LINGKUNGAN PENDIDIKAN MAKALAH Disusun Gu

LINGKUNGAN PENDIDIKAN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Syarat Kelulusan pada
Mata Kuliah: Ilmu Pendidikan
Dosen Pembimbing: Nur Uhbiyati

Disusun:
1. Wiwit Setyowati

(1603016016)

2. Ais Rahmawati

(1603016025)

3. Prima Aji Saputra

(1603016026)

4. Rizki Karunia Sarlestia U

(1603016038)

PAI 1 A
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta
salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita
semua ke jalan kebenaran yang diridhoi Allah SWT.
Maksud penulis membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu
Pendidikan yang diamanatkan oleh dosen penulis. Makalah ini kami buat berdasarkan buku
penunjang yang miliki.dan untuk mempermudahnya kami juga menyertai berhubungan
dengan kemajuan kedepan. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak
sekali kekurangannya baik dalam cara penulisan maupun dalam isi.
Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini. Mudah-mudahan makalah ini
dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis yang membuat dan umumnya bagi yang membaca
makalah ini, untuk menambah pengetahuan tentang lingkungan pendidikan. Aamiin

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………………………..i
Kata
Pengantar………………………………………………………………………………….ii
Daftar Isi……………………………………………………………………………………….iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………
1
A. Latar Belakang…………………………………………………………………………...1
B. Rumusan Masalah………………………………………………………………………..2
C. Tujuan……………………………………………………………………………………2
D. Manfaat…………………………………………………………………………………..2
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………….3
A. Pengertian Pendidikan…………………………………………………………………..3
B. Pengertian Lingkungan…………………………………………………………………4
C. Pengertian, Fungsi, dan Jenis-jenis Lingkungan Pendidikan…………………………..5
D. Pengaruh Timbal Balik Antara Ketiga Lingkungan Pendidikan………………………
20
BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………...21
A. Kesimpulan……………………………………………………………………………..21
B. Saran……………………………………………………………………………………22
Daftar Pustaka…….…………………………………………………………………………..23

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan pendidikan selalu berlangsung di dalam suatu lingkungan. Dalam konteks
pendidikan, lingkungan dapat diartikan, sebagai segala sesuatu yang berada di luar diri anak.
Lingkungan dapat berupa hal-hal nyata, seperti tumbuhan, orang, keadaan, politik, sosialekonomi, binatang, kebudayaan, kepercayaan, dan upaya lain yang dilakukan oleh manusia
termasuk di dalamnya pendidikan.
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik berupa
benda mati, makhluk hidup, ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi termasuk kondisi
masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada individu. Seperti
lingkungan tempat pendidikan berlangsung dan lingkungan tempat anak bergaul. Lingkungan
ini kemudian secara khusus disebut sebagai lembaga pendidikan sesuai dengan jenis dan
tanggungjawab yang secara khusus menjadi bagian dari karakter lembaga tersebut.
Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan
masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan, yang akan
mempengaruhi manusia secara bervariasi.1 Seperti diketahui, setiap bayi manusia dilahirkan
dalam lingkungan keluarga tertentu, yang merupakan lingkungan pendidikan terpenting
sampai anak mulai masuk taman kanak-kanak ataupun sekolah. Oleh karena itu, keluarga
sering dipandang sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Makin bertambahnya
usia manusia, peranan sekolah dan masyarakat luas dipandang makin penting, namun peran
keluarga tidak terputus.
Di dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas, peranan ketiga tripusat pendidikan
itu menjiwai berbagai ketentuan di dalamnya. Pasal 1 Ayat 3 menetapkan bahwa Sisdiknas
1 Umar Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan, PT Asdi Mahasatya, Jakarta, Hlm.162

adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang
berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan
nasional. Pasal selanjutnya, menetapkan tentang dua jalur pendidikan, yakni jalur pendidikan
sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah (meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus, dan
sebagainya). Sedangkan penjelasan UU No. 2 Tahun 1989 itu menetapkan tentang tanggung
jawab bersama antara keluarga, masyarakat, pemerintah dalam penyelenggaran pendidikan.
Oleh karena itu, kajian tentang peranan dan fungsi setiap pusat pendidikan tersebut sangat
penting, karena akan memberikan wawasan yang tepat serta pemahaman yang luas dan
menyeluruh tentang lingkup kegiatan dan upaya pendidikan itu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud pendidikan?
2. Apa yang dimaksud lingkungan?
3. Apa pengertian, fungsi, dan jenis-jenis lingkungan pendidikan?
4. Bagaimana pengaruh timbal balik antara ketiga lingkungan pendidikan terhadap
pengembangan lingkungan peserta didik?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari pendidikan.
2. Untuk mengetahui pengertian dari lingkungan.
3. Untuk mengetahui pengertian, fungsi, dan jenis-jenis dari lingkungan pendidikan.
4. Untuk mengetahui apa saja pengaruh timbal balik antara ketiga lingkungan pendidikan
terhadap pengaruh lingkungan peserta didik.

D. Manfaat
1. Mengetahui pengertian dari pendidikan.
2. Mengetahui pengertian dari lingkungan.
3. Mengetahui pengertian, fungsi, dan jenis-jenis dari lingkungan pendidikan.
4. Mengetahui apa saja pengaruh timbal balik antara ketiga lingkungan pendidikan terhadap
pengaruh lingkungan peserta didik.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian pendidikan
Secara bahasa pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy yang mengandung
makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar oleh seorang pelayan. Pelayan
yang emngantar dan menjemput dinamakan Paedagogos. Dlam bahasa Romawi pendidikan
diistilahkan sebagai educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual (Muhajir,
2000:20). Banyak pendapat yang berlainan tentang pendidikan.Walaupun demikian,
pendidikan berjalan terus tanpa menunggu keseragaman arti.2
Pendidikan adalah usaha yang dijalankan seseorang atau kelompok orang lain agar
menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti
mental. Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia,
karena dimanapun dan kapanpun di dunia terdapat pendidikan. pendidikan pada hakikatnya
merupakan usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri, yaitu untuk
membudayakan manusia.
Pengertian pendidikan menurut para ahli :
1.

