PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP PENGUASAAN KONSEP SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

ABSTRAK

PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP
PENGUASAAN KONSEP SISWA SMP MELALUI
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

Oleh

Soirwan

Guru mata pelajaran fisika sudah menggunakan pembelajaran kooperatif pada
materi yang pembelajarannya berkelompok. Namun, penguasaan konsep fisika
siswa masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan pembelajaran kooperatif masih
belum maksimal. Sehingga penguasaan konsep pun masih tergolong
rendah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh kemampuan
berpikir kritis terhadap penguasaan konsep siswa melalui pembelajaran kooperatif
tipe STAD.Penelitian ini dilaksanakan di kelasIXbSMP Negeri5 Bandar Lampung
yang berjumlah 35siswa pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013dengan
sub materi Kemagnetan.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
dengan cara purposive sampling. Desain penelitian ini adalah One-Shot Case
Study. Berdasarkan penelitian ini, diperoleh data kemampuan berpikir kritis dan
penguasaan konsep yang kemudian dianalisis menggunakan metode regresi linear
dengan bantuan SPSS 17.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua data

Soirwan
berdistribusi normal dan linear. Selanjutnya untuk menguji pengaruh dilakukan
dengan regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS 17.0.Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa ada pengaruh kemampuan berpikir Kritis terhadap
penguasaan konsep siswa pembelajaran kooperatif tipe STAD sebesar 24% yang
merupakan nilai koefisien determinasi dengan nilai koefisien sebesar 0,49 yang
termasuk dalam kategori sedang dan persamaan regresi
Y= 50,35 + 0,49X dimana konstanta a dan b merupakan koefisien yang signifikan.

Kata kunci : kemampuan berpikir kritis, pembelajaran kooperatiftipe STAD,
penguasaan konsep.

iii

PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP
PENGUASAAN KONSEP SISWA SMP MELALUI
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

Oleh
SOIRWAN
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Fisika
Jurusan Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

Judul Skripsi

: PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
TERHADAP PENGUASAAN KONSEP SISWA
SMP MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE STAD.

Nama Mahasiswa

: SOIRWAN

Nomor Pokok Mahasiswa : 0913022108
Program Studi

: Pendidikan Fisika

Jurusan

: Pendidikan MIPA

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing

Drs. I Dewa Putu Nyeneng, M.Sc.
NIP 19580603 198303 1 002

Viyanti, S.Pd, M.Pd.
NIP. 19800330 200501 2001

2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

Dr. Caswita, M.Si
NIP 1961004 199303 1 004

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua

: Drs. I Dewa Putu Nyeneng, M.Sc. ........................

Sekretaris

: Viyanti, S.Pd, M.Pd.

........................

Penguji
Bukan Pembimbing

: Dr. Undang Rosidin, M.Pd.

........................

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dr. Bujang Rahman, M.Si.
NIP. 19600315 198503 1 003

Tanggal Lulus Ujian Skripsi : 02 Mei 2013

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Soirwan

NPM

: 0913022108

Fakultas/Jurusan

: FKIP/P MIPA

Program Studi

: Pendidikan Fisika

Alamat

: Purwajaya,Kecamatan Purwadadi,Kabupaten Ciamis
Jawa Barat

Menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan
untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang
pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau
diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan
disebut dalam daftar pustaka.

Bandar Lampung, Mei 2013
Yang Menyatakan,

Soirwan
NPM. 0913022108

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ciamis pada Tanggal 21 Juni 1988. Penulis adalah anak
kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Sayidin,dan Ibu Tomirah.

Pendidikan yang penulis tempuh berawal dari Sekolah Dasar di SD Negeri 4
Purwajaya diselesaikan pada tahun 2001, Sekolah Menengah Pertama di SMP
Negeri 1 Mangunjaya diselesaikan pada tahun 2004, dan Sekolah Menengah Atas
di SMA Negeri 1 Banjarsari diselesaikan pada tahun 2007.

Pada tahun 2009 penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan
Fisika, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Lampung .

Pada tahun 2012, penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa
Bawang di Kecamatan Punduh Pedada Kabupaten Pesawaran selama 40 hari dan
pada tahun yang sama pula penulis melaksanakan praktik mengajar melalui
Program Pengalaman Lapangan di SMA N 2 Punduh Pedada Kabupaten
Pesawaran selama 3 bulan. Pada tahun 2013 penulis melaksanakan penelitian di
SMP Negeri 5 Bandar Lampung.

MOTTO

“Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam tentu
manusia bosan kepadanya dan enggan memandang”
(Imam Syafii)
“Kewajiban kita,berusaha dan berdo’a,Allah SWT yang menentukan”
(Imam Syafii)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahirobbil’Alamin. Teriring doa dan rasa syukur kehadirat Allah SWT,
Penulis persembahkan skripsi ini sebagai tanda cinta dan kasihPenulis yang tulus
kepada:
1. Bapak dan Ibu tercinta yang telah membesarkanPenulis dengan penuh cinta,
memberikan kasih sayang yang tulus, yang tak pernah lelah berkorban,
memberiPenulis semangat serta berdoa untuk keberhasilanPenulis.
2. KakakPenulistercinta:EsoSutarso, Musriah, SobilinAni,
BarokatunHasanah,yang memotivasi, mendoakanPenulis, serta memberi
semangat untukPenulis dalam menuju keberhasilan.
3. Para pengajar dan pembimbing yang Penulishormati.
4. Keluarga Besar Pendidikan Fisika 2009.
5. Almamater tercinta.

SANWACANA

Bismillahirrohmanirrohim.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Kemampuan Berpikir
Kritis Terhadap Penguasaan Konsep Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di
Universitas Lampung.

