Kajian Perencanaan Kota Berbasis Evaluas (1)

Kajian Perencanaan Kota Berbasis Evaluasi Lingkungan Hidup :
Studi Pendahuluan bagi Metode Kajian Struktur Perencanaan Kota Maritim,
Mitigasi Wilayah Pesisir dan Manajemen Ecoregion
Nur Endah Nuffida
Abstrak
Urbanisasi dan akibat yang ditimbulkan dalam perencanaan kota merupakan permasalahan mendasar yang
melatarbelakangi penulisan kajian ini. Perkembangan global yang ditandai dengan peningkatan jumlah
populasi penduduk kota-kota besar dan tingkat kompleksitas yang menyertai fenomena tersebut mendorong
negara-negara dengan populasi penduduk tinggi di berbagai belahan dunia untuk melakukan kerja sama
internasional antar-kota-kota dunia dalam upaya untuk mengurangi dampak hal tersebut. Salah satu kerja
sama yang ditandatangani oleh Indonesia, dengan pertimbangan letak geografis dan potensi sumber daya
ruang dan kepulauan, adalah Yokohama City Convention, pada tahun 2002 yang menekankan pada
kesepakatan untuk mendukung upaya mitigasi kawasan pesisir dan pantai daerah rawan bencana alam.
Berbagai fenomena bencana alam di berbagai kota di Indonesia, juga dialami banyak kota-kota lain di
berbagai wilayah di dunia. Perencanaan kota di sisi lain, merupakan bidang keilmuan yang berkembang
dengan penerapan kontekstual bidang-bidang ilmu lainyang terkait : sosial, ekonomi, teknik, kesehatan
lingkungan, arsitektur dan permukiman kota, dan hukum. Luasnya cakupan bahasan kajian keilmuan di
bidang perencanaan kota, merupakan konsekuensi dan sekaligus menggambarkan kecenderungan perubahan
kebudayaan kemanusiaan yang secara spesifik dapat dipahami melalui kenyataan kehidupan urban seharihari di sekitar kita.
Evolusi kebudayaan kemanusiaan, melalui banyak kajian bidang keilmuan, mudah dipahami melalui
historiografi budaya urban yang terekam melalui jejak tipologi dan morfologi struktur ruang kota yang secara
fisik dapat ditelusuri melalui penataan permukiman kota. Penataan permukiman kota dan perencanaan
aspek-aspek infrastruktur dan suprastruktur yang mendukung merupakan bahasan utama dalam tulisan ini.
Titik berat pada aspek geografis wilayah Indonesia yang juga merupakan negara kepulauan merupakan
alasan yang mendasari pemilihan tema kajian yaitu manajemen berbasis ekosistem regional kepulauan.
Pentingnya peran perencana kota di tengah-tengah arus perkembangan kebudayaan urban dan kebutuhan
akan perlindungan lingkungan hidup untuk kepentingan bersama merupakan bagian dari manfaat yang
diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan bidang keilmuan perencanaan kota melalui
kajian ilmiah terkait dengan konteks arsitektur ruang kota.
Pembahasan dan kajian terbatas pada kajian ilmiah tata-ruang kota di wilayah pesisir Indonesia. Kajian tidak
membahas tipologi dan morfologi kota pesisir Indonesia melalui aspek perkembangan dan kesejarahan
struktur ruang kota dari waktu ke waktu namun dititikberatkan pada preseden yang mendasari kondisi yang
dihadapi stakeholder kota, dalam hal ini pemerintah kota di daerah-daerah pesisir pantai Indonesia, yang juga
dihadapkan pada tanggung-jawab untuk dapat menyediakan fasilitas mitigasi untuk kondisi-kondisi darurat
bencana alam selain pemenuhan kebutuhan akan kesejahteraan dan terjaminnya kualitas kehidupan
penduduk kota sebagaimana amanat undang-undang dasar dan hukum yang bersifat melekat pada
kewenangan dan tanggung-jawab sebagai aparatur negara.
Kata-kata kunci : metode evaluasi lingkungan hidup, konsep perencanaan kota, kota maritim, mitigasi,
manajemen eco-region

1

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

1.1.

