MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN BERMAIN RECORDER.

No. Daftar : 07/PGPAUD/1/2014

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK
MELALUI KEGIATAN BERMAIN RECORDER
(Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelompok B di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92
Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan Program Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Oleh
Neneng Nurhayati
1003306

PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Halaman Hak Cipta

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN
BERMAIN RECORDER

(Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelompok B di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang
No. 92 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)

Oleh
Neneng Nurhayati

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Fakultas Ilmu Pendidikan

© Neneng Nurhayati 2014
Universitas Pendidikan Indonesia
Januari 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,
dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

No. Daftar : 07/PGPAUD/1/2014

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK
MELALUI KEGIATAN BERMAIN RECORDER
(Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelompok B di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92
Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan Program Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Oleh
Neneng Nurhayati
1003306

PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Halaman Hak Cipta

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN
BERMAIN RECORDER

(Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelompok B di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang
No. 92 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)

Oleh
Neneng Nurhayati

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Fakultas Ilmu Pendidikan

© Neneng Nurhayati 2014
Universitas Pendidikan Indonesia
Januari 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,
dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ABSTRAK
MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK
MELALUI KEGIATAN BERMAIN RECORDER

Neneng Nurhayati
NIM. 1003306

Penelitian bertujuan mengetahui pembelajaran kegiatan bermain recorder dengan
pergelangan tangan atau dengan jari dalam mengatasi hambatan perkembangan
motorik halus anak. Dengan cara pemberian tindakan bermain recorder dengan
pergelangan tangan atau dengan jari. Didasarkan atas perolehan data pencapaian
motorik halus anak Kelas B TK Nurul Falah Jln. Gegerkalong Girang No. 92
Bandung. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas
(classroom action research). Penelitian dititikberatkan kepada pengendalian
gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, otot terkoordinasi,
jari, dan pergelangan tangan, yang ditandai dengan konsentrasi dan kelenturan
dalam melakukan kegiatan motorik halus. Instrument yang digunakan berupa tes
kemampuan motorik halus anak usia TK dan pedoman observasi. Subjek
penelitian adalah anak kelas B TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92
Bandung sebanyak 10 orang anak. Setelah melalui penyaringan dengan kisi-kisi
kemampuan motorik halus. Pemberian tindakan terdiri dari dua siklus dengan
perincian siklus I memberikan recorder kepada anak dan anak mempraktekkan
recorder itu dengan baik dan benar. Siklus II, bermain recorder dan menggunakan
seluruh jari tangan sesuai dengan contoh yang diberikan peneliti. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa, pembelajaran kegiatan bermain recorder dengan jari tangan
dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia TK. Indikator
keberhasilan yang dicapai anak adalah pengendalian gerak jasmaniah melalui
kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi dan keluwesan pada
pergelangan tangan ditandai oleh pencapaian kisi-kisi kemampuan motorik halus
anak sebesar 21 poin. Tindakan melalui pembelajaran kegiatan bermain recorder
dengan pergelangan tangan memberikan dampak positif, baik selama proses
maupun setelah proses pembelajaran yang diberikan. Dampak positif yang terjadi
pada anak selama proses dan setelah proses kegiatan bermain recorder yaitu anak
lebih mudah dalam melakukan kegiatan sehari-hari terutama dalam kegiatan
motorik halus anak, anak akan menjadi ceria, aktif dan kreatif.

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Neneng Nurhayati
NIM. 1003306
IMPROVING FINE MOTOR SKILLS KIDS THROUGH PLAY
ACTIVITY RECORDER
(Kindergarten Classroom Action Research in Child Nurul Falah in Group B the Academic
Year 2013-2014)

ABSTRACT
The study aims to determine the learning activities play recorder with wrist or
fingers , in overcoming barriers to the development of fine motor . By way of
action play recorder with wrist or fingers . On the basis of the data on the
acquisition of fine motor graders achievement in kindergarten Nurul Falah Jl . No.
Gegerkalong Girang . 92 Bandung . In charge of research using action research
methods class . Research emphasis to the control of bodily movement through
nerve centers , nerves , muscles coordinated , fingers , and wrist , are the mark
with concentration and flexibility in the fingers pull through fine motor activities .
Instruments used in the form of fine motor skills tests kindergarten age children
and observation . Subjects were children kindergarten class B Nurul Falah Jl . No.
Gegerkalong Girang . 92 Bandung as many as 10 children . After filtering through
the lattice of fine motor skills . Giving the action consists of two cycles with the
first cycle gives details recorders to children , and children practice the recorder
properly . Cycle II play recorder and use all of your fingers or with both wrists in
accordance with the example given researchers . The results showed that the
learning activity recorder with finger play can improve fine motor skills
kindergarten age children . Indicators of success achieved is the child of physical
motion controls through nerve centers , nerves , and muscles coordinated and
flexibility at the wrist , marked by the achievement of the lattice fine motor
abilities by 21 points
Keywords : Fine motor skills, activities play recorder

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR ISI

Hal

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... i
PERNYATAAN .............................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ...................................................................................

iii

UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................

iv

ABSTRAK .....................................................................................................

v

DAFTAR ISI ..................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL .........................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... viii
DAFTAR DIAGRAM ...................................................................................

ix

BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah ................................................................