Langeveld
Adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak
tertuju pada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap
melaksanakan tugas hidupnya sendiri

2.

John Dewey
Adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secaraintelektual
dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

3.

Ki Hajar Dewantara

2 Abdul Kadir, Dasar-dasar Pendidikan, Kencana Prenada Media Group,Jakarta, 2012, hlm. 59

Adalah tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya,yaitu
menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak itu, agar mereka sebagai manusia
dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya.
4.

UU No. 2 Tahun 1989
Adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.
Sebenarnya esensi dari pendidikan itu sendiri adalah pengalihan (transmisi) kebudayaan

(ilmu pengetahuan, teknologi, ide-ide, etika dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari
generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau
bangsa.3
B. Pengertian Lingkungan
Lingkungan secara umum diartikan sebagai kesatuan ruang dengan segala benda, daya,
keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.
Lingkungan (envirement) meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara
tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes
kita. Jadi lingkungan adalah segala sesuatu yang mempengaruhi individu. Segala sesuatu yang
mempengaruhi itu mungkin berasal dari dalam diri individu(internal environment), dan
mungkin pula berasal dari luar diri individu (external environment). Indivividu dalam hal ini
dapat berbentuk orang atau lembaga. Lingkungan bagi seseorang sebagai individu adalah
segala sesuatu yang berasal dari dalam dirinya (fisik dan psikis) dan sesuatu yang berada
diluar dirinya seperti alam fisika (non manusia) dan manusia.
Lingkungan merupakan suatu komponen system yang ikut menentukan keberhasilan
proses pendidikan. Para pakar pendidikan umumnya sepakat bahwa lingkungan berkorelasi
positif terhadap keberhasilan seseorang. Adanya pepatah kebo gupak neler-neler (orang yang
jahat akan mempengaruhi orang lain yang ada didekatnya untuk berbuat jahat); lingkungan
yang baik akan membuat orang baik dan lingkungan yang buruk akan membuat orang jelek;

3 A. Malik Fadjar. Visi Pembaharuan Pendidikan Islam. (Jakarta: LP3NI, 1998), hlm. 54

wong kang alim kumpulono (berkumpulah para orang-orang yang berilmu), ini menandakan
dukungan terhadap tesis tersebut.
Lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini dengan cara-cara tertentu mempengaruhi
tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life process (Purwanto, 1994: 59).
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun
merupakan factor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya sangat besar pengaruhnya
terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan yang disadari
atau tidak pasti akan mempengaruhi anak.
Lingkungan mencakup beberapa hal:
1. Tempat (lingkungan fisik): Keadaan iklim, keadaan tanah, keadaan alam
2. Kebudayaan (lingkungan budaya): Lingkungan dengan warisan budaya tertentu Bahasa,
seni, ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup, keagamaan.
3. Kelompok hidup bersama (lingkungan sosial atau masyarakat): Keluarga, kelompok
bermain, desa perkumpulan.
C. Pengertian, fungsi, dan jenis-jenis lingkungan pendidikan
Lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai factor lingkungan yang
berpengaruh terhadap praktek pendidikan. Lingkungan pendidikan dapat pula diartikan
sebagai berbagai lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan, yang merupakan
bagian dari tempat berlangsungnya proses pendidikan, dan merupakan bagian dari lingkungan
sosial.
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik berupa
benda mati, makhluk hidup, ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi termasuk kondisi
masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada individu. Seperti
lingkungan tempat pendidikan berlangsung dan lingkungan tempat anak bergaul. Lingkungan
ini kemudian secara khusus disebut sebagai lembaga pendidikan sesuai dengan jenis dan
tanggungjawab yang secara khusus menjadi bagian dari karakter lembaga tersebut
Sebagai pelaksanaan Pasal 31 Ayat 2 dari UUD 1945, telah ditetapkan UU RI No. 2
Tahun 1989 tentang Sisdiknas (Beserta peraturan pelaksanaannya) yang menata kembali
pendidikan di Indonesia, termasuk lingkungan pendidikan. Sisdiknas itu membedakan dua
jalur pendidikan, yakni jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur

pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan
belajar mengajar yang berjenjang dan berkesinambungan, mulai dari pendidikan prasekolah
(taman kanak-kanak), pendidikan dasar (SD dan SLTP), pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi. Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang
diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang harus berjenjang dan
berkesinambungan, baik yang dilembagakan ataupun tidak, yang meliputi pendidikan
keluarga, pendidikan prasekolah (seperti kelompok bermain, dan penitipan anak), kursus,
kelompok belajar, dan lain-lain.
Menurut Hasbullah (2003) lingkungan pendidikan mencakup :
1. Tempat (lingkungan fisik), keadaan iklim, keadaan tanah, keadaan alam.
2. Kebudayaan (lingkungan budaya) dengan warisan budaya tertentu seperti bahasa, seni,
ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup, dan pandangan keagamaan.
3. Kelompok hidup bersama (lingkungan sosial atau masyarakat) keluarga, kelompok
bermain, desa, perkumpulan dan lainnya.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam
berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial, dan budaya), utamanya
berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang
optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutama dimaksudkan agar proses pendidikan
dapat berkembang efisien dan efektif. Seperti diketahui, proses pertumbuhan dan
perkembangan manusia sebagai akibat interaksi dengan lingkungannya akan berlangsung
secara alamiah dengan konsekuensi bahwa tumbuh kembang itu mungkin berlangsung lambat
dan menyimpang dari tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan berbagai usaha sadar
untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan itu sedemikian rupa agar dapat diperoleh
peluang pencapaian tujuan secara optimal, dan dalam waktu serta dengan daya/dana yang
seminimal mungkin. Dengan demikian diharapkan mutu sumber data manusia semakin lama
semakin meningkat. Hal itu hanya dapat diwujudkan apabila setiap lingkungan pendidikan
tersebut dapat melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya.
Dengan mengacu pada pengertian itu lingkungan pendidikan dipilah menjadi 3 yaitu
keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lingkungan pendidikan tersebut dikenal dengan
tripusat pendidikan atau ada yang menyebut tripusat lembaga pendidikan.(Ki Hajar Dewantara
menyebut lingkungan pendidikan yang ketiga sebagai perkumpulan pemuda)

