Peningkatan kualitas pembelajaran ketrampilan pembicara bahasa Indonesia melalui teknik bercerita : penelitian tindakan kelas pada siswa kelas V111 smpn 13 tangerang selatan tahun pelajaran 2009/2010

0

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA
MELALUI TEKNIK BERCERITA
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VIII SMPN 13 Tangerang Selatan
Tahun Pelajaran 2009/2010)

Oleh
FAHRU ROJI BAIDAWI
NIM: 106013000295

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011

i

K A TA M U TI A R A

“S uksestidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalamhidup,
tapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi
ketika berusaha meraih sukses.”
(B ookert W ashington)
“J eniusadalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat.
T idak ada yang dapat menggantikan kerja keras
keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi
ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.”
(T homasA . E dison)
“P eriksalah buku kenanganmu semalam
dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang
kepada manusia dan kehidupan.”
(K halil G ibran)
“K ita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain,
tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain.”
(M ichael D e’M intagne)
K etahuilah, apa pun yang menjadikanmu bergetar,
itulah yang terbaik untukmu dan karena itulah,
qolbu seorang penciptanya
lebih besar dari pada singgasananya.
(J alaludin R umi)

i

ii

Abstrak
Kemampuan berbicara merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang
perlu dimiliki oleh seseorang . yaitu seorang yang hidup di lingkungan masyarakat
dan lingkungan sekolah maupun dimana saja. Berbicara adalah hal yang biasa
bagi kita, namun kegagalan pembelajaran keterampilan berbicara masih banyak
terdengar di kalangan sekolah.
Banyak pertanyaan yang timbul berdasarkan kegagalan anak dalam
keterampilan berbicara yaitu kurangnya kemampuan anak dalam mengembangkan
kosa kata, merasa malu dan tidak percaya diri. Hal ini yang membuat siswa tidak
terbiasa dalam menuangkan kata-kata dengan baik dan benar khususnya dalam
keterampilan berbicara.
Penelitian ini menggunakn metode penelitian tindakan kelas yang
berlangsung selama tiga bulan, melakukan berbagai kegiatan. Hasil yang dimiliki
dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia melalui teknik
bercerita dapat meningkat, hal ini dapat dilihat dari hasil pre tes nlai rata-rata
anak 40,5 sedangkan pada hasil pos tes anak 77,15, dan siklus 1 anak-anak
mendapat nilai rata-rata 63,3 dan siklus II rata-rata 73,58.
Peningkatan diatas dapat dilihat bahwa pembelajaran keterampilan
berbicra bahas Indonesia melalui teknik bercerita di SMP Negeri 13 Tangerang
Selatan dapat meningkat, hal ini menunjukan bahwa teknik bercerita layak dan
dapat digunakan untuk diterapkan di sekolah karena memberikan hasil yang baik
kususnya dalam keterampilan berbicra.

ii

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah Swt yang telah memberikan kemudahan
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul "Peningkatan
Kualitas Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia melalui Teknik
Bercerita Siswa Kelas VIII SMP Negeri 13 Tangerang Selatan".
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar
Sajana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan
selesainya skripsi ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Allah Swt atas rahmat, perlindungan, dan hidayah-Nya
2. Rosulullah Muhammad Saw, bulan purnama yang telah memberikan cahaya
untuk menerangi bumi ini
3. Kedua orang tuaku tercinta, orang tua terbaik di dunia, Hj. Aini dan K.H.
Misbahudin atas kasih sayang yang tak pernah berhenti mengalir
4. Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.
5. Ibunda Dra. Mahmudah Fitriyah ZA., M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, yang selalu menginginkan kemajuan atas jurusan
yang dipimpinnya.
6. Bapak Drs. E. Kusnadi, selaku Pembimbing I, yang begitu peduli terhadap
mahasiswa-mahasiswanya,
7. Ibunda Hindun, M.Pd., selaku Pembimbing II, yang telah menyisakan waktu
berharganya di antara kesibukan-kesibukan yang padat.
8. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, atas ilmu
yang telah diajarkan, dengan jasa-jasamu itu sesungguhnya bintang
kehormatan sangat pantas disematkan di dadamu.
9. Kakak-kakakku tersayang, Bahruddin, S.Ag, Amsorullah, S.Pd, Badrussalam,
S.Ag, Nyai Suryani, Ida Jahidah, lyah Khairiyah atas doa dan dukungannya.

iii

iv

10. Sri Nurul Hidayati, yang selalu memberi masukan dan sctnangat yang sangat
berharga.
11. .Fauzi, Rusfi, Pisol, Mu'min, Firman, Syarif, Yusuf, dan semua saudarasaudaraku di kelas atas semangatnya. Kalian adalah bagian dari catatan hidup
yang tak terlupakan.

Tentu saja skripsi ini masih jauh dari sempurna, masih terdapat banyak
kekurangan dan kesalahan oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
membangun yang dapat memperbaiki skripsi ini.

Jakarta, 18 Februari 2011

Fahru Roji Baidawi

iv

v

DAFTAR ISI

SAMPUL ........................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................
LEMBAR PERNYATAAN KARYA ILMIAH ..................................................
KATA MUTIARA ........................................................................................... i
ABSTRAK ...................................................................................................... ii

KATA PENGANTAR ................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL............................................................................................ vii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................

viii
PENDAHULUAN .......................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah ................................................................

3

B. Identifikasi Masalah ......................................................................

5

C. Perumusan Masalah ..........................................................................

5

D. Tujuan Penelitian ..............................................................................

5

E. Manfaat Penelitian ............................................................................

5

BAB II KAJIAN TEORI .............................................................................

7

A. Belajar ..............................................................................................

7

1. Pengertian Belajar .........................................................................

7

2. Ciri-ciri Belajar .............................................................................

9

3. Jenis-jenis Belajar .........................................................................

9

4. Prinsip-prinsip Belajar...................................................................

10

5. Faktor-faktor Belajar .....................................................................

11

B. Berbicara............................................................................................

13

1. Pengertian Berbicara .....................................................................

13

2. Tujuan Ketermapilan Berbicara .....................................................

13

3. Prinsip Umum dalam Keterampilan Berbicara ...............................

16

4. Jenis-jenis Berbicara .....................................................................

16

BAB I

v

vi

5. Peralatan Berbicara ......................................................................

25

6. Rambu-rambu dalam Berbicara .....................................................

27

7. Faktor-faktor Penunjang Keefektifan Keteramapilan Berbicara .....

29

C. Bercerita ............................................................................................

40

1. Pengertian Bercerita ......................................................................

40

2. Tenik Bercerita .............................................................................

43

3. Kelebihan Teknik Bercerita ...........................................................

43

4. Kelemahan Berbicara ....................................................................

44

METODOLOGI PENELITIAN.....................................................