1

B. Rumusan Masalah ...........................................................................

7

C. Tujuan Penelitian ............................................................................

7

D. Manfaat Penelitian ..........................................................................

8

E. Definisi Operasional .......................................................................

9

F. Metode Penelitian ...........................................................................

9

BAB II KAJIAN TEORETIS........................................................................

11

A. Motorik Halus ................................................................................

11

1. Pengertian Motorik Halus .........................................................

11

2. Tujuan Pengembangan Motorik Halus .....................................

16

3. Fungsi Pengembangan Motorik Halus .....................................

16

4.

Pendekatan Pengembangan Motorik Halus .............................

16

5. Faktor Yang Memengaruhi Perkembangan Motorik Halus ......

16

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

6. Karakteristik Perkembangan Motorik Halus ............................

17

7. Prinsip Dalam Pengembangan Motorik Halus .........................

17

8. Tujuan Peningkatan Motorik Halus ..........................................

18

9. Fungsi Pengembangan Motorik Halus .....................................

18

10. Ciri-ciri Perkembangan Motorik Halus ....................................

19

B. Bermain Recorder di TK .....................................................................

20

1. Pengertian Recorder .................................................................

20

2. Teknik Memainkan Recorder ...................................................

21

3. Langkah-langkah Memainkan Recorder ..................................

22

4. Jenis-jenis Recorder .................................................................

23

5. Manfaat Memainkan Recorder .................................................

23

6. Nama-nama Bagian Recorder ..................................................

25

7. Bagian-bagian Recorder ...........................................................

25

8. Macam-macam Recorder .........................................................

26

BAB III METODELOGI PENELITIAN ....................................................

28

A. Lokasi Dan Subjek Penelitian .................................................

28

B. Desain Penelitian .....................................................................

28

C. Metode Penelitian ....................................................................

34

D. Definisi Penilitian ...................................................................

37

E. Instrument Penelitian ..............................................................

37

1. Pedoman Observasi ...........................................................

42

2. Pedoman Wawancara ........................................................

46

3. Pedoman Studi Dokumentasi ............................................

47

F. Proses Pengembangan Instrument ...........................................

48

1. Validasi Data ....................................................................

48

2. Reliabilitas Data ................................................................

49

G. Teknik Pengumpulan Data ......................................................

50

1. Observasi …………………………………………………

50

2. Wawancara ....................................................................... .

51

3. Catatan lapangan (fields notes) …………………………..

51

4. . Studi Dokumentasi ……………………………………...

51

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

H. Analisis Data ...........................................................................

52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..............................

54

A. Gambaran Umum Kondisi Objektif Di Lapangan ..................

54

1. Profil TK Nurul Falah .......................................................

54

2. Profil Guru TK Nurul Falah ..............................................

54

3. Profil Ruangan TK Nurul Falah ........................................

55

4. Keadaan Anak ...................................................................

55

5. Proses Pembelajaran Rutin di TK Nurul Falah .................

56

6. Metode dan Proses Pembelajaran ......................................

57

7. Kegiatan Guru TK Nurul Falah Dalam Meningkatkan
Kemampuan Motorik Halus Anak ....................................

58

8. Kondisi Objektif Keterampilan Motorik Halus Anak
Sebelum Kegiatan Bermain Recorder ...............................

58

B. Pembahasan .............................................................................

85

1. Kondisi Objektif Keterampilan Motorik Halus Anak di TK
Nurul Falah Siklus I ..........................................................

85

2. Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui
Kegiatan Bermain Recorder ..............................................

86

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI .......................................

88

A. Kesimpulan ..................................................................................

88

B. Rekomendasi ...............................................................................

89

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

92

LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anak usia dini memiliki peran penting bagi perkembangan individu dan
kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada usia tersebut berbagai aspek
perkembangan anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara tepat di
usia dini akan menjadi penentu bagi perkembangan individu pada masa
selanjutnya. Menurut Froebel dalam Solehuddin, (1997) pada umumnya Anak
Usia Dini ini adalah di bawah usia enam tahun yaitu masa sebelum menempuh
pendidikan Sekolah Dasar. Masa anak itu merupakan suatu fase yang sangat
berharga dan dapat dibentuk dalam periode kehidupan manusia (a noble and
malleablle phase of human life).
Anak TK berada pada masa lima tahun pertama yang disebut usia
keemasan (The Golden Years) yang merupakan masa yang sangat pesat dalam
periode perkembangannya. Anak pada usia tersebut mempunyai potensi yang
sangat besar untuk mengoptimalkan segala aspek perkembangannya, termasuk
perkembangan keterampilan. Menurut Soegeng dan Yudha (2002: 4) bahwa,
”Perkembangan keterampilan sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan
pengendalian gerak tubuh”. Dengan kata lain terdapat hubungan yang saling
memengaruhi

antara

keterampilan

dengan

perkembangan

kemampuan

keseluruhan anak TK. Keterampilan anak TK tidak akan berkembang tanpa
adanya kematangan. Beberapa faktor yang memengaruhi keterampilan anak,
yaitu: keturunan, makanan, intelegensi, pola asuh, kesehatan, budaya, ekonomi,
sosial, jenis kelamin, dan rangsangan dari lingkungan.
Berbagai manfaat dapat diperolah anak ketika akan makin terampil
menguasai gerakan. Selain kondisi badan makin sehat karena sering bergerak,
anak juga akan lebih mundur dan percaya diri. Sebagai mana Yudha dan Amung
(2000: 4) bahwa, ”Anak yang baik perkembangan keterampilannya biasanya
memengaruhi keterampilan sosial yang positif”.

Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Frobel (1782), ahli pendidikan anak di Jerman menyimpulkan bahwa
pendidikan anak usia dini merupakan landasan terpenting bagi perkembangan
anak selanjutnya. Selain ini, ia pun merumuskan bahwa aktivitas bermain
merupakan alat pendidikan yang menjadikan pusat dari seluruh kegiatan anak.
Montesori (1870), ahli pendidikan anak dari italia yang menekankan pentingnya
masa peka yaitu masa di mana anak telah siap melakukan berbagai kegiatan yang
ia butuhkan dan merupakan faktor

yang perlu di perhatikan dalam

penyelenggaraan pendidikan anak usia dini.
Masa usia Taman Kanak-kanan adalah masa di mana perkembangan fisik
motorik anak berlangsung dengan sangat cepat, hal ini terlihat dari sifat anak yang
terlihat jarang sekali terlihat lelah. Dalam kegiatan sehari-harinya mereka
membutuhkan gerakan-gerakan berbagai otot-ototnya baik itu motorik kasar
maupun halus terutama dalam kegiatan bermain. Dalam hal ini dunia pendidikan
di harapkan mampu untuk mengarahkan dunia bermain mereka dengan kegiatan
motoriknya keterampilan-keterampilan motorik yang ada dalam diri anak, agar
meningkat sehingga keterampilan motorik itu berkembang sesuai dengan
perkembangan motorik anak usia Taman Kanak-kanak melalui pembelajaran yang
menyenangkan.
Melalui bermain gerakan motorik anak terlatih secara baik. Berbagai
manfaat di peroleh anak ketika terampil menguasai gerakan-gerakan motorik.
Selain kondisi badan semakin sehat karena banyak bergerak, anak juga menjadi
lebih mandiri dan percaya diri. Anak memperoleh keyakinan untuk mengerjakan
sesuatu karena menyadari kemampuan fisik yang dimiliki. Anak-anak yang
perkembangan motorik baik, biasanya mempunyai keterampilan sosial yang
positif.

Anak

memperoleh

kesenangan

bermain

berasama

teman-teman

sebayanya.
Menurut

Hurlock

(1978:

150)

perkembangan

motorik

adalah

perkembangan pengendalian gerak jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat
syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian tersebut berasal dari
perkembangan refleksi dan kegiatan masa yang ada pada waktu lahir. Sebelum
perkembangan tersebut terjadi, anak akan tetap tidak berdaya.
2
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sedangkan menurut Hester dalam Haditono, (1991) perkembangan
motorik merupakan perkembangan kemampuan melakukan/merespon suatu hal,
jadi bertambahnya usia bertambah pula kemampuan motorik pada anak meliputi
motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah

gerakan tubuh

yang

menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang
di pengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Sedangkan motorik halus adalah
gerakan tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan
berlatih.
Bredekamp (1987) dalam M.Solehudin (2000) mengemukakan: bagi anak
gerakan-gerakan fisik tidak hanya penting untuk mengembangkan keterampilanketerampilan fisik, melainkan juga dapat berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan rasa harga diri (self esteem) dam perkembangan aspek kognitif.
Kurang optimalnya keterampilan motorik halus anak yang dikuasai, berdampak
pada rendahnya penerimaan diri anak, anak mudah putus asa, cepat prustasi, dan
akhirnya enggan melakukan aktivitas-aktivitas lainnya seperti memakai dan
membuka sepatu sendiri, memakai baju sendiri, dan memasangkan kancing baju
sendiri. Karena merasa tidak mampu dibandingkan dengan teman-temannya.
Akhirnya anak menarik diri dari lingkunangan dimana seharunya lingkungan
tersebut merupakan tempat dan nyaman bagi anak untuk belajar dan mempelajari
hidup dan kehidupan.
Keterampilan motorik halus merupakan salah satu kemampuan yang
penting bagi anak TK karena mereka memerlukan hal itu untuk untuk
menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah dan berperan serta dalam kegiatan
bermain dengan teman sebaya. Karena dengan menguasai keterampilan motorik
halus, anak bisa menggerakkan otot-otot kecilnya supaya terampil dan lentur
misalnya dalam kegiatan menggunting, melipat dan menulis.
Desmita (2010: 99) menyatakan bahwa, keterampilan motorik halus
meliputi otot-otot kecil yang ada di seluruh tubuh, seperti menyentuh dan
memegang. Bayi dilahirkan dengan dilengkapi seperangkat komponen penting
yang kelak akan menjadi gerakan-gerakan lengan, tangan, dan jari yang

