Pengaruh Loss-Framed Messages dan Gain-Framed Messages Terhadap Intensi Berhenti Merokok (Studi Eksperimen pada Mahasiswa Laki-laki Perokok di Universitas "X" di Kota Bandung).

(1)

vii Universitas Kristen Maranatha

Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan pengaruh loss-framed messages dan gain-framed messages terhadap intensi berhenti merokok dengan melakukan studi eksperimen pada mahasiswa laki-laki perokok di Universitas “X” di Kota Bandung. Pemilihan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria perokok usia 18-22 tahun dan tidak sedang mengikuti terapi atau program berhenti merokok. Responden berjumlah 40 orang dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu loss-framed messages dan gain-framed messages.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan two group before-after with 3x2 factorial design. Responden diberikan treatment berupa gambar-gambar yang berisi loss-framed messages atau gain-loss-framed messages sehari 3x selama 6 hari kemudian diukur intensi berhenti merokoknya pada 3 kondisi waktu. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner intensi berdasarkan The Planned Behavior Theory. Berdasarkan uji validitas, terdapat total 23 item yang valid dengan nilai antara 0,456-0,921 dan nilai reliabilitasnya berkisar antara 0,603 – 0,941.

Data mengenai intensi diolah menggunakan Repeated Measure ANOVA dengan program SPSS 20.0. Hasil yang diperoleh adalah tidak terdapat perbedaan peningkatan skor intensi yang signifikan antara kelompok mahasiswa laki-laki perokok yang menerima gain-framed messages dan kelompok mahasiswa laki-laki perokok yang menerima loss-framed messages. Namun, effect size dari gain-framed messages lebih besar (41,8 %) dibandingkan loss-framed messages (30,1 %).

Peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya mengukur pengaruh messages terhadap determinan, menambah data penunjang, serta menambah jumlah responden. Bagi pihak universitas dapat memasang gambar berisi gain-framed messages dan loss-framed messages di sekitar area kampus.


(2)

viii Universitas Kristen Maranatha

Abstract

This study was conducted to determine differences of effectivity between loss-framed messages and gain-framed messages in increasing male University “X” Bandung students’ intention to quit smoking. Selection of the sample using purposive sampling method with a criteria of the respondents is aged 18-22 years old and not participating in any smoking cessation therapy. 40 respondent is divided into 2 groups, loss-framed messages and gain-framed messages.

This is an experimental research using two group before-after with 3x2 factorial design. Respondents is given pictures contain loss-framed messages or gain-framed messages 3 times a day for 6 days in a row then their intention to quit smoking is measured 3 times. Measuring instrument used is a intention and determinants questionnaire based on The Planned Behavior Theory. Based on validity test, there are 23 valid items which validity value range from 0,456-0,921 and the reliability value range from 0,603 – 0,941.

The data obtained were processed using Repeated Measure ANOVA with SPSS 20.0. results shows there is no significant difference between loss-framed messages and gain-framed messages in increasing intention to quit smoking. But, gain-framed messages (41,8 %) has bigger effect size than loss-framed messages (30,1 %).

The author suggest next research also measure messages effect on intention’s determinant, gain more information about contributing condition, and also adding the number of the respondents. The university could put up pictures with gain-framed messages and loss-framed messages on campus area.


(3)

ix Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK (INDONESIA) ... v

ABSTRAK (INGGRIS) ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Identifikasi Masalah ... 8

1.3. Maksud dan Tujuan ... 9

1.3.1. Maksud Penelitian ... 9

1.3.2. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Kegunaan Penelitian ... 9

1.4.1. Kegunaan Ilmiah ... 9

1.4.2. Kegunaan Praktis ... 9

1.5.Kerangka Pemikiran ... 10

1.6.Asumsi Penelitian ... 16


(4)

x Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Theory of Planned Behavior... 18

2.1.1. Definisi ... 18

2.1.2. Determinan Intensi ... 19

2.2. Framing Effect ... 21

2.2.1. Prospect Theory ... 22

2.3. Protection Motivation Theory ... 24

2.3.1. Fear Appeals ... 26

2.4.Merokok ... 27

2.4.1. Definisi ... 27

2.4.2. Bahan Kimia yang Terkandung dalam Rokok ... 28

2.4.3. Penyebab Merokok ... 29

2.4.4. Klasifikasi Perokok ... 29

2.4.5. Dampak Negatif Merokok ... 30

2.4.6. Dampak Positif Berhenti Merokok... 33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian ... 39

3.2. Prosedur Penelitian ... 40

3.3.Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 43

3.3.1. Variabel Penelitian ... 43

3.3.2. Definisi Operasional ... 43

3.4. Alat Ukur ... 44


(5)

xi Universitas Kristen Maranatha

3.4.1.1. Alat Ukur Intention ... 44

3.4.1.2. Alat Ukur Messages ... 48

3.4.2. Data Pribadi ... 48

3.4.3. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 48

3.4.3.1. Uji Validitas Alat Ukur Intention ... 48

3.4.3.2. Uji Reliabilitas Alat Ukur Intention ... 49

3.4.3.3. Uji Validitas Alat Ukur Messages ... 50

3.4.3.4 Uji Reliabilitas Alat Ukur Messages ... 50

3.5. Populasi dan Teknik Penarikan Sampel ... 51

3.5.1. Populasi Sasaran ... 51

3.5.2. Karakteristik Sampel ... 51

3.5.3. Teknik Penarikan Sampel ... 51

3.6. Teknik Analisis Data ... 52

3.7. Hipotesis Statistik ... 53

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Sampel Penelitian ... 54

4.1.1. Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 54

4.1.2. Gambaran Responden Berdasarkan Jumlah Konsumsi Rokok per Hari ... 55

4.1.3. Gambaran Responden Berdasarkan Lama Merokok ... 55

4.2. Gambaran Hasil Penelitian ... 56

4.2.1. Uji Hipotesis ... 56

4.2.1.2. Uji Repeated Measure ANOVA ... 56


(6)

xii Universitas Kristen Maranatha

4.3. Pembahasan ... 60

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan ... 67

5.2. Saran ... 67

5.2.1. Saran Teoretis ... 68

5.2.2. Saran praktis ... 68

DAFTAR PUSTAKA... 70

DAFTAR RUJUKAN ... 73 LAMPIRAN


(7)

xiii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Manfaat Berhenti Merokok ... 31

Tabel 3.1. Factorial Design 3x2 ... 39

Tabel 3.2. Kisi-kisi Alat Ukur ... 45

Tabel 3.3. Kriteria Korelasi Guilford ... 49

Tabel 3.4. Kriteria Reliabilitas Guilford ... 49

Tabel 3.5. Kriteria Reliabilitas Guilford ... 51

Tabel 4.1. Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 54

Tabel 4.2. Gambaran Responden Berdasarkan Jumlah Konsumsi Rokok per Hari ... 55

Tabel 4.3. Gambaran Responden Berdasarkan Lama Merokok ... 55

Tabel 4.4. Hasil Repeated Measure ANOVA ... 56

Tabel 4.5. Perbandingan Skor Intensi ... 57

Tabel 4.6. Effect Size ... 58

Tabel 4.7. Pairwise Comparison ... 58


(8)

xiv Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Pikir ... 15 Gambar 2.1 Bagan Theory of Planned Behavior ... 20 Gambar 3.1 Skema Prosedur Penelitian ... 42


(9)

xv Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 – Kisi-kisi Alat Ukur... L - 1 Lampiran 2 – Kuesioner Try-Out & Kuesioner Pengambilan Data ... L - 3 Lampiran 3 – Daftar Gambar ... L - 15 Lampiran 4 – Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... L - 17 Lampiran 5 – Data Mentah ... L - 21 Lampiran 6 – Gambaran Sampel Penelitian ... L - 31 Lampiran 7 – Hasil Output SPSS ... L - 33 Lampiran 8 – Tabulasi Silang ... L – 37 Lampiran 9 – Biodata Peneliti ... L - 38


(10)

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Orang yang merokok banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari di tempat-tempat umum. Merokok menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah kegiatan menghisap rokok, sedangkan rokok adalah gulungan tembakau yang dibungkus oleh daun nipah atau kertas (Poerwadarminta, 1983). Jumlah perokok di seluruh dunia meningkat menjadi hampir satu miliar (British Broadcasting Corporation [BBC], 2014). Wartawan BBC yang biasa meliput masalah kesehatan, Tulip Mazumdar (2014), melaporkan bahwa di sejumlah negara termasuk Indonesia, Timor Leste dan Rusia, lebih dari separuh penduduk pria mengkonsumsi rokok setiap hari. Jumlah perokok pria di Indonesia dalam 30 tahun terakhir meningkat 57 persen. Peningkatan ini merupakan jumlah tertinggi kedua di dunia. Penelitian yang dilakukan IMHE antara 1980 hingga 2012 memperkirakan 52 juta penduduk Indonesia merokok. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai satu dari 12 negara yang menyumbangkan angka sebanyak 40 persen dari total jumlah perokok di dunia (The Institute for Health Metrics and Evaluation [IMHE], 2014).

