HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN SUSU DENGAN TUMBUH KEMBANG BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Air Susu Ibu (ASI)

  1. Definisi ASI Menurut khasanah (2011) menjelaskan bahwa ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui.

  ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garam- garam anorganik yang disekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna bagi makanan bayi (Khamzah, 2012).

  2. Komposisi ASI Tahapan produksi ASI adalah kolostrum, ASI transisi dan ASI matur.

  Kolostrum adalah ASI yang berwarna kekuningkuningan atau jernih dan lebih kental, dan hanya diproduksi sekali pada hari pertama bayi lahir (Depkes RI, 2007). ASI transisi merupakan ASI peralihan dari kolostrum ke ASI biasa sampai hari ke-14, warnanya mulai memutih, sedangkan ASI matur sudah berwarna putih dan merupakan makanan lengkap untuk bayi (Indiarti & Sukaca, 2009).

  

29 Komposisi kolostrum dan ASI dapat dilihat pada tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1 Komposisi Kolostrum dan ASI

  35.0

  30.0

  40.0

  9 Vitamin B12 Mg

  0.05

  0.1

  10 Kalsium Mg

  39.0

  11 Zat Besi (Fe) Mg 70.0 100.0

  14.0

  12 Fosfor Mg

  14.0

  15.0 Sumber: Depkes RI, 2007

  3. Manfaat ASI

  a. Manfaat yang diberikan ASI bagi bayi Menurut Khasanah (2011) manfaat yang diberikan ASI untuk bayi adalah sebagai berikut :

  1) ASI baik bagi pertumbuhan emas otak bayi Otak bayi membesar dua kali lipat dalam tahun pertama kehidupan. Sel-sel otak yang banyaknya 14 miliar sel, tidak bisa tumbuh dan berkembang secara alami saja sehingga ia membutuhkan nutrisi. ASI mengandung AA (Asam Arakhidonat) yang termasuk kelompok omega-6 dan DHA (Asam Dekosa

  Heksanoat ) kelompok omega-3 dan nutrisi lain seperti protein,

  8 Vitamin B2 Ug

  1.9

  (setiap 100 ml) No

  3 Kasein Mg 140.0 187.0

  Zat-zat Gizi Satuan Kolostrum ASI

  1 Energi Kkal

  58.0

  70

  2 Protein G

  2.3

  0.9

  4 Laktosa G

  7 Vitamin B1 Ug

  5.3

  7.3

  5 Lemak G

  2.9

  4.2

  6 Vitamin A Ug 151.0

  75.0

  laktosa, dan lemak lainnya yang merupakan zat yang dapat merangsang pertumbuhan otak bayi. Makanan yang paling bagus dan dapat menunjang pertumbuhan otak bayi tidak ada selain ASI eksklusif. 2) ASI sebagai sumber gizi

  ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhan. Jika proses menyusui dilakukan dengan teknik yang tepat dan benar, produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal bagi bayi normal sampai dengan usia 6 bulan. Selain nutrisinya yang lengkap, jumlah atau volume dan komposisi ASI juga akan menyesuaikan kebutuhan bayi. 3) ASI meringankan pencernaan bayi

  Kondisi system pencernaan bayi pada bulan-bulan pertama belum berfungsi secara sempurna. Sehinggga nutrisi yang masuk tidak boleh yang memperberat kerja system pencernaan. Selain ASI mengandung nutrisi yang lengkap, ASI juga dilengkapi dengan enzim-enzim yang membantu proses pencernaan sehingga meringankan kerja system pencernaan bayi.

  4) ASI meningkatkan kekebalan tubuh bayi Disamping memenuhi kebutuhan nutrisinya, ASI juga melindungi bayi dari berbagai macam penyakit. ASI mengandung faktor kekebalan tubuh yang diperlukan bagi tubuh, ASI awal mengandung faktor kekebalan tubuh yang lebih tinggi dibandingkan ASI yang keluar selanjutnya.

  5) ASI menghindari bayi dari alergi Alergi adalah suatu bentuk penolakan tubuh yang berlebihan atas masuknya zat asing kedalam tubuh. Alergi sering terjadi pada bayi karena sistem pengamanan tubuh yang belum terbentuk sempurna. Bayi yang diberi ASI terhindar dari alergi karena ASI mengandung antibody IgA tinggi dalam ASI yang berfungsi sebagai pencegahan sistem imun terhadap zat pemicu alergi.

  6) ASI tidak menimbulkan karies gigi pada bayi Kandungan selenium yang banyak dalam ASI mampu melindungi bayi terhadap timbulnya karies gigi. Karies gigi pada bayi yang terdapat pada susu formula jauh lebih tinggi dibanding yang terdapat pada ASI.

  b. Manfaat yang diberikan ASI bagi ibu Manfaat memberikan ASI tidak hanya dirasakan oleh bayi saja, tetapi menyusui juga banyak memberikan manfaat bagi ibu, adapun manfaat bagi ibu menurut Khasanah (2011) adalah : 1) Menguntungkan secara ekonomi

  Dengan ibu menyusui bayinya maka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi, dengan demikian menyusui dapat menghemat pengeluaran rumah tangga. Biaya bisa dialokasikan untuk memberikan makanan yang bergizi bagi ibu karena menyusui memerlukan zat gizi yang lebih 2) Timbul rasa percaya diri

  Menyusui dapat memberikan rasa percaya diri bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayinya

  3) Menyusui dapat menunda kehamilan Menyusui dapat dijadikan cara Keluarga Berencana (KB) yang paling efektif untuk mencegah kehamilan jika dilakukan secara tepat dengan beberapa syarat, yaitu belum mengalami menstruasi, pemberian ASI-nya tidak boleh dihentikan sama sekali. Dengan menyusui dapat menunda haid dan kehamilan sehingga hal ini bisa digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal dengan Metode Amenorea Laktasi (MAL)

  4) Mempercepat pengecilan ukuran Rahim Saat menyusui, terdapat hormone oksitosin yang berperan dalam produksi ASI, hormone tersebut juga berfungsi membantu rahim kembali lebih cepat dibandingkan ibu yang tidak menyusui. 5) Mengurangi resiko berat badan berlebih

  Dengan menyusui, lemak yang ada di tubuh akan diubah menjadi ASI sehingga tidak menyebabkan kegemukan dan cepat mengembalikan bentuk tubuh seperti sebelumnya. Menyusui membutuhkan energi sekitar 500 kalori per hari sehingga ibu tidak perlu mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi.