3
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

terkoordinir dengan baik. Meskipun demikian, pada saat baru dilahirkan, bayi
masih mengalami kesulitan dalam mengontrol keterampilan motorik halusnya.
Hurlock (1978: 162) menyatakan bahwa, penguasaan motorik halus
penting bagi anak, karena sering makin banyak keterampilan motorik yang
dimiliki semakin baik pula penyesuaian sosial yang dapat dilakukan anak serta
semakin baik prestasi disekolah. Keadaan ini sesuai dengan yang di ungkapkan
oleh Sujiono (2005: 7) bahwa, seorang anak yang mempunyai kemampuan
motorik halus yang baik akan mempunyai rasa percaya diri yang besar.
Lingkungan teman-temannya pun akan menerimanya dengan sangat baik,
sedangkan anak yang tidak memiliki keterampilan motorik halus anak akan
kurang diterima teman-temannya. Oleh sebab itu, sebaiknya saat usia keemasan
ini mereka dapat mulai mempelajari berbagai jenis kegiatan yang berhubungan
dengan motorik halus secara bebas sesuai dengan kemampuan mereka sendiri.
Untuk memaksimalkan peningkatan keterampilan motorik halus anak diperlukan
stimulus dari orang dewasa dan guru. Selain itu pendidik juga harus mampu
memberikan rangsangan pada anak dalam meningkatkan kegiatan motorik
halusnya dengan baik karena hal ini akan membuat anak mau melakukan berbagai
kegiatan dengan senang hati tanpa rasa takut dan malu.
Sujiono (2008: 3) bahwa, gerakan yang dilakukan anak sesederhana apa
pun khususnya gerakan motorik halus yang memerlukan gerakan otot-otot kecil
adalah merupakan hasil pola interaksi yang telah dikontrol otak anak, dengan kata
lain segala aktivitas anak terjadi di bawah kontrol otak, kemudian otak akan
mengolah informasi yang diterima melalui penglihatan dan pendengaran anak
kemudian otak anak akan mendiktekan, mengatur dan mengontrol kepada setiap
gerakan (motorik halus) anak. Mayke (2007) menyatakan bahwa, motorik halus
penting karena ini nantinya akan dibutuhkan anak dari segi akademis. Seperti
untuk menulis, menjiplak, menggunting, mewarnai, melipat, menggambar hingga
menarik garis.
Setelah mengetahui permasalahan secara umum di atas jika melihat pada
kenyataan di lapangan, sebagian Taman Kanak-kanak dalam pembelajaran
motorik halus terkadang guru masih menerapkan pembelajaran yang bersifat
4
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

konvensional maksudnya kurangnya keterlibatan anak secara aktif selama proses
pembelajaran berlangsung, kurangnya media pembelajaran dalam meningkatkan
keterampilan motorik halus anak, dan guru kurang memotivasi untuk memberi
kesempatan dan kebebasan anak untuk bergerak pada usia muda terutama pada
perkembangan keterampilan gerak anak.
Lebih lanjut dampak dari permasalahan dalam pembelajaran motorik halus
anak yang diungkapkan oleh Yudha (2004) bahwa, permasalahan yang mungkin
terjadi apabila keterampilan motorik halus ini kurang dilatih, diperbaiki dan
ditingkatkan, dikhawatirkan anak akan kurang mampu memfungsikan otot-otot
kecil dalam menggerakkan jari dan kedua tangannya, anak kurang mampu
mengkoordinasikan kecepatan tangan dan mata, dana anak kurang mampu
mengendalikan kesabaran dan emosi dalam pembelajaran motorik halus.
Hasil dari pengamatan di TK Nurul Falah menunjukkan bahwa, anak
kelompok B memiliki berbagai permasalahan yang berkaitan dengan motorik
halus diantaranya, anak belum dapat memegang pensil dengan benar saat menulis,
tidak beraturan dalam menulis dan mewarnai suatu gambar, kurangnya kordinasi
mata, gerakan tangan, dan tidak adanya keseimbangan otot tangan.
Hambatan yang dialami masing-masing anak yaitu, siswa kelompok B
mengalami kesulitan dalam memegang pensil, tidak adanya keseimbangan otot
tangan, terlalu kuat dalam menggerakan pensil, sehingga tulisan yang dihasilkan
terlalu tandas, mengakibatkan ada bagian kertas yang berlubang dan tidak
beraturan dalam menulis, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk
membentuk goresan atau tulisan, biasanya tulisan yang dapat dibacanya hanya
pada tulisan yang ada di bagian awal atau depan.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa, anak
kelompok B sedang mengalami kelambatan dalam perkembangannya, baik
intelegensi maupun konsentrasi serta sensomotoriknya lemah. Anak kelompok B
memerlukan berbagai kecakapan-kecakapan, dimulai dari yang sederhana untuk
melakukan aktivitas sehari-har, sesuai kemampuan yang dimiliki oleh anak,
seperti bina diri, bermain, dan beberapa kecakapan hidup lainnya di rumah
maupun di sekolah.
5
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Berkaitan dengan pembelajaran di sekolah terdapat banyak metode
pengajaran yang mendukung terhadap pengembangan motorik halus anak. Salah
satu kegiatan yang diharapkan bisa membantu mengatasai permasalahan
mengenai motorik halus yaitu dengan bermain recorder.
Recorder selain digunakan untuk bermain musik kuno atau kontemporer,
recorder juga dapat digunakan dalam pendidikan terutama dalam meningkatkan
keterampilan motorik halus anak. Selain itu masih banyak manfaat recorder untuk
anak, seperti anak akan mendapatkan pengalaman tentang bermain recorder, dan
yang paling penting yaitu, anak dapat melatih koordinasi mata, dan juga dapat
menggerakan pergelangan tangan.
Nandeziegiealakay (2010:12) bahwa, recorder merupakan alat musik yang
masuk dalam kelompok AEROPHONE atau alat musik tiup. Atau disebut juga
Blockflute adalah suling diagonal (block=tongkol) termasuk dalam kelompok alat
musik tiup kayu. Dalam bentuk secara umum sebuah recorder adalah berupa
tabung dengan sumber suara yang dilengkapi dengan lubang-lubang yang
berfungsi sebagai pengatur tinggi rendah nada.
Nandeziegiealakay (2010:12) bahwa, recorder termasuk dalam jenis
musik tiup kayu (aerophone) dengan sumber bunyi dan getaran udara di dalam
alat yang berasal dari mulut yang meniup. Recorder sering di mainkan anak-anak
dikarenakan harganya murah, mudah didapat, dan mudah dimainkan. .
Sehubungan dengan pentingnya meningkatkan keterampilan motorik halus
bagi anak TK maka dilakukan penelitian di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong
Girang No. 92 Bandung kelas B, dengan

