Implikasi Komponen Arus Kas dan Rasio Keuangan Terhadap Expected Return Saham pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2013

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Pengertian Pasar Modal

Pengertian pasar modal menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang pasar modal dalam Paulus (2008: 3) memberikan rumusan pengertian pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkan, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Adapun pengertian pasar modal menurut Widoatmodjo (2009: 11) merupakan pasar yang abstrak, dimana yang diperjualbelikan adalah dana-dana jangka panjang, yaitu dana yang keterikatannya dalam investasi lebih dari satu tahun. Selain itu, pengertian pasar modal menurut Siamat (2005: 487) adalah suatu sistem yang terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan baik secara langsung maupun dengan melalui wakil-wakilnya.

Dari pengertian pasar modal di atas dapat disimpulkan bahwa pasar modal merupakan suatu tempat yang terorganisasi dimana efek-efek diperjual belikan dan dana yang diperjual belikan tersebut adalah dana jangka panjang yang keterikatannya dalam investasi lebih dari satu tahun.


(2)

2.1.2 Fungsi Pasar Modal

Pasar modal dapat memainkan peran penting bagi perekonomian suatu negara, karena sebagaimana yang dikemukakan oleh Fuady dalam Paulus, (2008: 8) suatu pasar modal memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:

1. Sarana untuk menghimpun dana-dana masyarakat untuk disalurkan ke dalam kegiatan-kegiatan yang produktif.

2. Sumber pembiayaan yang mudah, murah dan cepat bagi dunia usaha dan pembangunan nasional.

3. Mendorong terciptanya kesempatan berusaha dan sekaligus menciptakan kesempatan kerja.

4. Meningkatkan efisiensi alokasi sumber produksi.

5. Memperkokoh beroperasinya mekanisme finansial market dalam menata sistem moneter, karena suatu pasar modal dapat dijadikan sarana open market operation sewaktu-waktu diperlukan oleh bank sentral.

6. Menekan tingginya tingkat bunga suatu rate yang reasonable. 7. Sebagai alternatif investasi bagi para pemodal.

2.1.3 Pengertian Saham

Saham didefenisikan sebagai surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun institusi dalam perusahaan (Anoraga, 2006: 58). Apabila seorang investor membeli saham, maka ia akan menjadi pemilik dan disebut sebagai pemegang saham tersebut.

2.1.3.1 Manfaat Kepemilikan Saham

Menurut Anoraga (2006: 59) secara umum ada dua manfaat yang bisa diperoleh bagi pembeli saham, yaitu:


(3)

1. Manfaat ekonomis, meliputi perolehan deviden dan capital gain. Deviden merupakan sebagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Sedangkan capital gain adalah keuntungan yang diperoleh investor dari hasil jual beli saham, berupa selisih antara nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan nilai beli yang lebih rendah. 2. Manfaat non ekonomis yang bisa diperoleh oleh pemegang saham

adalah kepemilikan hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menentukan jalannya perusahaan.

2.1.3.2 Jenis Saham

Dalam transaksi jual beli di bursa efek, saham merupakan instrumen yang paling dominan diperdagangkan. Saham tersebut diterbitkan dengan cara atas nama atau atas unjuk. Saham dibedakan antara lain:

1. Saham biasa (commont stock) merupakan saham yang dividennya dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba, memiliki hak suara dan memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila bangkrut dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.

2. Saham Preferen (preferred stocks) merupakan saham yang memiliki hak paling dahulu memperoleh dividen, tidak memiliki hak suara dan dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus.


(4)

2.1.4 Pengertian Return Saham

Alasan utama seseorang berinvestasi adalah memperoleh keuntungan. Return saham menurut Jogiyanto (2010: 9) adalah tingkat keuntungan yang diperoleh dari investasi. Adapun Return saham menurut Lindrianasari (2010: 198) adalah hasil yang diperoleh dari suatu investasi.

Perhitungan return saham yang dilakukan pada penelitian ini yaitu ekspektasi return (expected return) saham atau tingkat return yang diharapkan dimasa yang akan datang dengan metode CAPM (Capital Asset Pricing Model).