Prevalensi perokok usia di atas 15 tahun di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 34,7%, dan diperkirakan 190.260 orang meninggal dunia akibat penyakit terkait rokok (Julias, 2014). Hans Tandra, seorang dokter spesialis penyakit dalam, menyayangkan meningkatnya jumlah perokok di kalangan remaja meskipun telah mengetahui dampak buruk rokok bagi kesehatan, dan menyebutkan bahwa 20% dari total perokok di Indonesia adalah remaja dengan rentang usia antara 15 hingga 22 tahun. Sebesar 49,8% remaja laki-laki pada umumnya mengkonsumsi 11-20 batang/hari dan sebesar 5,6% remaja laki-laki mengkonsumsi lebih dari 20 batang/hari (Nasution, 2007). Mahasiswa yang merokok umumnya memulai kebiasaan merokok pada usia


(11)

2

Universitas Kristen Maranatha

11-13 tahun (Smet, dalam Nasution, 2007). Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok, dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin (Laventhal dan Cleary ,dalam Mc Gee, dalam Nasution, 2007). Mahasiswa yang mengkonsumsi 11-20 batang/hari tentunya sudah bukan lagi karena terpengaruh teman-teman atau mengikuti tren, namun karena telah kecanduan nikotin. Meskipun telah mengetahui bahaya dari merokok, mereka tetap merokok. Terlebih lagi, seharusnya mahasiswa ini telah mampu memikirkan resiko jangka panjang yang ditimbulkan dari kebiasaan merokok mereka.

Pranata (2012) mengungkapkan dalam penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok pada Mahasiswa Laki-laki di Asrama Putra bahwa merokok dapat menjadi sebuah cara bagi remaja agar mereka tampak bebas dan dewasa saat mereka menyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya yang merokok. Tekanan-tekanan teman sebaya, penampilan diri, sifat ingin tahu, stress, kebosanan, ingin terlihat gagah, dan sifat suka menentang merupakan hal-hal yang dapat berkontribusi pada kebiasaan merokok. Faktor resiko lainnya adalah rasa rendah diri, hubungan antar perorangan yang buruk, kurang mampu mengatasi stress, putus sekolah, sosial ekonomi yang rendah, tingkat pendidikan orangtua yang rendah, serta tahun-tahun transisi antara sekolah dasar dan sekolah menengah (usia 11-16 tahun). Merokok sering dihubungkan dengan remaja yang memiliki nilai buruk di sekolah, aspirasi yang rendah, suka melawan, dan pengetahuan tentang bahaya merokok yang rendah. Teori lain berpendapat bahwa ada beberapa alasan psikologis yang menyebabkan seseorang merokok, yaitu demi relaksasi, ketenangan, serta mengurangi kecemasan atau ketegangan.


(12)

3

Universitas Kristen Maranatha

Merokok dihubungkan dengan sejumlah efek yang merugikan bagi kesehatan, misalnya peningkatan resiko untuk sejumlah kanker, termasuk resiko yang sangat tinggi untuk kanker paru-paru, serta penyakit jantung koroner dan penyakit gangguan paru-paru kronis (termasuk emfisema dan bronchitis kronis). Rokok mengandung kurang lebih 4000 lebih elemen-elemen dan setidaknya 200 diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Namun, efek bahan kimia yang dihirup dari rokok bisa pulih ketika seseorang berhasil berhenti merokok. Manfaat yang diperoleh dari menghentikan kebiasaan merokok meliputi perbaikan pada kesehatan fisik. Dalam 20 menit setelah berhenti merokok, tekanan darah dan denyut jantung akan kembali ke normal. Dalam 12 jam setelah berhenti merokok, tingkat karbon monoksida dalam darah turun menjadi normal. Setelah 24 jam berhenti merokok, resiko serangan jantung akan mulai menurun. Dalam 2 minggu-3 bulan setelah berhenti merokok, sirkulasi darah meningkat dan fungsi paru-paru akan meningkat. Risiko bahaya merokok seperti kanker mulut, tenggorokan, kerongkongan, serviks dan kandung kemih akan berkurang 50 % setelah 5 tahun berhenti merokok (Wahyuningsih, 2014).

Di Universitas “X” ditemukan banyak mahasiswa yang merokok di area kampus

walaupun telah dipasang larangan berdasarkan peraturan kawasan bebas asap rokok. Berdasarkan hasil survey terhadap 10 orang mahasiswa, sebanyak 4 orang (40%) menyatakan alasan ingin berhenti merokok adalah ingin menjadi sehat saat tua nanti dan tidak menimbun penyakit. Sebanyak 3 orang (30%) menyatakan bahwa mereka telah menyadari uang yang dikeluarkan untuk membeli rokok berjumlah besar dan mereka merasa membuang-buang uang. Sebanyak 2 orang (20%) mengatakan ingin berhenti merokok karena ingin menjadi panutan yang baik bagi anak mereka kelak. Sedangkan 1 orang sisanya (10%) menyatakan ingin berhenti merokok karena telah merasa stamina dirinya berkurang sehingga sering kehabisan nafas saat


(13)

4

Universitas Kristen Maranatha

melakukan aktivitas berat. Para mahasiswa ini tidak akan dapat berhenti merokok bila mereka tidak memiliki niat dari dalam diri mereka sendiri. Oleh karena itu, diperlukan niat atau maksud (intention) dalam menampilkan perilaku berhenti merokok. Mahasiswa yang memiliki keinginan untuk berusaha berhenti merokok akan lebih mungkin untuk dapat berhenti merokok dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki keinginan untuk berhenti merokok dan memiliki niat yang rendah untuk melakukan usaha berhenti merokok.

Seorang tokoh Icek Ajzen mencetuskan Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991) yang menyatakan bahwa setiap perilaku manusia selalu dilandasi oleh adanya intensi. Jadi, semakin kuat intensi yang dimiliki seseorang untuk berperilaku tertentu, maka kecenderungan untuk memunculkan perilaku tersebut akan semakin kuat. Begitu juga sebaliknya, semakin lemah intensi yang dimiliki seseorang untuk berperilaku tertentu, maka kecenderungannya untuk memunculkan perilaku tersebut juga akan semakin lemah. Intensi dipengaruhi tiga determinan, yaitu sikap yang dimiliki seseorang mengenai perilaku tersebut (attitude towards behavior), persepsi yang dimiliki seseorang mengenai tuntutan sosial dari orang-orang yang berarti/penting bagi dirinya (subjective norm), dan persepsi seseorang mengenai mudah atau sulitnya untuk melakukan perilaku tersebut (perceived behavior control) (Ajzen, 1991).