judul penelitian “Meningkatkan

Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder di TK”.

6
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

B. Rumusan Masalah
Secara umum penelitian ini di arahkan untuk menjawab pertanyaan
“Bagaimana Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan
Bermain Recorder di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92 Bandung?”
Rumusan masalah diatas secara khusus dijabarkan kedalam pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi objektif keterampilan motorik halus anak di TK Nurul
Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92 Bandung?
2. Bagaimana implementasi kegiatan bermain recorder dalam meningkatkan
keterampilan motorik halus anak di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang
No. 92 Bandung?
3. Bagaimana peningkatan keterampilan motorik halus anak di TK Nurul Falah
Jl. Gegerkalong Girang No. 92 Bandung setelah kegiatan bermain recorder?

C. Tujuan Penelitian
1. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya
peningkatan keterampilan motorik halus anak melalui kegiatan bermain
recorder di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92 Bandung.
2. Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah:
a. Mengetahui sejauh mana kondisi objektif keterampilan motorik halus di
TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92 Bandung sebelum
kegiatan bermain recorder.
b. Mengetahui kegiatan

bermain recorder dalam

keterampilan motorik

halus anak di TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92 Bandung.
c. Mengetahui peningkatan keterampilan motorik halus anak di TK Nurul
Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92 Bandung setelah kegiatan bermain
recorder.

7
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

D. Manfaat Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis
maupun praktis terhadap peningkatan keterampilan motorik halus anak di TK
melalui kegiatan bermain recorder.
1. Manfaat Teoretis
Secara seoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperdalam pengembangan
keilmuan tentang dunia anak usia TK, khususnya tentang kegiatan bermain
recorder di TK.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagia berikut:
a. Bagi anak TK
Dapat lebih mengembangkan keterampilan motorik halusnya melalui
kegiatan-kegiatan yang diberikan guru.
b. Bagi Guru Taman Kanak-Kanak
 Dapat

meningkatkan

pemahaman

guru

mengenai

pentingnya

peningkatan keterampilan motorik halus anak TK melalui kegiatan
bermain recorder.

 Sebagai acuan guru dalam meningkatakan motorik halus di TK
melalui kegiatan bermain recorder.

 Guru memiliki keahlian bermain recorder
c. Bagi Lembaga Pendidik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk
lembaga penyelenggara pendidikan dalam rangka meningkatkan proses
pembelajaran.
d. Bagi Peneliti
Dapat di jadikan bahan kajian lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya
mengenai aspek yang sama secara lebih mendalam.

8
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

E. Definisi Operasional
1.

Menurut Mahendra (1998: 143), keterampilan motorik halus (fine motor skill)
merupakan keterampilan-keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk
mengontrol otot-otot kecil/halus untuk mencapai pelaksanaan keterampilan
yang berhasil. Keterampilan motorik halus yang dimaksud dalam penelitian
ini di batasi pada masalah yang meliputi:
a. Dapat mengkoordinasikan mata
b. Dapat menggerakkan ibu jari dan telunjuk
c. Dapat menggerakkan otot-otot tangan

2.