2.1.5 Jenis Return Saham

Menurut Jogiyanto (2010: 10) dalam konteks manajemen investasi, perlu dibedakan antara return harapan (expected return) dan return aktual atau yang terjadi (realized). Pengertian dari return harapan dan return aktual adalah: 1. Return Harapan (expected return) merupakan tingkat return yang

diantisipasi investor dimasa yang akan datang.

2. Return Aktual (realized return) merupakan tingkat return yang telah diperoleh investor pada masa yang lalu.

2.1.6 Pengertian CAPM ( Capital Asset Pricing Model )

Capital Asset Pricing Model menurut Darmaji (2006: 204) merupakan model yang menggambarkan hubungan antara resiko dengan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return). Jenis resiko tersebut adalah:


(5)

1. Resiko Sistematis (Systematic Risk) adalah resiko yang dihadapi seluruh perusahaan. Misalnya, resesi ekonomi, resiko suku bunga atau inflasi. Resiko ini merupakan resiko yang dihadapi oleh seluruh perusahaan pada sektor apapun perusahaan tersebut beroperasi. Resiko ini disebut juga sebagai resiko yang tidak dapat didiversifikasi (undiversifiable risk) atau resiko pasar.

2. Resiko Tidak Sistematis (nonsystematic risk) adalah jenis resiko yang hanya dihadapi sejumlah perusahaan dalam perekonomian atau resiko yang hanya berpengaruh pada sejumlah kelompok aset. Misalnya, sebuah kebijakan baru yang diterapkan pada industri bank, kebijakan ini hanya berpengaruh pada bank dan tidak berdampak resiko pada perusahaan industri lain. Resiko ini disebut juga resiko spesifik (specific risk).

Suatu saham diharapkan untuk memberikan keuntungan sesuai dengan resiko pasar. Semakin tinggi resiko pasar, maka akan semakin tinggi pula keuntungan yang diharapkan dari saham tersebut. Hubungan antara keuntungan yang diharapkan dengan resiko pasar merupakan inti dari CAPM. Adapun rumus dari CAPM adalah sebagai berikut:

Dimana:

E (Ri) : Tingkat pendapatan yang diharapkan dari sekuritas i

R

f : Suku Bunga SBI

�i : Beta saham

E (Rm) : Tingkat yang diharapkan dari pasar


(6)

Dari rumus di atas dapat dipahami bahwa investor yang ingin memperoleh kompensasi atas dua hal yaitu waktu uang dan resiko atas investasi. Nilai waktu uang digambarkan melalui tingkat bunga bebas resiko serta resiko tergambar memalui beta yang dibandingkan dengan tingkat pengembalian aset terhadap tingkat pengembalian pasar selama periode tertentu. Dengan demikian, CAPM mengungkapkan bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan atas suatu saham setara dengan tingkat bunga bebas resiko suatu aset ditambah premium resiko. Adapun penjelasan dari komponen formulasi dari CAPM adalah sebagai berikut:

1. Komponen Bebas Resiko

Pada penelitian ini komponen bebas resiko adalah sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI dijadikan acauan sebagai komponen bebas resiko, mengingat SBI dijamin oleh Bank Indonesia, sehingga dapat diasumsikan bahwa SBI bebas dari risiko default. Tingkat pengembalian bebas resiko (Rf) diformulasikan sebagai berikut:

2. Pengertian Beta

Beta atau koefisien beta merupakan ukuran angka koefisien yang menggambarkan sensitivitas atau kecenderungan respons suatu saham terhadap pasar. Ketentuan besarnya pengaruh koefisien beta dapat terlihat seperti:


(7)

a.Saham dengan beta = 1 merupakan saham yang bergerak searah dengan pergerakan saham atau disebut dengan saham netral.

b.Saham dengan beta < 1 merupakan saham yang bergerak lebih lambat dari pergerakan pasar atau disebut dengan saham lemah.

c.Saham dengan beta >1 menggambarkan harga saham bergerak lebih fluktuatif dibandingkan pasar atau disebut dengan saham agresif.