Salah satu usaha yang telah dilakukan untuk menghimbau perokok untuk berhenti adalah lewat bungkus rokok. Menurut Public Health England (PHE) (2014) di Australia dalam 20 tahun terakhir terjadi penurunan jumlah perokok. Sejak tahun 2012 mereka menerapkan standarisasi bungkus rokok. Australia menjadi negara pertama di dunia yang melarang penggunaan logo, merek, simbol, gambar, warna, dan teks promosi lainnya pada bungkus rokok. Sebagai gantinya, dipasang gambar-gambar peringatan bahaya rokok yang merupakan loss-framed messages, yaitu pesan yang menonjolkan kerugian dari merokok (Putera, 2014). Pesan yang tertera pada bungkus


(14)

5

Universitas Kristen Maranatha

rokok tersebut akan menjadi sebuah informasi yang dapat mempengaruhi ketiga determinan intensi yang ada dalam diri mahasiswa laki-laki perokok. Hal ini akan memperkuat atau memperlemah intensi untuk berhenti merokok.

Sebuah studi baru (Shank, 2013) yang dipimpin oleh Schroeder Institute for Tobacco Research and Policy Studies dan didukung oleh National Institute on Drug Abuse (NIDA), National Institutes of Health (NIH), dan Food and Drug Administration (FDA) memberikan bukti lebih lanjut bahwa penerapan label peringatan kesehatan grafis (graphic health warning) di Amerika Serikat kemungkinan akan menghasilkan manfaat kesehatan masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Label peringatan kesehatan grafis yang dimaksud merupakan gambar-gambar peringatan bahaya rokok yang dicantumkan pada bungkus rokok. Penelitian tersebut mendukung temuan sebelumnya bahwa label peringatan kesehatan grafis memainkan peran penting dalam mencegah merokok dan mendorong penghentian pada orang dewasa muda.

Penelitian di atas merupakan penelitian pertama yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas dirasakan label peringatan grafis dalam sampel nasional dewasa muda di Amerika Serikat. Penelitian tersebut menggunakan data dari Legacy Young Adult Cohort Study untuk menilai dampak potensial dari label peringatan kesehatan grafis terhadap intensi merokok di antara 4.196 perokok dan non-perokok usia 18-34 tahun. Hasil temuan pertama yaitu 53 % dari orang dewasa muda mengatakan bahwa gambar-gambar peringatan bahaya rokok akan membuat mereka berpikir tentang tidak merokok, termasuk 40 % perokok dan 56 % non-perokok. Hasil temuan kedua yaitu lebih dari 10 % perokok yang masih aktif dan lebih dari 23 % dari non-perokok mengatakan bahwa label peringatan grafis membuat mereka memutuskan untuk tidak merokok. Hasil ini konsisten dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa label peringatan kesehatan grafis dapat mengurangi efek jangka panjang yang ditimbulkan rokok di Amerika


(15)

6

Universitas Kristen Maranatha

Serikat dengan mempengaruhi perilaku merokok orang dewasa muda. Studi dari negara lain yang menggunakan label peringatan kesehatan grafis pada bungkus-bungkus rokok telah mengungkapkan bahwa penggunaan label telah menurunkan jumlah perokok, meningkatkan usaha berhenti merokok, dan mengurangi kekambuhan pada mantan perokok (Shank, 2013).

Seperti tercantum dalam literature review bertajuk Evaluation of the Effectiveness of the Graphic Health Warnings on Tobacco Product Packaging (Elliott & Shanahan, 2008), penelitian di negara-negara lain menyebutkan adanya pengaruh positif dari label peringatan kesehatan grafis dalam memperkuat intensi perokok untuk berhenti. Hal ini didasarkan pada Protection Motivation Theory yang menyatakan bahwa media gambar dan kampanye promosi kesehatan akan memunculkan keadaan emosi negatif pada pembaca atau penampil, dengan membuat seseorang merasa berisiko mengalami hasil kesehatan negatif. Keadaan emosional yang dirasakan ini didasarkan pada rasa takut akan mengalami efek negatif dari perilaku kesehatan maladaptif. Dengan kata lain, jika komunikasi persuasif membangkitkan rasa takut, individu akan termotivasi untuk mengurangi kondisi psikologis yang tidak menyenangkan ini dengan mengubah keyakinan mereka dan / atau perilaku mereka terhadap beberapa sikap objek (Sutton, dalam Albery & Munafo, 2008).

Selama bertahun-tahun, pemerintah Amerika Serikat berulang kali mengevaluasi apakah dengan cara memaksa perusahaan rokok memasang gambar paru-paru atau grafis menyeramkan lainnya pada kemasan rokok dapat membuat perokok menghentikan kebiasaan merokok. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa taktik penggunaan grafis pada bungkus rokok tidak bekerja efektif pada semua perokok (Mays, Turner, Zhao, Evans, Luta, Tercyak, 2014). Efektivitas pesan antirokok bergantung pada sikap perokok itu sendiri.


(16)

7

Universitas Kristen Maranatha

Berdasarkan survei terhadap 10 orang mahasiswa perokok di Universitas “X” kota Bandung, didapatkan hasil bahwa bagi mereka pesan yang ada pada kemasan rokok tidak berpengaruh dan tidak memiliki efek apapun dalam menimbulkan niat untuk berhenti merokok. Sebanyak 4 orang mahasiswa (40 %) menyatakan bahwa gambar seram yang dipasang di kemasan rokok dirasa berlebihan dan tidak menimbulkan perasaan takut. 4 orang mahasiswa lainnya (40 %) menyatakan merasa takut pada gambar yang terpasang di kemasan rokok namun menyiasatinya dengan memilih-milih gambar yang dirasa tidak terlalu menyeramkan saat membeli rokok. Sedangkan 2 orang mahasiswa sisanya (20 %) menyatakan bahwa pesan yang terpasang di bungkus rokok tidak efektif dalam menguatkan niat berhenti merokok namun gambar seram yang ada membuatnya ingin berhenti merokok.

Peneliti dari Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center (Mays et al., 2014) mempelajari 740 perokok untuk mencari tahu jenis kampanye antirokok seperti apa yang memiliki efektivitas terbaik. Hasilnya, penggunaan slogan imbauan berhenti merokok lebih efektif dibandingkan grafis menyeramkan. Misalnya, imbauan "berhenti merokok dapat mengurangi risiko kematian akibat tembakau" (Anggreati, 2014). Kalimat tersebut termasuk ke dalam gain-framed messages yaitu pesan yang menekankan keuntungan berhenti merokok. Pemimpin penelitian Darren Mays, seorang ilmuwan populasi di Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center mengatakan bahwa studi ini menunjukkan bahwa memanfaatkan pesan negatif (loss-framed messages) dan pesan positif (gain-framed messages) dapat mendorong lebih banyak perokok untuk berhenti. Loss-framed messages menekankan hasil negatif dari merokok, seperti peningkatan risiko kematian. Sementara itu, gain-framed messages menekankan manfaat kesehatan dari berhenti merokok, seperti penurunan risiko kematian akibat tembakau. Kebanyakan peringatan tembakau pada bungkus rokok di Amerika Serikat dan di


(17)

8

Universitas Kristen Maranatha

seluruh dunia adalah pesan negatif yang berisi efek buruk dari merokok atau merupakan loss-framed messages. Para peneliti memperingatkan bahwa pernyataan ini mungkin tidak meyakinkan banyak perokok untuk berhenti (Teber, 2014). Jadi, meskipun loss-framed messages dapat menimbulkan fear appeals yang dapat menguatkan intensi seseorang untuk berhenti merokok, namun efeknya merupakan jangka pendek dan ditujukan untuk perubahan perilaku yang sifatnya non-repetitif, bukan untuk perilaku yang harus dipertahankan dalam waktu lama seperti berhenti merokok (Taylor, 1991). Sedangkan gain-framed messages lebih efektif untuk memotivasi perilaku pencegahan seperti berhenti merokok untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan (Detweiler, Bedell, Salovey, Pronin, & Rothman, 1999).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti perbandingan efektivitas loss-framed messages dan gain-loss-framed messages dalam menentukan intensi mahasiswa laki-laki

perokok Universitas “X” di kota Bandung untuk berhenti merokok.