Jamalus dan Busroh, (1992) dalam Soemirat (2000) menyatakan bahwa:
Untuk mempermudah mengenal alat musik sebaiknya dimulai dengan
memperkenalkan

jenis recorder. Recorder

adalah

jenis alat musik

aerophone (bunyi yang dihasilkan oleh getaran udara) yang merupakan salah
satu anggota keluarga fipple flute yaitu alat musik pada bagian mouth piecenya terdapat fipple atau block.
F. Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

peningkatan keterampilan

motorik halus anak melalui kegiatan bermain recorder di TK Nurul Falah Jl.
Gegerkalong Girang No. 92 Bandung. Maka penelitian ini menggunakan
penelitian tindakan kelas (classroom action research). Lokasi penelitian ini akan
dilaksanakan di Taman Kanak-kanak Nurul Falah yang beralamatkan di Jalan
Gegerkalong Girang No. 92 Bandung. Adapun subjek penelitiannya adalah anakanak kelompok B yang berjumlah 10 orang yang terdiri dari lima anak perempuan
dan 5 anak laki-laki.
Menurut Elliot PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan dimaksud
untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982: 6). Seluruh
prosesnya telah diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruh
menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan
profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan
Tanggart, yang menyatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif
9
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan
penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan
praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Tanggart, 1988).
Lebih lanjut dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu
pendekatan

untuk

memperbaiki

pendidikan

melalui

perubahan,

dengan

mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis
terhadap praktik tersebut dan agar mau untuk mengubahnya. PTK bukan sekedar
mengajar, PTK mempunyai makna sadar kritis terhadap dirinya sendiri untuk
bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK
mendorong guru untuk berani bertindak dan berfikir kritis dalam mengembangkan
teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab menangani
pelaksanaan tugasnya secara profesional.
Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai
peneliti,

yang

senantiasa

bersedia

meningkatkan

kualitas

kemampuan

mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara
sistematis, realitas, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua aksinya di
depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan
kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi”nya masih terdapat
kekurangan dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas
yang menjadi tanggung jawabnya tidak terjadi permasalahan.

10
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Taman Kanak-kanak Nurul Falah Jl.
Gegerkalong Girang No. 92 Bandung. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa
kelompok B TK Nurul Falah Jl. Gegerkalong Girang No. 92 Bandung yang
berjumlah 10 anak dan satu orang guru.
Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena: (1) berdasarkan hasil
wawancara peneliti pada tanggal 11 Januari 2013 dengan guru, ternyata anak-anak
mengalami kesulitan dalam pembelajaran motorik halus, (2) pada pembelajaran
motorik halus motode yang digunakannya kurang bervariasi, (3) keterampilan
motorik halus anak masih sangat rendah, walaupun sudah berjalan satu semester.
Melihat permasalahan ini, maka perlu adanya variasi metode pembelajaran untuk
meningkatkan keterampilan motorik halus yaitu, dengan kegiatan bermain
recorder sebagai salah satu metode alternatif pembelajaran, (4) TK Nurul Falah Jl.
Gegerkalong Girang No. 92 Bandung adalah tempat di mana peneliti mengajar
sehingga peneliti dapat memperbaiki proses pembelajaran motorik halus di kelas
karena di TK Nurul Falah belum pernah diberikan kegiatan motorik halus melalui
kegiatan bermain recorder sehingga kemampuan anak dalam motorik halus belum
mencapai indikator yang diharapkan.

B. Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan Model Elliot yang terdiri dari
komponen penelitian tindakan kelas (perencanaan, tindakan, observasi, dan
refleksi) dalam suatu sistem spiral yang sering terkait. Menurut Igak wardani dkk
(2007: 1) mengatakan bahwa, penelitian tindakan kelas adalah: Penelitian yang
dilakukan guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan
memperbaiki kinerja sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa meningkat.
Pemilihan riset aksi Model Elliot dianggap sudah lebih detail dan rinci.
Dikatakan demikian, karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

beberapa aksi yaitu, antara tiga sampai dengan lima aksi (tindakan). Sementara
itu, setiap aksi memungkinkan terdiri dari beberapa langkah yang terealisasi
dalam bentuk kegiatan belajar mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada
penelitian tindakan kelas Model Elliot ini, agar terdapat kelancaran yang lebih
tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanaan aksi atau proses belajar mengajar.
Siklus

dilaksanakan

secara

berkesinambungan

hingga

peneliti

mendapatkan solusi untuk memecahkan permasalahan yang muncul secara
optimal, sehingga proses pembelajaran dapat meningkat ke arah yang lebih baik
lagi. Lebih lanjut Elliot menyatakan bahwa, terincinya setiap tindakan sehingga
menjadi beberapa langkah karena suatu pembelajaran terdiri dari beberapa sub
pokok bahasan atau materi pelajaran. Namun dalam praktek di lapangan setiap
pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi
akan diselesaikan dalam beberapa langkah.
Penelitian ini akan dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus
dengan tahapan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil dari
refleksi ini akan digunakan sebagai pertimbangan dalam membuat perencanaan
bagi siklus selanjutnya jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil,
maka dilakukan siklus selanjutnya sehingga mencapai hasil yang diharapkan.