  6) Mengurangi resiko kanker payudara Diperkirakan zat innate immune system yang terdapat dalam

  ASI memberikan perlindungan terhadap jaringan payudara ibu sehingga bisa terhindar dari ancaman kanker payudara.

  7) Mengurangi stress dan kegelisahan Hormon oksitosin akan keluar saat ibu menyusui bayinya, hormone ini berguna untuk mengurangi stress yang dialami sehingga ibu yang menyusui akan memiliki perasaan yang positif dan dapat melakukan lebih banyak hal-hal positif lainnya.

  c. Manfaat ASI bagi Negara Menurut Prasetyo (2009) manfaat ASI bagi Negara adalah sebagai berikut:

  1) Menghemat devisa Negara karena tidak perlu mengimpor susu formula dan peralatan lainnya.

  2) Bayi sehat membuat Negara lebih sehat. 3) Menghemat pada sector kesehatan, karena jumlah bayi yang sakit hanya sedikit.

  4) Memperbaiki kelangsungan hidup anak dengan menurunkan angka kematian.

  5) Melindungi lingkungan lantaran tidak ada pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk merebus air, susu, dan perlengkapannya.

  6) ASI merupakan sumber daya yang terus-menerus diproduksi.

B. Susu Formula

  1. Definisi Susu Formula Susu formula adalah susu buatan yang diproduksi oleh pabrik sebagai substitusi atau pengganti ASI karena ASI tidak ada atau tidak bisa diberikan (Lisal, 2008).

  Susu formula menurut WHO (2013) yaitu susu yang diproduksi oleh industri untuk keperluan asupan gizi yang diperlukan bayi. Susu formula kebanyakan tersedia dalam bentuk bubuk. Perlu dipahami susu cair steril sedangkan susu formula tidak steril.

  Pemberian susu formula diindikasikan untuk bayi yang karena sesuatu hal tidak mendapatkan ASI atau sebagai tambahan jika produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi. Penggunaan susu formula ini sebaiknya meminta nasehat kepada petugas kesehatan agar penggunaannya tepat (Nasar, dkk, 2010).

  Walaupun memiliki susunan nutrisi yang baik, tetapi susu sapi sangat baik hanya untuk anak sapi, bukan untuk bayi. Oleh karena itu, sebelum dipergunakan untuk makanan bayi, susunan nutrisi susu formula harus diubah hingga cocok untuk bayi. Sebab, ASI merupakan makanan bayi yang ideal sehingga perubahan yang dilakukan pada komposisi nutrisi susu sapi harus sedemikian rupa hingga mendekati susunan nutrisi ASI (Khasanah, 2011).

  2. Komposisi Susu Formula

  Secara umum, komposisi utama susu formula adalah susu sapi yang mengandung laktosa dan/atau sukrosa sebagai sumber karbohidrat, protein susu sapi, dan biasanya ditambahkan minyak nabati sebagai sumber lemak, khususnya sumber Polyunsaturated Fatty Acid (PUFA). Ada pula susu formula khusus yang disediakan untuk bayi/anak yang memiliki penyakit tertentu (Wardlaw and Hampl, 2007). Susu formula umum ada beberapa jenis, yaitu:

  a. Adapted Formula (AF), susu formula yang disesuaikan dengan kebutuhan bagi bayi yang baru lahir samapi umur 6 bulan (Khasanah, 2011).

  b. Complete Starting Formula (CSF), susu formula dengan susunan zat gizinya lengkap dan pemberiannya dapat dimulai setelah bayi dilahirkan.

  c. Follow Up Formula (FUF), susu formula lanjutan yang gunanya mengganti formula bayi yang sedang dipakai dengan formula tersebut.

  d. Susu formula Premature, susu formula yang digunakan untuk bayi yang lahir premature.

  e. Susu Hipoalergenik (Hidrolisat), susu formula yang diberikan kepada bayi yang mengalami gangguan pencernaan protein.

  f. susu formula bebas laktosa untuk bayi dan anak yang

  Susu Soya, mengalami alergi terhadap protein susu sapi (Khamzah, 2012).

  g. Kid formula (1+), susu formula untuk anak berusia di atas 1 tahun.

  Kandungan proteinnya lebih tinggi dengan vitamin dan mineralnya sebab kebutuhan bayi juga bertambah. Komposisi masing-masing susu formula tersebut bila dibandingkan dengan susu sapi dan ASI dapat dilihat dalam tabel 2.2 sebagai berikut.

Tabel 2.2 Perbandingan Komposisi antara Susu Sapi (SS), Air Susu Ibu (ASI), Adapted Formula (AF).

  Zat Gizi Susu Sapi ASI AF Energi (kkal) 65 65-70 67-67,6 Protein (g) 3,4 0,9-1,4 1,5-1,6 Kasein/whey (g) 1-1,2 0,7-1,5 0,9-0,96 Kasein (g) - 0,4-0,5 0,6-0,64 Laktamil bumil (mg) - 161 - Laktoferin (mg) - 167 - Ig (A) - 142 - Laktosa (g) 4,3 7,3 - Lemak (g) 3,9 3,0-5,5 3,4-3,64 Vitamin A (mg)

  41 75 - Vitamin B1 (mg)

  43 14 - Vitamin B2 (mg) 145 40 - Asam Nikotinmik (mg) 82 160 - Vitamin B6 (mg) 64 12-15 - Asam pantotenik (mg) 340 246 - Biotin (mg) 2,8 0,6 - Asam folat (mg) 0,13 0,1 - Vitamin B12 (mg) 0,02 0,1 - Vitamin C (mg) 1,1 5 - Vitamin D (mg) 0,02 0,04 - Vitamin Z (mg) 0,07 0,25 - Vitamin K (mg) 6 1,5 - Mineral (g) - 0,2 0,25-0,3 Kalsium (mg) 130 30-35 44,4-60 Kalium (mg) - 40 55-72 Klorin (mg) 108 30-40 37-41 Tembaga (mg)

  14 40 - Zat besi atau ferum (mg) 70 100 0,5-1,3 Magnesium (mg)

  12 4 4,6-5,3 Potassium (mg) 145 57 - Sodium (mg)

  58 15 - Sulfur (mg)