Penulis menyadari terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si. selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Caswita, M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.
3. Bapak Dr. Agus Suyatna, M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Fisika.
4. Bapak Drs. I Dewa Putu Nyeneng, M.Sc. selaku Pembimbing I atas
kesediaannya memberikan bimbingan, motivasi, semangat, nasehat- nasehat
bijak, saran, dan kritiknya selama kuliah dan dalam proses penyusunan skripsi
ini.

5. Ibu Viyanti, S.Pd, M.Pd., selaku Pembimbing Akademik dan Pembimbing II,
atas kesabarannya dalam memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada
penulis selama menyelesaikan skripsi.
6. Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd. selaku Dosen Pembahas yang banyak
memberikan masukan dan kritik yang bersifat positif dan membangun.
7. Bapak dan ibu dosen serta staf Jurusan Pendidikan MIPA.
8. Bapak Ahmad Syafei, M.Pd, selaku Kepala SMP Negeri 5 Bandar Lampung
atas bantuan dan kerja samanya selama penelitian berlangsung.
9. Bapak Diman Supratman, S.Pd. selaku guru mitra atas bantuan dan kerja
samanya selama penelitian berlangsung.
10. Bapak dan ibu dewan guru SMPN 5 Bandar Lampung beserta staf tata usaha
yang membantu penulis dalam melakukan penelitian.
11. Siswa kelas IXa dan IXb SMPN 5 Bandar Lampung atas bantuan dan
kerjasamanya.
12. Sahabat-sahabat Penulis Ardy , Sofyan , Hafid, Kadek dan seluruh keluarga
besar pendidikan fisika 2009.
13. Kakak tingkat angkatan 2008, 2007, 2006, dan 2005 atas bimbingannya
14. Adik-adik tingkat dan keluarga besar fisika angkatan 2010,2011, dan 2012.
15. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis berdoa semoga dengan bantuan dan dukungan yang diberikan mendapat
balasan pahala di sisi Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat. Amin.
Bandarlampung,
Penulis,
Soirwan

Maret 2013

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ................................................................................................. .xii
DAFTAR TABEL ......................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... .xiv
I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 3
D. Manfaat Penelitian............................................................................... 3
E. Ruang Lingkup Penelitian ....................................................................3

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teoretis ............................................................................... 5
1. Kemampuan Berpikir Kritis.. ......................................................... 5
2. Penguasaan konsep ........................................................................9
3. STAD ........................................................................................... 14
B. Kerangka Pemikiran .......................................................................... 19
C. Hipotesis ........................................................................................... 20
III. METODE PENELITIAN
A. Populasi Penelitian ............................................................................. 21
B. Sampel Penelitian ............................................................................... 21
C. Desain Penelitian ................................................................................ 21
D. Instrument Penelitian .......................................................................... 22

E. Analisis Instrument ............................................................................. 22
F. Teknik Pengumpulan Data.................................................................. 24
G. Teknik Analisis Data .......................................................................... 25
H. Pengujian Hipotesis ............................................................................ 25
1. Uji Normalitas ................................................................................ 25
2. Uji Linearitas .................................................................................. 26
3 Uji Korelasi .................................................................................... 26
4. Uji Regresi Linier Sederhana .......................................................... 27

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian .................................................................................. 29
1. Uji Validitas dan Reliabilitas ............................................................ 29
2. Hasil Pengumpulan data ................................................................... 32
3. Pengujian Hipotesis .......................................................................... 34
B. Pembahasan ........................................................................................ 38
1. Data Tingkat Berpikir Kritis ............................................................. 38
2. Data Penguasaan Konsep.................................................................. 40
3. Pengaruh Kemampuan Berpikir Kritis Terhadap Penguasaan Konsep
siswa SMP Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ................. 41

V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan .......................................................................................... 46
B. Saran ................................................................................................ 46

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Pemetaan ..................................................................................

47

2. Silabus .....................................................................................

48

3. RPP ..........................................................................................

55

4. Buku Siswa ..............................................................................

70

xiii

5. LKK-01 ....................................................................................

78

6. Jawaban LKK-01 .....................................................................

80

7. LKK-02 ....................................................................................

82

8. Kunci Jawaban LKK-02 ...........................................................

84

9. LP-01 .......................................................................................

86

10. Jawaban LP-01 .........................................................................

93

11. Tabel Spesipikasi Lembar Penilaian .........................................

98

12. Kisi-kisi Berpikir kritis .............................................................

100

13. Soal berpikir kritis ....................................................................

110

14. Rubrik penilaian Berpikir kritis ................................................

111

15. Kisi-kisi Penguasaan Konsep ...................................................

112

16. Soal Penguasaan Konsep ..........................................................

117

17. LP 2 Proses ..............................................................................

119

18. LP 3 Psikomotor.......................................................................

121

19. LP 4 Berkarakter ......................................................................

122

20. Hasil uji validitas berpikir kritis................................................

124

21. Hasil Uji Reliabilitas berpikir kritis ..........................................

126

22. Hasil Uji Instrumen Soal Penguasaan Konsep...........................

131

23. Hasil Uji Validitas soal Penguasaan Konsep .............................

136

24. Nilai Uji penguasaan konsep dan berpikir kritis ........................

137

25. Hasil Uji Normalitas .................................................................

138

26. Hasil uji Linearitas ...................................................................

139

27. Hasil uji Korelasi......................................................................

140

28. Hasil uji Regresi .......................................................................

141

xiv

29. Surat Keterangan Penelitian Pendahuluan .................................

142

30. Daftar Nama Kelompok............................................................

143

31. Surat Keterangan Izin Penelitian...............................................

144

32. Balasan Surat Keterangan Izin Penelitian .................................

145

xv

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1. Indikator keterampilan berpikir kritis ........................................