Budaya Bermukim, Kehidupan Perkotaan dan Urbanisasi
Pemahaman akan pentingnya kota sebagai tempat berkembangnya kebudayaan manusia,
community building, dan muara pertemuan berbagai aspek kehidupan : perdagangan,
politik, pendidikan,pemerintahan, dan ekonomi merupakan paradigma bagi pemahaman
akan budaya utama yang melatari tumbuhnya kota-kota di dunia. Budaya utama yang
muncul sebagai bagian dari latar utama yang mendasari pertumbuhan kota adalah budaya
bermukim di wilayah-wilayah tertentu yang memberikan daya dukung bagi kehidupan :
batas teritorial, sumber daya alam dan daya dukungnya .
Wacana akan perkembangan budaya urban atau budaya perkotaan dapat ditinjau melalui
kehidupan sehari-hari dalam permukiman yang dibangun di wilayah-wilayah perkotaan.
...It recognizes the importance of cities as places of and for local sentiment, community
building, and the reenactment of cultural myths and rituals. Cities, consequently, are not
approached merely as forums for economic and political confrontations but as places rich
with meaning and value for those who live, work, and play in and near them. Moreover, it
provides the best window into the ways that people develop a sense of a place as part of
cultural repertoires..the important relationship that exists between culture and the places
where culture is made. based on following ideas :the practices of rural cultures to the identity
formation through which architecture and urban design have already pursued in citylife.1

1.2. Dialektika Keilmuan dan Wacana Global
Perencanaan tata ruang (spatial planning) merupakan metode-metode yang digunakan oleh
sektor publik untuk mengatur penyebaran penduduk dan aktivitas dalam ruang yang
skalanya bervariasi. Perencanaan tata ruang terdiri dari semua tingkat penatagunaan tanah,

1

.City Life and Dynamic Process : The Idea of Culture and its Relation to Place: An Introduction. Nuffida, N.E.,

2010.

2

termasuk perencanaan kota, perencanaan regional, perencanaan lingkungan, rencana tata
ruang nasional, sampai tingkat internasional seperti Uni Eropa.
Salah satu definisi awal perencanaan tata ruang diambil dari European Regional/Spatial
Planning Charter (disebut juga Torremolinos Charter), yang diadopsi pada tahun 1983 oleh
Konferensi Menteri Eropa yang bertanggung jawab atas Regional Planning (CEMAT), yang
berbunyi: "Perencanaan tata ruang memberikan ekspresi geografis terhadap kebijakankebijakan ekonomi, sosial, budaya, dan ekologis. Perencanaan tata ruang juga merupakan
sebuah ilmu ilmiah, teknik administrasi, dan kebijakan, yang dikembangkan sebagai
pendekatan lengkap dan antar-ilmu, yang diarahkan kepada pengembangan regional dan
organisasi fisik terhadap sebuah strategi utama."
Di Indonesia konsep perencanaan tata ruang mempunyai kaitan erat dengan konsep
pengembangan wilayah. Konsep pengembangan wilayah telah dikembangkan antara lain
oleh Sutami pada era 1970-an, dengan gagasan bahwa pembangunan infrastruktur yang
intensif akan mampu mempercepat terjadinya pengembangan wilayah, juga Poernomosidhi
(era transisi) memberikan kontribusi lahirnya konsep hirarki kota-kota yang hirarki
prasarana jalan melalui Orde Kota.

Selanjutnya Ruslan Diwiryo (era 1980-an) yang memperkenalkan konsep Pola dan
Struktur ruang yang bahkan menjadi inspirasi utama bagi lahirnya UU No.24/1992
tentang Penataan Ruang. Pada era 90-an, konsep pengembangan wilayah mulai
diarahkan untuk mengatasi kesenjangan wilayah, misal antara KTI dan KBI, antar
kawasan dalam wilayah pulau, maupun antara kawasan perkotaan dan perdesaan.
Perkembangan terakhir pada awal abad millennium, bahkan, mengarahkan konsep
pengembangan wilayah sebagai alat untuk mewujudkan integrasi Negara Kesatuan
Republik Indonesia.2