  30 14 - Fosfor (mg) - 30 28,3-34 Natrium (mg) - 10 15-24

  Sumber : Nur Khasanah (2011) & Siti Nur Khamzah (2012)

  Beberapa bahan dasar yang sering ditambahkan untuk keperluan tertentu termasuk kelengkapan nutrisi, di antaranya adalah (Widodo, 2009):

  a. Susu bubuk skim. Susu bubuk skim yang ditambahkan memiliki padatan total 96,81% (protein 34,11%, kadar lemak 1,33% dan kadar air 3,19%). Penambahan skim bertujuan untuk meningkatkan kadar lemak.

  b. Potasium kaseinat, merupakan bahan tambahan kadar yang kadar protein 84,15%, lemak 0,63%, padatan total 95,63, dan kadar air 4,37%. Penambahan potasium kaseinat bertujuan mengatur kadar protein pada produk akhir.

  c. Butter oil, ditambahkan bila produk akhir yang dikehendaki memiliki kadar lemak yang tinggi.

  d. Vitamin premik, merupakan campuran vitamin (A, D, E, K, kalsium pantotenat, thiamin monositrat, nikotinamida, piridoksin, hidroklorida, asam folat, sodium askorbat dan Dbiotin).

  e. Mineral sebagai elemen yang sering ditambahkan pada susu formula bubuk untuk memenuhi nutrisi bayi.

  f. Lesitin, merupakan bioemulsifier yang mampu menggabungkan gugus polar dan non polar sehingga susu bubuk dapat larut air.

  g. Raftilosa, malto dekstrin dan Frukto Oligosakarida (FOS), diberikan sebagai prebiotik. h. Madu dan sukrosa, diberikan untuk memberi rasa manis pada susu, terutama susu formula bubuk untuk balita. i. Kalsium karbonat, penambahannya bertujuan untuk pengkayaan kalsium pada susu formula bubuk.

  3. Kelemahan Susu Formula Siti Nur Khamzah (2012) menjelaskan beberapa kelemahan atau kekurangan yang ada pada susu formula yaitu : a. Kandungan susu formula tidak selengkap ASI

  b. Susu formula mudah tercemar

  c. Menimbulkan diare dan sering muntah

  d. Menimbulkan alergi

  e. Obesitas

  f. Pemborosan

  g. Kurang vitamin dan zat besi

  h. Terlalu banyak mengandung garam i. Kandungan lemak dan protein yang tidah cocok j. Menimbulkan alergi

  Sutomo dan Anggraini (2010) juga menjelaskan susu formula mempunyai beberapa kelemahan, antara lain; kurang praktis karena harus dipersiapkan terlebih dahulu, tidak dapat bertahan lama, mahal dan tidak selalu tersedia, cara penyajian harus tepat dapat menyebabkan alergi.

  4. Efek atau dampak negatif pemberian susu formula Roesli (2008) menjelaskan berbagai dampak negatif yang terjadi pada bayi akibat dari pemberian susu formula, antara lain: a. Gangguan saluran pencernaan (muntah, diare)

Judarwanto (2007) menjelaskan bahwa anak yang diberi susu formula lebih sering muntah/gumoh, kembung, “cegukan”, sering

  buang angin, sering rewel, susah tidur terutama malam hari. Saluran pencernaan bayi dapat terganggu akibat dari pengenceran susu formula yang kurang tepat, sedangkan susu yang terlalu kental dapat membuat usus bayi susah mencerna, sehingga sebelum susu dicerna oleh usus akan dikeluarkan kembali melalui anus yang mengakibatkan bayi mengalami diare (Khasanah, 2011).

  b. Infeksi saluran pernapasan Gangguan saluran pencernaan yang terjadi dalam jangka panjang dapat mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (Judarwanto, 2007). Susu sapi tidak mengandung sel darah putih hidup dan antibiotik sebagai perlindungan tubuh dari infeksi. Proses penyiapan susu formula yang kurang steril dapat menyebabkan bakteri mudah masuk (Khasanah, 2011).

  c. Meningkatkan resiko serangan asma ASI dapat melindungi bayi dari penyakit langka botulism, penyakit ini merusak fungsi saraf, menimbulkan berbagai penyakit pernapasan dan kelumpuhan otot (Nasir, 2011). Peneliti sudah mengevaluasi efek perlindungan dari pemberian ASI, bahwa pemberian ASI melindungi terhadap asma dan penyakit alergi lain. Sebaliknya, pemberian susu formula dapat meningkatkan resiko tersebut (Oddy, dkk, 2003) dalam (Roesli, 2008).

  d. Meningkatkan kejadian karies gigi susu ASI mengurangi penyakit gigi berlubang pada anak (tidak berlaku pada ASI dengan botol), karena menyusui lewat payudara ada seperti keran, jika bayi berhenti menghisap, otomatis ASI juga akan berhenti dan tidak seperti susu botol. Sehingga ASI tidak akan mengumpul pada gigi da menyebabkan karies gigi (Nasir, 2011).

  e. Menurunkan perkembangan kecerdasan kognitif Susu formula mengandung glutamate (MSG-Asam amino) yang merusak fungsi hypothalamus pada otak

  • – glutamate adalah salah satu zat yang dicurigai menjadi penyebab autis (Nasir, 2011).

  Penelitian Smith, dkk (2003) dalam Roesli (2008), bayi yang tidak diberi ASI mempunyai nilai lebih rendah dalam semua fungsi intelektual, kemampuan verbal dan kemampuan visual motorik dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI.

  f. Meningkatkan resiko kegemukan (obesitas) Kelebihan berat badan pada bayi yang mendapatkan susu formula diperkirakan karena kelebihan air dan komposisi lemak tubuh yang berbeda dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI (Khasanah, 2011).

  Penelitian yang dilakukan oleh Amstrong,dkk (2002) dalam Roesli (2008) membuktikan bahwa kegemukan jauh lebih tinggi pada anak-anak yang diberi susu formula. Kries dalam Roesli (2008) menambahkan bahwa kejadian obesitas mencapai 4,5%- 40% lebih tinggi pada anak yang tidak pernah diberikan ASI.

  g. Meningkatkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah ASI membantu tubuh bayi untuk mendapat kolesterol baik, artinya melindungi bayi dari penyakit jantung pada saat sudah dewasa.