47

A. Tempat dan Waktu Penelitian ...........................................................

47

B. Metode Penelitian .............................................................................

47

C. Intrumen Penelitian ..........................................................................

48

D. Desain Penelitian ..............................................................................

49

E. Data dan Sumber Data ......................................................................

50

1. Teknik Pengumpulan Data ...........................................................

50

2. Analisis Data ...............................................................................

51

BAB III

BAB IV DESKRIPSI, ANALISA DATA, INTERPRETASI HASIL
ANALISIS, DAN PEMBAHASAN..................................................

52

A. Paparan Data ....................................................................................

52

B. Hasil Data Observasi ........................................................................

58

C. Tahap Analisis ..................................................................................

74

D. Tahap Refleksi..................................................................................

74

PENUTUP .......................................................................................

77

A. Kesimpulan ......................................................................................

77

B. Saran ................................................................................................

77

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

79

BAB V

LAMPIRAN-LAMPIRAN

vi

vii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1.

Distribusi Frekuensi nilai pree tes………………………………… 53

2.

Lembar observasi siklus I………………………………………… 58

3.

Distribusi frekuensi nilai tes akhir siklus I………………………... 63

4.

Lembar observasi siklus I…………………………………………. 67

5.

Distribusi frekuensi nilai akhir siklus II…………………………... 72

6.

Distribusi frekuensi nilai pos tes………………………………….. 73

7.

Rekapitulasi hasil belajar nilai keterampilan berbicara…………… 74

vii

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa negara adalah bahasa Indonesia, demikian tertera dalam UndangUndang Dasar 1945. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menjadi lambang
kebanggaan bangsa, lambang identitas nasional, alat pemersatu, dan alat
komunikasi antardaerah dan antarkebudayaan. Bahasa Indonesia pun merupakan
alat yang dapat mencerminkan nilai-nilai sosial budaya.
Sebagai lambang identitas nasional, Bahasa Indonesia harus dijunjung
tinggi. Bahasa Indonesia pun harus dikembangkan. Sebagai alat pemersatu
berbagai suku bangsa dengan latar belakang kebudayaan dan bahasa yang
berbeda-beda. Bahasa Indonesia telah memungkinkan berbagai suku bangsa
mencapai keserasian hidup dalam satu bangsa karena bahasa memiliki banyak
fungsi dalam mempersatukan suku bangsa. Abdul Chaer menulis dalam bukunya
bahwa bahasa itu sistem, lambang, bunyi, bermakna, arbitrer, konvensional,
produktif, unik, universal, dinamis, bervariasi dan manusiawi.1 Sesuai fungsinya,
Bahasa Indonesia juga berperan sebagai alat pengungkapan perasaan bahkan
hingga nuansa perasaan yang halus.
Dengan bahasa memungkinkan manusia menuangkan pikiran yang rumit
dan abstrak menjadi konkret. Manusia dapat berpikir mengenai objek tertentu.
Dalam hal ini objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol
bahasa yang menjadi abstrak. Walaupun objek itu secara faktual tidak kelihatan.
Hal ini memungkinkan manusia berpikir secara berlanjut dalam penggunaan
bahasanya yaitu dalam keterampilan berbicara.
Kemampuan berbicara merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang
perlu dimiliki oleh seseorang, terutama siswa atau seseorang yang hidup di

1

Abdul Chaer, Linguistik umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 33-56.

.

1

2

lingkungan masyarakat. Kemampuan ini bukanlah kemampuan yang diwariskan
secara turun-temurun, walaupun pada dasarnya secara ilmiah manusia dapat
berbicara. Untuk menghasilkan kemampuan berbicara secara formal memerlukan
pelatihan dan pengarahan atau bimbingan yang intensif dalam mempelajarinya.
Pengajaran bahasa Indonesia yang baik akan berakibat langsung pada
pelajaran yang lainnya, karena bahasa itu alat untuk berpikir, alat untuk
menyampaikan ilmu pengetahuan, alat mengajarkan keterampilan, dan untuk
menanamkan suatu sikap yang terarah. Tetapi, kita tidak dapat menutup mata
untuk menghadapi kenyataan bahwa pengajaran Bahasa Indonesia

perlu

ditingkatkan sesuai dengan tuntunan dunia modern yang meliputi dunia
pendidikan dengan segala aspeknya.
Keterampilan berbahasa terdiri dari empat komponen, yaitu keterampilan
menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan
menulis. “Setiap keterampilan itu berhubungan erat dengan keterampilan lainnya.
Keterampilan berbahasa diperoleh dengan urutan yang teratur, mula-mula pada
masa kecil manusia belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu
mereka belajar membaca, dan menulis. Menyimak dan berbicara dipelajari
sebelum memasuki sekolah sedangkan membaca dan menulis umumnya dipelajari
di sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan satu
kesatuan, merupakan catur tunggal”. 2
Berdasarkan keempat penjelasan di atas penulis memfokuskan pada
keterampilan yang ke dua yaitu keterampilan berbicara dengan menggunakan
teknik bercerita.

Berbicara merupakan salah satu keterampilan yang banyak

gunanya bagi siswa, terutama terampil berbicara di lingkungan sekolah.
Bayangkan jika seluruh siswa di sekolah tidak bisa berbicara dengan bahasa yang
baik maka perkembangan bangsa ini pun sebatas penggunaan bahasa yang hanya
kesehariannya menggunakan kata-kata gaul, tren, dan tidak jelas kaidah tata
bahasanya.

2

Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung:
Angkasa, 2005), hlm.1.