Ketiga lingkungan pendidikan ini sering dirancukan dengan pemilihan pendidikan yang
dikembangkan oleh Philip H. Coombs yaitu pendidikan informal, formal, dan nonformal.
Menurutnya pendidikan informal adalah pendidikan yang tidak terprogram dan tidak
berstruktur, berlangsung kapanpun dan dimanapun juga. Pendidikan formal adalah pendidikan
berprogram, berstruktur dan berlangsung dipersekolahkan. Sedangkan pendidikan nonformal
adalah pendidikan yang berstruktur, berprogram dan berlangsung di luar persekolahan. Selain
itu konsep tripusat pendidikan dapat dirancukan dengan jalur pendidikan (UU No. 2 tahun
1989) yang meliputi jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah.
A. Lingkungan Pendidikan Keluarga
Pada dasarnya manusia merupakan “homo educandum” artinya manusia itu pada
hakikatnya merupakan makhluk yang harus dididik dan mendidik. Manusia yang baru
dilahirkan memerlukan pendidikan dari orang tua mereka dengan tujuan untuk
mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya, sampai mereka menjadi manusia
dewasa yang baik jasmaninya maupun rohaninya. Seberapa pentingnya pendidikan
informal dalam keluarga, diisyaratkan dalam Q.S At-Tahrim: 6, yang berbunyi:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah SWT terhadap apa yang diperintahkan-Nya,
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang selalu diperintahkan.”
Dari ayat tersebut bisa disimpulkan, bagaimana seseorang dapat melindungi diri,
keluarganya sedangkan dia sendiri tidak mengetahui apa-apa. Inilah salah satu pentingnya
pendidikan dalam lingkungan keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Disebut sebagai
lingkungan atau lembaga pendidikan pertama Karena sebelum manusia mengenal lembaga
pendidikan yang lain, lembaga pendidikan inilah yang pertama ada. Selain itu manusia

mengalami proses pendidikan sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan pertama kali
adalah dalam keluarga.
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang
karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti
(nucleus family: ayah, ibu, dan anak), ataupun keluarga yang diperluas (disamping inti, ada
orang lain: kakek/ nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain).4 Pada umumnya jenis
kedualah yang banyak ditemui dalam masyarakat Indonesia. Meskipun ibu merupakan
anggota keluarga yang mula-mula paling berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak,
namun pada akhirnya seluruh anggota keluarga itu ikut berinteraksi dengan anak. Di
samping factor iklim sosial itu, faktor-faktor lain dalam keluarga itu ikut pula
mempengaruhi tumbuh kembangnya anak, seperti kebudayaan, tingkat kemakmuran,
keadaan perumahannya, dan sebagainya. Dengan kata lain, tumbuh kembang anak
dipengaruhi oleh keseluruhan situasi dan kondisi keluarganya.
Sehubungan dengan itu, Fuad Ichsan, (1995). Mengemukakan. Fungsi lembaga
pendidikan keluarga sebagai berikut :
1. Merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak, pengalaman ini merupakan
faktor yang sangat penting bagi perkembangan berikutnya.
2. Pendidikan di lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak untuk
tumbuh dan berkembang. Kehidupan emosional ini sangat penting dalam pembentukan
pribadi anak.
3. Di dalam keluarga akan terbentuk pendidikan moral, keteladanan orang tua dalam
bertutur kata dan berprilaku sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi
anak dalam keluarga tersebut guna membentuk manusia susila.
4. Di dalam keluarga akan tumbuh sikap tolong menolong, tenggang rasa, sehingga
tumbuhlah kehidupan keluarga yang damai dan sejahtera.
5. Keluarga

merupakan

lembaga

yang berperan

dalam

meletakkan

dasar-dasar

pendidikan agama.
6. Di dalam konteks membangun anak sebagai makhluk individu agar anak dapat
mengembangkan dan menolong dirinya sendiri, maka keluarga lebih cenderung untuk

4 Binti Maunah, Landasan Pendidikan, Penerbit Teras, Yogyakarta, 2009. Hlm.178

menciptakan kondisi yang dapat menumbuhkembangkan inisiatif, kreativitas, kehendak,
emosi, tanggung jawab, keterampilan dan kegiatan lain.
Dalam kajian antropologis disebutkan bahwa manusia mengenal pendidikan sejak
manusia ada. Pendidikan dimaksud adalah pendidikan keluarga. Pendidikan dimaksud
berlangsung pada masyarakat masih tradisional. Dalam masyarakat demikian struktur
masyarakat masih sangat sederhana, sehingga horizon anak sebagian besar masih terbatas
pada keluarga. Fungsi keluarga pada masyarakat demikian meliputi fungsi produksi dan
fungsi konsumsi sekaligus secara absolut. Kedua fungsi ini sangat berpengaruh terhadap
kehidupan anak selanjutnya.
Kehidupan masa depan anak pada masyarakat primitive mudah dipresiksi. Hampir
dapat dipastikan bahwa kehidupan generasi sang anak nyaris sama denganpola kehidupan
sang orang tua. Hal ini karena kehidupan masa depan anak pada umumnya tidak terjadi
banyak perubahan dari kehidupan orang tuanya. Sebagai contoh anak yang orang tuanya
sebagai petani hampir dapat dipastikan bahwa anak tersebut akan menjadi petani. Kalau
orang tua anak tersebut sebagai tukang kayu malah hampir dapat dipastikan anak tersebut
akan menjadi tukang kayu.
Kondisi ini muncul karena anak merupakan bagian dari keluarga. Sementara dalam
masyarakat tradisional upaya pemenuhan kebutuhan seluruh anggota keluarga dikerjakan
secara bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga, tanpa pembagian pekerjaan yang
komplek. Orang tua bertanggung jawab penuh akan pendidikan anaknya. Tanggung jawab
ini pada masyarakat tradisional tidak akan selesai sampai anaknya telah menikah. Hal ini
karena seluruh “anaknya” akan menjadi bagian ari produksi keluarga besar orang tuanya.
Adanya berbagai tekanan dari luar dalam bentuk modernisasi, dan mobilitas sosial
baik secara vertical maupun horizontal, fungsi kehidupan keluarga pun mengalami
perubahan. Fungsi konsumsi keluarga relative tetap bertahan namun fungsi produksi
mengalami banyak perubahan. Setiap keluarga tetap memerlukan pemenuhan kebutuhan
sehari-hari namun tidak dapat disediakan sendiri. Dengan demikian keluarga telah mulai
kehilangan fungsi produksinya.
Perubahan fungsi ini berkonsekuensi perubahan struktur keluarga dan pola
pendidikannya. Keluarga modern cenderung terdiri dari keluarga inti dengan ukuran kecil,