  ASI mengandung kolesterol tinggi (fatty acid) yang bermanfaat untuk bayi dalam membangun jaringan-jaringan saraf dan otak. Susu yang berasal dari sapi tidak mengandung kolesterol ini (Nasir, 2011).

  Hasil penelitian Singhal, dkk (2001) dalam Roesli (2008); menyimpulkan bahwa pemberian ASI pada anak yang lahir prematur dapat menurunkan darah pada tahun berikutnya.

  h. Meningkatkan resiko infeksi yang berasal dari susu formula yang tercemar Pembuatan susu formula di rumah tidak menjamin bebas dari kontaminasi mikroorganisme patogen. Penelitian menunjukkan bahwa banyak susu formula yang terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen (Sidi, et al. 2003).

  Kasus wabah Enterobacteri zakazakii di Amerika Serikat, dilaporkan kematian bayi berusia 20 hari yang mengalami demam, takikardia, menurunnya aliran darah dan kejang pada usia 11 hari (Weir (2002) dalam Roesli, 2008). i. Meningkatkan kurang gizi

  Pemberian susu formula yang encer untuk menghemat pengeluaran dapat mengakibatkan kekurangan gizi karena asupan kurang pada bayi secara tidak langsung. Kurang gizi juga akan terjadi jika anak sering sakit, terutama diare dan radang pernafasan (Roesli, 2008). j. Meningkatkan resiko kematian

  Chen dkk (2004) dalam Roesli (2008), bayi yang tidak pernah diberi ASI berisiko meninggal 25% lebih tinggi dalam periode sesudah kelahiran daripada bayi yang mendapat ASI. Pemberian ASI yang lebih lama akan menurunkan resiko kematian bayi.

  Praptiani (2012), menyusui adalah tindakan terbaik karena memberikan susu melalui botol dapat meningkatkan resiko kesehatan yang berhubungan dengan pemberian susu formula diantaranya yaitu; Peningkatan infeksi lambung, infeksi otitis media, infeksi perkemihan, resiko penyakit atopik pada keluarga yang mengalami riwayat penyakit ini, resiko kematian bayi secara mendadak, resiko diabetes melitus bergantung insulin, Penyakit kanker dimasa kanak- kanak

  5. Faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula Arifin (2004), menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan yaitu: a. Faktor pendidikan

  Seseorang yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas akan lebih bisa menerima alasan untuk memberikan ASI eksklusif karena pola pikirnya yang lebih realistis dibandingkan yang tingkat pendidikan rendah (Arifin, 2004).

  b. Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif adalah hal yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang, salah satunya kurang memadainya pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI yang menjadikan penyebab atau masalah dalam peningkatan pemberian ASI (Roesli, 2008).

  c. Pekerjaan Bertambahnya pendapatan keluarga atau status ekonomi yang tinggi serta lapangan pekerjaan bagi perempuan berhubungan dengan cepatnya pemberian susu botol. Artinya mengurangi kemungkinan untuk menyusui bayi dalam waktu yang lama (Amirudin, 2006).

  Penelitian Erfiana (2012), ibu yang tidak memberikan susu formula sebagian besar oleh ibu yang tidak bekerja yaitu sebanyak 32 responden (88,9%) sehingga status pekerjaan dapat mempengaruhi pemberian susu formula pada bayi. d. Ekonomi Hubungan antara pemberian ASI dengan ekonomi/ penghasilan ibu dimana ibu yang mempunyai ekonomi rendah mempunyai peluang lebih memilih untuk memberikan ASI dibanding ibu dengan sosial ekonomi tinggi kerena ibu yang ekonominya rendah akan berfikir jika ASI nya keluar maka tidak perlu diberikan susu formula karena pemborosan (Arifin, 2004).

  e. Budaya Budaya modern dan perilaku masyarakat yang meniru negara barat mendesak para ibu untuk segera menyapih anaknya dan memilih air susu buatan atau susu formula sebagai jalan keluarnya (Arifin, 2004).

  f. Psikologis Ibu yang mengalami stres dapat menghambat produksi ASI sehingga ibu kurang percaya diri untuk menyusui bayinya (Kurniasih,

  2008). Ibu yang tidak memberikan susu formula sebagian besar dilakukan oleh ibu yang kondisi psikologi baik yaitu sebanyak 33 responden (89,2) sehingga psikologis ibu mempengaruhi pemberian susu formula pada bayi (Erfiani, 2012).

  g. Informasi susu formula Ibu yang tidak memberikan susu formula sebagian besar yang tidak terpapar produk susu formula sebanyak 4 responden (36,4%) sehingga iklan produk susu formula dapat mempengaruhi pemberian susu formula.

  h. Kesehatan Ibu yang menderita sakit tertentu seperti ginjal atau jantung sehingga harus mengkonsumsi obat-obatan yang dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi, bagi ibu yang sakit tetapi masih bisa menyusui maka diperbolehkan untuk menyusui bayinya (Kurniasih, 2008). i. Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita

  Terdapat anggapan bahwa ibu yang menyusui akan merusak penampilan. Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi selalu mengalami perubahan payudara, walaupun menyusui atau tidak menyusui (Arifin, 2004). j. Ketidaktahuan ibu tentang pentingnya ASI

  Cara menyusui yang benar dan pemasaran yang dilancarkan secara agresif oleh para produsen susu formula merupakan faktor penghambat terbentuknya kesadaran orang tua dalam memberikan ASI eksklusif (Nuryati, 2007). k. Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol

  Persepsi masyarakat gaya hidup mewah membawa dampak menurutnya kesediaan menyusui. Bahkan adanya pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu botol sangat cocok untuk bayi dan dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu ingin meniru orang lain (Khasanah, 2011). l. Peran petugas kesehatan

  Masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI (Roesli, 2008).

C. Tumbuh kembang pada Bayi

  1. Pengertian Tumbuh Kembang Menurut Siti Nur Khamzah (2012) makna tumbuh dan kembang sebenarnya merupakan proses yang berbeda, namun keduanya tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan satu sama lain. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan intra seluler, bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur menggunakan satuan panjang, satuan berat, dan ukuran kepala. Adapun yang dimaksud dengan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, bersifat kualitatif, pengukuran dalam dilakukan menggunakan skrining perkembangan.