1.2 Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin diketahui perbandingan pengaruh loss-framed messages dan gain-framed messages terhadap intensi berhenti merokok mahasiswa.

1.3 Maksud dan Tujuan 1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang intensi untuk berhenti merokok pada mahasiswa laki-laki perokok di Universitas “X” di kota Bandung sebelum dan setelah menerima loss-framed messages atau gain-framed messages.


(18)

9

Universitas Kristen Maranatha

1.3.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan intensi berhenti merokok pada kelompok mahasiswa laki-laki perokok Universitas “X” Bandung yang menerima loss-framed messages dan pada kelompok mahasiswa laki-laki perokok Universitas “X” Bandung yang menerima gain-framed messages.

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan ilmiah

1. Untuk meningkatkan pemahaman tentang psikologi kesehatan dalam hal temuan empirik mengenai efektivitas loss-framed messages dan gain-framed messages dalam menguatkan intensi untuk berhenti merokok.

2. Memberikan informasi bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh loss-framed messages dan gain-framed messages dalam menguatkan intensi untuk berhenti merokok.

1.4.2 Kegunaan praktis

1. Memberikan informasi mengenai jenis pesan yang efektif dalam menguatkan intensi untuk berhenti merokok sehingga dapat meningkatkan usaha universitas dalam menurunkan tingkat konsumsi rokok mahasiswa.

2. Memberikan informasi kepada dosen, mahasiswa dan orang tua yang memiliki keluarga atau kerabat mengenai intensi untuk berhenti merokok secara total serta jenis pesan yang efektif dalam meningkatkan intensi berhenti merokok sehingga dapat dijadikan salah satu upaya mengurangi konsumsi rokok.


(19)

10

Universitas Kristen Maranatha

3. Memberikan informasi kepada pihak pemerintah khususnya departemen kesehatan mengenai jenis pesan yang efektif dalam menguatkan intensi untuk berhenti merokok sehingga dapat meningkatkan usaha menurunkan tingkat konsumsi rokok masyarakat.

1.5 Kerangka Pemikiran

Intensi merupakan landasan dari perilaku berhenti merokok yang akan ditampilkan mahasiswa laki-laki perokok. Hal ini dibahas dalam Theory of Planned Behavior yang berusaha menghubungkan antara sikap mengenai kesehatan dan perilaku (Fishbein & Ajzen,1975; Ajzen & Madden, 1986, dalam Shelley, 1999). Menurut teori ini, perilaku sehat (health behavior) adalah hasil langsung dari intensi berperilaku (behavioral intention). Intensi dipengaruhi tiga determinan, yaitu attitude towards behavior, subjective norm, dan perceived behavior control. Konsep ini dapat digunakan untuk menjelaskan intensi untuk berhenti merokok pada mahasiswa.

Attitude towards behavior didasari oleh belief mengenai hasil akhir dari perilaku dan evaluasi terhadap hasil akhir tersebut. Jika mahasiswa laki-laki perokok berpikir bahwa rokok tidak baik bagi kesehatan, berhenti merokok memberikan banyak keuntungan, merasa senang dengan keuntungan yang dihasilkan dari berhenti merokok serta merasa tidak suka dengan dampak negatif yang ditimbulkan rokok, maka mahasiswa laki-laki perokok akan memiliki sikap tertarik (favourable) untuk berhenti merokok. Sikap tersebut akan memperkuat intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok.

Jika mahasiswa laki-laki perokok berpikir bahwa rokok tidak akan merusak kesehatan mereka, berhenti merokok tidak menguntungkan, merasa tidak senang dengan keuntungan yang dihasilkan, maka mereka akan mengabaikan informasi yang diberikan. Pada akhirnya,


(20)

11

Universitas Kristen Maranatha

mahasiswa laki-laki perokok akan memiliki sikap tidak tertarik (unfavourable) untuk berhenti merokok. Sikap tersebut akan memperlemah intensi untuk berhenti merokok.

Subjective norms merupakan apa yang diyakini seseorang tentang anggapan orang lain menyangkut perilaku yang harus dilakukan (normative belief). Subjective norms berkaitan dengan persepsi mengenai tuntutan dari orang-orang yang signifikan untuk menampilkan atau tidak menampilkan suatu perilaku dan ada kesediaan untuk mematuhi orang-orang tersebut. Tuntutan yang dipersepsi mahasiswa laki-laki perokok ini dapat berasal dari teguran ataupun peringatan orang tua, pacar, dan sahabat. Jika mahasiswa memiliki persepsi bahwa orang tua, pacar, dan sahabat menuntutnya untuk berhenti merokok dan mahasiswa bersedia untuk mematuhi orang-orang tersebut, maka persepsi tersebut akan memperkuat intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok.Jika mahasiswa mempersepsi bahwa orang tua, pacar, dan sahabat tidak menuntutnya untuk berhenti merokok dan mahasiswa tidak bersedia untuk mematuhi orang-orang tersebut, maka persepsi tersebut akan memperlemah intensi mahasiwa laki-laki perokok untuk berhenti merokok.

Perceived behavior control adalah saat seseorang harus merasa mampu melakukan perilaku dan perilaku tersebut akan menghasilkan efek yang diharapkan. Jika mahasiswa mempersepsi bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berhenti merokok, merasa yakin bahwa dirinya dapat menghentikan perilaku merokok, serta ditambah dengan faktor yang mendukung seperti lingkungan yang tidak merokok, kesehatan yang memburuk, dan adanya kesibukan beraktivitas maka mereka akan memiliki persepsi bahwa berhenti merokok adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Persepsi ini akan memperkuat intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok. Jika mahasiswa mempersepsi bahwa mereka tidak memiliki kemampuan dalam melakukan usaha berhenti merokok, serta adanya faktor yang mempersulit


(21)

12

Universitas Kristen Maranatha

seperti tinggal di lingkungan keluarga dan lingkungan pergaulan yang mayoritas perokok, kurangnya kegiatan, ataupun stress, maka mereka akan memiliki persepsi bahwa berhenti merokok adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Persepsi ini akan memperlemah intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok.

Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengurangi jumlah perokok, diantaranya adalah pemasangan pesan pada bungkus rokok. Pesan yang terdapat pada bungkus rokok ini diharapkan dapat menimbulkan intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok. Pesan-pesan yang berisi sugesti akan menyentuh kognisi mahasiswa laki-laki perokok dan mengarahkan opini mahasiswa laki-laki perokok dan apabila cukup kuat akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu (Azwar, 2007), dalam hal ini perilaku berhenti merokok.

Pesan yang tertera di bungkus rokok dapat berupa loss-framed messages maupun gain-framed messages. Loss-gain-framed messages menekankan hasil negatif dari merokok, seperti peningkatan risiko terkena penyakit dan risiko kematian. Sementara itu, gain-framed messages menekankan manfaat kesehatan dari berhenti merokok, seperti penurunan risiko terkena penyakit dan risiko kematian akibat tembakau. Kedua jenis pesan ini sama-sama berisi informasi yang akan diolah oleh kognisi mahasiswa laki-laki perokok. Informasi yang tertera pada setiap gambar diharapkan akan membangkitkan atensi mahasiswa perokok kemudian menjadi dasar evaluasi mengenai hasil yang berhubungan dengan perilaku berhenti merokok.

Loss-framed messages yang tertera di bungkus rokok yang lebih menonjolkan kerugian

dari perilaku merokok, misalnya “Merokok dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung

koroner dan kanker paru-paru”, akan menjadi informasi yang diolah secara kognitif setelah mahasiswa laki-laki perokok memberikan atensi terhadap gambar tersebut. Mahasiswa tersebut kemudian mempersepsi informasi kerugian merokok itu dengan menggabungkan pengetahuan


(22)

13

Universitas Kristen Maranatha

sebelumnya mengenai kerugian merokok. Loss-framed messages ini akan memberikan konfirmasi terhadap pengetahuan tentang kerugian merokok yang selanjutkan menjadi dasar evaluasi mengenai hasil dari perilaku merokok. Jika mahasiswa laki-laki perokok mengevaluasi bahwa merokok itu memiliki konsekuensi negatif, mereka akan cenderung bersikap unfavorable terhadap perilaku merokok.