29
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Adapun siklus tindakan yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
Gambar Desain Penelitian Tindakan Kelas
Pelaksanaan

Perencanaan

Pengamatan

Siklus 1

Refleksi

Pelaksanaan

Perencanaan

Siklus II

Pengamatan

Refleksi

Dan siklus
seterusnya

Gambar 3.1
Riset Aksi Model Elliot
(dalam Muslihuddin, 2009: 72)

30
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Desain pelaksanaan PTK yang akan dilakukan sesuai skema di atas, dapat
dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 3.1
Alur Tindakan Penelitian Siklus I

S

Perencanaan

I
K
L

Tindakan

U

Kegiatan:
1. Menganalisis materi pembelajaran
2. Menenetukan dan menyiapkan materi
3. Membuat rencana pembelajaran
4. Menyiapkan media pembelajaran
recorder
5. Membuat lembar pengamatan

seperti

1. Tahap permulaan guru memberi penjelasan
kepada anak tentang materi yang akan dipelajari
2. Guru menjelaskan tentang cara bermain
recorder
3. Guru menjelaskan dan membimbing anak
bagaimana cara bermain recorder

S
Reflkesi

Menganalisa hasil observasi untuk memperoleh
kesimpulan bagaimana yang perlu
disempurnakan untuk siklus berikutnya.

I

31
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tabel 3.2
Alur Tindakan Penelitian Siklus II

S

Perencanaan

I

Kegiatan:
1. Apresiasi untuk perbaikan materi yang telah di
ajukan pada siklus satu
2. Memperbaiki kesalahan/kekurangan pada siklus satu

K
L

Tindakan

1. Anak melakukan pembelajaran menggunakan
kegiatan bermain recorder
2. Guru meminta anak-anak untuk bermain recorder

Refleksi

Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis.
Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan menjadi hasil
kemampuan membaca selama dua siklus

U
S
II
Berdasarkan gambar alur penelitian tindakan kelas di atas, terdapat empat
tahap yang lazim dilalui dalam model penelitian ini. Tahap tersebut dijabarkan
dalam langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan penelitian tindakan
kelas sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan Tindakan (Planning)
Hasan (1996) menyatakan bahwa, bagian awal dari rancangan penelitian
tindakan kelas berisi rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan
masalah yang telah ditetapkan. Guru dan peneliti secara kolaboratif merencanakan
tindakan, dalam rencana tindakan hendaknya dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Permohonan ijin kepada kepala sekolah dan guru kelompok B, serta guru-guru
kelompok lainnya sebagai mitra peneliti.
b. Mengadakan penelitian awal untuk memperoleh data yang akan dijadikan
indikator untuk mengukur pencapaian pemecahan masalah sebagai akibat
dilakukannya tindakan.
32
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

c. Penetapan tindakan-tindakan yang diharapkan akan menghasilkan dampak ke
arah perbaikan program.
d. Memperkenalkan teknik pembelajaran yang di anggap lebih efektif untuk
pencapaian indikator.
e. Merumuskan rancangan kegiatan.
f. Menyiapkan instrument pengumpulan data dan teknik pengolahan data untuk
digunakan dalam pelaksanaan tindakan.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Dalam tahap ini merupakan implementasi (pelaksanaan) dari semua
rencana yang telah dibuat. Guru melakukan tindakan yang berupa interventasi
terhadap kegiatan atau program yang menjadi tugas sehari-hari. Rancangan
skenario yang telah dirumuskan oleh peneliti di cobakan untuk dilaksanakan
dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas rendah melalui kegiatan
bermain recorder. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti harus mengacu
kepada kurikulum yang berlaku, dan hasilnya diharapkan dapat mempertajam
refleksi dan evaluasi yang dilakukan terhadap apa yang terjadi di kelasnya.
3. Tahap Pengamatan (Observing)
Kegiatan ini merupakan observasi terhadap kondisi objektif. Hal ini
meliputi aspek-aspek: karakteristik, masalah membaca di kelas rendah, perhatian
anak ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar, kesiapan perkembangan jiwa
siswa, kegiatan bimbingan dan pengelolaan KBM guru.
Kasbolah (1999) menyatakan bahwa, pada pelaksanaannya tahap observasi
dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi secara lebih
operasional merupakan semua kegiatan untuk mengenal, merekam dan
mendokumentasikan setiap hal dari proses dan hasil yang di capai oleh tindakan
yang direncanakan ataupun sampingannya.
Dalam hal ini kegiatan inti yang dilakukan peneliti bersama tim adalah
menghimpun data melalui pedoman pengamatan atau alat pengumpul data yang
telah di persiapkan untuk dapat menghasilkan temuan dan masukan yang di dapat
selama kegiatan belajar berlangsung dalam upaya untuk memodifikasi dan

33
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

merencanakan kembali tindakan-tindakan yang akan dilakukan dalam mencapai
tujuan yang diharapkan.
4. Tahap Refleksi (Reflecting)
Tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang di dapat pada
saat dilakukan pengamatan (observasi). Data yang di dapat kemudian di tafsirkan
dan dicari eksplanasinya (penjelasan). Dengan demikian data yang berhasil
dikumpulkan melalui alat pengumpul data yang berhasil tercatat maupun yang
tidak, akan dikonfirmasikan dan di analisis serta di evaluasi untuk diberikan
makna supaya dapat di ketahui pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan
tersebut tercapai atau belum agar peneliti dapat kejelasan mengenai yang akan
dilakukannnya kemudian.
Bila dalam refleksi dirasakan ada hal-hal yang perlu dilakukan perubahan
atau penyempurnaan, maka akan dirumuskan lagi bagian-bagian mana yang akan
diperbaiki sehingga aspek-aspek yang kurang baik menjadi baik. Penyempurnaanpenyempurnaan ke arah perbaikan tindakan selanjutnya dirumuskan untuk
dituangkan kedalam rencana tindakan baru.