3

Kaidah tata bahasa dalam komunikasi seseorang merupakan gambaran
teratur tidaknya pola pikir yang dihasilkan melalui keterampilan berbicaranya.
Kemampuan berbicara seseorang tersebut turut menentukan kesuksesan kariernya.
Banyak orang sukses karena menguasai keterampilan berbicara. Contohnya,
wartawan, presenter, penyiar, dan komentator.
Demikianlah berbicara dapat membuahkan kutub konstruktif maupun kutub
destruktif. Dengan perkataan lain, berbicara dapat mendatangkan kedamaian,
menumbuhkan cinta, dan dapat pula menimbulkan perang, menumbuhkan benci,
tergantung pada situasi dan kondisi.
Ada banyak hal yang menyebabkan siswa terhambat atau mengalami
gangguan-ganguan dalam berbicara seperti: tidak percaya diri, merasa cemas.
Seperti dikatakan dalam buku The handbook of public speaking bahwa
”Kecemasan

merupakan

suatu energi syaraf,

kekuatan

misterius

yang

dibangkitkan oleh perasaan, yang mempengaruhi sistem syaraf Anda, yang bisa
menghancurkannya atau sebaliknya, menguatkannya sampai kita merasa
bersemangat dan menyala-nyala dan mampu mencapai puncak orasi”.3
Kecemasan itu menimbulkan rasa takut dalam berbicara. Apabila rasa takut itu
menguasai diri seseorang maka menyebabkan timbulnya gugup, malas, gagap,
sehingga berbicara menjadi tak terarah dan dalam pengucapannya khususnya
dalam teknik bercerita menjadi tidak tersampaikannya pesan.
Salah satu bagian pengajaran keterampilan berbicara adalah dengan
menggunakan teknik bercerita, karena pengajaran teknik bercerita merupakan
suatu

teknik yang sistematis dalam mengembangkan keterampilan berbicara

bahasa Indonesia khususnya pada siswa. Hasil keterampilan berbicara bahasa
Indonesia dengan menggunakan teknik bercerita ini diharapkan siswa mampu
berbicara bahasa Indonesia dengan artikulasi atau lafal yang jelas, penjedaan yang
tepat, dan intonasi yang baik dalam keterampilan berbicaranya.
Pada umumnya, keterampilan berbicara merupakan bagian-bagian yang
mendukung dalam teknik bercerita. Bercerita merupakan salah satu cara untuk
3

hlm. 125.

A. G. M ears, The Handbook of Public Speaking (M ilest one: Publishing House, 2009),

4

mengekspresikan jiwa melalui bahasa lisan, sama halnya dengan paragraf dan
karangan. Dalam mengarang ada suatu kegiatan yang melahirkan gagasan,
perasaan pengalaman pada diri sesorang tersebut yang dituangkan dalam bentuk
tulisan menjadi sebuah paragraf. Begitu juga dengan keterampilan berbicara,
dengan teknik bercerita siswa bisa menuangkan perasaan dan pengalamannya
yang dituangkan dalam bentuk perkataan, yaitu dalam bentuk lisan.
Mengingat pentingnya pengajaran keterampilan berbicara di sekolah dan di
luar lingkungan sekolah maka hendaknya guru dan orang di sekitarnya bisa
mendukung dan memotivasi, yaitu dengan memberikan masukan-masukan positif
guna menumbuhkan siswa lebih terampil dan berani menunjukkan keterampilan
berbicara khususnya dalam teknik bercerita.
Kegiatan bercerita merupakan suatu kegiatan mengekspresikan jiwa melalui
bahasa lisan. Bercerita merupakan salah satu teknik menyampaikan informasi
kepada orang lain (pendengar). Bahkan guru-guru di sekolah sering menggunakan
teknik bercerita dalam menyampaikan pelajaran kepada anak didiknya. Beberapa
alasan mengapa seseorang memilih menggunakan teknik bercerita dibanding
teknik lainnya seperti drama, diskusi, atau menggunakan peralatan audio visual
adalah karena teknik bercerita mempunyai kelebihan, yaitu lebih fleksibel dan
mudah, hal ini memungkinkan siswa lebih semangat dan terbantu dalam
pembelajaran keterampilan berbicara khususnya dalam keterampilan secara
umum.
Keterangan di atas menunjukan betapa pentingnya memahami pembelajaran
keterampilan berbicara, karena siswa yang mampu menguasai keterampilan
berbicara dengan baik tentu akan baik dalam berceritanya. Hal inilah yang
mendorong penulis untuk mencoba meneliti dan membahas mengenai
”Peningkatan Kualitas Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa
Indonesia Melalui Teknik Bercerita pada Siswa SMP Negeri 13 Tangerang
Selatan”.

5

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan
beberapa masalah sebagai berikut:
1. Kesulitan siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara.
2. Macam-macam teknik bercerita dalam pembelajaran keterampilan berbicara
bahasa Indonesia.
3. Kesulitan siswa dalam pembelajaran teknik bercerita.

C. Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang yang telah diidentifikasikan di atas, maka
masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana
peningkatan kualitas pembelajaran keterampilan berbicara Bahasa Indonesia
melalui teknik bercerita pada siswa SMP Negeri 13 kelas VIII Tahun Ajaran
2010-2011 di Kota Tangerang Selatan?

D. Tujuan Penelitian
Dari hasil penelitian ini, penulis mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk meningkatkan kualitas kemampuan siswa kelas VIII SMPN 13
Kota Tangerang Selatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara
Bahasa Indonesia.
2. Untuk meningkatkan kualitas kemampuan siswa kelas VIII SMPN 13
Kota Tangerang Selatan dalam menggunakan teknik bercerita.
3. Untuk mengetahui tingkat kesulitan siswa kelas VIII SMPN 13 Kota
Tangerang Selatan dalam berbicara Bahasa Indonesia melaui teknik
bercerita.

E. Manfaat Penelitian
Secara umum hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapakan dapat
dijadikan bahan masukan bagi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Dan dapat memberikan manfaat
kepada berbagai pihak, khususnya di lingkungan pendidikan sekolah.

6

1. Manfaat bagi Guru
a. Guru bahasa Indonesia dapat menjadikan hal ini sebagai informasi dan
rujukan dalam pengajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia
melalui teknik bercerita.
b. Menjadi pertimbangan guru dalam mengajar dengan menggunakan
teknik bercerita dalam keterampilan berbicara baik dari strategi
persiapan mengajar maupun kendala-kendala yang dihadapi.
2.