7

2.2. Rubrik penilaian berpikir kritis .................................................

8

2.3. Kriteria taraf penguasaan konsep siswa .....................................

13

2.4. Skor perkembangan individu ....................................................

17

2.5. Skor perkembangan kelompok..................................................

18

3.1 Kriteria kualitas soal untuk kepentingan pemilihan butir soal ...

24

3.2 Tingkat hubungan berdasarkan interval korelasi . .....................

27

4.1 Hasil uji validitas soal kemampuan berpikirkritis ........................

30

4.2 Hasil uji validitas soal penguasaan konsep ..................................

30

4.3 Hasil reliabilitas soal ...................................................................

31

4.4 Tingkat berpikir kritis .................................................................

32

4.5 Klasifikasi penguasaan konsep siswa ..........................................

33

4.6 Hasil uji normalitas kolmogrov-smirnov ......................................

34

4.7 Hasil uji liniearitas ......................................................................

35

4.8 Hasil uji korelasi .........................................................................

35

4.9 Hasil hitung koefisien determinasi ..............................................

36

4.10 Hasil regresi liniear sederhana ..................................................

37

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1Diagram kerangka pemikiran .................................................... 20
3.1 Desain eksperimen One-Shot Case Study ................................. 22
4.2 Kategori tingkat kemampuan berpikir kritis siswa .................... 39
4.2 Kategori penguasaan konsep siswa .......................................... 40

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan suatu bangsa pendidikan mempunyai peranan yang sangat
penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa yang
bersangkutan. Pendidikan saat ini menekankan pada kecakapan-kecakapan yang
berguna untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan, salah satunya ialah
keterampilan berpikir kritis. Mengembangkan kompetensi berpikir kritis di
kalangan peserta didik merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan
global, karena tingkat kompleksitas permasalahan dalam segala aspek kehidupan
modern ini semakin tinggi. Keterampilan berpikir kritis dapat menjadi penentu
kemampuan siswa dalam menjawab permasalahan yang ada pada saat mengikuti
kegiatan pembelajaran.
Berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, suatu aktivitas
mental untuk memperoleh pengetahuan yang diharapkan dapat meningkatkan
kualitas belajar siswa baik proses maupun hasilnya. Salah satu cara yang dapat
digunakan agar dapat menumbuhkan keterampilan berpikir adalah penggunaan
strategi pembelajaran yang sesuai.
Dalam dunia pendidikan, fisika telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat
dasar secara umum dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, dan tingkat

2
menengah secara khusus dalam mata pelajaran fisika. Dalam membelajarkan
fisika, guru memegang peranan penting dalam mewujudkan tercapainya tujuan
pembelajaran. Seorang guru fisika disamping menjelaskan konsep, prinsip, dan
teori juga harus mengajarkan fisika dengan menciptakan kondisi yang baik agar
kemampuan berpikir kritis siswa dapat berkembang.
Pembelajaran yang dilakukan oleh sebagian besar guru hanya menekankan pada
penguasaan konsep, belum membudayakan keterampilan berpikir kritis pada
siswa. Berdasarkan observasi awal di SMP Negeri 5 Bandar Lampung, ditemukan
beberapa masalah dalam kegiatan pembelajaran fisika, yaitu guru tidak melakukan
pembelajaran yang lebih melibatkan siswa secara aktif dan bervariasi, alasan guru
karena keterbatasan waktu. Sementara beban materi yang harus disampaikan
banyak, menyebabkan guru lebih mengajar ketuntasan materi daripada ketuntasan
belajar siswa.
Berdasarkan hasil observasi di kelas IXB, sebanyak 28,50 % siswa belum
mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk pelajaran fisika. Hal ini
disebabkan siswa kurang memahami materi fisika yang diberikan guru, apalagi
jika harus menyelesaikan permasalahan fisika. Untuk itu diperlukan strategi
pembelajaran yang dapat membuat fisika menjadi pelajaran yang menyenangkan
sehingga siswa dengan mudah memahami materi dan mengasah kemampuan
berpikir kritis.

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menyikapi permasalahan yang
berkitan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan penguasaan konsep
dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams

3
Achievement Division (STAD) dicirikan oleh suatu tujuan struktur
tugas,tujuan,dan penghargaan kooperatif siswa kerjasama dalam situasi semangat
pembelajaran kooperatif,seperti membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan
bersama dan mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas.Siswa akan
lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling
berdiskusi dengan temannya. secara tidak langsung pembelajaran ini akan
memberikan dampak yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya
karena dapat meningkatkan hubungan antar teman,penerimaan terhadap teman
sekelas yang lemah dalam bidang akademik dan dapat meningkatkan motivasi.

Salah satu hal yang paling penting yang harus dimiliki oleh siswa, terutama dalam
pelajaran fisika yaitu berpikir kritis. Seseorang yang memiliki kemampuan
berpikir, diduga akan mudah dalam mempelajari dan mendalami sesuatu, sehingga
dapat memperkaya penguasaan konsep siswa. Berpikir kritis adalah salah satu hal
yang berpengaruh dalam pembelajaran, begitu juga dalam sains terutama yang
berhubungan dengan percobaan. Siswa belum mampu menemukan sendiri konsep
sains yang telah dipelajari dan hanya menerapkan konsep yang diberikan oleh
guru. Hal ini mengindikasikan bahwa berpikir kritis siswa masih rendah terhadap
pembelajaran sains yang akhirnya akan berdampak negatif terhadap penguasaan
konsep siswa. Salah satu model pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi
masalah tersebut adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Bedasarkan latar belakang masalah tersebut, telah dilakukan penelitian dengan
judul ―Pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap penguasaan konsep melalui
pemebelajaran kooperatif tipe STAD‖.