2

. Kajian Pendukung :
Richard H. Williams, European union spatial policy and planning, London Chapman 1996. ISBN 978-1-85396305-6
Andreas Faludi, Bas Waterhout, The Making of the European Spatial Development Perspective, London
Routledge 2002. ISBN 978-0-415-27264-3
Dirjen Penataan Ruang – Depkimpraswil,Kebijakan, Strategi dan Program Ditjen Penataan Ruang, BPSDM,

3

1.3. Epistemologi Budaya Perkotaan : Tradisi Bermukim
Epistemologi budaya perkotaan muncul sebagai akibat dari tradisi
bermukim dengan segala aspek yang menjadi sumber intrepretasi sejarah sejak
pertama kali istilah polis muncul di Yunani pada abad 5 M. Kota-kota di dunia
berkembang dengan ciri khas yang sama yaitu kebutuhan hidup yang bersumber
dari tradisi bermukim di wilayah tertentu.Pentingnya pemahaman akan preseden tersebut
pada hakikatnya secara spesifik didasarkan pada kenyataan bahwa Indonesia merupakan
satu-satunya negara berbasis kepulauan, dengan sumber daya perairan dan maritim yang
mencakup lebih dari 70% dari keseluruhan wilayah dan teritorial antar pulau dan antar
wilayah negara dengan batas perairan laut. Kondisi tersebut dinyatakan melalui pranata
hukum lingkungan di Indonesia, tidak hanya berpotensi untuk menyatukan namun lebih
dari itu memberikan peluang untuk berpartisipasi aktif dalam perikehidupan dunia melalui
aspek-aspek dasar terselenggaranya institusi negara yaitu kebutuhan untuk melakukan
kerja-sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan dasar saling menghormati dan
pemenuhan kebutuhan kehidupan di berbagai bidang secara bermartabat sebagai bagian
dari komunitas kehidupan di dunia.
Kota dan perikehidupan yang tercermin melalui penataan kota merupakan jawaban atas
sejauh mana posisi sebuah negara dalam pergerakan global abad ini. Millenium
Development Goal 2020, yang mensyaratkan upaya penyediaan air bersih dari 60% menjadi
80%, diratifikasi oleh Indonesia, sebagai bagian dari upaya untuk menjadikan evaluasi
lingkungan hidup sebagai dasar untuk merencanakan dan melakukan upaya-upaya terpadu
dalam pembangunan kota di abad ini, sebagaimana standar dan parameter yang juga
diterapkan oleh kota-kota besar lain di dunia. Mencegah arus perubahan dengan
menekankan pada identitas regional daerah dan bangsa, melalui banyak kajian ilmiah, tidak
terbukti berhasil karena pesatnya perkembangan teknologi komunikasi global, yang
menandai revolusi komunikasi melalui internet dan alat-alat komunikasi bergerak lainnya,

Jakarta, 2003

4

menjadikan jarak dan waktu bukan lagi sebagai penanda akan perbedaan.Oleh karena itu,
kajian ini membahas pola pemahaman struktur perencanaan kota, khususnya kota maritim
berbasis negara kepulauan melalui manajemen ekosistem dan evaluasi lingkungan hidup
untuk mendapatkan pemahaman akan dasar berpikir ilmiah yang dapat digunakan sebagai
metode untuk menguji ketepatan dan kemungkinan perkembangan konsep perencanaan
hingga implementasi di lapangan.

1.4. Isu-isu Lingkungan Hidup dan Pentingnya Penataan Ekosistem Ruang Hidup
1.4.1.

Unit Ekologis : Ekosistem Ruang Hidup
Sebagai suatu bidang ilmu, ekologi manusia mengkaji sistem sosial, sistem
ekologi dan hubungan antar keduanya serta perubahan sosial dan ekologis yang
terjadi sebagai konsekuensi berbagai aktivitas manusia.Lingkungan hidup terkait
dengan isu-isu yang berhubungan dengan ekosistem sebagai ruang
berkehidupan dan unit-unit ekologis yang mendukung ekosistem tersebut.
Barker (1968) menggunakan unit ekologis sebagai konstruksi untuk
menjembatani bidang keilmuan yang terkait dengan perancangan : arsitektur,
urban-planning, dan urban-design dengan ekologi, lingkungan dan psikologisosial3.