lebih demokratis, kemasingan (tidak tahu persis yang dilakukan anggota keluarga lain), dan
cenderung pada pelayanan jasa dari pihak lain. Dengan demikian dalam proses pendidikan,
anak tidak lagi sepenuhnya tergantung pada pendidikan dari orang tuanya seperti pada
keluarga tradisional. Porsi pendidikan keluarga dari masyarakat modern cenderung
berkurang, sebagian terbesar diambil alih oleh sekolah dan pendidikan dalam masyarakat
ainnya seperti teman sebaya, organisasi sosial, kursus-kursus, dan lain-lain.
Selain itu dalam sejumlah keluarga “modern” mendelegasikan sebagian proses
pendidikan anaknya kepada orang yang digaji. Termasuk dalam kategori ini adalah para
pembantu rumah tangga, penunggu bayi, atau anak, guru privat, dan lain-lain. Sejumlah
ahli cenderung memandang negative fenomena ini. Menurut mereka fungsi-fungsi alami
orang tua lebih-lebih ibu, tidak dapat didelegasikan kepada fihak lain.
Pendidikan keluarga disebut pendidikan utama karena didalam lingkungan ini segenap
potensi yang dimiliki manusia terbentuk dan sebagian dikembangkan. Bahkan ada
beberapa potensi yang telah berkembang dalam pendidikan keluarga. Padahal para pakar
pendidikan umumnya sepakat bahwa kemampuan pendidikan hanya pada batas potensi
yang dimiliki manusia.
Bahkan Drost secara ekstrim menyebut bahwa pendidikan sekolah lebih banyak
mengembangkan kemampuan akademis, sedangkan pengembangan kepribadian merupakan
tugas pendidikan keluarga. Dengan demikian baginya pendidikan keluarga lebih utama
daripada pendidikan sekolah.
Selain itu meskipun pada masyarakat modern ini keluarga telah kehilangan sejumlah
fungsi namun keluarga masih merupakan lembaga yang paling penting dalam proses
sosialisasi seorang anak. Karena keluarga yang memberikan setiap individu tuntunan serta
contoh-contoh sejak lahir sampai dewasa.
Dalam hal jumlah waktu, walaupun ada variasi antar masing-masing orang, namun
bagi sebagian besar anak manusia waktu terbanyak untuk pendidikan adalah berada dalam
keluarga. Variasi waktu ini ditentukan oleh budaya, idealism, status sosial dan lain-lain,
dari masing-masing keluarga. Sehubungan dengan itu maka kurang tepat kiranya kalua
berbagai kenakalan remaja oleh masyarakat ditimpakan sepenuhnya pada sekolah.

Pendidikan keluarga dapat dipilih menjadi dua yaitu:
1. Pendidikan pranatal
Pranatal berasal dari kata pre yang berarti sebelum, dan natal berarti lahir,
jadi Pranatal adalah sebelum kelahiran, yang berkaitan atau keadaan sebelum
melahirkan. Menurut pandangan psikologi Pranatal ialah aktifitas-aktifitas manusia
sebagai calon suami istri yang berkaitan dengan hal-hal sebelum melahirkan yang
meliputi sikap dan tingkah laku dalam rangka untuk memilih pasangan hidup agar lahir
anak sehat jasmani dan rohani.5 Pranatal merupakan segala macam aktifitas seseorang
mencakup sebelum melakukan pernikahan, setelah melakukan pernikahan, melakukan
hubungan suami istri, hamil hingga akan melahirkan. Aktifitas yang dimaksut
merupakan segala tindak tanduk laki-laki maupun perempuan. Jadi para pemuda dan
pemudi hendaknya segera memperhatikan tingkah lakunya, untuk membiasakan
perilaku yang baik. Jika menginginkan anaknya memiliki perilaku yang baik pula.
Dalam pendidikan ini diyakini merupakan pendidikan untuk pembentukan potensi
yang akan dikembangkan dalam proses pendidikan selanjutnya. Wujud praktek
pendidikan prenatal cenderung merupakan kearifan masyarakat yang sangat dipengaruhi
praktek-praktek budaya. Doa untuk si janin, neloni, mitoni, adanya sirikan untuk
membunuh makhluk hidup kecuali menyebut si jabang bayi, dan lain-lain adalah
merupakan wujud pendidikan ini dalam budaya jawa.
Hal lain yang layak diperhatikan dalam oendidikan prenatal ini adalah mungkin
menghindari terjadinya kelahiran anak yang tidak diinginkan (unwanted child). Anakanak demikian menurut Retno Sriningsih Satmoko akan mengalami berbagai kendala
dalam pendidikan selanjutnya. Munculnya kelahiran anak demikian tidak hanya
monopoli pasangan remaja pranikah. Banyak dari pasangan resmi yang mengalaminya,
misalnya karena jenis kelamin yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua, jarak
kelahiran yang tidak sesuai dengan harapan orang tua, belum siap secara ekonomi,
kegagalan kontrasepsi, dan lain-lain.
Orang tua atau pengganti orang tua yang menjadi pendidik dalam pendidikan
keluarga. Orang tua dalam hal ini dikatakan sebagai pendidik karena kodrati. Hal ini
5 Ubes Nur Islam, Mendidik Anak dalam Kandungan: Optimalisasi Potensi Anak Sejak Dini,(Jakarta: Gema
Insani, 2004), hlm. 9