  Pertumbuhan adalah perubahan fisik dan pertambahan jumlah dan ukuran sel secara kuantitatif, dimana sel-sel tersebut mensintesis protein baru yang nantinya akan menunjukkan pertambahan seperti umur, tinggi badan, berat badan dan pertumbuhan gigi (Maryunani, 2010).

  Perkembangan adalah peningkatan kompleksitas fungsi dan keahlian (kualitas) dan merupakan aspek tingkah laku pertumbuhan. Contohnya : Kemampuan berjalan, berbicara dan berlari (Marni dan Rahardjo, 2012).

  2. Proses Pertumbuhan dan Perkembangan

  a. Pertumbuhan bayi Hampir tidak ada dua bayi yang sama dalam pertumbuhan, ada yang tetap tumbuh kecil, tetapi ada juga yang menjadi besar, tumbuh sacara berlebihan diantara kedua pertumbuhan tersebut dinamakan ”pertumbuhan rata-rata” (Maryunani, 2010). Pertumbuhan rata-rata seorang bayi dipengaruhi oleh: 1) Faktor keturunan 2) Faktor gizi (makanan) 3) Faktor kemampuan oran tuannya (sosial-ekonomi) 4) Faktor kelamin 5) Faktor ras/suku bangsa

  Untuk menilai pertumbuhan anak, baik bayi maupun balita dapat diambil ukuran- ukuran “Antropometri“. Pengukuran antopometri merupakan hal yang penting dalam menilai status gizi dan perawatan bayi, pengukuran ini cepat, tidak mahal, tidak invasive.

  Tujuan yang hendak dicapai dalam pemeriksaan antropometri ini adalah : untuk penapisan status gizi pada orang yang berkebutuhan khusus, survei status gizi untuk memperoleh gambaran status gizi masyarakat pada saat tertentu dan pemantauan bermanfaat sebagai gambaran perubahan status gizi dari waktu ke waktu (Arisman, 2009).

  Menurut Jellife, (1966) dan Vaughan, (1979) dalam Santoso dan Ranti (2009) pemeriksaan fisik antropometri yang bertujuan untuk penilaian status gizi termasuk hal-hal sebagai berikut : berat badan tinggi badan , lingkar kepala,lingkar dada, lingkar lengan atas, ketebalan lipatan kulit. 1) Berat Badan

  Ukuran ini merupakan yang terpenting, dipakai pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada setiap kelompok umur. Berat badan merupakan hasil peningkatan seluruh jaringan tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lainnya. Ukuran ini merupakan indikator tunggal yang terbaik pada waktu ini untuk keadaan gizi dan keadaan tumbuh kembang (Samsudin, 1985 dalam Santoso dan Ranti 2009).

Table 2.3 Kenaikan Berat Badan Anak pada Tahun Pertama

  Kehidupan Usia Bayi Kenaikan Berat Badan

  0-3 bulan 700-1000 gr/bulan 4-6 bulan 500-600 gr/bulan 7-9 bulan 350-450 gr/bulan

  10-12 bulan 250-350 gr/bulan Sumber : Soetjiningsih (1995) dalam Khasanah (2011)

  Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman (1992) dalam Soetjiningsih (2010). Untuk memperkirakan berat badan ideal anak seperti berikut: a) Berat Badan Ideal (BBI) bayi (usia 0-12 bulan)

  Umur (bulan)+4

  BBI=

  2

  b) BBI anak (umur 1-10 tahun) BBI=(umur [tahun] x 2 ) + 8

  c) Remaja dan Dewasa BBI = (TB – 100) – (BB – 100) x 100 atau BBI = (TB – 100) x 90% d) Body Massa Index (BMI)

  BMI andalah suatu rumus kesehatan dimana berat badan

  2

  seseorang (Kg) dibagi dengan tinggi badan (TB) dalam satuan (m)

  BB

  BMI =

  (TB)²

  BBI < 18,5 = berat badan kurang (underweight) BBI 18,5-24 = normal BBI 25-29 = kelebihan berat badan (overweight) BBI >30 = obesitas

  2) Tinggi Badan Tinggi badan merupakan indikator umum ukuran tubuh dan panjang badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. rumus prediksi tinggi anak sesuai dengan potensi berdasarkan data tinggi badan orang tua, dengan asumsi bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai dengan potensinya adalah sebagai berikut :

  (TB ayah−13cm)+TB ibu

  TB anak perempuan = ±8,5 cm

  2 (TBibu+13cm)+ TB ayah

  TB anak laki-laki = ±8,5 cm

  2 Keterangan : 13 cm adalah rata-rata selisih tinggi badan antara

  dua orang dewasa laki-laki dan perempuan di inggris, dan 8,5 cm adalah nilai absolute tentang tinggi badan.

  3) Lingkar kepala Lingkar kepala pada waktu lahir rata-rata 34 cm. antara usia 0 sampai 6 bulan lingkar kepala bertambah 1,32 cm per bulan. Antara usia 6-12 bulan lingkar kepala meningkat 0,44 cm per bulan, lingkar kepala meningkat sepertiganya dan berat otak bertambah 2,5 kali dari berat lahir. Pada umur 6 bulan lingkar kepala rata-rata adalah 44 cm.

  4) Lingkar dada Ukuran normal lingkar dada sekitar 2 cm lebih kecil dari pada lingkar kepala. Pengukuran dilakukan dengan mengukur lingkar dada sejajar dengan puting. 5) Lingkar lengan atas

  Lingkar lengan atas terdiri otot, lemak dan tulang. Lingkar lengan atas sensitif untuk menilai status gizi dan sering digunakan bersama pengukuran ketebalan otot bisep dan trisep. 6) Ketebalan Lipatan kulit

  Ketebalan lipatan kulit memperkirakan simpanan lemak subkutan pada tempat-tempat tertentu. Pengukuran tebal kulit ini didaerah trisep dan subskapula diukur bersama dan mengidentifikasikan cadangan lemak tubuh secara keseluruhan.

  b. Perkembangan bayi Menurut Wong (2008) proses tumbuh kembang dibagi berdasarkan teori-teori perkembangan sebagai berikut :

  1) Teori Perkembangan kognitif (Jean Piaget) Perkembangan kognitif menurut Piaget merupakan perubahan-perubahan yang terkait usia yang terjadi dalam aktifitas mental. Ia juga menyebutkan bahwa kesuksesan perkembangan kognitif mengikuti prosses yang urutannya melewati empat fase, yaitu fase sensorimotorik (0-2 tahun), fase pra-operasional (2-7 tahun), fase operasional (7-11 tahun) dan fase operasional formal (>11 tahun) (Wong, 2008).