3

Kajian Pendukung :
Ecological Psychology: Concepts and methods for studying the environment of human behavior, Barker, R. G.
(1968), Stanford University Press, Palo Alto, CA

5

1.4.2.

Usulan Metode Evaluasi dengan Pemahaman terhadap Konsep dan
Design-Thinking dalam Perencanaan dan Penataan Ekosistem Ruang
Hidup

Design Approach to Community – Based and Tropical Environment Habitation




ASPECTS
Tropical
Environment

Socio Culture of
Community

ELEMENTS
 Social Dialogue/
Interaction
 Social Integration

 Sun
 Wind
 Water

CONCEPTS
 Open Air Habitation
 Shared Spaces

STRATEGY
 Serve Place for
interaction
 Re-thinking about
Hierarchy of Space
(Private-Public)

 Live in Shaded Place  Promote Diffuse and
Minimize Direct Light
 Wind for Cooling
(Air Condition)
 Explore Solar Energy
 Water Cooling
 Manage Air Flow in
Various Scale
 Storage of
Rainwater
 Cooling
 Natural Lighting
 Reduce Flooding
 Minimizing Erosion
 Storage of Run Off
 Overhead and
Window Lighting

 Semi Outdoor Space

DESIGN APLICATION

 Urban Open Space
 Ground Level of
Building for
Community

 Semi Outdoor Space
 Building
 Double Wall
Space
 Verandah
 Overhang
 Solar Panel
Roof
 Heat Absorber
Wall
 Ordinary Cross
Ventilation
 Air Space
Under Roof

 Urban Scale

 Building Lay
Out Create
Urban Shading
 Continous Park
for create
Tropical
Pedestrian
 Street for
Urban Air Flow
Connection
 Air, Water and
Greenery
Network
 Aquascape
Design
 Drainage
System
 Groundwater
Recharge
 Trickle Tubes
Impoundment
 Permeable
Surface

(Sumber : Prayitno, 1998 dalam Nuffida,2010)

6

1.5. Pemahaman Geografis Negara Kepulauan : Potensi Wilayah Pesisir, Daya
Penanggulangan Bencana Alam

Dukung dan

Pengelolaan pesisir di Indonesia diatur dalam UU No.27 Tahun 2007 dengan pertimbangan
adanya Zona Ekonomi Eksklusif, Wawasan Nusantara dan azas negara kepulauan sebagai
potensi dan penyatu wilayah Republik Indonesia. Pengelolaan pesisir mencakup proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian sumberdaya pesisir dan pulaupulau kecil. Perencanaan ini termasuk mengurangi kerentanan dari ancaman bencana alam
seperti bencana tsunami. Di Indonesia, bencana terjadi akibat bergeraknya lempeng
tektonik (triple junction plate convergence) yaitu, Benua Eurasia, Samudra Pasifik dan
Samudra Indo-Australia.Terkait UU No. 24 Tahun 2007, mitigasi direncanakan sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk menanggulangi dan meminimalisasi resiko
bencana tsunami. Mitigasi tsunami yang dilakukan adalah perancangan kawasan, berupa
zonasi kawasan pesisir terkait dengan aspek fisik kawasan.
2. Tujuan
Kajian ini ditujukan untuk memahami dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang secara
metodologis dan ilmiah dapat digunakan sebagai metode evaluasi terhadap konsep, rancangan dan
hasil rancangan kota melalui pemahaman akan faktor, strategi, dan tahapan design-thinking secara
kualitatif. Usulan konseptual ini ditujukan untuk studi lanjut terhadap pemaknaan terhadap
fenomena-fenomena (verstehen)dalam skala kota untuk dapat digunakan sebagai dasar ilmiah
terhadap pembentukan teori berdasarkan kondisi nyata di lapangan (grounded theory).

3. Kajian Teoritis
a. Kajian teoritis yang digunakan merupakan bagian dari studi tentang pemaknaan fenomena
urban dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan kajian arsitektural, epistemologi, dan sosialekonomi berdasarkan serangkaian kajian yang dilakukan sebelumnya. Definisi kajian teoritis
dalam hal ini memberikan definisi-definisi kontekstual dalam kerangka ilmiah yang universal.
Hal ini diperlukan dengan beberapa dasar sebagai berikut :


Fenomena urban yang terjadi di perkotaan merupakan bagian dari pergerakan beberapa

7

faktor : sosial-ekonomi, lingkungan, dan tata-kota.