4
B. Rumusan Masalah

Adakah Pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap penguasaan konsep siswa
SMP melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemampuan berpikir
kritis terhadap penguasaan konsep siswa SMP melalui pembelajaran kooperatif
tipe STAD.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah.
1. Dapat menjadi alternatif baru bagi guru dalam menambah wawasan keilmuan
dan pendekatan keterampilan proses sebagai pembelajaran dalam rangka
meningkatkan kemampuan berpikir kritis terhadap penguasaan konsep.
2. Dapat digunakan menjadi tolak ukur hasil belajar fisika sehingga siswa dapat
melihat hasil yang telah dicapainya dan dapat lebih meningkatkan lagi
penguasaan konsep.
3. Sebagai refrensi bagi peneliti lain untuk penelitian yang sama.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk membatasi penelitian ini dan memberikan arah yang jelas maka ruang
lingkup penelitian ini adalah:

5
1. STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan
pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan
agar saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai
prestasi yang maksimal. Fase-fase dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD
:a) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa; b) Menyajikan dan
menyampaikan informasi; c) Mengorganisasikan siswa dalam kelompokkelompok belajar; d) Membimbing kelompok bekerja dan belajar; e) Evaluasi;
f) Memberi penghargaan; g) Mengambil kesimpulan.
2. Kemampuan berpikir kritis merupakan suatu proses kognitif untuk memperoleh
pengetahuan yang meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis, mengenal
permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi. Dalam
penelitian ini indikator kemampuan berpikir kritis yang akan digunakan adalah:
(1) memberikan penjelasan sederhana, (2) membuat penjelasan lebih lanjut,
dan (3) menerapkan strategi dan taktik.
3. Penguasaan konsep adalah proses penyerapan ilmu pengetahuan oleh siswa

selama proses pembelajaran berlangsung, dengan memiliki penguasaan konsep,
peserta didik akan mampu mengartikan dan menganalisis ilmu pengetahuan
yang diperoleh dari fakta dan pengalaman yang pada akhirnya peserta didik
akan memperoleh prinsip hukum dari suatu teori.
4. Objek penelitian ini adalah siswa kelas IX semester II dengan materi pokok
Kemagnetan.

6

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoretis

1. Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan
dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan,
membujuk, menganalisis asumsi dan melakukan penelitian ilmiah. Berpikir kritis
adalah kemampuan untuk berpendapat dengan cara yang terorganisasi. Menurut
Reason dalam Sanjaya (2006: 228) mengemukakan bahwa berpikir (thinking)
adalah proses mental seseorang yang lebih dari sekedar mengingat (remembering)
dan memahami (comprehending). ―Mengingat‖ pada dasarnya hanya melibatkan
usaha penyimpanan sesuatu yang telah dialami untuk suatu saat dikeluarkan
kembali atas permintaan, sedangkan ―memahami‖ memerlukan perolehan apa
yang didengar dan dibaca serta melihat keterkaitan antar-aspek dalam memori.
Kemampuan berpikir seseorang menyebabkan seseorang tersebut harus bergerak
hingga di luar informasi yang didengarnya. Misalkan kemampuan berpikir
seseorang untuk menemukan solusi baru dari suatu persoalan yang dihadapi.
Beberapa pengertian berpikir kritis yang dikutip dalam Filsaime (2008: 56)
adalah:

a.

Berpikir kritis adalah sebuah cara berpikir disiplin yang digunakan
seseorang untuk mengevaluasi validitas sesuatu (pertanyaan-

7

b.

pertanyaan, ide-ide, argument, dan penilaian menurut Beyer dalam
Filsaime (2008: 56);
Memandang berpikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari
konseptualisasi, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi aktif dan
berketerampilan yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh observasi,
pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi sebagai sebuah
penuntun menuju kepercayaan dan aksi menurut Screven dalam
Filsaime (2008: 56).

Menurut pengertian-pengertian berpikir kritis di atas maka dapat dikatakan bahwa
kemampuan berpikir kritis merupakan berpikir yang melibatkan proses kognitif
yang melibatkan siswa untuk berpikir reflektif terhadap permasalahan.

Menurut Ennis dalam Hassaobah (2008: 87), mengidentifikasi 12 indikator
berpikir kritis, yang dikelompokkannya dalam lima besar aktivitas. Adapun
pengelompokkan keterampilan berpikir kritis disajikan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Indikator Keterampilan Berpikir Kritis
Berpikir Kritis
1. Memberikan penjelasan sederhana

2. Membangun keterampilan dasar

3. Menyimpulkan

4. Memberikan penjelasan lanjut

5. Mengatur strategi dan teknik

Sumber: Ennis dalam Hassaobah (2008: 87)

Sub Berpikir Kritis
1. Memfokuskan pertanyaan
2. M enganalisis pertanyaan dan
bertanya
3. Menjawab pertanyaan tentang suatu
penjelasan dan tantangan
4. Mempertimbangkan apakah sumber
dapat dipercaya atau tidak
5. Mengamati serta mempertimbangkan
suatu laporan hasil observasi.
6. Mendeduksi atau mempertimbangkan
hasil deduksi
7. Meninduksi atau mempertimbangkan
hasil induksi
8. Membuat serta menentukan nilai
pertimbangan
9. Mengidentifikasi istilah-istilah dan
definisi pertimbangan serta dimensi
10. Mengidentifikasi asumsi
11. Menentukan tindakan
12. Berinteraksi dengan orang lain

8
Berdasarkan penjelasan mengenai indikator kemampuan berpikir kritis menurut
Ennis, maka dapat dibuat rubrik dengan pemberian skor 1 sampai skor 4. Skor 1
adalah skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi. Rubrik tersebut ditampilkan
pada Tabel 2.2 ,
Tabel 2.2 Rubrik penilaian berpikir kritis
Indikator Berpikir Kritis
Memberikan Penjelasan Sederhana(MPS)

Memberikan Penjelasan Lebih Lanjut(MPLL)

Menerapkan Strategi dan Taktik(MST)