  Dalam teori perkembangan ini anak prasekolah termasuk dalam fase praoperasional, fase pra-operasional anak belum mampu mengoperasionalisasikan apa yang dipikirkan melalui tindakan dalam pikiran anak (Wong, 2008).

  2) Teori Perkembangan Psikososial (Erikson) Menurut Santrock (2011), Teori perkembangan ini dikemukakan oleh Erikson yang mengemukakan bahwa perkembangan anak selalu dipengaruhi oleh motivasi sosial dan mencerminkan suatu keinginan untuk berhubungan dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan kepribadian psikososial anak harus melewati beberapa tahap yaitu : tahap percaya dan tidak percaya (1-3 tahun), tahap kemandirian versus malu-malu (2-4 tahun), tahap inisiatif versus rasa bersalah (3-6 tahun), tahap terampil versus minder (6-12 tahun), tahap identidas versus kebingungan peran (12-18 tahun).

  Dalam teori perkembangan psikososial anak prasekolah termasuk dalam tahap perkembangan inisiatif versus rasa bersalah. Pada tahap ini anak mulai mencari pengalaman baru secara aktif. Apabila anak menapat dukungan dari orang tuanya untuk mengekplorasikan keingintahuannya maka anak akan mengambil inisiatif untuk suatu tindakan yang akan dilakukan, tetapi bila dilarang atau dicegah maka akan tumbuh perasaan bersalah pada diri anak (Santrock, 2011)

  3) Teori Perkembangan Psikoseksual (Freud) Teori perkembangan psikoseksual pertama kali dikemukakan oleh Sigmun Freud, ia menggunakan istilah psikoseksual untuk menjelaskan segala kesenangan seksual. Selama masa kanak- kanak bagian-bagian tubuh tertentu memiliki makna psikologik yang menonjol sebagai sumber kesenangan baru dan konflik baru yang secara bertahap bergeser dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain pada tahap-tahap perkembangan tertentu. Dalam perkembangan psikoseksual anak dapat melalui tahapan yaitu: tahap oral (0-1 tahun), tahap anal (1-3 tahun), tahap falik (3-6 tahun), tahap laten (6-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun) (Wong, 2008).

  Dalam teori perkembangan psikoseksual anak prasekolah termasuk dalam tahap phalilc, dalam tahap ini genital menjadi area tubuh yang menarik dan sensitif anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dan menjadi ingin tahu tentang perbedaan tersebut (Wong, 2008). 4) Teori Perkembangan Moral (Kohlberg)

  Teori perkembangan moral dikemukakan oleh Kohlberg dengan memandang tumbuh kembang anak ditinjau dari segi moralitas anak dalam menghadapi kehidupan, tahapan perkembangan moral yaitu: tahap prakonvensional (orientasi pada hukum dan kepatuhan), tahap prakonvensional (orientasi instrumental bijak), tahap konvensional, tahap pasca konvensional (orientasi kontak sosial) (Wong, 2008).

  Dalam teori perkembangan moral anak prasekolah termasuk dalam tahap prakonvensional, dalam tahap perkembangan ini anak terorientasi secara budaya dengan label baik atau buruk, anak-anak menetapkan baik atau buruknya suatu tindakan dari konsekuensi tindakan tersebut. Dalam tahap ini anak tidak memiliki konsep tatanan moral, mereka menentukan prilaku yang benar terdiri atas sesuatu yang memuaskan kebutuhan mereka sendiri meskipun terkadang kebutuhan orang lain. Hal tersebut diinterprestasikan dengan cara yang sangat konkrit tanpa kesetiaan, rasa terimakasih atau keadilan (Wong, 2008) Menurut Siti Nur Khamzah (2012) Proses perkembangan bayi dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu :

  1) Bayi usia 1 bulan

  a) Pada hari-hari pertama, bayi masih belum bisa membuka matanya. Kemudian, selang beberapa waktu, ia bisa melihat dalam jarak 20 cm.

  b) Tahap bayi mulai beradaptasi dengan lingkungan baru.

  c) Gerakan yang dikuasainya merupakan gerakan refleks alami.

  d) Sangat peka terhadap sentuhan e) Menggerakkan kepala kea rah bagian tubuh yang disentuh.

  f) Sudah bisa tersenyum.

  g) Menangis adalah bahasa komunikasinya. Semakin lama, bunda akan tahu dengan sendirinya arti dari menangis sang bayi, baik tangisan itu karena lapar, gerah, atau yang lainnya.

  h) Memegang jari yang disentuhkan ke tangannya. i) Menghabiskan sebagian waktunya dengan tidur. 2) Bayi usia 2 bulan a) Sudah bisa membedakan muka dan suara.

  b) Kualitas penglihatannya meningkat.

  c) Matanya bisa mengikuti gerakan benda yang dekat dengannya. d) Akan mengisap setiap benda yang dipegangnya.

  e) Bisa miring ke kiri dan ke kanan.

  f) Menggerak-gerakkan tangan dan kaki ketika meminta perhatian.

  3) Bayi usia 3 bulan a) Dapat mengangkat kepala dan tubuh saat tengkurap.

  b) Matanya sudah memperhatikan lingkungan sekitar.

  c) Menangis jika ditinggal.

  d) Mencari arah suara yang didengarnya.

  e) Dapat duduk beberapa waktu jika ditunjang.

  f) Menyukai bayangannya di cermin.

  g) Semakin mahir menggunakan tangannya.

  h) Mulai mengenali wajah orang dan benda yang akrab dengannya.

  4) Bayi usia 4 bulan a) Mulai mengoceh dan tertawa.

  b) Menginjak-injakkan kaki jika diberdirikan.

  c) Dapat menggerakkan atau menggeser tubuhnya untuk meraih benda.

  d) Mengamati ekspresi wajah orang dan menirunya.