karena kependidikannya lebih bersifat cinta kasih alamiah. Dasar tanggung jawab
keluarga terhadap pendidikan anaknya meliputi hal-hal berikut:
a. Motivasi cinta kasih saying yang menjiwai hubungan orang tua dengan anak. Cinta
kasih ini mendorong dikap dan tindakan untuk menerima tanggung jawan dan
mengabdikan hidupnya untuk sang anak.
b. Motivasi kewajiban moral, sebagai konsekuwensi kedudukan orang tua terhadap
keturunannya. Tanggung jawab moral ini meliputi nilai nilai religious spiritual untuk
memelihara martabat dan kehormatan keluarga,
c. Tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keluarga, yang pada gilirannya juga
menjadi bagian dari masyarakat. Tanggung jawab sosial ini merupakan perwujudan
tanggung jawab kekeluargaan.
Pendidikan dalam kandungan telah dilakukan sejak lama bahkan Nabi Zakaria a.s
dapat menjadi sebuah teladan dalam pendidikan pranatal. Salah satu metode yang
dicontohkan oleh nabi Zakariya a.s ialah dengan menggunakan methode do’a.
sebagaimana dalam surat Ali Imran ayat 35 :

Artinya: “(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku
menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh
dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (Q.S. AliImran 3:35).
2. Pendidikan postnatal
Post-natal merupakan masa setelah bayi dilahirkan. Faktor- factor yang
mempengaruhi perkembangan pasca lahir merupakan kondisi lingkungan yang
mempengaruhi tumbuh kembang bayi setelah dilahirkan. Yang termasuk lingkungan
post natal antara lain:
a. Faktor Biologis

1. Ras/ suku bangsa
Pertumbuhan dipengaruhi oleh ras/ suku bangsa. Seperti misalnya suku bangsa
Eropa memiliki pertumbuhan fisik yang lebih tinggi daripada suku bangsa Asia.
2. Jenis kelamin
Anak perempuan memiliki masa pertumbuhan lebih cepat daripada anak lakilaki, tetapi anak laki-laki memiliki masa pertumbuhan lebih lama daripada anak
perempuan. Anak perempuan percepatan pertumbuhan badan mulai usia 12 tahun
dan berakhir pada usia 18 tahun. Sedangkan anak laki-laki percepatan
pertumbuhan badan mulai usia 14 tahun dan berakhir pada usia 21 tahun.
3. Gizi
Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan
anak.
4. Perawatan kesehatan
Perawatan kesehatan anak tidak hanya kalau anak sakit, tetapi pemeriksaan
kesehatan dan menimbang anak secara rutin setiap bulan. Dan yang paling penting
adalah pemberian0020imunisasi.
b. Faktor Fisik
1. Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah
Musim kemarau yang panjang dan bencana alam lainnya dapat berdampak
pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Antara lain sebagai akibat gagalnya
panen banyak anak yang kurang gizi. Adanya banjir juga mengakibatkan
banyaknya penyakit sehingga mempengaruhi tumbuh kembang anak.
2. Sanitasi
Sanitasi lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam penyediaan
lingkungan yang mendukung kesehatan anak. Misalnya kebersihan, baik
kebersihan perorangan dan kebersihan lingkungan. Karena kebersihan yang kurang
akan menyebabkan timbulnya bermacam penyakit. Misalnya diare, cacingan,
malaria, demam berdarah. Selain itu polosi udara juga sangat berpengaruh terhadap
kesehatan anak. Misalnya polusi asap pabrik, kendaraan bermotor, maupun asap
rokok dapat menyebabkan terganggunya pernafasan, sehingga menyebabkan
pertumbuhan terganggu.
3. Keadaan rumah
Misalnya ventilasi udara, cahaya, dan kepadatan hunian. Rumah yang sehat
adalah rumah yang tersedia cukup ventilasi udara, cahaya serta rumah yang tidak
sesak/sumpek.
c. Faktor Psikososial

1. Stimulasi
Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat
berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang mendapat stimulasi.
2. Kelompok sebaya
Adanya atau tidaknya kelompok sebaya sangat penting untuk perkembangan
social anak.
d. Faktor Keluarga dan Adat Istiadat
1. Pekerjaan dan pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak
karena orang tua mampu menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer
maupun sekunder.
2. Pendidikan ayah ibu.
Pendidikan orang tua merupakan salah satu factor yang penting dalam tumbuh
kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua akan
menerima segala informasi dari luar terutama bagaimana cara pengasuhan anak
yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikan dsb.
3. Jumlah saudara
Jumlah saudara yang banyak mengakibatkan berkurangnya perhatian orang tua
terhadap perkembangan anak.
4. Stabilitas rumah tangga.
Keharmonisan rumah tangga mempengaruhi tumbuh kembang anak.Tumbuh
kembang anak akan berbeda pada anak yang berada pada keluarga yang harmonis
dan pada keluarga yang kurang harmonis.
5. Kepribadian orang tua.
Kepribadian orang tua yang terbuka tentu pengaruhnya berbeda tumbuh
kembang anak bila dibandingkan dengan anak yang memilki orang tua yang
memiliki kepribadian tertutup.
B. Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah adalah lingkungan pendidikan yang utama setelah keluarga,
karena pada lingkungan sekolah tersebut terdapat siswa-siswi, para guru, administrator,
kepala sekolah, penjaga, dan lain-lain yang hidup bersama dan melaksanakan pendidikan
secara teratur dan terencana dengan baik.6
Bertahun tahun sepanjang rentang peradabannya, pada awalnya manusia hanya
mengenal pendidikan keluarga dan pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan dalam
masyarakat pun hanya dikenal manusia secara informal. Hal ini terjadi pada saat manusia
dalam kehidupan primitive. Pada masyarakat demikian pendidikan informal dari orang tua
6 Binti Maunah, Landasan Pendidikan, Penerbit Teras, Yogyakarta, Hlm.180