Skor
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

Indikator Penilaian
Hanya memfokuskan pada
pertanyaan
Memilih informasi relevan
Menganalisis argument
Menjawab pertanyaan tentang
suatu penjelasan
Mendefinisikan istilah
Mendefinisikan asumsi
Mempertimbangkan definisi
Menemukan pola hubungan yang
digunakan
Menentukan tindakan
Menunjukkan pemecahan masalah
Memecahkan masalah
menggunakan berbagai sumber
Ketepatan menggunakan tindakan

Sumber : Modifikasi dari Ennis dalam Hassaobah (2008: 87)

Bloom dalam Filsaime (2008: 74) menyatakan
Mendaftar enam tingkatan berpikir kritis dari tingkatan berpikir kritis yang
paling sederhana samapai paling komplek. Daftar tersebut mulai dengan
pengetahuan dan bergerak ke atas menuju penguasaan, aplikasi,analisis,
sintesis dan evaluasi.
Bloom dalam Filsaime (2008: 75) menyatakan
Seseorang harus menguasai satu tingkatan berpikir sebelum Dia bisa menuju
ke tingkatan atas berikutnya. Alasannya adalah karena tidak bisa meminta
seseorang untuk mengevaluasi Dia tidak mengetahui, tidak memahaminya,
tidak bisa menginterpretasikannya, tidak bisa menerapkannya, dan tidak bisa
menerapkannya.

9
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur
kemampuan berpikir kritis siswa meliputi: kemampuan mengidentifikasi asumsi
yang diberikan, kemampuan merumuskan pokok-pokok permasalahan,
kemampuan menentukan akibat dari suatu ketentuan yang diambil, kemampuan
mendeteksi adanya bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda,
kemampuan mengungkap data/definisi/teorema dalam menyelesaikan masalah,
dan kemampuan mengevaluasi argumen yang relevan dalam penyelesaian suatu
masalah.

2. Penguasaan konsep

Penguasaan konsep adalah proses penyerapan ilmu pengetahuan oleh siswa
selama proses pembelajaran berlangsung, dengan memiliki penguasaan konsep,
peserta didik akan mampu mengartikan dan menganalisis ilmu pengetahuan yang
diperoleh dari fakta dan pengalaman yang pada akhirnya peserta didik akan
memperoleh prinsip hukum dari suatu teori.
Hal tersebut didukung oleh pendapat Sagala (2010: 56) definisi konsep adalah
Konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang
dinyatakan dalam definisi sehingga menghasilkan produk pengetahuan yang
meliputi prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa,
pengalaman, melalui generalisasi dan berpikir abstrak.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran di kelas dapat dilihat dari penguasaan
konsep yang dicapai siswa. Penguasaan konsep merupakan salah satu aspek
dalam ranah kognitif dari tujuan pembelajaran bagi siswa, sebab ranah kognitif
berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan
menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, menyintesis, dan kemampuan

10
mengevaluasi. Penguasaan konsep yang telah dipelajari siswa dapat diukur dari
hasil tes yang akan dinyatakan dalam bentuk angka atau nilai tertentu yang
dilakukan oleh guru.
Penguasaan konsep merupakan kemampuan siswa dalam memahami konsepkonsep setelah kegiatan pembelajaran. Penguasaan konsep dapat diartikan
sebagai kemampuan siswa dalam memahami makna secara ilmiah, baik konsep
secara teori maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari oleh Dahar (2003:
4). Keberhasilan suatu program pengajaran diukur berdasarkan perbedaan tingkat
berpikir sebelum dan sesudah memperoleh pengalaman belajar. Ausubel dalam
Rustaman (2005: 59) memberikan pandangan bahwa agar suatu materi pelajaran
menimbulkan belajar bermakna bagi pembacanya, maka materi pelajaran harus
secara jelas menguraikan hubungan antara konsep-konsepnya. Hubungan antara
konsep-konsep dalam suatu materi pelajaran dapat diwujudkan dalam bentuk
rumus-rumus untuk memecahkan masalah, grafik, bagan, poster, tabel, dan
bentuk hubungan lainnya. Hal ini dapat menimbulkan belajar kooperatif. Lebih
lanjut dikemukakan bahwa belajar bermakna akan terjadi jika terdapat hubungan
antara materi yang akan diberikan dengan materi yang sudah dimiliki oleh siswa
sebelumnya. Penguasaan konsep merupakan bagian dari hasil dalam komponen
pembelajaran. Konsep, prinsip, dan struktur pengetahuan dan pemecahan masalah
merupakan hasil belajar yang penting pada ranah kognitif. Dengan demikian
penguasaan konsep merupakan bagian dari hasil belajar pada ranah kognitif.
Keberhasilan belajar bergantung bukan hanya pada lingkungan dan kondisi
belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Menurut West dalam Rustaman
(2005: 171) belajar melibatkan pembentukan makna oleh siswa dari apa yang