Manfaat bagi Siswa
Siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam keterampilan
berbicara bahasa Indonesia dengan ekspresi, intonasi, lafal dan
penggunaan bahasa yang baik dalam berbicara melalui teknik bercerita.

3. Manfaat bagi Sekolah
Sekolah mendapat gambaran dan data tentang peningkatan kualitas
kemampuan siswanya dalam keterampilan berbicara melalui teknik
bercerita, khususnya siswa kelas VIII SMPN 13 Kota Tangerang Selatan.

7

BAB II
ACUAN TEORETIS
A. Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri
seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat
pengalaman dan latihan.4 Dimyati mengatakan bahwa belajar adalah melatih
daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri dari daya mengamat,
menangkap, mengingat, menghayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya.5
Menurut pengertian secara psikologis, “belajar merupakan suatu proses
perubahaan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya
dalam memenuhi lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.”6
Belajar juga berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, 7
ungkap Slameto. Sementara Alisuf Sabri dalam bukunya Psikologi Pendidikan
menambahkan bahwa belajar adalah “Merupakan faktor penentu proses
perkembangan, manusia memperoleh hasil perkembangan berupa pengetahuan,
sikap, keterampilan, nilai reaksi, keyakinan dan lain-lain tingkah laku yang
dimiliki manusia adalah diperoleh melalui belajar”.8
Menurut Slameto, belajar juga dapat dipandang sebagai suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku tersebut memiliki
ciri-ciri sebagai berikut.

4

Abdul Rahman Shaleh, Psikologi suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, (Jakarta:
Kencana, 2008), hlm. 207.
5
Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta:Rineka Cipta, 2006), hlm. 46.
6
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi, (Jakarta: Rineka cipta, 2010),
hlm. 2.
7
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989.
8
Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007), hlm. 54.

7

8

a. Perubahan terjadi karena sadar.
Bahwa seorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahaan itu
atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan
pada dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah,
kecakapannya bertambah, kebiasaannya bertambah.
b. Perubahaan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang
berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahaan yang
terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi
kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya jika seorang anak
belajar menulis, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat menulis
menjadi dapat menulis.
c.

Perubahan belajar bersifat positif dan aktif.
Dalam

perubahan

belajar,

perubahan-perubahan

itu

senantiasa

bertambah dan tertuju untuk meperoleh sesuatu yang lebih baik dari
sebelumnya. Dengan demikian makin banyak belajar itu dilakukan, makin
banyak pula perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya
bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena ada
usahanya dari individu sendiri.
d. Perubahan dalam dalam belajar bukan sikap sementara.
Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk
beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, bersin, menangis dan
sebagainya, tidak dapat digolongkan sebagai perubahhan dalam arti belajar.
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
Perubahan tingkah laku ini terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai.
Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar
disadari. Misalnya sesorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah
ditetapkan apa yang hendak dicapai dalam mengetik. Ini berarti perubah tingah
laku yang terarah.9

9

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor…, hlm. 2-4.

9

2. Ciri-ciri belajar
Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru, menyebutkan ciri-ciri belajar, yaitu:
a.

Perubahan yang intensional, dalam arti perubahan yang terjadi karena
intensitas pengalaman, praktik, atau latihan.

b.

Perubahan menuju ke arah yang positif, dalam arti sesuai dengan yang
diharapkan baik oleh guru, siswa maupun lingkungan sosial.

c.

Perubahan yang efektif, dalam arti membawa pengaruh dan makna
tertentu bagi siswa. Setidaknya sampai batas waktu tertentu. Baik
demi alasan penyesuaian diri maupun demi mempertahankan
kelangsungan hidupnya.10
Sebagai suatu proses pengetahuan, kegiatan belajar juga tidak

terlepas dari mengajar. ”Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk
membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu, ada suatu
prosedur (jalan interaksi) yang direncanakan, Ditandai dengan materi satu
pengarahan materi yang khusus dan ditandai dengan aktivitas anak
didik.”11

3. Jenis-jenis belajar
a. Slameto membagi jenis-jenis belajar yaitu: belajar bagian, belajar
dengan wawasan,
keseluruhan,

belajar diskriminatif, belajar global atau secara

belajar

insidental,

belajar

instrumental,

belajar

instrumental, belajar intensional, belajar laten, belajar mental, belajar
produktif, belajar verbal.12
b. Muhibin Syah berpendapat mengenai jenis-jenis belajar
1) Belajar abstrak

10

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2004), hlm. 116.
11
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka cipta, 2006),
hlm. 39-40.
12

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor …, hlm. 8.

10

Belajar

yang

menggunakan

cara-cara

berpikir

abstrak.

Tujuannya adalah bentuk memeroleh pemahaman dan pemecahan
masalah-masalah yang tidak nyata.
2) Belajar keterampilan
Belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni
berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot. Tujuannya
adalah menguasai jasmani tertentu.
3) Belajar sosial
Belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk
memecahkan masalah tersebut.
4) Belajar pemecahan masalah
Belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir
secara sistematis, logis, dan teratur.
5) Belajar rasional
Belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis
dan rasional (sesuai dengan akal sehat).
6) Belajar kebiasaan
Belajar pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan
kebiasaan yang telah ada.
7) Belajar apresiasi
Belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek.
8) Belajar pengetahuan
Belajar melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek
pengetahuan.13

4.

Prisip-prinsip belajar.
Dalam belajar diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan
membimbing untuk mencapai tujuan intruksional.
a.

Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang
kuat pada siswa untuk mencapai tujuan intruksional.

13

Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan,...hlm. 123 – 124.

11

b.

Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat
mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan
efektif.

c.

Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkunganya.14
Untuk memperoleh peningkatan seperti diatas dalam belajar kita

harus mengetahui prinsip-prinsip dalam belajar. Yaitu belajar untuk
memperoleh perubahan tingkah laku, hasil belajar ditandai dengan
perubahan aspek tingkah laku, belajar merupakan suatu proses, belajar
dorongan dan tujuan yang akan dicapai dan belajar merupakan bentuk
pengalaman.15

5.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembelajaran
a. Faktor Intern
1) Faktor jasmaniah (faktor fisiologis)
Faktor utama yang mempengaruhi belajar didukung dalam
diri sendiri atau fisik siswa tersebut. Kondisi umum jasmani dan
tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organorgan tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi intensitas
siswa dalam mengikuti pelajaran. Misalnya organ tubuh ynag
lemah, kondisi badan seperti ini menurunkan ranah cipta (kognitif)
sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak
berbekas.16
2) Faktor psikologis
Faktor psikologis dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas dan
perolehan pembelajaran siswa.
a) Inteligensi
Inteligensi adalah kemampuan mental individu yang dapat
digunakan untuk menyesuaikan diri di dalam lingkungan yang
14

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor…, hlm. 28.
Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: PT. Mizan Publika,
2004). Hlm. 123-125.
16
Muhibin Syah, Psikologi pendidikan,...hlm. 132.
15

12

baru, serta dapat memecahkan memecahkan masalah yang
dihadapi dengan cepat dan tepat17
Pakar psikologi Claparede dan Stern memberikan definisi
penyesuaian diri secara mental terhadap situasi dan kondisi
baru.18
b) Minat
Minat( interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang
tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
c)

Bakat
Secara umum, bakat adalah kemampuan potensial yang
dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa
yang akan datang.

d) Motivasi
Motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia
maupun hewan yang mendorongnya untuk membuat sesuatu.19
b. Faktor-faktor ekstern
1)

Faktor keluarga adalah salah satu faktor di luar yang
mempengaruhi siswa belajar yaitu relasi antara anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluaraga, pengertian orang
tua, dan latar belakang kebudayaan.

2)

Faktor sekolah faktor yang mempengaruhi di luar yang
menduking siswa yaitu: metode mengajar guru, kurikulum
sekolah, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, sarana sekolah, waktu sekolah, metode belajar
dan tugas rumah.

3)

Faktor masyarakat juga mempengaruhi belajar siswa dari
luar yaitu: kegiatan siswa pada masyarakat, media masa, teman
bergaul dan bentuk kehidupan dalam masyarakat tersebut.

17

Akyas Azhari, psikologi umum,... hlm. 142.
Zeki Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, ( Jakarta: Kizi
Brother, 2006), hlm. 86.
19
. Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan,...hlm. 235 – 136.
18

13

B. Berbicara
1. Pengetian Berbicara
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi

artikulasi

atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan
pikiran, gagasan dan perasaan. Sebagai memperluasan dari bahasan ini. Dapat
kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat
didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah
otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan
atau ide-ide keinginan kepada orang lain yang dikombinasikan.
Pada hakikatnya keterampilan berbicara merupakan keterampilan
memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak,
kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain.20 Lebih jauh lagi,
berbicara merupakan suatu bentuk prilaku manusia yang memanfaatkan faktorfaktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik sedemikian
ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang
paling penting bagi kontrol sosial.21 Berbicara adalah beromong, bercakap,
berbahasa, mengutarakan isi pikiran, melisankan sesuatu yang dimaksudkan.22

2. Tujuan keterampilan berbicara
Tujuan

utama

dalam

keterampilan

berbicara

adalah

untuk

berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka
seyogyanyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin
disampaikan. Dia harus mampu mengevalausi efek komunikasinya terhadap
(para) pendengarnya, dan seorang pembicara harus mengetahui prisip-prinsip
yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun
perorangan.23

20

Iskandar Wassid, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: Remaja, 2008), hlm. 241.
Henry Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:
Angkasa, 1993), hlm. 15.
22
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 165.
23
Henry Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai…, hlm. 15.
21

14

Disamping itu, keterampilan berbicara juga memiliki tujuan dalam
pengembangan yang akan dimiliki bagi seorang yang berbicara. Di antaranya:
a.

Kemudahan berbicara
Peserta didik harus mendapat kesempatan yang besar untuk berlatih
berbicara sampai mereka memgembangkan keterampilan ini secara wajar,
lancar, dan menyenangkan, baik di hadapan pendengar umum yang lebih
besar jumlahnya.

b.

Kejelasan
Dalam hal ini peserta didik berbicara dengan jelas, baik artikulasi
maupun diksi kalimatnya. Gagasan yang diucapkan harus tersusun dengan
baik.

c.

Bertanggung jawab
Latihan berbicara yang bagus menekankan pembicaraan untuk
bertanggung jawab agar berbicara secara tepat, dan dipikirkan dengan
sungguh-sungguh mengenai apa yang menjadi pokok pembicaraan , tujuan
pembicaraan, siapa yang diajak berbicara, dan bagaimana situasi
pembicaraan serta momentumnya.

d.

Membentuk pendengaran yang kritis,
Latihan

berbicara

yang

baik

sekaligus

mengembangkan

keterampilan menyimak secara tepat dan kritis juga menjadi tujuan utama,
yaitu peserta didik perlu belajar untuk mengevaluasi kata-kata, niat, dan
tujuan pembicaranya.
e.

Membentuk kebiasaan.
Kebiasaan berbicara tidak dapat dicapai tanpa kebiasaan
berinteraksi dalam bahasa yang dipelajari bahkan dalam bahasa ibu.
Tujuan keterampilan berbicara seperti yang dikemukakan di atas
akan dapat dicapai jika program pengajaran dilandasi prinsip-prinsip
yang relevan, dan pola KBM yang membuat para peserta didik secara
aktif mengalami kegiatan berbicara.24
1) Tingkat pemula
24

Iskandar Wassid, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: Remaja, 2008), hlm. 243.