  5) Bayi usia 5 bulan a) Menangis jika mendengar suara ibunya. b) Dapat memindahkan barang dari satu tangan ke tangan yang lain.

  c) Menangis jika mainannya diambil.

  d) Senyum dan mengoceh saat meminta perhatian.

  e) Dapat memasukkan kaki kemulutnya.

  f) Bereksperimen dengan suaranya. Membuat suara yang berbeda-beda untuk mengomunikasikan keinginannya, misalnya lapar, haus, marah, dan lain sebagainya.

  g) Sangat suka ditegakkan dalam posisi duduk. 6) Bayi usia 6 bulan a) Sudah banyak mengeluarkan suara.

  b) Sudah bisa tengkurap sendiri.

  c) Belajar menggunakan jari-jarinya untuk menggenggam dengan baik, memukul, mengambil, dan memindahkan benda. 7) Bayi usia 7 bulan a) Sudah mahir duduk.

  b) Sudah dapat mengangkat badannya dalam posisi merangkak.

  c) Saat posisi merangkak, senang mengayunkan badannya ke depan dan belakang.

  d) Bermain dengan mainan yang disukai, dan marak jika mainan tersebut diambil.

  8) Bayi usia 8 bulan a) Mampu berteriak untuk memanggil orang.

  b) Sudah bisa merangkak dan duduk sendiri.

  c) Membuang mainan yang tidak disukainya.

  d) Sudah dapat berdiri dengan bantuan.

  e) Dapat memegang botol minuman sendiri. 9) Bayi usia 9 bulan a) Mulai bereaksi jika diperintah.

  b) Mengenal beberapa kata.

  c) Dapat berdiri dengan tangan dipegangi.

  d) Aktif merangkak dan memanjat. 10) Bayi usia 10 bulan a) Dapat berjalan dengan bantuan.

  b) Merangkak dengan baik.

  c) Mulai takut dengan orang yang tidak dikenal.

  d) Mengerti yang diperintahkan kepadanya. 11) Bayi usia 11 bulan

  a) Dapat menelan beberapa kali secara berturut-turut jika minum dalam cangkir.

  b) Berdiri lama tanpa bantuan.

  c) Mempunyai lebih banyak kosakata.

  d) Saatnya mengajarkan untuk berbagi, sebab pada usia ini bayi memiliki sifat egosentris yang besar.

  12) Bayi usia 12 bulan a) Banyak berjalan, meskipun belum stabil.

  b) Dapat berbicara 2-3 kata.

  c) Mulai suka menggambar.

  3. Ciri-ciri Tumbuh dan Kembang Tumbuh kembang merupakan suatu proses utama yang hakiki dan khas pada anak, dan merupakan suatu yang terpenting pada anak tersbut.

  (Anik Maryunani. 2010) Tumbuh kembang anak ini mempunyai ciri-ciri antara lain: a. Bahwa manusia itu bertumbuh dan berkembang sejak dalam rahim sebagai janin, akan berlanjur dengan proses tumbuh kembang anak, dan kemudian proses tumbug krmbng dewasa.

  b. Dalam priode tertentu, terdapat adanya periode perceptan atau periode perlambatan, antara lain : 1) Pertumbuhan cepat terdapat pada masa janin. 2) Kemudian pertumbuhan cepat kembali pada masa akil balik (12- 16 tahun).

  3) Selanjutnya pertumbuhan kecepatannya secara berangsur-angsur berkurang sampai suatu waktu (sekitar usia 18 tahun) berhenti.

  4) Terdapat adanya laju tumbuh-kembang yang berlainan diantara organ-organ.

  5) Tumbuh-kembang merupakan suatu proses yang dipengaruhi oleh dua faktor penentu,yaitu faktor genetik yang merupakan faktor bawaan,yan menunjukkan potensi anak dan faktor lingkungan,yang merupakan faktor yang menentukan apakah faktor genetik (potensi) anak akan tercapai.

  6) Pola perkembangan anak mengikuti arah perkembangan yang di sebut sefalokaudal (dari arah kepala ke kaki) dan proksimal-distal (menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat,kemudian baru yang jauh).

  7) Pola perkembangan anak sama pada setiap anak,tetapi kecepatannya berbeda-beda.

  4. Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan (Marni dan Rahardjo, 2012)

  a. Faktor Herediter/Genetik Merupakan faktor pertumbuhan yang dapat diturunkan yaitu suku, ras, dan jenis kelamin (Marlow, 1998 dalam Suprtini, 2004).

  Anak laki-laki setelah lahir cenderung lebih besar dn tingi daripada anak perempuan, hal ini akan nampak saat anak sudah mengalami pra- pubertas. Ras dan suku bangsa juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Misalnya suku bangsa Asia memeiliki tubuh yang lebih pendek dari pada orang eropa atau suku Asmat dari Irian berkulit hitam (Marni dan Kukuh Raharjo, 2012)

  Faktor genetika atau herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh- kembang anak. Yang termasuk faktor genetik antara lain:

  1) Faktor bawaan yang normal atau patologis, seperti kelainan kromosom (Sindrom Down), kelainan Kranio-fasial (celah bibir) 2) Jenis kelamin:

  a) Pada umur tertentu laki-laki dan perempuan sangat berbeda dalam ukuran besar, kecepatan tumbuh, proporsi jasmani dan lain-lain.

  b) Anak dengan jenis kelamin laki-laki pertumbuhannya cenderung lebih cepat daripada anak perempuan.

  c) Namun dari segi kedewasaan, perempuan menjadi dewasa lebih dini, yaitu mulai adolesensi (remaja) pada umur 10 tahun, sedangkan laki-laki mulai umur 12 tahun.

  d) Keluarga : banyak dijumpai dalam satu keluarga ada yang tinggi dan ada yang pendek.

  e) Ras :

  1.1. Beberapa ahli antropologi menyatakan ras kuning cenderung lebih pendek dibanding dengan ras kulit putih.

  1.2. Suku Asmat di Papua berkulit hitam, sementara itu suku Dayak di Kalimantan berkulit putih.

  f) Bangsa : Bangsa Asaia cenderung bertubuh pendek dan kecil, sementara itu bangsa Amerika cenderung tinggi dan besar. g) Umur : Kecepatan tumbuh yang paling besar ditemukan pada masa fetus, masa bayi dan masa adolesensi (remaja) (Maryunani, 2010).

  b. Faktor Eksternal 1) Lingkungan pra-natal

  Kondisi lingkungan yang mempengaruhi fetus dalam uterus yang dapat menggangupertumbuhan dan pekembangan janin antar lain gangguan nutrisi karena ibu kurang mendapat asupun gizi yang baik, gangguan endokrin pada ibu (diabetes militus), ibu yang mendapat terapi sitostatika atau mengaami infeksi rubela, toxoplasmosis, sifilis dan herpes. Faktor lingngan yang lain adalah radiasi yang dapat menyebabkan kerusakan pada organn otak janin.