dan masyarakat dirasa cukup untuk bekal hidup dalam masyarakat bersangkutan. Kondisi
demikian dimungkinkan karena struktur sosial masyarakat belum kompleks, sehingga
horizon anak sebagian besar masih dalam keluarga. Seorang anak dalam masyarakat
demikian tidak memerlukan persiapan khusus untuk mempelajari sesuatu dalam
mempersiapkan kehidupan untuk masa dewasanya. Mereka cukup belajar dari orang tuanya
atau orang dewasa lainnya. Dalam proses pendidikan yang dijalani bersifat spontan tidak
melalui proses perencanaan yang matang. Oleh karenanya para pelaku pendidikan baik
anak, orang tua, atau masyarakat tidak menyadari adanya proses belajar mengajar. Dengan
mengacu pendapat Margaret Mead yang dikutip Sastra Prateja pendidikan pada waktu itu
disebut paska-figuratif. Pendidikan paska-figuratif adalah pendidikan yang menekankan
peserta didik untuk meniru figure “pendidik”. Dengan demikian pendidikan sifatnya hanya
konservatif.
Setelah karena perkembangan peradaban manusia, orang tua merasa “tidak mampu”
lagi untuk mendidik anaknya. Pada masyarakat yang semakin komplek dan terspesialisasi,
seorang anak memerlukan persiapan yang khusus untuk memasuki usia dewasa. Persiapan
ini memerlukan waktu yang khusus, tempat yang khusus, dan proses yang khusus pula.
Dengan demikian secara objektif orang tua memerlukan lembaga tertentu untuk
menggantikan sebagian fungsinya sebagai pendidik. Lembaga ini dalam perkembangan
lebih lanjut dikenal denga sekolah. Secara hakiki sekolah tersebut bukan mengoper tugas
orang tua sebagai pendidik tetapi sekedar pelengkap pendidikan yang diberikan oleh orang
tua.
Di Indonesia sekolah pada awalnya berupa percantrikan. Peserta didiknya disebut
cantrik. Pendidikan disebut guru atau suhu. Isi pendidikannya adalah agama (Agama Hindu
dan Budha), ulah kanuragan dan jaya kawijayan (bela diri), kesusasteraan, nggah-ungguh
atau etika.
Percantrikan pada awalnya hanya diperuntukkan bagi para keturunan bangsawan
(priyayi), namun setelah perkembangan lebih lanjut masyarakat jelata pun
mengembangkannya dibantu oleh para pujangga bijak kerajaan. Percantrikan yang
demikian lebih menekankan pendidikan ulah kanuragaan dan jaya kawijayaan dengan
harapan mereka dapat menjadi prajurit.
Setelah islam masuk ke Indonesia percantrikan secar sinkritisme dikembangkan
menjadi pondok pesantren dari kata pondok pesantrian. Peserta didiknya disebut santri dan
pendidiknya disebut Kyai atau Nyai. Isi pendidikannya pada awalnya tidak jauh berbeda
dengan percantrikan yang berbeda hanya agamanya islam. Perkembangan lebih lanjut,
bukan berarti percantrikan hilang. Pecantrikan dimanfaatkan oleh kelompok “abangab”,
sehingga ada semacam dikotomi antara abagan dan santri.
Setelah orang barat masuk ke Indonesia, system pendidikan ikut terpengaruh
karenanya. Orang barat khususnya Belanda memperkenalkan system pendidikan mereka.

Sistem pendidikan ini lebih banyak merasuki pada kalangan Bangsawan dan timur jauh
daripada rakyat jalata. Sementara kaum populis tetap mengembangkan system pendidikan
pondok pesantren. Pondok pesantren semakin mendapat tempat setelah orang orang
Indonesia mengembangkan faham kebangsaan dalam rangka mengusir penjajah. Sementara
itu istilah sekolah nampaknya bersumber dari system pendidikan Belanda (School).
Dalam perkembangan lebih lanjut pendidikan sekolah yang dikembangkan oleh
pemerintahan karena dianggap lebih modern dan nasionalis (mampu menampung berbagai
perbedaan faham, golongan, agama, suku, dan lain-lain).
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, sekolah telah mencapai posisi yang
sangat sentral dan belantara pendidikan manusia. Sekolah tidak lagi berfungsi sebagai
pelengkap pendidikan keluarga. Hal ini karena pendidikan telah berimbas pola piker
ekonomi yaitu efektifits dan efisiensi. Pola piker efektifitas dan efisiensi ini telah menjadi
semacam ideologi dalam pendidikan.
Dasar tanggung jawab sekolah akan pendidikan meliputi tiga hal, yaitu:
1. Tanggung jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan
menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku (perundangan dalam pendidikan).
2. Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk isi, tujuan dan jenjang pendidikan yang
dipercayakan kepadanya oleh masyarakat dan negara.
3. Tanggung jawab fungsional adalah tanggung jawab professional pengelola dan
pelaksanaan pendidikan yang menerima keteteapan berdasarkan ketentuan-ketentuan
jabatannya. Tanggung jawab tersebut merupakan perlimpahan sebagian tangung jawab
orang tua dan masyarakat dalam bidang pendidikan.
Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan
kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan,
diantaranya adalah:
1. Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta
menanamkan budi pekerti yang baik
2. Sekolah memberikan oendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau
tidak dapat diberikan rumah.
3. Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca,
menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu yang sifanya mengembangkan
kecedasan dan pengetahuannya.