11
mereka lakukan, lihat dan dengar. Belajar kognitif bertujuan mengubah
pemahaman siswa tentang konsep yang dipelajari.
Klausmeiner dalam Dahar (1989: 89) mengungkapkan bahwa tingkat pencapaian
konsep meliputi tingkat konkret, tingkat identitas, tingkat klasifikasi, dan tingkat
formal. Tingkat konkret dicapai siswa apabila siswa telah mengenal benda
tersebut sebelumnya, kemudian mengamati dan mampu membedakan benda
tersebut dari stimulus-stimulus sekitarnya. Tingkat identitas akan dicapai siswa
apabila tiga tingkat konkret yaitu kemampuan mengamati, membedakan
mengingat dikuasai oleh siswa yang selanjutnya digunakan sebagai landasan
untuk membuat generalisasi. Tingkat klasifikasi akan dicapai apabila siswa
mampu mengenal dua contoh yang berbeda dari kelas yang sama. Tingkat formal,
sebagai tingkat paling tinggi pada tingkat pencapaian konsep, tingkat ini akan
diperoleh siswa apabila ketiga tingkat di atas sudah dikuasai oleh siswa. Konsep
sangat penting untuk memenuhi kemampuan kognitif siswa, khususnya konsepkonsep fisika yang tidak hanya mengacu pada metode belajar konsep menghapal.
Penguasaan konsep diperoleh dari proses belajar, sedangkan belajar merupakan
proses kognitif yang melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan
yaitu: a) Memperoleh informasi yang baru b). Tranformasi informasi c).Menguji
relevansi ketetapan pengetahuan
Berarti kemampuan seseorang dalam mengungkapkan kembali suatu objek
tertentu berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki oleh objek tersebut. Penguasaan
konsep dapat diperoleh dari pengalaman dan proses belajar. Seseorang dikatakan
menguasai konsep apabila orang tersebut mengerti benar konsep yang
dipelajarinya sehingga mampu menjelaskan dengan menggunakan kata-kata

12
sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya, tetapi tidak mengubah
makna yang ada di dalamnya oleh Sumaya (2004). Mata pelajaran fisika terdiri
atas fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip dalam hubungannya dengan
penguasaan konsep fisika pada siswa, paling penting untuk diperhatikan dalam
proses pembelajaran fisika adalah bagaimana siswa membentuk konsep.
Penguasaan konsep yang diukur meliputi aspek mengingat (C1), memahami (C2),
dan aplikasi (C3), analisis (C4), evaluasi (C5), sintesis (C6) berdasarkan
Taksonomi Bloom hasil revisi.
1) C1 Mengingat
Tipe hasil belajar mengingat termasuk kognitif tingkat rendah yang paling
rendah. Namun, tipe hasil belajar ini menjadi prasyarat bagi tipe hasil belajar
berikutnya. Hafal menjadi prasyarat bagi pemahaman. Contohnya hafal kata-kata
memudahkan dalam membuat kalimat (Sudjana, 2008: 23).
2) C2 Memahami
Tipe hasil belajar yang lebih tinggi dari C1 mengingat. Pemahaman dapat
dibedakan kedalam tiga kategori yaitu pemahaman terjemahan, pemahaman
penafsiran dan pemahaman ekstrapolasi/memperluas data (Sudjana, 2008: 24).
3) C3 Mengaplikasikan
Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus.
Suatu situasi akan tetap dilihat sebagai situasi baru bila tetap terjadi proses
pemecahan masalah yang didasari pada kehidupan yang ada dimasyarakat atau
realitas yang ada dalam teks bacaan (Sudjana, 2008: 25).

13
4) C4 Menganalis
Jenjang peserta didik untuk menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke
dalam unsur-unsur atau komponen pembentuknya. Kemampuan analisis
dikelompokan menjadi tiga, yaitu analisis unsur, analisis hubungan, dan analisis
prinsip-prinsip yang terorganisasi (Sudjana, 2008: 25).
5) C5 Mengevaluasi
Jenjang kemampuan yang menuntut pesert didik untuk dapat mengevaluasi sutu
situasi, keadaan, pernyataan atau konsep berdasarkan kriteria tertentu (Sudjana,
2008: 26).
6) C6 Mensintesis
Jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menghasilkan sesuatu
yang baru dengan cara menggabungkan berbagai factor. Hasil yang diperoleh
dapat berupa tulisan, rencana atau mekanisme (Sudjana, 2008: 26).
Berdasarkan hasil tes penguasaan konsep, kita dapat mengkategorikan taraf
penguasaan konsep siswa. Arikunto (2007 : 254) mengkategorikan sebagai
berikut.
Tabel 2.3 Kriteria Taraf Penguasaan Konsep Siswa
Taraf Nilai Rata-Rata
≥ 81
66 — 80
56 — 65
≤ 55

Klasifikasi Nilai
Baik Sekali
Baik
Cukup Baik
Kurang Baik

14
3. Model pembelajaran tipe STAD

Model STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temanya di
Universitas John Hopkin. Menurut Slavin (2009: 143) STAD merupakan salah
satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model
yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan
pendekatan kooperatif.
Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang
beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu
pelajaran dan siswa-siswa di dalam kelompok memastikan bahhwa semua anggota
kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa menjalani
kuis perseorangan tentang materi tersebut dan pada saat itu mereka tidak boleh
saling membantu satu sama lain. Nilai-nilai kuis siswa diperbandingkan dengan
nilai rata-rata mereka sendiri yang diperoleh sebelumnya dan nilai-nilai itu diberi
hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang bisa mereka capai atau
seberapa tinggi nilai-nilai itu melampaui nilai mereka sebelumnya. Nilai-nilai itu
kemudian dijumlahkan untuk memperoleh nilai kelompok dan nilai kelompok
yang mencapai kriteria tertentu bisa mendapatkan sertifikat atau hadiah-hadiah
lainnya.
Seperti pembelajaran lainya, pembelajaran kooperatif tipe STAD juga
membutuhkan persiapan matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
persiapan-persiapan tersebut antara lain.

15
a.

Perangkat pembelajaran
Sebelum melakasanakan kegiatan pembelajaran STAD perlu dipersiapkan
perangkat pembelajarannya yang meliputi Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) beserta
lembar jawabannya.

b.

Membentuk kelompok kooperatif
Menentukan anggota kelompok diusahakan agar kemampuan siswa dalam
kelompok adalah heterogen dan kemampuan antar satu kelompok dengan
kelompok lainnya relatif homogen.

c.

Menentukan skor awal

d.

Skor awal dapat diperoleh dari nilai ulangan ataupun kuis sebelumnya.
Misalnya pada pembelajaran lebih lanjut dan setelah diadakan tes, maka hasil
tes masing-masing individu dapat dijadikan skor awal.

e.