Kerugian yang ditonjolkan dalam pesan tersebut juga dapat membuat mahasiswa laki-laki perokok cenderung mengambil resiko (risk-seeking) (Tversky & Kahneman, 1981) dengan cara tetap merokok. Loss-framed messages dapat menimbulkan fear appeals, yaitu perubahan perilaku yang bertujuan untuk mengurangi rasa takut mahasiswa laki-laki perokok akan akibat buruk yang ditimbulkan rokok pada kesehatan mereka. Rasa takut ini dapat meningkatkan intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok, namun efeknya merupakan jangka pendek dan ditujukan untuk perubahan perilaku yang sifatnya non-repetitif, bukan untuk perilaku yang harus dipertahankan dalam waktu lama seperti berhenti merokok (Taylor, 1991). Hal ini membuat intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok menjadi lemah.

Gain-framed messages di bungkus rokok yang lebih menonjolkan keuntungan dari

perilaku berhenti merokok, misalnya “Berhenti merokok dapat memperpanjang usia”, akan menjadi informasi yang diolah secara kognitif setelah mahasiswa laki-laki perokok memberikan atensi terhadap gambar tersebut. Mahasiswa tersebut kemudian mempersepsi informasi keuntungan berhenti merokok itu dengan menggabungkan pengetahuan sebelumnya mengenai keuntungan berhenti merokok. Gain-framed messages ini akan memberikan konfirmasi terhadap pengetahuan tentang keuntungan berhenti merokok yang selanjutkan menjadi dasar evaluasi mengenai hasil dari perilaku berhenti merokok. Jika jika mahasiswa laki-laki perokok


(23)

14

Universitas Kristen Maranatha

mengevaluasi bahwa berhenti merokok itu memiliki konsekuensi positif, mereka akan cenderung bersikap favorable terhadap perilaku berhenti merokok.

Keuntungan yang ditonjolkan dalam pesan tersebut juga dapat membuat mahasiswa laki-laki perokok cenderung enggan untuk mengambil resiko (risk-aversion) (Tversky & Kahneman, 1981) dengan cara berhenti merokok. Pemberian informasi yang disertai dengan efek positif seperti yang tertera pada gain-framed messages (misalnya kesehatan yang baik atau daya tarik fisik), akan lebih efektif memotivasi mahasiswa laki-laki perokok untuk merubah perilaku merokok mereka (Evans, Rozelle, Lasater, Dembroski, &Allen, 1970; Leventhal, Singer, & Jones, 1965, dalam Taylor, 1991). Menurut protection motivation theory, mahasiswa laki-laki perokok akan memiliki intensi untuk melakukan tindakan yang disarankan untuk mengurangi ancaman kesehatan (Rogers, dalam Albery & Munafo, 2008), yakni dengan cara berhenti merokok.

Gain-framed messages lebih efektif untuk memotivasi perilaku pencegahan (Detweiler et al., 1999) seperti berhenti merokok untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan karena perilaku ini menghasilkan outcome yang relatif pasti yakni terhindar dari masalah kesehatan. Selain itu, gain-framed messages juga dapat menguatkan intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk perilaku yang sifatnya repetitif dan memiliki efek yang panjang, yakni berhenti merokok. Hal ini membuat intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok menjadi kuat.


(24)

15


(25)

16

Universitas Kristen Maranatha

1.6 Asumsi Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengasumsikan bahwa :

1. Mahasiswa laki-laki perokok membutuhkan intensi untuk menghasilkan perilaku berhenti merokok.

2. Derajat intensi untuk berhenti merokok pada mahasiswa laki-laki perokok berbeda-beda. 3. Kuat-lemahnya intensi untuk berhenti merokok dipengaruhi oleh determinan-determinan

intensi, mencakup attitude towards behavior, subjective norm, dan perceived behavior control.

4. Pesan yang tercantum di bungkus rokok, baik loss-framed messages maupun gain-framed messages mempengaruhi intensi mahasiswa laki-laki perokok untuk berhenti merokok. 5. Loss-framed messages yang tertera di bungkus rokok membuat mahasiswa laki-laki

perokok cenderung mencari risiko dengan cara tetap merokok.

6. Loss-framed messages yang tertera di bungkus rokok meningkatkan intensi berhenti merokok yang hanya bertahan dalam waktu singkat.

7. Gain-framed messages akan membuat mahasiswa laki-laki perokok cenderung enggan untuk mengambil resiko sehingga akan menghasilkan intensi untuk berhenti merokok. 8. Gain-framed messages membuat mahasiswa laki-laki perokok memiliki intensi untuk

berhenti merokok karena itu adalah tindakan yang disarankan untuk mengurangi ancaman kesehatan.

9. Gain-framed messages meningkatkan intensi berhenti merokok yang bertahan dalam jangka waktu lebih lama.


(26)

17

Universitas Kristen Maranatha

1.7 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah :

Terdapat perbedaan peningkatan skor intensi untuk berhenti merokok antara kelompok mahasiswa laki-laki perokok yang menerima gain-framed messages dan kelompok mahasiswa laki-laki perokok yang menerima loss-framed messages.


(27)

67 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 40 mahasiswa laki-laki perokok di Universitas “X” Bandung mengenai pengaruh gain-framed messages dan loss-framed messages terhadap intensi berhenti merokok, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Kelompok mahasiswa laki-laki perokok yang menerima gain-framed messages dan

kelompok mahasiswa laki-laki perokok yang menerima loss-framed messages tidak berbeda peningkatan skor intensinya.

2. Terdapat peningkatan skor intensi seiring berjalannya waktu untuk kelompok gain-framed messages dan kelompok loss-gain-framed messages yang berarti kedua jenis message mempunyai pengaruh terhadap peningkatan intensi saat diberikan secara repetitif.

3. Gain-framed messages memiliki kecenderungan pengaruh yang lebih besar dalam meningkatkan intensi berhenti merokok walaupun secara uji statistik perbedaannya tidak signifikan.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka saran yang dapat dipertimbangkan, yaitu :


(28)

68

Universitas Kristen Maranatha

5.2.1. Saran Teoretis

1. Peneliti selanjutnya disarankan dapat menambah jumlah responden sehingga hasil penelitian dapat lebih menggambarkan populasi dengan lebih akurat.

2. Peneliti selanjutnya disarankan dapat mengukur juga determinan-determinan intensi berhenti merokok bukan hanya di hari pertama, melainkan juga pada hari terakhir untuk dapat melihat pengaruh gain-framed messages atau loss-framed messages terhadap determinan.

3. Peneliti selanjutnya disarankan dapat menambah data mengenai kondisi pribadi responden, seperti penghayatan risiko terkena penyakit bila melanjutkan merokok dan bila berhenti merokok serta pandangan terhadap perilaku berhenti merokok.

4. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambahkan kriteria karakterisitik responden secara lebih spesifik seperti jumlah konsumsi rokok per hari dan lamanya merokok yang diseragamkan sehingga pengaruh adiksi menjadi salah satu kontrol.

5.2.2. Saran praktis

1. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat menggunakan untuk menurunkan jumlah konsumsi rokok masyarakat dengan cara mewajibkan perusahaan rokok untuk mencantumkan tidak hanya gambar seram dan kerugian merokok (loss-framed messages) tetapi juga kalimat positif berisi keuntungan berhenti merokok (gain-framed messages) pada bungkus rokok.

2. Bagi pimpinan Universitas “X”, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menghimbau mahasiswa agar berhenti merokok dengan cara memasang gambar-gambar berisi gain-framed messages dan loss-framed messages di sekitar area kampus, dengan persentase gain-framed messages yang lebih besar.


