5 Hasil Analisis Regresi Beganda

Tabel IV.5 Hasil Analisis Regresi Beganda

(Constant) DAU DAK PAD

4.814 -3.054E-7 -3.930E-6

R Square = 0.031 Adjusted R Square = 0.005 F-hitung = 1.094 Sig. F = 0,355 * Signifikan

Sumber: Data penelitian diolah Berdasarkan Tabel IV.6 tersebut, maka dapat ditulis persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 4.814 – 3.054E-7X 1 – 3.930E-6X 2 + 6.803E-7 + e.

Penjelasan mengenai analisis pengaruh secara simultan maupun secara parsial dari masing-masing variabel indenden yang digunakan dalam penelitian ini yaitu DAU (X 1 ), DAK (X 2 ), dan PAD (X 3 ) akan dijelaskan di bagian selanjutnya.

Pengujian secara bersama-sama menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Hal ini dapat dilihat pada tabel IV.5 yaitu dengan nilai F-hitung = 1.094 dan signifikansi 0,355 pada tingkat signifikansi a = 0,05. Dengan tingkat signifikansi 0,355 yang lebih tinggi dari taraf signifikansi pada a =

0,05 menunjukkan bahwa variabel independen yaitu DAU (X 1 ), DAK (X 2 ), dan PAD (X 3 ) secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Koefisien multipel korelasi antara variabel independen dengan variabel dependen dari persamaan regresi berganda adalah sebesar 0.031 (R = 3,1%), ini berarti bahwa tingkat keeratan hubungan antara variabel independen dan dependen adalah 3,1%. Hal ini menunjukkan variabel independen yang digunakan dalam model regresi yaitu DAU, DAK, PAD mampu menjelaskan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3,1%. Sementara itu sisanya sebesar 96,9% dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar variabel dalam penelitian ini.

2. Pengaruh Secara Parsial dan Pembahasan Hipotesis

a. Dana Alokasi Umum Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan tabel IV.5 pengujian pertama dilakukan terhadap DAU (X 1 ) diperoleh t-hitung -0,429 dengan nilai signifikansi 0,669 yang lebih besar dari tingkat signifikan yang ditetapkan sebelumnya Berdasarkan tabel IV.5 pengujian pertama dilakukan terhadap DAU (X 1 ) diperoleh t-hitung -0,429 dengan nilai signifikansi 0,669 yang lebih besar dari tingkat signifikan yang ditetapkan sebelumnya

Hal menarik dari hasil analisis terhadap variabel ini adalah adanya koefisien negatif yang bertentangan dengan tanda koefisien yang diprediksi. Temuan ini sesuai dengan penelitian Sasana (2005) dan penelitian pujiati (2007). Hal ini mungkin disebabkan karena

mayoritas kabupaten/kota menggantungkan pembiayaan daerahnya dari DAU dan pemerintah daerah di era desentralisasi masih belum dapat menetapkan skala prioritas pembangunan daerahnya secara optimal atas sektor-sektor pembangunan yang memberikan efek multiplier luas terhadap perekonomian masyarakat. Misalnya, penggunaan DAU yang seharusnya digunakan untuk pembangunan daerah tetapi sebagian besar DAU digunakan untuk belanja pegawai. Selain itu masih relatif besarnya tingkat kebocoran yang terjadi, sehingga pengaruh DAU menjadi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi (Sasana, 2005).

Temuan ini berbeda dengan beberapa penelitian terdahulu. Misalnya, Rinawaty et al (2010) yang menyatakan bahwa DAU berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui investasi swasta. Hasil serupa juga ditemukan oleh Maryati dan Endrawati (2010) dan Anis Setiyawati et al (2007) yang Temuan ini berbeda dengan beberapa penelitian terdahulu. Misalnya, Rinawaty et al (2010) yang menyatakan bahwa DAU berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui investasi swasta. Hasil serupa juga ditemukan oleh Maryati dan Endrawati (2010) dan Anis Setiyawati et al (2007) yang

b. Dana Alokasi Khusus Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan tabel IV.5 pengujian pertama dilakukan terhadap DAK (X 2 ) diperoleh t-hitung -1,273 dengan nilai signifikansi 0,206 yang lebih besar dari tingkat signifikan yang ditetapkan sebelumnya yaitu 0,05. Hasil tersebut menunjukkan variabel DAK (X 2 ) tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, hipotesis alternatif pertama yang menyatakan bahwa ada pengaruh DAK terhadap pertumbuhan ekonomi ditolak.

Temuan ini sesuai dengan penelitian Ulfi Maryati dan Endarwati (2010) dan Anis Setiyawati et al (2007) yang menyatakan bahwa DAK bepengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini mungkin disebabkan karena DAK yang diterima pemerintah daerah digunakan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah. Kegiatan khusus yang dimaksud adalah sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan APBN misalnya untuk layanan umum, pendidikan dan lain-lain. Hal ini berarti tidak boleh disalahgunakan/digunakan untuk kegiatan diluar ketentuan.

Temuan ini tidak sesuai dengan temuan penelitian sebelumnya yaitu penelitian Hadi Sasana (2005) yang menyatakan bahwa DAK berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunung Temuan ini tidak sesuai dengan temuan penelitian sebelumnya yaitu penelitian Hadi Sasana (2005) yang menyatakan bahwa DAK berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunung

c. Pendapatan Asli Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan tabel IV.5 pengujian ketiga dilakukan terhadap PAD (X 3 ) diperoleh t-hitung 0,674 dengan nilai signifikansi 0,032 yang lebih kecil dari tingkat signifikan yang ditetapkan sebelumnya yaitu 0,05. Hasil tersebut menunjukkan variabel PAD (X 3 ) berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, hipotesis alternatif ketiga yang menyatakan bahwa ada pengaruh PAD terhadap pertumbuhan ekonomi diterima.

Hal ini berarti bahwa semakin tinggi PAD yang dihasilkan oleh pemerintah daerah maka semakin meningkat nilai pertumbuhan ekonomi pemerintah daerah tersebut. Hal ini disebabkan karena tingkat PAD yang tinggi maka pemerintah daerah lebih bisa untuk mengoptimalkan potensl PAD tersebut. Karena PAD merupakan salah satu sumber pembelanjaan daerah, Jika PAD meningkat maka dana yang dimiliki daerah akan meningkat pula, sehingga pemerintah daerah akan berinisiatif untuk lebih menggali potensi-potensi daerah daerah yang dimiliki. Salah satunya dengan cara memberikan proporsi belanja modal yang lebih besar untuk pembangunan. Dengan pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana oleh pemerintah daerah akan Hal ini berarti bahwa semakin tinggi PAD yang dihasilkan oleh pemerintah daerah maka semakin meningkat nilai pertumbuhan ekonomi pemerintah daerah tersebut. Hal ini disebabkan karena tingkat PAD yang tinggi maka pemerintah daerah lebih bisa untuk mengoptimalkan potensl PAD tersebut. Karena PAD merupakan salah satu sumber pembelanjaan daerah, Jika PAD meningkat maka dana yang dimiliki daerah akan meningkat pula, sehingga pemerintah daerah akan berinisiatif untuk lebih menggali potensi-potensi daerah daerah yang dimiliki. Salah satunya dengan cara memberikan proporsi belanja modal yang lebih besar untuk pembangunan. Dengan pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana oleh pemerintah daerah akan