  2) Lingkungan pos-natal Lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perembangan setelah bayi lahir adalah : a) Nutrisi

  Nutrisi adalah salah atau komonen yang penting dalam menunjang keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air.

  Apabila kebutuhan tersebut tidak atau kurang terpnuhi maka dpat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

  Aspan nutrisi yang berlebihan juga berdaampak buruk bagi kesehatan anak, yaitu terajadi penumpukan kadar lemak yang berlebihan dalam swl atau jarinngan bahkan pada pembulu darah.

  Penyebab status nutrisi kurang pada anak :

  1.1. Asupan nutrisi yang tidak adekuat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif

  1.2. Hiperaktivitas fisik atau istirahat yang kurang

  1.3. Adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi

  1.4. Stress emosi yang dapat menyebabkan menruunya nafsu makan atau absorbsi makanan tidak adekuat b) Budaya lingkungan

  Budaya keluarga atau masyarakat akan mempengaruhi bagaimana mereka dalam mempersepsikan dan memahami kesehatan dan perilaku hisup sehat. Pola perilaku ibu hamil diengaruhi oleh budaya yang dianutnya, misalnya larangan untuk makan makanan tertentu padahal zat gizi tersebut dibuthkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Keyakinan untuk melahirkan di dukun bernak dari pada d tenaga kesehatan. Setelah anak lahir dibesarkan di lingkungn atau berdasrkan lingkungan budaya mayarakat setempat. c) Status sosial dan ekonomi keluarga Anak yang dibesarkan dikeluarga yang berekonomi tinggi untuk pemenuhan kebutuhan gizi akan tercukupi dengan dengan baik dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di keluarga yang berekonomi sedang atau kurang.

  Demikiain dengan status pendidikan orang tua, keluarga dengan pendidikan tinggi akan lebih menerima arahan terutama tentang peningkatan pertumbuhan dan perkembangan anak, penggunana fasilias kesehatan dan lain- lain dbandingkan dengan keluarga dengan latar belakang pendidikan rendah.

  d) Iklim atau cuaca Iklim tertentu akan mempengaruhi status kesehatan anak misalnya musim penghujan dapat menimbulkan banjir sehingga menebabkakn transportasi untuk mendapatkan makanan, timbul penyakit menular, dan penyakit kulit yang dapat menyerang bayi dan anak-anak. Anak yang tingga di daerah endemik misalnya endemik demam berdarah, jika terjadi perubahan cuaca wabah demam berdarah akan meningkat.

  e) Olahraga atau latihan fisik

  Manfaat olah raga atau latihan fisik yang teratur akan meningkatkan sirkulai darah sehingga meningkatkan suplai oksigen ke seluruh tubuh, meningkatkan aktifitas fisik dan menstimulasi perkembangan otot jaringan sel.

  f) Posisi anak dalam keluarga Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah atau anak anak bungsu akan mempengaruhi pola perkembangan anak tersebut di asuh dan dididik dalam keluarga.

  g) Status kesehatan Status kesehatan anak dapat berpengaruh pada pencapaian pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dapat terlihat apabila anak dalam kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan pertumbuhan dan perkembangan akan lebih mudah dibandingkan dengan anak dalam kondisi sakit.

  h) Faktor hormonal Faktor hormonal yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak adalah somatotropon yang berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan, hormon tiroid dengan menstimulasi metabolisme tubuh, glukokotiroid yang berfungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari tetis untuk memproduksi testosterondan ovarium untuk memproduksi estrogen selanjutnya hormon tersebut akan menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki maupun perempuan sesuai dengan peran hormonya.

  c. Faktor Internal (Anik Maryunani, 2010) Disamping faktor genetik dan lingkungan, faktor internal dalam diri anak berikut ini juga dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak, yaitu : 1) Kecerdasan (IQ)

  a) Kecerdasan dimiliki anak sejak dilahirkan

  b) Anak dengan kecerdasan yang rendah tidak akan mencapai prestasi yang cemerlang walaupun telah diberikan stimulus yang tinggi.

  c) Anak dengan kecerdasan tinggi dapat didorong oleh stimulus lingkungan untuk berprestasi secara cemerlang.

  2) Pengaruh hormonal Terdapat tiga hormon utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, yaitu : a) Hormon Somatotropin (Growth Hormon)

  Atau hormon pertumbuhan, merupakan hormon yang berpengaruh pada pertumbuhan tinggi badan karena menstimulasi terjadinya proliferasi sel, kartilago dan skeletal. Kelebihan hormon ini dapat menyebabkan gigantisme

  (pertumbuhan yang besar), sementara itu kekurangan hormon ini menyebabkan dwarftisme (kerdil).

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI LEBIH DINI DENGAN BERAT BADAN BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DURENAN KABUPATEN TRENGGALEK

0 9 22

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN TUMBUH KEMBANG BAYI USIA 6-7 BULAN DI WILAYAH KERJA POSYANDU KECAMATAN MADURAN KABUPATEN LAMONGAN PERIODE JULI-AGUSTUS 2011

0 20 22

View of HUBUNGAN WAKTU PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) DENGAN STATUS GIZI PADA BAYI USIA 6 – 24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS

0 0 8

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN TUMBUH KEMBANG ANAK USIA TODDLER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMANGAPA ANTANG MAKASSAR

0 1 85

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU, PEKERJAAN IBU, DAN PROMOSI SUSU FORMULA DENGAN KEGAGALAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BALITA USIA 0-6 BULANDI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BOJONG - repository perpustakaan

0 0 16

DETERMINAN PERILAKU PEMANFAATAN POSYANDU DENGAN SISTEM PELAYANAN 5 MEJA OLEH IBU BAYI DAN BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 SOKARAJA KAB. BANYUMAS - repository perpustakaan

0 1 13

HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU POSTPARTUM DENGAN KEJADIAN BABY BLUES DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIMANAH - repository perpustakaan

0 1 6

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES DENGAN KEBERLANGSUNGAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS

0 0 15

HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU PRIMIPARA DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS - repository perpustakaan

0 0 18

HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN SUSU DENGAN TUMBUH KEMBANG BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS

0 1 17