(29)

69

Universitas Kristen Maranatha

3. Untuk meningkatkan intensi berhenti merokok, maka disarankan gambar-gambar yang dipasang di area kampus terletak di banyak tempat karena hasil menunjukkan bahwa adanya pengulangan merupakan hal yang penting untuk dapat meningkatkan perubahan intensi berhenti merokok. Dengan demikian, semakin sering pesan-pesan yang disampaikan diulang, maka akan memunculkan intensi yang lebih kuat untuk berhenti merokok.


(30)

i

PENGARUH LOSS-FRAMED MESSAGES DAN GAIN-FRAMED

MESSAGES TERHADAP INTENSI BERHENTI MEROKOK

(STUDI EKSPERIMEN PADA MAHASISWA LAKI-LAKI PEROKOK DI

UNIVERSITAS “X” DI KOTA BANDUNG)

SKRIPSI

Diajukan untuk menempuh Ujian Sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha

Oleh :

NADIA ANINDITA KARNADI 1230005

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG


(31)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memperkenankan saya untuk menyelesaikan penyusunan skripsi ini semester IX di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha. Adapun judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh Loss-framed Messages dan Gain-Loss-framed Messages terhadap Intensi Berhenti Merokok (Studi Eksperimen pada Mahasiswa Laki-laki Perokok di Universitas “X” di Kota Bandung)”.

Pada penulisan skripsi ini saya merasakan masih banyak kekurangan yang dialami baik dalam pembuatan maupun pada penulisan kata-kata yang ada. Selama pengerjaan skripsi ini saya mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu saya ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Tuhan Yesus yang telah memberikan kesempatan dan membuat segala sesuatunya mungkin untuk menyelesaikan tugas ini.

2. Irene Prameswari E., M.Si., Psikolog selaku dekan yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian serta kemudahan selama penyusunan skripsi ini.

3. Dr. Henndy Ginting, M.Si., Psik. selaku dosen pembimbing utama yang telah membimbing dengan kasih, menyemangati dan memberikan dukungan selama penyusunan skripsi ini dengan sepenuh hati.

4. Maria Yuni Megarini, M.Psi., Psik. selaku dosen pembimbing pendamping yang telah membimbing dengan kasih, menyemangati dan memberikan dukungan selama penyusunan skripsi ini dengan sepenuh hati.

5. Ellen Theresia, M.Psi., Psik. yang telah berbaik hati menjawab berbagai pertanyaan dan membantu penyusunan skripsi ini.


(32)

vi

6. Kedua orang tua saya yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan semangat, dukungan dan fasilitas kepada saya untuk bisa menyelesaikan penelitian ini.

7. Damar Hanandito yang telah berbaik hati meluangkan waktunya dalam membantu pembuatan gambar, menemani, serta memberi dukungan dan dorongan yang tidak biasa selama penyusunan skripsi ini.

8. Teman-teman: Anas, Sherly, Milla, Vanni, Puji, Tania, Reren, Itin, Angie, Sheren, Fey, Devi, dan Cy yang telah memberikan semangat, dukungan, dan hiburan selama menjalani perkuliahan serta dalam penyelesaian skripsi ini.

9. Teman-teman mahasiswa Universitas ”X” yang telah meluangkan waktu dan bekerja sama sebagai responden dalam penelitian ini.

10. Pihak-pihak lain yang tidak saya sebut satu persatu dalam pembuatan skripsi ini.

Bandung, November 2016


(33)

70 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Ajzen, Icek. (1991). The Theory of Planned Behavior. University of Massachusetts at Amherst.

Albery, Ian P. & Marcus Munafo. (2011). Psikologi Kesehatan Panduan Lengkap dan Komprehensif Bagi Studi Psikologi Kesehatan. Cetakan I. Yogyakarta : Palmall. Albery, Ian P. & Marcus Munafo. (2008). Key Concepts in Health Psychology. London :

Sage Publications

Azwar, S. (2007). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi 2. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Banks, S. M., Salovey, P., Greener, S., Rothman, A. J., Moyer, A., Beauvais, J., et al. (1995). The effects of message framing on mammography utilization. Health Psychology 1995;14:178–184. [PubMed: 7789354]

Christensen, Larry B. (1997). Experimental Methodology. Edisi 7. Needham Heights : Allyn and Bacon.

Durlak, Joseph A. (2009). How to Select, Calculate, and Interpret Effect Sizes. Journal of Pediatric Psychology 34(9) pp. 917928, 2009. doi:10.1093/jpepsy/jsp004

Elliott & Shanahan. (2008). Evaluation of the Effectiveness of the Graphic Health Warnings

on Tobacco Product Packaging.Diambil dari

www.health.gov.au/internet/main/publishing.nsf/Content/0DBCB8D4FA37F440CA2 57BF0001F9FAB/$File/lit-rev-hw-eval.pdf.

Fishbein, M., & Ajzen, I. (2010). Predicting and Changing Behavior : The Reasoned Action Approach. New York : Psychology Press.

Graziano, A. M. & Raulin, M. L. (2000). Research methods: A process of inquiry. New York : Allyn & Bacon.

Krugman, D. M., Fox, R. J., Fischer, P. M. (1999). Do cigarette warnings warn? Understanding what it will take to develop more effective warnings. Journal of Health Communication 1999;4:95–104. [PubMed:10977285]

Mays, Darren, Turner, M. M., Zhao, Xiaoquan, Evans, W. D., Luta, George, Tercyak, K. P. (2014). Framing Pictorial Cigarette Warning Labels to Motivate Young Smokers to Quit. Nicotine & Tobacco Journal.doi: 10.1093/ntr/ntu164

Nasution, Indri Kemala. (2007). Perilaku Merokok Pada Remaja. Skripsi. Medan : Universitas Sumatera Utara. Diambil dari repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 3642/3/132316815.pdf.txt. Diakses pada 7 Maret 2015.


(34)

71 Universitas Kristen Maranatha

Pranata, Agus. (2012). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok pada Mahasiswa Laki-laki di Asrama Putra. Jurnal STIKES,Vol 5, No 1, 104-105.

Rothman, A. J., Salovey, P. (1997). Shaping perceptions to motivate healthy behavior: The role of message framing. Psychological Bulletin 1997;121:3–19. [PubMed: 9000890].

Diambil dari

http://ei.yale.edu/wpcontent/uploads/2014/02/pub28_Rothmanetal_1997Shapingperce ptionstomotivatehealthybehaviorTheroleofmessageframing.pdf.

Rothman, A. J., Bartels, R. D., Wlaschin, J., Salovey, P. (2006). The Strategic Use of Gain- and Loss-Framed Messages to Promote Healthy Behavior : How Theory Can Inform Practice. Journal of Communication 56 (2006) S202-S220. doi:10.1111/j.1460-2466.2006.00290.x

Santoso, Singgih. (2015). Menguasai SPSS 22 From Basic to Expert Skills. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Schneider, T. R., Salovey, P., Apanovitch, A. M., Pizarro, J., McCarthy, D., Zullo, J., et al. (2001). The effects of message framing and ethnic targeting on mammography use among low-income women. Health Psychology 2001;20:256–266. [PubMed:

11515737]. Diambil dari

http://php.scripts.psu.edu/users/n/x/nxy906/COMPS/messageframing/

message%20framing%20lit/Schneidermulticultural.pdf. Diakses pada 2 Oktober 2015.

Sitepoe, M., (2000). Kekhususan Rokok Indonesia. Cetakan pertama. Jakarta: PT Grasindo Sitepoe, M. (1997). Usaha Mencegah Bahaya Merokok. Jakarta: Gramedia

Sher, S., & McKenzie, C. R. M. (2008). Framing Effects. Diambil dari http://psy2.ucsd.edu/~mckenzie/SHERMCKENZIEFRAMINGEFFECTSFINAL1.pdf Sugiono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung : CV. Alfabeta

Taylor, Shelley E. (1991). Health Psychology. 2nd Edition. Singapore : McGraw-Hill.