Pengaturan tempat duduk
Pengaturan tempat duduk dalam kelas kooperatif perlu juga diatur dengan
baik. Hal ini dilakukan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran
kooperatif. Apabila tidak ada pengaturan tempat duduk dapat menimbulkan
kekacauan yang menyebabkan gagalnya pembelajaran kelas kooperatif.

f.

Kerja kelompok
Untuk mencegah adanya hambatan pada pembelajaran kooperatif tipe STAD,
terlebih dahulu diadakan latihan kerja sama kelompok. hal ini bertujuan untuk
lebih jauh mengenalkan masing-masing individu dalam kelompok.

16
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD didasarkan pada langkahlangkah kooperatif pada umumnya. Langkah-langkah pembelajaran STAD adalah
sebagai berikut.
1.

Penyampaian tujuan dan motivasi
Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran
tersebut dan memotivasi siswa untuuk belajar.

2.

Pembagian kelompok
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompoknya terdiri
dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam
prestasi akademik, gende/jenis kelamin, ras atau etnik.

3.

Presentasi dari guru
Guru menyampaikan meteri pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan
tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya
pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat
belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran guru dibantu
oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan
yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang dilakukan serta
cara-cara mengerjakannya.

4.

Kegiatan belajar dalam tim (kerja tim)
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan
lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua
anggota menguasai dan masing-masing memberikan konstribusi. Selama tim

17
bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan
bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.
5.

Kuis (evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang
dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja
masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak
dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara
individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar
tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya
60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.

6.

Penghargaan prestasi tim
Setalah pelaksanaan kuis, guru memriksa hasil kerja siswa dan diberikan
angka rentang 0 – 100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan
kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan
sebagai berikut.
a) Menghitung skor individu
Menurut Slavin (2009:159) untuk menghitung perkembangan skor
individu dihitung sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Skor perkembangan individu
No.

Nilai Tes

Skor Perkembangan

1.

Lebih dari 10 pointdi bawah skor dasar

0 poin

2.

10 sampai 1 poin di bawah skor dasar

10 poin

3.

Skor 0 sampai 10 poin di atas skor dasar

20 poin

4.

Lebih dari 10 poin di atas skor dasar

30 poin

5.

Pekerjaan sempurna (tanpa memerhatikan skor
dasar)

30 poin

18
b) Menghitung skor kelompok
Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan
anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor
perkembangan individu anggota kelompok dan membagi sejumlah anggota
kelompok tersebut. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok,
diperoleh skor kelompok sebagaimana dalam Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Skor perkembangan kelompok
No

Rata-rata Skor

Kualifikasi

1.

0≤N≤5

-

2.

6 ≤ N ≤ 15

Tim yang baik

3.

16 ≤ N ≤ 20

Tim yang baik sekali

4.

21 ≤ N ≤ 30

Tim yang istimewa

c) Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok
Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh predikat, guru
memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok
sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru).

B. Kerangka Pemikiran

Proses pembelajaran sains khususnya fisika saat ini belum mampu
mengembangkan kemampuan anak untuk berpikir kritis dan sistematis.
Pelaksanaan pembelajaran yang didominasi oleh guru dan masih dianggap sebagai
pelajaran yang sulit karena mempunyai objek kajian yang bersifat abstrak. Hal
inilah yang mengakibatkan fisika sulit dipahami serta berpengaruh terhadap

19
penguasaan konsep belajar siswa. Untuk itu perlu adanya suatu model
pembelajaran yang dapat menggantikan metode pengajaran yang dilakukan
selama ini dan dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.
Model pembelajaran STAD memberi kesempatan kepada siswa untuk memiliki
pengalaman belajar yang nyata dan aktif, siswa dilatih bagaimana memecahkan
masalah sekaligus membuat keputusan. menekankan pada adanya aktivitas dan
interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan agara saling membantu
dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

Kegiatan yang dilakukan melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk
melihat pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap penguasaan konsep siswa.
Indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa
adalah (1) memberikan penjelasan sederhana, (2) membuat penjelasan lebih
lanjut, dan (3) menerapkan strategi dan taktik.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan satu kelas.
Pada penelitian ini dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh berpikir kritis
siswa SMP terhadap penguasaan konsep menggunakan strategi pembelajaran
STAD. Pada penelitian ini terdapat tiga bentuk variabel yaitu variabel bebas,
variabel terikat, dan variabel moderator. Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah berpikir kritis (X), sedangkan variabel terikatnya adalah penguasaan
konsep siswa (Y), dan variabel moderatornya (Z) adalah model pembelajaran
kooperatif tipe STAD . Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat dan pengaruh variabel moderator terhadap

20
variabel bebas dan variabel terikat, maka dapat dijelaskan dengan paradigma
pemikiran seperti berikut ini:

X

R

Y

Z
Gambar 2.1 Diagram kerangka pemikiran
Keterangan:
X = keterampilan berpikir kritis siswa SMP
Y = penguasaan konsep fisika
Z = model pembelajaran kooperatif tipe STAD
R = pengaruh kemampuan berpikir kritis siswa terhadap penguasaan
fisika SMP

konsep

C. Hipotesis

Hipotesis penelitian yang diuji sebagai berikut:
Ho : Tidak Terdapat pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap penguasaan
konsep siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD.
H1 : Terdapat pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap penguasaan konsep
siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD.

III.METODE PENELITIAN

A. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IXSMP Negeri 5Bandar
Lampung semester genap tahun pelajaran 2012/2013.

B. Sampel Penelitian

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive
Sampling yaitu metode pengambilan sampel yang didasarkan pada suatu
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri berdasarkan ciri atau sifatsifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Arikunto, 2007: 183).
Berdasarkan populasi yang terdiri dari 6 kelas diambil 1 kelas berdasarkan
pertimbangan peneliti sebagai sampel. Sampel yang diperoleh adalah kelas
IXbyang terdiri dari 35 siswa.