Nilai beta masing-masing saham dapat dihitung dengan persamaan berikut:

βi : Beta dari Saham

σim : Kovarians dari Saham dan Pasar

σm2 : Varians dari pasar

Untuk mencari nilai varian dan kovarian di atas, diperlukan formulasi berikut ini:

a. Tingkat pengembalian saham individu

Dimana:

Rit : Return saham periode t Pt : Harga saham pada periode t Pt-1 : Harga saham periode t-1

2 m

im i


(8)

Dimana:

Varians dari masing-masing saham adalah:

�i2 : Varians dari investasi i

E(Rit) : Tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi i Rit : tingkat keuntungan investasi i

N : Jumlah periode pengamatan

Kovarians dari masing-masing saham adalah:

Dimana:

�i : Kovarians dari investasi i �i2 : Varians dari investasi

b. Tingkat pengembalian yang diharapkan dari pasar

Dimana:

Rm : Return saham

IHSGt : Indeks harga saham gabungan pada periode t IHSGt-1 : Indeks harga saham gabungan pada periode t-1

i 2


(9)

Varian dari pasar adalah:

Dimana:

�m2 : Varians dari pasar

E(Rm) : Tingkat keuntungan yang diharapkan dari pasar i Rm : Tingkat keuntungan dari pasar

N : Jumlah periode pengamatan Kovarians dari Pasar adalah:

�m : Kovarians dari pasar �m2 : Varians dari pasar

c. Ekpektasi Return Pasar

Dimana:

E (Rm) : Tingkat keuntungan yang diharapkan dari pasar Rmt : Tingkat keuntungan pasar periode t

N : Jumlah periode pengamatan 2.1.7 Pengertian Arus Kas

Menurut Syafri (2010: 257) laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan penerimaan dan pengeluaran periode tertentu yang dalam tiga aktifitasnya meliputi:

E (Rm)

m

2


(10)

1. Arus kas dari aktifitas operasional yaitu semua transaksi yang berkaitan dengan laba yang dilaporkan dalam laporan laba atau rugi dikelompokkan dalam golongan ini. Demikian juga arus kas masuk lainnya yang berasal dari kegiatan operasional.

2. Arus kas dari aktifitas investasi, disini dikelompokkan transaksi kas yang berhubungan dengan perolehan fasilitas investasi dan nonkas lainnya yang digunakan oleh perusahaan.

3. Arus kas dari kegiatan pembiayaan, kelompok ini menyangkut bagaimana kegiatan kas diperoleh untuk membiayai perusahaan termasuk operasinya. 2.1.8 Kegunaan Laporan Arus Kas

Menurut Syafri (2010: 257) melalui arus kas kita dapat mengetahui: 1. Kemampuan perusahaan meregenerasi kas, merencanakan,

mengontrol arus kas masuk dan keluar perusahaan di masa lalu. 2. Kemungkinan keadaan arus kas masuk dan keluar, arus kas bersih,

termasuk kemampuan membayar dividen di masa yang akan datang. 3. Informasi bagi investor dan kreditor untuk memproyeksikan return

dari sumber kekayaan perusahaan. 2.1.9 Pengertian Rasio Keuangan

Rasio keuangan menurut Syafri (2010: 297) adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.


(11)

2.1.10 Jenis-Jenis Rasio Keuangan Bank

Rasio keuangan perbankan yang sering diumumkan dalam neraca publikasi meliputi rasio likuiditas, rasio solvabilitas dan rasio profitabilitas. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing rasio tersebut:

1. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas bank diartikan sebagai suatu proses pengendalian dari alat-alat likuid yang mudah ditunaikan guna memenuhi semua kewajiban bank yang segera harus dibayar. Beberapa rasio likuiditas pada bank yaitu:

a.Cash Ratio yaitu perbandingan antara alat-alat likuid yang dikuasai bank dengan kewajiban yang segera dibayarkan. Alat-alat yang dikuasai bank adalah bagian dari aktiva bank yang berbentuk uang tunai (cash). Komponen dari alat likuid untuk semua jenis bank adalah sama yaitu saldo kas dan saldo rekening pada bank Indonesia.

b.Loan To Deposit Ratio (LDR) adalah perbandingan antara total kredit yang diberikan dengan total dana pihak ketiga yang dapat dihimpun oleh bank. LDR akan menunjukkan tingkat kemampuan bank dalam menyalurkan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh bank tersebut. Menurut Surat Edaran BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 menetapkan bahwa batas aman dari LDR adalah 75% dan 85%.

c.Quick Ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya terhadap para deposan (pemilik simpanan giro, tabungan dan deposito) dengan harta yang paling likuid yang dimiliki oleh suatu bank.