Sumbangan sekolah terhadap pendidikan itulah, maka sekolah sebagai lembaga
pendidikan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Tumbuh sesudah keluarga.
2. Lembaga pendidikan formal.
3. Lembaga pendidikan yang bersifat kodrati.
Pendidikan sekolah juga mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu:
1. Diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan
hierarkis.
2. Usia siswa disuatu jenjang relative homogen.
3. Waktu pendidikan relative lama sesuai dengan program pendidikan yang harus
diselesaikan.
4. Isi pendidikan (materi) kebih banyak yang bersifat akademis dan umum.
5. Mutu pendidikan sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan dimasa yang
akan datang.
C. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap
perkembangan pribadi seseorang. Masyarakat mempunyai peranan yang penting dalam
mencapai tujuan pendidikan nasional. Secara sederhana masyarakat adalah kumpulan
individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama.Setiap
masyarakat mempunyai cita-cita, peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu.
Pendidikan masyarakat merupakan pendidikan yang menunjang pendidikan keluarga
dan sekolah. Masyarakat besar pengaruhnya dalam member arah terhadap pendidikan anak,
terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya ( Drajat, 1992).
Semua anggota masyarakat memikul tanggung jawab membina, memakmurkan,
memperbaikimemikul tanggung jawab membina, memakmurkan, memperbaiki, mengajak
kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf melarang yang mungkar dimana tanggung
jawab manusia melebihi perbuatan-perbuatannya dan maksud-maksudnya, sehingga
mencakup masyarakat tempat ia hidup dan alam sekitar yang terjadi di sekelilingnya
atauterjadi dari orang lain.

Menurut Soerjono Soekanto (1988), dalam setiap masyarakat, baik yang sederhana
maupun yang komplek, terbelakang atau maju, pasti terdapat pranata-pranata sosial (social
intitutions). Kalau dianalisis paling tidak ada 5 pranata sosial yang terdapat dalam setem
masyarakat, yaitu:
1. Pranata Pendidikan
2. Pranata Ekonomi
3. Pranata Politik
4. Pranata Teknologi
5. Pranata Moral atau etika
Meski ada berbagai perbedaan wujud dan intensitas masing-masing pranata sosial
antar masing-masing masyarakat, namun masing-masing pranata mempunyai tugas atau
fungsi yang kurang lebih sama untuk setiap masyarakat. Pranata pendidikan secara umum
mempunyai tugas dalam upaya sosialisasi, sehingga setiap warga masyarakat mempunyai
kepribadian yang mendekati harapan masyarakat bersangkutan. Pranata ekonomi bertugas
mengatur upaya pemenuhan kemakmuran hidup sehinga masing-masing anggota
memperoleh kelayakan secara ekonomis. Pranata politik bertugas menciptakan integritas
dan stabilitas masyarakat. Pranata teknologi berupaya menciptakan teknik untuk
mempermudah kehidupan manusia. Sedangkan pranata moral mengurusi nilai dan
penyikapan atau tindakan dalam pergaulan di masyarakat.
Masing-masing pranata sosial tersebut mempunyai hubungan interdependensi yang
kuat. Dalam rangka kepraktisan analisis, pranata pendidikan disatu pihak dan pranata yang
lain di pihak yang lain. Dengan kata lain telah terjadi kesenjangan antara sekolah dan
masyarakat.
Kaitan antara masyarakat dengan pendidikan dapat ditinjau dari beberapa segi yakni :
a.

Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang di lembagakan maupun yang
tidak di lembagakan.

b.

Lembaga-lembaga kemasyarakatan atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung
maupun tidak langsung ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.

c.

Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik yang dirancang maupun
dimanfaatkan. Perlu pula di ingat bahwa manusia dalam bekerja dan hidup sehari-hari

akan selalu berupaya memperoleh manfaat dari pengalaman hidupnya untuk
meningkatkan dirinya.
Dari ketiga kaitan antara masyarakat dan pendidkan tersebut dapat dilihat peran yang
telah disumbangkan dalam rangka tujuan pendidikan Nasional,yaitu berupa membantu
penyelenggaraan pendidikan, membantu pengadaan tenaga, biaya, prasarana, dan sarana,
menyediakan lapangan kerja, dan membantu mengembangkan profesi baik langsung
maupun tidak.
Secara kongkrit peran dan fungsi pendidikan kemasyarakatan dapat dikemukakan
sebagai berikut :
a.

Memberikan kemampuan professional untuk mengembangkan karir melalui kursus
penyegaran, penataran, lokakarya, seminar, konperensi ilmiah dan sebagainya.

b.

Memberikan kemampuan teknis akademik dalam suatu system pendidikan nasional
seperti sekolah terbuka, kursus tertulis, pendidikan melalui radio, dan televisi dan
sebagainya.

c.

Ikut serta mengembangkan kemampuan kehidupan beragama melalui pesantren,
pengajian, pendidikan agama di surau/langgar, biara, sekolah minggu dan sebagainya.

d.

Mengembangkan kemampuan kehidupan sosial budaya melalui bengkel seni, teater,
olahraga, seni bela diri, lembaga pendidikan spiritual dan sebagainya.

e.

Mengembangkan keahlian dan keterampilan melalui sistem magang untuk menjadi ahli
bangunan, muntir, dan sebagainya.

Lingkungan masyarakat mempunyai andil yang besar dalam upaya mencapai tujuan
pendidikan nasional, dalam peranannya antara lain :
a. Pendidikan manusia sebagai makhluk individu, lingkungan masyarakat berperan
dalam membantu pembentukan manusia yang cerdas, sesuai dengan kondisi dan fungsi
dari masing-masing pendidikan tersebut.
b. Pendidikan manusia sebagai makhluk susila (kemasyarakatan), yang berkaitan dengan
nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila sebagai falsafah hidup bangsa, dan
pancasila sebagai dasar negara.
c. Pendidikan manusia sebagai makhluk sosial, lingkungan masyarakat baik secara
langsung maupun tidak langsung memang ditumbuhkembangkan sebagai makhluk
individu dan susila, yang secara bersama-sama mampu menciptakan kehidupan

bersama secara bertanggungjawab, untuk mencapai kesejahteraan sosial yang dinamis
dengan sikap makaryanya.
d. Pendidikan manusia sebagai makhluk religious, maka lingkungan masyarakat banyak
memberikan andil dalam pembekalan yang berhubungan dengan masalah keagamaan.