C. Desain Penelitian

Desain eksperimen pada penelitian ini menggunakan bentuk Pre-Experimental
Design dengan tipe One-Shot Case Study. Pada desain ini, hanya dilakukan
posstestsetelah diberikan perlakuan karena pada anggapan dasar telah ditulis

22
bahwa seluruh siswa yang menjadi objek penelitian memiliki kemampuan relatif
sama. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut :
X

O

Gambar 3.1 Desain eksperimen One-Shot Case Study

Keterangan:
X
: perlakuan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD
O
: tes penguasaan konsep siswa
(Sugiyono, 2009: 110-111)

D. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat yang berfungsi untuk mempermudah pelaksanaan sesuatu.
Instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan oleh pengumpul
data untuk melaksanakan tugasnya mengumpulkan data. Pada penelitian ini,
instrumen yang digunakan berupa:

1. Instrumen yang digunakan adalah intrumen penguasaan konsep berupa soal
uraian. Tes ini digunakan pada saat posttest dengan 5 soal uraian penguasaan
konsep.
2. Instrumen kemampuan berpikir siswa berupa soal uraian. Tes ini digunakan
pada saat sebelum pembelajaran dimulai dengan 10 soal uraian.

E. Analisis Instrumen

Sebelum instrumen digunakan dalam sampel, dilakukan analisis butir soal
dengan menggunakan software Anates versi 4.0.5. Setelah diuji dan layak
untuk digunakan, barulah instrumen ini diberikan kepada sampel dalam

23
penelitian. Analisis instrumen ini menggunakan validitas sebagai acuannya,
validitas tes adalah tingkat keabsahan atau ketepatan suatu tes. Tes yang
valid (absah = sah) adalah tes benar-benar mengukur apa yang hendak
diukur. Salah saatu macam dari validitas tes yang menunjukkan tingkat
ketepatan tes dalam mengukur sasaran yang hendak diukur adalah validitas
isi (content validity) yaitu tingkat validitas isi juga diketahui dengan analisis
rasional.
Program anates merupakan software untuk analisis butir soal dengan
menggunkan Bahasa Indonesisa yang dikembangkan oleh Drs. Karnoto,
M.Pd dan Yudi Wibisono, ST.Keunggulan software ini sebagai program
analisis butir soal daripada Program Iteman adalah dapat digunakan untuk
analisis butir soal bentuk uraian, di samping untuk analisis soal bentuk
pilihan ganda. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam program ini, juga
merupakan salah satu sisi kemudahan dalam penggunaannya daripada
program lain yang menggunakan bahasa Inggris. Hasil analisis tentang skor
yang diperoleh juga dapat ditransfer ke Microsoft Excel untuk dihitung
nilainya. (Rosidin, 2010: 9)
Peneliti menggunakan bentuk uji anates untuk menguji soal pada soal
pilihan jamak dan soal uraian. Kemudian data soal akan langsung diolah
otomatis sehingga kita bisa langsung mengetahui:
1.

Uji Reliabilitas

2.

Pengelompokkan Unggulan dan Asor

3.

Analisis Daya Beda

4.

Analisis Tingkat Kesukaran

24
5.

Korelasi skor tiap butir dengan skor total

6.

Rekap Analisi Butir

7.

Menentukan kualitas pengecoh (khusus untuk pilihan ganda)

Perbedaan pada data soal hasil uji anates antara soal pilihan jamak dan soal
uraian terletak pada kualitas pengecohnya, dimana pada soal berbentuk
uraian tidak terdapat hasil data analisis kualitas pengecoh.

Data berdasarkan kriteria pengujian dari ketujuh data di atas pada anates
soal, dapat diketahui dengan melohatTabel 3.1.
Tabel 3.1 Kriteria Kualitas Soal untuk Kepentingan Pemilihan Butir Soal
Kriteria

Indeks
0,000 – 0,099

Klasifikasi
Sangat Sukar

Tingkat
Kesukaran
(p)

0,100 – 0,2999
0,300 – 0,700
0,701 – 0,900
0,901 – 1,000

Sukar
Sedang
Mudah
Sangat Mudah

D ≤ 0,199

Sangat Rendah

0,200 – 0,299
0,300 – 0,399

Rendah
Sedang

D ≥ 0,400
0,000 – 0,010

Tinggi
Kurang

0,011 – 0, 050
0,051 – 1,000
0, 000 – 0, 400
0, 401 – 0, 700
0, 701 – 1,000

Cukup
Baik
Rendah
Sedang
Tinggi

Daya Beda
(D)

Proporsi
Jawaban

Realibilitas
Soal

Penafsiran
Diulang / perlu
revisi total
Perlu revisi
Baik
Perlu revisi
Diulang / perlu
revisi total
Diulang / perlu
revisi total
Perlu revisi
Sedikit atau tanpa
revisi
Bagus sekali
Diulang / perlu
revisi total
Baik
Baik sekali
Kurang baik
Cukup
Baik

(Rosidin, 2010: 5 – 9)

25
F. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar pengumpulan data
berbentuk tabel yang diperoleh dari data hasil testberupa soal soal uraian,
kemudian testpenguasaan konsep siswa berupa soal uraian pada aspek kognitif.

G. Teknik Analisis Data

Proses analisis untuk penguasaan konsep sebagaiberikut:

a.

Skor yang diperoleh dari masing-masing siswa adalah jumlah skor dari setiap
soal

b.

Ketuntasan hasil tes penguasaan konsep menggunakan Arikunto.

H. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan empat metode analisis dalam SPSS
17.0 yaitu:

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

97 2756 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 712 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 601 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 396 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 536 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

45 911 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

44 819 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 502 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 745 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 896 23