(12)

d.Investing Policy Ratio merupakan kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya kepada para deposan dengan cara melikuidasi surat-surat berharga yang dimilikinya.

e.Banking Ratio bertujuan untuk mengukur tingkat likuiditas bank dengan membandingkan jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah deposit yang dimiliki.

f. Asset to Loan Ratio merupakan rasio untuk mengukur jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah harta yang dimiliki oleh bank.

Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Loan To Deposit Ratio, dengan formulasi:

2. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas adalah analisis yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jika terjadi likuidasi bank. Rasio solvabilitas pada bank adalah sebagai berikut:

a.Capital Adequacy Ratio yaitu rasio kinerja bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko, misalnya kredit yang diberikan.

b.Primary Ratio merupakan rasio untuk mengukur apakah modal yang dimiliki oleh bank tersebut sudah memadai.

c.Risk Asset Ratio merupakan rasio untuk mengukur kemungkinan penurunan risk asset.


(13)

d.Secondary Risk Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur penurunan aset yang mempunyai resiko lebih tinggi

e.Capital Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur permodalan dan cadangan penghapusan dalam menanggung perkreditan, terutama resiko karena bunga gagal tagih.

Rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio dengan formulasi:

3. Rasio Profitabilitas

Analisis rasio profitabilitas bank adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Rasio profitabilitas pada bank terdiri dari:

a.Return On Asset (ROA) yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan atau laba secara keseluruhan.

b.Return On Equity (ROE) yaitu perbandingan antara laba bersih bank dengan modal sendiri. Rasio ROE ini merupakan indikator yang sangat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran deviden.


(14)

c.Net Profit Margin (NPM) yaitu rasio yang mengambarkan tingkat keuntungan atau laba yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya.

d.Gross Profit Margin yaitu rasio yang digunakan untuk mengetahui persentase laba dari kegiatan usaha murni dari bank yang bersangkutan setelah dikurangi biaya-biaya.

e.Rate Return On Loans yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola kegiatan perkreditan bank. f. Interest Margin On Earning Assets yaitu rasio yang digunakan untuk

mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya-biaya. g.Leverage Multiplier merupakan alat yang digunakan untuk mengukur

kemampuan manajemen dalam mengelola asetnya, karena adanya biaya yang harus dikeluarkan akibat penggunaan aktiva.

h.Asset Utilization yaitu rasio yang digunakan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan manajemen suatu bank dalam mengelola aset dalam rangka menghasilkan operating income dan nonoperating income.

Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Gross Profit Margin dengan formulasi sebagai berikut:


(15)

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan ini mendapatkan masukan dan informasi dari penelitian terdahulu yang beragam. Penelitian terdahulu terlihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti

dan Tahun Penelitian

Judul Penelitian Hasil Penelitian

1. Totok Sasongko 2010

Implikasi Komponen Arus Kas, Laba Kotor Dan Size Perusahaan Terhadap Expected Return Saham (Studi kasus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI)

1. Secara simultan variabel komponen arus kas, laba kotor dan size perusahaan berpengaruh signifikan terhadap expected return.

2. Nur Ashifa Dewi

2008

Pengaruh Informasi Komponen Laporan Arus Kas dan Laba Kotor Terhadap Expected Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta Periode 2001-2005

1. Secara parsial variabel informasi arus kas dari aktivitas operasi, informasi arus kas dari pendanaan dan informasi arus kas dari investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap expected return saham.

2. Secara parsial variabel laba kotor mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap expected return saham. 3. Yarnest

2012

Rasio Keuangan Pengukur Kinerja Perusahaan Dan Dampaknya Terhadap Ekspektasi Return Saham. (Studi kasus pada perusahaan BUMN yang terdaftar di BEI)

1. Secara simultan rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan rasio saham secara simultan berdampak signifikan terhadap ekspektasi return saham. 2. Secara parsial, rasio

likuiditas, rasio leverage dan rasio profitabilitas tidak berdampak signifikan terhadap ekspektasi return saham.