C. Metode Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, secara
umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang penggunaan
dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak di TK. Penelitian ini
diharapkan dapat menciptakan suatu perbaikan, peningkatan dan perubahan ke
arah yang lebih baik, dalam meningkatkan keterampilan motorik halsu anak TK.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan secara kolaborasi
dengan guru kelas sebagai mitra dalam penelitian.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dengan
alasan: (1) penelitian ini berupaya untuk melakukan inovasi terhadap kegiatan
pembelajaran di kelas, (2) pelaksanaan penelitian tindakan kelas tidak
mengganggu tugas pokok seorang guru, (3) penelitian tindakan kelas sangat
kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika
34
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pembelajaran di kelas. Kegiatan penelitian ini dimulai dengan kegiatan orientasi
dan observasi terhadap latar belakang penelitian yang meliputi latar belakang
Taman Kanak-kanak, sasaran, guru, anak, dan kegiatan belajar mengajar
membaca dini di sekolah tersebut. Kemudian melalui pedoman observasi dan
wawancara semua informasi tentang kemampuan membaca anak usia Taman
Kanak-kanak akan di dapat.
Arikunto (2007) menyatakan bahwa, pelaksanaan

penelitian tindakan

kelas ini secara garis besar di laksanakan dalam empat tahapan yang lazim dilalui,
yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.
Hubungan antara ke empat komponen tersebut menunjukkan sebuah siklus atau
kegiatan berulang. “Siklus” inilah yang sebetulnya menjadi salah satu ciri utama
dari penelitian tindakan kelas. Dengan demikian, penelitian tindakan kelas tidak
terbatas dalam satu kali intervensi saja, tetapi berulang hingga mencapai
ketuntasan yang diharapkan.
Rincian kegiatan penelitian tersebut, adalah persiapan penelitian,
koordinator persiapan tindakan pelaksanaan (perencanaan, tindakan, monitoring,
evaluasi, dan refleksi). Penyusunan laporan pendidikan, penyempurnaan
berdasarkan saran dari dosen pembimbing dan pihak lain yang dirasa perlu.
Penggandaan dan pengiriman laporan pendidikan. Penelitian tindakan kelas
memiliki karakteristik tersendiri dengan penelitian model lain.
Wardani (2002: 14) menyatakan bahwa, karakteristik PTK anatara lain: (1)
Penelitian berawal dari kerisauan guru akan kinerjanya, (2) Metode utama adalah
refleksi, bersifat longgar, tetapi tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian, (3)
Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran, dan (4) tujuannya memperbaiki
pembelajaran.
Aqib (2008: 16) menyatakan bahwa, karakteristik PTK antara lain: (1)
Didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional, (2) Adanya
kolaborasi dalam pelaksanaannya, (3) Peleliti sekaligus sebagai praktisi yang
melakukan refleksi, (4) Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas
praktik instruksional, dan (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan
beberapa siklus.
35
Neneng Nurhayati, 2014
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Recorder
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Mencermati pendapat di atas bahwa karakteristik PTK adalah berangkat
dari masalah, bersifat kolaborasi, adanya tujuan untuk memperbaiki atau
meningkatkan kualitas pembelajaran dan merupakan rangkaian siklus. Dalam
melaksanakan penelitian langkah-langkah yang ditempuh tidak terlepas dari
prinsip-prinsip penelitian.
Kasabolah (1999) mengungkapkan bahwa, prinsip-prinsip penelitian
adalah sebagai berikut:
1.

Tugas utama guru adalah mengajar, artinya penelitian tindakan tidak boleh
mengganggu tugas mengajar.

2.

Dalam melakukan penelitian tindakan pengumpulan data tidak boleh terlalu
banyak menyita waktu.

3.

Metodelogi yang dipakai harus tepat dan terpercaya.

4.

Masalah penelitian yang akan ditangani harus merupakan masalah yang
memang dihadapi. Masalah yang menarik dan bersifat faktual.

5.

Penelitian tindakan ini tidak boleh menyimpang dari prosedur etika di
lingkungan kerjanya.

6.

Penelitian tindakan merupakan suatu proses yang sistematis

7.

Penelitian tindakan berorientasi pada perbaikan kinerja dengan melakukan
perubahan yang dituangkan dalam bentuk tindakan.

8.

Penelitian tindakan menuntut peneliti mencatat kemajuan, persoalan yang
dihadapi, dan hasil refleksi tentang kinerja guru.

9.

Penelitian tindakan sebaiknya dimulai dengan hal-hal sederhana terlebih
dahulu namun nyata. Dengan demikian siklus dimulai dengan yang kecil
sehingga perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi dapat membuat
isu, ide, dan asumsi menjadi lebih jelas.

10. Dalam Penelitian tindakan peneliti melihat dan menilai diri sendiri secara
kritis terhadap apa yang dikerja

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1618 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 417 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 377 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 237 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 488 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 430 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 277 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 511 23