15

Untuk tingkat pemula, tujuan pembelajaran keterampilan
berbicara dapat dirumuskan peserta didik dapat melafalkan bunyi
bahasa, menyampaikan informasi, menyampaikan setuju atau tidak
setuju, menjelaskan identitas diri, menceritakan hasil bacaan atau
simakan, menyatakan ungkapan rasa hormat dan mampu bermain
peran.
2) Tingkat menengah
Untuk tingkat menengah, tujuan pembelajaran keterampilan
berbicara bahwa peserta didik dapat menyampaikan informasi,
berpartisipasi

dalam

percakapan,

menjelaskan

identitas

diri,

menceritakan hasil simakan atau bacaan, melakukan wawancara,
bermain peran, dan menyampaikan gagasan dalam diskusi dan pidato.
3) Tingkat paling tinggi
Untuk tingkat yang paling tinggi, tujuan pembelajaran
keterampilan berbicara dirumuskan bahwa peserta didik dapat
menyampaikan

informasi,

berpartisipasi

dalam

percakapan,

menjelaskan identitas diri, menceritakan kembali hasil simakan atau
bacaan dan berpartisipasi dalam wawancara.25
Dari tujuan kegiatan keterampilan berbicra di atas dapat dikatakan
bahwa keterampilan berbicara memiliki manfaat atau tujuan dicapai yaitu
dari tingkat pemula sampai tingkat yang paling tinggi. Berdasarkan
keterangan di atas tujuan yang hendak dicapai seorang pengajar harus
memenuhi beberapa konsep.
Empat konsep dasar yang harus dipahami oleh pengajar sebelum
mengajarkan bahasa kedua dengan model pembelajaran keterampilan
berbicara, yaitu berbicara dan menyimak adalah kegiatan resiprokal,
berbicara adalah proses berkomunikasi individu, berbicara adalah ekspresi
kreatif, berbicara adalah ekspresi kreatif, berbicara adalah tingkah laku,

25

Iskandar Wassid, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: Remaja, 2008), hlm. 287.

16

berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman dan berbicara adalah
pancaran pribadi. 26

3. Prinsip Umum yang Mendasari Kegiatan Berbicara
a. Membutuhkan paling sedikit dua orang, tentu saja pembicaraan dapat
dilakukan oleh satu orang dan hal ini sering terjadi misalnya oleh
orang yang sedang mempelajari banyak bunyi-bunyi bahasa serta
maknanya atau oleh seseorang yang meninjau kembali.
b. Menggunakan sandi linguistik yang dipahami bersama, bahkan
andai kata pun dipergunakan dua bahasa namun setting pengertian,
pemahaman bersama itu tidak kurang pentingnya.
4) Merupakan suatu pertukaran antara partisipan, kedua pihak partisipan
yang memberi dan menerima dalam pembicaraan sating bertukar
sebagai pembicara dan penyimak.
5) Menghubungkan

setiap

pembicara

dengan

yang

lainnya

dan

lingkungan dengan segera. Perilaku lisan sang pembicara selalu
berhubungan dengan responsi yang nyata atau yang diharapkan, dan
sang penyimak sebaliknya. Jadi hubungan itu bersifat timbal balik
antara dua arah.
6) hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang berhubungan dengan
suara atau bunyi bahasa dan pendengaran (vocal and auditory
apparatus).
7) secara tidak pandang bulu menghadap apa yang nyata dan apa yang
diterima sebagai dalil.27

4. Jenis-jenis Berbicara
Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita dapatkan
berbagai jenis berbicara. Antara lain: diskusi,
26
27

Iskandar Wassid, Strategi Pembelajaran…, hlm. 286.
Henry Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai…, hlm. 16.

pidato (menjelaskan,

17

menghibur), ceramah, dan sebagainya. Jenis-jenis keterampilan berbicara
tersebut adalah:
a. Diskusi
Diskusi, berasal dari kata Latin “discutere”, yang berarti bertukar
pikiran. Akan tetapi belum tentu setiap kegiatan bertukar pikiran dapat
dikatakan berdiskusi. Diskusi pada dasarnya adalah suatu bentuk tukar
pikiran yang teratur dan terarah, baik kelompok kecil atau besar, dengan
tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan
bersama mengenai suatu masalah.28 Diskusi juga diartikan suatu metode
untuk memecahkan masalah-masalah dengan proses berpikir kelompok.29
Panel adalah suatu bentuk diskusi yang dihadapkan sejumlah
partisipan atau pendengar.30Suatu kelompok yang terdiri dari tiga sampai
enam orang ahli yang ditunjuk untuk mengemukakan pandangannya dari
berbagai segi mengenai suatu masalah.31 Diskusi ini melibatkan
sekelompok kecil peserta yang melakukan pembicaraan secara informal
tentang sesuatu topik tertentu yang sebelumnya telah diselidiki dengan
teliti oleh para peserta diskusi.32

b. Simposium
Sinposium terdiri dari serangkaian presentasi yang disampaikan
secara singkat tetapi formal berkaitan tentang suatu tema dan topik.
Sesudah presentasi formal, para anggota sinposium diperkenankan
menjawab pertanyaan yang diajukan para peserta yang mengadakan suatu
panel diskusi di antara mereka sendiri.

33

Masalah yang dibahas dalam

simposium mempunyai ruang lingkup yang luas, sehingga dapat ditinjau
28

Midar G. Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga, 1988), hlm . 37.
29
Henry Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai …, hlm. 36.
30
Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, ( Surabaya: Usaha
Nasional, 1981), hlm. 112.
31
Henry Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai…, hlm. 40.
32
Siti Sahara, dkk., Keteramilan Berbahasa Indonesia, (Jakarta: FITK UIN, 2009),
hlm. 22
33
Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 23.

18

dari berbagi sudut aspek ilmu untuk mendapatkan perbandingan. Pada
sinposium diadakan sanggahan untuk umum terhadap suatu prasaran dan
sanggahan itu disusun secara tertulis.34

c.

Seminar
Seminar terdiri dari sekelompok ahli yang bertugas menjawab

pertanyaan-pertanyaan hadirin atau mungkin pers. Para ahli tersebut
sebelumnya tidak diberi tahukan menenai pertanyaan-pertanyaan yang
akan diajukan tetapi, biasanya mereka menguasai topik-topik yang
dibicarakan.35 Dalam seminar membahas secara ilmiah, walaupun yang
menjadi topik pembicaraan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan
untamanya adalah untuk memecahkan suatu masalah.36. Dalam seminar
juga banyak hal yang harus dipersiapkan diantaranya:
1) Menentukan topik dan tujuan
Sebelum seminar dilaksanakan perlu ditentukan terlebih dahulu
topik atau masalah yang akan diseminarkan.
2) Penentuan waktu dan tempat
Waktu seminar sebaiknya dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa
sejarah atau nasional, umpamanya: Bulan bahasa, Hari Ibu, hari
Pendidikan Nasional. Jika seminar itu berskala kecil penentuan waktu
perlu diperhatikan, sehingga dapat dihadiri oleh beberapa peserta.
3) Persiapan fasilitas
Segala kebutuhan dan kelancaran seminar sebaiknya dipersiapkan
sebaik-baiknya. Seperti:
4) Tempat duduk yang memadai
Cahaya yang cukup terang dan sirkulasi udara yang menyegarkan
dalam ruangan. Alat-alat peraga publikasi.37

34

Midar G. Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara ..., hlm. 38.
Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 23.
36
Midar G. Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 38.
37
Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 27.
35

19

d. Pidato
Pidato adalah penyajian penjelasan lisan.