(16)

2.3 Kerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang dan penelitian- penelitian yang relevan, maka dapat digambarkan kerangka konseptual penelitian ini seperti berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Berikut ini akan dijelaskan hubungan antar variabel yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan kerangka konseptual diatas

1. Hubungan arus kas dari aktivitas operasional terhadap expected return saham.

Arus kas dari aktifitas operasi menggambarkan kas yang dihasilkan perusahaan berasal dari internal perusahaan seperti pendapatan bunga, provisi dan komisi. Sebuah perusahaan dapat membayar deviden jika perusahaan tersebut mampu menghasilkan laba. Kelanjutan operasi perusahaan tergantung pada keberhasilannya menghasilkan uang kas dari operasi. Pembayaran deviden kepada pemegang saham merupakan indikator bahwa perusahaan tersebut mampu memenuhi kewajibannya kepada pihak pemegang saham. Sehingga jika dilihat dari kegiatan operasinya, investor dapat melakukan investasi di Arus kas dari aktivitas operasional (X1)

Rasio Likuiditas (X2)

Rasio Solvabilitas (X3)

Rasio Profitabilitas (X4)

Ekspektasi Return Saham (Y)


(17)

perusahaan tersebut dan diharapkan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi di masa yang akan datang.

2. Hubungan rasio likuiditas terhadap ekspektasi return saham

Rasio likuiditas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo. Pada penelitian ini rasio likuiditas yang digunakan adalah loan to deposit ratio. Semakin rendah rasio ini maka semakin tinggi tingkat likuiditas bank tersebut karena, jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit akan semakin kecil. Maka dari itu, tingkat likuiditas yang tinggi akan semakin meyakinkan investor untuk melakukan investasi di perusahaan tersebut, dimana tingkat likuiditas merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat pengembalian investasi di masa yang akan datang.

3. Hubungan rasio solvabilitas terhadap ekspektasi return saham

Rasio solvabilitas merupakan rasio yang menggambarkan seberapa besar kemampuan perusahaan melunasi kewajiban jangka panjangnya. Menggunakan hutang berarti berhubungan dengan resiko, karena hutang menimbulkan komitmen tetap berupa beban bunga dan pelunasan pokok hutang. Walaupun hutang dapat menimbulkan resiko, namun disisi lain menunjukkan potensi perusahaan dalam meningkatkan keuntungan. Pada penelitian ini rasio solvabilitas yang digunakan adalah capital adequacy ratio. Semakin besar rasio ini maka semakin baik tingkat solvabilitas bank karena, semakin aman dana deposan pada bank tersebut. Sehingga akan meyakinkan para pemegang saham


(18)

untuk melakukan investasi dan mengharapakan tingkat pengembalian yang tinggi di masa yang akan datang.

4. Hubungan rasio profitabilitas terhadap ekspektasi return saham

Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui sumber daya yang dimiliki perusahaan yaitu modal, aktiva dan lain sebagainya. Pada penelitian ini rasio yang digunakan adalah net profit margin. Net profit margin menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba bersih. Semakin besar rasio ini maka akan semakin baik pula tingkat profitabilitas bank tersebut. Sehingga para investor tertarik untuk melakukan investasi dan mengharapkan tingkat pengemballian saham yang tinggi di masa yang akan datang.

2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiyono, 2012: 70). Adapun hipotesis penelitian ini adalah: H1: Arus kas dari aktivitas operasional memiliki pengaruh positif dan signifikan

terhadap ekspektasi return saham.

H2: Rasio likuiditas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ekspektasi return saham.

H3: Rasio solvabilitas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ekspektasi return saham.

H4: Rasio profitabilitas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ekspektasi return saham.


(1)

d.Secondary Risk Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur penurunan aset yang mempunyai resiko lebih tinggi

e.Capital Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur permodalan dan cadangan penghapusan dalam menanggung perkreditan, terutama resiko karena bunga gagal tagih.

Rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio dengan formulasi:

3. Rasio Profitabilitas

Analisis rasio profitabilitas bank adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Rasio profitabilitas pada bank terdiri dari:

a.Return On Asset (ROA) yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan atau laba secara keseluruhan.

b.Return On Equity (ROE) yaitu perbandingan antara laba bersih bank dengan modal sendiri. Rasio ROE ini merupakan indikator yang sangat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran deviden.


(2)

c.Net Profit Margin (NPM) yaitu rasio yang mengambarkan tingkat keuntungan atau laba yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya.

d.Gross Profit Margin yaitu rasio yang digunakan untuk mengetahui persentase laba dari kegiatan usaha murni dari bank yang bersangkutan setelah dikurangi biaya-biaya.

e.Rate Return On Loans yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola kegiatan perkreditan bank. f. Interest Margin On Earning Assets yaitu rasio yang digunakan untuk

mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya-biaya. g.Leverage Multiplier merupakan alat yang digunakan untuk mengukur

kemampuan manajemen dalam mengelola asetnya, karena adanya biaya yang harus dikeluarkan akibat penggunaan aktiva.

h.Asset Utilization yaitu rasio yang digunakan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan manajemen suatu bank dalam mengelola aset dalam rangka menghasilkan operating income dan nonoperating income.

Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Gross Profit Margin dengan formulasi sebagai berikut:


(3)

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan ini mendapatkan masukan dan informasi dari penelitian terdahulu yang beragam. Penelitian terdahulu terlihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Judul Penelitian Hasil Penelitian

1. Totok Sasongko 2010

Implikasi Komponen Arus Kas, Laba Kotor Dan Size Perusahaan Terhadap Expected Return Saham (Studi kasus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI)

1. Secara simultan variabel komponen arus kas, laba kotor dan size perusahaan berpengaruh signifikan terhadap expected return.

2. Nur Ashifa Dewi

2008

Pengaruh Informasi Komponen Laporan Arus Kas dan Laba Kotor Terhadap Expected Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta Periode 2001-2005

1. Secara parsial variabel informasi arus kas dari aktivitas operasi, informasi arus kas dari pendanaan dan informasi arus kas dari investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap expected return saham.

2. Secara parsial variabel laba kotor mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap expected return saham. 3. Yarnest

2012

Rasio Keuangan Pengukur Kinerja Perusahaan Dan Dampaknya Terhadap Ekspektasi Return Saham. (Studi kasus pada perusahaan BUMN yang terdaftar di BEI)

1. Secara simultan rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan rasio saham secara simultan berdampak signifikan terhadap ekspektasi return saham. 2. Secara parsial, rasio

likuiditas, rasio leverage dan rasio profitabilitas tidak berdampak signifikan terhadap ekspektasi return saham.


(4)

2.3 Kerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang dan penelitian- penelitian yang relevan, maka dapat digambarkan kerangka konseptual penelitian ini seperti berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Berikut ini akan dijelaskan hubungan antar variabel yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan kerangka konseptual diatas

1. Hubungan arus kas dari aktivitas operasional terhadap expected return

saham.

Arus kas dari aktifitas operasi menggambarkan kas yang dihasilkan perusahaan berasal dari internal perusahaan seperti pendapatan bunga, provisi dan komisi. Sebuah perusahaan dapat membayar deviden jika perusahaan tersebut mampu menghasilkan laba. Kelanjutan operasi perusahaan tergantung pada keberhasilannya menghasilkan uang kas dari operasi. Pembayaran deviden kepada pemegang saham merupakan indikator bahwa perusahaan tersebut mampu memenuhi kewajibannya kepada pihak pemegang saham. Sehingga jika dilihat dari kegiatan operasinya, investor dapat melakukan investasi di Arus kas dari aktivitas operasional (X1)

Rasio Likuiditas (X2)

Rasio Solvabilitas (X3)

Rasio Profitabilitas (X4)

Ekspektasi Return Saham (Y)


(5)

perusahaan tersebut dan diharapkan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi di masa yang akan datang.