Faktor-faktor tersebut secara sendiri-sendiri belum pernah dievaluasi melalui konstruksi
ilmiah berdasarkan konsep perancangan ruang, khususnya tata ruang kota



Hal tersebut disebabkan karena bidang keilmuan perencanaan kota, relatif berkembang
kurang dari 50 tahun, untuk mendapatkan sejumlah dasar ilmiah yang dapat digunakan
dalam pembentukan metode keilmuan yang spesifik bidang ilmu tersebut



Beberapa kajian yang dilakukan di beberapa negara (RED Design, 2000) memberikan
fakta ilmiah bahwa belum pernah dilakukan upaya-upaya pembentukan teori valuasi
sebagaimana bidang ilmu lainnya. Hal tersebut umumnya merupakan kajian praktis yang
menggunakan teori-teori dari bidang keilmuan lain : sosial-ekonomi, psikologi, arsitektur
dan sosiologi.



Teori-teori tersebut secara umum berhasil memberikan dasar berfikir ilmiah dalam
konstruksi pemikiran urban, namun tidak memberikan peluang bagi penafsiran
kontekstual bagi fenomena urban yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari terutama
apabila dikaitkan dengan ekosistem ruang kehidupan, ekologi, lingkungan hidup dan
fenomena bencana alam yang langsung dihadapi oleh pihak stake-holder yaitu
administratur kota dan perencana kota.



Hal tersebut memberikan dasar berfikir teoritis dalam lingkup metodologis dan keilmuan
bahwa bidang perencanaan kota merupakan bidang yang penting karena menyangkut
kehidupan sehari-hari, memerlukan metode berfikir yang tidak saja ilmiah namun pula
kontekstual dan efisien dalam rangkaian : analisa, sintesa dan verifikasi. Rangkaian
pembangunan metode keilmuan tersebut adalah bagian dasar yang universal karena
dasar berfikir yang demikian mutlak dilakukan agar bidang keilmuan perencanaan kota
dapat mengkomunikasikan hasil konseptual berdasarkan bahasa keilmuan yang dapat
dipahami oleh bidang-bidang keilmuan lain.



Pentingnya konsep-konsep keilmuan yang secara khusus digunakan dalam bidang
keilmuan perencanaan kota melalui telaah, penelitian dan kajian ilmiah adalah
memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan bidang keilmuan tersebut, mengingat
kota dan seluruh fenomenanya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
sehari-hari dan menyentuh seluruh aspek kehidupan : sosial-ekonomi, budaya, hukum,

8

politik, teknik, hukum dan sosio-ekologi sebagai bagian dari fokus pembangunan dan
titik pusat perhatian dunia dalam era ini hingga Millenium Development Goal 2015
nanti.

b.

Metodologi dan Filosofi Kajian
Having identified a research topic and done the preliminary literature review the next
logical step is to chalk out the route map for the research project. Looking at the research
process ‘onion’ (Saunders et. al., 2003 at Barker, 1998) one can identify various
approaches, strategies and data collection methods across the continuum of research
philosophy.
Tabel 1 . Proses Kajian
Research Philosophy
Positivism
Intrepretivism

Realism

Inductive

Deductive

Case Analysis

Grounded Theory

Longitudinal

Linear

Secondary Data Observation
Result Evaluation

Valuation

Research Approach
Deductive

Research Strategies
Comprehensive Analysis

Time Horizon
Cross-Sectional

Data Collection Methods
Sampling

Data

Sumber: adopted from the research process ‘onion’ by Saunders et. al. (1996)

9

By investigating the degree of intersubjectivity in the formation of judgements, the study
propose an epistimological model which describes various layers of informationprocessing in which formal properties are incorporated into a judgement by a decreasing
extent while conceptualization increases. When defined as the experience of people in
city life, space-place experience must thus be embedded in all experiences. Theoritical
analysis is used to in-depth analysis of data from field-work whereas architecture is
experienced (Nuffida, 2007)