Pidato merupakan

keterampilan berbaha sasecara epektif, baik lisan maupun tulisan karang
mengarang.
Pidato juga diartikan kegiatan berbicara dihadapan orang banyak,
Pidato juga diartikan berbicara dimuka umum dengan tujuan memberikan
tambahan ilmu pengetahuan atau untuk mengajak para pendengar berpikir
dan bertindak seperti diberi nasihat kepada orang banyak.38
1) Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam berpidato
a). Mempunyai tekad dan kemampuan bahwa seoarang pembicara
mampu meyakinkan orang lain.
b). Memiliki pengetahuan yang luas, sehungga si pembicara dapat
mengusai materi dengan baik.
c). Memiliki pembendahaaan kata yang cukup, sehingga si pembicara
mampu mengungkapkan pidato dengan lancar dan meyakinkan.39
2) Sistematika berpidato
Pembukaan, yaitu mengucap salam atau menyapa para hadirin
a) Menyampaikan pendahuluan, yang biasanya dilahirkan dalam
bentuk ucapan terima kasih, atau ungkapan kegembiraan, atau rasa
syukur.
b) Penyampaian isi pidato, yang diucapkan secara jelas dan dengtan
menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan dengan gaya
bahasa yang menarik.
c) Menyampaikan kesimpulan dari isi pidato, supaya mudah diingat
oleh pendengar.
d) Menyampaikan harapan yang berisi anjuran atau ajakan kepada
pendengar untuk melaksanakan isi pidato.
e) Menyampaikan salam penutup.40

38
39
40

Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 61 – 62.
Midar G. Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara …, hlm. 54.
Midar G. Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara …, hlm. 55.

20

3) Metode penyampaian dan penilaian dalam berpidato
Ada empat macam metode penyampaian lisan seperti pidato yang
perlu diketahui, yaitu:
Maksud dan tujuan pembicaraan, kesempatan, atau pendengar atau
pemirsa, ataupun waktu untuk persiapan dapat menentukan metode
penyajian, atau sang pembicara sendiri dapat menentukan yang terbaik dari
empat metode yang mungkin dipilih yaitu:
a). Penyampaian secara mendadak ( impromptu delivery)
Metode impromptu adalah metode penyampaian berdasarkan kebutuhan
tahuaan dan kemahirannya. sesaat. Tidak ada persiapan sama sekali,
pembicara secara serta merta berbicara berdasarkan pengetahuan dan
kemahirannya. Kesanggupan dan kemampuannya menyampaikan lisan
seperti pidato menurut metode ini sangat berguna dalam keadaan terdesak
atau terpaksa.41 Kesanggupan dan kemampuan penyampaian lisan seperti
pidato menurut metode ini sangat berguna dalam keadaan terdesak atau
terpaksa, namun kegunaannya terbatas pada waktu yang tidak terduga itu
saja. Pembicara menyampaikan pengetahuannya yang ada, dikaitkan dengan
situasi dan kepentingan saat itu.42
b). Penyampaian tanpa persiapan (extemporaneous delivery)
Metode ekstemporan adalah metode berpidato dengan cara pembicara
menuliskan pokok-pokok pikiran yang akan disampaikan.43 Uraian yang
akan dibawakan dengan metode ini direncanakan dengan cermat dan dibuat
catatan-catatan yang penting, yang sekaligus menjadi urutan bagi uraian itu.
Kadang-kadang dipersiapkan konsep berupa naskah, namun tidak dihafal
kata demi kata. Dalam penyampaian lisan seperti pidato, pembicara dengan
bebas berbicara dan bebas pula memilih kata-katanya sendiri. Catatan dan
konsep naskah yang dipersiapkannya hanya digunakan untuk mengingat
urut-urutan topik pembicaraannya. Dengan metode ini pembicara dapat

41

Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 67.
Midar G Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 65.
43
Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa…, hlm. 67.
42

21

mengubah nada pembicaraannya sesuai dengan reaksi yang timbul pada
para pendengar sementara pembicaraan berlangsung.44
c). Penyampaian dari naskah (delivery from manuscript)
Metode

naskah

adalah

metode

naskah

yang

benar-benar

dipersiapkan dengan cermat. Pembicara menyusun naskah terlebih dahulu
sebelum pidato.45 Pidato ini biasanya digunakan untuk acara-acara resmi.
pidato televisi dan radio. Metode ini sifatnya agak kaku, sebab bila tidak atau
kurang melakukan latihan yang cukup, terjadi seolah-olah tidak ada hubungan
antara pembicara dengan pendengar. Mata dan perhatian pembicara selalu

ditujukan ke naskah, sehingga ia tidak bebas menatap pendengarnya.
Pembicara harus dapat memberi tekanan dan variasi suara untuk
menghidupkan pembicaraannya. Untuk itu pembicara perlu melakukan
latihan yang intensif.46
d). Penyampaian dari ingatan (delivery from memory)
Metode ini merupakan kebalikan dari metode inpromtu. Pidato ini
disampaikan dengan metode ini dipersiapkan dan ditulis secara lengkap
lebih dahulu.47 Metode ini memerlukan konsentrasi yang kuat dalam
penyampaiannya dari seorang pembicara kemudian dihafal kata demi kata.
Ada pembicara yang berhasil dengan metode ini, namun ada juga yang
tidak. Pembicara dengan menggunakan metode ini sering menjemukan dan
tidak menarik, ada kecenderungan untuk berbicara cepat-cepat dan
mengeluarkan kata-kata tanpa menghayati maknanya. Selain itu metode ini
juga sering menyulitkan pembicara untuk menyesuaikan diri dengan situasi
dan reaksi-reaksi pendengar keti ka menyampaikan uraiannya.48
Cara manapun yang dipilih dalam berbicara dalam penyampaiannya,
yang terpenting adalah bahwa usaha kita berhasil: komunikasi berjalan
lancar. Oleh karena itu ada baiknya bila kita mengetahui pula bagaimana
caranya mengevaluasi keterampilan berbicara diantaranya:
44

