesis yang terus memerlukan penyempurnaan, tetapi secara
perlahan-lahan suatu saat akan terbukti bahwa

bukti genetic (ilmiah) tentang

pewarisan kemampuan dan akan mendapatkan bukti nyata tentang adanya “gen”
bahasa.

LAD

dan

factor-faktor

lingkungan

sangat

berpengaruh

terhadap

perkembangan bahasa seseorang. Bertahun-tahun para linguis, psikolog, dan pendidik
disibukkan dalam kontroversi “bawaan versus pengasuhan”. Perilaku-perilaku apa
saja yang bersifat “bawaan”, yang secara biologis memang sudah begitu dari sananya,
dan perilaku-perilaku apa saja yang dipelajari dan ditanamkan dalam sebuah
lingkungan melalui “pengasuhan”, melalui pengajaran?
Serangkaian penelitian menarik tentang sifat bawaan ditekuni oleh Derek Bickerton
(1981) yang mendapatkan bukti, dalam sejumlah bahasa, tentang pola umum
perkembangan linguitik dan kognitif. Manusia “terprogram secara biologis” untuk
berproses dari tahap ke tahap. Seperti tanaman yang mengeluarkan bunga, secara
bawaan orang terprogram untuk “mengeluarkan” perlengkapan bahasa tertentu yang
ia miliki di usia-usia perkembangan. Sama seperti kita tidak bisa membuat geranium
berbunga sebelum “waktunya”, maka manusiapun sama hanya akan “berbunga”
dalam tahap-tahap yang sudah terprogram sebelumnya.8
d. Sistematisitas dan variabilitas
Asumsi yang muncul dalam pemerolehan bahasa anak adalah sistematisias proses
pemerolehan. Dari tata bahasa tumpu (atau tata bahasa pivot) sampai pada ujaran tiga atau
empat kata, sampai pada kalimat lengkapyang hampir tidak dapat ditentukan panjangnya,
anak menunujukan kemampuan yang luar biasa untuk menyusun kaidah tentang fonologi ,
struktur, leksikal, serta semantic suatu bahasa. proses belajar bahas anak itu bervariasi.
8 H.Douglas Brown, prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, Pearson Education Inc, Jakarta: 2008 hal 3943

6

Penguasaan bunyi bahas mungkin urutannya dapat diramalkan dan bersifat universal. Tetapi
kapan anak memperoleh , tepatnya waktunya kapan, dari anak sangat bervariasi.
e.

Bahasa dan pikiran

Menurut pandangan behavioristik kognisi tak layak dibahas karena terlalu berbau mentalistik
dan tidak dapat diamati secara langsung. Padahal menurut piaget (1972) perkembangan
kognitif merupakan organism manusia yang paling utama dan bahwa bahasa berganutng
pada danbersemi karena perkembangan kognitif.
Isu yang penting disini adalah bagaimanakah bahasa itu mempengaruhi pikiran dan
bagaimanakah pikiran itu juga memperngaruhi bahasa. yang jelas adalah bahasa itu adalah
pandangan hidup kita, bahasa adalah fondasi keberadaaan kita, dan berinteraksi secara
simultans dengan pikiran dan perassaan.
f. Peniruan (imitasi)
Penilitian menunjukan bahwa anak adalah peniru yang baik. Penirua merupakan strategi yang
penting yang digunakan anak dalam pemerolehan bahasa. kesimpulan itu tidak akurat dalam
tataran global. Penelitian menunjukan bahwa strategi peniruan merupakan strategi yang
banayak digunakan pada awal perkembangan bahasa anak.
g. Universal
Linguis structural sangat yakin bahwa bahasa itu dapat berbeda-beda saru dengan yang lain
tanpa batas. Sebaliknya linguis generative transformasi yang dipelopori oleh Chomsky sangat
percaya bahwa ada kesemestaan bahasa, ada tata bahasa universal. Kalau tidak bagaimana
anak dapat belajar bahasa apapun. Kenyataany anak-anak didunia ini belajar bahasa dengan
cara yang hamper sama. Anak-anak memperoleh /p/ dan /b/ kemudian /t/ dan /d/ baru
kemudian memperoleh /k/ dan /g/ . begitu juga anak akan meproduksi kalimat satu kata dulu,
baru dua kata dan kemudian tiga kata.9

h. Latihan dan Frekuensi
Persoalan lebih luas yang berkaitan dengan gagasan tentang peniruan adalah
bagaimana karakteristik latihan dan frekuensi dalam bahasa anak-anak. Anak-anak berlatih
bahasa terus-menerus terutama dalam tahap awal ketika mereka mengeluarkan ujaran dalam
satu-dua kata. Sebuah model behavioristik pemerolehan bahasa pertama akan menyatakan
bahwa latihan dengan pengulangan dan asosiasi adalah kunci bagi pembentukan kebiasaan
9 Belajar Bahasa.Bolgspot.com