2. Hubungan rasio likuiditas terhadap ekspektasi return saham

Rasio likuiditas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo. Pada penelitian ini rasio likuiditas yang digunakan adalah loan to deposit ratio. Semakin rendah rasio ini maka semakin tinggi tingkat likuiditas bank tersebut karena, jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit akan semakin kecil. Maka dari itu, tingkat likuiditas yang tinggi akan semakin meyakinkan investor untuk melakukan investasi di perusahaan tersebut, dimana tingkat likuiditas merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat pengembalian investasi di masa yang akan datang.

3. Hubungan rasio solvabilitas terhadap ekspektasi return saham

Rasio solvabilitas merupakan rasio yang menggambarkan seberapa besar kemampuan perusahaan melunasi kewajiban jangka panjangnya. Menggunakan hutang berarti berhubungan dengan resiko, karena hutang menimbulkan komitmen tetap berupa beban bunga dan pelunasan pokok hutang. Walaupun hutang dapat menimbulkan resiko, namun disisi lain menunjukkan potensi perusahaan dalam meningkatkan keuntungan. Pada penelitian ini rasio solvabilitas yang digunakan adalah capital adequacy ratio. Semakin besar rasio ini maka semakin baik tingkat solvabilitas bank karena, semakin aman dana deposan pada bank tersebut. Sehingga akan meyakinkan para pemegang saham


(6)

untuk melakukan investasi dan mengharapakan tingkat pengembalian yang tinggi di masa yang akan datang.

4. Hubungan rasio profitabilitas terhadap ekspektasi return saham

Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui sumber daya yang dimiliki perusahaan yaitu modal, aktiva dan lain sebagainya. Pada penelitian ini rasio yang digunakan adalah net profit margin. Net profit margin menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba bersih. Semakin besar rasio ini maka akan semakin baik pula tingkat profitabilitas bank tersebut. Sehingga para investor tertarik untuk melakukan investasi dan mengharapkan tingkat pengemballian saham yang tinggi di masa yang akan datang.

2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiyono, 2012: 70). Adapun hipotesis penelitian ini adalah: H1: Arus kas dari aktivitas operasional memiliki pengaruh positif dan signifikan

terhadap ekspektasi return saham.

H2: Rasio likuiditas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ekspektasi return saham.

H3: Rasio solvabilitas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ekspektasi return saham.

H4: Rasio profitabilitas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ekspektasi return saham.


Dokumen yang terkait

Implikasi Komponen Arus Kas dan Rasio Keuangan Terhadap Expected Return Saham pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2013

0 34 71

PENGARUH ARUS KAS dan LABA AKUNTANSI TERHADAP EXPECTED RETURN SAHAM (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI)

0 17 17

PENGARUH INFORMASI KOMPONEN LAPORAN ARUS KAS TERHADAP RETURN SAHAM (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI)

0 7 15

PENGARUH RASIO KINERJA KEUANGAN TERHADAP RETURN SAHAM SEKTOR PERBANKAN YANG TERDAFTAR Pengaruh Rasio Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Sektor Perbankan Yang Terdaftar Di BEI Pada Tahun 2008-2012.

0 3 12

PENGARUH RASIO KINERJA KEUANGAN TERHADAP RETURN SAHAM SEKTOR PERBANKAN YANG TERDAFTAR Pengaruh Rasio Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Sektor Perbankan Yang Terdaftar Di BEI Pada Tahun 2008-2012.

0 3 15

Implikasi Komponen Arus Kas dan Rasio Keuangan Terhadap Expected Return Saham pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2013

0 0 8

Implikasi Komponen Arus Kas dan Rasio Keuangan Terhadap Expected Return Saham pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2013

0 0 2

Implikasi Komponen Arus Kas dan Rasio Keuangan Terhadap Expected Return Saham pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2013

0 0 5

Implikasi Komponen Arus Kas dan Rasio Keuangan Terhadap Expected Return Saham pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2013

0 0 3

PENGARUH KANDUNGAN INFORMASI ARUS KAS, KOMPONEN ARUS KAS, DAN LABA KOTOR PERUSAHAAN TERHADAP EXPECTED RETURN SAHAM

0 0 129