Toll, B. A., O’Maley, S.S., Katulak, N. A., Wu, R.,Dublin, J. A., Latimer, A., et al. (2007).

Comparing Gain- and Loss-Framed Messages for Smoking Cessation with Sustained-Release Bupropion : A Randomized Controlled Trial. Psycho Addict Behav 2007 December ; 21(4): 534-544.doi:10.1037/0893-164X.21.4.534.

Toll, B. A., Salovey, P. S., O’Maley, S.S.,Mazure, C.M., Latimer, A., Mckee, S. A. (2008).

Message Framing For Smoking Cessation : The Interaction of Risk Perceptions and Gender. Nicotine Tob Res. 2008 January ; 10(1): 195-200. doi:10.1080/14622200701767803.


(35)

72 Universitas Kristen Maranatha

Tversky A., Kahneman D.(1981). The framing of decisions and the psychology of choice. Science 1981 January 30; 211:453–458. [PubMed: 7455683]. Diambil dari http://psych.hanover.edu/classes/cognition/papers/tversky81.pdf.

Wang, Y., Ruhe, G. The Cognitive Process of Decision Making. (2007). Int’l Journal of Cognitive Informatics and Natural Intelligence, 1(2), 73-85, April-June 2007 73. Diambil dari http://www.ucalgary.ca/icic/files/icic/67-IJCINI-1205-DecisionMaking.pdf.


(36)

73 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

Anggreati, Rosa. (29 September 2014). Peneliti Ungkap Cara Efektif Hentikan Kebiasaan

Merokok. Diambil dari

www.rona.metrotvnews.com/read/2014/09/29/298001/peneliti-ungkap-cara-efektif-hentikan-kebiasaan-merokok. Diakses pada 4 Maret 2015.

Bararah, Vera Farah. (7 Juli 2011). 15 Penyakit Akibat Rokok. Diambil dari www.health.detik.com/read/2011/07/07/174913/1676916/763/15-penyakit-akibat-rokok. Diakses pada 28 Maret 2015.

Julias, Ferdi. (12 Oktober 2014). Indonesia Berada di Urutan Ketiga Jumlah Perokok Terbesar Di Dunia. Diambil dari www.swa.co.id/business-research/indonesia-berada-di-urutan-ketiga-jumlah-perokok-terbesar-di-dunia. Diakses pada 4 Maret 2015. Kinanti, Ajeng Anastasia. (29 April 2013). 18 Manfaat yang Bisa Didapat Bila Stop Merokok

Sekarang Juga. Diambil dari

www.health.detik.com/read/2013/04/29/190203/2233462/763/ 18-manfaat-yang-bisa-didapat-bila-stop-merokok-sekarang-juga?l992205755. Diakses pada 28 Maret 2015. Mazumdar, Tulip. (8 Januari 2014). Perokok dunia capai satu miliar. Diambil dari

www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/01/140108_majalah_lain_perokok_dunia. Diakses pada 4 Maret 2015.

Nilawaty, Cheta. (9 Januari 2014). Perokok Pria Indonesia Terbanyak ke-2 di Dunia. Diambil dari www.tempo.co/read/news/2014/01/09/060543467/Perokok-Pria-Indonesia-Terbanyak-ke-2-di-Dunia . Diakses pada 4 Maret 2015.

Putera, Kevin Sanly. (11 Agustus 2014). Desain Bungkus Rokok Pengaruhi Minat Merokok.

Diambil dari

www.health.kompas.com/read/2014/08/11/130419923/Desain.Bungkus.Rokok .Pengaruhi.Minat.Merokok. Diakses pada 4 Maret 2015.

Shank, Sarah. (20 November 2013). New Study Supports That Graphic Health Warning Labels On Cigarettes Would Reduce Smoking In U.S. Young Adults. Diambil dari www.legacyforhealth.org/newsroom/press-releases/new-study-supports-that-graphic-health-warning-labels-on-cigarettes-would-reduce-smoking-in-u.s.-young-adults. Diakses pada 4 Maret 2015.

Syah, Efran. (22 Januari 2014). Manfaat yang Anda Peroleh dari Berhenti Merokok. Diambil dari www.medkes.com/2014/01/manfaat-yang-anda-peroleh-dari-berhenti-merokok.html. Diakses pada 28 Maret 2015.

Teber, Karen. (15 September 2014). Identifying a Better Message Strategy for Dissuading

Smokers: Add the Positive. Diambil dari

www.gumc.georgetown.edu/news/Identifying-a-Better-Message-Strategy-for-Dissuading-Smokers-Add-the-Positive. Diakses pada 1 April 2015.


(37)

74 Universitas Kristen Maranatha

Tendra, H. (2003). Merokok dan Kesehatan. Kompas. Diambil dari www.domeclinic.com/lifestyle/merokok-a-kesehatan.pdf. Diakses pada 28 Maret 2015

Wahyuningsih, Merry. (3 Februari 2014). Detik-detik Perubahan Tubuh yang Terjadi Ketika Anda Berhenti Merokok.Diambil dari http://health.detik.com/read/2014/02/03/ 100811/2485119/763/9/ detik-detik-perubahan-tubuh-yang-terjadi-ketika-anda-berhenti-merokok. Diakses pada 6 Maret 2015.


(1)

vi

6. Kedua orang tua saya yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan semangat, dukungan dan fasilitas kepada saya untuk bisa menyelesaikan penelitian ini.

7. Damar Hanandito yang telah berbaik hati meluangkan waktunya dalam membantu pembuatan gambar, menemani, serta memberi dukungan dan dorongan yang tidak biasa selama penyusunan skripsi ini.

8. Teman-teman: Anas, Sherly, Milla, Vanni, Puji, Tania, Reren, Itin, Angie, Sheren, Fey, Devi, dan Cy yang telah memberikan semangat, dukungan, dan hiburan selama menjalani perkuliahan serta dalam penyelesaian skripsi ini.

9. Teman-teman mahasiswa Universitas ”X” yang telah meluangkan waktu dan bekerja sama sebagai responden dalam penelitian ini.

10. Pihak-pihak lain yang tidak saya sebut satu persatu dalam pembuatan skripsi ini.

Bandung, November 2016


(2)

70 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Ajzen, Icek. (1991). The Theory of Planned Behavior. University of Massachusetts at Amherst.

Albery, Ian P. & Marcus Munafo. (2011). Psikologi Kesehatan Panduan Lengkap dan Komprehensif Bagi Studi Psikologi Kesehatan. Cetakan I. Yogyakarta : Palmall. Albery, Ian P. & Marcus Munafo. (2008). Key Concepts in Health Psychology. London :

Sage Publications

Azwar, S. (2007). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi 2. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Banks, S. M., Salovey, P., Greener, S., Rothman, A. J., Moyer, A., Beauvais, J., et al. (1995). The effects of message framing on mammography utilization. Health Psychology

1995;14:178–184. [PubMed: 7789354]

Christensen, Larry B. (1997). Experimental Methodology. Edisi 7. Needham Heights : Allyn and Bacon.

Durlak, Joseph A. (2009). How to Select, Calculate, and Interpret Effect Sizes. Journal of Pediatric Psychology 34(9) pp. 917928, 2009. doi:10.1093/jpepsy/jsp004

Elliott & Shanahan. (2008). Evaluation of the Effectiveness of the Graphic Health Warnings

on Tobacco Product Packaging.Diambil dari

www.health.gov.au/internet/main/publishing.nsf/Content/0DBCB8D4FA37F440CA2 57BF0001F9FAB/$File/lit-rev-hw-eval.pdf.

Fishbein, M., & Ajzen, I. (2010). Predicting and Changing Behavior : The Reasoned Action Approach. New York : Psychology Press.

Graziano, A. M. & Raulin, M. L. (2000). Research methods: A process of inquiry. New York : Allyn & Bacon.