7

melalui pengkondisian. Jadi, latihan yang dilakukan oleh anak-anak merupkan kunci bagi
pemerolehan bahasa. Latihan biasanya dipandang hanya berkaitan dengan wicara. Tetapi kita
juga bisa memikirkan latihan pemahaman yang sering dihubungkan dengan frekuensi
masukan linguistik pada anak-anak. Anak-anak menguasai lebih awal bentuk-bentuk tertentu
yang sering mereka jumpai: yakni pertanyaan apa, barang-barang dan orang-orang yang ada
di rumah. Brown dan Hanlon (Brown, 2008: 49) menyatakan bahwa dengan memerhatikan
frekuensi munculnya item-item linguistik tertentu dalam pembicaraan para ibu kita akan bisa
memerkirakan urutan munculnya item-item tersebut dalam wicara anak-anak mereka. Metode
audiolingual sangat dipengaruhi oleh paradigma behavioristik, di mana pengkondisian adalah
kunci utamanya. Metode-metode pengajaran bahasa saat ini yang berfokus pada makna,
interaksi dan komunikasi berjalan di atas asumsi bahwa frekuensi berada di belakang
kebermaknaan.
i. Masukan
Para linguis pernah menyatakan bahwa sebagian besar pembicaraan orang dewasa
pada dasarnya adalah semigramatikal (penuh variabel performa)
Arti penting permasalahan ini terletak pada fakta dari penelitian mutakhir yang
memerjelas bahwa masukan orang dewasa dan teman sebaya bagi ank-anak jauh lebih
penting daripada yang sebelumnya diyakini kaum nativis. Masukan orang dewasa tampaknya
membentuk pemerolehan anak-anak dan pola-pola interaksi antara anak dan orang tua
berubah mengikuti peningkatan keterampilan berbahasa anak. Pengasuhan dan lingkungan
merupakan hal yang penting, meskipun tetap harus dilihat seberapa penting masukan orang
tua sebagai bagian dari keseluruhan masukan.
j.

Wacana
Sub bidang penelitian yang memeroleh perhatian dari semakin banyak peneliti bahasa

anak, khususnya dalam penelitian konstruktivis sosial adalah wilayah analisis percakapan
atau wacana. Meskipun masukan orang tua merupakan bagian penting dari perkembangna
kaidah percakapan anak, tapi perlu diingat bahwa anak juga berinteraksi dengan teman-teman
sebayanya dan dengan orang dewasa lainnya. Interaksi diperlukan agar pemerolehan bahasa
pertama berhasil. Anak-anak tidak memelajari bahasa dengan cara mendengarkan smbil lalu
percakapan orang lain atau mendengarkan radio tapi memerolehnya dalam konteks
pembicaraan.
Percakapan merupakan aktivititas sehari-hari manusia dan merupakan sarana belajar
bagi anak-anak untuk berkomunikasi dengan orang lain. Anak tidak hanya belajar bagaimana
8

memulai sebuah percakapan tetapi juga bagaimana merespons ujaran orang lain. Pertanyaan
bukan sekedar pertanyaan, tetapi dimengerti fungsinya sebagai permintaan akan informasi,
tindakan dan pertolongan. Pada usia relatif muda, anak-anak memelajari perbedaanperbedaan terkecil antara pernyataan dan penentangan. Mereka memelajari bahwa ujaran
memunyai makna baik secara harfiah maupun tersirat atau fungsional. 10

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pemerolehan bahasa pertama adalah proses penguasaan bahasa pertama oleh si
anak. Bahasa pertama adalah baahsa yang diperoleh anak pertama kali dari
lingkungan yang paling dekat dengannya (dalam hal ini baiasanya keluarga).
Bahasa pertama sering juga disebut sebagai “bahasa sumber”? Ada beberapa
teori pemerolehan bahasa yang menjelaskan hal ini, yaitu teori behaviorisme,
nativisme, kognitivisme. Ketiga teori ini memiliki sudut pandang yang
berbeda dalam menjelaskan perihal cara anak memperoleh bahasa
pertamanyaPemerolehan bahasa pertama adalah proses penguasaan bahasa
pertama oleh si anak. Ada beberapa tahap yang dilalui oleh sang anak selama
memperoleh bahasa pertama. Tahap yang dimaksud adalah vokalisasi bunyi,
tahap satu-kata atau holofrastis, tahap dua-kata, dan ujaran telegrafis
Selama penguasaan bahasa pertama ini, terdapat dua proses yang terlibat, yaitu
proses kompetensi dan proses performasi, pemnahaman dan produksi,nature
dan nurture, universal. Sistemtiditas dan variabilitas, bahasa dan pemikiran,
latihan dan frekuensi, masukan, wacana.
B. SARAN
10 ulfahsutiyarti.lecture.ub.ac.id

9

Demikian makalah perkembangan bahasa anak yang kami susun.Kami sudah
berusaha semampu kami, namun kami menyadari banyak nya kekurangan
yang terdapat dalam makalah ini, oleh sebab itu kritik dan saran senantiasa
kami nantikan guna kesempurnaan makalah ini.Terimakasih.Sekian dari kami.

DAFTAR PUSTAKA
Solchan TW, Yetty Mulyati dkk, Pendidikan bahasa indonesia di SD, Universitas terbuka,
Jakarta: 2011
Suhartono, Pengembangan Keterampilan Anak Usia Dini, Depertemen Pendidikan Nasioanal
Direktorrat Jederal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga
Kependidikan dan Ketenaga Kerjaan Perguruan tinggi. Jakarta:2005
H.Douglas Brown, prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, Pearson Education Inc,
Jakarta: 2008
ulfahsutiyarti.lecture.ub.ac.id
Belajar Bahasa.Bolgspot.com
wastksdbrajaselebah.blogspot.com
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, strategi pembelajaran Bahasa, Rosda, Bandung: 2008
Syaiful Bahri Djamarah, psikologi belajar, PT Asdi Mahasatya, Jakarta: 2008

10

11

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

perkembangan bahasa anak bahasa anak