Midar G arsad mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 66.
Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 68.
46
Midar G Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 65.
47
. Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 67-68.
48
Midar G Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 65.
45

22

(1). Apakah bunyi-bunyi tersendiri (vokal, konsonan) diucapkan dengan
tepat?
(2). Apakah pola pola intonasi, naik dan turunnya suara dan tekanan suku
kata, memuaskan?
(3). Apakah ketetapan dan ketepatan ucapan mencerminkan bahwa sang
pembicara

tanpa

referensi

intrernal

memahami

makna

yang

dipergunakannnya?
(4). Apakah kata kata yang diucapkan itu dalam bentuk dan urutan yang
tepat?
(5). Sejauh manakah” kewajaran yang tercermin bila seseorang berbicara?
(Brook, 1964:252).49
Mengevaluasi keterampilan berbicara juga dapat dilakukan secara
berbeda-beda pada setiap jenjangnya. Misalnya pada sekolah dasar,
kemampuan menceritakan, berpidato, dan lain-lain dapat dijadikan dalam
bentuk evaluasi. Seseorang dianggap memiliki kemampuan berbicara
selama ia mampu berkomunikasi dengan lawan bicaranya.50
Dalam pengajaraan berbahasa Indonesia yaitu dalam keterampilan
berbicara memiliki berbagai hal dalam menilai, baik dari pelafalan anak itu
sendiri secara individual maupun secara berkemampuan yang telah
diklasifikasikan dan telah ditentukan dalam pembelajarannya.
4). Strategi pengajaran keterampilan berbicara
Dalam strategi pengajaran Keterampilan berbicara memilki teknik
atau pariasi dalam pembelajarannya yang bermacam-macam di antaranya
dalam keterampilan:
a). Berbicara terpimpin, yaitu: frase dan kalimat, satuan paragraf, dan
dialog.
b). Berbicara semi-terpimpin, yaitu: reproduksi cerita, cerita berantai(
pengalaman diri, pengalaman hidup, pengalaman membaca, menyusun
kalimat dalam pembicaraan, dan menyampaikan isi bacaan secara lisan.
49
50

Henry Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai…, hlm. 24 – 26.
Iskandar Wassid, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: Remaja, 2008), hlm. 240.

23

c). Berbicara bebas, yaitu: diskusi, drama, wawancara, berpidato, bermain
peran(dalam drama)51
Selain strategi dalam berbicara juga memilki teknik, yang
dimaksudkan di sini adalah cara-cara yang digunakan di dalam berbicara,
meliputi:
1) Kemampuan menggunakan bahasa lisan dengan baik. Dalam hal ini
seorang pembicara hendaknya memiliki kemampuan tata bahasa yang
baik, Artikulasi yang jelas dan tidak cadel, intonasi yang menarik (tidak
monoton), aksen yang tepat, dan tidak terlalu banyak menggunakan
istilah yang tidak perlu.
2) Ekspresi (air muka) yang menarik, misalnya: tidak cemberut, tidak
pucat, tidak merah, dan sebagainya. Ekspresi dalam berbicara sangat
penting untuk memikat minat dengar atau rasa ingin tahu dari
pendengar.
3) Stressing (redance), yaitu kemampuan seorang pembicara untuk
memberikan penekanan pada masalah-masalah inti atau penting
didalam pembicaraannya, misalnya dengan pengulangan-pengulangan
yang seperlunya, atau dengan penekanan-penekanan tertentu dalam
nada pembicaraan.
4) Kemampuan memberikan refreshing (penyegaran) dengan menyelipkan
intermezo, yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan hal-hal lain
yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman
sendiri atau sebuah anekdot, dengan tidak

mengurangi nilai

pembicaraan. Hal ini dimaksudkan agar pendengar tidak terlalu stress
yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti
pembicaraan kita.
5) Kepribadian (personality). Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah
disamping daya pesona atau kharismatik seseorang, juga meliputi nilainilai pribadi seorang pembicara, diantaranya: jujur, cerdik, berani,

51

Iskandar Wassid, Strategi Pembelajaran …, hlm. 244.

2

Dokumen yang terkait

Peningkatan kualitas pembelajaran ketrampilan pembicara bahasa Indonesia melalui teknik bercerita : penelitian tindakan kelas pada siswa kelas V111 smpn 13 tangerang selatan tahun pelajaran 2009/2010

8 119 127

Peningkatan pemahaman bacaan cerita anak terjemahan melalui teknik peta pikiran (mind map) pada siswa kelas VII tahun pelajaran 2011-2012 (PTK di MTs Annajah Petukangan)

0 6 188

Upaya meningkatkan belajar siswa melalui strtegi pembelajaran kooperatif teknik jigsaw pada konsep hidrokarbon: penelitian tindakan kelas (classroom Action Research) di Madrasah Aliyah Annajah Pettukangan selatan Jakartach

4 24 102

Peningkatan keterampilan menulis naskah drama dengan media cerpen ( sebuah penelitian tindakan kelas pada siswa kelas XI MAN Cibinong Bogor tahun pelajaran 2010-2011)

2 20 165

Peningkatkan kemampuan menulis paragraf persuasi melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif teknik student team Achievement division (STAD) : penelitian tindakan kelas pada siswa X SMA Yasih Bogor

1 17 140

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada pembelajaran mata pelajaran PAI di SMA N 28 Jakarta

0 5 104

Aplikasi strategi pembelajaran aktif teknik mind map dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama islam di MI Assholihiyah Rumpin Bogor : penelitian tindakan kelas pada siswa kelas I

6 52 117

Peningkatan keterampilan menulis narasi dengan media teks wacana dialog: penelitian tindakan pada siswa kelas VII MTs Negeri 38 Jkaarta tahun pelajaran 2011-2012

3 35 107

Minat siswa terhadap pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas v min di tangerang selatan

0 13 117

Peningkatan kemampuan berbicara melalui penerapan teknik bermain peran. penelitian tindakan kelas pada siswa kelas V MI. Ath-Thoyyibiyyah Kalideres Jakarta Barat

0 10 170

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2933 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 748 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 648 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 419 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 575 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 967 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 880 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 533 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 790 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 954 23