Studi Kajian terhadap Fenomena-Fenomena Kota Maritim, Mitigasi Tsunami, Wilayah Pesisir
dan Upaya Penanggulangannya di Indonesia yang menjadi Paradigma Kajian
4.1. Ketentuan Perancangan Kawasan Pesisir sebagai Mitigasi Tsunami
(Studi Kasus: Kelurahan Weri-Kota Larantuka-Kab. Flotim-NTT),
Penelitian yang dilakukan Handayani (2008)4 memberikan dasar konstruksi metodologis
terhadap perancangan kawasan pesisir yang langsung terkena dampak tsunami, sebagai
berikut :
Penelitian ini membangun teori berdasarkan pengalaman fenomena bencana tsunami yang
pernah terjadi, berdasarkan argumen dengan mencari kebenaran logika berdasarkan aspek
terkait. Aspek terkait berupa aspek resiko, karakteristik fisik,kriteria tak terukur,
pemanfaatan kawasan pesisir, penyediaan kelengkapan perlindungan kawasan pesisir yang
rentan tsunami. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif. Metode analisis kualitatif berupa deskriptif dan komparatif, digunakan untuk
menganalisis resiko pesisir sebagai kawasan rawan tsunami, analisis karakterisik fisik
kawasan pesisir, analisis pemanfaatan kawasan pesisir, analisis kriteria tak terukur, analisis
kebutuhan kelengkapan perlindungan tsunami. Metode analisis kuantitatif berupa
perhitungan radius/ jarak jangkauan tempat penyelamatan terhadap waktu tanggap
tsunami. Penelitian ini menghasilkan konsep bahwa Kelurahan Weri sebagai Pagar
Perlindungan Tsunami bagi Kota Larantuka, dengan pembagian kerentanan tinggi,
kerentanan sedang dan kerentanan rendah yangmenghasilkan batas, ketentuan

4

Ketentuan Perancangan Kawasan Pesisir sebagai Mitigasi Tsunami
(Studi Kasus: Kelurahan Weri-Kota Larantuka-Kab. Flotim-NTT), Grasia Dwi Handayani,
2008, Abstrak (www.google.com/17112010/15.15 am/)

10

pemanfaatan yang berbeda. Ketentuan ini dijelaskan dalam peraturan zonasi berupa peta
zonasi (zoning map) dan aturan zonasi (zoning teks). Karakter ketentuan aturan
pemanfaatan kawasan yang dihasilkan meliputi 6 (enam) ketentuan untuk pemanfaatan
ruang terbuka hijau dan biru/ FC.Ketentuan pemanfaatan terminal/ T. Ketentuan
pemanfaatan kawasan pariwisata Meting Doeng/ TR. 3 (tiga)ketentuan untuk pemanfaatan
kawasan perumahan/ R. 2 (dua) ketentuan untuk pemanfaatan kawasan perdagangan &
jasa/ C. Ketentuan pemanfaatan kawasan olahraga/ S. 3 (tiga) ketentuan untuk pemanfaatan
kawasan pendidikan/ E. 3 (tiga) ketentuan untuk pemanfaatan kawasan perkantoran/ B. 2
(dua) ketentuan untuk pemanfaatan kawasan peribadatan/ RL dan ketentuan pemanfaatan
kawasan industri/ M.

4.2. Ketentuan Building Code untuk Daerah Bencana di Indonesia
(Studi Kasus : Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias)
Kajian yang dilakukan oleh Nuffida (2008) memberikan dasar evaluatif sebagai berikut:
Building Code merupakan peraturan dasar bangunan, lingkungan dan permukiman dalam
wilayah rawan bencana, dalam hal ini Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias,
yang dikerjakan oleh tim ahli Departemen Pekerjaan Umum sebagai serangkaian upaya
penanggulangan dampak bencana tsunami yang melanda kedua wilayah tersebut pada tahun
2007. Upaya melibatkan peran serta masyarakat untuk menjaga, mengelola, berinisiatif dan
memutuskan dalam konteks pembangunan kembali kota terkena dampak bencana alam adalah
merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Proses pelibatan secara langsung, sekaligus
mendidik

masyarakat

untuk

dapat

merencanakan,

mengorganisasi,

dan

menjamin

keberlanjutan program karena masyarakat merasa memiliki program tersebut. Organisasi
Swadaya Masyarakat yang secara khusus dibentuk untuk membantu pemerintah dirasakan
belum efektif karena yang diperlukan adalah berjalannya kebijaksanaan dan lembaga yang
dipercaya masyarakat.
Transformasi struktur tata-ruang kota dengan penerapan Building Code pertama kali di
Indonesia tersebut adalah sebagai berikut :