D. Pengaruh Timbal Balik Antara Ketiga Lingkungan Pendidikan Terhadap Pengaruh
Lingkungan Peserta Didik.
Tumbuh kembangnya anak pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni
hereditas, lingkungan, proses perkembangan dan anugerah. Khusus untuk faktor lingkungan
peranan tripusat pendidikan itulah yang menentukan baik secara sendiri-sendiri maupun
bersama-sama. Terutama melakukan kegiatan pendidikan dalam bentuk membimbing,
mengajar dan melatih dalam suasana belajar dan proses pembelajaran. Peranan ketiga tripusat
pendidikan itu bervariasi, meskipun ketiganya melakukan tiga kegiatan pokok pendidikan
tersebut.
Setiap pusat pendidikan perlu ditingkatkan kontribusinya terhadap perkembangan peserta
didik, keserasian antara kontribusi itu ,serta kerja sama yang erat dan harmonis antara tripusat
tersebut. Berbagai upaya di lakukan agar program-program pendidikan dari setiap pusat
pendidikan. Saling mendukung dan memperkuatkan antara satu dan yang lainnya.
Dilingkungan keluarga telah di upaya kan berbagai hal seperti perbaikan gizi, permainan
edukatif, penyuluhan orang tua dan sebagainya, yang dapat menjadi landasan pengembangan
selanjutnya disekolah dan masyarakat. Dilingkungan sekolah di upayakan berbagai hal seperti
adanya organisasi orang tua siswa, kunjungan rumah oleh personal sekolah dan sebagainya.
Selanjutnya juga sekolah mengupayakan agar program yang erat kaitannya dengan
masyarakat sekitarnya (siswa kemasyarakat ,narasumber dari masyarakat ,sekolah dan
sebagainya).
Akhirnya lingkungan masyarakat mengusahakan berbagai kegiatan atau program yang
menunjang/melengkapi program keluarga dan sekolah. Dengan kontribusi tripusat pendidikan
yang saling memperkuat dan melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber
manusia terdidik yang bermutu. Kerja sama seperti ini dituangkan dalam UUSPN No.20 tahun
2003 yang berbunyi “komite sekolah/madrasah,adalah lembaga mandiri yang beranggotakan

orang tua/wali peserta didik komunitas sekolah serta tokoh masyarakat yang peduli
pendidikan.

BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Pendidikan adalah usaha yang dijalankan seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi
dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, karena
dimanapun dan kapanpun di dunia terdapat pendidikan. pendidikan pada hakikatnya
merupakan usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri, yaitu untuk
membudayakan manusia.
Esensi dari pendidikan adalah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan,
teknologi, ide-ide, etika dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari generasi yang lebih tua
kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau bangsa.
Lingkungan merupakan suatu komponen system yang ikut menentukan keberhasilan
proses pendidikan. Para pakar pendidikan umumnya sepakat bahwa lingkungan berkorelasi
positif terhadap keberhasilan seseorang. Adanya pepatah kebo gupak neler-neler (orang yang
jahat akan mempengaruhi orang lain yang ada didekatnya untuk berbuat jahat); lingkungan
yang baik akan membuat orang baik dan lingkungan yang buruk akan membuat orang jelek;
wong kang alim kumpulono (berkumpulah para orang-orang yang berilmu), ini menandakan
dukungan terhadap tesis tersebut.
Lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini dengan cara-cara tertentu mempengaruhi
tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life process (Purwanto, 1994: 59).
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun

merupakan factor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya sangat besar pengaruhnya
terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan yang disadari
atau tidak pasti akan mempengaruhi anak.
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik berupa
benda mati, makhluk hidup, ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi termasuk kondisi
masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada individu. Seperti
lingkungan tempat pendidikan berlangsung dan lingkungan tempat anak bergaul. Lingkungan
ini kemudian secara khusus disebut sebagai lembaga pendidikan sesuai dengan jenis dan
tanggungjawab yang secara khusus menjadi bagian dari karakter lembaga tersebut.
Lingkungan keluarga adalah tempat anak dilahirkan. Disinilah pertama kali ia mengenal
nilai dan norma. Pendidikan di lingkungan keluarga berfungsi untuk memberikan dasar dalam
menumbuhkembangkan anak sebagai makhluk individu, sosial, susila,dan religius.
Sekolah adalah lingkungan kedua bagi anak. Di sekolah ia mendapatkan pendidikan yang
intensif. Disinilah potensi anak akan ditumbuhkembangkan. Sekolah merupakan tumpuan dan
harapan orangtua dan masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Di lingkungan masyarakat anak akan mendapat pendidikan. Masyarakat merupakan
lingkungan pendidikan ketiga yang ikut bertanggungjawab dalam upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa..
Semua lingkungan pendidikan sangat berperan besar dalam pelaksanaan pendidikan dalam
mencapai tujuan pendidikan itu sendiri baik bagi diri peserta didik sebagai makhluk individu
maupun sebagai makhluk sosial, susila, serta makhluk religius.
B. Saran
Demikian makalah yang dapat kami buat,kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan
didalam makalah ini. Oleh karena itu, saya mohon kritik dan saran dari pembaca. Agar penulis
dapat memperbaiki makalah yang selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Umar Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan, PT Asdi Mahasatya, Jakarta, 2008
Abdul Kadir, Dasar-dasar Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2012
Binti Maunah, Landasan Pendidikan, Penerbit Teras, Yogyakarta, 2009
Ubes Nur Islam, Mendidik Anak dalam Kandungan: Optimalisasi Potensi Anak Sejak Dini,Gema
Insani,
Jakarta, 2004

Dokumen yang terkait

Dokumen baru