Krugman, D. M., Fox, R. J., Fischer, P. M. (1999). Do cigarette warnings warn? Understanding what it will take to develop more effective warnings. Journal of

Health Communication 1999;4:95–104. [PubMed:10977285]

Mays, Darren, Turner, M. M., Zhao, Xiaoquan, Evans, W. D., Luta, George, Tercyak, K. P. (2014). Framing Pictorial Cigarette Warning Labels to Motivate Young Smokers to Quit. Nicotine & Tobacco Journal.doi: 10.1093/ntr/ntu164

Nasution, Indri Kemala. (2007). Perilaku Merokok Pada Remaja. Skripsi. Medan : Universitas Sumatera Utara. Diambil dari repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 3642/3/132316815.pdf.txt. Diakses pada 7 Maret 2015.


(3)

71 Universitas Kristen Maranatha Pranata, Agus. (2012). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok pada Mahasiswa

Laki-laki di Asrama Putra. Jurnal STIKES,Vol 5, No 1, 104-105.

Rothman, A. J., Salovey, P. (1997). Shaping perceptions to motivate healthy behavior: The role of message framing. Psychological Bulletin 1997;121:3–19. [PubMed: 9000890].

Diambil dari

http://ei.yale.edu/wpcontent/uploads/2014/02/pub28_Rothmanetal_1997Shapingperce ptionstomotivatehealthybehaviorTheroleofmessageframing.pdf.

Rothman, A. J., Bartels, R. D., Wlaschin, J., Salovey, P. (2006). The Strategic Use of Gain- and Loss-Framed Messages to Promote Healthy Behavior : How Theory Can Inform Practice. Journal of Communication 56 (2006) S202-S220. doi:10.1111/j.1460-2466.2006.00290.x

Santoso, Singgih. (2015). Menguasai SPSS 22 From Basic to Expert Skills. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Schneider, T. R., Salovey, P., Apanovitch, A. M., Pizarro, J., McCarthy, D., Zullo, J., et al. (2001). The effects of message framing and ethnic targeting on mammography use among low-income women. Health Psychology 2001;20:256–266. [PubMed:

11515737]. Diambil dari

http://php.scripts.psu.edu/users/n/x/nxy906/COMPS/messageframing/

message%20framing%20lit/Schneidermulticultural.pdf. Diakses pada 2 Oktober 2015.

Sitepoe, M., (2000). Kekhususan Rokok Indonesia. Cetakan pertama. Jakarta: PT Grasindo Sitepoe, M. (1997). Usaha Mencegah Bahaya Merokok. Jakarta: Gramedia

Sher, S., & McKenzie, C. R. M. (2008). Framing Effects. Diambil dari http://psy2.ucsd.edu/~mckenzie/SHERMCKENZIEFRAMINGEFFECTSFINAL1.pdf Sugiono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung : CV. Alfabeta

Taylor, Shelley E. (1991). Health Psychology. 2nd Edition. Singapore : McGraw-Hill.

Toll, B. A., O’Maley, S.S., Katulak, N. A., Wu, R.,Dublin, J. A., Latimer, A., et al. (2007).

Comparing Gain- and Loss-Framed Messages for Smoking Cessation with Sustained-Release Bupropion : A Randomized Controlled Trial. Psycho Addict Behav 2007 December ; 21(4): 534-544.doi:10.1037/0893-164X.21.4.534.

Toll, B. A., Salovey, P. S., O’Maley, S.S.,Mazure, C.M., Latimer, A., Mckee, S. A. (2008).

Message Framing For Smoking Cessation : The Interaction of Risk Perceptions and Gender. Nicotine Tob Res. 2008 January ; 10(1): 195-200. doi:10.1080/14622200701767803.


(4)

72 Universitas Kristen Maranatha Tversky A., Kahneman D.(1981). The framing of decisions and the psychology of choice.

Science 1981 January 30; 211:453–458. [PubMed: 7455683]. Diambil dari

http://psych.hanover.edu/classes/cognition/papers/tversky81.pdf.

Wang, Y., Ruhe, G. The Cognitive Process of Decision Making. (2007). Int’l Journal of Cognitive Informatics and Natural Intelligence, 1(2), 73-85, April-June 2007 73. Diambil dari http://www.ucalgary.ca/icic/files/icic/67-IJCINI-1205-DecisionMaking.pdf.


(5)

73 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN

Anggreati, Rosa. (29 September 2014). Peneliti Ungkap Cara Efektif Hentikan Kebiasaan

Merokok. Diambil dari

www.rona.metrotvnews.com/read/2014/09/29/298001/peneliti-ungkap-cara-efektif-hentikan-kebiasaan-merokok. Diakses pada 4 Maret 2015.

Bararah, Vera Farah. (7 Juli 2011). 15 Penyakit Akibat Rokok. Diambil dari www.health.detik.com/read/2011/07/07/174913/1676916/763/15-penyakit-akibat-rokok. Diakses pada 28 Maret 2015.

Julias, Ferdi. (12 Oktober 2014). Indonesia Berada di Urutan Ketiga Jumlah Perokok Terbesar Di Dunia. Diambil dari www.swa.co.id/business-research/indonesia-berada-di-urutan-ketiga-jumlah-perokok-terbesar-di-dunia. Diakses pada 4 Maret 2015. Kinanti, Ajeng Anastasia. (29 April 2013). 18 Manfaat yang Bisa Didapat Bila Stop Merokok

Sekarang Juga. Diambil dari

www.health.detik.com/read/2013/04/29/190203/2233462/763/ 18-manfaat-yang-bisa-didapat-bila-stop-merokok-sekarang-juga?l992205755. Diakses pada 28 Maret 2015. Mazumdar, Tulip. (8 Januari 2014). Perokok dunia capai satu miliar. Diambil dari

www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/01/140108_majalah_lain_perokok_dunia. Diakses pada 4 Maret 2015.

Nilawaty, Cheta. (9 Januari 2014). Perokok Pria Indonesia Terbanyak ke-2 di Dunia. Diambil dari www.tempo.co/read/news/2014/01/09/060543467/Perokok-Pria-Indonesia-Terbanyak-ke-2-di-Dunia . Diakses pada 4 Maret 2015.

Putera, Kevin Sanly. (11 Agustus 2014). Desain Bungkus Rokok Pengaruhi Minat Merokok.

Diambil dari

www.health.kompas.com/read/2014/08/11/130419923/Desain.Bungkus.Rokok .Pengaruhi.Minat.Merokok. Diakses pada 4 Maret 2015.

Shank, Sarah. (20 November 2013). New Study Supports That Graphic Health Warning Labels On Cigarettes Would Reduce Smoking In U.S. Young Adults. Diambil dari www.legacyforhealth.org/newsroom/press-releases/new-study-supports-that-graphic-health-warning-labels-on-cigarettes-would-reduce-smoking-in-u.s.-young-adults. Diakses pada 4 Maret 2015.

Syah, Efran. (22 Januari 2014). Manfaat yang Anda Peroleh dari Berhenti Merokok. Diambil dari www.medkes.com/2014/01/manfaat-yang-anda-peroleh-dari-berhenti-merokok.html. Diakses pada 28 Maret 2015.

Teber, Karen. (15 September 2014). Identifying a Better Message Strategy for Dissuading

Smokers: Add the Positive. Diambil dari

www.gumc.georgetown.edu/news/Identifying-a-Better-Message-Strategy-for-Dissuading-Smokers-Add-the-Positive. Diakses pada 1 April 2015.


(6)

74 Universitas Kristen Maranatha Tendra, H. (2003). Merokok dan Kesehatan. Kompas. Diambil dari www.domeclinic.com/lifestyle/merokok-a-kesehatan.pdf. Diakses pada 28 Maret 2015

Wahyuningsih, Merry. (3 Februari 2014). Detik-detik Perubahan Tubuh yang Terjadi Ketika Anda Berhenti Merokok.Diambil dari http://health.detik.com/read/2014/02/03/ 100811/2485119/763/9/ detik-detik-perubahan-tubuh-yang-terjadi-ketika-anda-berhenti-merokok. Diakses pada 6 Maret 2015.