Pentingnya jalur mitigasi sebagai penanggulangan bencana di daerah lepas pantai,
khususnya pesisir pantai



Ekosistem sekitar pantai dan pesisir merupakan bagian ekologi lingkungan hidup yang

11

mutlak dijaga kelestariannya


Kenaikan dan intrusi air laut akibat penurunan air tanah merupakan salah satu aspek
penyebab terjadinya gejala tsunami, terutama di daerah pesisir rawan gempa di NAD dan
Nias



Bahan bangunan dan struktur bangunan merupakan aspek penting yang perlu dikaji
sebagai pertimbangan dalam pembangunan permukiman



Bangunan publik seperti masjid, kantor pemerintah, sekolah dan balai desa (bale
gampong) seyogyanya difungsikan sebagai tempat perlindungan dan mitigasi untuk
memperkuat jalur mitigasi kota, karena telah ada, mudah dikenali dan berada pada jalurjalur yang umumnya mudah dicapai masyarakat. Untuk itu, seluruh bangunan publik harus
terstandarisasi dalam cakupan Building Code, karena bangunan publik secara keseluruhan
merupakan bagian dari amanat dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam
penggunaan, pe,meliharaan dan penanggulangan bencana



Bangunan lebih dari 2 lantai, wajib memberikan laporan dan upaya standardisasi
bangunan tahan gempa dan memberikan jaminan tersedianya kecukupan infrastruktur
penyelamatan dan penanggulangan bencana, termasuk di dalamnya kebutuhan dasar
akan air, udara bersih, ruang tinggal dan sanitasi



Pelabuhan, bandar ikan, dan lain-lain fasilitas publik harus menggunakan standar yang
sama yaitu peraturan pemerintah untuk bangunan dan permukiman, dalam hal ini
Building Code dan mendapatkan sertifikasi dan pengawasan berkala dari pemerintah
untuk pemeliharaan, pembangunan fasilitas baru dan penambahan level bangunan serta
jaminan struktur dan keselamatan kerja sebelum, selama dan setelah bencana

4.3. Makassar Menuju Kota Dunia : Studi Kasus Kota Makassar (2010)5 : Dasar Berfikir untuk
Usulan Konseptual Manajemen Eco-region dalam Kajian
Hasil pertemuan 43 wali kota sedunia dalam World Cities Summit di Singapura (2010) ,
memberikan dasar untuk perencana kota Makassar untuk merevitalisasi perencanaan
pembangunannya. Makassar dan Jakarta menjadi wakil Indonesia dalam pertemuan

5

(www.tempointeraktif.com/17112010/15.15 am/)

12

tersebut.Revitalisasi tersebut harus memperhatikan empat indikator penting, yakni arus
manusia, bagaimana fungsi kota bekerja, geliat bisnis, serta organisasi yang terakomodasi
dalam kehidupan perkotaan. Tujuannya adalah untuk mencapai keseimbangan lingkungan
serta keharmonisan warga.Makassar mengadopsi banyak hal dari beberapa kota besar yang
dinilai maju dalam menerapkan kota berwawasan lingkungan. Hasil ini kemudian akan
dikomunikasikan dengan seluruh satuan kerja perangkat daerah.Pantai Losari dinilai sangat
berpeluang besar menjadi ikon kota pantai dunia. Untuk itu, Makassar merevisi Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar sebagai upaya untuk
mengantisipasi dinamika masyarakat.
5.

Kesimpulan :
Kajian ini membahas tiga kajian utama, yaitu : preseden penataan kota berbasis evaluasi
lingkungan hidup sebagai dasar konseptual, konteks geografis dalam perencanaan kota dan
upaya-upaya penanggulangan bencana alam terkait dengan pergerakan aktivitas perkotaan
dan berkehidupan .
Pembahasan yang dilakukan dengan metode analisa-sintesa-verifikasi dalam setiap tahapan
proses ilmiah menghasilkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Pendekatan perencanaan kota melalui kajian keilmuan dapat dilakukan dengan metode
logika ilmiah yang dilakukan dengan evaluasi pada tahapan-tahapan perencanaan yang
diukur melalui parameter-parameter kontekstual yang mendasari perencanaan :
keterlibatan stakeholder, kontribusi positif elemen-elemen pembangunan, kerangka
dasar hukum, dan kinerja terukur.
2. Konteks geografis merupakan identitas spasial yang memberikan ruang bagi pergerakan,
perubahan, dan dinamika perencanaan tata ruang kota dan aspek-aspek lain yang terkait
3. Kenyataan akan posisi geografis yang memerlukan upaya penanggulangan bencana alam,
dapat dilakukan dengan : memperkuat struktur ruang yang ada, memanfaatkan
bangunan-bangunan publik sebagai jalur lintas mitigasi, dan memberikan kemungkinan
pemanfaatan bentang alam (landscape) sebagai konstruksi alamiah untuk mitigasi lepas
pantai.
4. Manajemen eco-region merupakan bagian dasar dari kesepakatan alamiah yang
didasarkan atas pemahaman akan konteks pengelolaan lingkungan hidup secara

13

bijaksana di ruang-ruang perkotaan berbasis keanekaragaman hayati dan pemahaman
akan pentingnya menempatkan manusia dan kecenderungan perilakunya dalam
pemanfaatan ruang sebagai titik berat perencanaan kota.

14

REFERENSI
Antoniades, Anthony C. (1992). Epic Space : Towards The Roots of Western Architecture. Van Nostrandt
Reinhold, New York.
Barker, Roger. 1968. “Behavioral Setting : Defining Attributes and Valuing Attributes “ dalam Ecological
Psychology : Concepts and Methods for Studying the Environment of Human Behavior.
Stanford, CA : Stanford University Press, p.183-193.
Carr, Stephen et.al 1992. Public Space. New York : Cambridge University Press.
Crowe, Norman. 1995. Nature and The Idea of Man-Made World : An
Investigation into the
Evolutionary Roots of Form and Order in the Built Environment. MIT Press.
Dovey, Kim. 1999. Framing Places : Mediating Power in Built Form. Routledge, New York.
Gehl, Jan. 1987. Life Between Buildings Using Public Space. Van Nostrandt
York.

Reinhold Company, New

Kusno, Abidin. 2000. Architext : Behind The Postcolonial : Architecture, Urban Space and Political
Culture in Indonesia. Routledge, New York.
Lang, Jon. 1987. Creating Architectural Theory, The Role of Behavioral Science in Environmental Design.
Van Nostrandt Reinhold Co., New York.
Lawson, Bryan . 1990. How Designers Think. Second Edition. Butterworth Architecture, Oxford.

Maxwell, Robert (1992). Sweet Disorder and The Carefully Careless : Theory and Criticism in
Architecture. Princeton Papers on Architecture, United Kingdom.
Nuffida, Nur Endah. 2010. City Life and Dynamic Process at Surabaya : Kampung Community, Social
Space, and The Neighborhood. 2010. Paper on International Conference of “Kampung : A Target
of Policy or An Abandoned Zones?”, Surabaya ,8 – 10th January 2010. Department of History,
University of Airlangga, Surabaya.
--------------------------, 2008.Implementing Building Code programmes in post-tsunami Aceh: experiences
and lessons learned , paper on International Technology and Knowledge Flows for Post Disaster
Reconstruction , Meeting and Conference, Surabaya 8 – 10th January 2008,Department of
Architecture ITS – KNAW – TU Eindhoven
--------------------------, 2003. Meaning in Public Space : Comprehension Through User’s Behavior
Pattern in Lapangan Taman Tugu Pahlawan Surabaya, Thesis, Post Graduate, Department of
Architecture, ITS Surabaya
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

15

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Kajian Perencanaan Kota Berbasis Evaluas (1)